ANALISIS PERENCANAAN OBAT DALAM JKN PADA UPT PUSKESMAS KECUPAK KABUPATEN PAKPAK BHARAT SKRIPSI OLEH HARRY SIHOTANG NIM :

98 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH

HARRY SIHOTANG NIM : 131000637

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

PUSKESMAS KECUPAK KABUPATEN PAKPAK BHARAT

Skripsi ini diajukan sebagai Salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH

HARRY SIHOTANG NIM : 131000637

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(3)

KABUPATEN PAKPAK BHARAT” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Agustus 2017 Yang Membuat Pernyataan,

(4)
(5)

tidak sesuai dengan kebutuhan sesungguhnya. Ini menyebabkan adanya kesenjangan antara permintaan obat puskesmas dengan obat yang diadakan oleh dinas kesehatan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses perencanaan obat di Puskesmas Kecupak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 4 informan yang terdiri dari Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat, Kepala Puskesmas Kecupak, Kepala Bagian Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat dan Staf Pengelola Obat Puskesmas Kecupak. Analisa data dengan metode Miles dan Huberman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perencanaan obat belum sesuai dengan kebutuhan riil Puskesmas Kecupak. Ini dibuktikan dengan staf pengelola obat di puskesmas belum memahami cara merencanakan kebutuhan obat yang tepat, staf pengelola obat belum pernah mengikuti pelatihan mengenai proses perencanaan obat, pengelola obat di puskesmas tidak mengetahui metode analisis perencanaan obat, data-data yang diperlukan dalam membuat perencanaan obat belum digunakan secara maksimal. Penentuan jenis obat berdasarkan Formularium nasional dan e-katalog masih terdapat kendala karena tidak semua jenis obat yang dibutuhkan terdapat di daftar e-katalog.

Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat untuk tetap melakukan pengawasan terhadap puskesmas dan meningkatkan pembinaan dan pelatihan kepada staf pengelola obat di puskesmas. Kepada Puskesmas Kecupak untuk memberikan berbagai pelatihan manajemen logistik farmasi kepada petugas pengelola obat khususnya pada perencanaan obat. Kepada staf pengelola obat di Puskesmas Kecupak agar membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan didalam merencakan obat serta mengikuti pelatihan manajemen proses perencanaan obat.

(6)

Drugs planning is the process of drugs and healthcare supplies selection activities to determine the type and quantity of drugs which aim to meet the needs of drugs at puskesmas. The drugs needs planning in the Puskesmas Kecupak was not corresponding to the real needs. This mismatch leading to the existence of gap between the demands for drugs in puskesmas with provided drugs by the Health Office.

The aim of this study is to discover the drugs planning process in Puskesmas Kecupak. This study is a qualitative study with an in-depth interview method with 4 informants, consisting of Decision Makers Officials of the Pakpak Bharat District’s Health Office, the Chief of Puskesmas Kecupak, Pharmacy’s Chief Division of the Pakpak Bharat District’s Health Office and drugs administrator staff of Puskesmas Kecupak. The data analyzed by Miles and Huberman methods.

The study results showed that the drug planning process is not correspond the real needs of Puskesmas Kecupak. This is proofed through the lack of understanding of drugs administrator staff in how to accurately plan the needs of drugs, drugs administrator staff was never joining a training of drugs planning process, the drugs administrator staff was not understanding drugs planning analysis method, required data to create a drugs planning was not used to its full potential. The determination of the types of drugs based on national formulary and e-catalogue are still constrained because not all the required types of drugs can be found at e-catalogs.

Based on the study results, it is expected to the Pakpak Bharat District’s Health Office to constantly supervise the puskesmas and improving coaching and training to the drugs administrator staff in Puskesmas Kecupak and also to Puskesmas Kecupak to provide a wide range of pharmaceutical logistics management training to the drugs administrator staff on planning remedy. To the drugs administrator staff in Puskesmas Kecupak it’s expected to keep equip themselves with knowledges and skills in drugs planning and join the training of drugs planning management process.

(7)

Puskesmas Kecupak Kabupaten Pakpak Bharat” dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan

Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

Dalam penulisan skripsi ini, begitu banyak orang-orang yang telah

memberikan bantuan, dukungan, motivasi, dan doa. Oleh karena itu, pada kesempatan

ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum sebagai Rektor Universitas Sumatera

Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. dr. Rusmalawaty, M.Kes sebagai Dosen Pembimbing I dan Ketua Penguji, terima

kasih atas bimbingan dan dukungan Ibu kepada penulis selama penulisan skripsi.

4. dr. Fauzi, SKM sebagai Dosen Pembimbing II dan Anggota Penguji, terima kasih

atas bimbingan dan dukungan Bapak kepada penulis selama penulisan skripsi.

5. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes sebagai Dosen Penguji I dan Kepala Departemen

Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, terima kasih atas bimbingan dan

dukungan Bapak kepada penulis selama penulisan skripsi.

(8)

7. dr. Wirsal Hasan, MPH sebagai Dosen Penasehat Akademik selama penulis

menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara.

8. Seluruh Dosen Departemen AKK, seluruh Dosen dan Staf FKM USU yang telah

memberikan ilmu, bimbingan serta dukungan moral kepada penulis selama

mengikuti perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

9. Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat dan Puskesmas Kecupak Kabupaten

Pakpak Bharat yang telah memberikan izin dan membantu penulis dalam

melakukan penelitian ini.

10. Dengan penuh rasa hormat dan ucapan terimakasih sedalam-dalamnya penulis

mempersembahkan skripsi ini kepada orang tua terkasih Bapak Parniatan

Sihotang dan Ibu Marli Simbolon beserta keluarga yang telah memberikan

bantuan, motivasi, dan perhatian kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini,

baik dari segi isi maupun bahasa. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran

yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir

kata, penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Oktober 2017 Penulis

(9)

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah... 9

1.3 Tujuan Penelitian... 9

1.4 Manfaat Penelitian... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Perencanaan ... 11

2.1.1 Pengertian Perencanaan... 11

2.1.2 Tujuan Perencanaan ... 12

2.1.3 Ciri-ciri Perencanaan ... 13

2.1.4 Jenis Perencanaan ... 14

2.2 Perencanaan Persediaan Obat... 15

2.2.1 Pengertian dan Tujuan Perencanaan Obat ... 15

2.2.2 Tahapan-tahapan Perencanaan Obat ... 16

2.2.2.1 Tahap Pemilihan Obat ... 16

2.2.2.2 Tahap Komplikasi Pemakaian Obat ... 17

2.2.2.3 Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat ... 17

2.2.2.4 Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat ... 26

2.3 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ... 27

2.3.1 Pengertian Puskesmas ... 27

2.3.1.1 Pengertian Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan ... 27

2.3.2 Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas ... 28

2.3.3 Tujuan Puskesmas... 30

(10)

2.4.2 Pelayanan, Penyediaan dan Penggunaan Obat ... 31

2.4.2.1 Pelayanan Obat ... 31

2.4.2.2 Penyediaan Obat ... 32

2.4.2.3 Penggunaan Obat di Luar Formularium Nasional ... 32

2.5 Kerangka Berpikir ... 33

BAB III METODE PENELITIAN ... 35

3.1 Jenis Penelitian ... 35

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

3.2.1 Tempat Penelitian ... 35

3.2.2 Waktu Penelitian ... 35

3.3 Informan Penelitian ... 35

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 36

3.4.1 Data Primer ... 36

3.4.2 Data Sekunder ... 36

3.5 Triangulasi ... 36

3.6 Metode Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 38

4.1 Gambaran Umum Puskesmas Kecupak ... 38

4.2 Karateristik Informan ... 40

4.3 Data ... 40

4.4 Menghitung Pemakaian Nyata Pertahun ... 42

4.5 Menghitung Pemakaian Rata-rata Satu Bulan ... 42

4.6 Menghitung Kekurangan Obat ... 42

4.7 Menghitung Obat yang Sesungguhnya (Riil) ... 42

4.8 Menghitung Kebutuhan Obat Tahun yang Akan Datang ... 43

4.9 Menghitung Kebutuhan Leadtime ... 43

4.10 Menentukan Stok Pengaman (Buffer Stock) ... 43

4.11 Menghitung Jumlah Obat yang Akan Diprogramkan Ditahun yang Akan Datang ... 43

4.12 Menghitung Jumlah Obat yang Akan Dianggarkan... 44

4.13 Penentuan Jenis Obat Berdasarkan E-Katalog dan Formularium Nasional ... 44

4.14 Penentuan Jumlah Obat ... 46

BAB V PEMBAHASAN ... 48

(11)

6.1.1 Masukan ... 58

6.1.2 Proses Perencanaan ... 58

6.2 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 58

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecupak

tahun 2015 ... 38 Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

di Wilayah Kerja Puskesmas Kecupak tahun 2015. ... 38 Tabel 4.3 Data Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecupak tahun 2015. ... 39 Tabel 4.4 Karateristik Informan. ... 40

(13)
(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pedoman Wawancara ... 63

Lampiran 2. Hasil Wawancara ... 69

Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 79

Lampiran 4. Surat Selesai Penelitian ... 80

(15)

Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat Kode Pos

26229. Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan Ayahanda Parniatan Sihotang

dan Ibunda Marli Simbolon.

Pendidikan formal penulis dimulai di Sekolah Taman Kanak-kanak Pius Kota

Payakumbuh pada tahun 1999 dan selesai pada tahun 2000, Sekolah Dasar Pius Kota

Payakumbuh pada tahun 2000 dan selesai pada tahun 2006, Sekolah Menengah

Pertama Fidelis Kota Payakumbuh pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2009,

Sekolah Menengah Atas Negeri No. 1 Kota Payakumbuh pada tahun 2009 dan selesai

pada tahun 2012, pada tahun 2013 melanjutkan pendidikan S1 di Universitas

Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat Peminatan Administrasi dan

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan

nasional. Menurut Undang-Undang No.36 tahun 2009 pembangunan kesehatan

adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia yang

bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat

bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang

produktif secara sosial dan ekonomis. Ini ditandai dengan diterbitkan

Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Badan Penyelenggaraan

Jaminan Sosial (BPJS) yang mengamanatkan kepada pemerintah dan komunitas

kesehatan untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata

dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Pemerintah juga harus dapat menjamin

tersedianya pelayanan kesehatan sampai ke daerah terpencil dan penduduk miskin

(Kemenkes, 2013).

Program pembangunan kesehatan nasional mencakup lima aspek Pelayanan

Kesehatan Dasar (PKD) yaitu bidang : Promosi Kesehatan, Kesehatan

Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga Berencana,

Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengobatan. Dalam melaksanakan

Pelayanan Kesehatan dasar khususnya bidang pengobatan, ketersediaan obat perlu

dikelola dengan baik dalam organisasi pelayanan kesehatan di masing-masing

(17)

Pembangunan kesehatan di era Otonomi Daerah (OTDA) telah menjadi

tanggung jawab Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) dan daerah harus bisa

mengatur sendiri, termasuk memenuhi kebutuhan obat. Upaya untuk memenuhi

kebutuhan obat diperlukan pengelolaan dan perencanaan yang baik (Kepmenkes

RI No. 1426 tahun 2002).

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama,

dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya

(Permenkes RI No. 75 tahun 2014). Puskesmas juga bertanggungjawab dalam

pengelolaan obat. Manajemen pengelolaan obat merupakan salah satu aspek

penting di Puskesmas, karena ketidakefisienan akan memberikan dampak negatif

terhadap biaya operasional Puskesmas itu sendiri, sedangkan ketersediaan obat

setiap saat menjadi tuntutan dalam pelayanan kesehatan dan hal ini merupakan

indikator kinerja Puskesmas secara keseluruhan. Tujuan manajemen obat adalah

tersedianya obat setiap saat dibutuhkan baik mengenai jenis, jumlah maupun

kualitas secara efektif dan efisien, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada

perorangan.

Perencanaan obat merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat dan

perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka

pemenuhan kebutuhan obat di Puskesmas. Perencanaan kebutuhan obat untuk

Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh pengelola obat dan perbekalan

(18)

Tujuan perencanaan adalah untuk menetapkan jenis, jumlah obat dan

perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan perencanaan

obat, yaitu : (a) mengenal dengan jelas rencana jangka panjang apakah program

dapat mencapai tujuan dan sasaran, (b) persyaratan barang meliputi : kualitas

barang, fungsi barang, pemakaian satu merk dan untuk jenis obat narkotika harus

mengikuti peraturan yang berlaku, (c) kecepatan dan jumlah peredaran barang, (d)

pertimbangan anggaran dan prioritas.

Manfaat perencanaan obat terpadu : (1) menghindari tumpang tindih

penggunaan anggaran, (2) keterpaduan dalam evaluasi, (3) kesamaan persepsi

antara pemakai obat dan penyedia anggaran, (4) estimasi kebutuhan obat lebih

tepat, (5) koordinasi antara penyedia anggaran dan penyedia obat, dan (6)

pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal.

Metode yang biasa digunakan dalam perhitungan kebutuhan obat, yaitu : (1)

Metode konsumsi yaitu secara umum metode konsumsi menggunakan konsumsi

obat individual dalam meproyeksikan kebutuhan yang akan datang berdasarkan

analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya, (2) Metode morbiditas yaitu

memperkirakan kebutuhan obat berdasarkan jumlah kebutuhan pasien, kejadian

penyakit yang umum, dan pola perawatan standar dari penyakit yang ada, (3)

Metode penyesuaian konsumsi yaitu metode ini menggunakan data pada insiden

penyakit, konsumsi penggunaan obat. Sistem perencanaan didapat dengan

mengekstrapolasi nilai konsumsi dan untuk mencapai target sistem suplai

(19)

(4) Metode proyeksi tingkat pelayanan dari keperluan anggaran yaitu metode ini

digunakan untuk menaksir keuangan keperluan pengadaan obat berdasarkan biaya

per pasien yang diobati setiap macam-macam level dalam sistem kesehatan yang

sama.

Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas minimal harus

dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab,

yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan. Jumlah

kebutuhan Apoteker di Puskesmas dihitung berdasarkan rasio kunjungan pasien,

baik rawat inap maupun rawat jalan serta memperhatikan pengembangan

Puskesmas. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas adalah 1

(satu) Apoteker untuk 50 (lima puluh) pasien perhari. Semua tenaga kefarmasian

harus memiliki surat tanda registrasi dan surat izin praktik untuk melaksanakan

Pelayanan Kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas,

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (Permenkes 30 tahun 2014).

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014

dalam rangka penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperlukan

dukungan dana untuk operasional pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh

fasilitas kesehatan. Dana kapitasi JKN di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

(FKTP) dimanfaatkan tidak seluruhnya untuk jasa pelayanan kesehatan dan

dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan. Jasa pelayanan kesehatan

meliputi jasa pelayanan kesehatan perorangan yang dilakukan oleh tenaga

kesehatan dan tenaga non kesehatan. Dukungan biaya operasional pelayanan

(20)

dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan lainnya. Jasa pelayanan

kesehatan di FKTP ditetapkan sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari

total penerimaan dana kapitasi JKN, dan sisanya dimanfaatkan untuk dukungan

biaya operasional pelayanan kesehatan (Permenkes 21 tahun 2016).

Puskesmas Kecupak terletak di Desa Kecupak I Kecamatan

Pargetteng-getteng Sengkut (PGGS) Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara.

Puskesmas Kecupak memiliki satu orang tenaga farmasi dikarenakan jumlah

pasien dibawah 50 (limapuluh) per harinya.

Alur perencanaan obat di Puskesmas Kecupak yaitu petugas obat di

Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) mengisi

lembar Rencana Kebutuhan Obat (RKO) Pustu dan Poskesdes, kemudian

menyerahkannya kepada pengelola obat di Puskesmas untuk dikompilasi dengan

lembar RKO di Puskesmas. Pengelola obat masing-masing Puskesmas dan

petugas Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Instalasi Farmasi serta Dinas

Kesehatan mengadakan Rapat Perencanaan Obat Terpadu (POT) yang membahas

mengenai kebutuhan obat di Puskesmas dan ketersediaannya di UPTD Instalasi

Farmasi. Setelah rapat selesai petugas UPTD Instalasi Farmasi melakukan

rekapitulasi RKO Puskesmas dengan melihat ketersediaan obat di UPTD Instalasi

Farmasi, sehingga diperoleh daftar obat-obatan dan perbekalan kesehatan yang

akan diadakan. Daftar tersebut diserahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk

selanjutnya memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PKK) menindaklanjuti

(21)

Perencanaan obat di Puskesmas Kecupak dilakukan untuk menentukan jenis

dan jumlah kebutuhan obat. Puskesmas tersebut dalam tahap perencanaan obat

melakukan pengamatan terhadap kebutuhan obat bulan sebelumnya yang terdapat

di Lembar Permintaan dan Lembar Pemakaian Obat (LPLPO). Perencanaan

kebutuhan obat yang akan datang berdasarkan banyaknya jumlah pasien per tahun

dengan keluhan penyakit tertentu, maka diketahui jenis obat apa yang banyak

digunakan untuk mengatasi keluhan tersebut dan berapa banyak jumlah obat yang

dibutuhkan. Penentuan jenis obat dan jumlah obat yang digunakan juga dilihat

berdasarkan jenis penyakit yang dominan dan jenis pelayanan apa yang banyak

dilakukan dalam kegiatan pelayanan perawatan dan pengobatan. Sebelum

melakukan permintaan obat, terlebih dahulu dilakukan pembuatan Lembar

Permintaan dan Lembar Pemakaian Obat (LPLPO) yang akan diusulkan ke Dinas

Kesehatan untuk melakukan pengadaan obat yang telah ditentukan. Obat yang

sering digunakan akan menjadi prioritas untuk diusulkan oleh puskesmas ke Dinas

Kesehatan. Permintaan obat dilaksanakan secara berkala setiap periode kebutuhan

yaitu dalam setahun empat kali yakni setiap tiga bulan.

Pengadaan obat di Puskesmas Kecupak dalam rangka pelaksanaan JKN

yang mulai berlaku 1 Januari 2014 perlu disusun daftar obat berdasarkan

Formularium Nasional (Fornas) yaitu daftar obat terpilih yang dibutuhkan sesuai

dengan daftar e-katalog dengan prosedur e-purchasing dan harus tersedia di

fasilitas pelayanan kesehatan sebagai acuan dalam pelaksanaan JKN. Proses

(22)

peraturan perundang-undangan yang ada, yaitu melalui perencanaan, pemesanan

ke distributor, penerimaan, dan distribusi ke unit layanan.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan, diasumsikan bahwa perencanaan

obat yang dilakukan di Puskesmas Kecupak belum berjalan dengan baik. Hal ini

diakibatkan oleh beberapa faktor. Tidak adanya petugas farmasi di Pustu dan

Poskesdes mengakibatkan petugas farmasi yang ada di Puskesmas melakukan

perekapan semua laporan sendiri. Terlambatnya pelaporan juga diakibatkan oleh

jumlah pasien yang tidak mementu di Pustu dan Poskesdes serta di Puskesmas.

Sehingga petugas farmasi yang ada di Puskesmas sering melakukan perencanaan

secara perkiraan mengenai obat apa saja yang dibutuhkan.

Puskesmas Kecupak juga sering menggunakan metode konsumsi dalam

melakukan perencanaan kebutuhan obat. Metode konsumsi adalah perencanaan

kebutuhan obat yang dilakukan berdasarkan pemakaian obat yang ada diperiode

sebelumnya. Petugas farmasi Puskesmas Kecupak juga merencanakan kebutuhan

obat dengan melihat stok obat yang sudah menipis dalam kartu stok dan masa

expired yang sudah dekat, sehingga terkadang tidak semua obat yang dibutuhkan

dapat direkap secara sempurna. Perencanaan kebutuhan obat yang menggunakan

metode konsumsi mengakibatkan tidak semua kebutuhan obat terekap dan

terkadang juga ada stok obat yang berlebih dan terkadang juga tidak tersedia.

Kelebihan obat juga terjadi di Puskesmas Kecupak, ini dibuktikan dengan adanya

persediaan obat untuk penyakit yang jarang ditemukan dan banyaknya obat yang

(23)

Di Puskesmas Kecupak pun sering terjadi kekosongan stok obat sehingga

terkadang pasien dianjurkan untuk membeli obat ke apotek/toko obat terdekat.

Terkadang tenaga farmasi Puskesmas Kecupak juga mengganti jenis obat jika

terjadi kekosongan. Contohnya, jika terjadi kekosongan paracetamol sirup untuk

anak-anak maka diganti dengan tablet yang sudah dipulpis agar mudah diberikan

kepada anak-anak.

Penelitian Djuna (2013) tentang studi manejemen pengelolaan obat di

Puskesmas Labakkang Kabupaten Pangkep menyatakan bahwa terjadi kekurangan

obat dan obat yang tidak terealisasi untuk kebutuhan tahun berikutnya. Petugas

apoteker biasanya mengeluh dengan masalah permintaan obat yang kadang tidak

sesuai dengan obat yang datang.

Penelitian Hartono (2007) tentang analisis proses perencanaan kebutuhan

obat publik untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di Puskesmas Sewilayah

Kerja Dinas Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa terdapat permintaan beberapa

jenis obat tertentu tidak sesuai dengan usulan yang diajukan sebelumnya.

Disamping itu terdapat jenis obat tertentu dalam jumlah berlebih, namun di sisi

lain terdapat jenis obat mengalami kekurangan. Hal ini menunjukkan bahwa

proses perencanaan kebutuhan obat di tingkat Puskesmas tidak sesuai dengan

kebutuhan sebenarnya.

Penelitian Athijah (2010) perencanaan dan pengadaan obat di Puskesmas

Surabaya Timur dan Selatan menyatakan bahwa kurang lebih 80% puskesmas

(24)

sesungguhnya, sehingga terdapat stok obat yang berlebih tapi di lain pihak

terdapat stok obat yang kosong.

Dari permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Perencanaan Obat dalam JKN pada UPT Puskesmas Kecupak Kabupaten Pakpak Bharat”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana ketesediaan sumber daya dalam perencanaan obat di Puskesmas

Kecupak Kabupaten Pakpak Bharat : data.

2. Bagaimana proses perencanaan obat di Puskesmas Kecupak Kabupaten

Pakpak Bharat : penentuan jenis obat berdasarkan fornas dan e-katalog dan

penentuan jumlah obat.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk menganalisis perencanaan obat di Puskesmas Kecupak Kabupaten

Pakpak Bharat.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk menjelaskan ketesediaan sumber daya dalam perencanaan obat di

Puskesmas Kecupak Kabupaten Pakpak Bharat : data.

2. Untuk menjelaskan proses perencanaan obat di Puskesmas Kecupak

Kabupaten Pakpak Bharat : penentuan jenis obat berdasarkan fornas dan

(25)

1.4 Manfaat

1. Bagi Puskesmas Kecupak sebagai masukan dalam perencanaan pengadaan

obat dalam rangka peningkatan efisiensi.

2. Bagi instansi pemerintahan khususnya BPJS dalam pengembangan cara dan

metode dalam pembuatan kebijakan untuk menyempurnakan serta

mengoptimalkan pelayanan kesehatan dalam rangka pengadaan obat dengan

e-katalog.

3. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang pengadaan

persediaan obat di bidang ilmu administrasi dan kebijakan kesehatan serta

dalam penemuan metodologi baru dalam lingkup ilmu kesehatan

(26)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perencanaan

2.1.1 Pengertian Perencanaan

Perencanaan adalah suatu proses penyusunan secara sistematis mengenai

kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan, untuk mengatasi masalah-masalah yang

dihadapi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Depkes, 1990).

Sedangkan menurut Siagian (1996), perencanaan adalah keseluruhan proses

pemikiran dan penentuan secara matang pada hal-hal yang akan datang dalam

rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Azwar (1996), pengertian perencanaan mempunyai banyak

macamnya, akan tetapi yang menurutnya dianggap penting antara lain

dikemukakan oleh:

a. Billy E. Goetz, yang mengemukakan bahwa Perencanaan adalah kemampuan

untuk memilih dari berbagai kemungkinan yang tersedia dan yang dipandang

paling tepat untuk mencapai tujuan.

b. Drucker, mengemukakan bahwa Perencanaan adalah suatu proses kerja yang

terus menerus yang meliputi pengambilan keputusan yang bersifat pokok dan

penting dan yang akan dilaksanakan secara sistematik, melakukan

perkiraan-perkiraan dengan mempergunakan segala pengetahuan yang ada tentang masa

depan, mengorganisir secara sistematik segala upaya yang dipandang perlu

untuk melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkan, serta mengukur

(27)

hasil yang dicapai terhadap target yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan

umpan balik yang diterima dan yang telah disusun secara teratur dan baik.

c. Sedangkan menurut Levey dan Loomba, Perencanaan adalah suatu proses

menganalisis dan memahami sistem yang dianut, merumuskan tujuan umum

dan tujuan khusus yang ingin dicapai, memperkirakan segala kemampuan

yang dimiliki, menguraikan segala kemungkinan yang dapat dilakukan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan, menganalisis efektivitas dari berbagai

kemungkinan tersebut, menyusun perincian selengkapnya dari kemungkinan

yang terpilih, serta mengikatnya dalam suatu sistem pengawasan yang terus

menerus sehingga dapat dicapai hubungan yang optimal antara rencana yang

dihasilkan dengan sistem yang dianut.

2.1.2 Tujuan Perencanaan

Adapun tujuan perencanaan menurut Azwar (1998), antara lain :

a. Membantu para pelaksana dalam melaksanakan program dengan perencanaan

yang baik maka setiap pelaksana akan memahami rencana tersebut dan akan

merangsang para pelaksana untuk dapat melakukan beban tugas

masing-masing dengan sebaik-baiknya.

b. Membantu para pelaksana untuk membuat perencanaan pada masa depan,jadi

hasil yang diperoleh dari suatu pekerjaan perencanaan pada saat ini dapat

dimanfaatkan sebagai pedoman untuk menyusun rencana kerja pada masa

depan dan demikian seterusnya.

c. Sebagai upaya pengaturan baik dalam bidang waktu, tenaga pelaksana, sarana,

(28)

perencanaan yang baik akan menghindari kemungkinan terjadinya duplikasi,

bentrokan ataupun penghamburan dan penyia-nyiaan dari setiap program kerja

ataupun aktivitas yang dilakukan, jadi pemanfaatan dari sumber data dan tata

cara yang dipunyai dapat diatur secara lebih efisien dan efektif.

d. Untuk memperoleh dukungan baik berupa dukungan legislatif (melalui

peraturan ataupun perundang-undangan), dapat berupa dukungan moril

(persetujuan masyarakat), ataupun dukungan materiil dan finansial (biasanya

dari para sponsor).

2.1.3 Ciri-ciri Perencanaan

Menurut Levey dan Loomba di dalam Azwar (1996), suatu perencanaan

yang baik adalah yang mempunyai kriteria antara lain sebagai berikut :

a. Perencanaan harus mempunyai tujuan yang jelas.

b. Perencanaan harus mengandung uraian yang lengkap tentang segala

aktivitas yang akan dilaksanakan, yang dibedakan pula atas aktivitas pokok

serta aktivitas tambahan.

c. Perencanaan harus dapat menguraikan pula jangka waktu pelaksanaan setiap

aktivitas ataupun keseluruhan aktivitas yang akan dilaksanakan. Suatu

rencana yang baik, hendaknya berorientasi pada masa depan bukan

sebaliknya.

d. Perencanaan harus dapat menguraikan macam organisasi yang dipandang

tepat untuk melaksanakan aktvitas-aktivitas yang telah disusun. Dalam

organisasi tersebut harus dijelaskan pula pembagian tugas masing-masing

(29)

e. Perencanaan harus mencantumkan segala hal yang dipandang perlu untuk

melaksanakan aktivitas-aktivitas yang telah disusun, seperti macam tenaga

pelaksananya, besarnya dana dan sumber dana yang diperkirakan ada.

f. Perencanaan harus mempertimbangkan segala faktor yang mempengaruhi

atau diperkirakan mempengaruhi rencana tersebut, sehingga menjadi jelas

apakah rencana tersebut dapat dilaksanakan atau tidak.

g. Perencanaan dibuat dengan berpedoman pada sistem yang dimiliki dan

orientasi penyusunannya pada keseluruhan sistem tersebut, bukan terhadap

masing-masing individu pelaksananya.

h. Perencanaan harus memiliki unsur fleksibilitas artinya sesuai dengan situasi

dan kondisi yang dihadapi, sedemikian rupa sehingga pemanfaatan sumber

dan tata cara dapat diatur dengan baik dalam rangka mencapai tujuan yang

telah ditetapkan.

i. Perencanaan harus mencantumkan dengan jelas standar yang dipakai untuk

mengukur keberhasilan atau kegagalan yang akan terjadi. Jadi suatu rencana

dapat menguraikan pula mekanisme kontrol yang akan dipergunakan.

j. Perencanaan harus dilaksanakan terus-menerus, artinya hasil yang diperoleh

dari perencanaan yang sedang dilakukan, dapat dipakai sebagai pedoman

untuk perencanaan selanjutnya.

2.1.4 Jenis Perencanaan

Menurut Azwar (1996), jika dilihat dari jangka waktu berlakunya

perencanaan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

(30)

Disebut perencanaan jangka panjang, jika masa berlakunya rencana tersebut

antara 12 sampai 20 tahun.

b. Perencanaan jangka menengah (Medium-range planning)

Disebut perencanaan jangka menengah, jika masa berlakunya rencana

tersebut antara 5 sampai 7 tahun.

c. Perencanaan jangka pendek (Short-range planning)

Disebut perencanaan jangka pendek, jika masa berlakunya rencana tersebut

hanya untuk jangka waktu 1 tahun saja.

2.2 Perencanaan Kebutuhan Obat

2.2.1 Pengertian dan Tujuan Perencanan Kebutuhan Obat

Perencanaan obat adalah suatu proses kegiatan seleksi obat untuk

menetapkan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan pola penyakit dan

kebutuhan pelayanan kesehatan dasar termasuk program kesehatan yang telah

ditetapkan (Depkes, 1990).

Adapun tujuan dari perencanaan kebutuhan obat adalah untuk mendapatkan:

a. Jenis dan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan

b. Menghindari terjadinya kekosongan obat

c. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional

(31)

2.2.2 Tahapan-tahapan Perencanaan Obat

Menurut Depkes RI (2002), berbagai kegiatan yang dilakukan dalam

perencanaan obat meliputi :

2.2.2.1 Tahap Pemilihan Obat

Fungsi dari pemilihan atau penyeleksian obat adalah untuk menentukan

apakah obat benar-benar diperlukan dan sesuai dengan jumlah penduduk serta

pola penyakit. Untuk mendapatkan perencanaan obat yang baik, sebaiknya diawali

dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat yaitu meliputi:

a. Obat merupakan kebutuhan untuk sebagian besar populasi penyakit;

b. Obat memiliki keamanan, kemanjuran yang didukung dengan bukti ilmiah;

c. Obat memiliki manfaat yang maksimal dengan risiko yang minimal;

d. Obat mempunyai mutu yang terjamin baik ditinjau dari segi stabilitas maupun

biovaliditasnya;

e. Biaya pengobatan mempunyai rasio antara manfaat dengan biaya yang baik;

f. Apabila pilihan lebih dari satu, maka dipilih yang paling baik, banyak

diketahui dan farmakokinetiknya yang paling menguntungkan;

g. Mudah diperoleh dengan harga terjangkau;

h. Obat sedapat mungkin merupakan sediaan tunggal.

Pada tahap seleksi obat harus pula dipertimbangkan antara lain seperti ;

dampak administratif biaya yang ditimbulkan, kemudahan dalam mendapatkan

obat, kemudahan obat dalam penyimpanan, kemudahan obat untuk di

distribusikan, dosis obat sesuai dengan kebutuhan terapi, obat yang dipilih sesusai

(32)

dapat terjadi harus pula mempertimbangkan kontra indikasi, peringatan dan

perhatikan juga efek samping obat.

2.2.2.2 Tahap Kompilasi Pemakaian Obat

Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahui pemakaian

bulanan tiap-tiap jenis obat selama setahun dan sebagai data pembanding bagi

stok optimum.

Informasi yang didapatkan dari kompilasi pemakaian obat adalah :

a. Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada tiap Unit Pelayanan Kesehatan;

b. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun

seluruh Unit Pelayanan Kesehatan;

c. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat kabupaten/kota.

Manfaat dari informasi-informasi yang didapat yaitu sebagai sumber data

dalam menghitung kebutuhan obat untuk pemakaian tahun mendatang dan sebagai

sumber data dalam menghitung stok/persediaan pengaman dalam rangka

mendukung penyusunan rencana distribusi.

2.2.2.3 Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat

Menentukan kebutuhan obat merupakan tantangan berat yang harus

dihadapi oleh Apoteker yang bekerja di Unit Pelayanan Kesehatan maupun di

Gudang Farmasi. Masalah kekosongan obat atau kelebihan obat yang terjadi

apabila infomasi semata-mata hanya berdasarkan informasi yang teoritis

kebutuhan pengobatan. Dengan koordinasi dan proses perencanaan untuk

(33)

diharapkan obat yang direncanakan dapat tepat jenis, tepat jumlah serta tepat

waktu.

Menurut Wheelright yang dikutip dari Silalahi (1989) ada tiga (3) cara

yang mendasar dalam hal penetapan jumlah persediaan obat yang diperhatikan

pada saat perencanaan manajemen persediaan, yaitu :

1. Populasi

Yaitu berdasarkan banyaknya jumlah pasien yang datang dengan keluhan

penyakit tertentu, maka dapat dilihat jenis obat apa yang banyak digunakan

untuk mengatasi keluhan tersebut dan berapa banyak jumlah obat yang

dibutuhkan.

2. Pelayanan

Yaitu jenis pelayanan apa yang banyak dilakukan dalam kegiatan pelayanan

perawatan dan pengobatan dan ditentukan jenis obat dan jumlah obat yang

digunakan (berdasarkan jenis pelayanan dan jenis penyakit yang dominan).

3. Konsumsi

Yaitu jumlah obat yang pemakaiannya berdasarkan data pemakaian obat yang

digunakan pasien secara rutin, biasanya cara ini pemakaiannya stabil

(34)

Metode Penentuan Kebutuhan Obat

Pendekatan dalam menentukan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan

berbagai metode, yaitu antara lain:

a. Metode Konsumsi

Didasarkan atas analisis konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk

menghitung jumlah obat yang dibutuhkan berdasarkan metode konsumsi perlu

diperhatikan hal-hal sebagai berikut, yaitu :

1) Pengumpulan dan pengolahan data

2) Analisis data untuk informasi dan evaluasi

3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat

4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.

Jenis-jenis data yang perlu dipersiapkan dalam metode konsumsi, yaitu

alokasi dana, daftar obat, stok awal, penerimaan, pengeluaran, sisa stok, obat

hilang/rusak, kadaluarsa, kekosongan obat, pemakaian rata-rata atau pergerakan

obat pertahun, lead time, stok pengaman dan perkembangan pola kunjungan.

Adapun langkah-langkah perhitungan dengan metode konsumsi adalah :

1 Hitung pemakaian rata-rata obat X perbulan pada tahun sebelumnya (a)

2 Hitung pemakaian obat X pada tahun sebelumnya (b)

3 Hitung stok pengaman, pada umumnya stok pengaman berkisar 10%-20%

dari pemakaian obat X dalam satu bulan (c)

4 Menghitung kebutuhan obat X pada waktu tunggu (lead time), pada

umumnya lead time berkisar antara 3-6 bulan (d)

(35)

6 Rencana pengadaan obat X tahun selanjutnya adalah perhitungan kebutuhan

obat X tahun sebelumnya (e) – sisa stok (Depkes,2002).

Dasar di dalam menentukan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan berbagai

pendekatan yaitu antara lain dengan metode konsumsi. Metode konsumsi

berdasarkan pada analisis data konsumsi obat tahun sebelumnya.

Adapun langkah-langkah perhitungan metode konsumsi dalam perencanaan

obat adalah :

1. Menghitung Pemakaian Nyata Pertahun

Pemakaian nyata pertahun adalah jumlah jumlah stok obat yang telah

dikeluarkan dalam satu tahun / periode sebelumnya. Data dapat diperoleh dari

laporan perbulan atau kartu stok yang ada di Puskesmas.

2. Menghitung Pemakaian Rata-rata Satu Bulan

Pemakaian rata-rata perbulan didapat dengan cara menghitung seluruh

pemakaian obat yang terdapat dalam laporan pemakaian dan membagi dengan

12 bulan sehingga didapatkan laporan pemakaian rata-rata perbulannya.

3. Menghitung Kekurangan Obat

Kekurangan obat adalah jumlah obat yang diperlukan saat terjadinya

kekosongan obat pada tahun / periode sebelumnya. Cara untuk menghitung

kekurangan obat adalah waktu kekosongan obat dikali dengan rata-rata

pemakaian dalam satu bulan.

4. Menghitung Obat yang Sesungguhnya (Riil)

Kebutuhan obat sesungguhnya (riil) adalah kebutuhan obat yang

(36)

menghitung kebutuhan obat sesungguhnya (riil) adalah dengan cara

menghitung jumlah pemakaian nyata dijumlahkan dengan kekurangan obat

pada tahun / periode sebelumnya.

5. Menghitung Kebutuhan Obat Tahun yang Akan Datang

Kebutuhan obat tahun yang akan datang adalah perkiraan kebutuhan obat

yang sudah mempertimbangkan peningkatan jumlah pelanggan yang akan

dilayani. Cara menghitung kebutuhan obat tahun yang akan datang adalah

dengan cara menghitung kebutuhan obat yang sesungguhnya ditambah

kebutuhan obat yang sesungguhnya kemudian dikali 15%.

6. Menghitung Kebutuhan Leadtime

Leadtime adalah waktu yang dibutuhkan sejak rencana diajukan sampai

dengan obat yang diterima. Cara menghitung kebutuhan leadtime adalah

dengan cara menghitung pemakaian rata-rata dikali waktu tunggu (bulan).

7. Menentukan Stok Pengaman (Buffer Stock)

Buffer stock adalah jumlah obat yang diperlukan untuk menghindari

terjadinya kekosongan obat.

8. Menghitung Jumlah Obat yang Akan Diprogramkan Ditahun yang Akan

Datang

Cara menghitung jumlah obat yang diprogramkan ditahun yang akan datang

adalah dengan cara menghitung kebutuhan obat yang akan dating dijumlah

(37)

9. Menghitung Jumlah Obat yang Akan Dianggarkan

Cara menghitung jumlah obat yang akan dianggarkan adalah dengan cara

menghitung kebutuhan obat yang diprogramkan dikurang dengan sisa stok

obat yang ada (Depkes,2002).

Perhitungan kebutuhan obat dengan metode konsumsi didasarkan pada data

riel konsumsi perbekalan farmasi periode yang lalu, dengan berbagai penyesuaian

dan koreksi. Langkah perhitungan rencana kebutuhan obat menurut pola konsumsi

adalah :

1. Pengumpulan dan pengolahan data

2. Analisa data untuk informasi dan evaluasi

3. Perhitungan perkiraan kebutuhan obat

4. Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana

Sumber data untuk mementukan kebutuhan obat berasal dari pencatatan,

pelaporan dan informasi yang ada seperti daftar nama obat, stok awal obat, data

penerimaan obat, data pengeluaran obat, sisa obat pada kartu stok, dan obat-obat

yang sudah kadaluarsa, dan data pemakaian rata-rata obat pertahun. Data-data

tersebut terdapat dalam LPLPO, laporan bulanan data kesakitan (LB1) dan kartu

(38)

Jenis data yang dikumpulkan dalam proses penentuan kebutuhan obat di

Puskesmas Kecupak Kabupaten Pakpak Bharat adalah sebagai berikut :

1. Stok awal

Stok awal adalah persediaan sisa stok obat pada akhir bulan terakhir sebelum

perencanaan kebutuhan obat untuk periode selanjutnya. Laporan stok awal

obat terdapat dalam kartu stok dan laporan tahunan.

2. Alokasi dana

Dalam penentuan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan, dana berasal dari

Dinas Kesehatan dan jika kurang ataupun tidak tersedia di Puskesmas maka

dana kapitasi JKN dapat dianggarkan untuk pemenuhan obat dan perbekalan

kesehatan lainnya.

3. Pengeluaran

Obat-obatan yang telah dikeluarkan harus segera dicatat dan dibukukan pada

buku harian pengeluaran obat mengenai data-data obat dan dokumen obat

tersebut. Hal ini berfungsi untuk sebagai dokumen yang memuat semua

catatan pengeluaran, baik mengenai data obatnya maupun dokumen yang

menyertai pengeluaran obat tersebut.

4. Perkembangan pola penyakit

Perkembangan pola penyakit dijadikan acuan dalam penentuan kebutuhan

obat pada periode sebelumnya dikarenakan konsumsi obat pasti berdasarkan

pola penyakit yang terjadi. Pihak pengelola obat menjadikan epidemiologi

(39)

Epidemiologi penyebaran pola penyakit tercatat dalam Laporan Bulanan Data

Kesakitan (LB1).

5. Obat-obat yang hilang/ rusak/ kadaluarsa

Data-data obat-obatan yang hilang maupun rusak dan kadaluarsa tercatat

didalam laporan bulanan. Laporan ini digunakan dalam penentuan kebutuhan

obat dikarenakan agar tidak terjadi kekosongan obat jenis tertentu untuk

periode selanjutnya. Obat-obatan yang hilang maupun rusak dan kadaluarsa

dicatat dan dimasukkan dalam laporan agar tidak terjadi kebingungan dalam

mementukan kebutuhan obat periode selanjutnya.

6. Indeks musiman

Indeks musiman adalah frekuensi pemakaian obat pada satu periode. Pihak

puskesmas melihat frekuensi pemakaian obat sejalan dengan data kesakitan di

puskesmas. Data frekuensi pemakaian obat dan data kesakitan tercatat dalam

laporan bulanan data kesakitan.

7. Lead time / waktu tunggu

Lead time / waktu tunggu adalah waktu yang dihitung mulai dari permintaan

obat oleh pihak pengelola obat sampai dengan penerimaan obat.

8. Daftar obat

Obat-obatan yang terdapat dalam sistem pengadaan secara elektronik

(e-katalog) telah mencakup semua jenis obat yang terdapat pada Formularium

nasional baik itu berupa obat-obatan generik maupun obat-obatan paten.

(40)

sebagai acuan penentuan jenis obat dengan e-katalog yang digunakan sebagai

metode pengadaan obat.

9. Sisa stok

Sisa stok adalah jumlah sisa obat yang masih tersedia di unit pengelola obat

pada akhir periode distribusi. Sisa stok obat yang ada di Puskesmas Kecupak

terdapat di dalam kartu stok obat dan sudah tercatat seluruhnya. Biasanya

kartu stok obat di cek setiap kali adanya obat masuk dan keluar. Sisa stok

adalah sisa terakhir obat yang masih tersedia di Puskesmas sebelum

perencanaan kebutuhan obat untuk periode selanjutnya. Daftar sisa stok obat

dijadikan acuan dalam penentuan kebutuhan obat agar tidak terjadi kelebihan

stok obat di periode selanjutnya.

10. Penerimaan obat

Obat yang telah diterima harus segera dicatat pada buku harian penerimaan

obat.

11. Kekosongan obat

Kekosongan obat adalah lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari.

12. Pemakaian rata-rata / pergerakan obat pertahun

Pemakaian rata-rata adalah jumlah pemakaian obat di unit pengelola obat

dalam satu periode dibagi jumlah unit waktu per-periode. Misalnya

pemakaian rata-rata tahun 2016 adalah pemakaian obat dalam satu tahun

(41)

13. Stok pengaman

Stok pengaman adalah stok yang digunakan untuk menutupi kekosongan obat

selama waktu tunggu pemesanan obat (lead time) (Depkes,2002).

2.2.2.4 Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :

a) Menentapkan rancangan stok akhir periode yang akan datang. Rancangan

stok akhir diperkirakan sama dengan hasil perkalian antara waktu tunggu

dengan estimasi pemakaian rata-rata/bulan ditambah stok penyangga.

b) Menghitung rancangan perecanaan obat periode tahun yang akan datang.

Perencanaan obat tahun yang akan datang dapat dirumuskan sebagai berikut,

yaitu : a = b + c + d – e – f

Keterangan :

a : Rancangan perencanaan obat tahun yang akan datang

b : Kebutuhan obat untuk sisa periode berjalan ( Januari – Desember )

c : Kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang

d : Rancangan stok akhir

e : Stok awal periode berjalan/stok per 31 Desember Gudang Farmasi

f : Rencana penerimaan obat pada periode berjalan (Januari – Desember)

c) Menghitung rancangan anggaran untuk total kebutuhan obat dengan cara :

1. Melakukan analisis ABC-VEN

2. Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian

3. Menyusun prioritas kebutuhan dasar dan penyesuaian kebutuhan

(42)

d) Pengalokasian kebutuhan obat per sumber anggaran dengan melakukan

kegiatan, yaitu :

1. Menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-masing obat bersumber

per anggaran

2. Menghitung persentase belanja untuk masing-masing obat terhadap

masing-masing sumber anggaran

3. Menghitung persentase anggaran masing-masing obat terhadap total

anggaran dari semua sumber (Depkes,2002).

2.3 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)

2.3.1 Pengertian Puskesmas

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama,

dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya

(Permenkes RI No. 75 tahun 2014).

2.3.1.1 Pengertian Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan

Perorangan

Upaya Kesehatan Masyarakat adalah setiap kegiatan untuk memelihara

dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya

masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat

(Permenkes RI No 75 tahun 2014).

Upaya Kesehatan Perseorangan adalah suatu kegiatan dan/atau

(43)

pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit

dan memulihkan kesehatan perseorangan (Permenkes RI No 75 tahun 2014).

2.3.2 Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk

mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka

mendukung terwujudnya kecamatan sehat.

Dalam melaksanakan tugas puskesmas menyelenggarakan fungsi:

a. penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

b. penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Dalam menyelenggarakan fungsi UKM puskesmas berwenang untuk:

a. melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat

dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;

b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

c. melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat

dalam bidang kesehatan;

d. menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah

kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama

dengan sektor lain terkait;

e. melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya

kesehatan berbasis masyarakat;

f. melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas;

(44)

h. melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan

cakupan pelayanan kesehatan;

i. memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk

dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan

penyakit.

Dalam menyelenggarakan fungsi UKP puskesmas berwenang untuk:

a. menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,

berkesinambungan dan bermutu;

b. menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif

dan preventif;

c. menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat;

d. menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan

keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;

e. menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja

sama inter dan antar profesi;

f. melaksanakan rekam medis;

g. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses

pelayanan kesehatan;

h. melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan;

i. mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan

(45)

j. melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem

rujukan (Permenkes RI No 75 tahun 2014).

2.3.3 Tujuan Puskesmas

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan

untuk mewujudkan masyarakat yang :

a. memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan

hidup sehat;

b. mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu;

c. hidup dalam lingkungan yang sehat;

d. memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga kelompok

dan masyarakat (Permenkes RI No 75 tahun 2014).

2.3.4 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

a. Prinsip paradigma sehat, yaitu Puskesmas mendorong seluruh pemangku

kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi

resiko kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

b. Prinsip pertanggungjawaban wilayah, yaitu Puskesmas menggerakkan dan

bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

c. Prinsip kemandirian masyarakat, yaitu Puskesmas mendorong kemandirian

hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

d. Prinsip pemerataan, yaitu Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan

yang dapat di akses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah

kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama,

(46)

e. Prinsip teknologi tepat guna, yaitu Puskesmas menyelenggarakan pelayanan

kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan

kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi

lingkungan.

f. Prinsip keterpaduan dan kesinambungan, yaitu Puskesmas mengintegrasikan

dan mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan

lintas sektor serta melaksanakan sistem rujukan yang didukung dengan

manajemen Puskesmas (Permenkes RI No 75 tahun 2014).

2.4 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

2.4.1 Pengertian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program masyarakat atau

rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan yang menyeluruh bagi setiap

rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif dan

sejahtera yang sesuai dengan prinsip asuransi sosial dan prinsip equitas yang

terdapat dalam Undang-undang No.40 Tahun 2004 pasal 19 ayat 1.

2.4.2 Pelayanan, Penyediaan dan Penggunaan Obat

2.4.2.1 Pelayanan Obat

a. Pelayanan obat untuk Peserta JKN di FKTP dilakukan oleh apoteker di

instalasi farmasi klinik pratama/ruang farmasi di Puskesmas/apotek sesuai

ketentuan perundang-undangan. Dalam hal ini di Puskesmas belum memiliki

apoteker maka pelayanan obat dapat dilakukan oleh tenaga teknis

kefarmasian dengan pembinaan apoteker dari Dinas Kesehatan

(47)

b. Pelayanan obat untuk Peserta JKN di FKTP dilakukan oleh apoteker di

instalasi farmasi rumah sakit/klinik utama/apotek sesuai ketentuan

perundang-undangan.

c. Pelayanan obat untuk peserta JKN pada fasilitas kesehatan mengacu pada

daftar obat yang tercantum dalam Fornas dan harga obat yang tercantum

dalam e-katalog obat.

d. Pengadaan obat menggunakan mekanisme e-purchasing berdasarkan

e-katalog atau bila terdapat kendala operasioanal dapat dilakukan secara manual

(Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa

Pemerintah).

2.4.2.2 Penyediaan Obat

Penyediaan obat di fasilitas kesehatan dilaksanakan dengan mengacu

kepada Fornas dan harga obat yang tercantum dalam e-katalog obat. Pengadaan

obat dalam e-katalog menggunakan mekanisme e-purchasing, atau bila terdapat

kendala operasional dapat dilakukan secara manual. Dalam hal jenis obat tidak

tersedia dalam Fornas dan harganya tidak terdapat dalam e-katalog, maka

pengadaannya dapat menggunakan mekanisme pengadaan yang lain sesuai

dengan perundang-undangan yang berlaku.

2.4.2.3 Penggunaan Obat di Luar Formularium Nasional

Pada pelaksanaan pelayanan kesehatan, penggunaan obat disesuaikan

dengan standar pengobatan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila

(48)

tercantum di Formularium nasional, maka hal ini dapat diberikan dengan

ketentuan sebagai berikut :

Penggunaan obat di luar Formularium nasional di FKTP dapat digunakan

apabila sesuai dengan indikasi medis dan sesuai dengan standar pelayanan

kedokteran yang biayanya sudah termasuk dalam kapitasi dan tidak boleh

dibebankan kepada peserta.

Penggunaan obat di luar Formularium nasional di FKRTL hanya

dimungkinkan setelah mendapat rekomendasi dari Ketua Komite Farmasi dan

Terapi dengan persetujuan Komite Medik atau Kepala/Direktur Rumah Sakit yang

biayanya sudah termasuk dalam tarif INA CBGs dan tidak boleh dibebankan

kepada peserta.

2.5 Kerangka Berpikir

Berdasarkan landasan teori di atas maka kerangka berfikir pada penelitian

ini adalah sebagai berikut :

Gambar 2.3 Kerangka Pikir

Sumber Daya

Data

Tahap Perencanaan Obat 1. Menghitung pemakaian nyata pertahun

2. Menghitung pemakaian rata-rata satu bulan

3. Menghitung kekurangan obat

4. Menghitung obat yang sesungguhnya (Riil)

5. Menghitung kebutuhan obat tahun yang akan dating

6. Menghitung kebutuhan leadtime

7. Menentukan stok pengaman (Buffer Stock)

8. Menghitung jumlah obat yang akan diprogramkan ditahun

yang akan datang

9. Menghitung jumlah obat yang dianggarkan

(49)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dirumuskan definisi fokus penelitian

sebagai berikut :

1. Sumber daya adalah segala sesuatu yang mendukung dan dibutuhkan dalam

melaksanakan perencanaan obat agar dapat berjalan dengan baik, meliputi :

Data.

a. Data adalah dokumen yang dapat dijadikan bahan acuan atau informasi di

dalam perencanaan obat seperti data pemakaian obat tahun-tahun

sebelumnya meliputi jenis, jumlah dan kondisi dalam satu tahun

anggaran.

b. Prosesperencanaanadalah pelaksanaan yang harus dilakukan untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan meliputi :

1. Menghitung pemakaian nyata pertahun

2. Menghitung pemakaian rata-rata satu bulan

3. Menghitung kekurangan obat

4. Menghitung obat yang sesungguhnya (Riil)

5. Menghitung kebutuhan obat tahun yang akan dating

6. Menghitung kebutuhan leadtime

7. Menentukan stok pengaman (Buffer Stock)

8. Menghitung jumlah obat yang akan diprogramkan ditahun yang akan

datang

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

survey yang bersifat analitik dengan menggunakan metode penelitian kualitatif

yang bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan obat di puskesmas.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kecupak Kabupaten

Pakpak Bharat. Pemilihan lokasi ini berdasarkan permasalahan yang ada di

puskesmas tersebut yaitu proses perencanaan obat yang tidak sesuai dengan

kebutuhan puskesmas.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 (survei pendahuluan)

sampai dengan Oktober 2017.

3.3 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik

purposive sampling, yaitu teknik yang dilakukan untuk memilih informan yang

bersedia dan mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan topik

penelitian, yang terdiri dari :

1. Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat

2. Kepala Puskesmas Kecupak

(51)

4. Pengelola Obat Puskesmas Kecupak

3.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan sumber data yaitu :

3.4.1 Data Primer

Wawancara mendalam (indepth interview) kepada informan. Dalam

penelitian ini dilakukan wawancara semi terstruktur yang dilengkapi dengan

pedoman wawancara yang dijadikan patokan dalam alur, urutan dan penggunaan

kata. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan masalah lebih

terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, peneliti perlu

mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang ditemukan oleh informan

(Sugiyono, 2009).

3.4.2 Data Sekunder

Data yang digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap dari data

primer untuk keperluan penelitian seperti data dari Dinas Kesehatan Kabupaten

Pakpak Bharat, Lembar Permintaan dan Lembar Pemakaian Obat (LPLPO),

buku-buku referensi, dan lain-lain.

3.5 Triangulasi

Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber,

yaitu dengan memilih informan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan

pertanyaan yang diajukan (Patton dalam Moleong, 2007).

3.6 Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif dilakukan secara simultan dengan proses

(52)

dalam melihat data secara lebih sistematis (Miles dan Huberman dalam

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas Kecupak

Puskesmas Kecupak terletak di Desa Kecupak I Kecamatan

Pargetteng-getteng Sengkut yang merupakan salah satu UPT Dinas Kesehatan Kabupaten

Pakpak Bharat. Wilayah kerja Puskesmas Kecupak terdiri dari 5 desa dengan luas

wilayah 66,5 km2, dimana semua desa dapat dijangkau oleh roda empat.

Batas-batas Puskesmas Kecupak Kecamatan Pargetteng-getteng Sengkut adalah :

1. Sebelah Utara : Kecamatan Tinada

2. Sebelah Selatan : Kecamatan Salak

3. Sebelah Timur : Kecamatan Salak

4. Sebelah Barat : Kecamatan Pangindar

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecupak tahun 2015

No. Desa Luas Wilayah Jumlah Penduduk Jumlah KK

1 Kecupak I 11,9 753 178 2 Kecupak II 14,4 1961 469 3 Aornakan I 11,4 811 189 4 Aornakan II 11,4 388 95 5 Simerpara 17,4 904 215 Jumlah Total 66,5 4817 1146

Sumber : Puskesmas Kecupak Tahun 2015

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Kecupak tahun 2015

No. Tahun Jumlah Penduduk

Laki-laki Perempuan Jumlah

1 0 – 4 385 321 706 2 5 – 14 1533 1534 3087 3 15 – 44 3389 3362 6751 4 45 – 64 779 827 1606 5 > 64 244 280 524 Jumlah Total 6330 6324 12654

(54)

Jumlah total penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecupak pada tahun

2015 adalah sebanyak 12654 penduduk dengan rincian 6330 orang laki-laki dan

6324 orang perempuan. Untuk penduduk berumur 0-4 tahun berjumlah 385 orang

laki-laki dan 321 orang perempuan. Penduduk berumur 5-14 tahun berjumlah

1533 orang laki-laki dan 1534 orang perempuan. Penduduk berumur 15-44 tahun

berjumlah 3389 orang laki-laki dan 3362 orang perempuan. Penduduk berumur

45-64 tahun berjumlah 779 orang laki-laki dan 827 orang perempuan. Penduduk

berumur >64 tahun berjumlah 244 orang laki-laki dan 280 orang perempuan.

Tabel 4.3 Data Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecupak tahun 2015

No. Tenaga Kesehatan Jumlah

1 Dokter Umum 1

2 Bidan 9

3 Perawat 10

4 Perawat Gigi 1

5 Teknis Kefarmasian 1

6 Tenaga Kesehatan Masyarakat 1

7 Tenaga Kesehatan Lingkungan 1

8 Nutrisionis 1

9 Analasis Kesehatan 1

10 Pengelola Program Kesehatan 1

Jumlah Total 27

Sumber : Puskesmas Kecupak Tahun 2015

Di Puskesmas Kecupak terdapat sebanyak 27 orang tenaga kesehatan yang

berstatus sebagai pegawai aktif. Terdapat 1 orang tenaga kesehatan dokter umum.

Terdapat 9 orang tenaga kesehatan bidan. Terdapat 10 orang tenaga kesehatan

perawat. Terdapat 1 orang tenaga kesehatan perawat gigi. Terdapat 1 orang tenaga

kesehatan teknis kefarmasian. Terdapat 1 orang tenaga kesehatan masyarakat.

Terdapat 1 orang tenaga kesehatan lingkungan. Terdapat 1 orang tenaga kesehatan

(55)

4.2 Karateristik Informan

Karateristik dari masing-masing informan pada penelitian ini, dapat dilihat

pada tabel berikut.

Tabel 4.4 Karateristik Informan

No Informan Jenis Kelamin Umur (tahun) Pendidikan Jabatan 1 Basta E Sebayang, SKM

Laki-laki 47 S1 Pejabat Pembuat

Komitmen Dinas Kesehatan 2 Dharma

Aritonang, SKM

Laki-laki 44 S1 Kepala Puskesmas

3 Tamrin

Togatorop, S.Kep Ns

Laki-laki 39 S1 (Ners) Kepala Bidang Farmasi

4 Harda Hendra Gajah Manik

Perempuan 38 D3 Pengelola Obat

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah informan dalam penelitian ini

adalah 4 informan, yang terdiri dari 1 informan Pejabat Pembuat Komitmen Dinas

Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat (mewakili Kepala Dinas Kabupaten Pakpak

Bharat) yang berusia 47 tahun dengan pendidikan S1, 1 informan Kepala

Puskesmas Kecupak yang berusia 44 tahun dengan pendidikan S1, 1 informan

Kepala Bidang Farmasi yang merupakan penanggung jawab bidang obat berusia

39 tahun dengan pendidikan S1 Ners, 1 informan Pengelola Obat yang merupakan

penanggung jawab yang berusia 38 tahun dengan pendidikan D3.

4.3 Data

Penentuan jumlah permintaan obat, data-data yang diperlukan meliputi

data pemakaian obat periode sebelumnya, jumlah kunjungan resep, frekuensi

distribusi obat dan sisa stok. Data-data ini sangat penting untuk proses

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :