• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI SEPTEMBER 2015 INFLASI 0,21 PERSEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI SEPTEMBER 2015 INFLASI 0,21 PERSEN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 09/September/3510/Th.II,01 Oktober 2015 1 No.09/September/3510/Th.II, 01 Oktober 2015

P

ERKEMBANGAN

I

NDEKS

H

ARGA

K

ONSUMEN

/I

NFLASI

B

ANYUWANGI

S

EPTEMBER

2015

I

NFLASI

0,21

PERSEN

 Pada bulan September 2015 Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,21 persen, lebih rendah dibanding inflasi Jawa Timur sebesar 0,24 persen dan Nasional terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, semuanya kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Jember sebesar 0,29 persen, diikuti Kediri 0,26 persen, Surabaya 0,26 persen, Probolinggo 0,23 persen, Banyuwangi 0,21 persen, Malang 0,21 persen, Madiun 0,15 persen dan Sumenep 0,13 persen.

 Dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran di kabupaten Banyuwangi, 5 (lima) kel. mengalami inflasi yaitu kelompok (kel.) kesehatan sebesar 1,57 persen, kel. sandang sebesar 1,44 persen, kel. perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakan sebesar 0,73 persen, kel. makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,40 persen. Sementara 1 (satu) kelompok mengalami deflasi yakni kel. bahan makanan sebesar -0,65 persen.

 Komoditas penyumbang terjadinya inflasi adalah kenaikan harga beras, emas perhiasan, rokok kretek, bawang putih, upah pembantu rumah tangga, ikan lemuru, ikan mernying, asbes, wortel, angkutan udara, sabun mandi, mobil, jeruk, kontrak rumah, keramik, tongkol, pasta gigi, nangka muda, tongkol pindang, ikan lele, kangkung, penyedap masakan/vetsin, sabun deterjen bubuk/cair, sarung katun, kulkas/lemari es, pijat non medis/urut/refleksi, pembersih lantai, ketimun, pembalut wanita, celana panjang jeans, kacang panjang, shampo, obat dengan resep, obat gosok, kayu lapis, minyak goring.

 Komoditas yang menahan laju inflasi adalah turunnya harga daging ayam ras, cabe rawit, cumi-cumi, ikan asin belah, cabe merah, bawang merah, teri, daging sapi, telur ayam ras, bayam, apel, gula pasir, bensin, kelapa, daging ayam kampung, semen, emping mentah, parfum, susu untuk bayi, kacang hijau, sawi hijau, tarif listrik, ikan banyar, terong panjang.

 Laju inflasi tahun kalender (Desember 2014 – September 2015) Banyuwangi terjadi inflasi sebesar 1,51 persen lebih rendah dari Jawa Timur sebesar 2,23 persen dan Nasional sebesar 2,24 persen, sebaliknya laju inflasi year-on-year (September 2015 terhadap September 2014) kota Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 5,86 persen lebih rendah dari Jawa Timur sebesar 6,70 persen dan Nasional sebesar 6,83 persen.

 Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, laju Inflasi Kalender (Desember 2014 – September 2015), semuanya mengalami inflasi, tertinggi ada di kota Surabaya sebesar 2,83 persen, disusul Malang 2,21 persen, Madiun 1,83 persen, Jember 1,70 persen, Probolinggo 1,62 persen, Banyuwangi 1,51 persen, Sumenep 1,37 persen dan Kediri 0,84 persen.

 Laju Inflasi Year on Year (September 2015 terhadap September 2014) semua kota mengalami inflasi dan tertinggi ada di kota Malang 6,99 persen, disusul Surabaya 6,97 persen, Jember 6,52 persen, Madiun 6,13 persen, Sumenep 6,02 persen, Banyuwangi 5,86 persen, Probolinggo 5,65 persen dan Kediri 5,42 persen.

(2)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 2

1. Inflasi Banyuwangi

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari hasil pemantauan harga pada bulan September 2015 Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,21 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 119,20 pada bulan

Agustus 2015 menjadi 119,45 pada bulan September 2015. Inflasi bulan September 2015 terutama dipicu oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang memberi sumbangan/andil sebesar 0,13 persen, disusul kelompok sandang dengan andil sebesar 0,11 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen. Sementara kelompok bahan makanan memberi sumbangan negatip sebesar -0,19 persen (Gambar 1).

Penyebab paling dominan terjadinya inflasi bulan September 2015 adalah kenaikan harga beras sebesar 1,80 persen (andil 0,12 persen), emas perhiasan 3,55 persen (andil 0,093 persen), rokok kretek 3,60 persen (andil 0,06 persen), bawang putih sebesar 10,10 persen (andil 0,04 persen), tongkol 4,83 persen (andil 0,080 persen), upah pembantu rumah tangga sebesar 9,12 persen (andil 0,04 persen).

Perkembangan harga beras pasca panen raya bulan Maret dan April 2015 cenderung mengalami inflasi/ kenaikan harga. Berkurangnya pasokan beras di pasar akibat gagal panen/puso di beberapa daerah, antara lain di Kabupaten Gresik, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Tulungagung

Gambar 1.

Andil Inflasi Kelompok Pengeluaran Bulan September 2015 -0.20 -0.15 -0.10 -0.05 0.00 0.05 0.10 0.15 -0.19 0.06 0.13 0.11 0.06 0.00 0.04 Bahan Makanan MakananJadi,Minuman,Rokok&Tembakau Perumahan,Air,Listrik,Gas&Bahan.Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan,Rekrasi,OR Trans,Kom&Jasa Keu

(3)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 3 serta faktor psikologis pasar akibat adanya berita kekeringan tersebut, menyebabkan naiknya harga beras di pasaran. Disamping akibat pasar bebas dalam perdagangan gabah yang diborong oleh pedagang luar Banyuwangi dengan penawaran harga yang lebih tinggi.

Meski selama bulan September 2015 harga emas dunia beberapa kali mengalami penurunan, tetapi harga emas perhiasan tetap mengalami kenaikan. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika memicu kenaikan harga emas perhiasan sebesar 3,55 persen.

Kenaikan harga rokok sebesar 3,6 persen dipicu oleh rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada tahun 2016 sebesar 23 persen dan rencana kenaikan tarif efektif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas produk hasil tembakau sebesar 8,7 persen dari Harga Jual Eceran (HJE).

Kenaikan harga bawang putih diduga akibat minimnya stok yang ada di pasar. Hingga kini Indonesia masih bergantung impor atas komoditas bawang putih dan hampir 95 persen produk bawang putih di Indonesia berasal dari luar negeri. Karena varietas bawang putih yang mampu diproduksi petani dalam negeri kecil dan hanya cocok untuk jamu dan obat-obatan.

Melemahnya nilai rupiah ternyata berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor seperti pada komoditas Wortel dengan kenaikan sebesar 15,24 persen. Komoditas wortel banyak dibutuhkan masyarakat baik untuk kebutuhan memasak maupun untuk minuman kesehatan sehingga berkurangnya suplai akan berdampak pada harga.

Tingginya minat masyarakan terhadap angkutan udara yang melalui bandara Blimbingsari, Rogojampi ternyata mendorong kenaikan harga tarif dasar pesawat sebesar 6,48 persen. Hal ini akibat pertimbangan efisiensi waktu dan tenaga dibanding melalui moda transportasi lainnya

Inflasi bulan September 2015 diredam oleh turunnya harga Daging Ayam Ras sebesar 10,05 persen, Cabe Rawit sebesar 11,56 persen, Cumi-cumi 10,91 persen, Cabe Merah 20,18 persen, Bawang Merah 6,66 persen, Telur Ayam Ras 3,46 persen. Selama beberapa bulan terakhir komoditi daging dan telur ayam ras mengalami fluktuasi harga. Tidak seimbangnya pasokan dan permintaan terhadap komoditi ini menyebabkan terjadinya instabilitas harga. Turunnya harga daging dan telur ayam ras diduga akibat banyaknya persediaan yang ada di pasar tapi tidak diimbangi dengan permintaan akibat pemenuhan kebutuhan masyarakat yang berasal dari daging hewan korban.

Pasokan yang melimpah pada komoditi cabai rawit, cabai merah, bawang merah dan cumi-cumi menyebabkan terjadinya penurunan harga pada komoditi tersebut. Khusus cabai rawit dan cabe merah harga bulan September 2015 mengalami penurunan harga dibanding bulan Agustus 2015

(4)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 4 IHK September 2014 IHK Desember 2014 IHK September 2015 Inflasi Bulan September 2015 Tingkat Inflasi Tahun Kalender 20151) Tingkat Inflasi Year on Year 20152 ) ( 2) ( 3) ( 4) ( 5) ( 6) ( 7) UMUM 112,84 117,67 119,45 0,21 1,51 5,86 1 Bahan Makanan 126,81 130,90 127,52 -0,65 -2,58 0,56

2 Makanan Jadi , Mi numan, Rokok, dan

Tembakau 106,38 110,97 115,03 0,40 3,66 8,13

3 Perumahan, Ai r, Li s tri k, Gas , dan

Bahan Bakar 108,08 111,73 117,70 0,73 5,34 8,90

4 Sandang 108,84 110,47 116,31 1,44 5,29 6,86

5 Kes ehatan 103,95 105,77 111,22 1,57 5,15 6,99

6 Pendi di kan, Rekreas i , dan Ol ah raga 103,16 103,69 108,21 0,00 4,36 4,90

7 Trans por, Komuni kas i , dan Jas a

Keuangan 109,79 120,55 120,45 0,22 -0,08 9,71

1) Persentase perubahan IHK bulan September 2015 terhadap IHK bulan Desember 2014

2) Persentase perubahan IHK bulan September 2015 terhadap IHK bulan September 2014

Kelompok Pengeluaran

( 1)

Dari tabel 1 diatas menunjukkan Kabupaten Banyuwangi secara umum persentase perubahan terhadap bulan Agustus 2015 terjadi inflasi bulanan (m-t-m) sebesar 0,21 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 1,57 persen, disusul kelompok sandang sebesar 1,44 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,73 persen.

Sementara tingkat inflasi tahun kalender (komulatif) 2015 (persentase perubahan IHK bulan September 2015 terhadap IHK bulan Desember 2014) sebesar 1,51 persen. Inflasi terbesar pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 5,34 persen, disusul kelompok sandang sebesar 5,29 persen.

Tingkat inflasi tahunan (YoY) 2015 (persentase perubahan IHK bulan September 2015 terhadap IHK bulan September 2014) sebesar 5,86 persen. Inflasi terbesar terjadi pada kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 9,71 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 8,9 persen.

(5)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 5

2. Perkembangan Inflasi

Gambar 2.

Perbandingan Inflasi Bulanan (month to month) Selama tahun 2014-2015

Kabupaten Banyuwangi (dalam persen)

Gambar 3.

Inflasi Tahun Kalender Selama tahun 2014 - 2015 Kabupaten Banyuwangi (dalam persen)

-1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 0.59 0.11 1.61 -0.93 1.81 -0.84 1.56 -0.48 1.61 0.06 1.99 0.32 2.24 0.94 2.11 1.30 2.22 1.51 2.74 3.99 6.59 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 2014 2015 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 0.59 0.11 1.02 -1.02 0.20 0.09 -0.25 0.36 0.05 0.55 0.37 0.26 0.24 0.62 -0.12 0.35 0.11 0.21 0.51 1.22 2.50 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 2014 2015

(6)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 6

Gambar 4.

Inflasi Year on Year Selama tahun 2014 - 2015 Kabupaten Banyuwangi (dalam persen)

Gambar 5

Inflasi Bulanan (month to month)

8 Kota IHK, Jawa Timur & Nasional (dalam persen)

Bulan September 2015 -0.05 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.29 0.21 0.13 0.26 0.21 0.23 0.15 0.26 0.24 -0.05 JEMBER BANYUWANGI SUMENEP KEDIRI MALANG PROBOLINGGO MADIUN SURABAYA JATIM NASIONAL 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 7.50 6.09 7.48 3.92 6.71 3.82 6.63 4.45 7.51 4.97 7.17 4.45 2.15 5.25 1.51 5.75 2.45 5.86 3.11 4.90 6.59 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 2014 2015

(7)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 7

Gambar 6.

Inflasi Kalender

8 Kota IHK, Jawa Timur & Nasional (dalam persen)

Bulan September 2015

Gambar 7.

Inflasi Year on Year (YoY)

8 Kota IHK, Jawa Timur & Nasional (dalam persen)

Bulan September 2015 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 6.52 5.86 6.02 5.42 6.99 5.65 6.13 6.97 5.86 6.83 JEMBER BANYUWANGI SUMENEP KEDIRI MALANG PROBOLINGGO MADIUN SURABAYA JATIM NASIONAL 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 1.70 1.51 1.37 0.84 2.21 1.62 1.83 2.83 2.23 2.24 JEMBER BANYUWANGI SUMENEP KEDIRI MALANG PROBOLINGGO MADIUN SURABAYA JATIM NASIONAL

(8)

Berita Resmi Statistik Kabupaten Banyuwangi, No. 08/Agustus/3510/Th.II,01 September 2015 8

Gambar 8.

10 Komoditas Pendorong

Inflasi Bulanan di bulan September 2015 Kabupaten Banyuwangi

Gambar 9.

10 Komoditas Penghambat Inflasi Bulanan di bulan September 2015 Kabupaten Banyuwangi

BADAN PUSAT STATISTIK

Kabupaten Banyuwangi

Kepala,

ttd,

Ir. Mohammad Amin, MM

NIP. 19661109 199212 1 001 0.00 0.02 0.04 0.06 0.08 0.10 0.12 0.12 0.09 0.07 0.04 0.04 0.04 0.04 0.03 0.03 0.03 BERAS EMAS PERHIASAN ROKOK KRETEK BAWANG PUTIH UPAH PEMBANTU RT LAMURU MERNYING ASBES WORTEL ANGKUTAN UDARA -0.25 -0.20 -0.15 -0.10 -0.05 0.00 -0.01 -0.01 -0.02-0.02-0.02 -0.05-0.06 -0.07 -0.09 -0.20 BAYAM TELUR AYAM RAS DAGING SAPI TERI

BAWANG MERAH CABAI MERAH IKAN ASIN BELAH CUMI-CUMI CABAI RAWIT DAGING AYAM RAS

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar -0,35 persen dan kelompok sandang sebesar 0,02 persen.. Tingkat Inflasi, Andil

Kenaikan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan 0,19 persen; perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,20 persen; kelompok sandang 0,96 persen; kelompok

Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukan oleh naiknya indeks kelompok sandang 0,89 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,61

Berturut-turut yaitu: kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga inflasi sebesar 0,94 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,54

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan pada kelompok pengeluaran, yakni kelompok Bahan Makanan 0,74 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,07 persen; dan

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks yang cukup tinggi pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 4,74 persen, disusul Kelompok Sandang sebesar 2,81 persen, Kelompok

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 0,13 persen, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar sebesar 1,68 persen, dan

September 2017, kelompok kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga memberikan andil dalam pembentukan inflasi sebesar 0,34 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan