LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MATERI DAN ENERGI ASAM AMINO & PROTEIN
MATTHEW RAPHAEL BENEDICTUS BOENTORO 31170156
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS BIOTEKNOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia membutuhkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya. Makanan tersebut diperoleh dari sumber makanan yang berasal dari makhluk hidup lain, baik hewan maupun tumbuhan. Makanan yang dimakan ini ternyata memiliki kandungan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Salah satu kandungan makanan yang penting bagi tubuh adalah protein.
Protein adalah suatu zat organik yang berbobot molekul tinggi berkisar antara beberapa ribu sampai jutaan, jadi protein disebut sebagai makromolekul. Protein merupakan satu komponen utama dalam sel hidup. Protein memiliki berbagai fungsi dalam tubuh, yaitu sebagai pembangun struktur, biokatalis, hormon, sumber energi, penyangga racun, pengatur pH, dan pembentuk antibodi. Protein diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari, seperti telur, daging, susu, ikan, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Sumber protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan sumber protein yang berasal dari tanaman disebut protein nabati.
Asam amino adalah satuan terkecil pembentuk protein atau monomer dari protein yang terdiri dari gugus amina dan hidroksil. Terdapat dua jenis asam amino, yaitu asam amino esensial dan non esensial. Asam amino esensial adalah asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh yang diperoleh dari asupan luar tubuh karena tubuh tidak bisa memproduksinya. Sedangkan, asam amino non esensial adalah asam amino yang penting oleh tubuh yang diperoleh dari tubuh sendiri karena tubuh mampu memproduksinya sehingga tidak perlu dari asupan luar tubuh secara langsung.
Pada praktikum ini akan dilakukan penentuan kandungan asam amino dan protein dari sampel tempe dan putih telur dengan kromatografi lapis tipis atau plate TLC. Selain itu, akan dilakukan juga penentuan kadar protein yang terdapat dalam sampel tempe dan putih telur dengan menggunakan metode spektrofotometri Lowry – Folin Ciocalteu.
B. Tujuan Praktikum
1. Menentukan kandungan asam amino dari suatu ekstrak asam amino dengan kromatografi lapis tipis.
2. Menentukan kadar protein yang terdapat dalam sampel protein nabati dan sampel protein hewani.
A. Asam Amino
Asam amino terdiri dari sebuah gugus amino, sebuah gugus karboksil, sebuah atom hidrogen, dan gugus R yang terikat pada sebuah atom C yang dikenal sebagai karbon α, dan gugus R adalah rantai cabang. (Winarno, 2008).
Protein yang ditemukan umumnya tersusun dari 20 macam asam amino, semua asam amino berada dalam bentuk asam α-amino. Asam α-amino yang paling sederhana adalah amino asetat, yang disebut glisina. Asam amino lainnya mempunyai rantai cabang yang terletak pada atom karbon-α. Karena asam α-amino mempunyai dua gugus polar yang berbeda, maka asam amino merupakan senyawa polar. (Riswiyanto, 2009).
Rumus umum asam amino
Meskipun asam amino mempunyai dua gugus fungsi yaitu asam dan basa, namun bentuk struktur ionnya bergantung pada pH. Jika melepaskan proton, gugus karboksilat akan memberikan ion karboksilat, sedangkan gugus amino akan terprotonasi menjadi ion amonium. Keadaan struktur semacam ini disebut sebagai ion dipolar atau zwitter ion. (Riswiyanto, 2009).
Struktur dipolar ini menjadikan asam amino mempunyai sifat yang sangat menarik, yaitu :
1. Pada umumnya asam amino berupa kristal dan terdekomposisi pada suhu tinggi dibandingkan dengan amina dan asam karboksilat yang bersesuaian. 2. Tidak larut dalam pelarut nonpolar, tetapi larut dalam air.
3. Mempunyai momen dipol yang tinggi dibandingkan senyawa asam atau basa pada umumnya.
4. Mempunyai sifat asam dan basa.
5. Mempunyai struktur ion dipolar. (Riswiyanto, 2009).
kromatografi adalah kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, dan kromatografi penukarion. (Poedjiadi, 1994).
B. Protein
Protein termasuk dalam kelompok senyawa yang terpenting dalam organisme hewan. Sesuai dengan peranan ini, kata protein berasal dari kata Yunani proteios, yang artinya ‘pertama’. Protein adalah poliamida dan hidrolisis protein menghasilkan asam-asam amino. (Fessenden & Fessenden, 1982).
Protein dapat dibagi dalam dua kelas besar, yaitu fibrous protein (protein serabut) yang tidak larut dalam air dan globular protein (protein berbentuk bundar) yang larut dalam air, asam, basa, atau garam. Karena besarnya ukuran molekul protein, biasanya larutan protein berbentuk koloid. Perbedaan kelarutan di antara kedua kelas protein disebabkan oleh bentuk molekulnya yang ditunjukkan secara umum dari namanya. Kedua kelas protein dapat dibagi berdasarkan sifat-sifat fisik, terutama sifat kelarutannya, misalnya albumin (larut dalam air dan akan mengalami koagulasi bila dipanaskan), globulin (tidak larut dalam air, larut dalam garam), dan sebagainya. Protein yang mengendap dan tidak berada dalam kesetimbangan disebut denaturasi, biasanya disebabkan oleh pemanasan, asam atau basa kuat, atau berbagai pereaksi. Koagulasi dari putih telur oleh pemanasan merupakan contoh denaturasi dari protein albumin. (Riswiyanto, 2009).
C. Metode yang Digunakan 1. Metode KLT/TLC
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran yang berdasarkan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen- komponen yang akan dipisahkan berada diantara dua fase yaitu fase diam ( stationary ) dan fase bergerak ( mobile ). Fase diam adalah fase yang akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak adalah fase yang akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal atau tidak bergerak sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (Sudarmadji, 2007).
disebut juga dengan eluent. Eluent adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Pemisahan komponen sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi antara adsorbent dan eluen. Dalam kromatografi lapis tipis, eluen biasanya disebut sebagai larutan pengembang. Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan 2 sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat di jadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila di identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan bila nilai Rf nya berbeda, senyawa tersebut dapat di katakan merupakan senyawa yang berbeda (Lipsy, 2010).
2. Metode Lowry – Folin Ciocalteu
Metode Lowry mengkombinasikan pereaksi biuret dengan pereaksi lain (Folin-Ciocalteauphenol) yang bereaksi dengan residu tyrosine dan tryptophan dalam protein. Reaksi ini menghasilkan warna kebiruan yang bisa dibaca di antara 500 – 750 nm, tergantung sensitivitas yang dibutuhkan. Akan muncul puncak kecil di sekitar 500 nm yang dapat digunakan untuk menentukan protein dengan konsentrasi tinggi dan sebuah puncak besar disekitar 750 nm yang dapat digunakan untuk menentukan kadar protein dengan konsentrasi rendah. Metode ini lebih sensitif untuk protein konsentrasi rendah dibanding metode biuret. Protein dengan asam fosfotungsat-fosfomolibdad pada suasana alkalis akan memberikan warna biru yang intensitasnya bergantung pada konsentrasi protein yang ditera. Untuk mengetahui banyaknya protein dalam larutan, terlebih dahulu dibuat kurva standar yang melukiskan hubungan antara konsentrasi dan optical dencity (OD). Biasanya digunakan serum albumin (Lipsy, 2010).
D. Sampel yang Digunakan
Bahan utama penyusun putih telur adalah protein dan air. Perbedaan kekentalan putih telur disebabkan oleh perbedaan kandungan air. Protein sederhana pada putih telur terdiri atas ovalbumin, ovoconalbumin dan ovoglobulin, sedangkan yang kedua termasuk glycoprotein, yaitu ovomucoid dan ovomucin. Ovomucin pada putih telur pada putih telur yang kental lebih besar daripada putih telur yang encer. Ovomucin merupakan fraksi protein putih telur yang membentuk selaput dan berfungsi menstabilkan struktur buih. Pemberian asam asetat yang berlebihan akan mengakibatkan penggumpalan sebagian ovomucin dan memperkecil elastisitas gelembung buih. Kerusakan gejala-gejala ovomucin mengakibatkan air dari protein putih telur akan keluar dan putih telur menjadi encer. Semakin encer putih telur, maka semakin tinggi tirisan buih yang dihasilkan (Roy et al, 1991).
BAB III
3. Larutan Ninhidrin :2 g ninhidrin dalam 25 mL aseton. Kemudian tambahkan 25 mL buffer asetat 0,2 M pH 5,5
4. Larutan asam amino standar : tirosin (5 mg tirosin dalam 10 mL HCl 0,1 N) 5. Reagen A : 100 g Na2CO3 dilarutkan dalam NaOH 0,5 N hingga mencapai V = 1 L 6. Reagen B : 1 g CuSO4.5H2O dilarutkan dalam akuades hingga mencapai V = 1 L 7. Reagen C : 2 g K-tartrat dalam 100 mL akuades
8. Reagen D : 15 mL reagen A; 0,75 mL reagen B; 0,75 mL reagen C
9. Reagen E : encerkan 5 mL reagen Folin Ciocalteu 2 N menjadi volume 50 mL 10. Larutan A, B, dan C dapat disimpan, sedangkan larutan E dibuat pada saat akan
digunakan
11. Larutan standar Albumin fraksi V (0,1%)
12. Solven A = n-butanol : asam asetat : air, dengan perbandingan (12 : 3 : 5 v/v) 13. Solven B = fenol : air, dengan perbandingan (4 : 1 v/v)
C. Cara Kerja
1. Preparasi ekstrak asam amino dan protein
Ditimbang 4 g tempe dan 2 g putih telur.
Ditambahkan 20 mL buffer fosfat 0,1 M pH 7.
Pada sampel padat dihaluskan dengan mortar, kemudian disaring untuk diambil ekstraknya. Sedangkan, pada sampel berupa larutan dicampurkan sampai homogen,
2. Identifikasi jenis asam amino pada ekstrak sampel
3. Penentuan asam amino secara kuantitatif
Diaktifkan plate TLC pada suhu 105ºC selama 30 menit.
Dilakukan spotting larutan asam amino tirosin dan sampel berisi ekstrak asam amino bebas.
Dilakukan elusi dengan larutan pengembang solven A dan solven B hingga batas yang ditentukan. Lalu diangkat dan dikeringkan.
Disemprot dengan reagen ninhidrin dan dipanaskan pada suhu 100ºC selama 10 menit.
Diamati kromatogram yang muncul.
4. Penentuan protein secara kuantitatif
BAB IV
Dibuat kurva standar asam amino.
Diambil 4 mL sampel berisi ekstrak asam amino, kemudian ditambah dengan 1 mL ninhidrin.
Dicampur sampai homogen dan dipanaskan 100ºC selama 15 menit.
Didinginkan dan ditambahkan etanol 50% sebanyak 1 mL.
Dilakukan pengukuran intensistas warna pada panjang gelombang 440 nm dan 550 nm.
Ditentukan besarnya asam amino yang ada pada sampel dengan kurva standar.
Dibuat kurva standar protein.
Diambil 1 mL sampel berisi ekstrak protein, kemudian ditambah reagen D 1 mL.
Dicampur sampai homogen dan diinkubasikan pada suhu kamar selama 15 menit.
Ditambahkan reagen E sebanyak 3 mL, lalu divorteks dan diinkubasikan lagi pada suhu kamar selama 15 menit.
Dilakukan pengukuran intensitas warna pada panjang gelombang 550 nm.
HASIL & PEMBAHASAN
A. Identifikasi jenis asam amino pada ekstrak sampel Hasil :
Tabel hasil identifikasi jenis asam amino pada ekstrak sampel
SAMPEL Jarak Tempuh (cm) Nilai Rf
Solven A Solven B Solven A Solven B
Tempe 2 - 0,2857
-4,3 0,6142
Putih telur 0,9 - 0,1285
-2,1 0,3
Nilai Rf didapatkan dengan menggunakan persamaan :
Menghitung nilai Rf Solven A
- Rf tempe 1 = 2
7 = 0,2857 (Prolin)
- Rf tempe 2 = 4,37 = 0,6142 (Leusin)
- Rf putih telur 1 = 0,9
7 = 0,1285 (Aspartat)
- Rf putih telur 2 = 2,17 = 0,3 (Prolin)
Gambar hasil identifikasi jenis asam amino pada ekstrak sampel
Rf =
jarak totaljarak titikTir – 4,7 cm
PT – 0,9 cm PT – 2,1 cm Tir – 3,7 cm
Pembahasan :
Pada percobaan ini dilakukan untuk menentukan kandungan asam amino yang ada pada sampel tempe dan putih telur dengan menggunakan plate TLC. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan mendapatkan data kandungan asam amino pada tempe adalah prolin (Rf = 0,2857) dan leusin (Rf = 0,6142). Sedangkan, pada putih telur adalah aspartat (Rf = 0,1285) dan prolin (Rf = 0,3). Warna yang dihasilkan juga beragam, seperti warna kuning pada leusin dan ungu pada prolin dan aspartat. Semua kandungan asam amino tersebut hanya terbentuk pada Solven A, sedangkan pada solven B tidak terbentuk.
Pada percobaan juga digunakan larutan ninhidrin. Ninhidrin sendiri merupakan Triketohidrinden hidrat yang ketika bereaksi dengan asam amino akan membentuk warna biru ungu dan diketahui tirosin merupakan salah satu asam amino. pH yang digunakan adalah 5-7 yang merupakan kondisi optimum dari ninhidrin untuk bereaksi, sehingga pada praktikum kali ini aquades ditambahkan dengan catatan agar reaksi bekerja pada pH antara 5 hingga 7. Reaksi yang terjadi terdiri atas 2 tahap, yaitu reaksi pembentukan hidrantin, di mana ninhidrin akan tereduksi, dan reaksi pembentukan warna.
TLC ada 3 fase, fase diam, fase gerak, fase elusi. Saat fase diam yang satu dengan fase diam yang lain berbeda karena strukturnya, ukurannya, kemurniannya, zat tambahan sebagai pengikat dll. TLC ini dijual sesuai dengan spesifikasi yang dibedakan berdasar pada ukuran (diameter). Alumium termasuk kelompok fase diam yang beraktifitas tinggi. TLC bersifat sedikit basa (pH 9), ada juga yang bersifat netral (pH 7) dan alumina yang bersifat asam (pH 4). Penggunaan alumunium memudahakan peneliti agar tidak perlu lagi menggunakan larutan pengikat.
Biasanya yang digunakan dalam solven adalah pelarut organik. Saat ini adalah saat partisi, di mana terjadi percampuran larutan organik dengan air. Pemilihan pelarut organik ini sangat penting karena akan menentukan keberhasilan pemisahan. Penggunaan prinsip polaritas adalah yang paling sesuai untuk pemilihan pelarut. Senyawa polar akan lebih mudah terelusi oleh fase gerak yang bersifat polar dari pada fase gerak yang non polar. Sebaliknya, senyawa non polar lebih mudah terelusi oleh fase gerak non polar dari pada fase gerak yang polar.
komponen sampel. Kecepatan merambat tiap-tiap komponen berbeda tergantung kekuatan ikatan hidrogen yang terjadi solven dan sampel. Komponen yang membentuk ikatan hidrogen lebih kuat dengan solven akan terelusi lebih cepat atau merambat lebih cepat. Sebaliknya kalau ikatan hidrogennya lebih kuat dengan sampel, komponen akan lebih lama tertahan pada tempat di mana sampel diteteskan atau merambat lambat. Pengembangan dihentikan pada saat solven mencapai jarak tertentu, biasanya 1 cm sebelum ujung akhir plat. Batas dicapainya fase gerak segera ditandai dengan pensil sebagai garis akhir. Lebih baik batas akhir ini dibuat dahulu sebelum pengembangan, bila pelarut mencapai garis akhir, plat segera diangkat dan dikeluarkan dari bejana.
Cara mengamati bercak pada TLC dapat digolongkan menjadi dua : Cara pertama dengan menyemprotkan pereaksi penanda. Cara ke dua, yang tidak merusak komponen/ senyawa di bercak. Untuk senyawa berwarna atau berpendar dibawah lampu UV (berfluoresensi). Senyawa yang tidak berpendar dibawah lampu UV ditambahan zat berpendar.
B. Penentuan asam amino secara kuantitatif Hasil :
Tabel pembuatan kurva standar asam amino arginin
Tabung Arginin (mL) Konsentrasi (%) OD (Å)
1 0 0 0
2 0,1 0,00083 0,228
3 0,3 0,0025 1
4 0,5 0,00416 1,802
5 0,7 0,00583 2,528
6 1 0,0083 3,694
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
- x = nilai konsentrasi yang dicari
Sampel OD (Å)
Gambar di atas menunjukkan larutan dengan volume arginin yang berbeda-beda, tetapi jumlah volume total larutannya sama yaitu 6 mL. Semua larutan diberi perlakuan yang
sama. Dari kiri ke kanan jumlah argininnya adalah 0 mL; 0,1mL; 0,3 mL; 0,5 mL; 0,7mL; dan 1 mL.
Gambar di atas menunjukkan sebelah kiri larutan yang mengandung 4 mL ekstrak tempe, sedangkan sebelah kanan 4 mL ekstrak putih telur. Kedua larutan ini diberi perlakuan yang sama, yaitu sama-sama diberi ninhidrin 1 mL dan etanol 50% 1 mL.
Pembahasan :
Larutan blanko adalah larutan tidak berisi analit. Larutan blanko biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. R2 adalah nilai atau taraf kepercayaan tentang baik tidaknya hasil dari spektrofotometer yang didapatkan.
Kurva standar yang diperoleh mempunyai persamaan y = 3,7545x – 0,0849 dengan tingkat taraf kepercayaan 0,9986. Semakin banyak jumlah zat terlarut dalam larutan maka akan mengakibatkan konsentrasi dan absorbansinya semakin besar.
Dari praktikum yang dilakukan, dapat diketahui bahwa konsentrasi arginin yang ada pada suatu sampel itu tinggi, akan menyebabkan warna dari sampel yang terjadi itu semakin pekat. Akhir perhitungan didapatkan, konsentrasi arginin dalam putih telur sejumlah 0,5327 dan konsentrasi arginin dalam tempe sejumlah 0,5817. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan arginin dalam tempe lebih banyak daripada sampel putih telur. Pada sampel putih telur terjadi penggumpalan karena telur mengandung albumin. Albumin memiliki sifat larut dalam air dan akan mengalami koagulasi bila dipanaskan.
Pengaruhnya dengan konsentrasi, ninhidrin yang jumlahnya sama akan mendeteksi adanya perbedaan jumlah asam amino tertentu pada suatu sampel, yang artinya semakin banyak sampel maka menyebabkan proses reaksi dari ninhidrin berjalan, sehingga bagian yang bereaksi dengan ninhidrin lebih banyak, akibatnya warnanya semakin pekat. Maka dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi dalam asam amino, maka semakin pekat pula larutan setelah direaksikan dengan ninhidrin.
Spektrofotometri digunakan dalam praktikum kali ini untuk mengukur panjang gelombang cahaya. Sumber cahaya yang dalam hal ini adalah UV / ultraviolet digunakan untuk mengukur kekuatan absorpsi. Sumber cahaya ini harus memancarkan sinar secara terus menerus yang berkecukupan untuk mengukur dan penentuan, agar semua panjang gelombang dari daerah yang dipakai dapat terukur. Kekuatan sinar radiasi harus kontan selama proses berlangsung. Monokromator pada alat digunakan untuk memisahkan radiasi ke dalam komponen-komponen panjang gelombang dan memisahkan bagian dari spektrum yang diinginkan. Kualitas data sangat berpengaruh pada kuvet yang digunakan. Adanya sidik jari, lemak atau endapan zat di bagian kuvet dapat berpengaruh terhadap kualitas dari pengukuran. Transmisi dari alat ini akan berkurang akibat dari beberapa hal di atas. Kuvet harus dibersihkan dengan benar sebelum dipakai.
pengukurannya. Dari monokromator cahaya akan diditeruskan atau diserap oleh larutan yang akan menghasilkan sinyal elektrik pada deketor yang bentuknya mirip logam pada bagian di mana kita meletakkan kuvet. Sinyal elektrik ini tentunya sebanding dengan cahaya yang diserap larutan itu.
Saat pengukuran warna, perlu diperhatikan bahwa warna dalam larutan haruslah tetap sehingga pengukuran dapat tepat, dan bukan larutan yang stabil hanya untuk beberapa saat saja. Warna yang digunakan juga harus spesifik unsur tertentu, sehingga tidak ada unsur lain yang mengganggu proses ini, dan sifat zat warna harus diperhatikan agar tidak ada pemekatan larutan. Perbedaan konsentrasi sangat krusial pada pengukuran warna ini. Setiap perubahan milli pada larutan akan berpengaruh besar pada pengukuran OD. Setiap bagian dari larutan pun harus sama warnanya.
Penjelasan di atas sebenarnya menggunakan data kelompok yang berhasil dalam membuat kurva standar asam amino arginin. Kelompok kami mendapatkan data yang jauh dari kata berhasil. Hal ini dapat terlihat pada gambar larutan yang menunjukkan tidak terjadi perbedaan gradasi warna pada larutan dengan volume arginin yang berbeda-beda dan ketika dimasukkan ke dalam spektrofotometer hasilnya adalah negatif. Faktor yang mungkin mempengaruhi kesalahan ini adalah salah dalam mengukur larutan arginin, memanaskan larutan dengan suhu yang terlalu tinggi atau lama, dan mungkin perbedaan jumlah volume tiap larutan.
C. Penentuan protein secara kuantitatif Hasil :
Tabel pembuatan kurva standar protein albumin fraksi V
Tabung Albumin Fraksi V (mL) Konsentrasi (%) OD (Å)
1 0 0 0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Kurva Standar Protein Albumin Fraksi V
Volume Albumin Fraksi V (mL)
- x = nilai konsentrasi yang dicari
Sampel OD (Å)
Gambar di atas menunjukkan larutan dengan volume albumin fraksi V yang berbeda-beda, tetapi jumlah volume total larutannya sama yaitu 5 mL. Semua larutan diberi perlakuan yang sama. Dari kanan ke kiri jumlah albumin fraksi V-nya adalah 0 mL;
0,1mL; 0,3 mL; 0,5 mL; 0,7mL; dan 1 mL.
Pembahasan :
Pada percobaan ini dilakukan uji kuantitatif untuk mengetahui berapa banyak jumlah konsentrasi albumin pada sampel tempe dan putih telur. Kurva standar merupakan kurva yang dibuat dari sederetan larutan standar yang masih dalam batas linearitas sehingga dapat diregresilinierkan. Fungsinya untuk menunjukkan besarnya konsentrasi larutan sampel dari hasil pengukuran sehingga konsentrasi sampel larutan bisa diperoleh dengan mudah melalui kurva standart. Kurva standart menunjukkan hubungan antara konsentrasi larutan (sumbu x) dengan absorbansi (sumbu y).
Larutan blanko adalah larutan tidak berisi analit. Larutan blanko biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. R2 adalah nilai atau taraf kepercayaan tentang baik tidaknya hasil dari spektrofotometer yang didapatkan.
Kurva standar yang diperoleh mempunyai persamaan y = 1,3378x – 0,0733 dengan tingkat taraf kepercayaan 0,9816. Semakin banyak jumlah zat terlarut dalam larutan maka akan mengakibatkan konsentrasi dan absorbansinya semakin besar.
Dari praktikum yang dilakukan, dapat diketahui bahwa konsentrasi albumin yang ada pada suatu sampel itu tinggi, akan menyebabkan warna dari sampel yang terjadi itu semakin pekat. Akhir perhitungan didapatkan, konsentrasi albumin dalam putih telur sejumlah 0,4584 dan konsentrasi albumin dalam tempe sejumlah 0,1923. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan albumin dalam putih telur lebih banyak daripada sampel putih telur.
artinya semakin banyak sampel maka menyebabkan proses reaksi dari ninhidrin berjalan, sehingga bagian yang bereaksi dengan ninhidrin lebih banyak, akibatnya warnanya semakin pekat. Maka dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi dalam asam amino, maka semakin pekat pula larutan setelah direaksikan dengan ninhidrin.
Spektrofotometri digunakan dalam praktikum kali ini untuk mengukur panjang gelombang cahaya. Sumber cahaya yang dalam hal ini adalah UV / ultraviolet digunakan untuk mengukur kekuatan absorpsi. Sumber cahaya ini harus memancarkan sinar secara terus menerus yang berkecukupan untuk mengukur dan penentuan, agar semua panjang gelombang dari daerah yang dipakai dapat terukur. Kekuatan sinar radiasi harus kontan selama proses berlangsung. Monokromator pada alat digunakan untuk memisahkan radiasi ke dalam komponen-komponen panjang gelombang dan memisahkan bagian dari spektrum yang diinginkan. Kualitas data sangat berpengaruh pada kuvet yang digunakan. Adanya sidik jari, lemak atau endapan zat di bagian kuvet dapat berpengaruh terhadap kualitas dari pengukuran. Transmisi dari alat ini akan berkurang akibat dari beberapa hal di atas. Kuvet harus dibersihkan dengan benar sebelum dipakai.
UV akan dipancarkan melalui monokromator alat, monokromator menguraikan sinar yang masuk, dan sumber cahaya menjadi pita pita panjang gelombang yang diinginkan untuk pengukuran zat. Setiap zat memiliki batas tersendiri untuk pengukurannya. Dari monokromator cahaya akan diditeruskan atau diserap oleh larutan yang akan menghasilkan sinyal elektrik pada deketor yang bentuknya mirip logam pada bagian di mana kita meletakkan kuvet. Sinyal elektrik ini tentunya sebanding dengan cahaya yang diserap larutan itu.
Saat pengukuran warna, perlu diperhatikan bahwa warna dalam larutan haruslah tetap sehingga pengukuran dapat tepat, dan bukan larutan yang stabil hanya untuk beberapa saat saja. Warna yang digunakan juga harus spesifik unsur tertentu, sehingga tidak ada unsur lain yang mengganggu proses ini, dan sifat zat warna harus diperhatikan agar tidak ada pemekatan larutan. Perbedaan konsentrasi sangat krusial pada pengukuran warna ini. Setiap perubahan milli pada larutan akan berpengaruh besar pada pengukuran OD. Setiap bagian dari larutan pun harus sama warnanya.
1. Kandungan asam amino pada tempe adalah prolin (Rf = 0,2857) dan leusin (Rf = 0,6142). Sedangkan, pada putih telur adalah aspartat (Rf = 0,1285) dan prolin (Rf = 0,3). Semua kandungan asam amino berdasarkan percobaan yang telah dilakukan hanya terbentuk pada Solven A.
2. Kadar protein yang terdapat dalam sampel tempe dan putih telur pada percobaan yang telah dilakukan adalah:
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, R. J. and Fessenden, J. S. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 2, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A. H. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Lipsy, P. 2010. Thin Layer Chromatography Characterization of the Active Ingredients in
Excedrin and Anacin. USA: Departement of Chemistry and Chemical Biology, Stevens
Institute of Technology.
Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB:
Bandung.
Sudarmadji, S., dkk, 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit
Liberty.