• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi efektif yang dinyatakan oleh (Bramhall 2015) bahwa pada saat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi efektif yang dinyatakan oleh (Bramhall 2015) bahwa pada saat"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi Efektif

2.1.1 Definisi Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif merupakan proses penyampaian informasi kepada seseorang melalui cara tertentu agar si penerima informasi tersebut mengerti dan tersampaikan dengan jelas (Jannah, Darmini, and Rochmayanti 2018).

Komunikasi efektif yang dinyatakan oleh (Bramhall 2015) bahwa pada saat menjalankan perawatan yang profesional kepada pasien atau ke tenaga medis yang lain diperlukan keterampilan dan pengetahuan berkomunikasi, dikarenakan perawat menghabiskan seluruh waktunya untuk berkomunikasi terhadap pasien dan tenaga kesehatan yang lain. Komunikasi efektif ditandai dengan makna dan berdampak kepada kesenangan yang mempengaruhi tingkah laku laku dan dapat menimbulkan suasana yang baik serta membuat suatu tindakan (Oktarina and Sari 2018).

2.1.2 Tujuan Penerapan Komunikasi Efektif

Menurut (Magee et al. 2017) komunikasi efektif dapat melindungi pasien dari potensi bahaya yang timbul dari kesalahpahaman. Komunikasi efektif antara petugas kesehatan yang lain dapat menghasilkan perawatan yang terbaik untuk pasien (Ratna 2019). Selain itu untuk membentuk kesan yang baik dengan pasien maupun tenaga kesehatan yang lain agar mendapatkan kepercayaan yang relevan. Agar pasien ataupun tenaga kesehatan saling bertukar informasi dan dapat memproses demi kelancaran asuhan

(2)

keperawatan. Penerapan komunikasi efektif dapat memperkecil kesalahan dan meningkatkan keterampilan dalam praktik keperawatan (Puspita Dewi 2018).

2.1.3 Faktor Pengaruh Penerapan Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif dapat melahirkan budaya yang produktif, maka dari itu perawat memiliki peran penting dalam melakukan komunikasi efektif.

Adapun faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi efektif menurut penelitian dari (Bramhall 2015) yaitu:

1. Kecerdasan emosional dan kemampuan yang ada di dalam individu tersebut dapat memecahkan masalah, mengamati, mengidentifikasi dan dapat menerapkan informasi emosional pada diri sendiri jika kebalikannya perawat tersebut akan menghambat pelaksanaan komunikasi efektif.

2. Keterampilan berkomunikasi salah satu faktor penting yang dimiliki perawat sehingga dapat berkomunikasi efektif dengan menggunakan teknik seperti bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, membatasi 2 sampai 3 tema dengan artikulasi yang jelas.

3. Pengalaman kerja akan mempengaruhi perawat saat berkolaborasi ataupun menghadapi pasien karena perawat memegang posisi penting akan meningkatnya kualitas rumah sakit.

4. Persepsi merupakan cara perawat untuk mengidentifikasi dan mengkoordinasikan apa yang akan dilakukan ke pasien atau tenaga kerja lainnya lalu memvalidasi apakah pesan yang disampaikan sudah atau belum diterima, dikarenakan persamaan persepsi membuat pengurangan resiko kesalahan tindakan lebih rendah.

5. Sosial budaya tantangan yang harus dihadapi perawat dengan anggota kesehatan yang lain maupun pasien. Budaya tersebut akan membentuk

(3)

komunikasi dan lingkungan yang berbeda, jika komunikasi tersebut terbuka akan memudahkan untuk bertukar informasi, mengutarakan ide- ide dan menjalin komunikasi yang baik.

2.1.4 Prinsip Komunikasi Efektif

Prinsip komunikasi yang dapat diterapkan dikutip dari (Dr. Irene Silviani 2020) menyebutkan bahwa:

1. Komunikasi merupakan proses simbolik bersifat dinamis, tidak dapat berakhir dan terus berkelanjutan.

2. Komunikasi dapat berlangsung ada maupun tidak kesengajaan di dalamnya.

Komunikasi bersifat sistemik seperti beberapa orang yang dipengaruhi oleh adat budaya, pengetahuan, pengalaman.

3. Latar belakang yang sama akan membuat komunikasi semakin efektif karena mempunyai bahan untuk saling berdiskusi.

4. Komunikasi merupakan proses dimana saling memberi dan menerima informasi diantaranya.

(4)

2.1.5 Syarat Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif membutuhkan keterlibatan semua orang agar tercapai tujuan utama, maka dari itu adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti yang diungkapkan oleh (Ariani 2018) yaitu:

1. Dapat dipercaya (credible), di dalam unsur dapat dipercaya harus ada kompetensi, sikap, tujuan, kepribadian dan dinamis.

2. Konteks (context) di dalam informasi mempunyai sasaran, topik pembicaraan dan mendengarkan dengan seksama.

3. Isi (content ) informasi tersebut harus bermanfaat dan menarik.

4. Kejelasan (clarity) informasi jelas dan dapat dipertanggungjawabkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

5. Berkesinambungan dan konsistensi, informasi harus tepat pada sasaran dan tidak menyimpang dari topik.

6. Saluran (chanel) informasi dapat disalurkan dengan berbagai teknik berkomunikasi, verbal atau non verbal.

7. Kapabilitas sasaran, cara berkomunikasi harus disesuaikan dengan karakteristik pendengar atau penerima..

2.1.6 Faktor Penghambat Komunikasi Efektif

Keterampilan dan strategi komunikasi efektif sangatlah penting bagi perawat. Tetapi ada beberapa hal yang dapat menghambat proses komunikasi tersebut. Hambatan dapat merusak hubungan antar tenaga kesehatan, pasien dan keluarga pasien. Adapun yang sering dialami dalam berkomunikasi yang dikemukakan oleh (Bramhall 2015) seperti:

1. Bahasa

(5)

Seringkali ditemukan bahwa perbedaan bahasa sangatlah mempengaruhi dalam kelancaran asuhan keperawatan.

2. Perbedaan budaya

Perawat harus peka terhadap persepsi kesehatan dan kematian maupun saat berkolaborasi dalam hal asuhan keperawatan.

3. Konflik

konflik merupakan suatu permasalahan antara dua orang yang sangat menguras pikiran antara pasien atau tenaga kesehatan yang lain yang terlibat di dalamnya.

4. Lingkungan

Faktor lingkungan seperti beban kerja yang melebihi batas kemampuan tenaga kesehatan selain itu kurangnya dukungan antara sesama tenaga kesehatan.

2.1.7 Metode Komunikasi Efektif

Beberapa metode yang dapat menunjang komunikasi yang efektif seperti:

a. SBAR (situation, background, assessment, recommendation)

SBAR menurut (Hadi 2017) merupakan suatu acuan pelaporan pada kondisi pasien yang segera memerlukan perhatian atau tindakan. S (situation) yang menjelaskan bagaimana kondisi terkini yang terjadi pada pasien. Di dalam Situation ada poin-poin seperti identitas pasien, tanggal masuk ruangan rawat inap dan berapa hari masa perawatan, nama dokter yang menangani pasien, diagnosa keperawatan dan masalah keperawatan yang sudah diatasi maupun belum diatasi. B (background) merupakan informasi yang berhubungan dengan kondisi pasien terkini. Di dalamnya terdapat poin seperti tindakan keperawatan

(6)

yang sudah dilakukan di setiap diagnosa, menyebutkan riwayat alergi, pembedahan, pemasangan alat invasif, obat atau cairan yang saat ini digunakan.

A (Assessment) Hasil pengkajian yang didapat kondisi terkini dari pasien. Seperti menjelaskan secara lengkap hasil pengkajian pasien terkini (menggunakan pemeriksaan secara head to toe ), menjelaskan kondisi klinik seperti hasil lab, rontgen. R (recommendation) merekomendasikan tindakan keperawatan yang sudah atau perlu dilanjutkan seperti discharge planning dan edukasi kepada keluarga.

b. ISBAR (introduction, situation, background, assessment, recommendation)

ISBAR sebagai alat serah terima klinis yang dilakukan pada saat handover yang merupakan alat standar yang dapat menunjang komunikasi efektif antara tenaga kesehatan yang lain. Kerangka dalam ISBAR sudah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing departemen atau unit lain. Perbedaan dengan SBAR yaitu ada penambahan I (Introduction) penambahan nama, status dan asal ruangan pasien (Badrujamaludin and Kumala 2020).

c. TBAK (tulis kembali, baca kembali dan konfirmasi kembali)

Penerapan TBAK dilakukan pada saat perawat mengkonsulkan keadaan pasien melalui telepon dan dokter memberikan delegasinya, perawat menulis apa yang sudah dibicarakan dengan dokter, perawat membaca apa yang telah didiskusikan lalu perawat mengulangi kembali apa yang disampaikan oleh dokter. Pada saat menerima telepon tersebut alangkah baiknya jika ada saksi yang mendengarkan (Hidayat, Rachmawaty, and Lkafah 2019).

d. ISOBAR (Identification, Situation, Observation, Assessment, Recommendation)

Kerangka komunikasi ISOBAR dalam pelaksanaan komunikasi efektif pada saat timbang terima yang terdiri dari I (identify untuk mengidentifikasi pasien),

(7)

S (situation menyampaikan kondisi terkini pasien), O (observations yaitu mengobservasi keadaan pasien), B (background menjelaskan penyebab masalah dan riwayat penyakit), A (assessment yaitu penilaian terhadap kondisi pasien) R (recommendation) merupakan penyampaian saran atau tindakan yang akan dilakukan dan mengkonfirmasi informasi yang disampaikan) (Mairosa, Machmud, and Jafril 2019).

2.2 Konsep Keperawatan 2.2.2 Definisi Keperawatan

Keperawatan menurut (Pane, Fikri, and Ritonga 2018) salah satu profesi yang memberikan pelayanan kesehatan dan dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu tindakan. Keperawatan yaitu perawatan profesional yang didasarkan oleh ilmu dan kiat keperawatan. Pendekatan keperawatan tindakan yang didasarkan oleh bio-psiko-sosial-spiritual merupakan kelebihan yang dimiliki oleh perawat. Pelayanan kesehatan profesional merupakan salah satu bentuk dan unsur di dalam paradigma keperawatan. Keperawatan merupakan seni dan ilmu yang berhubungan dengan konsep dan keterampilan dengan berbagai disiplin ilmu. Keahlian yang didapat merupakan hasil dari pengalaman praktik kerja yang dialaminya. Keahlian tersebut dapat digunakan untuk memutuskan suatu masalah atau mengidentifikasi suatu masalah agar mendapatkan asuhan keperawatan yang sesuai. Maka dari itu keperawatan berkembang sangat pesat dikarenakan adanya tuntutan dan kebutuhan masyarakat dengan adanya pelayanan keperawatan (Asmadi 2018).

2.2.3 Definisi Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan menurut (Asmadi 2018) merupakan suatu keterampilan untuk menguji keahlian untuk melakukan tindakan, untuk

(8)

menentukan keberhasilan, mengevaluasi perencanaan tindakan dan mengkaji efektivitas tindakan. Tindakan keperawatan berpedoman kepada perencanaan yang telah dibuat. Rencana yang telah dibuat merupakan pilihan yang rasional dan diperlukan untuk menghadapi masalah. Adapun rencana tindakan keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, penyuluhan, kolaborasi.

Keperawatan menurut Teori Watson di dalam nilai perawatan manusia merupakan suatu profesi yang memiliki kemampuan mempertahankan cita-cita dan ideologi keperawatan dalam peradaban dan dapat memberikan pelayanan keperawatan untuk masyarakat. Pemberian tindakan kepada pasien merupakan sikap yang peduli terhadap masalah kesehatan maupun meningkatkan kesehatan.

Tindakan keperawatan membutuhkan niat, dorongan, hubungan yang baik. Komitmen terhadap tindakan keperawatan merupakan proses wajib yang diarahkan kepada pasien. Menurut (Blasdell 2017) mengatakan bahwa ilmu tindakan adalah ilmu yang dirancang manusia untuk diimplementasikan dan berkaitan satu sama lain yang memerlukan tindakan dasar dan pembangunan teori yang berujung pada intervensi sosial. Perawat dalam hal pemberian tindakan keperawatan di rumah sakit terlibat dalam berbagai hal, seperti penerimaan pasien hingga keluar. Tindakan keperawatan termasuk memberikan penilaian, menentukan diagnosis keperawatan, membuat rencana intervensi, menerapkan perawatan dan melakukan evaluasi keperawatan dalam rangka mengubah atau menghentikan perawatan. Seorang perawat harus mengkomunikasikan, mengkoordinasikan, memberikan informasi dan memberikan pendidikan kesehatan. Perawat harus mempunyai strategi khusus agar dapat menjalin hubungan baik dengan pasien dan mampu memahami

(9)

keadaan pasien sehingga perawat dapat aktif dalam setiap pemberian tindakan keperawatan. Perawat dalam tindakannya memberikan pendidikan dan informasi terkait tindakan keperawatan apa yang akan dilakukan dan melibatkan kesediaan pasien, selain itu komunikasi efektif merupakan kunci keselamatan pasien. Dokumentasi keperawatan berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif antara tenaga kesehatan yang lain untuk memberikan asuhan keperawatan yang maksimal dan memberikan perlindungan untuk pasien (Asmirajanti, Hamid, and Hariyati 2019).

2.2.4 Macam-Macam Tindakan Perawat

Permenkes no 467 tahun 2000 mengemukakan bahwa keperawatan adalah pekerjaan yang berprofesi. Secara hukum dan keilmuan, bahwa ada kesetaraan antara ilmu keperawatan dan ilmu kedokteran serta adapun wewenang yang berbeda diantara keduanya. Profesi keperawatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang relevan yang sesuai dengan misi perawat.

Adapun macam-macam tindakan yang dapat dilakukan perawat yang diungkapkan oleh (M. Agung Akbar 2019) seperti:

1. Menentukan status kesehatan dengan cara mengkaji riwayat kesehatan pasien/keluarga, mengidentifikasi atau memecahkan masalah untuk memelihara atau memperbaiki keadaan, pemenuhan kebutuhan setiap hari kepada pasien, mendukung dan memotivasi pasien agar berperilaku sewajarnya, tindakan keperawatan tersebut bersifat independen yang artinya tanpa kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lalin atau bisa disebut mandiri dengan mengandalkan ilmu dan kiat keperawatan. Adapun kesalahan tindakan yang diperbuat perawat maka perawat tersebut harus bertanggung jawab akan akibat yang ditimbulkan.

(10)

2. Selain itu perawat membantu ibu hamil yang menderita diabetes, perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain yaitu ahli gizi untuk pemenuhan gizi makanan ibu hamil. Perawat yang tergabung dalam tim diketuai oleh dokter merencanakan asuhan keperawatan yang akan dilakukan kepada ibu hamil tersebut tindakan ini dinamakan interdependen yang berarti bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain.

3. Perawat membantu memberikan pelayanan medis seperti memberikan pengobatan dan tindakan khusus yang biasanya dilakukan oleh dokter.

Karena pada kolaborasi ini dinamakan dependen, berbagai tindakan yang dilakukan perawat merupakan tanggung jawab dokter. Terkecuali jika perawat tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur atau aturan dokter.

2.2.5 Definisi Tangungjawab Perawat

Tenaga keperawatan dalam melakukan hal keperawatan harus sesuai dengan kompetensi yang sudah didapatkan. Kesadaran akan prinsip-prinsip etika membuat perawat yang kompeten dan etis mampu memberikan perawatan yang efektif dan memuaskan. Pelayanan perawatan yang tidak sesuai dengan kompetensi yang didapat akan menyebabkan resiko kesalahan tindakan dan dapat membahayakan pasien atau anggota kesehatan yang lain. Setiap perbuatan yang membuat kerugian terhadap orang lain diwajibkan untuk mempertanggung jawabkannya. Sebagai tenaga kesehatan yang profesional ilmu yang digunakan oleh perawat maupun tenaga kesehatan yang lain dapat diimplementasikan ke pasien dan dapat dipertanggung jawabkan (Setiani 2018).

(11)

Tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting dalam proses keperawatan. Tanggung jawab adalah kemauan atas apa yang dilakukan dengan dampak resiko yang dibuatnya serta memberikan seluruh informasi dan jaminan terhadap apa yang sudah dilakukan saat menjadi pelaku keperawatan (Ismantoro Dwi Yuwono 2018). Di dalam tanggung jawab mengandung unsur kecakapan, beban kewajiban, dan perbuatan. Hukum menurut (Pradnyani 2020) dibedakan menjadi beberapa prinsip yaitu:

1. Berdasarkan kelalaian/kesalahan bersifat subyektif yang diperbuat oleh pelaku dan harus memenuhi 4 unsur seperti di dalam hukum perdata pasal 1365, pasal 1366 dan pasal 1367 yaitu adanya perbuatan, adanya unsur kesalahan, adanya kerugian yang diderita, adanya hubungan kesalahan dan kerugian.

2. Prinsip tanggung jawab seperti menetapkan kesalahan bukan sebagai faktor penetuan.

3. Prinsip praduga untuk bertanggung jawab menganggap tergugat selalu bertanggung jawab sampai hakim mengatakan tidak bersalah adapun pembuktian yang dilakukan tergugat.

4. Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab. Prinsip ini dikenal sebagai perkenalan dalam lingkungan transaksi konsumen yang sangat terbatas.

5. Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan, merupakan prinsip yang terkait dengan hak dan kewajiban sebagai standar yang dibuatnya.

2.2.6 Definisi Tanggung Gugat Perawat

Dokumentasi menurut (Yustiana Olfah 2016) menyebutkan bahwa seluruh catatan atau data yang dibutuhkan untuk menentukan tindakan

(12)

keperawatan yang sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan hukum. Hal ini merupakan salah satu perwujudan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat. Dikutip dari (Budhiartie and Nasser 2018) bahwa akuntabilitas atau tanggung gugat merupakan kewajiban mempertanggungjawabkan segala tindakan yang dilakukan kepada seseorang yang memiliki kepentingan tertentu. Akuntabilitas atau tanggung gugat diterapkan secara bersamaan dengan azas otonomi profesi ditujukan agar dapat membatasi kebebasan perawat dalam melaksanakan tindakan dan asuhan keperawatan pada pasien. Kebebasan yang dibatasi oleh azas ekonomi dan diimbangi dengan azas akuntabilitas dimaksudkan agar pasien dapat terlindungi secara keilmuan dan secara hukum. Selain itu tanggung gugat menurut (Ristica and Juliarti 2014) yaitu pertanggung jawaban kepada seseorang yang telah lalai dan menimbulkan kerugian pada orang lain. Pada layanan kesehatan terjadi tanggung gugat akibat adanya hukum tenaga medis dan pasien. Pada dasarnya tanggung gugat perdata merupakan kompensasi atas kerugian yang diderita, selain itu untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

2.2.7 Perlindungan Hukum Perawat

Semua warga negara indonesia tak terkecuali pun tenaga kesehatan salah satunya perawat berhak mendapatkan keadilan. Adapun peraturan perundang-undangan yang mengatur perlindungan hukum untuk pelayanan kesehatan seperti yang dikutip dari (RI 2009) yaitu:

1. UUD Indonesia 1945 Pasal 28D : Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

(13)

2. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pada Pasal 13 :

a) Tenaga Medis yang melakukan praktik kedokteran di rumah sakit wajib memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

b) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di rumah saki wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

c) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit harus bekerja sesuai malpraktek operasional yang berlaku, etika profesi menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.

d) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat 10 dan (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 27 UU nomor 36 tahun 2009 pasal 27 menyebutkan bahwa:

a) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.

b) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Ketentuan mengenai hak dan kewajiban tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah

Referensi

Dokumen terkait

Pendokumentasian merupakan sarana komunikasi antar petugas kesehatan dalam rangka pemulihan kesehatan pasien, tanpa dokumentasi yang benar dan jelas, kegiatan pelayanan

Faktor resiko kehamilan adalah kondisi pada ibu hamil yang dapat menyebabkan kemungkinan resiko atau bahaya terjadinya komplikasi pada persalinan yang dapat menyebabkan kematian

Tujuan keperawatan keluarga yaitu keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah defisit perawatan diri. Untuk memantau kemampuan pasien

Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat

Kepuasan pasien akan tercapai, apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien/keluarganya, ada

2 Resiko penularan penyakit ISPA berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan Keluarga mampu mengambil keputusan tindakan kesehatan yang

Puskesmas telah mampu berfungsi dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perorang (UKP) dan tindakan mengatasi kegawatdaruratan, sesuai dengan kompetensi dan

Keterangan: Penelitian ini berfokus pada pengkomunikasian risiko yang dilakukan perawat dalam menyampaikan informasi keluarga pasien mengenai tindakan perawatan serta pengobatan untuk