SKRIPSI
PENGARUH JANUARY EFFECT TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45 DI BURSA EFEK
INDONESIA PERIODE 2012-2015
OLEH
Dewi Erfha M. Pasaribu 140522158
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “PENGARUH JANUARY EFFECT TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45 DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2012-2015” adalah benar hasil karya saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Januari 2017 Yang membuat pernyataan,
Dewi Erfha M. Pasaribu NIM. 140522158
ABSTRAK
PENGARUH HOLIDAY EFFECT TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45 DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE
2012-2015
TujuandaripenelitianiniadalahuntukmengetahuidanmenganalisispengaruhJ anuary effectterhadapreturn sahamperusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah january effect sebagai variabel bebas serta return saham sebagai variabel terikat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji hipotesis.
Metode pengambilan sampel penelitian ini menggunakan purposive sampling sebanyak 40 sampel. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dan metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dengan mengunduh annual report pada website BEI.
Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa january effect tidakberpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan LQ 45.
Kata Kunci :January Effect, Harga Saham, Return Saham.
ABSTRACT
THE EFFECT OF JANUARY EFFECT ON STOCK RETURN LQ 45 IN INDONESIA STOCK EXCHANGE IN PERIOD 2012-2015
The purpose of this research is to obtain empirical evidence and analisize about the january effect on stock return LQ-45 in Indonesia Stock Exchange in period 2012 -2015.
Variables used in this research is the january effect as independent variables and stock return as dependent variable. Data analysis technique used are descriptive statistical analysis, classic assumption test, multiple linear regression analysis, and hyphotesis testing.
Sampling method in this research is using purposive sampling for 40 samples. Type of data used is secunder data and the method of collecting data used is documentation method by downloading from BEI website.
The result, it was concluded that the january effect no significant effect on stock return LQ- 45.
Keywords : january effect, stock price, stock return
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat serta karunia yang diberikan-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh January Effect Terhadap Return Saham Pada Perusahaa LQ 45 Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015”. Skripsi ini merupakan syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan, saran, motivasi, dan doa dari semua pihak, yaitu kepada:
1. Bapak Prof.Dr. Runtung, S.H.,M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E.,M.S., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak.,CPA dan Bapak Drs.
Syahrul Rambe, M.M., Ak.,CA selaku Ketua Departmen dan Sekretaris Departmen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak.,CA dan Ibu Dra. Mutia Ismail,M.M.,Ak.,CA selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Drs. Rustam M.Si, Ak.,CA., selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, waktu, masukan dan dorongan bagi penulis.
6. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak.,CA dan Ibu Dr. Rina Bukit, M.Si,Ak.,CA selaku Dosen Penguji dan Pembanding yang memberikan saran dan masukan bagi penulis.
7. Kedua orang tua penulis, Ayahanda Drs. E. Pasaribu dan Ibunda R.Pardede M.Si yang senantiasa melimpahkan cinta dan kasih sayang, juga kepada kakak dan adik penulis, Eftina Amd, Dian Tantri SP.t, Rehoboth, Amd, Sara Adhitya M.Pd.K dan Yohanes Joy yang selalu mendukung. Kepada sahabat- sahabat di kampus yang memberikan dukungan kepada penulis.
Segenap kemampuan yang ada, penulis berusaha membuat skripsi ini dengan sebaik mungkin, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna sehingga penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Medan, Januari 2017 Penulis,
Dewi Erfha M. Pasaribu NIM : 140522158
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... ... vi
DAFTAR TABEL ... ... vii
DAFTAR GAMBAR... .... xi
BAB I PENDAHULUAN ... .... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 TujuanPenelitian ... 6
1.4 ManfaatPenelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... ... 8
2.1 TinjauanTeoritis ... ... 8
2.1.1 PasarModal ... ... 8
2.1.2 Asumsi PasarEfisien ... ... 8
2.1.3 Saham ... .... 10
2.1.4 Harga Saham ... .... 11
2.1.5 Return Saham ... ... 12
2.1.6 Saham LQ 45... ... 13
2.1.7 January Effect ... .... 15
2.1.8 Analisis Teknikal ... 19
2.2 PenelitianTerdahulu ... 23
2.3 KerangkaKonseptual ... 24
2.4 Hipotesis ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 27
3.1 JenisPenelitian ... 27
3.2 TempatPenelitian ... 27
3.3 BatasanOperasional ... 27
3.4 DefinisiOperasionalVariabel ... 28
3.5 PopulasidanSampelPenelitian ... 30
3.6 JenisDan Sumber Data Penelitian ... 32
3.7 MetodePengumpulan Data Penelitian ... 32
3.8.1 Uji Asumsi Klasik ... 33
3.8.2 Analisis Regresi Linear Sederhana ... 37
3.8.3 Uji Hipotesis ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... .... 41
4.1 Hasil Penelitian ... ... 41
4.1.1 Analisis Uji Asumsi Klasik ... .... 41
4.1.2 Analisis Regresi Linear Sederhana ... 44
4.1.3 Analisis Uji Hipotesis Penelitian ... .. 45
4.2 Pembahasan ... ... 47
4.2.1 Pembahasan Hasil Analisis Statistik ... . 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... ... 51
5.1 Kesimpulan ... 51
5.2 Saran ... 51 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 23
Tabel 3.1 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel.. 29
Tabel 3.2 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ... 34
Tabel 4.1 Uji Normalitas ... 40
Tabel 4.2 Uji Gletser ... 42
Tabel 4.3 Uji Durbin Watson ... 43
Tabel 4.4Analisis Regresi Linear Sederhana ... 44
Tabel 4.5 Uji Determinan (R)... 45
Tabel 4.6 Uji t ... 46
DAFTARGAMBAR
No. Judul Halaman
Gambar 2.1 Faktor Internal dan Eksternal Harga Saham ... 20
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ... 25
Gambar 4.1 Histogram ... 41
Gambar 4.2Grafik Scaterplot ... 42
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar BelakangMasalah
Pasar modal merupakan saranauntuk memobilisasi dana baik dari dalam maupun dari luar negeri oleh perusahaan. Melalui pasar modal, suatu perusahaan dapat memperoleh sejumlah dana yang cukup besar dengan biaya yang lebih murah. Pasar modal adalah lembaga keuangan yang diciptakan oleh sejumlah lembaga dan pengaturan yang mengijinkan pemasok dan peminjam dana untuk melakukan transaksi (Sadalia, 2010:27).
Pasar modal juga merupakan berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, dalam bentuk hutang atau modal sendiri, baik yang diterbitkan pemerintah, perusahaan swasta maupun public authorities.
Dalam hal ini instrumen-instrumen keuangan yang diperjual-belikan di dalam pasar modal yaitu surat-surat berharga yang terdiri dari saham, obligasi, waran, right, dan berbagai produk derivatif lainnya seperti opsi (call option atau put option).
Pasar modal dibangun dengan tujuan untuk menggerakkan perekonomian suatu negara melalui kekuatan dunia usaha serta mengurangi beban negara. Negara memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengatur bidang perekonomian tetapi tidak harus memiliki perusahaan sendiri. Negara tidak perlu membiayai pembangunan
ekonominya dengan cara meminjam dana dari pihak asing, sepanjang pasar modal dapat difungsikan dengan baik.
Bursa Efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli Efek Pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek di antara mereka (Samsul, 2006:95).
Pada dasarnya Bursa Efek dapat dimiliki oleh negara, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah kota maupun pihak swasta dimana organisasi ini merupakan organisasi yang tidak berorientasi laba (nonprofit oriented organization), namun bukan berarti lembaga-lembaga dimaksud dilarang memperoleh laba. Hal yang dilarang adalah membagikan laba yang diperoleh dalam bentuk dividen tunai. Memperoleh laba merupakan suatu keharusan agar organisasi dapat berkembang, karena tanpa adanya keuntungan, makaorganisasi tidak akan memilikiketersediaan dana untuk mengembangkan diri.
Setiap investor yang melakukan investasi saham memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendapatkan capital gain. Capital gain yaitu selisih positif antara harga jual dan harga beli saham dan dividen tunai yang diterima dari emiten karena perusahaan mendapatkan keuntungan (Samsul, 2006:160). Selain tujuan tersebut, investor juga memiliki tujuan investasi yang berbeda, yaitu untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dan keuntungan jangka panjang. Tujuan investasi jangka pendek atau jangka panjang memiliki konsekuensi pada pemilihan analisis yang berbeda.
Tujuan investasi jangka pendek lebih tepat menggunakan analisis teknikal
sedangkan tujuan investasi jangka panjang sangat cocok menggunakan analisis fundamental.
Dalam pengambilan keputusan investasinya, pelaku pasar juga perlu memperhitungkan return(pengembalian saham) dan meminimalisasi resiko, dimana kedua hal ini sangat penting digunakan sebagai salah satu pengukuran kinerja dari perusahaan untuk menentukan tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return) dan risiko di masa mendatang.
Menurut teori pasar efisien, pola harga saham tidak dapat diprediksi (unpredictable) karena bergerak secara acak (random walk). Harga saham bergerak secara acak berarti bahwa fluktuasi harga saham tergantung kepada informasi baru (new information) yang akan diterima, tetapi informasi tersebut tidak diketahui kapan akan diterima sehingga informasi baru dan harga saham itu disebut unpredictable. Akan tetapi banyak penelitian- penelitian yang bertolak belakang dengan konsep pasar efisien yaitu saat keadaan saham tidak sesuai dengan keadaan yang ada dan berakibat menimbulkan dampak yang begitu besar yang disebut dengan anomali pasar (market anomalies).Anomali atau gangguan adalah hasil empiris yang tidak dapat dijelaskan dengan teori dimana anomali ini terjadi disaat pasar saham bereaksi atas hal yang tidak termasuk ke dalam konsep pasar efisien.
Returnyang merupakan salah satu pertimbangan investor dalam berinvestasi menjadi hal yang penting untuk dianalisis sehingga terdapat gambaran strategi yang dilakukan investor untuk meminimalisasi risiko yang harus ditanggung. Setiap investor menginginkan terjadinya peningkatan return atau capital gain atas investasi yang dilakukannya,
untuk itu penelitian mengenai return cukup berkembang sebagai bahan referensi investor dalam mengambil keputusan yang tepat.
Pada Bursa Efek Indonesia terdapat kelompok perusahaan yang termasuk dalam LQ 45. Kelompok perusahaan ini merupakan 45 saham yang memiliki tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi dan disesuaikan setiap awal bulan Februari dan Agustus. Perusahaan yang termasuk dalam LQ 45 harus melalui proses seleksi dan memenuhi beberapa kriteria. Oleh karena itu sering terjadi perubahan keanggotaan LQ 45.
Ada beberapa anomali yang sering terjadi yang mengganggu efektifitas pasar, antara lain efek kalender. Anomali kalender yaitu kecenderungan terjadinya keadaan yang sama di saat-saat tertentu, contoh anomali kalender yaitu Holiday Effect. Holiday Effect merupakan bagian dari event effect. Holiday Effect merupakan suatu peristiwa kecenderungan meningkatnya harga saham pada saat hari pertama perdagangan dimulai setelah hari libur nasional. Berbagai penelitian telah dilakukan beberapa peneliti sebelumnya untuk melihat seberapa besar pengaruh holiday effect terhadap elemen-elemen penting dalam kegiatan di pasar modal. Starks, et al. (2006) yang meneliti di New York Stock Exchange (NYSE) mengungkapkan bahwa ada kecenderungan perilaku menjual pajak kerugian (tax-loss selling behavior) dari para investor pada pergantian tahun dan terjadi abnormal return bond dan stock yang berkorelasi positif dengan peningkatan volume perdagangan.
Selain itu anomali lain yang sering terjadi adalahJanuary effect.
January-effectditandai dengan adanya fenomenakecenderungan perbedaan
keadaan pasar modal pada bulan Januari (post January) dengan bulanselain Januari, misalnya menjelang bulan Januari (pre-January) dan sesudah bulan Januari (after January).
January effect merupakanfenomena anomali pasar modal di mana harga-harga saham cenderung mengalami kenaikan pada akhir pekan pertama di bulan Januari. Fenomena melonjaknya harga-harga saham ini disebabkan pada akhir tahun para investor maupun para fund manajer cenderung menjual saham-sahamnya untuk mengamankan dana atau merealisasikan capital gain serta untuk mengurangi beban pajak mereka.Penelitian mengenai keberadaan maupun penyebab terjadinya January effect beberapa kali sempat dilakukan sebelumnya, diantaranya Aria dan Siti Rahmi (2012) yang menyebutkan bahwa January effectterjadi pada sektor perbankan di pasar modal Indonesia. Hal ini kemudianberbanding terbalik dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh Nurul (2007)dan Luluk (2009) yang menyebutkan bahwa January effect tidak terjadi di pasarmodal Indonesia. Ketidakkonsistenan hasil ini menjadi salah satu alasan tentangperlunya penelitian ini ditindaklanjuti lagi.
Model penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan terhadap harga saham dan return saham kelompok perusahaan LQ 45 pada 10 (sepuluh) hari sebelum bulan Januari dan 10 (sepuluh) hari pertama dalam bulan Januari selama 3 (t)iga tahun terakhir. Kurun waktu tersebut dianggap cukup memadai untuk melihat terjadi atau tidak terjadinya January Effect dengan melihat sejauhmana pengaruh harga saham sebelum
bulan Januari terhadap return saham yang dapat dihasilkan pada 10 (sepuluh) hari pertama di bulan Januari.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh January EffectTerhadap Return Saham Perusahaan LQ 45Pada Bursa Efek Indonesia”
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang akan diidentifikasi dalam penelitian ini adalah :
1. Sejauhmana pengaruh harga saham 10 (sepuluh) hari sebelum bulan Januari terhadap return saham 10 (sepuluh) hari pertama bulan Januari pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia;
2. Apakah terdapat pengaruh January Effect terhadap return saham perusahaan LQ 45 pada Bursa Efek Indonesia.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejauhmana pengaruh harga saham 10 (sepuluh) hari sebelum bulan Januari terhadap return saham 10 (sepuluh) hari pertama bulan Januari pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia;
2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh January Effect terhadap return saham perusahaan LQ 45 pada Bursa Efek Indonesia.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini perlu dilaksanakan dan diharapkan hasilnya akan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam melakukan keputusan investasi agar terhindar dari resiko menurunnya capital gain;
2. Bagi peneliti, sebagai bahan referensiuntuk menambah wawasan mengenai fenomena January effect dalam pasar modal;
3. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai referensi tambahan dalam melakukan penelitian lanjutan yang memiliki ruang lingkup dan cakupan yang lebih luas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teoritis 2.1.1. Pasar Modal
Kegiatan pasar modal pada umumnya dilakukan oleh lembaga–
lembaga antara lain pusat perdagangan sekuritas atau nama resminya disebut bursa efek. Pasar modal adalah lembaga keuangan yang diciptakan oleh sejumlah lembaga dan pengaturan yang mengijinkan pemasok dan peminjam dana untuk melakukan transaksi (Sadalia, 2010:27)
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (Samsul, 2006:43).
Berbicara tentang kegiatan transaksi pada bursa efek, tentunya tidak terlepas dari kegiatan investasi. Kegiatan investasi tersebut tentunya diharapkan dapat menghasilkan return saham, yaitu berupa hasil yang diperoleh dari investasi yang berupa return realisasi dan return ekspektasi.
2.1.2. Asumsi Pasar Efisien
Asumsi penting dalam teori keuangan adalah asumsi pasar modal yang efisien. Menurut Martono (2001:8) sebuah teori yang disebut hipotesis pasar yang efisien (Efficient Markets Hypothesis – EMH) bukan efisiensi dalam arti administrasi keuangannya, tetapi efisien secara informasional. Artinya bahwa harga-harga sekuritas yang ada di pasar modal mencerminkan informasi relevan yang mempengaruhi harga sekuritas tersebut.Efisiensi pasar modal dapat dibagi menjadi 3 bentuk efisiensi, yaitu:
1. Efisiensi bentuk lemah (weak-form efficiency).
Efisiensi bentuk lemah menunjukkan bahwa harga saham di masa datang tidak dapat diprediksi hanya menggunakan data harga saham yang lalu. Pergerakan harga saham bersifat random (acak), sehingga tidak dapat diprediksi hanya menggunakan data harga historis. Apabila harga saham yang akan datang dapat diprediksi hanya menggunakan data harga saham masa lalu, maka pasar modal tersebut belum efisien dalam bentuk lemah.
2. Efisiensi bentuk setengah kuat (semi strong-form efficiency) Efisiensi bentuk setengah kuat menunjukkan bahwa harga saham yang terjadi merefleksikan atas informasi yang dipublikasikan.
3. Efisiensi bentuk kuat (strong-form efficiency)
Efisiensi bentuk kuat menunjukkan bahwa harga saham yang terjadi merefleksikan informasi yang dipublikasikan maupun informasi yang tidak dipublikasikan.
Buddi dan Junius (2005:17) mengemukakan beberapa asumsi yang digunakan dalam pasar modal yang efisien, yaitu :
1. Ada banyak orang yang melakukan analisis dan penilaian terhadap sekuritas guna memperoleh profit yang maksmimum, dimana mereka tidak bergantung antara yang satu dan yang lainnya – independen;
2. Informasi baru mengenai sekuritas masuk ke pasar secara acak dan waktu pengumuman suatu informasi independen terhadap informasi lainnya;
3. Investor yang bertujuan untuk memperoleh profit yang maksimum menyesuaikan harga sekuritas secara cepat untuk merefleksikan pengaruh dari informasi yang baru.
2.1.3. Saham
Saham merupakan bukti penyertaan kepemilikan pada suatu perusahaan, apakah itu perseroan terbatas atau perusahaan publik.
Secara umum, investasi dalam saham memungkinkan untuk diperolehnya return yang cukup tinggi walaupun untuk itu resiko yang dikandung juga lebih tinggi.
Menurut Darmadji (2006:6), saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perusahaan di mana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham (shareholder atau stockholder) (Martono, 2001:367).Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut dan porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.Berdasarkan defenisi tersebut dapat diartikan bahwa saham juga merupakan salah satu instrumen dari pasar modal yang paling terkenal dan paling sering digunakan untuk berinvestasi oleh para pelaku ekonomi aktif. Laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham disebut dividen. Dividen yang diberikan kepada pemegang saham didasarkan atas dasar per lembar saham yang dimiliki dan besarnya dividen payout ratio. Selain demi beroleh dividen yang maksimal,
para pemegang saham juga biasanya berekspektasi untuk meningkatkan jumlah lembar sahamnya pada kondisi tertentu dengan melaksanakan stock split. Menghindari resiko atas perdagangan saham pun seperti capital-lost dapat dilakukan dengan melakukan stock split dan menjualnya kembali ke pasar.
2.1.4 Harga Saham
Harga saham dapat diartikan sebagai nilai bukti penyertaan modal pada perseroan terbatas yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana saham tersebut telah beredar. Oleh sebab itu saham (stock atau share) berfungsi sebagaitanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.
Menurut Belkoui(2002) harga saham adalah nilai dari pernyataan dan kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan.
Harga saham yang terjadi pada pasar modal efisien merupakan refleksi dari semua informasi yang telah dipublikasikan dan terjadi pada keseimbangan yang berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa harga saham tersebut adalah sama dengan nilai intrinsik dari saham tersebut di setiap waktu.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa harga saham mencerminkan nilai dari suatu perusahaan yang menggambarkan kekayaan para pemegang sahamnya.Harga saham akan selalu berfluktuasi karena dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran (demand and supply) dari saham
tersebut di pasar modal. Tinggi rendahnya harga saham suatu perusahaan pada suatu bursa efek menggambarkan tingkat kepercayaan para investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Berdasarkan pendapat dan penjelasan di atas maka peneliti menjadikan harga saham sebagai variabel independen dalam penelitian ini sebagai variabel yang sangat mempengaruhi tingkat return saham ketika saham tersebut dijual kembali ke pasar modal.
2.1.5 Return Saham
Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi dan dapat pula berupa return ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan tersealisasi dalam masa mendatangTujuan investor dalam berinvestasi adalah untuk mencari keuntungan dengan memaksimalkan return tanpa melupakan untuk meminimalisirkan resiko yang akan terjadi.
Tandelilin (2001:47) mengemukakan bahwa return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya.
Berdasarkan pendapat di atas, maka secara singkatnya return adalah keuntungan yang diperoleh investor dari dana yang ditanamkan pada suatu investasi. Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data
historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan serta sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) untuk mengukur risiko di masa yang akan datang. Return ekspektasi (expected return) merupakan return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa yang akan datang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, return ekspektasi ini sifatnya belum terjadi. Return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return realisasi yang merupakan capital gain/capital loss, yaitu selisih harga saham individu harian saat ini dengan harga saham individu pada hari sebelumnya. Secara matematis actualreturn dapat diformulasikan sebagai berikut:
Dimana:
IHSIt = harga saham harian pada hari ke-t
IHSIt-1 = harga saham harian pada hari ke t-1
2.1.6 Saham LQ 45
LQ 45 merupakan saham yang mempunyai likuiditas tinggi dan juga dipertimbangkan sebagai kapitalisasi pasar saham (Lubis, 2006:159). LQ 45 menggunakan 45 saham terpilih berdasarkan likuiditas perdagangan saham dan disesuaikan setiap 6 bulan (setiap awal Februari dan Agustus). Dengan demikian saham yang terdapat dalam indeks tersebut akan selalu berubah.
Rt = 𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡 −𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡−1
𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡−1
Setiap tiga bulan diadakan review kembali terhadap ranking pergerakan saham. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan rumus perhitungan indeks LQ 45. Pergantian saham akan dilakukan setiap enam bulan yaitu setiap awal bulan Februari dan bulan Agustus.
Sebuah saham bila tidak lagi memenuhi kriteria, maka saham tersebut akan di drop out dari perhitungan indeks dan diganti dengan saham lain yang telah dapat memenuhi kriteria. Saham yang memenuhi kriteria dengan rangking 1-35 dengan cepat akan dimasukkan ke dalam perhitungan, tetapi saham yang masuk dalam rangking 36-45 tidak pasti akan dimasukkan ke dalam perhitungan indeks.
Menurut Lubis (2006:159), kriteria seleksi dari saham LQ 45 adalah sebagai berikut:
1. Termasuk dalam rangking top ke enam puluh dalam transaksi saham di pasar regular. (digunakan rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir);
2. Rangking didasarkan atas kapitalisasi pasar (rata-rata 12 bulan terakhir);
3. Telah terdaftar pada pasar modal sedikitnya 3 bulan; dan
4. Kondisi keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhan, frekuensi, dan jumlah transaksi di pasar regular per hari.
Faktor –faktor yang berperan dalam pergerakan Indeks saham LQ 45, adalah :
1. Tingkat suku bunga SBI sebagai patokan (benchmark) portofolio investasi di pasar keuangan Indonesia.
2. Tingkat toleransi investor terhadap risiko.
3. Saham-saham penggerak indeks (index mover stocks) yang notabene merupakan saham berkapitalisasi pasar besar di Bursa Efek Indonesia.
Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap naiknya Indeks LQ 45 adalah:
1. Penguatan bursa global dan regional menyusul penurunan harga minyak mentah dunia.
2. Penguatan nilai tukar rupiah yang mampu mengangkat indeks LQ 45 ke zona positif.
2.1.7 January Effect
Banyak peristiwa yang dapat mempengaruhi harga saham di pasar begitu peristiwa itu terjadi. Peristiwa-peristiwa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Peristiwa corporate action, seperti split, right, issue, waran, saham bonus, saham dividen, dan dividen tunai, mempunyai pengaruh terhadap harga saham tetapi lamban. Peristiwa insidentil, yaitu yang tidak terulang kembali setiap tahun tetapi dapat terjadi sewaktu-waktu, berdampak seketika dan drastis terhadap harga saham. Investor yang banyak memperlajari dampak suatu peristiwa terhadap harga saham akan bertindak cepat dalam mengambil keputusan jual atau beli saham begitu peristiwa terjadi (Samsul, 2006:274).
Sebagai salah satu bagian dari event effect, yaitu holiday effect merupakan kondisi dimana terdapat kinerja saham yang biasanya bersifat positif yang mengakibatkan terjadinya abnormal return. Pasar Australia mengalami peningkatan return sebesar lima sampai sepuluh kali lipat dari perdagangan di hari biasa. Hal ini pun berpengaruh terhadap para investor individual yang skalanya lebih kecil (Marrett dan Worthington, 2006:1). Anomali hari libur atau holiday effectmenjelaskan bahwa tingkat pengembalian atau return menjelang hari libur (pre holiday) lebih rendah daripada setelah hari libur. Hal ini disebabkan bahwa pada umumnya pergerakan pasar saham akan semakin aktif pada hari setelah hari libur nasional.
Dalam penelitian ini, anomalikalender January Effect adalah merupakan bagian dari Holiday Effect, dimanaJanuary effect merupakan salah satu bentuk anomali kalender dalam tahun yang biasa disebut sebagaiMonth of The Year Effect (Andreas dan Ria Daswan, 2011). January Effect adalah kecenderungan naiknya harga saham antara tanggal 31 Desember sampai dengan akhir minggu pertama pada Bulan Januari. Chatterjee (2000) menemukan adanya January Effect yang signifikan dari return perusahaan kecil dibandingkan dengan perusahaan besar yang terjadi pada beberapa hari pertama di Bulan Januari. Munculnya January Effect antara lain dikarenakan adanya hipotesis taxloss selling, windowdressing, dan small Stock’s Beta (Sharpe, 1995). Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa fenomena January effect sangat berpengaruh terhadap return saham terutama di negara Amerika, Jepang dan Hongkong. Hal ini dikarenakan negara-negara maju tersebut pada akhir tahun tepatnya pada bulan Desember terdapat beberapa perayaan yaitu natal dan tahun baru. Pada bulan tersebut mayoritas penduduk dunia merayakan hari tersebut secara besar-besaran sehingga dibutuhkan dana yang banyak. Investor cenderung menahan investasinya guna mencukupi kebutuhan tersebut atau bahkan menjual saham yang dimilikinya. Oleh karena itu pada bulan Januari menunjukkan pengembalian saham yang tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Sedangkan di Indonesia, January effect berpengaruh secara signifikan dikarenakan perbedaan return yang
terjadi pada tahun tersebut. Menurut Rendra (2004) dan Aria dan Siti Rahmi (2012) January effect memang terjadi di pasar modal Indonesia, melihat dari perbedaan return bulan Januari dengan return di bulan Desember tahun sebelumnya.
1. Dampak Sebelum Hari Libur (Pre Holiday)
Pengaruh hari perdagangan saham terhadap return saham yaitu bahwa return saham dalam setiap harinya mengalami perubahan. Hal ini disebabkan adanyaperbedaan hasrat para investor individual dalam menjual atau membeli saham di hari-haritertentu atau aktivitas perdagangan berubah dari hari ke hari sehingga tingkatpenjualan dan pembelian juga akan mengalami perubahan di tiap-tiap harinya.Dengan adanya perubahan tingkat penjualan dan pembelian inilah harga saham akanmengalami kenaikan dan penurunan sekaligus akan mempengaruhi return saham.
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil bahwa aktivitas transaksiyang terjadi pada saat menjelang hari libur dan sesudah hari libur mengalami return yang tidak normal sehingga memunculkan istilah holiday effect. Menurut Ariel (1990) dalam Tangjiprom (2010) menjelaskan bahwa perdagangan saham sebelum hari libur terjadi return tidak normal sebagaimana mestinya pada perdagangan hari biasa.
Perolehan return sebelum hari libur menunjukkan perbedaan yang signifikan tinggi dibandingkan dengan perolehan return pada hari perdagangan lainnya. Lakonishok dan Smidt (1988) menemukan
bahwa rata-rata return saham sebelum hari libur lebih tinggi daripada rate return harian normal. Fields (1934) juga menemukan bahwa terdapat proporsi tertinggi pada pemilihan hari perdagangan saham sebelum hari libur. Meril (1966) juga menemukan bahwa frekuensi yang tidak proporsional pada keunggulan Dow Jones Industrial Average pada hari sebelum hari libur selama periode 1897 sampai dengan 1965. Lakonishok dan Smidt (1984) menemukan bahwa kenaikan harga berlaku pada semua perusahaan (dari besar sampai kecil) pada hari perdagangan terakhir sebelum natal. Coursey dan Dyl (1986) yang dalam penelitiannya menggunakan metode laborat eksperimen pasar, menyisipkan hari libur dan pola hasil harga.
Hasilnya konsisten dengan fakta bahwa harga saham pada hari sebelum hari libur perdagangan adalah signifikan lebih tinggi daripada hari lainnya. Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan menjadikan kurun waktu 10 (sepuluh) hari sebelum bulan Januari sebagai pre-holiday yang selanjutnya dalam penelitian ini disebut sebagai pre January.
2. Dampak Sesudah Hari Libur (Post Holiday)
Hamid dan Latifah (2012) menjelaskan bahwa efek pasca hari libur (post holiday effect) terjadi pada hari perdagangan setelah libur.
Pada hari perdagangan setelah libur return saham diperoleh negatif dan rendah dibandingkan dengan perolehan return pada hari pedagangan lainnya. Perolehan return saham yang negatif pada hari perdagangan setelah hari libur dan signifikan berbeda dibandingkan
dengan hari lain disebabkan oleh faktor informasi (buruk) yang sudah masuk dan diserap oleh pasar apabila pengumumannya dilakukan pada saat libur. Peningkatan aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh individual pada hari Senin dan terdapat kecenderungan bahwa individual investor cenderung untuk melakukan penjualan dibandingkan pembelian, hal ini merupakan salah satu faktor yang bisa menjelaskan terjadinya Weekend Effect (Christanto, 2009).
Akibat dari penjualan yang lebih besar daripada pembelian menyebabkan harga saham cenderung turun/rendah sehingga perolehan return pun akan menjadi rendah atau negatif.
2.1.9 Analisis Teknikal
Harga saham merupakan harga yang terbentuk di bursa saham dan umumnya harga saham itu diperoleh untuk menghitung nilai saham (Med Press Team Work, 1998). Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Batasan Eksternal:
1. Undang-undang Antitrust 2. Peraturan Lingkungan 3. Peraturan keamanan produk
dan tempat kerja 4. Peraturan praktik
ketenagakerjaan
5. Kebijakan federal reserve 6. Peraturan internasional 7. Dan seterusnya
Keputusan kebijakan strategis yang dikendalikan oleh manajemen :
1. Jenis produk dan jasa yang dihasilakan 2. Metode produksi yang
digunakan
3. Usaha penelitian dan pengembangan
4. Penggunaan pendanaan melalui utang secara relatif
5. Kebijakan dividen 6. Dan seterusnya
Sumber : Birgham dan Houston (2006:32)
Gambar 2.1
Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhi Harga Saham
Gambar 2.1 menunjukkan faktor internal yang mempengaruhi harga saham adalah keputusan deviden, struktur permodalan, risiko dan pertumbuhan laba. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi harga saham adalah peraturan yang ada, resesi ekonomi, sentimen pasar dan lain-lain.
Dalam pendekatan teknikal ini dinyatakan bahwa, investor adalah makhluk irasional. Bursa pada dasarnya adalah cerminan perilaku sekelompok masa (mass behaviour). Seorang individu yang tergabung ke dalam suatu massa, bukan hanya sekedar kehilangan rasionalitasnya tetapi sering kali melebur identitas pribadi ke dalam identitas kolektif. Harga saham sebagai komoditas perdagangan, tentu dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan yang merupakan manifestasi dari kondisi psikologi pemodal.
Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harganya di waktu yang lalu, volume perdagangan dan indeks harga saham gabungan. Perubahan harga saham cenderung bergerak pada satu arah tertentu (trend). Pola tertentu pada masa yang lampau akan terulang kembali pada masa yang akan datang.
Analisis teknikal lebih memperhatikan pada apa yang telah terjadi di pasar, daripada apa yang seharusnya terjadi. Para pelaku
pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan informasi tersebut untuk meraih keuntungan dari investasi mereka. Pada titik ekstrim seorang teknikalis tidak memerlukan informasi mengenai perusahaan. Sepanjang dia membeli pada saat harga rendah dan menjual pada saat harga tinggi maka akan memperoleh keuntungan, tidak peduli apakah saham yang dibeli dari perusahaan yang untung atau perusahaan yang menderita kerugian.
Keputusan analisis teknikal dalam menjual atau membeli saham didasari oleh data-data harga dan volume perdagangan saham di masa lalu. Informasi data masa lalu tersebut akan mendasari prediksi atas pola perilaku saham di masa akan datang.
Dengan mempelajari tentang perilaku pasar yang diterjemahkan ke dalam grafik riwayat harga dengan tujuan untuk memprediksi harga di masa yang akan datang maka para analis teknikal berpendapat kalau segala sesuatu yang terjadi di pasar baik itu kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya dan lain-lain itu sudah tercermin pada harga yang terbentuk dari transaksi antara permintaan (demand) dan penawaran (supply), selain itu harga juga selalu bergerak di dalam trend (naik, turun atau sideways) dan selalu berulang dari waktu ke waktu. Pada intinya analisa teknikal adalah studi harga dengan menggunakan grafik sebagai alat utama. Levy (1966) dalam Tandelilin (2001:248), mengemukakan beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut :
1. Nilai pasar barang dan jasa, ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran.
2. Interaksi permintaan dan penawaran ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor rasional maupun faktor tidak rasional. Faktor- faktor tersebut meliputi berbagai variabel ekonomi dan variabel fundamental serta faktor-faktor seperti opini yang beredar, mood investor dan ramalan-ramalan investor.
3. Harga-harga sekuritas secara individual dan nilai pasar secara keseluruhan cenderung bergerak mengikuti suatu trend selama jangka waktu relatif panjang. Trend perubahan harga dan nilai pasar dapat berubah karena perubahan hubungan permintaan dan penawaran. Hubungan-hubungan tersebut akan bisa dideteksi dengan melihat diagram reaksi pasar.
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi referensi peneliti yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini adalah:
Tabel 2.1 Penelitian terdahulu
No Nama
Peneliti, tahun penelitian
Judul variabel yang
digunakan
Kesimpulan
1 Jan Luhan , Veronica Obravo (2011)
January Effect at the Czech Capital Market
Variabel dependent:
abnormal return saham Variabel independent;
hari perdagangan
Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap return antara bulan Januari dengan bulan-bulan lainnya terutama pada tahun 2007 pada saat hari libur musim panas.
2.
3.
4.
Ayu Wulandari (20014)
Indah
Fitriyani dan
Maria M
(2012)
Aulia Rahma Yani (2012)
Aanalisis Fenomena January Effect pada saham LQ 45 yang listing di BEI periode 2009-2013
Analisis January effect pada kelompok saham indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (2009- 2011)
Pengaruh January Effect dan Size Effect Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007- 2012 (sektor Perbankan,
Properti dan
Infrastruktur).
Variabel dependent : abnormal return saham Variabel Independent:
bulan perdagangan.
Dengan menggunakan uji one way anova
Variabel : return saham, abnormal return, dan
tradingvolume activity (volume
perdagangan)Dengan menggunakan
Uji normalitas, uji homogenitas dan uji one way anova
Variabel : return saham dan harga saham
Terdapat perbedaan yang signifikan pada abnormal return saham bulan Januari dengan bulan selain Januari pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia selama periode Penelitian
terdapat perbedaan signifikan antara abnormal return bulan Januari dengan bulan selain Januari yang berarti January effect terjadi di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan pada trading volume activity tidak terdapat perbedaan signifikan antara trading volume activity antara bulan Januari dengan bulan selain Januari sehingga January effect tidak terjadi di Bursa Efek Indonesia. antara nilai AAR sebelum dan sesudah tanggal 1Januari, sehingga dapat disimpulkan bahwa anomali January Effect tidak terjadi.
tidak terdapat perbedaan nilai antara saham kapitalisasi kecil dengan saham kapitaliasi besar pada Bulan Januari, sehingga dapat disimpulkan bahwa anomali Size Effect tidak terjadi.
2.3 Kerangka Konseptual
Menurut As’adah (2009) salah satu anomali yang bertentangan dengan teori pasar efisien adalah January effect. January effect adalah suatu kondisi yang terjadi di pasar modal dimana pada bulan Januari cenderung rata-rata pengembalian return bulanannya lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
Perolehan return saham pada hari perdagangan sebelum libur (pre holiday effect) yang tinggi dan positif signifikan berbeda jika dibandingkan dengan perolehan rata-rata return saham hari perdagangan lainnya dikarenakan investor melakukan aksi profit taking untuk menghadapi liburan. Selain itu ada faktor psikologi investor yang mendorong untuk melakukan bid ask price atau pembelian harga saham yang ditawarkan penjual sehingga kegiatan transaksi saham meningkat. Di sisi lain, return saham yang rendah dan negatif terjadi pada transaksi perdagangan hari pertama sesudah hari libur dibandingkan dengan rata-rata return saham hari perdagangan lainnya. Hal ini lebih disebabkan karena kurang bergairahnya pasar modal maupun para investor dalam menanamkan modalnya pada hari perdagangan sesudah libur sehingga berdampak pada kinerja bursa yang rendah (Manurung, 2001). Penelitian lain yang dilakukan oleh Prasetyo (2006) mengungkapkan bahwa investor yang cenderung menjual saham daripada membeli saham mengakibatkan penawaran saham meningkat sehingga harga saham dan return saham mengalami penurunan.
Penelitian ini memiliki konsep untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari January Effect terhadap retun saham untuk perusahaan- perusahaan yang termasuk dalam LQ 45 dengan melihat preferensi perubahan return saham dengan waktu sebelumJanuary effect. Pada penelitian ini, penulis menggunakan pre januarydan post januarysebagai referensi dalam analisis regresi linier sederhana dengan menggunakan variabel ratio, yang akan menganalisis secara kuantitatif sejauhmana pengaruh harga jual saham periode sebelum bulan Januari (pre January) terhadap return saham pada 10 (sepuluh) hari pertama di bulan Januari,yang selanjutnya berdasarkan analisis tersebutakan dianalisis secara deskriptif apakah terjadi pola terhadap January Effect dan adanya perbedaan rata-rata abnormal return pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian kerangka konseptual penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.2.
kerangka Konseptual 2.4 Hipotesis
Hipotesis didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut diperkirakan
Harga Saham Post January (X2) Harga Saham Pre
January(X1)
Return saham (Y1)
January Effect
berdasarkan jaringan asosiasi yang ditetapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian (Sekaran, 2006).
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan, landasan teori, penelitian terdahulu, dan kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini, maka hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Harga saham10(sepuluh) hari sebelum bulan Januariberpengaruh signifikan terhadap return saham 10(sepuluh) haripertama bulan Januaripada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia;
2. January effect berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan LQ 45 pada Bursa Efek Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 JenisPenelitian
Jenispenelitian yang
digunakanpenulisadalahkausalkomperatif(Causal-Comparative
Research).Menurut Indriantoro (1999,27) penelitian kausal komparatif merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan
sebab akibat antara dua variabel atau
lebih.Penelitianinimerupakanstudiempiristentanghariperdagangandanreturns ahamharian yang masukdalamdaftarsaham LQ-45 di BursaEfek Indonesia periode 2012sampaidengan 2015.
3.2 TempatdanWaktuPenelitian
Penelitianinidilakukan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet denganmenggunakansituswww.idx.co.id.Penelitianinidilakukanpada periode tahun 20012 -2015.
3.3 BatasanOperasional
Agar pembahasan lebih terarah dan tidak terjadi kesalahan dalam pengertian dan untuk memperjelas dalam memecahkan permasalahan, maka batasan-batasan operasional pada penelitian ini adalah:
1. Objek dalam penelitian ini adalah harga saham dan return saham pada perusahaan yang tergabung dalam LQ 45 pada Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu Tahun 2012 sampai 2015.
2. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga rata-rata saham dan return rata-rata saham pada anomali kalender 10 (sepuluh) hari sebelum bulan Januari dan 10 (sepuluh) sesudah tanggal 1 pada bulan Januari.
3.4 DefenisiOperasional
Variabeldalampenelitianiniterdiriatasvariabelindependendanvariabelde penden, yaitu:
1. VariabelIndependen (X)
VariabelIndependen (X) adalahtipevariabel yang menjelaskanataumempengaruhivariabel yang lain.
Variabelindependendalampenelitianiniadalah : 1. Harga Saham Pre January (X1)
Perhitungan rata-rata harga saham dilakukan terhadap ke-40 perusahaan untuk masing-masing 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari libur tahun baru Januari selama 4 (empat) tahun kurun waktu penelitian, sehingga jumlah observasi penelitian menjadi 40 observasi.
2. Harga Saham Post Januari (X2)
Perhitungan rata-rata harga saham dilakukan terhadap ke-40 perusahaan untuk masing-masing 10 (sepuluh) hari kerja setelah hari libur tahun baru Januari selama 4 (empat) tahun kurun waktu penelitian, sehingga jumlah observasi penelitian menjadi 40 observasi.
2. VariabelDependen (Y)
Variabeldependendalampenelitianiniadalah
“returnsahamharian(Rt)”yaitureturnsaham10 (sepuluh) harikerjapertamadalambulanJanuari (Y1)
Return saham dapat dihitung berdasarkan data historis, dengan rumus:
Dimana:
Rt = Return saham
IHSIt = Closing price saham harian pada hari ke-t
IHSIt-1 = Closing price saham harian pada hari ke t-1
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
No
Variabel,
Defenisi Operasional, Skala
1 Harga saham pre january
Rata-rata harga saham sebelum hari libur tahun baru Harga saham post january
Rata-rata harga saham setelah hari libur tahun baru
Ratio
2 Return Saham (Y)
Tingkat pengembalian suatu investasi yang diukur sebagai total keuntungan atau kerugian yang diterima investor selama satu periode tertentu.
Rasio Rt = 𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡 −𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡−1
𝐼𝐻𝑆𝐼𝑡−1
𝑅𝑡 =𝑃𝑡− 𝑃𝑡−1 𝑃𝑡−1
3.5 PopulasidanSampelPenelitian
Populasidalampenelitianiniadalahperusahaan yang terdaftardalamIndeksSaham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.Teknikpengambilansampelmenggunakanmetodepurposive
sampling,dimanaadabatasankriteriadalampengambilansampel.Kriteriadalam pengambilansampel, yaitu:
1. Perusahaan sudah terdaftar atau listing di Bursa Efek Indonesia selama periode pengamatan
2. Perusahaanlisting yang tidakkeluarmasukselamasatutahun yang terdaftardalamIndeksSaham LQ-45 selamaJanuari 2014 sampaidenganDesember 2014.
Jumlahpopulasidalampenelitianiniadalahsebanyak 45
perusahaan.Jumlahperusahaan yang
memenuhikriteriauntukdijadikansampeladalahsebanyak 38perusahaan.Berikutinidaftarsampelpenelitianini:
Tabel 3.2
Daftarpopulasidansampelpenelitian
No Kode Nama Perusahaan
Kriteria
Sampel Sampel
1 2
1 AALI Astra Agro Lestari Tbk √ √ 1
3 ADRO Adaro Energy Tbk. √ √ 3
4 AKRA AKR CorporindoTbk. √ √ 4
5 ANTM Aneka Tambang (Persero) Tbk. √ × -
6 ASII Astra International Tbk. √ √ 5
7 ASRI AlamSutera Realty Tbk. √ √ 6
8 BBCA Bank Central Asia Tbk. √ √ 7
9 BBNI Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. √ √ 8
10 BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. √ √ 9
11 BBTN Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. √ × -
12 BDMN Bank Danamon Indonesia Tbk. √ √ 10
13 BHIT Bhakti Investama Tbk. √ × -
14 BKSL Sentul City Tbk. √ × -
15 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk. √ √ 11
16 BMTR Global Mediacom Tbk. √ √ 12
17 BSDE BumiSerpongDamaiTbk. √ √ 13
18 BUMI Bumi Resources Tbk. √ √ 14
19 BWPT BW Plantation Tbk. √ × 15
20 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk. √ √ 16
21 CTRA Ciputra Development Tbk. √ × -
22 EXCL XL AxiataTbk. √ √ 17
23 GGRM GudangGaramTbk. √ √ 18
24 HRUM Harum Energy Tbk. √ √ 19
25 ICBP Indofood CBP SuksesMakmurTbk. √ √ 20
26 IMAS Indomobil Sukses Internasional Tbk. √ × -
27 INCO Vale Indonesia Tbk. √ × -
28 INDF Indofood SuksesMakmurTbk. √ √ 21
29 INTP Indocement Tunggal Prakasa √ √ 22
30 ITMG Indo TambangrayaMegahTbk. √ √ 23
31 JSMR JasaMarga (Persero) Tbk. √ √ 24
32 KLBF Kalbe FarmaTbk. √ √ 25
33 LPKR LippoKarawaciTbk. √ √ 26
34 LPPF Matahari Department Store Tbk. √ √ 27
35 LSIP PP London Sumatera Indonesia Tbk. √ √ 28
36 MAIN Malindo Feedmill Tbk. √ × -
37 MAPI Mitra Adi Perkasa Tbk. √ × -
38 MLPL Multipolar Tbk. √ × -
39 MNCN Media Nusantara Citra Tbk. √ √ 30
40 PGAS Perusahaan Gas Negara Tbk. √ √ 31
41 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam(Persero) Tbk. √ √ 32
42 PTPP PP (Persero) Tbk. √ × -
43 PWON PakuwonJatiTbk. √ -
44 SCMA Surya Citra Media Tbk. √ × -
45 SMCB Holcim Indonesia Tbk. √ √ 33
46 SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk. √ √ 34
47 SMRA SummareconAgungTbk. √ × -
48 SSIA Surya Semesta Internusa Tbk. √ × -
49 TAXI Express TransindoUtamaTbk. √ × -
50 TBIG Tower Bersama Infrastructure Tbk. √ × -
51 TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk. √ √ 35
52 UNTR United Tractors Tbk. √ √ 36
53 UNVR Unilever Indonesia Tbk. √ √ 37
54 VIVA Visi Media Asia Tbk. √ × -
55 WIKA WijayaKarya (Persero) Tbk. √ × -
56 WSKT WaskitaKarya (Persero) Tbk √ √ 38
3.6 JenisdanSumber Data Penelitian
Data yang digunakandalampenelitianiniadalah data
sekunderyaitupengambilan data
tidaklangsungdarisumbernyamelainkandiperolehdaridokumen yang telahdikumpulkandandiolaholehpihak lain. Data yang digunakandalampenelitianiniadalah data saham LQ-45 periodeJanuari 2014
sampaidenganDesember 2014. Data yang
digunakandalampenelitianinidiperolehdarisitusresmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaituwww.idx.co.id, situswww.finance.yahoo.com, danwww.sahamok.com.
3.7 MetodePengumpulan Data Penelitian
Dalampenelitianini data yang
dikumpulkanmenggunakanmetodeStudiDokumentasiyaitumengambil data yang telahtersedia, sertamelaluistudipustakaberupaliteratur, jurnal,
penelitianterdahulu, danlaporan-laporan yang
dipublikasikanuntukmendapatgambaranmasalah yang akanditelitisertamelalui data sekunderberupalaporan-laporan yang dipublikasikanoleh Bursa Efek Indonesia.
3.8 TeknikAnalisis Data
Teknikanalisa data yang dilakukanadalahdenganmenganalisa data
secaralangsungdengancaramemahami data yang
ada.Analisajugadilakukandenganbantuankomputerdenganmenggunakan software SPSS 21.0 for windows.Analisis data yang digunakandalampenelitianiniadalahanalisisregresi linear berganda (Multiple Regression Analysis) danuntukmengujihipotesisdigunakananalisisvariansUji
(t) dan Uji (F).Metode yang
digunakanadalahmetodeanalisisdeskriptifdanmetodeanalisisstatistik.
Langkah-langkah yang dilakukanadalahsebagaiberikut:
1. Mengumpulkan data-data sahamperusahaan yang tetapterdaftardalam LQ-45 padaDesember 2012sampaiJanuari 2015.
2. Menghitungreturn sahamharian 10 hari sebelum libur tahun baru dan 10 hari setelah libur tahun baru.
3. Menghitungreturn saham rata-rata periode 2012 sampai periode 2015 4. Melakukanpengujianhipotesis
3.8.1 Uji Asumsi Klasik 1. UjiNormalitas
Ujinormalitasbertujuanuntukmengujiapakahdalamsebuah
model regresi,
variabelterikatdanvariabelbebasmempunyaidistribusi normal
atautidak.Teknikpengujian yang digunakandalampenelitianiniadalahujistatistik non-parametrik, Kolmogorov-Smirnov.
“Dasarpengambilankeputusandenganmenggunakan Kolmogorov- Smirnov adalahjikanilaiAsymp.sig>nilaisignifikansi (0,05) maka data disimpulkanberdistribusi normal” (Indrawati, 2015: 190).
2. Uji Multikolinearitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (variabel bebas). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. (Erlina, 2011:100)
Pengujian multikolinearitas dengan bantuan SPSS (Statistical Package for Social Science) dapat dilihat dari nilai variance inflation factor (VIF). VIF adalah suatu estemasi berapa besar multikolinearitas meningkatkan varian pada suatu koefisien estemasi sebuah variabel independen/ penjelas. Variabel independen mempunyai masalah multikolinearitas dengan variabel independen yang lain jika nilai VIF lebih besar dari 10.
Apabila terjadi multikolinearitas, maka variabel independen yang mengandung multikolinearitas harus dikeluarkan dari persamaan regresi.
3. Uji Heterokedasitas
Uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas (Erlina, 2011:105)
Untuk menguji kemungkinan terjadinya heteroskedastisitas dengan mendeteksi pola tertentu pada grafik scatterplot antara nilai yang telah diprediksi dengan kuadrat dari nilai resided (Y prediksi – Y sesungguhnya). Jika titik-titik grafik membentuk suatu pola tertentu (gelombang, melebar kemudian menyempit), maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik grafik tidak menunjukan pola yang jelas atau besifat acak, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Uji heterokedasitas dapat dilakukan dengan uji glejser. Uji glejser mengusulkan untuk meregres nilai absolut residual sebagai variabel dependen. Jika variabel independen secara signifikan mempengaruhi nilai absolut residual maka ada indikasi heterokedasitas, sebaliknya jika variabel independen tidak mempengaruhi nilai absolut independen maka tidak ada indikasi heterokedasitas
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu sama lain. (Erlina, 2011:106)
Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penggangu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Untuk mendiognosis adanya autokarelasi dalam suatu model regresi maka dilakukan pengujian Durbin-Watson (DW test).
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:
a. Bila nilai Durbin-Watson (DW) terletak antara batas atas atau Upper Bound (DU) dan 4 – DU, maka koefisien autokorelasi sama dengan 0, berarti tidak ada korelasi.
b. Bilai nilai DW lebih rendah dari batas bawah atau Lower Bound (DL), maka koefisien autokorelasi lebih besar dari 0, berarti ada korelasi positif.
c. Bila nilai DW lebih besar dari (4-DL), maka koefisien autokorelasi lebih kecil dari 0, berarti ada autokorelasi negatif.
d. Bila nilai DW terletak antara batas atas (DU) dan batas bawah (DL) atau DW terletak antara (4-DU) dan (4-DL), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.
3.8.2AnalisisRegresiLinearSederhana (regression analysis)
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier sederhana.
Secara umum model regresi sederhana dapat dirumuskan seperti persamaan berikut:
Keterangan :
Y1 = Return saham pada 10 hari pertama Januari
b0 = Konstanta
b1, b2 = Koefisien regresi variabel bebas
X1 = Harga saham 10 hari sebelum bulan Januari X2 = Harga saham 10 hari pertama di bulan Januari e = Error of term
3.8.3 Uji Hipotesis Penelitian
Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan tujuan memutuskan apakah menerima atau menolak hipotesis mengenai parameter populasi. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji F dan uji t serta uji koefisien determinan (R2).
1. Uji F (Uji Signifikansi Simultan)
Uji statistik F digunakan untuk menguji Hipotesis 3 yaitu apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model
regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen.
Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel. Apabila F hitung> F tabel, maka H1 diterima atau secara bersama-sama variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Sebaliknya apabila F hitung < F tabel , maka H1 tidak dapat diterima atau secara bersama-sama variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.Untuk mengetahui signifikan atau tidak pengaruh secara bersama-sama variabel independen terhadap variabel dependen maka digunakan probability sebesar 5% (α= 0,05), jika signifikan< 5% maka dinyatakan pengaruhnya signifikan, oleh karena itu kriterianya : a. Jika sig. > ά (0,05) dan F hitung < F tabel maka H1 tidak
dapat diterima
b. Jika sig. < ά (0,05) dan F hitung > F tabel maka H1 diterima dan signifikan
2. Uji t (Uji Signifikansi Parsial)
Uji t digunakan untuk menguji H1 dan H2 yaitu seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel dan signifikansi 5%.
Dasar pengambilan keputusan uji t adalah.
a. Jika sig. < ά (0,05) dan nilai t hitung > t tabel maka H1 diterima
b. Jika sig > ά (0,05) dan nilai t hitung < t tabel maka H1 tidak dapat diterima
3. Uji R2 (Koefisien Determinasi)
Untuk melihat kemampuan variabel indepe nden dalam menjelaskan variasi variabel dependen dapat dilihat memalui uji R2 . Nilai R2 terletak antara 0 sampai dengan 1 (0 ≤ R2 ≤ 1).
Semakin besar nilai R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut. Dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabel dependen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisis Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel terikat dan variabel bebas mempunyai distribusi normal atau tidak. Teknik pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik non-parametrik, Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan pengolahan data maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.1
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 30
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,01119126
Most Extreme Differences
Absolute ,137
Positive ,137
Negative -,122
Kolmogorov-Smirnov Z ,753
Asymp. Sig. (2-tailed) ,622
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan Tabel 4.2 diperoleh hasil yang menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,622 lebih besar dari nilai
alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Data yang terdistribusi secara normal tersebut juga dapat dilihat melalui grafik histogram dan grafik normal plot data berikut ini:
Gambar 4.1 Histogram
Grafik histogram di atas menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal. Hal ini dapat dilihat dari grafik histogram yang menunjukkan distribusi data mengikuti garis diagonal. Hal ini juga didukung dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik plot yang ditampilkan pada Gambar 4.2.