• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta BPJS di Rumah SakiT Umum Daerah Tarutung Tahun 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta BPJS di Rumah SakiT Umum Daerah Tarutung Tahun 2017"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

42 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Mutu

Mutu adalah totalitas dari wujud serta diri dari suatu barang atau jasa,yang

didalam nya terkandung sekaligus pengertian rasa aman atau pemenuhan

kebutuhan para pengguna mutu. Mutu merujuk pada tingkat kesempurnaan dalam

memberikan kepuasan pengguna layanan(Tunggal,1998).

Mutu secara umum dikaitkan dengan suatu derajat keberhasilan atau

penampilan yang patut mendapat pujian,sesuatu yang excellent ,suatu derajat

kesempurnaan hasil yang jauh melampaui tingkat rata-rata(Jacobalis, 1989)

Pengertian mutu beraneka ragam dan dibawah ini ada beberapa pengertian

yang secara sederhana melukiskan apa hakekat mutu(Depkes RI, 1992).

1. Mutu adalah tingkat kesempurnaan suatu produk atau jasa.

2. Mutu adalah expertise atau keahlian dan keterkaitan (commitment) yang

selalu dicurahkan pada pekerjaan.

Mutu pelayanan rumah sakit adalah derajat kesempurnaan pelayanan rumah

sakit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan

kesehatan yang sesuai dengan standart profesi dan standart pelayanan dengan

(2)

efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan dengan norma,

etika, hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan kemampuan

pemerintah dan masyarakat.

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang pantas dan sesuai dari

suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan hasil kepada

masyarakat yang bersangkutan dan telah mempunyai kemampuan untuk

menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan dan ketidakmampuan gizi

(Eko,2001).

2.1.1 Sasaran Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Sasaran utama dan upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit adalah

secara umum tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya

melalui pelayanan rumah sakit.Secara khusus, sasarannya adalah(Depkes

RI,1992):

1. Menurunkan angka kematian

2. Menurunkan angka kesakitan

3. Menurunkan angka kecacatan

4. Penggunaan obat secara rasional

5. Meningkatkan kepuasan pasien

6. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas

(3)

42

2.1.2 Strategi Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Strategi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit bisa

melalui pendekatan secara tidak langsung dan melalui pendekatan pemecahan

masalah(Jacobalis,1989) :

1. Pendekatan Tidak Langsung

a. Pendidikan

Pendidikan diarahkan untuk menghasilkan tenaga profesi yang

pengetahuan,perilakudan keterampilannya akan dapat

dipertanggung jawabkan menunjang terlaksananya pelayanan

kesehatan yang bermutu.

b. Perizinan

Mekanisme membina mutu yang paling tua setelah pendidikan

adalah melalui perizinan. SID (Surat Izin Dokter) dan SIP (Surat

Izin Praktek) yang dikeluarkan adalah pengakuan bahwa dokter

yang mendapatkannya memenuhi syarat - syarat pendidikan yang

ditentukan untuk dapat menjalankan profesi medis dengan

baik.demikian pula profesi kesehatan lainnya harus mempunyai

izin kerja yang didasarkan pada tingkat pendidikan keprofesiannya.

Juga ruamh sakit dan fasilitas kesehatan lainnya harus mendapat

izin operasi yang didasarkan atas penilaian struktur fisiknya.

c. Sertifikat

Sertifikat keprofesian adalah selangkah lebih jauh daripada

(4)

sebagai spesialis oleh organisasi keprofesian atau specialty board

setalh yang bersangkutan memenuhi syarat pendidikan spesialisasi

yang ditentukan.

d. Standarisasi

Standarisasi adalah upaya menentukan standar-standar tertentu

yang harus dipenuhi oleh tenaga kerja, organisasi, manajemen,

fasilitas, peralatan, suplai dan lain-lain di rumah sakit.

e. Akreditasi

Akreditasi adalah pengakuan bahwa suatu institut seperti rumah

sakit sudah memenuhi standar-standar yang ditentukan oleh badan

yang diberi wewenang untuk itu.

2. Pendekatan proses dan outcome

1. Utilization review

Penilaian atau review ini pada dasarnya adalah upaya membina

agar pelayanan tertentu yang diberikan kepada pasien memang

sesungguhnya dibutuhkan oleh nya dan nilai uang yang harus

dibawanya untuk jasa itu adalah wajar

2. Peer Review

Peer review adalah dengan menilai aspek-aspek yang spesifik dari

mutu asuhan ,yaitu aspek pelayanan medik. Peer artinya sesama

yaitu orang-orang yang sama tingkat dan kedudukannya.Jadi peer

review dirumah sakit adalah kegiatan penilaian dan pengulasan

(5)

42

asuhan medik kepada pasien, dengan tujuan untuk memecahkan

masalah itu.Langkah-langkah untuk melakukan peer review adalah

:

a. Menentukan masalah tertentu untuk dipelajari dan di ulas

b. Menentukan kriteria atau standart profesi yang eksplisit

c. Mempelajari catatan medik untuk mengetahui apakah kriteria

atau standar seyogianya yang baik dicapai dalam masalah atau

kasus-kasus yang dipelajari.Data tentang kasus-kasus yang

tidak baik menurut kriteria eksplisit tadi dikumpulkan dan

diolah.Biasanya hal ini dilakukan oleh petugas catatan medik.

d. Para dokter mempelajari kasus-kasus yang tidak memenuhi

kriteria yang baik tadi. Kasus-kasus itu dianalisakan dan

didiskusikan apa kemungkinan penyebabnya.

e. Membuat rekomendasi untuk menjaga agar hal-hal yang tidak

baik tadi untuk waktu yang akan datang dicegah.

f. Mempelajari lagi topik yang sama di waktu kemudian untuk

menilai dan meyakinkan bahwa kelemahan-kelemahan atau

kekurangan - kekurangan yang diidentifikasikan tadi sudah

diperbaiki dan tidak diulangi lagi.

3. Quality assesment

Quality assesment adalah kegiatan menilai sendiri suatu aspek

pelayanan. Assesment dapat juga tentang aspek keselamatan atau

(6)

4. QA (Qualityassurance)

Menurut Joint Commission On Accreditation of Healthcare

Organizations dalam buku Jacobalis 1989 mendefinisikan QA

sebagai suatu program berlanjut yang disusun untuk secara

obyektif dan sistematik memantau dan menilai mutu dan kewajaran

asuhan terhadap pasien,menggunakan peluang untuk meningkatkan

asuhan pasien dan memecahkan masalah-masalah yang

terungkapkan. Kewajaran asuhan adalah apabila suatu prosedur,

tindakan, pemeriksaan atau pelayanan terhadap pasien adalah :

a. Efektif

b. Jelasada indikasinya

c. Tidak berlebihan ataupun kurang

d. Diberikan dalam situasi yang paling tepat untuk memenuhi

kebutuhannya.

2.1.3 Fungsi kegiatan menjaga mutu.

Menurut Jacobalis, 1989 fungsi kegiatan menjaga mutu terdiri dari :

1. Pemantauan

Pemantauan adalah :

a. Fungsi sistematik dan rutin mengumpulkan data dan informasi

tentang proses dan outcome pelayanan.

b. Memberikan informasi tentang efektif atau tidaknya ,baik atau

buruknya,serta wajar atau tidaknya proses dan outcome.

(7)

42 2. Evaluasi

Evaluasi adalah fungsi :

a. Menilai dan menganalisa data dan informasi yang terkumpul

tentang proses dan outcome. Fungsi ini adalah secara retrospektif

mengidentifikasikan masalah yang telah terjadi dalam pelayanan

pasien atau hal-hal yang menyimpang dari standar yang sudah

ditetapkan.

b. Mengamati kemungkinan adanya pola atau kecenderungan tertentu

dalam perkembangan suatu keadaan atau masalah dalam pelayanan

pasien.

c. Menentukan atau menyarankan perubahan-perubahan yang

diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan.

3. Tindakan atau action

Biasanya Kelemahan-kelemahan yang dapat berakibat kurangnya mutu

atau kewajaran asuhan terletak pada tiga faktor penyebab :

a. Kurangnya pengetahuan pemberi asuhan

b. Kurang baiknya sikap dan perilaku pemberi asuhan

c. Kelemahan pada sistem

Tindakan yang harus diambil untuk meningkatkan mutu dan kewajaran

(8)

2.1.4 Dimensi Mutu Layanan Kesehatan

Adapun dimensi mutu layanan kesehatan (Pohan, 2006) :

1. Dimensi Kompetensi teknis

Dimensi kompetensi teknis menyangkut keterampilan, kemampuan

dan penampilan atau kinerja pemberi layanan kesehatan. Dimensi

kompetensi teknis itu berhubungan dengan bagaimana pemberi

layanan kesehatan mengikuti standart layanan kesehatan yang telah

disepakati.

2. Dimensi keterjangkauan atau akses terhadap layanan kesehatan

artinya,layanan kesehatan itu harus dapat dicapai oleh

masyarakat,tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial,

ekonomi,organisasi dan bahasa.

3. Dimensi efektivitas layanan kesehatan

Layanan kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati atau

mengurangi keluhan yang ada,mencegah terjadinya penyakit yang ada.

4. Dimensi efisiensi layanan kesehatan

Sumber daya keehatan sangat terbatas. Oleh sebab itu dimensi efisiensi

sangat penting dalam layanan kesehatan. Layanan kesehatan yang

efisien dapat melayani lebih banyak pasien dan atau masyarakat.

(9)

42

Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus dapat

dilayani sesuai kebutuhannya, termasuk rujukan bila diperlukan tanpa

mengulangi prosedur diagnosis dan terapi yang tidak perlu.

6. Dimensi keamanan

Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehatan itu harus amanbaikbagi

pasien, bagi pemberi layanan, maupun bagi masyarakat sekitarnya.

7. Dimensi kenyamanan

Dimensi kenyamanan tidak berhubungan langsung dengan efektifitas

layanan kesehatan, tetapi mempengaruhi kepuasan pasien/konsumen

sehingga mendorong pasien untuk datang berobat kembali ke tempat

tersebut.

8. Dimensi Informasi

Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan informasi

yang jelas tentang apa,siapa, kapan, dimana dan bagaimana layanan

kesehatan itu akan dan/atau telah dilaksanakan

9. Dimensi ketepatan waktu

Agar berhasil, layanan kesehatan itu harus dilaksanakan dalam waktu

dan cara yang tepat, oleh pemberi pelayanan yang tepat dan

menggunakan peralatan dan obat yang tepat, serta dengan biaya yang

efisien.

10.Dimensi hubungan antar manusia

Hubungan antarmanusia merupakan interaksi antara pemberi layanan

(10)

pemberi layanan kesehatan, hubungan antar atasan-bawahan,dinas

kesehatan,rumah sakit,puskesmas, pemerintah daerah, LSM,

masyarakatdan lain-lain.

2.2 Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit 2.2.1 Defenisi dan cara pemakaian.

Indikator adalah salah satu cara untuk menilai penampilan dari suatu

kegiatan dengan menggunakan instrumen. Indikator merupakan variabel yang

digunakan untuk menilai suatu perubahan.Menurut WHO, indikator adalah

variabel untuk mengukur perubahan. Indikator sering digunakan terutama bila

perubahan tersebut tidak dapat diukur (Depkes RI,2001).Indikator yang ideal

harus memiliki 4 kriteria, yaitu :

1. Sahih ( valid ),yaitu benar-benar dapat dipakai untuk mengukur aspek

yang akan dinilai.

2. Dapat dipercaya (reliable),yaitu mampu menujukkan hasil yang sama

pada saat yang berulang kali, untuk waktu sekarang maupun yang akan

datang.

3. Sensitif, yaitu cukup peka untuk mengukur ,sehingga jumlahnya tidak

perlu banyak.

4. Spesifik, yaitu memberikan gambaran perubahan ukuran yang

jelastidak bertumpang tindih.

Indikator mutu pelayanan rumah sakit ini akan mempunyai manfaat yang

(11)

42

rumah sakit itu sendiri (self assesment). Manfaat tersebut antara lain sebagai alat

untuk melaksanakan manajemen kontrol dan alat untuk mendukung pengambilan

keputusan dalam rangka perencanaan kegiatan untuk masa yang akan datang

(Depkes RI,2001).

2.3 Kepuasan

Pasien merupakan individu terpenting dirumah sakit yaitu sebagai konsumen

sekaligus produk rumah sakit.Sebagai pasien yang mempercayakan

penyembuhannya kepada rumah sakit yang dipilihnya,mereka mempunyai

kebutuhan yang diharapkan dapat diperoleh dari rumah sakit tersebut.Harapan

pasien dari pelayanan rumah sakit dalam proses pengobatan akan menimbulkan

suatu kepuasan yang diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan

(Soejadi,1999).

Kepuasan pelanggan adalah sebagai hasil penilaian pelanggang terhadap apa

yang diharapkannya dengan membeli dan mengkomsumsi suatu produk.Harapan

itu lantas dibandingkan dengan persepsinya terhadap kinerja yang diterimanya

dengan mengkomsumsi produk itu.Jika harapannya lebih tinggi dari daripada

kinerja produk,ia akan merasa tidak puas.Sebalikanya, jika harapannya sama

dengan atau lebih rendah daripada kinerja produk ia akan merasa puas

(Aritonang,2005).

Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai

akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien

(12)

Menurut definisi diatas,ada dua ukuran yang tercakup. Ukuran yang pertama

adalah harapan pelanggan yang berfungsi sebagai pembanding atau ukuran yang

kedua ,yaitu kinerja produk (Aritonang,2005).

Ada 4 tujuan penelitian kepuasan pelanggang,yaitu:

1. Menentukan atribut kinerja produk dalam menghasilkan kepuasan

pelanggang.

2. Menilai posisi atribut kinerja perusahaan dibandingkan dengan

pesaing-pesaing utama perusahaan.

3. Menentukan prioritas atribut kinerja dan perbaikan atribut itu

4. Memantau hasil perbaikan atribut (Aritonang, 2005)

2.3.1 Indikator Kepuasan Pasien

Adapun indikator kepuasan pasien menurut Pohan (2006) antara lain:

1. Kepuasan terhadap akses layanan kesehatan

Kepuasan terhadap akses layanan kesehatan akan dinyatakan oleh sikap

dan pengetahuan tentang sejauh mana layanan kesehatan itu tersedia pada

waktu dan tempat saat dibutuhkan,kemudahan memperoleh layanan

kesehatan baik dalam keadaan biasa ataupun dalam keadaan gawat darurat,

sejauh mana pasien mengerti bagaimana sistem layanan kesehatan itu

bekerja, keuntungan dan tersedianya layanan kesehatan.

(13)

42

Kepuasan terhadap mutu layanan kesehatan akan dinyatakan oleh sikap

terhadap kompetensi teknik dokter dan/atau profesi layanan kesehatan lain

yang berhubungan dengan pasien, kekurangan dari penyakit atau bagaimana

perubahanyang dirasakan oleh pasien sebagai hasil dari layanan kesehatan.

3. Kepuasan terhadap proses layanan kesehatan, termasuk hubungan

antarmanusia.Kepuasan terhadap proses layanan kesehatan,termasuk

hubungan antarmanusia akan ditentukan dengan melakukan pengukuran :

a. Sejauh mana ketersediaan layanan rumah sakit menurut penilaian

pasien.

b. Persepsi tentang perhatian dan kepedulian dokter dan atau profesi

layanan kesehatan lain.

c. Tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap dokter.

d. Tingkat pengertian tentang kondisi atau diagnosis.

e. Sejauh mana tingkat kesulitan untuk dapat mengerti nasihat dokter dan

/atau rencana pengobatan.

4. Kepuasan terhadap sistem layanan kesehatan

Kepuasan terhadap sistem layanan kesehatan ditentukan oleh sikap

terhadap :

a. Fasilitas fisik dan lingkungan layanan kesehatan

b.Sistem perjanjian ,termasuk menunggu giliran, waktu

(14)

atau kepedulian personel, mekanisme pemecahan masalah dan keluhan

yang timbul.

c. Lingkup dan sifat keuntungan dan layanan kesehatan yang ditawarkan.

2.3.2 Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien.

Menurut teori Parasuraman Zeithaml and Berry dalam Parasuraman, dkk

(2006) faktor pemberi jasa memberi pengaruh terhadap kepuasan konsumen.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan pasien adalah :

a. Bukti fisik

Dimensi ini mencakup kondisi fasilitas fisik peralatan serta

penampilan petugas ,karena jasa tidak dapat diamati secara

langsung maka pelanggan sering kali berpedoman pada kondisi

yang terlihat mengenai jasa dan melakukan evaluasi.Kenyataan

yang berkaitan dengan hal ini mencakup objek yang sangat

bervariasi, seperti penampilan petugas kesehatan ,tempat tidur yang

bersih, alat medis yang lengkap, ruangan yang nyaman dan bersih,

peralatan dan fasilitas yang digunakan.

b. Kehandalan (Reliability)

Kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang akurat

dan handal, dapat dipercaya, bertanggung jawab terhadap apa yang

dijanjikan. Secara umum dimensi ini merefleksikan konsistensi dan

kehandalan dari kinerja petugas seperti prosedur penerimaan pasien

(15)

42

dan tepat waktu dan menerangkan setiap tindakan pelayanan yang

akan dilakukan kepada pasien .

c. Ketanggapan (responsiveness)

Merefleksikan komitmen untuk memberikan pelayanan tepat pada

waktunya,yang berkaitan dengan keinginan dan kesiapan petugas

untuk melayani. Dalam hal ini ketanggapan dapat dilihat dari segi

ketepatan dalam melayani pasien, tanggap dalam menghadapi

keluhan pasien dan sikap dokter ataupun perawat kepada pasien.

d. Jaminan(assurance)

Hal ini mencakup pengetahuan serta kemampuan untuk

memberikan kepercayaan kepada pelanggan seperti menimbulkan

rasa aman kepada pasien ,biaya perawatan terjangkau, kelengkapan

obat-obatan dan alat medis dan jaminan keamanan selama pelayanan

dilakukan.

e. Perhatian(empathy)

Hal ini menunjukkan derajat perhatian yang diberikan kepada setiap

pelanggan. Hal ini merefleksikan kemampuan pekerja untuk

menyelami perasaan pelanggan ,sebagaimana jika pekerja itu sendiri

mengalaminya. Perhatian dapat ditunjukan melalui komunikasi

yang baik dokter dan pasien dimana dokter memperhatikan dan

merespon setiap keluhan dari pasien.

(16)

2.4 Jaminan Kesehatan Nasional.

2.4.1 Asuransi Kesehatan

Beberapa pengertian yang patut diketahui terkait dengan asuransi tersebut

adalah :

1. Asuransi sosial merupakan mekanisme pengumpulan iuran yang

bersifat wajib dari peserta, guna memberikan perlindungan kepada

peserta atas risiko sosial ekonomi yang menimpa mereka dan atau

anggota keluarga (UU SJSN No.40 tahun 2004).

2. Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah tata cara penyelenggaraan

program Jaminan Sosial oleh Badan Penyelenggaraan. SJSN pada

dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberikan

kepentingan perlindunagn dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat

Indonesia (Soekamto.dkk,2012)

3. Jaminan Sosial adalah bentuk perlindungan sosial untuk menjamin

seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang

layak. Kebutuhan dasar hidup yang layak dimaksudkan oleh UU SJSN

adalah kebutuhan essential setiap orang agar dapat hidup layak demi

terwujudnya kesehjahtraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

4. Jaminan Kesehatan adalah sebuah sistem yang memungkinkan

seseorang terbebas dari beban biaya berobat yang relatif mahal yang

menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar hidup lain

(17)

42

5. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum

publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan progam jaminan sosial

.BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

2.4.2 Pengertian JKN

Jaminan Kesehatan Nasional merupakan bagian dari SJSN .SJSN ini

diselenggarakan melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifa wajib

berdasarkan Undang-undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial

Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam

sistem asuransi ,sehingga nereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

masyarakat yang layak (Permenkes RI No.28,2014).

Sesuai Undang-undang No.40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan adanya

JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya

.Kepersertaannya bersifat wajib tidak kecuali juga masyarakat tidak mampu,

karena metode pembiayaan kesehatan ditanggung pemerintah.

Jaminan Kesehatan Nasional adalah jaminan berupa perlindungan

kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan

perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada

setiap orang yang telah membayar iuran atau iuran dibayar oleh pemerintah

(18)

2.4.3 Penyelenggaraan JKN

Berdasarkan buku panduan layanan bagi peserta BPJS Kesehatan (2015)

penyelenggaraan JKN berdasarkan dari peta jalan menuju kesehatan nasional

terdiri dari :

1. Kepesertaan

Peseta adalah setiap orang ,termasuk orang asing yang bekerja paling

singkat 6 (enam) bulan di Indonesia,yang telah membayar

iuran.Peserta Jaminan Kesehatan meliputi:

a. Penerima Bantua Iuaran Jaminan Kesehatan (PBI) ,yaitu fakir miskin

dan orang tidak mampu ,dimana iurannya dibayarkan oleh pemerintah

ke BPJS kesehatan.

b. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI),yaitu

peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang

terdiri atas :

1). Pekerja penerima upah dan anggota keluarganya,yaitu :

a. Pegawai negeri sipil

b. Anggota TNI

c. . Anggota Polri

d. Pejabat negara

e. Pegawai pemerintah non pegawai negeri

(19)

42

g. Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang

menerima upah.

2). Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya,yaitu

a. Pekerja diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri

b. Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima upah .

c. Pekerja sebagaimana dimaksud huruf adan huruf b,termasuk warga

negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat enam bulan.

3). Bukan pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas :

a. Investor

b. Pemberi kerja

c. Penerima pensiunan

d. Veteran

e. Perintis kemerdekaan

f. Bukan pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e

yang mampu membayar iuran.

4). Penerima pensiunan terdiri atas :

a. Pegawai negeri sipil yang berhenti dengan hak pensiun.

b. Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun

c. Pejabat negara yang berhenti dengan hak pensiun

d. Penerima pensiun selain huruf a sampai dengan huruf d yang

(20)

5). WNI di luar negeri

Jaminan Kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri.

6). Syarat pendaftaran

Syarat pendaftaran akan diatur kemudian dalam peraturan BPJS.

7). Lokasi pendaftaran

Pendaftaran peserta dilakukan dikantor BPJS terdekat/setempat

8). Prosedur pendaftaran peserta.

a. Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai peserta kepada BPJS

Kesehatan.

b. Pemberi kerja mendaftarkan pekerjaannya atau pekerja dapat

mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS kesehatan.

c. Bukan pekerja dan lainnya wajib mendaftarkan diri dan

keluarganya sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan.

9). Hak Peserta

a. Mendapatkan kartu peserta sebagai identitas peserta untuk

(21)

42

b. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban

serta prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

c. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang

bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

d. Menyampaikan keluhan/pengaduan ,kritik dan saran secara lisan

atau tertulis kepada BPJS Kesehatan.

10). Kewajiban peserta

a. Mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sebagai peserta

BPJS Kesehatan.

b. Membayar iuran.

c. Memberikan data dirinya dan anggota keluarganya secara lengkap

dan benar.

d. Melaporkan perubahan data dirinya dan anggota keluarganya,

antara lain perubahan golongan, pangkat atau besaran

gaji,pernikahan,perceraian,kematian,kelahiran pindah alamat atau

pindah fasilitas kesehatan tingkat pertama.

e. Menjaga kartu peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan

oleh orang yang tidak berhak.

(22)

2. Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan terdiri

dari :

1). Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP),meliputi :

a. Puskesmas atau setara.

b. Dokter umum praktik perorangan.

c. Dokter gigi praktik perorangan.

d. Klinik Pratama atau yang setara termasuk fasilitas kesehatan

tingkat pertama milik TNI /Polri.

e. Rumah sakit Kelas D Pratama atau yang setara.

2). Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL),meliputi :

a. Klinik Utama atau yang setara.

b. Balai Kesehatan.

c. Rumah Sakit Umum.

d. Rumah Sakit Khusus.

3). Fasilitas Kesehatan Penunjang ,meliputi :

a. Laboratorium Kesehatan.

b. Apotek.

c. Optik.

(23)

42

Berdasarkan buku panduan layanan bagi peserta BPJS Kesehatan

(2015) prosedur dan tata cara mendapatkan pelayanan kesehatan terdiri

dari:

1). Prosedur Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.

a) ketentuan umum :

i. Setiap peserta harus terdaftar pada satu fasilitas kesehatan

tingkat pertama yang telah bekerja sama dengan BPJS

Kesehatan.

ii. Peserta menunjukkan identitas peserta BPJS Kesehatan dan

identitas kedua (KK/KTP/SIM Yang masih berlaku) setiap kali

memanfaatkan pelayanan kesehatan di fasilitas tingkat pertama.

iii. Peserta memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas

Kesehatan Tingkat pertama tempat peserta terdaftar,kecuali

pada kondisi berada di luar wilayah Fasilitas Kesehatan tingkat

pertama tempat Peserta terdaftar atau dalam keadaan

kegawatdaruratan medis.

iv. Peserta dianggap berada di luar wilayah apabila peserta

melakukan kunjungan ke luar domisili yang rutin.Untuk

mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama

tempat tujuan ,maka peserta wajib membawa surat pengantar

dari kantor BPJS Kesehatan tujuan.

v. Dalam hal peserta memerlukan pelayanan kesehtan tingkat

(24)

Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan sesuai dengan

sistem rujukan berjenjang.

vi. Peserta dapat melakukan pindah fktp setalah 3 (tiga) bulan

peserta terdaftar pada Puskesmas /Dokter Keluarga/Dokter gigi

sebelumnya.

vii. 1 s/d akhir bulan berjalan ,berhak mendapatkan pelayanan di

fasilitas kesehatan tingkat pertama yang baru di bulan

berikutnya.

viii. Peserta BPJS Kesehatan dapat memperoleh pelayanan di

fasilitas kesehtan tingkat pertama tempat peserta terdaftar sejak

pembayaran iuran yang pertama.

b) Rawat Jalan Tingkat Pertama

i.Peserta menandatangani bukti pelayanan pada lembar yang

disediakan setelah mendapatkan pelayanan kesehatan .

ii.Bila hasil pemeriksaan dokter ternyata peserta memerlukan

pemeriksaan ataupun tindakan sub-spesialis sesuai dengan

indikasi medis ,maka fasilitas kesehatan tingkat pertama akan

memberikan surat rujukan untuk dibawa ke fasilitas kesehatan

rujukan tingkat lanjutan yang bekerja sama dengan BPJS

kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang berlaku .

c) Rawat Inap Tingkat Pertama

i. Peserta menandatangani bukti pelayanan pada lembar yang

(25)

42

ii. Bila hasil pemeriksaan dokter ternyata peserta memerlukan

pemeriksaan ataupun tindakan spesialis/sub-spesialis sesuai

dengan indikasi medis,maka fasilitas kesehatan tingkat pertama

akan memberikan surat rujukan untuk dibawa ke

fasilitaskesehatan tingkat lanjutan yang bekerja sama dengan

BPJS Kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang berlaku.

2). Prosedur Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan

a) Rawat Jalan Tingkat Lanjutan

i.Peserta membawa identitas peserta BPJS Kesehatan dan identitas

kedua (KK/KTP/SIM yang masih berlaku ),serta surat rujukan

dari fsilitas Kesehatan tingkat pertama ke rumah sakit yang

ditunjuk.

ii.Peserta melakukan pendaftaran ke RS yang bekerja sama dengan

BPJS Kesehatan dengan memperlihatkan identitas dan surat

rujukan serta menandatangani Surat Elijibilitas Peserta (SEP)

iii.Peserta menandatangani bukti pelayanan pada lembar yang

disediakan setelah mendapatkan pelayanan kesehatan

iv.Atas indikasi medis peserta dapat dirujuk ke poli Spesialis lain

dengan surat rujukan /konsul internal atau fasilitas kesehatan

lanjutan lain dengan surat rujukan /konsul eksternal.

v.Peserta perorangan BPJS Kesehatan yang baru mendaftar ,dapat

memperoleh pelayanan rawat jalan di FKRTL sejak

(26)

b). Rawat Inap Tingkat Lanjutan

i. Merupakan tindakan lanjutan dari pelayanan FKTP ,instalasi gawat

darurat dan poli rawat jalan atau rujukan dari FKRTL lain

ii. Peserta melakukan pendaftaran ke rs dengan membawa tanda

identitas peserta BPJS Kesehatan ,dan identitas pribadi lain

apabila diperlukan serta surat perintah rawat inap dan poli atau

unit gawat darurat.

iii. Peserta melengkapi persyaratan administrasi untuk penerbitan

Surat Elijibilitas Peserta ,maksimal 3 x 24 jam hari kerja sejak

masuk Rumah sakit .

iv. Peserta menandatangi bukti pelayanan pada lembar yang

disediakan setelah mendapatkan pelayanan kesehatan .

v. Bagi peserta PBI Jaminan Kesehatan tidak diperkenankan memilih

kelas yang lebih tinggi dari haknya

2.5 Klasifikasi Rumah Sakit

Menurut Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang klasifikasi dan perizinan

rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit

dikategorikan dalamrumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah sakit

umum diklasifikasikan menjadi Rumah Sakit Umum Kelas A, Rumah Sakit

Umum Kelas B, Rumah Sakit Umum Kelas C, Rumah Sakit Umum Kelas D.

Penetapan klasifikasi Rumah Sakit didasarkan pada pelayanan, sumber daya

(27)

42 2.5.1 Rumah Sakit Umum Kelas A

Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit kelas A paling sedikit meliputi

(Permenkes No 56 Tahun 2014 ) :

1. Pelayanan Medik

2. Pelayanan kefarmasian

3. Pelayanan keperawatan dan kebidanan

4. Pelayanan penunjang klinik

5. Pelayanan penunjang nonklinik

6. Pelayanan rawat inap

Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum Kelas A terdiri atas :

1. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas 18 dokter umum untuk

pelayanan medik dasaar, 4 dokter gigi umum untuk pelayanan medik

gigi mulut, 6 dokter spesialis untuk setiap pelayanan medik spesialis

dasar, 3 dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis

penunjang, 3 dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis lain, 2 dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

subspesialis dan 1 dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan

medik spesialis gigi dan mulut.

2. Tenaga Kefarmasian paling sedikit terdiri atas : 1 apoteker sebagai

kepala instalasi farmasi Rumah Sakit, 5 apoteker yang bertugas di

rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 10 tenaga teknis

kefarmasian, 5 apoteker dirawat inap yang dibantu oleh paling sedikit

(28)

yang di bantu oleh minimal 2 tenaga teknis kefarmasian, 1 apoteker di

ruang ICU yang dibantu paling sedikit 2 tenaga teknis kefarmasian, 1

apoteker sebagai koordinator penerima dan distribusi yang dapat

merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap dan

rawat jalan yang dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang

jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian

Rumah Sakit Dan 1 apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat

merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau

rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlah

nya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian rumah

sakit .

3. Tenaga Keperawatan sama dengan jumlah tempat tidur pada instalasi

rawat inap.

4. Tenaga kesehatan lain.

5. Tenaga nonkesehatan.

Peralatan Rumah Sakit Umum Kelas A harus memenuhi standart sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peralatan paling sedikit terdiri

dari peralatan medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat

intensif, rawat operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan

darahrehabilitasi medik, farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.

(29)

42

Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit kelas B paling sedikit meliputi

(Permenkes No 56 Tahun 2014 ) :

1. Pelayanan Medik.

2. Pelayanan kefarmasian.

3. Pelayanan keperawatan dan kebidanan.

4. Pelayanan penunjang klinik.

5. Pelayanan penunjang nonklinik.

6. Pelayanan rawat inap.

Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum Kelas B terdiri atas :

1. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas 12 dokter umum untuk

pelayanan medik dasar, 3 dokter gigi umum untuk pelayanan medik

gigi mulut, 1 dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis lain, 1 dokter subspesialis utuk setiap jenis pelayanan medik

subspesialis dan 1 dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan

medik spesialis gigi mulut.

2. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas 1 orang apoteker

sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 4 apoteker bertugas yang

bertugas dirawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 8 tenaga teknis

kefarmasian, 4 orang apoteker dirawat inap yang dibantu paling sedikit

8 tenaga teknis kefarmasian, 1 orang apoteker di instalasi gawat

darurat yang dibantu oleh minimal 2 orang tenaga teknis kefarmasian,

(30)

tenaga teknis kefarmasian, 1 orang apoteker sebagai koordinator

penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan

farmasi klinik dirawat inap dan rawat jalan dibantu oleh tenaga teknis

kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja

pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.

3. Tenaga keperawatan, jumlah tenaga keperawatan sama dengan jumlah

tempat tidur pada instalasi rawat inap.

4. Tenaga kesehatan lainnya .

5. Tenaga nokesehatan.

Peralatan rumah sakit umum kelas B paling sedikit terdiri dari peralatan

medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat

operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi

medik, farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah .

2.5.3 Rumah Sakit Umum Kelas C

Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit kelas C paling sedikit meliputi

(Permenkes No 56 Tahun 2014 ):

1. Pelayanan Medik.

2. Pelayanan kefarmasian.

3. Pelayanan keperawatan dan kebidanan.

4. Pelayanan penunjang klinik.

5. Pelayanan penunjang nonklinik.

(31)

42

Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum Kelas C terdiri dari :

1. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas, 9 dokter umum untuk

pelayanan medik dasar, 2 dokter gigi umum untuk setiap jenis

pelayanan medik spesialis dasar, 1 dokter spesialis untuk setiap jenis

pelayanan menik spesialis penunjang 1 dokter gigi spesialis untuk

setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi daan mulut .

2. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas, 1 orang apoteker

sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 2 orang apoteker yang

bertugas di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 4 orang tenaga

teknis kefarmasian, 4 orang apoteker dirawat inap yang dibantu oleh

paling sedikit 8 orang tenaga teknis kefarmasian, 1 orang apoteker

sebagai koordinator penerimaan, distribusi dan produksi yang dapat

merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau

rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang

jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian

rumah sakit.

3. Tenaga keperawatan dihitung dengan perbandingan 2 perawat untuk 3

tempat tidur.

4. Tenaga kesehatan.

5. Tenaga nonkesehatan lainnya.

Peralatan rumah sakit umum kelas C paling sedikit terdiri dari peralatan

(32)

operasi, persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi

medik, farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.

2.5.4 Rumah Sakit Umum Kelas D

Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit umum kelas D paling sedikit

meliputi (Permenkes No 56 Tahun 2014 ) :

1. Pelayanan Medik.

2. Pelayanan kefarmasian.

3. Pelayanan keperawatan dan kebidanan.

4. Pelayanan penunjang klinik.

5. Pelayanan penunjang nonklinik.

6. Pelayanan rawat inap.

Sumber daya manusia rumah sakit umum kelas D terdiri atas :

1. Tenaga medis paling sedikit terdiri atas : 4 dokter umum untuk

pelayanan medik dasar, 1 dokter gigi umum untuk pelayanan medik

gigi mulut, 1 dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik

spesialis dasar .

2. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas : 1 apoteker sebagai

kepala instalasi rumah sakit, 1 apoteker yang bertugas di rawat inap

dan rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 2 orang tenaga teknis

kefarmasian, 1 orang apoteker sebagai koordinator penerimaan,

(33)

42

farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga

teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja

pelayanan kefarmasian rumah sakit.

3. Tenaga keperawatan dihitung dengan perbandingan 2 perawat untuk 3

tempat tidur.

4. Tenaga kesehatan.

5. Tenaga nonkesehatan.

Peralatan rumah sakit umum kelas D paling sedikit terdiri dari peralatan

medis untuk instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat

operasi, persalinan, radiolog, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi

medik, farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah .

(34)

Berdasarkan tinjauan teoritis ,pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan

pasien peserta BPJS di Rumah Sakit Umum Daerah Tarutung, digambarkan dalam

kerangka konsep berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.7 Hipotesis Penelitian

Adanya pengaruh kualitas pelayanan (buktifisik,kehandalan ,ketanggapan,

jaminan, perhatian) terhadap kepuasan pasien peserta BPJS PBI di Rumah Sakit

Umum Daerah Tarutung. Kualitas

Bukti fisik Kehandalan Ketanggapan Jaminan Perhatian

Kepuasan pasien peserta BPJS di Rumah Sakit Umum Daerah

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pasien rawat jalan peserta BPJS Kesehatan berpendapat baik terhadap pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh petugas instalasi farmasi

iii HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TANGGUNGAN BPJS DI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA.. Skripsi ini Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Instalasi farmasi rumah sakit adalah suatu unit atau bagian di rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi

• 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh

3 Pasien merasa puas dengan pelayanan tanggap dan segera yang diberikan dokter dan perawat. 4 Pasien merasa puas berinteraksi dengan perawat dan dokter

Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas 1 orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 4 apoteker bertugas yang bertugas dirawat jalan

Tujuan yang dicapai dari penelitian yang dilakukan ini adalah mengetahui bagaimana prosedur penerimaan kas dari pelayanan pasien rawat jalan dan rawat inap bagi pasien umum pada

Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Kualitas Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Duren dan Puskesmas Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2017.. Analisis Tingkat Kepuasan