ANALISIS
PEMBANGUNAN EKONOMI
KABUPATEN BANDUNG 2014
BAPPEDA
KABUPATEN BANDUNG
BADAN PUSAT STATISTIK
KABUPATEN BANDUNG
A
P
E
K
A
B
U
P
A
T
E
N
B
A
N
D
U
N
G
Naskah : Seksi Statistik Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Design gambar kulit : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Diterbitkan oleh : Badan Pusat Statisitk Kabupaten Bandung No. Publikasi Ukuran Buku Jumlah Halaman : 3204.1466 : 21 cm x 29,7 cm : 98 HalamanAnalisis Pembangunan Ekonomi
KABUPATEN BANDUNG
2014
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Dengan memuji Syukur kehadirat Allah SWT, buku Analisis Pembangunan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2014 dapat diselesaikan.
Buku Analisis Pembangunan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2014 ini merupakan hasil kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bandung. Buku ini mengulas tentang hasil pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung selama kurun waktu 2014 dengan memuat data dan informasi indikator makro ekonomi kinerja perekonomian Kabupaten Bandung.
Data yang digunakan untuk menyusun buku ini bersumber dari berbagai Dinas, Badan dan Lembaga di tingkat Kabupaten Bandung dan dari survei-survei yang dilakukan BPS Kabupaten Bandung.
Diharapkan buku ini dapat bermanfaat untuk keperluan penelitian, evaluasi dan perencanaan pembangunan di wilayah Kabupaten Bandung. Akhirnya masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan sebagai upaya penyempurnaan publikasi dimasa yang akan datang.
Soreang, Desember 2014 BADAN PUSAT STATISTIK
KABUPATEN BANDUNG
IR. BASWORO WAHYU UTOMO NIP. 19620405 199003 1 001
| ii
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kepada ALLAH SWT, berkat iradat dan izin-Nya penyusunan buku Analisis Pembangunan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2014 dapat diterbitkan. Buku ini untuk pertama kali diterbitkan dan merupakan hasil kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Bandung dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung.
Dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bandung antara lain peningkatan taraf hidup penduduk, pemerataan pendapatan serta perluasan lapangan kerja, maka diperlukan adanya perencanaan pembangunan yang didukung oleh data dan informasi yang lebih lengkap dan akurat. Salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan data dan informasi tersebut adalah tersedianya buku Analisis Pembangunan Ekonomi yang berisi data dan informasi tentang indikator makro ekonomi. Buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh stakeholders, para pemangku kepentingan di Kabupaten Bandung dalam menyusun perencanaan maupun evaluasi hasil-hasil pembangunan sehingga dapat menghasilkan program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Atas kerjasama semua pihak dalam memberikan data baik data dasar maupun data pendukung sehingga publikasi ini dapat tersusun dengan baik diucapkan terima kasih. Besar harapan mudah-mudahan publikasi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Soreang, Desember 2014 BADAN PERECANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN BANDUNG
KEPALA
ERNAWAN MUSTIKA PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 19591230 198503 1 012
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Bupati Bandung
Kata Sambutan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Illahi Robbi, dan atas ijin-Nya penyusunan buku Analisis Pembangunan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2014 dapat diterbitkan. Buku yang berisi publikasi ini merupakan hasil kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten Bandung dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung. Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan terhadap indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk perencanaan dan evaluasi pembangunan ekonomi wilayah.
Evaluasi indikator makro ekonomi ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yang digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap hasil-hasil pembangunan dan juga sebagai sumber data dan informasi untuk menyusun rencana strategi dan kebijakan perekonomian.
Akhir kata, kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam menyusun buku ini diucapkan terima kasih. Semoga buku yang berisi publikasi ini berguna bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Soreang, Desember 2014 BUPATI BANDUNG
| ii
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Kepala BPS Kab Bandung i
Kata Pengantar Kepala BAPPEDA Kab. Bandung ii
Sambutan Bupati Kab. Bandung iii
Daftar Isi iv
Daftar Tabel v
Daftar Grafik vi
Daftar Lampiran vii
Bab I Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 3
1.3 Manfaat Analisis Pembangunan Ekonomi 3
1.4 Dasar/Landasan Hukum Pelaksanaan Kegiatan 4
Bab II Konsep dan Metodologi 8
2.1 Pembangunan Ekonomi 8
2.2 Pertumbuhan Ekonomi 9
A. Pengertian 9
B. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 10
C. Metode Perhitungan 11
D. Angka Indeks 12
E. Perhitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 14
F. Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 15
Bab III Uraian Sektoral 17
3.1 Sektor Pertanian 19
A. Tanaman Bahan Makanan 19
B. Tanaman Perkebunan 20
C. Kehutanan 20
D. Peternakan dan Hasil-hasilnya 20
E. Perikanan 21
3.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian 22
A. Minyak dan Gas Bumi 22
B. Pertambangan Tanpa Gas 22
C. Penggalian 22
3.3 Industri dan Pengolahan 23
A. Industri Migas 23
B. Industri Tanpa Migas 24
3.4 Listrik, Gas dan Air Bersih 25
A. Listrik 25
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
3.5 Bangunan 26
3.6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 26
A. Perdagangan Besar dan Eceran 26
B. Hotel 27
C. Restoran 27
3.7 Pengangkutan dan Komunikasi 28
A. Pengangkutan 28
B. Komunikasi 30
3.8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 31
A. Bank 31
B. Lembaga Keuangan Bukan Bank 31
C. Jasa Penunjang Keuangan 31
D. Sewa Bangunan 32
E. Jasa Perusahaan 32
3.9 Jasa-jasa 33
A. Pemerintahan Umum 33
B. Swasta 33
Bab IV Pembangunan Ekonomi Kabupaten Bandung 37
4.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 38
4.2. Pertumbuhan Ekonomi 41
4.3. Struktur Ekonomi 46
4.4. PDRB Per Kapita 49
4.5. Tingkat Inflasi 52
BAB V Analisis Sektoral 56
5.1. Sektor Pertanian 56
5.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian 60
5.3. Sektor Industri Pengolahan 62
5.4 Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 64
5.5 Sektor Bangunan/Konstruksi 65
5.6 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 66
5.7 Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 68
5.8 Sektor Keuangan,Persewaan dan Jasa Perusahaan 70
5.9 Sektor Jasa-Jasa 72
Bab VI Posisi Pembangunan Ekonomi Kab. Bandung di
Kawasan Metropolitan Bandung 77
6.1. Kawasan Metropolitan Bandung 77
6.2. Pertumbuhan Ekonomi 78
6.3. Kontribusi Sektor Unggulan 79
| iv
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2009 - 2014 38
Tabel 4.2 PDRB Kabupaten Bandung ADH Berlaku dan
Konstan Tahun 2013-2014 40
Tabel 4.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten
Bandung Tahun 2010 - 2014 45
Tabel 4.4 Peranan NTB Atas Dasar Harga Berlaku Setiap
Kelompok Sektor dalam Perekonomian Kabupaten Bandung Tahun 2012-2014
49
Tabel 4.5 Inflasi Produk Domestik Bruto Kabupaten
Bandung Tahun 2012-2014 53
Tabel 5.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertanian
Kabupaten Bandung Tahun 2014 56
Tabel 5.2 Kontribusi Sektor Pertanian Kabupaten
Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
57
Tabel 5.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor
Pertambangan dan Penggalian Kabupaten Bandung Tahun 2014
60
Tabel 5.4 Kontribusi Sektor Pertambangan dan
Penggalian Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
61
Tabel 5.5 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Industri
Pengolahan Kabupaten Bandung Tahun 2014 62
Tabel 5.6 Kontribusi Sektor Industri Pengolahan
Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
63
Tabel 5.7 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Listrik,
Gas dan Air Bersih Kabupaten Bandung Tahun 2014
64
Tabel 5.8 Kontribusi Sektor Listrik , Gas dan Air Bersih
Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Tabel 5.9 Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi
Sektor Bangunan Kabupaten Bandung Tahun 2014
66
Tabel 5.10 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Bandung Tahun 2014
67
Tabel 5.11 Kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
67
Tabel 5.12 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi Kabupaten Bandung Tahun 2014
69
Tabel 5.13 Kontribusi Sektor Pengangkutan dan
Komunikasi Tahun 2014Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku
69
Tabel 5.14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Kabupaten Bandung Tahun 2014
71
Tabel 5.15 Kontribusi Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
71
Tabel 5.16 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Jasa-Jasa
Kabupaten Bandung Tahun 2014 73
Tabel 5.17 Kontribusi Sektor Jasa-jasa Kabupaten Bandung Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2014
73
Tabel 6.1 Kontribusi Sektor Ekonomi di Kawasan
Metropolitan Bandung Tahun 2013 80
Tabel 6.2 Pendapatan Per Kapita ADH Berlaku di
Kawasan Metropolitan Bandung Tahun 2011 - 2013
| vi
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1 PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2008-2014 39
Grafik 4.2 LPE Kabupaten Bandung Tahun 2001 - 2014 42
Grafik 4.3 LPE Kabupaten Bandung Tahun 2014 43
Grafik 4.4 LPE Kabupaten Bandung Tahun 2013 - 2014 44
Grafik 4.5 Struktur Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2014 47
Grafik 4.6 Peranan Kelompok Sektor Ekonomi Kabupaten
Bandung Tahun 2014 48
Grafik 4.7 PDRB Per Kapita Kabupaten Bandung Tahun
2010-2014 50
Grafik 4.8 Pendapatan Per Kapita Penduduk Kabupaten Bandung
Tahun 2014 51
Grafik 4.9 Inflasi Produk Domestik Bruto Kabupaten Bandung
Tahun 2001 - 2014 52
Grafik 6.1 Posisi Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kawasan
Metropolitan Bandung Tahun 2013 78
Grafik 6.2 Posisi PDRB Per Kapita di Kawasan Metropolitan
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 DAFTAR LAMPIRAN
Tabel 1.1 Produk Domestik Regional Bruto ADH Berlaku
Kabupaten Bandung Tahun 2014 85
Tabel 1.2 Produk Domestik Regional Bruto ADH Konstan
Tahun 2000 Kabupaten Bandung Tahun 2014 86
Tabel 2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi PDRB ADH Berlaku
Kabupaten Bandung Tahun 2014 87
Tabel 2.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi PDRB ADH Konstan
Tahun 2000 Kabupaten Bandung Tahun 2014 88
Tabel 3.1 Distribusi Persentase PDRB ADH Berlaku Kabupaten
Bandung Tahun 2014 89
Tabel 3.2 Distribusi Persentase PDRB ADH Konstan Tahun
2000 Kabupaten Bandung Tahun 2014 90
Tabel 4.1 Indeks Implisit PDRB Kabupaten Bandung Tahun
2014 91
Tabel 4.2 Inflasi PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2014 92
BAB 1
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik. Adapun Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan. Indikator keberhasilan pertumbuhan ekonomi lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan.
Dengan demikian antara pembangunan ekonomi tidak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) dimana pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi atau sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Selanjutnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang. Di sini terdapat tiga elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi. Elemen pertama adalah pembangunan sebagai suatu proses yang artinya bahwa pembangunan merupakan suatu tahap yang harus dijalani oleh setiap masyarakat atau bangsa. Elemen kedua adalah pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita. Sebagai suatu usaha, pembangunan merupakan tindakan aktif yang harus dilakukan oleh suatu negara dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan demikian, sangat dibutuhkan peran serta
| 2
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
masyarakat, pemerintah, dan semua elemen yang terdapat dalam suatu negara untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Hal ini dilakukan karena kenaikan pendapatan perkapita mencerminkan perbaikan dalam kesejahteraan masyarakat. Elemen ketiga adalah peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang. Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila pendapatan perkapita dalam jangka panjang cenderung meningkat. Hal ini tidak berarti bahwa pendapatan perkapita harus mengalami kenaikan terus menerus.
Sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Bab VII Pasal 31, yang menyatakan bahwa perencanaan pembangunan didasarkan pada data/informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta Pasal 13 ayat 1 Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 54 tahun 2010, menyatakan bahwa: “Penyusunan rencana pembangunan daerah menggunakan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah, serta rencana tata ruang”. Pernyataan tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi pengambil kebijakan/keputusan karena kebijakan/keputusan yang berkualitas tergantung dari data/informasi akurat, terintegrasi dan dapat dipertanggungjawabkan. Data dan informasi statistik merupakan salah satu instrumen analisis bahan evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah serta bahan penentuan/perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah. Untuk memperoleh data dan informasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung memandang perlu adanya kegiatan Pengolahan, Updating dan Analisis Data Statistik Daerah yang meliputi pekerjaan penyusunan Analisis Pembangunan ekonomi (APE) tahun 2014. Pekerjaan Penyusunan APE ini untuk mendapatkan gambaran perkembangan makro ekonomi di Kabupaten Bandung dan gambaran sejauh mana dampak pembangunan ekonomi yang dilaksanakan terhadap peningkatan kualitas dan kesejahteraan penduduk di Kabupaten Bandung
Mengingat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi, maka untuk mengetahui tingkat
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
keberhasilan pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung Tahun 2014 menggunakan idikator dari pertumbuhan ekonomi yaitu dari penghitungan seluruh kegiatan ekonomi selama kurun waktu 2014 yang tertuang dalam nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Seperti halnya analisis PDRB pembahasan meliputi angka absolut, laju pertumbuhan, struktur ekonomi, inflasi PDRB dan PDRB perkapita.
1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan Analisis Pembangunan Ekonomi tahun 2014 adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan perkembangan indikator makro ekonomi di Kabupaten Bandung tahun 2014;
2. Sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Bandung dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan perencanaan pembangunan secara berkesinambungan;
4. Memperoleh umpan balik (feed back) dari pelaksana urusan/sektor pembangunan masing – masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD); 5. Dapat memberikan informasi capaian hasil kinerja pembangunan
Kabupaten Bandung kepada masyarakat;
1.3. Manfaat Analisis Pembangunan Ekonomi
Manfaat Penyusunan APE adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran struktur perekonomian potensinya di
wilayah Kabupaten Bandung.
2. Dapat diketahuinya gambaran daya beli masyarakat Kabupaten
Bandung.
3. Sebagai dasar penyusunan perencanaan program/kegiatan
perencanaan pembangunan terutama bidang ekonomi.
5. Dapat digunakan sebagai bahan pengendalian dan evaluasi hasil dari
| 4
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 1.4. Dasar/Landasan Hukum Pelaksanaan Kegiatan
Peraturan Perundangan-Undangan yang melatarbelakangi Kegiatan Pekerjaan Penyusunan APE diantaranya adalah :
1. Undang-Undang RI nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, tambahan Lembaran Negara 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
8. Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
11. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/jasa Pemerintah nomor 14 tahun 2012 tentang petunjuk teknis Peraturan Presiden nomor 70 tahun 2012 tentang perubahan kedua atas Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah;
12. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 2);
13. Peraturan Derah Kabupaten Bandung Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 3);
14. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2014
15. Peraturan Bupati Bandung Nomor 9 Tahun 2008 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 9);
16. Peraturan Bupati Bandung Nomor 27 tahun 2014 tentang Penjabaran APBD Kabupaten Bandung Tahun 2014;
17. Keputusan Bupati Bandung Nomor 027/Kep.516-Pemb/2013 Tanggal 01 November 2013 tentang Standar Biaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2014;
18. Keputusan Bupati Bandung nomor 954/Kep.193-BAPPEDA/2014 tanggal 28 Februari 2014 tentang Penunjukan Pengelola Keuangan Daerah pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2014.
19. Keputusan Kepala BAPPEDA Kabupaten Bandung selaku Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang nomor 900/72A-Sekret/2014, tanggal 3 Maret 2014 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala
| 6
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Bappeda Kabupaten Bandung Nomor 900/25B-Sekret/2014 tentang Penunjukan Pejabat Penatausahaan Keuangan, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan/Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Pengadaan/Panitia Pengadaan Barang dan Jasa, Pejabat/Panitia Penerima/Pemeriksa Hasil Pekerjaan/Kegiatan, dan Pembantu Bendahara Pengeluaran (Kasir, Pembuat Dokumen Pengeluaran dan Pengurusan Gaji), pada BAPPEDA Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2014;
20. Kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Bandung dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung tentang penyusunan indikator makro perstatistikan nomor 074/Perj.01-BAPPEDA/ 2012/320.40.3.08 pada tanggal 14 Februari 2012
21. Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) BAPPEDA nomor 1.06 01 00 00 5 1 Kabupaten Bandung Tahun 2014.
Konsep
dan
|8
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 BAB II
KONSEP DAN METODOLOGI 2.1. Pembangunan Ekonomi
Pembangunan didefinisikan sebagai suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir yang di dalamnya terjadi adanya proses yang dapat bergerak maju baik atas kekuatan sendiri maupun tergantung pada manusia atau struktur sosial. Arti pembangunan, menurut Siagian (1994) adalah sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”.
Arti dari Pembangunan ekonomi adalah suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu Negara untuk mengembangkan kegiatan atau aktivitas ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup/kemakmuran (Income per capita) dalam jangka panjang. Menurut Mellor (1987;81), pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang dengannya perekonomian diubah dari apa yang sebagian besar pedesaan dan pertanian menjadi sebagian besar perkotaan, industri, dan jasa–jasa. Jadi inti dari pembangunan ekonomi adalah adanya pertumbuhan ekonomi. Adapun Arsyad (1999), mendefinisikan Pembangunan Ekonomi didefinisikan sebagai untuk proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per-kapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan system kelembagaan.
Adapun definisi konvensional dari pembangunan ekonomi adalah menekankan pada peningkatan pendapatan per kapita (income per capita) yaitu menekankan pada kemampuan suatu negara untuk meningkatkan output yang dapat melebihi pertumbuhan penduduk. Definisi pembangunan konvensional ini sering dikaitkan dengan sebuah strategi mengubah struktur suatu negara atau sering kita kenal dengan industrialisasi. Industrialisasi
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
yang diiringi dengan eksploitasi sumberdaya alam dinilai dapat meningkatkan income per capita suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth). Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, begitu pula sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi
Dengan demikian, dalam pengukuran Analisis Pembangunan Ekonomi (APE) Kabupaten Bandung Tahun 2014 didekati oleh pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Bandung pada kurun waktu tertentu yang di gambarkan oleh hasil penghitungan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah total nilai tambah bruto seluruh produksi barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu wilayah pada suatu periode waktu tertentu.
2.2. Pertumbuhan Ekonomi A. Pengertian
Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (kuantitatif). Suatu Negara/region dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan nilai PDB/PDRB nya riil di Negara/regional tersebut.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai pertumbuhan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (value added) produksi barang dan jasa dari seluruh kegiatan perekonomian di suatu wilayah pada suatu periode waktu tertentu. Ada dua literature yang mengatakan bahwa ada dua indikator dalam mengukur pembangunan ekonomi dengan pendapatan perkapita yang diukur dari PDRB perkapita dan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yang diukur dari laju pertumbuhan PDRB.
|10
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Mengukur tingkat keberhasilan pembangunan suatu masyarakat atau bangsa diperlukan tolok ukur dengan indikator-indikator yang sesuai dengan pengertian yang tersirat dalam konsep dan definisi dari pembangunan yang dilaksanakan.
Definisi antara pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi memiliki arti yang berbeda dimana pembangunan ekonomi menitikberatkan pada perkembangan pendapatan per kapita namun pertumbuhan ekonomi menitikberatkan pada perkembangan fisik produksi barang dan jasa. Namun demikian, kedua-duanya menerangkan mengenai perkembangan ekonomi yang berlaku. Hubungan antara pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi adalah indikator pertumbuhan selalu digunakan sebagai suatu ungkapan umum yang menggambarkan tingkat perkembangan ekonomi suatu negara/region yang diiukur melalui persentasi pendapatan riil.
B. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Beberapa definisi yang berkaitan dengan penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu output, biaya antara dan nilai tambah bruto. Output (nilai produksi) adalah nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu. Pada dasarnya output merupakan perkalian kuantum produksi dengan harganya. Biaya Antara adalah nilai barang dan jasa yang dipakai dalam proses produksi dimana barang dan jasa tersebut dapat berubah bentuk maupun yang habis pakai dalam proses produksi. Adapun Nilai Tambah Bruto (NTB) merupakan pengurangan dari nilai output yang dinilai atas dasar harga produsen dengan biaya antaranya yang dinilai atas dasar harga pembeli setelah dikurangi dengan PPN.
PDRB dihitung atas dasar harga berlaku dan atas harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku merupakan nilai tambah barang dan jasa yang
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun berjalan, sementara PDRB atas dasar harga konstan dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar, dalam perhitungan ini digunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar.
PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi dan gambaran perekonomian pada tahun berjalan, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah baik secara keseluruhan maupun sektoral.
C. Metode Perhitungan
Penghitungan Produk Domestik Regional Bruto dapat dilakukan dengan dua cara yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung adalah metode perhitungan dengan menggunakan data yang bersumber dari daerah yang bersangkutan, sedangkan metode tidak langsung adalah metode perhitungan pendapatan regional dengan cara mengalokasikan angka pendapatan regional (nilai tambah) provinsi ke setiap daerah kabupaten/kota dengan menggunakan alokator tertentu seperti nilai produk bruto sektor, jumlah produksi, tenaga kerja, penduduk dan alokator lainnya yang sesuai.
Penghitungan PDRB dengan metode langsung menggunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran. Pada penyusunan publikasi PDRB ini metode penghitungan yang digunakan adalah metode langsung dengan pendekatan produksi
Pendekatan Produksi
Pendekatan dari segi produksi adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangi output dari masing-masing sektor atau sub sektor dengan biaya antaranya.
Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit produksi dalam proses produksi dari
|12
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
input antara yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang dan jasa tersebut.
Pendekatan Pendapatan
Dalam pendekatan pendapatan, nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi dihitung dengan jalan menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaitu upah dan gaji, surplus usaha (bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Untuk sektor pemerintahan dan usaha-usaha yang sifatnya tidak mencari untung, surplus usaha tidak diperhitungkan.
Pendekatan Pengeluaran
Pada pendekatan dari segi pengeluaran, Produk Domestik Regional dihitung dengan cara menghitung berbagai komponen pengeluaran akhir yang membentuk Produk Domestik Regional Bruto tersebut. Secara umum pendekatan pengeluaran dapat dilakukan melalui pendekatan penawaran yang terdiri dari metode arus barang dan metode penjualan eceran atau pendekatan
permintaan yang terdiri dari pendekatan survei pendapatan dan
pengeluaran rumah tangga, metode data anggaran belanja, metode balance sheet dan metode statistik perdagangan luar negeri.
D. Angka Indeks
Angka indeks pada dasarnya merupakan suatu nilai atau angka yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antara suatu nilai/harga/volume/kualitas selama satu periode waktu tertentu.
Ciri khas dari angka indeks ini adalah perhitungan rasio (pembagian), di mana hasil rasio tersebut selalu dikalikan dengan bilangan 100 untuk menunjukkan perubahan tersebut dalam persentase. Dengan demikian, basis dari angka indeks apapun selalu 100.
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
• INDEKS PRODUKSI
Indeks produksi merupakan perbandingan volume produksi berjalan dengan sebelumnya.
𝐼𝐼𝑘,𝑠 =𝑄𝑄𝑘,𝑡
𝑘,𝑡−1𝑥 100
Dimana :
IP k, s : Indeks Produksi Komoditi k pada tahun t
Q : Volume Produksi
K : Komoditi
t : Tahun berjalan (t), tahun sebelumnya (t-1)
Nilai indeks produksi merupakan dasar penghitungan Indeks
Produksi Sektor (IPS) dengan rumus sebagai berikut :
𝐼𝐼𝐼𝑖,𝑡 = ∑ 𝐼𝐼𝑘,𝑡𝑥𝑁𝑁𝑁𝑁𝑘,𝑡−1 𝑛 𝑘=1 ∑𝑛𝑘=1𝑁𝑁𝑁𝑁𝑘,𝑡−1 Dimana :
IPSi,s : Indeks Produksi Sektor i pada tahun t
NTBK : Nilai Tambah Bruto Atas Dasar Harga Konstan
Sektor yang menggunakan pendekatan indeks produksi adalah sektor pertanian, sektor penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih.
• INDEKS PENJUALAN
Indeks penjualan merupakan perbandingan volume penjualan berjalan dengan sebelumnya.
𝐼𝐼𝐼𝑘,𝑡 =𝑄𝑄𝑘,𝑠
𝑘,𝑡−1𝑥100
|14
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Nilai indeks penjualan merupakan dasar penghitungan untuk Indeks
Penjualan Sektor (IPjS) :
𝐼𝐼𝐼𝐼𝑖,𝑡 = ∑ 𝐼𝐼𝑘,𝑡𝑥𝑁𝑁𝑁𝑁𝑘,𝑡−1
𝑛 𝑘=1
∑𝑛𝑘=1𝑁𝑁𝑁𝑁𝑘,𝑡−1
Dimana :
Sektor yang menggunakan pendekatan indeks penjualan adalah sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa.
E. Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan
Pada PDRB atas dasar harga konstan semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang terjadi pada tahun dasar, pada publikasi ini digunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar.
Nilai Tambah Bruto atas dasar Harga Konstan (NTBK) per sektor yang akan digunakan untuk penghitungan PDRB atas dasar harga konstan dapat dicari dengan rumus sbb :
𝑁𝑁𝑁𝑁𝑖,𝑡 = 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑖,𝑡𝑠−1100𝑥𝐼𝐼𝐼𝑖,𝑡
IPj k, s : Indeks Penjualan Komoditi k pada tahun t
Q : Volume Produksi
K : Komoditi
t : Tahun berjalan (t), tahun sebelumnya (t-1)
IPJS i,t : Indeks Penjualan Sektor i pada tahun t
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
Dimana :
NTBKi,t : Nilai Tambah Bruto adh Konstan Sektor i pada tahun t.
NTBKi,t-1 : Nilai Tambah Bruto adh Konstan Sektor i pada tahun
sebelumnya (t-1)
IPSi,t : Indeks Produksi Sektor i pada tahun t atau Indeks Penjualan
Sektor i pada tahun t
F. Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
Dalam perhitungan PDRB atas dasar harga berlaku, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga berlaku pada tahun berjalan.
Untuk mendapatkan Nilai Tambah Bruto atas dasar harga Berlaku (NTBB) guna perhitungan PDRB atas dasar harga berlaku digunakan rumus sebagai berikut :
𝑁𝑁𝑁𝑁𝑖,𝑡 = 𝑁𝑁𝑁𝑁100𝑖,𝑡−1𝑥𝐼𝐼𝑖,𝑡
Dimana :
NTBB i,t : Nilai Tambah Bruto adh Berlaku Sektor i pada tahun t.
NTBKi,t-1 : Nilai Tambah Bruto adh Konstan Sektor i pada tahun
sebelumnya t-1
BAB 3
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 BAB III
URAIAN SEKTOR
Dalam perhitungan Analisis Pembangunan Ekonomi yang dengan menggunakan indikator PDRB tahun 2014 masih berpedoman pada SNA 1968 dengan jumlah lapangan usaha (sektor) sebanyak 9 (sembilan). Lapangan Usaha (sektor) tersebut adalah Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri pengolahan; Listrik Gas dan Air bersih, Konstruksi, Perdagangan Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Jasa Keuangan dan Jasa-jasa. Kesembilan sektor tersebut terbagi lagi menjadi 25 sub sektor dengan rincian sebagai berikut:
1. Sektor Pertanian terbagi menjadi 5 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Tanaman Bahan Makanan
B. Sub Sektor Tanaman Perkebunan C. Sub Sektor Kehutanan
D. Sub Sektor Peternakan E. Sub Sektor Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian terbagi menjadi 3 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi
B. Sub Sektor Non Migas C. Sub Sektor Penggalian
3. Industri Pengolahan terbagi menjadi 2 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Industri Migas
i. Pengilangan Minyak ii. Gas Alam Cair
B. Sub Sektor Industri Tanpa Migas
4. Listrik, Gas dan Air Minum terbagi menjadi 3 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Listrik
B. Sub Sektor Gas
C. Sub Sektor Air Minum 5. Bangunan dan Konstruksi
| 18
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran terbagi menjadi 3 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Perdagangan Besar dan Eceran
B. Sub Sektor Hotel
C. Sub Sektor Restoran / Rumah Makan
7. Pengangkutan dan Komunikasi terbagi menjadi 2 sub sektor yaitu: 1. Sub Sektor Angkutan terbagi dalam :
i. Pengangkutan Kereta Api ii. Pengangkutan Darat iii. Pengangkutan Udara iv. Pengangkutan Laut
v. Pengangkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan vi. Jasa Penunjang Angkutan
2. Sub Sektor Komunikasi terbagi dalam : i. Telkom dan Pos Giro
ii. Jasa Penunjang Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan terbagi menjadi 5 sub sektor yaitu:
A. Sub Sektor Bank
B. Sub Sektor Lembaga Keuangan Tanpa Bank C. Sub Sektor Jasa Penunjang Keuangan D. Sub Sektor Sewa Bangunan
E. Sub Sektor Jasa Perusahaan
9. Jasa-Jasa terbagi menjadi 2 sub sektor yaitu: A. Sub Sektor Pemerintahan Umum
B. Sub Sektor Swasta
i. Jasa Sosial dan Kemasyarakatan ii. Jasa Hiburan dan Rekreasi
iii. Jasa Perorangan dan Rumahtangga
Dalam penghitungan PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2014 ada beberapa sub sektor yang tidak dihitung maupun tidak dihitung secara tersendiri namun bergabung dengan sektor lainnya. Sub sektor tersebut adalah sub sektor pertambangan Non Migas dan sub setor gas dikarenakan
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
aktivitas ekonomi sub sektor ini tidak ada di Kab Bandung. Hal yang sama untuk sektor jasa penunjang keuangan yang masuk dalam sub sektor lain namun masih dalam sektor jasa keuangan. Adapun untuk sektor komunikasi tidak dibagi menjadi sub sektor telkom dan pos giro dan sub sektor jasa penunjang komunikasi namun dijadikan satu menjadi di dalam sektor komunikasi.
Rincian ruang lingkup dan sumber data dari masing masing sub sektor dalam penghitungan PDRB diuraikan sebagai berikut:
3.1 Sektor Pertanian
Ruang lingkup sektor pertanian mencakup segala pengusahaan dan pemanfaatan benda/barang biologis (hidup) yang didapat dari alam dimana hasilnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau usaha lainnya, baik untuk kepentingan sendiri maupun pihak lain, tidak termasuk kegiatan yang tujuannya untuk hobi.
Kegiatan pertanian pada umumnya meliputi usaha bercocok tanam, pemeliharaan ternak, penangkapan ikan dan pengambilan hasil laut, penebangan kayu dan pengambilan hasil hutan serta perburuan binatang liar.
Sektor pertanian meliputi 5 sub sektor yaitu sub sektor tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.
A. Tanaman Bahan Makanan
Sub sektor ini meliputi kegiatan penyiapan dan pelaksanaan penanaman, pembibitan, pemeliharaan dan pemanenan hasil-hasil pertanian tanaman pangan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, buah-buahan dan sayur-sayuran.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
| 20
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 B. Tanaman Perkebunan
Sub sektor tanaman perkebunan meliputi tanaman perkebunan rakyat dan tanaman perkebunan besar.
Tanaman perkebunan rakyat adalah suatu usaha tanaman perkebunan yang dilakukan oleh rakyat secara individu dengan luas areal tanaman kurang dari 25 hektar. Tanaman perkebunan besar adalah suatu usaha tanaman perkebunan yang dilaksanakan oleh perusahaan atau oleh rakyat yang luas arealnya lebih besar atau sama dengan 25 hektar.
Komoditi yang dicakup meliputi antara lain cengkeh, kapok, kelapa, kina, kopi, teh, lada, tembakau, pinang serta tanaman perkebunan lainnya.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung.
C. Kehutanan
Sub sektor ini meliputi usaha di areal hutan berupa penebangan kayu, pengambilan getah, daun-daunan, akar dan kulit kayu, bambu, rotan, arang dan perburuan binatang hutan. Termasuk juga kayu dan bambu yang berasal dari areal non hutan seperti yang ditanam petani di kebun atau di pekarangan rumah.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Perum Perhutani Provinsi Jawa Barat.
D. Peternakan dan Hasil-hasilnya
Sub sektor ini mencakup semua kegiatan pembibitan dan budidaya segala jenis ternak (besar dan kecil) dan unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakan, dibesarkan, dipotong dan diambil dagingnya maupun untuk dimanfaatkan hasil-hasilnya, baik yang dilakukan oleh rakyat maupun perusahaan peternakan. Jenis ternak yang dicakup adalah sapi, kerbau,
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
kabing, babi, kuda, ayam, itik, telur ayam, telur itik, susu sapi serta hewan ternak lainnya.
Produksi ternak adalah jumlah ternak lahir ditambah dengan pertambahan berat badan atau penggemukkan dan hasil-hasil ternak lainnya seperti telur dan bulu. Akan tetapi data pertambahan berat badan atau penggemukan tersebut tidak bisa diperoleh, sehingga khusus untuk sub sektor peternakan, penghitungan produksinya di dalam memperkirakan produksi ternak tetapi diperoleh melalui suatu rumus persamaan:
Jumlah pemotongan + Populasi akhir tahun – Populasi awal tahun + Ekspor – Impor
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung.
E. Perikanan
Sub sektor ini meliputi segala pengusahaan perikanan yang mencakup usaha penangkapan, pembenihan, pengambilan maupun pemeliharaan segala jenis ikan dan hasil-hasilnya baik yang berada di air tawar maupun di air asin. Termasuk pengolahan sederhana seperti pengasinan atau pengeringan ikan yang dilakukan nelayan atau rumahtangga.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung.
Metode Estimasi
Pendekatan yang digunakan dalam penghitungan nilai tambah sektor pertanian dilakukan melalui pendekatan produksi (production approach). Pendekatan ini didasarkan pada pertimbangan tersedianya data produksi dan harga untuk masing-masing komoditi pertanian. Secara umum, nilai output setiap komoditi diperoleh dari hasil perkalian antara produksi yang dihasilkan dengan harga produsen komoditi bersangkutan. Sedangkan untuk
| 22
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dilakukan melalui metode revaluasi, yaitu metode dimana seluruh produksi dan biaya-biaya antara dinilai berdasarkan harga tahun dasar 2000
3.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor ini meliputi usaha penggalian, pengeboran, pencucian, pengambilan dan pemanfaatan barang tambang, mineral dan barang galian yang tersedia di dalam tanah, baik yang berupa benda padat, benda cair maupun gas. Sektor ini dikelompokkan dalam tiga sub sektor yaitu sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi, pertambangan non migas dan penggalian.
A. Minyak dan Gas Bumi
Pertambangan minyak dan gas bumi meliputi kegiatan pencarian kandungan minyak dan gas bumi, penyiapan pengeboran, penambangan, penguapan, pemisahan serta penampungan untuk dapat dijual atau dipasarkan baik yang dilakukan di darat maupun di laut. Komoditi yang dihasilkan adalah minyak bumi, kondensat dan gas bumi.
B. Pertambangan Tanpa Migas
Pertambangan tanpa migas meliputi penambangan komoditi non migas, komoditasnya antara lain : emas, perak, nikel, mangan, timah, tembaga, bauxit dan mineral lainnya.
C. Penggalian
Sub sektor ini mencakup penggalian dan pengambilan segala jenis barang galian seperti batu-batuan, pasir dan tanah yang pada umumnya berada pada permukaan bumi. Hasil dari kegiatan ini adalah batu gunung, batu kali, batu kapur, koral, kerikil, batu karang, batu marmer, pasir untuk bahan bangunan, pasir silika, pasir kwarsa, kaolin, tanah liat, dan komoditi penggalian lainnya.
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 Metode Estimasi
Metode penghitungan yang digunakan untuk sektor pertambangan dan penggalian diestimasi melalui pendekatan produksi (production approach). Output atas dasar harga berlaku diperoleh melalu perkalian antara produksi dengan harga per unit produksi (harga produsen). Produksi bruto atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan metode revaluasi yaitu mengalikan kuantum barang yang dihasilkan pada masing-masing tahun dengan harga per unit produksi pada tahun 2000.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung.
3.3 Sektor Industri Pengolahan
Sektor ini meliputi usaha kegiatan pengolahan bahan organik ataupun anorganik menjadi produk baru yang lebih tinggi mutunya, baik dilakukan dengan tangan, mesin, atau proses kimiawi. Pembuatan atau pengerjaannya dapat diproses melalui mesin/pabrik ataupun rumahtangga. Industri pengolahan dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu industri pengolahan minyak dan gas bumi (migas) dan industri pengolahan tanpa migas.
A. Industri Migas
Sub sektor industri migas terdiri dari kegiatan pengilangan minyak bumi dan gas alam cair.
i. Pengilangan Minyak Bumi
Kegiatan ini meliputi pengolahan minyak bumi yang menghasilkan produk-produk minyak avtur, premix, premium, solar, minyak tanah, aspal dan produk lainnya.
| 24
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 ii. Gas Alam Cair
Kegiatan ini meliputi pengolahan pencairan gas alam cair (Liquid
Natural Gas) yang produknya diekpor ke luar negeri. B. Industri Tanpa Migas
Sub sektor ini mencakup industri besar dan sedang, industri kecil dan industri rumah tangga.
Dalam standar klasifikasi ISIC (International Standard Industry Classification) 2 digit, sub sektor industri tanpa migas diklasifikasikan dalam sembilan sub sektor :
• Sub sektor industri makanan, minuman dan tembakau • Sub sektor industri tekstil, barang jadi, kulit dan alas kaki • Sub sektor industri barang kayu dan hasil hutan lainnya • Sub sektor industri kertas dan barang cetakan
• Sub sektor industri pupuk, kimia, dan barang dari karet • Sub sektor industri semen dan barang galian bukan logam • Sub sektor industri logam dasar besi dan baja
• Sub sektor industri alat angkutan, mesin dan peralatannya • Sub sektor industri pengolahan lainnya
Metode Estimasi
Pendekatan penghitungan output untuk sub sektor ini diestimasi melalui pendekatan produksi (production approach). Output atas dasar harga berlaku adalah perkalian antara produksi dengan harga produsen, sedangkan output atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan metode revaluasi yaitu produksi pada masing-masing tahun dikalikan dengan harga pada tahun dasar.
Sumber Data :
1. BPS Provinsi Jawa Barat, 2. BPS Kabupaten Bandung.
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 3.4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
A. Listrik
Kegiatan ini mencakup pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik, baik yang diselenggarakan oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) maupun oleh perusahaan Non-PLN seperti pembangkitan listrik oleh Perusahaan Pemerintah Daerah dan listrik yang diusahakan oleh swasta (perorangan maupun perusahaan), dengan tujuan untuk dijual kepada konsumen.
Metode Estimasi
Sub sektor ini diestimasi melalui pendekatan produksi (production
approach). Output atas dasar harga berlaku adalah perkalian antara produksi
dengan harga produsen, sedangkan output atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan metode revaluasi.
Sumber Data :
1. PLN Cigareleng Kota Bandung 2. PLN Cabang Majalaya
B. Air Bersih
Kegiatan sub sektor air bersih meliputi proses pembersihan, pemurnian dan proses kimiawi lainnya untuk menghasilkan air bersih, serta pendistribusian dan penyalurannya secara langsung melalui pipa dan alat lain kepada konsumen rumahtangga, instansi pemerintah maupun swasta. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh perusahaan air minum milik pemerintah daerah.
Metode Estimasi
Sub sektor ini diestimasi melalui pendekatan produksi (production
approach). Output atas dasar harga berlaku adalah perkalian antara produksi
dengan harga produsen, sedangkan output atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan metode ektrapolasi.
| 26
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 Sumber Data :
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bandung.
3.5. Sektor Bangunan/Konstruksi
Kegiatan sub sektor bangunan dan konstruksi meliputi usaha pembangunan/pembuatan, perluasan, pemasangan, perbaikan berat dan ringan, perombakan bangunan tempat tinggal, bangunan bukan tempat tinggal, jalan, jembatan, bendungan, jaringan listrik, telekomunikasi dan konstruksi lainnya. Termasuk juga kegiatan sub konstruksi seperti pemasangan instalasi listrik, saluran telepon, alat pendinginan, pembuatan saluran air dan sebagainya.
Metode Estimasi
Untuk sektor bangunan dan konstruksi estimasinya dilakukan melalui pendekatan produksi, sedangkan output atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode deflasi.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung.
2. Pemerintah Kabupaten Bandung.
3.6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran A. Perdagangan Besar dan Eceran
Kegiatan yang dicakup dalam sub sektor perdagangan meliputi kegiatan membeli dan menjual barang, baik barang baru maupun bekas, untuk tujuan penyaluran tanpa mengubah sifat barang tersebut. Sub sektor perdagangan dikelompokkan kedalam dua jenis kegiatan yaitu perdagangan besar dan perdagangan eceran.
Sub sektor perdagangan besar meliputi kegiatan pembelian, pengumpulan dan penjualan kembali barang oleh pedagang dari pihak produsen atau importir kepada pedagang lain, perusahaan, lembaga atau konsumen dalam partai besar. Perdagangan eceran meliputi kegiatan
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
pembelian, pengumpulan dan penjualan kembali yang pada umumnya melayani konsumen, perorangan atau rumahtangga dalam partai kecil.
B. Hotel
Sub sektor ini mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan. Penyediaan akomodasi yang dimaksud adalah hotel berbintang maupun tidak berbintang, serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti losmen, motel dan sejenisnya.
C. Restoran
Kegiatan sub sektor ini mencakup usaha penyediaan makanan di restoran/rumah makan, katering, restoran di kereta api, cafetaria dan kantin, termasuk usaha penjualan makanan dan minuman jadi yang biasanya dimakan langsung di tempat penjualan seperti : warung nasi, warung kopi, warung sate dan sejenisnya. Termasuk pula disini kegiatan penyediaan makanan dan minuman serta fasilitas lainnya, sedangkan kegiatan-kegiatan tersebut berada dalam suatu satuan usaha dengan penginapan dan datanya sulit untuk dipisahkan.
Metode Estimasi
Untuk mengestimasi sub sektor perdagangan besar dan eceran dilakukan melalui pendekatan arus barang (commodity flow) baik untuk atas dasar harga berlaku maupun untuk atas dasar harga konstan 2000, yaitu dengan menggunakan ratio margin terhadap nilai produksi daerah sendiri (pertanian, pertambangan dan penggalian serta industri) dan impor, termasuk barang keluar masuk antar daerah/provinsi. Nilai tambah harga berlaku dan harga konstan 2000, didapatkan dengan mengalikan output dengan ratio nilai tambah. Perkiraan output sub sektor restoran/rumah makan dan sub sektor hotel/penginapan dilakukan dengan pendekatan produksi, sedangkan output harga konstan 2000 diperoleh dengan cara ekstrapolasi.
| 28
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 Sumber Data :
1. BPS Provinsi Jawa Barat, 2. BPS Kabupaten Bandung,
3. Survei Khusus Kegiatan Ekonomi (SKSE)
3.7. SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A. Pengangkutan
Kegiatan yang dicakup dalam sub sektor pengangkutan terdiri atas angkutan rel, angkutan jalan raya, angkutan udara, angkutan laut, angkutan sungai, danau dan penyebrangan, serta jasa penunjang angkutan.
Kegiatan sektor ini meliputi pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan alat angkutan baik yang bermotor maupun tidak bermotor atas dasar suatu pembayaran, sedangkan jasa penunjang angkutan mencakup kegiatan yang sifatnya menunjang dan membantu memperlancar kegiatan tersebut beserta penyediaan fasilitas-fasilitasnya, seperti terminal, pelabuhan dan pergudangan.
i. Pengangkutan Rel
Meliputi semua kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan jasa kereta api termasuk gerbong.
ii. Pengangkutan Jalan Raya
Meliputi semua kegiatan pengangkutan penumpang dan barang dengan menggunakan alat angkut kendaraan jalan raya baik yang bermotor maupun tidak bermotor, termasuk pula kegiatan sewa kendaraan baik atau tanpa pengemudi.
iii. Pengangkutan Udara
Meliputi semua kegiatan pengangkutan barang dan penumpang melalui udara dengan menggunakan pesawat udara/kapal terbang yang beroperasi di dalam maupun di luar negeri, baik penerbangan yang dilakukan secara teratur maupun tidak.
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 iv. Pengangkutan Laut
Meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan angkutan samudra dan perairan pantai dengan menggunakan kapal laut, yang diusahakan oleh perusahaan pelayaran nasional baik yang beroperasi di dalam maupun di luar daerah ataupun di luar negeri. Termasuk juga kegiatan jasa penunjang angkutan laut seperti pelabuhan laut/sungai, jasa pemanduan, bongkar muat, pergudangan, ekspedisi dan keagenan.
v. Pengangkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan
Meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dari angkutan sungai, danau dan penyebrangan yang menggunakan kapal, perahu, ferry dan angkutan air lainnya.
vi. Jasa Penunjang Angkutan
Meliputi kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan, Kegiatan tersebut terdiri dari :
a. Terminal dan Perparkiran, mencakup kegiatan pelayanan dan pengaturan lalu lintas kendaraan / armada yang membongkar dan mengisi muatan baik barang maupun penumpang seperti terminal, parkir, pelabuhan laut meliputi fasilitas berlabuh, kapal pandu, penyediaan air tawar serta kegiatan pencacatan muatan barang dan penumpang.
b. Bongkar Muat, kegiatan ini mencakup pemberian pelayanan bongkar/muat angkutan barang melalui laut dan darat yang terdiri dari pelabuhan laut, sungai dan pelabuhan udara.
c. Keagenan, kegiatan ini meliputi pelayanan keagenan barang dan penumpang yang diberikan kepada usaha angkutan, baik angkutan darat, laut, sungai dan udara.
d. Pergudangan, kegiatan ini mencakup pemberian jasa penyimpanan barang dalam suatu bangunan/gudang ataupun lapangan terbuka dalam wilayah pelabuhan.
| 30
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 B. Komunikasi
i. Pos dan Telekomunikasi
Sub sektor ini meliputi kegiatan pelayanan jasa pos dan giro, dan telekomunikasi untuk umum. Pos dan giro mencakup kegiatan pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman surat, paket dan wesel yang diusahakan oleh PT Pos Indonesia. Kegiatan telekomunikasi meliputi pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman berita melalui telepon, telex dan telegraph yang diusahakan oleh PT Telkom.
ii. Jasa Penunjang Telekomunikasi
Kegiatan ini meliputi pemberian/penyediaan fasilitas yang menunjang kegiatan komunikasi seperti: wartel, warpostel, radio panggil dan telepon seluler (ponsel).
Metode Estimasi
Metode estimasi yang digunakan adalah pendekatan produksi untuk kegiatan pengangkutan dan metode alokasi untuk kegiatan komunikasi. Jasa penunjang telekomunikasi hanya mencakup wartel, sedangkan yang lain belum tersedia datanya.
Sumber Data:
1. BPS Kabupaten Bandung, 2. PT Pos Soreang,
3. PT Kereta Api Indonesia
4. Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung 5. Dinas Jasa Marga
6. Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Kabupaten Bandung 7. PT Telkom Indonesia
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 3.8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Sektor ini meliputi kegiatan perbankan, lembaga keuangan bukan bank, jasa penunjang keuangan, sewa bangunan dan jasa perusahaan.
A. Bank
Sub sektor ini meliputi pemberian jasa pelayanan di bidang keuangan kepada pihak keuangan kepada pihak lain seperti: menerima simpanan dalam bentuk giro dan tabungan, memberi pinjaman, transfer/memindahkan rekening koran, membeli dan menjual surat berharga, memberi jaminan bank, menyewakan tempat penyimpanan barang-barang berharga dan sebagainya.
B. Lembaga Keuangan Bukan Bank
Kegiatan lembaga keuangan bukan bank meliputi: asuransi, koperasi, pegadaian dan yayasan dana pensiun. Kegiatan asuransi meliputi pelayanan asuransi, baik asuransi jiwa maupun bukan jiwa seperti: asuransi kebakaran, asuransi kecelakaan, asuransi kerugian dan sebagainya. Termasuk juga agen perasuransian, jasa pelayanan penanggung perasuransian, unit pengatur dana pensiun yang berdiri sendiri dan sebagainya.
C. Jasa Penunjang Keuangan
Meliputi jasa pelayanan bidang keuangan seperti yang dilakukan pada usaha pasar modal, bursa valuta asing, penukaran mata uang asing (money
changer), anjak piutang dan modal ventura.
Metode Estimasi
Sub sektor ini diestimasi melalui pendekatan produksi dan untuk penghitungan output atas dasar harga konstan 2000 menggunakan metode deflasi.
Sumber Data :
1 Bank Indonesia
| 32
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 D. Sewa Bangunan
Sektor ini meliputi semua jasa yang berhubungan dengan proses persewaan bangunan dan tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal.
Metode Estimasi
Metode estimasi untuk sektor ini menggunakan pendekatan produksi dan penghitungan atas dasar harga konstan 2000 menggunakan cara deflasi.
Sumber Data :
BPS Kabupaten Bandung
E. Jasa Perusahaan
Sub sektor ini meliputi pemberian jasa pada pihak lain seperti : jasa hukum, jasa akuntan dan pembukuan, jasa pengolahan dan tabulasi, jasa bangunan, arsitek dan teknik, jasa periklanan, jasa persewaan mesin dan peralatan. Kegiatan yang termasuk dalam penghitungan publikasi ini baru terbatas pada kegiatan jasa hukum (advokat, pengacara dan notaris) dan jasa konsultan.
Metode Estimasi
Metode pendekatan produksi adalah metode estimasi yang digunakan dalam mengestimasi nilai tambah sub sektor jasa perusahaan, sedangkan untuk penghitungan atas dasar harga konstan 2000 digunakan metode ekstrapolasi. Data untuk memperkirakan nilai tambah sub sektor ini bersumber dari survei khusus, ratio input diperoleh melalui hasil pengolahan survei khusus pada masing-masing jenis kegiatan.
Sumber Data :
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 3.9. SEKTOR JASA-JASA
A. Pemerintahan Umum
Sektor ini mencakup kegiatan pemerintah umum dalam menyediakan jasa pelayanan kepada masyarakat yang tidak dapat dinilai secara ekonomi misalnya dalam mengatur Negara. Kegiatan pemerintah tersebut meliputi baik pemerintah pusat (badan/lembaga tinggi negara, departemen, lembaga non departemen dan unit-unit lainnya yang berada di pusat, dinas vertikal di daerah) maupun pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota) dan pemerintah desa serta unit-unitnya, termasuk juga kegiatan pertahanan dan keamanan negara/daerah.
Metode Estimasi
Pada sektor ini, perhitungan output Pemerintah Daerah menggunakan pendekatan pendapatan, sedangkan untuk output Pemerintah Pusat dan Pertahanan Keamanan dilakukan melalui cara tidak langsung yaitu metode alokasi dari angka nasional/provinsi. Penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara ekstrapolasi yaitu menggunakan indeks jumlah pegawai secara tertimbang sebagai ekstrapolatornya.
Sumber Data :
1. BPS Kabupaten Bandung,
2. Pemerintah Kabupaten Bandung.
B. Swasta
Kegiatan ini meliputi usaha penyelenggaraan pemberian jasa antara lain: jasa pendidikan dan jasa kesehatan, jasa kemasyarakatan lainnya, jasa hiburan dan rekreasi, dan jasa perorangan dan rumah tangga.
i. Jasa Sosial dan Kemasyarakatan
Sub sektor ini meliputi jasa pendidikan, kesehatan, penelitian, palang
merah, panti asuhan, panti wreda, YPAC, rumah ibadah dan sejenisnya, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta
| 34
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 ii. Jasa Hiburan dan Rekreasi
Sub sektor ini meliputi usaha penyediaan dan pengelolaan berbagai jenis hiburan/rekreasi untuk masyarakat baik perorangan maupun rumahtangga, serta berorientasi untuk mencari untung (profit
making). Kegiatan tersebut seperti pembuatan dan distribusi film,
usaha pemutaran film, penyiaran radio dan televisi swasta, produksi dan pertunjukkan film, produksi dan pertunjukkan sandiwara, tari, sanggar dan musik. Termasuk juga jasa rekreasi lainnya seperti gelanggang pacuan, sirkus, taman hiburan dan klub malam, penggubahan lagu, penulis buku, pembuat lukisan dan sebagainya. Dari berbagai kegiatan tersebut diatas hanya pemutaran film (bioskop), penyiaran radio swasta niaga dan taman hiburan/tempat rekreasi yang dapat diestimasi nilai tambahnya.
iii. Jasa Perorangan dan Rumah Tangga
Sub sektor ini meliputi kegiatan penyelenggaraan jasa yang pada umumnya melayani perorangan dan rumahtangga seperti reparasi, binatu, tukang jahit, tukang cukur, pembantu rumahtangga dan jasa perorangan lainnya. Mengingat keterbatasan data maka dalam penghitungan ini hanya terbatas pada kegiatan jasa reparasi, pembantu rumahtangga, tukang jahit, tukang cukur dan perawatan kulit, perawatan muka dan rambut.
Metode Estimasi
Besarnya output dari nilai tambah sektor ini dihitung dengan pendekatan produksi dan penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dengan menggunakan cara ekstrapolasi.
Sumber Data :
1. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, 2. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung,
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
4. Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Kabupaten Bandung, 5. Survei Khusus Kegiatan Ekonomi (SKSE).
BAB 4
Pembangunan Ekonomi
Kabupaten Bandung
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 BAB IV
PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BANDUNG
Dengan di berlakukannya Otonomi Daerah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 dan diubah menjadi Undang undang Nomor 32 Tahun 2004, maka terjadi pula pergeseran dalam pembangunan ekonomi yang tadinya bersifat sentralistis mengarah kepada desentralisasi. Adanya Otonomi Daerah memberikan keleluasaan kepada daerah untuk membangun wilayahnya termasuk pembangunan dalam bidang ekonomi.
Pemerintah Kabupaten Bandung di Tahun 2014 ini mencoba melakukan pengukuran hasil pembangunan selama tahun 2014 dengan pendekatan indikator pembangunan ekonomi yaitu hasil pengukuran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah Kabupaten Bandung selama kurun Waktu 2014.
Hasil pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung Tahun 2014 mengalami perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini digambarkan oleh Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2014 mengalami sedikit perlambatan dibandingkan dengan LPE tahun sebelumnya. LPE tahun 2014 mencapai 5,92% dan ditahun sebelumnya masih bisa mencapai 5,96%. Perlambatan nilai LPE tahun ini terutama ditunjang oleh perlambatan di sektor Pertanian dan sektor Listrik. Sektor pertanian yang merupakan salah satu penggerak ekonomi Kabupaten Bandung mengalami perlambatan pertumbuhannya yaitu dari 4,93% di tahun 2013 menjadi 2,24% di tahun 2014. Melemahnya sektor Pertanian di tahun 2014 ini di pengaruhi oleh menurunnya pertumbuhan dari sub sektor Tanaman Bahan Makanan (Tabama) dan sub sektor Kehutanan. Disamping melemahnya sektor Pertanian juga sub sektor Listrik bahkan mengalami pertumbuhan negatif.
Meskipun pertumbuhan di sektor lainnya memberikan pertumbuhan yang meningkat namun belum bisa menggerakkan LPE Kabupaten Bandung lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh
| 38
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014
tetap menurunnya pertumbuhan dan sektor Penggalian serta sub sektor Listrik yang tahun ini mengalami penurunan.
4.1. Produk Domestik Regional Bruto
Perekonomian Kabupaten Bandung yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2014 mencapai Rp 72,94 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 27,44 triliun.
Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, PDRB atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan sebesar Rp 8,28 triliun dari tahun sebelumnya. Demikian pula PDRB atas dasar harga konstan 2000, yang mengalami kenaikan sebesar Rp 1,54 triliun dari Rp 25,90 triliun pada tahun sebelumnya.
Perkembangan nilai PDRB dari tahun 2009 sampai 2014 menunjukkan tingkat perkembangan PDRB ADH Berlaku lajunya lebih tinggi dibandingkan dengan PDRB ADH Konstan. Tingginya pergerakan PDRB berlaku memberi gambaran adanya pergerakan tingkat harga yang cukup tinggi yang berakibat timbulnya inflasi yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya rentang waktu tersebut.
Tabel 4.1 PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2010 - 2014 (Juta Rp) PDRB ADH Berlaku PDRB ADH Konstan 2010 46.092.238,72 21.734.661,19 2011 51.291.762,65 23.026.214,41 2012 57.071.406,68 24.443.222,17 2013 64.660.447,44 25.899.449,73 2014 72.945.347,60 27.435.715,40 Sumber: BPS Kab. Bandung
APE
Kabupaten Bandung Tahun 2014 Grafik 4.1
PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2008-2014 (Triliun Rp)
Sumber: BPS Kab. Bandung
Tabel 4.1. dan Grafik 4.1 menunjukkan angka absolut PDRB atas dasar berlaku maupun atas dasar konstan dari tahun 2008-2014. Terlihat bahwa kenaikan harga berlaku selalu diikuti oleh kenaikan harga konstan dengan deviasi yang hampir seimbang untuk setiap tahunnya. Untuk tahun 2014, adanya kenaikan harga untuk tarif dasar listrik yang meningkat di tipa triwulan juga adanya BBM di bulan November tidak berpengaruh nyata terhadap kenaikan harga berlaku di tahun tersebut. Hal ini dapat memberi gambaran bahwa adanya kenaikan harga baik untuk listrik maupun BBM tidak berpengaruh nyata terhadap kenaikan harga di tingkat produsen. Artinya adanya kenaikan harga hanya berpengaruh pada tingkat konsumen saja tidak sampai mempengaruhi sampai tingkat produsen baik produsen barang maupun jasa.
Nilai PDRB per sektor ekonomi dapat diamati di Tabel 4.2. Sektor industri pengolahan masih tetap menduduki peringkat pertama dengan nilai tambah brutonya mencapai Rp 40,60 triliun, diikuti oleh sektor perdagangan,
38,28 41,26 46,09 51,29 57,07 64,66 72,94 19,67 20,53 21,73 23,03 24,44 25,90 27,44 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun