OPTIMASI CAMPURAN ASAM SITRAT DAN NATRIUM BIKARBONAT SEBAGAI EKSIPIEN PADA PEMBUATAN GRANUL EFFERVESCENT
EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) SECARA GRANULASI BASAH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Bayu Putro Wibisono
NIM : 058114164
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
ii
OPTIMASI CAMPURAN ASAM SITRAT DAN NATRIUM BIKARBONAT SEBAGAI EKSIPIEN PADA PEMBUATAN GRANUL EFFERVESCENT
EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centellae asiaticae Herba) SECARA GRANULASI BASAH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Bayu Putro Wibisono
NIM : 058114164
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN ILMIAH
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Nama : Bayu Putro Wibisono
No. Mahasiswa : 058114164
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
OPTIMASI CAMPURAN ASAM SITRAT DAN NATRIUM BIKARBONAT
SEBAGAI EKSIPIEN PADA PEMBUATAN GRANUL EFFERVESCENT
EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centellae asiaticae Herba) SECARA GRANULASI BASAH
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu minta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 14 Mei 2009
Yang menyatakan
vi
Sebuah mimpi ada bukan hanya untuk menjadi asa… , tetapi haruslah menjadi nyata…
M engejar mimpi bukanlah hal yang sia-sia, melainkan sesuatu yang luar biasa…
Jangan pernah meremehkan sebuah mimpi, hidupi, yakini, telateni, dan tekuni dalam doa
K arena Tuhan pasti akan memberikan sesuatu yang indah dibalik mimpi tersebut Bersama Tuhan, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin
Skripsi ini kupersembahkan untuk semua yang aku kasihi
T uhan Y esus K ristus
I bu, B apak, adikku A nggit, Shinta
U ntuk sahabat, semua teman-teman civitas farmasi 2005
dan
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih penulis kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Optimasi campuran asam sitrat dan natrium bikarbonat sebagai eksipien pada pembuatan granul effervescent ekstrak herba pegagan (Centellae asiaticae Herba) secara granulasi basah” untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm).
Semua kelancaran dan keberhasilan penulis dalam menyelesaikan laporan ini
tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus atas semua berkat, rahmat, dan anugerah yang setiap hari
saya terima.
2. Keluargaku (Ibu, Bapak, dan adikku) yang telah memberi dukungan, perhatian,
dan doa sehingga terselesaikan skripsi ini.
3. Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta.
4. Agatha Budi Susiana Lestari, M.Si., Apt selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan banyak waktu untuk mendampingi dan memberikan arahan selama
viii
5. Yohanes Dwiatmaka, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
banyak waktu untuk mendampingi, memberikan arahan selama proses penelitian
dan penyusunan skripsi, dan dalam mendapatkan standar ekstrak herba pegagan.
6. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan berupa saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
7. Romo Petrus Sunu Hardiyanta, M.Sc., S.J selaku dosen penguji yang telah
memberikan masukan berupa saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
8. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt., untuk pemberian standar asiatikosid.
9. Segenap laboran (pak Musrifin, mas Agung, mas Wagiran, mas Iswandi, mas
Ottok, mas Bimo) atas bantuan selama penulis menyelesaikan skripsi dan semua
laboran selama penulis menempuh perkuliahan di Fakultas Farmasi Univeristas
Sanata Dharma.
10.Shinta Visitasia Mandiri atas semua cinta dan kasih sayang yang menghiasi
hari-hariku selama ini.
11.Alfa atas kerjasama, bantuan, dan teman lembur selama mengerjakan skripsi ini.
12.Hendra yang telah banyak memberikan waktu untuk berbagi pengalaman dan
diskusi.
13.Teman-teman FST 05, teman-teman ex kelas C’05 untuk dukungan dan
kebersamaannya.
14.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis telah berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan skripsi ini.
ix
dalamnya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan
naskah ini. Akhir kata, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu kefarmasian.
x
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, Maret 2009
Penulis,
xi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN ILMIAH ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
INTISARI ... xix
ABSTRACT ... xx
BAB I. PENGANTAR ... 1
A. Latar Belakang ... 1
1. Perumusan masalah ... 3
2. Keaslian karya ... 3
3. Manfaat penelitian ... 4
xii
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ... 6
A. Centellae asiaticae Herba ... 6
B. Maserasi ... 8
C. Image J ... 9
D. Granul Effervescent ... 10
E. Metode Pembuatan Granul Effervescent ... 11
F. Bahan-Bahan dalam Sediaan Effervescent ... 13
G. Sifat Fisik Granul Effervescent ... 15
1. Kecepatan Alir ... 16
2. Kandungan Lembab Granul ... 16
3. Waktu Larut ... 16
4. pH Larutan ... 16
H. Desain Faktorial ... 17
I. Landasan Teori ... 19
J. Hipotesis ... 20
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 21
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 21
B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 21
C. Bahan Penelitian dan Alat Penelitian ... 22
D. Tata Cara Penelitian ... 23
xiii
2. Pembuatan ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 23
3. Penetapan kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 24
4. Standarisasi ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 24
5. Penentuan dosis ... 26
6. Penentuan level rendah dan level tinggi ... 26
7. Optimasi formula granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba dengan kombinasi asam sitrat dan natrium bikarbonat ... 28
8. Pembuatan granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 28
9. Uji sifat fisik granul effervescent ... 29
10. Penentuan persamaan dan contour plot ... 31
E. Analisis Hasil ... 31
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33
A. Pembuatan serbuk simplisia Centellae asiaticae Herba ... 33
B. Pembuatan ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 34
C. Penetapan kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 35
D. Hasil standarisasi ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 36
1. Uji organoleptis ... 36
2. Uji daya lekat ... 36
3. Uji viskositas ... 37
xiv
5. Uji kromatografi lapis tipis ... 39
E. Pembuatan Granul Effervescent Ekstrak Centellae asiaticae Herba ... 41
F. Granul Effervescent ... 43
G. Uji Sifat Fisik Granul Effervescent ... 43
1. Uji kecepatan alir ... 45
2. Uji kandungan lembab ... 48
3. Uji waktu larut ... 52
4. Uji pH larutan ... 54
5. Uji daya adsorpsi ... 57
H. Optimasi Formula ... 58
1. Kecepatan alir ... 59
2. Kandungan lembab ... 60
3. Waktu larut ... 61
4. pH larutan ... 62
5. Contour plot superimposed ... 64
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
LAMPIRAN ... 70
xv
DAFTAR TABEL
Tabel I. Rancangan percobaan desain faktorial dengan dua faktor dan dua
level... 18
Tabel II. Level rendah dan level tinggi sumber asam dan sumber basa yang
digunakan ... 27
Tabel III. Formula granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba .... 28
Tabel IV. Hubungan antara kadar asiatikosid baku dengan area kromatogram 35
Tabel V. Hasil deteksi standar asiatikosid dan kandungan asiatikosid dalam
ekstrak Centellae asiaticae Herba dengan KLT ... 40
Tabel VI. Data sifat fisik granul effervescent ... 44
Tabel VII. Hasil perhitungan efek berdasarkan desain faktorial ... 45
Tabel VIII. Perhitungan Yate’s treatment pada respon kecepatan alir granul .... 47
Tabel IX. Perhitungan Yate’s treatment pada respon kandungan lembab ... 51
Tabel X. Perhitungan Yate’s treatment pada respon waktu larut ... 53
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Struktur asiatikosid ... 7
Gambar 2. Identifikasi asiatikosid dengan KLT... 39
Gambar 3. Pengaruh level asam sitrat (a) dan natrium bikarbonat (b) terhadap kecepatan alir granul ... 46
Gambar 4. Pengaruh level asam sitrat (a) dan natrium bikarbonat (b) terhadap kandungan lembab granul ... 50
Gambar 5. Pengaruh level asam sitrat (a) dan natrium bikarbonat (b) terhadap waktu larut granul ... 52
Gambar 6. Pengaruh level asam sitrat (a) dan natrium bikarbonat (b) terhadap pH larutan ... 55
Gambar 7. Contour plot kecepatan alir granul effervescent ... 59
Gambar 8. Contour plot kandungan lembab granul effervescent ... 61
Gambar 9. Contour plot waktu larut granul effervescent ... 62
Gambar 10. Contour plot pH larutan ... 63
Gambar 11. Contour plot superimposed ... 65
Gambar 12. Tanaman Centella asiatica (L.) Urban ... 98
Gambar 13. Foto ekstrak kental Centellae asiaticae Herba ... 99
Gambar 14. Foto granul effervescent formula 1 ... 100
Gambar 15. Foto larutan granul effervescent formula 1 ... 100
Gambar 16. Foto granul effervescent formula a ... 101
xvii
Gambar 18. Foto granul effervescent formula b ... 102
Gambar 19. Foto larutan granul effervescent formula b ... 102
Gambar 20. Foto granul effervescent formula ab ... 103
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat keterangan resmi simplisia Centellae asiaticae Herba ... 70
Lampiran 2. Notasi dan Formula Desain Faktorial ... 71
Lampiran 3. Data Pengujian Ekstrak ... 72
Lampiran 4. Data Penetapan Kadar Asiatikosid ... 74
Lampiran 5. Data Sifat Fisik Granul Effervescent... 75
Lampiran 6. Perhitungan Desain Faktorial ... 78
Lampiran 7. Perhitungan Yate’s Treatment ... 88
Lampiran 8. Dokumentasi ... 98
xix INTISARI
Centellae asiaticaeHerba merupakan bagian dari tumbuhan Centella asiatica
(L.) Urban yang banyak dieksplorasi untuk mengatasi berbagai penyakit. Kandungan asiatikosid dalam Centellae asiaticae Herba telah banyak diteliti dan dibuktikan mampu mengatasi penyakit degeneratif melalui perbaikan kualitas pembuluh darah.
Granul effervescent dipilih sebagai sediaan untuk memfasilitasi ekstrak
Centellae asiaticae Herba karena rasa yang enak menyegarkan, nyaman, mudah digunakan, dan tepat dosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah granul
effervescent yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan uji sifat fisik granul
effervescent yang berlaku, mengetahui efek diantara faktor yang dominan dalam menentukan masing-masing respon sifat fisik granul effervescent, dan mencari komposisi optimum yang dapat menghasilkan granul effervescent yang baik.
Analisis hasil dari penelitian ini berdasarkan desain faktorial, dengan dua faktor dan dua level. Sifat fisik granul effervescent yang diamati adalah kecepatan alir, kandungan lembab, waktu larut, dan pH larutan. Uji sifat fisik tersebut digunakan untuk menentukan area komposisi optimum formula granul effervescent
yang dihasilkan.
Hasil menunjukan bahwa asam sitrat memberikan efek yang dominan pada kecepatan alir, dan waktu larut granul effervescent. Natrium bikarbonat memberikan efek yang dominan terhadap pH larutan. Interaksi asam sitrat-natrium bikarbonat memberikan efek yang dominan terhadap kandungan lembab granul.
xx ABSTRACT
Centella asiaticae Herba was part from Centella asiatica (L.) Urban that being explorated to prevent many disease. Asiaticoside on Centella asiaticae Herba
was already examined can prevent degenerative disease, by improvement of blood vessels.
Effervescent granules was choiced to facilitated Centellae asiaticae Herba
extract because fresh, comfortable, easy to used and correct dose. The aims of the research were to investigate the effervescent granule which produce can fulfill conditions of physical properties which qualify, to know dominant effect between factors to determining each physical properties effervescent granules, and to find optimum composition which can yielding good effervescent granules.
The analysis of this research was based on factorial design use two factors and two levels. The physical properties effervescent granules that examined, are flow rate, moisture content, pH, and dissolve time. Physical test was used to determining optimum composition area of effervescent granules which yielded.
The result show that acid citric have dominant effect on response flow rate, and dissolve time of effervescent granule. Natrium bicarbonate have dominant effect on Solution pH. Interaction of acid citric and natrium bikarbonat have dominant effect on moisture content effervescent granule.
1
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang
Dewasa ini, tren untuk kembali ke alam (back to nature) sedang digemari di
kalangan masyarakat, termasuk dalam hal obat-obat yang berasal dari bahan alam,
atau yang lebih dikenal di masyarakat sebagai jamu. Ada pandangan bahwa
penggunaan obat dari bahan alam lebih aman dan memiliki efek samping yang kecil
dibandingkan obat-obat sintesis (Katno dan Pramono, 2003). Banyak dari tumbuhan
yang telah atau sedang dikembangkan menjadi sediaan obat untuk mengatasi
berbagai penyakit.
Dalam rangka mengembangkan tindakan preventif untuk meminimalkan
resiko penyakit degeneratif, banyak dilakukan usaha eksplorasi untuk
mengembangkan obat dari bahan alam. Salah satu bahan alam yang saat ini giat
dieksplorasi diantaranya adalah herba pegagan atau herba kaki kuda (Centellae
asiaticae Herba). Efek terapi yang menguntungkan dari Centellae asiaticae Herba
dikaitkan dengan aktivitas kandungan senyawa glikosida triterpen pentasiklis, yaitu
asiatikosid (Kormin, 2005). Diharapkan pemanfaatan tanaman ini dapat digunakan
untuk tindakan preventif dalam mengatasi penyakit degeneratif, melalui perbaikan
pembuluh darah.
Asiatikosid diketahui dapat meningkatkan permeabilitas kapiler dan juga
Berbagai uji klinis menunjukkan pemakaian untuk chronical venous insufficiency,
dan varicose veins (Anonim, 2008b). Asiatikosid juga memiliki aktivitas antioksidan
yang kuat, antimikrobial, dan anti-inflammatory (Kormin, 2005).
Pemanfaatan ekstrak Centellae asiaticae Herba tersebut diharapkan dapat
digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas kesehatan, melalui
peningkatan kualitas pembuluh darah. Pemanfaatan ekstrak ini memerlukan
pemakaian jangka panjang sehingga perlu dibuat dalam bentuk sediaan yang nyaman
bagi pasien. Sediaan granul effervescent diharapkan dapat menjawab kebutuhan
tersebut, karena mampu menutupi rasa yang tidak enak dari ekstrak Centellae
asiaticae Herba dengan memberikan sensasi segar saat dikonsumsi. Sensasi segar ini
berasal dari gas CO2 yang dilepaskan dari reaksi sumber asam dan sumber basa
karbonat.
Pada penelitian ini digunakan asam sitrat sebagai sumber asam dan natrium
bikarbonat sebagai sumber basa karbonat. Dalam sediaan effervescent, adanya
sumber asam, sumber basa karbonat, dan interaksi keduanya menjadi faktor penting,
karena akan mempengaruhi kualitas dari sediaan effervescent yang akan dihasilkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan optimasi campuran sumber asam
(asam sitrat) dan basa (natrium bikarbonat) agar diperoleh granul effervescent yang
memenuhi persyaratan kualitas.
Dalam penelitian ini, metode yang dipilih untuk mengoptimasi sumber asam
dan basa dalam sediaan effervescent adalah metode desain faktorial. Keuntungan
interaksi keduanya yang dominan dalam menentukan respon sifat fisik granul
effervescent. Melalui pendekatan ini dapat diperoleh persamaan berdasarkan desain
faktorial dan contour plot untuk mengetahui komposisi optimal campuran dalam
level yang diteliti untuk menghasilkan granul effervescent yang memenuhi
persyaratan.
1. Perumusan Masalah
a. Apakah ekstrak Centellae asiaticae Herba dapat diformulasikan menjadi sediaan
granul effervescent yang memenuhi persyaratan kualitas?
b. Manakah diantara faktor yang diteliti (asam sitrat, natrium bikarbonat atau
interaksi keduanya) yang dominan terhadap sifat fisik granul effervescent yang
dikehendaki?
c. Adakah area komposisi optimum dari asam sitrat dan natrium bikarbonat yang
dapat menghasilkan granul effervescent dengan sifat fisik yang dikehendaki?
2. Keaslian Penelitian
Sejauh pustaka yang telah ditelusuri peneliti, penelitian mengenai optimasi
campuran asam sitrat dan natrium bikarbonat sebagai eksipien pada pembuatan
granul effervescent ekstrak herba pegagan (Centellae asiaticae Herba) secara
3. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kefarmasian,
khususnya dalam penggunaan campuran asam sitrat dan natrium bikarbonat serta
pengaruhnya terhadap sifat fisik granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae
Herba.
b. Manfaat metodologis
Penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan tentang metode optimasi
yang baik dalam pembuatan granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba
dengan campuran asam sitrat dan natrium bikarbonat secara granulasi basah.
c. Manfaat praktis
Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah mendapatkan
suatu granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba yang berkhasiat, nyaman
digunakan, praktis, dan berguna bagi masyarakat.
B. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui apakah ekstrak Centellae asiaticae Herba dapat diformulasikan
menjadi granul effervescent yang memenuhi persyaratan kualitas.
2. Mengetahui faktor dari asam sitrat dan natrium bikarbonat atau interaksinya yang
3. Mengetahui area komposisi optimum dari campuran asam sitrat dan natrium
bikarbonat yang dapat menghasilkan granul effervescent dengan sifat fisik yang
6
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA A. Centellae asiaticae Herba 1. Asal simplisia
Centellae asiaticae Herba merupakan simplisia yang berasal dari bagian di
atas tanah tanaman Centella asiatica (L) Urban (Fam. Apiaceae/Umbelliferae) yang
biasa dikenal dengan nama herba kaki kuda atau pegagan (Anonim, 1999).
2. Kandungan kimiawi
Centellae asiaticae Herba mengandung minyak atsiri dalam jumlah sedikit,
sterol, glikosida flavonol, polialkena, saponin (asiatikosid 0,3%, madekosid 1,5-2%)
(Bruneton, 1999). Menurut Heinrich, Barnes, Gibbsons, and Williamson, (2004)
herba ini mengandung saponin yang antara lain terdiri dari asiatikosid, brahminosid,
centellosid, madekosid, dan thankunisid.
Anonim (2008b) menyebutkan bahwa senyawa aktif saponin triterpenoid
pentasiklis, terdiri dari: (1) asiatikosid (ester asam asiatik dan rantai trisakarida yang
terdiri dari ramnosa dan dua glukosa), (2) madekosid (ester asam madekasid dan
rantai trisakarida yang terdiri dari ramnosa dan dua glukosa) dan (3) sejumlah kecil
Gambar 1. Struktur asiatikosid (Anonim, 2008b )
Asiatikosid adalah senyawa golongan glikosida triterpenoid yang berasal dari
simplisia Centellae asiaticae Herba. Asiatikosid dilaporkan memiliki efek yang
positif untuk mengobati penyakit lepra, sebagai antiinflamasi, antimikrobial, dan
antioksidan. Total triterpenoid yang mengandung asiatikosid, asam asiatik,
madekosid, dan asam madekosid secara signifikan dapat memproduksi collagen dan
memperbaiki masalah kulit (Kormin, 2005).
3. Penggunaan
Ekstrak Centellae asiaticae Herba telah terbukti secara klinis pada
pengobatan Venous Insufficiency (Anonim, 2008b). Uji klinis pada sekelompok
pasien dengan gangguan pembuluh vena menunjukkan efek penyembuhan. Herba ini
dapat meningkatkan sistem kekebalan, memacu peremajaan, penguat saraf, dan
berefek sedatif lemah. Uji in vivo dan in vitro pada tikus menunjukkan adanya efek
imunomudulator dari Centellae asiaticae Herba (Heinrich dkk., 2004). Herba kaki
kuda ini digunakan untuk pengobatan penyakit kulit dan gangguan saraf (epilepsi,
4. Dosis
Untuk pengobatan, WHO merekomendasikan dosis oral sebesar 1-2 gram per
hari, dibagi dalam 3 bagian, dikonsumsi begitu saja atau dalam bentuk infusa
(Anonim, 1999). Dosis internal pemakaian serbuk daun centella adalah 0,5-1 gram
per hari (Heinrich dkk, 2004).
Untuk mengatasi penyakit Venous Insufficiency 3 sampai 6 tablet.
Madecassol® (10 mg TECA yang mengandung asiatikosid 5,85 mg) (Anonim,
2008c).
5. Toksikologi
Pada uji toksikologi, asiatikosid tidak menunjukkan toksisitas sampai dosis
oral 1 g/kg, dosis toksik untuk pemberian secara intramuskular pada tikus sebesar
40-50 mg/kg (Anonim, 2000). Pada pemakaian secara topikal pernah dilaporkan
terjadi alergi dan fotosensitif kulit. Pada pemakaian sediaan injeksi dan pemakaian
lokal mungkin terjadi rasa nyeri terbakar (Heinrich dkk., 2004).
B. Maserasi
Maserasi (macerare = mengairi, melunakkan) adalah cara ekstraksi yang
paling sederhana. Bahan simplisia yang dihaluskan sesuai dengan syarat Farmakope
(umumnya terpotong-potong atau berupa serbuk kasar) disatukan dengan bahan
pengekstraksi. Selanjutnya rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya
kembali. Waktu lamanya maserasi berbeda-beda, masing-masing farmakope
mencantumkan 4-10 hari (Voigt, 1994).
Dilihat dari segi teknologi farmasinya, maserasi merupakan pilihan metode
yang tepat, karena proses operasional metode ini mudah dilakukan dan dapat
menghasilkan ekstrak secara maksimal. Proses maserasi tidak membutuhkan
operator khusus karena metode ini dapat dikerjakan oleh kebanyakan orang
berdasarkan prosedur kerja yang ada. Proses yang dilakukan dalam maserasi bisa
dikontrol dengan menyamakan semua kondisi percobaan. Secara ekonomis, maserasi
merupakan metode yang membutuhkan biaya lebih murah daripada metode ekstraksi
yang lain. Proses ekstraksi yang dilakukan akan lebih terstandar karena proses
maserasi dapat dikontrol dengan mudah (Ansel, 1989).
C. Image J
Pada penelitian ini penetapan kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae
asiaticae Herba menggunakan program image J . Image J merupakan program dari
NIH (The National Institute of Health) yang dapat digunakan untuk menganalisis
ukuran partikel melalui image. Image J dapat menghitung area dan nilai pixel dari
area yang sudah ditentukan. Image J dapat digunakan untuk membaca berbagai
format image meliputi TIFF, GIF, JPEG, BMP, DICOM, dan FITS (Anonim, 2003).
Image J adalah suatu software Java yang digunakan untuk memproses suatu gambar
yang dirancang untuk memproses dan menganalisis suatu gambar, seperti gambar
sistem hemologi. Image J dirancang dan dibuat menjadi program yang lebih mudah
dipahami dan digunakan untuk proses mempelajari suatu gambar. Image J dapat
digunakan untuk menghitung area, statistik, nilai pixel dan intensitas dari suatu objek
gambar, seperti penggunaan KLT densitometer (Anonim, 2008d). Lempeng KLT
yang telah dielusi kemudian dihitung intensitas bercaknya menggunakan program
Image J (Zeligs and Bradlow, 2006).
D. Granul Effervescent
Dalam cakupan farmasetika, istilah effervescent berarti terbentuknya
gelembung udara dalam cairan sebagai hasil dari reaksi kimia. Terbentuknya gas
dalam suatu sediaan effervescent umumnya merupakan hasil dari reaksi sumber asam
dan sumber karbonat (Robinson dan McGinity, 2002). Granul effervescent adalah
granul atau serbuk kasar sampai kasar sekali dan mengandung unsur obat dalam
campuran kering, biasanya terdiri dari unsur asam (asam sitrat, asam tartrat, asam
fumarat) dan unsur karbonat (natrium karbonat, natrium bikarbonat) yang bila
ditambahkan dengan air, asam dan basanya bereaksi membebaskan karbondioksida
sehingga menghasilkan buih (Ansel, 1989).
Sumber asam yang digunakan dapat berupa asam organik maupun anorganik,
dan berbentuk anhidrat maupun garam asam. Di sisi lain, sumber basa dalam sediaan
effervescent berupa komponen alkali yang dapat menghasilkan gas, ketika bereaksi
dengan sumber asam maupun air, dan biasanya merupakan prekursor gas
Keuntungan bentuk granul effervescent sebagai suatu sediaan obat adalah
penyiapan larutan dalam waktu seketika dengan dosis yang tepat, sehingga
memudahkan bagi pasien yang mengalami kesukaran ketika menelan obat dalam
bentuk tablet dan kapsul. Selain itu, granul effervescent juga menghasilkan rasa yang
enak karena adanya karbonat yang membantu memperbaiki rasa beberapa obat
tertentu (Lindberg, Engfors, dan Ericsson, 1992). Salah satu konsekuensi yang harus
diperhatikan dari sediaan effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk
yang stabil secara kimia (Banker dan Anderson, 1986).
E. Metode Pembuatan Granul Effervescent
Pada pembuatan granul effervescent kondisi ruangan harus terkontrol.
Kondisi ruangan dipersyaratkan memiliki RH maksimum 25%, dengan suhu ruangan
25oC atau kurang. Ada dua macam metode pembuatan granul effervescent yaitu
metode kering dan metode basah. Langkah awal yang dilakukan yaitu menentukan
formula yang tepat untuk sediaan yang akan menghasilkan pembuihan yang efektif
dan penggunaan asam-basa yang tersedia secara efisien, granul yang stabil, dan
produk yang rasanya nyaman serta manjur (Ansel,1989).
1. Metode kering
Metode kering dilakukan secara granulasi kering. Granulasi kering
disempurnakan dengan menggunakan peralatan khusus yang disebut roller
compactor. Prosedur granulasi kering yang lain adalah slugging dimana slugs akan
digunakan untuk bahan-bahan yang tidak bisa dibuat dengan metode granulasi basah.
Metode ini akan meningkatkan kekompakan (Mohrle,1989).
2. Metode basah
Metode basah pada pembuatan granul effervescent dilakukan dengan cara
granulasi basah. Granulasi basah meliputi pencampuran bahan-bahan kering dengan
granulating fluid untuk menghasilkan massa granul. Granulasi basah dapat dilakukan
dengan 3 cara, yaitu dengan pemanasan, dengan cairan nonreaktif, dan dengan cairan
reaktif.
a. Dengan pemanasan. Metode klasik dalam granulasi effervescent meliputi
pelepasan air dari formulasi bahan hidrat pada temperatur rendah untuk
membentuk massa granul. Bahan yang sering digunakan untuk metode ini adalah
asam sitrat. Jika jumlah air yang ada dalam asam sitrat maksimal, maka
persentase kandungan air dalam asam sitrat adalah 8,5 % (Mohrle,1989).
b. Dengan cairan nonreaktif. Granulating fluid secara perlahan-lahan ditambahkan
ke dalam campuran komponen formula hingga granulating fluid tersebut
terdistribusi merata. Bahan pengikat larut alkohol seperti PVP dilarutkan ke
dalam granulating fluid kemudian ditambahkan ke dalam campuran komponen.
Massa yang terbentuk dikeringkan dalam oven. Setelah granul kering, diayak
untuk mendapatkan ukuran partikel yang diperlukan (Mohrle,1989).
c. Dengan cairan reaktif. Granulating fluid yang sering digunakan dalam metode ini
adalah air. Proses ini susah dikendalikan saat massa granul yang terbentuk harus
Bahan-bahan yang dipilih harus dengan cepat melepaskan air yang telah diserap. Setelah
formulasi lengkap, granul langsung dapat dihasilkan (Mohrle,1989).
F. Bahan-bahan dalam Sediaan Effervescent
1. Sumber asam
Sumber asam yang paling umum digunakan dalam sediaan effervescent
adalah asam sitrat dan asam tartrat. Asam sitrat memiliki kelarutan yang tinggi dalam
air dan mudah diperoleh dalam bentuk granuler. Alasan inilah yang menyebabkan
asam sitrat lebih sering digunakan sebagai sumber asam dalam pembuatan sediaan
effervescent (Ansel, 1989). Sumber asam yang digunakan dalam penelitian ini adalah
asam sitrat. Asam sitrat mengandung tidak kurang dari 99,5 % dan tidak lebih dari
100,5 % C6H8O7, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian : hablur bening, tidak
berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih; tidak berbau atau praktis
tidak berbau; rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam dalam udara kering
(Anonim, 1995). Asam sitrat tersedia dalam bentuk anhidrat atau monohidrat. Asam
sitrat sangat mudah larut dalam air dan mudah larut dalam etanol (Lindberg
dkk.,1992).
2. Sumber karbonat
Sumber karbonat digunakan sebagai sumber timbulnya gas yang berupa CO2
yang berfungsi sebagai bahan penghancur pada sediaan effervescent. Sumber
karbonat yang biasa digunakan adalah natrium bikarbonat (NaHCO3) dan natrium
natrium bikarbonat. Natrium bikarbonat merupakan bagian terbesar sumber karbonat
dengan kelarutan yang sangat baik dalam air, non higroskopis serta tersedia dalam
komersial mulai dari bentuk bubuk sampai granuler, sehingga natrium bikarbonat
paling sering digunakan dalam pembuatan tablet effervescent (Mohrle, 1989).
Natrium bikarbonat bersifat tidak higroskopis dan pada temperatur ruangan
mempunyai kandungan lembab kurang dari 1% (Lindberg dkk.,1992).
3. Bahan Pengisi
Pada pembuatan sediaan obat dalam jumlah kecil, diperlukan bahan pengisi
unuk memungkinkan suatu formulasi, karena bahan pengisi ini menjamin granul
mempunyai ukuran dan massa yang dibutuhkan (Voigt, 1994).
Bahan pengisi yang digunakan dalam penelitian adalah laktosa. Laktosa adalah gula
yang diperoleh dari susu dalam bentuk anhidrat atau mengandung 1 molekul air
(hidrat). Pemerian :serbuk atau massa hablur, keras, putih atau putih krem. Tidak
berbau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara tapi mudah menyerap bau. Kelarutan :
mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih,
sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter (Anonim,
1995).
4. Bahan Pengikat
Bahan pengikat merupakan suatu bahan yang dapat mengikat bahan-bahan
lain menjadi satu. Bahan pengikat diperlukan untuk membantu menghasilkan suatu
granul. Bahan pengikat yang digunakan dalam pembuatan granul effervescent
(PVP) atau polyvinyl-pirolidon-poli (vinyl asetat) – kopolimer (Lindberg dkk.,
1992). PVP merupakan bahan pengikat yang efektif untuk granul effervescent karena
sifatnya yang dapat larut dalam air dan tidak meninggalkan residu. Penggunaan PVP
sebagai pengikat pada konsentrasi 0,5%-5% (Parikh, 1997). PVP dapat digunakan
untuk granulasi basah ataupun untuk granulasi kering (Lachman, Lieberman,
Herbert, dan Joseph, 1989).
5. Bahan Pemanis
Pemanis pada sediaan effervescent digunakan untuk memperbaiki rasa dan
meningkatkan acceptability. Pada penelitian ini bahan pemanis yang digunakan
adalah aspartam. Aspartam termasuk tiga pemanis yang paling banyak digunakan
dalam industri makanan dan obat, selain sukrosa dan sakarin. Aspartam merupakan
pemanis yang dihasilkan dari sintesis kimia sehingga formulator harus
mempertimbangkan lagi dalam menggunakan aspartam sebagai pemanis obat.
Meskipun demikian penggunaannya masih bisa tetap dianjurkan namun dengan
sangat dibatasi (Lachman dkk., 1989). ADI (acceptable daily intake) aspartam
sebesar 40 mg/kg berat badan manusia (Astawan, 2008).
G. Sifat Fisik Granul Effervescent
Uji sifat fisik granul perlu dilakukan untuk mengetahui apakah granul
1. Kecepatan alir
Menurut Guyot apabila waktu yang diperlukan 100 gram serbuk untuk
mengalir lebih lama dari 10 detik (T > 10) dapat dikatakan bahwa dalam fabrikasi
pada skala industri akan dijumpai kesulitan dalam hal regularitas berat tablet.
(Fudholi, 1983).
2. Kandungan lembab
Kandungan lembab dapat mempengaruhi sifat fisika kimia sediaan padat.
Keseimbangan kandungan lembab dapat mempengaruhi aliran dan karakteristik
kompresi serbuk, kekerasan granul, serta stabilitas obat. Granul sebaiknya tidak
terlalu kering, persyaratan kandungan lembab untuk granul effervescent < 1% (Allen,
2007).
3. Waktu larut
Granul effervescent yang baik diharapkan terlarut dalam waktu 60-150 detik
membentuk larutan yang jernih. Dengan kata lain residu yang tidak larut harus
seminimal mungkin (Wehling dan Fred, 2004).
4. pH larutan
Uji pH larutan dilakukan dengan memasukkan indikator (elektroda) alat uji
pH yaitu pH meter elektrik ke dalam larutan granul effervescent. pH larutan
merupakan salah satu karakteristik utama dalam sediaan effervescent. Konsistensi pH
larutan pada berbagai batch memberikan indikasi bahwa distribusi bahan-bahan
dalam proses pembuatan sediaan effervescent sudah homogen. Adanya variasi pH
homogen. pH larutan juga merupakan parameter yang penting karena dapat
mempengaruhi rasa dari larutan effervescent (Avani, Shah, Dua, dan Renuka, 2006).
H. Desain Faktorial
Desain faktorial adalah pendekatan eksperimental yang dilakukan dengan
meneliti efek dari suatu variabel eksperimental dengan menjaga variabel yang lain
konstan. Desain faktorial digunakan dalam percobaan untuk menentukan secara
simulasi efek dari beberapa faktor dan interaksinya yang signifikan. Signifikan ini
berarti adanya perubahan dari level rendah ke level tinggi pada faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya perubahan yang besar pada respon (Bolton,1990).
Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik untuk
memberikan model hubungan antara variabel respon dengan satu atau lebih variabel
bebas. Desain faktorial digunakan dalam percobaan untuk menentukan secara
simulasi efek dari beberapa faktor dan interaksinya yang signifikan (Bolton, 1990).
Desain faktorial dua level berarti ada dua faktor (misal A dan B) yang
masing-masing faktor diuji pada dua level yang berbeda, yaitu level rendah dan level
tinggi. Tablet dapat mengandung lebih dari satu jenis bahan penyusun, oleh karena
itu penting dan menarik untuk memprediksi sifat-sifat campuran yang terdiri dari
bahan-bahan dengan sifat masing-masing. Dengan desain faktorial dapat didesain
suatu percobaan untuk mengetahui faktor dominan yang berpengaruh secara
signifikan terhadap suatu respon. Desain faktorial mengandung beberapa pengertian,
mempengaruhi respon (Voigt, 1994). Level merupakan nilai atau tetapan untuk
faktor. Pada percobaan dengan desain faktorial perlu ditetapkan level yang diteliti
yang meliputi level rendah dan level tinggi (Bolton, 1990). Efek adalah perubahan
respon yang disebabkan variasi tingkat dari faktor. Efek faktor atau interaksi
merupakan rata-rata respon pada level tinggi dikurangi rata-rata respon pada level
rendah. Respon merupakan sifat atau hasil percobaan yang diamati. Respon yang
diukur harus dikuantitatifkan (Bolton,1990).
Tabel I. Rancangan percobaan desain fakorial dengan dua faktor dan dua level
Formula Faktor I Faktor II Interaksi
1 - - +
a + - -
b - + -
ab + + +
Optimasi campuran dua bahan (dua faktor) dengan dua level desain faktorial (two
level factorial design) dilakukan berdasarkan rumus :
Y = b
0 + b1(A)+ b2(B)+ b12 (AB)
Y = respon hasil atau sifat yang diamati.
A, B
= level bagian A dan B yang nilainya dari -1 sampai +1.
b
0, b1, b2, b12 = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan (Bolton, 1990).
Besarnya efek dapat dicari dengan cara menghitung selisih antara rata-rata
respon pada level tinggi dan rata-rata respon pada level rendah. Perhitungan efek :
Efek faktor II = ( ) ( )
Efek interaksi = ( ) ( )
Adanya interaksi dapat dilihat dari grafik hubungan respon dan level. Jika
grafik menunjukkan grafik sejajar, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada interaksi
antara eksipien dalam menentukan respon. Jika grafik menunjukkan garis yang tidak
sejajar, maka dapat dikatakan bahwa ada interaksi antara eksipien dalam menentukan
respon (Bolton,1990).
I. Landasan Teori
Herba pegagan atau Centella asiaticae Herba adalah salah satu bahan alam
yang saat ini giat dieksplorasi. Kandungan zat aktif dalam ekstrak Centellae
asiaticae Herba, yaitu asiatikosid (termasuk dalam golongan saponin triterpen
pentasiklis), diketahui memiliki aktivitas yang dapat digunakan untuk penanganan
penyakit-penyakit tersebut melalui perbaikan kualitas pembuluh darah. Granul
effervescent diharapkan dapat memfasilitasi ekstrak Centellae asiaticae Herba
menjadi sediaan obat yang baik, karena selain praktis dalam penggunaan juga
memberikan rasa segar saat dikonsumsi. Granul effervescent merupakan granul yang
mengandung campuran asam dan basa, yang bila ditambah air, kandungan asam dan
basanya akan bereaksi menghasilkan karbon dioksida.
Untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing faktor yang dioptimasi
desain faktorial dapat didesain percobaan untuk untuk mengetahui faktor yang
dominan dan berpengaruh secara signifikan terhadap suatu respon. Dengan desain
faktorial dapat diketahui area komposisi optimum berdasarkan contour plot
superimposed, terbatas pada level yang diteliti.
J. Hipotesis
1. Diduga ekstrak Centellae asiaticae Herba dapat diformulasikan menjadi granul
effervescent yang memenuhi persyaratan kualitas.
2. Diduga terdapat faktor yang dominan antara asam sitrat, natrium bikarbonat, dan
interaksi keduanya dalam menentukan sifat fisik granul effervescent ekstrak
Centellae asiaticae Herba.
3. Diduga ditemukan area komposisi formula campuran asam sitrat dan natrium
bikarbonat yang optimum dalam menghasilkan granul effervescent ekstrak
21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimental murni
menggunakan desain faktorial dengan dua faktor dan dua level.
B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas
1) Jumlah sumber asam dan sumber basa masing-masing pada level rendah dan level tinggi, yaitu :
Asam sitrat : 1000 mg (level rendah) dan 1600 mg (level tinggi)
Natrium bikarbonat : 1312,5 mg (level rendah) dan 2100 mg (level
tinggi)
b. Variabel tergantung : Sifat fisik granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae
herba, meliputi kecepatan alir, kandungan lembab, waktu larut, dan pH larutan.
c. Variabel pengacau terkendali meliputi : kelembaban relatif ruangan (± RH 60%),
suhu ruangan (± 18oC), suhu pengeringan bahan dan granul effervescent, lama
2. Definisi Operasional
a. Ekstrak Centellae asiaticae Herba adalah ekstrak kental yang diperoleh dari hasil
ekstraksi simplisia Centelae asiaticae Herba dengan pelarut etanol 70%,
kandungan lembab rata-rata 12,34%, dengan kandungan asiatikosid 1,4195 %.
b. Granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba adalah suatu sediaan padat
berbentuk butiran yang mengandung ekstrak Centellae asiaticae Herba sebagai
bahan obat dengan sumber asam (asam sitrat) dan sumber basa karbonat (natrium
bikarbonat) yang bereaksi cepat pada penambahan air dengan menghasilkan gas
C02.
c. Sifat fisik granul effervescent adalah parameter yang menentukan bahwa granul
yang dihasilkan memenuhi persyaratan, meliputi kecepatan alir granul lebih dari
10 g/detik, waktu larut granul kurang dari 150 detik, pH larutan pada rentang pH
5-7 dan kandungan lembab granul < 1%.
d. Persen daya adsorpsi granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba
merupakan kemampuan 5 gram granul effervescent untuk mengadsorpsi lembab
dari lingkungan dengan kondisi suhu 25oC dan RH 80%, selama 1 jam.
C. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian
Bahan baku berupa serbuk simplisia Centellae asiaticae Herba. Bahan kimia
kualitas teknis berupa etanol 96%, aquades. Bahan kimia kualitas farmasetis berupa
kualitas analitik meliputi silica gel GF254, pereaksi Lieberman-Burchard, etanol,
metanol, kloroform, TECA (titrated extracts of Centella asiatica) mengandung
asiatikosid : madekosid : air 58,5 : 41,4 : 0,1.
2. Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa grinder, maserator,
ayakan, TLC set, neraca elektrik (Mettler Toledo GB 3002), alat pengukur waktu alir
(Laboratorium FTS-Padat USD), Viscotester VT-04 ,moisture analyzer (SinarTM IR
Balance 6100), stopwatch (Illuminator, Casio), pengayak granul (Laboratory Sieve,
IML), oven (Laboratorium FTS-Padat USD), vaccum rotary evaporator (Buchi
Rotavapor No.105108,Switzerland), lemari pendingin (Refrigerator, Toshiba),
alat-alat gelas (Pyrex).
D. Tata Cara Penelitian
1. Pembuatan serbuk simplisia Centellae asiaticae Herba
Simplisia kering yang sudah dibersihkan dari pengotor dikeringkan kembali
dengan oven pada suhu 400 C selama 1 hari. Setelah itu simplisia kering diserbuk
dengan menggunakan mesin penyerbuk kemudian diayak dengan ayakan no 8/24.
2. Pembuatan ekstrak Centellae asiaticae Herba
Ekstrak dibuat secara maserasi, menggunakan pelarut etanol 70%. Satu bagian
serbuk simplisia dimasukkan ke dalam ekstraktor, ditambah 10 bagian etanol
70%, dibiarkan terendam selama 6 jam sambil sekali-sekali diaduk, lalu
dengan prosedur yang sama. Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan
penguap vakum hingga diperoleh ekstrak kental (Anonim, 2000).
3. Penetapan kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba
Ditimbang 500 mg ekstrak, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dilarutkan
dalam 10 mL metanol. Masing-masing sebanyak 1 L larutan uji dan larutan
asiatikosid baku dalam metanol dengan 4 konsentrasi yang berbeda ditotolkan
pada lempeng silika gel GF254, dielusi dengan fase gerak kloroform-metanol-air
(65:25:4) selanjutnya disemprot dengan pereaksi Liebermann-Bourchard,
dipanaskan dalam oven pada temperatur 105ºC selama 10 menit (Pramono,
2004). Lempeng silika kemudian di scaning untuk memasukkan gambar ke
dalam komputer, dan dilakukan pengukuran secara densitometri menggunakan
software image J. Kadar asiatikosid dihitung dalam % b/b dengan
membandingkan kurva baku.
4. Standarisasi ekstrak Centelae asiaticae Herba
a. Pemeriksaan organoleptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi warna, bau, rasa dan konsistensi ekstrak,
dilakukan dengan cara melihat secara visual, mencium, dan merasakan
b. Uji kandungan lembab ekstrak
Ekstrak ditimbang sebanyak 5 gram lalu masukkan ke dalam alat moisture
analyzer, ditunggu selama 15 menit. Kemudian catat kandungan lembab
ekstrak yang muncul pada alat.
c. Uji daya lekat
Uji dilakukan dengan 2 gelas objek. Gelas objek ditandai seluas 2,5 × 2,5 cm
kemudian ditentukan titik tengahnya. Kurang lebih 50 mg ekstrak diletakkan
pada titik tengah tersebut kemudian ditutup dengan gelas objek lain dan
ditekan dengan beban 1 kg selama 5 menit. Kedua gelas objek yang sudah
saling melekat dipasang pada alat uji dengan diberi beban 80 gram. dicatat
waktu yang digunakan hingga kedua gelas objek terpisah.
d. Uji viskositas
Uji dilakukan dengan menggunakan viscotester VT-04 E. Viscotester
dipasang pada statip. Ekstrak dimasukkan ke dalam bejana stainless steel dan
dipilih rotor yang sesuai dengan konsistensi ekstrak. Rotor dipasang pada alat
uji dan diatur hingga rotor tercelup ke dalam ekstrak lalu alat uji dihidupkan.
Ketika rotor mulai jalan, indikastor viskositas akan menunjukkan nilai
viskositas ekstrak yang diuji. Skala yang ditunjukkan oleh jarum rotor dicatat
e. Uji kualitatif asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba
Uji kualitatif dilakukan dengan mengukur harga Rf bercak pada sampel
Centellae asiaticae Herba dan dibandingkan dengan harga Rf standar
asiatikosid.
5. Penentuan dosis
Dosis ekstrak Centellae asiaticae Herba yang digunakan untuk terapi Venous
Insufficiency 3 sampai 6 tablet Madecassol® per hari (10 mg Titrated Extract
Centela asiatica) (Anonim, 2008c). TECA mengandung asiatikosid : madekosid :
air 58,5 : 41,4 : 0,1. Jadi 10 mg TECA mengandung 5,85 mg asiatikosid. Pada
penelitian ini digunakan dosis asiatikosid 5,85 mg untuk mendapatkan efek terapi
Venous Insufficiency. Berdasarkan hasil image J, kadar rata-rata asiatikosid pada
ekstrak Centellae asiaticae Herba adalah sebesar 1,4195 %. Jika dosis asiatikosid
tiap formula granul effervescent 1 x minum sebesar 5,85 mg, maka berat ekstrak
Centellae asiaticae Herba yang digunakan adalah :
,
, x 100 mg = 412,12 mg ≈ 412 mg
6. Penentuan level rendah dan level tinggi asam sitrat dan natrium bikarbonat
3 NaHCO3 + C6H8O7 → 3H2O + 3CO2 + Na3C6H5O7
Asam sitrat BM=192 ; Natrium bikarbonat BM= 84
Level rendah
25
100x 4 gr am = 1 gr am 1
192= 5,208 .10 −3
mol
0,0156 5,208 . 10
Massa NaHCO3 = 0,0156 x 84 = 1,3125 gram
Jadi, level rendah untuk asam sitrat (C6H8O7)= 1 gram dan level rendah untuk
basa Na Bikarbonat (NaHCO3) = 1,3125 gram.
Level tinggi
40
100 4 = 1,6 1,6
192= 8,33 .10 −3
mol
3 NaHCO3 + C6H8O7 → 3H2O + 3CO2 + Na3C6H5O7
0,025 8,33 . 10
Massa NaHCO3 = 0,025 x 84 = 2,1 gram
Jadi, level tinggi untuk asam sitrat (C6H8O7)= 1,6 gram dan level tinggi untuk
basa Na Bikarbonat (NaHCO3) = 2,1 gram.
Tabel II. Level rendah dan level tinggi sumber asam dan sumber basa yang digunakan Formula Asam sitrat (mg) Natrium bikarbonat (mg)
1 1000 1312,5
a 1600 1312,5
b 1000 2100
7. Optimasi formula granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba dengan
kombinasi asam sitrat dan natrium bikarbonat
Tabel III. Formula granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae herba
Bahan (mg) Formula (mg)
1 a b ab
Ekstrak Centellae asiaticae Herba 412 412 412 412
Asam sitrat 1000 1600 1000 1600
Natrium bikarbonat 1312,5 1312,5 2100 2100
Laktosa 1200 1200 1200 1200
Polivinil pirolidon 3 % 15 15 15 15
Aspartam 100 100 100 100
8. Pembuatan granul ekstrak Centellae asiaticae Herba
Pembuatan granul diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan
formula masing-masing. Proses pembuatan granul effervescent dilakukan dalam
ruangan dengan suhu 18o C dan kelembaban relatif (RH) ± 60%. Sebagai bahan
pengikat digunakan larutan PVP 3% dalam etanol 96%.
a. Pembuatan granul ekstrak
Sebanyak 412 gram ekstrak kental Centellae asiaticae Herba dicampurkan
dengan 1200 gram laktosa, kemudian diaduk sampai homogen sampai
terbentuk massa yang dapat dibuat granul. Ayak dengan ayakan no 14, granul
yang terbentuk kemudian dikeringkan dalam oven ± 40oC selama 1 hari.
Kemudian granul ekstrak yang sudah kering dibuat menjadi serbuk.
Pembuatan granul asam
Granul asam dibuat dengan mencampurkan asam sitrat dan serbuk ekstrak
sedikit demi sedikit, secukupnya sampai terbentuk massa yang dapat
digranul. Kemudian ayak dengan ayakan no 14. Massa granul dikeringkan
dalam oven pada suhu ± 40oC selama 2 hari (berdasarkan hasil orientasi)
untuk mencapai bobot konstan. Setelah kering granul asam diayak dengan
ayakan no. mesh 16.
b. Pembuatan granul basa
Granul basa dibuat dengan mencampurkan natrium bikarbonat, aspartam, dan
larutan PVP 3% sebagai pengikat. Adonan lembab tersebut kemudian diayak
dengan ayakan no 14, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu ± 40oC selama
2 hari (berdasarkan hasil orientasi) untuk mencapai bobot konstan. Granul
basa yang sudah kering kemudian diayak dengan ayakan no. mesh 16. Granul
asam dan basa yang bobotnya sudah konstan dicampur dengan menggunakan
cube mixer selama 5 menit dengan kecepatan putar 50 rpm. Kemudian
dilakukan uji sifat fisik granul.
9. Uji sifat fisik granul
a. Kecepatan alir
Ditimbang 100 g granul campuran, dimasukkan ke dalam corong yang ujung
tangkainya tertutup. Kemudian tutup pada ujung tangkai dibuka dan granul
dibiarkan mengalir keluar sampai habis. Waktu mengalirnya granul dari tutup
corong mulai dibuka sampai granul yang berada di dalam corong keluar
b. Kandungan lembab granul
Uji kadar air dilakukan dengan alat moisture analyzer, sebanyak 5 gram
campuran granul asam dan basa karbonat dimasukkan ke dalam cawan
alumunium, kemudian pengukuran dilakukan dengan pemanasan pada suhu
105oC selama 15 menit atau sampai bobot granul relatif konstan (Ansel,
1989).
c. Waktu larut
Masukkan granul sesuai bobot granul pada tiap formula ke dalam gelas yang
berisi 200 ml air pada suhu 15-20°C. Waktu yang diperlukan granul untuk
larut dalam air dihitung dengan stopwatch (Mohrle, 1989).
d. pH larutan
Sejumlah granul sesuai bobot tiap formula yang sudah dilarutkan dalam 200
ml air pada suhu 15-20°C, diukur pH larutan setelah tidak terjadi lagi reaksi
effervescent, yang ditandai dengan tidak lagi terbentuk gas karbondioksida.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.
e. Uji daya adsorpsi lembab
Tempatkan granul 5 gram effervescent dalam suatu petri dish, panaskan pada
suhu 40o C sampai diperoleh bobot konstan lalu diukur kandungan air dengan
moisture analyzer. Dalam kondisi terbuka dengan suhu dan kelembapan
ruangan tempatkan kurang lebih 5 gram selama 1 jam, lalu ukur kandungan
air dengan moisture analyzer. Persen daya adsorpsi air dapat dihitung dengan
daya adsorpsi = % MC1jam - % MCkonstan x 5 g
5g
10.Penentuan persamaan dan contour plot sifat fisik granul
Respon untuk semua kombinasi dapat diprediksi dengan persamaan desain
faktorial, Y = bo + b1XA + b2XB + b12XAXB, di mana :
Y = respon hasil percobaan yang diamati, contohnya: waktu larut.
XA = level faktor I : asam sitrat
XB = level faktor II : natrium bikarbonat
XAXB = level faktor I (asam sitrat) dikalikan level faktor II (natrium
bikarbonat)
bo = Rata-rata hasil semua percobaan
b1, b2, b12 = koefisien yang dihitung dari hasil percobaan
E. Analisis Hasil
Data kuantitatif yang diperoleh dianalisis secara matematis menggunakan
persamaan desain faktorial. Dari persamaan desain faktorial ini akan dibuat contour
plot sifat fisik granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba. Dari
masing-masing contour plot disatukan menjadi superimposed untuk mengetahui area
komposisi optimum sumber asam dan sumber basa, terbatas pada level yang diteliti.
Tingkat signifikansi perbedaan pengaruh dua faktor dan interaksinya
dianalisis secara analitik menggunakan analisis Yate’s treatment. Nilai F yang
diterima apabila nilai Fhitung berada pada daerah critical area dari Ftabel. Taraf
kepercayaan yang digunakan untuk uji statistik adalah 95%. Derajat bebas faktor dan
interaksi (experiment) sebagai numerator adalah 1, dan derajat bebas experimental
error sebagai denominator adalah 20, sehingga diperoleh harga Ftabel untuk faktor dan
33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembuatan serbuk simplisia Centellae asiaticae Herba
Pada penelitian ini simplisia yang digunakan sudah dalam bentuk kering,
yang didapatkan dari industri jamu godhog Merapi Farma Herba di daerah Kaliurang
Yogyakarta. Keaslian simplisia dibuktikan dengan adanya surat keterangan resmi
dari industri jamu godhog Merapi Farma Herba (Lampiran 1). Menurut keterangan,
simplisia Centellae asiaticae Herba yang digunakan berasal dari daerah Magelang.
Sebelum simplisia diserbuk, terlebih dahulu simplisia dimasukkan dalam
oven selama 1 hari dengan suhu 40oC. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa
simplisia yang digunakan benar-benar kering dan nantinya pada saat penyerbukan
dihasilkan serbuk yang baik. Parameter simplisia yang sudah kering dan siap
diserbuk adalah mudah hancur saat diremas-remas dengan tangan. Langkah
selanjutnya dibuat serbuk dengan mesin penyerbuk. Serbuk yang dihasilkan
kemudian diayak dengan ayakan no. 8/24. Pembuatan serbuk ini bertujuan untuk
memperluas kontak antara permukaan serbuk simplisia dengan cairan penyari yang
akan digunakan dalam proses ekstraksi. Dari hasil pembuatan serbuk diperoleh
bahwa kurang lebih 5 kg simplisia Centellae asiaticae Herba didapatkan kurang
B. Hasil Pembuatan Ekstrak Centellae asiaticae Herba
Pembuatan ekstrak Centellae asiaticae Herba dilakukan dengan metode
maserasi mengunakan pelarut etanol 70%. Cairan penyari yang digunakan dalam
ekstraksi ini adalah etanol, karena senyawa asiatikosid dapat larut dalam etanol
terutama etanol 70%. Penyari etanol 95% jarang digunakan karena dapat
menyebabkan terlalu banyaknya klorofil yang akan ikut terlarut sehingga ekstrak
yang diperoleh akan sangat lengket dan sulit untuk dikeringkan (Pramono, 2004).
Dipilihnya metode maserasi karena merupakan metode ekstraksi sederhana
yang dilakukan dengan merendam serbuk simplisia di dalam cairan penyari. Cairan
penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif. Kemudian zat aktif akan terlarut dalam cairan penyari dan
dengan adanya perbedaan konsentrasi di dalam dan di luar sel, maka larutan yang
terpekat akan terdesak keluar.
Pada penelitian ini maserasi dilakukan pada suhu kamar (±27oC). Ekstraksi
dilakukan dengan perbandingan satu bagian simplisia ditambahkan 10 bagian cairan
penyari. Serbuk simplisia direndam dalam cairan penyari selama 6 jam sambil
sekali-sekali diaduk, kemudian didiamkan sampai 24 jam. Pengadukan dilakukan untuk
menghindari kondisi jenuh pada saat maserasi. Proses ekstraksi ini diulang sebanyak
2 kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Maserat yang dihasilkan
dikumpulkan dan kemudian diuapkan dengan bantuan vaccum rotary evaporator
selama 2 hari untuk mendapatkan ekstrak kental. Dari ekstraksi yang dilakukan
ternyata 100 g serbuk simplisia dapat menghasilkan kurang lebih 20 g ekstrak kental.
C. Penetapan Kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba
Penetapan kadar asiatikosid dilakukan dengan metode KLT, dan pengukuran
densitometri menggunakan program image J. Pembuatan kurva baku dilakukan
dengan 4 seri larutan baku (Tabel IV).
Tabel IV. Hubungan antara kadar asiatikosid baku dengan area kromatogram Kadar asiatikosida (µg/µl) AUC
0,374 1815075
0,655 3419045
0,936 4599581
2,34 18071492
Dari hasil analisis hubungan antara kadar asiatikosid vs AUC, terlihat ada
hubungan yang linier antara kenaikan kadar dan luas AUC yang dihasilkan.
Persamaan garis regresi untuk kurva baku, yaitu Y = 2838499,635X – 2188507,448
dengan nilai koefisien korelasi r = 0,9935.
Pengukuran kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae Herba
dilakukan dengan program image J. Image J merupakan program dari NIH (The
National Institute of Health) yang dapat digunakan untuk menganalisis ukuran
partikel melalui image. Image J dapat menghitung area dan pixel dari area yang
Hasil uji penetapan kadar asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae
Herba didapatkan kadar rata-rata sebesar 1,4195% dengan nilai SD 0,2334%.
D. Hasil Standarisasi Ekstrak Centellae asiaticae Herba
1. Pemeriksaan organoleptis ekstrak Centellae asiaticae Herba
Pemeriksaan awal yang dilakukan dalam standarisasi ekstrak Centellae
asiaticae Herba adalah pemeriksaan organoleptis. Pemeriksaan yang dilakukan
berupa penampakan fisik yakni warna, bau, dan rasa. Dari hasil pemeriksaan
organoleptis ekstrak Centellae asiaticae Herba didapat hasil :
Warna : Hijau tua
Bau : Manis, khas
Rasa : Agak pahit
2. Uji daya lekat
Pada standarisasi ekstrak uji daya lekat dilakukan dengan tujuan untuk
melihat kemampuan ekstrak untuk melekat. Semakin besar waktu lekat ekstrak,
maka akan semakin tinggi pula daya lekatnya. Uji ini juga dilakukan agar nantinya
diperoleh kualitas ekstrak yang sama untuk digunakan dalam pembuatan granul
effervescent, sehingga kualitas granul yang dihasilkan sama. Daya lekat ekstrak
diketahui dengan menghitung lama waktu rata-rata kemampuan ekstrak melekatkan
Dalam pembuatan granul effervescent ekstrak Centellae asiaticae Herba,
daya lekat ekstrak akan mempengaruhi daya ikat granul yang dihasilkan. Secara
umum ekstrak dengan waktu daya lekat yang lama akan menghasilkan granul dengan
daya ikat yang kuat juga, hal ini dapat mengakibatkan granul yang dihasilkan
memiliki kekerasan yang tinggi. Berdasarkan pengujian daya lekat ekstrak Centellae
asiatica Herba didapatkan hasil 48,81±5,68 detik.
3. Uji viskositas
Uji viskositas dilakukan menggunakan alat viscotester tipe VT-04 E.
viscotester tipe VT-04 E bekerja dengan berdasarkan prinsip penghambatan
perputaran rotor oleh ekstrak yang diuji. Semakin kental ekstrak yang dihasikan,
maka semakin besar pula daya hambat ekstrak terhadap perputaran rotor. Bentuk dan
ukuran rotor harus disesuaikan dengan konsistensi ekstrak agar rotor dapat tetap
berputar dalam ekstrak yang diuji.
Berdasarkan uji viskositas ekstrak didapatkan hasil bahwa viskositas ekstrak
diatas 400 dPa.S. Hal ini menunjukkan jika ekstrak yang dihasilkan sangat kental
sehingga membuat rotor tidak dapat berputar (>400 dPa.S). Dari hasil pengujian
pada penelitian ini didapatkan korelasi antara daya ikat dan viskositas ekstrak, yakni
semakin besar nilai viskositas maka daya ikat akan semakin kuat. Dalam pembuatan
granul effervescent ektrak Centellae asiaticae Herba, viskositas akan mempengaruhi
pencampuran bahan-bahan saat granulasi. Dalam penelitian ini berdasarkan hasil
orientasi viskositas ekstrak yang terlalu tinggi akan mempersulit dalam
terlebih dahulu dengan laktosa dan dibuat menjadi serbuk, maka tidak akan
menggangu dalam proses pencampuran.
4. Uji kandungan lembab
Pengujian kandungan lembab dilakukan dengan menggunakan alat moisture
analyzer. Prinsip kerja alat ini adalah mengukur berkurangnya bobot ekstrak melalui
pemanasan 105oC selama 15 menit. Berkurangnya bobot ekstrak ini dianggap
sebagai hilangnya pelarut yang ada dalam ekstrak akibat pemanasan. Dengan
demikian akan dapat diketahui persentase kandungan lembab yang ada dalam
ekstrak. Hasil uji didapatkan rata-rata kandungan lembab ekstrak sebesar
12,34±0,66%. Kandungan lembab ekstrak sudah sesuai dengan syarat ekstrak kental
5. Hasil uji Kromatografi Lapis Tipis
Gambar 2. Identifikasi asiatikosid dengan KLT
Fase gerak : kloroform-methanol-air (65:25:4) Fase diam : silika gel GF254
Standar : TECA (Titrated Extract Centela asiatica)
Jarak pengembangan : 15 cm
Reaksi penampak bercak : Lieberman-Burchard
Keterangan gambar :
S1 : baku TECA kadar asiatikosi 2,34 µg/µl
S2 : baku TECA kadar asiatikosid 0,936 µg/µl
S3 : baku TECA kadar asiatikosid 0,655 µg/µl
S4 : baku TECA kadar asiatikosid 0,374 µg/µl
X1 : sampel 1
X2 : sampel 2
Dari sistem fase gerak yang bersifat non polar dan fase diam polar berarti
KLT yang digunakan adalah fase normal. Deteksi bercak dilakukan pada cahaya
tampak. Sebelum dilakukan deteksi, terlebih dahulu dilakukan penyemprotan dengan
pereaksi Lieberman-Burchard sebagai pereaksi penampak bercak dan pemanasan
dalam oven selama 10 menit dengan suhu 105o C.
Pada gambar 2 identifikasi asiatikosid dengan KLT didapatkan 2 bercak pada
baku dan 3 bercak pada sampel. Pada standar bercak yang terelusi pertama kali
merupakan asiatikosid dan bercak yang kedua diduga merupakan senyawa
madekosid. Hal ini dikarenakan asiatikosid lebih kurang polar sehingga afinitasnya
terhadap fase gerak lebih besar dari pada fase diam. Pada sampel bercak yang
terelusi pertama juga merupakan asiatikosid, bercak yang terelusi kedua dan ketiga
diperkirakan senyawa triterpen lain yang strukturnya mirip dengan asiatikosid.
Tabel V. Hasil deteksi standar asiatikosid dan kandungan asiatikosid dalam ekstrak Centellae asiaticae H erba dengan KLT
Bercak Rf
Standar 0,85 (±0,01)
Sampel 1 0,85
Sampel 2 0,85
Sampel 3 0,87
Dari gambar 2 terlihat adanya bercak pada sampel yang mirip dengan bercak
asiatikosid pada standar sehingga dapat dipastikan jika pada sampel terdapat
senyawa asiatikosid. Hasil perhitungan Rf bercak senyawa asiatikosid pada sampel
0,85±0,01. Harga Rf pada sampel sama dengan standar sehingga dapat disimpulkan
jika dalam sampel benar-benar mengandung senyawa asiatikosid.
E. Pembuatan Granul Effervescent Ekstrak Centellae Asiaticae Herba
Pada pembuatan granul effervescent, granul dibuat 3 macam yaitu granul
ekstrak, granul asam, dan granul basa. Granul ekstrak dibuat terlebih dahulu dengan
mencampurkan ekstrak kental Centellae asiaticae Herba dan laktosa dengan
perbandingan 1:3. Pembuatan ekstrak kental menjadi bentuk granul untuk
memudahkan dalam pembuatan granul effervescent, karena pada hasil orientasi
pembuatan granul asam dengan ekstrak kental sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan
konsistensi ekstr