• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

(2)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Membantu Menteri Koperasi dan UKM dalam menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pembiayaan yang meliputi perumusan, koordinasi,

perencanaan dan pengembangan kebijakan dan

penyelenggaraan fungsi teknis pemberdayaan KUMKM di bidang pembiayaan

Tugas Deputi Bidang Pembiayaan

1) Membuka Kesempatan KUKM terhadap Akses Permodalan/Kredit.

2) Membuat Kebijakan dan Membantu Pertumbuhan Lembaga-Lembaga Pembiayaan/Lembaga Penjaminan dll.

3) Membina, Mengawasi dan Menilai Kesehatan KSP/USP/KJKS serta memberikan sanksi .

4) Menjajagi Sumber-Sumber Pendanaan Lain yang dapat di akses KUKM

5) Monitoring Kegiatan yang telah dilaksanakan

Peranan Kegiatan Pembiayaan KUKM

(3)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

8. Peningkatan Kerjasama Pembiayaan Skala Nasional, Regional dan Internasional

7. Konsolidasi Pemanfaatan IT untuk KISSME (Koordinasi, Integrasi, Simplifikasi, Sinkronisasi, Monitoring & Evaluasi)

6. Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi Pengelola Lembaga Pembiayaan

5. Pengembangan Jaringan dan Kerjasama Lembaga Pembiayaan

4. Pengawasan dan Pengendalian Lembaga Pembiayaan

3. Pengembangan Lembaga Pembiayaan

2. Perluasan Sumber Pembiayaan

1. Peningkatan Akses Pembiayaan

Strategi Pengembangan KUMK

Bidang Pembiayaan

(4)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Tahun

Koperasi

Anggota

2011

188.181

30.849.913

2012

194.295

33.869.439

2013

203.701

35.258.176

Per Juni 2014

206.288

35.237.990

(5)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Kop/Unit

Jumlah

Anggota

Kopdit/KSP

10.838

3.052.641

USP-Kop

95.881

15.409.283

KJKS

1.197

136.710

UJKS-Kop

2.163

333.282

(6)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN 1986 2006 2010 2011 2012 2013 2,765 4,577 4,838 4,952 4,968 5,066 n/a 36,763 42,631 44,280 48,997 52,106 94,534 472,602 573,601 602,195 629,418 654,222 1,416,935 8,101,868 3,207,500 4,559,969 5,856,176 57.189.393

Definisi Sesuai dengan UU No. 20/2008 tentang UMKM :

Berdasarkan Asset per tahun : Usaha Mikro (<Ro. 50 juta), Usaha Kecil (Rp. 50 juta s/d Rp. 1 milyar), Usaha Menengah (>Rp. 1 milyar s/d 3 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 3 milyar) Atau Berdasarkan omset per tahun; Usaha Mikro (≤Rp. 300 juta), Usaha Kecil (Rp. 300 juta s/d Rp. 2,5 milyar), Usaha Menengah (lebih dari Rp. 2,5 milyar s/d 50 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 50 milyar)

Data Perkembangan UMKM

Kondisi Aktual 98,77% (± 57,18 juta)

Pelaku Usaha adalah Usaha Mikro

Data Kementerian KUKM dan BPS 2013

(7)

1.

2.

Target 3.400 Wirausaha Pemula maksimal @ Rp. 25 Juta

Dialokasikan 25% bagi Wirausaha Pemula yang bergerak di sektor perikanan (Nelayan, masyarakat pesisir) dan sektor ketahanan Pangan

Target 600 Koperasi @ Rp. 50 Juta

25% diantaranya diperuntukan bagi Koperasi di sektor perikanan (Nelayan, masyarakat Pesisir) dan sektor ketahanan Pangan

Dinas yang membidangi Koperasi dan UKM melaksanakan monev terhadap Wirausaha Pemula penerima bansos dan melaporkan hasilnya

PROGRAM/KEGIATAN STRATEGIS 2015

PROGRAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS RAKYAT

Perkuatan Modal Awal

(Start Up Capital) Bagi Wirausaha Pemula

PROGRAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN EKONOMI DENGAN MENGGERAKAN SEKTOR- SEKTOR STRATEGIS EKONOMI DOMESTIK Perkuatan Permodalan Bagi Pengembangan Koperasi Wanita

Serta Koperasi Pedesaan dan Perkotaan

(8)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Keterbatasan akses usaha mikro, kecil & koperasi

memperoleh

permodalan/pembiayaan

dari

lembaga

keuangan formal (Bank, LKBB)

Dasar Hukum Pembentukan:

UU No.20/2008 tentang UMKM Pasal 7(1), 21(1), 22

dan 23(1);

UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal

68 dan 69(1);

PP

No.58/2005

tentang

Pengelolaan

Keuangan

Daerah Pasal 118(3) dan Pasal 146

Permendagri No.61/2007 tentang PPK BLUD Pasal1,2(1)

Permendagri No. 37/2014 tentang tentang Pedoman

Penyusunan APBD 2015 V, Poin no.15

3.

INISIASI PEMBENTUKAN BLUD-DB

(9)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Lanjutan...

PP 58/2005 menyatakan bahwa Pemerintah Daerah

dapat membentuk BLUD untuk :

(a) Menyediakan barang dan/atau jasa untuk

layanan umum dan (b) mengelola dana khusus dalam

rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan

kepada masyarakat.

(10)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Provinsi yang sudah membentuk BLUD-DB :

1.

Provinsi Lampung

2.

Provinsi Maluku

3.

Provinsi Maluku Utara

4.

Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten/Kota yang sudah membentuk BLUD-DB :

1.

Kota Payakumbu (Sumbar);

2.

Kota Batam (Kepri);

3.

Kota Cilegon (Banten);

4.

Kabupaten Sragen (Jateng);

5.

Kabupaten Purworejo (Jateng);

6.

Kabupaten Tangerang (Banten)

Lanjutan...

(11)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN Dasar

Kepmenkop dan UKM No. 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Usaha Jasa Keuangan Syariah.

Tujuan

Penguatan Kapasitas Lembaga dan Pendanaan KJKS/KBMT dalam Pengelolaan ZISWAF

1. Memperkuat legalitas KJKS/UJKS dalam pengelolaan zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf (ziswaf)

2. Mengoptimalkan pendayagunaan ziswaf sebagai sumber pendanaan bagi pemberdayaan usaha mikro dan kecil;

3. Memperkuat kapasitas manajamen dan kepatuhan syariah dalam pengelolaan

Pendayagunaan Zakat

Melalui kerjasama dengan 7 (tujuh) Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) untuk memperkuat legalitas pengelolaan zakat oleh koperasi sebagai Mitra Pengelola Zakat

Pendayagunaan Wakaf

Melalui kerjasama dengan Badan wakaf Indonesia, memperkuat legalitas pengelolaan wakaf uang oleh koperasi sebagai Nazir Wakaf Uang.

Penguatan Kapasitas SDM Pengelola

Bekerjasama dengan Deputi SDM KUKM, melaksanakan Diklat Peningkatan Kapasitas Pengelolaan ZISWAF, Dewan Pengawas Syariah, Manajemen dan Kepatuhan Syariah

(12)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

1. Pendayagunaan ZIS melalui Pembentukan Mitra Pengelola Zakat dari Laznas

LAZ Nasional Jumlah MPZ Aktif Keterangan

1. Dompet Dhuafa 128 MPZ LAZNAS yg telah MoU Lainnya:1)Rumah Zakat; 2) PKPU; 3) Baitulmaal Hidayahtullah; 4) LAZ Muhamadiyah; 5) LAZ BSM

2. Baitul Maal Muamalat 86 MPZ

2. Fasilitas KJKS/KBMT sebagai Nazir Wakaf Uang Fasilitasi/

Tahap

2013 2014

Keterangan

1 2 3 4 5 6

Pemohon 12 29 18 13 15 23 KJKS/KBMT yg berminat difasilitasi Pengajuan 10 20 16 11 13 15 Berkas yang lengkap sesuaipersyartan

Penetapan 8 15 15 10 13 51 KJKS/KBMT Nazir Wakaf Uang

Lanjutan...

(13)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

3. Bimtek Zakat dan Wakaf

Realisasi

2012 2013 2014

120 KJKS/KBMT 120 KJKS/KBMT 120 KJKS/KBMT

4. Diklat Perkuatan Kapasitas SDM Pengelola

a. Diklat Peningkatan Kapasitas Pengelola ZIS (MPZ) 105 Orang

b. Diklat Peningkatan Kapasitas Dewan Pengawas Syariah 142 Orang

c. Diklat Peningkatan Kapasitas Nazir Wakaf Uang 70 Orang

d. Diklat Peningkatan Kapasitas Manajemen Kompetensi dan Kepatuhan Syariah 280 Orang

(14)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Sampai dengan Bulan November 2014 telah berdiri dan beroperasi sebanyak 12 PT. Jamkrida di Provinsi: Jawa Timur, Bali, Riau, NTB, Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Banten dan Kalimantan Timur.

 22 Provinsi sisanya yang belum berdiri dan sedang dalam proses:

 Provinsi Jawa Tengah, Papua dan NTT diharapkan dapat memperoleh izin OJK dan segera beroperasi pada akhir tahun 2014 atau awal 2015.

 Provinsi D.I. Yogyakarta dan Sumatera Utara diminta segera membentuk Perda/Pergub Penyertaan Modal.

 Provinsi Aceh diminta menyusun Perda Pembentukannya, walaupun saat ini modal disetor sudah tersedia.

 Provinsi Sulawesi Selatan, Bengkulu dan Sulawesi Tengah segera menyesuaikan Perda yang sudah dibentuk dengan PMK 99 Tahun 2011.

 Provinsi Kalimantan Barat dan DKI Jakarta diharapkan segera memenuhi jumlah minimal modal disetor yang dibutuhkan.

 Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, Papua Barat dan Lampung diharapkan dapat mengintensifkan kerja tim yang sudah dibentuk untuk mempercepat pendirian PPKD.

 Provinsi Jambi, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku dan Kalimantan Utara diminta memahami pentingnya memiliki PPKD.

Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah (PPKD)

5.

(15)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Program SHAT merupakan Lintas Sektor yang dipayungi oleh Kesepakatan Bersama

yang pertama kalinya pada tahun 2007 antara Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Dalam Negeri dan Kepala Badan Pertanahan Nasional. Kemudian disepakati program tersebut dilanjutkan dengan diikuti Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Perumahan Rakyat.

 Realisasi SHAT Tahun 2008 – 2014

 Tanah yang telah tersertipikasi: 161.963 bidang atau 86,38% dari total target 187.500

bidang

 Sertipikat yang sudah dimanfaatkan untuk akses permodalan: 67.083 sertipikat atau 35,78%.

 Target tahun 2014 sebanyak 20.000 bidang dengan realisasi sertipikat yang telah diterbitkan per akhir November 2014 sebanyak 15.090 bidang atau 77,52%. Sedangkan, target tahun 2015 dialokasikan sebanyak 25.000 bidang.

 Dinas Koperasi dan UMKM masing-masing Provinsi diminta:

 Pra sertipikasi (T-1): menginventarisasi data by name by address calon peserta program SHAT.  Pasca sertipikasi (T+1): menjembatani kerjasama peningkatan akses pembiayaan antara UMK

dengan perbankan.

Sertifikasi Hak Atas Tanah (SHAT)

6.

(16)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Perlu ditingkatkan kualitas pelaksanaan tugas 2.571 orang anggota Satgas Pengawas di 317 Kabupaten/Kota pada 33 Provinsi/DI.

 Kab/Kota yang belum membentuk Satgas Pengawas agar segera membentuk Satgas, sehingga tugas pengawasan dapat lebih fokus.  Tugas pengawasan terhadap KSP merupakan pendelegasian

kewenangan dari Menteri Kopearsi dan UKM kepada Pemerintah Deerah/SKPD yang membidangi Koperasi dan UKM

 Tugas Satgas Pengawas adalah

 Melaksanakan Pengawasan terhadap KSP/USP-Koperasi, KJKS/UJKS-Koperasi dan KJKS/UJKS-Koperasi Kredit yang meliputi:

 Pengawasan mengenai kelembagaan Koperasi Simpan Pinjam.  Pengawasan usaha KSP/USP, KJKS/UJKS dan Kopdit.

 Penilaian kesehatan KSP/USP, KJKS/UJKS, dan Kopdit.  Pemeriksaan secara berkala atau sewaktu-waktu.

Pemberdayaan dan Aktivasi Satuan Tugas (Satgas) Pengawas KSP

7.

(17)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Pengawasan terhadap aspek kehati-hatian KSP/USP, KJKS/UJKS, dan Kopdit.

 Melakukan koordinasi dalam rangka pelaksanaan pengawasan secara obyektif.

 Melakukan advokasi dalam rangka penyelesaian kasus-kasus berkaitan dengan usaha simpan pinjam koperasi di wilayahnya.

 Menertibkan kewajiban pelaporan oleh KSP/USP Koperasi, KJKS/UJKS Koperasi dan Kopdit serta melakukan tindak lanjut analisa dan teguran atau surat-surat pembinaan atas hasil analisa laporan-laporan.

 Melakukan advokasi dalam rangka perbaikan terhadap aspek-aspek yang lemah dalam pengawasan agar dalam waktu 1 (satu) tahun

sudah terjadi perbaikan dan peningkatan.

 Rekapitulasi Perkembangan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi sebagaimana terlampir.

Pemberdayaan dan Aktivasi Satuan Tugas (Satgas) Pengawas KSP

(18)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Dalam rangka pemberdayaan sesuai dengan UU nomor 1 tahun 2013 tentang

Lembaga Keuangan Mikro, pada tanggal 11 Juli 2014 telah ditanda tangani Nota Kesepahaman antara Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Dalam Negeri dan

Kementerian Koperasi dan UKM tentang Koordinasi Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro.

 Tugas Kementerian Koperasi dan UKM melakukan:

 Sosialisasi UU No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro.

 Koordinasi dengan Kementerian atau Lembaga yang mempunyai program terkait

dengan pengembangan KUMKM.

 Inventarissi LKM yang belum berbadan hukum.

 Pembinaan dan pengawasan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi.

 Pengawasan LKM dilakukan oleh OJK dan didelegasikan pada Pemerintah Daerah

yang dalam pelaksanaannya dapat diberikan kepada SKPD yang menangani Koperasi.

 Pembagian tugas dan fungsi yang tegas antara pelaksanaan tugas pendelegasian

dari menteri Koperasi dan UKM dan dari OJK.

 Diagram Koperasi Simpan Pinjam sebagai Model Pengembangan LKM terlampir.

Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro

9.

(19)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Temu Konsultasi Implementasi Kebijakan Perpajakan Bagi KUKM di 7 Provinsi dengan total jumlah peserta sebesar 225 orang terdiri dari gerakan koperasi, pelaku dan asosiasi UKM serta pembina Koperasi dan UKM Provinsi/Kabupaten/Kota. Kegiatan ini dimaksudkan selain untuk memberikan informasi juga untuk menampung aspirasi, masukan dan usulan baik dari peserta maupun akademisi dan praktisi pajak. Usulan tersebut dimaksudkan untuk menyempurnakan PP 46/2013 sebagai berikut : 1. Menaikkan batasan omzet yang dikenakan PP 46/2013 dari

semula Rp 4,8 milyar menjadi Rp 6 milyar per tahun.

2. Pengenaan pajak perlu dalam beberapa tingkatan/layer yang disesuaikan dengan kemampuan UKM untuk membayar pajak

3. Apabila UKM mengalami kerugian diusulkan agar pembayaran pajaknya dapat diangsur dan dibebaskan dari pengenaan sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan.

Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Kebijakan Perpajakan Bagi KUKM

(20)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

 Merupakan sarana terpadu dan terkoordinasi dengan KPP setempat, perbankan serta Dinas Koperasi dan UKM. KKP dimaksudkan untuk mempermudah Koperasi dan UKM dalam mengakses permodalan sekaligus menjadikan Koperasi dan UKM taat pajak. Selain itu, kami juga mengusulkan agar Direktorat Jenderal Pajak menyediakan petugas Account Representative (AR) di setiap Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang memahami tentang Koperasi dan UKM, sehingga apabila Koperasi dan UKM mengalami masalah dapat secara langsung memperoleh solusi.

Pembentukan Klinik Konsultasi Pajak (KPP) di Daerah

11.

Referensi

Dokumen terkait

UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) memiliki kontribusi besar dalam perekonomian Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa terdapat total

Penyusunan Laporan Triwulan pelaksanaan program/kegiatan Kementerian Koperasi dan UKM, merupakan upaya secara periodik untuk memberikan gambaran capaian kinerja

Dinas yang membidangi Koperasi dan UKM harus mematuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam jSesuai Peraturan Deputi Bidang Kelambagaan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor:

1. Mengkoordinasikan kegiatan keuangan inklusif dengan kementerian/lembaga terkait. Melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan program

Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-292/MK.5/2006 tentang Penetapan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah pada Kementerian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis tingkat kesehatan koperasi berdasarkan Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi Republik Indonesia Nomor:

bahwa dalam rangka pemberdayaan Koperasi, Usaha Mikro dan Kecil anggota koperasi, diperlukan upaya melalui pemberian bantuan dana yang bersumber dari bantuan sosial

Hasil Kinerja Tahun 2016diharapkan menjadi pedomandalam pelaksanaan tugas dan fungsi pada setiap unit kerja di lingkungan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif,