Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
P U T U S A N
Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus sengketa konsumen pada tingkat kasasi memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara:
BADAL GULTOM,
bertempat tinggal di Jalan Sisingamangaraja, Desa Tapung Makmur, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau;
Pemohon Kasasi dahulu Termohon Keberatan;
L a w a n
PT BFI FINANCE INDONESIA, TBK., diwakili oleh Sigit Hendra
Gunawan, selaku Direktur, berkedudukan di Tangerang Selatan, beralamat kantor cabang di Jalan Soekarno Hatta Nomor 88, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan Pekanbaru, dalam hal ini memberi kuasa kepada Petrus Syahrizal D, dan kawan- kawan, Para Karyawan PT BFI Finance Indonesia, Tbk., berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 25 November 2016;
Termohon Kasasi dahulu Pemohon Keberatan;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 1243/Arbitrase/BPSK-BB/IX/2016., tanggal 18 November 2016 yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Konsumen seluruhnya;
2. Menyatakan ada kerugian di pihak konsumen;
3. Menyatakan Pelaku Usaha tidak pernah menghadiri persidangan yang secara patut dipanggil menurut Peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku di Wilayah Negera Republik Indonesia sebagaimana telah diamanatkan Pasal 54 ayat (4) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen juncto Pasal 43 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
4. Menyatakan Pelaku Usaha yang tidak pernah memberikan perjanjian yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
mengikat diri antara Konsumen dan Pelaku Usaha seperti salinan/Fotocopy Perjanjian pembiayaan Konsumen, Polis Asuransi, Akte Jaminan Fidusia dan Sertifikat Fidusia adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen;
5. Menghukum Pelaku Usaha untuk melakukan Restrukturisasi Pembayaran Angsuran perbulannya sebesar Rp1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah);
6. Menghukum Pelaku Usaha untuk menghapus biaya administrasi tunggakan, Bunga Berjalan, Finalti dan yang lainnnya yang bertentangan dengan Undang Undang Nomor 8 tahun 1999;
7. Menghukum Pelaku Usaha tidak boleh melakukan penarikan atas 1 (satu) unit Mobil Merk Mitsubishi Type Colt Diesel FE 74 (4x2) M/T, jenis Mobil Barang, Model Light Truck, warna kuning, tahun pembuatan 2007, Nomor rangka MHMFE74P47K006929, Nomor mesin 4D34T0C993130, Nomor Polisi BM 8127 FO;
8.
Menghukum pelaku Usaha untuk membayar uang denda sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) setiap harinya, apabila lalai atau tidak mau mematuhi keputusan pada butir 5 (lima), 6 (enam) dan 7 (tujuh) tersebut di atas, terhitung sejak keputusan ini berkekuatan hukum tetap)
inkracht);Bahwa, terhadap amar Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut, Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan di depan persidangan Pengadilan Negeri Bangkinang yang pada pokoknya sebagai berikut:
A. Keberatan ini diajukan sesuai cara dan tenggang waktu yang ditetapkan oleh Undang-Undang Perlindungan Konsumen Dan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia, dengan demikian Pengadilan Negeri Bangkinang berwenang menerima, memeriksa dan mengadili keberatan ini;
1. Bahwa menunjuk Pasal 56 ayat 2 Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut “Undang-Undang Perlindungan Konsumen”), disebutkan:
“Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut”;
juncto Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia
nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Konsumen (selanjutnya disebut “MARI
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Nomor 1/2006”), disebutkan:
”Keberatan terhadap putusan BPSK dapat diajukan baik oleh Pelaku Usaha dan/atau Konsumen kepada Pengadilan Negeri di tempat kedudukan hukum konsumen tersebut”;
dan menunjuk Pasal 5 ayat (1) MARI Nomor 1/2006, disebutkan:
”Keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak Pelaku Usaha atau Konsumen menerima pemberitahuan putusan BPSK”;
2. Bahwa Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara nomor 1243/
ARBITRASE/BPSK-BB/IX/2016 (Bukti P-1) diberikan kepada Penggugat melalui surat tercatat pada tanggal 19 November 2016 (vide halaman 17) dan baru diterima oleh Penggugat pada tanggal 22 November 2016, dengan demikian pengajuan Keberatan ini oleh Penggugat sudah memenuhi syarat formil karena dilakukan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Pasal 56 ayat 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, juncto Pasal 3 ayat 1 dan Pasal 5 ayat 1 MARI Nomor 1/2006;
3. Bahwa di samping itu, tempat kedudukan hukum (domicili) Tergugat berada di Kabupaten Kampar yang merupakan wilayah hukum Pengadilan Negeri Bangkinang, dengan demikian pengajuan Keberatan ini sudah tepat diajukan oleh Penggugat kepada Pengadilan Negeri Bangkinang atas dasar hukum tersebut di atas;
4. Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka Pengadilan Negeri Bangkinang berwenang untuk menerima, memeriksa dan mengadili Keberatan ini;
B. BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara ini;
5. Bahwa merujuk pada Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang berbunyi sebagai berikut:
“Penyelesaian Sengketa Konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa”;
6. Bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah mengadakan kesepakatan mengenai pemberian fasilitas pembiayaan oleh Penggugat kepada Tergugat sesuai bukti Perjanjian Sewa Guna Usaha nomor 4021501424 tanggal 15 April 2015 (selanjutnya disebut “Perjanjian”) (Bukti P-2);
7. Bahwa salah satu hal yang disepakati oleh dan antara Penggugat dan Tergugat adalah mengenai pemilihan domisili hukum untuk penyelesaian
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
perkara yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan Perjanjian di Pengadilan Negeri Tangerang (vide Pasal 31 Perjanjian);
8. Bahwa mengacu Pasal 118 ayat 4 Herziene Indonesisch Reglemet (HIR) atau 142 Rechtsreglement voor de Buitengewesten (“RBG”) disebutkan apabila dalam Perjanjian telah dipilih dan ditentukan suatu tempat kedudukan, maka Gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah hukum tempat kedudukan yang dipilih itu;
9. Bahwa mengingat kewenangan mengadili perkara ini berada pada Pengadilan Negeri Tangerang, sedangkan pada kenyataannya Tergugat telah mengajukan pengaduan konsumen kepada BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara, maka sudah seharusnya BPSK Kabupaten Batu Bara menghargai kesepakatan tersebut di atas dan menolak Pengaduan yang dilakukan oleh Tergugat sesuai dengan ketentuan dalam pasal 17 huruf B Keputusan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Republik Indonesia nomor 350/MPP/KEP/12/2001 tanggal 10 Desember 2001 tentang Pelaksanaan Tugas Dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (selanjutnya disebut “Kepmenperindag”) yang berbunyi sebagai berikut:
“Ketua BPSK menolak permohonan penyelesaian sengketa konsumen, apabila permohonan gugatan bukan merupakan kewenangan BPSK”;
10. Bahwa faktanya BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah memeriksa dan mengadili Pengaduan Tergugat, sehingga demikian Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara tersebut telah bertentangan dengan Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen juncto Pasal 118 ayat 4 HIR/142 RBG juncto Pasal 31 Perjanjian, oleh sebab itu Penggugat mohon agar Pengadilan Negeri Bangkinang membatalkan Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara, dan atas wewenangnya memeriksa sendiri perkara ini;
C. BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah melampaui kewenangannya dalam memeriksa dan memutus perkara ini;
11. Bahwa Penggugat keberatan terhadap Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara pada halaman 4 yang menyatakan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah melakukan panggilan secara patut terhadap Tergugat sehubungan dengan Gugatan/Pengaduan yang diajukan oleh Penggugat;
12. Bahwa faktanya Tergugat sama sekali tidak pernah menerima panggilan secara patut dari BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara, dalam hal ini
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
terdapat indikasi kuat atas praktek-praktek yang tidak benar yang dilakukan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara sebagai berikut:
a. Surat Panggilan nomor 1359/PG/JS-IV/BPSK-BB/IX/2016 tanggal 20 September 2016 untuk menghadiri persidangan tanggal 28 September 2016 baru dikirim oleh BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara pada tanggal 27 September 2016 sesuai Resi Pengiriman yang diterbitkan PT. Pos Indonesia (Bukti P-3);
b. Surat Panggilan nomor 1820/PG/ARB-I/JS-IV/BPSK-BB/IX/2016 tanggal 27 September 2016 untuk menghadiri persidangan tanggal 5 Oktober 2016 baru dikirim oleh BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara pada tanggal 4 Oktober 2016 sesuai Resi Pengiriman yang diterbitkan PT. Pos Indonesia (Bukti P-4);
13. Bahwa berdasarkan uraian di atas terungkap bahwa antara tanggal pengiriman panggilan dengan jadwal persidangan hanya terpaut kurang dari 1 hari saja, sedangkan dari kantor Penggugat (Pekanbaru) untuk menuju kantor BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara diperlukan waktu perjalanan ± selama 1 hari perjalanan. Oleh sebab itu sangat tidak tepat apabila Majelis BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara seolah-olah memposisikan telah melakukan pemanggilan sidang secara patut terhadap Penggugat, maupun melakukan perubahan fakta terkait dengan Gugatan/Pengaduan Tergugat di atas;
14. Bahwa menunjuk Pasal 4 ayat 1 Kepmenperindag disebutkan:
“Penyelesaian sengketa Tergugat oleh BPSK melalui cara Konsiliasi atau Mediasi atau Arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan”;
15. Bahwa prinsip dasar penyelesaian di BPSK bukan berjenjang yaitu apabila Tergugat dan Penggugat telah sepakat memilih cara penyelesaian sengketa dengan cara mediasi dan ternyata tidak terdapat penyelesaian, maka sengketa tidak dapat diajukan penyelesaiannya dengan cara mediasi atau arbitrase;
16. Bahwa Penggugat tidak pernah bersepakat dengan Tergugat untuk memilih cara penyelesaian pengaduan konsumen dengan cara Arbitrase, melainkan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah memutuskan perkara ini secara sepihak dengan cara Arbitrase (vide halaman 9), dengan demikian BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
melampaui kewenangan yang diberikan oleh Kepmenperindag di dalam memutuskan perkara ini;
D. BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah keliru di dalam memberikan pertimbangan hukum dan putusan dalam perkara ini;
17. Bahwa Penggugat merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembiayaan di Indonesia, yang menjalankan kegiatan usaha jasa salah satunya adalah sewa guna usaha (leasing) sebagaimana diatur dalam Pasal 1 huruf c Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006 tentang Perusahaan Pembiayan (selanjutnya disebut ”Permenkeu”) yang berbunyi sebagai berikut:
”Sewa Guna Usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (Finance Lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (Operating
Lease) untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha (Lessee) selamajangka waktu, tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran”;
18. Bahwa sebagai realisasi dari ketentuan Permenkeu tersebut di atas dan atas dasar permohonan dari Tergugat, maka Penggugat telah memberikan fasilitas sewa guna usaha kepada Tergugat dengan jenis transaksi yaitu sale and lease back sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) Permenkeu yang berbunyi sebagai berikut:
”(2) Dalam kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengadaan barang modal dapat juga dilakukan dengan cara membeli barang Penyewa Guna Usaha yang kemudian disewa guna usahakan kembali”;
juncto Pasal 1 butir 6 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor
29/POJK.05/2014 tanggal 19 November 2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan (selanjutnya disebut “POJK 29/2014”) yang berbunyi sebagai berikut:
” Jual dan Sewa-Balik (Sale and Leasback) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penjualan suatu barang oleh Debitur kepada Perusahaan Pembiayaan yang disertai dengan menyewa pembiayaankan kembali barang tersebut kepada debitur yang sama”;
19. Bahwa dalam rangka pemberian fasilitas sewa guna usaha dengan jenis transaksi sale and lease back tersebut, maka pada tanggal 15 April 2015 sesuai bukti Perjanjian Jual Beli Barang Modal (bukti P-5) Penggugat telah membeli 1 (satu) unit MITSUBISHI COLT FE 74 125 PS Bak Besi,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
nomor rangka MHMFE74P47K006929, nomor mesin 4D34TC99130, warna kuning, tahun 2007, nomor polisi BM8127FO (selanjutnya disebut
“Barang Modal”) milik Tergugat;
20. Bahwa sebagai tindak lanjut dari ketentuan Pasal 3 ayat (2) Permenkeu
juncto Pasal 1 butir 6 POJK 29/2014 diatas, maka setelah melakukanpembelian atas Barang Modal tersebut, maka sesuai bukti Perjanjian tersebut diatas Penggugat telah menyewa guna usahakan Barang Modal kepada Tergugat dengan kewajiban bagi Tergugat untuk membayar uang sewa guna usaha secara tepat waktu sebanyak 36 kali, dan wajib dibayar untuk setiap bulannya pada setiap tanggal 15 mulai dari:
- Bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Februari 2018 dengan besar pembayaran per bulan sebesar Rp4.587.000,00 dan;
- Bulan Maret 2018 sampai dengan bulan April 2018 dengan besar pembayaran per bulan sebesar Rp2.318.500,00;
21. Bahwa apabila Tergugat melalaikan kewajibannya di dalam melakukan pembayaran tersebut di atas, maka sesuai kesepakatan dalam Pasal 9 ayat 9.1 Juncto butir 16 a Lampiran I Perjanjian, Tergugat wajib membayar kepada Penggugat denda keterlambatan sebesar 5‰ (lima per mil) per hari dari jumlah kewajiban Tergugat yang tertunggak. Oleh sebab itu Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang menyatakan penghapusan denda keterlambatan kepada Tergugat (vide halaman 14) adalah sangat keliru;
22. Bahwa faktanya Perjanjian yang telah disepakati dan ditanda-tangani bersama oleh Penggugat dengan Tergugat telah memenuhi ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut
“KUHPerdata”), sehingga mengacu pada Pasal 1338 KUHPerdata, Penggugat dan Tergugat tunduk dan terikat serta diwajibkan untuk mematuhi dan melaksanakan hal-hal yang tercantum dalam Perjanjian.
Oleh sebab itu Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang menyatakan Perjanjian tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat adalah sangat keliru (vide halaman 13);
23. Bahwa menunjuk pada ketentuan dalam Pasal 7 ayat 7.1 Perjanjian
juncto Pasal 3 ayat 3 Permenkeu juncto Pasal 8 ayat (2) POJK 29/2014,maka selama Tergugat masih memiliki kewajiban kepada Penggugat berdasarkan Perjanjian, hak kepemilikan atas Barang Modal ada pada Tergugat, dan dalam hal ini kedudukan Penggugat hanyalah sebagai penyewa guna usaha saja atas Barang Modal tersebut;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
24. Bahwa mengacu Pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut:
”Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya ... persetujuan-persetujuan harus dilakukan dengan itikad baik”;
maka Tergugat wajib melaksanakan seluruh kewajibannya berdasarkan Perjanjian dengan penuh itikad baik;
25. Bahwa faktanya dari sejak jatuh tempo pembayaran ke-5 pada tanggal 15 September 2015 Tergugat sudah tidak lagi melakukan pembayaran kepada Penggugat sesuai kesepakatan dalam Perjanjian, padahal terhadap tunggakan pembayaran tersebut telah diberikan berulang kali kesempatan dan peringatan oleh Penggugat sesuai bukti sebagai berikut:
a. Surat Peringatan I nomor 201509402SP112108 tanggal 19 September 2015 (Bukti P-6);
b. Surat Peringatan II nomor 201509402SP207007 tanggal 30 September 2015 (Bukti P-7);
c. Surat Peringatan III nomor 201510402SP304463 tanggal 7 Oktober 2015 (Bukti P-8);
26. Bahwa mengingat Tergugat tidak juga melaksanakan kewajibannya tersebut walaupun telah berulang kali diberikan kesempatan dan teguran oleh Penggugat untuk itu, maka merujuk Pasal 22.1 Perjanjian yang berbunyi di bawah ini, menjadi bukti yang sah dan cukup bagi Penggugat untuk menyatakan bahwa Tergugat telah cidera janji (wanprestasi) terhadap Perjanjian:
“Peristiwa-peristiwa di bawah ini merupakan peristiwa kelalaian atau cidera janji terhadap Perjanjian ini oleh Tergugat:
a. Tergugat lalai untuk membayar suatu (angsuran) Uang Sewa Guna Usaha pada tanggal jatuh temponya, atau jumlah apapun lainnya yang wajib dibayarkan berdasarkan Perjanjian ini dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah Penggugat mengajukan permintaan akan pembayaran tersebut, dalam kedua hal tersebut dimana dengan lewatnya waktu saja telah cukup menjadi bukti yang sempurna tentang adanya kelalaian tersebut”;
27. Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka sangat tidak tepat apabila BPSK Pemerintahan Kabupaten Batu Bara menyatakan Tergugat memiliki itikad baik dalam melakukan pembayaran angsuran kepada Penggugat, mengingat jika memang Tergugat memiliki itikad baik
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
dimaksud maka sudah tentu Tergugat tidak akan menunggak pembayaran kewajiban berdasarkan Perjanjian kepada Penggugat;
28. Bahwa Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang menyatakan Tergugat telah membayar uang sewa guna usaha sebanyak 11 (sebelas) kali juga tidak benar, mengingat faktanya Tergugat hanya membayar uang sewa guna usaha kepada Penggugat sebanyak 4 kali pembayaran saja, dari bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015 (Bukti P-9);
29. Bahwa mengacu Pasal 23.1 Perjanjian mengenai Peristiwa Cidera Janji disebutkan:
”Jika terjadi salah satu atau semua peristiwa Cidera Janji sebagaimana tersebut dalam Pasal 22 di atas, maka Penggugat berhak untuk segera menjalankan setiap dan/ atau segala upaya hukum seperti di bawah ini:
a.
Menyatakan sebagian atau seluruh Uang Sewa Guna Usaha yang belum waktunya jatuh tempo, ditambah biaya-biaya serta ongkos- ongkos yang timbul berdasarkan Perjanjian ini jatuh tempo, dan karenanya harus dibayar oleh Tergugat secara tunai dan sekaligus pada waktu ditagih”;
30. Bahwa mengacu ketentuan di atas, maka dengan adanya cidera janji (wanprestasi) oleh Tergugat kepada Penggugat, maka Penggugat berhak mengakhiri Perjanjian dan menyatakan seluruh kewajiban Tergugat menjadi jatuh tempo seketika dan karenanya wajib dilunasi oleh Tergugat secara sekaligus kepada Penggugat yang apabila dihitung dalam jumlah pertanggal 29 November 2016 sebesar Rp214,183,820.44 dengan perincian tersebut dibawah ini, namun faktanya Tergugat tidak juga melaksanakan kewajibannya tersebut kepada Penggugat:
a. Uang Sewa Guna Usaha Tertunggak : Rp68,805,000.00 b. Denda Keterlambatan : Rp78,391,830.00
c. Bunga Berjalan : Rp622,367.56
d. Pokok Hutang yang Belum Jatuh Tempo : Rp61,448,722.88 e. Denda Pengakhiran Lebih Awal : Rp4,915,900.00
Hal ini dilakukan Penggugat karena pertimbangan Penggugat selalu kesulitan menagih pembayaran Tergugat pada setiap bulannya, terlebih lagi Tergugat selalu menghindar pada saat dilakukan penagihan oleh Penggugat dan tidak beritikad baik untuk menyerahkan Barang Modal kepada Penggugat, sehingga demikian Penggugat tidak memperoleh kepastian pembayaran Tergugat untuk bulan-bulan berikutnya:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
31. Bahwa mengacu Pasal 23.4 Perjanjian mengenai Peristiwa Cidera Janji disebutkan:
”23.4. Penggugat, dimana perlu... melakukan tindakan pemilikan kembali (Repossesing) Barang Modal dari tangan dan penguasaan Tergugat atau siapapun juga;
Kemudian mengacu Pasal 28.2 Perjanjian mengenai Biaya-Biaya disebutkan bahwa:
”23.4. Penggugat juga wajib membayar semua biaya yang timbul sehubungan dengan pemberian fasilitas dengan Perjanjian ini, termasuk namun tidak terbatas pada ... biaya mobilisasi Barang Modal dalam rangka pemilikan kembali (repossesing) oleh Penggugat”;
32. Bahwa mengacu ketentuan di atas, maka Penggugat selaku pemilik berhak untuk melakukan tindakan pemilikan kembali atas Barang Modal sebagaimana Tergugat wajib untuk menyerahkannya kepada Penggugat, namun faktanya Tergugat tidak juga melaksanakan kewajibannya tersebut kepada Penggugat. Oleh sebab itu Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang pada intinya melarang Penggugat melakukan tindakan pemilikan kembali atas Barang Modal adalah sangat keliru dan sangat merugikan Penggugat;
33. Bahwa berdasarkan fakta-fakta, alasan-alasan dan dasar-dasar hukum di atas, maka Penggugat mohon agar Pengadilan Negeri Bangkinang untuk membatalkan Putusan Pemerintah Kabupaten Batu Bara, dan melakukan pemeriksaan terhadap perkara ini dengan mengacu pada kesepakatan dalam Perjanjian;
E. Penggugat Telah Menyerahkan Perjanjian Kepada Tergugat;
34. Bahwa mengacu Pasal 38 Kepmenperindag yang berbunyi sebagai berikut:
“Majelis wajib menyelesaikan sengketa konsumen selambat-lambatnya dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja terhitung sejak gugatan diterima oleh BPSK“;
Namun faktanya BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara baru memberikan Putusan dalam perkara ini pada tanggal 18 November 2016, atau hampir 3 (tiga) bulan dari sejak tanggal pengaduan Tergugat diterima oleh BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara (in casu tanggal 28 September 2016), padahal mengacu Pasal 38 Kepmenperindag wajib menyelesaikan sengketa konsumen selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak Pengaduan konsumen diterima;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
35. Bahwa faktanya Tergugat telah menerima dengan baik Perjanjian dari Penggugat sesuai bukti Tanda Terima Dokumen/ Barang tanggal 22 Juli 2015 (Bukti P-10). Oleh sebab itu Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang menyatakan Penggugat tidak memberikan Perjanjian (vide halaman 14), adalah sangat keliru;
36. Bahwa dengan diterimanya dokumen Perjanjian oleh Tergugat, maka sudah sepatutnya Tergugat dianggap telah mengetahui hak dan kewajibannya dalam Perjanjian, terlebih Tergugat telah melakukan 4 kali pembayaran kepada Penggugat, disamping Penggugat telah menjelaskan isi Perjanjian sebelum Tergugat menanda-tangani Perjanjian tersebut. Oleh sebab itu Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang menyatakan pada intinya bahwa “Penggugat tidak pernah memberikan salinan Perjanjian Pembiayaan adalah perbuatan melawan hukum” (vide halaman 14), adalah sangat keliru;
Bahwa, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon Keberatan mohon kepada Pengadilan Negeri Bangkinang agar memberikan putusan sebagai berikut:
Primair:
1. Menerima dan mengabulkan Keberatan Penggugat untuk seluruhnya, atau setidak-tidaknya untuk sebagian;
2. Membatalkan Putusan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara nomor 1243/ARBITRASE/BPSK-BB/IX/2016, BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara tanggal 18 November 2016, dan mengadili sendiri perkara ini sebagai berikut:
a. Menolak pengaduan Tergugat untuk seluruhnya;
b. Menyatakan BPSK Pemerintah Kabupaten Batu Bara tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara ini;
c. Menyatakan Penggugat adalah Penggugat yang beritikad baik;
d. Menyatakan Perjanjian Sewa Guna Usaha nomor 4021501424 tanggal 15 April 2015 adalah sah, mengikat dan memiliki kekuatan hukum;
e. Menghukum Tergugat untuk tunduk dan patuh pada Perjanjian Sewa Guna Usaha nomor 4021501424 tanggal 15 April 2015;
f. Menyatakan Tergugat telah cidera janji (wanprestasi) kepada Penggugat atas Perjanjian Sewa Guna Usaha nomor 4021501424 tanggal 15 April 2015;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
g. Menyatakan Tergugat telah berhutang kepada Penggugat atas Perjanjian Sewa Guna Usaha nomor 4021501424 tanggal 15 April 2015 sebesar Rp214,183,820.44;
h. Menyatakan Penggugat selaku pemilik berhak melakukan tindakan pemilikan kembali Barang Modal atas 1 (satu) unit Mitsubishi Colt FE 74 125 PS Bak Besi, nomor rangka MHMFE74P47K006929, nomor mesin 4D34TC99130, warna kuning, tahun 2007, nomor polisi BM8127FO;
i. Menyatakan putusan dalam perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu atau secara serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) meskipun ada perlawanan (verzet), bantahan, banding, kasasi baik dari Tergugat maupun pihak manapun juga;
j. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya-biaya yang timbul dalam perkara ini;
Subsidair:
Atau apabila Ketua Pengadilan Negeri Bangkinang berpendapat lain, mohon kiranya dapat memberikan Putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Bahwa, terhadap keberatan tersebut di atas, Termohon Keberatan mengajukan eksepsi yang pada pokoknya sebagai berikut:
A. Tentang Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);
- Bahwa Termohon Keberatan menolak Keberatan seluruhnya dalil-dalil
Pemohon Keberatan, kecuali yang diakuinya secara tegas dalam jawaban ini;
- Bahwa menurut Undang Undang
Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) adalah:
1. Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen:
a) Menurut Pasal 45 Ayat (1), yang berbunyi:
“Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum”;
b) Bahwa menurut Pasal 52 Tentang Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yang menyatakan:
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undang-undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan / atau setiap orang yang di anggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. Mendapatkan, meneliti dan /atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan / atau pemeriksaan;
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m.Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini;
c) Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2010 pada Pasal (2) yang menyatakan:
“setiap konsumen yang dirugikan atau ahli warisnya dapat mengajukan gugatan kepada Pelaku Usaha di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) tempat berdomisili konsumen atau pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat”;
d) Bahwa Surat Pernyataan Termohon Keberatan tentang memilih Arbitrase di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);
e) Bahwa dalam Undang-undang Nomor 30 tahun 1999 Tentang Arbitrase, Keputusan mencantumkan Irah-Irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Sehingga Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) berwenang mutlak menangani perkara ini;
Bahwa, terhadap keberatan tersebut, Pengadilan Negeri Bangkinang telah memberikan putusan Nomor 145/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Bkn, tanggal 12 Januari 2017 yang amarnya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi:
- Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan keberatan Pemohon untuk sebagian;
2. Menyatakan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batu Bara Nomor 1243/Arbitrase/BPSK-BB/IX/2016 tanggal 18 November 2016 adalah tidak mengikat dan batal demi hukum;
3. Menolak keberatan Pemohon untuk selain dan selebihnya;
4. Menghukum Termohon untuk membayar biaya perkara yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp554.000,00 (lima ratus lima puluh empat ribu rupiah);
Menimbang, bahwa Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang tersebut telah diberitahukan kepada Termohon Keberatan pada tanggal 1 Februari 2017, terhadap putusan tersebut, Termohon Keberatan mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 6 Februari 2017, sebagaimana ternyata dari Akta Pernyataan Permohonan Kasasi Nomor 08/Pdt.K/2017/PN Bkn., juncto Nomor 145/Pdt.Sus/BPSK/2016/PN Bkn., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Bangkinang, permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bangkinang pada tanggal 13 Februari 2017;
Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Pemohon Keberatan pada tanggal 23 Maret 2017, kemudian Pemohon Keberatan mengajukan kontra memori kasasi pada tanggal 27 Maret 2017;
Menimbang, bahwa permohonan kasasi
a quo beserta keberatan-keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;
Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya adalah:
Tentang Keberatan:
- Tentang tidak berwenang atau melampaui wewenang;
- Bahwa
Judex Factitelah membatalkan keputusan Arbitrase Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Pemerintah Kabupaten Batu Bara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
dalam perkara a quo, sedangkan menurut Pasal 6 ayat (3) Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor: 01 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) disebutkan “(3) keberatan terhadap putusan Arbitrase Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dapat diajukan apabila memenuhi pernyataan Pembatalan Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatife penyelesaian sengketa yaitu:
a) Surat atau dokumen yang diajukan dalam Pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan Palsu;
b) Setelah Putusan Arbitrase BPSK diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan pihak lawan;
c) Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa. Sedangkan, Judex Facti membatalkan keputusan BPSK tanpa (tidak menyebutkan alat bukti tersebut dalam keputusannya) Apalagi pada ayat (5) yang menyatakan dalam hal keberatan diajukan atas dasar alasan lain, sehingga Judex Facti tidak berwenang atau telah melampaui wewenangnya;
- Bahwa menurut Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) adalah:
Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen:
a) Menurut Pasal 45 ayat (1) berbunyi “Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui Lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum”;
b) Bahwa menurut Pasal 52 Tentang Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang menyatakan:
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam Undang-undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap Undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m.Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini;
c) Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2010 yang pada Pasal (2) nya menyatakan: “Setiap konsumen yang dirugikan atau ahli warisnya dapat mengajukan gugatan kepada Pelaku Usaha di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) tempat berdomisili konsumen atau pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat”;
d) Bahwa dengan memaksa dan akan selalu dilakukannya Penarikan/
pengambilan unit kendaraan yang menjadi (“Barang Jaminan”) yang tidak dilengkapi Surat-surat yang sah menurut Peraturan yang berlaku di Wilayah Negara Republik Indonesia dan tanpa Penetapan/Putusan dari Pengadilan (Eksekusi), adalah perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan:
1) Bertentangan dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri) Nomor 8 tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia;
2) Bertentangan dengan Bagian V HIR dimulai dari Pasal 195 Tentang Menjalankan Putusan atau Bagian IV RBg yang dimulai dari Pasal 200 Tentang Menjalankan Putusan;
3) Bertentangan dengan Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus, Buku II, Edisi 2007,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Mahkamah Agung RI, Jakarta, 2008, halaman 93-94 Tentang Prosedur dan Tatacara Eksekusi Jaminan Fidusia;
4) Bertentangan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 2356 K/Pdt/2008 tanggal 18 Februari 2009;
5) Bertentangan dengan Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia pada, yaitu:
- Pasal 29:
1. Apabila debitor atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi terhadap Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara:
a. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) oleh Penerima Fidusia;
b. Penjualan Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;
c. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak;
2. Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh Pemberi dan atau Penerima Fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan:
- Pasal 31:
Dalam hal Benda yang objek Jaminan Fidusia terdiri atas benda perdagangan atau efek yang dapat dijual di pasar atau di bursa, penjualannya dapat dilakukan di tempat-tempat tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
- Pasal 32:
Setiap janji untuk melaksanakan eksekusi terhadap Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 31, batal demi hukum;
e) Bahwa dengan memaksa dan akan selalu dilakukannya Penarikan/
pengambilan secara sepihak juga tidak sesuai dengan prinsip hukum
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
jaminan fidusia, karena pada dasarnya perjanjian fidusia tidak menciptakan hak milik yang sebenarnya melainkan hanya merupakan hak milik terbatas sampai Konsumen melunasi hutangnya kepada Pelaku Usaha. Oleh karena itu Perjanjian fidusia hanya melahirkan hak jaminan bukan hak milik. (Bandingkan dengan: Friede Husni Hasbullah, Hukum kebendaan Perdata, hak-hak yang Memberi Jaminan, Jilid 2, Jakarta: In-Hill Co, 2002, halaman 58);
f) Bahwa dalam beberapa Pasal Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang menjelaskan, yang berbunyi:
- Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen;
- Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan;
- Pasal 1 angka 3 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik berbentuk Badan Hukum maupun bukan Badan Hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah Hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian dalam menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi;
- Pasal 1 angka 4 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Bahwa dalam setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen;
- Pasal 7 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Kewajiban pelaku usaha adalah beretikat baik dalam melakukan kegiatan usahanya, memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan, melakukan atau melayani konsumen secara benar dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
jujur serta tidak diskriminatif, menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku, memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan, memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian;
- Pasal 45 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi: Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau merlalui peradilan yang berada dilingkungan peradilan umum;
g) Bahwa dari bunyi beberapa Pasal tersebut di atas, dapat diperoleh suatu petunjuk atau kesimpulan bahwa Pelaku Usaha berkewajiban melindungi terhadap setiap orang yang atau memakai barang dan/atau jasa dari hasil kegiatan usahanya;
h) Bahwa oleh karena itu Pelaku Usaha berkewajiban melindungi setiap orang yang memakai barang dan/atau jasa dari hasil usahanya, Maka Pelaku Usaha dilarang melakukan suatu perbuatan sebagaimana diatur dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Undang-undang Nomor : 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen;
i) Bahwa secara umum (Notoir) diketahui masyarakat bahwa kedudukan Konsumen sangatlah lemah bila berhadapan dengan Pelaku Usaha, Sehingga Undang-undang Nomor: 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dengan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) nya diberi Tugas dan Wewenang untuk Pengawasan Tentang Pencantuman klausula baku. Sedangkan yang dimaksud dengan klausula baku yang dilarang undang-undang adalah:
a) Menyatakan pengalihan tanggung jawab Pelaku Usaha;
b) Menyatakan bahwa Pelaku Usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
c) Menyatakan bahwa Pelaku Usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh Konsumen;
d) Menyatakan pemberian kuasa dari Konsumen kepada Pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh Konsumen secara angsuran;
e) Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh Konsumen;
f) Memberi hak kepada Pelaku Usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan Konsumen yang menjadi objek jual beli jasa;
g) Menyatakan tunduknya Konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh Pelaku Usaha dalam masa Konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;
h) Menyatakan bahwa Konsumen memberi kuasa kepada Pelaku Usaha untuk Pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran”;
Sehingga, Judex Facti telah salah dalam menetapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku;
Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa keberatan-keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi yang diterima tanggal 13 Februari 2017 dan kontra memori kasasi tanggal 27 Maret 2017, dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti dalam hal ini Pengadilan Negeri Bangkinang, ternyata Judex Facti tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa pokok perkara a quo adalah bersumber pada perjanjian pembiayaan dan wanprestasi, oleh karenanya telah benar bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili sengketa a quo;
Menimbang, bahwa terlepas dari pertimbangan tersebut di atas, Mahkamah Agung berpendapat bahwa amar Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 145/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Bkn., tanggal 12 Januari 2017, harus diperbaiki guna memberikan kepastian mengenai kewenangan Badan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 22 hal Put. Nomor 934 K/Pdt.Sus-BPSK/2017
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara dalam memeriksa dan mengadili sengketa ingkar janji;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 145/Pdt.Sus- BPSK/2016/PN Bkn., tanggal 12 Januari 2017, dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: BADAL GULTOM, tersebut harus ditolak dengan perbaikan amar putusan sehingga amar selengkapnya seperti yang akan disebutkan di bawah ini;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan ditolak dengan perbaikan, Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;
Memperhatikan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
M E N G A D I L I:
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: BADAL GULTOM, tersebut;
Memperbaiki amar Putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor 145/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Bkn., tanggal 12 Januari 2017, sehingga amar selengkapnya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi:
- Menolak eksepsi Termohon Keberatan untuk seluruhnya;
Dalam Pokok Perkara:
1. Menyatakan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batu Bara Nomor 1243/Arbitrase/BPSK-BB/IX/2016 tanggal 18 November 2016 adalah tidak mengikat dan batal demi hukum;
2. Menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara pembiayaan konsumen/wanprestasi;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21