• Tidak ada hasil yang ditemukan

Digitalisasi Pertanian Menuju Kebangkitan Ekonomi Kreatif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Digitalisasi Pertanian Menuju Kebangkitan Ekonomi Kreatif"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-46 UNS Tahun 2022

“Digitalisasi Pertanian Menuju Kebangkitan Ekonomi Kreatif”

Penambahan Pupuk Kandang dan Amelioran terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Prei (Allium ampeloprasum var. porrum) di Tanah Pesisir

Bambang Pujiasmanto1, Widyatmani Sih Dewi2, dan Agung Prasetyo3

1Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta

2Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta

3Program Magister Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta

Email: [email protected]

Abstrak

Pupuk kandang merupakan salah satu alternatif penambahan unsur hara pengganti pupuk anorganik yang mana diketahui efek dampak panjangnya buruk untuk lingkungan. Amelioran merupakan bahan pembenah tanah yang biasa digunakan untuk memperbaiki sifat tanah terutama untuk tanah marjinal seperti tanah salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang dan amelioran terhadap tanaman bawang prei. Penelitian dilakukan di greenhouse kampus 2 Polbangtan Malang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari 2 perlakuan. Pertama, dosis pupuk kandang dengan 4 taraf yaitu yaitu dosis 0 ton/ha (P0), 10 ton/ha (P1), dan 20 ton/ha (P2). Perlakuan kedua adalah pemberian amelioran yang terdiri dari 4 jenis amelioran yaitu tanpa amelioran (A0), lempung (A1), biochar (A2), dan lempung+biochar (A3) diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter daun, dan berat basah tanaman. Uji korelasi antar pengamatan menggunakan uji korelasi Pearson. Interaksi antar perlakuan terjadi mendekati hari terakhir pengamatan pada tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, dan diameter daun. Kombinasi pupuk kandang 20 ton/ha dengan amelioran lempung dan biochar mempunyai jumlah daun terbanyak yaitu 18. Pupuk dosis 20 ton/ha juga mempunyai nilai akhir yang baik untuk tinggi tanaman, diameter daun, berat basah, dan berat kering. Terjadi korelasi positif antara pertumbuhan dengan hasil tanaman

Kata kunci: Bawang prei, pupuk kandang, amelioran, biochar

Pendahuluan

Tanaman bawang-bawangan (Allium) mempunyai lebih dari 600 spesies, dengan spesies yang paling sering dipelajari tentang manfaatnya dan cara mengkomsusinya antara lain adalah

(2)

bawang putih (Allium sativum), bawag merah (Allium ascalonicum), bawang bombay (Allium cepa), bawang prei (Allium ampeloprasum var. porrum), dan kucai (Allium schoenoprasum) (Poojary et al., 2017). Beberapa penelitian melaporkan bahwa bawang-bawangan dapat meningkatkan meningkatkan daya tahan tubuh manusi (Nicastro et al., 2015), seperti resiko kanker payudara dapat menurun dengan konsumsi bawang-bawangan khususnya bawang putih dan bawang prei (Pourzand et al., 2016). Tanaman bawang-bawaan juga merupakan tanaman yang gampang tumbuh di tanah pasir yang biasanya merupakan tanah salin dengan diimbangi pemberian unsur hara yang optimum.

Pemberian amelioran merupakan salah satu cara untuk memnigkatkan kualitas tanah salin agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal. Amelioran adalah kata lain dari bahan pembenah tanah yang khususnya ditujukan untuk memperbaiki daerah perakaran (Purba, 2015). Hasil penelitian menyebutkan dengan penambahan amelioran di tanah marjinal selian dapat memerbiki sifat tanah juga dapat meningkatkan hasil tanaman. Pemanfaatan biochar adalah salah satu bahan pembenah tanah sudah dapat meningkatkan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah terutama pada tanah salin (Amini, et al., 2016).

Pupuk kandang dapat digunakan sebagai salah satu pengganti pupuk anorganik yang diketahui efek negative jangka panjangnya buruk untuk lingkungan. Kotoran hewan dengan penanganan yang baik akan menjadi pupuk yang bagus untuk tanaman, serta pupuk dari kotoran hewan ini akan menggantikan pupuk mineral dalam jumlah yang besar serta menghemat energi.

(Zhang & Schroder, 2014). Penggunaan limbah dari makhluk hidup seperti pupuk kandang dapat mendukung pertanian organik yang mampu menghasilkan produk yang aman dan bergizi, sehingga dapat meningkatkan efek positif terhadap kualitas hasil dan dapat bersaing di pasar agribisinis. (Roidah, 2013).

Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang kotoran sapi yang dikombinasikan dengan amelioran alami. Amelioran berupa tanah lempung dan biochar dari bekas baglog jamur.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang dan amelioran untuk budidaya tanaman bawang prei di tanah pesisir.

Metode

Penelitian dilakukan di greenhouse kampus 2 Polbangtan Malang dengan ketinggian + 454mdpl. Pelaksanaan penelitian mulai bulan Agustus sampai Februari 2019. Rancangan

(3)

percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan. Perlakuan pertama adalah dosis pupuk kandang dengan 3 taraf yaitu dosis 0 ton/ha (P0), 10 ton/ha (P1), dan 20 ton/ha (P2). Perlakuan kedua adalah pemberian amelioran yang terdiri dari 4 jenis amelioran yaitu tanpa amelioran (A0), lempung (A1), biochar (A2), dan lempung+biochar (A3). Dengan demikian kombinasi antar perlakuan menghasilkan 12 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali.

Penanaman dilakukan pada wadah dengan kapasitas media tanam yang digunakan adalah 5kg. Pemberian perlakuan adalah saat sebelum tanam yaitu dicampur dengan media tanam yang berua tanah pesisir kemudian dituangkan kedalam media. Perawatn tanaman seperti yang lainya yaitu dilakukan penyiraman setiap hari dan dilakukan pemupukan tambahan pada 30 hari setelah tanam menggunakan urin kelinci. Panen dilakukan pada 90 hari setelah tanam.

Peubah yang Diamati

Parameter pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman dan diameter daun.

Pengamatan dilakukan setiap seminggu sekali sampai 90 HST. Tinggi tanaman diukur mengggunakan penggaris dengan satuan centimeter (cm). Diameter daun diukur menggunakan jangka sorong dengan satuan centimeter (cm). Hasil panen diamati pada 90 HST dengan parameter yang diamati adalah berat basah dan berat kering tanaman. Berat basah ditimbang saat tanaman dipanen kemudian dibersihkan dari media tanam dan ditimbang dengan satuan gram (g). Analisa data menggunakan uji F pada taraf 5% dan diuji beda rata-rata Duncan pada taraf 5%. Uji korelasi menggunakan uji korelasi Pearson. Analisa data menggunakan aplikasi SPSS 25.

Hasil dan Pembahasan

Hasil analisa uji F perlakuan pupuk kandang dan amelioran menunjukkan terjadi interaksi pada 70, 77, dan 84 HST parameter tinggi tanaman. Perlakuan pupuk kandang berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada 28 sampai 90 HST. Perlakuan amelioran berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada 70 HST.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada perlakuan P1 dan P2 menyebabkan tinggi tanaman tertinggi pada 28 sampai 63 HST dan pada 90 HST, sedangkan yang terendah adalah perlakuan P0. Tabel 2 menunjukkan hasil pada 70 HST perlakuan P1A1, P1A2, P2A1, dan P2A2 mempunyai nilai teringgi untuk tinggi tanaman tapi tidak berbeda nyata dengan P1A1, P1A2, dan P2A3.

(4)

Perlakuan P0A1 dengan nilai terendah dan tidak berbeda nyata dengan P0A0, dan P0A3.

Pengamatan 77 dan 84 hari seterlah tanam menunjukkan hasil yang sama, perlakuan pemberian pupuk dengan dua dosis dan pemberian amelioran semua jenis menunjukkan nilai tertinggi, sedangkan yang terendah adalah perlakuan P0 dengan dan tanpa amelioran. Pupuk kandang yang dikombinasikan dengan biochar dapat membantu pertumbuhan tanaman pada tanah salin (Lashari et. al, 2014). Penelitian Qayyum (2017) menunjukkan bahwa biochar dan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang kekuranan hara.

Tabel 1. Tinggi tanaman (cm) pada 7 sampai 63 HST dan 90 HST dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran

Perlaku an

Hari Setelah Tanam (HST)

7 14 21 28 35 42 49 56 63 90

P0 66.03 a 85.33 a 95.29 a 102.55 a 111.60 a 118.28 a 125.70 a 132.70 a 139.24 a 152.43 a P1 71.45 a 88.54 a 98.01 a 111.13 b 121.86 b 133.98 b 147.80 b 159.94 b 170.25 b 187.40 b P2 70.23 a 83.25 a 98.08 a 111.01 b 123.23 b 136.26 b 149.28 b 159.93 b 170.10 b 187.23 b

A0 70.33 x 86.95 x 96.73 x 106.87 x 117.13 x 127.12 x 137.53 x 145.93 x 154.63 x 171.03 x A1 70.87 x 87.38 x 98.93 x 108.28 x 118.00 x 127.42 x 139.73 x 150.22 x 158.45 x 174.55 x A2 68.85 x 85.85 x 99.67 x 110.07 x 121.42 x 132.40 x 142.37 x 153.72 x 162.73 x 177.20 x A3 66.88 x 82.63 x 93.17 x 107.70 x 119.03 x 131.08 x 144.07 x 153.55 x 163.63 x 179.95 x

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji Duncan 5%

Tabel 2. Tinggi tanaman (cm) pada 70 sampai 84 HST dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran

Perlakuan Hari Setelah Tanam (HST)

Pupuk Amelioran 70 77 84

P0 A0 47.65 ab 48.37 a 49.65 a

P0 A1 45.05 a 47.25 a 48.37 a

P0 A2 50.62 b 50.50 a 51.35 a

P0 A3 49.23 ab 49.92 a 50.85 a

P1 A0 55.92 c 57.33 b 58.37 b

P1 A1 57.87 cd 58.58 b 59.42 b

P1 A2 60.68 cd 62.03 b 63.20 b

P1 A3 62.75 d 61.88 b 64.67 b

P2 A0 60.60 cd 59.00 b 59.82 b

P2 A1 61.28 d 62.20 b 62.73 b

P2 A2 61.35 d 60.43 b 61.52 b

P2 A3 60.53 cd 60.58 b 61.72 b

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji Duncan 5%

(5)

Hasil analisa uji F parameter diameter daun dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran menunjukkan terjadi interaksi pada 56 sampai 70 HST. Perlakuan pupuk kandang berpengaruh pada 7 HST dan 35 sampai 90 HST. Perlakuan amelioran berpengaruh pada 49 HST dan 63 sampai 90 HST.

Tabel 3. Diameter daun (cm) pada 7 sampai 49 HST, dan 77 sampai 90 HST dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran

Perlak uan

Hari Setelah Tanam (HST)

7 14 21 28 35 42 49 77 84 90

P0 2.70 a 3.04 a 3.06 a 3.04 a 3.05 a 3.06 a 3.10 a 3.18 a 3.19 a 3.18 a P1 2.88 a 3.01 a 3.11 a 3.11 a 3.06 a 3.13 a 3.34 b 3.60 b 3.60 b 3.61 b P2 2.88 a 3.09 a 3.14 a 3.19 a 3.26 b 3.53 b 3.59 c 3.95 c 3.94 c 3.98 c

A0 2.80 x 3.10 x 3.12 x 3.02 x 3.07 x 3.18 x 3.20 x 3.35 x 3.30 x 3.33 x A1 2.75 x 2.97 x 3.05 x 3.12 x 3.20 x 3.20 x 3.22 x 3.45 xy 3.47 xy 3.48 xy A2 2.87 x 3.07 x 3.18 x 3.18 x 3.05 x 3.23 x 3.47 y 3.68 yz 3.72 yz 3.72 yz A3 2.85 x 3.05 x 3.07 x 3.13 x 3.18 x 3.33 x 3.48 y 3.82 z 3.82 z 3.82 z Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji

Duncan 5%

Tabel 4. Diameter daun (cm) pada 56 sampai 70 HST dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran

Perlakuan Hari Setelah Tanam (HST)

Pupuk Amelioran 56 63 70

P0 A0 1.12 ab 1.10 ab 1.07 ab

P0 A1 1.07 ab 1.05 ab 1.05 ab

P0 A2 1.05 a 1.10 ab 1.03 ab

P0 A3 1.03 a 0.98 a 1.00 a

P1 A0 1.08 ab 1.10 ab 1.05 ab

P1 A1 1.12 ab 1.10 ab 1.15 abc

P1 A2 1.07 ab 1.13 abc 1.20 bc

P1 A3 1.22 bc 1.28 cd 1.30 cd

P2 A0 1.13 ab 1.15 abc 1.20 bc

P2 A1 1.12 ab 1.17 bc 1.18 bc

P2 A2 1.32 c 1.38 d 1.42 d

P2 A3 1.33 c 1.40 d 1.43 d

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji Duncan 5%

Tabel 3 menunjukkan bahwa diameter daun terlebar pada 35 dan 42 HST adalah P2, sedangkan yang tersempit adalah P0 dan P1. Pengamatan hari ke 49 perlakuan yang mempunyai nilai diameter daun terlebar adalah P2, sedangkan yang tersempit adalah P0. Perlakuan A2 dan A3

(6)

mempunyai diameter terlebar sedangkan A0 dan A1 tersempit. Jumlah daun pada pengamatan hari ke 77 sampai 90 mempunyai hasil yang sama yaitu diameter daun terlebar pada P2, sedangkan yang tersempit pada P0. Perlakuan amelioran yang mempunyai nilai diameter terlebar adalah A3 berbeda tidak nyata dengan A2, sedangkan yang tersempit adalah perlakuan A0 berbeda tidak nyata dengan A1. Peningkatan unsur hara makro dengan penambahan biochar menyebabkan pertumbuhan tanaman seperti tinggi, diameter batang, luas daun, tunas, dan akar meningkat meskipun biochar diberikan dengan dosis rendah (Tanure et al., 2019; Obia et al., 2016).

Tabel 4 menunjukkan hasil pada 56 HST, diameter daun terlebar adalah P2A2 dan P2A3.

Diameter daun tersempit adalah P0A2 dan P0A3 berbeda tidak nyata dengan P0A0, P0A1, P1A0, P1A1, P1A2, P2A0, dan P2A1. Diameter daun terlebar pada 63 HST adalah P2A2 dan P2A3 berbeda tidak nyata dengan perlakuan P1A3. Nilai tersempit adalah pada P0A3 berbeda tidak nyata dengan perlakuan P0A0, P0A1, P0A2, P1A0, P1A1, P1A2 dan P2A0. Pengamatan 70 HST menunjukkan hasil diameter terlebar adalah pada P2A2 dan P2A3 berbeda tidak nyata dengan P1A3. Nilai diameter tersempit adalah P0A3 berebeda tidak nyata dengan perlakuan P0A0, P0A1, P0A2, P1A0, dan P1A1. Kombinasi antara biochar dengan pupuk organik maupun anorganik dapat meningkatan ketersediaan hara bagi tanaman (Tan et al., 2018). Aplikasi biochar juga mendapatkan hasil tinggi tanaman lebih tinggi dan diameter batang lebih besar daripada tanpa biochar pada tanaman jagung (Tanure et al., 2019).

Tabel 5. Hasil panen parameter berat basah dan berat kering dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran

Perlakuan Parameter

Berat Basah (g)

P0 344.38 a

P1 498.13 b

P2 547.50 c

A0 423.33 x

A1 454.17 x

A2 463.33 x

A3 512.50 y

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji Duncan 5%

Hasil uji F menunjukkan pada parameter berat basah dan berat kering tidak terjadi interaksi antara perlakuan pupuk kandang dengan amelioran. Pupuk kandang dan amelioran masing-masing

(7)

berpengaruh pada kedua parameter. Tablel 5 menunjukkan hasil berat basah terberat adalah pada perlakuan P2 sedangkan yang terendah adalah P0. Perlakuan A3 yang terberat, sedangkan yang teringan adalah A0, A1, dan A2. Nilai berat kering terberat dengan perlakuan pupuk adalah P1 dan P2 sedangkan yang terendah adalah P0. Perlakuan A1, A2, dan A3 memiliki nilai terberat sedangkan yang teringan adalah perlakuan A0. Hasil penelitian Jayanti et al. (2018) menyebutkan bahwa penambahan pupuk organik dari kotoran sapi dapat meningkatkan berat segar dan berat kering pada tanaman rumput mutiara (Hedyotis corymbosa). Hasil penelitian Mahadub, et al., (2016) menunjukkan pemberian pupuk kandang sapi dengan dosis 10 ton/ha menunjukkan hasil terbaik untuk kacang hijau.

Korelasi

Tabel 6 menunjukkan korelasi antar perameter pertumbuhan dan hasil bawang prei dengan perlakuan pupuk kandang dan amelioran. Tinggi tanaman berpengaruh sangat kuat terhadap dan berkorelasi positif diameter daun (0,60) dan berat basah tanaman (0,82). Diameter berpengaruh pada berat basah berkorelasi positif (0,62). Korelasi positif antara tinggi tanaman dengan daun juga dibsebutkan dalam hasil penelitian Gulumbe et. al. (2018) dan Ojha et. al. (2018). Korelasi positif antara tinggi dengan hasil tanaman juga terdapat pada hasil penelitian Reza et. al. (2014).

Tabel 6. Korelasi antara parameter pengamatan bawang prei

Parameter Tinggi Tanaman Diameter Daun Berat Basah

Tinggi Tanaman 1,00

Diameter Daun 0,60** 1,00

Berat Basah 0,82** 0,62** 1,00

*,** berpengaruh pada taraf P=0,05 dan P=0,01

Kesimpulan dan Saran

Hasil akhir menunjukkan pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha mempunyai nilai akhir yang baik pada parameter pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan diameter daun. Pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan berat basah bawang prei. Pada berat basah hanya amelioran lempung dengan biochar yang meningkatkan beratnya. Terjadi korelasi positif antara tinggi tanaman terhadap diameter daun dan berat basah tanaman. Diameter daun berkorelasi positif terhadap berat basah. Untuk mengetahui kombinasi dosis yang tepat masing-masing perlakuan disarankan peningkatan dosis agar diketahui taraf tertinggi kombinasi dosisnya.

(8)

Daftar Pustaka

Amini S., Ghadiri H., Chen C., and Marschner P. (2016). Salt-Affected Soils, Reclamation, Carbon Dynamics, and Biochar: A Review. Journal Soils Sediment, 16(3), 939-953.

Gulumbe A. A., Abubakar L. Sokoto B. M., and Aliero A. A. (2018). Correlation Studies for Bulb Yield and Yield Contributing Traits among Onion (Allium cepa L.) Genotypes. Asian Research Journal of Agriculture, 9 (4), 1-6.

Jayanti, L. D., Yunus, A., Pujiasmanto, B., & Widyastuti, Y. (2018). Yields and Content of Ursolic Acid in Pearl Grass (Hedyotis corymbosa) When Utilizing Cow Manure Fertilizer in Different Shades. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 142, No. 1, p. 012044). IOP Publishing.

Lashari M.S., and Ye Y., Ji H. (2014). Biochar-Manure Compost in Conjunction with Pyroligneous Solution Alleviated Salt Stress and Improved Leaf Bioactivity of Maize in a Saline Soil from Central China: a 2-Year Field Experiment. Journal Science Food Agriculture, 95(6),1321–1327.

Mahadub ST., Khan MdSH., Mazed HEMK., Sarker S., and Tareque MdH. (2016). Effect of Cow Manure on Growth, Yield and Nutrient Content of Mungbean. Asian Research Journal of Agriculture, 2(1), 1-6.

Nicastro HL., Ross S.A., and Milner J.A. (2015). Garlic and Onions: Their Cancer Prevention Properties. Cancer Prevention Research, 8(3), 181-189.

Obia A., Mulder J., Martinsen V., Cornellisen G., and Borresen T. (2016). In Situ Effect of Biochar on Aggregation, Water Retention and Porosity in Light-textured Tropical Soils. Soil Tillage Res. 155, 35-44.

Ojha R., Sarkar A., Aryal A., Rahul K. C., Tiwari S., Poudel M., Pant K. R., and Shrestha J. (2018).

Correlation and Path Coefficient Analysis of Wheat (Triticum aestivum L.) Genotypes. Fmg.

& Mngmt, 3(2), 136-141.

Poojary M.M., Putnik P., Kovačević B.D., Barba F.J., Lorenzo J.M., Dias D.A., and Shpigelman A. (2017). Stability and Extraction of Bioactive Sulfur Compounds from Allium Genus Processed by Traditional and Innovative Technologies. Journal of Food Composition and Analysis, 61, 28-39.

Pourzand A., Tajaddini A., Pirouzpanah S., Asghari-Jafarabadi M., Samadi N., Ostadrahimi A.R., and Sanaat Z. (2016). Associations Between Dietary Allium Vegetables and Risk of Breast Cancer: A Hospital-Based Matched Case-Control Study. Journal of Breast Cancer, 19(3), 292-300.

Purba R. (2015). Kajian Pemanfaatan Amelioran pada Lahan Kering dalam Meningkatkan Hasil dan Keuntungan Usahatani Kedelai. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversity Indonesia, 1(6), 1438-1486.

(9)

Qayyum, M. F., Liaquat, F., Rehman, R. A., Gul, M., & Rizwan, M. (2017). Effects of Co- Composting of Farm Manure and Biochar on Plant Growth and Carbon Mineralization in An Alkaline soil. Environmental science and pollution research, 24(33), 26060-26068.

Reza N., Farzad P. A. K., Vazan S., and Barary M. (2014). Correlation, Path Analysis and Stepwise Regression in Yield and Yield Components in Wheat (Triticum aestivum L.) Under the Temperate Climate of Ilam Province, Iran. Indian J. Fundamental and Appl. Life Sci. 4, 188- 98.

Roidah I.Y. (2013). Manfaat Penggunaan Pupuk Organik untuk Kesuburan Tanah. Jurnal Universitas Tulungagung Bonoworo, 1(1), 31-42.

Tan G., Wang H., Xu N., Liu H., and Zhai L. (2018). Biochar Amendement with Fertilizer Increase Peanut N Uptake, Alleviates Soil N2O Emissions without Affecting NH3 Volatization in Field Experiment. Environmental Science and Pollution Research. 25(9), 8817-8826 Tanure M.M.C., Costa L.M., Huiz H.A., Ferandez R.B.A., Ceon P.R., Junior J.D.P., and Luz

J.M.R. (2019). Soil Water Retention, Physiological Characteristic, and Growth of Maize Plants in Response to Biochar Application to Soil. Soil & Tillage Research. 192, 164-173.

Zhang H., and Schroder J. (2014). Animal Manure Production and Utilization in the US. In Applied Manure and Nutrient Chemistry for Sustainable Agriculture and Environment (pp. 1-21).

Springer, Dordrecht.

Referensi

Dokumen terkait

Kota Langsa merupakan kota pesisir yang terletak di pesisir timur pulau Sumatra. Kota Langsa memiliki suatu desa di dekat pesisir yaitu Desa Kuala Langsa. Desa

Seperti halnya pH dan KTK, nilai kejenuhan basa tanah pada calon-calon lahan di kabupaten Bolaang Mongondow tidak akan menjadi faktor pembatas apabila lahan-lahan

Melalui kegiatan pelatihan digital marketing ini, masyarakat kampung Tanah Tinggi selaku pelaku usaha memperoleh pengetahuan baru mengenai cara memasarkan barang

Hasil survei dapat diketahui bahwa terdapat 13 sumber mata air yang tersebar di Pulau Karimunjawa, enam diantaranya berada di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa yaitu di

Tabel 2. Lebar biji juga merupakan salah satu karakter penentu ukuran gabah yang dapat menjadi indikator kualitas benih atau kualitas hasil produksi padi di lapangan.

Sikap Petani pada Dampak Pembangunan Tol bagi Mata Pencarian sebagai Petani Dari keragaan atau karakteristik petani terdampak di Kecamatan Polanharjo terlihat bahwa bagian

Kerapatan sel rhizobakteri isolat KMV 5 dan GMP 2 berdasarkan nilai absorbansi disajikan pada Tabel 3, terlihat bahwa pada dasarnya isolat KMV5 dan GMP 2 dapat tumbuh baik

Pada penelitian ini belum dilakukan identifikasi isolat bakteri endofit dan analisa senyawa yang dihasilkan oleh 4 isolat bakteri endofit yang digunakan tetapi berdasar