SKRIPSI
ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA PERIMBANGAN DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN
TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA MODAL STUDI KASUS PADA KABUPATEN/KOTA DI
PROVINSI SUMATERA UTARA PERIODE TAHUN 2009-2013
OLEH :
REDHA FAURIZA 130522041
PROGRAM STUDI STRATA-1 EKSTENSI DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2015
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM S-1 EKSTENSI
MEDAN
PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK
NAMA : REDHA FAURIZA
NIM : 130522041
PROGRAM STUDI : S-1 AKUNTANSI
JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA PERIMBANGAN DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA
MODAL STUDI KASUS PADA
KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI SUMATERA UTARA PERIODE TAHUN 2009 - 2013
Tanggal : ... Ketua Departemen Akuntansi
(Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak)
Tanggal : ... Dekan
(Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac.,Ak.,CA)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM S-1 EKSTENSI
MEDAN
PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI
NAMA : REDHA FAURIZA
NIM : 130522041
PROGRAM STUDI : S-1 AKUNTANSI
JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA PERIMBANGAN DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA MODAL STUDI KASUS PADA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI SUMATERA UTARA PERIODE TAHUN 2009 - 2013
Medan, 2015 Menyetujui
Pembimbing
(Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak )
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM S-1 EKSTENSI
MEDAN
Telah diuji pada
Tanggal 18 Agustus 2015
PANITIA PENGUJI SKRIPSI
Koordinator : Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak Anggota I : Drs. Hotmal Ja’far, M.M, Ak Anggota II : Iskandar Muda, SE, M.Si, Ak
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “ Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Studi Kasus Pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara Periode Tahun 2009 - 2013 ” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Medan, 18 Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,
NIM. 130522041 REDHA FAURIZA
ABSTRAK
ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA PERIMBANGAN DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN
TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA MODAL STUDI KASUS PADA KABUPATEN/KOTA DI
PROVINSI SUMATERA UTARA PERIODE TAHUN 2009 - 2013
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran secara parsial dan simultan terhadap pengalokasian Belanja Modalpada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 - 2013.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kausal dan bersifat replikasi terhadap penelitian terdahulu. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan diperoleh 22 Kabupaten/Kota sebagai sampel.
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporananggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang diperoleh dari situs Direktorat Jenderal perimbangan Keuangan ( www.djpk.depkeu.go.id). Pengujian data menggunakan analisis statistik yaitu analisis regresi linear berganda dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu: uji normalitas, multikolonieritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi, kemudian uji koefisien determinasi, dan pengujian hipotesis dengan uji T dan uji F, dengan menggunakan program SPSS.
Hasil penelitian membuktikan bahwa secara parsial Pendapatan Asli Daerah berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Modal. Dana Bagi Hasil berpengaruh signifikan negatif terhadap Belanja Modal. Dana Alokasi Umum berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Modal. Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Modal.
Sedangkan secara simultan Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh signifikan terhadap pengalokasian Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 - 2013.
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,871, artinya 87,1% variabel dependen (Belanja Modal) dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan sisanya sebesar 12,9% dapat dijelaskan oleh variabel yang tidak dimasukkan kedalam penelitian.
Kata kunci: Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran.
ABSTRACT
ANALYSIS THE INFLUENCE OF REGIONAL REVENUES (PAD), BALANCING FUNDS AND SURPLUS OF BUDGET FINANCING
ON ALLOCATION CAPITAL EXPENDITURE CASE STUDIES IN DISTRICTS/CITIES IN THE PROVINCE OF NORTH
SUMATERA YEAR PERIOD 2009 - 2013
This research aims to analyze the Influence of regional revenues, production sharing fund, general allocation fund, special allocation fund, and surplus of budget financing partially and simultaneously on allocation capital expenditure in districts/cities in the Province of North Sumatera year period 2009 - 2013.
This research is a kind of causal research and is a replication of the earlier research. The Population was 33 districts/cities in the Province of North Sumatera. The sample selection is done by purposive sampling method and obtained 22 districts/cities as samples. The data used in this research obtained income and expenditure budget (APBD) report from website of Directorate General of Fiscal Balance, Ministry of Finance Republic of Indonesia (www.djpk.depkeu.go.id).Testing statistical analysis of the data using multiple linear regression analysis to test the classical assumption first: test of normality, multicollinearity, heteroscedasticity, and auto correlation, then test the coefficient of determination and testing the hypothesis with T test and Ftest with a SPSS sofware program.
The result of the research showed that the partially regional revenues (PAD) have a positive significant influence on capital expenditure.Production sharing fund have a negative significant influence on capital expenditure. General allocation fund have a positive significant influence on capital expenditure.
Special allocation fund do not influence significant on capital expenditure, and surplus of budget financing have a positive significant influence on capital expenditure.
While the Simultaneous regional revenues, production sharing fund, general allocation fund, special allocation fund, and surplus of budget financing significant influence on allocation capital expenditure in districts/cities in the Province of North Sumatera year period 2009 - 2013.
Adjusted R Square value of 0,871,means that 87,1% dependent variable (capital expenditure) can be explained by independent variables are regional revenues, production sharing fund, general allocation fund, special allocation fund, and surplus of budget financing and the rest 12,9% can be explained by variables that are not included in this research.
Keywords: Capital Expenditure, Regional Revenue (PAD), Balancing Funds, Production Sharing Fund, General Allocation Fund, Special Allocation Fund, Surplus of Budget Financing.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil A’lamiin, penulis ucapkan atas kehadirat ALLAH SWT, atas segala berkat, rahmat, dan karunia yang telah dilimpahkan Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Studi Kasus Pada Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Utara Periode Tahun 2009 - 2013”.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Departemen Akuntansi Universitas Sumatera Utara. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dan kelemahan yang masih dijumpai, mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih atas segala dukungan, bimbingan, materi, dan do’a dari semua pihak yang telah membantu penulis dalam menjalani masa perkuliahan dan penyusunan skripsi ini, yaitu kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac, Ak, CA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, M.M, Ak selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dra. Mutia Ismail, M.M. Ak selaku Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak Selaku dosen pembimbing, Bapak Drs.
Hotmal Ja’far, M.M., Ak. selaku dosen penguji dan Bapak Iskandar Muda, S.E, M.Si, Ak. Selaku dosen pembanding.
5. Teristimewa penulis ucapkan kepada kedua orang tua tercinta, ayahanda Erman Eriyadi dan Ibunda Yarlifda yang telah memberikan kasih sayang, semangat, pengorbanan, serta do’a sehingga ananda dapat menyelesaikan perkuliahan dan meyelesaikan skripsi ini. Serta untuk kedua adik ananda Hilman Hawari dan Ahmad Rizky atas dukungan dan semangat buat penulis.
6. Sahabat – Sahabat yang telah mendukung dan membantu selama perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Medan, 18 Agustus 2015 Penulis,
Redha Fauriza NIM. 130522041
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis ... 10
2.1.1 Teori Belanja (Theory of Expenditure) ... 10
2.1.1.1 Rostow and Musgrev Theory ... 10
2.1.1.2 Adolf Wagner Theory ... 11
2.1.1.3 Peacock and Wiseman Theory.... ... 11
2.1.2 Klasifikasi Belanja ... 11
2.1.3 Belanja Modal (Capital Expenditure) ... 13
2.1.4 Pendapatan Asli daerah ... 16
2.1.4.1Pajak Daerah ... 17
2.1.4.2Retribusi Daerah ... 19
2.1.4.3Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yangDipisahkan ... 22
2.1.4.4Lain - Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah .... 22
2.1.5Dana Perimbangan ... 23
2.1.5.1 Dana Bagi Hasil ... 24
2.1.5.2 Dana Alokasi Umum ... 25
2.1.5.3 Dana Alokasi Khusus ... 26
2.1.6 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) ... 27
2.2 Penelitian Terdahulu ... 29
2.3 Kerangka Konseptual ... 35
2.3.1 Pengaruh Pendapatan asli Daerah Terhadap Belanja Modal ... 35
2.3.2 Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Belanja Modal ... 37
2.3.3 Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap
BelanjaModal ... 37
2.3.4 Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Modal ... 38
2.3.5 Pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Belanja Modal ... 39
2.4 Hipotesis Penelitian ... 40
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 42
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 42
3.3 Populasi dan Sampel ... 43
3.4 Jenis dan Sumber Data ... 46
3.5 Metode Pengumpulan Data ... 47
3.6 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 47
3.7 Metode Analisis Data ... 51
3.7.1 Pengujian Asumsi Klasik ... 51
3.7.1.1 Uji Normalitas ... 52
3.7.1.2 Uji Multikolinieritas ... 54
3.7.1.3 Uji Heteroskedastisitas ... 54
3.7.1.4 Uji Autokorelasi ... 55
3.7.2 Persamaan Regresi Linear Berganda ... 55
3.7.3 Koefisien Determinasi (R2) ... 57
3.7.4 Pengujian Hipotesis ... 58
3.7.4.1Pengujian Hipotesis Parsial (Uji Signifikan T).... 58
3.7.4.2Pengujian Hipotesis Simultan (UjiSignifikan F) . 59 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian ... 60
4.2 Hasil Penelitian ... 61
4.2.1 Statistik Deskriptif ... 61
4.2.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 64
4.2.2.1 Uji Normalitas ... 64
4.2.2.2 Uji Multikolinieritas ... 67
4.2.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 69
4.2.2.4 Uji Autokorelasi ... 71
4.2.3 Persamaan Regresi Linear Berganda... 72
4.2.4 Koefisien Determinasi (R2) ... 74
4.2.5 Pengujian Hipotesis ... 77
4.2.5.1 Pengujian Hipotesis Parsial (Uji Signifikan T)... 77
4.2.5.2 Pengujian Hipotesis Simultan (Uji Signifikan F) 80 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 81
4.3.1 Pengaruh Pendapatan asli Daerah Terhadap Belanja Modal ... ... 81
4.3.2 Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap BelanjaModal ... 82
4.3.3 Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Modal... ... 83
4.3.4 Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Modal.... ... 84
4.3.5 Pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Belanja Modal ... 85
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 88
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 91
5.3 Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 94
LAMPIRAN ... 98
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 31
3.1 Waktu Penelitian ... 43
3.2 Daftar Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara ... 44
3.3 Daftar Populasi dan Sampel Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara ... ... 45
3.4 Defenisi Operasional ... 50
4.1 Daftar Sampel Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara ... 60
4.2 Statistik Deskriptif Data Penelitian ... 62
4.3 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov (K-S) ... 67
4.4 Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa ... 68
4.5 Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb ... 72
4.6 Hasil Uji Regresi Linear Berganda Coefficientsa ... 73
4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi ( R2) Model Summaryb ... 75
4.8 Hubungan Antar Variabel ... 76
4.9 Hasil Uji Signifikan T Coefficientsa ... 77
4.10 Hasil Uji Signifikan F ANOVAb ... 80
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 40
4.1 Histogram Dependent Variable ... 65
4.2 Normal P-P Plot of Regression Standardized residual ... 66
4.3 Scatterplot Standardized Predicated Value . ... 70
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Halaman
1 Daftar Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi
Sumatera Utara... 98
2 Daftar Populasi dan Sampel Pemerintahan Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara ... 99
3 Rekap Data Laporan APBD Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara ... 100
4 Daftar Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 105
5 Daftar Penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) ... 106
6 Daftar Penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) ... 107
7 Daftar Penerimaan Dana Alokasi Khusus (DAK) ... 108
8 Daftar Penerimaan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)... 109
9 Daftar Penerimaan Belanja Modal ... 110
10 Statistik Deskriptif ... 111
11 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 112
12 ` Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 115
13 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 116
14 Hasil Uji Hipotesis ... 117
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak tahun 1999 pemerintah melakukan reformasi dibidang pemerintahan dan pengelolaan keuangan daerah ditandai dengan ditetapkannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang direvisi dengan Undang – Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang direvisi dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Pemerintah daerah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pemerintah pusat sehingga dengan demikian pembangunan daerah diupayakan sejalan dengan arah dan tujuan pembangunan nasional. Sistem pemerintahan di daerah dilaksanakan berdasarkan asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, dan asas pembantuan, demi menjamin terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, pelayanan masyarakat yang lebih baik, mempertinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, menjamin perkembangandan pembangunan daerah, serta terwujudnya keserasian hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Dalam hal pengelolaan keuangan daerah, Pemerintah daerah menetapkan tujuan dan sasaran kemudian membuat rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Pada sektor Pemerintahan, tujuannya bukanlah memaksimalkan laba tetapi lebih kepada public service. Pencapaian tujuan suatu
Pemerintah daerah membutuhkan peran semua anggota yang ada dalam Pemerintahan.Agar tujuan Pemerintah mudah dicapai, maka diperlukanlah suatu pedoman yang disebut dengan anggaran.
Anggaran Daerah adalah suatu rencana keuangan yang disusun sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Dokumen anggaran daerah disebut APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) baik untuk provinsi maupun kabupaten/kota. Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah baik dalam bentuk uang, barang, dan jasa pada tahun anggaran harus dianggarkan dalam APBD (Aprizay, et al, 2014). Menurut Erlina, et al (2012 : 33) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) adalah " rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan ditetapkan oleh Peraturan Daerah”.
Berdasarkan Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri dengan sedikit campur tangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah mempunyai hak dan kewenangan yang luas untuk menggunakan sumber – sumber keuangan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang berkembang di daerah. Setiap daerah dituntut untuk mampu mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki untuk membiayai seluruh belanja-belanja daerah berdasarkan azas kepatuhan, kebutuhan, dan juga kemampuan daerah seperti yang tercantum dalam anggaran daerah. Keberhasilan pemerintah daerah dapat dicerminkan dari peningkatan pelayanan dan
kesejahteraan masyarakat, keadilan, pemerataan, keadaan yang semakin maju, serta terdapat keserasian antara pusat dan daerah serta antar daerah.
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara PemerintahPusat dan Pemerintah Daerah, bahwa yang menjadi sumber - sumber pembiayaan untuk pembangunan daerah (capital investment) adalah pendapatan daerah dan pembiayaan. Pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan yang diterima oleh daerah - daerah dari pemerintah pusat, dan Lain – Lain Pendapatan. Selain itu, juga terdapat sumber lain yang berasal dari pembiayaan berupa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cadangan Daerah, dan Hasil Penjualan Kekayaan yang dipisahkan.
Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Tujuan dari pada Pendapatan Asli Daerah ini adalah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan Desentralisasi.
Kemampuan daerah untuk menyediakan pendanaan yang berasal dari daerah berupa pendapatan asli daerah sangat tergantung pada kemampuan merealisasikan potensi ekonomi menjadi bentuk – bentuk kegiatan ekonomi yang mampu menciptakan perguliran dana untuk pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan itu sendiri terdiri atas Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus.
Selain dari Pendapatan Asli daerah dan Dana Perimbangan, Pemerintahan Daerah juga dapat memanfaatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya.SiLPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Penerimaan Pembiayaan ini digunakan untuk menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil dari pada realisasi belanja, mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung, serta mendanai kewajiban lainnya yang sampai akhir tahun anggaran belum diselesaikan (Bastian 2006 : 109). Namun SiLPA yang besar juga dapat mengindikasikan ketidakmampuan daerah untuk mengelola dan mengalokasikan sumber–sumber pendapatan daerah terutama untuk belanja modal.
Kondisi pemerintahan kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara memanfaatkan transfer pemerintah pusat berupa dana perimbangan sebagai sumber pendapatan yang potensial untuk memberikan proporsi belanja modal yang lebih besar untuk pembangunan pada sektor-sektor yang produktif di daerah.Menurut Kuncoro (2004: 15), ketergantungan fiskal terlihat dari relatif rendahnya PAD dan dominannya transfer dari Pusat yaitu berupa dana perimbangan. Banyak pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang harus dilakukandi Sumatera Utara untuk membantu proses percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya daerah - daerah pelosok yang masih belum menikmati. Bantuan pemerintah pusat dan provinsi masih sangat diharapkan sebagai upaya untuk menutupi sebagian besar pengeluaran pemerintah daerah, selain mengembangkan dan mengoptimalkan potensi daerah yang dimiliki yaitu
berupa Pendapatan Asli Daerahdalam rangka meningkatkan kemandirian daerah dalam menjalankan pemerintahannya, Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber pendapatan dalam pembiayaan pembangunan perlu dikelola dengan baik.
Pendapatan Asli Daerah tidak akan berjalan tanpa dukungan dari berbagai pihak yaitu Koordinasi antar Satuan Kerja dan Perangkat Daerah terkait penerimaan Daerah, mengingat upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah bukan hanya menjadi tugas Dinas Pendapatan saja.
Upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik tersebut, Pemerintah Daerah wajib mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja modal dalam APBD untuk menambah aset tetap. Belanja Modal merupakan belanja Pemerintah Daerah yang manfaatnya melebihi 1 tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin dengan perencanaan keuangan jangka panjang seperti biaya pemeliharaan pada aset tetap yang dihasilkan dari belanja modal. Belanja modal digunakan untuk memperoleh aset tetap pemerintah daerah seperti peralatan, infrastruktur, dan harta tetap lainnya. Belanja modal memiliki karakteristik spesifik yang menunjukkan adanya berbagai pertimbangan dalam pengalokasiannya. Belanja modal yang dilakukan pemerintah daerah diantaranya pembangunan dan perbaikan sektor pendidikan, kesehatan, transportasi, sehingga masyarakat juga memiliki manfaat dari pembangunan daerah. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik untuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Selama ini belanja daerah lebih banyak digunakan untuk belanja rutin seperti belanja pegawai,
belanja barang, dan jasa. Sedangkan pengalokasian dana untuk pembangunan daerah sangat kecil dari total anggaran belanja daerah (Zega, 2014).
Dalam penelitian ini, peneliti tidak menggunakan belanja daerah keseluruhan sebagai variabel dependen tetapi lebih spesifik kepada belanja modal karena belanja modal merupakan bagian belanja langsung yang dialokasikan atau digunakan untuk membiayai kegiatan yang hasil, manfaat, dan dampaknya secara langsung dinikmati oleh masyarakat.Program-program pembangunan yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah tentunya dianggarkan dan dibelanjakan dalam rekening belanja modal.
Penelitian ini dilakukan karena adanya kekurangan dari hasil-hasil penelitian terdahulu. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Kusnandar dan Siswantoro (2012) yaitu Pengaruh Dana Alokasi Umum, Pendapatan Asli Daerah, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan Luas Wilayah Terhadap Belanja Modal menyatakan bahwa secara keseluruhan PAD, DAU, SiLPA dan luas wilayah berpengaruh terhadap alokasi belanja modal, sedangkan secara parsialDAU tidak berpengaruh terhadap alokasi belanja modal. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Arbie Gugus Wandira (2013) yaitu pengaruh PAD, DAU, DAK, DBH, terhadap pengalokasian belanja modal menyatakan bahwa PAD tidak berpengaruh yang signifikan terhadap belanja modal, DAU berpengaruh yang signifikan negatif terhadap belanja modal, sedangkan DAK dan DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal dan secara simultan berpengaruh terhadap belanja modal.
Namun penelitian yang dilakukan oleh Yudi Satrya Aprizay, et al (2014) yaitu Pengaruh Pendapatan Asli daerah, Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih
Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh menyatakan bahwa secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap alokasi belanja modal.
Penelitian ini merupakan replika dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yudi Satrya Aprizay, et al (2014) yaitu Pengaruh Pendapatan Asli daerah, Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh menyatakan bahwa secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap alokasi belanja belanja modal.
Beranjak dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yudi Satrya Aprizay, et al , penulis tertarik melakukan penelitian lanjutan dengan lokasi penelitian yang berbeda dan tahun penelitian yang berbeda pula. Penulis ingin mengetahui pengaruh dari variabel – variabel tersebut terhadap belanja modal dengan mengambil sampel pada pemerintahan kabupaten/kota di provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 – 2013.
Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan sebelumnya, maka saya selaku penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai: “ Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Studi Kasus Pada Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Utara Periode Tahun 2009 - 2013”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas dan untuk memudahkan dalam melakukan penelitian, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) secara parsial dan Simultan terhadap Pengalokasian Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 - 2013?
1.3 Tujuan Penelitian
Sebagaimana diketahui bahwa setiap penulisan permasalahan yang diteliti tentu memiliki tujuan. Adapun tujuan dari penelitian yang dilaksanakan penulis adalah : Untuk menganalisis pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) secara parsial dan simultan terhadap Pengalokasian Belanja Modal pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 - 2013.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti, untuk memperluas wawasan dan pengetahuanpenulis dalam bidang akuntansi sektor publik dalam menganalisa pengaruh
Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran terhadap Pengalokasian Belanja Modal.
2. Bagi Universitas Sumatera Utara, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber kepustakaan di bidang akuntansi sektor publik.
3. Bagi Pemerintah Daerah, penelitian ini sebagai pertimbangan dalam penyusunan anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pemanfaatan anggaran belanja modal.
4. Bagi Publik, dengan penelitian ini masyarakat mengetahui sumber pendanaan belanja modal dan mengetahui kontribusi dalam menunjang peningkatan alokasi belanja modal.
5. Bagi pihak lain, khususnya peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan literatur untuk pengembangan penelitian selanjutnya tentang sektor publik, khususnya untuk menganalisa tentang belanja modal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1Teori Belanja (Theory of Expenditure)
Belanja adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi saldo anggaran dalam periode tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. (Erlina et al (2012 : 168). Adapun teori mengenai belanja atau pengeluaran sebagai berikut:
2.1.1.1 Rostow and Musgrev Theory
Teori ini menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap - tahap pembangunan ekonomi yang dibedakan atas tahap awal, tahap menengah, dan tahap lanjut. Pada tahap awal terjadinya perkembangan ekonomi, persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar sebab pada tahap ini pemerintah harus menyediakan prasarana seperti: pembangunan dan perbaikansektor pendidikan, kesehatan, transportasi. Tahap menengah terjadinya pembangunan ekonomi, investasi pemerintah tetap diperlukan untukmeningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas. Pada tingkat lanjut, Rostow mengatakan bahwa pembangunan ekonomi, aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran - pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti
halnya program kesejahteraan hari tua, program pelayanan kesehatan masyarakat, dan sebagainya.
2.1.1.2 Adolf Wagner Theory
Teori ini menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah dan kegiatan pemerintah semakin lama semakin meningkat. Wagner menyatakan bahwa dalam suatu perekonomian apabila pendapatan meningkat maka secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat. Dengan bertumbuhnya perekonomian, peranan pemerintah menjadi semakin besar karena pemerintah harus mengatur hubungan yang timbul dalam masyarakat.
2.1.1.3 Peacock and Wiseman Theory
Teori ini didasarkan pada penerimaan pajak. Pemerintah selalu mengandalkan pengeluarannya dengan memperbesar penerimaan pajak.
Meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat.
2.1.2 Klasifikasi Belanja
Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah di ubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dan adanya perubahan kedua dengan Peraturan Pemerintah Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua, belanja dikelompokkan menjadi:
1. Belanja Langsung
Belanja langsung adalah belanja yang di anggarkan secara langsung dengan program dan kegiatan. Belanja langsung terdiri dari:
a. Belanja Pegawai adalah belanja kompensasi baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan perundang - undangan yang diberikan kepada pejabat negara, pegawai negeri sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atau pekerjaan yang telah dilaksanakan dimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan pembentukan modal.
b. Belanja Barang dan Jasa adalah pengeluaran anggaran untuk pengadaan barang dan jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah. Belanja barang dan jasa dapat berupa belanja barang pakai habis, bahan / material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak / penggandaan, sewa rumah / gedung / gudang / parkir, pakaian dinas dan atribut, perjalanan dinas pindah tugas, dan pemulangan pegawai.
c. Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap berwujud yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
2. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung adalah belanja yang di anggarkan tidak secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja tidak langsung meliputi:
a. Belanja Pegawai adalah belanja kompensasi baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan perundang - undangan yang diberikan kepada pejabat negara, pegawai negeri sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atau pekerjaan yang telah dilaksanakan dimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan pembentukan modal.
b. Belanja Bunga adalah anggaran pembayaran bunga hutang yang dihitung atas kewajiban pokok hutang berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
c. Belanja Subsidi adalah anggaran bantuan biaya produksi kepada perusahaan atau lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.
d. Belanja Hibah adalah anggaran pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat dan perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukkannya.
e. Belanja Bantuan Sosial adalah anggaran pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
f. Belanja Bagi Hasil kepada provinsi / kabupaten / kota, dan pemerintahan desa adalah anggaran yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota, atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
2.1.3 Belanja Modal (Capital Expenditure)
Capital expenditure atau disebut juga dengan belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap berwujud yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Dewanto (2009) menyatakan Capital expenditure dalam defenisi sebagai berikut:
“ Capital Expenditure is an expenditure long – lived assets, also referred to as fixed assets or non-current physical assets”.
Felix (2012) juga menyatakan bahwa “ The capital budget is largely concerned with the creation of long-term assets”.
Dari deskripsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Capital Expenditure berkaitan dengan dua unsur:
1. Expenditure atau pengeluaran
2. long lived assets atau long-term assets, yaitu aset yang memiliki masa ekonomis yang panjang.
Nilai aset tetap dalam belanja modal yaitu sebesar harga beli / bangun aset ditambah seluruh belanja yang terkait dengan pengadaan / pembangunan
aset sampai aset tersebut digunakan. Suatu belanja dapat dikategorikan sebagai belanja modal jika :
1. Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang demikian menambah aset pemerintah.
2. Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dan 3. Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual.
Syaiful (2006) Belanja modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap / inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi termasuk didalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan / menambah masa manfaat meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.
Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, anggaran belanja modal sangat berkaitan dengan perencanaan keuangan jangka panjang, terutama pembiayaan untuk pemeliharaan aset tetap yang dihasilkan dari belanja modal tersebut. Belanja modal tidak lepas dari Konsep Medium Term Expenditure Framework (MTEF), dimana MTEF adalah kebijakan belanja modal harus memperhatikan manfaat dan kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam pengelolaan aset tersebut dalam jangka panjang.
Berdasarkan Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 53 Ayat 1 :
Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian
/ pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat dari 12 (dua belas bulan ) untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.
Berdasarkan keputusan Menteri dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002, belanja modal dibagi menjadi :
1. Belanja publik, yaitu belanja yang manfaatnya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat umum.
2. Belanja aparatur, yaitu belanja yang manfaatnya tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakat umum, tetapi dirasakan secara langsung oleh aparatur.
Menurut Syaiful (2006) Belanja modal dikategorikan dalam 5 (lima ) kategori utama yaitu:
1. Belanja modal tanah, yaitu pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan / pembelian / pembebasan penyelesaian balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurungan, perataan, pemantangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
2. Belanja modal peralatan dan mesin, yaitu pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan / penambahan/ penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
3. Belanja modal gedung dan bangunan, yaitu pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan / penambahan / penggantian, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan, dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
4. Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan, yaitu pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan / penambahan / penggantian / peningkatan pembangunan / pembuatan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan, dan pengelolaan jalan irigasi dan jarigan yang menambah kapasitas sampai jalan dan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
5. Belanja modal fisik lainnya, yaitu pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan / penambahan / penggantian / peningkatan pembangunan / pembuatan serta perawatan terhadap fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam kriteria
belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan, termasuk dalam belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli, pembelian barang – barang kesenian, barang purbakala, dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, serta buku – buku dan jurnal ilmiah.
2.1.4 Pendapatan Asli Daerah
Menurut Kusnandar Siswantoro (2012) “Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber penerimaan daerah yang harus terus menerus dipacu pertumbuhannya. Pendapatan Asli Daerah bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensiDaerah sebagai perwujudan desentralisasi”.
Menurut Undang - Undang Nomor 33 Tahun 2004 Pendapatan Asli Daerah adalah “ Pendapatan daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang – undangan”.
Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber penerimaan daerah yang perlu ditingkatkan agar dapat menanggung sebagian beban belanja yang diperlukan untuk penyelenggaraan pemerintah dan kegiatan pembangunan yang setiap tahun meningkat sehingga kemandirian otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab dapat dilaksanakan.
Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 klasifikasi pendapatan asli daerah adalah sebagai berikut:
Pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain lain pendapatan asli daerah yang sah.
Jenis pajak daerah dan distribusi daerah dirinci menurut obyek pendapatan sesuai dengan undang - undang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Jenis pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah /
BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah / BUMN, dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. Jenis lain - lain pendapatan asli daerah yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam pajak daerah, Retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa, giro, pendapatan bunga, penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah, penerimaan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan / atau pengadaan barang dan / atau jasa oleh daerah. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata asing, pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, pendapatan denda pajak, pendapatan denda distribusi, pendapatan hasil eksekusi atas jaminan, pendapatan dari pengembalian, fasilitas sosial, dan fasilitas umum, pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pendapatan dari angsuran / cicilan penjualan.
Namun diantara semua komponen Pendapatan Asli Daerah, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan penyumbang terbesar, sehingga muncul anggapan bahwa Pendapatan Asli Daerah identik dengan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
2.1.4.1 Pajak Daerah
Berdasarkan Undang – Undang Nomor 34 tahun 2000 tentang perubahan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak daerah dan Retribusi daerah, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah “ Iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepala daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan perundang – undangan yang berlaku, yang digunakan untuk pembiayaan pemerintah daerah dan pembangunan
daerah. Aturan pelaksanaan tentang pajak daerah diatur dalam peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001”.
Rolf dan Break dalam bukunya “ Public Finance” menyatakan bahwa pajak adalah peralihan yang bersifat paksaan dari kekayaan pribadi individu dan golongan - golongan masyarakat kepada pemerintah, dimana wajib pajak tidak memperoleh penggantian kebendaan dari padanya.
Seperti halnya pajak pada umumnya, pajak daerah mempunyai peranan yaitu :
1. Sebagai sumber pendapatan daerah (budgetary), sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran – pengeluarannya.
2. Sebagai alat pengukur / pengatur (Regulatory), sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak, Pajak yang dipungut pemerintah provinsi berbeda dengan pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota.
Jenis Pajak yang dikelola atau dipungut oleh pemerintah Provinsi adalah sebagai berikut:
1. Pajak kendaraan bermotor 2. Pajak kendaraan di atas air
3. Bea balik nama kendaraan bermotor
4. Bea balik nama kendaraan di atas air 5. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
6. Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan.
Jenis Pajak yang dikelola atau dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota adalah sebagai berikut :
1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian C 7. Pajak Parkir
2.1.4.2 Retribusi Daerah
Di samping Pajak daerah, sumber Pendapatan Asli Daerah yang cukup besar peranannya dalam menyumbang terbentuknya Pendapatan Asli Daerah adalah Retribusi daerah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi daerah. Retribusi daerah adalah “ Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan / atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi / badan”.
Jenis retribusi dikelompokkan dalam retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu.
1. Retribusi jasa umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemda untuk tujuan kepentingan dan pemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
Jenis – jenis retribusi umum adalah : a. Retribusi pelayanan kesehatan.
b. Retribusi pelayanan kebersihan.
c. Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akte catatan sipil.
d. Retribusi pelayanan pemakaman.
e. Retribusi pelayanan parkir.
f. Retribusi pelayanan pasar.
g. Retribusi pengujian kendaraan bermotor.
h. Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran.
i. Retribusi penggantian biaya cetak peta.
j. Retribusi pengujian kapal perikanan.
2. Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemda dengan menganut prinsip komersial, karena pada dasarnya jasa tersebut dapat disediakan oleh swasta, dengan menggunakan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Jenis – jenis retribusi jasa usaha adalah:
a. Retribusi pemakaian kekayaan daerah.
b. Retribusi pasar grosir dan / atau pertokoan.
c. Retribusi tempat pelelangan.
d. Retribusi terminal.
e. Retribusi tempat usaha parkir.
f. Retribusi tempat penginapan.
g. Retribusi rumah potong hewan.
h. Retribusi tempat rekreasi dan olah raga i. Retribusi penyedotan kakus.
j. Retribusi penyeberangan diatas air.
k. Retribusi pengolahan limbah cair
l. Retribusi penjualan produksi usaha daerah.
3. Retribusi perizinan tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan sumber daya alam, prasarana, guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Jenis - Jenis Retribusi perizinan tertentu adalah:
a. Retribusi izin mendirikan bangunan.
b. Retribusi izin tempat penjualan minuman berakohol c. Retribusi izin gangguan.
d. Retribusi izin trayek.
2.1.4.3Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Menurut Ismail dan Rahim ( 2009 : 37 ) pendapatan ini meliputi:
“ Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah / BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah / BUMN, dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat”.
2.1.4.4 Lain - Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Menurut Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 25 Ayat 4 menjelaskan bahwa, “ Lain - lain pendapatan Asli Daerah yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan”.
Menurut Halim (2004 : 69), jenis pendapatan ini meliputi:
1. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan 2. Penerimaan jasa giro
3. Penerimaan bunga deposito
4. Denda keterlambatan Pelaksanaan pekerjaan
5. Penerimaan ganti rugi atas kerugian / kekayaan daerah.
2.1.5 Dana Perimbangan
Halim ( 2002 : 65 ) menyebutkan bahwa “ Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah”.
Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah.
Berdasarkan Pasal 10 Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyatakan dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana bagi hasil dirinci menurut obyek pendapatan mencakup bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak. Dana alokasi umum hanya terdiri dari obyek pendapatan dana alokasi umum, sedangkan dana alokasi khusus dirinci menurut obyek pendapatan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Pemerintah memberikan sumber - sumber pembiayaan yang memadai melalui dana perimbangan, agar daerah mampu melaksanakan kewenangannya secara optimal.
Dana perimbangan yang terdiri dari 3 jenis sumber dana , merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena masing – masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan saling melengkapi.
2.1.5.1 Dana Bagi Hasil
Menurut Ismail dan Rahim (2009 : 38) Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil.
Dalam penjelasannya dana bagi hasil pada APBN merupakan pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber daya nasional yang berada di daerah berupa pajak dan sumber daya alam.
1. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri dari pajak bumi dan bangunan (PBB), Bea perolehan Hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), serta pajak penghasilan (PPh), baik dari WP pribadi maupun dari PPh 21.
2. Dana bagi hasil sumber daya alam berasal dari enam sektor yaitu: kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, serta pertambangan panas bumi. Pemerintah menetapkan alokasi DBH dari sumber daya alam sesuai dengan penetapan dasar perhitungan daerah penghasil. Nordiawan, et. al ( 2007 : 49).
Dana bagi hasil diberikan Pemerintah Pusat untuk mengatasi masalah vertical fiscal balance yaitu untuk menjamin keseimbangan antara kebutuhan fiskal dengan sumber-sumber fiskal pada berbagai tingkat pemerintah.
2.1.5.2 Dana Alokasi Umum
Dana alokasi umum ( DAU ) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi yang bertujuan untuk pemerataan dan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah. Ismail dan Rahim (2009 : 39).
DAU tersebut dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota.
Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan dalam APBN dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang – kurangnya 26 % dari pendapatan dalam negeri neto.
2. Proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten / kota.
3. Jika penentuan proporsi tersebut belum dapat dihitung secara kuantitatif, proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/
kota ditetapkan dengan imbangan 10% dan 90%.
Kusnandar dan Siswantoro (2012) menyatakan bahwa DAU bersifat “Block Grant” yang berarti penggunaanya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka otonomi daerah.
DAU suatu daerah ditentukan besar kecilnya fiskal (Fiscal gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (Fiscal need) dan potensi daerah ( fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar.
Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum antara lain kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pengentasan kemiskinan.
2.1.5.3 Dana Alokasi Khusus
Menurut Nordiawan, et. al ( 2007 : 59 ) “ Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan ke daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional ”. Daerah tertentu adalah daerah yang dapat memperoleh alokasi DAK berdasarkan kriteria umum, khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum, berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan APBD. Kriteria khusus, berdasarkan peraturan perundang - undangan dan karakteristik daerah, Kriteria teknis, berdasarkan ditetapkan oleh kementerian negara / menteri teknis terkait.
Menurut Sianipar (2011) Adapun kebijakan DAK secara spesifik, yaitu:
1. Diprioritaskan untuk membantu daerah - daerah dengan kemampuan keuangan dibawah rata - rata nasional, dalam rangka mendanaikegiatan penyediaan sarana dan prasarana fisikpelayanan dasar masyarakat yang telah merupakan urusan daerah.
2. Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana didaerah pesisir dan pulau – pulau kecil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah tertinggal / terpencil, daerah rawan banjir / longsor, serta termasuk kategori daerah ketahanan pangan dan daerah pariwisata.
3. Mendorong peningkatan produktivitas kesempatan kerja dan diversifikasi ekonomi terutama dipedesaan, melalui kegiatan khusus dibidang pertanian, kelautan, dan perikanan, serta infrastruktur.
4. Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus dibidang pendidikan, kesehatan, dan infranstruktur.
5. Menjaga dan meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah kerusakan lingkungan hidup, dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus dibidang lingkungan hidup, mempercepat penyediaan, serta meningkatkan kecakupan dan kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus dibidang infrastruktur.
6. Mendukung prasarana didaerah yang terkena dampak pemekaran pemerintah kabupaten, kota, provinsi, melalui kegiatan khusus dibidang pemerintah.
7. Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran Kementerian / Lembaga dan kegiatan yang didanai dari APBD.
8. Mengalihkan secara bertahap dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang digunakan untuk mendanai kegiatan – kegiatan yang telah menjadi urusan daerah ke DAK. Dana yang dialihkan berasal dari anggaran Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pendidikan Nasional, dan Departemen Kesehatan.
2.1.6 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) menurut Abdullah (2013)
“merupakan penerimaan daerah yang bersumber dari sisa kas tahun anggaran sebelumnya”. Sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2006.
SiLPA tahun sebelumnya merupakan penerimaan pembiayaan yang digunakan untuk menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil daripada realisasi belanja, mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung dan mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan.
SiLPA tahun anggaran sebelumnya mencakup pelampauan penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana perimbangan, pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah, pelampauan penerimaan pembiayaan, penghematan belanja, kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan, dan sisa dana kegiatan lanjutan.
SiLPA merupakan salah satu sumber pembiayaan yang digunakan untuk menutup defisit APBD akibat dari usaha peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat sesuai penjelasan dalam PMK No.45/PMK.02/2006.
Jika SiLPA daerah cukup besar dan diperkirakan mampu membiayai seluruh belanja modal daerah maka untuk penyediaan sarana dan prasarana untuk meningkatkan pelayanan publik tidak harus menunggu bantuan dana transfer dari Pemerintah Pusat. Dana Transfer dapat dialokasikan untuk belanja operasional dan belanja tak terduga daerah. Di samping itu jumlah SiLPA suatu daerah dapat juga mengindikasikan sejauh mana Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran daerah secara efisien dan ekonomis dalam setiap anggaran belanja daerah. Namun kelebihan SiLPA yang cukup besar dapat mengindikasikan bahwa Pemerintah tidak tepat dalam menganggarkan
anggaran belanja daerah sehingga seharusnya kelebihan penganggaran tersebut dapat digunakan untuk membiayai beberapa kegiatan belanja modal yang berguna untuk penyediaan pelayanan publik pada tahun berjalan menjadi tertunda.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini adalah Jean-Faguet (2005) dalam penelitiannya yang berjudul The Effects of Decentralisation on Public Investment: Evidence and Four Lessons From Bolivia and Colombia, menggunakan variabel desentralisasi sebagai variabel independen dan investasi publik sebagai variabel dependen. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa di Bolivia, desentralisasi membuat pemerintah menjadi lebih tanggap dan mengarahkan investasi publik pada daerah-daerah dengan kebutuhan besar, sedangkan di Columbia, desentralisasi berdampak signifikan terhadap investasi kota, sedangkan biaya operasional kota berkurang.
Muda, et al ( 2014 ) dalam penelitiannya The Effect Of Fiscal Potential, Fiscal Needs And Internal Control On The Provincial IntergovernmentalTransfer Allocation In The Districts / Cities In North Sumatera -Indonesiamenyatakan bahwa secara parsial total populasi, total PAD dan total PDB berpengaruh terhadap alokasi transfer antar pemerintah Provinsi, secara simultan variabel potensi fiskal, PAD, DAU, DAK, dan DBH berpengaruh terhadap alokasi transfer antar pemerintah provinsi, dan PAD, DAU, dan DBH berfungsi sebagai variabel intervening untuk alokasi transfer antar pemerintah Provinsi, sedangkan DAK
tidak berfungsi sebagai variabel Intervening dan variabel GDP sebagai Variabel moderasi.
Felix (2012) dalam penelitiannya Analysis of the effectiveness of capital expenditure budgeting in the local government system of Ondo State, Nigeria, menggunakan variabel efektifitas belanja modal sebagai variabel independen dan pemerintahan sebagai variabel dependen. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa di Nigeria, adanya keefektifitas belanja modal terhadap pemerintahan dengan mengalokasikan belanja modal ke proyek – proyek Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, Pembangunan, Sosial dan budaya.
Wandira (2013) dalam penelitiannya pengaruh PAD, DAU, DAK, DBH, terhadap pengalokasian belanja modal menyatakan bahwa PAD tidak berpengaruh yang signifikan terhadap belanja modal, DAU berpengaruh yang signifikan negatif terhadap belanja modal, sedangkan DAK dan DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal dan secara simultan berpengaruh terhadap belanja modal.
Sumarmi (2014) dalam penelitiannya, dengan judul Pengaruh PAD, DAU, dan DAKterhadap alokasibelanjamodalmenyatakan bahwa PAD dan DAK berpengaruh positif pada belanja modal, DAU berpengaruh negatif pada belanja modal, secara silmultan berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.
Kusnandar dan Siswantoro (2012) dalam penelitiannya, dengan judul Pengaruh Dana Alokasi Umum, Pendapatan Asli Daerah, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan Luas Wilayah Terhadap Belanja Modal menyatakan bahwa secara keseluruhan PAD, DAU, SiLPA dan luas wilayah berpengaruh terhadap alokasi
belanja modal, sedangkan secara parsialDAU tidak berpengaruh terhadap alokasi belanja modal.
Sianipar (2011) dalam penelitiannya, dengan judul Analisis pengaruh pendapatan asli daerah (PAD), Dana Perimbangan terhadap Pengalokasian Belanja Modal menyatakan bahwa Secara Parsial PAD DAU DAK berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.sedangkan DBH pajak dan DBH sumber daya alam tidak berpengaruh terhadap belanja modal. Secara simultan PAD, DAU, DAK, DBH pajak dan DBH sumber daya alam berpengaruh terhadap belanja modal.
Aprizay, et al (2014) dalam penelitiannya, dengan judul Pengaruh Pendapatan Asli daerah, Dana Perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Pengalokasian Belanja Modal Pada Kabupaten / Kota di Provinsi Aceh menyatakan bahwa secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap alokasi belanja modal.
Secara ringkas tinjauan atas penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini:
Tabel 2.1
Tinjauan Penelitian Terdahulu No. Nama
Peneliti / dan tahun
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
1. Jean-Faguet (2005)
The Effects of Decentralisati
on on Public Investment:
Evidence and Four Lessons From Bolivia and Colombia
Variabel Independen:
Desentralisasi
Di Bolivia, desentralisasi
membuat pemerintah menjadi lebih
tanggap dan mengarahkan
investasi publik pada daerah-daerah
Variabel Dependen:
Investasi Publik.
dengan kebutuhan besar.
Di Colombia, desentralisasi berdampak
signifikan terhadap investasi kota, sedangkan biaya operasional kota menurun
2. Muda et al (2014)
The Effect Of Fiscal
Potential, Fiscal Needs And Internal Control On The Provincial Intergovernme ntalTransfer Allocation In The Districts / Cities In North Sumatera – Indonesia.
Variabel Independen:
Potensi Fiskal Kebutuhan Fiskal
Pengendalian internal, peningkatan:
PAD, DAU,DAK, DBH Kinerja Ekonomi:
peningkatan PDB, penurunan Kemiskinan, pengangguran, dan
pembangunan manusia.
Variabel Dependen:
Dana transfer.
Secara parsial total populasi, total PAD dan total PDB berpengaruh terhadap alokasi transfer antar
pemerintah Provinsi.
secara simultan potensi fiskal, kebutuhan fiskal, PAD, DAU, DAK, DBH , dan kinerja ekonomi
berpengaruh terhadap alokasi transfer antar
pemerintah provinsi, dan PAD, DAU, dan DBH berfungsi sebagai variabel intervening untuk alokasi transfer antar pemerintah Provinsi, sedangkan DAK tidak berfungsi sebagai variabel Intervening. Dan GDP sebagai
variabel moderating.
3. Felix, Olurankinse
(2012)
Analysis of the effectiveness of capital
expenditure budgeting in the local government system of Ondo State, Nigeria
Variabel Independen:
efektifitas belanja modal
Variabel Dependen:
Pemerintahan
Di Nigeria, adanya keefektifitas belanja modal terhadap pemerintahan dengan
mengalokasikan belanja modal ke proyek – proyek Pendidikan , Kesehatan , Pertanian dan
Pembangunan Sosial dan budaya.
4. Arbie Gugus Wandira
(2013)
Pengaruh PAD, DAU, DAK, DBH, terhadap pengalokasian belanja modal
Variabel Indenpenden:
PAD DAU DAK DBH
Variabel Dependen:
Belanja Modal
Bahwa PAD tidak berpengaruh yang signifikan terhadap belanja modal, DAU berpengaruh yang signifikan negatif terhadap belanja modal, sedangkan DAK dan DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal dan secara simultan berpengaruh terhadap belanja modal.
5. Saptaningsih Sumarmi
(2014)
Pengaruh PAD, DAU, dan DAK terhadap belanja modal kabupaten / kota provinsi Yogyakarta.
Variabel Independen:
PAD DAU DAK
Variabel Dependen:
Belanja Modal
PAD dan DAK berpengaruh positif pada belanja modal, DAU berpengaruh negatif pada belanja modal secara silmultan berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.
6. Kusnandar dan Siswantoro
(2012)
Pengaruh Dana Alokasi
Umum, Pendapatan Asli Daerah, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan Luas Wilayah Terhadap Belanja Modal ( Penelitian Kabupaten / Kota Se Indonesia).
Variabel Indenpenden:
DAU PAD SiLPA Luas Daerah
Variabel Dependen:
Belanja Modal
Secara simultan PAD, DAU, SiLPA dan luas wilayah berpengaruh terhadap alokasi belanja modal, sedangkan secara parsial hanya DAU yang tidak
berpengaruh terhadap alokasi belanja modal.
7. Eva Septriani Sianipar
(2011)
Analisis pengaruh pendapatan asli daerah (PAD), Dana Perimbangan terhadap Pengalokasian Belanja Modal Pada
Kabupaten / Kota di Sumatera Utara.
Variabel Independen:
PAD Dana
Perimbangan:
DAU DAK DBH Pajak DBH Sumber daya alam
Variabel Dependen:
Belanja Modal
Secara Parsial PAD DAU DAK
berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. DBH pajak dan DBH sumber daya alam tidak berpengaruh terhadap belanja modal. Secara simultan PAD, DAU, DAK, DBH pajak dan DBH sumber daya alam berpengaruh terhadap belanja modal.
8. Yudi Satrya Aprizay, Darwanis, dan M. Arfan
(2014)
Pengaruh Pendapatan asli
daerah,Dana perimbangan, dan Sisa Lebih Pembiayaan anggaran terhadap pengalokasian belanja modal pada
kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Tahun 2010 – 2012
Variabel Independen:
Pendapatan
Asli Daerah (PAD)
Dana
Perimbangan SiLPA
Variabel Dependen:
Belanja Modal
Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran secara bersama-sama berpengaruh terhadap belanja modal pada kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
Sumber: Peneliti, 2015
2.3 Kerangka Konseptual
Menurut Erlina ( 2011 : 33 ), “ Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan teori dengan faktor – faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu”. Kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis antara variabel – variabel penelitian, yaitu antara variabel bebas dan variabel terikat. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pendapatan asli daerah, dana bagi hasil, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan sisa lebih pembiayaan anggaran sedangkan variabel terikatnya adalah belanja modal. Kerangka konseptual perlu dikemukakan apabila penelitian menghubungkan dua variabel atau lebih.
2.3.1 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Modal
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal mengharapkan pemerintah daerah memiliki kemandirian yang lebih besar dalam keuangan daerah. Oleh