LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
Oleh :
KELOMPOK : 063
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
Oleh :
KURNIA SALISSATUR ROSYIDAH (115080101111018)
KARUNIA WAHYU UTAMI (115080101111020)
TYAN ALFIANTO (115080101111022)
DEARINDA AULIA PUTRI (115080101111024)
KASIANAH (115080101111026)
JUNARKO HAWARI P (115080101111028)
AYU GIRI WIDI KURNIAWATI (115080101111030)
FINA SAINDRI (115080101111032)
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
Oleh :
KELOMPOK : 063
Mengetahui,
Dosen Pengampu Praktikum Koordinator Asisten
Biologi Dasar Biologi Dasar
Asus Maizar Suryanto H.,S.Pi,MP Fajar Nita Pradata
ASISTEN ZONE
Nama : FARIDZ RIZAL FACHRI
Pesan : Terus bisa jadi asisten yang disayang : sama praktikannya ya???
Kesan : Seneng punya asisten yang baik, lucu, : nyenengin,,,
: Apalagi ACC gak dipersulit ,,, : hehehhehe :D
(FARIDZ RIZAL FACHRI) NIM : 0910860063
Nama : SELVA EKA PRATIWI
Pesan : Terus jadi kk asisten yang baik dan : tetap bisa jadi kk yang gak pandang : sebelah mata ya ka??
Kesan :
(SELVA EKA PRATIWI) NIM : 0910833016
Nama : SAIFUL ARI W
Pesan : tetap bisa jadi kk yang terbaik ya ka Kesan : ACC’a paling buat kita takut
(SAIFUL ARI W) NIM : 0910840065
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR
Oleh :
KELOMPOK : 063
Mengetahui,
Dosen Pengampu Praktikum Koordinator Asisten
Biologi Dasar Biologi Dasar
Asus Maizar Suryanto H.,S.Pi,MP Fajar Nita Pradata
LEMBAR PERSEMBAHAN
Bukanlah suatu aib jika kamu gagal dalam suatu usaha, yang merupakan aib adalah jika kamu tidak bangkit dari kegagalan itu (Ali bin Abu Thalib)
Kupersembahkan laporan praktikum ini untuk Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat diri-Nya, kami dapat menyelasaikan Laporan akhir praktikum ini. Tiada yang dapat kami berikan untuk-Nya, namun semua yang kami lalui dapat berjalan dengan mudah karena restu dari-Nya
Kuhadiahkan Laporan Praktikum kami ini untuk Mereka Yang Kusanyangi Ayahanda kami tercinta, Ibunda kami yang tersayang (P.Sinaga), Serta Kakak dan adik kami yang selalu buat kami semangat dalam mengerjakan tugas ini.
Untuk para asisten praktikum yang kami sayangi, sungguh tak ada yang dapat kami berikan selain ucapan terima kasih kami pada kalian, yang udah buat kami berpikir lebih dewasa, dan selalu memberikan motivasi kepada kami, supaya kami tidak merasa lelah dan treus bersemangat mengerjakan laporan praktikum ini. Sikap kalian yang buat kami mengerti, rasa harus menghormati, rasa saling peduli, dan kalian yang buat kami bisa saling menyatu dan menjadi sebuah keluarga di dalam kelompok praktikum ini. Kalian sudah menyatukan kami dengan omelan-omelan kalian, dengan canda kalian, dengan rasa cuek kalian. Tapi sungguh karena sikap kalian yang seperti itu yang buat kami merasa lebih tertantang dan harus bisa menyelesaikan laporan kami, terima kasih ku ucapkan para asisten ku, kakak kami yang paling baik dan lucu ( Faridz Rizal Fachri), buat kakak kami yang cantik dan ngegemesin (Selva Eka Pratiwi) da buat kak kaka kami yang paling berwibawa (Saiful Ari W) terima kasih atas bimbingan kalian selama ini.
Untuk teman-teman ku yang ada di kelas M (MSP ‟11) dan teman-teman kami di SMA serta kakak-kakak pembimbing kami dan teman-teman yang ada di kostan yang selalu bisa buat kami semangat dalam mengerjakan tugas ini. Thank you so much teman, kalian sudah jadi penguat disaat kami jatuh dan males saat mengerjakan laporan ini.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Laporan praktikum Biologi Dasar tahun 2011.
Dalam penyusunan Laporan Praktikum Biologi Dasar penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan praktikan. Namun sebagai manusia biasa, praktikan tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan Laporan Praktikum Biologi Dasar meskipun tersusun sangat sederhana. Pada kesempatan kali ini praktikan mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Orang tua, yang selqalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis agar dapat menyelesaikan laporan dengan tepat waktu
2. Para asisten praktikum Biologi Dasar tahun 2011 3. Teman-teman yang selalu mendukung praktikan
Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi praktikan dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.
Malang, 5 Desember 2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...
HALAMAN PENGESAHAN... .. i
LEMBAR PERSEMBAHAN ... .. ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... .... x DAFTAR GAMBAR ... xi MIKROSKOP BAB I 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ... . 1
1.3 Waktu dan tempat... 1
BAB II 2.1 Pengertian Mikroskop... . 2 2.2 Sejarah Mikroskop... . 2 2.3 Macam-macam Mikroskop... . 3 2.4 Bagian-bagian Mikroskop... . 5 BAB III ... 3.1 Alat dan Fungsi... . 7
3.2 Bahan dan Fungsi... 7
3.3 Skema kerja... . 8
BAB I ... 4.1 Analisa Prosedur... ... 9
4.2 Analisa Hasil Pengamatan...10
4.3 Gambar dan Hasil Pengamatan... . 11
BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 14
5.2 Saran……….. .... 14
DAFTAR PUSTAKA ………... ... 15
SEL TUMBUHAN DAN SEL HEWAN BAB I
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...1
1.3 Waktu dan tempat... 1
BAB II 2.1 Pengertian Sel...2
2.2 Sejarah penemuan Sel...2
2.3 Bentuk bentuk Sel dan Contohnya...3
2.4 Bagian-bagaian Sel dan Fungsinya...5
2.5 Perbedaan Sel Hewan dan Tumbuhan... 6
BAB III 3.1 Alat dan Fungsi... . 7
3.2 Bahan dan Fungsi... 7
3.3 Skema kerja... . 8
BAB IV 4.1 Analisa Prosedur... 17
4.2 Analisa Hasil Pengamatan... 18
4.3 Gambar dan hasil Pengamatan... 19
BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 14
5.2 Saran……….. .... .. 14
SISTEMATIKA, ANATOMI, FISIOLOGI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) BAB I
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...1
1.3 Waktu dan tempat... 1
BAB II 2.1 Deskripsi Ikan Nila...2
2.2 Klasifikasi Ikan Nila...3
2.3 Morfologi Ikan Nila... 3
2.4 Anatomi Ikan Nila ...4
2.5 Sistem Pencernaan Ikan Nila...5
2.6 Ekskresi dan reproduksi Ikan Nila...5
2.7 Jenis dan Bagian Fungsi Sisik...6
2.8 Jenis dan Bagian Fungsi Ekor...7
BAB III 3.1 Alat dan Fungsi... 8
3.2 Bahan dan Fungsi... 8
3.3 Skema kerja... 9
BAB IV 4.1 Data dan Gambar hasil Pengamatan ... 11
4.2 Analisa Prosedur... 14 4.3 Analisis Hasil... 15 BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 16 5.2 Saran……….. .... .. 16 DAFTAR PUSTAKA ………... ... 17
JARINGAN HEWAN DAN TUMBUHAN BAB I
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...1
1.3 Waktu dan tempat... 2
BAB II 2.1 Definisi Jaringan... 3 2.2 Diferensiasi Jaringan... 4 2.3 Jaringan Hewan... 5 2.4 Jaringan Tumbuhan... 9 BAB III 3.1 Alat dan Fungsi... 14
3.2 Bahan dan Fungsi... 14
3.3 Skema kerja... 15
BAB IV 4.1 Analisa Prosedur………... 17
4.2 Analisa Hasil Pengamatan... 18
4.3 Data Hasil Pengamatan... 19
BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 21
5.2 Saran……….. .... .. 21
MIKROORGANISME PERAIRAN BAB I
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...2
1.3 Waktu dan tempat... 2
BAB II 2.1 Pengertian Mikroorganisme ... 3
2.2 Macam-macam Mikroorganisme di Lingkungan ... 4
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme... 6
2.4 Pengertian Sterilisasi... 8
2.5 Pengertian Media dan PCA...9
2.6 Cara Perhitungan Bakteri... 10
BAB III 3.1 Alat dan Fungsi... . 12
3.2 Bahan dan Fungsi... 12
3.3 Skema kerja... . 13 BAB IV 4.1 Hasil Pengamatan... 17 4.2 Analisa Prosedur... 18 BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 20 5.2 Saran……….. .... .. 20 DAFTAR PUSTAKA ………... ... 21
PRODUSEN DAN KONSUMEN DI PERAIRAN BAB I
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Maksud dan Tujuan ...2 1.3 Waktu dan tempat... 2 BAB II
2.2 Definisi Siklus Karbon...3
2.3 Gambar Siklus Karbon dan Penjelasannya... 4 2.4 Siklus Karbon dalam Hubungan dengan Produsen dan Konsumen di Perairan.... 5 2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Siklus Karbon... 6 BAB III
3.1 Alat dan Fungsi... . 7 3.2 Bahan dan Fungsi... 7 3.3 Skema kerja... . 8 BAB IV
4.1 Analisa Prosedur... 15 4.2 Data Hasil Pengamatan... . 19 4.3 Analisa Hasil... . 21 BAB V 5.1 Kesimpulan……… .... 25 5.2 Saran……….. .... .. 25 DAFTAR PUSTAKA ………... ... 26 ASISTEN ZONE
DAFTAR TABEL
Tabel1. Sel Jaringan Hewan dan Tumbuhan
2.3 Jaringan Hewan... 5 2.4 Jaringan tumbuhan... 9 2. Sel tumbuhan, Sel Hewan dan Benda-benda Kecil Lainnya
2.5 Perbedaan Sel Hewan dan Tumbuhan... 6 4.3 Gambar dan hasil Pengamatan...19 3. Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila
2.8 Jenis dan Bagian Fungsi Ekor... 8
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Mikroskop
2.3 Macam-macam Mikroskop ... 4
4.3 Gambar dan hasil Pengamatan... 11
4.3 Gambar Mikroskop... 12
2.Sel Tumbuhan, Sel Hewan dan Benda-benda Kecil Lainnya 2.3 Bentuk-bentuk sel dan Contohnya... 4
2.5 Perbedaan Sel Hewan dan Tumbuhan... 6
4.3 Gambar dan hasil Pengamatan... 19
3. Sistematika, Anatomi,Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila 2.2 Klasifikasi Ikan Nila... 3
2.7 Jenis dan Bagian Fungsi Sisik... 7
2.8 Jenis dan Bagian Fungsi Ekor... 8
4.1 Data dan Gambar Hasil Pengamatan... 14
4. Jaringan Hewan dan Tumbuhan 2.1 Macam-macam Jaringan Hewan ... 5
2.2 Macam-macam Jaringan Tumbuhan ... 9
4.3 Data Pengamatan... 19
5. Prodosen dan Konsumen di Perairan 2.2 Gambar Siklus Karbon dan Penjelasannya... 4
PENGENALAN
MIKROSKOP
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Mikroskop berasal dari bahasa Yunani dari kata micro = kecil dan scopium = melihat. Mikroskop adalah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang memepelajari benda kecil dengan menggunakan alat yang disebut mikroskopi. Dan kata Mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata (Wikipedia, 2009).
Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mikroskop monokuler, dan mikroskop binokuler. Mikroskop binokuler itulah yang biasanya digunakan di laboratorium (risnadar ,2009).
Untuk mengetahui cara penggunaan dan pemeliharaan mikroskop binokuler serta cara pembuatan preparat diperlakukan praktikum dan pemebelajaran yang mendalami mengenai mikroskop (scale, 1961).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum Biologi Dasar tentang Penggunaan Mikroskop yaitu untuk mengetahui cara pengguaan mikroskop.
Tujuan dari praktikum Biologi Dasar tentang Penggunaan Mikroskop yaitu untuk memperkenalkan Mikroskop Binokuler dan Pemeliharaan serta pembuatan preparat.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum biologi Dasar tentang penggunaan Mikroskop ini dilaksanakan pada hari Kamis, 29 September 2011 pukulo 18.00 - 20.00 WIB. Bertempat di gedung C (Lantai 1 Laboratorium Ilmu-Ilmu Perikanan (IIP)) Fakultas Periakanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Mikroskop
Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat atau mengenali benda-benda mikroskopis menjadi lebih besar dari aslinya. Mikroskop berasal dari bahasa Latin, mikro= kecil, scopioum = penglihatan (Wikipedia,2009).
Orang yang pertama kali berpikir untuk membuat alat mikroskop ini adalah Zachrians Janssen. Di bantu dengan Hans Janssen, mereka membuat mikroskop pertama kali, yang dibuat saaat itu mampu melihat perbesaran objek hingga 150× dari ukuran asli.
Ada berbagai macam mikroskop, ada dua jenis mikroskop bedarasarkan kemampuan objek yang diamati yaitu Mikroskop 2 dimensi (mikroskop cahaya) dan Mikroskop 3 dimensi (Mikroskop Stereo). Berdasarkan sumber dayanya dibedakan menjadi Mikroskop Cahaya dan mikroskop Elektron. Mikroskop memiliki berbagai macam bentuk, yaitu mikroskop monokuler,mikroskop binokuler, mikroskop perbedaan fase, mikroskop gelap terang (Wikipedia, 2009).
2.2 Sejarah Mikroskop
Menurut Hadi Irawan, (2008) sejarah mikroskop sebagai berikut : Kata mikroskop (microscopie) berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata (micron=kecil dan scopos = tujuan). Yang maksudnya adalah alat yang digunakan untuk melihat benda objek yang terlalu kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata.
Dalam sejarah yang dikenal sebagai pembuat mikroskop pertama kali adalah dua ilmuan Jerman yaitu Hans Janssen dan Zachrians Janssen (Ayah-anak) pada tahun 1590. Temuan mikroskop saat itu mendorong ilmuan lain, seperti Galileo Galilei (italia), untuk membuat alat yang sama. Galileo menyelesaikan pembuatan mikroskop pada tahun 1609 dan mikroskop yang dibuatnya dikenal dengan nama Mikroskop Galileo.
Mikroskop jenis ini menggunakan Lensa Optik, sehingga disebut dengan Mikroskop Optik. Mikroskop yang dirakit dengan Lensa Optik memiliki kemampuan terbatas dalam memperbesar ukuran objek. Hal ini disebabkan karena limit difraksi cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200nm. Untuk itu mikroskop berbasis Lensa optik ini tidak bisa mengamati ukuran dibawah 200nm.
2.3 Macam-macam Mikroskop dan Contohnya.
Menurut Amelia Piliang dan Dido, (2007), mikrokop ada beberapa jenis,yaitu: a) Mikroskop Cahaya
Mikroskop ini mempunyai bagian-bagian bersifat optis. Yang berguna untuk mengamati benda-benda transparan dengan perbesaran 1000×. b) Mikroskop Stereo
Mikroskopini mempunyai 7-30×, ketajaman lensanya lebih baik jika dibandingkan mikroskop cahaya. Jika mengunakan mikroskop cahaya, kita dapat melihat benda dalam tiga dimensi.
c) Mikroskop Pender
Mikroskop ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda-benda asing/antigen dalam jaringan.
d) Mikroskop Medan Gelap
Mikroskop ini digunakan untuk mengamati bakteri hidup, khususnya bakteri yang begitu tipis hampir mendekati batas dayu pisah mikroskop majemuk.
e) Mikroskop Elektron
Mikrokop ini mempunyai perbesaran sampai 100.000×. Mikroskop ini mengunakan electron sebagai pengganti cahaya.
f) Mikroskop fase Konntras
a) Mikroskop Cahaya
a.1 Mikroskop Monokuler
http://biologipakwil.blogspot.com/2011/03/v a.2 Mikroskop Binokuler behaviorulrdefaultumlb.html http://google.image.com
b) Mikroskop Pender c) Mikroskop Medan Gelap
http://blognya-eka.blogspot.com/ http://blognya-eka-blogpot.com/
d) Mikroskop Elektron e) Mikroskop Fase Kontras
http://www.asia.ru
2.4 Bagian –bagian Mikroskop dan Fungsinya
Menurut Susilowati, (2007) Mikroskop terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut :
a. Lensa Okuler : Lensa yang dekat dengan pengamat dan berfungsi sebagai kaca pembesar yang membentuk bayangan maya tegak dan diperbesar dari bayangan yang dibentuk Lensa Objektif
b. Lensa Objektif : Lensa yang dekat dengan objek dan membentuk bayangan nyata, terbalik diperbesar
c. Diafragma : Bagian yang mengatur banyak sedikitnya sinar yang dipantulkan cermin menuju mata pengamat.
d. Reflektor : Terdiri atas cermin datar, dan cermin cekung yang berfungsi untuk memantulkan cahaya ke dalam lubang diafragma dan lubang yang terdapat pada meja benda. Cermin datar digunakan untuk/ jika sumber cahaya cukup terang, sedangkan cermin cekung digunakan jika cahaya kurang terang.
e. Tabung Mikroskop (tubus) : mengatur focus yang menghubungkan lensa objektif dan okuler
f. Pemutar Halus (micrometer) : Menaik-turunkan tubus secara lambat g. Pemutar Kasar (macrometer) : menaik-turunkan tubus secara cepat h. Meja Mikroskop : tempat untuk meletakkan benda yang
: akan diamati
i. Penjepit objek :menjepit kaca preparat yang akan diamati agar tidak mudah tergeser
j. Revolver :tabung yang dapat diputar dan berfungsi sebagai alat pemindah lensa k. Kondensor :untuk mengumpulkan cahaya yang
dipergunakan menerangi preparat dan dapat dinaik-turunkan
l. Engsel inklinusi (sekrup) : mengubah sudut tegak lurus mikroskop
m. Lengan Mikroskop : pegangan untuk membawa Mikroskop n. Kaki Mikroskop : menyangga mikroskop
3. METODOLOGI
3.1 Alat dan Fungsi
Dalam Praktikum Biologi Dasar tentang Mikroskop, alat-alat yang digunakan adalah :
a. Mikroskop : untuk mengamati objek
b. Objek Glass : sebagai alas benda yang akan diamati c. Cover Glass : sebagai peutup benda yang akan diamati d. Gunting : untuk menggunting kertas Koran
e. Pinset : untuk mengambil bahan Objek f. Pipet Tetes : untuk mengambil larutan
g. Beaker Glass : berfungsi sebagai wadah larutan h. Washing Bottle : sebagai tempat aquades
3.2 Bahan dan Fungsi
Adapun bahan-bahan ynag digunakan dalam praktikum Biologi Dasar tentang Mikroskop adalah sebagai berikut :
a. Tissue : untuk membesihkan Objek glass b. Potongan Kertas Koran : sebagai objek Pengamatan c. Aquades : untuk memperjelas bayangan
Disiapkan kertas koran
Dipotong/Gunting Huruf
Diletakkan di Atas objek glass
Ditetesi dengan Aquades
Ditutup dengan Cover Glass dengan sudut 450
HASIL
Disiapkan Mikroskop
Dihubungakan Kabel mikroskop ke Listrik Dinyalakan Saklar
Mikroskop
Diletakkan Preparat di Meja Preparat Diatur Fokusnya Diamati Hasil 3.3 Skema Kerja 3.3.1 Pembuatan Preparat 3.3.2 Pengamatan Mikroskop
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Analisa Prosedur
Dalam praktikum Biologi Dasar dilakukan beberapa tahap. Tahap-tahap dalam Praktikum Biologi Dasar adalah :
4.1.1 Pembuatan Preparat
Hal yang pertama kali dilakuakan adalah menyiapkan kertas Koran. Kemudian menggunting salah satu huruf yakni kuruf “a” setelah digunting, huruf diletakkan di atas meja objek yang sebelumnya telah dibersihkan terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan di glass objek kemudian ditetesi dengan aquades yang diteteskan tidak perlu terlalu banyak.
Setelah objek ditutupi dengan cover glass. Penutupan harus dilakuakan dengan hati-hati yakni dengan meletakkan cover glass sejajar dengan glass objek dan ditutupi pelan-pelan dengan membentuk sudut 45o, agar objek tidak terkontaminasi dengan udara dan bertujuan agar air merata di setiap sudut dan tidak terjadi gelembung.
Hal yang terakhir dilakukan adalah mengammati atau meletakkannya di Mikroskop. Setelah itu dilakukan pengamatan. Langkah-langkah dalam pengamatan objek yang ada di atas meja objek Mikroskop adalah sebagai berikut :
4.1.2 Pengamatan Mikroskop
Langkah pertama dalam mempersiapkan mikroskop adalah meletakkan mikroskop dengan posisi yang benar. Yakni lengan menghadap tempat kita duduk dan meja preparat kea rah sebaliknya. Kemudian menghubungkan kabel mikroskop ke Listrik. Langkah selanjutnya menyalakan scalar mikroskop.
Setelah mikroskop siap, maka diletakkan preparat di meja mikroskop dengan cara membuka penjepit yang ada di atas meja mikroskop. Setelah
itu agar objek tersebut tepat di tengah dan dapat dengan mudah diamati, maka diputar bagian pemutarnya meja preparat ke kanan kiri dan depan belakang. Setelah berada di tepat di tengah objek dapat diamati.
Langkah selanjutnya adalah mengamati perbesaran lemah dengan perbesaran kuat. Bila bayangan yang Nampak kabur mata, maka harus diputar lagi fokusnya dengan pemutar halus. Dalam pengamatan ini harus hati-hati agar lensa objektif tidak membentuk cover glass.
4.2 Analisa Hasil Pengamatan
Adapun data yang dihasilkan dari pengamatan praktikum mengenai penggunaan mikroskop adalah sebuah gambar hurus „a‟ terbalik yang memiliki sifat maya, terbalik, dan diperbesar. Pengamatan tersebut menggunakan jenis mikroskop binokuler yang memiliki lensa okuler berjumlah dua dan menggunakan perbesaran 64×.
Baik lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung. Secara garis besar lensa objektif menghasilkan bayangan yang mempunyai sifat semu,terbalik diperbesar. Terhadap posisi benda mula-mula, lalu yang menentukan sifat bayangan akhir. Selanjutnya adalah lensa okuler. Pada mikroskop cahaya, bayangan akhir mempuinyai sifat yang sama, yaitu semu, terbalik, dan lebih diperbesar lagi. Pada mikroskop electron bayangan akhirnya mempunyai sifat yang sama seperti gambar benda nyata, sejajar dan diperbesar. Jika seseorang yang menggunakan mikroskop cahaya meletakkan huruf “a” yang terbalik dan diperbesar (Wikipedia,2009).
4.3 Gambar dan Hasil Pengamatan
Di dalam praktikum Biologi Dasar hasil pengamatan huruf “a” dari potongan kertas Koran adalah sebagai berikut :
Memiliki Sifat : Memiliki sifat :
- Nyata - Maya
- Tegak - Terbalik
Penjelasan Gambar
1. Lensa okuler : untuk memperbesar bayangan dari lensa objektif 2. Revolver : untuk memilih lensa objektif
3. Lensa objektif : memeperbesar bayangan benda
4. Makrometer : untuk menaik turunkan mikroskop dengan cepat 5. Pengatur penjepit : menggerakkan penjepit ke depan-belakang 6. Pengatur penjepit : menggerakkan penjepit ke kanan-kiri 7. Mikrometer : untuk memfokuskan benda secara lambat 8. Tombol On/Off : untuk menyalakan dan mematikan mikroskop 9. Lampu : sebagai sumber cahaya
10. Kondensor : untuk mengumpulkan cahaya/memfokuskan cahaya 11. Diafragma : untuk mengumpulkan cahaya dalam satu titik
12. Meja Preparat : untuk meletakkan Objek glass 13. Penjepit Preparat : untuk menjepit objek Glass
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dalam Praktikum Biologi Dasar tentang Penggunaan dan pemeliharaan Mikroskop, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat benda-benda mikroskopis dan bergerak halus
2. Mikroskop berfungsi untuk melihat benda-benda mikroskopis yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang
3. Mikroskop binokuler menghasilkan benda maya, terbalik, diperbesar 4. Pengamatan objek dilakukan dengan ketelitian
5. Pengamatan Objek dilakukan dengan perbesaran halus agar gambar bias fokus
6. Bayangan gambar terlihat lebih besar, dan hurufnya terbalik 5.2 Saran
Agar praktikum yang datang mampu menggunakan dan memahami fungsi serta cara kerja mikroskop dengan baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, Pialang dan dida. 2007. Rangkuman Biologi. Graha Ilmu : Yogyakarta Image,2009 . Mikrokop Elektron. Http://www.asia.ru
Image, 2011. Mikroskop Monokuler.
http://biologipakwil.blogspot.com/2011/03/v-behaviorulrdefaultumlb.html
Image,2009. Mikroskop Pender dan Medan Gelap. http://blognya-eka.blogspot.com Image.2009. Mikroskop. http://google.co.id/image-microskop.
Image 2009. Mikroskop.fase kontras. Http://indonetwork.co.id/allofers/60/tahap.html Irawan, Hadi. 2008. Sains Umum. Ganesha Exact : Bandung
SEL TUMBUHAN,
SEL HEWAN,
DAN
BENDA-BENDA KECIL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakangSel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup. Sel yang sejenis dan memiliki fungsi yang sama akan membentuk jaringan. Berbagai jaringan akan membentuk organ. Berbagai macam oragan akan membentukl sistem organ. Berbagai macam sistem organ akan membentuk organisme (Dwisang, 2008).
Setiap organisme adalah sebagian dari unit sel, dan semua sel berasal dari sel pula. Secara umum, sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup. Bentuk sel ada yang pipih, lonjong, bulat, maupun bikonkaf. Namun kesemuanya itu berukuran mikroskopis (Virchaw, 2008).
Sel-sel yang ada pada tumbuhan tentu saja berbeda dengan sel-sel yang ada pada hewan melalui pengamatan, sel hewan dan sel tumbuhan. Diharapkan praktikum dapat mengetahui cirri-ciri perbedaan keduanya (Weisz,1963).
1.2 Maksud dan Tujuan
Tujuan dari praktikum Biologi Dasar tentang Sel Hewan,Tumbuhan dan Benda-benda Kecil lainnya yaitu menerapkan penggunaan mikroskop dengan baik dan benar. Memahami ciri-ciri sekaligus dapat membedakan sel tumbuhan dan sel hewan.
Maksud dari praktikum Biologi Dasar tentang Sel Hewan,Tumbuhan dan Benda-benda Kecil lainnya adalah meneliti dan mengamati sel tumbuhan,sel hewan dan benda-benda kecil lainnya.
1.3 Waktu dan tempat
Praktikum Biologi Dasar tentang sel tumbuhan, sel hewan dan benda-benda kecil lainnya dilaksanakan pada hari Kamis, 29 September 2011 bertempat di Gedung C lantai 1 dimulai dari pukul 18.00-20.00 WIB. Di laboratorium Ilmu-Ilmu perikanan (IIP). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian SelSel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup baik secara struktural maupun fungsional. Sel terdiri dari membran sel, sitoplasma, nukleus, dan organ-organ lainnya. Sel yang sejenisnya dan memiliki fungsi yang sama akan membentuk jaringan (Evi lavina Dwisang, 2008).
Menurur Max Schulze dan Thomas Hute (1825-1984), sel merupakan kesatuan fungsional kehidupan. Rudolf Virchaw (1858). Mengemukakan bahwa sel berasal dari sel (Omnis celulla cellulae). Sehingga lahirlah teori sel. Sel merupakan kesatuan tumbuhan (Pratiwi,dkk,1994).
Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup, yang berarti sel mampu atau dapat hidup tanpa kehadiran sel yang lain. Apila kita katakan sel merupakan struktural terkecil yang mampu melakukan pertumbuhan dan reproduksi, ada orang lain yang mengatakan bahwa virus adalah lebih kecil dari sel (Marianti,2007).
2.2 Sejarah Penemuan Sel
Sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1965) ketika mengamati sayatan sel gabus, dengan mikroskop sederhana. Hasil pengamatan berupa rongga-rongga kosong (karena sel gabus, merupakan sel mati) yang ukurannya sangat kecil yang kemudian disebut sel (cellula=kamar) (kristiyono,2006).
Penemuan selanjutnya dilakukan oleh Methios J. Schlein dan Theodor Schwann (1883) yang mengamati bahwa sel-sel hidup ternyata bukan berupa ruangan kosong, tetapi berisi sitoplasma yang diduga mendukung aktivitas makhluk hidup. Kemudian lahirlah teori sel yang mengatakan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari sel. Dengan demikian, sel merupakan unit struktural dan fungsional makhluk hidup (Khristiyono, 2006).
Menurut max Schulze, sel berasal dari sel (Omnis celulla cellulae). Sehingga lahirlah teori sel. Sel merupakan kesatuan tumbuhan (Pratiwi.dkk,1994).
2.3 Bentuk-bentuk Sel dan Contohnya
Menurut Istamar Syamsuri (2006), bentuk-bentuk sel sebagai berikut : a. Bentuk Pipih : Sel y6ang berbentuk membrane sel tetap
Contoh : Ephitelium
b. Bentuk memanjang : Sel yang bentuknya berubah-ubah karena : tidak memiliki plastid.
Contoh : Amoeba
c. Bentuk Sangat Memanjang : Sel yang bentuknya sangat memanjang
Contoh : Sel Syaraf
d. Bentuk Bikonkaf : Sel yang bentuknya terdapat lekukan di : bagian tengah
Contoh : Sel Darah Merah
e. Bentuk Bulat (Coccus) : Sel yang bentuknya Bulat
Contoh : Bakteri
Menurut Khristiyono (2008), bentuk sel hewan tidak tetap, karena tidak memiliki dinding sel, sehingga pergerakan membrane sel bebas. Pada sel tumbuhan, bentuknya tetap karena memiliki dinding sel sehingga gerakan membran sel terbatas :
a. Butiran-butiran nucleoprotein yang terbesar pada sitoplasma, Contoh: Ribosom
b. Sel terbentuk seperti tabung, dua lapis saling berhubungan dan menutupi,
Contoh : Retikulum Endoplasma
c. Bentuk sel panjang dan mempunyai membrane yang rangkap Contoh : Mitokondri
Sel berbentuk Coccus http://www.google.co.id
Sel Berbentuk Pipih
http://monrow.wordpress.com/tag/jaringan-ikat/
Sel berbentuk sangat panjang http://4.blogspot.com
Sel berbentuk Bikonkaf
http://ramditaa.blogpot.com/2011/04/sel-darah-merah-eritrosit.html
2.4 Bagian-bagian sel dan Fungsinya
Menurut Weise (1963), bagian-bagian sel adalah sebagai berikut : a. Inti Sel (Nukleus) : mengatur selluruh aktivitas sel b. Retikulum Endoplasma : berfungsi dalam transport intra sel c. Ribosom : tempat berlangsungnya sintetis protein d. Mitokondria : tempat berlangsungnya proses respirasi e. Lisosom : mengandung enzim yang berfungsi dalam
: proses pencernaan intrasel f. Vakuola : untuk mencerna makanan
g. Badan Golgi : berfungsi dalam proses sekresi polisakarida, : protein dan lender serta berperan dalam : pembentukan Lisosom
h. Plastida : hanya dijumpai pada tumbuhan
i. Membran Sel : memiliki fungsi dalam pergerakan molekul : dari dalam aturan dari luar sel
j. Sitoplasma : sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis : dan biogeokimia
k. Dinding Sel : untuk perlindungan dan member bentuk sel l. Kromosom : mengontrol aktivitas sel
2.5 Perbedaan Sel Hewan dan Sel tumbuhan
Menurut Dwisang (2008), perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan sebagai berikut :
Sel hewan Sel Tumbuhan
Tidak memiliki Dinding Sel Memiliki Dinding Sel TIdak memiliki Plastida Memiliki Plastida Tidak memiliki Lisosom Tidak memiliki Lisosom Timbunan zat berupa Lemak dan
Glikogen
Timbunan Zat berupa Pori
Bentuk tidak Tetap Bentuk tetap
Vakuola kecil Vakuola Besar
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan FungsinyaDalam Praktikum Biologi Dasar tentang Mikroskop alat-alat yang digunakan antara lain :
a. Mikroskop Binokuler : untuk mengamati objek-objek yang akan diamati b. Objek Glass : digunakan untuk meletakkan objek-objek yang akan
: diamati
c. Silet : untuk mengiris objek
d. Cover Glass : untuk menutup objek yang telah diletakkan pada : objek glass
e. Pinset : untuk mengambil bahan berukuran kecil f. Pipet Tetes : untuk memindahkan dan mengambil larutan g. Jarum pentul : untuk mengambil irisan
h. Beaker Glass : sebagai wadah larutan Y-KY, lugol, aquades
3.2 Bahan dan Fungsinya
Dalam praktikum Biologi Dasar tentang mikroskop, bahan-bahan yang digunakan antara lain :
a. Ketela Pohon : sebagai objek pengamatan b. Paramecium : sebagai objek pengamatan c. Ephitelium : sebagai objek pengamatan d. Daun Hydrilla : sebagai objek pengamatan e. Lugoll : untuk memperjelas bayangan f. Larutan Y-KY : untuk memperjelas bayangan g. Aquades : untuk memperjelas bayangan h. Batang Korek Api : alat untuk mengambil ephitelium
i. Larutan Biru Methilena : untuk memperjelas bayangan Ephitellium : squamosum pipi
Diambil Paramecium dengan Pipet Tetes
Diletakkan di atas Objek Glass
Ditetesi dengan Larutan Lugol
Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450
Diamati dengan menggunakan Mikroskop
HASIL
Diambil Ketela pohon dengan Jarum Pentul
Diletakkan di atas Objek Glass
Ditetesi dengan Larutan Y-KY
Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450
Diamati dengan menggunakan Mikroskop
HASIL 3.3 Skema Kerja
3.3.1 Ketela Pohon
Diambil atau Disayati Daun Hydilla
Diletakkan di atas Objek Glass
Ditetesi dengan Larutan Aquades
Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450
Diamati dengan menggunakan Mikroskop
HASIL
Dikorek bagian dalam pipi dengan batang korek api
Diletakkan di atas Objek Glass
Ditetesi dengan Larutan Biru Ethilene
Ditutupi dengan Cover Glass Sudut 450
Diamati dengan menggunakan Mikroskop
HASIL 3.3.3 Daun Hydrilla
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisa ProsedurAdapun analisis prosedur dari praktikum Biologi Dasar tentang sel hewan, sel tumbuhan, dan benda-benda kecil lainnya adalah :
4.1.1 Ketela Pohon
Mikroskop disiapkan kemudian ketela pohon disayat bagian batang yang terdapat jaringan gabus. Jaringan gabus disayat disetipis mungkin, kemudian diletakkan diatas objek glass dan ditetesi dengan larutan Y-KY untuk memperjelas bayangan. Ditutupi dengan cover glass dengan kemiringan 450 agar tidak ada gelembung. Gunakan mikroskop dengan perbeasaran lemah 40×. Kemudian digambar hasilnya.
4.1.2 Paramecium
Paramecium diambil dengan pipet tetes dari rendaman air jerami. Diletakkan diatas Objek Glass dan ditetsi dengan lugol 1-2 tetes untuk memperjelas bayangan. Lalu ditutupi dengan cover glass dengan kemiringan 45o agar tidak terjadi gelembung. Kemudian diamati dengan perbesaran lemah 40× kemudian digambar hasilnya.
4.1.3 Daun Hydrilla
Daun Hydrilla diambil selembar dengan pinset dan diletakkan pada Objek Glass ditetesi dengan Aquades 1 tetes agar objek dapat dilihat dengan jelas. Kemudian ditutupi dengan Cover Glass dengan kemiringan 45o agar tidak terjadi gelembung. Kemudian diamati dengan perbesaran lemah 40× kemudian digambar hasilnya.
4.1.4 Ephitelium Squamosum Pipi
Ephitellium diambil dibagian dalam pipi menggunakan batang korek api, dioleskan pada Objek Glass. Ditetesi dengan Larutan Biru
Methilene agar objek dapat terlihat dengan jelas. Kemudian ditutupi dengan cover glass dengan kemiringan 45o agar tidak terjadi gelembung dan tidak terkena debu. Kemudian diamati dengan Mikroskop dengan perbesaran lemah 40×. Kemudian hasilnya digambar.
4.2 Analisa Hasil
Adapun hasil dari praktikum Biologi Dasar tentang sel hewan, sel tumbuhan dan benda-benda kecil lainnya adalah :
a) Ketela Pohon
Pada pengamatan irisan ketela pohon (sel gabus) sel-selnya memiliki penampang berbentuk persegi panjang dan trapesium dimana di dalamnya terdapat satu inti sel.
b) Daun Hydilla
Dari hasil pengamatan, sel-sel pada irisan daun hydrilla tersusun rapi berbentuk persegi panjang yang satu dan lainnya saling berdampingan timpang tindih berjejer rapih.
c) Paramecium
Menurut hasil pengamatan terhadap rendaman jerami. sel-sel paramecium memiliki bentuk bulatan kecil yang tidak beraturan terdapat sel (bintik-bintik) yang tersebar merata.
d) Ephitelium Squamosum Pipi
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa Ephitellium Squamosum pipi memiliki membran sel dan berbentuk lonjong agak tidak beraturan.
4.3 Gambar dan Hasil Pengamatan
Dalam praktikum Biologi Dasar, diperoleh data hasil pengamatan dari struktur sel pada ketela pohon, paramecium, ephitellium squamosum dan daun hydrilla.
NO SEL BAHAN GAMBAR HASIL
PENGAMATAN GAMBAR SEL
1. Ketela Pohon (Gabus) www.scibd.com/doc/16429741/pengamatan-sel-tumbuhan 2. Daun Hydrilla http://biology-touchspin.com/hydrilla-verticillata-leaf.php 3. Paramecium http://scribd.com/doc/16429741/2009/09/jaringan-epitel14.html 4. Ephitellium squamosum Pipi http://histovett.blogspot.com/2009/09/jaringan-epitel14.html
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan terhadap sel hewan, sel tumbuhan, dan benda-benda kecil lainnya, didapat kesimpulan sebagai berikut :
Sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup
Sel tumbuhan memiliki dinding sel yang kuat, sehingga memiliki bentuk yang tetap/stabil sedangkan sel hewan tidak
Bentuk-bentuk sel adalah bikonkaf, pipih, batang, kerucut, panjang, dan berubah-ubah (sel hewan)
Larutan fiksasi berfungsi untuk memfokuskan bayangan pada suatu objek yang diamati
Penggunaan larutan Lugol berfungsi untuk fiksasi paramecium,aquadest digunakan untuk fiksasi daun hydrilla, larutan Y-KY digunakan untuk fiksasi sel ketela pohon,dan larutan Bromtimol Biru Methilene digunakan untuk fiksasi Ephitellium Squamosum pipi.
5.2 Saran
Dari praktikum Biologi Dasar tentang sel tumbuhan dan sel hewan serta benda-benda kecil lainnya. Sebaliknya praktikum harus memanfaatkan waktu seefektif mungkin dan berhati-hati dalam menggunakan alat-alat yang ada. Serta praktikum juga untuk mempelajari materi dan membaca buku panduan sebelum melakukan kegiatan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, pialang dan Dida, 2007. Biologi Sel. Graha Ilmu :Yogyakarta Virchow, 2008. Sains of Biology. Erlinger :Jakarta
Marianti, 2007. Biologi Sel. Graha Ilmu :Yogyakarta
Image. 2009. Paramecium. http://scribd.com/doc/16429741/2009/09/jaringan-epitel14.html
Image. 2009. Hydrilla. http://biology-touchspin.com/hydrilla-verticillata-leaf.php Image, 2009 Pengamatan sel tumbuhan.
www.scibd.com/doc/16429741/pengamatan-sel-tumbuhan Image, 2009. Ephitellium squmosum pipi.
SISTEMATIKA,
ANATOMI, FISIOLOGI
DAN
MORFOLOGI
IKAN NILA
(Oreochromis niloticus)
BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang
Saat ini permintaan ikan air tawar naik cukup tinggi untuk kebutuhan domestic dan luar negeri. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasar adalah Budidaya Ikan. Budidaya Ikan Air Tawar salah satunya adalah Ikan Nila (Indhie, 2009).
Ikan nila memiliki factor penting yaitu rasa dagingnya yang vkhas dengan kandungan omega pada patin dan gizi yang cukup tinggi, sehingga ikan nila sering dijadikan sumber protein yang murah dan mudah didapat. Serta harga jualnya yang terjangkau oleh masyarakat (Dhewi, 2005).
Morfologi Ikan Nila adalah memiliki bentuk yang pipih kea rah vertical (kompres), bertulang belakang (vertebrata). Habitatnya perairan, bernafas dengtan insang dan menjaga keseimbangan tubuh menggunakan sirip. Sirip-sirip tersebut bersifat Poikilotermal (Dwisang, 2008).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila.
Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Dasar tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Oktober 2011 pada pukul 18.00-20.00WIB, bertempat di gedung C lantai 1 Laboratorium Hidrologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.
BAB II
2.1 Deskripsi Ikan Nila
Ikan Nila atau Oreochromis niloticus termasuk jenis hewan vertebrata yang seluruh badannya bersisik dan mempunyai gurat sisi. Ikan Nila termasuk dalam filum Chordata yang berarti bertulang belakang atau kerangka tubuh (Dwisang, 2008).
Ikan Nila merupakan salah satub jenis ikan yang dapat dibudidayakan di kolam dan memiliki nilai ekonomis yang cukup penting. Potensi Ikan Niloa sebagai Ikian Budidaya cukup besar, karena memiliki kelebihan, yaitu :
Mudah berkembang biak di lingkungan budidaya Dapat menerima makanan yang beragam
Toleransi terhadap kadar garam/salinitas tinggi Pertumbuhannya Cepat
(Rustia, 1996)
Habitat lingkngan Ikan Nila, yaitu : danau, Sungai, Waduk, Rawa, Sawah, dan perairan lainnya. Selain itu Ikan nila mampu hidup pada perairan payau, misalnya tambak dengan salinitas maksimal 29% oleh karena itu masyarakat yang berada di daerah sekitar pantai dapat membudidayakannya khusus kegiatan pembesaran Ikan Nila (Santoso,1996).
2.2 Klasifikasi Ikan Nila
Menurut Dr. Trewavas (1982) klasifikasi lengkap Ikan Nila adalah sebagi berikut :
Fillum : chordate Sub Fillum : vertebrata Kelas : detoichtyas Sub Kelas : achanthoptarigi Ordo : parcomorphi Sub Ordo : parchokka Family : cichlidan Genus : oreochromis Spesies : niloticus sp
Nama Latin :Oroechromis niloticus Nama Indonesia : Nila
(Ditetapkan Dirjen Perikanan 1972)
Daerah penyebaran : Afrika, Amerika, Eropa, Asia
(Santoso, 1962) 2.3 Morfologi Ikan Nila
Menurut Pratama (2009), ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh yang pipih kea rah vertical (kompres) dengan profil empat persegi panjang kea rah anteroposterior, posisi mulut terletak di ujung/termal.
Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertical dan pada sirip punggungnya garis terlihat condong lekuknya. Ciri ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip, ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal/ ekor yang berbentuk membulat warna merah dan biasa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad (Pratama, 2009).
Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe scenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari darsal yang keras, begitupun bagian awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada (abdormal) (Pratama, 2009).
Menurut wordpress (2010), adapun anatomi dari ikan nila adalah sebagai berikut :
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lender dan sumber-sumber pewarnaan
2. Sistem otot (Urat Daging) : penggerak tubuh, sirip-sirip, insang, organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot, pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh
4. Sistem pernafasan (respirasi) : organnya terutama insang, ada organ-organ tambahan
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : organnya jantung dan sel-sel darah, mengedarkan O2, nutrisi dan sebagainya
6. Sistem pencernaan 1 organnya saluran pencernaan dari mulut sampai anus
7. Sistem Hormon : kelenjar-kelenjar hormone untuk pertumbuhan reproduksinya dan sebaginya
8. Sistem Saraf : Organ otak dan saraf-saraf tepi 9. Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi : Organnya terutama ginjal 10. Sistem reproduksi dan Embriologi : Organnya Gonad Jantan dan
Betina
Ada hubungan yang sangat erat antara kesepuluh sistem anatomi tersebut, misalnya : Menentukan cara bergeraknya daging dan system rangka. System pernapasan dan peredaran darah O2 dari perairan di tangkap
oleh darah, dipertukarkan dengan CO2 dibawa ke seluruh tubuh oleh darah (wordpress,2010.
Anatomi atau organ-organ internal ikan adalah bjantung, alat pencerna, Gonad kandung kemih, dan Ginjal. Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum. Peritoneum merupakan selaput atau membrane yang tipis berwarna hitam y6ang biasanya dibuang joke ikan sedang disiangi (Pratama, 2009).
Sistem pencernaan pada ikan nila melalui proses sebagai berikut. Dari mulai anggota mulut, esophagus/Kerongkongan, Lambung, usus dan terakhir anus (Dwisang,2008).
Proses penyedeerhanaan pada ikan nila melalui cara fisik dan kimia. Sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui system peredaran darah (Dwisang, 2008).
Sisitem pencernaan pada hewan vertebrata dibangun oleh pembuluh-pembuluh yang sifatnya sangat muskuler, yang dimulai dari bagian mulut sampai anus. Organ-organnya adalah rongga mulut faring esophagus lambung usus halus usus besar dan rektum (Pratama, 2009).
2.6 Ekskresi dan Reproduksi
Sistem ekskresi dan reproduksi pada Ikan Nila adalah sebagai berikut 2.6.1 Sistem Ekskresi
Nekanisme system Ekskresi pada ikan yang hidup di air tawar adalah : ikan tidak banyak minum, aktif menyerap ion organic, melalui insang dan mengeluarkan urin yang encer dalam jumlah yang besar (Dwisang, 2008).
Sistem Ekskresi melibatkan organ insang, kulit, Ginjal berfungsi mengekskresikan zat-zat sisa metabolism yang mengandung Nitrogen (Pratama,2009).
Insang sebagai organ pernafasan ikan. Kulit sebagai organ ekskresi karena mengandung kelenjar keringat yang mengeluarkan 5%, 10%dari seluruh metaydisme (Pratama, 2009).
2.6.2 Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada jantan mempunyai tistis. Pada ikan betina mempunyai indung telur, keduanya terletak pada rongga perut. Sebelah kandung kemih dan kanan cili mentari keadaan Gonad Ikan sangat menentukan kedewasaan ikan, meningkat dengan makin meningkatnya fungsi Gonad. Ikan nila umumnya memiliki gonad,
terletak pada bagian posterior rongga perut disebelah bawah ginjal (Pratama, 2009).
Nila berasal dari sungai nil, secara ilmiah/alamiah dapat berkembang biak sepanjang tahun. Namun frekuensi pemijahan, banyak terjadi pada musim penghujan. Ikan ini mudah berkembang biak tanpa perlakuan khusus (meitanisyah, 2010).
Sebelum melangsungkan perkawinan, nila jantan biasanya membuat kubangan berbentuk bulat didasar perairan, kolan (Santoso, 1996).
2.7 Jenis dan Bagian Fungsi Sisik
Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka ragam yakni sisik Gonoid, yang merupakan sisik besar dan kasar, berbentuk lempengan tunggal biasanya tersusun genting. Sisik placoid berbentuk bundar sirkular tetapi tidak sebundar cosmoid. Sisik Stenoid tekstur tajam pada permukaan. Cosmoid berbentuk bulat, halus. Clasoid ujungnya tajam disatu sisi. Posterior dan anteriordiraba halus dan joke dibalik kasar (Saputra, 2007).
Ada beberapa jenis Ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja. Seperti pada paddlefish. Ikan yang hanya ditemukan sepanjang literalis (Dwisang,2008.)
Ikan Sidat (angulla) yang terlihat seperti tidak bersisik tetapi sisiknya kecil yang berlapisi lender yang tebal (Meitanisyah, 2010)
2.8 Jenis dan Bagian Fungsi Ekor
Menurut Seaworld (2011) adapun jenis dan bagian fungsi ekor adalah :
No Jenis Ekor Fungsi Gambar
1. Rounded
Memiliki ekor yang kuat untuk melindungi diri namun lambat
dalam berenang (Aquaviews.2011)
2. Imargind
Memiliki ekor yang kuat untuk berenang
(Aquaviews.2011)
3. Forked
Ikan dapat terus berenang dengan sirip yang bercabang
(Aquaviews.2011)
4. Lunated
Merupan ikan tercepat dan ekornya berfungsi untuk menjaga kecepatan dalam jangka waktu yang lama.
(Aquaviews.2011)
5 Trunced
Memiliki ekor yang kuat untuk melindungi diri, namun lambat dalam berenang
(Aquaviews.2011)
6. Pointed
Untuk mempermudah gerakan saat berenang
(Aquaviews.2011)
BAB III METODOLOGI
3.1 Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Biologi Dasar tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah :
1. Sectio Set : seperangkat alat bedah untuk membedah ikan 2. Nampan : tempat untuk alas alat dan bahan
3. Kamera : untuk menggambar objek
4. Cover Glass : menutup objek pada objek glass
5. Mikroskop : mengamati struktur Anatomi, Fisiologi dan Morfologi : ikan nila yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata 6. Lap Basah : sebagai alat untuk menetralisir keadaan ikan 7. Beaker glass : sebagai wadah larutan aquades
8. Masker : melindungi saat menghirup udara 9. Objek glass : meletakkan Objek yang akan diamati
10. Pipet tetes : untuk mengamb il larutan dalam beaker glass
11. Sarung tangan :untuk melindungi tangan dari bahan agar tidak melukai tangan
3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Biologi Dasar mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan NIla (Oreochromis niloticus) adalah:
1. Ikan Nila : sebagai objek yang akan diamati 2. Tissue : membersihkan alat
3.3 Skema Kerja
3.3.1 Pengamatan Alat Pencernaan dan Sekresi
Diambil Ikan Nila dengan lap basah dan Jaring
Diletakkan Ikan Nila pada Nampan
Ditusuk Ikan Nila dengan Penusuk pada medulla Oblongata
Diamati dan digambar bagian tubuh Ikan Nila
Dibuka bagian perut Ikan Nila mulai anus hingga rongga perut secara melintang dengan sectioset
Diamati dahn Digambar bagian Pencernaan sekresi Ikan Nila
3.3.2 Pengamatan Sisik
3.3.4 Pengamaan Insang
Diambil sisik dengan pinset
Diletakkan di atas objek glass
Ditutup dengan cover glass dengan sudut 45o
Diamati bagian sisik dengan Mikroskop
HASIL
Diambil Insang dengan pinset
HASIL
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam Praktikum Biologi Dasar Ikan Nila, dapat dijelaskan sebagai berikut : 4.1 Data dan Gambar Hasil Pengamatan
Dalam praktikum Biologi Dasar ikan nila, diketahui bahwa data-data Ikan Nila sebagai berikut :
4.1.1 Bagian-bagian Sirip Ikan ikan Nila adalah : a. Sirip Darsal : punggung
b. Sirip Caudal : Ekor c. Sirip Anal : Anus d. Sirip Pektoral : Perut e. Sirip Ventral : Dada
4.1.2 Macam-macam bentuk caudal adalah : a. Rounded (Bulat) : b. Forked : c. Idented/Imargined: d. Square (truncate) : e. Lunate : f. Pointed :
Ikan Nila termasuk ikan yang memiliki bentuk ekor Imargined/Idented 4.1.3 Macam-macam Bentuk Sisik Ikan :
a. Cosmoid : bundar-bundar, tekstur halus, penuh Contoh : Ikan Purba
b. Plakoid : Ujung panjang tajam satu sisi, joke diraba posterior dan : anterior halus, jika dibalik kasar
c. Cycloid : Bundar circular, tidak sebundar cosmoid Contoh : Ikan Kapus
d. Stenoid : Seperti cycloid bundar, tapi tekstur tajam di permukaan Contoh : Ikan Nila
e. Ganoid : bentuk lempengan tunggal, biasanya sisik tersusun : seperti susunan atap
Contoh : Ikan Purba
Jadi, Ikan Nila termasuk ikan yang memiliki jenis sisik Stenoid. 4.1.4 Bagian-bagian insang yang dimiliki oleh ikan nila adalah :
a. Gill filament = berfungsi untuk menyaring oksigen
b. Gill raker = berfungsi untuk meremas-remas makanan c. Gill art = berfungsi untuk menempelkan gill raker dan gill
= filament
4.1.5 Ciri-ciri Usus yang dimiliki oleh ikan, adalah : a. Ikan Herbivora
Ususnya panjang, kecil, lembut => karena herbivora tumbuhan dan proses pencernaannya lama
b. Ikan karnivora
Ususnya pendek, besar, kasar => karena untuk pross pencernaan ikan dengan proses yang cepat
c. Ikan Omnivora Ususnya ideal 4.1.6 Sistem Pencernaan Ikan Nila :
Adapun system pencernaan Ikan Nila sebagai berikut : Mulut Esofagus Lambung Usus Anus 4.1.7 Sistem Ekskresi pada Ikan Nila, yaitu :
Ginjal, Urogenetal, Insang, Kulit 4.1.8 Sistem reproduksi :
4.1.9 Gambar Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum Biologi Dasar Ikan Nila adalah :
4.2 Analisa Prosedur
Adapun analisis prosedur dari praktikum Biologi dasar tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah :
4.2.1 Pengamatan Alat Pencernaan dan sekresi :
Dalam pengamatan alat pencernaan dan sekresi adalah ambil Ikan Nila dengan Lap basah dan jaring. Lap Basah digunakan untuk menetralisir keadaan ikan nila. Kemudian letakkan ikan nila di nampan. Lalu ikan Nila ditusuk dengan penusuk pada bagian antara bola mata ikan (meolula oblongata). Kemudian amati dan digambar bagian ikan nila. Setelah itu dibuka bagian perut ikan nila mulai dari anus hingga rongga perut secara melintang dengan seetroset agar lebih mudah membuka bagian dari ikan nila tidak sobek atau tergores. Joke salah satu bagaian pencernaan terkena alat potong maka tidak akan terlihat bentuk-bentuk ikan nila. Lalu amati dan digambar bagian pencernaan dan sekresi dari ikan nila setelah dapat membuka bagian tubuh ikan nila, lalu amati hasilnya.
4.2.2 Pengamatan Sisik :
Dalam pengamatan sisik ikan nila yang sudah mati, diambil sisiknya dengan menggunakan pinset agar lebih mudah mengambil sisiknya. Kemudian ditaruh di atas objek glass. Tetesi dengan aquades agar bayangan objek dapat terlihat, tutup dengan cover glass dengan sudut 45o agar tidak terjadi gelembung. Amati bagian sisik dengan mikroskop. Lalu digambar hasil pengamatannya.
4.2.3 Pengamatan pada Insang Ikan Nila :
Pengamatan yang dilakukajn pada insang Nila adalah ambil insang yang ada dibagian Kepala (Caput) Ikan Nila dengan menggunakan pinset. Lalu diamati dan digambar bagian Insang.
4.3 Analisis Hasil
Adapun analisis hasil dari praktikum Biologi Dasar tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah : Pada percobaan ikan nila setelah dibedah tampak bagian dalamnya yaitu insang, hati, lambung, usus, pancreas dan gelombang renang. Gelombang renang berfungsi untuk mengatur naik turunnya ikan saat berenang.
Selain organ dalamnya terdapat juga organ bagian ikan yaitu sirip dan sisik. Pada ikan nila adalah catenoid, bentuknya sedikit bergerigi dan fungsi sisik yaitu untuk mengklarifikasi ikan.
Fungsi sirip yaitu menyeimbangkan tubuh ikan dan mempermudah gerakan pada saat berenang. Insang terletak di samping kepala ikan dan pada insang, oksigen dalam air ditangkap oleh darah lalu ke pembuluh darah. System pencernaan dari mulut kerongkongan, lambung, usus, dan berakhir ke anus,
Ikan nila memiliki sisik yang berjenis stenoid. Fungsi dari sisik ikan Nila sendiri adalah untuk melindungi tubuh ikan. Bentuk dari sisik ikan nila yang terbentuk stenoid seperti cycloid bundar, tetapi tekstur tajam di permukaan.
Ikan nila memiliki bentuk caudal bertipe Imargind, yang memiliki ekor yang kuat untuk berenang. Ikan nila biasanya dapat berenang dengan cepat.
BAB V PENUTUP
5.2 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Biologi dasarc tentang Sistematika, morfologi, Fisiologi dan Anatomi ikan Nila sebagai berikut :
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan hewan air jenis vertebrata Seluruh badan ikan memiliki sisik dan gurat sisi
Reproduksi ikan nila memiliki sisik dan gurat sisi Reproduksi ikan nila terjadi di luar tubuh
Sistem pencernaan ikan nila adalah sebagai berikut : Mulut Esophagus Lambung Usus Anus
Ikan nila termasuk ke dalam fillum chordate yang berarti tulang atau kerangka tubuh
Sistem Ikan Nila dalam ekskresi adalah : Ginjal, Uregenital, insang, kulit Bagian tubuh ikan terdiri dari :
1. Kepala (caput) 2. Trunchus (Badan) 3. Ekor (Caudal)
5.2 Saran
Pada praktikum Biologi dasar tentang sistematika, morfologi, fisiologi dan anatomi ikan nila, sebaiknya praktikum untuk memanfaatkan waktu seefektif mungkin dan perlunya perlengkapan alat uhntuk menunjang kelancaran dalam praktikum
DAFTAR PUSTAKA
Dhewi, 2008 Kualitas Ikan Nila. Graha Ilmu: Jakarta Dwisang, 2008. Struktur Tubuh Ikan Nila: Yogyakarta Image. 2009. Caudal of Nila Fish. http://aquaviews.net
Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.31 WIB Image, 2009. Gambar ikan Nila. http://meitanisyah.wordpress.com
Diakses tanggal 07 Oktober 2011 pukul 09.36 WIB Image, 2009. Sisik Ikan Nila. http://australianmuseum.net.au
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.16 WIB Indhie. 2009. Ikan Nila. http://indhie.wordpress.com
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukuol 16.30 WIB Trewavas.Dr, 2009 Klasifikasi Nila. http://meitanisyah.wordpress.com
Diakses pada tanggal 07 Oktober 2011 pukul 12.19 WIB Meitanisyah, 2010 Anatomy of Fish. Erlangga: Jakarta
Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta
Putra, adriansyah, 2010. Macam-macam sisik ikan nila. Graha Ilmu: Jakarta Rustidja,1996. Pola warna dan genetika ikan. Jakarta
Santoso. Budi 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta Santoso,budi,1996. Sistem reproduksi. Kasinius: Yogyakarta
Seaworld. 2011. Jenis ekor Ikan. http://seaworld.org/aquaviews/tetra/mbuthfish.htm Diakses pada tanggal 7 Oktober 2011 pukul 13.01 WIB
JARINGAN
HEWAN DAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh hewan tersusun atas sekelompok sel atau jaringan. Jaringan yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan mereka mempunyai fungsi yang spesifik. Contoh otot-otot jantung yang bercabang menghubungkan sel jantung lainnyal. Percabangan tersebut membantu kontraksi sel-sel dalam satu koordinasi (Campble,1991).
Jaringan pada makhluk hidup dibagi menjadi dua macam jaringan pada tumbuhan dan jaringan pada hewan atau manusia. Jaringan pada tumbuhan terdiri atas jaringan pelindung, jaringan meristem, jaringan parenkim, jaringat penguat (kolemkim dan skelerenkim) dan jaringan pengangkut (xylem dan floem). Sedangkan pada jarinagn hewan terdiri dari jaringan epitel, jaringan otot, jarinmgan ikat dan jarinmgan saraf (Thomy,2008).
Sedangkan jaringan pembentuk organ manusia dan hewan terdiri atas jaringan embrional, jaringan epitel, jaringan otot, jari9ngan saraf dan jaringan penyokong (Suwarno, 2010).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari Praktikum Biologi Dasar tentang Jaringan Tumbuhan dan Jaringan Hewan adalah agar para praktikan mengetahuio struktur sel yang menyusun jaringan tumbuhan dan jaringan hewan.
Tuujuan dari praktikum Biologi Dasar tentang Jaringan Tumbuhan dan Jaringahn hewan adalah untuk mengamati struktur sel yang menyusun jaringan tubuh hewan dan tumbuhan serta mengetahui perbedaan jaringan hewan dan tumbuhan.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum Bioologi Dasar tentang Jaringan hewan dan tumbuhan dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Oktober 2011 pada pukul 18.00-20.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Ilmu-Ilmu Perairan (IIP) di gedung C lantai 1, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Jaringan
Jaringan adalah tiap-tiap kumpulan protoplasma yang mempunyai dinding atau merupakan suatu kumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama. Dengan batasan diatas, terutama anak kalimat “suatu kumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama”, maka kita dapat mengumpulkan bahwa tumbuhan mempunyai jaringan adapula yang tidak mempunyai jaringan, serta hewan juga terdapat jaringtan (Sutrion, 1992).
Jaringan dalam Biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentik dan fungsi yang sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fisiologi yang sama membentuk organ. Cabang Ilmu Biologi yang mempelajari jaringan adalah histology. Sedangkan cabang Ilmu Biologi mempelajari jaringan dalam hubungan dengan penyakit adalah histopologi (Kertasapoetro, 1991).
Jaringan Tumbuhan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pada jaringan tubuh, tumbuhan dikelompokkan dalam tubuhan, tipe sel, fungsi, asal-usul perkembangannya. Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan dapat dibedakan menjadi jaringan sederhana dan rumit. Jaringan sederhana bersifat homogeny hanya terdiri atas satu tipe sel. Sedangkan jaringan rumit bersifat heterogen, terdiri atas 2 sel atau lebih tipe sel. Parenkim, kolenkim, dan sklerenkim adalah jaringan sederhana, sdangkan xylem, floem dan epidermis adalah jaringan rumit (Laila, 2004).
2.2 Diferensiasi Jaringan
Setiap sel mempunyai satu atau dua fungsi yang tepat dilaksanakan, tergantung pada sel-sel lain untuk melaksanakan fungsi-fungsi lainnya yang perlu untuk mempertahankan kehidupan organism dan dirinya. Proses spesialisasi ini dalam pembagian kerja di antara sel-sel dinamakan diferensiasi (Kimball, 1983).
Tumbuhan tersusun atas berbagai jaringan, banyaknya pengetahuan tentang struktur jaringan menyebabkan kesulitan dalam memberikan definisi yang tepat suatu jaringan. Definisi jaringan adalah kelompok sel-sel dengan asal usul, struktur dan fungsi yang sama (Mulyani,2006).
Sel-sel itu membentukl jaringan (suatu kumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama). Beberapa macam jaringan membentuk sistem organ tumbuhan dan beberapa system organ membentuk tumbuhan tersebut (sutrian, 1992).
2.3 Jaringan Hewan (Macam-macam dan Gambar)
Adapun macam-macam jaringan pada hewan sebagai berikut :
NO NAMA JARINGAN KETERANGAN GAMBAR
1. Jaringan Epitel
Merupakan jaringan penutup tubuh, berfungsi sebagai pelindung jaringan yang ada di dalamnya (Dwisang, 2008). (google.image, 2011) 1.1 Epitel Berlapis Tunggal 1.1.1 Epitel Selapis 1.1.2 Epitel Kubus Selapis 1.1.3 Epitel Silinder Selapis
Tersusun atas satu lapis sel
Contoh : Epitel pada pembuluh darah dan pembuluh Limfa (Dwisang, 2008).
Contoh : Epitel pada saluran Ginjal dan kelenjar keringat (Dwisang, 2008)
Contoh : Epitel pada usus dan lambung (Dwisang, 2008)
(google.image, 2011)
(google.image, 2011)
1.2 Epitel berlapis banyak 1.2.1 Epitel pipih berlapis banyak 1.2.2 Epitel Kubus berlapis banyak 1.2.3 Epitel Silinder berlapis banyak 1.2.4 Epitel Silindris berlapis bersilia 1.2.5 Epitel Transirronal 1.2.6 Epitel berlapis semu
Tersusun dari beberapa lapis sel
Contoh : epitel yang terdapat pada epidermis kulit vertebrata, rongga mulut, dan rongga hidung (Dwisang, 2008).
Contoh : Epitel pada kelenjar keringat dan ovarium (Dwisang, 2008).
Contohnya adalah epitel yang terdapat pada kenjanghua mata (Dwisang, 2008)
Contoh : Epitel yang terdapat pada trakea dan bronkus (Dwisang, 2008)
Epitel yang bentuk selnya dapat berubah-ubah
Contoh: epitel pada ureter dan ginjal (Dwisang, 2008).
Epitel yang hanya terdiri atas sel-sel epitel batang yang berdekatan satu sama lain. Contoh :epitel pada rongga pendengaran (Google.image, 2011) (Google.image,2011) (Google.image, 2011) (google.image, 2011) (google.image, 2011) (google.image, 2011)
2. Jaringan Otot 2.1 Otot Jantung 2.2 Otot Lurik/Rangka 2.3 Otot Polos
Tersusun atas sel-sel otot. Berfungsi sebagai penggerak tubuh (Dwisang,2008)
Jumlah inti sel banyak, letak inti sel dipusat sel, bekerja tidak sadar, letaknya di jantung. Reaksi terhadap
rangsangannya lambat, gerakan tidak cepat lelah (Dwisang, 2008).
Jumlah inti sel banyak, letak inti sel, sistem kerjanya secara sadar, letaknya melekat pada rangka reaksi terhadap rangsangnya cepat, gerakannya cepat lelah (Dwisang, 2008)
Jumlah inti selnya satu, letak intiselnya ditengah sel, bekerja secara tidak sadar , letaknya pada usus dan pembuluh darah reaksi terhadap rangsangnya lambat dan gerakannya tidak cepat lelah (Dwisang, 2011).
(google.image.2011)
(google.image, 2011)
(google.image, 2011)
3.
Jaringan Saraf Sel-sel saraf disebut neuron, neuron berfungsi untuk
menerima dan menghantarkan rangsang. Neuron terdiri dari :
a. Badan Sel b. Dendrit c. Neurit/akson (Dwisang, 2008) (google.image,2011) 4. 4.1 Jaringan Ikat 4.1.1 Jaringan Ikat Longgar 4.1.2 Jaringan Ikat Padat 4.2 Jaringan Tulang 4.2.1 Jaringan tulang rawan (Kartilago) 4.2.2. Jaringan Tulang keras (Osteon)
Jaringan yang menghubungkan jaringan yang satu dengan yang lain.
Terdiri dari serabut substansi dasar, sel-sel dan cairan ekstra cellular memberi bentuk organ-organ dalam
Berfungsi menghubungkan organ satu dengan yg lain (Dwisang, 2008).
Bersifat kuat dan lentur (Dwisang,2008)
Bersifat sebagai penyokong tubuh, alat gerak pelindung organ dalam (Dwisang, 2008)
(Google.image, 2011)
(Google,image, 2011)
2.4 Jaringan Tumbuhan (Macam-macam dan Gambar)
Menurut Dwisang, 2008. Adapun macam-macam jaringan tumbuhan adalah :
NO NAMA
JARINGAN KETERANGAN GAMBAR
1 Jaringan Meristem 1.1 Meristem Apikal 1.2 Meristem Interkalar 1.3 Meristem Lateral
Terdiri dari sel-sel yang selalu membelah diri dan belum
terdiferensiasi.
Terdapat di ujung pucuk utama, pucuk lateral dan yang akar jaringan ini mengalami pembelahan sel secara mitosis (Dwisang, 2008)
Terdapat diantara jaringan jaringan dewasa.
Contohnya : meristem pada pangkal ruas tumbuhan rumput-rumputan (Dwisang, 2008). Terletak sejajar dengtan permukaan organ tempat ditemukannya. Jaringan ini berperan dalam