• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

8

Universitas Kristen Petra

2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Tinjauan Iklan

2.1.1.1. Definisi Iklan

Copley (2004) mengatakan, “Advertising is by and large seen as an art – the art of persuasion – and can be defined as any paid for communication designed to inform and/or persuade” (p.105). Periklanan dipandang sebagai sebuah seni persuasi dan dapat juga didefinisikan sebagai segala bentuk komunikasi yang dirancang untuk memberitahu dan/atau membujuk.

2.1.1.2. Tujuan dan Fungsi Iklan

Tujuan periklanan ditetapkan berdasarkan pasar sasaran, penentuan posisi pasar, dan bauran pemasaran dari produk atau merek tertentu. M. Suyanto (2004) membagi tujuan-tujuan iklan sesuai sasarannya menjadi (p.4-9):

a. Iklan informatif

Bertujuan membentuk permintaan pertama pada produk. Hal ini bisa dicapai dengan memberitahukan kepada pasar tentang produk baru, mengusulkan kegunaan baru suatu produk, memberitahukan tentang perubahan harga, menjelaskan cara kerja suatu produk, menjelaskan pelayanan yang tersedia, mengoreksi kesan yang salah, mengurangi kecemasan pembeli, dan membangun citra perusahaan. Iklan informatif biasanya dilakukan secara besar-besaran pada tahap awal suatu jenis produk.

b. Iklan persuasif

Bertujuan membentuk permintaan selektif suatu merek tertentu. Iklan persuasif dilakukan pada tahap kompetitif dengan membentuk preferensi merek, mendorong alih merek, mengubah persepsi pembeli tentang atribut produk, membujuk pembeli untuk membeli sekarang, dan membujuk pembeli menerima kunjungan penjualan.

(2)

9

Universitas Kristen Petra c. Iklan pengingat

Bertujuan mengingatkan konsumen pada produk yang sudah mapan dengan menunjukkan bahwa produk tersebut mungkin akan dibutuhkan kemudian, mengingatkan di mana produk dapat dibeli, membuat pembeli tetap ingat produk itu walau tidak sedang musim, dan mempertahankan kesadaran puncak.

d. Iklan penambah nilai

Bertujuan menambah nilai merek pada persepsi konsumen dengan melakukan inovasi, perbaikan kualitas, dan penguatan persepsi konsumen. Bila dilakukan dengan baik, iklan bisa menambah nilai suatu merek sehingga dipandang lebih elegan, lebih bergaya, lebih prestisius, dan mungkin lebih unggul dalam persaingan dengan merek lain.

e. Iklan bantuan aktivitas lain

Bertujuan membantu memfasilitasi usaha lain perusahaan dalam proses komunikasi pemasaran selain dari “berjualan” produk. Misalnya iklan yang membantu pelepasan promosi penjualan (kupon), membantu wiraniaga (perkenalan produk), menyempurnakan hasil komunikasi pemasaran yang lain (konsumen dapat mengidentifikasi paket produk di toko dan mengenal nilai produk lebih mudah setelah melihat iklan). Selain tujuan, sebuah iklan juga memiliki bermacam-macam fungsi. Fungsi-fungsi tersebut dijabarkan oleh Dharmmestha (1990) menjadi:

a. Memberikan informasi

b. Membujuk atau mempengaruhi (persuasi) c. Menciptakan kesan

d. Memuaskan keinginan e. Alat komunikasi

2.1.1.3. Strategi Kreatif Iklan

Setiap iklan selalu mengandung pesan. Pesan dalam sebuah iklan pada prinsipnya merupakan manfaat utama yang ditawarkan merek sebagai pengembangan konsep produk (Suyanto, 2004). Untuk memilih pesan dibutuhkan strategi kreatif. Suatu bagian penting dari strategi kreatif adalah menentukan ide

(3)

10

Universitas Kristen Petra penjualan utama yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan. Beberapa pendekatan untuk mengerjakan strategi kreatif antara lain:

a. Pendekatan generik

Ditemukan oleh Michael E. Porter. Pendekatan ini berorientasi pada keunggulan biaya keseluruhan dan diferensiasi. Keunggulan biaya keseluruhan menonjolkan harga lebih rendah, atau diferensiasi menonjolkan perbedaan dengan pesaing tetapi tidak secara superior.

b. Pendekatan preemptive

Hampir sama dengan pendekatan generik, hanya pendekatan ini menonjolkan sisi superioritasnya.

c. Pendekatan unique selling proposition

Dikembangkan oleh Rosser Reeves. Pendekatan ini berorientasi pada keunggulan produk yang tidak dimiliki pesaing. Kelebihan tersebut juga menjadi sesuatu yang dicari atau dijadikan alasan bagi konsumen untuk menggunakannya.

d. Brand image

Sebuah merek atau produk diproyeksikan pada suatu citra tertentu. Pendekatan ini memiliki gagasan agar konsumen dapat menikmati keuntungan psikologis dari sebuah produk (selain keuntungan fisik yang mungkin ada). Ini biasanya berorientasi pada simbol kehidupan. Pendekatan ini dipopulerkan oleh David Ogilvy.

e. Pendekatan inherent drama atau pendekatan karakteristik produk

Pendekatan ini menggunakan pendekatan yang menekankan pada filosofi periklanan Leo Burnett. Dia percaya bahwa iklan didasarkan pada landasan manfaat yang diperoleh konsumen. Ia menekankan elemen dramatik yang diekspresikan pada manfaat tersebut.

f. Konsep positioning

Konsep ini dikemukakan oleh Jack Trout dan Al Ries pada awal tahun 1970-an dan menjadi dasar yang populer dalam mengembangkan strategi kreatif. Gagasan umum positioning adalah menempatkan sebuah produk dalam suatu posisi yang baik di benak konsumen. Merek yang telah memiliki posisi mapan pada benak konsumen akan menjadi faktor pengaruh yang kuat pada saat konsumen memerlukan solusi dan menjadi market leader di antara produk pesaingnya.

(4)

11

Universitas Kristen Petra Positioning bukan yang dikerjakan terhadap produk, tetapi yang dikerjakan terhadap benak konsumen.

Selain pendekatan strategi, iklan juga punya pendekatan kreatif karena pesan di dalam iklan harus disampaikan secara kreatif. Strategi kreatif yang sudah dibuat akan diolah menjadi tema, daya tarik, dan gaya eksekusi pesan. Untuk mengetahui pilihan mana yang memiliki kemungkinan berhasil paling tinggi bagi target sasaran, diperlukan adanya analisis dan riset pasar.

Berikut adalah macam-macam daya tarik pesan antara lain: a. Daya tarik selebritis/public figure

b. Daya tarik humor c. Daya tarik rasa takut d. Daya tarik kesalahan

e. Daya tarik komparatif/perbandingan f. Daya tarik informasional/rasional g. Daya tarik emosional

h. Daya tarik kombinasi

Sedangkan macam-macam gaya eksekusi pesan, yaitu:

a. Potongan kehidupan (slice of life), menampilkan satu atau beberapa orang yang menggunakan produk dalam kehidupan sehari-hari.

b. Gaya hidup (life style), menekankan bagaimana suatu produk sesuai dengan suatu gaya hidup.

c. Fantasi (fantasy), menciptakan fantasi di sekitar produk atau penggunaannya.

d. Suasana atau citra (mood or image), membangkitkan suasana atau citra di sekitar produk tersebut, seperti kecantikan, cinta, atau ketenangan. Produk hanya muncul melalui sugesti, tidak muncul secara langsung.

e. Musik (musical), menggunakan latar belakang musik atau menunjukkan satu atau beberapa orang menyanyikan suatu lagu tentang produk.

f. Simbol kepribadian (personality symbol), menciptakan suatu karakter sebagai personifikasi dari produk.

g. Keahlian teknis (technical expertise), menunjukkan keahlian, pengalaman, dan kebanggan perusahaan dalam membuat produk tersebut.

(5)

12

Universitas Kristen Petra h. Bukti ilmiah (scientific evidence), menyajikan bukti ilmiah bahwa merek

lebih disukai atau lebih unggul dari kompetitornya.

i. Bukti kesaksian (testimonial evidence), menampilkan seorang sumber yang sangat terpercaya, disukai, atau ahli yang mendukung produk. j. Menjual langsung (straight sell)

k. Demonstrasi (demonstration), dirancang untuk mengilustrasikan keunggulan kunci suatu produk.

l. Perbandingan (comparison), merupakan cara langsung untuk menunjukkan keunggulan merek terhadap pesaing atau posisi merek terkenal atau merek baru atau merek pemimpin industri.

m. Animasi

n. Dramatisasi, kisah cerita pendek dengan produk sebagai bintangnya.

o. Humor

p. Kombinasi

2.1.1.4. Jenis Iklan

Iklan menurut Bittner (1986) dibagi menjadi 2 jenis yaitu iklan standar/komersil dan iklan layanan masyarakat. Iklan standar adalah iklan yang ditata secara khusus untuk keperluan memperkenalkan barang, jasa, pelayanan untuk konsumen melalui media periklanan. Tujuannya untuk merangsang motif dan minat para pembeli atau pemakai.

Jenis iklan yang kedua yaitu iklan layanan masyarakat. Meskipun iklan layanan masayarakat bersifat non-profit, iklan ini tetap mencari sebuah keuntungan berupa citra baik di tengah masyarakat. Keuntungan sosial ini memungkinkan program-program atau kegiatan yg dilakukan oleh lembaga tersebut dapat disambut baik dan didukung oleh masyarakat (Widyatama, 2007, p.66).

2.1.2. Tinjauan Iklan Layanan Masyarakat

2.1.2.1. Definisi Iklan Layanan Masyarakat

Iklan layanan masyarakat adalah iklan yang digunakan untuk menyampaikan informasi, mempersuasi, atau mendidik masyarakat bukan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, melainkan keuntungan sosial.

Secara normatif, bertambahnya pengetahuan, kesadaran sikap, dan perubahan perilaku masyarakat tersebut bisa meningkatkan kualitas hidup

(6)

13

Universitas Kristen Petra masyarakat itu sendiri. Masyarakat dapat diarahkan untuk berkembang ke arah keadaan yang lebih baik. Pada umumnya, pesan yang disampaikan di iklan-iklan layanan masyarakat berusaha menggunggah masyarakat untuk melakukan suatu kebaikan normatif. Contoh pesan-pesan ini antara lain: anjuran untuk tertib berlalu lintas, memiliki budaya antri, menyukai kebersihan lingkungan, hemat listrik, hemat air, hemat BBM, menjaga kelestarian lingkungan, melindungi satwa liar, mencintai budaya sendiri, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, dan sebagainya (Widyatama, 2007, p.104-105).

Kasali (1992) di dalam bukunya menyebutkan bahwa kriteria Ad council Inc untuk menentukan iklan layanan masyarakat adalah:

a. Non komersil

b. Tidak bersifat keagamaan c. Non politis

d. Berwawasan nasional

e. Diajukan oleh organisasi yang telah diakui dan diterima f. Dapat diiklankan

g. Mempunyai dampak dan kepentingan tinggi sehingga patut memperoleh dukungan media lokal maupun nasional (dalam “Pengertian Iklan Layanan Masyarakat”, 2015, October)

2.1.2.2. Fungsi Iklan Layanan Masyarakat

Drs. Alo Liliweri (1992) dalam bukunya menyebutkan bahwa iklan layanan masyarakat memiliki dua fungsi (p.50-52):

a. Fungsi Pendidikan

Orang umumnya belajar sesuatu dari hal-hal yang berada di sekitarnya termasuk iklan yang dibaca, ditonton, dan didengarnya. Iklan dapat mendidik orang, semua orang ingin menghindari terbentuknya sikap negatif. Dengan pengetahuan yang benar dikomunikasikan sikap positif dapat ditumbuhkan. Dalam fungsi pendidikan iklan layanan masyarakat memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas pelajar yang berada di suatu daerah. Bukan hanya pendidikan secara formal, namun pendidikan informal seperti pendidikan karakter.

(7)

14

Universitas Kristen Petra b. Fungsi Sosial

Adalah fungsi untuk menggerakkan suatu perubahan standar hidup yang ditentukan oleh kebutuhan manusia di seluruh dunia. Melalui publikasi iklan mampu menggugah pandangan orang tentang suatu peristiwa, kemudian meningkatkan sikap, afeksi yang positif, dan diikuti tindakan pelaksanaan nyata atau tindakan sosial. Dalam fungsi sosial, iklan layanan masyarakat memiliki peranan yang penting untuk meningkatkan stabilitas suatu tempat menuju ke arah yang ideal.

2.1.3. Tinjauan Kampanye

2.1.3.1. Definisi Kampanye

Menurut Leselie B. Snyder (Gudykunst & Mody, 2002), “A communication campaign is an organized communication activity, directed at a particular audience, for a particular period of time, to achieve a particular goal”. Jadi kampanye merupakan suatu aktivitas komunikasi yang ditujukan pada target audience tertentu dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai sebuah tujuan tertentu (dalam Anindito, 2014, February 28).

2.1.3.2. Tujuan Kampanye

Tujuan kampanye ada bermacam-macam tergantung setiap kampanye, pada intinya adalah mengubah beberapa aspek dari khalayak. Menurut Ostergaard (2003), aspek-aspek yang diubah antara lain (dalam Anindito, 2014, February 28): a. Aspek Kesadaran (Awareness), untuk meningkatkan kesadaran

masyarakat terhadap tujuan yang ingin dicapai dalam kampanye.

b. Aspek Sikap (Attitude), mengubah sikap sesuai dengan yang diinginkan dengan memunculkan simpati, rasa suka, kepedulian, keberpihakan terhadap isu kampanye.

c. Aspek Perilaku (Action), menggugah seseorang untuk melakukan atau beraksi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam kampanye.

(8)

15

Universitas Kristen Petra

2.1.3.3. Jenis Kampanye

Menurut Anindito (2014), jenis-jenis kampanye antara lain:

a. Product-Oriented Campaigns

Kampanye yang berorientasi pada produk umumnya terjadi di lingkungan bisnis untuk memperoleh keuntungan finansial dengan cara memperkenalkan produk dan melipatgandakan penjualan.

b. Public Relation Campaigns

Kampanye yang ditujukan untuk membangun citra positif perusahaan di mata publik.

c. Candidate-Oriented Campaigns

Kampanye yang berorientasi pada kandidat, umumnya dimotivasi karena hasrat untuk kepentingan politik. Kampanye ini juga dapat disebut sebagai political campaign (kampanye politik).

d. Ideologically or Cause-Oriented Campaigns

Jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Cakupan kampanye ini antara lain kampanye bidang kesehatan, lingkungan, pendidikan, lalu lintas, ekonomi dan kemanusiaan.

2.1.4. Tinjauan Kampanye Sosial

2.1.4.1. Definisi Kampanye Sosial

Kampanye sosial adalah kampanye yang dirancang untuk mencapai perubahan sosial. Kampanye ini mengangkat isu-isu sosial seperti masalah kesehatan, lingkungan, pendidikan, lalu lintas, ekonomi, dan kemanusiaan yang disampaikan dalam periode waktu tertentu kepada khalayak tertentu.

2.1.4.2. Komponen Kampanye Sosial

Perubahan zaman yang diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat membuat komponen-komponen yang digunakan untuk berkampanye juga berkembang. Berikut adalah komponen-komponen yang membuat kampanye menjadi sukses menurut Dr. Jack Jorgens:

a. Kualitas

Kampanye yang efektif tidak harus mengeluarkan biaya produksi yang mahal. Iklan yang diproduksi dengan kualitas baiklah yang akan diingat

(9)

16

Universitas Kristen Petra oleh target audience. Kecerdasan, kepekaan, dan imajinasi yang tertuang dalam waktu iklan yang terbatas yang akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap organisasi sponsor atau isu yang diangkat.

b. Variasi

Menggunakan beberapa argumen, karakter, nada, dan potongan informasi yang berbeda-beda agar kampanye bisa menyentuh setiap aspek dari target audience.

c. Media yang berbeda-beda

Berbagai macam media di dalam kampanye (TV, radio, website, brosur, pamflet, buku komik, signage, poster, magnet kulkas, kaos, dll.) saling memperkuat pesan yang disampaikan di masing-masing media, karena setiap media punya kelebihan dan kekurangannya.

d. Repetisi

Riset menunjukkan bahwa semakin sering target audience mendengar atau melihat pesan, semakin mudah mereka menangkap pesan tersebut.

e. Pendekatan multi-lingual/multi-kultural

Setiap budaya memiliki karakteristik dan nilai masing-masing. Penyampaian pesan harus menggunakan bahasa yang digunakan di dalam budaya target audience.

f. Kemasan yang menarik

Pesan kampanye ditampilkan melalui penggunaan kata dan gambar yang sesuai dan memadukannya ke dalam desain kampanye yang menarik. g. Pemasaran yang kuat

Mencantumkan media pendukung kampanye seperti buletin, blast email, post card notifications, panggilan telepon yang persuasif, dan panggilan dari komunitas setempat yang berpengaruh untuk menyuarakan pentingnya kampanye bagi komunitas setempat dapat meningkatkan efektifitas kampanye.

h. Evaluasi menyeluruh

Mengevaluasi secara kuantitatif (statistik mengenai berapa orang yang melihat kampanye, dari mana asal mereka, dll.) maupun evaluasi kualitatif (berapa orang yang sungguh-sungguh melakukan call to action, dll.)

(10)

17

Universitas Kristen Petra

2.1.4.3. Proses Kampanye Sosial

Secara umum, dimensi/tahapan adalah rangkaian proses kampanye yang harus dirumuskan dalam proposal kegiatan kampanye. Menurut Kriyantono (2014) dimensi/tahapan ini mencakup:

a. Analisis Masalah/Pendahuluan/Latar Belakang Masalah

Mengapa kampanye ini penting dilakukan, masalah apa yang muncul jika kampanye tidak diadakan, solusi apa yang ditawarkan kampanye, dan dampak positif bagi khalayak sasaran.

b. Merumuskan Tujuan Program Kampanye

Tujuan yang jelas, spesifik, dan terkait atau relevan dengan analisis masalah, dan dinyatakan dalam bentuk tertulis tentang apa saja yang mesti dicapai kampanye dalam periode tertentu. Tujuan adalah hasil akhir yang ingin dicapai yang dapat menjadi solusi permasalahan.

c. Tema Pesan Kampanye

Mengurai tujuan kampanye ke dalam tema-tema kampanye. Tema-tema ini kemudian diwujudkan ke dalam beberapa tema pesan kampanye yang lebih spesifik.

d. Program Kampanye

Kegiatan yang dilakukan untuk mengeksekusi tema kampanye. e. Target Sasaran Kampanye

Siapa saja yang menjadi sasaran kampanye secara spesifik. Sasaran bisa diurai berdasarkan urutan prioritas, misalnya sasaran utama, sasaran kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dengan memberikan alasannya. f. Menentukan Strategi dan Taktik

Strategi bisa diartikan sebagai cara tertentu untuk menuju kondisi tertentu dari posisi saat ini berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan. Dalam pelaksanaan, strategi dikonkretkan dengan taktik. Contoh:

 Tujuan: mengajak sasaran disiplin lalu lintas

 Strategi: mengajak sasaran untuk melakukan safety riding bersama keliling kota

 Taktik: memberikan hadiah, mendirikan stand atau posko safety riding, membuat kaos dan aneka merchandise, membuat iklan, dsb.

(11)

18

Universitas Kristen Petra g. Merumuskan Pesan

Pesan-pesan komunikasi berfungsi menyebarkan informasi terkait program kampanye. Karena itu, perlu diperhatikan proses penyajian pesannya. Teknik penyajian pesan secara umum mencakup:

 Struktur pesan: mempertimbangkan menulis aspek positif atau negatif saja (one-sided message) atau kedua aspek (two-sided message). Jika two-sided message, pertimbangkan apakah aspek positif dulu baru negatif (primary order) atau negatif dulu (recency order) sesuai dengan karakteristik khalayak.

 Pilih narasumber informasi yang kredibel, termasuk untuk testimoni  Pilih tema yang mengandung news-value, agar menarik perhatian

khalayak sasaran untuk membaca dan bisa menjadi bahan publisitas media massa.

h. Menentukan Media

Variasi media penyebaran pesan kampanye dapat membuat pesan tersebar lebih efektif. Ada media massa, computer mediated communication (media sosial), massive media (poster, buletin, brosur, spanduk), special event. Termasuk bagaimana cara berhubungan dengan media, seperti konferensi pers dan liputan langsung.

i. Waktu

Merumuskan secara spesifik waktu pelaksanaan termasuk jadwal kegiatan. j. Personil

Menentukan personil kegiatan, penanggung jawab keseluruhan kampanye, dan juga pelaksana di lapangan.

k. Anggaran

Menyusun uraian anggaran untuk kegiatan kampanye secara terperinci. l. Penyajian Proposal

(12)

19

Universitas Kristen Petra

2.2. Tinjauan Permasalahan Tentang Objek & Subjek Perancangan

2.2.1. Tinjauan Macapat

2.2.1.1. Sejarah dan Perkembangan Macapat

Berdasarkan pendapat Gunawan S. Hamurwabumi (1971) terdapat periodisasi sejarah sastra Jawa berdasarkan penggunaan bahasa yang berkembang. Dalam khazanah kesastraan Jawa terdapat jenis karya sastra yang berbahasa Jawa Kuno, Jawa Pertengahan, Jawa Baru, dan Jawa Modern. Perkembangan bahasa itu menyebabkan timbul anggapan bahwa sastra Jawa timbul secara kronologis bahasanya. Kesusastraan Jawa dapat digolongkan menjadi tiga (dalam Laginem, 1996, p.23):

a. Kesusastraan Jawa Kuno (tahun 900 – 1380, atau zaman Mataram kuno hingga Majapahit akhir),

b. Kesusastraan Jawa Pertengahan (zaman runtuhnya Majapahit), c. Kesusastraan Jawa Baru (mulai zaman Demak)

Beberapa ahli lain mengemukakan hal yang berbeda. Mereka tidak menganggap bahwa bahasa Jawa Pertengahan merupakan pangkalan bahasa Jawa Modern. Zoetmulder (1983) mengungkapkan bahwa bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Baru merupakan dua cabang yang terpisah dan divergen pada batang bahasa yang satu, yaitu Jawa Kuno. Bahasa Jawa Kuno dianggap sebagai bahasa yang umum digunakan selama periode Hindu-Jawa sampai runtuhnya Majapahit. Bahasa Jawa Pertengahan dengan kesastraannya yang berbentuk kidung berkembang di Bali, sedangkan bahasa Jawa Baru atau Modern dengan kesastraannya yang berbentuk macapat berkembang di Jawa (dalam Laginem, 1996, p.24).

Suripan Sadi Hutomo (1991) mengemukakan bahwa pada mulanya kidung merupakan puisi rakyat yang tidak berharga. Namun pada zaman Majapahit, kidung diangkat sebagai puisi resmi menggantikan kakawin. Kemudian pada masa pengaruh Islam, kidung dimanfaatkan oleh para intelektual Islam untuk menyebarkan agama Islam. Karya sastra berbahasa Jawa Pertengahan pada waktu itu dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok karya sastra yang tidak terpengaruh Islam dan kelompok karya sastra yang terpengaruh Islam. Karya-karya pada kelompok pertama kemudian berkembang di Bali dengan tetap menggunakan

(13)

20

Universitas Kristen Petra bahasa Jawa Pertengahan dan metrum kidung. Sedangkan karya-karya pada kelompok kedua berkembang di Jawa menggunakan bahasa Jawa Baru dan metrum macapat. Kesusastraan Jawa pada zaman Islam mula-mula berkembang di pesisir utara Jawa, kemudian meluas ke pedalaman (Blitar, Kediri, Tulungagung, Magetan, Surakarta, Yogyakarta, dan lain-lain). Setelah pusat-pusat pemerintahan Islam pesisir (Giri, Surabaya, Demak, Pajang) runtuh, perkembangan sastra Jawa pindah ke kerajaan Mataram yang kemudian akan pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Pada zaman ini lah bahasa dan sastra Jawa dibangun kembali dan mulai dibakukan seperti yang ada sekarang. Karya-karya sastra yang ada di pesisir masih hidup, khususnya di Jawa Timur yang penduduknya tidak mengakui kedaulatan Mataram. Hal ini yang menyebabkan terdapat perbedaan antara bahasa dan sastra Jawa pedalaman dengan di daerah pesisir (dalam Laginem, 1996, p.25). Terlepas dari berbagai teori mengenai sejarah dan perkembangan macapat, macapat merupakan karya sastra tradisional Jawa yang dimasyarakatkan (bukan diciptakan) oleh Wali Songo pada zaman Kerajaan Demak. Macapat sudah ada sejak zaman Majapahit, tetapi mulai dimasyarakatkan pada zaman Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam. Sejak saat itu, macapat menjadi karya sastra yang populer di kalangan masyarakat dan mulai digunakan untuk banyak hal. Karya sastra klasik yang ada di Jawa (serat) yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan diciptakan menggunakan macapat pada zaman Mataram. Selain serat, ada juga catatan sejarah yang dituliskan dalam bentuk macapat (babad), lalu ada pula doa-doa, dan banyak jenis lainnya. Pada perkembangannya di zaman sekarang, macapat bisa digunakan di segala aspek kehidupan bahkan dalam aspek politik, seperti pembacaan doa-doa saat kampanye caleg, sosialisasi pemerintah, dan lain-lain (KMT Projo Suwasono, personal communication, April 5, 2018).

2.2.1.2. Istilah Macapat

Kata tembang besinonim dengan kata kidung, kakawin, dan gita yang artinya ‘nyanyian’. Kata kakawin, gita, dan kidung sudah dikenal sejak terciptanya karya sastra Jawa Kuno, sedangkan kata tembang baru muncul pada karya sastra Jawa Baru. Sardjana Hadiatmaja (1968) mengemukakan bahwa kata kakawin, kidung, dan tembang digunakan sebagai sebutan bentuk puisi Jawa secara kronologis. Kakawin merupakan sebutan puisi Jawa Kuno berdasarkan metrum

(14)

21

Universitas Kristen Petra India., kidung merupakan puisi Jawa Pertengahan berdasarkan metrum Jawa, dan tembang adalah sebutan puisi Jawa Baru berdasarkan metrum Jawa. Kata tembang kemudian bergabung dengan macapat menjadi tembang macapat. Kata macapat diperkirakan muncul dari bahasa Jawa Baru yang digunakan dalam karya sastra Jawa pada akhir abad XVI Masehi (dalam Laginem, 1996, p.26).

Tembang macapat tergabung dalam kelompok tembang yang disebut tembang cilik atau sekar alit. Selain kelompok ini, karya sastra Jawa Baru dibagi ke dalam dua kelompok lainnya yaitu tembang gede atau sekar ageng dan tembang tengahan atau sekar madya. Tembang gede merupakan puisi tradisional Jawa Baru yang setiap baitnya terdiri atas empat larik dan jumlah suku kata setiap lariknya sama. Tembang gede merupakaan penjelmaan kakawin. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa kelahiran tembang gede merupakan eksistensi kakawin dan kidung. Tembang tengahan adalah puisi tradisional Jawa Baru yang coraknya mirip dengan tembang gede, tetapi metrumnya seperti macapat atau kidung. Dengan demikian, tembang tengahan merupakan asimilasi tembang gede dan tembang macapat atau kidung (dalam Laginem, 1996, p.26-27).

2.2.1.3. Metrum Macapat

Macapat memiliki ciri khas yang membedakan dari karya sastra lainnya, yaitu adanya aturan-aturan yang mengikat suatu tembang (disebut metrum). Penamaan metrum ini disesuaikan dengan nama jenis-jenis tembang macapat. Setiap jenis tembang macapat memiliki seperangkat aturannya tersendiri. Aturan-aturan ini lah yang membedakan jenis tembang macapat yang satu dengan jenis lainnya. Ada berbagai perdebatan mengenai tembang apa saja yang termasuk macapat. Ada yang mengatakan tembang macapat terdiri dari sembilan jenis, sebelas jenis, bahkan lima belas jenis. Lima belas jenis ini antara lain pucung, mijil, durma, kinanthi, asmaradana, pangkur, sinom, dhandhanggula, maskumambang, megatruh, gambuh, balabak, jurudemung, wirangrong, dan girisa. Di antara tembang-tembang tersebut, sembilan merupakan tembang cilik, lima merupakan tembang tengahan, dan satu dari tembang gede. Namun pandangan yang paling umum adalah macapat terdiri dari sebelas metrum, sembilan tembang cilik ditambah dua tembang tengahan: gambuh dan megatruh (KMT Projo Suwasono, personal communication, April 5, 2018).

(15)

22

Universitas Kristen Petra Sebuah tembang macapat terikat oleh tiga unsur yaitu guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Guru gatra merupakan jumlah larik (gatra) dalam satu bait. Guru wilangan merupakan jumlah suku kata (wanda) dalam satu gatra. Guru lagu merupakan huruf vokal terakhir pada wanda terakhir di gatra tersebut.

Gambar 2.1. Metrum macapat

Sumber : https://rejekinomplok.net/tembang-macapat/

Kesebelas metrum macapat yang ada dipercaya sebagai penggambaran alur kehidupan manusia. Kendati tidak ada referensi pasti yang mengatakan hal tersebut, masyarakat secara tradisi turun-temurun mempercayai hal ini (KMT Projo Suwasono, personal communication, April 5, 2018). Para pujangga menafsirkan hal ini melihat dari pemilihan nama metrum yang ada serta mengutak-atik urutan tembang-tembang ini sehingga ditemukanlah filosofi alur kehidupan manusia ini. Penjabaran dari tiap-tiap metrum beserta artinya adalah sebagai berikut:

(16)

23

Universitas Kristen Petra b. Kinanthi, berarti ‘bergandengan’. Menggambarkan seorang balita yang ke

mana pun selalu bergandengan dengan orang tuanya.

c. Sinom, berarti ‘daun muda’. Menggambarkan kehidupan masa remaja. d. Asmarandana, berasal dari kata asmara dan dahana yang berarti ‘api

asmara’. Menggambarkan saat remaja putra dan remaja putri bertemu lalu keduanya sama-sama dimabuk asmara.

e. Gambuh, atau jumbuh berarti ‘bersatu’. Menggambarkan suami dan istri yang mengikatkan diri di dalam komitmen pernikahan.

f. Dhandhanggula, berasal dari kata gegadhangan dan gula yang berarti ‘angan-angan yang manis’. Menggambarkan fase pernikahan di mana yang diangan-angankan/dicita-citakan adalah hal-hal yang manis dan indah saja.

g. Durma, berarti ‘harimau’. Menggambarkan pernikahan yang tidak hanya suka saja tetapi ada duka juga. Kedukaan ini justru membuat orang untuk berani melangkah dalam kehidupan.

h. Pangkur, atau mungkur berarti ‘mengundurkan diri’. Menggambarkan lansia yang sudah mengesampingkan diri dari nafsu-nafsu duniawi dan lebih mendekatkan diri ke Tuhan.

i. Megatruh, berasal dari kata megat dan ruh yang berarti ‘roh yang terpisah’. Menggambarkan kematian.

j. Pocung, berasal dari kata pocong yaitu orang yang sudah meninggal dibungkus dengan kain kafan. Bisa juga diartikan sebagai kuncung (jambul), yaitu orang tua yang sudah meninggal memiliki rambut yang tersisa sedikit.

k. Maskumambang, berasal dari kata kemambang yang berarti ‘mengambang’. Menggambarkan manusia setelah meninggal yang nasibnya masih mengambang/belum jelas apakah ia akan masuk neraka atau surga. Tembang maskumambang bisa juga diletakkan di depan sebelum mijil. Bila diletakkan di awal, arti tembang maskumambang menjadi keadaan manusia saat masih di dalam kandungan di mana nasibnya belum jelas apakah ia akan lahir dengan selamat atau tidak.

(17)

24

Universitas Kristen Petra

2.2.2. Tinjauan Remaja Usia 12 – 15 Tahun

2.2.2.1. Definisi Remaja

Konsep adolescence atau istilah ‘remaja’ dalam dunia Barat merupakan konsep yang relatif baru dalam kajian psikologi. Konsep ini baru muncul sejak abad ke-19 sebagai suatu periode kehidupan tertentu yang berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa. Masa remaja merupakan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Menurut Desmita (2006), para ahli umumnya membatasi usia remaja antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu ini dibagi menjadi tiga, yaitu: 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir. Remaja awal hingga remaja akhir inilah yang disebut masa adolesen (p.190).

2.2.2.2. Psikologi Perkembangan Remaja

Mussen, Conger & Kagan (1969) mengatakan masa remaja adalah periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (dalam Desmita, 2006, p.194). Selama periode remaja, proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. Sistem saraf yang berfungsi memproses informasi berkembang dengan cepat. Di samping itu, pada masa remaja juga terjadi reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe ini berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti yang diungkapkan oleh Carol & David R. (1995), yaitu seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan.

Perkembangan prontal lobe membuat remaja memiliki kemampuan penalaran yang memberikan suatu tingkat pertimbangan moral dan kesadaran sosial yang baru. Di samping itu, sebagai anak muda yang telah memiliki kemampuan memahami pemikirannya sendiri dan pemikiran orang lain, remaja mulai membayangkan apa yang dipikirkan oleh orang tentang dirinya. Myers (1996) berteori bahwa ketika kemampuan kognitif remaja mencapai kematangan, mereka mulai memikirkan tentang apa yang diharapkan dan melakukan kritik terhadap masyarakat mereka, orang tua mereka, dan bahkan terhadap kekurangan diri mereka sendiri.

(18)

25

Universitas Kristen Petra Menurut Yemima Silvya Tirta Sari, S.Psi. (personal communication, April 5, 2018), seorang psikolog yang aktif melayani konseling bagi anak-anak SMP, masa remaja usia 12 – 15 tahun adalah masa di mana sifat-sifat pemberontak mulai muncul. Berbeda dengan puluhan tahun yang lalu, generasi anak muda zaman sekarang lebih berani mengungkapkan perasaannya. Apabila mereka tidak suka terhadap orang tua atau gurunya, mereka akan memberontak. Remaja juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, sehingga ia akan mencari tahu segala sesuatu. Mereka mencari tahu dengan media yang paling dekat dengan mereka yaitu internet dan gadget. Dengan akses informasi yang mudah mereka bisa lebih tahu tentang bermacam-macam hal, tetapi tidak jarang hal ini pula yang membuat mereka mengetahui hal-hal yang belum seharusnya mereka ketahui. Secara sosial juga terjadi perkembangan dari zaman dahulu. Zaman sekarang anak remaja bisa mendapat teman dari mana saja karena ada pengaruh media sosial, padahal anak SMP belum bisa membedakan mana orang yang baik dan buruk. Relasi yang mereka bangun dengan orang lain masih bersifat emosional (didasarkan pada rasa suka saja) dan belum bisa memikirkan secara rasional apabila orang lain punya sifat buruk atau niat buruk yang perlu dihindari. Dalam mencari jati diri, remaja usia 12 – 15 tahun akan sangat memperhitungkan pendapat orang lain. Jati diri mereka terbentuk bersama teman-teman yang mereka pilih, sehingga mereka sangat menghargai teman-teman mereka seperti anggota keluarga mereka sendiri.

2.2.2.3. Gaya Belajar Remaja

Ada tiga gaya belajar yang dimiliki oleh remaja, yaitu (dalam RuangGuru, 2016, April 4):

a. Visual

Gaya belajar ini berfokus pada penglihatan. Saat mempelajari hal baru, biasanya tipe ini perlu melihat sesuatu secara visual untuk lebih mudah mengerti dan memahami. Cara belajar yang efektif adalah melalui video atau gambar yang menarik, membaca tulisan yang mengandung ilustrasi, belajar sambil doodling, menggunakan spidol warna-warni saat membuat catatan, dan membuat mind map.

(19)

26

Universitas Kristen Petra b. Auditori

Untuk yang memiliki gaya belajar auditori, mengandalkan pendengaran sebagai menerima informasi dan pengetahuan. Orang tipe tidak masalah dengan tampilan visual saat mengajar, yang penting adalah mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. Cara belajar yang efektif untuk tipe ini adalah mendengarkan musik yang disukai, merekam pelajaran guru di kelas untuk didengarkan kembali, bila membaca buku bisa sambil mengucapkannya perlahan, mendengarkan materi yang disampaikan di kelas dengan seksama, dan belajar dengan metode diskusi.

c. Kinestetik

Gaya belajar ini menyenangi belajar yang melibatkan gerakan. Biasanya orang yang tipe ini, merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekadar membaca buku tetapi juga mempraktikkanya. Dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri bagi tipe kinestetik. Cara belajar yang tepat untuk tipe kinestetik yaitu mempraktikkan materi sesegera mungkin, belajar sambil beraktivitas sederhana (berjalan, menjetikkan jari), bereksperimen dari materi yang didapat, mengunjungi tempat yang berhubungan dengan materi (museum untuk materi pelajaran sejarah, misalnya), dan mengikuti ekstrakulikuler.

2.2.2.4. Remaja Generasi Z

Ada beberapa perbedaan teori mengenai rentang tahun kelahiran seseorang yang tergolong dalam generasi Z. Dari antara berbagai teori itu, satu yang pasti yaitu generasi Z adalah generasi yang lahir pada era internet. Di Indonesia sendiri, internet baru muncul di tahun 1990. Pada tahun 1994, internet mulai dikomersilkan. Kalau begitu, rentang waktu kelahiran yang tepat bagi generasi Z di Indonesia adalah mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010. Sejak lahir mereka sudah akrab dengan teknologi dan internet. Remaja usia 12 – 15 tahun di Indonesia sekarang termasuk ke dalam generasi Z (dalam Adam, 2017, April 28, para. 10-13). Remaja generasi Z juga memiliki sebuah sindrom yang bernama FOMO atau Fear of Missing Out. Sindrom ini menyebabkan mereka cemas akan ketertinggalan dengan orang lain. Hal tersebut disebabkan karena mereka sudah mengenal internet sejak kecil. Dalam pemasaran, generasi Z memiliki keunikan dari

(20)

27

Universitas Kristen Petra generasi-generasi sebelumnya. Menurut Head of Hotel Business Program Podomoro University Dea Prasetyawati, “Generasi Z cenderung mengikuti apa yang dipilih influencer mereka. Pemasaran advetorial justru kurang berhasil dalam menggarap pasar generasi Z.” Mereka juga cenderung memilih brand yang memberikan kontribusi lebih bagi sekitar. Selain itu, pemasar juga harus masuk ke dalam dunia remaja generasi Z yang serba digital untuk sukses menggapai mereka (dalam Bella, 2018, January 22, para. 3-9).

2.2.3. Fakta Lapangan

2.2.3.1. Wawancara Budayawan Macapat

Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Projo Suwasono, atau yang biasa dipanggil Romo Projo, adalah seorang abdi dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan seorang penembang macapat di dalam Keraton. Beliau sampai sekarang masih aktif mengajar macapat serta menulis aksara Jawa di Pamulangan Sekar KHP Krida Mardawa, sebuah sekolah macapat gratis dan terbuka untuk umum yang didirikan oleh Keraton Yogyakarta.

Selain di dalam kawasan keraton, Romo Projo juga aktif menembang macapat di luar keraton. Di Yogyakarta, banyak muncul paguyuban macapat baik dari lingkup RT sampai lingkup propinsi. Macapatan sering diadakan pada upacara kematian, pernikahan, hari jadi, atau pun kompetisi-kompetisi macapat yang diadakan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Murid-murid di sekolah macapat ini kala itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi macapat yang diadakan di sebuah Gereja Kristen Jawa (GKJ). Uniknya, kompetisi itu terbuka untuk umum dari etnis dan agama apa pun. Macapat bisa menjadi sarana yang mempersatukan antar pemeluk umat beragama.

Para murid di sekolah ini memiliki usia yang sangat beragam. Ada yang masih mahasiswa namun ada yang sudah berusia setengah abad lebih. Di sekolah ini mereka diajarkan untuk menembang macapat. Setelah bisa menembang, maka ia bisa mengikuti acara-acara macapat di manapun untuk terus melatih kemampuannya. Ada tiga tahap yang menandakan seseorang telah menguasai macapat, yaitu:

a. Mampu menembang, pada tahap ini seseorang sudah bisa menembang macapat dengan nada yang benar. Nada di dalam macapat ada dua jenis,

(21)

28

Universitas Kristen Petra yaitu slendro dan pelog. Nada ini dihasilkan oleh iringan musik gamelan, namun macapat bisa juga dinyanyikan sendiri tanpa gamelan.

b. Mampu memaknai isinya, pada tahap ini seseorang sudah bisa mengartikan dan memaknai isi dari macapat yang ditembangkannya. Macapatan gaya keraton menggunakan naskah dalam aksara Jawa sehingga menuntut kemampuan membaca aksara Jawa. Macapat yang lebih modern menggunakan tulisan latin disertai nada, sehingga lebih mudah dibaca. Namun demikian, bahasa yang digunakan di dalam macapat adalah bahasa yang bersifat puitis serta memiliki struktur bahasa yang agak berbeda dari bahasa sehari-hari, tentunya dengan kosa kata krama inggil yang lebih susah dari ngoko. Penembang yang sudah mencapai tahap ini otomatis juga memiliki kemampuan berbahasa Jawa yang cukup baik untuk menafsirkan macapat.

c. Mampu mengarang macapat, pada tahap ini seseorang sudah bisa membuat karya macapat versinya sendiri. Meskipun macapat bisa dibuat sendiri, namun tetap harus mengikuti metrum-metrum yang ada. Isi macapat bisa apa saja selama tidak melanggar metrum yang ada (guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu-nya harus tepat). Kemampuan berbahasa Jawa yang baik diperlukan untuk bisa mencapai tahap ini. Berbeda dengan orang kebanyakan, Romo Projo yakin bahwa macapat tidak akan punah. Namun memang beliau mengakui bahwa di luar Yogyakarta, macapat tidak terlalu berkembang, bahkan di Surakarta sekalipun. Romo Projo meyakini bahwa selama ada orang Jawa maka macapat tidak akan punah. Macapat memang tidak terlalu digemari generasi muda karena macapat belum sanggup dikonsumsi oleh anak muda. Rata-rata orang dewasa lah yang akan kembali mempelajari macapat karena tertarik untuk mempelajari isinya. Meskipun begitu, macapat tetap diajarkan di dalam kurikulum sekolah. Hal itu dimaksudkan agar membiasakan anak-anak untuk mulai menembang sejak dini sehingga mereka akrab dengan nada dan tembang-tembang macapat. Dalam kasus ini, pemerintah mengupayakan dua hal melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan. Dinas Kebudayaan bertugas mengembangkan macapat agar muncul terus macapat-macapat modern yang isinya mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan Dinas

(22)

29

Universitas Kristen Petra Pendidikan bertugas melestarikan macapat ke generasi muda melalui kurikulum muatan lokal sehingga ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa, mereka akan tertarik kembali untuk belajar macapat.

2.2.3.2. Wawancara Guru Bahasa Jawa

Noel Tri Darmasto, S.Pd merupakan seorang guru Bahasa Jawa yang sedang aktif mengajar di SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta. Beliau sudah mengajar selama tiga tahun. Beliau merupakan satu-satunya guru Bahasa Jawa di sekolah tersebut sehingga ia mengajar pelajaran Bahasa Jawa dari kelas 7 – 9. Pelajaran Bahasa Jawa termasuk ke dalam pelajaran muatan lokal (mulok) yang harus diajarkan di instansi-instansi pendidikan. Dalam satu minggu, setiap kelas mendapatkan 1 jam pelajaran Bahasa Jawa (40 menit) sehingga waktu untuk mengajarkan Bahasa Jawa memang sangat terbatas. Untuk mensiasati jam pelajaran yang sangat singkat tersebut, para siswa diberikan tugas yang dikerjakan pada jam usai sekolah.

Pola pendidikan Bahasa Jawa mengalami perubahan. Menurut Pak Noel, minimnya jam pelajaran yang tersedia serta adanya stigma di masyarakat bahwa Bahasa Jawa cuma mata pelajaran mulok (tidak lebih penting dari IPA atau IPS) menyebabkan kesulitan-kesulitan dalam penyampaian materi Bahasa Jawa. Agar siswa-siswi yang ada tetap tertarik dengan Bahasa Jawa, mereka sering diberi tugas kreatif seperti membuat video tentang percakapan dalam Bahasa Jawa. Dengan diberi tugas praktek seperti ini, para siswa bisa langsung mempraktekkan Bahasa Jawa dengan mengikuti perkembangan teknologi yang ada serta melalui metode yang menyenangkan. Menurut beliau, anak zaman sekarang tidak bisa diberi sesuatu yang terlalu serius sehingga materi harus dibawakan dengan fun.

Materi mengenai macapat tak ketinggalan juga disampaikan. Macapat diajarkan dari kelas 7 hingga 9, tetapi karena keterbatasan waktu maka hanya di kelas 8 para siswa dinilai kemampuan nembangnya secara praktek. Macapat yang diajarkan di kelas 7 dan 9 hanya dijelaskan jenis tembangnya beserta maknanya (para siswa tidak diajak menembang). Total ada tiga tembang (masing-masing dari jenis yang berbeda) yang diajarkan selama siswa duduk di bangku SMP, sesuai dengan panduan yang diberikan oleh pemerintah.

(23)

30

Universitas Kristen Petra Pak Noel setuju bahwa macapat memiliki bahasa dan konten yang cenderung hanya bisa dikonsumsi oleh orang dewasa. Bahasa macapat yang tinggi membuat siswa-siswi SMP seringkali belum bisa memahami arti dari macapat. Tetapi beliau menyatakan ada beberapa manfaat yang didapatkan dengan belajar macapat, seperti:

a. Melestarikan budaya Jawa. Sebagai orang yang tinggal di Surakarta, salah satu kota selain Yogyakarta yang menjadi pusat kebudayaan Jawa, maka penting untuk mengenal budaya macapat.

b. Bisa memunculkan bakat seni yang terpendam. Tidak jarang ada siswa-siswi yang memiliki bakat menembang. Hal tersebut baru diketahui setelah mencoba menembang di sekolah. Kemampuan menembang (menyanyi) tersebut bisa dilatih dan dimanfaatkan untuk keperluan yang lain selain nembang.

c. Belajar nilai-nilai budaya Jawa. Para siswa sehari-harinya berinteraksi dengan masyarakat yang mayoritas menganut nilai budaya Jawa. Nilai-nilai ini mengajarkan untuk menjadi manusia yang berakal budi. Meskipun anak-anak belum paham, tetapi setidaknya ada satu atau dua hal yang bisa membekas di benak mereka.

Menurut pengalaman Pak Noel juga, cara yang efektif dalam mengajarkan menembang adalah dengan mencontohkannya secara langsung. Menyuruh anak melihat video saja tidak akan membuat mereka tertarik. Saat macapat dipraktekkan secara live, para siswa bisa merasakan suasana yang berbeda dan lebih nyata sehingga memancing mereka untuk mau menembang. Selain itu, diperlukan apresiasi untuk generasi muda ketika mereka sudah menunjukkan minat untuk menembang sehingga mereka tetap mau menekuni macapat. Dengan begitu, mereka akan memiliki peninggalan yang dapat mereka lihat ketika mereka sudah dewasa kelak. Peninggalan ini bisa berupa video, rekaman, piala, catatan, atau hal-hal lain yang mengingatkan bahwa mereka pernah belajar macapat.

2.2.3.3. Wawancara Remaja Usia 12 – 15 Tahun

a. Shannon, Kelas 9 SMP

Shannon merupakan gadis yang aktif dan berprestasi. Dalam kesehariannya, Shannon menggunakan Bahasa Jawa untuk berinteraksi

(24)

31

Universitas Kristen Petra dengan teman sebayanya. Dia tidak berani menggunakan Bahasa Jawa untuk berinteraksi dengan orang yang lebih tua karena dia tidak yakin dengan kemampuannya berbahasa krama. Kata orang tua Shannon, berbahasa Jawa ngoko tidak lah sopan sehingga Shannon harus berhati-hati sehingga tidak keceplosan berbicara bahasa ngoko di depan orang tuanya. Ia pertama kali belajar macapat waktu diajarkan di SD. Ia terpilih oleh sekolah untuk bertanding nembang di sebuah kompetisi macapat. Shannon menganggap macapat tidak seburuk yang ia kira. Setelah ditunjuk untuk ikut lomba, ia belajar macapat secara mandiri. Hal itu justru membuat adiknya untuk ikut-ikutan mendengarkan tembang macapat di rumah. Shannon sebenarnya tertarik untuk belajar lebih tentang budaya Jawa namun ia merasa memiliki keterbatasan serta tidak memiliki teman yang bisa diajak ngobrol seputar budaya Jawa. Bahkan tak jarang teman-temannya sendiri juga menganggap budaya Jawa sebagai sesuatu yang tidak penting.

b. Krissa, Kelas 9 SMP

Krissa, yang biasa dipanggil Koji, berbahasa Jawa karena tuntutan lingkungannya. Ia tinggal di kawasan yang mayoritas masih kental berbahasa Jawa sehingga ia harus belajar bahasa krama untuk bisa bercakap-cakap dengan mereka. Ia belajar bahasa krama dari papa dan mama-nya. Krissa pertama kali belajar macapat waktu SD namun ia tidak tertarik macapat pada waktu itu. Dia menganggap tidak bisa mendapatkan manfaat nyata dari macapat, selain itu macapat tidak menggambarkan identitas dirinya sehingga ia tidak tertarik untuk mendalami macapat. Tetapi setelah ia mengikuti lomba macapat waktu SMP ia mulai tertarik dengan macapat. Ia diajari oleh orang tuanya bahwa macapat merupakan perlambang dari alur kehidupan. Ia belajar untuk memaknai hidupnya yang singkat ini dengan mengingat-ingat lirik yang terkandung di dalam macapat, meskipun ia hanya ingat sedikit saja. Kesehariannya dihabiskan dengan menonton anime karena pengaruh dari teman-temannya dan justru melalui anime tersebut dia jadi tertarik untuk belajar budaya Jepang secara

(25)

32

Universitas Kristen Petra mandiri. Terkadang dia dan teman-temannya lebih menganggap budaya anime (Jepang) sebagai identitasnya dibandingkan dengan budaya Jawa. c. Cornelius, Kelas 8 SMP

Cornelius adalah seorang yang gemar berolahraga. Ia mengikuti klub renang di jam luar sekolahnya. Dari sana ia sering bergaul dengan teman-temannya menggunakan Bahasa Jawa. Meski begitu, orang tuanya tidak terlalu mahir menggunakan Bahasa Jawa sehingga di rumah ia cenderung bercakap menggunakan Bahasa Indonesia, Inggris, atau Mandarin. Dia mulai mengenal macapat sejak SD, namun ia tidak tertarik untuk belajar lebih lanjut karena menurutnya macapat itu sulit untuk dinyanyikan. Sewaktu dia didorong untuk ikut lomba macapat, ia tidak mau ikut karena dia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya menembang. Selain itu dia juga sudah punya kegiatan lain (renang) sehingga ia merasa tidak ada waktu untuk belajar dua hal sekaligus. Baginya untuk melestarikan budaya macapat tidak harus dengan cara mengikuti lomba-lomba macapat, tetapi bisa dengan hal sederhana seperti mencari tahu tentang macapat secara mandiri. Sayangnya, ia tidak menemukan konten-konten pembelajaran bahasa dan budaya Jawa yang menarik secara visual padahal ia merupakan tipe yang tertarik dengan visual yang bagus.

2.2.3.4. Hasil Observasi

Melalui observasi di lingkungan SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta, didapatkan hasil sebagai berikut. Pada hari biasa siswa-siswi SMP ini memulai jam pelajaran pada pukul 7 pagi dan selesai pada pukul 2 siang. Ada hari-hari tertentu di mana berlaku sistem full day sehingga siswa harus pulang lebih sore lagi. Full day digunakan untuk mengerjakan tugas kelompok yang tidak sempat dikerjakan pada jam pelajaran biasa karena keterbatasan waktu. Setiap jam pelajaran berdurasi 40 menit dan dalam satu hari terdapat sembilan jam pelajaran. Ekstrakulikuler diadakan pada sore hari setelah jam pelajaran ke-9 atau di hari Sabtu. Selain full day dan ekstrakulikuler, jam sore juga digunakan untuk aktivitas Boys’ Brigade atau BB (sejenis pramuka). BB ini diikuti secara wajib oleh siswa-siswi kelas 7.

(26)

33

Universitas Kristen Petra Gambar 2.2. Jadwal kegiatan SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta

Sumber : https://skkksurakarta.sch.id/?q=Jadwal-Kegiatan-SMP

Meskipun usai pelajaran sore hari, sebagian dari para siswa-siswi masih mengikuti les di luar sekolah. Ada beberapa alasan saat mengikuti les, namun kebanyakan karena tuntutan nilai yang tinggi dari orang tua sehingga orang tua memaksa anaknya untuk les.

Dalam kesehariannya di sekolah, siswa-siswi SMP sering bergerumbul dalam kelompok-kelompok pertemanan kecil. Mereka akan selalu bersama saat istirahat maupun di dalam kelas. Di dalam kelas, mereka rata-rata mengikuti pelajaran dengan antusias. Pada mata pelajaran yang gurunya santai, mereka cenderung lebih berani mengekspresikan diri mereka. Mereka akan menanggapi pertanyaan guru mereka dengan bercanda. Rata-rata di setiap kelas terdapat satu atau dua anak yang sering dijadikan bahan olok-olokan, meskipun sebenarnya itu hanya bercanda. Olok-olokan tersebut yang membuat kelas menjadi lebih hidup.

(27)

34

Universitas Kristen Petra Para siswa memang ramai dan antusias, tapi terkadang kelas jadi terlalu ramai sehingga tidak kondusif. Setiap siswa berjalan mondar-mandir di dalam kelas dan tidak duduk di bangkunya masing-masing. Ada juga beberapa anak yang pasif, namun rata-rata mereka tetap mendengarkan gurunya. Bahasa komunikasi mereka sehari-hari adalah bahasa campuran antara Bahasa Jawa ngoko, Indonesia, dan Inggris. Bahasa Indonesia yang formal dengan aksen Jawa (medhok) digunakan saat berkomunikasi dengan guru/orang yang lebih tua.

Mereka sangat terbiasa dengan teknologi, meskipun di sekolah ini mereka tidak boleh membawa gadget. Namun mereka tetap memiliki akun sosial media. Kebanyakan dari mereka memiliki Instagram. Mereka lebih banyak mengakses hal-hal kesukaan mereka melalui smartphone daripada laptop, entah itu bermain video games, menonton film, mendengarkan musik, berselancar di dunia maya, belajar sesuatu yang baru dan lain-lain. Instagram-nya kebanyakan berisi curahan hati tentang hal-hal yang ia senangi atau pengalamannya sehari-hari.

Di sekolah ini, anak-anak masing-masing membawa kartu uang elektronik karena pembayaran di kantin menggunakan uang elektronik. Hal ini dilakukan agar kantin tidak perlu memberikan uang kembalian (praktis) dan anak-anak tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar. Anak SMP sekarang juga dilindungi secara berlebihan oleh orang tua. Orang tua cenderung lebih mudah khawatir terhadap anak mereka sehingga mereka sering mengirimkan protes ke sekolah apabila dirasa pelajaran yang diberikan terlalu berat. Hal ini menyebabkan beberapa anak memiliki daya juang yang rendah. Meski demikian, nilai Ujian Nasional (UN) 2017 yang diraih oleh SMP ini masuk ke dalam lima besar paralel (negeri dan swasta) dan merupakan SMP swasta dengan perolehan nilai UN tertinggi kedua.

(28)

35

Universitas Kristen Petra

2.2.4. Data Visual

Gambar 2.3. Siswa mempraktekkan materi di depan kelas Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2.4. Suasana kantin pada jam istirahat Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2.5. Suasana sepulang sekolah Sumber : Dokumentasi Pribadi

(29)

36

Universitas Kristen Petra Gambar 2.6. Project tong sampah kreatif karya para siswa

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2.7. Siswa belajar membuat tenda dalam kegiatan Boys’ Brigade Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2.8. Romo Projo mengajarkan menembang macapat Sumber : Dokumentasi Pribadi

(30)

37

Universitas Kristen Petra Gambar 2.9. Salah satu naskah macapat beserta nada tembangnya

Sumber : Dokumentasi Pribadi

2.3. Analisis Masalah

2.3.1. Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung

Faktor penghambat dalam perancangan ini adalah faktor minat yang rendah terhadap budaya Jawa khususnya macapat karena macapat sudah memiliki pakem yang tidak bisa diubah-ubah. Target perancangan menilai macapat sebagai sesuatu yang membosankan dan tidak dekat dengan mereka, apalagi di tengah terpaan budaya-budaya asing yang lebih menarik. Selain itu beberapa siswa yang diwawancarai hanya memberikan jawaban secara singkat dan padat sehingga menyusahkan untuk digali datanya.

Faktor pendukung dalam perancangan ini adalah adanya peran besar dari guru Bahasa Jawa untuk melestarikan macapat. Kemampuan macapat sebenarnya adalah kemampuan wajib bagi seorang pendidik Bahasa Jawa sehingga semua tenaga pendidik Bahasa Jawa seharusnya bisa mengajarkan macapat dengan cukup baik, tentunya dengan media yang menyesuaikan keadaan siswa zaman sekarang.

(31)

38

Universitas Kristen Petra Selain itu terdapat dukungan dari sekolah dan pemerintah untuk mengajarkan kebudayaan Jawa karena sarat dengan nilai-nilai yang baik. Kebudayaan Jawa bisa menunjang program pendidikan karakter yang sedang digalakan di instansi-instansi pendidikan, terlepas dari swasta atau negeri dan basis agama apapun.

2.3.2. Analisis Akar Masalah

Gambar 2.10. Diagram fishbone Sumber : Dokumentasi Pribadi

Melalui analisa fishbone, ditemukan beberapa akar masalah yang mungkin menjadi penyebab dari macapat semakin ditinggalkan. Masuknya budaya asing menjadi hal yang paling berpengaruh karena target perancangan cenderung lebih menyukai budaya asing dan cenderung mengidentifikasikan diri dengan budaya asing tersebut. Mereka tidak menyadari kalau mereka adalah orang Indonesia yang tinggal di pulau Jawa, bukan orang Amerika atau orang Korea. Selain itu budaya asing juga mudah diakses melalui internet dan macapat jarang dikemas ke dalam pendekatan anak muda sehingga kurang menarik. Anak muda juga merasa malas untuk menghabiskan waktunya belajar macapat, mereka lebih memilih untuk melakukan hobi atau aktivitas lain seperti les. Mereka merasa tidak mendapatkan sesuatu dari belajar macapat.

Dari sisi pendidikan macapat, masalah yang paling umum adalah target perancangan tidak menyukai Bahasa Jawa. Ada juga anggapan bahwa mulok merupakan pelajaran yang tidak penting dan minat remaja di sekolah hanya

(32)

39

Universitas Kristen Petra berorientasi pada nilai. Apabila sesuatu tidak dinilai, maka mereka akan malas mempelajarinya. Selain itu ada anggapan bahwa macapat adalah seni yang susah sehingga mereka tidak mau mencobanya.

2.4. Simpulan

Kesimpulan dari semua data dan analisa di atas adalah macapat merupakan kebudayaan yang sangat penting untuk diajarkan, khususnya untuk mereka yang tinggal di Jawa karena macapat mengandung nilai-nilai yang bisa menjadi pelajaran. Sayangnya nilai-nilai itu tidak mampu dimaknai sepenuhnya oleh anak muda karena keterbatasan-keterbatasan yang ada. Pemerintah sudah melakukan upaya untuk mewajibkan pendidikan macapat namun pemerintah kurang turun ke lapangan sehingga tidak melihat realita yang ada. Upaya ini sudah benar karena instansi pendidikan merupakan sarana yang baik untuk mengenalkan budaya Jawa ini. Sayangnya, ketertarikan seseorang terhadap macapat biasanya muncul setelah mencoba menembangkannya. Waktu pelajaran mulok yang sangat terbatas tiap minggunya membuat macapat tidak selalu bisa dipraktekkan, meskipun secara teori mereka diajarkan. Karena tidak dipraktekkan, muncul anggapan bahwa macapat merupakan sesuatu yang sulit. Target perancangan menjadi tidak percaya diri bila disuruh menembang. Mereka juga kesulitan untuk meluangkan waktunya di luar jam pelajaran karena banyaknya tugas-tugas serta aktivitas lain yang lebih penting.

2.5. Usulan Pemecahan Masalah

Cara paling nyata yang bisa dilakukan oleh target perancangan yang berusia 12 – 15 tahun untuk melestarikan macapat adalah dengan menembangkannya/mempraktekkannya. Kampanye sosial dengan ajakan untuk menembangkan macapat perlu dibuat agar target perancangan bisa mengalami langsung rasanya menembang. Pesan dikemas dalam pendekatan yang fun dan kekinian sehingga lebih mengena di anak muda. Hasil dari kampanye ini nantinya bisa digunakan untuk mengajak lebih banyak lagi orang untuk mencoba menembang macapat, sekaligus sebagai sebuah kenang-kenangan bagi mereka yang telah mengikuti kampanye ini bahwa mereka bisa turut melestarikan budaya melalui hal yang sederhana.

Gambar

Gambar 2.1. Metrum macapat
Gambar 2.2. Jadwal kegiatan SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta  Sumber : https://skkksurakarta.sch.id/?q=Jadwal-Kegiatan-SMP
Gambar 2.3. Siswa mempraktekkan materi di depan kelas  Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 2.6. Project tong sampah kreatif karya para siswa  Sumber : Dokumentasi Pribadi
+3

Referensi

Dokumen terkait

“ Identifikasi Sumber Air Tanah Dalam Berdasarkan Analisis Data Resistivitas Di Daerah Bandara Adi Soemarmo, Solo, Jawa Tengah ” adalah hasil kerja saya atas

Berdasarkan uraian di atas telah dilakukan analisis data penginderaan jauh multispektral untuk identifikasi daerah panas bumi melalui karakteristik spektral reflektansi

Melalui data yang telah terkumpul, baik melalui survei dan wawancara di WebAxis Pty Ltd, dapat disimpulkan bahwa WebAxis Pty Ltd memiliki kelebihan dan keunggulan antara

Sedangkan, faktor pendukungnya adalah beberapa wanita sadar pentingnya sikap ikhlas dan mampu menjadikan proses pengobatan sebagai sarana untuk refleksi diri untuk

Pemilihan Qtela Keripik Singkong sebagai competitor berdasarkan pada jenis produk yang ditawarkan adalah keripik singkong.Berdasarkan analisa data kuisioner dan

Analisa data merupakan bagian yang amat penting dalam suatu penelitian sebab melalui analisa data tersebut suatu data dapat memberikan makna yang berguna untuk menyelesaikan

Dari analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Sego Ganjel Catering memiliki peluang untuk dapat berkembang dan masuk pada pasar yang baru untuk meningkatkan

Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini berdasarkan analisa data lapangan yaitu (1) Infrastruktur perekonomian sangat penting dalam pemberdayaan