8
BAB II
LANDASAN TEORI
II.1. Pengertian Asuransi Jiwa
Asuransi Jiwa adalah kontrak yang berisikan pengalihan resiko keuangan yang ditanggung kepada perusahaan atau industri asuransi sebagai pihak yang menanggung resiko tersebut. Untuk itu individu tersebut harus membayarkan premi asuransi agar kontrak tersebut tetap berlaku dan ditanggung resikonya oleh pihak penanggung. Jika terjadi resiko, seperti kematian yang terjadi terhadap pihak yang ditanggung dalam jangka waktu penanggungan maka pihak penanggung akan memberikan santunan yang diberikan kepada ahli waris atau orang yang ditunjuk di dalam polis sebagai penerima santunan.
Beberapa tipe resiko yang dipertanggungkan oleh asuransi jiwa meliputi kematian, kecelakaan atau cacat, dan kehilangan kemampuan untuk memperoleh penghasilan. Perusahaan asuransi akan menanggung seluruh atau sebagian dari resiko keuangan yang diderita tertanggung karena kejadian atau situasi yang diasuransikan terjadi selama masa kontrak asuransi.
Dalam produk asuransi di jaman sekarang ini secara umum asuransi jiwa dibedakan menjadi 2 garis besar yaitu asuransi jiwa berjangka (term life), asuransi jiwa murni (whole life). Asuransi term life adalah jaminan jenis asuransi yang memberikan jaminan asuransi kepada pemegang polis asuransi (tertanggung) selama jangka waktu tertentu. Apabila terjadi resiko kematian selama kontrak asuransi berlangsung, maka pihak asuransi akan membayar sejumlah uang pertanggungan kepada ahli waris, akan tetapi apabila tidak terjadi resiko kematian selama kontrak asuransi berlangsung maka pihak yang ditanggung tidak akan memperoleh nilai tunai
9
baik itu berupa uang pertanggungan maupun pengembalian dari premi asuransi yang sudah dibayarkan. Biasanya asuransi ini dibutuhkan oleh pemegang polis untuk sementara, misalnya perjalanan pesawat terbang, sedangkan untuk asuransi jiwa whole life asuransi jiwa ini memberikan perlindungan seumur hidup, namun biasanya perusahaan asuransi memberikan pertanggungan sampai umur maksimum 100 tahun.
Karena asuransi Term life, adalah asuransi jiwa berjangka, maka asuransi ini akan memberikan nilai pertanggungan ketika tertanggung meninggal dunia. Berbeda dengan asuransi whole life, premi asuransi jiwa seumur hidup tidak hangus, perusahaan asuransi akan mengembalikan premi nasabah bila tidak ada klaim. Selain premi kembali, pada akhir kontrak bila tidak ada klaim maka uang pertanggungan akan diberikan semuanya.
Dalam perkembangan sekarang ini asuransi whole life berkembang lagi dengan produk yang bernama unit link dimana pemegang polis selain memilki proteksi terhadap kematian juga terdapat proteksi terhadap kecelakaan, kesehatan atau rumah sakit, dan cacat serta selain mendapat proteksi dari pihak asuransi pemegang polis juga memilki investasi atau tabungan yang dibebaskan kepada pemegang polis untuk memilih jenis investasi yang diinginkan seperti investasi dalam saham, obligasi, ataupun campuran keduanya.
10 II.2. Kerangka Teori
II.2.1. Pengertian Akuntansi
Menurut Horngren, Harrison, dan Bamber (2002:5): “Accounting is an information system that measures business activities, then processes that information into reports and communicating the results to decision makers”.
Dalam bahasa Indonesia Akuntansi merupakan sebuah sistem informasi yang mengukur aktifitas-aktifitas bisnis, kemudian memproses informasi tersebut menjadi laporan-laporan dan mengkomunikasikan hasil-hasil tersebut kepada para pembuat keputusan. Dan menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:4) “Accounting is an information system that identifies and records the activities of the business, and then processed into reports and communicating the business activities to decision makers”.
Dalam bahasa Indonesia Akuntansi adalah sistem informasi yang mengindentifikasi dan mencatat aktivitas-aktivitas bisnis, kemudian diproses menjadi laporan dan mengkomunikasikan aktivitas bisnis tersebut kepada para pembuat keputusan.
II.2.2. Pendapatan
Penghasilan didefinisikan dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan sebagai kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset, atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Penghasilan meliputi pendapatan maupun keuntungan. Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari pelaksanaan aktivitas perusahaan yang normal dan dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga,
11
dividen, sewa. Sedangkan pendapatan menurut PSAK (2012:23.6): “Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode jika arus kas masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekutias, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.
Dari definisi di atas kita lihat perbedaan antara penghasilan dan pendapatan, penghasilan mencakup pendapatan dan keuntungan, sedangkan pendapatan merupakan arus kas masuk bruto yang berasal dari aktivitas usaha atau kegiatan yang dilakukan perusahaan yang tidak berkaitan dengan penanaman modal.
Dalam buku Analisis Laporan Keuangan, Mahmud M Hanafi dan Abdul Halim (2003: 57) menyatakan bahwa :
Pendapatan didefinisikan sebagai aset masuk atau aset yang naik nilainya atau hutang yang semakin berkurang atau kombinasi ketiga hal dimuka selama periode dimana perusahaan memproduksi dan menyerahkan barang atau jasa atau aktivitas lain yang merupakan operasi pokok perusahaan.
Pada dasarnya ada dua pendekatan terhadap konsep pendapatan (revenue) yang dapat ditemukan dalam literatur akuntansi. Pertama pendekatan yang memusatkan perhatian kepada arus masuk (inflow) dari pada aset yang ditimbulkan oleh kegiatan operasional perusahaan. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan yang memusatkan perhatian kepada penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan atau penyerahan barang dan jasa tersebut kepada konsumen atau produsen lain. Dalam hal ini, Tuanakotta (2004: 153) menyatakan bahwa “revenue” adalah inflow of assets (atau net assets) ke dalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang atau jasa.” Lebih lanjut Kieso, et al (2005: 56) mengemukakan pendapatan sebagai berikut :
12 Revenue is inflows or other enhancements of assets of on entity or settlement of its liabilities (or a combination of both) during a period from delivering or producing goods, rendering, services, or other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operations.
Dalam bahasa Indonesia berarti, pendapatan adalah arus kas masuk atau penambahan lain atas harta atau suatu kesatuan atau penyelesaian suatu kewajiban (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama perusahaan tersebut.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan dasar arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomis yang timbul dari aktivitas kegitan normal perusahaan, baik berasal dari aktivitas operasi perusahaan maupun dari aktivitas non operasi.
II.2.3. Jenis Pendapatan dan Pengungkapan
Pendapatan dalam perusahaan asuransi terdiri dari tiga macam (PSAK 36.5) yaitu pendapatan yang bersumber dari :
a. Premi kontrak asuransi jangka pendek
Premi kontrak asuransi jangka pendek diakui sebagai pendapatan dalam periode kontrak sesuai dengan proposi jumlah proteksi asuransi yang diberikan. Jika periode asuransi berbeda secara signifikan dengan periode kontrak, maka premi diakui sebagai pendapatan selama periode resiko sesuai dengan proporsi jumlah proteksi asuransi yang diberikan.
b. Premi kontrak selain kontrak asuransi jangka pendek
Premi kontrak selain kontrak asuransi jangka pendek diakui sebagai pendapatan pada saat jatuh tempo dari pemegang polis. Kewajiban untuk biaya yang diharapkan timbul sehubungan dengan kontrak tersebut diakui selama periode sekarang dan periode diperbaruinya kontrak. Nilai sekarang estimasi manfaat polis
13
masa depan yang dibayar kepada pemegang polis atau wakilnya dikurangi dengan nilai sekarang estimasi premi masa depan yang akan diterima dari pemegang polis (liabilitas manfaat polis masa depan) diakui pada saat pendapatan premi diakui. c. Pendapatan lain
Komisi reasuransi dan komisi keuntungan reasuransi diakui sebagai pendapatan lain.
Hal-hal berikut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan (PSAK 36.17) :
a. kebijakan akuntansi mengenai :
i. Pengakuan pendapatan premi dan penentuan liabilitas manfaat polis masa depan serta premi yang belum merupakan pendapatan.
ii. Transaksi reasuransi termasuk sifat, tujuan, dan efek transaksi reasuransi tersebut terhadap operasi perusahaan.
iii.Pengakuan beban klaim dan penentuan estimasi klaim tanggungan sendiri. iv.Kebijakan akuntansi yang lain yang penting sebagaimana ditentukan dalam SAK yang relevan.
b. Pendapatan premi bruto : pendapatan premi tahun pertama dan premi tahun lanjutan secara terperinci berdasarkan kelompok perorangan dan kumpulan serta jenis asuransi.
c. Klaim dan manfaat : jenis, jumlah dan penyebab kenaikan klaim dan manfaat yang signifikan.
14 II.2.4. Pemisahan komponen deposit
Beberapa kontrak asuransi mengandung baik komponen asuransi maupun komponen deposit. Dalam beberapa kasus, asuradur disyaratkan atau diizinkan untuk memisahkan komponen tersebut yang diatur dalam PSAK 36:
a. Pemisahaan disyaratkan jika kedua kondisi berikut terpenuhi :
i. Asuradur dapat mengukur komponen deposit (termasuk opsi penyerahan melekat) secara terpisah (yaitu tanpa mempertimbangkan komponen asuransi).
ii. Kebijakan akuntansi yang digunakan asuradur tidak mensyaratkan untuk mengakui seluruh hak dan kewajiban yang timbul dari komponen deposit tersebut.
b. Pemisahan diizinkan, tetapi tidak disyaratkan, jika asuradur dapat mengukur komponen deposit secara terpisah sebagaimana dijelaskan di huruf a. i, tetapi kebijakan akuntansi asuradur mensyaratkan untuk mengakui seluruh hak dan kewajiban yang timbul dari komponen deposit, terlepas dari dasar yang digunakan untuk mengukur hak dan kewajiban tersebut.
c. Pemisahan tidak diizinkan jika asuradur tidak dapat mengukur komponen deposit secara terpisah sebagaimana dijelaskan di huruf a.i.
Berikut contoh kasus ketika kebijakan akuntansi asuradur tidak mensyaratkan untuk mengakui seluruh kewajiban yang timbul dari komponen deposit. Cedant menerima kompensasi kerugian dari reasuradur, tetapi kontrak kewajiban cedant untuk membayar kembali kompensasi tersebut di masa depan. Kewajiban tersebut timbul dari suatu komponen deposit. Jika kebijakan akuntansi cedant mengizinkan
15
untuk mengakui kompensasi tersebut sebagai pendapatan tanpa mengakui kewajiban yang timbul, maka pemisahan disyaratkan.
II.2.5. Pengertian Kontrak Asuransi
Surat kontrak asuransi adalah kontrak dimana satu pihak (asuradur) menerima resiko asuransi signifikan dari lain (pemegang polis) dengan menyetujui untuk mengompensasi pemegang polis jika kejadian masa depan tidak pasti tertentu (kejadian yang diasuransikan) berdampak merugikan pemegang polis (PSAK, 2012: 62.Lampiran A)
Melihat bahwa kondisi dari kontrak asuransi tersebut yang diterbitkan oleh pihak yang menerima resiko dapat menyebabkan ketidakjelasan dan berpotensi menimbulkan beragam penafsiran dalam praktik, sehingga dapat menyebabkan menurunnya daya banding laporan keuangan di industri asuransi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya panduan lebih lanjut untuk beberapa isu dalam penerapan PSAK 62. PSAK 62 ini membahas mengenai beberapa hal berikut:
a. Perhitungan gross premium reserve; b. Estimasi klaim;
c. Tes kecukupan liabilitas
II.2.6. Pengertian Gross premium reserve
Gross premium reserve (GPR) mencerminkan nilai sekarang estimasi pembayaran seluruh manfaat yang diperjanjikan, termasuk seluruh opsi yang disediakan, dan nilai sekarang estimasi seluruh biaya yang akan dikeluarkan serta mempertimbangkan penerimaan premi di masa yang akan datang (IAI Exposure draft buletin teknis 8, 2012:6)
Perhitungan Gross premium reserve dengan menggunakan rumus (IAI Exposure draft buletin teknis 8, 2012:7)
16
+ -
Estimasi arus kas mencakup semua tambahan arus kas masuk dan keluar serta (IAI Exposure draft buletin teknis 8, 2012:8):
a. Terpisah dari estimasi tingkat diskonto yang menyesuaikan arus kas dengan nilai waktu dari uang.
b. Mengandung marjin yang mencerminkan penyesuaian arus kas masa depan terhadap dampak ketidakpastian jumlah dan waktu terjadinya. Marjin ini sering diistilahkan provision for adverse deviation atau margin for adverse deviation. c. Mencerminkan perspektif perusahaan, tetapi untuk variabel pasar harus konsisten dengan harga pasar yang dapat diobservasi.
d. Memasukkan semua informasi jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas yang timbul akibat pemenuhan kontrak asuransi oleh asuradur, dengan cara yang tidak bias.
e. Sesuai kondisi saat ini (estimasi mencerminkan semua informasi yang ada pada tanggal pengukuran).
f. Hanya memasukkan arus kas dari kontrak asuransi yang ada, yaitu arus kas masuk dan keluar yang timbul dari kontrak asuransi yang masih memiliki liabilitas manfaat polis masa depan.
II.2.7. Estimasi Liabilitas Klaim
Estimasi liabilitas klaim adalah klaim yang belum diputuskan baik jumlahnya dan/atau haknya, termasuk klaim yang terjadi namun belum dilaporkan (PSAK 2012:36.04). Estimasi liabilitas klaim atas kontrak jangka pendek, dinyatakan
Nilai sekarang estimasi arus kas untuk pembayaran manfaat di masa depan.
Nilai sekarang estimasi arus kas untuk pembayaran biaya di masa depan
Nilai sekarang estimasi arus kas dari penerimaan premi bruto di masa depan
17
sebesar jumlah estimasi berdasarkan perhitungan teknis asuransi (PSAK 2012:36.15).
II.2.8. Tes Kecukupan Liabilitas
Tes kecukupan liabilitas adalah penilaian apakah jumlah tercatat atas suatu liabilitas asuransi perlu ditingkatkan ( atau jumlah tercatat dari biaya akuisisi tangguhan atau aset tidak berwujud terkait menurun), berdasarkan kajian atas arus kas masa depan PSAK, 2012:62.Lampiran A).
Jika asuradur menerapkan tes kecukupan liabilitas yang memenuhi syarat minimum yang telah ditentukan, maka pernyataan ini tidak mewajibkan persyaratan tambahan lagi. Persyaratan minimum tersebut adalah sebagai berikut (PSAK, 2012:62.16):
a. Tes mempertimbangkan estimasi sekarang atas seluruh arus kas kontraktual, dan arus kas terkait misalnya biaya pengurusan klaim, serta arus kas yang dihasilkan dari opsi dan jaminan melekat.
b. Jika tes menunjukan bahwa liabilitas tidak mencukupi, maka seluruh kekurangan tersebut diakui dalam laba rugi.
Jika kebijakan akuntansi asuradur tidak mensyaratkan tes kecukupan liabilitas yang memenuhi persyaratan minimum maka asuradur (PSAK, 2012:62.17) :
a. Menentukan nilai tercatat atas liabilitas asuransi relevan dikurangi nilai tercatat dari :
i. Setiap biaya akuisisi tangguhan terkait; dan
ii.Setiap aset tidak berwujud terkait, misalnya yang diperoleh dalam kombinasi bisnis atau pengalihan portofolio. Namun, aset reasuransi yang terkait tidak dipertimbangkan karena asuradur menghitungnya secara terpisah.
18 b. Menentukan apakah jumlah yang dijelaskan di huruf (a) lebih kecil daripada nilai tercatat yang disyaratkan jika liabilitas asuransi relevan termasuk dalam ruang lingkup PSAK 57: provisi, liabilitas kontijensi dan aset kontijensi. Jika jumlah tersebut lebih kecil, maka asuradur mengakui seluruh selisihnya dalam laba rugi dan menguranginya jumlah tercatat biaya akuisisi tangguhan terkait atau aset tidak berwujud terkait atau menigkatkan jumlah tercatat liabilitas asuransi relevan.
Jika tes kecukupan liabilitas asuradur memenuhi persyaratan minimum maka tes tersebut diterapkan pada tingkat agregasi tertentu. Jika tes kecukupan liabilitas tidak memenuhi persyaratan minimum tersebut, maka perbandingan yang dijelaskan dibuat pada tigkat suatu portofolio kontrak yang bergantung pada resiko yang sama dan dikelola bersama sebagai portofolio tunggal.
II.3. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil survey penulis pada perpustakaan yang terdapat di
Universitas Bina Nusantara, maka penulis belum menemukan adanya penelitian terdahulu yang membahas metode penyajian dan pengungkapan laporan keuangan industri asuransi jiwa sesuai dengan PSAK 62 dan yang terkait. Untuk itu penulis melakukan survey melalui data sekunder yang penulis lakukan melalui pencarian menggunakan media internet. Berikut ini akan penulis lampirkan informasi mengenai penelitian terdahulu yang penulis temukan :
19
Nama, Judul, dan Tahun
Penelitian
Rumusan Masalah Hasil Penelitian
(Berupa Simpulan)
Nama :
Moermahadi S. Djanegara. Judul :
Pengaruh Pengakuan
Pendapatan terhadap laporan keuangan. Studi kasus pada
PT Asuransi Jiwa BNI
Jiwasraya. Tahun : 2005
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor
Kewajaran dalam laporan
keuangan yang tidak
menimbulkan
kesalahtaksiran bagi para pengguna atau pihak yang berkepentingan. Dan sesua dengan prinsip akuntansi
yang berlaku haruslah
disajikan oleh perusahaan.
Penerapan metode
pengakuan pendapatan
maupun perlakuan akuntansi
yang dilakukan oleh
perusahaan BNI Jiwasraya akan berpengaruh terhadap Laporan Keuangan terutama
dalam memenuhi
karakteristik kualitatif.
Karena perhitungan yang
kurang tepat terhadap
pengakuan pendapatan akan mempengaruhi keakuratan laporan keuangan.
Nama :
Sapto Amal Damnasabahri Judul :
Evaluasi atas pengakuan
pendapatan dan beban dalam
kaitannya dengan PSAK
No.36 tentang akuntansi
asuransi jiwa. Tahun : 2004
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor
Apakah penyajian laporan
keuangan perushaan PT
Asuransi jiwa BNI Jiwasray telah sesuai PSAK No. 36.
Bagaiman metode
pengakuan pendapatan dan beban pada PT Asuransi Jiwa BNI Jiwasraya.
PT Asuransi Jiwasraya
persero tidak mengakui
pendapatan premi
berdasarkan premi kontrak jangka pendek dan premi
kontrak jangka panjang
sesuai dengan Pernyataan
Stnasabahr Akuntansi
Keuangan No. 36 tetapi lebih mengutamakan pada
cara pembayaran premi
secara berkala atau
sekaligus.
Pencatatan dan pengakuan beban pada PT Asuransi Jiwasraya menggunakan kas basis yang telah disesuaikan dengan PSAK No. 36. Nama :
Tapen Sinha Judul :
The Indian Insurance Industry : Challenges and prospects Tahun : 2005
University Business School
India masih merupakan pasar asuransi terbelakang, ia memiliki potensial yang besar. menyajikan gambaran penting dari sejarah
perkembangan sektor ini, tetapi relevansi ke pasar saat ini tidak hilang, seperti aslinya 1938 Undang-Undang Asuransi masih membentuk tulang punggung dari peraturan
potensi asuransi pedesaan di India. Meskipun ada potensi yang kuat untuk ekspansi asuransi ke wilayah pedesaan, pertumbuhan sejauh ini tetap lambat. Mengingat bahwa sebagian besar penduduk India masih tinggal di daerah pedesaan, sangat penting bahwa pengembangan industri asuransi tidak boleh
20 asuransi ini. Kehidupan dan
sektor asuransi non-jiwa masing-masing.
Perkembangan dengan implikasi yang luas, seperti proliferasi bancassurance sebagai saluran distribusi alternatif dan pindah ke memungkinkan kebebasan perusahaan asuransi non-jiwa yang lebih besar dalam harga produk mereka, yang melihat secara rinci.
melewatkan sektor ini karena jumlah penduduk yang besar
Nama :
Roger G. Ibbotson Judul :
Human Capital, Asset
Allocation, and Life Insurance Tahun : 2005
York University - Schulich School of Business and Ibbotson Associates
seorang investor mengandung risiko kematian, yang merupakan kerugian dari semua pendapatan masa depan dan upah dalam peristiwa malang kematian dini. Namun, asuransi jiwa dapat digunakan sebagai sarana lindung nilai terhadap risiko kematian ini. Dengan demikian, modal manusia mempengaruhi baik alokasi aset yang optimal dan asuransi jiwa yang optimal juga. Namun secara historis, alokasi aset dan keputusan asuransi jiwa secara konsisten telah dianalisis secara terpisah baik dalam teori dan prakte.
modal manusia untuk memungkinkan investor individu untuk membuat kedua keputusan bersama-sama. Kami menyelidiki dampak dari besarnya modal manusia, volatilitas, dan korelasinya dengan aset lainnya serta preferensi warisan dan probabilitas kelangsungan hidup subjektif pada portofolio optimal lifeinsurance dan kelas aset tradisional.
21
Nama, Judul, dan Tahun
Penelitian
Rumusan Masalah Hasil Penelitian
(Berupa Simpulan)
Nama :
Joanne Horton Judul :
Market Consistent Embedded Values as 'Fair Value' Measurements
for Life Insurance Accounting: A Step Too Far With Finance Theory?
Tahun : 2007
University of Exeter Business School
Nilai tertanam telah banyak diadopsi oleh asuransi jiwa Eropa dan perusahaan di Kanada untuk tambahan pelaporan kinerja dan oleh asuransi AS untuk tujuan manajemen. Ini memiliki implikasi penting bagi perdebatan internasional atas penggunaan yang tepat dari nilai wajar dalam pelaporan keuangan. Tapi EV masih belum diterima oleh pembuat standar (misalnya IASB) untuk dimasukkan dalam laporan keuangan utama.
Konsep Pasar Konsisten Nilai Tertanam telah dikembangkan terutama oleh aktuaris dengan memanfaatkan ekonomi keuangan modern. Makalah ini menganalisis bagaimana kedua metodologi top-down dan bottom-up untuk memperkirakan MCEV dapat menyebabkan penyisihan realistis untuk risiko dan mengeksplorasi bahaya penghitungan ganda elemen dalam MCEV 'neraca ekonomi', dari kesalahpahaman tentang sifat sinergis dari keseluruhan nilai
perusahaan, dan keyakinan naif dalam efisiensi pasar. Ini menjelaskan penelitian empiris potensial dengan implikasi yang lebih luas untuk 'nilai wajar' akuntansi dan pelaporan.