No. 46/08/82/Th.XV, 3 Agustus 2016
I NDEKS D EMOKRASI I NDONESIA (IDI) M ALUKU U TARA , 2015
TINGKAT DEMOKRASI DI MALUKU UTARA BERADA PADA KATEGORI SEDANG
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Provinsi Maluku Utara 2015 sebesar 61,52 dari skala 0.sampai 100. Angka ini mengindikasikan bahwa tingkat demokrasi Maluku Utara masih berada pada kategori sedang. Klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).
IDI Provinsi Maluku Utara merupakan indeks komposit dari tiga aspek demokrasi di Provinsi Maluku Utara, yaitu aspek Kebebasan Sipil (Civil Liberty) sebesar 73,53, aspek Hak-Hak Politik (Political Rights) sebesar 61,00 dan aspek Lembaga - Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy) sebesar 47,25 poin.
Indeks pada aspek Kebebasan Sipil (Civil Liberty) pada tahun 2009 sebesar 93,61 (kategori baik) terus menerus mengalami penurunan dari tahun ke tahun hingga mencapai titik terendah pada tahun 2015, yaitu 73,53 (kategori sedang). Meskipun demikian, aspek ini merupakan aspek dengan nilai indeks tertinggi dibandingkan dengan kedua aspek lainnya.
Aspek Hak-Hak Politik sejak tahun 2009 mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, namun mengalami perbaikan indeks pada dua tahun terakhir sehingga termasuk dalam kategori sedang, yaitu sebesar 60,61 pada 2014 dan 61,00 pada tahun 2015.
Pada periode 2009 – 2014, capaian Aspek Lembaga-Lembaga Demokrasi termasuk dalam kateori sedang. Namun pada tahun 2015, aspek ini mencapai nilai indeks terendah yaitu sebesar 47,25 (kategori buruk).
Metodologi pengumpulan data IDI terdiri dari 4 sumber data yaitu: (1) review surat kabar
lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan
(4).wawancara mendalam (in-depth Interview).
1. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Maluku Utara
Perkembangan IDI Maluku Utara dari 2009 hingga 2015 mengalami fluktuasi (2009 sebesar 67,21;
2010 sebesar 59,92; 2011 sebesar 59,17; 2012 sebesar 66,83; 2013 sebesar 64,06, 2014 sebesar 67,90 dan 2015 sebesar 61,52). Tingkat demokrasi Maluku Utara selama tahun 2010 hingga 2011 sempat masuk dalam kategori “buruk”, tetapi dalam empat tahun pengukuran IDI terakhir berada pada kategori “sedang”.
Hal ini menandakan belum matangnya perilaku dan sikap masyarakat serta pelaku politik dalam berdemokrasi.
Fluktuasi angka IDI Maluku Utara merupakan cerminan dinamika demokrasi di Provinsi Maluku Utara. IDI sebagai alat untuk mengukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia, memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi karena IDI disusun berdasarkan evidence based (kejadian) sehingga potret yang dihasilkan IDI merupakan refleksi realitas yang terjadi.
Grafik 1
Perkembangan IDI Maluku Utara, 2009-2015
2. Perkembangan Indeks Aspek IDI Maluku Utara
Angka IDI Maluku Utara 2015 merupakan indeks komposit yang disusun dari nilai tiga aspek, yakni aspek kebebasan sipil dengan nilai sebesar 73,53; aspek hak-hak politik sebesar 61,00; dan aspek lembaga demokrasi sebesar 47,25.
Distrubusi indeks selama enam tahun pengukuran IDI (2009-2015), dua dari tiga aspek demokrasi yang diukur yaitu aspek hak-hak politik dan aspek lembaga-lembaga demokrasi terlihat fluktuatif. Aspek hak-hak politik cenderung mengalami peningkatan sehingga dalam dua tahun terakhir (tahun 2014-2015) termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan aspek lembaga-lembaga demokrasi cenderung mengalami
67.21
59.92 59.17
66.83
64.06 67.90
61.52
0 20 40 60 80 100
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
penurunan, bahkan pada tahun 2015 merupakan titik terendah sejak tahun 2009 dan termasuk dalam kategori buruk. Sementara itu nilai indeks aspek kebebasan sipil pada periode 2009-2015 selalu mengalami penurunan yang mana pada pada dua tahun terakhir (tahun 2014-2015) termasuk dalam kategori sedang.
Selama kurun waktu 7 tahun sejak tahun 2009, baru pada tahun 2015 indeks aspek hak-hak politik lebih tinggi dibandingkan aspek lembaga-lembaga demokrasi. Sementara nilai aspek kebebasan sipil selalu lebih tinggi daripada dua aspek lainnya. Kemudian dibandingkan tahun 2014, indeks aspek Hak-hak politik mengalami peningkatan 0,39 poin. Sementara nilai kebebasan sipil dan lembaga-lembaga demokrasi mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,37 dan 20,91 poin.
Grafik 2
Perkembangan Indeks Aspek IDI Maluku Utara, 2009-2015
Dari data IDI 2015 diperoleh informasi pada aspek kebebasan sipil masih terdapat ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan baik oleh aparat pemerintah maupun masyarakat yang menghambat kebebasan berkumpul dan berserikat. Selain itu juga terdapat ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan yang menghambat kebebasan berpendapat dan menghambat kebebasan berkeyakinan. Sedangkan pada aspek hak-hak politik masih terdapat kecenderungan penyampaian aspirasi dalam bentuk demonstrasi yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti merusak, memblokir, membakar, dan melakukan penyegelan terhadap kantor-kantor serta aset pemerintah.
Selanjutnya pada aspek lembaga-lembaga demokrasi, masih terjadi praktek penyalahgunaan wewenang Baik
Sedang
Buruk
93.61 92.59
90.04 88.15
83.67
76.90
73.53
46.30
30.82 32.61
50.13 48.94
60.61 61.00 67.23 65.06
62.56 66.55
63.40 68.16
47.25
- 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Kebebasan Sipil (Civil Liberties) Hak-Hak Politik (Political Rights)
Lembaga-Lembaga Demokrasi (Democratic Institutions)
oleh pejabat pemerintah daerah yang berujung gugatan di PTUN dan terdapat penghentian penyidikan oleh jaksa ataupun polisi yang dianggap kontroversial, serta kurang optimalnya peran partai politik, DPRD, dan pemerintah daerah dalam penerapan demokrasi di Provinsi Maluku Utara.
3. Perkembangan Indeks Variabel IDI Maluku Utara
Dari 11 variabel IDI 2015, semuanya mengalami perubahan dibanding IDI 2014 kecuali pada variabel partisipasi politik dalam pengambilan keputusan dan pengawasan serta variabel pemilu yang bebas dan adil. Terdapat lima variabel yang mengalami peningkatan nilai indeks, yakni variabel kebebasan berpendapat (naik dari 0,00 menjadi 41,65), variabel kebebasan dari diskriminasi (naik dari 86,22 menjadi 89,48), variabel hak memilih dan dipilih (naik dari 71,22 menjadi 72,00), variabel peran DPRD (naik dari 29,63 menjadi 35,96), dan variabel peran partai politik (naik dari 8,73 menjadi 20,62).
Kemudian terdapat empat variabel yang mengalami penurunan nilai indeks. Keempat variabel tersebut antara lain adalah variabel kebebasan berkumpul dan berserikat (turun dari 55,00 menjadi 31,25), variabel kebebasan berkeyakinan (turun dari 88,47 menjadi 78,16), variabel peran birokrasi pemerintah daerah (turun dari 100,00 menjadi 42,09) dan variabel peran peradilan yang independen (turun dari 100,00 menjadi 50,00).
Grafik 3
Perkembangan Indeks Variabel IDI Maluku Utara, 2014-2015
4. Perkembangan Skor Indikator IDI Maluku Utara
Dari sisi indikator, pada IDI 2015 terdapat 9 indikator yang dikategorikan memiliki kinerja “baik”
(merupakan indikator dengan skor di atas 80), yaitu indikator 5, 8, 10, 11, 17, 18, 19, 25, dan 27 (lihat
Tabel 1). Kendati demikian, masih terdapat beberapa indikator yang menunjukkan kinerja yang paling
rendah (skor nol) yaitu: indikator 4 (Jumlah ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh
masyarakat yang menghambat kebebasan berpendapat), indikator 16 (jumlah demonstrasi/mogok yang
bersifat kekerasan), indikator 21 (persentase Perda yang merupakan inisiatif DPRD terhadap jumlah total perda yang dihasilkan), indikator 26 (Penyediaan informasi APBD oleh Pemda), dan indikator 28 (penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi). Selain itu perlu diperhatikan juga terdapat indikator-indikator yang berkinerja “buruk” (merupakan indikator dengan skor di bawah 60).
Indikator-indikator yang berkinerja buruk (pengecualian untuk indikator yang bernilai 0 karena sudah disebutkan) terdapat pada indikator 1, 3, 15, 20, 22, 23, dan 26 (lihat Tabel 1).
Tabel 1
Perkembangan Skor Indikator IDI Maluku Utara, 2014 - 2015
No Nama Indikator 2014 2015
Kebebasan Sipil
1 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan
berkumpul dan berserikat 50,00 25,00
2 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan
berkumpul dan berserikat 90,00 75,00
3 Ancaman /penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan
berpendapat 0,00 50,00
4 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan
berpendapat 0,00 0,00
5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 91,30 82,61 6 Tindakan/pernyataan pejabat membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 100,00 62,50 7 Ancaman/penggunaan kekerasan dari satu kelompok terkait ajaran agama 70,00 70,00 8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis, kelompok 100,00 100,00 9 Tindakan/pernyataan pejabat yang diskriminatif dalam hal gender dst 90,00 62,50 10 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender 66,67 100,00
Hak-Hak Politik
11 Hak memilih atau dipilih terhambat 100,00 100,00
12 Kurang fasilitas sehingga penyandang cacat tidak dapat menggunakan hak pilih 60,00 60,00
13 Kualitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) 68,29 68,29
14 Persentase penduduk yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan yang memiliki
hak untuk memilih dalam pemilu (Voters turnout) 79,27 79,27
15 Persentase Perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Propinsi 29,63 37,04
16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 0,00 0,00
17 Pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 100,00 100,00 Lembaga Demokrasi
18 Keberpihakan KPUD dalam penyelenggaraan pemilu 100,00 100,00
19 Kecurangan dalam penghitungan suara 100,00 100,00
20 Persentase alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan terhadap total APBD 44,88 53,57
21 Perda yang merupakan inisiatif DPRD 0,00 0,00
22 Rekomendasi DPRD kepada Eksekutif 0,00 3,57
23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan partai peserta pemilu 0,00 14,29
24 Persentase perempuan pengurus partai politik 87,30 77,68
25* Penyalahgunaan wewenang oleh pejabat Pemda yang merugikan masyarakat - 92,11 Laporan dan berita penggunaan fasilitas pemerintah untuk kepentingan parpol 100.00 -
26* Penyediaan informasi APBD oleh Pemda - 0,00
Laporan dan berita keterlibatan PNS dalam kegiatan politik parpol 100.00 -
27 Keputusan hakim yang kontroversial 100,00 100,00
28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100,00 0,00
*Terdapat perubahan indikator yang diterapkan pada tahun 2015