PERANAN PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM PELAYANAN SOSIAL BAGI PASIEN SKIZOFRENIA DI
RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
Skripsi
ini diajukan sebagai syarat dalam menyelesaikan Strata Satu Program Studi Kesejahteraan Sosial (S.Sos)
Oleh :
Yoga Fernandes 11170541000010
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1443 H/ 2021 M
PERANAN PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM PELAYANAN SOSIAL BAGI PASIEN SKIZOFRENIA DI
RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
(S.Sos)
Oleh:
Yoga Fernandes 11170541000010 Di Bawah Bimbingan
Nadya Kharima M. Kesos NIP. 198606232020122006
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1443 H/ 2021 M
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertandatanganan di bawah ini:
Nama :Yoga Fernandes NIM :11170541000010
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul PERAN PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM PELAYANAN SOSIAL BAGI PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan yang ada dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipan dalam skripsi. Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat karya orang lain.
Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.
Tangerang Selatan, 5 Juli 2021
Yoga Fernandes NIM 11170541000010
i ABSTRAK Yoga Fernandes, 11170541000010, 2020
PERAN PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM PELAYANAN SOSIAL BAGI PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
Skizofrenia adalah penyakit jiwa yang proses penyembuhannya sangat lama dan membutuhkan tenaga yang banyak. Untuk membantu orang yang mengidap skizofrenia dibutuhkan banyak pihak salah satunya adalah pekerja sosial medis. Untuk pasien skizofrenia, pekerja sosial medis akan berupaya memberikan pelayanan yang terbaik agar mereka bisa kembali sembuh.
Fokus pelayanan yang dilakukukan oleh pekerja sosial medis adalah pelayanan sosial. pelayanan sosial adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja sosial medis yang mana membantu permasalahan pasien serta mengembalikan keberfungsian sosialnya. Bentuk pelayanan yang diterima oleh pasien skizofrenia berupa penerimaan pasien, penghubung pasien dengan sumber daya, terapi sosial, terapi vokasional, terapi okupasi, konseling tim profesi, home visit, perencanaan daily living dan penyuluhan kesehatan jiwa. Dalam melakukan pelayanan sosial, pekerja sosial medis harus menerapkan peranan dari pekerja sosial. Peran tersebut akan mempertegas perbedaan tugas antara pekerja sosial medis dengan profesi lainnya. Bentuk peran yang dilakukan oleh pekerja sosial medis adalah pembimbing, penghubung, pendorong, konsultan dan pendidik.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang hasil datanya didapatkan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi untuk mengetahui apa bentuk peran pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
Kata Kunci: Peran Pekerja Sosial Medis, Pelayanan Sosial, Skizofrenia
ii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada diri saya yang selama ini telah berusaha keras dan untuk kedua orang tua yang
saya sayangi
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan banyak rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita semua bisa menikmati indahnya Islam di dunia ini.
Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada nabi besar, nabi junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari zaman jahiliyah hingga zaman yang penuh ilmu pengetahuan dan yang selalu dinantikan syafaatnya di hari akhir nanti. Segala syukur penulis panjatkan sehingga bisa menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “Peran Pekerja Sosial Medis Dalam Pelayanan Sosial Bagi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender”.
Setelah menuntut ilmu di progam studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, akhirnya terselesaikan tugas dan tanggung jawab peneliti terhadap skripsi dengan ucapan rasa syukur yang sebesar-besarnya. Terdapat banyak rintangan, halangan dan hambatan dalam pembuatan skripsi ini, namun dengan adanya dukungan moral dan material dari orang- orang yang peneliti sayangi sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini dengan usaha yang sebaik-baiknya. Oleh karena itu dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati, penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada orang yang selalu memberikan dukungan, yaitu:
1. Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., M.A sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
iv
2. Suparto Ph.D, M.Ed sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, S.Ag., MSW, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr.
Sihabudin Noor, M.A., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawidjaya, M.Si
3. Ahmad Zaky, M. Si sebagai Ketua Program Bidang Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hj. Nunung Khoiriyah, MA sebagai Sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Nadya Kharima, M. Kesos sebagai dosen pembimbing, saya ucapkan terimakasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam karena telah bersedia membimbing dan menuntun selama pengerjaan skripsi sehingga saya bisa menyelesaikannya. Semoga selalu diberikan kesehatan dan rahmat dari Allah SWT.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya Dosen Prodi Kesejahteraan Sosial.
6. Keluarga Besar Rumah Sakit Jiwa Islam Klender, Pak Rinaldi, S.Sos yang telah menerima dengan tangan terbuka dan selalu memberikan arahan kepada saya selama melakukan penelitian. Untuk Pipit Aryadi, A.Md. Kep, Novi Kurnia Maulidta, M. Psi. Psi, Ns.Isnaini, M.S.Kep.MKM yang telah membantu saya dalam proses penelitian disana. Dan untuk semua
v
teman-teman di unit rehabilitasi psikososial yang selalu menemani saya selama penelitian disana.
7. Untuk kedua orang tua saya yang tak pernah hentinya memberikan semangat, dukungan dan bantuan dari saya lahir sampai berada pada posisi ini, semua berkat usaha dan kerja keras kedua orang tua saya. Dan untuk saudara saya Alpriko Maradona dan Kiki Nurmala Sari selaku kakak yang selalu menjadi bagian dari support sistem saya, yang selalu menemani dan tidak pernah mengeluh mendengar semua keluh kesah saya selama ini, terimakasih karena telah menjadi kakak saya.
8. Keluarga besar Kesejahteraan Sosial yang telah menemani selama saya menuntut ilmu.
9. Keluarga besar KMM Ciputat sebagai tempat saya berproses
10. Nurul Syuhada dan Yefriadi Syahrin, yang selalu menemani dan mendukung saya dari awal sampai akhir penyelesaian skripsi.
11. Very Hidayat, Razaq Permana, Achmad Chairizal Thoriq, Rabiatul Adawiyah, Azizah Merinda dan Annisa Firdaus yang menjadi teman yang sangat baik kepada saya.
12. Zahara Adnani, Ajeng Nur Citra, Nabella Martha Annisa, Ahda Fitriani, Baydhowi Abdul Majid, Sendy Septian Aziz dan Addinu Faqih yang telah bersama- sama dari awal perkuliahan sampai akhir dan memberikan kebahagiaan saat saya menuntut ilmu.
vi
13. Keluarga besar Kosan Zona Futsal yang telah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.
14. Teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan, terimakasih karena sudah mau menjadi teman saya.
Penyusunan Skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan kemampuan peneliti.
Peneliti ucapkan terimakasih banyak kepada pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu selalu meridhoi kehidupannya. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Tangeran Selatan, 5 Juli 2021
Yoga Fernandes Penulis
vii DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
PERSEMBAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR BAGAN ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
F. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 12
G. Metode Penelitian ... 15
H. Sistematika Penulisan ... 24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 26
A. Konsep Pekerja Sosial Medis ... 26
1. Pengertian Pekerja Sosial Medis ... 26
2. Peran dan Fungsi Pekerja Sosial Medis ... 29
3. Tujuan Pekerja Sosial Medis ... 33 4. Masalah yang Ditangani
viii
Pekerja Sosial Medis ... 33
5. Tugas Pekerja Sosial Medis ... 34
B. Konsep Pelayanan Sosial ... 37
1. Pengertian Pelayanan Sosial ... 37
2. Jenis-jenis Pelayanan Sosial ... 38
3. Fungsi Pelayanan Sosial ... 40
4. Tujuan Pelayanan Sosial ... 41
C. Konsep Skizofrenia ... 42
1. Pengertian Skizofrenia ... 42
2. Diagnosa Skizofrenia ... 43
3. Gejala Skizofrenia ... 44
4. Jenis-jenis Skizofrenia ... 46
5. Penyebab Skizofrenia ... 48
D. Kerangka Teori ... 51
BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN ... 53
A. Rumah Sakit Jiwa Islam Klender ... 53
1. Sejarah Rumah Saki Jiwa Islam Klender ... 53
2. Data Umum ... 55
3. Visi dan Misi RSJIK ... 55
4. Komitmen Manajemen dan MOTTO RSJIK ... 55
5. Kebijakan Program ... 56
6. Fasilitas RSJIK ... 57
7. Jenis Terapi yang Digunakan ... 59
8. Terapi Unggulan... 59
ix
B. Rehabilitasi Psikososial RSJIK ... 59
1. Profil Rehabilitasi Psikososial RSJIK ... 59
2. Visi, Misi dan Motto ... 60
3. Struktur Kepengurusan Rehabilitasi Psikososial RSJIK ... 61
4. Pendanaan ... 62
5. Alur Masuk Pasien ... 62
6. Peran Rehabilitasi Psikososial kepada Masyarakat ... 63
7. Hambatan-hambatan dalam Pelayanan ... 63
8. Program Rehabilitasi Psikososial ... 63
9. Tahapan Rehabilitasi Psikososial ... 64
C. Profil Pekerja Sosial Medis RSJIK ... 65
D. Narasumber Pasien Skizofrenia ... 67
E. Pasien Rehabilitasi Psikososial RSJIK ... 68
BAB IV DATA DAN HASIL TEMUAN ... 70
A. Pelayanan Sosial Pekerja Sosial Medis bagi Pasien Skizofrenia ... 71
1. Penerimaan Pasien ... 71
2. Penghubung Pasien dengan Sumber Daya ... 73
3. Terapi Sosial ... 74
4. Terapi Vokasional ... 77
5. Terapi Okupasi ... 83
6. Konseling Tim Profesi ... 86
7. Home Visit (Kunjungan Rumah) ... 88
x
8. Perencanaan Aktivitas Daily Living
(Kegiatan sehari-hari)... 89
9. Penyuluhan Kesehatan Jiwa ... 89
B. Jenis dan Fungsi Pelayanan Sosial Pekerja Sosial Medis bagi Pasien Skizofrenia ... 91
C. Peran Pekerja Sosial Medis dalam Pelayanan Sosial bagi Pasien Skizofrenia ... 93
1. Peran Penghubung ... 93
2. Peran Pendidik ... 95
3. Peran Pendorong ... 96
4. Peran Pembimbing ... 97
5. Peran Konsultan ... 98
BAB V PEMBAHASAN ... 100
A. Pelayanan Sosial Pekerja Sosial Medis bagi Pasien Skizofrenia ... 101
1. Penerimaan Pasien ... 102
2. Penghubung Pasien dengan Sumber Daya ... 103
3. Terapi Sosial ... 104
4. Terapi Vokasional ... 105
5. Terapi Okupasi ... 108
6. Bimbingan dan Konseling Tim Profesi ... 109
7. Home Visit ... 110
8. Perencanaan Aktivitas Daily Living ... 111
9. Penyuluhan Kesehatan Jiwa ... 112
B. Jenis dan Fungsi Pelayanan Sosial Pekerja Sosial Medis bagi Pasien Skizofrenia ... 113
xi
C. Peran Pekerja Sosial Medis dalam
Pelayanan Sosial bagi Pasien Skizofrenia ... 114
1. Pembimbing ... 115
2. Pendorong ... 117
3. Penghubung ... 119
4. Konsultan ... 120
5. Pendidik ... 121
BAB VI PENUTUP ... 125
A. Kesimpulan ... 125
B. Saran ... 126
DAFTAR PUSTAKA ... 128
LAMPIRAN ... 131
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Group Therapy diselingi Hiburan
Musik ... 76 Gambar 4.2 Kelas Kecantikan... 79 Gambar 4.3 Hasil Anyaman Pasien Rehabilitasi
Psikososial ... 80 Gambar 4.4 Kelas Handycraft ... 80 Gambar 4.5 Pembuatan Telur Asin ... 82
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Timeline Rancangan Waktu Penelitian ... 18 Tabel 2.1 Jenis-jenis beserta Kode Skizofrenia ... 48 Tabel 3.1 Fasilitas kelas dan tempat tidur RSJIK ... 58 Tabel 3.2 Daftar Nama Pasien Rehabilitasi
Psikososial ... 69 Tabel 4.1 Rincian Harga Rehabilitasi Psikososial ... 73 Tabel 4.2 Jadwal Harian Pasien Rehabilitasi ... 84 Psikososial
xiv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori ... 52 Bagan 3.1 Struktur unit Rehabilitasi Psikosial ... 61
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Hasil Observasi ... 132
Lampiran Transkip Wawancara ... 140
Lampiran Proposal Skripsi ... 164
Lampiran Surat Izin Penelitian... 165
Lampiran Bimbingan Skripsi ... 166
Lampiran Surat Balasan RSJIK ... 167
Lampiran Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Narasumber ... 168
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap orang menginginkan hidup sehat, baik sehat tubuh (jasmani) maupun jiwa (rohani). Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hidup sehat diantaranya dengan selalu memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh, berolahraga serta selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Tidak hanya kesehatan jasmani yang harus dijaga namun rohani juga harus diperhatikan bagaimana kesehatannya. Karena apabila salah satu mengalami masalah maka yang lainnya akan menerima akibatnya juga.
Pada umumnya orang-orang hanya tahu kalau yang dinamakan sehat adalah apabila fisik maupun jiwa dalam keadaan normal, padahal tidak dua faktor itu saja yang mendasari seseorang sehat atau tidak. Menurut WHO (World Health Organization) yaitu organisasi kesehatan dunia mendefenisikan sehat sebagai suatu keadaan fisik, jiwa maupun kesejahteraan sosial dan tidak hanya ketiadaan penyakit maupun kecacatan (Yurika, 2016: 100). Cakupan sehat menjadi lebih luas dan tidak hanya fisik atau rohani saja tetapi bagaimana kehidupannya sosialnya juga turut diperhatikan dalam menentukan kesehatan diri.
Sedangkan menurut UU no 36 tahun 2009 menjelaskan pengertian sehat yaitu keadaan sehat baik secara mental, fisik, spiritual, maupun sosial yang memungkinan setiap orang
2
untuk dapat produktif secara ekonomi maupun social.
Berdasarkan UU no 36 tahun 2009 lebih menjabarkan defenisi dari sehat, apabila ada satu bagian dalam keadaan tidak baik maka tidak bisa seseorang tersebut dikatakan sehat. Karena itu pemerintah telah banyak menjalankan program demi mewujudkan Indonesia sehat bagi rakyatnya.
Kenyataannya masih terdapat masyarakat Indonesia yang dalam kehidupannya belum bisa dikatakan sehat, terutama terkait dengan kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa adalah terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa dan sanggup menghadapi problem, merasa bahagia dan mampu diri. Itu mengartikan bahwa seseorang dikatakan sehat jiwa apabila memiliki perasaan akan mampu dalam menerima hidupnya serta mampu beradaptasi baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat maupun lingkungannya (Lilik, 2016: 3).
Namun kondisi kesehatan jiwa seseorang tidak bisa disamaratakan dengan orang lain. Ada orang yang mampu dalam mengahadapi tekanan namun tidak sedikit pula orang yang tidak sanggup sehingga m membuat dirinya tertekan dan pada akhirnya berakibat pada kesehatannya jiwanya.
Apabila tidak ditangani dengan cepat maka seseorang tersebut bisa mengalami ganguan akan kesehatan jiwanya.
salah satu gangguan dari kesehatan jiwa adalah skizofrenia.
Skizofrenia menurut Sadock mengutip dari Surya (2018:1) adalah bagian dari gangguan psikosis yang terutama ditandai dengan kehilangan pemahahaman terhadap realita dan hilangnya daya tilik. Jadi orang yang mengidap skizofrenia
3
akan sulit membedakan mana dunia asli ataupun dunia halusinasi. Mereka biasanya akan mendegar suara-suara yang menganggu para pengidap skizofrenia, dan kadang-kadang dengan suara-suara tersebut mereka bisa melakukan hal-hal diluar batas wajar seperti melukai diri sendiri ataupun orang lain dan sekitarnya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, pravelensi pengidap skizofrenia di Indonesia sebanyak 6,7 banding 1000 per rumah tangga (Jayani, 2019). Itu menjelaskan bahwa dari 1000 rumah tangga yang ada di Indonesia terdapat enam sampai tujuh rumah tangga yang mengidap skizofrenia. Itu menandakan bahwa tingkat pengidap skizofrenia di Indonesia cukup tinggi.
Apabila tidak ditangani dengan tepat mungkin saja orang yang mengidap skizofrenia akan semakin banyak, oleh karena itu semua bagian harus ikut bertindak dalam menurunkan angka pengidap skizofrenia baik itu dari keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar serta pemerintah harus bekerjasama dalam menangani penderita skizofrenia yang semakin banyak.
Sedangkan untuk wilayah DKI Jakarta berdasarkan laporan dari Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) pada tahun 2018 terdapat 11.849 orang yang menderita skizofrenia.
berdasarkan angka tersebut dapat diketahui bahwa pengidap skizofrenia di DKI Jakarta sangat banyak dimana rata-rata tiap provinsi hanya berkisar 8000 orang (Rikesdas, 2018:224).
Karena dengan banyaknya penderita skizofrenia di DKI
4
Jakarta maka dibutuhkan tenaga ahli yang mampu dalam membantu permasalahan yang dialami pengidap skizofrenia.
Tidak hanya pasien yang mengalami masalah terkait penyakit yang dideritanya namun anggota keluarga juga mengalami masalah. Dari segi keuangan atau finansial akan sangat berpengaruh karena tidak semua keluarga dari pasien skizofrenia berasal dari masyarakat ekonomi kelas atas namun terdapat beberapa yang berasal dari ekonomi kelas bawah.
Untuk perawatan serta obat-obatan akan selalu didapati oleh pasien sampai mereka sembuh yang mana bisa memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Dan itu tidak menghabiskan uang yang sedikit apalagi pasien adalah tulang punggung keluarga. Mereka yang mengidap skizofrenia sekaligus menjadi tulang punggung keluarga akan menimbulkan masalah yang baru karena orang yang dipercaya untuk mencari uang tidak ada sehingga kondisi keuangan keluarga mereka menjadi terganggu.
Untuk membantu meringkan beban yang diderita oleh pasien pengidap skizofrenia maka dibutuhkan pekerja sosial di bidang medis yang ahli dalam bidang tersebut serta fasilitas yang menunjang sehingga dapat membantu mengembalikan keberfungsian sosial dari pasien pengidap skizofrenia. Pekerja sosial medis sendiri merupakan salah satu pekerjaan yang mana membantu pasien terhadap masalah sosial yang dihadapi pasien dan keluarga pasien selama perawatan di Rumah Sakit dan membantu dokter di dalam mengadakan pengobatan.
Pekerja sosial medis akan melakukan penyelidikan
5
berdasarkan situasi sosial yang dialami baik oleh pasien maupun keluarga pasien. Dan salah satu bentuk pertolongan dari pekerja sosial medis terhadap kliennya adalah memberikan pelayanan sosial. Pelayanan sosial menurut Bambang Rustanto adalah segala bentuk aktivitas yang terorganisir yang bertujuan untuk meningkatkan kesejateraan dan kesehatan manusia.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kamanusiaan dan selalu memerintahkan untuk memperkuat tali persaudaraan. Salah bentuk nya adalah membantu dan menolong orang-orang yang sedang mengalami kesulitan baik dari segi materi maupun non materi. Hal itu sesuai dengan firmah Allah SWT dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang terkait hal tolong menolong antar sesama :
ِﻦَﻋ ﻰٰﻬْـﻨَـﻳَو ٰﰉْﺮُﻘْﻟا ىِذ ِئۤﺎَﺘْـﻳِاَو ِنﺎَﺴْﺣِْﻻاَو ِلْﺪَﻌْﻟِﺑﺎ ُﺮُﻣَْ� َّٰﻟﻠﻪا ﱠنِا َنْوُﺮﱠﻛَﺬَﺗ ْﻢُﻜﱠﻠَﻌَﻟ ْﻢُﻜُﻈِﻌَﻳ ِﻲْﻐَـﺒْﻟاَو ِﺮَﻜْﻨُﻤْﻟاَو ِء ۤﺎَﺸْﺤَﻔْﻟا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An-Nahl 90). (Kementerian Agama 2021)
6
Menurut mufassir Tengku Muhammad Hasbi ash- Shiddieqiy dalam buku Al-Quranul Majid An-Nuur menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan manusia agar selalu bersikap adil dan berbuat baik secara seimbang tidak melebihkan maupun meguranginya. Kebaikan tertinggi adalah dimana seseorang melakukan kebaikan terhadap orang yang pernah menyakiti dirinya. Allah SWT Jjuga menyuruh manusia agar memberi pertolongan kepada orang yanh kesusahan terutama sekali adalah kerabat terdekat. Dan perbuatan yangh harus dihindari oleh manusia adalah berbuat keji, mungkar dan zalim. Semua itu dapat dijadikan pelajaran bagi manusia agar bisa mendapatkan ridho dari Allah SWT (Ashiddieqiy, 2000:581)
Sedangkan menurut tafsir Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam buku berjudul Tafsir al-Maraghi menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan manusia agar selalu adil, maksudnya melakukan perbuatan baik tidak memandang siapapun. Dan juga harus meningkatkan amal baik dengan menebar kasih sayang serta bersilaturrahmi dengan sesama.
Untuk kata adil sendiri dalam tafsir al-Maraghi lebih dikhususkan lagi dengan tugas hakim dalam memutuskan perkara. Sedangkan perbuatan yang dilarang adalah ucapan atau perbuatan yang buruk, amarah yang berlebihan serta berbuat dzalim kepada sesama manusia (Maraghi, 1992:240).
Jadi penjelasan ayat tersebut berdasarkan para mufassir diatas adalah sebagai sesama manusia harus berlaku adil dan selalu melakukan perbuatan yang baik, disamping itu manusia
7
juga harus saling tolong menolong terhadap masalah baik yang dihadapi oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain dan diutamakan adalah kerabat. Dan tolong menolong tersebut merupakan salah satu inti dari pelayanan sosial dimana pelayanan sosial memberikan bantuan ataupun aktivitas supaya kesejahteraannya semakin meningkat.
Untuk tempat rehabilitasi yang dilakukan untuk pasien skizofrenia salah satunya berada di rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa sendiri tempat rehabilitasi ini dinamakan dengan istilah rehabilitasi psikososial. Salah satu rumah tersebut adalah Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang berada di Jakarta Barat.
Rumah Sakit Jiwa Islam Klender seterusnya disebut dengan RSJIK merupakan rumah sakit yang didirikan Muhammadiyah terhadap kepeduliannya kepada masyarakat sekitar sehingga pada tahun 1997 RSJIK resmi berdiri sendiri dengan SK YayasanRSIJ No.0.39 B/SK-YRSIJ/IV.F/1.b/1997.
RSJIK telah banyak membantu masyarakat terutama dalam pengobatan masalah kejiwaan, yang sebelumnya merupakan rumah sakit yang hanya merawat pasien-pasien dari Rumah Sakit Islam Jakarta namun sekarang sudah bisa berdiri sendiri.
RSJIK telah bekerjasama dengan BPJS sehingga masyarakat yang kesulitan biaya bisa berobat kesini dengan menggunakan kartu BPJS. Di RSJIK terdapat satu pekerja sosial medis yang dibantu dengan profesi lain seperti psikolog dan perawat dalam memberikan pelayanan sosial. Karena itu dibutuhkan kerja sama antar pekerja sosial medis, keluarga maupun pihak
8
lainnya agar pelayanan sosial yang diberikan bisa berjalan lancer (Data dari RSJIK :2020).
Berdasarkan pemaparan langsung oleh pekerja sosial medis di RSJIK bahwa perbandingan jumlah antara pasien dengan pekerja sosial medis tidak sebanding karena di RSJIK pekerja sosial medis hanya 1 satu orang sedangkan pasien yang harus dilayani dalam sehari sangat banyak. Maka dari itu pekerja sosial medis di RSJIK harus mengeluarkan tenaga lebih dalam memberikan pelayanan kepada pasien yang ada di pusat rehabilitasi psikososial RSJIK.
Selanjutnya tidak hanya klien saja yang menemukan masalah namun juga terjadi permasalahan yang dialami oleh pekerja sosial medis yaitu menentukan perbedaan antara psikologi dengan pekerja sosial medis, karena diantara dua profesi tersebut sama-sama membantu memberikan pelayanan dalam bentuk konseling. Terkait permasalahan ini Jaimin (2012) dalam kuliah umum “Pekerja,sosial,medis, peluang, tantangan,dan,harapan” menjelaskan bahwa psikologi membantu kliennya dalam pendekatan psikis sedang pekerja sosial medis merupakan gabungan dari sosial dan psikisnya dan tampa menggunakan alat bantu . Karena itu pekerja sosial medis harus bisa membantu kliennya terkait permasalah yang dihadapi dan mampu mengerakkan lingkungan sosial klien agar memberikan perasaan positif serta dukungan kepada diri klien. (https://kesos.umm.ac.id)
Untuk peran pekerja sosial medis fokus utamanya adalah faktor-faktor kenapa pasien bisa sakit, apa saja hambatan dan
9
masalah khususnya masalah sosial yang disebabkan oleh penyakit tersebut dan bagaimana cara untuk menangani permasalah yang dialami oleh pasien tersebut (Eleanor Cockreill dalam Johnston 1998:38) .
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian secara mendalam terhadap “PERANAN PEKERJA SOSIAL MEDIS DALAM PELAYANAN SOSIAL BAGI PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER”.
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian dan penjelasan latar belakang diatas maka peneliti mengidentifikasi masalahnya berikut ini :
Peranan Pekerja Sosial Medis dalam Pelayanan Sosial bagi Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
C. Batasan Masalah
Sesuai dengan apa yang peneliti uraikan diatas maka peneliti memfokus diri terhadap permasalahan peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Pembatasan masalah ini penulis lakukan agar tidak terjadi perluasan materi yang dibahas nantinya.
D. Rumusan Masalah
10
Berdasarkan batasan masalah, maka rumusan masalah yang akan peneliti teliti sebagai berikut
1. Bagaimana pelayanan sosial pekerja sosial medis bagi pasien skizofrenia di RSJIK?
2. Bagaimana peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia di RSJIK?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka maksud serta tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peranan pekerja sosial medis terkait pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender serta tujuan dari pelayanan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial medis.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terbagi 2 yaitu a. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan Ilmu Kesejahteraan Sosial khususnya mata kuliahaPekerjaan Sosial Medis, Analisis Masalah Sosial dan Psikologi Sosial. Selain itu penelitian ini dapat dijadikan bahan perbandingan bagi pihak yang ingin melakukan penelitian sejenis
b. Manfaat Praktis
11
1. Manfaat penelitian diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi studi penelitian lebih lanjut mengenai peranan yang dilakukan pekerja sosial medis terkait pelayanan sosial bagi pasien pengidap skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
2. Bagi penulis dapat menambah wawasan yang luas terutama terkait pelayanan sosial pekerja sosial medis khususnya peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial terhadap pasien skizofrenia
3. Bagi pihak yang bergerak di bidang kesehatan, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan yang berguna dalam pelayanan sosial pasien pengidap skizofrenia.
4. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman masyrakat akan pentingnya saling membantu satu sama lain terkhususnya pasien yang mengidap skizofrenia. Pasien skizofrenia sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari masyarakat agar dapat kembali pulih dan bergabung dengan lingkungan sosialnya.
5. Bagi pekerja sosial, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan terkait dengan pelayanan pasien skizofrenia di rumah sakit serta dapat membuat hubungan kerjasama dengan profesi lain agar pelayanan yang diberikan dapat bermanfaat bagi pasien skizofrenia.
12 F. Tinjauan Kajian Terdahulu
Tinjuan kajian yang menjadi rujukan sekaligus perbandingan terkait permasalahan yang peneliti selidiki adalah sebagai berikut
Musfikirrohman dan Atik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Jember tahun 2014 mengeluarkan Jurnal dengan judul Pelayanan Sosial Pekerja Sosial Medis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Dalam jurnal ini membahas bagaimana bentuk pelayanan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial medis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Pekerja sosial medis memberikan pelayanan sosial baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit yang biasanya disebut dengan home visit atau kunjungan rumah kepada pasien cacat (amputasi), pasien stadium akhir (lumpuh) dan pasien muda yang kurang mampu (produktif). Persamaan dalam penelitian ini terletak pada pembahasan pelayanan sosial di rumah sakit yang dilakukan oleh pekerja sosial medisPerbedaan dalam penelitian ini yaitu objek penelitian berbeda, untuk jurnal ini subjeknya adalah pasien yang mengalami cacat tubuh sedangkan dalam penelitian ini subjeknya adalah pasien skizofrenia
Selanjutnya skripsi Intan Sofia Putri dari Fakultas Dahwah dan Komunikasi, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Agama Islam Negeri Ar-Raniry tahun 2017 dengan judul Pelayanan Sosial Bidang Kesehatan pada Pasien Bedah Tulang di Rumah Sakit Umum Derah Zainoel Abidin Banda Aceh. Dalam skripsi ini menjelaskan
13
apa saja bentuk pelayanan sosial bidang kesehatan yang diberikan oleh petugas medis terhadap pasien bedah tulang.
Pasien mendapatkan pelayanan berupa bantuan dana apabila kurang mampu seperti pembelian alan bantu jalan atau biaya operasi. Persamaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan terdapat pada bahasan pelayanan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial medis. Sedangkan untuk perbedaan dalam penelitian ini adalah objek penelitian. Untuk skripsi dari Intan Sofia Putri objeknya adalah pasien patah tulang yang sedang melakukan perawatan di rumah sakit umum sedangkan dalam penelitian ini objeknya adalah pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa
Selanjutnya skripsi dari Muhammad Hikmah Nikmatullah dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Judul skripsinya adalah Peran Pekerja Sosial Medis Terhadap Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Dalam skripsi ini menjelaskan tentang peran pekerja sosial medis sebagai advokasi dalam pemberian pelayanan kepada pasien yang ada di rumah sakit Kanker Dharmais Jakarta dimana pekerja sosial medis membantu memecahkan masalah serta mencai alternatif dalam penyelesaiannya.
Persamaan dalam penelitian ini terdapat pada bahasan peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial. Sedangkan perbedaanya terletak pada tempat dan subyeknya dimana skripsi dari Muhammad Hikmah Nikmatullah lebih berfokus
14
kepada advokasi. Untuk penelitian ini berfokus kepada apa saja peran pekerja sosial medis dalam melakukan pelayanan sosial di RSJIK
Terakhir ada Adhitya Endar Perdana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Jember tahun 2013 dimana membuat skripsi dengan judul Peran Pekerja Sosial Medis dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Kesehatan (Studi Deskriptif pada Pekerja Sosial Medis di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang). Isi dari Penelitian ini adalah membahas bagaimana peran pekerja sosial medis dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan oleh pekerja sosial medis harus sesuai dengan standard yang telah ditentukan oleh rumah sakit. Untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan oleh pekerja sosial medis kepada pasiennya penelitian ini menanyakan langsung kepada pasien maupun rekan beda profesi yang berada di rumah sakit Dr. Saiful Anwar. Persamaan dalam penelitian ini adalah kesamaan terkait peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial bidang kesehatan di rumah sakit. Untuk perbedaannya dalam penelitian ini terletak pada topik bahasan utama penelitiannya.
Adhitiya Endar Perdana lebih menfokuskan permasalahan bagaimana peran pekerja sosial medis dapat meningkatkann pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sedangkan penelitian ini membahas bagaimana peran pekerja sosial dalam pelaksanaan pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa.
15 G. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian dan Pendekatan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif menurut Creswell (2007) adalah suatu penelitian dimana pemahamannya berdasarkan metodologi yang meneliti suatu kegiatan sosial maupun permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Dan untuk pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus.
Pendekatan studi kasus atau case study menurut Sutedi (2009:61) adalah sebuah penelitian dimana berfokus kepada suatu kasus atau peristiwa tertentu untuk diamati dan kemudian dianalisa agar mendapatkan hasil yang maksimal. Alasan kenapa memilih pendekatan studi kasus dikarenakan dalam penelitian ini mengkaji bentuk pelayanan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial medis bagi pasien skizofrenia dan itu membutuhkan sejumlah data lapangan agar lebih aktual dan terkonsep. Dengan pendekatan ini, peneliti bisa masuk ke dalam objek dan mendapatkan data secara langsung sehingga titik permasalahan dapat ditemukan dan bisa segera dianalisis.
2. Jenis Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif karena dalam penelitian ini data yang dicari berupa kata-kata atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian dinyatakan dalam bentuk tulisan atau kata-kata.
Setelah semua data telah terkumpul maka peneliti akan
16
mengolah dengan menggunakan analisis secara deskriptif- kualitatif.
Penelitian deskriptif-kualitatif menurut pemaparan Sukmadinata (2011:73) adalah menggambarkan berbagai fenomena baik nyata maupun rekayasa yang mana lebih memperhatikan kualitas serta karakteristik fenomena tersebut. Penelitian kualitatif deskriptif tidak memberikan suatu perlakukan kepada subjek maupun objek penelitiannya, namun lebih menggambarkan suatu kondisi dengan apa adanya.
Jadi berdasarkan pemaparan para ahli diatas, bahwa penelitian kualitatif deskriptif hanya untuk memperoleh keadaan sebenarnya dari objek maupun subyek penelitian.
Jadi penelitian yang dilakukan ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk peranan pekerja sosial medis dalam kepada pasien skizofrenia serta bentuk dan tujuan yang dilakukan oleh pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial tersebut.
3. Subyek, Objek, Tempat dan Waktu Penelitian a. Subyek
Subyek menurut Arikunto (2010:45) adalah suatu hal yang ingin diteliti baik itu orang, tempat maupun lembaga sebagai vatiabel penelitian. Jadi dalam penelitian ini subyek penelitiannya adalah manusia, lebih khususnya kepada pekerja sosial medis yang berada di RSJIK, profesi lain yang ada di rumah sakit dan pasien skizofrenia yang melakukan pengobatan di RSJIK.
17
Untuk pasien skizofrenia sendiri, terdapat beberapa syarat agar bisa menjadi subyek dalam penelitian ini.
1. Pasien yang mana emosi serta perilakunya yang stabil dan halusinasinya sudah berkurang.
2. Sudah bisa berkomunikasi dan paham akan pertanyaan yang nanti diberikan oleh peneliti
3. Sedang melakukan pengobatan di RSJIK dan secara aktif bertemu dengan pekerja sosial medis RSJIK
Dan untuk memilih pasien tersebut, peneliti akan meminta saran dari pekerja sosial medis terkait siapa yang cocok untuk dijadikan subyek dalam penelitian ini
b. Objek
Objek menurut Sugiono (2012) adalah suatu atribut dari orang atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang kemudian kesimpulannya ditarik oleh peneliti. Objek dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial yang diberikan kepada pasien skizofrenia di RSJIK. Meliputi: (1) bentuk pelayanan sosial pekerja sosial medis (2) kaitan antara peran pekerja sosial medis dan pelayanan sosial
c. Tempat
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitiannya. Lokasinya adalah Rumah Sakit Jiwa Islam Klender yang berada di Jl. Bunga Rampai X, Perumnas Klender, Kel. Malaka Jaya, Kec.
18
Duren Sawit, Jakarta. Khususnya di ruangan Rehabilitasi Psikososial RSJIK.
d. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 6 (enam) bulan dimulai dari bulan Januari sampai Juli.
Tabel 1.1
Timeline Rancangan Waktu Penelitian
NO KEGIATAN
Januari Februari Maret April 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pembuatan
proposal skripsi
V
2 Seminar proposal skripsi
V
3 Revisi proposal skripsi
V
4 Penyerahan surat ke dosen
pembimbing
V
5 Bimbingan V
19 pertama bab
1
6 Penyerahan surat izin penelitian ke RSJIK
V
7 Turun lapangan
V
No Kegiatan Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 8 Proses
penyajian data
V
9 Analisis data
V
10 Kesimpulan data
V
11 Sidang Skripsi
V
Sumber: Olahan Data Pribadi
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini terdapat dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
20
Data primer adalah data langsung yang didapatkan oleh peneliti. Karena data ini didapatkan langsung maka peneliti harus bertemu langsung dengan hal yang berkaitan dengan penelitiannya. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan data secarang langsung tentang peranan terkait pelayanan yang diberikan pekerja sosial medis kepada pasien pengidap skizofrenia dengan menggunakan teknik wawancara langsung.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data-data yang didapat dari berbabagai macam sumber bacaan baik itu buku harian, catatan perjalanan, biografi, surat-surat pribadi bahkan data-data dari instasi pemerintahan. Peneliti menggunakan data sekunder dalam penelitian untuk memperkuat penemuan dan menambah informasi yang telah didapatkan dari wawancara langsung dengan narasumber penelitian.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, peneliti harus mengetahui serta menguasai teknik dalam pengumpulan data agar data yang didapat tepat dan valid sehingga data yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
a. Wawancara
Wawancara menurut Arikunto (2010: 155) adalah sebuah percakapa atau dialgo yang dilakukan dimana untuk memperoleh informasi pewawancara bertemu dan
21
langsung bertanya kepada terwawancara atau narasumber.
Jadi wawancara menurut kesimpulan peneliti merupakan sebuah teknik dalam pengumpulan data dimana adanya pewawancara yang memberikan pertanyaan kepada terwawancara dengan harapan bisa mendapatkan data penelitian yang benar serta terpercaya.
b. Observasi
Observasi menurut Sukmadinata (2011: 220) adalah proses pengamatan yang merupakan salah satu metode pengumpulan data dimana dengan mengamati suatu objek atau kegiatan yang sedang berlangsung.
Metode observasi mungkin menjadi metode yang paling mudah dilakukan oleh peneliti karena bisa dilakukan sambil mengerjakan kegiatan lain. Namun perlu diingat observasi tidak hanya mengamati saja tapi memahami apa yang diihat oleh seorang peneliti. Maka itu diperlukan juga pengetahuan terkait dalam observasi.
Menurut Tjejep Rohendi Rohidi (2011:184) terdapat 3 metode dalam observasi yaitu:
1. Observasi Biasa
Metode biasa menjelaskan dimana peneliti tidak melakukan komunikasi atau kontak dengan yang diamati, tetapi hanya mengumpulkan informasi dari mengamati atau melihat saja.
2. Observasi Terkendali
22
Dalam metode ini, peneliti tidak terlibat langsung dengan pelaku yang diamati namun untuk tempat dimana pelaku berada dikendalikan oleh peneliti.
3. Observasi Terlibat
Dalam observasi ini peneliti memiliki keterlibatan langsung dengan pelaku atau dunia sosial yang ingin dia teliti. Jadi observasi ini peneliti mendapatkan peluang yang sangat besar dalam penglihatan, pendengaran, dan yang dirasakan oleh pelaku
Dari metode observasi diatas, peneliti menggunakan metode observasi terlibat karena dengan metode ini peneliti bisa ikut serta turun dalam emosi dan prilaku pelaku yang diamati.
c. Studi Dokumentasi dan Pustaka
Teknik studi dokumentasi atau pustaka berarti mencari data dalam berbagai karya baik tulisan maupun non tulisan. Diantaranya ada buku, pamphlet, leaflet, foto, video, otobiografi, surat kabar dan lainnya yang mendukung data penelitian.
6. Teknik Pemilihan Informan
Teknik yang peneliti gunakan dalam pemilihan informan adalah teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik yang digunakan dalam pemilihan sampel dengan syarat dan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012:85)
23
Kenapa teknik ini peneliti pilih karena untuk informannya harus memenuhi beberapa kriteria yang sekiranya informan tersebut dapat memberikan data yang tepat terkait pertanyaan yang peneliti berikan.
7. Teknik Analisis Data
Untuk mengenalisa data yang didapat, menurut Bogdan dan Biden dalam Moleong, analisis data deskriptif adalah dengan mendapatkan data, mengelompokkan dan memilah data menjadi satu kesatuan yang dapat diolah, diteliti, dan dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong 1999: 103)
8. Teknik Keabsahan Data
Untuk menentukan keabsahan data, peneliti mengggunakan teknik triangulasi. Triangulasi data menurut Sugiyono (2012: 72) adalah menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data guna untuk mencari keabsahan atau kebenaran data.
Untuk mencari keabsahan data, peneliti akan menggabungkan semua data yang didapat di RSJIK maupun sumber lain yang terpercaya dan melakukan pengecekan satu-persatu.
9. Pedoman Penulisan Skripsi
Pedoman dalam penulisan skripsi mengacu kepada Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 507 Tahun 2017 tentang pedoman penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
24 H. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini disajikan dalam bentuk enam bab. Yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini peneliti akan menjelaskan terkait latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian terdahulu, metodologi penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini berisi terkait teori yang digunakan dalam pembahasan peranan pekerja sosial medis dalam pelayanan sosial bagi pasien skizofrenia BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN
Dalam bab ini berisi terkait profil lembaga yang menjadi tempat penelitian. Yaitu Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur.
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Dalam bab ini berisi uraian dari data yang didapatkan sesuai dengan judul penelitian ini yaitu Peranan Pekerja Sosial Medis Dalam Pelayanan Sosial Bagi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
BAB V PEMBAHASAN
Dalam bab ini berisi tentang analisa terkait Peranan Pekerja Sosial Medis Dalam Pelayanan Sosial Bagi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
25 BAB VI PENUTUP
Merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan, implikasi dan saran sebagai hasil penelitian dari Peranan Pekerja Sosial Medis Dalam Pelayanan Sosial Bagi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
26 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pekerja Sosial Medis 1. Pengertian Pekerja Sosial Medis
Pekerja sosial medis menurut Baker (1987) dikutip dari BBPPKS (Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial) Bandung (2004: 43) adalah sebagai berikut
“the social work practice that occurs in hospital and others healths helath care setting to facilitate good helath, prevent illness, and aid physically patient and their families to resolve the social and psychological problems related to the illness”
“Praktek pekerja sosial yang terjadi di rumah sakit dan tempat perawatan kesehatan lainnya untuk memfasilitasi kesehatan baik untuk mencegah penyakit, dan membantu pasien secara fisik dan keluarganya untuk menyelesaikan masalah sosial dan psikologis yang berkaitan dengan penyakit”
Uraian diatas menurut BBPPKS Bandung (2004: 43- 44) menjelaskan bahwa pekerja sosial medis mengandung lima unsur utama yaitu sebagai berikut
a. Pekerja sosial medis adalah bagian dari praktik pekerjaan sosial karena dalam pelaksanaan tugasnya terdapat intervensi penyembuhan terhadap pasien yang mana sesuai dengan nilai dan norma pekerjaan sosial
27
b. Setting pekerjaan sosial medis berada di rumah sakit maupun di lembaga yang berkaitan dengan kesehatan.
Berarti pekerja sosial medis tidak hanya ditempatkan di rumah sakit saja namun juga berbagai tempat lain seperti panti sosial, rumah jompo, tempat rehabilitasi NAPZA, dan sebagainya.
c. Intervensi yang dilakukan oleh pekerja sosial medis adalah memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasien
d. Sasaran dari pekerja sosial medis adalah klien, keluarga, masyarakat serta lingkungan sekitar
e. Tujuan utama dari pekerja sosial medis adalah meningkatkan kehidupan pasien agar lebih baik dan mencegah berbagai penyakit yang mengakibatkan adanya permasalahan sosial dan psikologis.
Berdasarkan penjelasan diatas pekerja sosial medis merupakan sebuah profesi dimana memberikan pelayanan sosial berbasis kesehatan kepada pasiennya. Latar dalam pekerja sosial medis tidak hanya di rumah sakit namun juga lembaga kesehatan lainnya yang mana profesi pekerja sosial medis harus bisa bekerja sama dengan profesi lain dengan harapan dapat membantu permasalahan kesehatan yang dialami oleh klien. Dan untuk kedepannya pekerja sosial medis berupaya mencegah penyakit serupa datang dengan memberikan penjelasan dan pemahaman kepada pasien tersebut.
28
Sedangkan menurut Skidmore (1991: 161) pengertian dari pekerja sosial medis adalah:
“Medical social work is social work responsible collaboration with medicine. It is practiced in hospitals and clinis and other setting thath commonly are identified with practice medice. The clientele of medical social work are those whose need are social and psicological and whose functioning has been or in danger of becoming impaired because of illness descase, or disability”
“Pekerjaan sosial medis adalah pekerja sosial yang bertanggung jawab bekerjasama dengan kedokteran.
Dipraktekkan di rumah sakit dan dan lingkungan lain yang biasanya diidentifikasikan dengan praktek pengobatan. Klien pekerjaan sosial medis adalah mereka yang kebutuhannya bersifat sosial dan psikologis yang fungsinya telah atau dalam bahaya dan menjadi terganggu karena penyakit, atau cacat.”
Pekerja sosial medis yang bertempat di rumah sakit yang dalam pekerjaannya memberikan pelayanan sosial maupun kejiwaan pasien. Tugas dari pekerja sosial medis adalah membantu agar klien mampu mengatasi masalah sosial yang diakibatkan oleh penyakit yang dideritanya sehingga dirinya mampu dalam mengatasi masalah dan kembalinya keberfungsian sosial diri klien. Awal mulanya pekerja sosial medis lahir karena perkembangan dari ilmu pengetahuan pekerja sosial dan dibutuhkannya profesi pekerja sosial di rumah sakit. (Zastrow, 1992:42)
Berdasarkan uraian diatas pekerja sosial medis merupakan pekerjaan yang bekerjasama dengan profesi dokter atau profesi di bidang kesehatan dan bertempat di
29
rumah sakit. Unit pelayanan yang diberikan oleh pekerja sosial medis adalah psikososial yang berfungsi mencegah dan memberikan perawatan dengan harapan dapat meningkatkan keberfungsian sosialnya.
2. Peran dan Fungsi Pekerja Sosial medis
Peran pekerja sosial medis menurut Johnston (1988:
46-47) terdapat 5 peran pekerja sosial medis diantaranya yaitu:
a. Pembimbing perseorang dan kelompok. Dalam bimbingan perseorang pekerja sosial medis membantu klien dalam mengatasi masalah yang disebabkan oleh penyakitnya tersebut. Hal yang dapat dilakukan dengan kunjungan pasien atau room visit untuk memberikan dukungan, semangat dan bimbingan kepada klien agar lebih memahami kondisi yang dialaminya. Dan dengan bimbingan perseorangan pekerja sosial medis juga dapat menggali informasi yang bergunan dalam menentukan treatment yang diterimanya. Dalam bimbingan kelompok, pekerja sosial medis bersama dengan keluarga membantu bagaimana klien dapat menerima dukungan dan support selalu dari keluarga.
Keluarga harus paham apa yang dilakukan agar proses penyembuhan klien tetap berjalan meskipun berada di rumah.
30
b. Pendorong. Dalam peran ini pekerja sosial medis harus mendorong kliennya agar menceritakan masalah yang dialaminya sehingga dapat merumuskan solusi dalam masalahnya tersebut.
Dalam merumuskan masalah pekerja sosial medis harus menemukan jalan alternatif untuk mengatasi masalah klien. Tidak hanya masalah yang diderita oleh klien namun keluarga juga mendapatkan masalah, diantaranya penerimaan keluarga atas anggota keluarganya yang mengidap skizofrenia dan masalah pembiayaan. Pekerja sosial medis setidaknya dapat sedikit meringankan masalah yang dialami oleh keluarga. Selain itu pekerja sosial medis juga memberikan dorongan semnagat kepada pasien dan keluarga pasien agar lebih kuat dalam mengatasi permasalahan yang dialami.
c. Penghubung. Dalam peran ini pekerja sosial medis harus mampu menghubungkan semua sumber daya dalam membantu mengatasi masalah pasien. Pekerja sosial medis harus memberikan pemahaman kepada profesi di rumah sakit tentang kapan dia harus membantu klien. Saat klien mengalami perasaan yang naik turun atau saat klien tidak pernah membeli obat, juga klien tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya saat masa-masa pemulihan. Oleh karena itu semua informasi yang didapatkan oleh pekerja sosial medis dapat membantu profesi lain dalam menjalan
31
treatment kepada pasien sehingga kesalahan dalam penaganan dapat dikurangi semaksimal mungkin.
Pekerja sosial medis juga dapat menghubungkan klien dengan lembaga yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat seperti lembaga kesehatan, sosial, maupun hukum apabila dibutuhkan dalam mempercepat proses penyelesaian masalah yang dialami oleh klien.
d. Konsultan. Pekerja sosial medis dapat memberikan informasi kepada pihak-pihak yang dibutuhkan dalam mempercepat penyelesaian masalah klien. Pekerja sosial medis dapat memberikan saran atau nasehat kepada profesi lain di rumah sakit terkait dengan permasalahan yang dialami oleh kliennya. Selain saran antar profesi juga memberikan saran kepada pasien dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya.
e. Pendidik. Pekerja sosial medis juga dapat memberikan ilmunya kepada calon pekerja sosial yang melakukan praktek di tempat dia bekerja. Hal ini dapat berupa memberika keterampilan dan praktik langsung kepada pasien dengan pengawasan langsung oleh pekerja sosial medis. Pekerja sosial medis juga dapat memberikan kuliah kepada mahasiswa kesejahteraan sosial maupun jurusan lain terkait dengan pekerja sosial medis.
32
Peran Pekerja sosial medis umumnya berdasarkan terhadap bentuk pelayanan yang diberikan kepada pasien, mengembalikan keberfungsian sosial serta membuat koneksi antara pasien, petugas medis serta anggota keluarga dari pasien.
Pekerja sosial medis dalam pelayanannya adalah turut serta membantu dalam proses pemulihan fisik, sosial dan psikis pasien terhadap permasalah kesehatan yang dialaminya. Pekerja sosial medis akan berupaya membantu pasien agar kehidupannya dalam kembali normal maupun dapat beradaptasi terhadap penyakit yang dideritanya. Agar mendapatkan hasil maksimal maka pekerja sosial harus menghubungkan semua sumber daya yang dapat membantu pemulihan pasien terhadap penyakitnya.
Sedangkan fungsi pekerja sosial medis menurut Johnston (1988: 48) terdapat 6 yaitu:
a. Memberikan bantuan terhadap pasien terkait permasalahan emosi dan sosial yang ditimbulkan dari penyakit yang dideritanya,
b. Menjalin hubungan kekeluargaan,
c. Mengoptimalkan hubungan antara rumah sakit, pasien dan keluarga pasien,
d. Membantu pasien dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan masyarakat,
e. Memberikan penjelasan terhadap profesi pelayanan kesehatan di rumah sakit terkait pekerja sosial medis
33
dan mampu melibatkan diri sebagai bagian utama dari rumah sakit,
f. Ikut aktif dalam kegiatan masyarakat.
3. Tujuan Pekerja Sosial Medis
Tujuan dari pekerja sosial medis menurut Soetarso dikutip dari Jhonston (1988: 38) adalah sebagai berikut:
“Tujuan utama dari bantuan yang diberikan oleh seorang pekerja sosial medis ialah untuk mempertinggi daya guna perawatan medis dan membantu rumah sakit mencapai tujuan penyembuhan”
Dari pemaparan diatas berarti tujuan utama pekerja sosial medis adalah memberikan pelayanan yang dapat membantu proses penyembuhan terhadap penyakit yang diderita oleh pasien. Untuk mencapai hal tersebut maka pekerja sosial medis harus bekerjasama dengan berbagai profesi yang bergerak di bidang kesehatan agar proses penyembuhan pasien dapat berjalan lancar.
4. Masalah yang Ditangani Pekerja Sosial Medis
Terdapat beberapa masalah yang harus ditangani oleh pekerja sosial medis, menurut BBPPKS Bandung (2004:
73) terdapat 8 masalah antara lain:
a. Pasien maupun keluarga kesulitan dalam memahami penyakit yang dideritanya sehingga keinginan untuk melakukan penyembuhan menjadi turun.
34
b. Adanya faktor sosial yang mengakibatkan pasien menjadi sakit.
c. Timbulnya penyakit karena adanya permasalahan sosial.
d. Terdapat kendala dimana pasien tidak mampu dalam melakukan pengobatan.
e. Pasien mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap penyakit yang dideritanya.
f. Terdapat permasalahan personal maupun luar yang dapat mengganggu proses penyembuhan.
g. Pasien membutuhkan sumber daya lain yang dapat membantu proses penyembuhan.
h. Pasien maupun kelurga meminta pekerja sosial untuk membantu permasalahan terkait kesehatan dirinya.
Dari semua permasalahan yang harus dibantu oleh pekerja sosial medis, harus tetap menerapkan nilai pekerja sosial yang mana dapat membantu pekerja sosial medis dalam melayani pasien dengan baik dan hak pasien dapat terpenuhi juga. Terdapat dua nilai pokok yang harus dijiwai oleh pekerja sosial medis yaitu: a) meyakini bahwa setiap manusia adalah unik, dan b) meyakini bahwa klien memiliki hak dalam menentukan kebutuhannya serta bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhannya tersebut (Jhonston, 1988: 41).
5. Tugas Pekerja Sosial Medis
35
Untuk membantu pasien dalam menangani masalah akibat penyakitnya, pekerja sosial medis harus melaksanakan tugas-tugasnya agar kembalinya keberfungsian baik sosial sosial, psikis dari diri pasien maupun bentuk tanggung jawab terhadap rumah sakit.
Berikut tugas pekerja sosial medis menurut BBPPKS (Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial) Bandung (2004:74) sebagai berikut:
a. Rujukan
b. Perencanaan untuk medapatkan maupun mengakhiri pelayanan
c. Studi kasus atau pendeteksian resiko sosial
d. Melakukan konseling terhadap pasien maupun keluarga
e. Evaluasi psikososial
f. Pendidikan kesehatan dan aktivitas dalam pelayanan kesehatan masyarakat
g. Konsultasi dan bimbingan kasus antar profesi di rumah sakit
h. Aktivitas perencanaan i. Melatih kemandirian pasien j. Penelitian
Sedangkan menurut Departemen Kesehatan dalam buku Pedoman Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit Kelas A, B, C terdapat 11 tugas yang harus dikerjakan oleh pekerja sosial medis di rumah sakit yaitu:
36
a. Memperhatikan kondisi sosial ekonomi pasien, pekerja sosial medis dalam hal ini mampu menggali informasi pasien terkait kondisi ekonomi karena dikhawatirkan tidak mampu dalam melakukan pengobatan, jadi pekerja sosial medis harus bisa menghubungkannya dengan lembaga atau instansi yang dapat membantu keuangan pasien.
b. Memberikan bimbingan kepada pasien dan keluarganya terhadap permasalahan yang dihadapinya c. Studi kasus, pekerja sosial meneliti sekaligus
mempelajari kasus yang ditanganinya dengan harapan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kedepannya.
d. Membuat laporan terkait pekerjaan dan pelayanan.
e. Membuat jalinan dengan sumber daya yang dibutuhkan oleh pasien, hal ini dibutuhkan bagi pasien yang memiliki kesulitan dan butuh bantuan dari instansi terkait seperti lembaga hukum, sosial dan budaya.
f. Membantu dalam proses administrasi serta klaim asuransi
g. Home visit, pekerja sosial medis melakukan kunjungan ke rumah pasien guna untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan pasien selama di rumah dan memberikan penyuluhan kepada keluarga secara langsung terkait situasi dan kondisi yang dihadapi
37
oleh anggota keluarganya yang sakit sekaligus bagaimana cara menanganinya.
h. Membuat rencana pemulangan untuk pasien i. Membuat tempat pelatihan bagi pasien j. Membuat tata laksana pekerja sosial medis
k. Menyelenggarakan berbagai bentuk diklat seperti seminar, workshop, pelatihan, kursus, pendidikan berkelanjutan dan lain-lain (Departemen Kesehatan, 2007:11-12).
B. Konsep Pelayanan Sosial 1. Pengertian Pelayanan Sosial
Dalam ilmu kesejahteraan sosial terdapat banyak istilah yang membahas terkait pelayanan, salah satunya adalah pelayanan sosial. Pelayanan sosial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pelayanan yang diberikan kepada kepada penyandang masalah kesejahteraan sosial yang bertujuan untuk mengembangkan dan mengembalikan keberfungsian sosialnya.
Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa ilmu kesejahteraan sosial memiliki maksud yang sama dengan pengertian dari pelayanan sosial yaitu untuk mengembalikan keberfungsian sosial. Pekerja sosial sebagai bentuk profesi dari ilmu kesejahteraan sosial dalam melakukan aktivitas profesinya lebih banyak mengarah
38
kepada pelayanan terhadap permasalah sosial yang dialami baik dari indivudu kelompok maupun lingkungan sosial.
Menurut kamus The Social Worker menjelaskan bahwa pelayanan sosial adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja sosial maupun oleh profesi lain yang mana membantu orang agar dapat memenuhi kecukupannya, membuat diri orang yang dibantu menjadi mandiri, mengembalikan keberfungsian sosial baik itu individu, keluarga dan kelompok masyarakat (Dwi Heru, 2003:179).
Pelayanan sosial menurut pemaparan Suharto dalam arti luas adalah meningkatkan kesejahteraan manusia khususnya kesejahteraan sosial. Sedangkan dalam arti sempit yaitu memberikan suatu kepada masyarakat yang kurang mampu atau tidak beruntung (Edi Suharto,2007:
159)
Berdasarkan pemaparan diatas pelayanan sosial adalah suatu kegiatan yang dilakukan guna untuk membantu individu maupun masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial agar bisa menjadi lebih mandiri dalam kehidupannya.
2. Jenis-jenis Pelayanan Sosial
Menurut Dwi Heru (2003: 106-107), terdapat empat jenis dalam pelayan sosial diantaranya:
a. Pelayanan konsultasi, yaitu pelayanan berupa melakukan bimbingan guna untuk meningkatkan kemampuan diri seperti keterampilan dan
39
komunikasi, membantu dalam menjalankan peran sosial yang ada di masyarakat (adaptasi) dan membantu dalam memecahkan masalah sosial.
b. Pelayanan pemakanan, yaitu pemberian makanan dan minuman sesuai dengan standard kesehatan agar orang yang menerimanya menjadi sehat dan terjamin gizinya.
c. Pelayanan kesehatan, yaitu pelayanan yang diberikan dalam bentuk menjaga dan merawat orang yang dalam masalah kesehatan akibat dari permasalahan sosial yang terjadi. Seperti pengobatan bagi korban banjir, penderita ODGJ yang mengalami masalah terkait kesehatan dan kehidupan sosialnya dan lainnya.
d. Pelayanan pengasramahan, yakni pemberian tempat tinggal sementara bagi orang yang membutuhkan bantuan. Dengan adanya pelayanan ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mencari tempat berteduh dari panas matahari dan dinginnya malam.
Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti memilihi pelayanan sosial berbasis kesehatan karena sesuai dengan subjek, objek dan tempat penelitian yaitu penderita skizofrenia di rumah sakit jiwa. Kesehatan menjadi faktor penentu dalam penegakan kesejahteraan sosial. Orang yang sehat dapat memenuhi kebutuhannya sendiri namun orang yang mengalami masalah kesehatan akan membutuhkan
40
bantuan dari orang lain, apalagi orang tersebut bermasalah dalam kejiwaannya.
ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) khususnya penderita skizofrenia memerlukan bantuan dari berbagai pihak agar dirinya bisa kembali sembuh dan dapat kembali dengan anggota keluarganya. Maka dari itu salah satu pekerja sosial medis harus bisa memberikan bantuan berupa pelayanan sosial untuk mengembalikan kesehatan dari penderita skizofrenia.
3. Fungsi Pelayanan Sosial
Fungsi pelayanan sosial menurut Muhidin (dalam Sulistyo, 2005: 18) terdapat tiga yang diantaranya:
a. Pelayanan sosial yang berfungsi sebagai pengembangan dan sosialisasi guna menanamkan nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat.
Pelayanan sosial dimaksudkan untuk memajukan anak-anak dan pemuda dalam kehidupan mereka saat dewasa.
b. Pelayanan sosial yang berfungsi sebagai penyembuhan, rehabilitasi dan perlindungan.
Pelayanan sosial dalam hal ini membantu individu atau masyarakat yang mengalami masalah dan mampu bangkit menjadi pribadi yang lebih kuat.
c. Pelayanan sosial yang berfungsi sebagai akses yaitu pelayan dalam birokrasi. Dalam fungsi ini pelayanan sosial berupaya memberikan bantuan dalam
41
memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait informasi yang beredar, karena tidak semua masyarakat memiliki pemahaman dan pendidikan yang sama maka dari itu diperlukan penjelasan.
Dengan ini masyarakat menjadi lebih paham terkait informasi maupun program, yang yang dijalankan oleh pihak pemerintah maupun swasta.
4. Tujuan Pelayanan Sosial
Menurut Abdul Untung (dalam Sulistyo, 2005: 18), terdapat beberap tujuan dari pelaksanaan pelayanan sosial diantaranya yaitu:
a. Pelayanan sosial yang bertujuan membantu masyarakat dalam memperoleh pelayanan yang tersedia. Bentuk pelayanan sosial dalam tujuan ini disebut dengan pelayanan akses yang mana mencakup pelayanan advokasi, rujukan dan partisipasi.
b. Pelayanan sosial yang bertujuan dalam kesehatan, pertolongan dan rehabilitasi. Salah satu penerapan dari tujuan ini adalah pemberian pelayanan sosial berupa konseling bagi orang yang membutuhkan, pelayanan sosial panji jompo, pelayanan pekerja sosial medis dan sebagainya.
c. Pelayanan sosial yang bertujuan untuk mengembangkan masyarakat dan lingkungan. Salah satu bentuknya adalah pendidikan bagi anak ataupun
42
keluarga, taman anak dan balita, pusat kegiatan masyarakat dan sebagainya.
C. Konsep Skizofrenia 1. Pengertian Skizofrenia
Dalam dunia medis, gangguan jiwa terbagi menjadi dua golongan, pertama gangguan jiwa ringan (neurosa) dan gangguan jiwa berat (psikosis). Perbedaan dari kedua golongan gangguan jiwa ini terletak pada dua gejala utama yaitu pemahaman diri dan ketidakmampuan dalam memahami realita. Untuk gangguan jiwa ringan dua gejala utama tersebut masih terlihat stabil dan baik sedangkan bagi gangguan jiwa berat dua gejala tersebut sudah tidak stabil lagi (Hawari dalam Rilla, 2019: 2). Salah satu dari gangguan jiwa berat atau psikosis adalah skizofrenia.
Skizofrenia berasal dari kata Yunani yaitu schistos dan phren. Schistos artinya terpecah dan phren artinya otak.
Jadi menurut bahasa pengertian dari skizofrnia adalah otak yang rusak, pecah atau terbelah. Bleuler menjelaskan skizofrenia sebagai suatu kondisi terpecah atau terbelahnya antara kognisi, afeksi, dan tingkah laku, sehingga terjadinya ketidaksesuaian antara emosi dan pikiran atau persepsi diri terhadap realitas (Rilla, 2019: 2).
Menurut Sadock mengutip dari Surya (2018: 1) skizofrenia adalah bagian dari gangguan psikosis yang terutama ditandai dengan kehilangan pemahahaman terhadap realita dan hilangnya daya tilik.
43
Jadi orang yang mengidap skizofrenia akan sulit membedakan mana dunia asli ataupun dunia halusinasi.
Mereka biasanya akan mendegar suara-suara yang menganggu, dan kadang-kadang dengan suara-suara tersebut mereka bisa melakukan hal-hal diluar batas wajar seperti melukai diri sendiri ataupun orang lain disekitarnya.
2. Diagnosa Skizofrenia
Terdapat enam kriteria diagnosa skizofrenia menurut Diagnostic, and Statiscal Manual of Mental Disorder (DSM-IV-TR) dikutip dari Rilla (2019: 7) sebagai berikut:
a. Kriteria A, Gejala Karaterisktik: Dimana terdapat 2 atau lebih tanda atau gejala dalam periode waktu 1 bulan. Dianatara gejalanya yaitu: 1) waham, 2) halusinasi, 3) bicara kacau, 4) perilaku kacau, dan 5) gejala negatif yaitu hilangnya keinginan atau minat dan alogia
b. Kriteria B, Disfungsi sosial: terdapat beberapa pola sosial yang mengalami penurunan seperti tidak bisa merawat diri, stress akan pekerjaan, hubungan antarpersonal yang buruk dan.
c. Kriteria C, Durasi: tanda lanjutan dari gangguan berlangsung minimal 6 bulan. Dan dalam 6 bulan terdapat setidaknya 1 bulan gejala dari salah satu kriteria A.
d. Kriteria D, Eklusi gangguan mood dan skizoafektif:
dalam kriteria ini ciri psikotik telah dihilangkan