105 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1) Ada hubungan positif antara transformational leadership dengan organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Hasil analisis product moment (pearson correlation) diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) = 0,894 dengan p = 0,000 (p < 0,050).
Hal tersebut sesuai dengan hipotesis yang diajukan peneliti bahwa ada hubungan positif antara transformational leadership dengan organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Hubungan positif ditunjukkan dengan semakin tinggi transformational leadership yang dimiliki maka semakin tinggi organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Sebaliknya, semakin rendah transformational leadership yang dimiliki maka semakin rendah organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Berdasarkan hasil kategorisasi data Organizational Citizenship Behavior, diketahui bahwa dari 71 subjek penelitian, terdapat 15 orang (21,1%) yang memiliki OCB
pada kategori tinggi, terdapat 42 orang (59,2%) yang memiliki OCB pada kategori sedang dan sisanya 14 orang (19,7%) memiliki OCB pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini memiliki OCB dengan kategori sedang. Adapun hasil kategorisasi data Transformational Leadership, diketahui bahwa dari 71 subjek penelitian, terdapat 15 orang (21,1%) yang memiliki pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional pada kategori rendah, terdapat 56 orang (78,9%) yang memiliki pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional pada kategori sedang dan tidak ada orang yang memiliki pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini memiliki pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional dengan kategori sedang. Hasil dari perhitungan diperoleh nilai determinasi R squared (R2) yang diperoleh yaitu sebesar 0,799 yang menunjukkan bahwa variabel Transformational Leadership memiliki kontribusi sebesar 79,9%
terhadap Organizational Citizenship Behavior dan sebesar 20,1% sisanya dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti kepribadian dan suasana hati, budaya dan iklim organisasi, persepsi terhadap dukungan organisasional, masa kerja dan jenis kelamin.
2) Ada hubungan positif antara subjective well being dengan organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang.
Hasil analisis product moment (pearson correlation) diperoleh nilai
koefisien korelasi (rxy) = 0,482 dengan p = 0,000 (p < 0,050). Hal tersebut sesuai dengan hipotesis yang diajukan peneliti bahwa ada hubungan positif antara subjective well being dengan organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Hubungan positif ditunjukkan dengan semakin tinggi subjective well being yang dimiliki maka semakin tinggi organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang. Sebaliknya, semakin rendah subjective well being yang dimiliki maka semakin rendah organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar di Kota Tanjungpinang.
Berdasarkan hasil kategorisasi data Organizational Citizenship Behavior, diketahui bahwa dari 71 subjek penelitian, terdapat 15 orang (21,1%) yang memiliki OCB pada kategori tinggi, terdapat 42 orang (59,2%) yang memiliki OCB pada kategori sedang dan sisanya 14 orang (19,7%) memiliki OCB pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini memiliki OCB dengan kategori sedang. Adapun hasil kategorisasi data Subjective Well Being, diketahui bahwa dari 71 subjek penelitian, terdapat 14 orang (19,7%) yang memiliki Subjective Well Being pada kategori tinggi, terdapat 44 orang (62%) yang memiliki Subjective Well Being pada kategori sedang dan sisanya 13 orang (18,3%) memiliki Subjective Well Being pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek dalam penelitian ini memiliki Subjective Well Being dengan kategori sedang. Hasil dari perhitungan
diperoleh nilai determinasi R squared (R2) yang diperoleh yaitu sebesar 0,232 yang menunjukkan bahwa variabel Subjective Well Being memiliki kontribusi sebesar 23,2% terhadap Organizational Citizenship Behavior dan sebesar 76,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti transformational leadership, kepribadian, kemampuan, pengalaman, pelatihan, pengetahuan, pengehargaan, dukungan organisasi, budaya organisasi, peran sosial.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1. Bagi Guru Sekolah Dasar
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan untuk mempertahankan organizational citizenship behavior yang telah dimiliki dan tugas-tugas yang diberikan atasan dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan dan disarankan untuk menjaga komunikasi yang baik dan terbuka dengan guru lain. Hal ini dapat dilakukan dengan sering meluangkan waktu untuk sharing, bercerita baik pribadi atau kelompok dengan guru lain guna menjaga komunikasi dalam sekolah karena suasa dalam sekolah akan mempengaruhi subjevtive well being guru tersebut.
2. Bagi atasan / pemimpin
Bagi atasan / pemimpin disarankan untuk memperhatikan kenyamanan
guru Sekolah Dasar agar dapat meningkatkan dan mempertahankan organizational citizenship behavior pada guru Sekolah Dasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemimpin yang disarankan untuk mempertahankan kepemimpinan transformasionalnya misalnya dengan lebih memotivasi karyawan dan meningkatkan pertimbangan individual pada karyawan dengan melakukan komunikasi dan memberikan waktu untuk berdiskusi yang lebih intens terhadap karyawan secara personal untuk mempertahankan dan meningkatkan organizational citizenship behavior karyawan.
Para pemimpin juga dapat menjadi role model pada karyawannya, apabila pemimpin memiliki organizational citizenship behavior yang tinggi, maka pemimpin menjadi contoh yang baik bagi karyawan. Dengan memberikan contoh berperilaku yang baik bagi karyawan, maka karyawan pun akan mengikuti perilaku pemimpinnya.
3. Bagi perusahaan / organisasi
Bagi perusahaan / organisasi disarankan agar ikut serta dalam mempertahankan organizational citizenship behavior yang dimiliki oleh karyawan dengan mempertahankan dan melakukan kegiatan seperti kegiatan olahraga bersama, family gathering atau business gathering agar lebih dapat mendekatkan karyawan dengan karyawan maupun karyawan dengan atasan.
Pemberian penghargaan kepada karyawan juga dapat dilakukan kepada
yang terlibat aktif diluar tanggung jawab pekerjaannya seperti mengikuti kegiatan rapat maupun kegiatan diluar jam kerja seperti yang sudah dipaparkan diatas. Pemberian penghargaan ini bukan berarti selalu berbentuk materil, namun juga bias berbentuk moril, misalkan dengan memuji dan juga pemberian penghargaan “karyawan terbaik” pada setiap bulannya. Hal ini dapat meningkatkann semangat karyawan agar memiliki organizational citizenship behavior.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menggali lebih jauh tentang berbagai hal terkait dengan transformational leadership , subjective well being, dan organizational citizenship behavior dan diharapkan peneliti selanjutnya mampu mengkaji faktor-faktor lain yang mempengaruhi organizational citizenship behavior.