• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas II Sekolah Dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas II Sekolah Dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)."

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS II SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA

(PMRI)

NURHAYATI

Universitas Sanata Dharma 2017

Latar belakang masalah penelitian ini adalah adanya keterbatasan buku yang sesuai dengan perkembangan anak sekolah dasar kelas II pada mata pelajaran matematika khususnya materi pengukuran satuan tidak baku dan satuan baku. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. serta Mendeskripsikan kualitas produk buku guru dan buku siswa mata pelajaran kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia menurut pakar matematika.

Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R & D). Penelitian pengembangan ini dimodifikasi dari tahap –tahap model Sugiyono dan Borg and Gall terdiri dari 5 tahapan yaitu, (1) potensi masalah, (2) desain produk, (3) validasi produk (4) ) instrumen ujicoba (5) uji coba terbatas. Hasil dari penelitian ini adalah berupa buku guru dan buku siswa kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pengembangan buku guru dan buku siswa menggunakan pendekatan PMRI yang memuat lima karakterisik PMRI yaitu penggunaan konteks, penggunaan model konkrit, konstruksi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan.

Kualitas produk yang dikembangkan berdasarkan hasil validasi memperoleh nilai 4.06 untuk buku guru, dan nilai 4.19 untuk buku siswa dari rentangan 1-5. Kedua nilai tersebut masuk dalam kategori “baik”. Selanjutnya produk diujicobakan. Uji coba dilakukan di SDN Plaosan 1. Hal itu ditunjukkan dari hasil prestest dengan rata-rata nilai lima siswa 52 meningkat pada hasil

posttest dengan rata-ratanya 77. Sehingga hasil yang diperoleh meningkat sebesar 25 dengan presentase 48% dari hasil pretest dan posttest.

(2)

ABSTRACT

DEVELOPMENT OF TEACHER’S BOOK AND STUDENT’S BOOK

MATHEMATICS SUBJECT FOR SECOND GRADE ELEMENTARY SCHOOL BASED ON PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK

INDONESIA (PMRI) APPROACH

NURHAYATI Sanata Dharma University

2017

The background of this research was from the limited of the teacher’s book and student's book that suitable to the developmental level of second grade elementary school children in mathematics, especially about measuring tool length non standart unit and standart unit. The aim of this research was to describe the process of development a Third Grade Elementary School’s Teacher’s book and Student’s Book and to describe the qualities of teacher’s book and student’s book based on PMRI approach.

This research used research and development method. Research and development was modified from 10 stages (by Sugiyono and Borg and Gall) into five stages: 1) the potential for problems, 2) design for product, 3) validation average score, while for student's was “good” too with 4.19 average score with a score range 1 – 5, and then the product was to be tried out. The result of the try out pointed, that the product had possitive influence for learning process . It was proved the student's had increased learning result from the grade of 5 student's got 52 in pretest to 77 in posttest average. It had increased 25 or 48 percent before and after to used the productions.

(3)

i

PENGEMBANGAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA MATA

PELAJARAN MATEMATIKA KELAS II SEKOLAH DASAR

DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

REALISTIK INDONESIA (PMRI)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh: Nurhayati NIM: 131134164

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

i

PENGEMBANGAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA MATA

PELAJARAN MATEMATIKA KELAS II SEKOLAH DASAR

DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

REALISTIK INDONESIA (PMRI)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh: Nurhayati NIM: 131134164

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)
(6)
(7)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Allah SWT, Tuhan Yang Mahas Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya selama menyusun skripsi.

2. Kepada Ibu saya Komariyah yang selalu menyayangi, mengasihi dan menasehati ketika saya merasa lelah dan putus asa

3. Kedua kakak saya Paryati dan Ekwanto yang sangat besar bantuannya khususnya penyediaan materi yang lancar sampai saya lulus dan membantu dalam penyusunan produk.

4. Keluarga besar, om, tante, pakdhe, budhe, simbah yang sudah memotivasi agar selalu bersemangat dan segera lulus, serta kakak-kakak dan adik-adik yang selalu menganggu ketika menyusun skripsi.

5. Sahabat Angel dan Desti yang selalu ada untuk saya, membantu dan mensuport saya ketika saya malas.

6. Sahabat terkasih Dwi Wibowo yang selalu memberikan semangat agar cepat menyelesaikan skripsi.

7. Teman-teman terdekat yang selalu berbagi kegembiraan suka dan duka selama kuliah.

8. Teman sepayung PMRI yang selalu memberi arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi

9. SD N Plaosan 1 yang memberi ruang dan waktu, terlebih untuk izin, serta bimbingan baik dari kepala sekolah maupun para guru yang telah memberikan segala kebutuhan selama penyusunan skripsi.

10.Almamater, para dosen dan karyawan PGSD USD yang banyak memberi pembelajaran berharga serta pengalaman yang luar biasa.

(8)

v

MOTTO

“Hidup itu tantangan jangan pernah menyerah hanya karena

tantangan, justru dengan tantangan itulah kita akan menjadi pribadi

yang lebih baik.”

“Belajar, berdoa dan berusaha”

“Mencintai kegagalan, mengubah ketakutan menjadi kesenangan,

karena orang yang berhasil adalah orang yang paling banyak

mengalami kegagalan”

-Darren Hardy-

(9)
(10)
(11)

viii

ABSTRAK

PENGEMBANGAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS II SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA

(PMRI)

NURHAYATI

Universitas Sanata Dharma 2017

Latar belakang masalah penelitian ini adalah adanya keterbatasan buku yang sesuai dengan perkembangan anak sekolah dasar kelas II pada mata pelajaran matematika khususnya materi pengukuran satuan tidak baku dan satuan baku. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. serta Mendeskripsikan kualitas produk buku guru dan buku siswa mata pelajaran kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia menurut pakar matematika.

Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R & D). Penelitian pengembangan ini dimodifikasi dari tahap –tahap model Sugiyono dan Borg and Gall terdiri dari 5 tahapan yaitu, (1) potensi masalah, (2) desain produk, (3) validasi produk (4) ) instrumen ujicoba (5) uji coba terbatas. Hasil dari penelitian ini adalah berupa buku guru dan buku siswa kelas II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pengembangan buku guru dan buku siswa menggunakan pendekatan PMRI yang memuat lima karakterisik PMRI yaitu penggunaan konteks, penggunaan model konkrit, konstruksi siswa, interaktivitas, dan keterkaitan.

Kualitas produk yang dikembangkan berdasarkan hasil validasi memperoleh nilai 4.06 untuk buku guru, dan nilai 4.19 untuk buku siswa dari rentangan 1-5. Kedua nilai tersebut masuk dalam kategori “baik”. Selanjutnya produk diujicobakan. Uji coba dilakukan di SDN Plaosan 1. Hal itu ditunjukkan dari hasil prestest dengan rata-rata nilai lima siswa 52 meningkat pada hasil

posttest dengan rata-ratanya 77. Sehingga hasil yang diperoleh meningkat sebesar 25 dengan presentase 48% dari hasil pretest dan posttest.

(12)

ix

ABSTRACT

DEVELOPMENT OF TEACHER’S BOOK AND STUDENT’S BOOK

MATHEMATICS SUBJECT FOR SECOND GRADE ELEMENTARY SCHOOL BASED ON PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK

INDONESIA (PMRI) APPROACH

NURHAYATI Sanata Dharma University

2017

The background of this research was from the limited of the teacher’s book and student's book that suitable to the developmental level of second grade elementary school children in mathematics, especially about measuring tool length non standart unit and standart unit. The aim of this research was to describe

the process of development a Third Grade Elementary School’s Teacher’s book and Student’s Book and to describe the qualities of teacher’s book and student’s

book based on PMRI approach.

This research used research and development method. Research and development was modified from 10 stages (by Sugiyono and Borg and Gall) into five stages: 1) the potential for problems, 2) design for product, 3) validation average score, while for student's was “good” too with 4.19 average score with a score range 1 – 5, and then the product was to be tried out. The result of the try out pointed, that the product had possitive influence for learning process . It was proved the student's had increased learning result from the grade of 5 student's got 52 in pretest to 77 in posttest average. It had increased 25 or 48 percent before and after to used the productions.

(13)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala curahan rahmat, kecerdasan, ketelitian, kesabaran dan kesehatan selama penyusunan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:

“PENGEMBANGAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS II SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN PMRI ”

Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana di Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah terlibat dalam penyusunan skripsi ini, baik melalui bantuan secara langsung, arahan, dukungan, serta motivasi, untuk itu dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rohandi, Ph. D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Apri Damai Sagita Krissandi S.S., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program

Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Drs. Paulus Wahana M.Hum., selaku dosen pembimbing I dan Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, dan arahan selama proses penelitian dan penulisan skripsi dari awal hingga selesai.

5. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan berbagai pengalaman, pelajaran dan pendidikannya.

(14)
(15)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

(16)

xiii

2.1.1Matematika ... 10

2.1.1.2 Pengukuran Panjang Satuan Tidak Baku dan Satuan Baku ... 13

2.1.2 Tahap Perkembangan Anak ... 14

2.1.3PMRI ... 13

2.1.3.1 Sejarah PMRI ... 17

2.1.3.2 Karakteristik PMRI ... 18

2.1.3.3 Prinsip PMRI ... 21

2.1.4 Buku Ajar ... 23

2.2 Penelitian Relevan ... 24

2.3 Kerangka Berpikir ... 29

2.4 Pertanyaan Penelitian ... 30

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Setting Penelitian ... 32

3.2.1 Tempat Penelitian ... 32

3.2.2 Subyek Penelitian ... 32

3.2.3 Obyek Penelitian ... 33

3.2.4 Waktu Penelitian ... 33

3.3 Prosedur Pengembangan ... 33

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 43

3.4.1 Tes ... 43

3.4.2 Non Tes ... 44

3.4.2.1 Wawancara ... 44

3.4.2.2 Kuesioner ... 45

3.5 Instrumen Penelitian ... 46

3.5.1 Soal Tes ... 46

3.5.2 Pedoman Wawancara ... 47

3.6 Teknik Analisis Data ... 50

3.6.1 Tes ... 50

3.6.1.1 Validitas Dan Reliabilitas ... 50

(17)

xiv

3.6.2 Non Tes ... 54

3.6.2.1 Kuesioner ... 54

3.7 Jadwal Penelitian ... 59

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 60

4.1.1. Proses Pengembangan buku guru dan buku siswa dengan pendekatan PMRI 60 a. Situasi Pembelajaran Matematika di Kelas ... 60

b. Pengembangan Produk ... 64

4.1.2 Kualitas buku guru dan buku siswa dengan pendekatan PMRI ... 71

a. Kualitas Produk ... 71

b. Dampak Produk ... 80

4.2 Pembahasan ... 84

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 89

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 90

5.3 Saran ... 91

DAFTAR REFERENSI ... 92

CURICULLUM VITAE ... 95

(18)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1Kisi-Kisi Soal Pretest Dan Posttest ... 46

Tabel 3.2 Kisi-kisi Wawancara Guru ... 47

Tabel 3.3 Kisi-kisi Wawancara Siswa ... 48

Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Buku Guru ... 48

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Buku Siswa ... 49

Tabel 3.6 Kualifikasi Reliabilitas ... 53

Tabel 3.7 Konversi Data Kuantitatif Ke Data Kualitatif ... 56

Tabel 3.8 Tabel Kriteria Skal a Lima (Sukardjo, 2008: 101) ... 58

Tabel 3.9 Jadwal Penelitian ... 59

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Wawancara ... 61

Tabel 4.2 Hasil Validasi Buku Guru ... 72

Tabel 4.3 Kriteria Skala Lima (Sukardjo, 2008: 101) ... 73

Tabel 4.4 Hasil Validasi Buku Siswa ... 74

Tabel 4.5 Rekapitulsi Validitas Soal ... 81

Tabel 4.6 Rekapitulasi Reliabiltas Soal ... 82

(19)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Buku Guru ... 10

Gambar 1.2 Buku Siswa ... 10

Gambar 3.1 Rumus Korelasi Product Moment ... 51

Gambar 3.2 Rumus Alpha Cronbach ... 52

Gambar 3.3 Rumus Penilaian Soal Tes ... 53

Gambar 3.4 Rumus Penilaian Soal Tes ... 54

Gambar 3.5 Rumus Presentase Kenaikan Nilai ... 54

Gambar 3.6 Rumus Perhitungan Nilai Setiap Aspek ... 55

Gambar 3.7 Rumus Nilai Dari Setiap Ahli ... 55

Gambar 3.8 Rumus Nilai Rata-Rata Produk ... 55

Gambar 4.1 Sampul Buku Guru dan Buku Siswa ... 65

Gambar 4.2 (A) Halaman Judul, (B) Kata Pengantar, ... 66

Gambar 4.3 Petunjuk Penggunaan Buku dan Daftar Isi ... 67

Gambar 4.4 Kegiatan Konkrit Buku Siswa ... 67

Gambar 4.5 Kegiatan Konkrit Buku Guru ... 68

Gambar 4.6 Contoh Latihan (Semi Konkrit Menggunakan Gambar) ... 69

(20)

xvii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Literature Map dari Penelitian Relevan ... 28 Bagan 3.1 Langkah-Langkah R & D Menurut Sugiyono (2010:408) ... 34 Bagan 3.2 Langkah-langkah R & D Menurut Borg and Gall ... 37 Bagan 3.3 Tahap Penelitian dan Pengembangan Terkait Lima Langkah yang

(21)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Validasi Buku Guru... 96

Lampiran 2. Kuesioner validasi buku siswa ... 98

Lampiran 3. Hasil Valisasi Buku Guru Oleh Ahli 1 ... 100

Lampiran 4. Hasil Validasi Buku Guru Oleh Ahli 2 ... 104

Lampiran 5. Hasil Validasi Buku Siswa Oleh Ahli 1 ... 108

Lampiran 6. Hasil Validasi Buku Siswa Oleh Ahli 2 ... 112

Lampiran 7. Soal dan Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest ... 116

Lampiran 8. Tabel Validitas Soal Uji Empiris Menggunakan SPSS 22 For Windows ... 122

Lampiran 9. Tabel Reliabilitas Soal Uji Empiris Menggunakan SPSS 22 For Windows ... 126

Lampiran 10. Surat Ijin Penelitian ... 127

Lampiran 11. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 128

Lampiran 12. Surat untuk Validator... 129

Lampiran 13. Dokumentasi ... 130

Lampiran 14. Rencana pelaksanaan pembelajaran ... 132

Lampiran 15. Pedoman Wawancara Guru ... 139

(22)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab pendahuluan memuat delapan hal yang dibahas. Delapan hal tersebut

adalah latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah,

rumusan masalah, tujuan masalah, manfaat penelitian, spesifikasi produk, dan

definisi operasional.

1.1Latar Belakang

Matematika adalah bahasa numerik yang melambangkan serangkaian

hitungan dari pertanyaan yang ingin disampaikan (Wahana, 2010: 115).

Matematika menurut Kline (dalam Runtukahu, 2014: 50) adalah pengetahuan

yang tidak berdiri sendiri, tetapi dapat membantu manusia untuk memahami dan

memecahkan permasalahan sosial, ekonomi dan alam. Sedangkan menurut Reys

dkk (dalam Runtukahu, 2014: 50) mengatakan bahwa matematika adalah studi

tentang pola dan hubungan cara berpikir dengan strategi organisasi, analisis dan

sintesis, seni, bahasa, dan alat untuk memecahkan masalah abstrak dan praktis.

Tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah 1)menumbuhkan

dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai

alat dalam kehidupan sehari-hari, 2)menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat

dialihgunakan melalui kegiatan matematika, 3)membentuk sikap logis, kritis,

(23)

2 Dalam mempelajari matematika dibutuhkan proses belajar yang baik.

Menurut Cronbach (dalam Yamin, 2015: 11) belajar ditunjukkan dengan adanya

perubahan-perubahan sikap sebagai hasil pengalaman. Spears (dalam Yamin,

2015: 11) belajar dimulai dari kegiatan mengamati, membaca, meniru, mencoba

sendiri, mendengarkan, dan mengikuti perintah. Anak usia SD yaitu umur 7-12

tahun, masuk dalam tahap perkembangan anak tahap operasional konkret.

Objek-objek matematika perlu diwujudkan secara lebih konkret, sehingga memudahkan

siswa dalam memahaminya (Soedjadi, 2000: 7). Proses belajar ini dapat dilakukan

untuk memahami berbagai materi dalam matematika di SD.

Faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar ialah faktor intern dan

faktor ekstern (Slameto, 2010: 55). Faktor intern adalah faktor yang muncul dari

dalam diri seseorang. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang muncul dari

luar diri seseorang. Faktor ekrtern yaitu ada keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Lingkungan keluarga berupa cara mendidik, relasi anatara anggota keluarga,

suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi. Faktor ekstern yang kedua adalah

faktor sekolah. Di dalam sekolah terdapat cara mengajar, kurikulum, relasi guru

dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu

sekolah, standar pelajaran, gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Sedangkan

faktor yang ketiga adalah faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa di masyarakat,

mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. Seorang anak

akan dapat belajar dengan baik ketika semua aspek itu berada dalam keadaan yang

(24)

3 siswa. Selanjutnya dihadapkan pada realitas kehidupan untuk menemukan

masalah hitungan dan penyelesaiannya.

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan oleh peneliti,

proses belajar matematika di 4 SD wilayah Sleman Barat yang meliputi SDN

Plaosan 1, SDN Plaosan 2, SDN Susukan, dan SDK Jetis Depok terdapat

faktor-faktor belajar yang memiliki kekurangan. Peneliti melakukan wawancara pada

bulan September 2016 pada kelas II SD. Hasil wawancara yang peneliti lakukan

pada guru dan siswa di 4 SD, peneliti mendapatkan data bahwa guru

menggunakan alat peraga pembelajaran hanya pada satu atau dua materi saja,

sehingga belum terpenuhi jika harus semua materi diajarkan dengan alat peraga.

Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan siswa mengalami

kesulitan dalam memahami sebuah materi. Guru jarang menggunakan alat peraga

dalam pembelajaran karena mengalami kesulitan dalam mencari referensi alat

peraga yang ada di sekitar anak. Buku yang digunakan saat ini tidak memberikan

referensi alat-alat peraga yang mungkin bisa digunakan oleh guru. Oleh karena

itu, proses belajar dapat dikatakan terganggu karena ada faktor alat pelajaran yang

kurang memadai.

Wawancara tidak berhenti pada alat pelajaran yang digunakan saja. Guru

mengatakan bahwa materi yang diajarkan pada siswa tidak semuanya dapat

diajarkan atau diterima oleh siswa dengan mudah. Saat peneliti melakukan

wawancara ternyata guru mengatakan bahwa materi pengukuran panjang satuan

baku dan tidak baku sudah diajarkan menggunakan media tetapi guru merasa

(25)

4 baku dan satuan tidak baku secara mendalam kepada siswa. Setelah saya

melakukan wawancara pada siswa mengenai materi tersebut, siswa juga

mengatakan bahwa dia belum memahami perbedaan satuan baku dan satuan tidak

baku. Hal ini dapat terlihat juga saat peneliti mencoba memberikan pertanyaan

pancingan kepada mereka mengenai pemahaman satuan baku dan tidak baku.

Siswa ternyata belum bisa menjawab dengan tepat.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan buku

di sekolah dasar wilayah Sleman Barat ini adalah pendekatan Pendidikan

Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pendidikan Matematika Realistik

Indonesia (PMRI) adalah Pendidikan Matematika sebagai hasil adaptasi dari

Realistic Mathematics Education yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat Indonesia (Suryanto, 2010: 37). Pendekatan

PMRI ini menumbuhkan suatu kebermaknaan pada pembelajaran melalui

pengalaman nyata yang terdapat pada kehidupan sehari-hari (Wijaya, 2012:20).

Pendapat mengenai pendekatan PMRI tersebut dapat memberikan gambaran

bahwa pendekatan tersebut dapat membantu memecahkan masalah tentang buku

yang belum memberikan referensi alat-alat peraga yang dapat digunakan di

sekolah yang mudah ditemui oleh guru maupun siswa. Selain alat peraga, kegiatan

pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan PMRI ini selalu memperhatikan

lima karakteristik PMRI, sehingga siswa akan lebih mudah dalam memahami

sebuah materi.

Berdasarkan paparan di atas peneliti akan melaksanakan penelitian dan

(26)

5

“Pengembangan Buku Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Matematika Kelas II

Sekolah Dasar dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

(PMRI)”. Penelitian dan pengembangan ini merupakan salah satu upaya

melakukan inovasi pembelajaran. Peneliti mengembangkan alat pembelajaran

dengan serangkaian uji coba untuk menguji kualitas produk yang dibuat.

Pengembangan buku guru dan buku siswa dengan Pendekatan Pendidikan

Matematika Realistik Indonesia (PMRI) disesuaikan dengan materi di SD. Peneliti

memilih SDN Plaosan 1 yang beralamat di Plaosan, Tlogoadi, Mlati, Sleman,

sebagai sampel uji coba lapangan terbatas. Materi matematika yang digunakan

dibatasi pada Standar Kompetensi 2. Menggunakan pengukuran waktu, panjang

dan berat dalam pemecahan masalah”, dengan Kompetensi Dasar “2.2

Menggunakan alat ukur panjang tidak baku dan baku yang sering digunakan”.

Peneliti mengambil 5 siswa di kelas II sebagai responden. Penelitian dilaksanakan

pada semester ganjil tahun ajaran 2015/2016 yang berfokus pada mata pelajaran

matematika khususnya materi pengukuran panjang satuan baku dan tidak baku.

Tujuan pengembangan buku guru dan buku siswa ini adalah sebagai sumbangan

ilmu terhadap pendidikan di Indonesia tentang pengembangan alat pembelajaran

yang telah diuji secara ilmiah untuk mengetahui kualitas buku tersebut.

1.2Identifikasi Masalah

Permasalah yang akan diselesaikan pada penelitian ini :

1. Kurangnya alat pembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan belajar

(27)

6 2. Menyelesaikan masalah mengenai materi yang sulit untuk dipahami

siswa mengenai pengukuran panjang satuan baku dan tidak baku.

3. Pengadaan buku dalam pembelajaran untuk mempermudah proses belajar

dan mengajar.

1.3Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada pengembangan buku guru dan buku siswa

mata pelajaran matematika materi pengukuran panjang satuan tidak baku dan

baku kelas II dengan menggunakan pendekatan Pendidikan Matematika

Realistik Indonesia (PMRI).

1.4Rumusan Masalah

1.4.1 Bagaimana proses pengembangan buku guru dan buku siswa kelas II

sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik

Indonesia?

1.4.2 Bagaimana kualitas buku guru dan buku siswa kelas II sekolah dasar

dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia?

1.5Tujuan Penelitian

1.5.1 Mendeskripsikan proses pengembangan buku guru dan buku siswa kelas

II sekolah dasar dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik

(28)

7 1.5.2 Mendeskripsikan kualitas buku guru kelas II sekolah dasar dengan

pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia menurut pakar

matematika.

1.6Manfaat Penelitian

1.6.1 Bagi Siswa

Bagi siswa agar lebih mudah memahami materi melalui kegiatan belajar

dan media pembelajaran yang dekat dengan mereka sesuai buku siswa yang telah

dibuat dengan memasukkan kharakteristik PMRI di dalamnya pada materi

matematika khususnya pengukuran panjang satuan baku dan tidak baku kelas II.

1.6.2 Bagi Guru

Bagi guru agar lebih mudah dalam menyampaikan materi melalui buku

guru yang telah dibuat lebih detail dari pada buku siswa mengenai materi

matematika khususnya pengukuran panjang satuan baku dan tidak baku kelas II

dengan menggunakan pendekatan PMRI.

1.6.3 Bagi peneliti

Bagi peneliti agar memiliki pengalaman melakukan penelitian Research and Development (R&D) khususnya mengetahui kebutuhan buku guru dan buku siswa mengenai materi matematika khususnya pengukuran panjang satuan baku

(29)

8

1.7Definisi Operasional

1. Matematika adalah adalah ilmu pengetahuan tentang bilangan yang

melambangkan serangkaian hitungan dengan numerik atau angka yang

berfungsi sebagai sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan yang

dapat digunakan untuk membantu siswa menyelesaikan masalah matematika

dalam kehidupan sehari-hari.

2. Satuan tidak baku adalah satuan yang tidak ditetapkan sebagai satuan

pengukuran secara umum.

3. Satuan baku adalah satuan yang ditetapkan sebagai satuan yang ditetapkan

sebagai satuan pengukuran secara umum (internasional).

4. Siswa SD adalah anak-anak sekolah dasar yang berusia sekitar 7-12 tahun yang mengikuti pembelajaran di lembaga formal (tahap operasional konkret).

5. Pendidikan matematika realistik Indonesia adalah Pendidikan Matematika

sebagai hasil adaptasi dari Realistic Mathematics Education yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat

Indonesia.

6. Buku guru adalah petunjuk penggunaan Buku Siswa dan sebagai acuan

kegiatan pembelajaran di kelas.

7. Buku siswa adalah buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan

(30)

9

1.8Spesifikasi produk

1. Produk yang dikembangkan buku ini adalah buku guru dan buku siswa dengan

pendekatan PMRI. Buku siswa memuat materi mengenai pengukuran panjang

satuan baku dan tidak baku dengan memperhatikan kharakteristik PMRI pada

setiap langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan media yang digunakan.

Buku guru memiliki isi yang hampir sama dengan buku siswa namun ada

beberapa penjelasan tambahan pada setiap langkah kegiatannya sebagai

referensi dan pengingat agar pembelajaran dapat berjalan dengan lebih baik.

Selain itu, pada buku guru diberikan catatan mengenai karakteristik PMRI

yang digunakan dalam setiap langkah kegiatannya.

2. Ukuran buku guru dan buku siswa adalah sama. Buku guru menjelaskan

langkah-langkah yang lebih rinci dari buku siswa dan referensi alat peraga lain

yang dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman siswa. Meskipun ada

penjelasan yang lebih lengkap, tetapi halaman penulisannya tetaap sama seperti

di buku siswa. Hal inilah yang membuat ukuran kedua buku ini sama. Panjang

buku siswa adalah 29,4 cm lebar buku adalah 21 cm dan tebalnya 0,2 cm.

Sehingga ukuran buku adalah 29,4 cm x 21 cm x 0,2 cm

3. . Komponen dari buku guru dan buku siswa ini hampir sama. Halaman paling

depan adalah sampul, kemudian ada halaman judul, kata pengantar, petunjuk

penggunaan buku, daftar isi. Pada bagian isi berisi 2 subbab utama yaitu

kegiatan pada pengukuran dengan satuan tidak baku dan pengukuran pada

(31)

10 pemahaman materi. Selanjutnya dibagian akhir ada daftar pustaka dan daftar

riwayat hidup penulis.

Gambar. 1.1 Buku guru Gambar. 1.2 Buku siswa

21 cm

29.4 cm

(32)

11

BAB 2

LANDASAN TEORI

Bab ini membahas (1) kajian pustaka, (2) kerangka berpikir, (3)

pertanyaan penelelitian.

2.1Kajian Pustaka 2.1.1 Matematika

Salah satu mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh siswa sekolah dasar

adalah matematika. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan

kalkulasi (Soedjadi, 2000: 11). Matematika adalah bahasa numerik yang

melambangkan serangkaian hitungan dari pertanyaan yang ingin disampaikan

(Wahana, 2010: 115). Fungsi dari mata pelajaran matematika adalah sebagai alat,

pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Pertama, fungsi sebagai alat artinya

matematika sebagai penghubung suatu informasi tertentu. Informasi yang

dihubungkan dalam matematika seperti melalui tabel dalam model matematika.

Kedua, fungsi sebagai pola pikir artinya matematika dapat membentuk pola pikir

dalam memahami suatu pengertian dan penalaran tertentu. Ketiga, fungsi sebagai

ilmu atau pengetahuan, artinya matematika selalu mencari kebenaran serta

meralatnya sebagai usaha mengembangkan pengetahuan.

Lerner & Reys mengatakan bahwa matematika tidak dapat disamakan

dengan berhitung atau aritmatika. Aritmatika dan berhitung adalah pengetahuan

(33)

12 Pengertian matematika tidak dapat dijelaskan secara pasti. Namun ada

beberapa pendapat yang mengemukakan tentang pengertian matematika.

Beberapa pengertian dalam buku karangan Runtukahu memuat tentang pengertian

matematika yaitu oleh Johnson & Rising (1972) mengatakan bahwa matematika

adalah pengetahuan terstruktur, dimana sifat dan teorinya dibuat secara deduktif

berdasarkan unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didefinisikan dan

berdasarkan aksioma, sifat atau teori yang telah dibiktukan kebenarannya.

Kemudian Beth & Piaget (1956) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan

matematika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai struktur abstrak

dan hubungan antar-struktur tersebut sehingga terorganisasi dengan baik.

Sementara Kline (1972) mengatakan bahwa matematika adalah pengetahuan yang

tidak dapat berdiri sendiri, tetapi dapat membantu manusia unuk memahami dan

memecahkan permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Berdasarkan beberapa

pendapat ahli tentang matematika tersebut, maka peneliti dapat menyatakan

bahwa matematika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan

sosial, ekonomi dan alam serta dapat dibuktikan kebenarannya.

Matematika di SD kebanyakan memusatkan pada keterampilan berhitung

(penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian bilangan bulat, pecahan dan

decimal) sehingga ketika anak sudah menguasai hal itu, maka dianggap siswa

telah menguasai matematika. Objek-objek matematika perlu diwujudkan secara

lebih konkret, sehingga memudahkan siswa dalam memahaminya (Soedjadi,

2000: 7). Hal-hal yang bersifat abstrak dan sulit dibayangkan oleh siswa dapat

(34)

13 Pembelajaran yang terjadi juga menciptakan suatu interaktivitas, sehingga setiap

siswa dapat terlibat aktif di dalamnya. Tujuan dari pembelajaran matematika di

sekolah dasar adalah 1)menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan

berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari,

2)menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan

matematika, 3)membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin

(Soedjadi, 2000: 44).

Berdasarkan paparan di atas, pengertian matematika adalah adalah ilmu

pengetahuan tentang bilangan yang melambangkan serangkaian hitungan dengan

numerik atau angka yang berfungsi sebagai sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau

pengetahuan yang dapat digunakan untuk membantu siswa menyelesaikan

masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.1.1Pengukuran Panjang Satuan Tidak Baku dan Satuan Baku

Pengukuran panjang di kelas II adalah mengenai pengukuran satuan tidak

baku dan satuan baku. Satuan tidak baku contohnya adalah jengkal, depa, hasta,

atau bisa juga menggunakan benda-benda yang ada di sekitar yang sama besarnya

atau panjangnya. Kemudian satuan baku dapat berupa penggaris dan metlin

(Purnomo, 2008: 52). Pada kelas II alat ukur yang digunakan untuk mengukur

panjang baru sebatas itu saja.

Satuan panjang tidak baku dapat disebutkan dengan menggunakan nama

alat yang digunakan. Misal mengukur menggunakan jengkal berarti jengkal

(35)

14 juga merupakan satuannya. Hal ini tidak berlaku pada pengukuran panjang satuan

baku. Satuan panjang yang baku adalah cm (centimeter) dan m (meter) (Purnomo,

2008: 52). “100 cm sama dengan 1 m”, konsep itulah yang perlu diajarkan pada

siswa. Alat ukur baku akan menghasilkan perhitungan yang sama disemua tempat

dan oleh siapa saja yang mengukur (Mustoha, 2008: 95).

Selain mengukur panjang menggunakan alat, pada bab ini siswa juga

diajari dalam menaksir tinggi atau panjang suatu benda. Membandingkan tinggi

rendahnya suatu benda, panjang pendeknya dan mengurutkan panjang benda dari

terpanjang ke terpendek atau sebaliknya.

2.1.2 Tahap Perkembangan Anak

Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan dalam diri

individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju

tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis,

progresif, dan berkesinambungan (Yusuf & Sugandhi, 2011:1). Perkembangan

dapat juga diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan kualitatif individu

dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa bayi, masa

kanak-kanak, masa anak, masa remaja, sampai masa dewasa (Yusuf &

Sugandhi,2011:1).

Piaget menyebutkan bahwa perkembangan kognitif anak-anak berjalan

melalui sebuah rangkaian tetap (Schunk, 2012: 332). Pola operasi yang dilakukan

anak-anak dilakukan sebagai sebuah level atau tahapan. Beberapa tahapan yang

(36)

15 1. Tahap Sensorimotor

Pada tahapan ini anak berusia dari lahir sampai 2 tahun, dalam tahapan ini

tindakan-tindakan anak secara spontan dan menunjukkan usaha untuk memahami

dunia. Pemahaman bersumber dari tindakan di saat sekarang.

2. Tahap Pra-operasional

Usia anak dalam tahapan ini adalah 2-7 tahun. Pada tahapan ini anak-anak

mampu membayangkan masa mendatang dan berpikir tentang masa yang telah

lewat, meskipun persepsi mereka masih sangat berorientasi pada masa sekarang.

Mereka juga belum mampu berpikir dengan lebih dari satu dimensi pada satu saat.

Anak-anak pada tahapan pra-operasional memperlihatkan ireversibilitas, yaitu

ketika sesuatu telah dilakukan, sesuatu tersebut tidak dapat diubah. Mereka

kesulitan untuk membedakan antara fantasi dan kenyataan. Tahapan ini adalah

periode perkembangan bahasa yang pesat. Karakteristik lainnya adalah anak-anak

menjadi lebih tidak egosentris. Mereka menyadari bahwa orang-orang lain

mungkin berpikir dan merasakan hal yang berbeda dengan yang mereka pikirkan

dan rasakan.

3. Tahap Operasional Konkret

Usia anak dalam tahapan ini adalah 7 sampai 11 tahun. Tahapan

Operasional Konkret ditandai dengan pertumbuhan kognitif yang luar biasa dan

merupakan tahapan formatif dalam pendidikan sekolah, karena ini masanya

bahasa dan penguasaan ketrampilan-ketrampilan dasar anak-anak bertambah cepat

secara dramatis. Anak-anak mulai menunjukkan beberapa pemikiran abstrak

(37)

16 tindakan. Anak-anak pada tahapan Operasional Konkret memperlihatkan

pikirannya yang sudah tidak egosentris, dan bahasa yang digunakan semakin

bersifat sosial. Cara berpikir anak-anak dalam tahapan ini tidak lagi didominasi

oleh persepsi, anak-anak dapat menggunakan pengalaman mereka sebagai acuan

dan tidak selalu bingung dengan apa yang mereka pahami.

4. Tahap Operasional Formal

Usia anak dalam tahapan operasional formal adalah 11 tahun sampai

dewasa. Tahapan operasional formal mengembangkan pikiran operasional

konkret. Pikiran anak-anak pada tahapan ini tidak lagi hanya terfokus pada hal-hal

yang dapat dilihat, anak-anak mampu berpikir tentang situasi-situasi hipotesis atau

pengandaian. Egosentrisme muncul pada diri remaja dimana mereka

membandingkan antara kenyataan dan kondisi ideal sehingga mereka sering

memperlihatkan cara berpikir yang idealistik.

Berdasarkan tahap perkembangan kognitif anak menurut Piaget, anak usia

Sekolah Dasar (SD) kelas II berada pada tahap operasional konkret yaitu usia 7

sampai 11 tahun. Anak usia Sekolah Dasar sudah memiliki kemampuan untuk

berpikir melalui urutan sebab akibat dan mulai mengenali banyaknya cara yang

bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Anak-anak

mulai menunjukkan beberapa pemikiran abstrak meskipun biasanya didefinisikan

dengan karakter-karakter atau tindakan-tindakan. Penting bagi seorang pendidik

untuk mampu mengetahui tahapan perkembangan anak didiknya. Pendidik harus

(38)

17 dengan tahap perkembangan anak yaitu konkret. Hal ini yang mendukung peneliti

untuk melakukan penelitian menggunakan pendekatan PMRI.

2.1.3 Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) 2.1.3.1Sejarah PMRI

Matematika merupakan suatu bentu aktivitas manusia merupakan

pernyataan Hans Freudental yang melandari pengembangan Pendidikan

Matematika Realistik (Realistic Matemathics Educations) (Wijaya, 2012:28).

Dalam buku Sejarah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia yang disusun

oleh Suryanto dkk tahun 2010 dijelaskan bahwa PMRI diadaptasi dari Pendidikan

Matematika Realistik yang dikembangkan di Belanda (institut Freudenthal,

Universitas Utrect). PMRI di Indonesia telah disesuaikan dengan khas budaya

Indonesia. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah Pendidikan

Matematika sebagai hasil adaptasi dari Realistic Mathematics Education yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat

Indonesia (Suryanto, 2010:37).

PMRI bermula dari sebuah usaha sekelompok kecil pendidik matematika

di Indonesia yang peduli terhadap masalah-masalah pendidikan matematika di

Indonesia. Pendidik tersebut berasal dari 5 universitas besar yang ada di Indonesia

yaitu ITB, UPI, Unesa, UNY dan USD. PMRI mulai dikembangkan setelah

Matematika modern di tinggalkan. Kelompok kecil berusaha untuk memonitor

perkembangan matematika di dunia internasional melalui kunjungan luar negeri

(39)

18 terhadap lahirnya PMRI di Indonesia adalah konferensi yang dilaksanakan di

Sanghai bulan Agustus 1994 dengan salah satu plenary lecture oleh Dr. Jan de Lange dari Institute Freudenthal, Universitas Utrect di Belanda yang menyajikan

makalah dengan judul : Mathematics Education Toward 2000. Inti dari makalah tersebut adalah mengenai pemakaian pendidikan matematika realistik yang

digunakan di Belanda. Dari sinilah maka RME (Realistic Mathematics Education) menjadi salah satu pertimbangan dalam usaha memperbaiki pendidikan

matematika di Indonesia. Jadi PMRI berkembang di Indonesia setelah tahun 2000.

Freudenthal mengatakan bahwa matematika sebaiknya diajarkan dengan

mengaitkannya dengan realitas pengalaman siswa serta relecan dengan

masyarakat. Kegiatan dan bahan pembelajarannya disusun sedemikian rupa

sehingga siswa dapat berpeluang untuk “menemukan kembali” (guide

re-invention) matematika. Ada dua jenis matematisasi yang dirumuskan yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Matematisasi horizontal adalah

merumuskan simbol-simbol matematika dari masalah kehidupan sehari-hari

siswa. Sedangkah matematisasi vertikal adalah memecahkan masalah yang

dirumuskan dengan symbol secara matematika.

2.1.3.2Karakteristik PMRI

Pendidikan Matematika Realistik mempunyai 5 karakteristik yang

dikemukakan oleh Treffers tahun 1987 (dalam Wijaya, 2012: 21-26). Kelima

(40)

19 menggunakan kontribusi siswa, menggunakan format interaktivitas, dan

memanfaatkan keterkaitan antartopik.

1. Menggunakan konteks

Konteks yang digunakan dalam pembelajaran adalah konteks yang nyata

atau yang bisa dibayangkan oleh siswa. Melalui penggunaan konteks, siswa

dilibatkan aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. Kegiatan ini

dilakukan setiap hari. Konteks yang digunakan dalam pembelajaran matematika

ini adalah konteks yang ada di Indonesia. Karena sesuai dengan tempat anak

belajar.

2. Menggunakan model

Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju matematika tingkat formal. Model buka

merujuk pada alat peraga melainkan suatu alat “vertical” dalam matematika yang

tidak dapat terlepas dari proses matematisasi. Karena model adalah proses

transmisi antara pemikiran siswa dari tahap konkret, semi konkret dan menuju

abstrak. Secara umum ada 2 macam model dalam PMRI yaitu model yang serupa

atau mirip dengan masalah nyatanya, yaitu disebut “model of” dan dapat pula

berupa model yang sudah lebih umum, yang mengarahkan siswa ke pemikiran

abstrak atau matematika formal, yaitu disebut “model for”.

3. Menggunakan kontribusi siswa

Dalam pembelajaran perlu sekali diperhatikan sumbangan atau kontribusi

siswa, yang berupa ide, atau variasi jawab, atau variasi cara pemecahan masalah.

(41)

20 dilakukan atau produksi yang perlu dihasilkan sehubungan dengan pemecahan

masalah kontekstual.

4. Interaktivitas

Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan

secara bersamaan sehingga disebut suatu proses sosial. Proses sosial dapat terjadi

jika adanya interaktsi antara siswa satu dengan yang lain da nada suatu aktivitas

yang dilakukan oleh mereka. Bentuk interaksi itu dapat juga macam- macam,

misalnya diskusi, negoisasi, memberi penjelasan atau komunikasi, dsb.

5. Memanfaatkan keterkaitan antar topik

Dalam pembelajaran matematika perlu disadari bahwa matematika adalah

suatu ilmu yang terstruktur, dengan konsistensi yang ketat. Keterkaitan antara

topik, konsep, operasi dsb sangat kuat, sehingga sangat dimungkinkan adanya

integrasi antar topik- topik. Pendidikan Matematika Realistik menempatkan

keterkaitan (intertwining) antar konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran.

Kelima karateristik tersebut harus muncul dalam buku yang akan dibuat

oleh peneliti, sehingga peneliti harus memperhatikan lebih detail mengenai

kegiatan pembelajaran yang akan disusun dalam produk yang dibuat. Jadi dalam

pembelajaran peneliti wajib menggunakan karakteristik menggunakan konsep,

interaktivitas, penggunaan model, adanya kontribusi dari siswa dan ada

(42)

21

2.1.3.3Prinsip PMRI

Suryanto (2010:42-43) PMRI memiliki beberapa prinsip yang merupakan

dasar teoritis PMR. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Guided Reinventing (Penemuan kembali secara terbimbing) dan

Progressive Mathematization (Matematisasi progresif)

Prinsip Guided Re-invention ialah penekanan pada penemuan kembali secara terbimbing. Melalui masalah konstektual yang realistik

(yang dapat dibayangkan atau dipahami oleh siswa), yang mengandung

topik-topik matematis tertentu yang disajikan, siswa diberi kesempatan

untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep

matematis. Jadi pembelajaran tidak diwali dengan pemberitahuan tentang

“ketentuan” atau “pengertian” atau “nama objek matematis” yang diikuti

dengan contoh-contoh serta penerapannya tetapi justru dimulai dengan

masalah kontekstual yang realistik, dan selanjutnya melalui aktivitas siswa

diharapkan dapat menemukan kembali pengertian, sifat meski dalam

bahasa informal.

2. Didactical Phenomenology (Fenomenologi Didaktis)

Prinsip ini menekankan pada fenomena pembelajaran yang bersifat

mendidik dan menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk

memperkenalkan topic-topik matematika kepada siswa. Pemilihan masalah

kontekstual harus disesuaikan dengan mempertimbangkan aspek

kecocokan dalam pembelajaran dan spek kecocokan dengan proses

(43)

22 termasuk model matematisyang harus ditemukan oleh siswa. Tetapi perlu

ditekankan tujuan utama pembelajaran dalam PMR yaitu lebih

menekankan pada pengalaman belajar yang bermakna atau proses belajar

yang bermakna serta sikap positif terhadap matematika bukan hanya

diketahuinya tentang konsep atau rumus bahakan jumlah soal yang

dikerjakan oleh siswa.

3. Self- developed model (Membangun sendiri model)

Prinsip ketiga menunjukkan adanya fungsi jembatan yang berupa

model. Karena bermula dari masalah kontekstual dan akan menuju pada

matematika formal yang akan diselesaikan oleh siswa dengan

kebebasannya, maka siswa akan mengembangkan model sendiri untuk

menyelesaikan masalahnya. Di sini terdapat “model of” yang sifatnya

masih dapat diesbut “matematika informal” model ini masih sederhana dan

masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Selanjutnya “model for”

adalah model yang memiliki sifat umum yaitu melalui generalisasi atau

formalisasi dapat mengembangkan model yang lebih umum, yang

mengarah ke matematika formal.

Dari pendapat ahli tersebut, dapat dilihat bahwa prinsip Pendidikan

Matematika Realistik (PMRI) berupa Guided Reinventing (Penemuan kembali secara terbimbing) dan Progressive Mathematization

(44)

23

2.1.4 Buku Ajar

Buku Ajar adalah buku teks yang digunakan sebagai rujukan standar

pada mata pelajaran tertentu (Akbar, 2013: 33). Berbeda dengan Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional no. 02 tahun 2008 (dalam Kurniasih, 2014: 66)

mengungkapkan bahwa buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan

dalam satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat

ketakwaan, akhlak mulia, dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan

teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuas estetis, peningkatan

kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional

pendidikan. Kurniasih dan Sani (2014: 60) mengungkapkan bahwa buku ajar yang

ditulis oleh seorang penulis atau guru tentulah harus berisikan buah pikirannya.

Akan tetapi buku tersebut haruslah diturunkan dari KD yang tertuang dalam

kurikulum, sehingga buku akan memberi makna sebagai bahan ajar bagi peserta

didik. Menurut Akbar (2013 : 33) ciri-ciri buku ajar adalah:

1. Sumber materi ajar

2. Menjadi referensi buku untuk mata pelajaran tertentu

3. Disusun sistematis dan sederhahana

4. Disertai petunjuk pembelajaran

Berdasarkan paparan di atas, dapat dikatakan bahwa buku ajar adalah

buku yang ditulis oleh penulis atau guru yang berisi buah pikirannya

berdasarkan standar pendidikan sehingga dapat digunakan dalam satuan

(45)

24 2014). Buku siswa adalah buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran (Kementrian

Pendidikan dan Kebudayaan, 2014). Berdasakan paparan di atas dapat di ketahui

bahwa buku guru dan buku siswa adalah salah satu buku teks yang memiliki

tujuan untuk mempermudah guru dan siswa dalam melakukan kegiatan belajar

mengajar. Guru biasanya saat merencanakan kegiatan melihat dari buku paket

yang digunakan secara bersama antara guru dan siswa. Sehingga tidak ada

panduan khusus bagi guru untuk melihat referensi kegiatan atau media lain yang

dapat digunakan. Melalui penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat

membantu guru dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih baik agar dapat

membantu siswa dalam memahami materi-materi yang sulit.

2.2Hasil Penelitian Relevan

Mayasari (2014) meneliti peningkatan kreativitas dan prestasi belajar

matematika siswa kelas III SD Negeri 1 Kebondalem Lor dengan menggunakan

pendekatan PMRI. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui penerapan

pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan

kreativitas dan prestasi belajar siswa kelas IIIA SD Negeri 1 Kebondalem Lor.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 1

siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIIA SD Negeri 1 Kebondalem Lor

yang berjumlah 25 siswa. Objek penelitian adalah kreativitas dan prestasi belajar

siswa pada mata pelajaran matematika. Teknik pengumpulan data yang digunakan

adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan

(46)

25 keterkaitan pada pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas dan prestasi

belajar. Kreativitas ditunjukan oleh kemampuan mengemukakan ide, mengajukan

ide yang tidak biasa, menghasilkan ide berdasarkan pemikirannya sendiri, serta

menguraikan ide secara rinci, sedangkan prestasi belajar ditunjukan oleh rata-rata

nilai dan jumlah siswa lulus KKM. Hasil observasi menunjukan adanya

peningkatan rata-rata tiap indikator kreativitas yaitu indikator kelancaran dari 2,84

menjadi 4,64, indikator keluwesan dari 2,32 menjadi 3,67, indikator keaslian dari

1,52 menjadi 2,97, dan indikator keterperincian dari 2,08 menjadi 3,68. Rata-rata

keseluruhan skor kreativitas siswa meningkat dari 8,76 menjadi 14,96. Rata-rata

nilai siswa juga mengalami peningkatan dari 69,9 menjadi 81,36. Persentase

jumlah siswa yang lulus KKM juga meningkat dari 76,5% menjadi 92%.

Pendekatan PMRI terlihat dalam kegiatan pembelajaran yang ditunjukan ketika

melakukan tanya jawab, demonstrasi, bekerja kelompok, dan presentasi. Guru

diharapkan menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika agar

meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar siswa.

Penelitian kedua dilakukan oleh Didit Yudianto (2016) yang berjudul

peningkatan keaktifan dan prestasi belajar menggunakan pendekatan pendidikan

matematika realistik Indonesia (PMRI) pada mata pelajaran matematika untuk

siswa kelas III SDN Plaosan 2 Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan

penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

Penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Pada tahap observasi terlihat bahwa

presentasi jumlah siswa yang aktif adalah 30% kemudian hasil penelitian pada

(47)

26 menjadi 77% pada siklus 1 dan pada siklus 2 sebesar 81,8%. Presentase lulus

KKM pada kondisi awal adalah 47,3% meningkat pada siklus 1 menjadi 72,7%

dan pada siklus 2 menjadi 86,36%. Oleh karena itu, penelitian menggunakan

pendekatan PMRI dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas

III SDN Plaosan 2 pada mata pelajaran Matematika semester ganjil tahun ajaran

2015/2016.

Kurbaita, dkk (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk

menghasilkan buku ajar matematika tematik integratif dengan materi pengukuran

benda. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SD IT Al-Furqon yang

berjumlah 27 siswa. Metode yang digunakan adalah pengembangan atau Research and Development. Prototipe buku ajar yang dikembangkan memiliki efek potensial untuk menggali kemampuan siswa kelas I SD IT Al-Furqon Palembang.

Dapat dilihat dari hasil uji coba, dari empat kali pertemuan yang dilakukan

peneliti rata-rata nilai tes siswa adalah 81,1 dan berada dalam kategori baik.

Ditunjukkan dari hasil tes 9 siswa yaitu (33,3%) termasuk dalam kategori sangat

baik, 11 orang siswa (40,7%) termasuk dalam kategori baik, 4 orang siswa

(14,8%) termasuk dalam kategori cukup dan 3 orang siswa (11,1%) termasuk

dalam kategori kurang.

Penelitian kedua tentang pengembangan buku yaitu oleh Janitasari

(2016) pengembangan buku ajar Math-Stories merupakan salah satu sarana guna

membantu memahamkan siswa dalam pembelajaran matematika. Buku ajar ini

dikhususkan untuk siswa kelas V SD/MI, mengenai materi bangun datar dan

(48)

27 buku ajar Math-Stories materi bangun datar dan bangun ruang dengan objek siswa kelas V SDN Windurejo II Mojokerto. Jenis penelitian ini adalah Research and Development atau pengembangan dan penelitian yang mengacu pada model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, dikembangkan oleh Borg and

Gall. Hasil dari penelitian pengembangan buku ajar Math-Stories dalam mata pelajaran matematika kelas V memenuhi kriteria sangat valid dan hasil uji ahli

materi mencapai tingkat kevalidan 95,7 % hasil uji ahli desain mencapai 96%, ahli

mata pelajaran mencapai 90.9% dan uji coba lapangan mencapai 97,5%. Hasil

belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan buku hasilnya meningkat, dapat

dilihat dari hasil rata-rata pretest yang hasilnya lebih rendah dibandingkan dengan hasil posttest yaitu rata-rata pretest 62,39 sedangkan posttest 84,78.

Penelitian relevan di atas memberikan gambaran bahwa PMRI dapat

membantu meningkatkan kreativitas, keaktifan dan prestasi belajar siswa. Selain

PMRI, buku ajar tentang matematika juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan mengenai pembelajaran

matematika di wilayah Sleman Barat, maka peneliti akan melakukan penelitian

yang berjudul Pengembangan Buku Guru dan Buku Siswa Matematika Kelas II

Sekolah Dasar dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

(49)

28 Bagan 2.1 Literature Map dari Penelitian Relevan.

Didit Yudianto (2016)

Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar

menggunakan pendekatan Pendidikan

Matematika Realistic Indonesia (PMRI) pada mata pelajaran matematika untuk siswa kelas III SDN Plaosan 2 Sleman, DI Yogyakarta

Mayasari (2014)

Peningkatan kreativitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 1

Kebondalem Lor dengan menggunakan

pendekatan PMRI.

Janitasari (2016)

Pengembangan buku ajar Math-Stories

materi bangun datar dan bangun ruang kelas V semester II SDN Windurejo 2 Mojokerto. Kurbaita (2013)

Pengembangan buku ajar Matematika tematik integratif materi Pengukuran berat benda

untuk kelas I SD.

Yang diteliti:

Pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas II sekolah dasar dengan pendekatan PMRI

(50)

29

2.3 Kerangka Berpikir

Matematika adalah adalah ilmu pengetahuan tentang bilangan yang

melambangkan serangkaian hitungan dengan numerik atau angka yang berfungsi

sebagai sebagai alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan yang dapat digunakan

untuk membantu siswa menyelesaikan masalah matematika dalam kehidupan

sehari-hari. Pembelajaran matematika lebih tepat apabila memberikan pengalaman

langsung kepada siswa sehingga siswa mampu memecahkan permasalahan

dengan caranya sendiri melalui pengalaman yang ada pada kehidupan sehari-hari,

sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan.

Pendekatan PMRI dianggap sebagai pendekatan yang paling tepat dalam

pembelajaran matematika karena menekankan kemampuan siswa dalam

menemukan jawabannya sendiri dari suatu pertanyaan melalui serangkaian

kegiatan yang dirancang oleh guru. Terdapat lima karakteristik pada pendekatan

PMRI yang dapat membantu siswa dalam mempelajari pelajaran matematika

supaya menjadi lebih mudah dalam memahami materi. 5 (lima) karakteristik

PMRI tersebut antara lain penggunaan konteks, penggunaan model, kontruksi

siswa, interaktivitas dan keterkaitan.

Buku guru dan buku siswa dikembangkan menggunakan pendekatan

PMRI agar dapat menjawab kebutuhan yang ada bagi siswa sesuai dengan usia

dan tahap perkembangannya. Melalui buku guru dan buku siswa yang

dikembangkan menggunakan pendekatan PMRI, guru dapat menarik perhatian

siswa melalui kegiatan-kegiatan yang membuat siswa lebih aktif. Selain itu, siswa

(51)

30 Berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh peneliti, terdapat

permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. Alat pelajaran yang ada

disekolah dianggap belum cukup karena siswa merasa alat peraga atau media yang

digunakan guru masih sangat sedikit. Selain itu, guru juga mengatakan bahwa

buku yang digunakan saat ini dalam pembelajaran matematika khususnya masih

sangat kurang, karena belum ada kegiatan yang konkret terhadap keseharian siswa

dan media-media atau alat peraga yang digunakan masih sedikit. Hal ini dapat

terjadi karena kurangnya referensi alat peraga yang disediakan di dalam buku

pelajaran yang sudah ada. Oleh karena itu, dengan adanya pengembangan buku

guru dan buku siswa dengan pendekatan PMRI ini, dapat menjadi salah satu

solusi untuk meningkatkan pemahaman belajar matematika siswa.

2.4Pertanyaan Penelitian

1. Berkaitan dengan proses pengembangan buku guru dan buku siswa

a. Bagaimana situasi di lapangan pada 4 SD di wilayah Sleman Barat

berkaitan pembelajaran matematika di kelas II?

b. Bagaimana prosedur penyusunan buku guru dan buku siswa kelas II

sekolah dasar dengan Pendekatan PMRI?

2. Berkaitan dengan kualitas buku guru dan buku siswa

a. Bagaimana kualitas buku guru dan buku siswa kelas II sekolah dasar

dengan Pendekatan PMRI berdasarkan penilaian ahli?

b. Bagaimana dampak penggunaan buku guru dan buku siswa kelas II

(52)

31

BAB 3

METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) waktu penelitian, (4) prosedur pengembangan, (5) instrument penelitian, (6) teknik

pengumpulan data, dan (7) teknik analisis data.

3.1Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

dan pengembangan atau dalam bahasa Inggris Research and Development (R&D). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan

untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut

(Sugiyono, 2010: 407). Menurut Borg and Gall (dalam Sugiyono, 2015: 28)

penelitian dan pengembangan merupakan proses atau metode yang digunakan

untuk memvalidasi dan mengembangkan produk. Memvalidasi produk artinya

produk itu telah ada dan peneliti hanya menguji efektivitas dari produk.

Sedangkan mengembangkan produk dalam arti luas dapat berupa memperbarui

produk yang telah ada (sehingga menjadi lebih praktis, efektif, dan efisien) atau

menciptakan produk baru (yang sebelumnya belum pernah ada).

Kegiatan pengembangan produk melibatkan multidisiplin dan hal desain,

proses, product quality assurance, inovasi, teknologi, marketing serta pengelolaan bisnis (Sugiyono, 2015: 30). Kegiatan penelitian dan pengembangan antara lain

(53)

32 Secara metodologis penelitian dan pengembangan dibagi dalam empat

tingkat kesulitan yaitu level 1 meneliti tanpa menguji, level 2 menguji tanpa

meneliti, level 3 meneliti dan menguji dalam upaya mengembangkan produk yang

sudah ada, level 4 meneliti dan menguji dalam menciptakan produk baru. Pada

penelitian ini peneliti masuk dalam penelitian dan pengembangan level 3 karena

peneliti membuat buku matematika yang sudah ada kemudian dikembangan

dengan pendekatan PMRI.

3.2Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di 5 SD di wilayah Sleman Barat

sedangkan untuk uji terbatas di SDN Plaosan 1, Sleman. SDN Plaosan 1 adalah

SD yang berada di tengah desa dan merupakan sekolah inklusi, sehingga di SD

tersebut memiliki karateristik siswa yang beranekaragam.

3.2.2 Subyek Penelitian

Subyek penelitian pada penelitian ini adalah guru kelas II dengan jumalah

5 orang dan 5 siswa di SD wilayah Sleman Barat. Khusus untuk uji coba terbatas

adalah 5 siswa kelas II SDN Plaosan 1 tahun pelajaran 2016/2017. Kelas di SDN

Plaosan ini mempunyai satu kelas yang berisi 26 anak. Jumlah tersebut sesuai

dengan ketentuan pemerintah sehingga dapat menjalankan pembelajaran dengan

lancar. Dari 26 anak tersebut, peneliti memakai seluruh siswa kelas II dalam uji

(54)

33 dan buku siswa ini berisi kegiatan pembelajaran yang memang dilaksanakan

dikelas, sehingga uji cobanya juga dilaksanakan di kelas demi mendapatkan data

yang relevan dengan penggunaannya nanti.

3.2.3 Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah Buku Guru dan Buku Siswa kelas II sekolah

dasar dengan Pendekatan PMRI untuk mempelajari materi satuan tidak baku dan

satuan baku.

3.2.4 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 7 bulan. Selama 7

bulan tersebut mencakup kegiatan analisis kebutuhan, pembuatan produk, validasi

produk oleh ahli, uji keterbacaan produk, uji empiris soal untuk pretest dan

posttest, uji coba produk, dan revisi produk.

3.3Prosedur Pengembangan

Metode penelitian dan pengembangan adalah penelitian yang digunakan

untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut

(Sugiyono, 2010:407). Langkah-langkahnya yaitu menggali potensi dan masalah,

pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, ujicoba produk,

revisi produk,uji coba pemakaian, revisi produk dan produksi masal (Sugiyono,

2010: 409). Langkah-langkah penelitian dan pengembangan ditunjukkan pada

(55)

34 Bagan 3.1 langkah-langkah R & D menurut Sugiyono (2010: 408)

1. Potensi masalah

Potensi masalah adalah segala sesuatu yang jika didayagunakan akan

memiliki nilai tambah. Potensi maasalah ini digunakan untuk sebagai dasar

sebuah penelitian. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian

harus ditunjukkan dengan data empirik. Data empirik ridak harus dicari

sendiri melainkan dapat berdasarkan laporan penelitian orang lain atau

dokumentasi laporan kegiatan dari seseorang atau instansi tertentu yang

masih up to date.

2. Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah mengumpulkan berbagai informasi yang

dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang

diharapkan dapat mengatasi masalah pada potensi dan masalah yang telah

(56)

35 3. Desain produk

Desain produk harus diwujudkan dalam bentuk gambar atau bagan,

sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya.

4. Validasi desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah

rancangan produk, secara rasional akan lebih efektif atau tidak dari yang

sudah ada. Dikatakan secara rasional karena validasi di sini masih bersifat

penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi

produk dilakukan dengan cara menghasirkan beberapa pakar atau tenaga ahli

yang sudah berpengalaman untuk menilai produk yang tekah dibuat. Setiap

pakar atau ahli diminta untuk menilai produk sehingga akan diketahui apa

kelebihan dan kelemahan dari produk tersebut.

5. Revisi desain

Setelah desain divalidasi, maka akan ditemukan kelemahan dari

produk. Kelemahan itulah yang akan coba dikurangi atau diperbaiki agar

menjadi lebih baik. Yang bertugas untuk merivisi produk tersebut adlah

peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut.

6. Ujicoba produk

Ujicoba dilakukan setelah produk divalidasi dan revisi kepada

kelompok yang terbatas. Ujicoba ini bertujuan untuk mendapatkan informasi

apakah produk yang dikembangkan efektif dan efisien.

Gambar

Gambar. 1.1 Buku guru
gambar di bawah ini.
Tabel 3.1 Kisi-kisi soal pretest dan posttest
Tabel 3.2 Tabel Kisi-kisi Wawancara Guru
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan penelitian ini adalah: 1.5.1 Untuk mendeskripsikan proses pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran

1.5.1 Mendeskripsikan buku guru dan buku siswa kelas I Sekolah Dasar dengan pendekatan pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) pada materi waktu.

Proses pembelajaran tidak akan pernah terlepas dari buku ajar, begitu pula dalam pembelajaran matematika karena dengan menggunakan buku ajar dapat membantu guru maupun

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah buku siswa dan buku guru dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas III sekolah dasar materi garis bilangan bulat dalam

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan penelitian ini adalah: 1.5.1 Untuk mendeskripsikan proses pengembangan buku guru dan buku siswa mata pelajaran Matematika

Pembelajaran matematika di sekolah dasar memiliki beberapa tujuan seperti yang diungkapakan oleh Depdiknas dalam buku Susanto (2013: 190) yaitu: 1) memahami konsep

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah buku siswa dan buku guru dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas III sekolah dasar materi garis bilangan bulat dalam

Hasil penelitian ini adalah produk buku guru dan buku siswa mata pelajaran matematika kelas III SD dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia