PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMKS BEBUNGA ESTATE.
Arbainah
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keaktifan belajar siswa materi Larangan Pergaulan Bebas dan Zina, menggunakan model Pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas X Akuntansi semester I (Ganjil) di SMKS Bebunga Estate tahun pelajaran 2022/2023. Data pelaksanaan proses pembelajaran oleh guru menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus dilakukan satu kali pertemuan dimulai dengan tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dan tes. Analisis data dilakukan dengan perbandingan antara hasil tes pada siklus 1 dan siklus 2 dengan teknik deskriptif. Sedangkan untuk mengukur aktivitas siswa menggunakan sistem rata-rata kelas pada hasil evaluasi tiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa kelas X SMKS Bebunga Estate dalam pembelajaran mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti mengalami peningkatan, hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa diperoleh informasi bahwa adanya peningkatan dalam listening activities dari 88% menjadi 96%, oral activities dari 50% menjadi 85%, visual activities dari 65% menjadi 95%, writing activities dari 65% menjadi 88%, motor activities dari 45% menjadi 85%, dan mental activities dari 65% menjadi 91%, emosional activities 70% menjadi 92%.
Kata Kunci : Problem Based Learning, keaktifan, Pendidikan Agama Islam .
PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan proses ilmiah. Karena itu proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat dilaksanakan menggunakan pendekatan ilmiah. Sebagaimana (Permendikbud, No. 65 Tahun 2013) tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ ilmiah. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa. Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.
Hal ini sejalan dengan peranan guru dalam proses pembelajaran yakni penentu strategi pembelajaran yang akan menentukan arah pembelajaran yang dilakukan Peserta didik. Ketepatan guru memilih model pembelajaran sesuai dengan materi yang relevan mempengaruhi daya tarik dan keaktifan peserta didik untuk belajar. Mengutamakan peserta didik sebagai pusat pembelajaran akan menghasilkan proses pembelajaran yang tidak membosankan karena peserta didik dituntut untuk lebih aktif sehingga akan menghasilkan peserta didik untuk produktif, kreatif dan inovatif. Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Bebunga Estate merupakan salah satu SMK Swasta di Desa Binturung, Kecamatan Pamukan Utara Kabupaten Kotabaru yang mengimplementasi Kurikulum 2013.
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara baik dalam kehidupan masyarakat. Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu dapat tercapai sebagaimana yang diinginkan. Tujuan pendidikan Islam adalah mempersiapkan anak-anak didik yang cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat, sehingga tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat yang diridhai Allah Swt. Seorang Guru, mempunyai peran yang sangat penting dalam pembelajaran, guru sebagai sebagai tenaga pendidik mempunyai tugas sebagai pelaksana pembelajaran yang paling penting, dengannya guru merupakan penggerak utama dalam pembelajaran.
Tuntutan bagi seorang guru tidaklah semata untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, namun lebih daripada itu, guru diharuskan mempunyai kompetensi yang menunjang kepribadiannya untuk menjadi guru yang professional. Antara lain guru harus mampu menguasai materi pelajaran dengan baik, dan dalam pelaksanaanya guru diharuskan mampu mengintegrasikan materi pelajaran dengan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran, sehingga dalam pembelajaran tercipta suasna pembelajaran yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Pengalaman pembangunan di Negara-negara yang sudah maju, khususnya Negara-negara Barat membuktikan bahwa betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan. Selama ini pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung di sekolah masih mengalami banyak kelemahan. Kegagalan ini disebabkan karena praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek
kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan, antara gnosis dan praxis dalam kehidupan nilai agama. Atau dalam praktik pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak mampu membentuk pribadi - pribadi bermoral, padahal intisari dari pendidikan agama adalah pendidikan moral.
Allah SWT, berfirman dalam Qur’an Surat Lukman (31:12)
Artinya: Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu,
”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (Qur’an Surat Lukman (31:12)
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, terutama dalam dunia pendidikan, segala kebutuhan masyarakat pendidik yang semakin kompleks maka pendidikan dengan segala cara membentuk suatu sistem, strategi serta proses pendidikan yang begitu beragam. Namun walaupun demikian, segala sesuatu yang menyangkut tentang pendidikan, baik itu sistem, strategi serta proses di dalamnya, tiada lain hanya untuk mencapai salah satu tujuan belajar yang sesuai dengan kaidah-kaidah pembelajarannya, serta demi tercapainya pendidikan yang bermutu dan berkualitas bagi guru sebagai fasilitatornya dan peserta didik sebagai objek dimana proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis di SMKS Bebunga Estate, penulis menemukan permasalahan di kelas X Akuntansi dan keuangan Lembaga, yakni pembelajaran peserta didik cenderung membosankan dan siswa terlihat kurang aktif Khususnya pada saat penulis mengajar dengan metode ceramah, perhatian siswa sangat kurang terhadap Pembelajaran Agama Islam yang menyebakan proses pemeblajaran tidak maksimal.
Keaktifan belajar merupakan tindakan atau aspek-aspek yang dilakukan oleh siswa berkaitan dengan pengaruh siswa dalam pembelajaran di kelas.
Keaktifan belajar mencakup konsep pengertian keaktifan, jenis keaktifan, faktor yang mempengaruhi keaktifan, serta peran guru dalam keaktifan belajar siswa.
Belajar merupakan proses perubahan pada diri individu kearah yang lebih baik yang bersifat tetap berkat adanya interaksi dan latihan” (KBBI, 1992:17), Hal tersebut termanifestasi pada karakter “individu merupakan manusia belajar yang selalu ingin tahu (Dimyanti, dan Mujiono 1999:45) Jadi keaktifan belajar adalah suatu kegiatan individu yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan. sedangkan keaktifan belajar adalah “aktifitas yang bersifat fisik maupun mental”
(Sardiman, 2001: 99) ia membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca, memerhatikan gambar demonstrasi, percobaan, dan pekerjaan orang lain.
b. Oral Activities, seperti menyatakan merumuskan, bertanya, member saran, berpendapat, diskusi, dan interupsi.
c. Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, music, dan pidato.
d. Writing Activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, dan menyalin.
e. Drawing Activities, mengambar, membuat grafik, peta, dan diagram.
f. Motor Activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat kontruksi, model, mereparasi, berkebun, dan berternak.
g. Mental Activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, dan mengambil keputusan.
h. Emosional Activities, seperti misalnya, merasa bosan, gugup, melamun, berani, dan tenang.
Jadi dengan klasifikasi seperti diuraikan di atas, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup komplek dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan memperlancar peranannya sebagai pusat transformasi kebudayaan.
Menurut (Sudjana, N 2004, hal. 61) menyatakan keaktifan siswa dapat dilihat dalam beberapa hal yaitu turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, melaksanakan
diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang diperolehnya.
Menurut (Slameto, 2003, hal. 110) menjelaskan bahwa dalam pembelajaran, aktivitas siswa yang diharapkan tidak hanya aspek fisik melainkan juga aspek mental. Siswa yang melakukan aktivitas secara fisik dan mental misalnya, bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas, berdiskusi, menulis, membaca, membuat grafik dan mencatat hal-hal penting dari penjelasan guru.
Menurut (Depdiknas, 2005, hal. 31), belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya meningkatkan keaktifan belajar Peserta didik menggunaka model Pemnbelajaran Problem Based Learning, membimbing peserta didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan peserta didik serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Menurut (Majid), menguatkan bahwa Problem Based Learning merupakan cara yang baik dengan memberikan pengertian dengan menstimulus peserta didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya memecahkan masalah. Problem Based Learning ini bukan hanya sekedar model ataupun metode mengajar, melainkan juga menerapkan metode berpikir karena diawali dengan pencarian data, menganalisa kemudian menarik kesimpulan.
Berdasarkan pengalaman penulis mengajar di SMKS Bebunga Estate Tahun Pelajaran 2022/2023. SMKS Bbeunga Estate terletak di Jl. Teratai Bebunga Estate Desa Binturung RT.015 RW.004, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan terlihat bagaimana proses belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas X Tema Larangan Pergaulan Bebas dan Zina Kompetensi Dasar (KD) 3.2 Menganalisis Q.S. al-Isra’
(17): 32, dan Q.S. an-Nur (24): 2, serta Hadis tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina, hanya sedikit peserta didik yang terlihat aktif dalam proses pembelajaran, peserta didik yang tidak mengerti cenderung diam, tidak fokus, catatan tidak lengkap, buku pelajaran ketinggalan, dan terlihat bermalas- malasan. Ditambah lagi cara mengajar guru yang monoton dengan metode ceramah. Hal ini menyebabkan peserta didik menjadi tidak kreatif dan sulit berkembang.
Berdasarkan Penjelasan di atas Penulis tertarik melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul :“PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED
LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMKS BEBUNGA ESTATE”.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian yang akan digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. Kelas merupakan sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula (Arikunto, S. , 2008 :16).
Penelitian tindakan mengacu pada pendekatan spiral yang merupakan empat langkah kesatuan yang berulang yaitu : perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan pemikiran kembali (reflencing). Keempat langkah ini terus dilakukan berulang sampai perbaikan yang diharapkan tercapai.
Subyek Penelitian ini dilaksanakan di kelas X Akuntansi dan Keuangan Lembaga SMKS Bebunga Estate Tahun Pelajaran 2022/2023. SMKS Bbeunga Estate terletak di Jl. Teratai Bebunga Estate Desa Binturung RT.015 RW.004, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus dan pada setiap siklus terdiri dari tiga (3) pertemuan. Setiap siklus terdiri dari satu rangkaian kegiatan yang meliputi 4 (empat) tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.
Data yang disajikan berupa data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari data kuantitatif berupa nilai tes hasil belajar siswa dan data Kualitatif berupa data aktivitas guru dan aktifitas siswa.
Teknik pengumpulan data yang di lakukan penulis yaitu Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto S. , 1995: 134) Beberapa metode dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah Observasi dan tes
Observasi atau pengamatan berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan. dan Tes dilaksanakan pada setiap awal siklus (pre test) dan akhir siklus (post test).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Sedangkan untuk mengukur keaktifan siswa menggunakan sistem nilai rata-rata kelas pada hasil evaluasi tiap siklus.
Pada setiap siklus akan dilihat persentase peningkatan hasil belajar siswa, baik peningkatan nilai rata-rata kelas, maupun peningkatan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa. Hal itu dapat dilihat dari peningkatan persentase penguasaan dan kategori hasil belajar siswa sehingga mendapatkan hasil keaktifan siswa.
Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Pengkategorian penelitian ini ke dalam penelitian tindakan sesuai dengan model (Taggat, Kemmis dan Mc. Taggat) Tiap siklus atau putaran terdiri empat tahapan yaitu perencanaan (planning), aksi atau tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Penelitian tindakan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran problem based learning yang dilaksanakan di SMKS Bebunga Estate Desa Binturung, pamukan Utara Kotabaru. Setelaha di lakukan refleksi maka di susun rencana berdasarkan informasi yang terjadi dalam siklus I untuk di laksanakan pada siklus berikutnya, begitu seterunya pada setiap siklus. dan telah mencapai hasil yang maksimal.
HASIL PENELITIAN
Analisis aktifitas Peserta didik dalam pembelajaran Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik mata pelajaran pendidikan agama islam di SMKS Tahun pelajaran 2022/2023 bebunga estate dianalisis secara deskriptif persentase. Persentase keaktifan peserta didik yang meningkat dari pertemuan 1 sampai pertemuan 2 merupakan indikator keberhasilan metode sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) peserta didik yaitu 75, kelas dinyatakan telah berhasil atau aktif belajarnya apabila sekurang-kurangnya 75% Peserta didik telah aktif belajarnya.
Peningkatan keaktifan peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.7 Distribusi Persentase Keaktifan peserta didik Tiap Pertemuan No. Aktivitas Siklus I Siklus II
1. Listening activities 88% 96%
2. Oral activities 50% 85%
3. Visual activities 65% 95%
4. Writing activities 65% 88%
5. Drawing activities 55% 90%
6. Motor activities 45% 85%
7. Mental activities 65% 91%
8. Emotional activities 70% 92%
Dari data yang disajikan dalam tabel terlihat bahwa keaktifan peserta didik pada setiap kategori meningkat. Hal ini disebabkan karena peserta didik sudah dapat beradaptasi dengan metode Problem Based Learning (PBL). Dari data tabel 4.7 diatas dapat ditentukan grafik keaktifan siswa sebagai berikut:
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Siklus 1 Siklus 2
Gambar 4.3. Grafik Presentase Keaktifan Belajar Peserta didik Pada Siklus I dan Siklus II.
Berdasarkan deskripsi penelitian dan hasil penelitian yang sudah disajikan Penulis sebelumnya, dapat dikatakan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik kelas X Akuntansi SMKS Bebunga Estate dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan, Peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 9,09 % yaitu dari 88,00 menjadi 96,00.Meningkatnya rata- rata nilai tersebut disebabkan karena peserta didik mudah menyerap materi dengan metode belajar Problem Based Learning (PBL).
KESIMPULAN
Dari penelitian tindakan kelas yang dilakukan, dapat disimpulkan Secara singkat, hasil dari Penelitian Tindakan adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas guru dalam menerapkan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Kelas X Akuntansi dan keuangan lembaga SMKS Bebunga Estate berhasil dengan kriteria sangat baik.
2. Aktivitas peserta didik diperoleh informasi bahwa adanya peningkatan dalam aktifitas listening activities dari 88% menjadi 96%, oral activities dari 50% menjadi 85%, visual activities dari 65% menjadi 95%, visual activities dari 40% menjadi 90%, writing activities dari 65% menjadi 88%, motor activities dari 45% menjadi 85%, dan mental activities dari 65% menjadi 91%, emosional activities 70% menjadi 92% Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat membantu meningkatkan keaktifan belajar Peserta didik kelas X Akuntansi dan
Keuangan Lembaga SMKS Bebunga Estate. Keaktifan peserta didik dilihat dari aspek memperhatikan, bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan, berpendapat, kerjasama dalam kelompok, mengerjakan soal, belajar menggunakan sumber, dan presentasi kelompok dari siklus I sampai II sebagian besar aspek mengalami peningkatan. Dan berada pada kategori sangat aktif.
3. Penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat membantu meningkatkan keaktifan belajar peserta didik berpengaruh terhadap hasil belajar Peserta didik kelas X Akuntansi dan Keuangan Lembaga SMKS Bebunga Estate. Yang di lihat dari Peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 9,09% yaitu dari 88 menjadi 96 . Hasil belajar siswa mencapai indikator keberhasilan dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 menjadi 98.
DAFTAR PUSTAKA
Winkel, WS, 1993: Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar , Jakarta:
Gramedia
Hisyam Zaeni.(2007). Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD.
Sulistyo, 2014 : Penerapan kurikulum 2013
Sanjaya Wina, 2012 Strategi Pembelajaran : Berorientasi standar proses pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rusmono, 2012 Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu perlu. Bogor: Ghalia Indonesia.
Nana Sudjana. (2008). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Zabit, M.N.M, 2010 Problem-based learning on students’ critical thinking skills in teaching business education in malaysia: A literature review. American Journal of Bussiness Education, Vol. 3 Nomor 2010.
Sumitro dkk, 2006 Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Paramita Ika Sari dengan judul “ Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Geografi Siswa di MAN 1 Yogyakarta”.
Wati Kurnia dengan judul “ Meningkatkan Keaktifan Belajar Melalui Model Problem Based Learning Dalam Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi”.
Rizqi Ikhsan, 2018 Dengan Judul “ Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Perekayasaan Sistem Radio Dan Televisi Di SMK Muhammadiyah 1 Banda Aceh”.
Sundari, 2016 dengan judul meningkatkan keaktifan siswa pada kompetensi dasar mempertahankan kemerdekaan indonesia melalui model pembelajaran card sort pada siswa kelas ix smp negeri 3 ponorogo, gulawentah:
Jurnal Studi Sosial, Volume 1 Nomor 1 Juli 2016
Wagiran, 2015 dengan judul “Peningkatan Keaktifan Mahasiswa dan Reduksi Miskonsepsi Melalui Pendekatan Problem Based Learning”. Jurnal Kependidikan. Vol. 1 Nomor 2 Juli 2015.
Lorentya Yulianti Kurnianingtyas dan Mahendra Adhi Nugroho, 2012 implementasi strategi pembelajaran kooperatif teknik jigsaw untuk meningkatkan keaktifan belajar akuntansi pada siswa kelas x akuntansi 3 SMK negeri 7 yogyakarta tahun ajaran 2011/2012, Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. X, No. 1.
Adawiyah Robiatul, 2011 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa.
Y Pandu Leonardus Baskoro, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran Komputer (KK6) di SMK N 2 Wonosari Yogyakarta.
Nurwahidah, 2021 meningkatkan hasil belajar ipa melalui model problem based learning (PBL) pada siswa kelas IV SDN Lembaya Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa.
Hajar Azmi, 2016 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X-3 Pada Mata Pelajaran Sosiologi Sma Negeri Kebakkramat.
Najma Siti, 2017Penerapan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Tema Selalu Berhemat Energi Kelas IV MIN 3 Banda Aceh.
Mulyadi didi, 2020 Penerapan Model Pembelajaran “Problem Based Learning” Di Mata Pelajaran Pemesanan dan Penghitungan Tiket Perjalanan Pada Kompetensi Dasar Menerapkan Teknik Komunikasi Dan Atau ADS”.
Supartinah Christina, 2009 “ Penerapan metode problem based learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas V SD Negeri Bedoro 3 Sambungmacan”.