1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 1
DAFTAR TABEL ... 5
DAFTAR GAMBAR... 6
DAFTAR SINGKATAN... 7
BAB I PENDAHULUAN ... 10
BAB II KEGIATAN INTERNAL ... 11
2.1. Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang ... 11
2.1.1 Penyusunan Renja K/L ... 11
2.1.2 Penyusunan Profil Tata Ruang Daerah ... 11
2.1.3 Koordinasi Perencanaan: Renstra Mitra K/L ... 11
2.1.4 Koordinasi Perencanaan: Perbatasan ... 12
2.1.5 Koordinasi Perencanaan: Kawasan Khusus ... 13
2.1.6 Koordinasi Perencanaan: Kawasan Ekonomi... 13
2.1.7 Koordinasi Perencanaan: Pengelolaan DAS ... 14
2.1.8 Koordinasi Perencanaan: Penyediaan Peta Skala Besar untuk RDTR ... 14
2.1.9 Selaku Anggota Pokja I: Pemberian Tanggapan Penyusunan RDTR ... 15
2.1.10 Selaku Anggota Pokja I: Penyusunan NSPK ... 16
2.1.11 Selaku Anggota Pokja I: Pemetaan RTRW ... 17
2.1.12 Selaku Anggota Pokja I: Penyusunan RTRLN ... 17
2.1.13 Selaku Anggota Pokja I: Pemberian Tanggapan Penyusunan RDTR ... 17
2.1.14 Selaku Anggota Pokja I: Pemberiaan Tanggapan Laporan Antara Subdit Perencanaan Wilayah 1 Kegiatan Kontraktual Kementerian ATR/BPN ... 18
2.1.15 Selaku Anggota Pokja III: Rakornas BKPRD ... 19
2.1.16 Selaku Pokja IV: One Map Policy ... 20
2.2. Kegiatan Utama Subdit Pertanahan ... 20
2.2.1 Penyusunan Profil Pertanahan ... 20
2.2.2 Penyusunan Renja K/L ... 20
2.2.3 Pemantauan Bidang Pertanahan ... 20
2.2.4 Pembahasan Perubahan Nomenklatur Kementerian ATR/BPN ... 20
2.2.5 Koordinasi Pelaksanaan Reforma Agraria ... 21
2.2.6 Pemetaan Urusan Pemerintahan Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan ... 21
2.2.7 Penyusunan Rancangan Permen Pedoman Penyusunan, Pemantauan, dan Evaluasi RPI2JM ... 21
2
2.3. Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 22
2.3.1 Manajemen Pengetahuan/Knowledge Management TRP ... 22
2.3.2 Pengelolaan Media Informasi dan Sosialisasi TRP ... 22
2.3.3 Konsinyasi Awal Konsolidasi Penyusunan KM Bappeda Muara Enim ... 25
2.3.4 Buletin TRP Edisi II 2015 ... 25
2.3.5 Newsletter TRP ... 25
2.3.6 Penyusunan Strategi Komunikasi Bidang Tata Ruang ... 25
2.4. Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional ... 25
2.4.1 Penyusunan Laporan: Laporan Kegiatan BKPRN Semester 1/2015 ... 25
2.4.2 Penyusunan Laporan: Laporan Koordinasi Strategis Sekretariat BKPRN Semester 1/2015 ... 26
2.4.3 Fasilitasi dan Mediasi: Persiapan Rakernas ... 26
2.4.4 Rapat Koordinasi Nasional BKPRD Tahun 2015 ... 26
2.4.5 Fasilitasi dan Mediasi: Persiapan Hantaru 2015 ... 27
2.4.6 Kajian Singkat: Pembelajaran Implementasi UU 41/1999 dan Kaitannya dengan UU 26/2007 ... 27
2.4.7 Fasilitasi Mediasi: Implikasi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah... 27
2.5. Kegiatan Utama Sekretariat Reforma Agraria Nasional (RAN) ... 28
2.5.1 Kebijakan Pendaftaran Tanah Stelsel Positif: Pembaruan Cakupan Peta Dasar dan Wilayah Sertipikat ... 28
2.5.2 Kebijakan Pendaftaran Tanah Stelsel Positif: Publikasi Tata Batas Kawasan Hutan ... 28
2.5.3 Kebijakan Redistribusi Tanah dan Access Reform: Identifikasi Data Reforma Agraria ... 28
2.5.4 Kebijakan SDM Bidang Pertanahan ... 28
2.5.5 Kebijakan Penyediaan Tanah Bagi Pembangunan Kepentingan Umum ... 29
2.5.6 Sosialisasi dan Publikasi ... 29
2.6. Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bulan Oktober 2015 ... 29
BAB III KEGIATAN EKSTERNAL ... 31
3.1. Kelembagaan dan Monev RTR Pulau Jawa-Bali dan KSN Sarbagita ... 31
3.2. Workshop for Capacity Building on Climate Change Impact Assessment and Adaptation Planning in the Asia-Pacific Region ... 31
3.3. FGD Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pulau Papua ... 32
3.4. Rapat Penyampaian Hasil Kajian Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim dalam Perencanaan Tata Ruang ... 32
3
3.5. Seminar Evaluasi LP2B ... 33
3.6. Kelembagaan dan Monev RTR Pulau Jawa-Bali dan KSN Sarbagita ... 33
3.7. Persiapan Pelatihan SEEA dan Land Account ... 34
3.8. Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK) Perubahan Iklim ... 34
3.9. Uji Konsistensi Penelitian Kementerian Kehutanan ... 34
3.10. Seminar Pertanahan: Tata Kelola Pertanahan Nasional sebagai Program Prioritas Pemerintah untuk Mendukung Upaya Percepatan Pembangunan (Investasi, Industri, dan Infrastruktur) ... 35
3.11. Rapat Koordinasi Persiapan Kegiatan Sharing Experience on Planning an Budgeting untuk Myanmar ... 35
3.12. Kunjungan Lapangan dan Rapat Penyelesaian Permasalahan Tata Ruang Pembangunan PLTGU Lombok Peaker 150 MW ... 36
3.13. Penyempurnaan Draft Grand Design dan Panduan Pembangunan Kota Baru ... 36
3.14. Rapat Koordinasi Rencana Pengembangan Kota Kreatif ... 36
3.15. Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan SDA Bagi Pengembangan Ekonomi di Papua.... 37
3.16. Rapat Konsolidasi Penyusunan Laporan PP 39/2006 Triwulan III TA 2015 Kementerian PPN/Bappenas ... 37
3.17. Rapat Koordinasi Awal Persiapan FGD Strategi Komunikasi Bidang Tata Ruang ... 38
3.18. Pembahasan Laporan Antara Kegiatan Kontraktual Dit. Penataan Kawasan Tahun 2015 38 3.19 Pembahasan Laporan Antara Kegiatan Kontraktual Subdit Pedoman Pemanfaatan Ruang ... 39
3.20. Launching Indeks Pembangunan Desa ... 39
3.21. Peningkatan Kapasitas Pemda dalam Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Bidang Kawasan Kepentingan Nasional ... 40
3.22. Penentuan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan (Carrying Capacity) Kawasan Jabodetabekpunjur ... 40
3.23. FGD Penyusunan Inpres/Perpres Moratorium Alih Fungsi Lahan Sawah... 40
3.24. FGD Forum Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali untuk Bappeda Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta ... 41
3.25. Penyempurnaan Draft RPerpres RTR KSN Taman Nasional Lorentz ... 42
3.26. Peran Penataan Ruang dalam Penguatan Pengelolaan Kota Pusaka ... 42
3.27. Pembahasan Raperda Kabupaten Bangka Tengah tentang RDTR Pangkalanbaru dan Koba Tahun 2015-2035 ... 43
3.28. Rapat Koordinasi Pelaksanaan Reforma Agraria ... 43
3.29. Sosialisasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi ... 44
3.30. Percepatan Penyelesaian RTRW Provinsi Sumatera Utara ... 45
4
3.32. Rapat Persetujuan Substansi Raperda RDTR Kawasan Perkotaan Merauke ... 45
3.33. Coastal Management and Decision Support System ... 46
BAB IV RENCANA KEGIATAN ... 48
5
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Statistik Situs TRP (trp.or.id) ... 22
Tabel 2. Statistik Pengunjung Portal TRP (tataruangpertanahan.com) ... 23
Tabel 3. Rencana Kegiatan Subdit Tata Ruang ... 48
Tabel 4. Rencana Kegiatan Subdit Pertanahan ... 49
Tabel 5. Rencana Kegiatan Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 49
Tabel 6. Rencana Kegiatan Sekretariat BKPRN ... 51
6
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Statistik Situs TRP (trp.or.id) ... 24 Gambar 2. Statistik Portal Tata Ruang Pertanahan (tataruangpertanahan.com) ... 24 Gambar 3. Rencana dan Realisasi Anggaran Dit TRP Bulan Oktober 2015 ... 30
7
DAFTAR SINGKATAN
BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIG : Badan Informasi Geospasial
BKPRD : Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional BPN : BadanPertanahanNasional
DIRJEN : Direktorat Jenderal FGD : Focus Group Discussion INFOSOS : Informasi dan Sosialisasi K/L : Kementerian/Lembaga KEMHUT : Kementerian Kehutanan
KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan KLH : Kementerian Lingkungan Hidup KLHS : Kajian Lingkungan Hidup Strategis KSN : Kawasan Strategis Nasional
LP2B : Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LH : Lingkungan Hidup
PERPRES : PeraturanPresiden POKJA : Kelompok Kerja PP : Peraturan Pemerintah PU : Pekerjaan Umum
PUSDATIN : Pusat Data dan Informasi RAN : Reforma Agraria Nasional RDTR : Rencana Detail Tata Ruang
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RTR : Rencana Tata Ruang
RTRW : Rencana Tata Ruang Wilayah
RTRWN : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWP : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
RZWP3K : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil SCDRR : Safer Community through Disaster Risk Reduction SDA : Sumber Daya Alam
SDM : Sumber Daya Manusia SK : Surat Keputusan
TRP : Tata Ruang dan Pertanahan ADB : Asian Development Bank AKG : Angka Kecukupan Gizi
ALKI : Alur Laut Kepulauan Indonesia
AMDAL : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan APIP : Aparatur Pengawa Internal Pemerintah ARG : Anggaran Responsif Gender
BANGDA : Pembangunan Daerah
BAPPEDA : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIG : Badan Informasi Geospasial
8 BKPRD : Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional BLU : Badan Layanan Umum
BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana BP : Badan Pengembangan
BPBD : Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPHN : Badan Pembinaan Hukum Nasional BPN : Badan Pertanahan Nasional
BPS : Badan Pusat Statistik BTOR : Back to Office Report BUMN : Badan Usaha Milik Negara BUTARU : Buletin Tata Ruang CBA : Cost Benefit Analysis DAS : Daerah Aliran Sungai DIRJEN : Direktur Jenderal DISTANBEN : Dinas Tanggap Bencana DIT : Direktorat
DITJEN : Direktorat Jenderal
DJBM : Direktorat Jenderal Bina Marga DJCK : Direktorat Jenderal Cipta Karya DJPR : Direktorat Jenderal Penataan Ruang
DPCLS : Dampak Penting dan Cakupan Luas serta Bernilai Strategis DPR : Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah EAT : Evaluasi Akhir Tahun
EKPS : Evaluasi Kinerja Pembangunan Sektoral FIR : Flight Information Region
FGD : Focus Group Discussion
FPRLH : Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup GGGI : Global Green Growth Institute
GUP : Ganti Uang Persediaan
ICLEI : International Council for Local Environmental Initiatives IKK : Indikator Kinerja Kegiatan
IKU : Indikator Kinerja Utama IO : Input Output
INPRES : Instruksi Presiden INFOSOS : Informasi dan Sosialisasi IRIO : Inter Regional Input Output IRTAMA : Inspektur Utama
JICA : Japan International Cooperation Agency K/L : Kementerian/Lembaga
KAK : Kerangka Acuan Kerja KANTAH : Kantor Pertanahan KANWIL : Kantor Wilayah
KAPET : Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu KDB : Koefisien Dasar Bangunan
9 KEK : Kawasan Ekonomi Khusus
KEMHUT : Kementerian Kehutanan KEMDAGRI : Kementerian Dalam Negeri KEMENHUB : Kementerian Perhubungan KEMENKO : Kementerian Koordinator KEMEN PU : Kementerian Pekerjaan Umum KEP : Kawasan Ekonomi Potensial KH : Kesatuan Hidrologi
KKDT : Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan KLB : Koefisien Lantai Bangunan
KLH : Kementerian Lingkungan Hidup KLHS : Kajian Lingkungan Hidup Strategis KORPRI : KORPS Pegawai Republik Indonesia
KPBPB : Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas KPH : Kesatuan Pengelolaan Hutan
KPJM : Kinerja Pengeluaran Jangka Menengah
KP3EI : Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia KSN : Kawasan Strategis Nasional
KSPPN : Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional KSST : Kerjasama Selatan Selatan dan Triangular
KTB : Koefisien Tinggi Bangunan KWH : Koefisien Wilayah Hijau KWT : Koefisien Wilayah Terbangun KZB : Koefisien Zona Terbangun KZH : Koefisien Zona Hijau
LFA : Logical Framework Analysis
LAKIP : Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah LAMPID : Lampiran Pidato Presiden
LAPAN : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LP2B : Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LH : Lingkungan Hidup
10
BAB I
PENDAHULUAN
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan memiliki 2 jenis kegiatan, yang dibagi menjadi: 1) kegiatan internal; dan 2) kegiatan eksternal. Kegiatan internal adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan sesuai dengan rencana kegiatan direktorat yang telah disusun pada awal tahun 2015. Khusus untuk kegiatan internal, kegiatan ini dijelaskan ke dalam bentuk kegiatan utama dan subkegiatan. Sedangkan kegiatan eksternal adalah kegiatan yang mengundang Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak luar. Umumnya, kegiatan ini bersifat koordinasi lintas sektor.
Pada laporan ini dijelaskan secara rinci pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan selama Bulan Oktober 2015 oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan. Laporan ini merupakan tanggung jawab pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam mengelola perencanaan pembangunan bidang Tata Ruang dan Pertanahan, yang dijabarkan ke dalam kegiatan Sub Direktorat Tata Ruang, Sub Direktorat Pertanahan, Sub Direktorat Informasi dan Sosialisasi, Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dan Sekretariat Reforma Agraria Nasional (RAN).
11
BAB II
KEGIATAN INTERNAL
Untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pencapaian kinerja atas kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan secara rutin melaksanakan evaluasi kinerja seluruh bagian melalui mekanisme rapat rutin internal yang diselenggarakan setiap minggu dan setiap bulan.
Evaluasi kinerja dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana kerja dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan dimasa mendatang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output) dari pelaksanaan rencana kerja. Berikut rangkuman laporan pelaksanaan kegiatan internal baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung.
2.1. Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang 2.1.1 Penyusunan Renja K/L
Subdit Tata Ruang telah melakukan pengisian Renja K/L ke dalam aplikasi. Renja Kementerian ATR/BPN sudah disampaikan tetapi belum dilakukan pembahasan lebih lanjut. Sampai saat ini penyusunan ADIK sedang dalam tahap finalisasi oleh Kementerian ATR/BPN. 2.1.2 Penyusunan Profil Tata Ruang Daerah
Dalam kegiatan Penyusunan Profil Tata Ruang Daerah, Subdit Tata Ruang telah melakukan beberapa hal, diantaranya:
Konfirmasi Hasil Pengisian Kuesioner dari Daerah. Saat ini telah tersusun 8 (delapan) Buku Profil Tata Ruang (Provinsi: Jambi, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Gorontalo, dan Kalimantan Tengah).
Inventasisasi Hasil Pengisian Kuesioner. Subdit Tata Ruang sedang melakukan inventarisasi Data Penyusunan Buku Profil Tata Ruang untuk Tingkat Nasional. Belum terkumpulnya seluruh data dari Daerah menjadi kendala dalam Penyusunan Buku Profil Tata Ruang. Selanjutnya, Subdit Tata Ruang akan mengkonfirmasi daerah untuk mengisi kuesioner yang telah dikirimkan. Setelah semua Profil Tata Ruang Daerah terkumpul, akan dilanjutkan dengan menyusunan Buku Profil Tata Ruang untuk tingkat Nasional. 2.1.3 Koordinasi Perencanaan: Renstra Mitra K/L
Dalam rangka Penyusunan Rencana Strategis Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang Daerah dan Pemanfaatan Ruang Daerah, Subdit Tata Ruang telah ikut serta dalam FGD yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan ruang Daerah, yang diselenggarakan pada 5 Oktober 2015 di Hotel Ambhara. Pada kesempatan yang diberikan, Direktur TRP memaparkan paparan Arahan RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang. Poin-poin yang dibahas dalam rapat:
a. Perlu dilakukan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dan acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang;
12 b. Perlunya percepatan penyediaan peta skala 1:5000 untuk RDTR dan
mengimplementasikan One Map Policy;
c. PP No.8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruand dan Holding Zone dianggap oleh daerah bukan suatu tools untuk menyelesaikan masalah kehutanan. Hanya mempercepat penetapan perda saja;
d. Adanya indikasi beberapa proyek infrastruktur dan kawasan strategis dalam RPJMN 2015-2019 yang belum Terakomodir dalam RTRW Provinsi maupun RTRW Kabupaten/Kota;
e. Kementerian perekonomian akan mengkoordinasikan perumusan terobosan/deregulasi percepatan sinkronisasi dan integrasi kebijakan-kebijakan nasional dalam RTRW;
f. Beberapa kebijakan Bidang Pertanahan yang memiliki kaitan erat dengan Bidang Tata Ruang: Bank Tanah dan Reforma Agraria.
Materi yang disampaikan oleh pemapar akan dijadikan bahan rujukan untuk penyusunan rencana strategis Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan Ruang Daerah Tahun 2015-2019. Tim Konsultan yang didampingi oleh Tim Teknis ATR akan melakukan pendalaman lebih lanjut.
2.1.4 Koordinasi Perencanaan: Perbatasan
Pada tanggal 28 Oktober 2015 di Aula Tritura Gd. A. Yani, Ditjen Strahan, Kementerian Pertahanan, Subdit Tata Ruang telah hadir dalam FGD Pengelolaan Wilayah Batas Darat Negara di Kalimantan “Konsep Sabuk Pengaman” Terpadu dengan Pemberdayaan Wilayah Pertanahan. FGD ini bertujuan untuk menjaring masukan dari stakeholder terkait terhadap konsep sabuk pengaman terpadu dengan pemberdayaan wilayah pertahanan yang akan diterapkan dalam pengelolaan wilayah batas darat negara di Kalimantan.
Beberapa hal penting yang dibahas dalam FGD:
a. Perlunya integrasi penataan ruang di kawasan perbatasan negara, mulai dari RTRWN (yang telah diitegrasikan dengan RPJMN 2015-2019), RTR Pulau Kalimantan, RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten, dan RTR KSN Kawasan Perbatasan Negara di Kalimtan, mengingat luas kawasan perbatasan negara di Kalimantan mencakup 20% dari luasan Kalimantan yang menjadi bagian dari NKRI.
b. Perlunya diperhatikan konsep pengembangan sabuk pengaman, khususnya mengenai delineasi kawasan penyangga sejauh 4 km dari batas perbatasan negara: bagaimana pembangunan infrastruktur dan pengembangan pola ruang di kawasan penyangga tersebut, termasuk di dalamnya batasan keterlibatan masyarakat.
c. Terkait dengan pengelolaan sabuk pengaman yang termasuk ke dalam kawasan lindung, diperlukan koordinasi dengan Kementerian LHK.
d. Menindaklanjuti amanat Perpres No.31 Tahun 2015 tentang RTR Kawasan Perbatasan Kalimantan, akan ditetapkan daerah prioritas pertahanan dalam wilayah batas darat negara di Kalimantan.
e. Perlunya penguatan dari segi pendanaan di tingkat pusat (koordinasi BNPP dengan Kementerian Keuangan dan Bappenas) dalam mengelola kawasan perbatasan negara. Diharapkan dalam penyusunan renstra K/L 2016, kegiatan yang terkait dengan pengelolaan kawasan perbatasan negara dapat lebih diprioritaskan dalam penyusunan anggaran.
13 Konsep sabuk pengaman terpadu dengan pemberdayaan wilayah pertahanan yang akan diterapkan dalam pengelolaan wilayah batas darat negara di Kalimantan akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Pertahanan. Hasil pembahasan dalam rapat akan menjadi masukan dalam penyusunan draft Permenhan tersebut. Dalam memperkuat pengelolaan kawasan perbatasan, Kementerian Pertahanan akan melakukan sosialisasi PP Wilayah Pertahanan Negara yang direncanakan diselenggarakan pada Minggu II November 2015 kepada seluruh K/L anggota BKPRN.
2.1.5 Koordinasi Perencanaan: Kawasan Khusus
Untuk membangun kesatuan pola pikir dan pola tindak dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah terkait kawasan kepentingan lainnya (Kawasan Bandara, Kawasan Pelabuhan, dan Kawasan Sepanjang Rel Kereta Api) pasca ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan, Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan FGD Rapat Fasilitasi Peneglolaan dan Pengembangan Kawasan Kepentingan Nasional pada tanggal 6 Oktober 2015 di Hotel Jayakarta.
Penetapan Kawasan Bandar Udara, Kawasan Pelabuhan, dan Kawasan Perkeretaapian termasuk ke dalam Kawasan Khusus yang memiliki Kepentingan Nasional ditentukan olej Pemerintah Pusat didalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Kemendagri akan menyusun RPP sebagai turunan dari uu 23/2014 yang menjelaskan secara rinci terkait kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan Kawasan Kepentingan Nasional termasuk pengelolaan Kawasan Bandar Udara, Kawasan Perkerataapian, dan Kawasan Pelabuhan yang telah bersinergi dengan peraturan perundang-undangan sektoral dan akan melibatkan kementerian Perhubungan dalam penyusunannya.
2.1.6 Koordinasi Perencanaan: Kawasan Ekonomi
Subdit Tata Ruang telah hadir pada Rapat Curah Gagasan Peran Tata Ruang dalam Pengembangan dan Peneglolaan Kawasan Ekonomi di Indonesian pada tanggal 12 Oktober 2015 di Hotel Grand Kemang yang diselenggarakan oleh Direktorat Penataan Kawasan Kementerian ATR/BPN.
Terdapat penetapan beberapa kawasan pariwisata prioritas oleh Kementerian Pariwisata yaitu 50 DPN (Destinasi Pariwisata Nasional), 88 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional), 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional), 19 Lokasi Prioritas Investasi Pariwisata, 34 KEK Pariwisata dan 12 Destinasi Pariwisata Berbasis Ekonomi Kreatif, sehingga sulit untuk mengetahui mana yang akan dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata dalam lima tahun kedepan. Kementerian Pariwisata seharusnya mengikuti arahan RPJMN 2015-2019 dalam menetapkan kawasan pariwisata prioritasnya sesuai dengan kesepakatan dalam multilateral meeting Bulan Maret 2015 yaitu di 35 Kawasan Pariwisata. Beberapa hal yang perlu dikonfirmasi oleh Kementerian Pariwisata antara lain: 1) Rantai pasok (supply chain) dan bussines process dari sektor pariwisata sebagai dasar dalam mengidentifikasi kebutuhan ruang pariwisata, sarana prasarana dan infrastruktur; 2) Penjelasan mengenai penetapan sentra kreatif, zona kreatif dan kota kreatif serta implikasinya; 3) Penjelasan kriteria penetapan DPN, DPW dan kawasan pariwisata prioritas
14 serta implikasinya. Pengembangan kawasan pariwisata memerlukan RDTR sebagai instrumen yang menjadi acuan pemanfaatan ruang dan perizinan.
2.1.7 Koordinasi Perencanaan: Pengelolaan DAS
Pada tanggal 16 Oktober 2015 di Kantor BPDAS Citarum Bogor, Subdit Tata Ruang telah hadir dan memberikan masukan pada FGD Kajian Pengaruh Kebijakan Konservasi Sumber Daya Air di Dalam DAS Terhadap Sektor Kehutanan dan Sektor Lainnya yang diselenggarakan oleh Direktur Kehutanan dan Sumber Daya Air.
Rapat ini bertujuan untuk membahas progress upaya konservasi sumber daya air yang dilakukan di dalam kawasan DAS. Pengelolaan DAS harus melibatkan berbagai stakeholder (pemerintah, masyarakat dan LSM) melalui forum DAS. 120 RPDAS yang sudah disusun harus diinternalisasi ke dalam rencana tata ruang dan rencana sektoral lainnya. Isu internalisasi pengelolaan DAS ke dalam rencana tata ruang dapat diangkat ke forum BKPRN di tingkat pusat dan forum BKPRD di tingkat daerah.
Sebaiknya, isu internalisasi pengelolaan DAS ke dalam rencana tata ruang dapat diangkat ke forum BKPRN (tingkat pusat) dan BKPRD (tingkat daerah).
2.1.8 Koordinasi Perencanaan: Penyediaan Peta Skala Besar untuk RDTR
Subdit tata Ruang telah hadir dan memberikan masukan dalam FGD Kebutuhan Data dan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh untuk mendukung Program Nawacita, yang diselenggarakan pada 30 Oktober 2015 di Hotel Best Western, Jakarta Timur.
Acara diawali dengan penandatanganan MoU antara LAPAN dan BIG mengenai kesepakatan tahap 2 kerjasama penyediaan citra satelit optis resolusi sangat tinggi sebagai data dasar untuk pembuatan peta dasar RDTR. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan 3 sesi diskusi panel.
Poin-poin penting dalam sesi diskusi 1
a. Untuk menghindari duplikasi, permintaan data sebaiknya dilakukan melalui pokja IGT;
b. Perlu dibuat estimasi biaya nasional keperluan citra satelit 2016-2019; c. Diperlukan percepatan penyusunan NSPK untuk Pemetaan Peta Desa; d. Diperlukan pemutakhiran dan pengintegrasin IG Batas dalam IG Nasional. Poin-poin penting dalam sesi diskusi 2
a. Peta digunakan sebagai alat untuk monitoring pembangunan jalan tol;
b. Kemen Pu Pera telah menyusun Roadmap untuk mendukung pemenuhan target One Map Policy yaitu menyusun 13 peta tematik;
c. Kebutuhan data yang diperlukan oleh Kemen Pu Pera: Peta Dasar Skala 1: 10.000, Citra Satelit Resolusi Tinggi (untuk wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua), Citra Satelit Beresolusi Sedang dan Digital Elevation Model (DEM) Resolusi Tinggi;
d. Dibutuhkan percepatan penyelesaian garis batas Negara di wilayah perbatasan Negara, sehingga dibutuhkan penyusunan peta hasil Join Mapping Border (JMB);
15 e. Target penyediaan peta dasar skala 1:5.000 hingga tahun 2019 adalah 1.419 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), belum termasuk RDTR kawasan perbatasan negara dan kawasan industri yang juga membutuhkan peta skala 1:5.000.
Poin-poin penting dalam sesi diskusi 3
a. Kementerian LHK dalam hal ini Kementerian Kehutanan telah melakukan pemantauan penutupan lahan/hutan 23 kelas sejak tahun 1990, 1996, 2000, dilanjutkan 2003, 2006, 2009, 2011, 2012, 2013, dan 2014;
b. Ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah menimbulkan terjadinya kesenjangan antarwilayah, baik antar kota-desa, Kawasan Barat Indonesia-Kawasan Timur Indonesia ataupun antara Jawa – luar Jawa;
c. Dalam penyusunan STRANAS diperlukan data spasial untuk memudahkan perencanaan, memahami, mengontrol dan mengevaluasi Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal;
d. Diperlukan data spasial untuk menganalisis perbatasan antar negara (RI-MAL,RI-PNG,RI-RDTL;
e. Kebutuhan data Penginderaan Jauh dalam Pembangunan Kelautan dan Perikanan utamanya adalah tersedianya Baseline Dataset (Terestrial dan Bathimetri) dan Thematic Dataset.
Selanjutnya, dibutuhkan penyusunan Roadmap penyiapan peta skala besar 2016-2019 yang disepakati bersama oleh para pihak diantaranya Bappenas, LAPAN, BIG, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, BNPP, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian PU/Pera. BIG dan Lapan akan Melaksanakan penyediaan citra satelit optis resolusi sangat tinggi sebagai data dasar untuk pembuatan peta dasar RDTR Tahap 2 sesuai dengan MoU.
2.1.9 Selaku Anggota Pokja I: Pemberian Tanggapan Penyusunan RDTR
Pada tanggal 22 Oktober 2015, Subdit Tata Ruang telah hadir dan memberikan masukan tertulis pada Rapat Persetujuan Substansi Teknis RDTR Kawasan Perkotaan Kabupaten Majene.
Beberapa masukan yang disampaikan oleh anggota BKPRN:
Judul Raperda agar diubah menjadi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan di ibukota Kabupaten Majene.
Konsideran mengingat pada Raperda agar ditambahkan PP No. 68 Tahun 2014 tentang Penataan Wilayah Pertahanan Negara, PP No. 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang, dan PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
Pada Raperda agar ditambahkan klausul yang menyatakan bahwa RDTR merupakan dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang, penatagunaan tanah, dst.
Penjelasan Raperda agar disesuaikan dengan substansi pada batang tubuh yang perlu dijelaskan.
Dokumen RDTR Kawasan Perkotaan Majene agar dilengkapi dengan KLHS.
16 Seluruh masukan rapat baik lisan maupun tertulis akan dijadikan sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan Raperda RDTR. Perbaikan dan konsultasi pada K/L teknis (KKP, BIG, KLHK, dsb) terkait akan diselesaikan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan.
2.1.10 Selaku Anggota Pokja I: Penyusunan NSPK
Rapat ini diselenggarakan pada 5 Oktober 2015 di Ruang Rapat Prambanan Kementerian ATR/BPN. Rapat ini bertujuan untuk mendapatkan masukan berupa arahan kebijakan dan konfirmasi atas hasil inventarisasi program-program pembangunan infrastruktur dan investasi jangka menengah pada RTR Pulau/Kepulauan dan Kawasan Strategis Nasional dari berbagai stakeholder terkait.
Beberapa hal penting yang dibahas di dalam rapat:
a. Lingkup kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian ATR/BPN dalam menyusun Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Pulau/Kepulauan dan Kawasan Strategis Nasional meliputi:
Verifikasi dokumen spasial (RTRWN, RTR Pulau/Kepulauan/KSN, RTRW Kabupaten/Kota terkait);
Review hasil sintesis program prioritas pembangunan infrastruktur kePUan, perhubungan, energi dan telekomunikasi berdasarkan RPJPN, RPJMN, Renstra K/L, RPJPD, dan RPJMD Kota/Kabupaten terkait;
Penyempurnaan rencana terpadu pembangunan infrastruktur (integrasi arahan spasial dengan program prioritas infrastruktur);
Sinkronisasi program pembangunan infrastruktur prioritas (fungsi, lokasi, waktu dan anggaran);
Identifikasi alternatif sumber pembiayaan program pembangunan infrastruktur prioritas;
Penyempurnaan peta program prioritas infrastruktur;
Pelaksanaan konsinyasi, FGD, Koordinasi dengan K/L beserta Pemda terkait. b. Hasil review dan penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi
Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Pulau/Kepulauan dan Kawasan Strategis Nasional masih berfokus pada program infrastruktur kePUan, sedangkan untuk infrastruktur lainnya seperti perhubungan, energi dan telekomunikasi belum dibahas secara detail. Kesulitan dalam pengisian matriks program pembangunan infrastruktur prioritas non-kePUan dikarenakan kedalaman Renstra K/L yang berbeda-beda.
c. Kedeputian Sarana Prasarana khususnya Direktorat Transportasi sudah menyusun RPI2JM dan akan ditetapkan dalam bentuk Permen PPN/Perka Bappenas. RPI2JM yang dibuat sudah merupakan list infrastruktur yang sudah menyelaraskan rencana tata ruang, RPJMN, kesiapan pendanaan, kesiapan lahan, dll. Kementerian ATR/BPN diharapkan dapat berkoordinasi agar output pedomannya tidak tumpang tindih. d. Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum sudah menetapkan Rencana
Terpadu Program Prioritas Permukiman. Kementerian ATR/BPN diharapkan dapat berkoordinasi terutama dalam penyusunan infrastruktur yang berkaitan dengan permukiman.
17 e. Kementerian Perhubungan sudah menetapkan Rencana Terpadu Perkeretaapian. Kementerian ATR/BPN diharapkan dapat berkoordinasi terutama dalam penyusunan infrastruktur yang berkaitan dengan perkeretaapian.
f. Penyusunan rencana terpadu program pembangunan infrastruktur prioritas di Papua sebaiknya menambahkan analisis dari sisi pertanahan mengingat Papua memiliki sistem pertanahan yang khusus (sistem tanah adat ulayat).
Selanjutnya, perlu dilakukan pertemuan bilateral antara Kementerian ATR/BPN dengan Dit. Transportasi Bappenas terkait sinkronisasi pedoman RPI2JM yang disusun dikedua kementerian.
2.1.11 Selaku Anggota Pokja I: Pemetaan RTRW
Pada tanggal 15 Oktober di Hotel Grand Kemang, telah diselenggarajan Rapat Percepatan Pemetaan RTRWP. Pertemuan ditujukan untuk memberikan bantuan teknis kepada 12 provinsi yang belum melengkapi peta RTRWP dan yang belum menetapkan Perda RTRWP. Belum terintegrasinya data pola pemenfaatan ruang seluruh provinsi menjadi kendala penyelenggaraan percepatan pemetaan RTRWP tersebut. Selanjutnya, BIG dan KLHK akan membuka Klinik selama 2 hari untuk 12 provinsi yang belum melengkapi Peta RTRWnya. 2.1.12 Selaku Anggota Pokja I: Penyusunan RTRLN
Pada tanggal 15 Oktober 2015 di IPB Bogor, Subdit Tata Ruang menyusun Brief Note dan turut hadir dalam FGD Penyusunan Rencana tata Ruang Laut Nasional (RTRLN).
Masukan yang disampaikan oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan:
a. Substansi dan Produk Tata Ruang harus dirumuskan melalui konsep pengembangan wilayah yang terpadu baik darat maupun laut, keduanya harus saling terintegrasi. b. Dan ke depan tidak hanya terintegrasi dengan darat dan laut tetapi juga terintegrasi
dengan udara dan dalam bumi.
c. Konsep sistem perkotaan (PKN, PKW, dan PKL) harus memiliki keterkaitan dengan konsep struktur ruang RTRLN. Sistem perkotaan dalam RTRW menjadi hinterland pengembangan produk dari Bidang Kelautan. Misal di daerah PKN akan dibangun International Hub Port dan juga akan dikembangkan Industri Jasa maritim.
d. Perlu dilakukan internalisasi dengan Pemda, sehingga kegiatan/program bisa dituangkan ke dalam RPJMD
e. Konsep alokasi optimal dari ruang laut merupakan win-win solution dari konsep teoritis penyusunan rencana tata ruang laut dan kondisi saat in
f. KKP perlu melakukan bimbingan teknis secara intensif dalam rangka percepatan penyusunan RZWP3K.
KKP dan Menko Bidang Kemaritiman akan menyelenggarakan FGD 3 yang diagendakan pada 22 Oktober 2015. Selanjutnya, Direktorat TRP perlu mengadakan pertemuan antara KKP dengan Kementerian ATR/BPN untuk menyepakati hubungan, pemahaman, dan kedudukan RTRWN dengan RTRLN (pemaduserasian antara matra darat dengan matra laut).
2.1.13 Selaku Anggota Pokja I: Pemberian Tanggapan Penyusunan RDTR
Pada Tanggal 28 dan 29 Oktober 2015 di Hotel Little Amaroossa, Subdit Tata Ruang telah hadir dan memberikan masukan tertulis dalam Rapat Pemberian Tanggapan/Saran terhadap
18 Dokumen Final RDTR Taliwang dan Waingapu. Sejauh ini, belum diakomodir aspek kebencanaan dalam penyusunan dokumen RDTR Taliwang. RPJPD dan RPJMD juga belum dikalukan sinkronisasi. Sebaiknya dilakukan perbaikan draft RDTR Taliwang dan Waingapu dengan mengakomodir masukan dari K/L yang hadir.
2.1.14 Selaku Anggota Pokja I: Pemberiaan Tanggapan Laporan Antara Subdit Perencanaan Wilayah 1 Kegiatan Kontraktual Kementerian ATR/BPN
Rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2015 di Hotel Arion Swiss Bell, Kemang. Sesi I terdiri dari 2 paparan yaitu paparan Laporan Antara: i) Raperpres serta Penyiapan Peta RTR KSN Mahato, RTR KSN Bukit Dua Belas, dan RTR KSN Berbak; ii) Penyusunan Kajian KLHS KSN Mahato, Bukit Dua Belas, Berbak, dan KEK Tanjung Lesung, dengan poin pembahasan:
a. Kebijakan Penataan Ruang KSN Berbak adalah Mewujudkan Penataan Ruang Kawasan yang berkualitas dalam rangka menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kawasan Berbak yang berbasis kawasan lindung.
b. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 285/Kpts-II/1992, wilayah Kawasan Berbak ditetapkan sebagai taman nasional dengan luas 162.700 hektar yang mencakup Kab. Tanjung Jabung, Provinsi Jambi. Taman Nasional Berbak ditargetkan mampu menyerap emisi sebesar 1,835 juta ton dari target penurunan emisi 26 persen oleh Pemerintah Indonesia.
c. Penataan Ruang Kawasan Bukit Dua Belas bertujuan untuk mewujudkan Tata Ruang Kawasan Bukit Dua Belas yang berkualitas dalam rangka menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kawasan Bukit Dua Belas yang berbasis kawasan lindung.
d. Areal Taman Nasional Bukit Dua Belas mempunyai luas 60.500 Ha, berupa perbukitan dataran rendah berada pada ketinggian + 30 - 430 m dpl, secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Soralangun, Muaratebo dan Batanghari, Provinsi Jambi.
e. Penataan Ruang Kawasan Mahato bertujuan untuk mewujudkan Tata Ruang Kawasan Mahato yang berkualitas dalam rangka menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kawasan Mahatoyang berbasis hutan lindung.
f. Hutan Lindung Mahato merupakan salah satu kawasan hutan lindung di Provinsi Riau. Kawasan hutan lindung ini ditetapkan melalui SK Kementrian Kehutanan No 23/Kpts-II/1983. Hutan lindung Mahato berada di Provinsi Riau yang mengalami alihfungsi lahan tanpa izin menjadi perkebunan sawit. Luas tutupan lahan di Hutan Lindung Mahato pada tahun 1983 adalah 28.800 Ha, hingga saat ini sudah beralihfungsi seluas 24.000 Ha. Berubahnya fungsi Hutan Lindung Mahato menyebabkan Rokan Hulu selalu mengalami bencana banjir dan kebakaran hutan. g. Kajian KLHS ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian perspektif kualitas
lingkungan hidup agar tetap terjaga menggunakan basis rencana tata ruang pada KSN Mahato, Bukit Dua Belas, Berbak, dan KEK Tanjung Lesung.
h. Hingga saat ini proses kajian masih dalam tahapan identifiskasi isu pembangunan berkelanjutan dan sedang menyusun dampak KRP terhadap isu lingkungan hidup. Adapun kendala pada Dokumen Final tersebut adalah:
a. Laporan antara yang dihasilkan masih belum sesuai dengan target yang telah ditentukan oleh Kementerian ATR/BPN.
19 b. Terkait penyusunan peta, pada umumnya masih belum sesuai dengan ketentuan PP
No. 8 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang dan P
c. Kebijakan nasional seperti RPJMN, RTRWN, maupun RTR Pulau/kepulauan masih belum diintegrasikan dengan Kajian yang sedang disusun
d. Indikasi program yang telah dirancang belum seluruhnya sinkron dengan Program/Kebijakan K/L terkait maupun Pemda.
2.1.15 Selaku Anggota Pokja III: Rakornas BKPRD
Dirjen Bangda Kementerian Dalam Negeri mengundang Bappenas turut hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional BKPRD Tahun 2015 yang diselenggarakan pada 29 Oktober 2015 di Hotel Aryaduta, Karawaci. Tujuan dari pelaksanaan Rakornas BKPRD Tahun 2015 adalah memperkuat peran dan fungsi BKPRD dalam rangka mewujudkan optimalisasi koordinasi penataan ruang di daerah. Poin-poin penting yang disampaikan dalam sesi pleno:
a. Adanya indikasi beberapa program infrastruktur dan kawasan strategis prioritas dalam Nawacita dan RPJMN 2015-2019 yang belum terakomodir dalam Perda RTRW Provinsi maupun RTRW Kabupaten/Kota
b. Proyek infrastruktur dan kawasan ekonomi yang belum terakomodir dalam RTRW Nasional, RTRW Provinsi maupun Kabupaten/Kota berpotensi akan terhambat pembangunannya. Kondisi ini mengakibatkan: Terhambatnya capaian target pembangunan infrastruktur dan kawasan strategis dalam Nawacita dan RPJMN 2015-2019 dan Tidak terserapnya anggaran APBN/APBD untuk pembangunan infrastruktur
c. Terdapat implikasi dari terbitnya UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah terhadap Bidang Penataan Ruang. Salah satu kegiatan yang sedang dilakukan ooleh Kemendagri adalah Penyelesaian Rapermendagri tentang Tata Cara Evaluasi Raperda tentang Rencana Tata Ruang Daerah (Mandatoris Pasal 400 UU No. 23/2014). d. penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang penataan ruang di daerah.
e. Beberapa upaya yang diperlukan untuk mendukung kinerja kelembagaan penataan ruang di Provinsi Banten: i) Perlu dukungan anggaran untuk fasilitasi BKPRD Kabupaten / Kota dan provinsi dalam rangka penguatan kelembagaan; ii) Keanggotaan Pokja BKPRD agar disesuaikan dengan pertimbangan efisiensi dan memaksimalkan potensi pokja tersebut; iii) Perlunya penilaian kinerja dan pemberian penghargaan (reward) atas kinerja BKPRD; iv) Diperlukan acuan penyusunan SOP BKPRD untuk menunjang kinerja Dampak
f. Dengan hadirnya Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN maka diperlukan reformulasi dan restrukturisasi BKPRN.
Pembahasan dalam Rakernas BKPRN Tahun 2015 diharapkan dapat merumuskan agenda kerja BKPRN yang dapat memperkuat peran dan fungsi BKPRD untuk optimalisasi koordinasi penataan ruang di daerah. Diperlukan pemilahan hasil rumusan sidang kelompok kerja I dan II yang merupakan pembahasan kewenangan nasional sehingga pembahasan dalam Rakernas BKPRN dapat terfokus dan dapat menghasilkan rumusan dalam memperkuat peran dan fungsi BKPRD untuk optimalisasi koordinasi penataan ruang di daerah.
20 2.1.16 Selaku Pokja IV: One Map Policy
Pada 30 Oktober 2015 d Kantor Sekretariat Kabinet RI telah diselenggarakan Pembahasan Draft RPerpres Percepatan Pelaksanaan One Map Policy. Rapat ini bertujuan untuk membahas dan menyepakati klausal-klausal di dalam RPerpres Percepatan Pelaksanaan One Map Policy.
Pada rapat pembahasan draft RPerpres Percepatan Pelaksanan OMP disusun pembagian peran K/L dalam pelaksanaan OMP, renaksi (tahapan kegiatan, indikator/target pencapaian, alokasi waktu pengerjaan, pembagian tugas K/L terkait dan alokasi pendanaan) untuk tiap K/L yang merupakan walidata dan penyepakatan jenis maupun skala peta tiap K/L terkait. Menteri PPN/Kepala Bappenas termasuk di dalam keanggotaan Tim Percepatan yang bertugas menetapkan arahan dan mengevaluasi pelaksanaan OMP pada level strategis. Deputi Pengembangan Regional Bappenas ditetapkan menjadi Wakil I di dalam Tim Pelaksana yang bertugas i) menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan OMP, ii) melakukan pemantauan terhadap rencana aksi dan iii) penyusunan mekanisme jaringa IGN dan IGT. Kementerian PPN/Bappenas diharapkan dapat menyediakan peta RPJMN 2015-2019 dengan skala 1:250.000 dan peta RKP dengan skala 1:250.000 yang disediakan tiap tahun (tiap Bulan Oktober).
2.2. Kegiatan Utama Subdit Pertanahan 2.2.1 Penyusunan Profil Pertanahan
Subdit Pertanahan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan masih melakukan pengumpulan data dan informasi daerah terkait pertanahan. Saat ini telah tersusun 7 Provinsi,. 2 Provinsi sedang tahap finalisasi. Tindak lanjut dari penyusunan profil adalah menghubungu Kanwil terkait pengumpulan data dan informasi pertanahan.
2.2.2 Penyusunan Renja K/L
Subdit Pertanahan telah melakukan pengisian Renja K/L ke dalam aplikasi. Penyusunan Renja Kemen ATR/BPN hingga saat ini masih belum terlaksana karena harus menunggu hingga tahap finalisasi ADIK ATR/BPN. ADIK Kementerian ATR/BPN akan diserahkan ke Kemenkeu untuk diinput ke dalam aplikasi RKA K/L.
2.2.3 Pemantauan Bidang Pertanahan
Subdit Pertanahan telah melakukan tahap finalisasi laporan Pemantauan Bidang Pertanahan. Laporan Pemantauan Bidang Pertanahan ini ditargetkan akan selesai pada Bulan November 2015.
2.2.4 Pembahasan Perubahan Nomenklatur Kementerian ATR/BPN
Pada tanggal 12-13 Oktober 2015 di Ruang Rapat 203, Subdit Pertanahan Bappenas menyelenggarakan Rapat Pembahasan Nomenklatur Program, Kegiatan, dan Unit Kerja Penanggungjawab di Kementerian ATR/BPN. Rapat ini pertemuan tiga pihak (trilateral meeting) yang bertujuan untuk membahas dan menyepakati usulan perubahan kode program/kegiatan dan nomenklatur program/kegiatan sesuai dengan Struktur Organisasi
21 dan Tata Kerja (SOTK) Kementerian ATR/BPN. Dalam pertemuan tersebut telah dilakukan rapat pembahasan perubahan nomenklatur program, kegiatan, unit kerja penanggungjawab Kemen ATR/BPN sesuai dengan SOTK dan dokumen trilateral meeting sudah disampaikan ke Dit APP, Bappenas dan DSP, Kemenkeu. Selanjutnya, Kementerian ATR/BPN akan menyiapkan ADIK dan Renja K/L yang disesuaikan dengan nomenklatur baru.
2.2.5 Koordinasi Pelaksanaan Reforma Agraria
Subdit Pertanahan telah hadir dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan reforma Agraria sebesar 9 Juta Ha yang diselenggarakan di Ruang Rapat Ditjen Penataan Agraria, pada 21 Oktober 2015. Dirjen Penataan Agraria menyampaikan skema pencapaian target Reforma Agraria 9 juta Ha yang terdiri atas: (i) Legalisasi Aset sebesar 4,5 juta Ha yang terdiri dari lahan transmigrasi sebesar 0,6 juta Ha, dan dari tanah masyarakat yang berada di luar kawasan hutan yang belum bersertifikat sebesar 3,9 juta Ha; dan (ii) Redistribusi tanah berasal dari HGU dan tanah terlantar sebesar 0,4 ha dan pelepasan kawasan hutan 4,1 ha.
Selanjutnya, Kemendes PDTT sedang melakukan validasi data spasial untuk menentukan lokasi-lokasi transmigrasi yang menjadi target pelaksanaan Reforma Agraria
2.2.6 Pemetaan Urusan Pemerintahan Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan Untuk membahas produk layanan dan indikator masing-masing sub urusan pada urusan pertanahan di provinsi dan kabupaten/kota dan membahas usulan nama dinas teknis yang menangani urusan tata ruang dan pertanahan sesuai dengan UU 23/2014, Subdit Pertanahan dan Kemendagri berkoordinasi dalam penyelenggaraan Rapat Pemetaan Urusan Pemerintahan Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan. Saat ini, masukan dari BPN tentang indikator beban kerja belum sesuai, sehingga belum dapat disepakatinya indikator beban kerja pelaksanaan urusan penataan ruang dan pertanahan oleh Pemda. Selanjutnya, Kemendagri meminta Bappenas untuk memfasilitasi rapat kembali dengan Kemen.ATR/BPN utk membahas indikator beban kerja tersebut.
2.2.7 Penyusunan Rancangan Permen Pedoman Penyusunan, Pemantauan, dan Evaluasi RPI2JM
Pada 8 Oktober 2015, Subdit Pertanahan mengundang Dit. Transportasi, Kepala Biro Hukum, Dit. Pengairan dan Irigasi, Dit. Pemukiman dan Perumahan, dan Dit. KKDT untuk hadir dalam Konsultasi Publik Rancangan Permen tentang Pedoman Penyusunan, Pemantauan, dan Evaluasi Rencana dan Program Invetasi Infrastruktur Jangka Menengah di Ruang Rapat SS 1-2.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan menyampaikan beberapa masukan terhadap penyusunan dokumen tersebut:
a. Masih ditemukan RPJMD yang belum sinkron dengan RPJMN, sehingga diharapkan dengan adanya RPI2JM ini mampu mendorong sinkronisasi antara RPJMND dengan RPJMN;
b. Bidang Tata ruang saat ini sedang memuat beberapa kebijakan seperti RPJMN, RPJMD, dan RTRW Nasional masuk dalam rencana tata ruang daerah;
c. Komponen ketersediaan lahan dan status lahan perlu dimasukkan dalam program kegiatan pelaksanaan RPI2JM saat T-1;
22 d. Aspek perencanaan dan pengembangan tata ruang, seperti KSN, KEK, dan Perbatasan
perlu dimuat dalam alur alur proses pelaksanaan RPI2JM.
Selanjutnya pada Bulan November 2015 akan dilakukan submit serta penetapan Permen RPI2JM pada Bulan November 2015.
2.2.8 Evaluasi Kualitas Kinerja Output Kegiatan Unit Kerja TA 2014
Pada 15 Oktober 2015, Biro Ortala mengundang Dit. TRP untuk mengikuti Wawancara Evaluasi Kinerja Output Kegiatan Unit Kerja TA 2014 di Ruang Rapat Biro Ortala, Bappenas. Tujuan wawancara ini adalah untuk melakukan klarifikasi bukti-bukti terkait kegiatan kajian yang dilakukan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Tahun 2014 yaitu Kajian Penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan Nasional. Selain itu juga untuk melihat kesesuaian antara rencana yang ada didalam TOR dengan pelaksanaan kajian tersebut.
Dalam sesi wawancara, Dit TRP yang diwakili oleh Kasubdit Pertanahan menyampaikan Kajian yang dilakukan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Tahun 2014 yaitu “Kajian Penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan Nasional” mendapatkan penilaian yang sangat baik (nilai 100) oleh Biro Perencanaan dan Ortala berdasarkan 4 (empat) indikator yang dinilai. Kajian yang dilakukan pada tahun mendatang dapat mempertahan-kan kualitas kajian tahun 2014.
2.3. Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi
2.3.1 Manajemen Pengetahuan/Knowledge Management TRP
Knowledge Management Kedeputian Regional, saat ini sudah terbentuk Mockup aplikasi KM Kedeputian yang akan didiskusikan para PIC Kedeputian. Perlunya penyesuaian kategori dirketorat kedalam kategori deputi agar sistem aplikasi KM Kedeputian dapat disetuji semua direktorat. Selesai aplikasi selesai, akan di uji coba ke para PIC Kedeputian.
2.3.2 Pengelolaan Media Informasi dan Sosialisasi TRP
Dit. TRP memiliki 4 media informasi dan sosialisasi elektronik, yaitu : 1) Portal TRP (tataruangpertanahan.com); 2) Situs internet TRP (trp.or.id). Berita dalam situs TRP diperbaharui setiap hari; 3) Milis TRP, dan 4) FB TRP. Kegiatan rutin dalam pengelolaan media ini adalah penambahan konten, perbaikan sistem, penambahan menu, dan evaluasi. Berikut data statistik perkembangan jumlah kunjungan Situs TRP:
Tabel 1. Statistik Situs TRP (trp.or.id)
Month visitors Unique Number of visits Pages
Jan-15 282 354 511
Feb-15 234 293 525
Mar-15 674 844 1.312
23 Month visitors Unique Number of visits Pages
Mei-15 1.301 1.459 1.975 Juni-15 984 1.153 1.572 Juli-15 1.012 1.124 1.536 Agst-15 1.154 1.334 1.817 Sept-15 1.386 1.723 2.295 Okt-15 1.627 2.019 2.696
Tabel 2. Statistik Pengunjung Portal TRP (tataruangpertanahan.com) Month visitors Unique Number of visits Pages
Jan-15 1.848 2.195 6.332 Feb-15 1.742 2.110 6.220 Mar-15 2.430 2.864 7.752 Apr-15 2.521 2.887 7.951 Mei-15 3.000 3.340 7.528 Juni-15 3.747 4.140 8.539 Juli-15 2.993 3.246 6.519 Agst-15 3.306 3.631 6.053 Sept-15 3.855 4.402 11.225 Okt-15 4.160 4.698 11.744
24 Gambar 1. Statistik Situs TRP (trp.or.id)
Gambar 2. Statistik Portal Tata Ruang Pertanahan (tataruangpertanahan.com)
Berdasarkan data statistik diatas, pada bulan Oktober 2015, jumlah pengunjung Situs TRP mengalami Kenaikan dari bulan sebelumnya. Pada bulan September 2015, jumlah pengunjung situs TRP 1.723 Pengunjung, dan di bulan Oktober jumlah pengunjung naik menjadi 2.019 Pengunjung. Begitu pula dengan keadaan Portal TRP yang mengalami Kenaikan, pada bulan September 2015 pengunjung sekitar 4.402 Pengunjung dan mengalami kenaikan pada bulan Oktober 2015 menjadi 4.698 Pengunjung. Untuk menghadapi kenaikan dan penurunan yang terjadi pada situs dan portal TRP, Subdit Infosos TRP telah melakukan
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Okt Unique visitors 282 234 674 731 1,301 984 1,012 1,154 1,386 1,627 Number of visits 354 293 844 925 1,459 1,153 1,124 1,334 1,723 2,019 Pages 511 525 1,312 1,694 1,975 1,572 1,536 1,817 2,295 2,696 0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Okt Unique visitors 1,848 1,742 2,430 2,521 3,000 3,747 2,993 3,306 3,855 4,160 Number of visits 2,195 2,110 2,864 2,887 3,340 4,140 3,246 3,631 4,402 4,698 Pages 6,332 6,220 7,752 7,951 7,528 8,539 6,519 6,053 11,225 11,744 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000
25 pengelolaan dan updating seluruh media informasi TRP dan untuk penginformasian berita di situs sudah menggunakan hyperlink ke bahan-bahan terkait.
2.3.3 Konsinyasi Awal Konsolidasi Penyusunan KM Bappeda Muara Enim
Konsinyasi awal antara Champion KM TRP dengan Tim KM Bappeda Muara Enim yang sebelumnya diagendakan bulan oktober 2015, terpaksa dilakukan penundaan karena adanya bencana asap kebakaran hutan. Jadwal kunjungan TRP ke Bappeda Muara Enim di rencanakan kembali pada 12-15 November 2015.
2.3.4 Buletin TRP Edisi II 2015
Pada Bulan Oktober 2015, Subdit Infosos Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan telah menyusun kisi-kisi dan mengirimkan surat permohonan narasumber. Diategtkan pada bulan Oktober 2015 dapat dilakukan penulisan artikel nonwawancara. Selanjutnya akan dilakukan proses edit terhadap artikel yang sudah terkumpul.
2.3.5 Newsletter TRP
Pada bulan Oktober 2015, telah tersusun dan diterbitkannya Newsletter September 2015. Untuk penyusunan Newsletter Oktober 2015 sudah masuk tahap pengumpulan materi Newsletter Oktober 2015. Selanjutnya materi tersebut akan disusun sabagai bahan Newsletter Oktober 2015.
2.3.6 Penyusunan Strategi Komunikasi Bidang Tata Ruang
Sebagai dukungan PROTARIH terhadap strategi Komunikasi Dt. TRP, telah terjadi asesmen di lingkup direktorat Kedeputian Regional (Inventarisasi, Tinjauan Efektifitasi, Analisis Kebutuhan). Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan tata ruang, serta review strategi komunikasi tata ruang di lingkup Dit. TRP masih terkendala tidak hadirnya focal point dalam pertemuan tersebut. Selanjutnya, akan dilanjutkan pemetaan dan analisis setiap direktorat di kedeputian Regional & perwakilan kementerian ATR, Kemdagri.
2.4. Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
2.4.1 Penyusunan Laporan: Laporan Kegiatan BKPRN Semester 1/2015
Pengiriman draft laporan kegiatan BKPRN Semester 1 tahun 2015 dari Sekretariat BKPRN kepada Es. II K/L anggota BKPRN sudah dilakukan pada 6 Oktober 2015 melalui pos. Namun saat ini masih terkendala tidak adanya konfirmasi dari K/L terkait mengenai tanggapan draft draft laporan kegiatan BKPRN Semester 1 tahun 2015. Revisi draft awal laporan kegiatan BKPRN Semester 1 Tahun 2015 pada minggu IV Oktober 2015.
Revisi draft awal laporan kegiatan BKPRN Semester 1 tahun 2015 sudah memasuki tahap penyusunan draft final laporan kegiatan BKPRN Semester 1 Tahun 2015. Pencetakan draft final laporan kegiatan BKPRN Semester 1 tahun 2015 pada minggu I November 2015. Pengririman draft final draft laporan kegiatan BKPRN Semester 1 tahun 2015 dari Kementerian PPN/Bappenas kepada Menko Perekonomian selaku Ketiua BKPRN pada minggu II November 2015.
26 2.4.2 Penyusunan Laporan: Laporan Koordinasi Strategis Sekretariat BKPRN
Semester 1/2015
Peer review draft laporan koordinasi strategis Sekretariat BKPRN Semester I/2015 akab diidentifikasi substansi laporan untuk direvisi. Revisi draft laporan koordinasi strategis Sekretariat BKPRN Semester I/2015 pada minggu I November 2015. Pencetakan draft final laporan koordinasi strategis Sekretariat BKPRN Semester I/2015 pada minggu IV November 2015.
2.4.3 Fasilitasi dan Mediasi: Persiapan Rakernas
Dalam kegiatan Penyiapan Substansi Rakernas BKPRN 2015, telah diselenggarakan rapatpersiapan Rakernas BKPRN pada tanggal 7 dan 27 Oktober 2015 dengan hasil:
Draft Brief Note sidang komisi 3 dalam tahap finalisasi
Dalam Sidang Pleno, selain 4 (empat) Menteri Utama: Menko Perekonomian, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri ATR/Kepala BPN turut pula mengundang Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Penyampaian draft bahan paparan Menteri PPN/Kepala Bappenas pada Deputi VII akan dilaksanakan pada 30 Oktober 2015. Selanjutnya akan dilakukan 1) finalisasi bahan Sidang Komisi 3 (Deputi VII) pada 2 November 2015; 2) Keikutsertaan dan Distribusi kalender, note book BKPRN , leaflet, dan CD Pustaka dalam Rakernas BKPRN 2015; 3) Rapat pengolahan hasil rumusan kesepakatan Rakernas BKPRN pada minggu ke- III BKPRN.
2.4.4 Rapat Koordinasi Nasional BKPRD Tahun 2015
Pada 29 Oktober 2015 di Hotel Aryaduta, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi NASional BKPRD Tahun 2015. Tujuan dari pelaksanaan Rakornas BKPRD Tahun 2015 adalah memperkuat peran dan fungsi BKPRD dalam rangka mewujudkan optimalisasi koordinasi penataan ruang di daerah.
Sesi Pleno terdiri dari 4 pemapar dari K/L yang dimoderatori oleh Deputi Bidang Pengembangan Regional, Bappenas. Narasumber dan tema paparan:
a. Penguatan Lembaga Koordinasi Penataan Ruang Nasional oleh Dirjen Tata Ruang, Kemen ATR/BPN
b. Pengintegtasian program prioritas nasional Nawacita dalam RTR oleh Kedeputian Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kemenko Perekonomian
c. Pelaksanaan Urusan Pemerintahan Bidang Penataan Ruang dalam Pembangunan Daerah oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri
d. Kinerja Kelembagaan Penataan Ruang di Provinsi Gorontalo oleh Sekda Provinsi Gorontalo
e. Kinerja Kelembagaan Penataan Ruang di Provinsi Banten oleh Sekda Provinsi Banten Isu-isu strategis dan permasalahan dalam Rakornas BKPRD Tahun 2015 akan menjadi input/masukan dalam Rakernas BKPRN Tahun 2015; ii) Pembahasan dalam Rakernas BKPRN Tahun 2015 diharapkan dapat merumuskan agenda kerja BKPRN yang dapat
27 memperkuat peran dan fungsi BKPRD untuk optimalisasi koordinasi penataan ruang di daerah.
2.4.5 Fasilitasi dan Mediasi: Persiapan Hantaru 2015
Proses permintaan design poster Hantaru ke Kemenetrian ATR telah dilakukan pada akhir Oktober 2015, namun saat ini designnya belum dikirimkan ke Bappenas, sehingga proses pemasangan belum dapat terlaksana. Selanjutnya akan dilakukan permintaan ulang design baliho Hantaru kepada Kemneterian ATR, dan dilakukan pemasangannya.
2.4.6 Kajian Singkat: Pembelajaran Implementasi UU 41/1999 dan Kaitannya dengan UU 26/2007
Dalam pematangan TOR kegiatan kajian singkat Pembelajaran implementasi UU 41/99 dan kaitannya dengan UU 26/2007, telah disepakati lingkup kajian tidak hanya membahas mengenai persub kehutanan, namun pembahasan juga meliputi mekanisme perubahan kawasan hutan secara parsial.
Selanjutnya, diagendakan rapat persiapan kajian (FGD) implementasi UU 41/1999 terhadap UU 26/2007 minggu ke II November 2015 dan (FGD)/in depth interview implementasi UU 41/1999 terhadap UU 26/2007 ke Provinsi Riau dan Kalimantan Barat.
2.4.7 Fasilitasi Mediasi: Implikasi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Pada 12 Oktober 2015 di Ruang SG-5 telah diselenggarakan Rapat Konfirmasi Perkembangan Penyelarasan Implementasi UU No. 23 Tahun 2014 terhadap Penyelenggaraan Penataan Ruang. Tujuan rapat koordinasi adalah untuk mengkonfirmasi perkembangan penyelarasan implementasi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terhadap penyelenggaraan penataan ruang, khususnya terkait dengan:
Evaluasi Raperda RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota;
Pembagian Kewenangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil; dan
Pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara. Hasil diskusi dalam rapat tersebut, yaitu:
Telah dilakukan uji publik terhadap rancangan revisi Permendagri No. 28 Tahun 2008 dengan melibatkan perwakilan SKPD terkait di beberapa provinsi
KKP mengusulkan agar SE Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan APBD 2016 memuat pengaturan urusan kelautan (menyangkut instruksi pengalokasian anggaran kegiatan yang sebelumnya menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota dialihkan menjadi kewenangan provinsi).
Diusulkan pengaturan mengenai penyusunan RDTR Kawasan Perbatasan Negara (termasuk di dalamnya status hukum RDTR, pembagian kewenangan, serta deliniasi wilayah perencanaan RDTR) dilakukan melalui: (1) Peraturan Pemerintah; atau (2) Perubahan PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Selanjutnya, dibutuhkan pendalaman lebih lanjut mengenai mekanisme persetujuan substansi dan evaluasi RTR sebagai bahan finalisasi Rancangan Revisi Permendagri No. 28 Tahun 2008 oleh Kemendagri, dan diperlukan exercise lebih lanjut mengenai bentuk hukum
28 dan kewenangan penyusunan RDTR Kawasan Perbatasan Negara, termasuk di dalamnya penentuan pihak yang berwenang dalam quality control RDTR kawasan perbatasan negara serta tanggung jawab pendanaan oleh KemenATR.
2.5. Kegiatan Utama Sekretariat Reforma Agraria Nasional (RAN)
2.5.1 Kebijakan Pendaftaran Tanah Stelsel Positif: Pembaruan Cakupan Peta Dasar dan Wilayah Sertipikat
Dalam rangka pembaharuan data peta dasar dan wilayah sertipikat, Subdit Pertanagan menyelenggarakan pertemuan dengan Kemnetreian ATR/BPN. Dari pertemuan tersebut diketahui bahwa data peta dasar pertanahan belum tersedia, hal tersebut dikarenakan proses lelang penyediaan di Kemneterian ATR/BPN terlambat. Sedangkan untuk data wilayah bersertipikat terdigitasi sudah diolah 100% dari seluruh bidang tanah di Indonesia. Selanjtunya, akan dilakukan koordinasi dengan Direktorat Pemetaan Dasar untuk update status terakhir.
2.5.2 Kebijakan Pendaftaran Tanah Stelsel Positif: Publikasi Tata Batas Kawasan Hutan
Dalam kegiatan ini diagendakan untuk dilaksanakan:
Rapat Penyepakatan tim kecil dalam pelaksanaan tata batas kawasan hutan. Akan dilakukan rapat pembahasan persiapan kunjungan lapangan dan rapat teknis direncanakan dilakukan pada minggu 3 November.
Persiapan dan penetapan lokasi pilot project. Akan dilakukan rapat pembahasan lokasi pilot project pada minggu ke 3 November.
Kunjungan Lapangan Awal Koordinasi pelaksanaan tata batas kawasan hutan. Akan dilakukan Kunjungan lapangan pada akhir November (setelah rapat koordinasi persiapan dilaksanakan).
2.5.3 Kebijakan Redistribusi Tanah dan Access Reform: Identifikasi Data Reforma Agraria
Pada 8 Oktober 2015 di Ruang Rapat Penatagunaan Tanah, Kementerian ATR/BPN telah diselenggarakan Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Reforma Agraria. Tujuan dilaksanakannya rapat ini adalah memantapkan koordinasi dalam rangka identifikasi permasalahan kegiatan reforma agraria di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung dan Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah. Adapun tujuan diadakannya rapat ini yaitu untuk mengidentifikasi permasalahan dan pola pelaksanaan kegiatan reforma agraria.
Data P4T, TORA, dan Pemebrdayaan K/L belum dapat teridentifikasi, karena data dari Kantah belum disampaikan ke Pusat. Selanjutnya akan dilakukan pertemuan lanjutan pada Minggu ke-3 Novemebr 2015.
2.5.4 Kebijakan SDM Bidang Pertanahan
Pada 16 Oktober 2015 di Ruang Rapat 204 telah diselenggarakan Rapat Koordinasi Penyepakatan Mekanisme Penerimaan SDM Juru Ukur Kemen. ATR/BPN. Rapat ini bertujuan untuk menyepakati penyediaan SDM bidang pertanahan (juru ukur) untuk masuk dalam
29 pengecualian dari kebijakan moratorium Kemen. PAN dan RB serta melihat hasil anaisis jabatan, beban kerja, dan analisis kebutuhan pegawai dari Kemen. ATR/BPN.
Kemen PAN RB menyatakan pelaksanaan Rekrutmen CPNS terutama juru ukur dapat dilakukan namun perlu dilakukan analisa jabatan. Selanjutnya, Kementerian ATR/BPN akan melakukan analisa jabatan dari dan akan disampaikan ke Kementerian PAN RB.
2.5.5 Kebijakan Penyediaan Tanah Bagi Pembangunan Kepentingan Umum
Dalam kegiatan Koordinasi Penyusunan Draft Perpres Lembaga Penyediaan Tanah, ditargetkan dapat terkoordinasinya penyusunan draf perpres lembaga penyediaan tanah. Untuk menindaklanjuti koordinasi tersebut, akan dilakukan pembahasana Draft Perpres Lembaga Penyediaan tanah.
2.5.6 Sosialisasi dan Publikasi
Progres Penerbitan Majalan Agraria Indonesia Edisi II masih belum dapat dilakukan pencetakan karena masih terdapat artikel yang belum selesai. Percepatan penyusunan artikel dan pencetakan ditargetkan dappat selesai pada pertengahan November 2015.
2.6. Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bulan Oktober 2015 Pada bulan Oktober 2015, beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan antara lain adalah: (a)Rapat Koordinasi Eselon II BKPRN: Pembahasan Tindak Lanjut Implikasi Implementasi UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terhadap Penyelenggaraan Penataan Ruang; (b) Rapat Pembahasan Perubahan Nomenklatur Kementerian ATR/BPN dan Pembahasan Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) Kemen ATR/BPN; (c) Rapat Koordinasi pelaksanaan Reforma Agraria; (d) Persiapan dan keikutsertaan dalam Rakornas BKPRD 2015; (e) Penyusunan Laporan Kegiatan BKPRN Semester 1/2015; (f) Kegiatan rutin update media informasi dan media sosialisasi TRP, dan (g) penerbitan eNewsletter September 2015 dan penyusunan eNewsletter Oktober 2015. Realisasi penyerapan anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan hingga akhir bulan Oktober 2015 adalah 76,98% (persen) atau sebesar Rp. 3,471,848,419,-. Rincian realisasi angka tersebut adalah dari pelaksanaan kegiatan: (i) Perencanaan sebesar 74,79%, (ii) Pemantauan dan Evaluasi sebesar 77,09%, (iii) Kajian sebesar 83,18%, (iv) Koordinasi Strategis BKPRN sebesar 80,07%, (v) Koordinasi Strategis RAN sebesar 66,33%, (vi) Knowledge Management (KM) sebesar 81,44%, dan (vii) Penelaahan Renstra K/L sebesar 100%.
Realisasi ini dilakukan melalui TUP, UP, dan LS antara lain untuk Belanja Perjalanan Dinas; Belanja Bahan untuk rapat koordinasi; Honorarium Bulanan, Belanja Jasa Konsultan dan Belanja Jasa Lainnyauntuk bulan Oktober 2015. Berikut merupakan diagram rencana dan realisasi penyerapan anggaran Direktorat TRP sampai dengan akhir bulan Oktober 2015.
30 Gambar 3. Rencana dan Realisasi Anggaran Dit TRP Bulan Oktober 2015
5
10
22
28
40
53
61
69
82
88
92
100
0
2.25
9.32
22.94
28.09
35
43
52
68
77
0
20
40
60
80
100
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des
% Rencana
% Realisasi
31
BAB III
KEGIATAN EKSTERNAL
Pada bab ini dijelaskan ulasan singkat mengenai partisipasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal direktorat, baik oleh unit kerja/unit organisasi di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas ataupun kementerian/lembaga lain, pada Bulan Oktober 2015. Kegiatan ini dihadiri secara langsung oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan atau didisposisikan ke Kepala Sub Direktorat maupun Staf.
3.1. Kelembagaan dan Monev RTR Pulau Jawa-Bali dan KSN Sarbagita
Rapat yang dipimpin oleh Plh. Direktur Pemanfaatan Ruang Kementrian ATR/BPN diselenggarakan di RR Dinas PU, Provinsi Bali pada 2 Oktober 2015. Pertemuan ditujukan untuk mendiskusikan bentuk kelembagaan yang tepat bagi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi RTR Pulau Jawa-Bali dan KSN Sarbagita, serta mekanisme evaluasi yang efektif untuk dilakukan untuk RTR Pulau Jawa-Bali dan KSN Sarbagita.
Ringkasan diskusi adalah sebagai berikut:
Tidak perlu dibuat lembaga baru, gunakan saja lembaga yang sudah ada saat ini yaitu BKPRN dan BKPRD. Namun perlu dibuat mekanisme pelaporan yang lebih jelas, agar hasil-hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh BKPRD dapat segera diterima oleh BKPRN.
Model kelembagaan lain yang dapat digali adalah bentuk kerjasama antarpemerintah daerah seperti yang tercantum di dalam UU 23/2014. Bentuk kerjasama dapat berupa kerjasama sectoral yang diintegrasikan oleh BKPRD.
Materi yang dilaporkan oleh BKPRD kepada BKPRN harus ditentukan dalam SOP, sehingga hasil pelapora seragam, ringkas, bermakna dan dapat segera dimanfaatkan oleh BKPRN maupun anggota BKPRN secara cepat.
Evaluasi yang harus disusun oleh BKPRD adalah evaluasi output yang berdasarkan pada RTR Pulau Jawa-Bali dan RTR KSN Sarbagita.
Penyepakatan materi dan mekanisme pemantauan dan evaluasi RTR Pulau dan RTR KSN yang perlu dilakukan berjenjang oleh Pemprov/kab/kota.
3.2. Workshop for Capacity Building on Climate Change Impact Assessment and Adaptation Planning in the Asia-Pacific Region
Pada tanggal 1-2 Oktober 2015 di The Sukoosol Hotel, Bangkok telah diselenggarakan Workshop for Capacity Building on Climate Change Impact Assessment and Adaptation Planning in the Asia-Pacific Region. Worskhop diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Pemerintah Jepang dan the Asia Pacific Adaptation Network (APAN), dengan tujuan mengidentifikasi perkembangan perencanaan adaptasi dampak perubahan iklim di tingkat nasional.
Kesimpulan hasil rapat adalah:
Perubahan iklim membutuhkan analisis ekonomi dan daya dukung lingkungan secara terintegrasi, serta memiliki perspektif waktu jangka panjang.
32
Negara maju memiliki kapasitas pendanaan dan teknologi, serta kelengkapan dan akses data (terutama data spasial) yang memadai untuk melakukan analisis ilmiah dan prediksi terkait perubahan iklim.
Terdapat keterkaitan yang sangat erat antara adaptasi dengan mitigasi perubahan iklim, demikian pula antara perubahan iklim dengan bencana. Oleh karenanya, mulai dikembangkan secara terintegrasi jointly action plan of mitigation and adaptation, serta climate change and disaster risk reduction plan.
3.3. FGD Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pulau Papua
Pada 2 Oktober 2015 di Hotel Swiss Bell, Kemang telah diselenggarakan FGD Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pulau Papua. FGD diselenggarakan bertujuan untuk mendapatkan masukan dalam upaya penyusunan Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur PUPR di Pulau Papua.
Papua adalah wilayah yang sangat luas dan karakteristik wilayahnya tidak homogen. Karakteristik sosial-ekonomi wilayah serta tingkat perkembangannya berlainan antara satu bagian wilayah dengan bagian ilayah lainnya. Dengan demikian, di wilayah Papua tidak dapat diterapkan hanya satu konsep pengembangan infrastruktur. Bagi wilayah yang mempunyai karakteristik tertentu, harus diterapkan konsep pengembangan tertentu pula. Karena pengembangan infrastruktur yang akan diterapkan pada wilayah yang tidak homogen, maka strategi pembangunannnya disarankan untuk mempertimbangkan tipologi kluster kampung-kampung.
Selanjutnya, Tim BPIW akan menyusun Rencana Induk Pengembangan Infrastruktur PUPR berdasarkan hasil masukan dengan mempertimbangkan tipologi kluster kampung-kampung. 3.4. Rapat Penyampaian Hasil Kajian Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim dalam
Perencanaan Tata Ruang
Pada tanggal 2 Oktober 2015 di Hotel Intercontinental Jakarta, telah diselenggarakan Rapat Penyampaian Hasil Kajian Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim dalam Perencanaan Tata Ruang. Kegiatan ini bertujuan untuk Mendapatkan masukan dari Kementerian/Lembaga terkait sebagai penyempurnaan terhadap draft panduan integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan tata ruang yang disusun oleh Kementerian ATR bekerjasama dengan ITB, dengan pembiayaan dari JICA.
Beberapa hal yang disampaikan dalam diskusi antara lain:
a. Diharapkan pedoman ini bisa aplikatif untuk setiap level perencanaan RTR
b. Saat ini di ATR juga sedang disusun Pedoman Penataan Ruang berbasis Pengurangan Risiko Bencana. Apakah memungkinkan kedua pedoman diintegrasikan apabiila PRB dan perubahan iklim merupakan hal yang sama. Hal ini perlu dipertimbangkan untuk mempermudah pelaksanaannya di daerah.
c. Saat ini BNPB telah melakukan kajian risiko bencana di 33 provinsi dengan kedetailan 1:250.000 dan di 98 kabupaten/kota.
d. Disampaikan oleh tim penyusun (ITB) bahwa memang produk saat ini belum bisa menjadi pedoman resmi karena masih diperlukan berbagai diskusi untuk implementasinya.