Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 1
P U T U S A N
NOMOR : 210 / G / 2020 / PTUN – MDN” DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ”
Pengadilan Tata Usaha Negara Medan yang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara pada Tingkat Pertama dengan Acara Biasa, yang dilangsungkan di Jalan Bunga Raya No. 18, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Medan, telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut dibawah ini, dalam perkara antara :
1. PARGAULAN MANURUNG, Kewargaan Negara Indonesia, Pekerjaan Bertani, Beralamat di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara ;
2. BINSAR MANURUNG, Kewargaan Negara Indonesia, Pekerjaan Bertani, Beralamat di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara ;
dalam hal ini diwakili oleh kuasanya: 1. KIRNO SIALLAGAN,S.H ;
2. DARMAN YOSEF SAGALA,S.H
3. ESTER GRACIA ROITO ARITONANG,S.H ; 4. HERMAN SIALLAGAN,S.H ;
5. HARISON SAPUTRA PANJAITAN,S.H ; 6. FRANSISCO LUMBAN BATU,S.H ; 7. GUSTAF MANAOR SARAGIH,S.H ;
Kesemuanya warganegara Indonesia, pekerjaan Advokat / Advokat magang dan Konsultan Hukum pada Kantor Hukum KIRNO SIALLAGAN,S.H & REKAN beralamat di Jalan Sisingamangaraja Nomor . 127-A Balige , Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir – Provinsi Sumatera Utara, Telp ( 0632 ) 4320889, HP 0813 9640 1188, berdasarkan Surat Kuasa Khusus No : 30/SK/-PTUN/KSSH/XI/2020 tanggal 25 November 2020. selanjutnya disebut sebagai ……… Para PENGGUGAT ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 2
M E L A W A N :
KEPALA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR, yang berkedudukan di Jalan Somba Debata No.3 Onan Raja, Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, dalam hal ini dikuasakan kepada 1. PAING PANGARIBUAN, S. Sit.,M.H. Jabatan sebagai Kepala Seksi Pengendalian dan Penanganan Sengketa 2. BETRIC YOLANDA BANJARNAHOR, S.H. Jabatan sebagai Kepala Subseksi Penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara Pertanahan 3. FERNANDO SIAHAAN, S.H. Jabatan sebagai Kepala Subseksi Pengendalian Pertanahan 4. RIKA SANDHORA, S.H. Jabatan sebagai Analisis Hukum Pertanahan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil Berkantor di Jalan Somba Debata No. 3 Onan Raja, Kelurahan Balige III, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : 535/SKu-12.12 /XII/2020 tertanggal 15 Desember 2020, selanjutnya disebut sebagai…... TERGUGAT ;
Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut ;
Telah membaca Penetapan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, tanggal 07 Desember 2020, Nomor : 210 / G / 2020 / PTUN – MDN, tentang Penunjukan Susunan Majelis Hakim, dan Penetapan Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, tanggal 07 Desember 2020, Nomor : 210 / G / 2020 / PTUN – MDN, tentang Penunjukan Panitera Pengganti ; Telah membaca Surat Gugatan Penggugat tanggal 4 Desember 2020, yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, tanggal 07 Desember 2020 ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 3
Telah membaca Penetapan Hakim Ketua Majelis tanggal 07 Desember 2020, Nomor : 210 / G / 2020 / PTUN – MDN, tentang Pemeriksaan Persiapan pada hari: Selasa 15 Desember 2020 ;
Telah membaca Penetapan Hakim Ketua Majelis, tanggal 12 Januari 2021, Nomor : 210 /G/HS/ 2020 / PTUN – MDN, tentang Persidangan untuk perkara ini pada hari : Selasa 19 Januari 2021 ;
Telah membaca Surat Panggilan yang telah disampaikan kepada Para Pihak yang bersengketa, Berita Acara Pemeriksaan Persiapan dan Berita
Acara Sidang serta surat - surat lain yang berkaitan dengan Perkara ini; Telah membaca surat surat bukti Para Pihak yang telah diajukan dalam Persidangan ;
Telah mendengar keterangan Para Pihak yang bersengketa di Persidangan ;
Telah mendengar keterangan Saksi – Saksi yang diajukan oleh Para Penggugat di Persidangan ;
--- TENTANG DUDUKNYA PERKARA ---
Menimbang, bahwa Para Penggugat telah mengajukan Surat Gugatan tertanggal 4 Desember 2020, yang diterima dan didaftar di dalam Register Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, pada tanggal 7 Desember 2020, Nomor : 210/ G / 2020/ PTUN-MDN, yang telah diadakan perbaikan secara formal pada tanggal 12 Januari 2020, yang pada pokoknya sebagai berikut :
A. Objek Sengketa
Bahwa yang menjadi objek sengketa Tata Usaha Negara dalam gugatan a quo ini adalah Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 4
September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar;
B. Kewenangan Mengadili Pengadilan Tata Usaha Negara
1. Bahwa objek sengketa yang dikeluarkan oleh Tergugat itu merupakan suatu Keputusan Tata Usaha Negara, yang memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Ketentuan Pasal 1 ayat 9 Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu:
(1) Konkret
Karena surat keputusan yang dikeluarkan Tergugat adalah nyata- nyata dibuat oleh Tergugat, tidak abstrak, tapi berwujud tertulis, tertentu dan dapat ditentukan mengenai apa yang akan dilakukan; (2) Individual
Karena surat keputusan yang dikeluarkan Tergugat tersebut ditujukan dan berlaku khusus bagi seseorang atau badan Hukum Perdata dan bukan untuk umum;
(3) Final
Karena surat keputusan yang dikeluarkan Tergugat tersebut telah defeniti dan menimbulkan sebab akibat hukum;
2. Bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Tergugat telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka (9) dan angka (12) Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, oleh karenanya dapat menjadi objek sengketa Tata Usaha Negara, yaitu:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 5
(1) Keputusan Tata Usaha Negara tersebut adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang berisikan tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bersifat konkret, individual dan final, sehingga menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata;
(2) Tergugat adalah badan atau pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan keputusan berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya yang digugat oleh orang atau badan hukum perdata;
3. Bahwa atas dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara yang merugikan kepentingan Para Penggugat berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut oleh Tergugat, Para Penggugat kemudian mengajukan permohonan pemblokiran sertipikat a quo yang diajukan secara tertulis terhadap Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar pada tanggal 08 Oktober 2020 sebagai bentuk upaya administratif yang diajukan oleh Para Penggugat sesuai dengan ketentuan Ps. 75 Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Upaya Administrasi Pemerintahan yang menyatakan “warga masyarakat yang dirugikan terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan Upaya Administratif kepada
Pejabat Pemerintahan atau Atasan Pejabat yang menetapkan
dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan”, namun tidak
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 6
memperoleh tanggapan apapun dari Tergugat, oleh-karena permohonan pemblokiran yang diajukan oleh Para Penggugat secara tertulis tersebut ditolak secara tertulis pula oleh Tergugat, sehingga oleh-karenanya Para Penggugat kemudian mengirimkan Surat Keberatan No.: 202/KSSH/XI/2020 tertanggal 09 November 2020 dan surat keberatan Para Penggugat tersebut tidak ditanggapi kembali oleh Tergugat hingga dilayangkannya gugatan a quo;
4. Bahwa ketentuan Ps. 2 angka (1) Peraturan Mahkamah Agung RI No. 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Administrasi Pemerintahan setelah Menempuh Upaya Administratif menyatakan bahwasannya “Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa administrasi pemerintahan setelah menempuh upaya administratif”;
Bahwa oleh-karena Para Penggugat telah menempuh “upaya administratif” berupa keberatan dan permohonan pemblokiran sertipikat sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Ps. 75 Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Upaya Administrasi Pemerintahan, namun upaya Para Penggugat tersebut tidak memperoleh tanggapan apapun dari Tergugat, maka Pengadilan Tata Usaha Negara Medan dengan ini berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang dimohonkan oleh Para Penggugat;
C. Kepentingan Penggugat Yang Dirugikan
1. Bahwa ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyatakan “orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 7
tertulis kepada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau direhabilitasi”;
2. Bahwa Para Penggugat adalah pemilik yang sah atas sebidang tanah seluas 3,003 m² yang terletak di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba, sebagaimana yang tertera dalam Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar, yang merupakan bagian dari harta warisan milik Para Penggugat dan ahli waris lainnya dari keturunan Ompu Soramunggu Manurung yang keseluruhan luasnya kurang lebih 17 Ha;
3. Bahwa akibat diterbitkannya Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tesebut oleh Tergugat, maka Para Penggugat telah merasa dirugikan hak dan kepentingannya sebagai salah satu ahli waris yang sah sebagai pemilik yang sebenarnya dan yang juga memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam menikmati harta warisan selaku keturunan Ompu Soramunggu Manurung terhadap harta warisan berupa sebidang tanah yang diatasnya secara melawan hukum telah terbit sertipikat sebagaimana dimaksud dalam Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar. Sehingga oleh-karenanya Pengadilan Tata Usaha
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 8
Negara Medan dengan ini berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang dimohonkan oleh Para Penggugat;
D. Tenggang Waktu Pengajuan Gugatan
1. Bahwa Keputusan Tata Usaha Negara berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar yang menjadi objek sengketa dalam gugatan a quo ini diterbitkan oleh Tergugat pada tahun 2018;
2. Bahwa Para Penggugat mengetahui Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Tergugat tersebut diatas telah merugikannya adalah pada tanggal 06 Oktober 2020 pada saat Para Penggugat memenuhi panggilan dari Pihak Kepolisian guna menjalani proses pemeriksan oleh Penyidik Polres Toba, dimana setelah mengetahui informasi tersebut, pada tanggal 08 Oktober 2020 Para Penggugat kemudian mengajukan upaya keberatan dengan mengajukan permohonan pemblokiran yang dilakukan secara tertulis terhadap Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar yang ditujukan kepada Tergugat disertai dengan pembayaran biaya pemblokiran, namun permohonan pemblokiran yang diajukan oleh Para Penggugat tersebut tidak dikabulkan oleh Tergugat yang membalas permohonan tertulis Para Penggugat tersebut secara tertulis pula;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 9
Bahwa kemudian akibat tidak dikabulkannya permohonan pemblokiran yang telah diajukan oleh Para Penggugat tersebut, Para Penggugat kemudian kembali mengirimkan Surat Keberatan No.: 202/KSSH/XI/2020 tertanggal 09 November 2020 akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara oleh Tergugat berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar, namun keberatan yang diajukan oleh Para Penggugat tersebut tidak memperoleh tanggapan apapun dari Tergugat;
3. Bahwa oleh-karena Para Penggugat telah mengajukan upaya administratif berupa permohonan pemblokiran secara tertulis 2 (dua) hari setelah Para Penggugat mengetahui adanya Keputusan yang merugikannya tersebut, namun permohonan Para Penggugat ditolak secara tertulis oleh Tergugat dan Para Penggugat kembali mengirimkan Surat Keberatan namun tidak memperoleh tanggapan apapun oleh Tergugat, maka oleh-karenanya upaya administratif yang diajukan oleh Para Penggugat telah sesuai dengan ketentuan Ps. 75 Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Upaya Administrasi Pemerintahan menyatakan “Warga Masyarakat yang dirugikan terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan
Upaya Administratif kepada Pejabat Pemerintahan atau Atasan
Pejabat yang menetapkan dan/atau melakukan Keputusan dan/atau
Tindakan”, dimana Upaya Administratif tersebut dapat berupa keberatan, yang hanya dapat diajukan dalam waktu paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak diumumkannya Keputusan tersebut oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 10
4. Bahwa ketentuan Ps. 2 angka (1) Peraturan Mahkamah Agung RI No. 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Administrasi Pemerintahan setelah Menempuh Upaya Administratif menyatakan bahwasannya “Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa administrasi pemerintahan setelah menempuh upaya administratif”;
Bahwa oleh karena Para Penggugat telah mengajukan upaya administratif baik melalui permohonan pemblokiran yang diajukan secara tertulis, namun ditolak oleh Tergugat dan juga melalui Surat Keberatan yang juga tidak memperoleh tanggapan apapun dari Tergugat, maka Para Penggugat kemudian memutuskan untuk mengajukan Gugatan Tata Usaha Negara ini yang terdaftar pada tanggal 07 Desember 2020 di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, sehingga gugatan a quo ini diajukan masih dalam tenggang waktu;
Bahwa terkait tenggang waktu pengajuan Gugatan Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara di Pengadilan, ketentuan Pasal 55 Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyatakan “Gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara”;
Bahwa kemudian berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 5K/TUN/1992 tertanggal 21 Januari 1993, mengenai tengang waktu pengajuan Gugatan Tata Usaha Negara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 11
tersebut, dalam Putusan No. 5K/TUN/1992 tertanggal 21 Januari 1993 disebutkan bahwasannya “Jangka waktu termaksud dalam Pasal 55 UU No. 5 tahun 1986, harus dihitung sejak Penggugat mengetahui adanya keputusan yang merugikannya”;
Bahwa jangka waktu pengajuan gugatan tersebut diatas dalam Putusan Nomor: 5K/TUN/1992 tertanggal 21 Januari 1993 juga dikuatkan dengan adanya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 2 tahun 1991 yang menyatakan “bagi mereka yang tidak dituju oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara tetapi yang merasa kepentingannya dirugikan maka tenggang waktu sebagaimana dimaksud pasal 55 dhitung secara kasuistis sejak saat ia merasa kepentingannya dirugikan oleh Keputusan Tata Usaha Negara dan mengetahui adanya keputusan tersebut”;
Bahwa oleh karena gugatan a quo diajukan masih dalam tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 55 Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara jo. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 2 tahun 1991 jo. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 5K/TUN/1992 tertanggal 21 Januari 1993, maka Pengadilan Tata Usaha Negara Medan oleh karenanya berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang dimohonkan oleh Para Penggugat; E. Dasar dan Alasan Gugatan :
1. BAHWA tanah seluas 3,003 m² yang terletak di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba - Provinsi Sumatera Utara yang diatasnya secara melawan hukum telah terbit Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 12
Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar adalah merupakan kepunyaan Para Penggugat yang diperoleh melalui proses pewarisan, dengan batas-batas tanah sebagai berikut, yaitu: Sebelah Utara : Jalan Desa
Sebelah Timur : Jurang Sebelah Selatan : Jurang
Sebelah Barat : Huala Manurung
2. Bahwa sebagian dari tanah terperkara seluas 3,003 m² tersebut diatas pada awalnya, sekitar tahun 2006 sampai dengan tahun 2009, dengan persetujuan dan seizin dari Para Penggugat telah diusahai oleh Japikkir Sirait dengan cara menyewa dan setiap tahunnya Japikkir Sirait selalu memberikan tanda terima kasih kepada Para Penggugat dan kemudian pada tahun 2011, tanah tersebut diusahai oleh Humala Butar-Butar;
Bahwa selanjutnya pada tahun 2012 puteri dari Humala Butar-Butar bersama suaminya yang bernama Basalem Manurung kembali dari perantauan dan datang ke Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir. Dan memohon supaya dijinkan untuk mengusahai tanah yang diusahai oleh Humala Butar-Butar, kemudian Humala Butar-Butar meneruskan permintaannya kepada Penggugat serta meminta izin kepada Penggugat supaya Basalem Manurung dan Isterinya br. Butar-Butar diizinkan meminjam dan/atau mengusahai lahan yang diusahai oleh Humala Butar-Butar. Dengan izin Penggugat jadilah tanah dimaksud diusahai oleh Basalem Manurung dan isterinya br. Butar-Butar sampai pada tahun 2014;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 13
Bahwa sekitar tahun 2014 datang lagi Magda Butar-Butar (dalam bahasa daerah Batak merupakan pariban dari Basalem Manurung) dari Dolok Sanggul (Kabupaten Humbang Hasundutan) ke Desa Dolok Nagodang dan kedatangan Magda Butar-Butar tanpa didampingi oleh suaminya K. Simamora yang ketika itu menurut informasi masih dalam menjalani hukumannya dirumah tahanan;
Bahwa kedatangan Magda Butar-Butar di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir adalah untuk meminjam sebagian lahan yang diusahai oleh Basalem Manurung guna diusahai untuk menyambung hidup dan Basalem Manurung sebelum lahan tersebut dipinjamkan/diusahai kepada Magda Butar-Butar minta izin terlebih dahulu kepada Penggugat;
Bahwa setelah mendapat izin dari Penggugat maka jadilah lahan seluas 3,003 m² tersebut diusahai oleh Magda Butar-Butar dengan menanam Ubi dan tanaman Palawija lainnya sejak sekitar tahun 2014 dan Magda Butar-Butar tetap mengakui bahwa lahan yang diusahainya tersebut adalah milik Penggugat;
3. Bahwa adapun bidang tanah yang diusahai oleh Magda seluas 3,003 m² yang merupakan satu kesatuan dengan tanah milik Penggugat dan ahli waris lainnya dari OMPU SORAMUNGGU MANURUNG yang terletak di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir dengan batas-batas:
Sebelah Utara : Jalan Desa Sebelah Timur : tanah Penggugat Sebelah Selatan : tanah Penggugat
Sebelah Barat : tanah milik Huala Manurung
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 14
Bahwa kemudian, sewaktu lahan tersebut diusahai oleh Magda Butar-Butar, pada sekitar tahun 2017, Magda Butar-Butar bekerja sama dengan Kepala Desa Dolok Nagodang berupaya memohon kepada Tergugat supaya diterbitkan Sertifikat Hak Milik atas nama Magda Butar-Butar dan tanpa sepengetahuan oleh Penggugat;
Bahwa atas permohonan yang diajukan oleh Magda Butar-Butar tersebut, Tergugat kemudian menerbitkan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar;
Bahwa terdapat kesalahan mengenai data fisik dan data yuridis dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar, dimana kesalahan data fisik maupun data yuridis dalam pendaftaran tanah akan menghilangkan unsur kepastian hukum hak atas tanah, sehingga orang yang berhak terhadap tanah tersebut akan dirugikan dan kesalahan tersebut juga akan berakibat informasi yang salah di BPN sebagai alat kelengkapan Negara yang akibatnya juga berarti menciptakan administrasi pertanahan yang tidak tertib;
4. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 huruf a Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah disebutkan bahwasannya “pendaftaran tanah bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 15
hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan”;
Bahwa kemudian berdasarkan ketentuan Pasal 32 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah disebutkan juga bahwasannya “sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan”;
Bahwa dalam proses penerbitan sertipikat tanahnya, Para Penggugat menduga Magda mengajukan alas hak yang salah satunya berupa “Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (Sporadik) yang disaksikan oleh 2 (dua) orang Saksi dan diketahui oleh Kepala Desa”, dimana alas hak tersebut tidak memenuhi syarat-syarat pembukuan hak sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan Pasal 24 ayat 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yaitu: karena “penguasaan dan penggunaan tanah yang bersangkutan TIDAK dilakukan secara nyata dan dengan itikad baik selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut turut” dan “kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah tersebut selama itu tidak diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan”;
BAHWA jika benar, maka TIDAK BENAR bahwasannya Magda telah menguasai tanah terperkara selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut, karena Magda selama ini
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 16
berdomisili di Dolok Sanggul dan baru beberapa tahun belakangan berdomisili di Desa Dolok Nagodang;
Bahwa benar untuk keperluan pendaftaran tanah dilakukan klasifikasi pembuktian hak atas tanah yang dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu: pembuktian hak baru dan pembuktian hak lama;
Bahwa kemudian sesuai dengan ketentuan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah disebutkan bahwa:
(1) Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal
dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik, dianggap cukup untuk mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebaninya;
(2) Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu pendahulunya, dengan syarat:
(a) penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara
terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 17
(b) penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama
pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya;
Bahwa dalam hal bukti tertulis tersebut tidak lengkap atau tidak ada lagi, pembuktian kepemilikan itu dapat dilakukan dengan keterangan saksi atau pernyataan yang bersangkutan yang dapat dipercaya kebenarannya menurut pendapat Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik; Bahwa yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang cakap memberi kesaksian dan mengetahui kepemilikan tanah tersebut;
Bahwa Penjelasan Pasal 24 ayat (2) PP 24/1997 menyatakan “Ketentuan ini memberi jalan keluar apabila pemegang hak tidak dapat menyediakan bukti kepemilikan sebagaimana dimaksud ayat (1) baik yang berupa bukti tertulis maupun bentuk lain yang dapat dipercaya. Dalam hal demikian pembukuan hak dapat dilakukan tidak berdasarkan bukti kepemilikan akan tetapi berdasarkan bukti penguasaan fisik yang telah dilakukan oleh pemohon dan pendahulunya”;
Bahwa pembukuan hak menurut ayat ini harus memenuhi syarat sebagai berikut:
(1) bahwa penguasaan dan penggunaan tanah yang bersangkutan dilakukan secara nyata dan dengan itikad baik selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut turut;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 18
(2) bahwa kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah tersebut selama itu tidak diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan;
(3) bahwa hal-hal tersebut diperkuat oleh kesaksian orang-orang yang dapat dipercaya;
(4) bahwa telah diberikan kesempatan kepada pihak lain untuk mengajukan keberatan melalui pengumuman sebagaimana dimaksud Pasal 26;
(5) bahwa telah diadakan penelitian juga mengenai kebenaran hal-hal yang disebutkan di atas;
(6) bahwa akhirnya kesimpulan mengenai status tanah dan pemegang haknya dituangkan dalam keputusan berupa pengakuan hak yang bersangkutan oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik dan oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik;
5. Bahwa sebelum mengajukan permohonan hak, Pemohon penerbitan sertipikat tanah haruslah menguasai tanah yang akan dimohonkan haknya tersebut, sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat 1 Permenag/KBPN No. 9 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa: “Sebelum mengajukan permohonan hak, pemohon harus menguasai tanah yang dimohon dibuktikan dengan data yuridis dan data fisik
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku”;
Bahwa kemudian berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat 1 PP No. 24 Tahun 1997 disebutkan bahwasannya “Pihak Kantor Pertanahan menetapkan batas berdasarkan penunjkan batas oleh
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 19
pemegang hak atas tanah dan sedapat mungkin disetujui para pemegang hak atas tanah yang berbatasan. Jika dalam pengukuran dimana batas-batas tanah tidak ditunjukkan oleh yang menguasai tanah atau kuasanya dan batas-batas tanah tidak ditandatangani oleh tentangga batas, maka cacat secara prosedur dan melanggar ketentuan Pasal 18 ayat 1 PP No. 24 Tahun 1997”;
Bahwa terhadap bidang tanah yang telah bersertipikat tetapi tidak dikuasai secara fisik dan tidak diusahai bidang tanah tersebut oleh subyek hak atau kuasanya, maka kepemilikan tanah tersebut cacat hukum administrasi, karena isi surat pernyataan penguasaan fisik yang dijadikan alas hak penerbitan sertipikat tanah tersebut, sesuai dengan ketentuan Pasal 76 ayat 3 Permenag/KBPN No. 3 Tahun 1997 yang dilampirkan pada saat pendaftaran hak terbukti mengandung KEBOHONGAN;
Bahwa selama 30 (tiga puluh) tahun terakhir, Para Penggugat lah Pihak yang selama ini menguasai dan mengusahai tanah terperkara dan yang selama ini meberikan izin kepada Pihak lain untuk mengusahai, bukan menguasai tanah terperkara;
Bahwa seseorang yang namanya dimuat dalam sertipikat hak milik harus menguasai tanah tersebut, karena jika tidak pernah menguasai tanah tersebut, maka kekuatan hukum sertipikat tersebut tidaklah kuat. HAK MILIK ARTINYA HARUS DIKUASAI;
6. Bahwa Tergugat tidak hati-hati dalam memproses permohonan pendaftaran hak atas tanah yang diajukan oleh Magda, karena Tergugat juga terkesan tidak melakukan penelitian terlebih dahulu mengenai kebenaran dan keabsahan dari “Surat Pernyataan Kepemilikan yang disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi dan diketahui
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 20
oleh Kepala Desa Dolok Nagodang” dan “Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (Sporadik) yang disaksikan oleh 2 (dua) orang Saksi dan diketahui oleh Kepala Desa Dolok Nagodang”, apabila benar kedua alas hak tersebut ternyata yang dijadikan dasar permohonan penerbitan sertipikat a quo, dimana akibat dari ketidak hati-hatiannya, Tergugat kemudian mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yang merugikan kepentingan Para Penggugat;
7. Bahwa kemudian berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dalam ketentuan Ps. 1 angka 6 disebutkan bahwasannya “Asas Umum Pemerintahan Negara Yang Baik adalah asas yang menjunjung tinggi norma kesusilaan, kepatutan, dan norma hukum, untuk mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme”;
Kemudian, didalam Bab III Ps. 3 Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme disebutkan juga bahwasannya Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara antara lain yaitu:
(1) Asas Kepastian Hukum;
Adalah asas dalam Negara Hukum yang mengutamakan landasan dan sesuai peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Pemerintah;
Bahwa artinya Tergugat sebagai Pejabat TUN haruslah menjunjung tinggi terlaksananya kepastian hukum, kepatutan, dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 21
keadilan dalam setiap melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya yang diberikan oleh Negara;
Bahwa dalam proses penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut, Tergugat sebagai Pejabat yang berwenang haruslah menjamin terlaksananya asas kepastian hukum dengan tidak mengesampingkan kepatuttan dan keadilan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat;
(2) Asas Keterbukaan;
Adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara;
Bahwa seharusnya, jika proses penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut telah dilakukan berdasarkan hukum yang berlaku dengan menjunjung tinggai asas kepastian hukum, maka seharusnya dalam proses penerbitan sertipikat tersebut, Tergugat tidak perlu takut dalam memberikan seluruh informasi penting kepada masyarakat, dalam hal ini Para Penggugat sebagai pemilik tanah yang sebenarnya, sehingga Para Penggugat yang merasa haknya terancam akibat terjadinya proses penerbitan Sertifikat Hak Milik
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 22
No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut dapat segera melakukan upaya hukum yang diperlukan sebelum terjadinya proses penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut terjadi; (3) Asas Akuntabilitas;
Adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
Bahwa Tergugat harus bisa mempertangungjawabkan perbuatannya dalam proses penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar. Bahwa jika benar dalam proses penerbitan hak dalam sertipikat tersebut telah dilakukan proses penerbitan hak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, maka Tergugat tidak perlu menyimpan segala informasi yang berkaitan dengan proses penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar tersebut;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 23
Bahwa kedudukan Tergugat yang merupakan Jabatan Tata Usaha Negara sebagai Pihak yang berhak melakukan proses penerbitan hak terhadap tanah tersebut memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi asas legalitas yang terkandung dalam asas umum pemerintahan yang baik dalam mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar;
Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum dan dalil-dalil hukum tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwasannya alas hak penerbitan Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar mengandung CACAT dan oleh karenanya Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar haruslah dinyatakan BATAL DEMI HUKUM;
F. Petitum
Bahwa berdasarkan dalil-dalil tersebut diatas, maka mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara ini untuk memeriksa, mengadili, dan menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut:
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha Negara yang di terbitkan oleh Tergugat berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 24
Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar;
3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut dan mencoret dari Register Buku Tanah Keputusan Tata Usaha Negara berupa Sertifikat Hak Milik No.: 19/Dolok Nagodang tertanggal 10 September 2018, Surat Ukur No.: 26/Dolok Nagodang/2018 tertanggal 29 Agustus 2018 dengan luas 3,003 m² atas nama Magda Butar-Butar;
4.
Menghukum Tergugat untuk mebayar biaya perkara yang timbul dalam sengketa Tata Usaha Negara ini;Menimbang, bahwa atas Gugatan Penggugat, Tergugat mengajukan Jawabannya tertanggal, 2 Pebruari 2021 ;
DALAM EKSEPSI :
1. Bahwa Tergugat menolak seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat, kecuali yang telah diakui secara tegas oleh Tergugat.
2. Bahwa Tergugat memohon kepada Majelis Hakim yang Terhormat untuk menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima oleh karena secara yuridis dalil-dalil gugatan yang diajukan Penggugat cukup lemah, berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
A. Kepentingan Penggugat Yang Dirugikan
1. Bahwa Penggugat menyatakan dalam Surat Gugatan sebagai pihak yang dirugikan yakni dalam penerbitan Sertipikat Hak Milik Nomor 19/Dolok Nagodang tanggal 10 September 2018, Surat Ukur Nomor 26/Dolok Nagodang/2018 tanggal 29 Agustus 2018 seluas 3.003 m² atas nama Magda Butar-Butar adalah keliru dan tidak berdasar. 2. Bahwa perlu Tergugat tegaskan jika kepentingan yang dirugikan
haruslah dapat dibuktikan dan didukung dengan data maupun fakta-fakta sebenarnya.
3. Bahwa Penggugat di dalam gugatannya tidak dapat menjelaskan secara terperinci mengenai sejarah tanah kepemilikan objek perkara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 25
beserta bukti kepemilikan yang dimiliki oleh Penggugat. Padahal Penggugat mendalilkan sebagai pemegang hak atas tanah yang dimaskud. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan jika Penggugat dalam gugatannya tidak memiliki dasar sebagai pihak yang dirugikan dikarenakan Penggugat sendiri tidak memiliki bukti kepemilikan atas tanah objek perkara. Penggugat mendalilkan bahwa tanah yang menjadi objek perkara merupakan harta warisan milik keturunan Ompu Soramunggu Manurung yang luasnya kurang 17 Ha akan tetapi Penggugat tidak mendalilkan secara terperinci letak dan batas tanah yang dimaksud sehingga sangat jelas Penggugat bukanlah merupakan pihak yang dirugikan sebab Penggugat tidak dapat membuktikan kerugian yang dialaminya.
B. Gugatan Penggugat Kabur (Obscuur Libel)
Bahwa sebagaimana berdasarkan Surat Gugatan pada halaman 4 menyebutkan ”bahwa para Penggugat adalah mewakili keturunan Ompu Soramunggu Manurung/pemegang hak atas tanah yang telah dimohonkan Sertipikat Hak Milik Nomor 19/Dolok Nagodang tanggal 10 September 2018, Surat Ukur Nomor 26/Dolok Nagodang/2018 tanggal 29 Agustus 2018 seluas 3.003 m² atas nama Magda Butar-Butar, terletak di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara.” Dengan demikian, alasan Penggugat merasa kepentingannya sangat dirugikan oleh terbitnya Objek Gugatan tersebut adalah dalil yang tidak tepat dan keliru dikarenakan Penggugat sendiri tidak mencantumkan dengan jelas mengenai batas-batas tanah yang menjadi objek perkara yang menurut penggugat sebagai miliknya. Adanya perbedaan batas-batas yang diajukan Penggugat dalam dalilnya dengan batas-batas yang sebenarnya dalam Sertipikat yang menjadi objek perkara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat adalah kabur ditandai tidak jelasnya objek perkara yang dimaksud, hal ini membuktikan bahwa penggugat tidak teliti dalam menyusun gugatannya sehingga gugatan menjadi kabur dan salah lokasi objek gugatan.
Majelis Hakim yang terhormat, Tergugat berprinsip bahwa konsep pemeriksaan dan pembuktian melalui jalur hukum harus didasarkan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 26
kepada segala sesuatu yang sifatnya terukur, terarah, pasti dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, gugatan yang di ajukan oleh Penggugat sama sekali tidak berdasar karena disusun berdasarkan fakta-fakta yang tidak jelas kebenarannya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian gugatan Penggugat tergolong gugatan yang kabur (Obscuur Libel).
C. Penggugat Tidak Berkualitas Mengajukan Gugatan
Mengenai Kualitas sebagai Penggugat karena Penggugat tidak berhak mengajukan gugatan (Legal Standing / error in persona standi injudicio) yaitu :
1. Bahwa Penggugat mendalilkan sebagai pihak yang merupakan keturunan Ompu Soramunggu Manurung, dimana Penggugat tidak menjelaskan secara terperinci tentang silsilah keturunan Ompu Soramunggu Manurung. Para Penggugat menjadikan ini sebagai acuan perihal hak pemegang atas tanah objek perkara berdasarkan keturunan dari silsilah adalah hal yang keliru dan tidak tepat. 2. Bahwa perlu Tergugat tegaskan, jika Penggugat mendalilkan
sebagai keturunan dari Ompu Soramunggu Manurung harusnya Penggugat dapat mencantumkan silsilah yang jelas dan terperinci mulai dari Ompu Soramunggu Manurung sampai kepada posisi para Penggugat dalam garis keturunan yang sah. Sehingga dengan tidak terpenuhinya hal tersebut, maka dalil Penggugat yang menyatakan sebagai keturunan Ompu Soramunggu Manurung perlu dipertanyakan kembali.
3. Bahwa Penggugat juga mendalilkan sebagai pihak yang “mewakili” dirinya dan juga ahli waris lainnya dari keturunan Ompu Soramunggu Manurung perlu dipertanyakan. Hal ini disebabkan Para Penggugat tidak bisa menjelaskan dalam gugatannya tentang siapa-siapa saja pihak yang diwakilkan oleh Para Penggugat dan juga apa bukti atau dasar yang dimiliki oleh Para Penggugat sehingga Para Penggugat berani menyatakan diri sebagai perwakilan keturunan Ompu Soramunggu Manurung.
4. Bahwa jika mencermati dari isi gugatan, Para Penggugat tidak mempunyai kuasa dari pihak-pihak lain yang mungkin juga merupakan keturunan dari Ompu Soramunggu Manurung sehingga
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Perkara Nomor : 210/G/2020/PTUN-MDN Hal. 27
sangat tidak layak para Penggugat menyatakan diri sebagai perwakilan dari keturunan Ompu Soramunggu Manurung. Sehingga dengan demikian terkait legal standing para Penggugat dalam perkara aquo perlu dipertanyakan kembali.
Bahwa berdasarkan Pasal 53 ayat (1) jo. pasal 1 butir 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan “seorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan Tata Usaha Negara…”, adalah jelas mewajibkan harus adanya unsur kepentingan hukum sedangkan dalam perkara aquo terhadap objek gugatan adalah terbukti Penggugat tidak mempunyai kepentingan hukum dan atau tidak berhak mengajukan gugatan.
Bahwa oleh karena Penggugat tidak berkualitas sebagai Penggugat untuk mengajukan gugatan dalam perkara ini, maka sudah sepantasnya Majelis Hakim yang terhormat yang mengadili perkara ini untuk menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet onvantkelijke verklaard).
DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa Tergugat menolak dengan tegas seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat kecuali terhadap hal-hal yang secara tegas diakui oleh Tergugat dalam Perkara ini ;
2. Bahwa keseluruhan dalil-dalil yang tercantum dalam Eksepsi tersebut di atas secara Mutatis mutandis mohon dianggap telah termuat dalam pokok perkara ini oleh karena itu tidak perlu diulang lagi ;
3. Bahwa benar Tergugat telah menerbitkan Sertipikat Hak Milik Nomor 19/Dolok Nagodang tanggal 10 September 2018, Surat Ukur Nomor 26/Dolok Nagodang/2018 tanggal 29 Agustus 2018 seluas 3.003 m² atas nama Magda Butar-Butar terletak di Desa Dolok Nagodang, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara.
4. Bahwa mengenai data fisik dan data yuridis terhadap tanah Sertipikat Hak Milik Nomor : 19/Dolok Nagodang tanggal 10 September 2018, Surat Ukur
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :