https://e-journal.sdn195pinangmerah.com/index.php/jkb
e-ISSN : 2722-0052 p-ISSN : 2722-029X
J . K . B
Jurnal Kependidikan Betara
Sitasi: Marbun, S. (2020). Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Membuat Media Pembelajaran Melalui Pelatihan Berbasis Masalah. Jurnal Kependidikan Betara, 1(4), 218-225.
Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Membuat Media Pembelajaran Melalui Pelatihan Berbasis Masalah
Saor Marbun
SDN 195/V Pinang Merah, Kec. Betara, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi
*E-mail: [email protected]
1. Pendahuluan
Pembelajaran hakikatnya bermuara agar mampu membuat individu yang belajar dapat mengalami perubahan prilaku maupun pengetahuan menjadi yang lebih baik (Taqwa et al., 2015). Hal tersebut dapat terjadi jika pembelajaran dilaksanakan dengan baik, direncanakan melalui pertimbangan yang matang. Terdapat banyak faktor yang berpengaruh dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam pencapaian tujuan pembelajaran adalah penggunaan media pembelajaran. Pada dasarnya media pembelajaran merupakan alat yang dirancang secara khusus dengan tujuan untuk mempermudah penyampaian materi pembelajan kepada siswa oleh guru. Media pembelajaran memiliki peranan yang krusial. Dengan didukung kreativitas guru, maka media pembelajaran dapat dikembangkan secara lebih baik menjadi lebih menarik agar dapat memicu motivasi siswa (Mislan & Santoso, 2019). Pembelajaran akan lebih efektif ketika guru merancang media pembealajaran yang tepat (Huda & Pertiwi, 2018).
Received Juni 2020 Revised Juni 2020
Accepted for Publication Juli 2020
Published Juli 2020
Abstract
Observation results indicate that teachers at SDN 195/V Pinang Merah still do not use using learning media specifically designed for learning. Based on these problems class action research is carried out by implementing problem-based training. This research was conducted at SDN 195/V Pinang Merah. The study was conducted on 8 teachers. The study was conducted for two cycles. Observation activities have 4 aspects carried out to see the increase in the ability of teachers in designing learning media. Observation sheets are arranged to assess aspects of the teacher's ability to design instructional media on a semantic differential scale.
Data analysis was performed by describing quantitative data in the form of tables and bar charts. The results showed that overall there was an increase in the average score from 60.84 in the first cycle to 82.66 in the second cycle.
Keywords: learning media, problem-based training.
Abstrak
Hasil observasi mengindikasikan bahwa guru di SDN 195/V Pinang Merah masih belum menggunakan media pembelajaran yang secara khusus didesain untuk pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan dengan menerapkan pelatihan berbasis masalah. Penelitian ini dilakukan di SDN 195/V Pingn Merah pada 8 guru. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Penilaian dilakukan pada 4 aspek terhadap kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran. Lembar pengamatan dengan sematic differential scale digunakan untuk mengamati kemampuan guru dalam mendesain media pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data kuantitatif dalam bentuk tabel dan diagram batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran mengalami peningkatan yakni dengan rata-rata skor 60.84 pada siklus I menjadi 82.66 pada siklus II.
Kata Kunci: media pembelajaran, pelatihan berbasis masalah.
219 Media pembelajaran dikatakan tepat apabila memenuhi beberapa aspek penting. Mislanya, sesuai dengan kebutuhan siswa, dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran secara lebih mudah, media yang dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan harus sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran serta praktis untuk digunakan. Agar hal tersebut dapat terjadi maka penting bagi guru untuk memahami karakteristik lingkungan belajar dengan baik. Guru harus peka dengan permasalahan yang ada di kelas sehingga tahu kebutuhan media pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan (Mislan & Santoso, 2019).
Pentingnya kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran ini harus disadari. Dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat, siswa akan lebih baik dalam memahami konsep.
Pemahaman konsep merupakan hal yang penting dalam pembelajaran (Nadhor & Taqwa, 2020). Pada dasarnya pembelajaran di kelas bertujuan untuk membangun pemahaman konsep pada siswa hingga mampu memecahkan persoalan yang dihadapi (Docktor & Mestre, 2014; Hegde & Meera, 2012;
Rivaldo et al., 2018; Saputri et al., 2019; Taqwa, 2017; Taqwa & Pilendia, 2018). Tanpa pemahaman konsep yang baik maka akan banyak kemampuan-kemampuan berpikir siswa lainnya yang akan terhambat untuk dikembangkan. Terutama untuk konsep-konsep yang cenderung abstrak, peranan media pembelajaran benar-benar krusial untuk dapat membantu siswa memahami materi dengan baik.
Perdasarkan kegiatan observasi yang dilakukan terhadap proses pembelajaran di kelas, guru-guru SDN 195/V Pinang Merah masih melaksanakan pembelajaran dengan cara ceramah. Guru masih terbiasa membuat media pembelajaran untuk membantu proses pembelajaran. Berdasarkan kegiatan observasi yang dilakukan, dari 10 (100%) guru yang mengajar masih belum menggunakan media pembelajaran. Hal ini merupakan suatu permasalahan karena siswa kurang termotivasi jika belajar hanya dilaksanakan dengan metode ceramah dan tanpa ada media pembelajaran yang menarik. Bahkan metode ceramah (preaching method) merupakan metode pembelajaran yang paling tidak efektif jika dibandingkan dengan metode percobaan, latihan keterampilan, diskusi dan pemecahan masalah (Nasution, 2017).
Siswa dapat merasakan kebermaknaan pembelajaran di kelas ketika mereka dihadapkan dengan beberapa masalah (problems) untuk dipecahkan. Pemecahan masalah tersebut bertujuan untuk membangun pengetahuan yang relevan dengan masalah agar siswa tidak hanya sekedar memiliki pengetahuan tanpa tahu dengan jelas makna pengetahuan yang mereka bangun. Pembelajaran demikian dapat dimaknai sebagai pembelajaran pemecahan masalah (problem-solving) (Taqwa & Rivaldo, 2019).
Pembelajaran problem solving tersebut bertujuan untuk melatih kemampuan siswa menjadi seorang pemecah masalah yang handal (expert problem solver). Tujuan tersebut selaras dengan tuntutan kepekaan guru dalam mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas, khususnya permasalahan yang dapat direduksi dengan merancang media pembelajaran. Sehingga dalam melatih kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa maka guru perlu terbiasa dalam memecahkan permasalahan kontekstual.
Pembelajaran problem solving ini perlu dilaksanakan karena pembelajaran ini bersifat student centre (Antika, 2014). Dengan pembelajaran student centre maka siswa memiliki peluang untuk menggali pengetahuannya sendiri sehingga siswa berkesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam karena pembelajaran dilaksanakan secara lebih bermakna (Antika, 2014; Fitriyanto et al., 2012). Dalam pembelajaran problem solving, guru memiliki peran penting yakni sebagai fasilitator, bukan sebagai ahli yang harus menyampaikan informasi dalam satu arah.
Kelebihan-kelebihan pembelajaran problem-solving ini dapat diadaptasi dalam kegiatan pelatihan yang dilaksanakan dalam lingkup sekolah. Dengan mengacu pada kelebihan tersebut diharapkan guru dapat terlatih untuk lebih peka terhadap permaslahan pembelajaran yang muncul dan mengatasinya.
Salah satu cara yang berguna untuk mengatasi masalah pembelajaran yang ada di kelas adalah melalui pembuatan media pembelajaran yang dirancang berdasarkan karakteristik permasalahan yang muncul.
Hal tersebut menjadi bidikan yang akan dituju dalam penelitian ini.
2. Metode Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas (PTS). Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan atas dasar permasalahan yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Dengan demikian, PTS dilaksanakan dengan tujuan utama untuk memecahkan permasalahan yang ada (Komariah, 2009). Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam 2 siklus dengan tahapan (1) permasalahan, (2) alternatif pemeriksaan (rencana tindakan I), (3) pelaksanaan tindakan I, (4) observasi, (5) analisis
220 data, dan (6) refleksi. Siklus akan dilanjutkan atau tidak berdasarkan hasil refleksi yang diperoleh.
Siklus akan dilanjutkan jika masih terdapat permasalahan yang ingin direduksi. Agar lebih jelas, siklus pelaksanaan PTS yang diadaptasi dari Saragih (2016) seperti yang ditunjukkan Gambar 1.
Gambar 1. Siklus Pelaksanaan PTS
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 195/V Pinang Merah, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Penelitian dilakukan pada 8 guru. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran. Upaya tersebut dilakukan dengan mengimplementasikan pelatihan berbasis masalah.
Kagiatan pelatihan dilakukan dengan mengadaptasi pembelajaran berbasis masalah. Pelatihan dilaksanakan dengan tahapan-tahapan yang terstuktur, mulai dari (1) guru mengamati maupun mengkaji permasalahan pembelajaran yang ada di kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman guru selama mengajar; (2) guru mencari referensi dan deskripsi singkat mengenai keunggulan media yang akan dikembangkan. Termasuk kegunaannya dalam mencapai tujuan pembelajaran; (3) guru mengumpulkan alat dan bahan serta merancang media pembelajaran; dan (4) guru mempersentasikan hasil media pembelajaran yang telah dibuat.
Dalam penelitian ini, kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran diukur dalam 4 aspek. Aspek pertama adalah kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Aspek kedua adalah kepraktisan media pembelajaran yang telah dibuat untuk dapat digunakan. Aspek ketiga adalah relevansi media pembelajaran terhadap permasalahan yang telah teridentifikasi oleh guru. Dan aspek terakhir, yakni aspek keempat adalah menarik atau tidaknya media yang dikembangkan. Pengambilan data tersebut dilakukan dengan melalui observasi. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian telah diperiksa oleh dua dosen ahli Assessment dari Universitas Jambi.
Lembar observasi disusun untuk menilai 4 aspek dalam skala semantic differential (Dalton et al., 2008). Skala semantic differential dibuat dalam bipolar dengan skor 0-100. Dengan ketentuan skor akan semakin tinggi jika aspek yang diamati terpenuhi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ditampilkan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran dalam bentuk tendency central (Putra, 2012). Dalam paparan data ini, tendency central yang digunakan adalah rata- rata yang sudah mewakili kaarkteristik kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian yang dipaparkan dalam artikel ini adalah berupa data perolehan skor tiap aspek pada siklus I dan siklus II, data peningkatan skor untuk setiap guru pada siklus I ke siklus II, dan data skor
Permasalahan Alternatif Pemeriksaan
(Rencana Tindakan I) Pelaksanaan Tindakan I
Refleksi I Analisis Data I Observasi I
Terselesaikan
Belum Terselesaikan Alternatif Pemeriksaan (Rencana Tindakan II)
Pelaksanaan Tindakan II
Refleksi II Analisa Data II Observasi II
Terselesaikan
Belum Terselesaikan Siklus Berikutnya
221 peningkatan skor untuk masing-masing aspek pada siklus I ke siklus II. Adapun data perolehan skor pada tiap aspek pada siklus I seperti yang ditunjukkan Tabel 1.
Tabel 1. Perolehan Skor Tiap Aspek pada Siklus I
Guru
Aspek yang Dinilai
Rata-Rata Kesesuaian dengan
Tujaun Pembelajaran
Kepraktisan dalam Penggunaan
Relevansi Media dengan Masalah yang Muncul
Nilai Estetis Media Pembelajaran
1 54.00 60.00 55.00 62.00 57.75
2 54.00 65.00 68.00 65.00 63.00
3 62.00 63.00 60.00 60.00 61.25
4 60.00 60.00 70.00 55.00 61.25
5 64.00 58.00 70.00 55.00 61.75
6 53.00 62.00 63.00 65.00 60.75
7 60.00 68.00 60.00 60.00 62.00
8 60.00 56.00 55.00 65.00 59.00
Rata-Rata 58.38 61.50 62.63 60.88 60.84
Tabel 1 menunjukkan perolehan skor kemampuan guru dalam membuat media berdasarkan keempat aspek yang dinilai pada siklus I. Pada aspek kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, rata-rata skor adalah sebesar 58.38. Pada aspek kepraktisan dalam penggunaan, rata-rata skor adalah sebesar 61.50. Pada relevansi aspek dengan masalah yang muncul, rata-rata skor adalah sebesar 62.63. Dan pada aspek terakhir yakni nilai estetis media pembelajaran, rata-rata skor adalah sebesar 60.88. Jika dilihat dari tiap guru, rentang rata-rata skor diantara 57.75 hingga 63,00. Untuk data perolehan skor pada tiap aspek pada siklus II seperti yang ditunjukkan Tabel 2.
Tabel 2. Perolehan Skor Tiap Aspek pada Siklus II
Guru
Aspek yang Dinilai
Rata-Rata Kesesuaian dengan
Tujaun Pembelajaran
Kepraktisan dalam Penggunaan
Relevansi Media dengan Masalah yang Muncul
Nilai Estetis Media Pembelajaran
1 90.00 75.00 85.00 85.00 83.75
2 76.00 80.00 80.00 80.00 79.00
3 90.00 80.00 90.00 76.00 84.00
4 85.00 85.00 95.00 85.00 87.50
5 85.00 80.00 82.00 83.00 82.50
6 75.00 80.00 90.00 80.00 81.25
7 80.00 75.00 85.00 89.00 82.25
8 88.00 80.00 80.00 76.00 81.00
Rata-Rata 83.63 79.38 85.88 81.75 82.66
Tabel 2 menunjukkan perolehan skor kemampuan guru dalam membuat media berdasarkan keempat aspek yang dinilai pada siklus II. Pada aspek kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, rata-rata skor adalah sebesar 83.63. Pada aspek kepraktisan dalam penggunaan, rata-rata skor adalah sebesar 79.38. Pada relevansi aspek dengan masalah yang muncul, rata-rata skor adalah sebesar 85.88. Dan pada aspek terakhir yakni nilai estetis media pembelajaran, rata-rata skor adalah sebesar 8175. Jika dilihat dari tiap guru, rentang rata-rata skor diantara 79.00 hingga 87.50. Berdasarkan data tersebut tampak bahwa kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan. Agar lebih jelas, Gambar 2 menunjukkan perubahan rata-rata skor kemampuan tiap guru dalam membuat media pembelajaran pada siklus I dan II, dan Gambar 3 menunjukkan perubahan rata-
222 rata skor kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran pada siklus I dan II yang dikelompokkan untuk masing-masing aspek.
Gambar 2. Skor Masing-Masing Guru pada Siklus I dan II
Gambar 3. Skor Tiap Aspek pada Siklus I dan II
Berdasarkan data yang ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3, secara umum menunjukkan bahwa implementasi pelatihan berbasis masalah ini efektif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran. Cara ini efektif dikarenakan dalam implementasinya guru diminta untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada siswa. Dengan berangkat dari permasalahan yang ditemukan barulah guru merancang media pembelajaran yang relevan untuk mereduksi permasalahan yang terjadi. Hal ini sesuai dengan model pengembangan ASSURE yang dimulai dari proses menganalisis karakteristik pelajar/siswa (analyze learner characteristics) (Nurseto, 2011). Hal tersebut menunjukkan bahwa sebaiknya media pembelajaran yang akan dikembangkan bersesuaian dengan karakteristik dan permasalahan siswa.
Berbeda dengan penerapan PBL dalam pembelajaran di kelas yang lebih bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam ranah kognitif, penerapan PBL dalam pelatihan ini lebih ditekankan untuk melatih guru dalam merancang dan mengembangkan media pembelajaran yang lebih berguna bagi siswa. Pengembangan media pembelajaran yang dilakukan oleh guru ini tidak hanya
57.75 63.00 61.25 61.25 61.75 60.75 62.00 59.00
83.75 79.00 84.00 87.50 82.50 81.25 82.25 81.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Siklus I Siklus II
58.38 61.50 62.63 60.88
83.63 79.38 85.88 81.75
I N D I K A T O R 1 I N D I K A T O R 2 I N D I K A T O R 3 I N D I K A T O R 4 Siklus I Siklus II
223 berdasarkan atas temuan-temuan dalam studi literatur, namun lebih kepada analisis kebutuhan berdasarkan permasalahan yang berhasil diidentifikasi oleh guru pada siswa mereka. Hal tersebut sesuai dengan tahapan pertama dalam PBL yakni dalam proses pembelajaran siswa dihadapkan dengan permasalahan yang sering dijumpai dikeseharian dan bersifat non routine problem (Giarti, 2014; Happy
& Widjajanti, 2014; Yuliasari, 2017).
Perbedaan yang mendasar dalam adaptasi PBL dalam pelatihan berbasis masalah adalah pada pembelajaran di kelas siswa disajikan permasalahan namun pada pelatihan ini peserta pelatihan justru mengidentifikasi permasalahan yang terjadi secara mandiri. Dengan tuntutan yang diberikan pada guru agar dapat memecahkan permasalahan yang diidentifikasi melalui perancangan media pembelajaran, guru cenderung lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran. Media-media yang dihasilkan oleh guru bervariasi sesuai dengan temuan permasalahan siswa mereka di kelas. Hal tersebut memang sesuai dengan temuan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa implementasi pemecahan masalah dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Maulidiya & Nurlaelah, 2019;
Mundilarto & Ismoyo, 2017; Padmavathy & Mareesh, 2013).
Penelitian tindakan kelas ini menemukan satu permasalahan dalam pelaksanaan tindakan pada siklus I. Pada siklus pertama guru cenderung mengidentifikasi banyak permasalahan. Dalam menentukan prioritas permasalahan yang akan dipecahkan ini guru cenderung bingung. Bahkan ada beberapa guru yang memecahkan beberapa permasalahan sekaligus sehingga guru tersebut menghasilkan beberapa media pembelajaran. Namun karena tidak fokus pada permasalahan tertentu, media pembelajaran yang dihasilkan menjadi kurang maksimal. Disisi lain, salah satu aspek yang dinilai dalam kegiatan penelitian adalah nilai estetis media dan kepraktisannya. Hal tersebut menyebabkan rendahnya nilai-nilai aspek yang diamati.
Pada siklus ke II guru lebih diarahkan untuk memecahkan satu persoalan saja. Dari beberapa permasalahan yang telah diidentifikasi tersebut, guru harus memilih salah satu permasalahan prioritas yang akan dipecahkan. Namun dalam memilih permasalahan guru diminta untuk memilih permasalahan yang paling mendesak dan harus segera terpecahkan. Dalam memilih permasalahan prioritas guru diperkenalkan dengan metode USG (Urgent, Seriousness, and Growth) (Gunawan, 2018; Purwanto et al., 2015). Dengan metode tersebut, permasalahan yang dipilih oleh guru memang benar-benar penting untuk dipercahkan melalui perancangan dan/atau pengembangan media pembelajaran.
4. Kesimpulan dan Saran
Penerapan pelatihan berbasis masalah telah efektif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran. Hal tersebut diindikasi dari peningkatan skor untuk masing-masing aspek yang diamati. Secara keseluruhan, terdapat peningkatan rata-rata skor dari 60.84 pada siklus I menjadi 82.66 pada siklus II.
Pada pelaksanaan kegiatan, guru-guru terlalu banyak mengidentifikasi permasalahan dan bingung dalam menentukan permasalahan prioritas. Untuk peneliti serupa disarankan untuk menggunakan metode tertentu untuk menentukan permasalahan yang akan pilih. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode USG (Urgent, Seriousness, and Growth).
Daftar Rujukan
Antika, R. R. (2014). Proses Pembelajaran Berbasis Student Centered Learning (Studi Deskriptif di Sekolah Menengah Pertama Islam Baitul ‘Izzah, Nganjuk ). BioKultur, 3(1), 251–263.
Dalton, P., Maute, C., Oshida, A., Hikichi, S., & Izumi, Y. (2008). The use of semantic differential scaling to define the multidimensional representation of odors. Journal of Sensory Studies, 23(4), 485–497. https://doi.org/10.1111/j.1745-459X.2008.00167.x
Docktor, J. L., & Mestre, J. P. (2014). Synthesis of discipline-based education research in physics.
Physical Review Special Topics - Physics Education Research, 10(2), 1–58.
https://doi.org/10.1103/PhysRevSTPER.10.020119
Fitriyanto, F., Nurhayati, S., & Saptorini. (2012). Penerapan model pembelajaran problem solving pada materi larutan penyangga dan hidrolisis. Chemistery in Education, 1(1), 40–44.
Giarti, S. (2014). Peningkatan keterampilan proses pemecahan masalah dan hasil belajar matematika menggunakan model PBL terintegrasi penilaian autentik pada siswa kelas VI SDN 2 Bengle, Wonosegoro. Scholaria : Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 4(3), 13–27.
https://doi.org/10.24246/j.scholaria.2014.v4.i3.p13-27
224 Gunawan. (2018). Rekondisi Silabus Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam pada Prodi Desain Grafis Konsentrasi Multimedia Politeknik Negeri Media Kreatif PSDD Medan. Jurnal Tarbiyah, 25(3), 80–91.
Happy, N., & Widjajanti, D. B. (2014). Keefektifan PBL ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan keatif matematis, serta self-esteem siswa SMP. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 1(1), 48.
https://doi.org/10.21831/jrpm.v1i1.2663
Hegde, B., & Meera, B. N. (2012). How do they solve it? An insight into the learner’s approach to the mechanism of physics problem solving. Physical Review Special Topics - Physics Education Research, 8(1), 1–9. https://doi.org/10.1103/PhysRevSTPER.8.010109
Huda, M. J., & Pertiwi, A. Y. (2018). Keefektifan Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan:, 2(4), 332–337.
Komariah, A. (2009). Melaksanakan Supervisi Akademis Melalui Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research). Jurnal Administrasi PendidikanAdministrasi Pendidikan, 10(2).
https://ejournal.upi.edu/index.php/JAPSPs/article/view/6310
Maulidiya, M., & Nurlaelah, E. (2019). The effect of problem based learning on critical thinking ability in mathematics education Recent citations A Didactical Design of Problem Based Learning Teaching Materials to Overcome Students Learning Obstacles on Calculus A Y Fitrianna et al The effect of problem based learning on critical thinking ability in mathematics education.
Iopscience.Iop.Org, 42063. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1157/4/042063
Mislan, & Santoso, D. A. (2019). Peran Pengembangan Media Terhadap Keberhasilan Pembelajaran PJOK di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional IPTEK Olahraga, 12–16.
https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/semnassenalog/article/view/585
Mundilarto, & Ismoyo, H. (2017). Effect of Problem-Based Learning on Improvement Physics Achievement and Critical Thinking of Senior High School Student. Journal of Baltic Science Education, 16(5), 761–779.
Nadhor, N., & Taqwa, M. R. A. (2020). Pemahaman Konsep Kinematika Mahasiswa Calon Guru Fisika: Ditinjau dari Level Pemahaman dan Teori Resource. PENDIPA Journal of Science Education, 4(3), 82–90. https://doi.org/10.33369/pendipa.4.3.82-90
Nasution, M. K. (2017). Penggunaan Metode Pembelajaran Dalam Peningkatan Hasil Belajar Siswa Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta Lantaboer Jakarta. Corresspondence: Mardiah Kalsum Nasution, Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta Lantaboer Jakarta. E-mail. Studia Didaktika:
Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan, 11(1), 9–16.
http://www.jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/studiadidaktika/article/view/515
Nurseto, T. (2011). Membuat Media Pembelajaran yang Menarik. Jurnal Ekonomi Dan Pendidikan, 8(1), 19–35. https://doi.org/10.21831/jep.v8i1.706
Padmavathy, R. D., & Mareesh, K. (2013). Effectiveness of Problem Based Learning In Mathematics.
International Multidisciplinary E-Journal, II(I), 45–51.
https://pdfs.semanticscholar.org/1d75/16276032eef76476b1198b63587898864fdd.pdf
Purwanto, H., Indiati, & Hidayat, T. (2015). Factors Causing Long Waiting Time on Outpatient Pharmacy Department Services at Blambangan General Hospital. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(2), 159–162.
Putra, C. B. U. (2012). Kecerdasan Sosial Siswa Kelas Akselerasi. Educational Psychology Journal, 1(1), 37–43.
Rivaldo, L., Taqwa, M. R. A., & Taurusi, T. (2018). Resources Siswa SMA tentang Konsep Gaya Archimedes. Jurnal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar, 6(3), 251–258.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26618/jpf.v6i3.1438
Saputri, D. E., Taqwa, M. R. A., Aini, F. N., Shodiqin, I., & Rivaldo, L. (2019). Pemahaman konsep mekanika: menentukan arah percepatan pendulum, sulitkah? Jurnal Pendidikan Fisika Dan Teknologi, 5(1), 110–117. https://doi.org/10.29303/jpft.v5i1.1134
Saragih, H. (2016). Meningkatkan Ketrampilan Guru Membuat Perangkat Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013 bagi Guru pada Sekolah. JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 8(2), 114122. https://doi.org/10.24114/jupiis.v8i2.5157
Taqwa, M. R. A. (2017). Profil Pemahaman Konsep Mahasiswa dalam Menentukan Arah Resultan Gaya. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains, 79–87.
Taqwa, M. R. A., Astalini, & Darmaji. (2015). Hubungan Gaya Belajar Visual, Auditorial, Dan
225 Kinestetik Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Dinamika Rotasi Dan Kesetimbangan Benda Tegar Kelas XI IPA SMAN Se-Kota Jambi. Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Pendidikan Sains, 2009, 220–227.
Taqwa, M. R. A., & Pilendia, D. (2018). Kekeliruan Memahami Konsep Gaya , Apakah Pasti Miskonsepsi ? Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika Dan Integrasinya, 01(02), 1–12.
Taqwa, M. R. A., & Rivaldo, L. (2019). Pembelajaran Problem Solving Terintegrasi PhET:
Membangun Pemahaman Konsep Listrik Dinamis. Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, 07(01), 45–56. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31800/jtp.kw.v7n1.p45--56
Yuliasari, E. (2017). Eksperimentasi Model PBL dan Model GDL Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau dari Kemandirian Belajar. JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika), 6(1), 1. https://doi.org/10.25273/jipm.v6i1.1336