• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan buku suplemen muatan pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 Sekolah Dasar Negeri Boto.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan buku suplemen muatan pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 Sekolah Dasar Negeri Boto."

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

Suryani, Septyani. Dwi. (2016). Pengembangan Buku Suplemen Muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk Siswa Kelas II Semester 2 SD Negeri Boto. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan yang perlu dikuasai dengan baik, karena keterampilan membaca dan menulis merupakan dasar utama seseorang untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dalam bidang studi yang diajarkan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berupa buku suplemen muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 yang terkait dengan keterampilan membaca dan menulis.

Penelitian pengembangan ini menggunakan prosedur pengembangan yang menggabungkan model Borg and Gall dan langkah pengembangan perangkat pembelajaran Dick & Carey. Ada tujuh langkah dalam penelitian pengembangan ini yaitu (1) potensi dan masalah (2) pengumpulan data (3) desain produk (4) validasi produk (5) revisi desain (6) uji coba produk secara terbatas (7) revisi produk berdasarkan uji coba terbatas. Instrumen dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara dan kuesioner. Wawancara digunakan untuk analisis kebutuhan kepada guru kelas II SD Negeri Boto, sedangkan kuesioner digunakan untuk validasi kualitas dan kelayakan buku suplemen oleh ahli Bahasa Indonesia, dua guru kelas II SD, dan 6 siswa kelas II SD.

Berdasarkan hasil validasi dari ahli Bahasa Indonesia 1 diperoleh skor 4,2 dengan kategori baik, pakar bahasa Indonesia 2 diperoleh skor 4,1 dengan kategori baik, guru kelas II SD 1 diperoleh skor 4,34 dengan kategori sangat baik, guru kelas II SD 2 diperoleh skor 4,44 dengan kategori sangat baik, dan enam siswa kelas II SD diperoleh skor 4,25 dengan kategori sangat baik. Rerata skor yang diperoleh dari keseluruhan validasi adalah 4,26 dengan kategori sangat baik. Hal tersebut ditinjau dari (1) tujuan dan pendekatan, (2) desain dan pengorganisasian, (3) isi kebahasaan, (4) keterampilan, dan (5) metodologi. Dengan demikian buku suplemen yang dikembangkan telah layak untuk digunakan dalam proses belajar mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 di SD Negeri Boto.

(2)

Suryani, Septyani. Dwi. (2016). The Development of Indonesia Supplementary Book for the Second Grade of Second Semester in Boto Elementary School. Thesis. Yogyakarta: Departement of Elementary School Teacher Education, Sanata Dharma University.

Reading and writing is the skill that needs to be mastered properly by students because reading and writing skills are the main basis for someone to be able to master science in the field of study that is taught in the school. This study aims to produce the material of supplementary book of Indonesian Language for student in the second grade of second semester which is influence with reading and writing skills.

This study uses a model development procedure Borg and Gall and model of Dick & Carey. There are seven steps (1) potential and problem, (2) data gathering, (3) product design, (4) product validation, (5) design revision, (6) product trial implementation, (7) product revision. The instrument of this study using a list of interview and questionnaires. Interviews used to analyze of the needs to teacher, while the questionnaires is used to validate the quality and feasibility of Indonesian supplementary book to Indonesian experts, teacher of grade II, and student of grade II.

Based on the result of expert validation Indonesian 1 obtained score of 4,2 with good category, an Indonesia expert 2 obtained score of 4,1 with good category, teacher of grade two 1 obtained score 4,34 with very good category, teacher of grade two 2 obtained score 4,44 with very good category, and six student of grade two Boto Elementary School obtained score 4,25 with very good category. The average of all score is 4,26 with very good category. It is on the aspects in the validation instruments including the (1) goal and approach, (2) design and organization, (3) language content, (4) language skill, and (5) methodology. Therefore the supplementary book is appropriate to be used teaching and learning Indonesian in Boto Elementary School.

(3)

PENGEMBANGAN BUKU SUPLEMEN

MUATAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA

UNTUK SISWA KELAS II SEMESTER 2

SEKOLAH DASAR NEGERI BOTO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mempe roleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Septyani Dwi Suryani NIM 121134234

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. ALLAH SWT dzat yang telah memberikanku kehidupan hingga hari ini

2. Nabi Muhammad SAW penuntun umatnya dari alam jahiliyah menuju

alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan peradaban yang sesuai

dengan syariat ALLAH SWT

3. Ibuku, Ibuku, dan Ibuku pemberi semangat dan selalu mendoakanku

sepanjang waktu

4. Bapakku pemberi dukungan dan nasihat petuah dalam hidupku

5. Kakak dan adekku pelawak amatir yang selalu menghiburku

6. Teman hidupku orang yang hingga hari ini selalu membuatku banyak

belajar

(7)

MOTTO

Bismillahhirohmanirohim

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang

dikehendaki-Nya di antara hamba- hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa

yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah

akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya (QS. Saba: 39)

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu

bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS. Ibrahim: 7)

Dan tidaklah pantas bagi orang yang beriman lelaki atau perempuan, untuk

memiliki pilihan lain dari urusan mereka pada saat Allah dan Rasul-Nya telah

menetapkan suatu perkara. Barang siapa yang durhaka kepada Allah dan

Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (QS. Al Ahzab: 36)

Being different can mean making a difference (Daisy Agent of SHIELD)

You start with something pure, something exciting. Then, come the mistakes. The

(8)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 26 Januari 2016

Penulis,

(9)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Septyani Dwi Suryani

Nomor Mahasiswa : 121134234

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

“Pengembangan Buku Suple men Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Untuk Siswa Kelas II Semester 2 Sekolah Dasar Negeri Boto”

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada

perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan

dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media

lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 26 Januari 2016

Yang menyatakan

(10)

ABSTRAK

Suryani, Septyani. Dwi. (2016). Pengembangan Buku Suplemen Muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk Siswa Kelas II Semester 2 SD Negeri Boto. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan yang per lu dikuasai dengan baik, karena keterampilan membaca dan menulis merupakan dasar utama seseorang untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dalam bidang studi yang diajarkan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berupa buku suplemen muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 yang terkait dengan keterampilan membaca dan menulis.

Penelitian pengembangan ini menggunakan prosedur pengembangan yang menggabungkan model Borg and Gall dan langkah pengembangan perangkat pembelajaran Dick & Carey. Ada tujuh langkah dalam penelitian pengembangan ini yaitu (1) potensi dan masalah (2) pengumpulan data (3) desain produk (4) validasi produk (5) revisi desain (6) uji coba produk secara terbatas (7) revisi produk berdasarkan uji coba terbatas. Instrumen dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara dan kuesioner. Wawancara digunakan untuk analisis kebutuhan kepada guru kelas II SD Negeri Boto, sedangkan kuesioner digunakan untuk validasi kualitas dan kelayakan buku suplemen oleh ahli Bahasa Indonesia, dua guru kelas II SD, dan 6 siswa kelas II SD.

Berdasarkan hasil validasi dari ahli Bahasa Indonesia 1 diperoleh skor 4,2 dengan kategori baik, pakar bahasa Indonesia 2 diperoleh skor 4,1 dengan kategori baik, guru kelas II SD 1 diperoleh skor 4,34 dengan kategori sangat baik, guru kelas II SD 2 diperoleh skor 4,44 dengan kategori sangat baik, dan enam siswa kelas II SD diperoleh skor 4,25 dengan kategori sangat baik. Rerata skor yang diperoleh dari keseluruhan validasi adalah 4,26 dengan kategori sangat baik. Hal tersebut ditinjau dari (1) tujuan dan pendekatan, (2) desain dan pengorganisasian, (3) isi kebahasaan, (4) keterampilan, dan (5) metodologi. Dengan demikian buku suplemen yang dikembangkan telah layak untuk digunakan dalam proses belajar mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2 di SD Negeri Boto.

(11)

ABSTRACT

Suryani, Septyani. Dwi. (2016). The Development of Indonesia Supplementary Book for the Second Grade of Second Semester in Boto Elementary School. Thesis. Yogyakarta: Departement of Elementary School Teacher Education, Sanata Dharma University.

Reading and writing is the skill that needs to be mastered properly by students because reading and writing skills are the main basis for someone to be able to master science in the field of study that is taught in the school. This study aims to produce the material of supplementary book of Indonesian Language for student in the second grade of second semester which is influence with reading and writing skills.

This study uses a model development procedure Borg and Gall and model of Dick & Carey. There are seven steps (1) potential and problem, (2) data gathering, (3) product design, (4) product validation, (5) design revision, (6) product trial implementation, (7) product revision. The instrument of this study using a list of interview and questionnaires. Interviews used to analyze of the needs to teacher, while the questionnaires is used to validate the quality and feasibility of Indonesian supplementary book to Indonesian experts, teacher of grade II, and student of grade II.

Based on the result of expert validation Indonesian 1 obtained score of 4,2 with good category, an Indonesia expert 2 obtained score of 4,1 with good category, teacher of grade two 1 obtained score 4,34 with very good category, teacher of grade two 2 obtained score 4,44 with very good category, and six student of grade two Boto Elementary School obtained score 4,25 with very good category. The average of all score is 4,26 with very good category. It is on the aspects in the validation instruments including the (1) goal and approach, (2) design and organization, (3) language content, (4) language skill, and (5) methodology. Therefore the supplementary book is appropriate to be used teaching and learning Indonesian in Boto Elementary School.

(12)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan rahmat dan berkah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul

“Pengembangan Buku Suple men Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Untuk Siswa Kelas II Se mester 2 SD Negeri Boto” ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis

mendapatkan banyak bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak baik

secara langsung ataupun tidak langsung sehingga skripsi dapat terselesaikan

dengan baik. Maka pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih

kepada:

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma.

2. Romo Gregorius Ari Nugrahanta, SJ.B.S.T.MA. selaku Ketua Program

Studi PGSD yang lama.

3. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd selaku Ketua Program Studi PGSD

yang baru.

4. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd selaku Wakil Program Studi

(13)

5. Drs. Puji Purnomo, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I yang telah

membimbing dan memberi dukungan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

6. Galih Kusumo, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing II yang telah

membimbing dan memberi dukungan sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

7. Para dosen dan Staf PGSD yang telah melayani peneliti dengan baik.

8. Ibu Sri Sudaryanti, S.Pd selaku kepala seko lah SD Negeri Boto yang telah

memberikan ijin penelitian kepada peneliti untuk mengadakan penelitian

di sekolah.

9. Ibu Fatkhul Karomah, selaku guru kelas II SD Negeri Boto yang telah

memberikan bantuan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah.

10.Dua pakar Bahasa Indonesia yang telah bersedia meluangkan waktu untuk

memvalidasi dan memberikan komentar dan saran perbaikan produk

penelitian yang peneliti buat.

11.Dua guru kelas II SD yang telah bersedia meluangkan waktu untuk

memvalidasi dan memberikan komentar dan saran perbaikan produk yang

peneliti buat.

12.Siswa kelas II SD Negeri Boto tahun ajaran 2015/2016 yang telah

membantu selama penelitian berlangsung.

13.Keluargaku yang memberikan dukungan, semangat dan doa dalam

menyelesaikan skripsi ini.

(14)

15.Teman-teman mahasiswa Universitas Sanata Dharma sehati dan

seperjuangan.

16.Segenap pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih untuk

bantuan dan dukungannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak keterbatasandan

kekurangannya, maka penulis sangat membutuhkan kritik dan saran dari berbagai

pihak. Akhirnya penulis mengucapkan selamat membaca semoga bermanfaat bagi

kita semua.

Yogyakarta, 26 Januari 2016

Peneliti

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...iv

HALAMAN MOTTO ...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii

ABSTRAK... viii

ABSTRACT ...ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL... xvii

DAFTAR GAMBAR ...xix

DAFTAR LAMPIRAN ...xx

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah ...4

1.3 Tujuan Penelitian ...5

1.4 Manfaat Penelitian ...5

1.5 Batasan Istilah ...6

1.6 Spesifikasi Produk yang dikembangakan ...7

BAB II LANDASAN TEORI ...8

2.1 Kajian Pustaka ...8

2.1.1 Karakteristik Perkembangan Anak SD Kelas Rendah ...8

(16)

2.1.3 Karakteristik Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas Rendah...22

2.1.4 Pendekatan Komunikatif ...24

2.1.5 Keterampilan Membaca dan Menulis ...25

2.1.5.1 Keterampilan Membaca ...25

2.1.5.2 Keterampilan Menulis ...27

2.1.6 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ...28

2.1.7 Buku Suplemen ...32

2.1.8 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran ...33

2.2 Penelitian yang Relevan ...38

3.2.1 Potensi dan Masalah ...47

3.2.2 Pengumpulan Data...47

3.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ...49

3.3.1 Waktu Pelaksanaan Penelitian ...49

3.3.2 Tempat Pelaksanaan Penelitian ...50

3.4 Uji Coba Terbatas...50

3.4.1 Desain Uji Coba Terbatas ...50

3.4.2 Subjek Uji Coba Terbatas ...50

3.4.3 Teknik Pengumpulan Data ...51

(17)

3.4.3.2 Kuesioner ...52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...60

4.1 Analisis Kebutuhan ...60

4.1.1 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ...61

4.1.2 Pembahasan Wawancara Analisis Kebutuhan...64

4.2 Deskripsi Produk Awal...65

4.2.1 Cover atau Sampul Buku ...65

4.2.2 Isi Buku Suplemen ...66

4.2.2.1 Kata Pengantar...66

4.2.2.2 Kemampuan yang Akan Dicapai ...67

4.2.2.3 Petunjuk Umum Penggunaan Buku...67

4.2.2.4 Latihan ...68

4.2.2.5 Review...68

4.2.2.6 Refleksi ...69

4.2.2.7 Daftar Referensi...70

4.3 Data Validasi dan Revisi ...70

4.3.1 Data Validasi Pakar Bahasa Indonesia ...71

4.3.2 Data Validasi Guru Kelas II SD ...73

4.3.3 Revisi Produk ...75

4.3.4 Data Validasi Uji Coba Terbatas ...77

4.3.5 Revisi Produk ...79

4.4 Kajian Produk Akhir...81

(18)

4.4.2 Isi Buku Suplemen ...82

4.4.2.1 Kata Pengantar...82

4.4.2.2 Kemampuan yang Akan Dicapai ...82

4.4.2.3 Petunjuk Umum Penggunaan Buku...83

4.4.2.4 Latihan ...84

4.4.2.5 Review...84

4.4.2.6 Refleksi ...85

4.4.2.7 Daftar Referensi...85

4.5 Pembahasan ...85

BAB V PENUTUP ...90

5.1 Kesimpulan...90

5.2 Keterbatasan Penelitian ...91

5.3 Saran ...91

DAFTAR PUSTAKA ...93

LAMPIRAN ...96

(19)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, dan Materi

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) ………... 29

Tabel 2.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Hasil Modifikasi

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ………... 32 Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pengembangan Buku

Suplemen ………... 49

Tabel 3.2 Daftar Pertanyaan Wawancara Analisis Kebutuhan di

Lapangan………... 53

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Koesioner Validasi untuk Ahli Bahasa Indonesia dan Guru Kelas II SD ……… 54 Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi untuk Siswa Kelas II SD ……… 55

Tabel 3.5 Konversi Nilai Skala Lima ……… 57

Tabel 3.6 Kriteria Skor Skala Lima ………... 59

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Validasi Buku Suplemen oleh

Ahli Bahasa Indonesia ………... 72

Tabel 4.2 Komentar Umum dan Saran Perbaikan Oleh Ahli Bahasa

Indonesia ………... 73

Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Validasi Buku Suplemen oleh Guru Kelas II SD ………... 74 Tabel 4.4 Komentar Umum dan Saran Perbaikan oleh Guru Kelas II SD 75

Tabel 4.5 Revisi Buku Suplemen Berdasarkan Komentar Umum dan

Saran Perbaikan oleh Ahli Bahasa Indonesia dan Guru Kelas

II SD ……….. 76

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Validasi Buku Suplemen oleh Siswa Kelas II SD Negeri Boto ………. 78 Tabel 4.7 Komentar Buku Suplemen oleh Siswa Kelas II SD Negeri

(20)

Tabel 4.8 Revisi Buku Suplemen Berdasarkan Komentar Siswa Kelas II

SD Negeri Boto ………. 80

(21)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Pengembangan Perangkar Dick & Carey ………….. 34

Gambar 2.2 Literature Map Penelitian yang Relevan ……….. 40

Gambar 3.1 Langkah Prosedure Pengembangan Borg and Gall (Dalam

Sugiyono) ………. 45

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ………... 97

Lampiran 2. Hasil Validasi Ahli Bahasa Indonesia 1 ………. 100

Lampiran 3. Hasil Validasi Ahli Bahasa Indonesia 2 ………. 104

Lampiran 4. Hasil Validasai Guru Kelas II SD 1 ………... 108

Lampiran 5. Hasil Validasi Guru Kelas II SD 2 ………... 112

Lampiran 6. Hasil Uji Coba Siswa Kelas II SD ………... 116

Lampiran 7. Surat Izin Penelitian ………... 129

Lampiran 8. Surat Keterangan Melakukan Penelitian ……… 131

Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian ………. 133

(23)

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas mengenai (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3)

tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) batasan istilah, dan (6) spesifikasi

produk.

1.1Latar Belakang

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di

sekolah dasar. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah diarahkan untuk

meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik

dan benar, baik secara lisan maupun tulis (Sufanti, 2010: 12). Paparan tersebut

menunjukkan bahwa fokus pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berupa

aktivitas keterampilan berbahasa.

Membaca dan menulis merupakan dua diantara empat keterampilan berbahasa.

Penguasaan keterampilan membaca dan menulis yang baik harus ditanamkan

sejak dini. Keterampilan membaca dan menulis yang baik hanya dapat diperoleh

dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak berlatih (Tarigan, 1985: 1).

Keterampilan membaca dan menulis menjadi dasar utama, tidak hanya untuk

pembelajaran Bahasa Indonesia sendiri, tetapi juga untuk keperluan pembelajaran

bidang-bidang studi lainnya, karena hampir seluruh pengetahuan pada

masing-masing bidang studi disajikan dalam bentuk tertulis (Ngalimun , 2014: 34).

(24)

pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan

perkembangan daya nalar, sosial, dan kreasinya serta dapat bermanfaat untuk

mencapai tujuan belajar yang diinginkannya. Mengingat pentingnya peranan

membaca dan menulis untuk siswa, hendaknya komponen-komponen

pembelajaran yang mampu menunjang penguasaan keterampilan membaca dan

menulis yang baik di sekolah dasar kelas rendah harus terus dikembangkan. Salah

satu komponen yang dimaksudkan adalah bahan ajar.

Bahan ajar merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mampu

menunjang pencapaian tujuan dari proses pembelajaran yang dilakukan. Bahan

ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis

maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa

untuk belajar (Depdiknas, 2007: 146). Buku merupakan salah satu bahan ajar

berbasis cetak (Prastowo, 2014: 149).

Pemerintah telah berusaha menyediakan bahan ajar berupa buku elektronik

sekolah (BSE) untuk menunjang penguasaan keterampilan membaca dan menulis.

Buku elektronik sekolah (BSE) ini biasanya digunakan oleh guru maupun siswa

sebagai bahan ajar utama pada proses pembelajaran. De ngan adanya bahan ajar

berupa buku ini, diharapkan dapat membantu siswa menguasai keterampilan

membaca dan menulis dengan baik.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada hari Senin, 30 Maret 2015

dengan Ibu Fatkhul Karomah selaku guru kelas II SD memaparkan bahwa, SD

Negeri Boto merupakan salah satu SD yang menggunakan bahan ajar berupa buku

(25)

Namun di SD Negeri Boto masih dijumpai beberapa siswa yang mengalami

kesulitan terkait dengan keterampilan membaca dan menulis. Kesulitan-kesulitan

tersebut diantaranya adalah masih ditemui siswa yang membaca dengan mengeja

per huruf dan per suku kata. Selain itu terdapat pula siswa yang kesulitan dalam

menulis huruf tegak bersambung. Pada saat diberikan latihan yang terkait dengan

membaca dan menulis siswa kurang termotivasi. Hal tersebut terlihat saat ada

beberapa siswa yang mengeluh saat diminta untuk mengerjakan tugas yang terkait

dengan keterampilan membaca dan menulis. Ibu Fatkhul Karomah mengatakan

bahwa bahan ajar berupa buku elektronik sekolah yang disediakan pemerintah

sudah cukup baik membantu dalam penguasaan membaca dan menulis untuk

siswa kelas II. Namun perlu menambahkan cerita yang menarik berserta gambar

yang berwarna-warni supaya siswa dapat lebih tertarik dan termotivasi saat

berlatih membaca dan menulis. Guru kelas II merasa membutuhkan buku

suplemen yang mana di dalam buku tersebut berisi beberapa hal diantaranya

adalah cerita pendek bergambar kartun, berwarna-warni, dan uptodate supaya

siswa lebih tertarik dan termotivasi untuk berlatih keterampilan membaca dan

menulis.

Berdasarkan kenyataan yang telah dipaparkan, bahan ajar berupa buku

merupakan salah satu komponen yang penting dalam membangun minat dan

motivasi siswa dalam berlatih keterampilan membaca dan menulis. Oleh sebab

itu, peneliti mencoba mengembangkan bahan ajar berupa buku suplemen yang

(26)

yang dilakukan oleh peneliti berjudul “Pengembangan Buku Suplemen Muatan

Pelajaran Bahasa Indonesia Untuk Siswa Kelas II Semester 2 SD Negeri Boto”.

Bahan ajar berupa buku suplemen ini dikembangkan sebagai buku tambahan

dari buku pokok belajar keterampilan membaca dan menulis. Buku suplemen

yang dikembangkan, berisi kegiatan belajar dan gambar- gambar yang bervariatif

untuk menarik dan memotivasi siswa dalam berlatih keterampilan membaca dan

menulis. Buku suplemen yang dikembangkan juga berisi latihan-latihan

keterampilan membaca dan menulis yang cukup, supaya dapat membantu siswa

yang kesulitan membaca dan menulis untuk terus berlatih. Buku suplemen yang

dikembangkan ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan bahasa siswa

supaya memudahkan siswa untuk belajar secara mandiri.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merumuskan masalah sebagai

berikut.

1.2.1 Bagaimana mengembangkan buku suplemen keterampilan membaca dan

menulis dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas II

semester 2 SD Negeri Boto?

1.2.2 Bagaimana kualitas buku suplemen keterampilan membaca dan menulis

dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas II semester 2

(27)

1.3Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1.3.1 Untuk mengembangkan buku suplemen keterampilan membaca dan

menulis dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas II

semester 2 SD Negeri Boto.

1.3.2 Untuk mendeskripsikan kualitas buku suplemen keterampilan membaca

dan menulis dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas

II semester 2 SD Negeri Boto.

1.4Manfaat Penelitian

Penelitian pengembangan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1.4.1 Bagi mahasiswa

Penelitian ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru tentang

pengembangan buku suplemen muatan pelajaran Bahasa Indonesia yang

terkait dengan keterampilan membaca menulis permulaan di kelas II

semeser 2.

1.4.2 Bagi guru

Penelitian pengembangan ini dapat dijadikan sebagai salah satu buku

alternatif latihan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang terkait

dengan keterampilan membaca menulis permulaan di kelas II semester 2

(28)

1.4.3 Bagi siswa

Buku suplemen ini membantu siswa kelas II semester 2 dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia yang terkait dengan keterampilan

membaca menulis permulaan di kelas maupun di rumah.

1.4.4 Bagi sekolah

Penelitian pengembangan ini dapat dijadikan referensi bagi sekolah dalam

mengembangkan buku suplemen muatan pelajaran Bahasa Indonesia

terkait dengan keterampilan membaca menulis permulaan di kelas II

semester 2 SD.

1.4.5 Bagi Prodi PGSD

Penelitian pengembangan ini dapat menambah pustaka bagi prodi PGSD

Universitas Sanata Dharma terkait dengan pengembangan buku suplemen

muatan pelajaran Bahasa Indonesia keterampilan membaca menulis

permulaan di kelas II semester 2 SD.

1.5Batasan Istilah

1.5.1 Membaca dan menulis pada muatan pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas

rendah adalah keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa kelas

rendah sebagai bekal untuk menguasai ilmu pengetahuan bidang studi

lainnya.

1.5.2 Buku suplemen muatan pelajaran Bahasa Indonesia adalah bahan ajar

berbasis cetak yang digunakan untuk melengkapi buku teks utama oleh

(29)

1.5.3 Muatan pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang

diajarkan pada jenjang sekolah dasar.

1.6Spesifikasi Produk yang dikembangakan

1.6.1 Buku suplemen mengandung komponen kata pengantar, petunjuk

penggunaan buku, kemampuan yang akan dicapai (KD baru hasil analisis

KBK dan Panduan KTSP), indikator, kegiatan belajar (berupa Lembar

Kerja Siswa (LKS)), refleksi, dan review.

1.6.2 Buku suplemen disusun dengan memperhatikan perkembangan bahasa

anak (konkret dan dari yang sederhana ke yang kompleks)

1.6.3 Buku suplemen bersifat kontekstual (mengaitkan dengan lingkungan

sekitar anak)

1.6.4 Buku suplemen disusun dengan memperhatikan karakteristik pembelajaran

Bahasa Indonesia di kelas rendah.

1.6.5 Buku suplemen dilengkapi dengan media yang mendukung yaitu CD.

1.6.6 Buku suplemen berisi kegiatan belajar yang bervariatif

(menirukan-membaca, membaca bersama, membaca mandiri, membaca dalam hati,

mengisi benar-salah pada kalimat, menyusun kalimat cerita, menyusun

kata, menjodohkan, tebak kata, dan menulis cerita berdasarkan gambar).

1.6.7 Buku suplemen berisi kegiatan belajar yang disusun dari tingkat yang

(30)

BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini akan membahas (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3)

kerangka berpikir, dan (4) pertanyaan-pertanyaan penelitian.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Karakteristik Perke mbangan Anak SD Kelas Rendah

Tujuan pembelajaran di sekolah akan tercapai apabila guru dalam

merencanakan pembelajaran mempertimbangakan karakteristik perkembangan

peserta didiknya. Hal ini menjadi penting karena dalam siklus hidupnya, manusia

senantiasa mengalami perkembangan, baik perkembangan pada aspek

fisik-motorik, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial (Yusuf;Sugandhi, 2011 : 59).

Perkembangan yang terjadi pada manusia berlangsung secara berurutan melalui

beberapa tahap mulai dari usia anak hingga usia dewasa (Monks; dkk, 2006: 45).

Setiap tahap yang dilalui manusia ini memiliki karakteristik tertentu pada setiap

aspek perkembangannya.

Tahap sekolah dasar merupakan salah satu tahap yang dilalui oleh individu

(Yusuf, 2010: 23). Tingkat kelas sekolah dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu

kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah yaitu kelas satu, dua, dan tiga,

sedangkan kelas tinggi adalah kelas empat, lima dan enam. Di Indonesia, rentang

(31)

12). Usia siswa pada kelompok kelas rendah berkisar antara 6 atau 7 tahun hingga

atau 9 atau 10 tahun (Yusuf, 2010: 24).

Pada tahap sekolah dasar terdapat beberapa aspek perkembangan anak yang

berkembang. Yusuf (2011: 59-68) mengemukakan bahwa terdapat enam aspek

perkembangan anak sekolah dasar yang berkembang diantaranya yaitu:

a. Perkembangan Fisik- motorik

Perkembangan anak usia sekolah dasar dari aspek fisik ditandai dengan

gerak atau aktivitas motorik yang lincah (Yusuf, 2011: 59). Pertumbuhan fisik

anak yang beranjak matang membuat koordinasi perkembangan motorik anak

menjadi lebih baik. Pada usia sekolah dasar setiap gerakan yang anak lakukan

sudah sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Anak menggerakkan anggota

badannya untuk tujuan tertentu seperti (1) menggerakka n tangan untuk menulis,

menggambar, mengambil makanan, melempar bola dan sebagaianya; dan (2)

menggerakkan kaki untuk menendang bola, lari mengejar teman saat bermain, dan

sebagainya (Yusuf, 2011: 60). Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang

ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik halus maupun

kasar.

b. Perkembangan Intelektual

Pada usia sekolah dasar, anak telah mampu melaksanakan tugas belajar yang

menuntut kemampuan intelektual (Yusuf, 2011: 61). Piaget menamakan tahap ini

sebagai tahap operasi konkret. Pada tahap ini anak mulai berpikir tentang hal- hal

yang berkaitan dengan hal- hal nyata yang ada disekitarnya. Piaget mengatakan

(32)

Kemampuan-kemampuan tersebut diantaranya (1) mengklasifikasi benda berdasarkan ciri yang

sama; (2) menyusun atau mengasosiasi (menghubungkan atau menghitung)

bilangan; (3) memecahkan masalah yang sederhana (Yusuf, 2011: 61)..

Kemampuan intelektual pada tahap ini sudah cukup untuk menjadi dasar

diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan daya nalar anak

(Yusuf, 2011: 62). Anak pada tahap ini sudah dapat diberikan dasar keilmuan

seperti membaca, menulis, dan berhitung. Anak pada tahap ini juga telah dapat

diberikan dasar-dasar pengetahuan yang terkait dengan kehidupan manusia,

hewan, lingkungan alam, lingkungan sosial budaya, dan agama.

c. Perkembangan Bahasa

Tahap usia sekolah dasar merupakan tahap berkembang pesatnya kemampuan

mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (Yusuf, 2011: 61). Pada awal tahap

ini anak telah menguasai 2.500 pada kelas rendah dan pada kelas tinggi anak telah

dapat menguasai sekitar 5.000 kata. Pada tahap ini kata tanya yang digunakan

anak mulai berkembang yang semula menggunakan hanya “apa”, sekarang sudah

diikuti dengan pertanyaan “dimana”, “dari mana”, “bagaimana”, “ke mana”, dan

“mengapa”.

Di sekolah, perkembangan bahasa anak diperkuat dengan diberikannya

pelajaran bahasa untuk menambah perbendaharaan kata, menyusun struktur

kalimat, dan mengembangkan kemampuan keterampilan menulis melalui kegiatan

mengarang pengalaman pribadi. Dengan dibekali pelajaran bahasa, diharapkan

anak mampu menguasai dan mempergunakannya sebagai alat untuk (Yusuf, 2011:

(33)

1. Berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

2. Mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap atau pendapatnya.

3. Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya baik dari

media cetak maupun orang lain.

d. Perkembangan Emosi

Pada tahap ini, anak mulai belajar bahwa ungkapan emosi secara kasar

tidaklah diterima oleh masyarakat (Yusuf, 2011: 63). Pada tahap ini anak belajar

untuk mengendalikan ungkapan-ungkapan emosi yang kurang dapat diterima

tersebut. Kemampuan mengendalikan emosi tersebut diperoleh oleh anak melalui

peniruan dari orang-orang yang ada disekitarnya. Anak yang dikembangkan di

lingkungan yang emosinya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung

stabil, tetapi sebaliknya apabila anak dikembangkan di lingkungan yang emosi

kurang stabil, maka perkembangan emosi anak pun menjadi kurang stabil.

Emosi merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku belajar anak (Yusuf,

2011: 64). Emosi positif seperti perasaan senang, bersemangat dan rasa ingin tahu

yang tinggi akan mempengaruhi anak untuk dapat memusatkan dirinya terhadap

proses atau aktivitas belajar, tetapi sebaliknya apabila yang menyertai proses atau

aktivitas belajar anak adalah emosi yang negatif seperti perasaan tidak senang,

kecewa, dan tidak bergairah, maka anak dalam mengikuti proses atau aktivitas

belajar akan mengalami hambatan. Mengingat emosi merupakan hal yang

mempengaruhi perilaku belajar anak, maka guru dituntut untuk memiliki

(34)

menyenangkan supaya membangkitkan emosi positif dalam diri anak, sehingga

tercipta proses belajar mengajar yang efektif.

e. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial yang paling menonjol pada tahap ini adalah adanya

perluasan hubungan sosial dengan teman sebayanya (Yusuf, 2011: 66). Pada tahap

ini anak mulai memiliki kesanggupan untuk bekerja sama dengan teman

sebayanya. Anak mulai berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya.

Selain itu anak memiliki keinginan yang kuat untuk diterima menjadi anggota

kelompok teman sebayanya, dan merasa tidak senang apabila tidak diterima

dikelompok teman sebayanya. Di sekolah, perkembangan sosial anak diarahkan

pada pemberian tugas-tugas yang sifatnya kelompok, baik yang membutuhkan

tenaga fisik, maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Tugas kelompok ini harus

memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukka n prestasinya dan juga

untuk menunjukkan pada anak mencapai tujuan bersama.

f. Perkembangan Kesadaran Beragama

Pada masa ini sikap agama anak masih bersikap reseptif, tapi sudah disertai

dengan pengertian (Yusuf, 2011: 67). Pandangan dan paham ketuhanan anak

diperoleh berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada

indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya (Yusuf, 2011:

68). Pengalaman ibadah anak masih bersifat peniruan. Namun pada usia 10 tahun

ke atas, semakin bertambah kesadaran anak akan fungsi agama baginya, yaitu

(35)

Izzaty mengungkapkan hal yang hampir senada dengan Yusuf tentang aspek

perkembangan anak sekolah dasar. Aspek perkembangan anak sekolah dasar

menurut Izzaty (2008, 104-116) terbagi atas enam yaitu:

a. Perkembangan Fisik

Pada tahap ini, perkembangan fisik anak yang paling menonjol terlihat pada

sistem tulang, otot, dan keterampilan gerak (Izzaty, 2008: 105). Keterampilan

gerak anak pada tahap ini semakin lancar dan lebih terkoordinasi. Kegiatan fisik

dan keterampilan gerak yang biasa dilakukan anak pada tahap ini anatara lain

berlari, memanjat, melompat, berenang, naik sepeda, dan main sepatu roda.

Kegiatan fisik pada tahap ini sangat penting dilakukan untuk mengembangkan

kestabilan gerak dan melatih koordinasi untuk menyempurnakan berbagai

keterampilan gerak anak.

b. Perkembangan Kognitif

Piaget mengemukakan bahwa pada tahap ini anak berada pada tahap operasi

konkret (Izzaty, 2008: 106). Anak pada tahap ini mampu memecahkan masalah

yang bersifat konkret. Anak telah mampu berpikir logis terhadap objek konkret.

Pada masa ini anak telah mampu mengelompokkan dan mengurutkan suatu benda

berdasarkan ciri-cirinya. Pengalaman hidup anak memberikan andil dalam

mempertajam konsepnya.

c. Perkembangan Bahasa

Pada tahap ini perkembangan bahasa yang paling menonjol adalah

perbendaharaan kata dan tata bahasa (Izzaty, 2008: 107). Anak telah banyak

(36)

Anak kelas satu biasanya telah mampu merespon pertanyaan orang dewasa

dengan jawaban yang sederhana. Sebagian besar anak usia 6 tahun telah mampu

menceritakan kembali satu bagian pendek dari buku, film, atau pertunjukkan

televisi.

d. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada tahap ini ditandai dengan kemampuan anak untuk

memahami aturan, norma, dan etika yang berlaku di masyarakat (Izzaty, 2008:

110). Perilaku moral banyak dipengaruhi pola suh orang tua dan orang-orang

disekitarnya. Perkembangan moral juga tidak terlepas dari perkembangan kognitif

dan emosi anak.

e. Perkembangan Emosi

Pada tahap ini emosi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya

(Izzaty, 2008: 111). Pergaulan yang semakin luas membuat anak belajar tentang

ungkapan emosi yang diterima ataupun tidak diterima dalam lingkungan

sosialnya. Anak pada tahap ini belajar untuk mengendalikan emosi.

f. Perkembangan Sosial

Dunia sosial anak menjadi kompleks pada tahap ini (Izzaty, 2008: 113)..

Interaksi dengan teman sebaya memiliki peran yang penting. Minat terhadap

kegiatan kelompok pada tahap ini mulai timbul. Integritas dengan kelompoknya

cukup tinggi, ada keterikatan satu sama lain, sehingga mereka merasa perlunya

untuk bersama-sama. Keinginan untuk diterima dalam kelompoknya sangat besar.

Anak berusaha agar teman-teman dikelompokknya menyukainya. Mereka

(37)

Dari beberapa pendapat para ahli yang telah diuraiankan, anak sekolah dasar

kelas rendah berusia antara 6 atau 7 tahun hingga atau 9 atau 10 tahun. Anak

sekolah dasar kelas rendah mengalami perkembangan pada aspek fisik- motorik,

intelektual, bahasa, emosi, sosial, moral dan agama. Karakteristik anak sekolah

dasar kelas rendah antara lain (1) aktivitas motorik anak sekolah dasar kelas

rendah sangat lincah, (2) anak sekolah dasar kelas rendah mampu melakukan

aktivitas pemecahan masalah secara logis dengan objek yang bersifat konkret, (3)

anak sekolah dasar kelas rendah telah menguasai banyak kosakata dan mampu

menggunakan kosakata tersebut untuk menjelaskan suatu tindakan atau merespon

pertanyaan orang dewasa, (4) keingingan belajar anak sekolah dasar kelas rendah

dipengaruhi oleh emosinya, (5) anak sekolah dasar kelas rendah cenderung suka

menirukan hal- hal yang dilakukan orang lain yang ada disekitarnya, (6) anak

sekolah dasar kelas rendah berminat pada kegiatan yang bersifat kelompok.

2.1.2 Karakteristik Perke mbangang Bahasa SD Kelas Rendah

Perkembangan bahasa adalah suatu rangkaian kesatuan kegiatan ucapan dari

yang sederhana menuju ucapan yang utuh (Slamet, 2014:7). Perkembangan

bahasa tersebut ditandai dengan serangkaian kesatuan yang bergerak dari

bunyi-bunyi yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Hal ini membuktikan

bahwa kemampuan berbahasa seseorang tidaklah tiba-tiba dan sekaligus,

melainkan berjalan secara bertahap.

Chaer (2009: 223) mengungkapkan bahwa menurut Piaget tahap

perkembangan kognitif menentukan urutan dari tahap perkembangan bahasa

(38)

a. Usia lahir – 18 bulan

Pada usia lahir hingga 18 bulan oleh Piaget disebut sebagai tahap “sesori

motor” (Chaer, 2009: 224). Pada tahap ini dianggap belum ada bahasa karena

anak belum menggunakan lambang- lambang untuk menunjuk obyek yang ada

disekitrnya. Anak hanya mengenal obyek jika obyek tersebut dialami langsung

oleh indranya.

b. Usia >18 bulan

Pada usia ini anak telah mengerti tentang keberadaan suatu obyek, meskipun

obyek tersebut tidak dialami dengan indranya (Chaer, 2009: 224). Anak akan

mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan obyek, meskipun obyek

tersebut tidak dialami oleh indranya.

Hal yang senada dikemukakan oleh Yusuf bahwa bahasa sangat erat

kaitannya dengan perkembangan berpikir individu (Yusuf, 2010: 118).

Perkembangan berpikir individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu

kemampuan membentuk pengertian, menyusun pendapat, dan menarik

kesimpulan. Laju perkembangan yang dimaksud adalah sebagai berikut (Yusuf,

2010: 158-179):

a. Usia 6-12 Bulan

Masa mengeluarkan bermacam- macam suara yang tidak berati (Yusuf,

2010: 158). Masa ini sebagai permainan pelatihan alat-alat suara. Pada masa ini

anak sering mengulang beberapa suku kata, seperti ba-ba-ba, ma- ma- ma, dan

(39)

b. Usia 12-16 Bulan

Pada masa ini anak sudah bisa mengucapakan kata (Yusuf, 2010: 158).

Sepatah kata merupakan kalimat, tetapi kalimat tidak lengkap. Pada usia ini anak

juga sudah dapat menirukan suara-suara, seperti suara kucing, burung, dan

kendaraan.

c. Usia 16-24 Bulan

Pada masa ini anak sudah mulai timbul kesadaran bahwa semua orang dan

benda mempunyai nama (Yusuf, 2010: 158). Pada masa ini anak sering berbicara

sendiri, baik berbicara dengan diri sendiri atau dengan mainannya.

d. Usia 2-2,6 Tahun

Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna (Yusuf,

2010: 170). Sudah mampu memahami tentang perbandingan. Anak banyak

menanyakan nama dan tempat. Selain itu anak sudah menggunakan kata

berawalan dan yang berakhiran.

e. Usia 2,6-6 Tahun

Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya

(Yusuf, 2010: 170). Tingkat berpikir anak sudah mulai maju, anak dapat

menanyakan soal waktu, sebab-akibat melalui pertanyaan.

f. Usia 6-12 Tahun

Usia anak sekolah dasar ini merupakan usia berkembang pesatnya

kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (Yusuf, 2010: 179).

Pada awal masa ini anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata dan pada masa akhir

(40)

bersekolah, sehingga diberikan pelajaran bahasa diharapkan anak dapat mengusai

dan mempergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain,

menyatakan isi hati, memahami keterampilan mengolah informasi yang

diterimanya, menyatakan pendapat, dan mengembangkan kepribadiannya.

Slamet menyatakan hal yang hampir sama dengan hal yang dikemukakan

Yusuf tentang tahap perkembangan bahasa. Terdapat 4 tahap perkembangan

bahasa menurut Tarigan. Perkembangan bahasa tersebut antara lain (Slamet, 2014:

8-10):

a. Tahap Pralinguistik (lahir – 12 bulan)

Tahap ini berlangsung pada saat anak baru lahir sampai dengan usia 12

bulan. Tahap pralinguistik, yaitu tahap perkembangan bahasa dimana anak belum

mampu menghasilkan bunyi yang bermakna (Slamet, 2014: 8). Bunyi yang

dihasilkan anak misalnya, tangisan, rengekan, dekutan, dan celoteh, hanya sebagai

sarana anak untuk melatih gerak artikulatorisnya sampai ia mengucapkan kata

yang bermakna.

b. Tahap Satu Kata (12 – 18 bulan)

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 12 sampai dengan 18 tahun. Pada

tahap ini, anak menggunakan satu kata yang memiliki arti (Slamet, 2014: 9). Satu

kata yang memiliki arti mewakili ide dan keseluruha tuturan yang dimaksud.

c. Tahap Dua Kata (18 – 24 bulan)

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18 – 24 bulan. Pada tahap ini,

(41)

yang dituturkan anak dalam berbicara merupakan dua kata yang penting untuk

menunjukkan maksudnya.

d. Tahap Banyak Kata (3 – 6 tahun)

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 3 – 6 tahun. Pada tahap ini

tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur (Slamet, 2014:

10). Anak tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga kata atau lebih.

Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai

keperluannya.

Meggit mengemukakan hal yang mendukung terhadap tahap perkembangan

bahasa yang dikemukakan oleh Yusuf dan Tarigan. Tahap perkembangan bahasa

yang dimaksud Meggit adalah sebagai berikut (Meggit, 2013: 70-186):

a. Usia baru lahir – 18 bulan

Pada minggu awal kelahirannya hingga 16 minggu kelahirannya, anak akan

mengeluarkan tangisan dan baru mulai belajar mengoceh sebagai cara untuk

berkomunikasi (Meggit, 2013: 70-105). Memasuki usia 4 bulan anak mulai

menggunakan ocehan dari huruf vokal maupun konsonan. Sekitar usia 6 – 9

bulan, anak mulai memahami kata-kata seperti ‘atas’ dan ‘bawah’, meniru suara

orang dewasa di sekitarnya, dan lebih banyak mengoceh. Me nginjak usia 9 – 12

bulan ocehan anak lebih ekspresif dan bernada. Anak juga mulai mamakai kata

perkiraan, misalnya ‘dadda’ = ayah. Pada usia 12 – 18 bulan anak mampu

mengucapkan dua sampai enam kata. Kosakata anak berkembang sampai 20 – 50

(42)

b. Usia 18 bulan – 3 tahun

Pada usia ini anak mulai mengalami periode ledakan bahasa (Meggit, 2013:

105-115). Setiap aspek berbahasa mulai berkembang secara cepat pada

masa-masa ini. Anak telah mampu menunjuk serta menyebutkan nama bagian tubuh,

benda, orang, serta gambar di buku. Anak telah memakai satu kata untuk

menjelaskan banyak hal. Anak juga telah mampu menamai bermacam- macam

benda dan aktivitas yang mereka lakukan.

c. Usia 3 – 5 tahun

Pada periode ini, kemampuan berbahasa a nak berkembang sangat cepat

(Meggit, 2013: 116-130). Anak mulai memakai lebih banyak kosa kata, mulai dari

kata sifat, kata kerja, kata benda, kalimat utuh dll. Anak juga mulai berbicara

mengikuti tata bahasa. Pada rentang usia ini anak mulai melemparkan

bermacam-macam pertanyaan menggunakan kata ‘apa’, ‘kenapa’, ‘bagaimana’, ‘siapa’, dan

‘kapan’.

d. Usia 5 – 8 tahun

Pada usia ini anak memasuki periode melek huruf (Meggit, 2013: 130-141).

Anak mulai memperlajari bunyi-bunyi huruf yang berbeda dalam alfabet untuk

mengembangkan keterampilan membaca. Anak pada rentang usia ini mulai

memahami bahasa buku serta mempelajari bahwa cerita-cerita memiliki karakter.

e. Usia 8 – 12 tahun

Pada usia 8 hingga 9 tahun anak mulai menggunakan dan memahami

kalimat-kalimat yang rumit (Meggit, 2013: 142-166). Anak senang membuat

(43)

tahun anak telah mampu menulis cerita yang panjang. Cerita ya ng ditulis anak

menunjukkan imajinasi dan kemampuan tata bahasa yang meningkat.

f. Usia 12 – 16 tahun

Pada usia ini perkembangan bahasa anak berkembang dengan level yang

lebih tinggi (167-186). Anak mampu memahami penggunaan bahasa yang abstrak.

Pada rentang usia ini, anak telah mampu memproses makna teks dan abstrak,

menghubungkan makna sebuah kata dengan konteks terkait, memahami tanda

baca serta membentuk struktur sintaktik yang rumit.

Perkembangan bahasa merupakan suatu rangkaian kegiatan ucap dari

bunyi-bunyi yang sederhana menuju tuturan yang kompleks yang berlangsung secara

bertahap. Tahap perkembangan bahasa seseorang berjalan seiring dengan tahap

perkembangan fisik, intelektual, dan sosialnya. Tahap perkembangan bahasa anak

kelas rendah berada pada rentang usia 6 atau 7 tahun hingga atau 9 atau 10 tahun.

Karakteristik tahap perkembangan anak kelas rendah yaitu (1) anak telah mampu

menguasai lebih dari 2.500 kosa kata yang menunjuk pada hal- hal disekitarnya,

(2) perbendaharaan kata anak berkembang pesat, (3) anak telah dapat

menggunakan kalimat majemuk, (4) anak telah mampu bertanya menggunakan

kata 'apa', 'siapa', 'bagaimana', 'kapan', dan 'mengapa', (5) anak mampu

menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan anak, (6) anak telah memasuki

periode melek huruf, karena pada usia ini anak mulai mempelajari bunyi-bunyi

huruf yang berbeda pada alfabet untuk keperluan membaca, (7) anak mulai

(44)

tokoh karakter dan alur, (8) memasuki usia 10 tahun anak mulai mampu menulis

cerita.

2.1.3 Karakteristik Pe mbelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas Rendah

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di

sekolah sejak Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Mata pelajaran Bahasa

Indonesia penting untuk diajarkan di sekolah karena bahasa Indonesia merupakan

bahasa nasional dan bahasa negara yang berfungsi sebagai sarana komunikasi di

lembaga- lembaga pendidikan, alat penghubung dalam kepentingan pemerintah

dan kenegaraan, pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya, dan

sebagai alat pemersatu berbagai suk u yang ada di Indonesia (Ngalimun, 2014: 4).

Sufanti mengemukakan pendapat yang mendukung bahawa menurut BSNP

pembelajaran Bahasa Indonesia penting untuk diajarkan karena bahasa memiliki

peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosi peser ta didik dan

merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari bidang studi (2010: 12).

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah diarahkan untuk meningkatkan

kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan

baik dan benar, baik secara tulis maupun lisan (Sufanti, 2010: 12). Hal yang

hampir senada dikemukakan oleh Permendiknas yang menyatakan bahwa tujuan

diselenggarakannnya mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yaitu (2006:

317-318):

a. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,

(45)

b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa

persatuan dan bahasa negara.

c. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif

untuk berbagai tujuan.

d. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan

intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.

e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,

memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa .

f. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya

dan intelektual manusia Indonesia.

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencangkup komponen

kemampuan berbahasa dan kemampuan bersasatra yang meliputi keterampilan

aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis (Sufanti, 2010: 14). Hal

yang senada dikemukakan oleh Tarigan bahwa keterampilan berbahasa ada empat

yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan

membaca dan keterampilan menulis, dimana setiap keterampilan tersebut

berhubungan dengan tiga keterampilan yang lainnya (Tarigan, 2008 : 1). Ngalimun

mengemukakan pernyataan yang mendukung Tarigan bahwa keterampilan

berbahasa seseorang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan

menulis yang saling erat berhubungan satu dengan yang lainnya (Ngalimun, 2014:

2). Ngalimun menambahkan bahwa keterampilan menyimak dan berbicara

(46)

keterampilan yang lain yaitu membaca dan menulis, diperoleh anak ketika anak

memasuki usia sekolah dasar (Ngalimun, 2014: 3).

Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang sekolah

dasar hingga perguruan tinggi. Bahasa Indonesia penting diajarkan karena bahasa

Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Tujuan

diselenggarakannya pelajaran Bahasa Indonesia supaya seseorang terampil dalam

berkomunikasi lisan maupun tertulis baik dalam lingkup nonsastra maupun dalam

lingkup sastra. Pembelajaran Bahasa Indonesia akan mampu mencapai tujuannya,

apabila guru atau pelaksana pembelajaran mampu memahami karakteristik dari

mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia

khususnya pada jenjang sekolah dasar kelas rendah meliputi (1) pendekatan

pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan komunikatif, (2)

pengorganisasian materi dilakukan secara terpadu, (3) pelaksanaan pembelajaran

menekankan pada komponen praktik berbahasa baik pada materi nonsastra

maupun materi sastra, (4) pembelajaran Bahasa Indonesia mengandung kegiatan

apresiasi sastra, (5) pembelajaran Bahasa Indonesia ditekankan pada keterampilan

membaca dan menulis.

2.1.4 Pendekatan Komunikatif

Sufanti mengemukakan bahwa pendekatan komunikatif merupakan

pendekatan dalam pengajaran bahasa yang berasumsi bahwa bahasa berfungsi

sebagai alat komunikasi (2010: 16-17). Hal yang mendukung dikemukakan oleh

Slamet bahwa pendekatan komunikatif merupakan pe ndekatan yang dilandasi

(47)

yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa (2014: 20). Berdasarkan tujuan

tersebut, maka pengajaran dan pembelajaran bahasa diarahkan pada terbentuknya

kemampuan berkomunikasi siswa baik secara lisan maupun tertulis, sesuai dengan

tujuan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Dalam rangka mencapai tujuan

tersebut, siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di

kelas diberikan latihan antara lain (Ngalimun, 2014: 53):

a. Memberi informasi secara terbatas

1) Mengidentifikasi gambar

2) Menemukan atau mencari pasangan yang cocok

3) Menemukan informasi yang ditiadakan

b. Memberikan informasi tanpa dibatasi bebas (tak bebas)

1) Mengkomunikasikan contoh dan gambar

2) Menemukan perbedaan

3) Menyusun kembali bagian-bagian cerita

c. Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah

d. Menyusun infomasi

2.1.5 Keterampilan Membaca dan Menulis 2.1.5.1 Keterampilan Membaca

Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Membaca

merupakan suatu proses yang dilakukan atau dipergunakan untuk memperoleh

pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa

(48)

Christopher membaca adalah proses untuk menerjemahkan kode-kode visual ke

dalam bahasa pengucapan yang bermakna (2014: 1).

Tujuan proses membaca adalah menerima atau memahami pesan yang

terkandung dalam teks/tulisan (Kumara, 2014: 1). Tarigan mengemukakan bahwa

tujuan utama membaca adalah memperoleh dan memahami informasi isi suatu

bacaan (2008: 9). Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca, proses

membaca dibagi atas membaca nyaring dan membaca dalam hari (Tarigan, 2008:

23).

Membaca nyaring merupakan kegiatan membaca dimana pembaca

mengeluarkan suara (Ngalimun, 2014: 63). Tujuan kegiatan membaca nyaring

adalah memperoleh dan menyampaikan informasi, karena dalam proses kegiatan

membaca nyaring terjadi komunikasi antara pembaca dan pendengar (Tarigan,

2008: 23-24). Pada kegiatan membaca nyaring pembaca harus dapat membedakan

secara jelas aspek-aspek seperti intonasi kalimat berita, intonasi kalimat tanya,

intonasi kalimat seru, lagu kalimat orang marah, gembira, dan susah (Ngalimun,

2014: 63). Kesemua aspek tersebut dapat dipelajari pada jenjang pendidikan

formal sekolah. Kesemua aspek yang harus dikuasai dalam kegiatan membaca

nyaring telah dituangkan dalam kurikulum.

Membaca dalam hati kegiatan membaca yang hanya mempergunakan

ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan (Tarigan, 2008: 30).

Tujuan utama membaca dalam hati adalah untuk memperoleh informasi. Secara

garis besar membaca dalam hati dibedakan atas membaca ekstensif dan membaca

(49)

Membaca ekstensif merupakan kegiatan proses membaca yang d ilakukan

untuk memahami isi yang penting dari bahan bacaan dalam waktu yang singkat

(Ngalimun, 2014: 63). Membaca ekstensif dibagi menjadi tiga jenis. Jenis-jenis

membaca ekstensif tersebut diantarnya yaitu (1) membaca survei, (2) membaca

sekilas, dan (3) membaca dangkal (Tarigan, 2008: 32-36).

Jenis membaca dalam hati yang lainnya adalah membaca intensif.

Membaca intensif merupakan kegiatan proses membaca yang dilakukan secara

seksama untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis

(Ngalimun, 2014: 64). Tarigan mengemukakan bahwa membaca intesif terdiri atas

membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa (2008: 37).

Membaca merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh dan memahami informasi dari suatu bacaan yang dibaca. Membaca

terdiri atas membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca nyaring

merupakan kegitan membaca dimana pembaca mengeluarkan suara untuk

memperoleh dan menyampaikan informasi. Sedangkan membaca dalam hati

merupakan kegiatan membaca yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan

untuk memperoleh informasi.

2.1.5.2 Keterampilan Menulis

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa.

Menulis adalah kegiatan yang bersifat produktif (Ngalimun, 2014: 5). Produktif

yang dimaksud oleh Ngalimun adalah seseorang mampu menghasilkan sesuatu

(50)

keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak

langsung, tidak secara tatap muka dengan yang lain (1985: 3).

Kegiatan menulis memerlukan kemampuan yang kompleks.

Kemampuan-kemampuan yang dimaksud adalah dalam menulis diperlukan antar lain berpikir

secara teratur dan logis serta kemampuan mengungkapkan pikiran secara jelas

dengan menggunakan bahasa yang efektif (Slamet, 2014: 45). Kemampuan yang

diperlukan untuk menulis didapat melalui proses yang panjang. Slamet

mengemukakan bahwa untuk dapat sampai pada tingkat dapat menulis, seseorang

harus mulai dari tingkat awal dengan mengenal lambang- lambang bunyi (2014:

45).

Pembelajaran menulis di sekolah dasar dilakukan secara bertahap.

Tahapan proses menulis disesuaikan dengan tingkat kelas, tingkat kesulitan, dan

jenis atau bentuk tulisan yang dibinakan (Harjono, 2010: 41). Seluruh tahapan

dalam proses belajar tulis menulis di sekolah tertuang dalam kurikulum yang telah

direncanakan oleh pemerintah.

2.1.6 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Harjono mengemukakan bahwa secara terminologis pendidikan,

kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta

didik untuk mencapai suatu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan

(2010: 47). Dalam pelaksanaannya di sekolah, kurikulum diartikan sebagai

seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan baha n pelajaran,

(51)

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Harjono, 2010: 51).

Dalam perkembangannya kurikulum di Indonesia mengalami beberapa perubahan.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) merupakan dua kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia

(Harjono, 2010: 4). Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang masuk ke dalam

lingkup kurikulum KBK dan KTSP. Membaca dan menulis sebagai bagian dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia, baik standar kompetensi, kompetensi dasar, dan

indikator telah dipetakan dalam KBK dan KTSP. Berikut akan dipaparkan tentang

isi kurikulum Bahasa Indonesia membaca dan menulis kelas II semester 2 dari

KBK dan KTSP.

Tabel 2. 1 Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, dan Materi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan

(52)

menjelaskan isi puisi

(53)

2009:

31-Tabel diatas menunjukkan standar kompetensi, kompetensi dasar,

indikator, dan materi yang telah dipetakan dalam kurikulum yang berlaku di

Indonesia. Kedua kurikulum tersebut memetakan standar kompetensi, kompetensi

dasar, indikator, dan materi yang terkait dengan membaca dan menulis. Dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan kedua kurikulum yang telah dipaparkan

sebagai dasar untuk menghasilkan kurikulum baru. Kedua kurikulum tersebut oleh

peneliti dilakukan beberapa modifikasi sehingga menghasilkan kurikulum baru.

(54)

Tabel 2. 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Hasil Modifikasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP

1.1 Membaca nyaring ragam teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi secara tepat.

1.2 Menyebutkan isi ragam teks (20-25 kalimat) yang dibaca di dalam hati. Menulis

2. Menulis deskripsi menggunakan huruf lepas dan menyalin ragam teks menggunakan huruf latin tegak bersambung tentang sesuatu yang ada di lingkungan sekitar dengan memperhatikan huruf kapital dan tanda baca (titik).

2.1 Menuliskan deskripsi tentang sesuatu yang ada di lingkungan sekitar menggunakan huruf lepas dengan memperhatikan huruf kapital di awal kalimat dan tanda baca (titik).

2.3 Menyalin ragam teks tentang sesuatu yang ada di lingkungan sekitar menggunakan huruf tegak bersambung dengan memperhatikan huruf kapital di awal kalimat dan tanda baca (titik).

Tabel di atas menunjukkan modifikasi kurikulum KBK dan KTSP. Hasil

modifikasi kurikulum memetakan dua standar kompetensi membaca dan menulis,

dan empat kompetensi dasar membaca dan menulis. Kurikulum hasil modifikasi

akan dijadikan dasar pembuatan indikator dalam mengembangkan buku suplemen

yang akan dibuat.

2.1.7 Buku Suplemen

Istilah buku suplemen terbentuk dari dua kata yaitu kata “buku” dan

“suplemen”. Harjono menyatakan bahwa buku adalah lembaran kertas yang

berjilid berisi tulisan atau kosong (2010: 71). Sedangkan menurut Prastowo buku

(55)

suplemen dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang ditambahkan

untuk melengkapi (Suharso, 2014: 506). Berdasarkan hal tersebut definisi dari

buku suplemen adalah kertas berjilid dalam bentuk cetak yang digunakan untuk

melengkapi bahan ajar yang lain.

Permendiknas mengemukakan hal yang hampir senada bahwa buku

pengayaan adalah buku pelajaran yang melengkapi buku teks pelajaran untuk

memperkaya pengetahuan peserta didik dan guru (2007: 66). Pratiwi

mengemukakan hal yang mendukung bahwa buku suplemen merupakan buku

yang berisi informasi yang dapat melengkapi buku paket yang dapat digunakan

guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Pratiwi, 2014: 20). Berdasarkan

pendapat para ahli tersebut, buku suplemen merupakan bahan ajar berbasis cetak

yang digunakan untuk melengkapi buku teks utama oleh guru dan siswa dalam

proses pembelajaran.

2.1.8 Model Pengembangan Pe rangkat Pe mbelajaran

Buku suplemen merupakan bahan ajar berbasis cetak yang digunakan untuk

melengkapi buku teks utama oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Bahan ajar merupakan perangkat yang mendukung dalam proses pembelajaran.

Trianto mengemukakan bahwa, menurut Sudjana, untuk melaksanakan

pengembangan perangkat pembelajaran diperlukan model pengembangan yang

sesuai dengan sistem pendidikan (2014: 221).

Dick & Carey mengemukakan bahwa terdapat sepuluh langkah dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Kesepuluh langkah tersebut akan

Gambar

Tabel 4.9 Rekapitulasi Skor Hasil Uji Coba Lapangan …………………. 88
Gambar 2.1 Model Pengembangan Perangkar Dick & Carey ………….. 34
Tabel 2. 1 Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, dan Materi
Tabel diatas menunjukkan standar kompetensi, kompetensi dasar,
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lebih khusus, pengembangan model materi ajar muatan lokal bahasa Inggris ini memiliki keuntungan ganda, yaitu (1) peningkatan keterampilan bagi guru dalam mengelola proses

Buku suplemen yang disusun berpedoman pada Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator membaca dan menulis dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan

Penelitian ini adalah jenis penelitian pengembangan.Tujuan utama dari penelitian ini adalah (1) mengembangkan buku suplemenketerampilan membaca dan menulis dalam pelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada muatan bias gender pada buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas I sarnpai kelas 3 semester I (la,2a,3a) beJjudul "Aku Cinta

Adapun simpulan peneliti terkait hasil penelitian pengembangan serta pembahasan ialah: 1) hasil dari pengembangan buku ajar pada mata pelajaran korespondensi

Hasil penelitian ini berupa tahapan pengembangan buku ajar, data-data untuk mengukur kelayakan buku ajar, dan respon siswa terhadap pengembangan buku ajar mata pelajaran

Adapun simpulan peneliti terkait hasil penelitian pengembangan serta pembahasan ialah: 1) hasil dari pengembangan buku ajar pada mata pelajaran korespondensi

Pemerintah Provinsi menetapka Provinsi menetapkan mata n mata pelajaran mua pelajaran muatan lokal tan lokal Bahasa Sunda, Bahasa Sunda, sebagai mata pelajaran di