Sementara penggugat di posita 8 gugatannya mempertanyakan pelaksanaan lelang yang dilakukan secara online. Apabila Penggugat mempermasalahkan ketentuan hukum tersebut, maka seharusnya Penggugat mengajukan permohonan peninjauan kembali peraturan menteri tersebut kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia, bukan melalui gugatan perbuatan melawan hukum seperti dalam gugatan dalam kasus ini. Bahwa berdasarkan uraian dan dasar hukum sebagaimana tersebut di atas, telah terbukti bahwa gugatan tersebut kabur dan tidak jelas, sehingga hendaknya gugatan penggugat dinyatakan TIDAK DITERIMA (Niet Onvankelijk Verklaard).
Sedangkan Penggugat berdasarkan dalil-dalil gugatannya telah mengakui adanya hubungan pinjam meminjam antara Penggugat 1 selaku Peminjam (Debitur) yang dalam melakukan perbuatan hukum tersebut telah memperoleh persetujuan Penggugat 2 selaku suami/isteri Penggugat 1, dan PIHAK RUSAK sebagai Kreditur yang dalam hal ini hubungan kredit dan pinjam meminjam tersebut dicatat dalam Surat Perjanjian Kredit (SPK) yang ditandatangani oleh Penggugat dan TERGUGAT. Bahwa dalil Penggugat berkaitan dengan pembayaran pinjaman, seperti pada Posita 3 gugatan ini, menunjukkan adanya kesimpangsiuran mengenai hubungan hukum pinjam meminjam antara Penggugat dan TERGUGAT. Bahwa seluruh fasilitas pinjaman yang dinikmati Penggugat adalah berdasarkan permintaan Penggugat 1 dengan persetujuan Penggugat 2 TERGUGAT.
Oleh karena itu, dalil Penggugat sebagaimana tercantum dalam Posita 4 merupakan suatu keadaan yang bertentangan dengan fakta. Bahwa dalil Penggugat pada Posita 6 menunjukkan upaya Penggugat untuk melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai Debitur yang harus memenuhi kewajiban pembayaran atas fasilitas pinjaman yang diterimanya. Padahal, Perjanjian Kredit Fasilitas Pinjaman yang ketiga adalah antara Penggugat dan TERGUGAT, sebagaimana tertuang dalam.
Enam Puluh Juta Rupee) untuk melunasi pinjaman sebagaimana dimaksud pada Poin 7. Gugatan ini semakin menunjukkan buruknya etika PENGGUGAT atau setidaknya PENGGUGAT 1 (Debitur) karena gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian yang dibuat antara PENGGUGAT 1 selaku Penggugat Debitur dan PENGGUGAT 2 berkedudukan sebagai suami dan penjamin dengan TERGUGAT sebagai BANK (kreditur).
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Turut Tergugat I tidak akan menjawab dalil-dalil yang diajukan Penggugat yang tidak berkaitan dengan tugas dan wewenang Turut Tergugat I. Bahwa permasalahan yang dijadikan dasar Penggugat untuk mengajukan gugatannya adalah berkaitan dengan lelang eksekusi hak tanggungan atas sebidang tanah dan bangunan yang bersangkutan yang berdiri di atasnya dalam SHM No. Bahwa dalil/alasan Penggugat sesuai posita nomor 8 surat gugatan yang menyatakan “Bahwa Tergugat melalui Turut Tergugat I bermaksud mengadakan lelang eksekusi atas agunan berupa sebidang tanah tersebut di atas; , pelaksanaan lelang dilakukan secara online sehingga tidak adanya pengendalian terhadap transparansi pelaksanaan lelang, sangat terbuka terhadap praktik penipuan dalam pelaksanaan lelang, serta merusak semangat dan asas lelang. ," tidak berdasar dan harus ditolak.
Apabila debitur ingkar kontraknya, maka pemegang hak gadai yang pertama berhak menjual obyek hak gadai itu atas kuasanya sendiri melalui pelelangan umum dan menagih tagihan dari hasil penjualan itu.” ketentuan § 6 Undang-Undang Hak Gadai Nomor 4 Tahun 1996 dan klausul dalam surat akta hipotek nomor 06 November 2013 yang berbunyi, Apabila debitur tidak memenuhi kewajiban pelunasan utangnya atas dasar utang tersebut di atas dan perjanjian piutang oleh Pihak Pertama, maka Pihak Kedua dengan ini diberikan sebagai Pemegang Hak Gadai Peringkat Pertama dan menyatakan menerima surat kuasa dan dengan demikian surat kuasa tersebut, tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Pihak.
Dengan kata lain, penjualan obyek hipotek pada dasarnya dilakukan dengan cara lelang dan tidak memerlukan eksekusi oleh pengadilan, mengingat penjualan berdasarkan Pasal 6 UUHT merupakan tindakan pelaksanaan suatu perjanjian. Bahwa berdasarkan pasal di atas, ketentuan mengenai Hak Gadai termasuk dalam hak kreditur bersyarat. Dalam tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 UUHT, kreditur pemegang hak gadai pertama hanya boleh mengajukan permohonan lelang untuk dilakukan di Kantor Lelang Negara.
Hak kreditur pertama untuk menjual secara terbuka obyek hak tanggungan atas kuasanya sendiri, diberikan demi hukum kepada kreditur yang mempunyai hak tanggungan pertama, dan kuasa itu tidak diperoleh dari pemberi hak. Sedangkan terdakwa selanjutnya mengajukan permohonan lelang kepada rekan tersangka I mengenai pokok sengketa dengan nomor surat: 479/. Sedangkan terhadap Surat Lelang Eksekusi UU Hipotek a quo, selanjutnya Tergugat I memeriksa dan melaksanakan kebenaran berkas serta kelengkapan administrasi berkas yang dilampirkan pada Surat Permohonan Lelang yang diajukan tergugat.
Sedangkan Pemohon berdasarkan ketentuan yang berlaku, sebelum dilakukan lelang oleh rekan tergugat I, dilelang secara in casu. Bahwa lelang objek sengketa adalah lelang pelaksanaan hak gadai, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Gadai dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Lelang Sebagai diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 106/PMK .06/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK .06/2010 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Lelang, Agar Lelang Pemberlakuan Barang Sengketa sah dan berdasarkan hukum.
Bahwa tergugat I melaksanakan pelelangan obyek sengketa atas permintaan tergugat dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. bahwa berdasarkan uraian jawaban di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada fakta hukum yang pada pokoknya menunjukkan bahwa terdakwa I melanggar ketentuan tata cara lelang dan berbuat melawan hukum serta tidak memenuhi persyaratan sesuai peraturan lelang. . Berdasarkan alasan-alasan yang dikemukakan dalam pokok perkara di atas, Turut Tergugat I dengan ini meminta agar Majelis Hakim Yang Mulia yang memeriksa dan mengadili perkara a quo hendaknya memutus sebagai berikut.
Tergugat II (Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten) dalam perkara ini hanya melakukan registrasi administratif dan tidak berhak menguji kebenaran materiil Undang-Undang Pengalihan Tanah, karena pengajuan tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.