• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1536 H / 2015 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1536 H / 2015 M"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

SAFRUDIN 105190085810

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

1536 H / 2015 M

(2)

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqhi di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu Timur

Nama : SAFRUDIN

Nim : 105 19 00858 10

Fak/Jurusan : Agama Islam /Pendidikan Agama Islam

Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka Skripsi ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diajukan dan dipertahankan di hadapan tim penguji Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 15 Muharram 1436 H 8 November 2014 M

Disetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Nurani Azis, M.Pd.I. Dra. A. Fajriwati T, MA., M.Pd.

NBM: 548897 NBM: 1035363

(3)

dibawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis/peneliti sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat, dibuat atau dibantu secara langsung oleh orang lain baik keseluruhan atau sebagian, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Makassar, 15 Muharram 1436 H 8 November 2014

Penulis

SAFRUDIN

(4)

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “IImplementasi Metode Quantum Teaching untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqhi di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu Timur” telah diujikan pada hari Sabtu 15 Muharram 1436 H, bertepatan dengan 8 November 2014 M dihadapan tim penguji dan dinyatakan telah dapat diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 15 Muharram 1436 H 8 November 2014 M DEWAN PENGUJI

1. Ketua : Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd.I. (……....………) 2. Sekertaris : Dr. Abd. Rahim Razaq, M. Pd. (...………...)

Tim Penguji : Amirah Mawardi, S. Ag., M. Si. (………)

: Drs. H. Abd. Samad T (………)

: Dra. Nurani Azis, M.Pd.I. (………)

: Dra. A. Fajriwati T, M. Pd. (………)

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd.I.

NBM: 554 612

(5)

BERITA ACARA MUNAQASYAH

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar, telah mengadakan sidang Munaqasyah pada:

Tanggal : 15 Muharram 1436 H/ 8 November 2014 M

Tempat : Kampus Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 256 (Gedung Al- Iqra) MEMUTUSKAN

Bahwa Saudara (i)

Nama : SAFRUDIN

Nim : 105190085810

Judul Skripsi : IIMPLEMENTASI METODE QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQHI DI MTS LAMBARA HARAPAN KEC. BURAU KAB. LUWU TIMUR

Dinyatakan : LULUS

Ketua Sekertaris

Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd.I. Dr. Abd. Rahim Razaq, M. Pd.

NBM: 554 612 NIDN:9909005374

Munaqisy I : Amirah Mawardi, S. Ag., M. Si. (……….………...)

Munaqisy II : Drs. H. Abd. Samad T (………....………)

Pembimbing I : Dra. Nurani Azis, M.Pd.I. (……….………...) Pembimbing II : Dra. A. Fajriwati T. M.Pd. (……….………...) Makassar, 15 Muharram 1436 H

8 November 2014 M Dekan

Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd.I.

NBM: 554 612

(6)

Teman yang paling akrab adalah AMAL Harta yang paling bermanfaat adalah ILMU

”Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

(Q.S. Al – Insyirah : 6-8).

Kuraih sukses ditengah-tengah hempasan badai Setiap kesulitan akan ada kemudahan dan Setiap kesusahan akan ada kegembiraan.

Bukanlah orang cerdas, kecuali pernah tergelincir dan bukan pula orang bijak, kecuali berpengalaman.

(Nabi Muhammad SAW)

(7)

pengorbanan doa yang tulus dan segalanya yang kalian berikan kepadaku meski ini bukanlah apa-apa dibanding cucuran keringatmu.

Kakak dan adikku yang senantiasa berbagi pilu demi kesuksesanku, terima kasih atas doa dan pengorbananmu kepadaku

Sang motivatorku (Safirha Al-Izzah) Terima kasih atas ketulusan, kesetiaan dan kesabaranmu dalam memotivasiku, you will live in my heart

Sahabat-sahabat seperjuanganku PAI di kelas A terima kasih telah memberikan kenangan indah selama perkuliahan canda tawamu adalah pelengkap hari-hariku.

Sahabat seperjuanganku di LKIM-PENA Terima kasih telah menggoreskan pena- penamu dalam lembar kehidupanku sehingga lebih berwarna dan semoga saja

goresan pena ini tak berhenti menari di atas kertas.

Keluarga besar pondok MUTIARA, terimah kasih atas doa dan dorongan kalian.

Kampus biru tercinta.

(8)

Kab. Luwu Timur. Di bimbing oleh Nurani Azis dan Fajriwati Tadjuddin..

Penelitian ini merupakan penelitian tindak kelas yang bertujuan untuk mengetahui implementasi metode Quantum Teaching untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Fiqhi di Kelas VIII MTs Lambara Harapan. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan dalam dua tahap.

Indikator kinerja dalam penelitian berupa tercapainya ketuntasan belajar secera individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Quantum Teaching pada mata pelajaran Fiqhi di Kelas VIII MTs Lambara Harapan dapat memberi dampak positif bagi siswa, karena dalam penerapannya dianggap mudah dan menarik untuk diterapkan dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran fiqhi. Selain itu, dalam penerapannya metode ini memberi pengaruh terhadap motivasi belajar siswa hal ini terlihat dari hasil percobaan yang dilakukan oleh peneliti, siswa lebih kreatif dalam mengungkapkan gagasan-gagasanya serta tidak fakum lagi pada saat proses pembelajaran. penerapan metode Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII MTs Lambara Harapan, hal ditunjukan dari hasil observasi siswa yang dilakukan dengan dua tahap. Tahap awal menunjukkan Indikator motivasi hasrat dan keinginan berhasil 70%, Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 60%, Adanya harapan dan cita-cita di masa depan 70%, Adanya penghargaan dalam belajar 80%, Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 60% dan Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa belajar dengan baik sebesar 70% sedangkan tahap kedua menunjukkan Indikator motivasi hasrat dan keinginan berhasil 90%, Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 80 %, Adanya harapan dan cita-cita di masa depan 85 %, Adanya penghargaan dalam belajar 80%, Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 90% dan Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa belajar dengan baik sebesar 85%.

penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para mahasiswa, para tenaga pengajar, para peneliti dan semua pihak yang membutuhkan.

(9)

iv

Alhamdulilah segala puji hanya bagi Allah Swt. atas segala karunianya sehingga skripsi ini dapat di susun sesuai dengan waktu yang telah di rencanakan. Salam dan salawat semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad Saw. para keluarganya, dan para sahabat serta orang orang yang tetap istiqomah dijalan-Nya.

Skripsi yang wujudnya sederhana ini diajukan memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, olehnya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis mungucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam penyusunan skripsi ini kepada :

1. Kedua Orantua Penulis, Ayahanda Minding dan Ibunda Muliana, yang selama ini hidup dengan gigih, sabar dan ikhlas memelihara, mendidik, menyekolahkan saya sampai kejenjang perguruan tinggi.

2. Kakak tertua Penulis Haminah yang juga bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan penulis hingga menyandang gelar Sarjana.

3. Dr. H. Irwan Akib, M,Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I. Dekan Fakutas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

(10)

v

bimbingan, petunjung, nasehat, dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Dra. A. Fajriwati Tadjuddin, MA. M.Pd. Dosen Pembimbing II yang juga memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat, dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Amirah Mawardi S,Ag, M.Si. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Dr. Hj. Maryam, M.Th.I. Selaku Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama Islam universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Kepada teman-teman kelas A PAI UNISMUH angkatan 2010, yang banyak membantu, memberikan masukan, dorongan, dan semangat sehingga panyusunan skripsi ini telah selesai di susun, Peneliti Mengucapkan.“ Jazaqumullah Khairan Kasir’a”.

Harapan yang sangat besar semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi diri penulis. Semoga semua pihak yang telah membantu mendapat pahala yang sesuai dengan amal ibadahnya.

Amin.

Karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mempersembahkan skripsi ini kiranya dapat bermanfaat bagi pembaca utamanya rekan-rekan calon guru.

Makassar, 15 Muharram 1436 H 8 November 2014 M Penyusun,

Safrudin

NIM: 105190085810

(11)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

PRAKATA ... v

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Metode Quantum Teaching ... 10

B. Penerapan Model Quantum Teaching dalam Pembelajaran Fiqhi .. 20

C. Pengaruh Metode Quantum Teaching terhadap Motivasi Belajar siswa ... 26

D. Motivasi belajar Fiqhi ... 28

E. Dalil yang terkait dengan Motivasi Belajar ... 36

F. Manfaat Metode Quantum Teaching ... 38

BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 40

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 40

(12)

G. Teknik Pengumpulan Data ... 47 H. Teknik Analisis Data ... 47 BAB IV : HASIL PENELITIAN

A. Gambaran umum MTs Lambara Harapan ... 49 B. Motivasi Belajar Siswa dalam Penerapan

Metode Quantum Teaching ... 52 1. Hasil observasi sebelum mengimplementasikan

metode Quantum Teaching ... 52 2. Hasil observasi setelah mengimplementasikan metode

QuantumTeaching ... 53 C. Implementasi Metode Quantum Teaching dalam Meningkatkan

Motivasi Belajar Siswa ... 56 1. Hasil penelitian sebelum mengimplementasikan

metode quantum teaching ... 56 2. Hasil penelitian sesudah mengimplementasikan

Metode quantum teaching ... 58 BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 62 B. Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA ... 65

(13)

Kec. Burau Kab. Luwu Timur ... 43 2. Tabel 3.2 : sampel siswa MTs Lambara harapan

Kec. Burau Kab. Luwu Timur ... 44 3. Tabel 4.1 : Motivasi belajar siswa sebelum mengimplementasikan

metode Quantum Teaching ... 52 4. Tabel 4.2 : Motivasi belajar siswa sesudah mengimplementasikan

metode Quantum Teaching ... 54

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lain. Hal ini terbukti dengan dianugerahkannya akal pada manusia untuk berpikir. Seiring dengan tingkat berfikirnya manusia, maka pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Terlebih untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan menantang ini, warga Indonesia perlu memiliki kepribadian, keterampilan dan kompetensi tertentu, agar mereka dapat menghadapi dan dapat mengatasi kecenderungan yang tidak diinginkan serta dapat mendorong kecenderungan-kecenderungan yang diinginkan yang tumbuh dari tata kehidupan yang semakin mengglobal. Dalam proses pendidikan sendiri mempunyai beberapa tujuan pendidikan di antaranya menggali dan mengembangkan potensi iman atau fitrah manusia dan membentuk manusia yang berakhlak mulia.

Kesejahteraan bangsa Indonesia bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial dan kredibilitas sehingga tuntutan untuk terus-menerus memutakhirkan pengetahuan menjadi suatu keharusan.

1

(15)

Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja, sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai dengan standar mutu nasional dan internasional, maka kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan cara seperti itu, lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan daerah dan karakteristik peserta didik serta tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan kurikulum yang berdiversifikasi.

Basis kompetensi harus menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan keterampilan hidup dan pengembangan kepribadian indonesia yang kuat dan berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI bagian kesembilan pasal 30 yang merumuskan bahwa:

pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam dan atau menjadi ahli ilmu agama.

Adanya landasan ini, pendidikan agama harus terus diupayakan, dilaksanakan melalui proses pembelajaran, baik di

(16)

lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Sedangkan untuk mengembangkan fikiran dan perasaan peserta didik dalam proses kependidikan agama perlu didesain model pembelajaran. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari proses pembelajaran itu sendiri dapat dicapai.

Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Harus kita sadari bahwa pelaksanaan pendidikan di Indonesia pada umumnya masih menempatkan guru sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Metode cerita dan ceramah dianggap sebagai pilihan strategi pembelajaran yang bisa mengatasi masalah. Terutama untuk mata pelajaran ilmu Sosial atau Pendidikan Agama. Kebanyakan guru merasa kesulitan mencari cara pembelajaran yang efektif. Dari sini guru harus bisa memiliki strategi pembelajaran yang tepat sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Selain itu guru harus bisa mengembangkan tugas yang paling utama, yaitu UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.

(17)

Salah satu dari kumpulan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah fiqhi, dimana materinya berkisar tentang doktrin-doktrin ajaran Islam baik yang harus dikerjakan maupun yang harus ditinggalkan.

Jadi, pendidikan fiqhi harus mencakup tiga ranah, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sehingga apa yang didapatkan pada materi yang diajarkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pendidikan Islam yang diselenggarakan dewasa ini lebih menekankan pada dataran kognitif saja, belum sampai pada ranah afektif dan psikomotorik. Padahal penerimaan ajaran Islam tanpa banyak komentar adalah pendekatan ta‟abudi, yaitu pendekatan yang mengabaikan illat hukum dan hikmah tasyri‟.

Ajaran Islam harus didekati secara ilmiah dan rasional. Karena dengan prinsip ini, ajaran Islam bukan hanya mudah dipahami dan diterima umat manusia, tetapi sekaligus melatih umat Islam menjadi kritis dan sehat penalarannya, dan lebih dari itu, ajaran Islam akan diterima berdasarkan kesadaran ilmiah yang benar.

Meliha dari semua permasalahan yang dipaparkan di atas, maka dibutuhkan tindakan yang mampu mencari jalan keluarnya. Salah satu solusi adalah penggunaan metode yang tepat, yaitu metode yang mampu membuat seluruh siswa terlibat dalam suasana pembelajaran.

Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan siswa pada saat

(18)

berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna lebih mengaktifkan dan memunculkan prestasi belajar siswa di kelas yaitu dengan menggunakan metode Quantum Teaching.

Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap Salah satu pakar pendidikan berhasil menciptakan cara baru dan praktis untuk mempengaruhi keadaan mental pelajar yang dilakukan oleh guru. Semua itu terangkum dalam Quantum Teaching yang berarti pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada dalam diri siswa menjadi sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri siswa itu sendiri maupun bagi orang lain. Disinilah letak pengembangan metode pembelajaran Quantum Teaching, yaitu mengubah bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Karena itulah guru harus tahu apa yang ada pada siswanya. Begitu juga harus ada kerjasama yang solid antara guru dan siswa, bila guru berusaha membimbing dan mengarahkan siswanya, maka diharapkan siswa juga berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil belajar.

Dalam pelaksanaan Quantum Teaching lebih menekankan pada emosioanal anak, sebagaimana prinsip-prinsip yang dikembangkan

(19)

dalam Quantum Teaching yaitu "Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia kita ke Dunia Mereka" Berdasar hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Supercamp (sebuah program pemercepatan Quantum Teaching yaitu perusahaan pendidikan nasional), pemercepatan Quantum Teaching dapat meningkatkan beberapa hasil daripada proses pembelajaran sebagai berikut; 1.68 % meningkatkan motivasi belajar siswa 2.73 % meningkatkan prestasi belajar siswa 3.81 % meningkatkan rasa percaya diri siswa 4. 98 % melanjutkan penggunaan keterampilan Sedangkan belajar itu sendiri adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya.

Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Mata pelajaran fiqhi yang mencakup materi tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia, sangat cocok menggunakan strategi pendekatan Quantum Teaching (QT). Karena peserta didik tidak hanya menerima dan memahami penjelasan dari guru, tetapi dengan pendekatan kontekstual ini peserta didik dituntut untuk mengalami sendiri.

Kontekstual hanya sebagai strategi pembelajaran, seperti halnya sebuah strategi pembelajaran yang lain. Kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna.

Disinilah perlunya memahami secara benar tentang cara menerapkan

(20)

pendekatan kontekstual, sehingga dapat diterapkan untuk mata pelajaran apapun.

Uraian di atas, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran fiqhi dibutuhkan strategi pembelajaran yang relevan, sehingga peserta didik dapat memahami materi pembelajaran yang telah disampaikan serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Dari latar belakang pemikiran di atas, peneliti bermaksud mengangkat permasalahan tersebut menjadi skripsi dengan judul: “Implementasi Metode Quantum Teaching untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqhi di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab.

Luwu timur “.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang akan menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah :

1. Bagaimana penerapan metode Quantum Teaching dalam pembelajaran Fiqhi di kelas VIII MTs Lambara Harapan ?

2. Bagaimana motivasi belajar fiqhi siswa kelas VIII MTs Lambara Harapan dalam penerapan metode Quantum Teaching ?

(21)

3. Bagaimana implementasi Metode Quantum Teaching dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqhi di kelas VIII MTs Lambara Harapan ?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengantisipasi terjadinya kesimpangsiuran dalam penelitian ini, maka peneliti memiliki sasaran, tujuan yang ingin dicapai, yaitu mencari titik temu atau jawaban yang ada relevansinya dengan permasalahan di atas.

Adapun tujuan penelitian yang dimaksud adalah:

1. Untuk mengetahui penerapan metode Quantum Teaching dalam pembelajaran Fiqhi di kelas VIII MTs Lambara Harapan.

2. Untuk mengetahui motivasi belajar fiqhi siswa kelas VIII MTs Lambara Harapan dalam penerapan metode Quantum Teaching.

3. Untuk mengetahui implementasi Metode Quantum Teaching dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqhi di kelas VIII MTs Lambara Harapan

(22)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak yang terkait dalam penelitian ini. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Sekolah

Sebagai bahan masukan serta informasi bagi pihak sekolah guna meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fiqhi di kelas VIII MTs Lambara Harapan.

2. Bagi peserta didik

Dengan skripsi ini dapat digunakan sebagai wacana belajar peserta didik, guna meningkatkan pembelajaran fiqhi dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching di Kelas VIII MTS Lambara Harapan.

3. Bagi guru

Dapat memberikan masukan dan informasi bagi guru, tentang pembelajaran fiqhi dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching di VIII MTS Lambara Harapan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

4. Bagi penulis

Dapat menambah wawasan dan pengalaman baru yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di masa mendatang.

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Model Quantum Teaching

1. Pengertian Quantum Teaching

Quantum Teaching berasal dari dua kata yaitu "Quantum" yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya dan "Teaching"

yang berarti mengajar. Dengan demikian maka Quantum Teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang dapat mempengaruhi kesuksesan siswa. Abudin Nata dalam De Porter (2003: 23), mengatakan bahwa:

Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian dan fasilitasi Super Camp, diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intellegence Gardner).

Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi paket multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami, dan kemampuan murid untuk berprestasi. Sebagai sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis dan mudah diterapkan.

(24)

Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan Quantum Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses belajar mengajar, setiap kata, pikiran, tindakan asosiasi dan sampai sejauhmana mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran.

Colin Rose dalam Dare Maicer (2001:247) juga berpendapat bahwa:

Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa. Metode ini sarat dengan penemuan- penemuan terkini yang menimbulkan antusiasme siswa.

Quantum Teaching menjadikan ruang-ruang kelas ibarat sebuah konser musik yang memadukan berbagai instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan dari keberagaman tersebut.

Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid, anda seolah- olah memimpin konser saat berada di ruang kelas. Ada beberapa model dalam pembelajaran. Salah satu model yang digunakan adalah model quantum teaching. model quantum teaching adalah metode mengajar yang sangat efektif, karena dapat membantu peserta didik untuk melihat secara langsung proses terjadinya sesuatu.

(25)

Dari beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa model Quantum Teaching adalah Pembelajaran Quantum Teaching lebih mengutamakan keaktifan peran serta siswa dalam berinteraksi dengan situasi belajarnya melalui panca inderanya baik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan, sehingga hasil penelitian Quantum Teaching terletak pada modus berbuat yaitu Katakan dan Lakukan, di mana proses pembelajaran Quantum Teaching mengutamakan keaktifan siswa, siswa mencoba mempraktekkan media melalui kelima inderanya dan kemudian melaporkannya dalam laporan praktikum dan dapat mencapai daya ingat 90%. Semakin banyak indera yang terlibat dalam interaksi belajar, maka materi pelajaran akan semakin bermakna. Selain itu dalam proses pembelajaran perlu diperdengarkan musik untuk mencegah kebosanan dalam belajarnya. Pemilihan jenis musik pun harus diperhatikan, agar jangan musik yang diperdengarkan malah mengganggu konsentrasi belajar siswa.

Adapun model Quantum Teaching terdiri atas dua tahap, tahap pertama disebut konteks, dan tahap kedua adalah isi.

a. Konteks

Yang dimaksud dengan tahap pertama atau konteks yaitu tahap persiapan sebelum terjadinya interaksi di dalam kelas.

Berhubungan dengan konteks, ada empat aspek yang harus dipersiapkan:

(26)

1) Suasana, termasuk di dalamnya keadaan kelas, bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap terhadap sekolah dan belajar.

2) Landasan, yaitu kerangka kerja: tujuan, keyakinan, kesepakatan, prosedur, dan aturan bersama yang menjadi pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.

3) Lingkungan, yaitu cara menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, dan semua hal yang mendukung proses belajar.

4) Rancangan, yaitu penciptaan terarah unsur-unsur penting yang menimbulkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi.

b. Tahap Kedua (Isi)

Tahap kedua (isi) merupakan tahap pelaksanaan interaksi belajar, hal-hal yang berhubungan dengan bagian ini adalah:

1) Presentasi, yaitu penyajian pelajaran dengan berdasarkan prinsip- prinsip Quantum Teaching sehingga siswa mereka dapat mengetahui banyak hal dari apa yang dipelajari. Tahap ini juga diistilahkan pemberian petunjuk, yang bermodalkan dengan penampilan, bunyi dan rasa berbeda.

(27)

2) Fasilitas, yaitu proses untuk memadukan setiap bakat-bakat siswa dengan kurikulum yang dipelajari, dengan kata lain bagian ini menekankan bagaimana keahlian seorang pengajar sebagai pemberi petunjuk, langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk mengakomodasi karakter siswa.

3) Keterampilan Belajar, yaitu bagian yang mengajarkan bagaimana trik- trik dalam belajar yang tentu berdasarkan pada prinsip-prinsip Quantum Teaching, sehingga para siswa memahami banyak hal, meskipun dalam waktu yang singkat.

4) Keterampilan Hidup, bagian ini mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan efektif dengan orang lain sehingga terbina kebersamaan dalam hidup. Keterampilan hidup diistilahkan juga keterampilan sosial.

2. Ciri-ciri Quantum Teaching

Dalam metode Quantum Teaching tersebut terlihat adanya empat ciri sebagai berikut :

a. Adanya unsur demokrasi dalam pengajaran. Hal ini terlihat bahwa dalam Quantum Teaching terdapat unsur kesempatan yang luas kepada seluruh para siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan kajian terhadap suatu mata pelajaran.

(28)

b. Sebagai akibat dari ciri yang pertama, maka memungkinkan tergali dan terekspresikannya seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri si anak.

c. Adanya kepuasan pada diri si anak. Hal ini terlihat dari adanya pengakuan terhadap temuan dan kemampuan yang ditunjukkan oleh si anak, sehingga secara proporsional

d. Adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan. Hal ini terlihat dari adanya pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai si anak

e. Adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang dihasilkan si anak, dalam bentuk konsep, teori, model dan sebagainya.

3. Tujuan Quantum Teaching

Sesuai dengan definisi metode Quantum Teaching yaitu konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan, maka tujuan Quantum Teaching yaitu anak diarahkan dan dibimbing untuk menggunakan mata dan telinganya secara terpadu sebagai hasil dari pengamatan. Penerapan Quantum Teaching lebih banyak digunakan untuk memperjelas cara mengerjakan atau kaifiyah suatu proses

(29)

ibadah, misalnya shalat „Īdul fitri dan shalat „Īdul adha dan materi lain yang bersifat motorik.

Quantum Teaching merupakan suatu wahana untuk memberikan pengalaman belajar agar anak dapat menguasai pelajaran lebih baik. Metode Quantum Teaching anak dilatih untuk menangkap unsur-unsur penting untuk proses pengamatan, maka kemungkinan melakukan kesalahan sangat kecil bila terus menirukan apa yang telah di Quantum Teachingkan oleh guru dibandingkan jika ia melakukan hal yang sama hanya berdasarkan penjelasan lisan. Quantum Teaching memiliki makna penting bagi anak antara lain:

a. Dapat memperlihatkan secara konkret apa yang dilakukan/

dilaksanakan/ diperagakan.

b. Dapat mengkomunikasikan gagasan, konsep, prinsip dengan peragaan.

c. Membantu mengembangkan kemampuan mengamati secara teliti dan cermat.

d. Membantu mengembangkan untuk melakukan segala pekerjaan secara teliti dan cermat.

e. Membantu mengembangkan kemampuan menirukan dan pengenalan secara tepat.

(30)

4. Prinsip-prinsip dalam model Quantum Teaching

Adapun prinsip Quantum Teaching adalah sebagai berikut:

a. Segalanya berbicara

b. Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.

c. Segalanya bertujuan, Semua yang terjadi dalam penggubahan kita, mempunyai tujuan.

5. Langkah-Langkah model Quantum Teaching

Langkah-langkah perencanaan dan persiapan yang perlu ditempuh agar model Quantum Teaching dapat dilaksanakan dengan baik adalah:

a. Perencanaan

Hal yang dilakukan adalah:

1) Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang dapat ditempuh setelah model Quantum Teaching berakhir.

2) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah Quantum Teaching yang akan dilaksanakan.

3) Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.

(31)

4) Selama metode berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri

5) Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.

b. Pelaksanaan

Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:

1) Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.

2) Memulai Quantum Teaching dengan menarik perhatian peserta didik.

3) Mengingat pokok-pokok materi yang akan di Quantum Teachingkan agar model Quantum Teaching mencapai sasaran.

4) Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti model Quantum Teaching dengan baik.

5) Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang harmonis.

c. Evaluasi

Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya model Quantum Teaching sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan

(32)

evaluasi terhadap model Quantum Teaching yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.

6. Kelebihan dan Kekurangan Model Quantum Teaching a. Kelebihan model Quantum Teaching

1) Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret,sehingga menghindari verbalisme.

2) Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.

3) Proses pengajaran lebih menarik.

4) Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.

b. Kekurangan metode Quantum Teaching

1) Memerlukan keterampilan guru secara khusus.

2) Memerlukan waktu yang banyak.

3) Memerlukan kematangan dalam perancangan atau persiapan.

4) Keterbatasan dalam sumber belajar, alat pelajaran, situasi yang haru dikondisikan dan waktu untuk menggunakan model Quantum Teaching.

Dari uraian tersebit diatas maka penulis dapat mengamil sebuah kesimpulan bahwa keleihan dan kekurangan dari metode Quantum Teaching sangat cocok diterapkan pada kurikulum 2013.

(33)

B. Penerapan Model Quantum Teaching dalam Pembelajaran Fiqhi

Salah satu tugas sekolah adalah memberikan pembelajaran kepada peserta didik, mereka harus memperoleh kecakapan dan pengetahuan. Pemberian kecakapan dan pengetahuan kepada peserta didik yang merupakan proses pembelajaran, dilakukan guru di sekolah dengan menggunakan metode-metode tertentu, cara inilah yang sering disebut metode pembelajaran. Para pendidik selalu berusaha memilih metode pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alat untuk mencapai tujuan, makin tepat metode, diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuan tersebut. Sebuah metode pembelajaran harus mampu diterima peserta didik dengan baik, metode mengajar harus disajikan seefektif mungkin agar peserta didik dapat mudah menerima materi pelajaran.

Ada beberapa metode dalam pembelajaran, salah satunya adalah model Quantum Teaching. Model Quantum Teaching merupakan metode mengajar yang sangat efektif, karena dapat membantu siswa untuk memperjelas suatu pembelajaran dan membantu peserta didik untuk mudah menerima materi pembelajaran. Metode Quantum Teaching merupakan salah satu metode mengajar yang digunakan guru bila bahan ajarnya berupa keterampilan motorik yang berkaitan dengan proses kerja sesuatu.

Sebagai contoh dalam pembelajaran shalat lebih tepat apabila menggunakan metode Quantum Teaching, sebab dengan guru memperagakan atau

(34)

mempraktekkan shalat kemudian peserta didik menirukan hasilnya akan lebih efektif dan mudah dipahami oleh peserta didik. Pelaksanaan metode Quantum Teaching dalam pembelajaran Fiqhi, dalam pokok bahasan shalat mengemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode Quantum Teaching sebagai berikut:

1. Perencanaan/ persiapan Perencanaan meliputi:

a. Penentuan tujuan Quantum Teaching

Dalam perencanaan/ persiapan ini, peserta didik diharapkan terampil melaksanakan gerakan-gerakan shalat, melafalkan bacaannya dan mampu menyerasikan antara gerakan dengan bacaan shalat serta terbiasa melaksanakannya.

b. Penentuan langkah-langkah pokok Quantum Teaching

Setelah penentuan tujuan Quantum Teaching sudah jelas, langkah selanjutnya yaitu penentuan langkah-langkah pokok Quantum Teaching. Misalnya gerakan dan bacaan shalat.

1) Gerakan shalat

Mempraktekkan gerakan shalat dengan benar dan jelas, berdiri, tegak, takbir, bersedekap, rukuk, i‟tidal, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tahiyat awal, duduk tahiyat akhir dan salam.

2) Bacaan shalat Menghafal dan melatih bacaan shalat sehingga fasih, yaitu bacaan shalat pada waktu, takbir, rukuk, i‟tidal, sujud,

(35)

duduk antara dua sujud, duduk tahiyat awal, duduk tahiyat akhir dan salam.

3) Keserasian antara gerakan dan bacaan shalat Latihan.

Menserasikan antara gerakan shalat dengan bacaannya.

c. Persiapan alat dan bahan yang diperlukan

Dalam persiapan praktek shalat ini seorang guru terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat/bahan yang akan digunakan dalam Quantum Teaching. Misalnya, mukena, sajadah, dan tempat untuk mengaplikasikan Quantum Teaching.

2. Pelaksanaan model Quantum Teaching

Selama pelaksanaan model Quantum Teaching, yang dilakukan guru adalah:

a. Mengusahakan agar model Quantum Teaching dapat diikuti, dan diamati oleh semua peserta didik di dalam kelas

b. Menumbuhkan sikap kritis pada peserta didik, sehingga terdapat tanya jawab, dan diskusi tentang masalah yang di Quantum Teachingkan c. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba, sehingga

merasa yakin tentang kebenaran suatu proses.

d. Membuat penilaian dari kegiatan peserta didik dalam model Quantum Teaching tersebut.

(36)

3. Tindak lanjut model Quantum Teaching

Setelah model Quantum Teaching selesai, guru hendaknya memberikan tugas kepada siswa baik secara tertulis maupun lisan, misalnya dengan memberi pertanyaan-pertanyaan peserta didik dan selanjutnya memintanya untuk praktik.

Secara garis besar, persiapan guru untuk menggunakan model Quantum Teaching sama dengan metode sama rata. Perbedaannya adalah pada metode model Quantum Teaching, tiap percobaan dilakukan oleh setiap peserta didik, tetapi didalamnya guru mempunyai peran sebagai fasilitator dan sering memberikan penghargaan atas kerja siswa sekecil apapun. Setelah proses pelaksanaan model Quantum Teaching dalam pembelajaran Fiqhi selesai, kemudian guru mengadakan evaluasi. Yang dimaksud dengan evaluasi Fiqhi adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan agama Islam. Evaluasi adalah alat untuk mengukur sampai dimana penjelasan murid terhadap bahan pendidikan yang telah diberikan.

Sasaran dan fungsi evaluasi tersebut merumuskan ke dalam item- item pertanyaan atau statement yang disajikan kepada peserta didik untuk direspon. Hasil dari tanggapan mereka kemudian dianalisis secara psikologis, karena yang menjadi pokok persoalan evaluasi adalah sikap mental dan pandangan dasar dari mereka sebagai manifestasi keimanan dan keislaman serta ilmu pengetahuannya. Untuk mengevaluasi seorang

(37)

guru dapat menggunakan berbagai alat untuk melakukan penilaian. Teknik yang dapat digunakan antara lain:

a. Teknik penilaian melalui tes

Tes hasil belajar adalah tes untuk mengukur kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu yang diperoleh dari mempelajari bidang itu. Tes hasil belajar tersebut berfungsi untuk mengukur kemampuan yang dicapai setelah melakukan proses belajar. Dalam penelitian ini hasil belajar diperoleh dari tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus.

Jenis-jenis tes hasil belajar antara lain:

1) Tes penempatan, yaitu tes yang disajikan pada awal tahun pelajaran untuk mengukur kesiapan peserta didik dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai.

2) Tes formatif, yaitu jenis tes yang disajikan pada saat dilangsungkan proses belajar mengajar untuk memantau kemajuan belajar peserta didik.

3) Tes sumatif, yaitu tes yang diberikan pada akhir tahun ajaran/

akhir suatu jenjang pendidikan.

4) Tes diagnosis, yaitu tes yang bertujuan untuk mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik untuk mengupayakan perbaikan.

Purwanto (1993 : 25)

b. Teknik penilaian melalui observasi

(38)

Observasi yaitu suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Dalam penelitian ini hal-hal yang diamati adalah keaktifan peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Ada 3 macam jenis observasi, diantaranya:

1) Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat tetapi dalam waktu itu pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.

2) Observasi sistematik, yaitu observasi dimana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya.

3) Observasi eksperimental, yaitu pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok.

Seorang guru melakukan evaluasi di sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui peserta didik yang pandai dan yang bodoh.

2) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran.

3) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran.

4) Untuk mendorong persaingan yang sehat antar sesama peserta didik.

(39)

5) Untuk mengetahui tepat dan tidaknya guru dalam memilih bahan, metode dan berbagai penyesuaian di dalam kelas.

C. Pengaruh Metode Quantum Teaching Terhadap Motivasi Belajar

Salah satu metode yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna lebih mengaktifkan dan memunculkan prestasi belajar siswa di kelas yaitu dengan menggunakan metode Quantum Teaching. Strategi ini dapat diterapkan dan sangat berpengaruh terhadap pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Salah satu pakar pendidikan berhasil menciptakan cara baru dan praktis untuk mempengaruhi keadaan mental pelajar yang dilakukan oleh guru.

Di dalam Quantum Teaching terangkum pengubahan bermacam macam interaksi yang ada dalam diri siswa menjadi sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri siswa itu sendiri maupun bagi orang lain. Disinilah letak pengembangan metode pembelajaran Quantum Teaching, yaitu mengubah bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.

Karena itulah guru harus tahu apa yang ada pada siswanya. Begitu juga harus ada kerjasama yang solid antara guru dan siswa, bila guru berusaha membimbing dan mengarahkan siswanya, maka diharapkan siswa juga berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil belajar. Dalam pelaksanaan

(40)

Quantum Teaching lebih menekankan pada emosioanal anak, sebagaimana prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam Quantum Teaching yaitu "Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia kita ke Dunia Mereka".

(Bobby DePoter. 2000: 7)

Berdasar hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Supercamp (sebuah program pemercepatan Quantum Learning yaitu perusahaan pendidikan nasional), pemercepatan Quantum Teaching dapat meningkatkan beberapa hasil daripada proses pembelajaran sebagai berikut:

1. 68 % meningkatkan motivasi belajar siswa 2. 73 % meningkatkan prestasi belajar siswa 3. 81 % meningkatkan rasa percaya diri siswa 4. 98 % melanjutkan penggunaan ketrampilan

Sedangkan belajar itu sendiri adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.

(Bobby DePoter 2000:4)

Mata pelajaran fiqh yang mencakup materi tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia sangat cocok menggunakan strategi pendekatan Quantum Teaching, Karena peserta didik tidak hanya menerima dan memahami penjelasan dari guru, tetapi dengan pendekatan kontekstual ini peserta didik dituntut untuk mengalami sendiri.

(41)

D. Motivasi Belajar Fiqhi

1. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi adalah suatu perubahan yang berciri timbulnya suatu perasaan yang didahului oleh reaksi-reaksi yang ingin mencapai tujuan. Adapun indikator dari motivasi belajar antara lain:

(a) adanya hasrat dan keinginan berhasil dapat dilihat dari antusias siswa dalam belajar (b) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar: mendengarkan penjelasan guru, memberi tanggapan dari guru atau siswa lain, menjawab pertanyaan dari guru dan menanyakan yang belum jelas (c) adanya harapan dan cita-cita masa depan dan (d) adanya kegiatan yang menarik sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.

Menurut Witherington dalam Chalijah Hasan (1994: 84-86) menyatakan bahwa:

Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. „Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetapkan dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman‟. „Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian‟.

(42)

Oemar Hamalik (2008 : 27) menyatakan bahwa:

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman, (learning is defined as the modification or strengtheig of behavior through experience).

Menurut pengertian ini, belajar didefinisikan sebagai suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku.

Belajar yaitu berubah, maksud belajar di sini berarti usaha mengubah tingkah laku. Belajar akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan ilmu pengetahuan dan pemahaman tetapi juga bentuk kecakapan, keterampilan, sikap dan tingkah laku.

Esyenck, dkk. dalam Slamete (2011:170) menyatakan bahwa :

motivasi belajar adalah suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya.

b. Macam-macam Motivasi Belajar

Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

(43)

1) Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

a) Motif-motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir.

Jadi motivasi itu tanpa dipelajari, contoh dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja.

b) Motif-motif yang dipelajari maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari, sebagai contoh dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu dalam masyarakat.

2) Motivasi dilihat dari sumber (asalnya)

a) Motivasi Intrinsik yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan dari diri sendiri. Di antara motivasi intrinsik adalah keinginan dan tujuan. Dalam salah satu firmannya, Allah SWT berusaha membangkitkan motivasi intrinsik manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar- Ra‟d (13) ayat 11. Yang berbunyi:

... ...

Terjemahnya:

…Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…

(44)

b) Motivasi Ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga ia mau melakukan sesuatu.

c. Ciri-ciri Motivasi Belajar

Brown mengemukakan bahwa terdapat ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi. Hal ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas, antara lain :

1) Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh.

2) Tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan.

3) Mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru.

4) Ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas.

5) Ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain.

6) Tindakan, kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontrol diri.

7) Selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan Selalu terkontrol oleh lingkungan.

Apabila seseorang memiliki ciri-ciri diatas berarti orang itu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar berhasil baik kalau

(45)

siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri, bahkan lebih lanjut siswa harus lebih peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum dan bagaimana memikirkan pemecahannya.

d. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, antara lain:

1) Cita-cita atau aspirasi siswa

Dari segi manipulasi kemandirian, keinginan yang tidak terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar, dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita.

2) Kemampuan siswa

Keinginan siswa perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasisiswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya.

3) Kondisi siswa

Kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.

4) Kondisi lingkungan siswa.

(46)

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, orang tua lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan karena pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar.

Lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya seperti surat kabar, majalah, radio, televisi semakin menjangkau siswa.

2. Fiqhi

a. Pengertian Fiqhi

Secara bahasa fiqhi berasal dari bahasa arab dalam bentuk masdar, fi‟ilnya. Sedangkan fiqhi menurut istilah sebagaimana dikemukakan oleh ulama keenam Abdul Wahhab Khallaf:

“Fiqhi adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara‟

yang „amali”

Dalam penelitian ini, peneliti fokus pada materi mata pelajaran fiqhi kelas VIII MTS Lambara Harapan.

b. Hakikat dan Tujuan Pembelajaran Fiqhi

(47)

Pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang terdiri dari dua kata belajar dan mengajar. Belajar menurut Fatah Syukur 2002 adalah:

Proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan atau disebut proses komunikasi. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, pelengkap dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pendidikan Fiqhi adalah suatu bentuk bimbingan jasmani- rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama. Jadi pembelajaran pendidikan fiqhi adalah proses belajar mengajar sebagai suatu bentuk bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian yang utama.Hakikat pendidikan fiqhi adalah proses membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik agar menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan Islam.

Mata Pelajaran Fiqhi di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:

1. Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.

(48)

2. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah Swt. dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya.

Dalam pendidikan Islam keberhasilan belajar mencakup tiga hal, yaitu: (1) keberhasilan pada aspek kejiwaan yang ditunjukkan dengan adanya sikap kematangan, yakni sikap kemandirian (2) keberhasilan belajar pada aspek keagamaan yakni ditunjukkan dengan adanya sikap anak yang positif dalam menangani agama Islam, memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama Islam dan memiliki akhlakul karimah (3) keberhasilan belajar pada aspek kecerdasan ditunjukkan dari baiknya prestasi belajar di sekolah.

Dari dua pengertian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa motivasi belajar fiqhi adalah suatu perubahan yang berciri timbulnya suatu perasaan yang didahului oleh reaksi-reaksi dalam mencapai tujuan serta diikuti suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap pada ilmu – ilmu yang mempelajari hukum syarak yang amali.

(49)

E. Dalil yang Terkait dengan Motivasi Belajar

Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Jadi suatu kekuatan atau keinginan yang datang dari dalam hati nurani manusia untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. Apabila hati dan pikiran seseorang bersih dari hal-hal yan dilarang maka motivasi itu akan mudah muncul sehingga ia akan mudah juga dalam melakukan sesuatu perbuatan tertentu tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu. Salah satunya adalah adanya motivasi dalam belajar, dengan hati bersih maka ilmu akan mudah diterima dan ilmu tersebut dapat melekat dipikiran dan hatinya sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Adapun ayat dan hadits yang berkenaan dengan motivasi dalam Islam terutama motivasi untuk menuntut ilmu atau motivasi belajar adalah:

1. Q.S. Al-Mujadilah : 11

... تاَجَرَد َمْلِعْلا اوُتوُأ َنيِذَّلاَو ْمُك نِم اوُنَماَء َنيِذَّلا ُالله ِعَفْزَي ...

Tejemahnya:

.... “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

(50)

2. Q.S. Az-Zumar : 9

Terjemahnya:

...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

Dari ayat tersebut di atas, penulis dapat memahami bahwa Allah SWT. akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, dengan beberapa derajat.

Orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana. Iman dan ilmu tersebut akan membuat orang mantap dan agung. Tentu saja yang dimaksud dengan yang berilmu itu artinya yang diberi pengetahuan. Ini berarti pada ayat tersebut membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajatrannya kepada pihak lain baik secara lisan, tulisan maupun dengan keteladanan.

(51)

3. Hadist Nabi Saw.

و

Artinya:

Dari Anas Ibnu Malik berkata, Rasulullah saw. Bersabda:

“Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Maja)

Dalam hadits ini sangat jelas sekali memberikan motivasi kepada manusia bahkan mewajibkan kepada tiap-tiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk selalu belajar dan menuntut ilmu dan kedudukan orang yang berilmu itu melebihi daripada orang yang beribadah (yang bodoh) yang tanpa ilmu pengetahuan bagaikan bulan di antara bintang-bintang.

F. Manfaat Metode Quantum Teaching

Menurut Dobbi De Porter (2007 : 4) Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian dan fasilitas. Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. model quantum teaching hampir sama dengan sebuah simfoni, ada banyak unsur didalamnya. Secara pokok unsur tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu

(52)

konteks dan isi (context and content). Konteks adalah latar untuk pengalaman guru, bagian ini dibutuhkan untuk menciptakan suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan isi adalah kemampuan untuk memanfaatkan bakat. Pada bagian isi kita akan menemukan keterampilan menyampaikan, disamping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari, melalui penyajian yang prima, fasilitas yang luas, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup. Adapun manfaat metode Quantum Teaching menurut Dobbi De Potter adalah sebagai berikut:

1. Dalam pembelajaran menggunakan metode quantum teaching dapat membuat siswa merasa nyaman dan gembira dalam belajar, karena metode ini menuntut setiap siswa untuk selalu aktif dalam proses belajar.

2. Penggunaan metode quantum teaching dalam proses pembelajaran dapat memberikan motivasi pada siswa untuk ambil bagian dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung.

3. Dengan adanya kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuannya akan memudahkan guru dalam mengontrol sejauh mana pemerolehan siswa dalam belajar.

4. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari karena dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman seputar kehidupan siswa sehingga bakat dan inisiatif siswa akan lebih berkembang.

5. Penggunaan Quantum Teaching yang bersandar pada konsep “bawalah dunia mereka kedunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”, dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih konprehensif dan menyuluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang memberikan gambaran tentang objek penelitian. Dalam penelitian ini peneliti membahas tentang “Implementasi Metode Quantum Teaching untuk Meningkatkan MotivasiBelajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqhi di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur “.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di MTs Lambara Harapan Desa Laro Kec. Burau Kab. Luwu timur, sedangkan objek penelitian ini adalah Siswa kelas VIII di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur.

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian dalam skripsi ini adalah:

1. Implementasi metode Quantum Teaching sebagai Variabel bebas (X) 2. Peningkatan motivasi belajar siswa sebagai variabel terikat (Y)

(54)

D. Definisi Operasional Variabel

Untuk memudahkan pemahaman dan menghindari kesalahan dalam pembahasan skripsi ini, maka dianggap perlu dikemukakan beberapa definisi variabel judul, sebagai berikut:

1. Metode Quantum teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.

2. Motivasi belajar adalah suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya.

Jadi, definisi operasional dari judul skripsi ini adalah peningkatan motivasi belajar siswa, melalui iplementasi metode yang dibahas yakni Metode Quantum Teaching.

E. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Setiap kegiatan penelitian yang dilakukan di lapangan tidak terlepas dari keadaan subyek yang hendak dijadikan sebagai sumber data yang biasa disebut dengan populasi. Penentuan sumber data tersebut tergantung pada masalah yang akan diteliti.

(55)

Untuk mengantar penulis pada pemahaman terhadap suatu objek populasi penelitian dalam skripsi ini, maka terlebih dahulu penulis memberikan pengertian populasi berdasarkan rumusan para pakar, yaitu:

Suharsimi Arikunto (1998: 102) dalam bukunya “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Proposal” mengatakan bahwa:

“Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi, studi atau studi penelitiannya adalah studi sensor”.

Menurut Sugiono, (2002: 53):

”Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karekteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”

Menurut Siswojo Mardalis (1995: 53-54), populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan penelitian.

Menyimak beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan populasi dalam suatu penelitian adalah keseluruhan elemen atau aspek yang menjadi objek penelitian sesuai kriteria yang telah ditentukan oleh penulis. Dalam hal ini penulis mengadakan penelitian mengenai Implementasi Metode Quantum Teaching untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Fiqhi di MTsLambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur. Maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Guru dan Siswa kelas VII MTs

(56)

Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur dapat dilihat pada tabel I sebagai berikut:

Tabel 3.1

Populasi Siswa di MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur

No Objek

Jenis Kelamin

Jumlah Laki-laki Perempuan

1 Siswa 83 123 206

2 Guru 14 15 29

Jumlah 97 138 235

Sumber Data: Kantor Tahun 2013/2014 MTs Lambara Harapan Kec.

Burau Kab. Luwu timur

Tabel 3.1 di atas menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan populasi sebanyak 135 orang, yang terdiri dari Siswa sebanyak 206 orang, 83 laki-laki dan 123 perempuan, serta guru sebanyak 29 orang, 14 laki-laki dan 15 perempuan.

2. Sampel

Dalam penelitian secara umum, sebagian dari populasi yang ada diambil sebagai wakil (sampel) yang akan diteliti dengan syarat bahwa sampel yang diambil tersebut dapat mewakili seluruh karakteristik

(57)

populasinya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1985:

89) sebagai berikut:

“Yang menjadi objek sesungguhnya dari suatu penelitian, itulah yang disebut sampel, dan metodologi untuk mewakili individu-individu masuk ke dalam sampel yang representatif, itulah yang disebut sampling”.

Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diteliti, penulis mengambil berdasarkan teori Suharsimi Arikunto (1996: 120) bahwa:

“Populasi yang objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya lebih besar dapat diambil antar 10-15 % atau 20-25 % atau lebih”.

Berdasarkan teori di atas, maka sampel penelitian ini adalah 20%, yaitu 3 orang siswa yang terdiri dari 19 siswa perempuan dan 17 siswa laki- laki, yang kemudian disebut sebagai informan utama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.2

Sampel Siswa MTs Lambara Harapan Kec. Burau Kab. Luwu timur

No Objek

Jenis Kelamin

Jumlah Laki-laki Perempuan

1 Siswa 17 19 36

Gambar

Tabel 3.1 di atas menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan sampel yang  akan  dijadikaan  kelas  eksperimen  sebanyak  36  orang,  yang  terdiri  dari  19  siswa perempuan dan 17 siswa laki-laki

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi dari responden, dapat disimpulkan bahwa tantangan peningkatan kinerja guru Pendidikan Agama Islam di SD se- Kecamatan Bontonompo antara lain

Interval nilai variable pendidikan agama islam dalam keluarga.. Sehingga dapat diketahui peranan perhatian orang tua terhadap perkembangan akhlak anak. Ini juga menunjukkan

Di era globalisasi seperti sekarang ini, disadari atau tidak pengaruhnya semakin terasa dengan semakain banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk media. Media telah

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan motivasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh ketiga dengan adanya penggunaan metode pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran Pendidikan Agama

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi Pengajar Sekolah Islam Tariq Pittayapat Phuket terhadap Bank Syariah beserta faktor yang mempengaruhi

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan motivasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 2

Menurut Muhammad Shaleh Al-Utsaimin (2008:161) Ilmu yang bermanfaat pasti berdampak pada pengamalan yang baik dengannya, tidak suka pada penyucian dari orang lain,