• Tidak ada hasil yang ditemukan

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 2 4 TAHUN 1 9 9 2

TENTANG

PENATAAN RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesat uan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan let ak dan kedudukan yang st rat egis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosist emnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola unt uk mewuj udkan t uj uan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila;

b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di darat an, di laut an, dan di udara, perlu dilakukan secara t erkoordinasi dan t erpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buat an dalam pola pembangunan yang berkelanj ut an dengan mengembangkan t at a ruang dalam sat u kesat uan t at a lingkungan yang dinamis sert a t et ap memelihara kelest arian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusant ara dan Ket ahanan Nasional;

(2)

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 t ent ang Perat uran Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);

3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 t ent ang Pokok-pokok Pemerint ah Di Dacrah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);

4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 t ent ang Ket ent uan-ket ent uan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 t ent ang Ket ent uan-ket ent uan Pokok Pert ahanan Kcamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368);

Dengan perset uj uan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menet apkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:

(3)

dan ruang udara sebagai. sat u kesat uan wilayah, t empat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiat an sert a memelihara kelangsungan hidupnya.

2. Tat a ruang adalah wuj ud st rukt ural dan pola pemanf aat an ruang, baik direncanakan maupun t idak.

3. Penat aan ruang adalah proses perencanaan t at a ruang, pemanf aat an ruang, dan pengendalian pemanf aat an ruang.

4. Rencana t at a ruang adalah hasil perencanaan t at a ruang.

5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesat uan geograf is besert a segenap unsur t erkait padanya yang bat as dan sist emnya dit ent ukan berdasarkan aspek administ rat if dan at au aspek f ungsional.

6. Kawasan adalah wilayah dengan f ungsi ut ama lindung at au budi daya.

7. Kawasan lindung adalah kawasan yang dit et apkan dengan f ungsi ulama melindungi kelest arian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buat an.

8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang dit et apkan dengan f ungsi ut ama unt uk dibudidayakan at as dasar kondisi dan pot ensi sumber sumber daya manusia, dan sumber daya buat an.

9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiat an ut ama pert anian t ermasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan f ungsi kawasan sebagai t empat permukiman perdesaan, pelayanan j asa pemerint ahan, pelayanan sosial, dan kegiat an ekonomi.

(4)

11. Kawasan t ert ent u adalah kawasan yang dit et apkan secara nasional mempunyai nilai st rat egis yang penat aan ruangnya dipriorit askan.

BAB II ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2

Penat aan ruang berasaskan:

a. pemanf aat an ruang bagi semua kepent ingan secara t erpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanj ut an;

b. ket erbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum.

Pasal 3

Penat aan ruang bert uj uan:

a. t erselenggaranya pemanf aat an ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusant ara dan Ket ahanan Nasional;

b. t erselenggaranya pengat uran pemanf aat an ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya;

c. t ercapainya pemanf aat an ruang yang berkualit as unt uk:

1) mewuj udkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sej aht era;

2) mewuj udkan ket erpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buat an dengan memperhat ikan sumber daya manusia;

(5)

meningkat kan kualit as sumber daya manusia;

4) mewuj udkan perlindungan f ungsi ruang dan mencegah sert a menanggulangi dampak negat if t erhadap lingkungan;

5) mewuj udkan keseimbangan kepent ingan kesej aht eraan dan kcamanan.

BAB III

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 4

(1) Set iap orang berhak menikmat i manf aat ruang t ermasuk pert ambahan nilai ruang sebagai akibat penat aan ruang.

(2) Set iap orang berhak unt uk:

a. menget ahui rencana t at a ruang;

b. berperan sert a dalam penyusunan rencana t at a ruang, pemanf aat an ruang, dan pengendalian pemanf aat an ruang; c. memperoleh penggant ian yang layak at as kondisi yang

dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiat an pembangunan yang sesuai dengan rencana t at a ruang.

Pasal 5

(1) Set iap orang berkewaj iban berperan sert a dalam memelihara kualit as ruang.

(6)

Pasal 6

Ket ent uan mengenai pelaksanaan hak dan kewaj iban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

BAB IV

PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN

Bagian Pert ama Umum

Pasal 7

(1) Penat aan ruang berdasarkan f ungsi ut ama kawasan meliput i kawasan lindung dan kawasan budi daya.

(2) Penat aan ruang berdasarkan aspek administ rat if meliput i ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(3) Penat aan ruang berdasarkan f ungsi kawasan dan aspek kegiat an melipuli kawasan perdesaan, kawasan perkot aan, dan kawasan t ert ent u.

Pasal 8

(1) Penat aan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dilakukan secara t erpadu dan t idak dipisah-pisahkan.

(7)

wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkut an.

(3) Penat aan ruang unt uk kawasan yang meliput i lebih dari sat u wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I unt uk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang bersangkut an.

Pasal 9

(1) Penat aan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II, di samping meliput i ruang darat an, j uga mencakup ruang laut an dan ruang udara sampai bat as t ert ent u yang diat ur dengan perat uran perundang-undangan.

(2) Penat aan ruang laut an dan penat aan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur secara t erpusat dengan undang-undang.

Pasal 10

(1) Penat aan ruang kawasan perdesaan, penat aan ruang kawasan perkot aan, dan penat aan ruang kawasan t ert ent u sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penat aan ruang wilayah Nasional at au wilayah Propinsi Daerah Tingkat I at au wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(2) Penat aan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkot aan diselenggarakan unt uk:

(8)

b. meningkat kan f ungsi kawasan perdesaan dan f ungsi kawasan perkot aan secara serasi, selaras, dan seimbang ant ara perkcmbangan lingkungan dengan t at a kehidupan masyarakat ; c. mengat ur pemanf aat an ruang guna meningkat kan kemakmuran

rakyat dan mencegah sert a menanggulangi dampak negat if t erhadap lingkungan alam, lingkungan buat an, dan lingkungan sosial.

(3) Penat aan ruang kawasan t ert ent u diselenggarakan unt uk:

a. mengembangkan t at a ruang kawasan yang st rat egis dan dipriorit askan dalam rangka penat aan ruang wilayah Nasional at au wilayah Propinsi Daerah Tingkat I at au wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II;

b. meningkat kan f ungsi kawasan lindung dan f ungsi kawasan budi daya;

c. mengat ur pemanf aat an ruang guna meningkat kan kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan.

(4) pengelolaan kawasan t ert ent u diselenggarakan oleh Pemerint ah sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 11

Penat aan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhat ikan:

a. lingkungan alam, lingkungan buat an, lingkungan sosial, dan int eraksi ant ar lingkungan;

(9)

Pasal 12

(1) Penat aan ruang dilakukan oleh Pemerint ah dengan peran sert a masyarakat .

(2) Tat a cara dan bent uk peran sert a masyarakat dalam penat aan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

Bagian Kedua Perencanaan

Pasal 13

(1) Pcrencanaan t at a ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan sert a penet apan rencana t at a ruang berdasarkan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

(2) Rencana t at a ruang dit inj au kembali dan at au disempurnakan sesuai dengan j enis perencanaannya secara berkala.

(3) Peninj auan kembali dan at au penyempurnaan rencana t at a ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan t et ap memperhat ikan ket ent uan Pasal 24 ayat (3).

(4) Ket cnt uan mengenai krit eria dan t at a cara peninj auan kembali dan at au penyempurnaan rencana t at a ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

Pasal 14

(1) Perencanaan t at a ruang dilakukan dengan mempert imbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan f ungsi budi daya

(10)

sert a f ungsi pert ahanan keamanan;

b. aspek pengelolaan secara t erpadu berbagai sumber daya, f ungsi dan est et ika lingkungan, sert a kualit as ruang.

(2) Perencanaan t at a ruang mencakup perencanaan st rukt ur dan pola pemanf aat an ruang, yang meliput i t at a guna t anah, t at a guna air, t at a guna udara, dan t at a guna sumber daya alam lainnya.

(3) Perencanaan t at a ruang yang berkait an dengan f ungsi pert ahanan keamanan sebagai subsist em perencanaan t at a ruang, t at a cara penyusunannya diat ur dengan perat uran perundang-undangan.

Bagian Ket iga Pemanf aat an

Pasal 15

(1) Pemanf aat an ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanf aat an ruang besert a pembiayaannya, yang didasarkan at as rencana t at a ruang.

(2) Pemanf aat an ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bert ahap sesuai dengan j angka wakt u yang dit et apkan dalam rencana t at a ruang.

Pasal 16

(1) Dalam pemanf aat an ruang dikembangkan:

a. pola pengelolaan t at a guna t anah, t at a guna air, t at a guna udara dan t at a guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penat aan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2; b. perangkat t ingkat yang bersif at insent if dan disinsent if dengan

(11)

(2) Ket ent uan mengenai pola pengelolaan t at a guna t anah, t at a guna air, t at a guna udara, dan t at a guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) but ir a, diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

Bagian Keempat Pengendalian

Pasal 17

Pengendalian pemanf aat an ruang diselenggarakan melalui kegiat an pengawasan dan penert iban t erhadap pemanf aat an ruang.

Pasal 18

(1) Pengawasan t erhadap pemanf aat an ruang diselenggarakan dalam bent uk pelaporan, pemant auan, dan evaluasi.

(2) Penert iban t erhadap pemanf aat an ruang yang t idak sesuai dengan rencana t at a ruang diselenggarakan dalam bent uk pengenaan sanksi sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

BAB V

RENCANA TATA RUANG

Pasal 19

(1) Rencana t at a ruang dibedakan at as: a. Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional;

b. Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I;

(12)

(2) Rencana t at a ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam pet a wilayah negara Indonesia, pet a wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, pet a wilayah Kabupat en Dacrah Tingkat II, dan pet a wilayah Kot amadya Daerah Tingkat II, yang t ingkat ket elit iannya diat ur dalam perat uran perundang-undangan.

Pasal 20

(1) Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional merupakan st rat egi dan arahan kebij aksanaan pemanf aat an ruang wilayah negara, yang meliput i:

a. t uj uan nasional dari pemanf aat an ruang unt uk peningkat an kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan;

b. st rukt ur dan pola pemanf aat an ruang wilayah nasional;

c. krit eria dan pola pengelolaan kawasan lindung, kawasan budi daya, dan kawasan t ert ent u.

(2) Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional berisi:

a. penet apan kawasan lindung, kawasan budi daya, dan kawasan t ert ent u yang dit et apkan secara nasional;

b. norma dan krit eria pemanf aat an ruang; c. pedoman pengendalian pemanf aat an ruang.

(3) Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional menj adi pedoman unt uk: a. perumusan kebij aksanaan pokok pemanf aat an ruang di wilayah

nasional;

b. mewuj udkan ket erpaduan, ket erkait an, dan keseimbangan perkembangan ant ara wilayah sert a keserasian ant ar sekt or; c. pengarahan lokasi invest asi yang dilaksanakan Pemerint ah dan

(13)

d. penat aan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(4) Jangka wakt u Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional adalah 25 t ahun.

(5) Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional dit et apkan dengan Perat uran Pemerint ah.

Pasal 21

(1) Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Dacrah Tingkat I merupakan penj abaran st rat egi dan arahan kebij aksanaan pemanf aat an ruang wilayah nasional ke dalam st rat egi dan st rukt ur pemanf aat an ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, yang meliput i :

a. t uj uan pemanf aat an ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I unt uk peningkat an kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan;

b. st ukt ur dan pola pemanf aat an ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I;

c. pedoman pengendalian pemanf aat an ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.

(2) Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya; b. arahan pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkot aan,

dan kawasan t ert ent u;

c. arahan pengembangan kawasan permukiman, kehut anan, pert anian, pert ambangan, perindust rian, pariwisat a, dan kawasan lainnya;

(14)

e. arahan pengembangan sist em prasarana wilayah yang meliput i prasarana t ransport asi, t elekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan;

f . arahan pengembangan kawasan yang dipriorit askan;

g. arahan kebij aksanaan t at a guna t anah, t at a guna air, t at a guna udara, dan t at a guna sumber daya alam lainnya, sert a memperhat ikan ket erpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buat an.

(3) Rcncana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menj adi pedoman unt uk:

a. perumusan kebij aksanaan pokok pemanf aat an ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I;

b. mewuj udkan ket erpaduan, ket erkait an, dan keseimbangan perkembangan ant ar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I sert a keserasian ant ar sekt or;

c. pengarahan lokasi invest asi yang dilaksanakan Pemerint ah dan at au masyarakat ;

d. penat aan ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan t erhadap perizinan lokasi pembangunan.

(4) Jangka wakt u Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 t ahun.

(5) Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dit et apkan dengan perat uran daerah.

Pasal 22

(15)

pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II, yang meliput i:

a. t uj uan pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II unt uk peningkat an kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan;

b. rencana st rukt ur dan pola pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II;

c. rencana umum t at a ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II;

d. pedoman pengendalian pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(2) Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II berisi:

a. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya;

b. pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkot aan, dan kawasan t ert ent u;

c. sist em kegiat an pembangunan dan sist em permukiman perdesaan dan perkot aan;

d. sist em prasarana t ransport asi, t elekomunikasi, energi, pengairan, prasarana pengelolaan lingkungan;

e. penat agunaan t anah, penat agunaan air, penat agunaan udara, dan penat agunaan sumber daya alam lainnya, sert a memperhat ikan ket erpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buat an.

(3) Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II menj adi pedoman unt uk:

a. perumusan kebij aksanaan pokok pemanf aat an ruang di wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II;

(16)

perkembangan ant ar wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II sert a keserasian ant ar sekt or;

c. penet apan lokasi invest asi yang dilaksanakan Pemerint ah dan at au masyarakat di Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II; d. penyusunan rencana rinci t at a ruang di Kabupat en/ Kot amadya

Daerah Tingkat II;

e. pelaksanaan pembangunan dalam memanf aat kan ruang bagi kegiat an pembangunan.

(4) Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II menj adi dasar unt uk penerbit an perizinan lokasi pembangunan.

(5) Jangka wakt u Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II adalah 10 t ahun.

(6) Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dit et apkan dengan perat uran daerah.

Pasal 23

(1) Rencana t at a ruang kawasan perdesaan dan rencana t at a ruang kawasan perkot aan merupakan bagian dari Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(2) Rencana t at a ruang kawasan t ert ent u dalam rangka penat aan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang t idak t erpisahkan dari Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan at au Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang dit et apkan dengan Keput usan Presiden.

(17)

BAB VI

WEWENANG DAN PEMBINAAN

Pasal 24

(1) Negara menyelenggarakan penat aan ruang unt uk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerint ah.

(2) Pelaksanaan penat aan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerint ah unt uk:

a. mengat ur dan menyelenggarakan penat aan ruang;

b. mengat ur t ugas dan kewaj iban inst ansi pemerint ah dalam penat aan ruang.

(3) Pelaksanaan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan t et ap menghormat i hak yang dimiliki orang.

Pasal 25

Pemerint ah menyelenggarakan pembinaan dengan:

a. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana t at a ruang kepada masyarakat ;

b. menumbuhkan sert a mengembangkan kesadaran dan t anggung j awab masyarakat melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan pelat ihan.

Pasal 26

(1) Izin pemanf aat an ruang yang t idak sesuai dengan Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang dit et apkan berdasarkan undang-undang ini dinyat akan bat al oleh Kepala Daerah yang bersangkut an.

(18)

dibukt ikan t elah diperoleh dengan ikt ikad baik, t erhadap kerugian yang t imbul sebagai akibat pembat alan izin t ersebut dapat dimint akan penggant ian yang layak.

Pasal 27

(1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penat aan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat 1.

(2) Unt uk Daerah Khusus lbukot a Jakart a, pelaksanaan penat aan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhat ikan pert imbangan dari Depart emen, Lembaga, dan Badan-badan Pemerint ah lainnya sert a koordinasi dengan Daerah sekit arnya sesuai dengan ket cnt uan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 t ent ang Susunan Pemerint ahan Daerah Khusus lbukot a Negara Republik Indonesia Jakart a.

(3) Apabila dalam penyelenggaraan penat aan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) t erdapat hal-hal yang t idak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, maka diperlukan pert imbangan dan perset uj uan Ment eri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1).

Pasal 28

(1) Bupat i/ Walikot amadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penat aan ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

(19)

Pasal 29

(1) Presiden menunj uk seorang Ment eri yang bert ugas mengkoordinasikan penat aan ruang.

(2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) t ermasuk pengendalian perubahan f ungsi ruang suat u kawasan dan pemanf aat annya yang berskala besar dan berdampak pent ing. (3) Perubahan f ungsi ruang suat u kawasan dan pemanf aat annya

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dit et apkan set elah berkonsult asi dengan Dewan Perwakilan Rakyat .

(4) Penet apan mengenai perubahan f ungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menj adi dasar dalam peninj auan kembali Rencana t at a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 30

(20)

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 31

Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka Ordonansi Pembent ukan Kot a (St adsvormingsordonnant ie St aat sblad Tahun 1948 Nomor 168, Keput usan Let nan Gubernur Jenderal t anggal 23 Juli 1948 no. 13) dinyat akan t idak berlaku.

Pasal 32

Undang-undang ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakart a

pada t anggal 13 Okt ober 1992 ]

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

t t d

(21)

Diundangkan di Jakart a

pada t anggal 13 Okt ober 1992

MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA

t t d

(22)

PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992

TENTANG PENATAAN RUANG

UMUM

1. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah at au t empat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup, dan melakukan kegiat annya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia.

Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri, dilindungi dan dikelola, ruang waj ib dikembangkan dan dilest arikan pemanf aat annya secara opt imal dan berkelanj ut an demi kelangsungan hidup yang berkualit as.

Pancasila sebagai dasar dan f alsaf ah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat t ercapai j ika didasarkan at as keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa Keyakinan t ersebut menj adi pedoman dalam penat aan ruang.

Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konst it usional mewaj ibkan agar sumber daya alam dipergunakan unt uk sebesar-besar kemakmuran rakyat . Kemakmuran rakyat t ersebut harus dapat dinikmat i, baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan dat ang.

(23)

bat iniah, akan t et api j uga keseimbangan ant ara keduanya. Oleh karena it u, ruang harus dimanf aat kan secara serasi, selaras, dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanj ut an.

2. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliput i darat an, laut an, dan udara berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku, t ermasuk laut dan landas kont inen di sekit arnya, di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat at au kewenangan hukum sesuai dengan ket ent uan Konvensi Perserikat an Bangsa-Bangsa Tahun 1982 t ent ang Hukum laut .

Laut sebagai salah sat u sumber daya alam t idaklah mengenal bat as wilayah. Akan t et api, kalau ruang dikait kan dengan pengat urannya, maka haruslah j elas bat as, f ungsi dan sist emnya dalam sat u kesat uan.

Secara geograf is let ak dan kedudukan negara indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat st rat egis, baik bagi kepent ingan nasional maupun int ernasional. Secara ekosist em kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempat i posisi silang di khat ulist iwa ant ara dua benua dan dua samudera dengan cuaca, musim, dan iklim t ropisnya.

(24)

3. Ruang meliput i ruang darat an, ruang laut an, dan ruang udara besert a sumber daya alam yang t erkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. Kegiat an manusia dan makhluk hidup lainnya membut uhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanf aat an ruang at au sebaliknya suat u ruang dapat mewadahi berbagai kegiat an, sesuai dengan kondisi alam set empat dan t eknologi yang dit erapkan.

Meskipun suat u ruang t idak dihuni manusia sepert i ruang hampa udara, lapisan di bawah kerak bumi, kawah gunung berapi, t et api ruang t ersebut mempunyai pengaruh t erhadap kehidupan dan dapat dimanf aat kan unt uk kegiat an dan kelangsungan hidup.

Disadari bahwa ket ersediaan ruang it u sendiri t idak t ak t erbat as. Bila pemanf aat an ruang t idak diat ur dengan baik, kemungkinan besar t erdapat pemborosan manf aat ruang dan penurunan kualit as ruang. Oleh karena it u, diperlukan penat aan ruang unt uk mengat ur pemanf aat annya berdasarkan besaran kegiat an, j enis kegiat an, f ungsi lokasi, kualit as ruang, dan est et ika lingkungan.

4. Ruang wilayah negara sebagai suat u sumber daya alam t erdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suat u subsist em. Masing-masing subsist em meliput i aspek polit ik, ekonomi, sosial, budaya, pert ahanan keamanan, dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda sat u dengan yang lainnya.

Seluruh wilayah negara Indonesia t erdiri dari wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II, yang masing-masing merupakan subsist em ruang menurut bat asan administ rasi.

(25)

yang apabila t idak dit at a secara baik dapat mendorong ke arah adanya ket idakseimbangan pembangunan ant ar wilayah sert a ket idak lest arian lingkungan hidup.

Penat aan ruang yang didasarkan pada karakt erist ik dan daya dukungnya sert a didukung oleh t eknologi yang sesuai, akan meningkat kan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan subsist em yang berart i j uga meningkat kan daya t ampungnya.

Oleh karena pengelolaan subsist em yang sat u akan berpengaruh pada subsist em yang lain, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sist em ruang secara keseluruhan, pengat uran ruang menunt ut dikembangkannya suat u sist em ket erpaduan sebagai ciri ut amanya. Ini berart i perlu adanya suat u kebij aksanaan nasional penat aan ruang yang memadukan berbagai kebij aksanaan pemanf aat an ruang. Seiring dengan maksud t ersebut , maka pelaksanaan pembangunan, di t ingkat Pusat maupun di t ingkat Daerah, harus sesuai dengan rencana t at a ruang yang t elah dit et apkan. Dengan demikian, pemanf aat an ruang t idak bert ent angan dengan rencana t at a ruang.

5. Penat aan ruang sebagai proses perencanaan t at a ruang, pemanf aat an ruang, dan pengendalian pemanf aat an ruang merupakan sat u kesat uan sist em yang t idak t erpisahkan sat u dengan yang lainnya. Unt uk menj amin t ercapainya t uj uan penat aan ruang diperlukan perat uran perundang-undangan dalam sat u kesat uan sist em yang harus memberi dasar yang j elas, t egas dan menyeluruh guna menj amin kepast ian hukum bagi upaya pemanf aat an ruang. Unt uk it u, undang-undang t ent ang penat aan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut :

(26)

b. Menj amin ket erbukaan rencana t at a ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran sert a masyarakat dalam pemanf aat an ruang yang berkualit as dalam segala segi pembangunan.

c. Mencakup semua aspek di bidang penat aan ruang sebagai dasar bagi pengat uran lebih lanj ut yang perlu dit uangkan dalam bent uk perat uran t ersendiri.

d. Mengandung sej umlah ket ent uan proses dan prosedur perencanaan t at a ruang, pemanf aat an ruang, dan pengendalian pemanf aat an ruang sebagai dasar bagi pengat uran lebih lanj ut .

Selain it u, Undang-undang ini menj adi landasan unt uk menilai dan menyesuaikan perat uran perundang-undangan yang memuat ket ent uan t ent ang segi-segi pemanf aat an ruang yang t elah berlaku yait u perat uran perundang-undangan mengenai perairan, pert anahan, kehut anan, pert ambangan, pembangunan daerah, perdesaan, perkot aan, t ransmigrasi, perindust rian, perikanan, j alan, Landas Kont inen Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, perumahan dan permukiman, kepariwisat aan, perhubungan, t elekomunikasi, dan sebagainya dengan memperhat ikan di ant aranya:

a. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 t ent ang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) j o. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 t ent ang Pengesahan Penyat uan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesat uan Republik Indonesia dan Pembent ukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084);

b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 t ent ang Konservasi Sumber Daya Alam Hayat i dan Ekosist emnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419;

(27)

Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sej aht era (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3475).

Dengan demikian, semua perat uran perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanf aat an ruang dapat t erangkum dalam sat u sist em hukum penat aan ruang Indonesia.

B. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Ist ilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar t erdapat keseragaman pengert ian at as Undang-undang ini sert a perat uran pelaksanaannya.

Angka 1

Ruang yang diat ur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliput i hak berdaulat di wilayah edit orial maupun kewenangan hukum di luar wilayah edit orial berdasarkan ket ent uan konvensi yang bersangkut an yang berkait an dengan ruang laut an dan ruang udara.

Pengert ian ruang mencakup ruang darat an, ruang laut an, dan ruang udara.

Ruang darat an adalah ruang yang t erlet ak di at as dan di bawah permukaan darat an t ermasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut t erendah.

(28)

Ruang udara adalah ruang yang t erlet ak di at as ruang darat an dan at au ruang laut an sekit ar wilayah negara dan melekat pada bumi, di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Dalam Undang-undang ini, pengert ian ruang udara (air-space)

t idak sama dengan pengert ian ruang angkasa (out erspace). Ruang angkasa besert a isinya sepert i bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari ant ariksa, yang merupakan ruang di luar ruang udara.

Ruang darat an, ruang laut an, dan ruang udara merupakan sat u kesat uan ruang yang t idak dapat dipisah-pisahkan. Ruang darat an, ruang laut an, dan ruang udara mempunyai pot ensi yang dapat dimanf aat kan sesuai dengan t ingkat int ensit as yang berbeda unt uk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pot ensi it u di ant aranya sebagai t empat melakukan kegiat an pemenuhan kebut uhan pangan, indust ri, pert ambangan, sebagai j alur perhubungan, sebagai obyek wisat a, sebagai sumber energi, at au sebagai t empat penelit ian dan percobaan.

Angka 2

Yang dimaksud dengan wuj ud st rukt ural pemanf aat an ruang adalah susunan unsur-unsur pembent uk ruang lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buat an yang secara hirarkis dan st rukt ural berhubungan sat u dengan yang lainnya membent uk t at a ruang.

Wuj ud st rukt ural pemanf aat an ruang di ant aranya meliput i hirarki pusat pelayanan sepert i pusat kot a, pusat lingkungan, pusat pemerint ahan; prasarana j alan sepert i j alan art eri, j alan kolekt or, dan j alan lokal; rancang bangun kot a sepert i ket inggian bangunan, j arak ant ar bangunan, garis langit , dan sebagainya. Yang dimaksud dengan pola pemanf aat an ruang adalah bent uk

(29)

karakt er kegiat an manusia dan at au kegiat an alam.

Wuj ud pola pemanf aat an ruang di ant aranya meliput i pola lokasi, sebaran permukiman, t empat kerj a, indust ri, dan pert anian, sert a pola penggunaan t anah perdesaan dan perkot aan.

Tat a ruang yang dit uj u dengan penat aan ruang ini adalah t at a ruang yang direncanakan. Tat a ruang yang t idak direncanakan berupa t at a ruang yang t erbent uk secara alamiah sepert i wilayah aliran sungai, danau, suaka alam, gua, gunung dan sebagainya.

Angka 3 Cukup j elas Angka 4

Cukup j elas Angka 5

Wilayah yang bat as dan sist emnya dit ent ukan berdasarkan aspek administ rat if disebut wilayah pemerint ahan. Wilayah yang bat as dan sist emnya dit ent ukan berdasarkan aspek f ungsional disebut kawasan.

Angka 6 Cukup j elas Angka 7

Kelest arian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buat an yang mempunyai nilai sej arah dan budaya bangsa.

Angka 8

(30)

Angka 9 Cukup j elas Angka 10

Cukup j elas Angka 11

Cukup j elas Pasal 2

Yang dimaksud dengan semua kepent ingan adalah bahwa penat aan ruang dapat menj amin seluruh kepent ingan, yakni kepent ingan pemerint ah dan masyarakat secara adil dengan memperhat ikan golongan ekonomi lemah.

Yang dimaksud dengan t erpadu adalah bahwa penat aan ruang dianalisis dan dirumuskan menj adi sat u kesat uan dari berbagai kegiat an pemanf aat an ruang baik oleh pemerint ah maupun masyarakat . Penat aan ruang dilakukan secara t erpadu dan menyeluruh mencakup ant ara lain pert imbangan aspek wakt u, modal, opt imasi, daya dukung lingkungan, daya t ampung lingkungan, dan geopolit ik. Dalam mempert imbangkan aspek wakt u, suat u perencanaan t at a ruang memperhat ikan adanya aspek prakiraan, ruang lingkup wilayah yang direncanakan, persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan sert a kebut uhan dan t uj uan pemanf aat an ruang. Penat aan ruang harus diselenggarakan secara t ert ib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara t erat ur dan konsist en.

Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penat aan ruang harus dapat mewuj udkan kualit as ruang yang sesuai dengan pot ensi dan f ungsi ruang.

(31)

ruang bagi persebaran penduduk ant ar wilayah, pert umbuhan dan perkembangan ant ar sekt or, ant ar daerah, sert a ant ara sekt or dan daerah dalam sat u kesat uan Wawasan Nusant ara.

Yang dimaksud dengan berkelanj ut an adalah bahwa penat aan ruang menj amin kelest arian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhat ikan kepent ingan lahir dan bat in ant ar generasi.

Pasal 3

Tuj uan pengat uran penat aan ruang dimaksudkan unt uk mengat ur hubungan ant ara berbagai kegiat an dengan f ungsi ruang guna t ercapainya pemanf aat an ruang yang berkualit as.

Yang dimaksud dengan pengat uran pemanf aat an kawasan lindung adalah bent uk-bent uk pengat uran pemanf aat an ruang di kawasan lindung sepert i upaya konservasi, rehabilit asi, penelit ian, obyek wisat a lingkungan, dan lain-lain yang sej enis. Penat aan ruang kawasan lindung bert uj uan:

a. t ercapainya t at a ruang kawasan lindung secara opt imal; b. meningkat kan f ungsi kawasan lindung.

Yang dimaksud dengan pengat uran pemanf aat an kawasan budi daya adalah bent uk-bent uk pengat uran pemanf aat an ruang di kawasan budi daya sepert i upaya eksploit asi pert ambangan, budi daya kehut anan, budi daya pert anian, dan kegiat an pembangunan permukiman, indust ri, pariwisat a, dan lain-lain yang sej enis.

Penat aan ruang kawasan budi daya bert uj uan :

a. t ercapainya t at a ruang kawasan budi daya secara opt imal; b. meningkat kan f ungsi kawasan budi daya.

(32)

daya alam dengan memperhat ikan sumber daya manusia, dan sumber daya buat an melalui proses koordinasi, int egrasi, dan sinkronisasi perencanaan t at a ruang, pemanf aat an ruang, dan pengendalian pemanf aat an ruang.

Pasal 4 Ayat (1)

Dalam ket ent uan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang, kelompok orang, at au badan hukum. Pemerint ah berkewaj iban melindungi hak set iap orang unt uk menikmat i manf aat ruang.

Ayat (2)

Hak set iap orang dalam penat aan ruang dapat diwuj udkan dalam bent uk bahwa set iap orang dapat mengaj ukan usul, pemberi saran, at au mengaj ukan keberat an kepada pemerint ah dalam rangka penat aan ruang.

Penggant ian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak at as t anah, hak pengelolaan sumber daya alam sepert i hut an, t ambang, bahan galian, ikan, dan at au ruang, yang dapat membukt ikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiat an pembangunan sesuai dengan rencana t at a ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penat aan ruang. Hak t ersebut didasarkan at as ket ent uan perundang-undangan at aupun at as hukum adat dan kebiasaan yang berlaku.

Yang dimaksud dengan hak at as ruang adalah hak-hak yang diberikan at as pemanf aat an ruang darat an, ruang laut an, dan ruang udara.

(33)

sebagai t empat t inggal; hak unt uk melakukan kegiat an usaha sepert i perkant oran, perdagangan, t empat perist irahat an, dan at au melakukan kegiat an sosial sepert i t empat pert emuan di dalam sat uan ruang bangunan bert ingkat ; hak unt uk membangun dan mengelola prasarana t ransport asi sepert i j alan layang; dan sebagainya.

Hak at as pemanf aat an ruang laut an dapat berupa hak unt uk memiliki dan menempat i sat uan ruang di dalam rumah t erapung; hak unt uk melakukan kegiat an di dalam sat uan ruang di dalam kot a t erapung dan at au di dalam laut ; hak unt uk mengelola pariwisat a bahari; hak pemeliharaan t aman laut ; hak unt uk melakukan angkut an laut ; hak unt uk mengeksploit asi sumber alam di laut sepert i penangkapan ikan, penambangan lepas pant ai; dan sebagainya. Hak at as pemanf aat an ruang udara dapat berupa hak unt uk menggunakan j alur udara bagi lalu lint as pesawat t erbang; hak unt uk menggunakan media udara bagi t elekomunikasi; dan sebagainya.

Yang dimaksud dengan penggant ian yang layak adalah bahwa nilai at au besar penggant ian it u t idak mengurangi t ingkat kesej aht eraan orang yang bersangkut an.

Pasal 5 Ayat (1)

Kewaj iban dalam memelihara kualit as ruang merupakan pencerminan rasa t anggung j awab sosial set iap orang t erhadap pemanf aat an ruang.

(34)

kerj a, j arak ant ara perumahan dengan f asilit as umum; dan st rukt ur sepert i pusat lingkungan dalam perumahan, pusat kegiat an dalam kawasan perkot aan.

Pengert ian memelihara kualit as ruang mencakup pula memelihara kualit as t at a ruang yang direncanakan.

Ayat (2)

Penyesuaian pemanf aat an ruang, baik yang t elah mempunyai izin maupun t idak, waj ib dilakukan sewakt u-wakt u oleh yang bersangkut an bila t erj adi ket idaksesuaian pemanf aat an ruang dengan rencana t at a ruang.

Pelaksanaan kewaj iban menaat i rencana t at a ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan set iap orang yang t erkena langsung akibat pemanf aat an rencana t at a ruang.

Bagi orang yang t idak mampu, maka sesuai haknya unt uk mendapat kan penggant ian yang layak, kompensasi diat ur melalui pengat uran nilai t ambah yang dit imbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang.

Pasal 6

Cukup j elas Pasal 7

Ayat (1)

(35)

Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hut an produksi, kawasan pert anian, kawasan permukiman, kawasan indust ri, kawasan berikat , kawasan pariwisat a, kawasan t empat beribadah, kawasan pendidikan, kawasan pert ahanan keamanan.

Ayat (2) Cukup j elas

Ayat (3)

Susunan f ungsi kawasan yang berwuj ud kawasan perdesaan meliput i t empat permukiman perdesaan, t empat kegiat an pert anian, kegiat an pemerint ahan, kegiat an pelayanan sosial, dan kegiat an ekonomi.

Susunan f ungsi kawasan yang berwuj ud kawasan perkot aan meliput i t empat permukiman perkot aan, t empat pemusat an dan pendist ribusian kegiat an bukan pert anian sepert i kegiat an pelayanan j asa pemerint ahan, kegiat an pelayanan sosial, dan kegiat an ekonomi.

Fungsi kawasan yang berwuj ud kawasan t ert ent u meliput i t empat pengembangan kegiat an yang st rat egis yang dit ent ukan dengan krit eria ant ara lain:

a. kegiat an di bidang yang bersangkut an baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar t erhadap upaya pengembangan t at a ruang di wilayah sekit arnya;

b. kegiat an di suat u bidang yang mempunyai dampak baik t erhadap kegiat an lain di bidang yang sej enis maupun t erhadap kegiat an di bidang lainnya;

(36)

Kegiat an dalam kawasan t ert ent u dapat berupa misalnya kegiat an pembangunan skala besar unt uk kegiat an indust ri besert a sarana dan prasarananya, kegiat an pert ahanan keamanan besert a sarana dan prasarananya, kegiat an pariwisat a besert a sarana dan prasarananya, dan sebagainya.

Pasal 8 Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Kawasan yang meliput i lebih dari sat u wilayah administ rat if Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya sepert i wilayah aliran sungai, kawasan resapan air, wilayah perbat asan, kawasan hut an lindung, t aman nasional, sert a kawasan perdesaan, kawasan perkot aan, dan kawasan t ert ent u. Dalam hal kawasan t ersebut di at as mencakup dua at au lebih

wilayah administ rasi Daerah Tingkat I, maka koordinasi penyusunan rencana t at a ruang diselenggarakan oleh Ment eri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1).

Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkut an unt uk dit et apkan dengan perat uran daerah.

Ayat (3)

(37)

Kecuali kawasan t ert ent u, maka dalam hal kawasan t ersebut di at as mencakup dua at au lebih wilayah administ rasi Daerah Tingkat II, koordinasi penyusunan rencana t at a ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang bersangkut an unt uk dit et apkan dengan perat uran daerah. Pasal 9

Ayat (1)

Penat aan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang darat annya berbat asan dengan laut perlu mencakup ruang laut an dalam bat as t ert ent u. Penat aan ruang t ersebut berkait an dengan lokasi dan t empat kegiat an masyarakat di daerah sepert i t empat permukiman dan kegiat an nelayan dan sebagainya. Penat aan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II berkait an dengan ruang udara dalam bat as t ert ent u. Penat aan ruang t ersebut bersangkut an dengan wadah kegiat an masyarakat di daerah sepert i bat as ket inggian bangunan, penggunaan j embat an penyeberangan yang diperlebar unt uk pert okoan.

Ayat (2) Cukup j elas Pasal 10

Ayat (1) Cukup j elas Ayat (2)

(38)

kawasan budidaya dengan kegiat an ut ama budidaya bukan pert anian.

Dalam kawasan perkot aan t erdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiat an ut ama budidaya bukan pert anian.

Ayat (3)

Yang dimaksud dengan kawasan yang st rat egis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut haj at hidup orang banyak, baik dit inj au dari sudut kepent ingan polit ik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan pert ahanan keamanan.

Kawasan t ert ent u dapat berada dalam sat u kesat uan kawasan perdesaan dan at au kawasan perkot aan.

Yang dimaksud dengan kawasan yang st rat egis dan dipriorit askan adalah kawasan yang t ingkat penanganannya diut amakan dalam pelaksanaan pembangunan.

Sebagai cont oh kawasan t ert ent u adalah kawasan st rat egis dalam skala besar unt uk kegiat an indust ri, pariwisat a, suaka alam, wilayah perbat asan, dan daerah lat ihan milit er.

Yang dimaksud dengan perbat asan adalah perbat asan yang ada, di darat an, di laut an dan di udara dengan negara t et angga.

Ayat (4)

Dalam hal perencanaan t at a ruang kawasan t ert ent u, koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Ment eri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1).

Pasal 11

(39)

unt uk t erpeliharanya kelest arian kemampuan lingkungan hidup.

Pasal 12 Ayat (1)

Peran sert a masyarakat merupakan hal yang sangat pent ing dalam penat aan ruang karena pada akhirnya hasil penat aan ruang adalah unt uk kepent ingan seluruh lapisan masyarakat sert a unt uk t ercapainya t uj uan penat aan ruang.

Masyarakat berperan sebagai mit ra pemerint ah dalam penat aan ruang. Dalam menj alankan peranannya it u, masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara akt if sebagai sarana unt uk melaksanakan peran sert a masyarakat dalam mencapai t uj uan penat aan ruang.

Peran sert a masyarakat dalam penat aan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang, kelompok orang, at au badan hukum.

Ayat (2) Cukup j elas Pasal 13

Ayat (1)

Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional, Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara t erarah dan t erpadu.

Proses dan prosedur penet apan rencana t at a ruang diselenggarakan pada t ingkat Nasional, Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II.

(40)

a. menent ukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi, sosial, budaya, daya dukung dan daya t ampung lingkungan, sert a f ungsi pert ahanan keamanan; b. mengident if ikasikan berbagai pot ensi dan masalah

pembangunan dalam suat u wilayah perencanaan; c. perumusan perencanaan t at a ruang;

d. penet apan t at a ruang,

Ayat (2 )

Rencana t at a ruang disusun dengan perspekt if menuj u keadaan pada masa depan yang diharapkan, bert it ik t olak dari dat a, inf ormasi, ilmu penget ahuan dan t eknologi yang dapat dipakai, sert a memperhat ikan keragaman wawasan kegiat an t iap sekt or. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis; ilmu penget ahuan dan t eknologi berkembang seiring dengan berj alannya wakt u. Oleh karena it u, agar rencana t at a ruang yang t elah disusun it u t et ap sesuai dengan t unt ut an pembangunan dan perkembangan keadaan, rencana t at a ruang dapat dit inj au kembali dan at au disempurnakan secara berkala. Peninj auan kembali sebagaimana t ersebut di at as bukan berart i

penyusunan rencana baru secara t ot alit as dan hanya dapat dilakukan at as dasar Perat uran Pemerint ah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini.

Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administ rasi pemerint ahan, kedalaman rencana, dan f ungsi wilayah sert a kawasan.

Ayat (3)

(41)

rencana t at a ruang, maka hak orang harus t et ap dilindungi. Dalam penyempurnaan rencana t at a ruang t ersebut dilaksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12.

Ayat (4) Cukup j elas Pasal 14

Ayat (1)

Pengat uran pemanf aat an ruang unt uk f ungsi pert ahanan keamanan di t ingkat Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II merupakan sat u kesat uan proses dalam rangka mewuj udkan keseimbangan kepent ingan kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan.

Aspek pengelolaan dalam ket ent uan ini perlu mempert imbangkan secara t erpadu karena hal t ersebut mempengaruhi dinamika pemanf aat an ruang. Dinamika dalam pemanf aat an ruang t ercermin ant ara lain dalam:

a. perubahan nilai sosial akibat rencana t at a ruang; b. perubahan nilai t anah dan sumber daya alam lainnya; c. perubahan st at us hukum t anah akibat rencana t at a ruang; d. dampak t erhadap lingkungan;

c. perkembangan sert a kemampuan ilmu penget ahuan dan t eknologi.

Ayat (2)

(42)

susunan dan t at anan komponen lingkungan alam hayat i, lingkungan alam non-hayat i, lingkungan buat an, dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan f ungsional berhubungan sat u sama lain membent uk t at a ruang.

Yang dimaksud dengan pola pemanf aat an ruang adalah bent uk hubungan ant ar berbagai aspek sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buat an, sosial, budaya, ekonomi, t eknologi, inf ormasi, administ rasi, pert ahanan keamanan; f ungsi lindung, budi daya, dan est et ika lingkungan; dimensi ruang dan wakt u. yang dalam kesat uan secara ut uh menyeluruh sert a berkualit as membent uk t at a ruang.

Perencanaan st urkt ur dan pola pemanf aat an ruang merupakan kegiat an menyusun rencana t at a ruang yang produknya menit ikberat kan kepada pengat uran hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan j asa, sert a ket erkait an ant ara pusat t ersebut melalui, ant ara lain, sist em prasarana. Sist em prasarana meliput i, ant ara lain, j aringan t ransport asi sepert i j alan raya, j alan keret a api, sungai yang dimanf aat kan sebagai sarana angkut an, dan j aringan ut ilit as sepert i: air bersih, air kot or, pengat usan air huj an, j aringan t elepon, j aringan gas, j aringan list rik dan sist em pengelolaan sampah.

Tat a guna t anah, t at a guna air, dan t at a guna udara merupakan bagian yang t ak t erpisahkan dari perencanaan st rukt ur dan pola pemanf aat an ruang, supaya keberlanj ut an pemanf aat an t anah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya unt uk kegiat an pembangunan dan peningkat an kualit as t at a ruang dapat t erus berlangsung.

(43)

Ayat (3)

Kegiat an perencanaan t at a ruang unt uk f ungsi pert ahanan keamanan karena sif at nya yang khusus memerlukan pengat uran t ersendiri. Meskipun demikian, penat aan ruang unt uk f ungsi ini t et ap merupakan bagian yang t idak t erpisahkan dari upaya keseluruhan penat aan ruang wilayah negara.

Pasal 15 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan pemanf aat an ruang adalah rangkaian program kegiat an pelaksanaan pembangunan yang memanf aat kan ruang menurut j angka wakt u yang dit et apkan di dalam rencana t at a ruang.

Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanf aat an ruang adalah mobilisasi, priorit as, dan alokasi pendanaan yang diperlukan unt uk pelaksanaan pembangunan.

Ayat (2)

Pemanf aat an ruang diselenggarakan secara bert ahap melalui penyiapan program kegiat an pelaksanaan pembangunan yang berkait an dengan pemanf aat an ruang yang akan dilakukan oleh pemerint ah dan masyarakat , baik secara sendiri-sendiri maupun bersama, sesuai dengan rencana t at a ruang yang t elah dit et apkan.

(44)

Pasal 16 Ayat (1)

Pengert ian pola pengelolaan t at a guna t anah, pola pengelolaan t at a guna air, pola pengelolaan t at a guna udara, dan pola pengelolaan t at a guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penat agunaan t anah, penat agunaan air, penat agunaan udara, dan penat agunaan sumber daya alam lainnya.

Yang dimaksud dengan penat agunaan t anah, penat agunaan air, penat agunaan udara, dan penat agunaan sumber daya alam lainnya ant ara lain adalah penguasaan, penggunaan, dan pemanf aat an t anah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya yang berwuj ud konsolidasi pemanf aat an t anah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya melalui pengat uran kelembagaan yang t erkait dengan pemanf aat an t anah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya sebagai sat u kesat uan sist em unt uk kepent ingan masyarakat secara adil. Dalam pemanf aat an t anah, pemanf aat an air, pemanf aat an udara, dan pemanf aat an sumber daya alam lainnya, perlu diperhat ikan f akt or yang mempengaruhinya sepert i f akt or met eorologi klimat ologi, dan geof isika.

Yang dimaksud dengan perangkat insent if adalah pengat uran yang bert uj uan memberikan rangsangan t erhadap kegiat an yang seiring dengan t uj uan rencana t at a ruang.

Apabila dengan pengat uran akan diwuj udkan insent if dalam rangka pengembangan pemanf aat an ruang, maka melalui pengat uran it u dapat diberikan kemudahan t ert ent u:

a. di bidang ekonomi melalui t at a cara pemberian kompensasi, imbalan, dan t at a cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham; at au

(45)

dengan rencana t at a ruang.

Yang dimaksud dengan perangkat disinsent if adalah pengat uran yang bert uj uan membat asi pert umbuhan at au mengurangi kegiat an yang t idak sej alan dengan rencana kawasan ruang, misalnya dalam bent uk:

a. pengenaan paj ak yang t inggi; at au b. ket idakt ersediaan sarana dan prasarana.

Pelaksanaan insent if dan disinsent if t idak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. Hak penduduk sebagai warganegara meliput i pengat uran at as harkat dan mart abat yang sama, hak memperoleh, dan mempert ahankan ruang hidupnya.

Ayat (2) Cukup j elas Pasal 17

Agar pemanf aat an ruang sesuai dengan rencana t at a ruang dilakukan pengendalian melalui kegiat an pengawasan dan penert iban pemanf aat an ruang.

Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ket ent uan ini adalah usaha unt uk menj aga kesesuaian pemanf aat an ruang dengan f ungsi ruang yang dit et apkan dalam rencana t at a ruang.

Yang dimaksud dengan penert iban dalam ket ent uan ini adalah usaha unt uk mengambil t indakan agar pemanf aat an ruang yang direncanakan dapat t erwuj ud.

Di wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanf aat an ruang selain melalui kegiat an pengawasan dan penert iban j uga meliput i mekanisme perizinan.

(46)

pemeriksaan dan penyelidikan at as semua pelanggaran at au kej ahat an yang dilakukan t erhadap pemanf aat an ruang yang t idak sesuai dengan rencana t at a ruang.

Pasal 18 Ayat (1)

Bent uk pelaporan dalam ket ent uan ini adalah berupa kegiat an memberi inf ormasi secara obyekt if mengenai pemanf aat an ruang baik yang sesuai maupun yang t idak sesuai dengan rencana t at a ruang.

Bent uk pemant auan adalah usaha at au perbuat an mengamat i, mengawasi, dan memeriksa dengan cermat perubahan kualit as t at a ruang dan lingkungan yang t idak sesuai dengan rencana t at a ruang.

Bent uk evaluasi adalah usaha unt uk menilai kemaj uan kegiat an pemanf aat an ruang dalam mencapai t uj uan rencana t at a ruang.

Ayat (2)

Bent uk sanksi adalah sanksi administ rasi, sanksi perdat a, dan sanksi pidana.

(47)

Pasal 19 Ayat (I)

Rencana t at a ruang dibedakan menurut administ rasi pemerint ahan karena kewenangan mengat ur pemanf aat an ruang sesuai dengan pembagian administ rasi pemerint ahan.

Ayat (2)

Rencana t at a ruang dibedakan menurut t ingkat ket elit iannya karena inf ormasi yang t ermuat dan skalanya berbeda.

Dalam perat uran perundang-undangan yang mengat ur pet a wilayah dapat dit ent ukan t ingkat ket elit iannya dengan pedoman: a. pet a wilayah negara Indonesia dengan t ingkat ket elit ian

minimal berskala 1: 1. 000. 000;

b. pet a wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan t ingkat ket elit ian minimal berskala 1: 250. 000;

c. pet a wilayah Kabupat en Daerah Tingkat II dengan t ingkat ket elit ian minimal berskala 1: 100. 000 dan pet a wilayah Kot amadya Daerah Tingkat II dengan t ingkat ket elit ian minimal berskala 1: 50. 000.

Dalam pengert ian minimal unt uk skala pet a dikandung art i bahwa suat u rencana t at a ruang dapat digambarkan dalam pet a wilayah berskala yang lebih besar.

(48)

Tingkat ket elit ian t ersebut di at as dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu penget ahuan dan t eknologi.

Pasal 20 Ayat (1)

St rat egi dan arahan kebij aksanaan pemanf aat an ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempert imbangkan kemampuan ilmu penget ahuan dan t eknologi, dat a dan inf ormasi, sert a pembiayaan sebagaimana diat ur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional yang berupa st rat egi

nasional pengembangan pola pemanf aat an ruang merupakan kebij aksanaan pemerint ah yang menet apkan rencana st rukt ur Dan pola pemanf aat an ruang nasional besert a krit eria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi, kawasan budi daya, dan kawasan lainnya.

Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional meliput i ant ara lain arahan pengembangan sist em permukiman dalam skala nasional, j aringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman, penent uan wilayah yang akan dat ang dalam skala nasional, t ermasuk penet apan kawasan t ert ent u.

Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional memperhat ikan ant ara lain:

a. Wawasan Nusant ara dan Ket ahanan Nasional;

b. pokok permasalahan dalam lingkup global dan int ernasional sert a pengkaj ian implikasi penat aan ruang nasional t erhadap st rat egi t at a pengembangan int ernasional dan regional,

c. pemerat aan, pert umbuhan, dan st abilit as;

d. keselarasan aspirasi pembangunan sekt oral dan pembangunan daerah;

(49)

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan penet apan kawasan lindung, kawasan budi daya, dan kawasan t ert ent u secara nasional adalah bahwa pengat uran unt uk penet apan kawasan t ersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari st rat egi dan arahan kebij aksanaan pemanf aat an ruang wilayah negara.

Yang dimaksud dengan norma dan krit eria pemanf aat an ruang adalah ukuran berupa krit eria lokasi dan st andar t eknik pemanf aat an ruang yang dit et apkan dengan perat uran perundang-undangan unt uk t erwuj udnya kualit as ruang dan t ert ibnya pemanf aat an ruang.

Ayat (3)

Dengan ket ent uan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional menj adi acuan bagi inst ansi pemerint ah t ingkat pusat dan daerah sert a masyarakat unt uk mengarahkan lokasi dan memanf aat kan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkait an dengan pemanf aat an ruang.

Hal ini berart i bahwa dalam pemanf aat an ruang unt uk menyusun rencana pembangunan, harus selalu diperhat ikan Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional.

Dalam rangka penyusunan Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula ant ara lain:

a. Penat aan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing t erdiri dari beberapa propinsi sebagai sat u kesat uan unt uk mencapai t uj uan pembangunan nasional dan mewuj udkan Wawasan Nusant ara sebagai sat u kesat uan nasional;

(50)

c. Penj abaran st rat egi ekonomi nasional t erhadap st rat egi t at a ruang yang saling t erkait dan berkesinambungan.

Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional selain menj adi pedoman unt uk pemanf aat an ruang darat an di t ingkat daerah j uga menj adi pedoman unt uk pemanf aat an ruang laut an dan ruang udara dalam bat as-bat as t ert ent u.

Ayat (4)

Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panj ang yang berj angka wakt u 25 t ahun, Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional disusun unt uk j angka wakt u yang sama dan dengan perspekt if 25 t ahun ke masa depan.

Meskipun demikian, rencana t at a ruang wilayah Nasional dapat dit inj au kembali dan at au disempurnakan dalam wakt u kurang dari 25 t ahun apabila t erj adi perubahan kebij aksanaan nasional yang mempengaruhi pemanf aat an ruang akibat perkembangan t eknologi dan keadaan yang mendasar.

Peninj auan kembali dan at au penyempurnaan yang diperlukan unt uk mencapai st rat egi dan arahan kebij aksanaan yang t elah dit et apkan pada 25 t ahun dilakukan paling t idak 5 t ahun sekali. Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional dij abarkan ke dalam

program pemanf aat an ruang 5 t ahunan sej alan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Selanj ut nya, program pemanf aat an ruang t ersebut dij abarkan lagi ke dalam kegiat an pembangunan t ahunan sesuai dengan t ahun anggaran.

Ayat (5) Cukup j elas Pasal 21

(51)

St rat egi dan st rukt ur t at a ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempert imbangkan kemampuan t eknologi, dat a dan inf ormasi, sert a pembiayaan sebagaimana diat ur dalam Pasal 11 dan Pasal 14.

Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhat ikan ant ara lain:

a. Wawasan Nusant ara dan Ket ahanan Nasional; b. pokok permasalahan kepent ingan nasional; c. pemerat aan, pert umbuhan, dan st abilit as;

d. arah dan kebij aksanaan penat aan ruang wilayah t ingkat nasional;

e. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I;

f . pot ensi dan t at a guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I;

g. daya dukung dan daya t ampung lingkungan;

h. Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbat asan;

i. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

Ayat (2)

(52)

Ayat (3)

Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menj adi acuan bagi Pemerint ah Daerah unt uk mengarahkan lokasi dan memanf aat kan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkait an dengan pemanf aat an ruang di daerah t ersebut dan sekaligus menj adi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanf aat an ruang. Dengan demikian, maka pemanf aat an ruang unt uk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus t et ap memperhat ikan Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.

Ayat (4)

Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspekt if ke masa depan dan unt uk j angka wakt u 15 t ahun.

Apabila j angka wakt u 15 t ahun Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir, maka dalam penyusunan rencana t at a ruang yang baru hak yang t elah dimiliki orang yang j angka wakt unya melebihi j angka wakt u rencana t at a ruang t et ap diakui sepert i, Hak Guna Bangunan yang j angka wakt unya 20 t ahun, Hak Guna Usaha yang j angka wakt unya 30 t ahun.

Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat dit inj au kembali dan at au disempurnakan dalam wakt u kurang dari 15 t ahun apabila st rat egi pemanf aat an ruang dan st rukt ur t at a ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkut an perlu dit inj au kembali dan at au disempurnakan sebagai akibat dari penj abaran Rencana Tat a Ruang wilayah Nasional.

Peninj auan kembali dan at au penyempurnaan yang diperlukan unt uk mencapai st rat egi dan st rukt ur t at a ruang yang dit et apkan pada 15 t ahun dilakukan paling t idak 5 t ahun sekali.

(53)

ke dalam program pemanf aat an ruang 5 t ahunan sej alan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkut an. Program pemanf aat an ruang t ersebut dij abarkan lagi ke dalam kegiat an pembangunan t ahunan sesuai dengan t ahun anggaran.

Ayat (5) Cukup j elas Pasal 22

Ayat (1)

St rat egi pelaksanaan pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempert imbangkan kemampuan t eknologi, dat a dan inf ormasi, sert a pembiayaan sebagaimana diat ur dalam Pasal II dan Pasal 14.

Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat 11 memperhat ikan ant ara lain:

a. kepent ingan nasional dan Daerah Tingkat I;

b. arah dan kebij aksanaan penat aan ruang wilayah t ingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I;

c. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengut amakan kepent ingan kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan;

d. keselarasan dengan aspirasi masyarakat ;

e. persediaan dan perunt ukan t anah, air, udara dan sumber daya alam lainnya;

f . daya dukung dan daya t ampung lingkungan;

(54)

Tingkat II lainnya yang berbat asan.

Rencana Umum Tat a Ruang Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II adalah kebij aksanaan yang menet apkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan sert a wilayah yang akan dipriorit askan pengembangannya dalam j angka wakt u perencanaan.

Ayat (2)

Sist em prasarana t ransport asi, t elekomunikasi, energi, pengairan, dan pengelolaan lingkungan, penat agunaan air, penat agunaan t anah, dan penat agunaan udara merupakan sat u kesat uan dalam Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II.

Ayat (3)

Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II menj adi pedoman bagi Pemerint ah Daerah unt uk menet apkan lokasi kegiat an pembangunan dalam menet apkan ruang sert a dalam menyusun program pembangunan yang berkait an dengan pemanf aat an ruang di daerah t ersebut dan sekaligus menj adi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanf aat an ruang, sehingga pemanf aat an ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang sudah dit et apkan.

(55)

Ayat (5)

Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspekt if ke masa depan dan unt uk j angka wakt u 10 t ahun.

Apabila j angka wakt u 10 t ahun Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II berakhir, maka dalam penyusunan rencana t at a ruang yang baru hak yang t elah dimiliki orang dan masyarakat yang j angka wakt unya melebihi j angka wakt u rencana t at a ruang t et ap diakui sepert i, Hak Guna Bangunan yang j angka wakt unya 20 t ahun, dan Hak Guna Usaha yang j angka wakt unya 30 t ahun.

Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dapat dit inj au kembali dan at au disempurnakan dalam wakt u kurang dari 10 t ahun apabila st rat egi pelaksanaan pemanf aat an ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang bersangkut an perlu dit inj au kembali dan at au disempurnakan sebagai akibat dari penj abaran Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. Peninj auan kembali dan at au penyempurnaan yang diperlukan unt uk mencapai st rat egi pelaksanaan pemanf aat an ruang yang dit et apkan pada 10 t ahun dilakukan minimal 5 t ahun sekali.

Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dij abarkan ke dalam program pemanf aat an ruang 5 t ahunan sej alan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II yang bersangkut an. Program pemanf aat an ruang t ersebut dij abarkan lagi ke dalam kegiat an pembangunan t ahunan sesuai dengan t ahun anggaran.

(56)

Pasal 23 Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Kawasan t ert ent u yang dimaksud adalah kawasan yang st rat egis dan dipriorit askan bagi kepent ingan nasional berdasarkan pert imbangan krit eria st rat egis sepert i t ersebut dalam ket ent uan Pasal 10 Ayat (3). Nilai st rat egis dit ent ukan ant ara lain oleh karena kegiat an yang berlangsung di dalam kawasan:

a. mempunyai pengaruh yang besar t erhadap upaya pengembangan t at a ruang wilayah sekit arnya;

b. mempunyai dampak pent ing, baik t erhadap kegiat an yang sej enis maupun t erhadap kegiat an lainnya;

c. merupakan f akt or pendorong bagi peningkat an kesej aht eraan masyarakat dan pert ahanan keamanan.

Dengan demikian, penat aan ruang kawasan t ert ent u dianggap perlu unt uk memperoleh priorit as baik dalam hal penyusunan rencana t at a ruang, pelaksanaan program pemanf aat an ruang besert a pembiayaannya, maupun dalam hal pengendalian pemanf aat an ruang kawasan.

Pemilikan, penguasaan, dan pengelolaan kawasan t ert ent u dilakukan oleh Pemerint ah.

Ayat (3)

(57)

penyusunan rencana t at a ruang kawasan perdesaan unt uk keserasian perkembangan kegiat an pert anian di kawasan perdesaan dalam menunj ang pengembangan wilayah sekit arnya, mengendalikan konversi pemanf aat an ruang yang berskala besar, dan mencegah kerusakan lingkungan.

Dalam perat uran pemerint ah t ent ang penet apan kawasan, pedoman dan t at a cara penyusunan rencana t at a ruang unt uk kawasan perkot aan diat ur ant ara lain krit eria dan prosedur penet apan kawasan perkot aan sert a pedoman dan t at a cara penyusunan rencana t at a ruang kawasan perkot aan unt uk keserasian perkembangan kawasan perkot aan secara administ rat if dan f ungsional dengan pengembangan wilayah sekit arnya sert a daya dukung dan daya t ampung lingkungan.

Dalam perat uran pemerint ah t ent ang penet apan kawasan, pedoman dan t at a cara penyusunan rencana t at a ruang unt uk kawasan t ert ent u diat ur ant ara lain krit eria dan prosedur penet apan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai st rat egis krit eria penent uan priorit as penat aan ruang kawasan, pedoman dan t at a cara penyusunan rencana t at a ruang kawasan dalam kait annya dengan besaran kawasan, lokasi, dan kegiat an yang dit et apkan.

Penyusunan rencana t at a ruang kawasan t ert ent u dikoordinasikan oleh Ment eri.

Arahan pengelolaan kawasan t ert ent u sebagai bagian dari Rencana Tat a Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkut an.

Pengelolaan rencana t at a ruang kawasan t ert ent u sebagai bagian dari Rencana Tat a Ruang wilayah Kabupat en/ Kot amadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupat i/ Walikot amadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkut an.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Undang-Undang ini dit et apkan bahwa Sist em Perencanaan Pembangunan Nasional adalah sat u kesat uan t at a cara perencanaan pembangunan unt uk menghasilkan rencana

Undang-undang ini mul ai berl aku unt uk Jawa dan Madura pada hari diumumkannya, dan unt uk daerah l ain pada hari yang akan dit et apkan ol eh Ment eri Keuangan.

dan ruj uk, menet apkan t empat kedudukan dan wil ayah pegawai pencat at nikah, j at uh masing-masing dari t angan Bupat i/ Raad Kabupat en ke t angan Ment eri Agama,

PENGESYAHAN PERATURAN PEMERINTAH NO. Perat uran Pemerint ah No. 1) t ent ang bea masuk dan bea kel uar yang dit et apkan dengan mempergunakan pasal 22 Undang-undang

Dal am hampir sat u t ahun sesudah Undang-undang t ent ang Warga Negara dan Penduduk Negara Indonesia diumumkan, t ernyat a sedikit sekal i orang-orang t ermaksud dal am

bahwa "Undang-undang Pengawasan Perbur uhan Tabun 1948" dari Republ ik Indonesia adal ah sal ah sat u Undang-undang yang dibut uhkan dan ol eh karenanya perl

(2) Warakaw uri dan anak-anak yat im piat u dari Vet eran Republik Indonesia yang gugur sew akt u ia m asih bert ugas dalam lingkungan kesat uan sepert i t ersebut dalam pasal 1,

Perusahaan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat ini diwaj ibkan unt uk mendapat izin berdasar kan syarat yang dit et apkan oleh Ment er i, agar dicapai keserasian