NOMOR 7 TAHUN 1 9 9 1 TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1 9 8 3 TENTANG PAJAK PENGHASILAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan, t elah diat ur mengenai kewaj iban perpaj akan sehubungan dengan penghasilan yang dit erima at au diperoleh Subyek Paj ak perseorangan maupun badan guna mewuj udkan semangat kegot ong-royongan nasional dalam pembiayaan Negara dan pelaksanaan pembangunan nasional sebagaimana diamanat kan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara;
b. bahwa unt uk menampung perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan perkembangan dunia usaha pada khususnya, dipandang perlu unt uk mengadakan perubahan at as Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;
Dengan perset uj uan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :
Menet apkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN,
Pasal I
Mengubah beberapa ket ent uan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan, sebagai berikut :
1. Ket ent uan Pasal 4 ayat (1) huruf a dan huruf b diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
a. penggant ian at au imbalan berkenaan dengan pekerj aan at au j asa yang dit erima at au diperoleh t ermasuk gaj i, upah, honorarium, komisi, bonus, grat if ikasi, uang pensiun dan at au imbalan dalam bent uk lainnya, kecuali dit ent ukan lain dalam Undang-undang ini;
b. hadiah undian dan penghargaan; "
2. Ket ent uan Pasal 4 ayat (3) huruf d diubah sehingga berbunyi: "d. penggant ian at au imbalan berkenaan dcngan pekerj aan at au j asa yang dit erima at au diperoleh dalam bent uk nat ura dan at au kenikmat an dari Pemerint ah at au Waj ib Paj ak menurut Undang-undang ini, dengan ket ent uan bahwa bagi pemberi kerj a imbalan t ersebut t idak boleh dikurangkan dari penghasilan brut o kecuali unt uk daerah t erpencil yang diat ur lebih lanj ut dengan Perat uran Pemerint ah; "
Perseroan Terbat as dalam negcri, Koperasi, at au Badan Usaha Milik Negara at au Daerah dari penyert aan modal pada badan usaha yang didirikan di Indonesia sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku; "
4. Ket ent uan Pasal 4 ayat (3) dit ambah huruf l dan m, yang berbunyi :
"l. penghasilan yang dit erima at au diperoleh perusahaan Reksa Dana yang berasal dari invest asi unt uk kepent ingan pemodal, berupa :
1) dividen dari Perseroan Terbat as yang didirikan di Indonesia,
2) bunga obligasi, dan
3) keunt ungan dari penj ualan at au pengalihan sekurit as, sepanj ang seluruh penghasilan bersih yang dit erima at au diperolehnya dibagikan kepada para pemodal sebagai bagian keunt ungan at au dividen;
m. penghasilan yang dit erima at au diperoleh perusahaan Modal Vent ura yang berupa bagian keunt ungan dari badan usaha yang didirikan di Indonesia sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku, dan keunt ungan dari penj ualan at au pengalihan penyert aannya, dengan persyarat an :
1) penyert aan modal dari perusahaan Modal Vent ura t ersebut dilakukan pada badan usaha yang melakukan kegiat an dalam sekt or-sekt or usaha yang dit et apkan lebih lanj ut dengan Perat uran Pemerint ah, dan
2) penghasilan t ersebut berasal dari badan usaha yang sahamnya t idak diperdagangkan di Bursa Ef ek. "
5. Ket ent uan Pasal 6 ayat (1) huruf a diubah sehingga berbunyi:
dengan pekerj aan at au j asa t ermasuk upah, gaj i, honorarium, bonus, grat if ikasi, dan t unj angan yang diberikan dalam bent uk uang, penggant ian at au imbalan dalam bent uk nat ura dan at au kenikmat an t ert ent u di daerah t erpencil yang diat ur lebih lanj ut dengan Perat uran Pemerint ah, bunga, sewa, royalt i, biaya perj alanan, piut ang yang nyat a-nyat a t idak dapat dit agih, premi asuransi, biaya administ rasi, dan paj ak kecuali Paj ak Penghasilan; "
6. Ket ent uan Pasal 9 ayat (1) huruf d diubah sehingga berbunyi:
"d. penggant ian at au imbalan berkenaan dengan pekerj aan at au j asa yang diberikan dalam bent uk nat ura dan at au kenikmat an kecuali penggant ian at au imbalan dalam bent uk nat ura dan/ at au kenikmat an t ert ent u di daerah t erpencil dapat dikurangkan dari penghasilan brut o sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan bagi penerima imbalan dimaksud bukan merupakan penghasilan sesuai dengan ket ent uan Pasal 4 ayat (3) huruf d; "
7. Ket ent uan Pasal 11 dit ambah dengan ayat (15) dan ayat (16) yang berbunyi:
"(15) Waj ib Paj ak yang menanamkan modalnya di daerah t erpencil dapat melakukan penyusut an at as hart a yang dimiliki dan dipergunakan unt uk kegiat an usaha di daerah t erpencil dengan menggunakan met ode penyusut an :
a. met ode garis lurus yang masa penyusut annya dapat kurang dari 20 (dua puluh) t ahun, at au
Ment eri Keuangan.
(16) Biaya unt uk memperoleh hart a t ak berwuj ud t ert ent u dalam bidang pert ambangan umum yang mempunyai masa manf aat lebih dari sat u t ahun dalam rangka penanaman modal di daerah t erpencil, dapat diamort isasi dengan t arif sebagaimana dimaksud dalam ayat (9) huruf b, yang pelaksanaannya diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri Keuangan. "
8. Ket ent uan Pasal 13 dit ambah ayat (3) yang berbunyi :
(3) Bagi perusahaan dalam rangka penanaman modal asing, Kont rak Karya, dan Kont rak Bagi Hasil, disamping dalam bahasa Indonesia dan mat a uang rupiah, at as ij in Ment eri Keuangan pembukuan at au pencat at annya dapat menggunakan bahasa asing dan mat a uang selain rupiah unt uk kepent ingan perpaj akan dengan ket ent uan bahwa Surat pemberit ahuan harus diisi dalam bahasa Indonesia dan mat a uang rupiah t ermasuk kewaj iban pembayaran paj aknya, yang pelaksanaannya diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri Keuangan. "
9. Ket ent uan Pasal 23 ayat (1) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
"(1) At as penghasilan t ersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bent uk apapun, yang dibayarkan at au yang t erhut ang oleh Badan Pemerint ah, Badan Usaha Milik Negara at au Daerah dengan nama dan dalam bent uk apapun, at au Waj ib Paj ak Badan dalam negeri lainnya kepada Waj ib Paj ak dalam negeri selain bank dan lembaga keuangan lainnya, dipot ong paj ak oleh pihak yang berwaj ib membayarkan :
a. sebesar 15% (lima belas persen) dari j umlah brut o at as:
Pasal 4 ayat (3) huruf g, huruf 1, dan huruf Undang-undang ini;
2) bunga, t ermasuk imbalan karena j aminan pengembalian hut ang, dengan memperhat ikan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf l Undang-undang ini;
3) sewa, royalt i, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan hart a;
b. sebesar 9% (sembilan persen) dari j umlah brut o at as imbalan yang dibayarkan unt uk j asa t eknik dan j asa manaj emen yang dilakukan di Indonesia. "
Pasal II
Undang-undang ini mulai berlaku pada t anggal 1 Januari 1992.
Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakart a
pada t anggal 30 Desember 1991
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
t t d
Diundangkan di Jakart a
pada t anggal 30 Desember 1991
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
t t d
PENJELASAN ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1991
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PENGHASILAN
UMUM
Bahwa dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan t elah diat ur mengenai pengenaan Paj ak Penghasilan, yang pada dasarnya menyangkut subyek paj ak, obyek paj ak, t arif paj ak dan cara menghit ung j umlah paj ak yang t erhut ang.
Sej alan dengan perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan perkembangan dunia usaha pada khususnya, sert a dengan memperhat ikan j iwa Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, perlu dilakukan perubahan at as beberapa ket ent uan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan, agar dapat menampung perkembangan dimaksud.
Pasal 4 ayat (3) huruf g Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 menet apkan bahwa dividen yang dit erima at au diperoleh suat u perseroan dari penyert aannya pada perseroan lain bukan merupakan obyek Paj ak Penghasilan, sepanj ang penyert aan t ersebut meliput i minimal 25% (dua puluh lima persen) dari nilai saham yang diset or sert a kedua badan t ersebut mempunyai hubungan ekonomis dalam j alur usahanya.
Oleh karena it u t erhadap ket ent uan di at as perlu diadakan perubahan dengan t et ap menj aga prinsip progresivit as dalam pengenaan Paj ak Penghasilan. Bent uk-bent uk usaha berupa Perusahaan Reksa Dana (Invest ment Fund) dan perusahaan Modal Vent ura (Vent ure Capit al) merupakan wahana pembiayaan yang dapat dimanf aat kan sebagai sarana dalam pemerat aan kesempat an usaha t erut ama bagi para pemodal kecil dan pengusaha kecil dan menengah t ermasuk koperasi. Selain it u kedua wahana pembiayaan t ersebut j uga dapat dimanf aat kan unt uk menunj ang invest asi yang pada gilirannya akan membant u perkembangan perekonomian nasional. Oleh karena it u dipandang perlu unt uk memberikan insent if perpaj akan.
Unt uk mendorong perkembangan perekonomian di daerah t erpencil t ermasuk di Indonesia bagian Timur, perlu diberikan insent if di bidang perpaj akan berupa perlakuan perpaj akan at as imbalan dalam bent uk nat ura dan/ at au kenikmat an t ert ent u yang dapat lebih menarik orang bekerj a di daerah t erpencil.
Selain it u unt uk meningkat kan penanaman modal di daerah t ersebut perlu diberikan kemudahan berupa keluwesan dalam menggunakan met ode penyusut an dan amort isasi agar lebih menarik bagi para penanam modal.
PASAL DEMI PASAL
Pasal I
Angka 1
Pasal 4
Ayat (1)
Huruf a
Termasuk dalam penghasilan adalah semua imbalan at au pembayaran dari pekerj aan dalam hubungan kerj a yang dapat berupa upah, gaj i, dan sebagainya, t ermasuk premi asuransi j iwa dan asuransi kesehat an yang dibayar oleh pemberi kerj a. Pemberian imbalan dalam bent uk nat ura t idak dimasukkan dalam pengert ian penghasilan bagi penerima sepert i misalnya perumahan, kendaraan bermot or, dan sebagainya. Bagi pihak pemberi kerj a, t erkecuali yang dilakukan di daerah t erpencil, pengeluaran t ersebut t idak boleh dikurangkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d.
Pasal 4
Ayat (1)
Huruf b
Hadiah undian mencakup j uga pengert ian hadiah yang diberikan t anpa diundi.
Angka 2
Pasal 4
Ayat (3)
Huruf d
menurut pengert ian Undang-undang ini memberi imbalan berupa nat ura dan/ at au kenikmat an kepada karyawan at au orang lain yang ada hubungan pekerj aan, maka kenikmat an t ersebut bukan merupakan penghasilan bagi pihak penerima. Yang dimaksud dengan kenikmat an dalam bent uk nat ura ialah t ambahan kemampuan ekonomis yang dit erima at au diperoleh t idak dalam bent uk uang, sepert i kenikmat an mempergunakan mobil perusahaan dengan cuma-cuma, kenikmat an mendiami rumah yang disewa oleh perusahaan at au rumah milik perusahaan, pemberian beras dengan cuma-cuma, dan sebagainya.
Bagi pihak pemberi kerj a, pengeluaran-pengeluaran t ersebut t idak boleh dikurangkan dari penghasilan brut o, kecuali yang berkenaan dengan pekerj aan at au j asa yang dilakukan di daerah t erpencil.
Pengert ian daerah t erpencil ant ara lain dit ent ukan oleh mudah t idaknya dij angkau oleh t ransport asi umum baik darat , laut maupun udara, dan keadaan prasarana ekonomi dan sosialnya sangat t erbat as sehingga penanam modal yang menanamkan modal di daerah t ersebut harus membangun sendiri prasarana yang dibut uhkan unt uk menj alankan kegiat an usahanya, sepert i j alan lingkungan, j embat an, pelabuhan, rumah sakit , sekolah. Kenikmat an pemakaian rumah yang diberikan oleh Pemerint ah kepada pegawai Pemerint ah, Pej abat Negara dan Pej abat Lembaga Pemerint ah Non Depart emen lainnya, t idak merupakan penghasilan bagi pihak yang bersangkut an. Dalam Pengert ian Pemerint ah t ermasuk Perusahaan Jawat an.
Cont oh : Seorang pegawai bangsa Indonesia yang bekerj a di salah sat u perwakilan diplomat ik, memperoleh kenikmat an menempat i rumah yang disewa oleh perwakilan diplomat ik t ersebut at au kenikmat an-kenikmat an lainnya, maka kenikmat an-kenikmat an t ersebut harus dimasukkan
sebagai penghasilan bagi pegawai t ersebut , sebab perwakilan diplomat ik yang bersangkut an t idak merupakan Subyek Paj ak.
Ket ent uan ini dimaksudkan unt uk mendorong pembayaran oleh pemberi kerj a kepada pegawai at au karyawannya dilakukan dalam bent uk uang, sehingga dengan demikian mempermudah pengenaan paj aknya.
Angka 3
Pasal 4
Ayat (3)
Huruf g
Dengan ket ent uan ini, dividen at au bagian keunt ungan yang dit erima at au diperoleh Perseroan Terbat as dalam negeri, Koperasi, Badan usaha Milik Negara at au Daerah (BUMN/ BUMD), dari penyert aannya pada badan usaha lainnya yang didirikan di Indonesia sesuai perat uran perundang-undangan yang berlaku, t idak t ermasuk sebagai obyek Paj ak Penghasilan. Yang dimaksud dengan BUMN dalam ayat ini adalah Perusahaan Perseroan (PERSERO), Bank Pemerint ah, dan Pert amina.
maupun luar negeri, Firma, Perseroan Komandit er (Comandit aire Venoot schap) dan sebagainya, maka penghasilan berupa dividen at au bagian keunt ungan t ersebut t et ap dikenakan Paj ak Penghasilan.
Angka 4
Pasal 4
Ayat (3)
Huruf 1
Perusahaan Reksa Dana (Invest ment Fund) adalah perusahaan yang kegiat an ut amanya melakukan invest asi, invest asi kembali, at au penj ualan sekurit as.
Bagi pemodal khususnya pemodal kecil, perusahaan Reksa Dana merupakan salah sat u pilihan yang aman unt uk menanamkan modalnya.
Penghasilan yang dit erima at au diperoleh perusahaan Reksa Dana dari invest asinya adalah berupa dividen, bunga obligasi at au keunt ungan dari penj ualan sekurit as. Dengan ket ent uan ini, maka dividen dan bunga obligasi sert a keunt ungan dari penj ualan sekurit as yang dit erima at au diperoleh perusahaan Reksa Dana t idak t ermasuk obyek Paj ak Penghasilan.
Perlakuan perpaj akan t ersebut dimaksudkan unt uk mendorong perkembangan perusahaan Reksa Dana yang pada gilirannya dapat meningkat kan penghasilan pemodal kecil, sekaligus dapat mendorong pengembangan perusahaan Reksa Dana dan perkembangan Pasar Modal.
berikut :
a. penghasilan t ersebut berupa dividen yang berasal dari perseroan yang didirikan di Indonesia dan at au bunga dari obligasi yang diperdagangkan di Pasar Modal di Indonesia sert a keunt ungan dari penj ualan sekurit as yang diperdagangkan di Pasar Modal di Indonesia, dan
b. seluruh penghasilan bersih yang dit erima at au diperoleh perusahaan Reksa Dana t ersebut dibagikan sebagai dividen kepada para pemodal.
Apabila perusahaan Reksa Dana yang bersangkut an t idak memenuhi kedua persyarat an t ersebut , misalnya dengan menahan sebagian labanya, maka at as seluruh penghasilannya akan dikenakan Paj ak Penghasilan. Demikian pula penghasilan dari sumber-sumber penghasilan selain yang memenuhi persyarat an t ersebut , dikenakan Paj ak Penghasilan. Mengingat bahwa penghasilan berupa dividen, bunga obligasi dan keunt ungan karena penj ualan sekurit as t idak dikenakan Paj ak Penghasilan, maka dalam hal t erdapat kerugian pada suat u t ahun, kerugian t ersebut t idak dapat dikompensasikan baik dengan penghasilan dari sumber penghasilan lainnya maupun dengan penghasilan t ahun-t ahun berikut nya (kompensasi vert ikal dan horizont al).
Dividen dan bunga obligasi yang dit erima at au diperoleh perusahaan Reksa Dana t idak dikenakan pemot ongan paj ak berdasarkan Pasal 23.
Namun demikian dividen yang dibagikan kepada para pemodal dikenakan pemot ongan paj ak berdasarkan Pasal 23 oleh perusahaan Reksa Dana.
Perusahaan Modal Vent ura (Vent ure Capit al Company) adalah suat u perusahaan yang kegiat an usahanya membiayai perusahaan pasangan usaha dalam bent uk penyert aan modal unt uk suat u j angka wakt u t ert ent u.
Dengan ket ent uan ini, bagian keunt ungan yang dit erima at au diperoleh dari perusahaan pasangan usaha sert a keunt ungan yang dit erima at au diperoleh dari penj ualan at au pengalihan penyert aannya t idak t ermasuk sebagai obyek Paj ak Penghasilan, sepanj ang memenuhi persyarat an sebagai berikut :
a. perusahaan pasangan usaha dari perusahaan Modal Vent ura berusaha dalam sekt or-sekt or usaha t ert ent u, t ermasuk perusahaan menengah dan kecil, dan
b. perusahaan pasangan usaha t ersebut bukan perusahaan yang t elah menj ual sahamnya di Bursa Ef ek di Indonesia.
Mengingat perusahaan Modal Vent ura memperoleh f asilit as perpaj akan, agar kegiat an perusahaan Modal Vent ura dapat diarahkan kepada sekt or-sekt or kegiat an ekonomi yang memperoleh priorit as, misalnya unt uk meningkat kan kegiat an ekspor non migas, maka kegiat an dari perusahaan pasangan usaha dimana perusahaan Modal Vent ura memiliki penyert aan t ersebut dipandang perlu diat ur lebih lanj ut dalam Perat uran Pemerint ah. Mengingat pula bahwa perusahaan Modal Vent ura merupakan alt ernat if pembiayaan dalam bent uk penyert aan modal, maka penyert aan modal yang dilakukan oleh perusahaan Modal Vent ura diarahkan pada perusahaan-perusahaan yang belum mempunyai akses ke Pasar Modal. Oleh karena it u adalah t epat apabila perusahaan Modal Vent ura yang melakukan penyert aan pada perusahaan yang t elah "go public" t idak memperoleh f asilit as perpaj akan.
maka at as dividen at au bagian keunt ungan yang dit erima at au diperoleh perusahaan Modal Vent ura yang memenuhi persyarat an t ersebut t idak dilakukan pemot ongan paj ak berdasarkan Pasal 23 oleh pihak yang waj ib membayarkan.
Angka 5
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Penghasilan Kena Paj ak diperoleh dengan j alan menj umlahkan semua penghasilan yang dit erima at au diperoleh dalam suat u t ahun paj ak dan menguranginya dengan biaya-biaya at au pengurangan yang diperbolehkan oleh Pasal ini.
Biaya unt uk mendapat kan, menagih, dan memelihara penghasilan adalah biaya at au pengeluaran yang ada hubungan langsung dengan penghasilan yang dit erima at au diperoleh Waj ib Paj ak.
Dalam pengert ian biaya unt uk mendapat kan, menagih dan memelihara penghasilan dari usaha, t ermasuk pemberian imbalan dalam bent uk nat ura dan/ at au kenikmat an t ert ent u di daerah t erpencil.
Pembayaran premi asuransi j iwa dan asuransi kesehat an oleh pemberi kerj a unt uk pegawai dapat dikurangkan sebagai biaya perusahaan sedangkan bagi pegawai yang bersangkut an, premi t ersebut merupakan penghasilan.
apabila berlebih-lebihan, yait u melampaui gaj i pegawai lain yang bukan pemegang saham yang melakukan pekerj aan, t ugas at au j abat an yang kurang lebih sama dengan pemegang saham it u, maka kelebihannya t idak boleh dikurangkan dari penghasilan brut o pemberi kerj a.
Dalam biaya ini t ermasuk pula bunga yang dibayarkan sehubungan dengan hut ang perusahaan, kecuali apabila j umlahnya melampaui j umlah yang dit et apkan oleh Ment eri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1).
Dalam menent ukan besarnya bunga yang dapat dikeluarkan dari penghasilan brut o perlu diperhat ikan ket ent uan-ket ent uan t ent ang pengeluaran at au biaya bunga yang t idak boleh dikurangkan dari penghasilan brut o sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2).
Bunga yang dibayarkan sehubungan dengan hut ang pribadi t idak boleh dikurangkan dari penghasilan brut o, sebab bunga semacam ini merupakan penggunaan dari penghasilan.
Angka 6
Pasal 9
Ayat (1)
Huruf d
Angka 7
Pasal 11
Ayat (15)
Unt uk mendorong invest asi di daerah t erpencil, maka kepada para penanam modal yang menanamkan modalnya di daerah t erpencil perlu diberikan insent if dalam menggunakan met ode penyusut an. Kepada para penanam modal t ersebut diberikan pilihan dalam menerapkan met ode penyusut an yait u met ode garis lurus (st raight line) yang masa penyusut annya dapat kurang dari 20 (dua puluh) t ahun, at au met ode menurun secara berimbang (declining balance) at as hart a yang dimiliki dan dipergunakan unt uk kegiat an usaha di daerah t erpencil, di luar golongan bangunan dengan ket ent uan sebagai berikut :
a. Dalam hal met ode penyusut an yang digunakan dalam met ode garis lurus meskipun dapat kurang dari 20 (dua puluh) t ahun t et api t idak boleh lebih pendek dari masa manf aat hart a yang disusut kan;
b. Dalam hal met ode penyusut an yang digunakan adalah met ode menurun secara berimbang, maka penyusut an harus dilakukan berdasarkan ayat (9);
c. Met ode penyusut an harus dit erapkan secara t aat asas.
At as hart a Golongan Bangunan t et ap disusut kan dengan menggunakan met ode garis lurus yang masa penyusut annya dapat kurang dari 20 (dua puluh) t ahun t et api t idak boleh lebih pendek dari masa manf aat nya.
prasarana, sepert i j alan lingkungan, j embat an, pelabuhan, rumah sakit , sekolah, yang dimiliki dan digunakan dalam kegiat an usaha Waj ib Paj ak di daerah t erpencil.
Keluwesan dalam menggunakan met ode penyusut an ini hanya diberlakukan t erhadap hart a yang diperoleh dan digunakan sej ak t anggal 1 Januari 1992. Pengert ian daerah t erpencil dalam Pasal ini adalah sama dengan pengert ian daerah t erpencil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf d dan Pasal 6 ayat (1) huruf a.
Ayat (16)
Bagi perusahaan-perusahaan dalam bidang pert ambangan umum yang menanamkan modalnya di daerah t erpencil diberikan perlakuan amort isasi yang berbeda dengan ket ent uan amort isasi sebagaimana diat ur dalam ayat (10), ayat (11) dan ayat ( 12). Biaya unt uk memperoleh hart a t ak berwuj ud t ert ent u dimaksud dapat diamort isasi dengan met ode menurun secara berimbang dengan t arif 25% (dua puluh lima persen).
Dalam hal perusahaan t elah menerapkan ayat (10), ayat (11) dan ayat (12), maka perusahaan t ersebut t idak boleh menerapkan amort isasi berdasarkan ayat ini.
Angka 8
Pasal 13
Ayat (3)
bahasa Indonesia dan dalam sat uan mat a uang rupiah, demikian pula pembayaran kewaj iban paj aknya harus dilakukan dalam sat uan mat a uang rupiah.
Angka 9
Pasal 29
Ayat (1)
Dengan ket ent uan ini, maka t erhadap penghasilan berupa imbalan at as j asa t eknik dan j asa manaj emen yang dilakukan di Indonesia oleh Waj ib Paj ak dalam negeri, dipot ong paj ak sebesar 9% (sembilan persen) dari j umlah brut o oleh pihak yang waj ib membayarkannya. Sedangkan at as penghasilan lainnya sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2) dan angka 3) huruf a ayat ini t et ap dipot ong paj ak sebesar 15% (lima belas persen) dari j umlah brut o oleh pihak yang waj ib membayarkannya.
Pasal II