9
Jurnal Kesehatan dan Sains Terapan STIKes Merangin (2) (2019) : (halaman 9-17 )STIKES MERANGIN
JURNAL KESEHATAN DAN SAINS TERAPAN
ANALISA DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN
HIPERURISEMIA DI BANGSAL RAWAT JALAN PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
Ririn Anjelin
DosenProgram Studi D III FarmasiSTIKes Merangin e-mail: [email protected]
Abstrak
Hiperurisemia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi asam urat serum di atas 6,0 mg/dL (wanita) dan 6,8 mg/dL (pria). Hiperurisemia dapat menyebabkan resiko komplikasi berupa gout, urolithiasis, nefropati asam urat akut dan komplikasi lainnya seperti hipertensi dan dislipidemia.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Drug Related Problems (DRPs) yang sering terjadi pada pasien hiperurisemia.
Penelitian ini dikerjakan dengan rancangan studi cross-sectional deskriptif dan dilakukan terhadap pasien hiperurisemia dengan atau tanpa penyakit penyerta di Bangsal Rawat Jalan Penyakit Dalam RSUP DR. M. Djamil Padang selama bulan Maret sampai Mei 2011, dengan cara sensus. Data yang diperoleh dianalisis dengan metoda analisa deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis DRPs yang sering terjadi dari 110 pasien hiperurisemia dengan atau tanpa penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan Penyakit Dalam adalah terjadinya interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik obat sebanyak 36 orang. DRPs yang lain berturut-turut adalah terjadinya reaksi efek samping obat 9 orang, ketidakpatuhan pasien 5 orang.
Sedangkan terapi obat tanpa indikasi, indikasi tidak dapat obat, dosis berlebih, dosis kurang, ketidaktepatan interval obat dan ketidaktepatan pemilihan obat, tidak ditemukan permasalahan.
Kata Kunci:hiperurisemia, asamurat, rawat jalan, drug related problem.
Abstract
Hyperuricemia is defined as a serum uric level greater than 6,0 mg/dL (woman) and 6,8 mg/dL (man). Hyperuricemia may cause complications such as gout, urolithiasis, acute uric acid nephropathy and other complicatiions include cardiovascular disease and dyslipidemia. This research was conducted to determine the Drug Related Problems (DRPs), which frequently occur in patients of hyperuricemia.
This research was a prospective observational study using descriptive cross sectional approach and performed on all patients of hyperuriemia with or without accompanying diseases in Interne Polyclinic DR. M. Djamil Hospital Padang during the months Maret to May 2011, by census. The data obtained were analyzed using descriptive analysis method.
Results showed that type of DRPs frequently occured from 110 patients with hyperuricemia and/not accompanying diseases at Interne polyclinic was drug interactions of pharmacokinetic and pharmacodynamic 36 patients. Adverse drug reaction 9 patients, non-compliance of patients 5 patients. Drug terapy without medical indication, lower and higher dose, inappropriate drug selection, inappropriate drug administration interval were had no problems.
Keywords:hyperurisemic, hospital, drug related problem.
10
PENDAHULUANDrug Related Problems (DRPs) merupakan kejadian yang tidak diharapkan dari pengalaman pasien akibat atau diduga akibat terapi obat sehingga kenyataannya menggangggu keberhasilan pemyembuhan yang diharapkan.
DRPs selain merugikan pasien juga dapat menghambat keberhasilan suatu terapi (Cipolle et al:1998).
Sebuah penelitian di Inggris yang dilakukan pada salah satu unit perawatan umum menemukan 8,8% kejadian Drug Related Problem (DRPs) pada 93% pasien darurat. Dapat dilihat juga dari catatan sejarah bahwa di Amerika pada tahun 1997 terjadi 140 ribu kematian dari 1 juta pasien yang dirawat di rumah sakit akibat adanya DRPs dari obat yang diresepkan (Cipolle et al:1998).
Pelayanan farmasi klinis di rumah sakit sangat diperlukan untuk memberikan jaminan pengobatan yang rasional kepada pasien.
Penggunaan obat dikatakan rasional jika obat digunakan sesuai indikasi, kondisi pasien dan pemilihan obat yang tepat (jenis, sediaan, dosis, rute, waktu dan lama pemberian), mempertimbangkan manfaat dan resiko serta harganya yang terjangkau bagi pasien tersebut (Aslam et al., 2000; WHO, 2003; Trisna, 2004).
Hampir 10% individu dewasa menderita hiperurisemia setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka. Kebanyakan dari mereka tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut.
Hiperurisemia juga dapat menyebabkan resiko komplikasi yang tinggi seperti gout, urolithiasis, nefropati asam urat akut, dan hal ini perlu dilakukan evaluasi untuk menjelaskan penyebabnya serta untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai (Dincer et al., 2002).
Besarnya angka kejadian hiperurisemia pada masyarakat Indonesia belum ada data yang pasti. Penelitian lapangan yang dilakukan pada penduduk kota Denpasar, Bali mendapatkan prevalensi hiperurisemia sebesar 18,2% (Wisesa
& Ketut, 2009).
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan selama bulan Maret sampai Mei 2011 di bangsal rawat inap dan rawat jalan penyakit dalam RSUP DR. M.
Djamil Padang, dan dilakukan dengan metoderancangan studi cross-sectional deskriptif yang
dikerjakansecaraprospektifterhadapsuatupopulasi terbatas.
Jenis data yang digunakanterbagiatas 2 bagianyaitu :
1. Data kualitatif
Meliputi masalah-masalah yang ditemukan dalam terapi hiperurisemia yakni penggunaan obat yang tidak diperlukan, indikasi tanpa obat, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis yang berlebih atau kurang, terjadinya efek samping obat, terjadinya interaksi obat yang dianalisis secara kualitatif.
2. Data kuantitatif
Meliputipersentasepasienyang menjalaniterapi
hiperurisemiadanpersentasejenisobatuntuk terapi hiperurisemia yang digunakan oleh pasien.Persentasejumlahpasienberdasarkanrentan gumurpasien, jeniskelamin, dan diagnosapenyakit.
Sumber data meliputirekammedikpasien
yang menjalaniterapiobatuntuk
hiperurisemiasertawawancarapasiendan/ataukelu argapasien di bangsalrawat jalanpenyakitdalam RSUP DR. M. Djamil Padang.
Obat yang akandievaluasiadalahobat- obat yang digunakanoleh pasien selamamenjalaniterapihiperurisemia di bangsal rawat inap dan rawat jalan peyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang.
Sampel yang dipilihadalahpasien hiperurisemia yang mempunyai kadar asam urat
> 6,8 mg/dL (pria) dan > 6,0 mg/dL (wanita) yang menjalaniterapihiperurisemia dan/atau mempunyai riwayat hiperurisemia sebelumya di bangsalrawat jalanpenyakitdalam di RSUP DR.
M. Djamil Padang selamabulanMaret sampai Mei 2011.
Pengambilan data dilakukan melalui pencatatan rekam medik di bangsal rawat jalan penyakit dalam di RSUP DR. M. Djamil Padang meliputi data kualitatif dan kuantitatif serta kelengkapan data pasien (seperti umur, jenis kelamin, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat obat terdahulu, tindakan terapi terhadap penyakit hiperurisemia, diagnosa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dll). Data yang diambil dipindahkan ke lembaran pengumpul
data yang telah disiapkan.
Kekuranganrekammedikdilengkapidenganmeliha tcatatanperawat,
catatanobatdepofarmasiIlmuPenyakitDalam (IPD)
melihatkondisipasienlangsungdenganwawancara pasiendan/ataukeluargapasien.
11
Standardpenggunaanobatditetapkanberdasarkanstandarter apipenyakitdalam RSUP DR. M. Djamil Padang edisiVtahun 2008, formularium yang berlakudanliteratur-literaturilmiahlainnya.
Analisis Data
1. Analisiskuantitatif Data
ditabulasiberdasarkanpersentasepasien yang menjalaniterapihiperurisemia di bangsalpenyakitdalamdanpersentasejenisobat
anti hiperurisemia yang
digunakan.Persentasejumlahpasienberdasarkanre ntangumurpasien, jeniskelamin, diagnosapenyakitdanberatnyapenyakitdibuatdala
mbentuktabel-tabel.Data yang
diambildipindahkankelembaranpengumpul data yang telahdisiapkan.
2. Analisiskualitatif
Data ditabulasikan kemudian dibandingkan terhadap kriteria penggunaan obat yang telah ditetapkan. Hasil perbandingan menunjukkan persentase beberapa kategori drug related problems yang muncul selama pasien menjalani terapi dengan kriteria penggunaan obat yang tidak diperlukan, indikasi tanpa obat, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis yang berlebih atau kurang, terjadinya efek samping obat, dan terjadinya interaksi obat.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisa Kuantitatif
1. Persentase pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan diagnosa.
Tabel 1. Persentase jumlah pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan diagnosa di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M.
Djamil Padang No. Nama Penyakit
Jumlah Pasien (orang)
Jumlah Pasien (persen)
1. Hiperurisemia 4 3,64 %
2. Hiperurisemia +
hipertensi 59 53,64 %
3. Hiperurisemia + hipertensi + dislipidemia
33 30 %
4. Hiperurisemia + komplikasi (gout, nefrolitiasis,dll)
11 10 %
5. Hiperurisemia + 3 2,73 %
penyakit lainnya
2. Persentase pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 1. Persentase jumlah pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan jemis kelamin di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang.
3. Persentase pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan rentang umur.
Gambar 2. Persentase Jumlah pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta berdasarkan rentang umur di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang
4. Persentase jenis obat yang digunakan oleh pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta.
Tabel 2. Persentase jenis obat yang digunakan oleh pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR.
M. Djamil Padang
62.73%
37.27% 0 0
Laki-laki Perempuan
0.91%
1.82%
18.18%
30.91%
36.37%
11.82%
≤ 31 tahun 31 - 40 tahun 41 - 50 tahun 51 - 60 tahun 61 - 70 tahun
≥ 71 tahun
12
Golongan obat Nama obat
Jumlah Persentase Generik Paten (%)
Antihiperurisemia Allopurinol 110 100
Antihipertensi
Diuretik
Ca-channel blocker
ACE inhibitor
ARB
Beta blocker
Vasodilator
Antiplatelet
Furosemid HCT Amlodipin
Diltiazem Kaptopril Lisinopril Ramipril Valsartan Irbesartan Bisoprolol ISDN Asetosal
Spirola Amdixal Hexavask Amlogrix Norvask
Noperten Cardace Ramixal Irverbal
Ascardia Aspilet
5 28 1 77
3 4 5 7 51 6 1 1 5
4,54 25,45 0,91 70
2,73 3,64 4,54 6,36 46,36 5,45 0,91 0,91 4,54
Antidislipidemia Simvastatin Gemfibrozil
Normofat 32 3
29,09 2,73
NSAID Meloksikam
Na diklofenak
Mexpharm Moxic Renadinac
13 6
11,82 5,45 Antirefluks & antiulcerasi Lansoprazol
Ranitidin
Loprezol 24 3
21,82 2,73
Ansiolitik Alprazolam Apazol 16 14,54
Kortikosteroid Metil prednisolon 1 0,91
Vitamin & mineral Asam folat
KSR
4 1
3,64 0,91 Suplemen & terapi
penunjang
Glucosamine
Neurodex Sohobion Osteocal NTR
1 60 1 4 1
0,91 54,54 0.91 3,64 0,91
13
Hasil Analisa KualitatifTabel 3. Persentase Jumlah Pasien Hiperurisemia dan Penyakit Penyerta yang Mengalami Drug Related Problems di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP.
DR. M Djamil Padang
No Drug Related Problems Jumlah Pasien 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Indikasi tidak dapat obat Terapi obat tanpa indikasi medis
Ketidaktepatan pemilihan obat
Terjadinya Kelebihan dosis obat
Terjadinya Kekurangan dosis obat
Terjadinya Interaksi Obat Terjadinya Reaksi Efek Samping Obat
Ketidakpatuhan Pasien Ketidaktepatan Interval Pemberian Obat
0 0 0 0 0 36
9 5 0
Total pasien 110
Pembahasan
1. Analisa Kuantitatif
a. Pasien Hiperurisemia Berdasarkan Diagnosa.
Pada suatu studi analisis retrosepektif yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES ) menemukan bahwa kenaikan kadar asam urat secara independent dan signifikan berhubungan dengan mortalitas kardiovaskular pada laki-laki dan perempuan, tetapi pada studi lainnya tidak mendukung kesimpulan ini dan masih menjadi perdebatan. Wannamethee et al telah melakukan studi tentang hubungan antara asam urat dengan resiko penyakit koroner, dimana keadaan ini dapat terjadi bergantung pada adanya infark miokardial dan tingkat keparahan penyakit aterosklerosis. Dari hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa hiperurisemia bukanlah suatu faktor resiko independent yang mungkin terjadi. Selain itu, Ginsberg et al telah
melakukan suatu penelitian dan membentuk suatu hipotesa bahwa kristal monosodium urat meningkatkan agregasi platelet secara in vitro dan hal ini kemungkinan dapat meningkatkan resiko trombosis koroner pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang telah ada, dapat dikatakan bahwa adanya hubungan metabolik yang kompleks antara hiperurisemia dengan penyakit arteri koroner (Dincer et al., 2002).
Komplikasi yang paling banyak terjadi pada kasus hiperurisemia adalah gout kronis dan menahun. Prevalensi munculnya gout dipengaruhi oleh umur dan tingkatan hiperurisemia. Gout muncul dalam periode yang cukup lama setelah asimptomatik hiperurisemia.
Meskipun hiperurisemia merupakan faktor utama dalam perkembangan gout, ada juga beberapa faktor lain seperti konsumsi alkohol berlebih, penggunaan diuretik dan obesitas juga dapat mempengaruhi perkembangan gout pada pasien dengan hiperurisemia asimptomatik (Dincer et al., 2002).
Kemajuan perkembangan dari asimptomatik hiperurisemia menjadi gout sangat bervariasi antar individu. Pada kebanyakan orang perlu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi gout. Pada pasien yang mendapatkan terapi dengan siklosporin dan mendapatkan transplantasi organ, kemajuan terjadinya gout bisa menjadi lebih cepat, tetapi alasan untuk kejadian ini belum diketahui dengan pasti (Dincer et al., 2002).
b. Pasien Hiperurisemia dan Penyakit Penyerta Berdasarkan Jenis Kelamin
Secara umum laki-laki memiliki kadar asam urat yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan premenopause. Pada perempuan kadar asam urat akan meningkat setelah perempuan tersebut mengalami menopause.
Selama bertahun-tahun penemuan ini dikaitkan dengan efek dari estrogen tetapi mekanismenya belum dipahami. Belakangan telah berhasil diidentifikasikan suatu pembawa (pembawa urat 1 [URAT 1]) pada tubulus proksimal di ginjal yang paling responsibel mereabsorpsi asam urat.
Estrogen memiliki efek langsung dalam aktifitas pembawa ini (
Eggebeen
, 2007).c. Obat yang Digunakan Pasien Hiperurisemia dan Penyakit Penyerta.
Dalam terapi hiperurisemia, allopurinol biasa digunakan untuk mengobati hiperurisemia yang diasosiasikan dengan gout kronik, nefropati
14
asam urat akut, pembentukan batu asam urat,gangguan enzim tertentu, atau terapi kanker, tetapi tidak untuk hiperurisemia asimptomatik.
Allopurinol digunakan dalam terapi hiperurisemia untuk menghambat enzim xantin oksidase yang akan mengoksidasi hipoxantin menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat.
Dosis harian yang bisa digunakan antara 100 mg sampai 800 mg, dan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal perlu penyesuaian dosis (Martindale 35, 2007).
Selain allopurinol, ada beberapa agen urikosurik yang juga dapat mengontrol kadar asam urat dalam darah diantaranya probenesid dan sulfinpirazon. Kedua obat ini lebih sering digunakan di Amerika Serikat. Walaupun keduanya kurang toksis dbandingkan allopurinol, penggunaannya dibatasi karena obat-obat ini selain menurunkan konsentrasi asam urat serum juga meningkatkan jumlah asam urat yang diekskresikan sehingga meningkatkan resiko terjadinya nefrolitiasis.
Untuk menjaga efek maksimum dari obat-obat urikosurik ini, pasien harus memiliki nilai kreatinin klirens besar dari 50 sampai 60 mL/menit, harus minum 2 liter air per hari dan tidak memiliki riwayat urolitiasis atau keasaan urin yang berlebih (Dincer et al., 2006).
Selain pengobatan dengan obat antihiperurisemia, diperlukan juga modifikasi gaya hidup sehat dan pola makan pasien. Asupan makanan yang mengandung purin, sedikit banyak juga dapat mempengaruhi kadar asam urat dalam tubuh apabila frekuensi mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung purin itu cukup sering (Dincer et al., 2002).
d. Pasien Hiperurisemia dan Penyakit Penyerta Berdasarkan Rentang Umur.
Menurut literatur, pada laki-laki kadar asam urat akan mulai meningkat saat pubertas, dimana kadar asam urat saat anak-anak sekitar 3,5 mg/dL dan meningkat hingga kadar asam urat dewasa menjadi 5,0 ± 2,0 mg/dL dan biasanya kadar asam urat akan meningkat dan mencapai puncak antara umur 75 – 84 tahun.
Pada rentang umur ini biasanya keadaan hiperurisemia telah berkembang menjadi gout karena kadar asam urat yang semakin melebihi normal Sedangkan pada perempuan kadar asam urat mulai meningkat saat perempuan tersebut berada dalam masa menopause. Sekitar umur 45 tahun kadar estrogen dalam tubuh yang berperan dalam proses ekskresi asam urat akan menurun
dan di atas umur 60 tahun hiperuriemia ini beresiko berkembang menjadi gout. Kadar asam urat normal pada perempuan berkisar 4,0 ± 2,0 mg/dL (Dincer et al., 2002).
2. Analisa Kualitatif
a. Indikasi Tidak Dapat Obat
Dari hasil penelitian diketahui bahwa di poliklinik khusus penyakit dalam penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang tidak ditemukan adanya pasien dengan indikasi tidak dapat obat.
Semua pasien yang masuk dalam data penelitian ini telah diberikan terapi obat sesuai dengan kondisi klinisnya. Untuk pasien hiperurisemia di poliklinik khusus penyakit dalam selalu dipantau data laboratoriumnya dan diberikan terapi jika ada nilai pemeriksaan laboratorium yang di atas normal.Pasien dengan kondisi klinis yang mengindikasikan keadaan hiperurisemia diberikan terapi antihiperurisemia untuk mengontrol kadar asam urat dalam darah. Selain keadaan hiperursemia biasanya selalu ada keadaan klinis lain yang memerlukan terapi tambahan.
Keadaan yang jarang ditemukan pada DRPs ini adalah suatu keadaan ketika pasien menderita penyakit sekunder yang mengakibatkan keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya sehingga memerlukan terapi tambahan. Penyebab utama perlunya terapi tambahan antara lain ialah untuk mengatasi kondisi sakit pasien yang tidak mendapatkan pengobatan, untuk menambahkan efek terapi yang sinergis, dan terapi untuk tujuan preventif atau profilaktif (Strand et al., 1990).
b. Penggunaan Obat Tanpa Indikasi
Dari hasil penelitian di poliklinik khusus penyakit dalam tidak ditemukan adanya penggunaan obat tanpa indikasi.
c. Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Dari hasil penelitian diketahui bahwa tidak ditemukannya kesalahan dalam pemilihan obat atau ketidaktepatan pemilihan obat untuk pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta yang di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR.
M. Djamil Padang. Obat-obat yang digunakan dalam terapi merupakan obat yang sesuai untuk mengatasi penyakit yang diderita oleh pasien.
Obat antihiperurisemia yang diberikan adalah allopurinol dengan dosis yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pasien, dalam hal ini disesuaikan dengan tingginya kadar asam urat serum, dimana dosis allopurinol dapat diberikan
15
antara 100 mg – 800 mg per hari, tergantungkebutuhan pasien (Martindale 35, 2007).
Selain terapi hiperurisemia, terapi untuk penyakit penyerta yang diderita oleh pasien juga diberikan obat yang sesuai dengan penyakitnya.
d. Dosis Obat Kurang dan Dosis Obat Berlebih
Pada pasien di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang tidak ditemukan adanya dosis obat yang kurang.
Semua obat yang diberikan telah sesuai dengan dosis terapi obat tersebut. Seperti allopurinol yang diberikan awalnya 100 mg/hari peroral dan dosis dapat ditingkatkan bertahap untuk pasien dengan hiperurisemia ringan hingga kadar asam urat kembali normal. Sedangkan untuk hiperurisemia yang telah berkembang menjadi gout bertopus, dosis harian yang dapat diberikan antara 100 – 300 mg/hari peroral (Martindale 35, 2007).
Pada terapi pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta di poliklinik khusus penyakit dalam tidak ditemukan adanya kelebihan dosis obat.
e. Efek Samping Obat
Efek samping yang terjadi pada pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M.
Djamil Padang antara lain mual dan perut kembung sebanyak 5 orang, gatal 1 orang dan nyeri 3 orang.
Efek samping tidak mungkin dihindari atau dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar dapat diketahui. Dampak negatif masalah efek samping obat dalam klinik antara lain dapat menimbulkan keluhan atau penyakit baru karena obat, meningkatkan biaya pengobatan, mengurangi kepatuhan berobat serta meningkatkan potensi kegagalan pengobatan.
f. Terjadinya Interaksi Farmakokinetik dan Farmakodinamik Obat.
Di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR M. Djamil Padang interaksi obat yang paling banyak terjadi adalah antara allopurinol dengan HCT (hidrochlorthiazide). Interaksi ini bersifat farmakokinetik dimana HCT dapat meningkatkan konsentrasi serum allopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol. Pada pasien dengan gangguan ginjal, interaksi ini dapat meningkatkan reaksi
hipersentitifitas (Martindale 35, 2007). Ekskresi oxipurinol juga berkurang saat kedua obat ini digunakan, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal. Pada beberapa studi menyatakan untuk pasien dengan fungsi ginjal normal kejadian peningkatan konsentrasi serum allopurinol ataupun penurunan ekskresi oxipurinol tidak terjadi. Sedangkan untuk studi lainnya menunjukkan efek allopurinol pada metabolisme pirimidin yang meningkat seiring dengan penggunaan diuretik tiazid yang mana berpotensial meningkatkan hiperurisemia dan pada akhirnya mengarahkan terjadinya kerusakan ginjal (Baxter, 2008).
Interaksi obat lain yang terjadi adalah antara allopurinol dengan Aspirin® (asetosal).
Jika digunakan secara bersamaan Aspirin® dapat meningkatkan kadar asam urat dan menurunkan efikasi allopurinol sehingga menyebabkan efek yang diharapkan tidak maksimal (Martindale 35, 2007). Mekanisme kerja dari interaksi ini belum dapat dimengerti. Kemungkinan interaksi ini terjadi pada sekresi tubulus ginjal. Dalam dosis reguler Aspirin® (325 mg atau kurang per harinya) belum tentu dapat menimbulkan interaksi yang merugikan (Baxter, 2008).
Interaksi lain yang terjadi adalah antara allopurinol dengan obat-obat dari golongan ACE inhibitor, yaitu kaptopril dan ramipril.
Penggunaan obat-obat ini secara bersamaan akan meningkatkan potensiasi efek hipersensitifitas allopurinol, terutama pada pasien dengan gagal ginjal kronik. Penggunaan allopurinol dengan kaptopril harus dengan perhatian terutama pada pasien gagal ginjal kronik untuk menghindari terjadinya efek yang tidak diinginkan (Martindale 35, 2007). Interaksi ini kemunculannya jarang dan tidak bisa diprediksi.
Pasien-pasien yang mendapatkan kombinasi kedua obat ini harus selalu dimonitor jika terdapat tanda-tanda hipersensitifitas (seperti reaksi pada kulit) atau rendahnya jumlah sel darah putih (nyeri tenggorokan, demam), terutama pada pasien dengan gangguan ginjal.
Pada beberapa pabrik yang memproduksi kaptopril di Inggris telah merekomendasikan penghitungan sel darah putih sebelum penambahan terapi dengan allopurinol, kemudian setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama terapi, dan secara periodik setelahnya (Baxter, 2008).
Interaksi antara kaptopril dengan meloksikam juga harus diperhatikan karena meloksikam dapat menyebabkan penurunan efek penurunan tekanan darah dari kaptopril dan
16
dapat mempengaruhi fungsi ginjal (Martindale35, 2007). Beberapa bukti ilmiah menyatakan bahwa kemungkinan adanya peranan prostaglandin dalam mekanisme kerja efek hipotensif dari kaptopril. NSAID menghambat sintesa prostaglandin yang kemungkinan akan mengantagonis efek ACE inhibitor.
Kemungkinan lainnya adalah bahwa NSAID menyebabkan retensi natrium dan meniadakan efek penurunan tekanan darah dari beberapa obat antihipertensi, termasuk ACE inhibitor. Interaksi ini mungkin dapat bergantung pada status natrium dan renin plasma, demikian juga dengan obat-obat yang mempengaruhi status natrium seperti diuretik dapat mempengaruhi efek hipotensif tersebut. Tetapi interaksi ini tidak selalu muncul pada semua pasien. Selain itu, baik NSAID maupun ACE inhibitor dapat menyebabkan gangguan ginjal. Pada pasien yang fungsi ginjalnya terganggu, kombinasi ACE inhibitor dan NSAID akan semakin memperburuk fungsi ginjal tersebut (Baxter, 2008).
Interaksi-interaksi obat yang terjadi di atas ada yang bersifat farmakokinetik dan ada yang bersifat farmakodinamik. Untuk interaksi farmakokinetik bisa terjadi pada tahap absorpsi, distribusi, metabolisme ataupun ekskresi.
Sedangkan untuk interaksi farmakodinamik dapat terjadi jika suatu obat mempengaruhi kerja obat lainnya. Dari data yang diperoleh, interaksi obat yang sering terjadi adalah interaksi farmakokinetik. Dalam penanggulangannya interaksi farmakokinetik ini dapat dihindari dengan memberikan jarak penggunaan antara obat-obat yang berpotensi terjadi interaksi merugikan selama 1-2 jam. Sedangkan untuk interaksi farmakodinamik, perlu dimonitor data laboratorium yang mungkin akan mengalami penurunan atau peningkatan jika interaksi obat tersebut terjadi, ataupun dengan memberikan terapi tambahan atau terapi pengganti untuk mengurangi kemungkinan terjadinya interaksi obat yang tidak diinginkan. Dari keseluruhan interaksi obat yang ditemui, tidak ada yang bersifat toksik.
g. Ketidakpatuhan Pasien
Salah satu kunci keberhasilan pengobatan suatu penyakit adalah adherence penderita terhadap farmakoterapi. Adherence adalah keterlibatan penuh pasien dalam penyembuhan dirinya, baik melalui kepatuhan atas instruksi yang diberikan untuk terapi
maupun dalam ketaatan melaksanakan anjuran lain dalam mendukung terapi (Depkes RI, 2005).
Pada pasien hiperurisemia dan penyakit penyerta di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang ditemukan ketidakpatuhan pasien sebanyak 5 orang dari 110 pasien yang masuk dalam data penelitian.
Selama penelitian dilaksanakan, parameter kepatuhan pasien ini didapat melalui wawancara baik dengan pasien langsung maupun diwakilkan oleh anggota keluarga yang ikut menjaga pasien selama dalam perawatan di bangsal rawat inap penyakit dalam. Terkadang pasien masih enggan untuk diwawancara karena kurangnya pemahaman tentang peranan farmasis. Sebagian dari mereka ada yang tidak terlalu antusias saat diwawancara tetapi sebagian lagi cukup kooperatif.
Pasien yang tidak patuh ini memiliki alasan yang beragam untuk ketidakpatuhannya.
Ada yang mengaku sering lupa minum obat atau terlewat waktu minum obat karena sibuk dengan urusan yang lain, ada yang memang sengaja tidak meminum obatnya dengan alasan efek samping yang ditimbulkan setiap minum obat itu terasa sangat mengganggu, seperti efek mual dan nyeri abdomen. Terutama pada pasien dengan usia yang tidak lagi muda, hal ini sangat mengganggu aktifitas mereka.
h. Ketidaktepatan Interval Pemberian Obat Di poliklinik khusus penyakit dalam RSUP DR. M. Djamil Padang obat-obat yang diberikan dalam bentuk tablet sehingga memudahkan pasien dalam mengkonsumsi dan penyimpanannya. Tidak ditemukan adanya ketidaktepatan interval pemberian obat di poliklinik khusus penyakit dalam ini. Seluruh obat yang diresepkan intervalnya sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan pasien tersebut.
SIMPULAN
Drug related problems kategori indikasi tidak dapat obat, terapi obat tanpa indikasi medis, ketidaktepatan pemilihan obat, terjadinya kelebihan dan kekurangan dosis obat, serta ketidaktepatan interval pemberian obat tidak ditemukan masalah.
Drug related problems kategori ketidakpatuhan pasien sebanyak 5 orang dari 110 pasien ; hal ini disebabkan oleh faktor individual pasien tersebut.
Drug related problems kategori terjadinya reaksi efek samping obat
17
sebanyak 9 orang dari 110 pasien; dalamprakteknya hal ini dapat diatasi dengan pengaturan penggunaan obat yang tepat ataupun pemberian terapi tambahan yang memungkinkan bagi pasien.
Drug relatedproblems kategori terjadinya interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik obat seanyak 32 orang dari 110 pasien; dalam prakteknya hal ini telah diatasi dengan memberikan jarak pemakaian antara obat yang berinteraksi ataupun dengan memonitoring kemungkinan reaksi obat yang tidak diinginkan yang akan muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Aslam M., Tan C. K.,Prayitno A.
2007.FarmasiKlinis
:MenujuPengobatanRasionaldanPeng hargaanPilihanPasien.Penerbit PT
Elex Media
KompusindoKelompokGramedia.
Jakarta.
Baxter Karen. 2008. Stockley’s Drug Interactions. Eigth edition.
Pharmaceutical Press. London.
Cipolle R. J., Strand L. M.,Moorley P.
C.,1998, Pharmaceutical Care Practice, McGraw-Hill.
Dincer H. Erhan, Ayse P. Dincer, Dennis J.
Levinson. August 2002.
Asymptomatic hyperuricemia: To treat or not to treat. Cleveland Clinic Journal of Medicine Volume 69 • Number 8: 594-608
Eggebeen A. T. September 2007.Gout: an update. Am Fam Physician76 (6):
01–8.
Ginsberg M. H., Kozin F., O’Malley M., McCarthy D. J. 1977.Release of platelet constituents by monosodium urate crystals. J Clin Invest; 60:999–
1007.
Martindale, 2007. The Complete Drug Reference (Ed 35). New York: The Pharmaceutical Press.