• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo CRNC Sumber: CRNC (2017)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo CRNC Sumber: CRNC (2017)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Chilaz Recycle Newspaper Craft (CRNC) merupakan usaha yang menghasilkan produk hasil daur ulang dari kertas koran. CRNC didirikan pada tahun 2014 di Kota Bandung. Inspirasi dibangunnya usaha daur ulang kertas koran bermula ketika pemilik usaha CRNC melihat banyaknya limbah kertas koran di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dengan kreativitas yang dimilikinya, pemilik CRNC mengubah kertas koran yang sudah tidak digunakan menjadi produk daur ulang yang beraneka ragam seperti jam dinding, tas, tea set, dan aneka wadah.

Gambar 1.1 Logo CRNC Sumber: CRNC (2017)

CRNC berlokasi di Jalan Cihampelas No. 45. Saat ini beberapa hasil produk daur ulangnya masih tersimpan di rumah pemilik CRNC.

Gambar 1.2 Lokasi CRNC

(2)

2 Gambar 1.3

Pemilik CRNC dan Produk Hasil Daur Ulang Kertas Koran Sumber: Dokumentasi Peneliti (14 Mei 2017)

Beberapa foto produk CRNC ditampilkan pada Tabel 1.1 di bawah ini:

Tabel 1.1 Daftar Produk CRNC No Nama Produk Harga Produk (dalam ribuan Rupiah) Gambar 1 Tas 200 - 250 2 Jam Dinding 100 - 150

(3)

3 3 Wadah 100 - 150 4 Tea Set 150 - 350 5 Rumah Liliput 200 - 250 Sumber: CRNC (2017) 1.2 Latar Belakang

Indonesia masih mempunyai pekerjaan rumah besar terkait masalah sampah. Volume sampah meningkat secara signifikan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah penduduk tumbuh sebesar 1,38% per tahun, dari 238 juta pada tahun 2000 menjadi 255 juta pada tahun 2015 (Badan Pusat Statistik 2017). Jumlah peningkatan timbulan sampah di Indonesia telah mencapai 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton/tahun. Tantangan terbesar pengelolaan sampah adalah penanganan sampah plastik yang yang membutuhkan waktu jutaan tahun untuk bisa terurai. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di beberapa kota tahun 2012, pola pengelolaan sampah di Indonesia sebagai berikut: diangkut dan ditimbun di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) (69%), dikubur (10%), dikompos dan didaur ulang (7%), dibakar (5%), dan sisanya tidak terkelola (7%). Saat ini lebih dari 90% kabupaten/kota di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping atau bahkan dibakar. Saat ini, upaya pemilahan dan pengolahan sampah masih sangat minim sebelum akhirnya sampah ditimbun di TPA. Jika kebijakan ‘do nothing’ tetap dilaksanakan, maka kebutuhan lahan untuk TPA akan meningkat menjadi 1.610 hektar pada tahun 2020. Dilema sulitnya pengadaan lahan TPA mendorong Pemerintah Indonesia pada tahun 2014 untuk menggagas lahirnya komitmen “Indonesia Bersih

(4)

4 Sampah 2020”. Upaya pengurangan timbulan sampah tanpa menghilangkan nilai guna dan nilai ekonominya menjadi tantangan pengelolaan sampah ke depan bagi Pemerintah Indonesia (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Jumlah timbulan sampah di Indonesia akan terus meningkat jika penanganannya belum dilakukan secara maksimal. Diprediksi pada Tahun 2019, jumlah timbulan sampah di Indonesia sebesar 67,10 juta ton sampah per tahun (Geotimes, 2015). Kondisi timbulan sampah di Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tabel 1.2

Total Timbulan Sampah Seluruh Indonesia Tahun 2015

No Kelompok Wilayah Timbulan Sampah

(Juta Ton/Tahun)

Proporsi Timbulan Sampah

1 Sumatera 8.7 22%

2 Jawa 21.2 57%

3 Bali dan Nusa Tenggara 1.3 3%

4 Kalimantan 2.3 6%

5 Sumatera dan Papua 5.0 12%

JUMLAH 38.5 100%

Sumber: Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (2015)

Data Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 38,50 juta ton/tahun. Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar dengan menghasilkan 21,20 juta ton/tahun karena Pulau Jawa merupakan pulau dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia yaitu 145 juta jiwa atau 56% dari seluruh total penduduk di Indonesia dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 46 juta penduduk (Badan Pusat Statistik, 2015).

Bandung merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar di Jawa Barat yaitu sebanyak 2,40 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2015). Jumlah penduduk di Kota Bandung diperkirakan akan meningkat sebesar 2,60% per tahun sehingga volume sampah diperkirakan akan meningkat secara signifikan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Masalah sampah tidak hanya menjadi tugas pemerintah akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama termasuk warga Kota Bandung (Lubis, 2015).

Timbulan sampah Kota Bandung saat ini sebesar 1.568 ton/hari (Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, 2017) dengan kontribusi terbesar dari sampah pemukiman. Data rata-rata produksi sampah di Kota Bandung bisa dilihat pada Tabel 1.3.

(5)

5 Tabel 1.3

Rata-rata Produksi Sampah di Kota Bandung Tahun 2014

No Sumber Produksi Sampah (Ton)

1 Pemukiman 1048,96 2 Pasar 300,32 3 Jalan 88,32 4 Daerah Komersil 95,84 5 Kawasan Industri 44,96 6 Institusi 21,6

Sumber: Laporan Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung (2015)

Dari jumlah timbulan sampah tersebut, yang dapat terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sekitar 1.200 ton. Sisanya, sebanyak 150-250 ton diolah warga, 150-250 ton sampah lainnya tidak terangkut, dan dibuang di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar (National Geographic Indonesia, 2014). Hingga saat ini TPA yang digunakan adalah TPA Sarimukti yang berlokasi di Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat dengan luas lahan ± 25 Ha. Jarak tempuh dari Kota Bandung ke lokasi TPA ± 45 km sehingga waktu tempuh angkutan per ritasi 3-4 jam. Sampah yang masuk ke TPA Sarimukti berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, 2017).

Komposisi sampah menurut jenisnya di Kota Bandung didominasi oleh sampah kayu, sisa makanan, plastik dan kertas. Berdasarkan jenis tersebut, jenis sampah yang bisa didaur ulang adalah jenis sampah kayu, plastik dan kertas. Produksi sampah menurut jenisnya bisa dilihat pada Tabel 1.4 di bawah ini:

Tabel 1.4

Produksi Sampah Menurut Jenisnya Tahun 2014

No Jenis Sampah Produksi Sampah (m3/hari) Persentase

1 Sisa Makanan 316,8 19,8

2 Kayu, ranting, daun 515,2 32,2

3 Kertas 172,8 10,8

4 Plastik 185,6 11,6

5 Logam 68,8 4,3

6 Kain 56 3,5

7 Karet dan kulit 30,4 1,9

8 Kaca 57,6 3,6

9 Lainnya 196,8 12,3

Jumlah 1600 100

(6)

6 Dengan terus meningkatnya volume sampah, Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025 terkait target pengelolaan sampah yaitu:

1. Pengelolaan sampah dengan 3R (40%)

2. Pemrosesan akhir sampah dengan teknologi ramah lingkungan (30%) 3. Sanitary landfill (20%)

Gambar 1.4

Target Pengelolaan Sampah di Kota Bandung Sumber: Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung (2016)

Berdasarkan Gambar 1.4, target pengelolaan sampah dengan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R ) hanya sebesar 30% pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2014-2018. Namun dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025, pengelolaan sampah dengan 3R naik menjadi 40%, sehingga cara ini memiliki porsi terbesar untuk penanganan sampah di Kota Bandung.

Program pengelolaan sampah seperti 3R bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga menjadi tanggung jawab elemen lainnya termasuk masyarakat. Hal ini disebutkan dalam UU No.18 tahun 2008 poin d :

“Bahwa dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggungjawab dan kewenangan pemerintah, pemerintah daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara profesional, efektif dan efisien”.

Dari uraian masalah timbulan sampah yang dihadapi Kota Bandung, timbul kepedulian masyarakat untuk membantu mengelola sampah dengan melakukan usaha daur ulang. Orang atau

(7)

7 entitas yang menyediakan barang dan jasa yang ramah lingkungan, menggunakan teknologi recycle, konsep hijau, makanan hijau disebut sebagai ecopreneur (Schaper, 2002). Salah satu entitas yang melakukan usaha daur ulang sampah menjadi kerajinan tangan di Kota Bandung adalah Chilaz Recycle Newspaper Craft (CRNC).

Peneliti telah melakukan pra penelitian di rumah pemilik CRNC. Pra penelitian dilakukan pada tanggal 3 Mei 2017 pukul 18.30-21.30 dan 14 Mei 2017 pukul 09.30-11.30 WIB. Berdasarkan wawancara informal antara peneliti dengan objek penelitian, diperoleh gambaran bahwa aktivitas ecopreneurship yang dilakukan oleh CRNC berangkat dari tiga nilai ecopreneurial action dengan urutan sebagai berikut:

1. Faktor lingkungan 2. Faktor sosial 3. Faktor ekonomi

Faktor lingkungan menjadi faktor utama CRNC dalam melakukan usaha daur ulang sampah. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa dalam menjalankan usaha daur ulang limbah koran menjadi kerajinan tangan, CRNC mengalami permasalahan diantaranya yaitu:

1. Keterbatasan sumber daya manusia

2. Keterbatasan dalam membuat bentuk model pelatihan kepada masyarakat yang tertarik untuk membuat kerajinan tangan dari limbah koran

3. Keterbatasan dalam hal memasarkan produknya kepada pasar yang lebih luas Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan sebuah roadmap yang berisi panduan bagi ecopreneur dalam mengembangkan usaha daur ulang. Pendekatan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan Green Entrepreneurhip Ecosystem (Swithmed, 2015).

“While entrepreneurs might have the ideas for change, they cannot drive the change alone. The green entrepreneurship ecosystem needs to be favourable. Non-entrepreneur-specific general context includes available infrastructure, governance and regulations, markets, innovations and the geographical location. Direct factors influencing entrepreneurs include financing, entrepreneurial training and capacity building, culture, networks, technical support and exposure of entrepreneurs i.e. visibility. In each country and for each economic sector, entrepreneurship ecosystem can be unique”.

Pengusaha mungkin memiliki ide untuk perubahan, namun mereka tidak dapat mendorong perubahan itu sendiri. Perlu adanya ekosistem kewirausahaan hijau (Green Entrepreneurhip

(8)

8 Ecosystem). Konteks umum non-wiraswasta mencakup infrastruktur, tata kelola dan peraturan yang ada, pasar, inovasi dan lokasi geografis. Faktor langsung yang mempengaruhi pengusaha meliputi pembiayaan, pelatihan kewirausahaan dan pengembangan kapasitas, budaya, jaringan, dukungan teknis dan eksposur pengusaha yaitu visibilitas. Di masing-masing negara dan untuk setiap sektor ekonomi, ekosistem Green Entrepreneurhip bisa jadi unik (Switchmed, 2015).

Kegiatan ecopreneurship sudah banyak dilakukan oleh beberapa ecopreneur di Kota Bandung, namun belum ada kajian lebih jauh mengenai panduan membuat peta jalan (roadmap) bagi ecopreneur dalam menjalankan usaha daur ulang. Konsep Green Entrepreneurhip Ecosystem tersebut dirasa sesuai untuk dijadikan variabel penelitian sesuai dengan fenomena yang telah diungkapkan oleh pemilik CRNC pada wawancara pra-penelitian. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dengan judul “IDENTIFIKASI FAKTOR GREEN ENTREPRENEURSHIP

ECOSYSTEM DALAM MEMBUAT ROADMAP ECOPRENEUR UNTUK

PENGEMBANGAN USAHA DAUR ULANG (STUDI PADA CHILAZ RECYCLE NEWSPAPER CRAFT)”.

1.3 Perumusan Masalah

Masalah timbunan sampah di Kota Bandung masih belum terselesaikan dengan baik. Berbagai upaya dari pemerintah telah dilakuan untuk mengatasi timbunan sampah yang tidak terangkut tersebut, salah satunya dengan program Reduce, Reuse, Recycle (3R) dari Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung. Namun, target pengurangan timbunan sampah tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga menjadi tanggung jawab pihak lain termasuk elemen masyarakat. Ecopreneur sebagai salah satu elemen masyarakat juga memiliki peranan yang sangat baik dalam pengelolaan limbah sampah yang nantinya akan membantu kota Bandung dalam menyelesaikan timbunan sampah tersebut.

Adanya usaha daur ulang yang dilakukan oleh ecopreneur bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mencapai target Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung dalam RPJP tahun 2005-2025, yaitu pengelolaan sampah dengan Reduce, Reuse, Recycle (3R) yang mencapai 40%. Kurangnya pengetahuan terhadap beberapa variabel yang terdapat pada Green Entrepreneurhip Ecosystem diperkirakan menjadi penyebab ketidaksiapan ecopreneur dalam mengembangkan usaha daur ulang. Oleh karena itu, roadmap ecorepeneur dalam mengembangkan usaha daur ulang dapat dilakukan dengan menggunakan konsep Green Entrepreneurhip Ecosystem yang meliputi Markets (Pasar), Infrastructure (Infrastruktur), Innovation (Inovasi), Governance-Regulations (Regulasi-Pemerintahan), Geographic Location (Lokasi Geografis), Visibility (Visibilitas), Networks (Jejaring), dan Financing (Keuangan).

(9)

9 1.4 Pertanyaan Penelitian

Dari rumusan masalah yang telah disampaikan sebelumnya, maka diperlukan suatu penelitian terkait konsep green entrepreneurship ecosystem sehingga dapat dilakukan langkah selanjutnya oleh ecopreneur yaitu membuat roadmap untuk mengembangkan usaha daur ulang. Terdapat delapan aspek yang akan dikaji yaitu Markets (Pasar), Infrastructure (Infrastruktur), Innovation (Inovasi), Governance-Regulations (Regulasi-Pemerintahan), Geographic Location (Lokasi Geografis), Visibility (Visibilitas), Networks (Jejaring), dan Financing (Keuangan). Oleh karena itu pada penelitian ini dimunculkan sembilan pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimana gambaran faktor Markets (pasar) dalam mengembangkan usaha daur ulang? 2. Bagaimana gambaran faktor Infrastructure (infrastruktur) dalam mengembangkan usaha

daur ulang?

3. Bagaimana gambaran faktor Innovation (inovasi) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

4. Bagaimana gambaran faktor Governance-Regulations (regulasi pemerintah) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

5. Bagaimana gambaran faktor Geografic location (lokasi geografis) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

6. Bagaimana gambaran faktor Visibility (visibilitas) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

7. Bagaimana gambaran faktor Networks (jejaring) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

8. Bagaimana faktor Financing (keuangan) dalam mengembangkan usaha daur ulang? 9. Bagaimana rumusan roadmap (peta rencana) dalam mengembangkan usaha daur ulang?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini yaitu :

1. Untuk mengetahui gambaran faktor Markets (pasar) dalam mengembangkan usaha daur ulang

2. Untuk mengetahui gambaran faktor Infrastructure (infrastruktur) dalam mengembangkan usaha daur ulang

3. Untuk mengetahui gambaran faktor Innovation (inovasi) dalam mengembangkan usaha daur ulang

(10)

10 4. Untuk mengetahui gambaran faktor Governance-Regulations (regulasi pemerintah) dalam

mengembangkan usaha daur ulang

5. Untuk mengetahui gambaran faktor Geografic location (lokasi geografis) dalam mengembangkan usaha daur ulang

6. Untuk mengetahui gambaran faktor Visibility (visibilitas) dalam mengembangkan usaha daur ulang

7. Untuk mengetahui gambaran faktor Networks (jejaring) dalam mengembangkan usaha daur ulang

8. Untuk mengetahui gambaran faktor Financing (keuangan) dalam mengembangkan usaha daur ulang

9. Untuk mengetahui rumusan roadmap (peta rencana) dalam mengembangkan usaha daur ulang

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan, di antaranya:

1.6.1 Aspek Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi akademisi untuk dijadikan sebagai referensi penelitian selanjutnya, terutama mengenai roadmap ecopreneur dalam mengembangkan usaha daur ulang.

1.6.2 Aspek Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para masyarakat yang ingin membantu menyelesaikan permasalahan sampah dengan menciptakan produk dari hasil daur ulang limbah koran. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi kepada objek penelitian dalam hal mengetahui roadmap seperti apa dan bagaimana untuk dapat mengembangkan usaha daur ulang.

1.7 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan penjelasan secara umum, ringkas, dan padat yang menggambarkan dengan tepat isi penelitian. Isi bab ini meliputi; Latar belakang penelitian, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan.

(11)

11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori – teori terkait penelitian dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik, masalah, atau variabel penelitian, difokuskan pada teori – teori yang sudah baku dan teruji secara ilmiah. Selanjutnya, bab ini juga berisi kerangka pemikiran yang digunakan untuk menggambarkan masalah penelitian sehingga terbentuk kerangka pemikiran yang akan mengantarkan pada kesimpulan penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat menjawab atau menjelaskan masalah penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil penelitian serta pembahasan penelitian yang diuraikan secara kronologis dan sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian beserta rekomendasi bagi mahasiswa maupun bagi penelitian lebih lanjut.

Gambar

Gambar 1.1  Logo CRNC  Sumber: CRNC (2017)
Tabel 1.1  Daftar Produk CRNC  No  Nama  Produk  Harga  Produk (dalam  ribuan  Rupiah)  Gambar  1  Tas  200 - 250  2  Jam  Dinding  100 -  150

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan sebagai bahan masukan tentang pelaksanaan bauran promosi untuk dapat meningkatkan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah bagaimana kerangka sistem yang diperlukan oleh sebuah inkubator

Maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana Pengaruh Bauran Promosi terhadap Keputusan Pembelian produk OPPO Smartphone di Kota

Berikut merupakan mini survey yang dilakukan oleh penulis untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan responden terhadap merek ramah lingkungan yang dimiliki oleh

Berdasarkan hasil pemaparan yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kualitas layanan elektronik konsumen terhadap kepuasan

Rumusan masalah yang terdapat pada penelitian ini adalah diperlukan analisis pada pengaruh variasi diameter pipa pada kinerja perpindahan kalor penukar kalor koil

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang manfaat kepuasan pelanggan terhadap niat berprilaku, serta dapat mengambil

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian adalah “bagaimana gambaran kualitas hidup terkait penglihatan pada penderita glaukoma sebelum dan setelah pemberian medikamentosa