• Tidak ada hasil yang ditemukan

Table 6. Matriks Pengelolaan Lingkungan Hidup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Table 6. Matriks Pengelolaan Lingkungan Hidup"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

23 Table 6. Matriks Pengelolaan Lingkungan Hidup

N O

DAM PAK LINGKUNGAN Y ANG HARUS DIKELOLA SERT A PARAMETERNYA

SUM BER

DAM PAK T OLOK UKUR

UPAYA PENGELOLAAN CARA/TEKNIK

M ENGELOLA

LOK ASI

PENG ELOLAAN HASIL YANG DICAPAI T INDAKAN PERBAIKAN PENG ELOLAAN

1)

Ope rasional Mesin Pembangkit a. Pe nurunan Kualitas Udara Meningkatnya konsentrasi Sox, NOx dan senyawa karbon di udara

Menurunnya kualitas udara akibat emisi dari mesin

pembangkit yang dioperasikan

Penataan Baku Mutu Emisi sumber tidak bergerak sesuai dnegan lampiran IV A PERMEN LH No. 21 Tahun 2008 SO2 = 800 µ g/Nm3 NO2 = 1000 µg/Nm3 CO = 600 µg/Nm3 TSP = 150 µg/Nm3 Penataan Baku mutu Udara ambien berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 1999 SO2 = 900 µ g/Nm3 NO2 = 400 µg/Nm3 CO = 3000 µg/Nm3 TSP = 230 µg/Nm3

 Perawatan mesin PLTD secara teratur dan tepat waktu agar diperoleh kinerja alat yang maksimal dan kinerja system pembakaran yang sempurna.

 Tanggapan dan

penyelesaian secara cepat mengenai keluhan masyarakat terhadap kualitas udara sebagai dampak kegiatan PLTD.

 Penanam vegetasi jenis pohon yang tinggi, berdaun lebat, tidak mudah patah sebagai zona penyangga (buffer zone) di sekeliling lokasi PLTD yang berfungsi untuk menyerap gas dan debu.

Di lokasi PLTD Klasaman Kota Sorong

Hasil pengukuran pada halaman PLTD menunjukkan nilai

SO2 = 24,955 µ g/Nm3 NO2 = 31,927 µg/Nm3 CO = 48,716 µg/Nm3 TSP = 36,391 µg/Nm3 Sudah di bawah BM udara ambien nasional

 Pemasangan filter pada cerobong dan penggantian filter dilakukan sebelum rusak/ kadarluasa (preventive) maintenance)

 Penggunaan masker bagi pekerja

 Menambah pohon penyangga yang dapat menyerap polusi dan bising

b. Pe ningkatan Kebisingan Meningkatnya kebisingan di pemukiman sekitar lokasi kegiatan akibat suara yang dihasilkan dari mesin pembangkit

Kebisingan bersumber dari suara mesin pembangkit PLTD Klasaman

Penataan Baku Mutu kebisingan sesuai dengan KEPMEN LH No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan : K. Pemukiman 55 dB(A)

K. Industri 70 dB (A)

 Penggunaan alat pelindung diri berupa sumbat atau tutup telinga bagi pekerja operator ataupun tenaga kerja lainnya yangmemasuki ruang power house, serta operator alat berat.

 Pengaturan jadwal atau shift kerja dalam rangka

mengurangi jumlah jam paparan kebisingan khusus bagi operator.

 Penggunaan shelter/

pereduksi kebisingan pada rumah pembangkit

Di lokasi PLTD Klasaman Kota Sorong

Sudah dikelola, tetapi belum optimal, hasil pengukuran kebisingan pada halaman PLTD menunjukkan I=64 dB(A).

95% (n=60 reponden dari 3 kelurahan) responden menyatakan bahwa mereka tidak terganggu dengan kebisingan. Walaupun demikian terdapat 3 warga (15% dari n=20 responden) yang merasa terganggu.

Responden tersebut bertempat tinggal di kel.

Malaengkedi berbatasan langsung dengan PLTD klasaman.

 Memasang peredam suara untuk fan dan safety valve untuk mengurangi kebisingan.

 Penanaman vegetasi jenis pohon yang tinggi, berdaun lebat, tidak mudah patah dan lebih rapat sebagai zona penyangga (buffer zone) di sekeliling lokasi PLTD yang berfungsi untuk

minimalisasi kebisingan

 Meningkatkan kualitas shelter/ dinding pengurang kebisingan secara kontinu

(2)

24

c. Pe nurunana Kualitas air

Meningkatnya konsentrasi minyak dalam perairan akibat limbah oli dan ceceran bahan bakar yang digunakan

Menurunya kualitas air bersumber dair limbah oli dan cecerah minyak bahan bakar yang digunakan

Baku Mutu Air Limbah Berdasarkan PERMEN LH No. 08 Tahun 2009:

Ph = 6-9

Temperature = 370 C Zat Padat Tersuspensi (TSS) = 100mg/L Minyak Nabati = 5mg/L Klorin Bebas (CI2)=0,5 Mg/L

Krom Total (Cr)=0,5 mg/L

Tembaga (Cu)=1 mg/L Besi (Fe) = 1 mg/L Fosfat (PO4) = 10 mg/L

 Tidak diperbolehkan membuang bahan sisa yang mudah menguat seperti cairan mineral, minyak atau minyak cat.

 Melaksanakan pengelolaan kualitas air untuk menjamin bahwa buangan dari aktivitas di lokasi PLTD tidak dibuang langsung ke dalam badan air tanpa di olah terlebih dahulu, seperti oil catcher bertingkat

 Menyimpan oli bekas pada drum di lokasi yang khusus Penyimpanan oli bekas

 Material yang mudah meresap harus disimpan tertutup dan dibuat standar keamanannya.

Lokasi pengelolaan yaitu di lokasi PLTD Klasaman

Oli Trap dengan 3 tahap telah bekerja dipasang, tetapi kadang masih terdapat kebocorang berupa oli bekas yang masuk ke dalam kanal.

Hasil pengukuran kualitas air pada drainase sudah di bawah baku mutu.

Walaupun demikian di laporkan bahwa kadang masih terdapat kebocoran oli bekas yang mengalir ke saluran drainase.

 Penyaring minyak dan baterai di simpan di tempat yang tahan bocor dan dikirim ke tempat daur ulang (Recycle)

 Membuat TPS limbah B3 (seperti oli bekas) di seluruh unit kegiatan PLTD sesuai peraturan yang berlaku.

 Memperbaiki oli cacher agar pengolahan air limbah lebih optimal untuk memperoleh keluaran hasil olahan air limbah sesuai kriteria yang dipersyaratkan

 Mengajukan izin penggunaan TPS B3

d. Gangguan pada Biota Perairan Menurunya keragaman biota perairan yang ada di dalam perairan penerima dampak

Terjadinya gangguna biota peraira merupakan dampak turunan dari perubahan kualitas air

Indeks keragaman dan kelimpahan plankton dan bentos

 Mengolah kualitas air dan B3

Lokasi PLTD Klasaman

Belum maksimal  Meningkatkan pengelolaah Kualitas air (oil bekas)

 Meningkatkan limah B3

e. Persepsi Masyarakat Munculnya persepsi positif masyarakat akibat menurun nya tingkat kebisingan yang keluar dari arerla

pembangkit

Munculnya persepsi positif masyarakat akibat menurunnya tingkat sebarang dan besaran dBA yangdihasilkan dari suara mesin pembangkit yang dioperasikan .

Meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap aktifitas PLTD klasaman

 Mengelola kualitas udara

 Mengelola kualitas air

 Mengelola kebisingan

 Menjalin harmoni dengan masyarakat sekitar.

Di pemukiman yang ada disekitar lokasi pembangkit PLT klasaman

Hasil wawancara yang dilakukan pada masing- masing 20 responden tiap kelurahan, menunjukkan bahwa 100% responden yang berdomisili di kelurahan sawagumo dan kelurahan Malaengkedi serta 95% responden yang berdomisili di kelurahan kladufu merasa terganggu dengan suara bising yang dihasilkan oleh PLTD klasaman

 Meningkatkan kualitas pengelolaan kualitas udara/air

 Meningkatkan kualitas pengelolaan bising

 Menjaga harmoni dengan masyarakat sekitar.

f. Kesehatan dan keselamatan kerja Terjadinya gangguna

kesehatan dan keselamatan kerja pada pekerja yang

Tingkat kebisingan yang melampaui

Permenakertans No.

08/VII/Tahun 2010 tentang Alat Pelindung

 Mengelola sumber kebisingan dan emisi udara

 Melakukan pemeriksaan

Di lokasi PLTD Klasaman

Sudah memadai  Mewajibkan semua tenaga kerja menggunakan alat

(3)

25

terpapar dampak bising dalam waktu yang lama

ambang >70 dBA dan paparan yang melebihi abang

Diri Baku tingkat

kebisingan berdasarkan keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep – 51/MEN/1999 Tahun 1999m yaitu

maksimum :

8 jam paparan utk 85 dBA 4 jam paparan utk 88 dBA 2 jam paparan utk 94 dBA 1 jam paparan utk 94 dBA Dst.

kesehatan secara teratur pada semua tenaga kerja yg digunakan

 Penggunaan APD bagi operator mesin pembangkit yg sedang bertugas

pelindung diri selama berada di dalam lokasi kegiatan.

g. K e sehatan masyarakat Kesehatan masyarakat yang ada di sekitar lokasi dapat mengalami gangguan akibat tidak nyamannya kondisi lingkungan yang ditempati.

Gangguan kesehatan masyarakat bersumber dari menurunnya kualitas lingkungan seperti tingginya konsentrasi bising di sekitar lokasi pemukiman.

Tingkat prevalensi penyakit masyarakat sekitar, khususnya gangguan pendengaran,

kenyamanan dan ISPA

 Mengelola kebisingan

 Mengelola kualitas udara

Di lokasi PLTD Klasaman

Belum maksimal  Meningkatkan pengelolaan kebisingan

 Meningkatkan pengelolaan kualitas udara emisi pembangkit

2 ) Pe meliharaan Mesin Pembangkit a. Pot e nsi Limbah B3

Meningkatnya jumlah limbah B3 yang dihasilkan berupa oli bekas

Munculnya limbah B3 yang bersumber dri sisa penggantian oli mesin yang dilakukan.

Keputussan Kepala Bapeda No. 1 Tahun 1995 tentang Tata Cara dan persyaratan teknis penyimpanan dna pengumpulan limbah bahan berbahaya dan beracun.

 Penyimpanan kemasan harus dibuat dengan system blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (gambar 3.4), sehingga dapat di lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan sehingga jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani.

 Lebar gang antar blok harus memenuhi persyaratan

peruntukannya. Lebar gang untuk lalu lintas manusia minimal 60 cm.

Lokasi pemeliharaan mesin pembangkit PLTD

Belum maksimal karena masihada sisa oli yang terdapat pada saluran air setelah bak penenang

 Membangun TPS khusus limbah B3

 Melakukan pengemasan limbah-limbah B3 dengan menggunakan drum, tong atau bak container.

 Mengajukan permohonan izin TPS limbah B3

b. Pe nurunan Kualitas air Kegiatan pemeliharaan mesin pembangkit akan

menghasilkan limbah dalam bentuk cair seperti oli bekas.

Penurunan kualitas air bersumber dari masuknya limbah

Baku mutu air limbah berdasarkan PERMEN LH No. 08 Tahun 2009:

Pengelolaan dilakukan dengan mengoptimalkan oil cather dan TPS limbah B3

Di lokasi Pemeliharaan PLTD

Konsentrasi minyak dlm air masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Adanya bangunan pengelolaan

 Membangun khusus gedug penyimpanan limbah B3

 Melakukan pengemasan

(4)

26

Limbah yang dihasilkan berpotensi masuk ke perairan yang ada disekitar lokasi.

oli bekas di perairan pada saat kegiatan pemeliharaan berlangsung.

pH = 6-9

Temperature = 370 C Zat Padat Tersuspensi (TSS) = 100mg/L Minyak Nabati = 5 mg/L Klorin Bebas (CI2)=0,5 Mg/L

Krom Total (Cr)=0,5mg/L Tembaga (Cu)=1 mg/L Besi (Fe) = 1 mg/L Fosfat (PO4) = 10 mg/L

ceceran minyak dan oli yang ada di dalam lokasi PLTD klasaman sehingga potensi kegiatan yang dilakukan sangat kecil mencemari badan air yang ada disekitar lokasi kegiatan.

limbah B3 yang disesuaikan jenis limbah B3 dengan menggunakan drum, tong atau bak kontainer

c. Bi ota Perairan Terjadinya penurunan produktifitas biota perairan di kanal bagian depan lokasi PLTD Klasaman

Gangguan biota perairan merupakan dampak turunan dari perubahan kualitas air.

Indeks keragaman dan kelimpahan biota perairan

 Mengelola kualitas air

 Mengelola limbah B3

Di lokasi pemeliharaan PLTD

Belum maksimal  Meningkatkan kualitas pengelolaan kualitas air

 Meningkatkan kualitas pengelolaan limbah B3

d. K e sehatan dan keselamatan Kerja Terjadinya kecelakaan kerja

pada saat dilakukan pemeliharaan dan penggantian peralatan yang mengalami kerusakan

Tingkat kebisingan yang melampaui ambang >70dbA dan paparan yang melebihi ambang

Permenakertrans No.

08/VII/tahun 2010 tentang Alat Pelindung diri

Baku tingkat

kebisingan berdasarkan keputusan menteri tenaga kerja No. Kep- 51/MEN/1999 tahun 1999m yaitu

maksimum :

8 jam paparan utk 85 dBA 4 jam paparan utk 88 dBA 2 jam paparan utk 94 dBA 1 jam paparan utk 94 dBA Dst.

Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur pada semua tenaga kerja yang digunakan.

Di lokasi PLTD Klasaman

Sudah memadai Mewajibkan semua tenaga kerja menggunakan alat pelindung diri selama berada di dalam lokasi kegiatan.

3 ) Ak tifitas Tenaga Kerja a. Pe nurunan Kualitas Air Meningkatnya konsentrasi dalam organic di dalam perairan penerimaan dampak

Menurunnya kualitas air bersumber dari limbah cair yang dihasilkan dari pekerja pada saat melakukan sanitasi

Pemenuhan baku mutu kualitas air kelas II dlm PP No. 82/2001 tentang Kualitas air dan pengendalian polusi air - TDS=1000(mg/L) - TSS=50(mg/L) - Turbility (NTU)- - pH=6-8,5 - DO=>4 (ppm) - BOD=<3 (mg/L) - COD=<25 (mg/L) - Oli=800 (µg/L)

 Menyediakan tempat penampungan limbah padat ataupun cair.

 Melaksanakanpengelolaan kualitas air untuk menjamin bahwa buangan dari aktivitas di lokasi PLTD tidak dibuang langsug ke dalam badan air tanpa diolah terlebih dahulu.

Lokasi pengelolaan yaitu di lokasi PLTD Klasaman

Sudah memadai  Memperbaiki tempat penyimpanan oli bekas

 Meningkatkan kualitas oil cather untuk menjamin tidak akanada lagi kebocoran ke kanal.

(5)

27

- Total coli form=5000 MPN/100 ml - Fecal coli

form=1000 MPN/100 ml

b. G anguaan pada biota perairan Terjadinya pengkayaan unsur

sehingga diperkirakan akan terjadi penurunan

keragaman biota perairan yang diikuti dengan meningkatnya kerapatan biota tertentu.

Gangguan biota perairan merupakan dampak turunan dari perubahan kualitas air.

Indeks keragaman dan kelimpahan biota perairan

Semua limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan sanitasi pekerja dialirkan masuk ke dalam saluran pengolahan limbah cair.

Di lokasi PLTD klasaman

Sudah memadai -

(6)

28 Table 7. Matriks Pemantauan Lingkungan Hidup PLTD Klasaman PT. PLN (Persero) Area Sorong

N O

DAM PAK LINGKUNGAN Y ANG HARUS DIKELOLA SERT A PARAMETERNYA

SUM BER DAMPAK T OLOK UKUR

UPAYA PENGELOLAAN CARA/TEKNIK

M ENGELOLA

LOK ASI PENG ELOLAAN

HASIL YANG DICAPAI

T INDAKAN PERBAIKAN PENG ELOLAAN

1)

Ope rasional Mesin Pembangkit h. Pe nurunan Kualitas Udara Meningkatnya konsentrasi SOX, NOX dan senyawa karbon di udara

Menurunnya kualitas usara akibat emisi dari mesin pembangkit yang dioperasikan

Baku mutu emisi sumber tidak bergerak sesuai dengan

lampiran IV A PERMEN Lh No. 21 tahun 2008

So2 = 800 g/nm 3 No2 = 1000 g/nm 3 CO = 6000 g/nm3 Tsp = 150 g/nm3 baku mutu udara ambien berdasarkan pp nomor 41 tahun 1999

So2 = 900 g/nm 3 No2 = 400 g/nm 3 CO = 30000 g/nm3 Tsp = 230 g/nm3

Pemantauan yang dilakukan adalah :

1. Pemantauan kualitas udara emisi

2. Pemantauan kualitas udara ambien

Pengumpilan data komponen kualitas dilakukan melalui pengambilan sampel dilapangan dengan menggunakan air pump sampler dan selanjutnya dianalisis di laboratorium.

Di lokasi pltd Klsaman Kota Sorong : udara ambien UA-1, UA-3

Udara emisi EA- 1 dan EA-2 (lihat tabel)

Belum Ada Melakukan pemantauan kualitas udara ambien dan emisi setiap enam bulan

i. Pe ningkatan Kebisingan Meningkatnya kebisingan di pemukiman sekitar lokasi kegiatan akibat suara yang dihasilkan dari mesin pembangkit

Kebisingan bersumber dari suara mesin pembangkit PLTD Klasaman

Penataan Baku Mutu kebisingan sesuai dengan KEPMEN LH No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan : K. Pemukiman 55 dB(A)

K. Industri 70 dB (A)

 Pengumpulan data komponen kebisingan di lakukan dengan

pengukuran di lapangan.

Intensitas bising diukur dengan menggunakann sund level meter. Waktu pengambilan dilakukan selama 10 menit untuk setiap pengukuran. Anlisis data dilakukan dengan cara membandingkan data hasil pemantauan dengan baku tingkat bising yang berlaku.

Di lokasi PLTD Klasaman Kota Sorong:

BBS-1,BS-2,BS-3 (lihat tabel 3a)

Belum ada Melakukan pemantauan

kebisingan setiap enam bulan

j. Pe nurunana Kualitas air

Meningkatnya konsentrasi Menurunya kualitas Baku mutu air limbah Pemantauan dilakukan Lokasi Belum ada Melakukan pemantauan kualitas

(7)

29

minyak dalam perairan akibat limbah oli dan ceceran bahan bakar yang digunakan

air bersumber dair limbah oli dan cecerah minyak bahan bakar yang digunakan

berdasarkan PERMEN LH No. 08 Tahun 2009:

pH = 6-9

temperature = 370 C Zat padat tersuspensi (TSS) = 100 mg/L Minyak Nabati = 5 MG/L

Klorin Bebas (CL2) = 0,5 MG/L

dengan cara pengambilan sampel air di lapangan dengan pengambilan sampel air yang diperoleh dianalisis dilaboratorium

pengolahan yaitu di likasi PLTD Klasaman AL-1 &

AL-3 (lihat tabel- 3a)

air setiap enam bulan

No

D AMPAK LINGKUNGAN YANG HARUS DIPANTAU SE R TA PARAMETENYA

SUM BER DAMPAK TO L AK UKUR CAR A/TEKNIK M E MANTAULOKASI P E MANTAUAN

UPAYA PEMANTAUAN L O KASI

P E MANTAUAN

HSI L YANG DICAPAI T INDAKAN PERBAIKAN PEM ANTAUAN

Limbah yang dihasilkan sebesar 0.012 m3/s

Krom total (cr)=0,5 mg/L

Tembaga (cu) =1 mg/L

Besi (FE)= 1 mg/L Fosfat (po4)

= 10 mg/L k. Ga ngguan pada boata peraiaran

Menurunnya keragaman biota perairan yang ada di dalam perairan penerima dampak

Terjadinya gangguan biota perairan merupakan dampak turunan dari perubahan kualitas air

Indeks

keanekaragaman dan kelimpahan plankton dan bentos

Pemantauan plankton dilakukan dengan

pengambilan sampel dengan menggunakan plankton net no. 25. Partikel yang tersaring ditempatkan kedalam botol 40 ml dan diawetkan dengan formalin 4% dan dianalisis di laboratorium menggunakan mikroskop binocular.

Komposisi spesies populasi plankton dianalisis secara deskriptif menggunakan table, sedangkan keanekaragaman spesies dianalisis menggunakan metode Shannon winer

Kanal dan lokasi PLTD Klsaman : (1) Outlet pltd

Klasaman (2) Canal umum

disekitar PLTD Klasaman

Belum ada Melakukan pemantauan biota perairan setiap enam bulan

l. P r esepsi masyarakat Presepsi masyarakat akibat tingkat kebisingan dari areal pembangkit

Tingkat kebisingan yang dihasilkan dari nsuara mesin pembangkit yang dioperasikan

Meningkatnya presepai masyarakat terhadap aktifitas PLTD Klasa man

Dilakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan, hasil wawancara ditabulasi dan diolah secara deskriptif

Di pemukiman yang ada disekitar lokasi pembngkit PLTD Klasaman : (1) kelurahan suagumo, (2) kelurahan

Belum ada Melakukan pemantauan

kesehatan dan keselamatan kerja setiap enam bulan

(8)

30

kladufu dan (3) kelurahan malaengkedi m. Kesehatan dan Keselamatan dan

Terjadinya gangguan kesehatan dan keselamatan kerja pada pekerja yang terpapar dampak bising dalam waktu yang lama

Terjadinya kecelakaan kerja diakibatkan dari kelalaian tenaga kerja yang tidak mengikuti standar operasional kegiatan.

Permenakertrans No.

08/VII/Tahun 2010 tentang alat pelindung diri

Baku tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No : kep - 51/MEN/1999 Tahun 1999 yaitu maksimum :

8 jam paparan utk 85 dBA

4 jam paparan utk 88 dBA

2 jam paparan utk 91 dBA

1 jam paparan utk 94 dBA

 Pemantauan dilakukan dengan metode survey lapangan dan wawancara terhadap masyarakat sekitar lokasi serta pencatatan data sekunder dari puskesmas sorong utara. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif denagn bantuan table

 Melakukan pengumpulan catatan penyakit yang diderita masyarakat sekitar lokasi yang diterima dari puskesmas, posyandu setempat, guna mengetahui tingkat kesehatan

masyarakat

Dilokasi PLTD Klasaman

Belum ada Melakukan pemantauan

kesehatan dan keselamatan kerja setiap enam bulan

n. Kesehatan Masyarakat Kesehatan masyarakat yang ada disekitar lokasi dapat

Gangguan kesehatan masyarakat

Penataan buku mutu kebisingan sesuai dengan KEPMEN LH No. 48 tahun

 Pemantauan dilakukan dengan survey lapangan dan wawancara terhadap masyarakat sekitar lokasi serta pencatatan

Di pemukiman yang ada di sekitar lokasi Pembangkit PLTD

Belum ada Melakukan pemantauan

kesehatan masyarakat setiap enam bulan

No

DAMPAK LINGKUNGAN YANG HARUS DIPANTAU SERTA PARAMETENYA

SUMBER DAMPAK TOLAK UKUR UPAYA PEMANTAUAN

CARA/TEKNIK MEMANTAULOKASI PEMANTAUAN

LOKASI PEMANTAUAN

HASIL YANG DICAPAI TINDAKAN PERBAIKAN PEMANTAUAN

Mengalami gangguan akibat tidak nyamannya kondisi lingkungan yang ditempati

Mensumber dari menurunnya kualitas lingkunga seperti tingginya konsentrasi bising di sekitar lokasi pemukiman

1996 tentang baku mutu tingkat kebisingan : k K. Pemukiman 55 DB K. IndustrI 70 dB (A)

Data sekunder dari puskesmas sorong utara.

Data yangb dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dengan bantuan tabel.

 Melakukan pengumpulan catatan penyakit yang diderita masyarakat sekitar lokasi yang diterima dari puskesmas, posyandu setempat, guna mengetahui tingkat kesehatan

masyarakat

Klasaman : (1) kelurahan suagumo, (2) kelurahan kladufu dan (3) kelurahan malaengkedi

2 ) P em eliharaan Mesin Pembangkit a.P o tesi limbah B3

(9)

31

Meningkatnya Jumlah Limbah B3 yang dihasilkan berupa oli bekas

Munculnya limbah b3 yang bersumber dari sisa penggantian oli mesin yang dilakukan

Keputusan kepala bipedal no. 1 tahun 1995 tentang: cara persyaratan teknis penyimpanan dan pengumpulan limbah bahan berbahaya dan beracun

Pemantauan dilakukan dengan survey visual dan pencatatan neraca limbah b3 . hasil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.

Lokasi pemeliharaan mesin pembangkit PLTD

Belum ada Melakukan pemantauan kualitas air secara berkala

b. Penurunan kualitas air Kegiatan pemeliharaan mesin pembangkit akan menghasilkan limbah dalam bentuk cair seperti oli bekas. Limbah yang dihasilkan berpotensi masuk ke perairan yang ada disekitar lokasi.

Penurunan kualitas air bersumber dari masuknya limbah oli bekas di perairan pada saat kegiatan pemeliharaan berlangsung

Baku mu limbah air berdasarkan PERMEN LH No 08 tahun 2009 :

PH = 6-9

Temperature = 37oC Zat padat tersuspensi (TSS) = 100 mg/L Minyak Nabati = 5 MG/L

Klorin Bebas (CL2) = 0,5 MG/L

Klorin Bebas (CL2) = 0,5 MG/L

Krom total (cr)=0,5 mg/L

Tembaga (cu) =1 mg/L

Besi (FE)= 1 mg/L Fosfat (po4)

= 10 mg/L

Pemantauan dilakukan dengan cara

pemngambilan sampel air di lapangan dengan pengambilan sampel air yang diperoleh dianalisis di laboratorium

Lokasi

pengolahan yaitu di likasi PLTD Klasaman AL-1 &

AL-3 (lihat Tabel-3a)

Belum Ada Melakukan pemantauan kualitas air secara berkala

c. B iota Perairan Terjadinya penurunan produktifitas biota perairan di karenakan bagian depan lokasi PLTD Klasaman

Gangguan biota perairan merupakan dampak turunan dari perubahan kualitas air.

Indeks keragaman dan kelimpahan biota perairan

Pemantauan plankton dilakukan dengan pengambilan sampel dengan menggunakan plankton net no. 25.

Partikel yang tersaring ditempatkan kedalam botol 40 ml dan diawetkan dengan formalin 4% dan dianalisis di laboratorium menggunakan mikroskop binocular. Komposisi spesies populasi plankton dianalisis secara deskriptif menggunakan table, sedangkan

keanekaragaman spesies dianalisis menggunakan metode Shannon winer

Kanal dan lokasi PLTD Klsaman : (1) Outlet pltd Klasaman (2) Canal umum disekitar PLTD Klasaman

Belum ada Melakukan pemantauan biota perairan secara berkala

(10)

32

UPAYA PEMANTAUAN No

D AMPAK LINGKUNGAN YANG HARUS DIPANTAU SE R TA PARAMETENYA

SUM BER DAMPAK TO L AK UKUR CAR A/TEKNIK M E MANTAULOKASI P E MANTAUAN

L O KASI P E MANTAUAN

HASIL YANG DICAPAI T INDAKAN PERBAIKAN PEM ANTAUAN

Tabel sedangkan keanekaragaman spesies dianalisis menggunakan metode Shannon winer d. Kesehatan dan keselamatan kerja

Terjadinya kecelakaan kerja pada saat dilakukan

pemeliharaaan dan pergantian peralatan yang mengalami kerusakan

Kegiatan pergantian dan perawatan dilakukan gangguan kesehatan pekerja muncul akibat perawatan yang dilakukan didalam ruanagan yang bising

Permenakertrans No.

08/VII/Tahun 2010 tentang alat pelindung diri

Baku tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No : kep - 51/MEN/1999 Tahun 1999 yaitu maksimum :

8 jam paparan utk 85 dBA

4 jam paparan utk 88 dBA

2 jam paparan utk 91 dBA

1 jam paparan utk 94 dBA

 Pemantauan dilakukan dengan metode survey lapangan dan wawancara terhadap masyarakat sekitar lokasi serta pencatatan data sekunder dari puskesmas sorong utara. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif denagn bantuan table

 Melakukan pengumpulan catatan penyakit yang diderita masyarakat sekitar lokasi yang diterima dari puskesmas, posyandu setempat, guna mengetahui tingkat kesehatan masyarakat

Dilokasi PLTD klasaman

Belum Ada Melakukan pemantauan

kesehatan dan keselamatan kerja setiap enam bulan

3) Akt ifitas tenaga kerja a. P enurunan kualitas air

Meningkatnya konsentrasi bahan organic di dalam perairan penerima dampak

Menurunnya kualitas air bersunmber dari limbah cair yang dihasilkan dari pekerja pada saat melakukan sanitasi

Baku mu limbah air berdasarkan PERMEN LH No 08 tahun 2009 :

PH = 6-9

Temperature = 37oC Zat padat tersuspensi (TSS) = 100 mg/L Minyak Nabati = 5 MG/L

Klorin Bebas (CL2) = 0,5 MG/L

Klorin Bebas (CL2) = 0,5 MG/L

Krom total (cr)=0,5 mg/L

Tembaga (cu) =1 mg/L

Pemantauan dilakukan dengan cara pengambilan sampel air di lapangan dengan menggunakan Kemmerer water samlpler sampel air yang diperoleh dianalisis dilaboratorium

Lokasi

pengolahan yaitu di likasi PLTD Klasaman AL-2 lihat tabel-3a)

Belum ada Melakukan pemantauan kualitas air setiap enam bulan

(11)

33

Besi (FE)= 1 mg/L Fosfat (po4)

= 10 mg/L

b. Gabungan Pada Biota Perairan Terjadinya pengkayaan

unsur sehingga diperkirakan akan terjadi penurunan keragaman biota

Gangguan biota perairan merupakan dampak turunan darr perubahan kualitas air

Indeks keragaman dan kelimpahan biota air

Pemantauan dilakukan dengan cara pengambilan sampel biota di lapangan, sampel biota yang diperoleh dianalisis di laboratorium

Kanal depan lokasi PLTD Klasaman canal umum di sekitar PLTD Klasaman

Belum ada Melakukan pemantauan biota perairan setiap enam bulan

UPAYA PEMANTAUAN No

D AMPAK LINGKUNGAN YANG HARUS

D I PANTAU SERTA P AR AMETENYA

SUM BER DAMPAK TO L AK UKUR CAR A/TEKNIK M E MANTAULOKASI P E MANTAUAN

L O KASI P E MANTAUAN

HASIL YANG DICAPAI T INDAKAN PERBAIKAN PEM ANTAUAN

Perairan yang diikuti dengan meningkatnya kerapatan biota tertentu

(12)

34 Tabel 8. Titik Koordinat Pemantauan PLTD Klasaman

No Komponenelingkungan hidup

Kode

pemantauan

Titik koordinat keterangan

1. Kualitas udara ambien UA-1 S: 00

0

53’12.8” E: 131

0

18’10.3“ Sebelah Kiri PLTD UA-2 S: 00

0

53’15.0” E: 131

0

18’09.1“ Depan PLTD

UA-3 S: 00

0

53’11.8” E: 131

0

18’07.6“ Sebelah Kanan PLTD

2. KUALITAS UDARA EMISI EA-1 S: 00

0

53’11.06” E: 131

0

18’9.32“ Cerobong Mesin Pembangkit-1 EA-2 S: 00

0

53’8.88” E: 131

0

18’9.23“ Cerobong Mesin Pembangkit-1 3. KEBISINGAN BS-2 S: 00

0

53’12.8” E: 131

0

18’10.3“ sebelah Kiri PLTD

BS-2 S: 00

0

53’15.8” E: 131

0

18’90.1“ depan PLTD

BS-3 S: 00

0

53’11.8” E: 131

0

18’70.6“ Sebelah Kanan PLTD

BS-4 Generator Sumber Bising

4. KUALITAS AIR AL-1 S: 00

0

53’12.2” E: 131

0

18’10.3“ Air limbah Outlet AL-2 S: 00

0

53’14.8” E: 131

0

18’10.3“ Air limbah Kanal

AL-3 S: 00

0

53’12.2” E: 131

0

18’10.3“ Air limbah Pendingin Mesin 5. BIOTA PERAIRAN BP-1 S: 00

0

53’12.2” E: 131

0

18’10.3“ Outlet PLTD Klasaman

BP-2 S: 00

0

53’14.8” E: 131

0

18’10.3“ Canal Umum

6. LIMBAH B3 B3-1 AREA Pengamatan Visual Pada TPS B3

7. KONDISIS SOSIAL KS-1 AREA Kelurahan Sawagumo

KS-2 AREA Kelurahan kladufu

KS-3 AREA Kelurahan Malaengkedi

8. KESEHATAN MASYARAKAT KM-1 AREA Kelurahan Sawagumo

KM-2 AREA Kelurahan Kladufu

KM-3 AREA Kelurahan Sawagumo

Gambar

Tabel sedangkan  keanekaragaman spesies  dianalisis menggunakan  metode Shannon winer  d

Referensi

Dokumen terkait

Kantor pengelola kawasan industri dan Desa Sekitar (Desa Lelilef Sawai, Desa Lelilef Waibulan, Desa Woekob. Desa Woejerana, Desa Kulo Jaya. Desa Kobe, Desa Sawai Itepo di

lapangan Di sekitar lokasi kegiatan 1 (satu) kali selama kegiatan berlangsung Pengelola:Rumah Makan Lombok Hijau Pengawas: BPMP (Badan Penanaman Modal dan

Memenuhi baku mutu, kesehatan masyarakat tetap terjaga. Pengecekan Kuaitas air, sosialisasi ke masyarakat hidup sehat. Desa sekitar Lokasi Kerja. Kualitas air sebulan

lapangan Setiap 2 minggu sekali Lokasi kegiatan, masyarakat sekitar radius 100 meter dari lokasi tower dan Kantor Desa Karangkemba ng Pelaksana pengelolaan

Seseorang yang bekerja di luar ruangan dan berada di sekitar sumber polutan akan terpajan langsung oleh polutan pencemar udara tersebut dan mengalami gangguan

● Menyelenggarakan program CSR yang berhubungan dengan kegiatan sosial budaya dan kesehatan bagi masyarakat Medan Satria seperti berpartisipasi dalam kegiatan hari

lapangan Di sekitar lokasi kegiatan 1 (satu) kali selama kegiatan berlangsung Pengelola:Rumah Makan Kaliotik Resto Pengawas: BPMP (Badan Penanaman Modal dan

1) Dampak merkuri di Gunung Botak tidak hanya pada lingkungan, namun juga pada manusia, binatang, tumbuhan di lokasi sekitar. 2) Kerjasama dalam penghapusan merkuri