• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

DI SMA NEGERI 1 ANGKOLA BARAT

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Pengajuan Kenaikan Pangkat/Golongan Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara

Oleh:

MARIAM SAGALA, S.Pd NIP. 19741215 200502 2 001

SMA NEGERI 1 ANGKOLA BARAT

KABUPATEN TAPANULI SELATAN PROVINSI SUMATERA UTARA 2018

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

ii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ...

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Teori ... 6

1. Pengertian Proses Belajar Mengajar ... 6

2. Motivasi Belajar ... 7

3. Pengertian Hasil Belajar ... 10

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 12

5. Domain Hasil Belajar ... 12

6. Prosedur Mengukur Hasil Belajar ... 15

7. Manfaat Hasil Belajar ... 16

8. Prestasi Belajar ... 17

9. Sistem Pencernaan Manusia ... 18

10. Hakikat Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) ... 23

B. Kajian Penelitian yang Relevan ... 31

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN A. Setting Penelitian ... 31

B. Subjek Penelitian ... 31

C. Prosedur Penelitian ... 32

D. Alat Pengumpul Data ... 36

E. Analisis Data ... 37

(9)

iii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 38

1. Siklus 1 ... 38

2. Siklus II ... 40

B. Pembahasan ... 42

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 44

B. Saran-Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN-LAMPIRAN ...

(10)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I ... 39 2. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus II ... 41

(11)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Lampiran 2 : Lembar Penilaian Observasi Penggunaan Model Pembelajaran TPS Siklus I Lampiran 3 : Lembar Penilaian Observasi Penggunaan Model Pembelajaran TPS Siklus II Lampiran 4 : Instrumen Tes Sistem Pencernaan Makanan

Lampiran 5 : Nilai Tes Formatif Pada Siklus I Lampiran 6 : Nilai Tes Formatif Pada Siklus II Lampiran 7 : Daftar Hadir Peserta Seminar Lampiran 8 : Berita Acara Seminar

Lampiran 9 : Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Lampiran 10 : Dokumentasi Pelaksanaan Semeniar Penelitian

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran yang diharapkan agar mampu memberdayakan kemampuan sehingga menjadikan peserta didik menjadi manusia yang cerdas, manusia yang berilmu dan beriman, manusia yang berpengetahuan luas, serta manusia terdidik. Salah satu dalam pemberdayaan peserta didik misalnya dengan dilaksanakannya proses belajar. Dalam proses belajar di SMA Negeri 1 Angkola Barat ini masih terdapat banyak kekurangan di dalamnya, misalkan sumber belajar yang kurang lengkap, fasilitas laboratorium masih kurang lengkap dan pemberdayaan lingkungan yang masih kurang untuk mata pelajaran Biologi.

Biologi merupakan salah satu mata pelajaran IPA yang memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari siswa.Mempelajari biologi tidak cukup dengan teori saja, harus ditunjang dengan media informasi yang dapat dipahami siswa terhadap lingkungan sekitarnya.Tetapi kenyataanya berbeda, hal ini dilihat dari mutu pelajaran biologi di Indonesia sampai sekarang ini masih sangat rendah, khususnya SMA Negeri 1 Angkola Barat.Saat ini pelaksanaan pembelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Angkola Baratmasih didominasi oleh suatu kondisi kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama dari pengetahuan. Metode ceramah masih menjadi pilihan utama guru dalam mengajar, sedangkan proses sains belum bisa dikembangkan dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih kurang, siswa

1

(13)

hanya menerima ilmu dari guru saja. Proses pembelajaran yang monoton ini menyebabkan siswa menjadi pasif, tidak termotivasi dan minat terhadap pelajaran Biologi masih rendah.

Faktor-faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa belum tuntas dari pihak siswanya yaitu kurang mampu memahami materi sistem pencernaan makanan manusia, motivasi atau dorongan belajar siswa yang kurang dalam mengikuti mata pelajaran Biologi serta siswa tidak memiliki minat dan kesiapan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dari pihak guru dan sekolah yaitu guru tidak menggunakan metode atau model mengajar yang bervariasi agar bisa menumbuhkan minat belajar pada siswa, guru tidak mengajukan permasalahan yang membuat siswa untuk berpikir mencari solusinya, guru tidak membuat pasangan kelompok agar siswa terbiasa bertukar pikiran serta guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi, guru tidak memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran dan fasilitas laboratorium yang kurang menunjang dalam proses pembelajaran.

Dampak rendahnya hasil belajar biologi siswa khususnya materi ajar sistem pencernaan makanan manusia dan ketidaktuntasan mereka akan kesulitan mengikuti materi selanjutnya, siswa tersebut akan sulit mengaplikasikan materi Biologi yang diajarkan dalam kehidupan nyata siswa. Apabila kondisi demikian dibiarkan berkepanjangan, maka akan menyebabkan mutu pendidikan itu akan mengalami kemorosotan, dan Sumber Daya Manusia (SDM) itu akan semakin rendah dan akan sulit bersaing dengan lulusan sekolah-sekolah lainnya.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dari pihak pemerintah seperti menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana

(14)

sekolah, melakukan pembaharuan kurikulum, serta memberikan pelatihan maupun penataran bagi tenaga pendidik dan mengikuti sertifikasi guru agar memenuhi guru yang profesional. Pihak sekolah dengan adanya kebijakan manajemen berbasis sekolah (MBS) kepala sekolah harus sanggup memberdayakan semua staf sekolah untuk berbagai kepentingan termasuk dalam menyusun program, menegakkan peraturan tata tertib sekolah dan kerja sama dengan masyarakat. Selanjutnya dari pihak guru memberikan les tambahan bagi siswa, menjalin komunikasi kepada orang tua siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa, mengikuti seminar tentang peningkatan mutu pembelajaran dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sangat perlu disadari bahwa pembelajaran bukanlah sekedar rentetan materi pokok tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh siswa dan dapat dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari. Untuk itu mereka sangat butuh pembelajaran yang mampu memberikan pemahaman tentang konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat dimana mereka akan hidup dan bekerja.

Dari persoalan yang telah dikemukakan di atas penulis tertarik untuk meningkatkan hasil belajar Biologi melalui penggunaan model Think, Pair, Share (TPS). Model Pembelajaran TPS adalah Model pembelajaran ini tergolong tipe kooperatif dengan sintak guru menyajikan materi klasik berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja dengan kelompok dengan cara berpasangan sebangku- sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward. Karena dengan penggunaan model pembelajaran Think, Pair, Share (TPS) dapat

(15)

menjadikan siswa lebih aktif untuk belajar dan menjawab soal yang diberikan oleh guru serta mengaktifkan pembelajaran dalam memberikan tanggapan dan umpan balik sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar pada diri peserta didik.

Dalam pelajaran Biologi khususnya pada materi sistem pencernaan makanan manusia merupakan salah satu materi Biologi yang memerlukan cara berpikir siswa yang lebih aktif dan kreatif. Oleh karena itu sistem pencernaan makanan manusia sangat membutuhkan model belajar yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar, apabila dilihat dari standar kompetensi sistem pencernaan makanan manusia merupakan materi yang erat dengan komponen-komponen pencernaan kita.

Berdasarkan hal di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Think, Pair, Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar Biologi. Oleh karena itu peneliti

melakukan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Biologi Materi Ajar Sistem Pencernaan Makanan Manusia melalui Penggunaan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Angkola Barat”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti membuat rumusan masalah yaitu: Bagaimanakah gambaran upaya peningkatan hasil belajar biologi materi ajar sistem pencernaan makanan manusia melalui penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) Siswa Kelas XI 1 di SMA Negeri 1 Angkola Barat?

(16)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dengan pelaksanaan penelitian ini untuk mengetahui gambaran upaya peningkatan hasil belajar biologi materi ajar sistem pencernaan makanan manusia melalui penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Angkola Barat.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian adalah sebagai berikut:

1) Bagi siswa: mendapatkan proses pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2) Bagi guru: membantu guru meningkatkan kualitas hasil belajar tidak hanya berpusat pada guru dan hanya berfokus dengan ceramah saja melainkan bisa menggunakan model pembelajaran TPS.

3) Bagi Kepala Sekolah: menjadi bahan masukan bagi sekolah demi kelancaran dan keberhasilan proses belajar di lembaga-lembaga pendidikan untuk masa- masa yang akan datang dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.

4) Bagi Peneliti: menambah ilmu pengetahuan dan wawasan penulis khususnya dalam pembelajaran biologi.

(17)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Teori

1. Pengertian Proses Belajar Mengajar

Proses dalam pengertian di sini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000:5).

Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. (Usman, 2000:5).

Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar.

Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peran utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam

6

(18)

situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000:4).

Sejalan dengan Sanjaya (2009:235) yang menyatakan bahwa:

“Belajar merupakan dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan”. Selanjutnya menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:17) menyatakan bahwa: “Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek yaitu dari siswa dan dari guru”.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil dan latihan atau pengalaman interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain seseorang disebut belajar apabila ia mengalami perubahan tingkah laku.

2. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000:28).

(19)

Sedangkan menurut Djamarah (2002:114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001:3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.

Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

b. Macam-macam Motivasi

Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Motivasi Intrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000:29).Sedangkan menurut Djamarah (2002:115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994:105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:

(20)

a. Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa.

b. Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok.

c. Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah.

d. Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya.

e. Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.

2. Motivasi Ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama di kelasnya (Usman, 2000:29).

Sedangkan menurut Djamarah (2002:117), motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antara lain:

(21)

a. Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.

b. Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat):

Pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.

c. Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan.

d. Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.

e. Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.

f. Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.

3. Pengertian Hasil Belajar

Setelah definisi belajar diuraikan, maka dapat dilihat seseorang sudah belajar apabila terjadi perubahan ke arah yang baik, tetapi jika belum ada

(22)

perubahan maka belum berhasil proses belajarnya. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Menurut Seri (2011:76) yang menyatakan bahwa: “Hasil belajar yaitu memberikan gambaran seberapa jauh peserta didik berhasil dalam mengembangkan serangkaian keterampilan pengetahuan dan perilaku selama pembelajaran. Menurut Daryanto (2010:19) yang menyatakan terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi, betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan kesempurnaannya teknik evaluasi diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-psinsip penunjangnya maka hasil evaluasi pun akan kurang dari yang diharapkan”.

Proses penilaian hasil belajar menjadikan hasil belajar sebagai suatu objek sasaran penilaian. Penilaian merupakan suatu tindakan menilai penguasaan siswa terhadap pembelajaran.Dikatakan demikian karena di dalam rumusan tujuan pembelajaran menggambarkan hasil belajar yang harus dikuasai siswa yaitu berupa kemampuan-kemampuan siswa setelah menerima atau menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan atau apresiasi (penerimaan atau penghargaan).

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki seseorang setelah ia mengikuti kegiatan belajar, kemampuan tersebut adalah perubahan seseorang yang meliputi perubahan pengetahuan , keterampilan dan sikap.

(23)

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Berdasarkan teori-teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Biologi materi ajar Sistem Pencernaan Manusia adalah siswa diharapkan memiliki pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan kemampuan-kemampuan menjelaskan setelah mendapat pembelajaran sistem pencernaan manusia. Menurut Purwanto (2006:102) dalam proses belajar tidak akan terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:

1. Faktor dalam diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual, yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain faktor kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi.

2. Faktor yang ada di luar individu yang disbeut faktor sosial yang termasuk faktor sosial adalah faktor keluarga atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat- alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.

Dimana siswa dapat memahami materi.Ajar sistem pencernaan manusia.

5. Domain Hasil Belajar

Belajar merupakan proses dalam individual yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Hasil belajar juga termasuk komponen pendidikan yang harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan karena hasil belajar diukur untuk mengetahui ketercapaian tujuan pendidikan melalui proses belajar mengajar. Sebagaiman Purwanto (2010:48) “Domain hasil belajar adalah perilaku-perilaku kejiwaan yang akan diubah dalam proses pendidikan. Perilaku kejiwaan itu dibagi dalam tiga domain: kognitif, afektir dan psikomotorik. Maksudnya hasil belajar perwujudan kemampuan akibat perubahan perilaku yang dilakukan oleh

(24)

usaha pendidikan.Kemampuan yang dimaksud di dalamnya adalah baik dibidang kognitif, afektif dan psikomotorik.

Berdasarkan teori di atas tersebut, maka akan dijelaskan ketiga ranah tersebut:

a. Ranah Kognitif

Ranah kognitif dalam pembelajaran merupakan interaksi yang berhubungan dengan pengetahuan yang diliputi dengan fakta-fakta dan konsep.Purwanto (2011:50) Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognitis. Maksudnya proses belajar yang melibatkan kognitif meliputi kegiatan baik penerimaan stimulus, eksternal oleh sensori, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi informasi sehingga menyelesaikan masalah. Hasil belajar kognitif merupakan interaksi yang melibatkan IQ siswa sehingga memiliki penegtahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi”.Secara hirarki perilaku pengetahuan evaluasi yang tergolong rendah dan evaluasi yang tergolong tinggi, untuk melihat hal tersebut maka siswa harus memiliki pemahaman dan penerapan tertentu.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ranah kognitif adalah kemampuan dalam mencapai pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesisis dan evaluasi.Keenam perilaku di atas bersifat hirarki artinya perilaku pengetahuan tergolong terendah dan perilaku tergolong tertinggi.

(25)

b. Ranah Efektif

Hasil belajar afektif adalah pandangan atau pendapat yaitu aspek yang berhubungan dengan pandangan yang menghendaki respon yang melibatkan ekspresi yang relatif sederhana tetapi bukan fakta. Hasil belajar afektif dibagi menjadi lima tingkat yaitu penerimaan partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup. Menurut Sudjana (2010:22) yang menyatakan bahwa: ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis akan menjelaskan kelima tingkatan hasil belajar afektif. Hasil belajar disusun secara hirarki mulai dari penerimaan atau menaruh perhatian adalah kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan tersebut, misalnya mengakui adanya perbedaan-perbedaan.Pasrtisipasi adalah kerelaan kesediaan, memperhatikan dan berpartisipsi dalam suatu kegiatan.Misalnya mematuhi aturan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.Pada tingkat penerimaan dan partisipasi siswa tidak hanya memberikan perhatian kepada rangsangan tetapi juga berpartisipasi dalam kegiatan untuk menerima rangsangan.

Sedangkan penilain dan penetuan sikap adalah ketersediaan untuk menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.Selanjutnya menurut Kunandar (2007:386) “kompetensi mahasiswa pada hasil belajar afektif terkait dengan kemampuan menerima, merespon, menilai, mengorganisasi dan memiliki karakter.” Kemampuan yang diterima

(26)

merupakan kemampuan menerima fenomena dan stimulus (rangsangan) atau perhatian dalam proses kegiatan pembelajaran.

c. Ranah Psikomotorik

Hasil belajar yang berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya, dari gerak yang paling sederhana hingga lebih kompleks seperti keterampilan dan kemampuan.Sebagaimana menurut Harrow dalam buku Purwanto (2011:52) mengemukakan “hasil belajar psikomotorik dapat diklasifikasikan menjadi enam gerakan yaiitu gerakan refleks, gerakan fundamental dasar, kemampuan perspektual, kemampuan fisik, gerakan keterampilan dan komunikasi tanpa kata”.Kemampuan hasil belajar psikomotorik segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas otak, fisik dan gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagiannya dari gerak yang sederhana hingga lebih kompleks seperti keterampilan dan kemampuan.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dipahami dari ketiga ranah tersebut bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan.

Potensi perilaku manusia dapat diubah perilakunya yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

6. Prosedur Mengukur Hasil Belajar

Hasil belajar siswa bukan hanya sekedar angka yang dihadiahkan oleh guru untuk siswa atas kegiatannya dalam belajar.Untuk itu pengumpulan data hasil belajar adalah instrumen. Dimana instrumen adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur dalam rangka pengumpulan data

(27)

berupa tes atau notes. Menurut Purwanto (2011:56) “Tes Hasil Belajar (THB) merupakan salah satu alat ukur yang mengukur penampilan maksimal”. Tes hasil belajar siswa dapat diketahui dengan menekankan skor atas jawaban yang telah diberikan masing-masing siswa.

Penilaian hasil belajar dilakukan berdasarkan hasil pengkuran dengan menggunakan THB.Untuk itu dengan menilai harus memiliki keterampilan mengembangkan alat ukur pengumpulan data hasil belajar berupa THB yang diperoleh dari prosedur pengembangan tes hasil belajar. Senada dengan itu Purwanto (2011:84) menjelaskan “prosedur pengembangan tes hasil belajar adalah: 1) identifikasi hasil belajar, 2) deskripsi materi, 3) pengembangan spesifikasi, 4) menuliskan butir-butir tes dan kunci jawaban, 5) mengumpulkan data, 6) menguji kualitas tes (butir dan pernagkat), dan 7) melakukan komplikasi”.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa menilai hasil belajar siswa pengambilan keputusan penting yang didasarkan pada data yang tepat dan akurat.Data hasil belajar yang menjadi dasar penilaian.Data hasil belajar tersebut diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan tes hasil belajar yang baik.Jadi pengembangan tes hasil belajar dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu bagian dari prosedur tes hasil belajar tersebut.

7. Manfaat Hasil Belajar

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti memiliki manfaat tertentu, termasuk manfaat hasil belajar atau evaluasi dalam pembelajaran.manfaat hasil belajar dilakukan dengan suatu tujuan yang berguna dan jelas

(28)

sasarannya. Menurut Sujati yang dikutip oleh Arifah dan Yustisianisa (2012:6) manfaat dari hasil belajar adalah: 1) mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, 2) memberian pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan, 3) mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa dan menentukan tindak lanjut hasil evaluasi.

Sedangkan sumber lain mengemukakan bahwa manfaat hasil proses pembelajaran Daryanto yang dikutip oleh Arifah dan Yustisianisa (2012:17) adalah untuk memperoleh informasi yang akurat tentang tingkat pencapaian tujuan instruksional siswa, sehingga bisa diupayakan tindak lanjutnya. Tujuan intruksional adalah tujuan pendidikan yang harus dicapai pembelajaran.

8. Prestasi Belajar

Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar.Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991:768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dikerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar.Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar.Penilaian

(29)

diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi belajar Biologi adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar.

9. Sistem Pencernaan Manusia

Biologi adalah salah satu cabang dari IPA yang merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari bagian – bagian dari alam dan interaksi di dalamnya, serta dapat diterangkan dengan menggunakan konsep - konsep sederhana. Menurut Susilowati (2009:1.3) yang menyatakan bahwa: “Biologi diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang seluk beluk makhluk hidup.” Sejalan dengan hal tersebut Widodo dkk (2008:1.3) yang menyatakan bahwa: “Biologi sering didefenisikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dan interaksi dengan lingkungannya”.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Biologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mendasar dan mempelajari bagian-bagian dari makhluk hidup dan interaksi dengan lingkungannya.

Dalam sistem pencernaan yang perlu kita ketahui yaitu proses pencernaan makanan manusia, organ-organ sistem pencernaan makanan manusia dan fungsi organ-organ sistem pencernaan makanan manusia.Biologi memiliki banyak materi pembelajaran, salah satunya adalah materi Sistem

(30)

Pencernaan Manusia.Sistem Pencernaan manusia merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan, dan pencampuaran),dengan enzim dan zat cair yang terbentang dari mulut (oris) sampai anus.

Sistem pencernaan terdiri dari dua bagian yang memiliki fungsi utama yaitu pencernaan dan penyerapan.Sistem pemecahan makanan yang rumit dan penyerapan nutrisi penting merupakan sesuatu yang harus dipenuhi agar dapat memahami fisiologi manusia.Sistem pencernaan makanan bertujuan untuk mengubah bahan makanan dari bentuk padat/kompleks menjadi zat yang dapat diserap dan digunakan tubuh.

Menurut Pack (2007:232) yang menyatakan bahwa: “Fungsi sistem pencernaan adalah pencernaan makanan menjadi molekul kecil yang kemudian diserap ke dalam tubuh”.Sedangkan menurut Pearce (2011:212) yang menyatakan bahwa: “Sistem pencernaan berurusan dengan penerimaan makanan dan mempersiapkannya untuk diasimilasi tubuh”. Yang menjadi indikator dalam penelitian ini adalah: a) menyebutkan organ-organ sistem pencernaan makanan manusia; b) menjelaskan fungsi organ-organ sistem pencernaan makanan manusia; dan c) menjelaskan proses pencernaan makanan manusia.

a. Organ-Organ Sistem Pencernaan Makanan Manusia

Makanan masuk ke dalam mulut melalui kerongkongan, terus ke lambung melewati kerongkongan dan diteruskan ke usus halus untuk diproses dan diteruskan ke usus besar dan dilanjutkan ke rectum dan

(31)

terakhirnya sisa makanan yang telah dicerna dikeluarkan dalam bentuk tinja melalui anus.

Menurut Tim Redixta (2007:99) yang menyatakan bahwa:

“Makanan masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut, di dalam rongga mulut terdapat gigi, lidah dan kelenjar ludah. Menurut Pearce (2011:223) yang menyatakan bahwa: “Lambung adalah bagian dari saluran pencernaan yang dapat mekar paling banyak. Terletak terutama di daerah epigastrik, dan sebagian di sebelah kiri daerah hipokondriak dan umbilikal.

Menurut Tim Redixta (2007:102) yang menyatakan usus halus merupakan saluran pencernaan yang paling panjang. Ukurannya sekitar lima setengah sampai tujuh meter.Usus halus merupakan tempat terjadinya pencernaan secara kimiawi saja, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pancreas yang dilepaskan ke usus halus. Sedangkan menurut Setiadi (2007:73) bahwa: Usus halus adalah saluran pencernaan di antara lambung dan usus besar, yang merupakan tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai katub ileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka penulismenyimpulkan bahwa organ-organ sistem pencernaan dimulai dengan makanan masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut, di dalam rongga mulut terdapat gigi, lidah dan kelenjar ludah kemudian ke lambung melalui kerongkongan, baru ke usus halus yang merupakan tempat

(32)

terjadinya pencernaan secara kimiawi saja, kemudian ke usus besar dan yang terakhir anus

b. Fungsi Organ-Organ Sistem Pencernaan Makanan Manusia

Fungsi sistem pencernaan adalah pencernaan dan penyerapan, pencernaan adalah pemecahan molekul kecil yang kemudian diserap ke dalam tubuh.Sistem pencernaan dibagi menjadi dua bagian yaitu saluran lambung dan usus merupakan saluran berkelanjutan dengan dua lubang yaitu mulut dan dubur, dan organ tambahan terdiri atas gigi dan lidah, kelenjar liur, hati, kantong empedu dan pancreas.

Syaifuddin (2006:169) bahwa: Fungsi gigi terdiri dari gigi seri untuk memotong makanan, gigi taring gunanya untuk memutuskan makanan yang keras dan liat, dan gigi geraham gunanya untuk mengunyah makanan yang sudah dipotong-potong.

Menurut Pearce (2011:225) yang menyatakan bahwa: “Fungsi lambung menerima makanan dari usofagus melalui orisifisium kardiak dan bekerja sebagai penimbun sementara, sedangkan kontraksi otot mencampur makanan dengan getah lambung. Gelombang peristaltik dimulai tinggi di fundus, berjalan berulang-ulang, setiap menit tiga kali dan merayap perlahan-lahan ke pilorus.”Menurut Pack (2007:242) bahwa:

Fungsi usus kecil meliputi: 1) Pencernaan mekanis, 2) pencernaan kimia dan 3) penyerapan.

Menurut Redixta (2007:103) bahwa: “Fungsi usus besar adalah menyerap air dan mineral yang terdapat di dalam sisa-sisa makanan. Di

(33)

dalam usus besar hidup bakteri pembusuk yang membusukkan sisa-sisa makanan yaitu bakteri E.coli.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsiorgan-organ sistem pencernaan makanan manusia adalah penelanan, pencernaan, penyerapan dan pembuangan, tahap pertama yaitu penelanan yang dilakukan oleh gigi dibantu lidah, tahap yang kedua yaitu pencernaan yang dilakukan oleh lambung dan tahap yang ketiga yaitu penyerapan oleh usus dan yang terkahir pembungan yang dilakukan oleh anus

c. Proses Pencernaan Makanan Manusia

Sistem pencernaan berurusan dengan penerimaan makanan dan mempersiapkannya untuk diasimilasi tubuh, saluran pencernaan terdiri atas bagian-bagian berikut: mulut-faring-usofagus-ventrikulus-usus halus dan usus besar.

Menurut Pearce (2011:212) yang menyatakan bahwa: “Selama proses pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat sederhana yang dapat diserap dan digunakan sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan sifat makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai cairan pencerna.Setiap jenis zat ini mempunyai tugas khusus-menyaring dan bekerja atau satu jenis makanan dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis lainnya.”

Menurut Redixta (2007:98) bahwa proses pencernaan makanan pada manusia dimulai rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Sejalan dengan Syaifuddin (2006:167) bahwa:

Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan

(34)

proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus.

Menurut Iskandar (2008:57) yang menyatakan bahwa: “Proses pencernaan ini melewati empat tahap yaitu penelanan, pencernaan, penyerapan dan pembuangan, tahap pertama yaitu penelanan yang dilakukan oleh gigi dibantu lidah, tahap yang kedua yaitu pencernaan yang dilakukan oleh lambung dan tahap yang ketiga yaitu penyerapan oleh usus dan yang terkahir pembungan yang dilakukan oleh anus.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas,diharapkan agar siswa mampu menguraikan proses pencernaan yang merupakan proses dimana makanan dimasukkan ke dalam mulut. Dan siswa mampu melafalkan proses makanan yang dimulai dari mulut makanan dikunyah dan ditelan.

Selanjutnya makanan masuk ke dalam lambung melewati kerongkongan dan diteruskan ke usus halus untuk diproses dan diteruskan ke usus besar dan dilanjutkan ke rectum dan terakhirnya sisa makanan yang telah dicerna dikeluarkan dalam bentuk tinja melalui anus.

10. Hakikat Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

Dengan kata lain model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Secara umum istilah model pembelajaran diartikan sebagai kerangkan konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau dalam acuan melakukan suatu kegiatan.

(35)

Rusman (2009:56) berpendapat bahwa: “Model pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut menurut Isjoni dan kawan- kawan (2010:155) yang menyatakan bahwa: “Model itu adalah strategi belajar kooperatif dimana setiap siswa menjadi seorang anggota dalam bidang tertentu.menurut Slavin yang dikutip oleh Isjoni dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa: “Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana kelompok belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil yang berjumlah empat orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan bentuk belajar yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan oleh guru. Model pembelajaran dimana kelompok belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah empat orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.

Model pembelajaran TPS ini tergolong tipe kooperatif dengan sintak guru menyajikan materi klasik berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja dengan kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual buat skor

perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

Menurut Trianto (2009:81) yang menyatakan bahwa: “Strategi think- pair-share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis

(36)

pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa.

Menurut Komalasari (2010:64) yang menyatakan bahwa: “Strategi think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa”. Think-pair-share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas.

Menurut Huda (2011:132) think pair share (TPS) ini dimulai dari berpikir, kemudian mencari pasangan dan setiap pasangan menshare menjelaskan atau menjabarkan. Sejalan dengan hal tersebut Komalasari (2010:64) bahwa: Guru menggunakan langkah-langkah yaitu berpikir, berpasangan dan berbagi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:

“model pembelajaran think-pair-share adalahModel pembelajaranyang pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir, disajikan secara khas oleh guru yaitu berpikir, berpasangan, berbagi, merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.Dalam model pembelajaran think-pair-share langkah- langkah yang digunakan adalah berpikir, berpasangan dan berbagi.

a. Berpikir (Think)

Gurumengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik dan guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.Menurut Komalasari (2010:64) yang menyatakan bahwa: “Pada langkah berpikir (thinking)

(37)

guru mengajukan suatu pertanyaan atas masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Sejalan dengan hal tersebut menurut Arifin dan Setiawan (2012:85) yang menyatakan bahwa: “Setiap siswa secara individual diminta untuk merenungkan kemungkinan jawabannya terlebih dahulu. Guru memberikan waktu yang cukup. Tahap ini disebut tahap berpikir/think.

Menurut Suprijono (2010:91) yang menyatakan bahwa :

“Pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.Think ini dimulai dengan guru memberikan pertanyaan atau yang sesuai dengan materi untuk dipikirkan peserta didik yang memiliki tujuan agar pembelajaran ini lebih teratur.

Menurut Trianto (2009:81) yang menyatakan bahwa: “Berpikir yaitu guru mengajukan suatu perntanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian berpikir.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.Think ini dimulai dengan guru memberikan pertanyaan atau

(38)

yang sesuai dengan materi untuk dipikirkan peserta didik yang memiliki tujuan agar pembelajaran ini lebih teratur.

b. Berpasangan (Pair)

Pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasang- pasangan.Memberi kesempatan pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi.Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya. Menurut Komalasari (2010:64) yang menyatakan bahwa:

“Dalam langkah berpasangan ini guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh.”

Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan menyatukan gagasan suatu masalah khusus yang diidentifikasi.Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 menit atau 5 menit untuk berpasangan.

Sejalan dengan Suprijono (2010:91) yang menyatakan bahwa:

“Pairing pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasang-pasangan.

Beri kesempatan kepada pasangan-pasangan ini untuk berdiskusi.Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya.” Sedangkan menurut Riyanto secara singkat (2008:278) yang menyatakan bahwa: “Pairing (berpasangan) adalah bertukar pikiran dengan teman sebangku.”

Memberi kesempatan kepada pasangan-pasangan ini untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari

(39)

jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya agar lebih terarah dan memiliki banyak perbedaan dengan kelompok lain-lainnya.

Sejalan dengan hal tersebut menurut Arifin dan Setiawan (2012:85) setalah siswa mencari/memikirkan jawaban atau tanggapan sendiri-sendiri, guru kemudian meminta siswa secara berpasangan mendiskusikan jawaban mereka.Pada kesempatan ini, mereka saling bertukar pikiran dan argumentasi tentang permasalahan yang disampaikan oleh guru.Tahap ini tahap berdiskusi pasangan/in pairs.Nanang (2010:47) menjelaskan secara singkat bahwa: “Dalam langkah ini peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pairing yaitu meminta peserta didik berpasang- pasangan.Beri kesempatan kepada pasangan-pasangan ini untuk berdiskusi.Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya.

c. Berbagi (share)

Guru meminta untuk setiap pasangan untuk menshare, menjelaskan atau menjabarkan hasil consensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa yang lain di ruang kelas.Menurut Komalasari (2010:65) yang menyatakan bahwa: “Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan

(40)

kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagai pasangan menjadi kesempatan untuk melaporkan.

Sejalan dengan Suprijono (2010:91) yang menyatakan bahwa:

“dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara interagtif. Peserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuannya yang dipelajarinya. Menurut Riyanto (2009:278) menyatakan bahwa: “Sharing (berbagi) : berdiskusi dengan pasangan lain (menjadi 4 siswa)”.

Dalam hal ini peserta didik membagi pengetahuannya kepada kelompok lain agar lebih memiliki banyak pengetahuan, disebabkan setiap kelompok memiliki materi yang berbeda, dengan membagi materi yang dibahas, berarti akan lebih banyak lagi pengetahuan yang akan diketahui oleh peserta didik.

Menurut Huda (2011:132) yang menyatakan bahwa: “Share berarti menjelaskan atau menjabarkan hasil consensus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa-siswa yang lain di ruang kelas.Sejalan dengan hal tersebut menurut Arifin dan Setiawan (2012:85) yang menjelasakan bahwa setelah diskusi berpasangan dirasa cukup, guru mengundang tiap siswa/pasangan siswa untuk berbagi jawaban atau komentar secara pleno kelas terhadap permasalahan yang diajukan guru.Tahap ini disebut berbagi/share.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa peserta didik membagi pengetahuannya kepada

(41)

kelompok lain agar lebih memiliki banyak pengetahuan, disebabkan setiap kelompok memiliki materi yang berbeda, dengan membagi materi yang dibahas, berarti akan lebih banyak lagi pengetahuan yang akan diketahui oleh peserta didik.

Model Pembelajaran TPS memiliki kelebihan dan kekurangan.Menurut Lie yang dikutip oleh Nugraheni (2012:211)menjelaskan kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut:

1. Kelebihan kelompok berpasangan

a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.

b. Kelompok model ini cocok untuk tugas sederhana.

c. Setiap siswa memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berkontribusi dalam kelompoknya.

d. Interaksi dalam kelompok mudah dilaksanakan.

e. Pembentukan kelompok menjadi cepat dan mudah.

2. Kekurangan kelompok berpasangan

a. Banyak anggota kelompok yang kurang memahami tugasnya dalam kelompok, sehingga banyak siswa yang melapor. Oleh karena itu, guru perlu memonitor mereka.

b. Karena jumlah anggota kelompok hanya dua, ide yang muncul hanya sedikit.

c. Apabila dalam kelompok ada perbedaan pendapat dan terjadi perselisihan atau kesalahpahaman, maka tidak ada penengahnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:

“model pembelajaran think-pair-share adalahModel pembelajaran pada dasarnya merupakan pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru berpikir berpasangan berbagi.TPS ini merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa.

(42)

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Angkola Barat yang beralamat Jl Sibolga Km 15 Kelurahan Pasar Sitinjak Kecamatan Angkola Barat dan Kabupaten Tapanuli Selatan.Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel Kelas XI S 1 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, dimana terdiri dari 12 laki- laki dan 18 perempuan. Alasan penulis memilih kelas XI S 1 sebagai subjek penelitian disebabkan hasil belajar Biologi materi ajar sistem pencernaan manusia masih rendah dibandingkan kelas yang lain.

Penelitian ini dilaksanakan pada awal tahun ajaran 2018/2019 semester I yang dilaksanakan pada bulan Agustus s.d Oktober 2018, penentuan waktu ini didasarkan pada Kalender Pendidikan Sekolah, hal ini disebabkan PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di dalam kelas.

B. Subjek Penelitian

Dalam PTK ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Angkola Barat Tahun Ajaran 2018/2019.Saat ini pelaksanaan pembelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Angkola Barat masih didominasi oleh suatu kondisi kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama dari pengetahuan. Metode ceramah masih menjadi pilihan utama guru dalam mengajar, sedangkan proses sains (Biologi) belum bisa dikembangkan dalam proses

24 31

(43)

pembelajaran. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih kurang, siswa hanya menerima ilmu dari guru saja. Proses pembelajaran yang monoton ini menyebabkan siswa menjadi pasif, tidak termotivasi dan minat terhadap pelajaran Biologi masih rendah.

C. Prosedur Penelitian

Metode penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan 2 siklus masing-masing dari siklus terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran biologi terkait peningkatan hasil belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share pada materi ajar sistem pencernaan makanan manusiakelas XI

SMA Negeri 1 Angkola Barat Tahun Pelajaran 2018/2019.Adapun rincian kegiatan pada tiap tahapan adalah sebagai berikut:

1. Siklus I

a. Perencanaan (Planing)

Perencanaan dalam penelitian ini meliputi:

1. Peneliti melakukan analisiskurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan dicapaioleh siswa.

2. Menyusun materi yang akan diajarkan.

3. Membuat RPP dengan menggunakan model pembelajaranTPS.

4. Menyusun instrumen untuk mengukur penggunaan model TPS atau lembar observasi dan untuk mengukur peningkatan hasil belajar setelah menggunakan model pembelajaran TPS atau tes.

(44)

b. Pelaksanaan tindakan (acting)

1. Guru menuyuruh setiap siswa untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru mengenai sistem pencernaan makanan manusia.

2. Guru memberikan kesempatam kepada siswa berdiskusi dengan pasangannya tentang hasil pemikirannya masing-masing.

3. Guru menyuruh setiap pasangan untuk menshare atau menjelaskan hasil diskusinya kepada siswa-siswa yang lain

4. Siswa diberi kesempatan untuk memberi tanggapan.

c. Pengamatan (Observation)

1. Penulis melihat situasi kegiatan belajar-mengajar 2. Penulis mengamati keaktifan siswa

3. Penulis mengamati kemampuan siswa

4. Penulis melihat interaksi antara siswa dengan guru d. Refleksi (Reflecting)

Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Sebagian besar (70% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru.

2. Sebagian besar (70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang jawaban siswa yang lain.

3. Sebagian besar (70% dari siswa) berani dan mampu bertanya tentang materi pelajaran pada hari ini.

(45)

4. Lebih dari 70% anggota kelompok aktif dalam mengerjakan tugas kelompoknya.

Setelah analisis dan refleksi berbagai kekurangan, hambatan, dan kesulitan yang dihadapi atau ditemukan selama pelaksanaan tindakan digunakan berbagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan, maka akan dilakukan perencanaan pada pembelajaran berikutnya.

2. Siklus II

a. Perencanaan (planning)

Peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.

b. Pelaksanaan (acting)

1. Guru menyuruh setiap siswa untuk berpikir lebih mendalam tentang jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan waktu yang lebih lama dibandingkan siklus I.

2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan pasangannya tentang hasil pemikirannya dengan waktu lebih lama dibandingkan dengan siklus I.

3. Guru menyuruh setiap pasangan untuk menshare atau menjelaskan hasil diskusinya kepada siswa yang lain.

4. Siswa diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan.

c. Pengamatan (observation)

Penulis melakukan pengamatan terhadap peningkatan aktivitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TPS.

(46)

d. Refleksi (Reflecting)

Penulis melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menganalisis serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan model pembelajaranThink-Pair-Share dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ajar sistem pencernaan makanan manusia dikelas XI SMA Negeri 1 Angkola Barat Tahun Pelajaran 2018/2019 mencapai indikator keberhasilan yaitu 75% dari seluruh siswa.

Langkah-langkah penelitian kelas

Siklus I

Siklus II

Kusumah dan Dwigatama (2010:44) D. Alat Pengumpul Data

Mengumpulkan data merupakan pekerjaan penting dalam meneliti dan membutuhkan ketelitian, karena sedikit saja terjadi kesalahan akan mempengaruhi

Perencanaan (Planing)

Refleksi (Reflecting)

Tindakan (Acting)

Pengamatan (Observing)

Perencanaan (Planing) Perubahan

Refleksi (Reflecting)

Pengamatan (Observing)

Tindakan (Acting)

(47)

data yang diberikan oleh responden. Salah satu kegiatan dalam teknik mengumpulkan data adalah merumuskan alat pengumpulan data sesuai dengan masalah yang diteliti.Dalam kegiatan teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian.Cara yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Untuk memperoleh data tentang aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dilakukan pengamatan oleh observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.Penentuan skor untuk observasi yaitu Ya diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0.

2. Data hasil belajar dilakukan dengan memberikan tes kepada siswa. tes berbentuk tes jika benar skornya 1, jika salah skornya 0.

3. Data respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran TPS pada saat pembelajaran sedang berlangsung.

Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal.Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana PTK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode

(48)

observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

E. Analisis Data

Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.

1. Merekapitulasi hasil tes

2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan presentasenya untuk masing- masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 75, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.

3. Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Penelitian

Agar dalam penelitian ini Penulis mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka Peneliti menggunakan metode siklus. Adapun pelaksanaan dari siklus-siklus tersebut adalah sebagai berikut :

1. Siklus I

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran TPS, dan lembar observasi aktivitas guru.

b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 06 Agustus di Kelas XI s 1 jumlah siswa 30 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut.

38

(50)

Tabel 1

Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I

No Uraian Hasil Siklus I

1 2 3

Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar

72 13 43,33 %

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran model TPS diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72 dan ketuntasan belajar mencapai 43,33 % atau ada 13 siswa dari 30 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 75 hanya sebesar 43,33% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 100%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran model TPS.

c. Refleksi

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:

1. Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran

2. Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu 3. Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung

(51)

d. Refisi

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.

1. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.

2. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan.

3. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

1. Siklus II

a. Tahap perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

b. Tahap kegiatan dan pengamatan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 03 September 2018 di Kelas XI S 1 dengan jumlah siswa 30 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus Itidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

(52)

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II.Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

Tabel 2

Hasil Formatif Siswa Pada Siklus II

No Uraian Hasil Siklus II

1 2 3

Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar

88 27 90 %

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 88 dan dari 30 siswa telah tuntas sebanyak 27 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 90 % (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran model TPS sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

c. Refleksi

Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model TPS. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:

(53)

1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.

2. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.

3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

4. Hasil belajar siswa pada siklus II mencapai ketuntasan.

d. Revisi Pelaksanaan

Pada siklus II guru telah menerapkan pembelajaran model TPS dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran TPS dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

B. Pembahasan

1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model TPS memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi

(54)

yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, dan II) yaitu masing-masing 43,33 dan 90 %.Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran TPS dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

3. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Biologi pada pokok bahasan Sistem Pencernaan Makanan Manusia dengan model pembelajaran TPS yang paling dominan adalah, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran model TPS dengan baik.Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana presentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan pembelajaran descriptive text adalah melatih siswa agar dapat memahami deskriptif text

Cari penyebab yang lebih spesifik dari alternatif yang paling mungkin: guru lebih banyak memberi ceramah (komunikasi searah dari guru), tidak ada hands-on activity, guru

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat dan hidayah-Nya laporan penelitian tindakan kelas berjudul ” Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Pecahan Sederhana

Membuat perangkat pembelajaran (RPP, materi, dan media pembeljaran, dan jadwal pelaksanaan tugas). Mata pelajaran yang dipilih adalah Matematika dengan mengacu pada

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning juga meningkatkan hasil belajar siswa siswa kelas X IS 1 pada mata pelajaran ekonomi materi permintaan,

a) Guru menyampaikan/mempresentasikan materi atau memberi tugas kepada anak mempelajari materi bentuk bentuk geometri. d) Guru menyuruh anak harus mencari/mencocokkan

Penelitian yang berjudul “Upaya Peningkatan Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Kontekstual Model Jigsaw pada Materi Kenampakan Bumi pada siswa Kelas IV SDN Pajeng II Kecamatan

Indikator Ketercapaian Penelitian Indikator Penelitian tercapai didasarkan pada perolehan nilai tes tiap akhir siklus yang mencerminkan pemahaman peserta didik pada materi yang telah