2.1. Perencana Keuangan
Dunia keuangan sekarang ini telah berubah menjadi lebih maju, sehingga saat ini terdapat banyak sekali pilihan instrumen dalam investasi. Perubahan- perubahan di bidang keuangan yang semakin cepat, menyebabkan jasa perencana keuangan semakin dibutuhkan saat ini, di mana dapat membantu masyarakat dalam mengatur dan mengelola pendapatan yang mereka peroleh sehingga masa depan dan keluarganya dapat lebih terjamin.
Perencana Keuangan menawarkan solusi-solusi untuk perencanaan keuangan yang tidak didapatkan masyarakat dari banker, akuntan, broker saham, atau agen asuransi. Perencana Keuangan berfungsi membantu nasabah untuk merencanakan keuangan pribadi, dengan membantu memberikan solusi perencanaan, pemilihan pengelolaan keuangan, kekayaan atau investasi nasabah, agar kebutuhan keuangan nasabah untuk jangka pendek, jangka menengah dan panjang dapat tercapai.
Perencana Keuangan bertugas merancang suatu strategi investasi yang sesuai dengan karakter nasabah dengan tujuan untuk mencapai “Dreams” atau tujuan keuangan atau investasi nasabah.
Dengan menggabungkan seluruh segi keuangan menjadi satu perencanaan, serta seluruh aktifitas investasi dapat dipantau sesuai dengan tujuan investasi, maka kita mempunyai kontrol atas masalah keuangan dan dapat mencapai tujuan investasi yang telah direncanakan.
Perencanaan keuangan diperlukan karena :
1) Keterbatasan waktu masyarakat dalam mengelola keuangannya.
2) Banyaknya pilihan-pilihan dalam produk investasi dan kekurangtahuan dari nasabah mengenai produk-produk tersebut yang menyebabkan mereka tidak dapat memilih produk investasi yang paling tepat untuk mereka.
3) Kondisi pasar uang dan pasar modal serta tren investasi yang sangat cepat berubah.
4) Semakin sadarnya masyarakat akan perlunya pengelolaan keuangan agar masa depannya lebih terjamin.
5) Meningkatkan taraf pendidikan, membuat kesadaran masyarakat untuk mengatur dan mengelola pendapatan agar kekayaan meningkat sehingga masa depan lebih terjamin.
6) Untuk memberikan solusi atas semua masalah keuangan yang sedang dihadapiatau sering disebut One Stop Service Solution.
Dalam melakukan perencanaan keuangan yang paling utama adalah proses dan tujuan hidup, dalam hal ini berkaitan dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai (dreams). Perencanaan keuangan secara menyeluruh meliputi perencanaan dana darurat (emergency fund), asuransi (insurance planning), pensiun (retirement planning), investasi (investment planning), pajak (tax planning), dan warisan (estate planning). Tujuan utama dari Perencana Keuangan adalah untuk membantu supaya nasabah dapat menikmati hidup dengan nyaman, serta secara bersamaan membuat nasabah yakin bahwa keadaan dan tujuan keuangan nasabah telah direncanakan dan diatur secara professional.
Sebuah Perencanaan Keuangan yang komprehensif haruslah memberikan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang serta perhitungan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan keuangan yang telah direncanakan.
Dalam melakukan perencanaan keuangan yang komprehensif maka nasabah harus memahami bahwa tujuan membuat rencana keuangan tersebut, adalah membuat kualitas hidup lebih baik pada masa mendatang. Oleh karena itu, adanya perencanaan keuangan yang komprehensif dapat membuat nasabah menjadi lebih efektif dalam memanfaatkan keuangannya, serta dapat melakukan pengendalian terhadap keuangannya.
2.1.1. Profesi Perencana Keuangan
Financial Planner atau perencana keuangan adalah sebuah profesi yang membantu nasabah untuk merencanakan keuangan pribadi, dengan membantu memberikan solusi perencanaan, pemilihan pengelolaan keuangan, kekayaan atau investasi nasabah, agar kebutuhan keuangan nasabah untuk jangka pendek, jangka menengah dan panjang dapat tercapai.
Perencana keuangan akan membantu seseorang untuk mengalokasikan kekayaan dengan efektif dan efisien sehingga tujuan keuangan keluarga
tercapai, misalnya: kebebasan dari hutang, kebutuhan biaya pendidikan, kebutuhan pensiun, dan sebagainya.
Gambar 2.1. Konsep Perencanaan Keuangan
(Sumber: IARFC, Dana Darurat/Emergency Fund 2003, p.2)
Perencana keuangan harus dapat melihat situasi keuangan nasabah dan membuat rekomendasi perencanaan keuangan sesuai dengan karakter nasabah dengan tujuan untuk mengarahkan “dreams” menjadi “goal” / tujuan nasabah. Perencana keuangan dapat melihat seluruh kebutuhan nasabah termasuk membuat anggaran dan menabung, perencanaan pendidikan, investasi, asuransi, pensiun, warisan, dan perencanaan lainnya. Atau, perencana keuangan dapat bekerja atas satu persoalan keuangan tapi tetap dalam konteks situasi keuangan nasabah secara menyeluruh. Pendekatan menyeluruh atas tujuan-tujuan keuangan inilah yang membedakan perencana keuangan dengan penasihat keuangan yang lain, dimana mereka mungkin dilatih untuk fokus hanya ke area tertentu dalam kehidupan keuangan nasabah, karena itulah Profesi Financial Planner harus bebas dari kepentingan perusahaan asuransi atau investasi tertentu agar dapat memberikan saran maupun pandangan yang objektif.
Kebutuhan Dana Jangka Pendek
Kebutuhan Dana
Jangka Menengah Kebutuhan Dana Jangka Panjang
Perlindungan atau shield
2.1.2. Jasa Perencana Keuangan
Jasa perencana keuangan mulai dibutuhkan, baik oleh perorangan, keluarga, maupun perusahaan kecil / menengah beberapa tahun terakhir ini.
Jasa perencana keuangan ini diperlukan karena hal–hal berikut ini, yaitu:
1. Keterbatasan waktu nasabah.
2. Kondisi pasar uang dan pasar modal serta tren investasi yang cepat berubah.
3. Semakin banyak produk–produk keuangan dan investasi serta variasi- variasinya, sehingga diperlukan analisa untuk menentukan pilihan yang sesuai.
4. Meningkatnya taraf pendidikan, membuat kesadaran masyarakat untuk mengatur dan mengelola pendapatan dan kekayaan meningkat, agar masa depan keluarga lebih terjamin.
5. Dibutuhkan kemampuan untuk :
Membimbing nasabah dalam menentukan pengelolaan investasi.
Menetapkan tujuan investasi nasabah.
Menerapkan, mencatat, dan memonitor rencana investasi nasabah.
Meninjau rencana nasabah, agar kepastian seluruh rencana investasi sesuai dengan arahan.
6. Jumlah perusahaan Jasa Keuangaan dan Pasar Modal sebagai pilihan investasi di Indonesia saat ini kurang lebih ada 592 institusi keuangan yang masing–masing sekitar 5-10 poduk yang dikeluarkan.
7. Untuk memberikan solusi atas semua masalah keuangan yang sedang dihadapi atau sering disebut One Stop Service Solution.
Gambar 2. 2. One Stop Service Solution
(Sumber: IARFC, Basic Modul of Financial Planning 2003, p.6)
2.1.3. Hal-Hal Yang Dilakukan Perencana Keuangan
Kegiatan yang dilakukan oleh seorang yang berprofesi sebagai perencana keuangan di dalam membuat perencanaan keuangan bagi nasabahnya secara garis besar adalah:
1. Menganalisa setiap aspek kebutuhan nasabah dengan mengidentifikasi pendapatan, pengeluaran, aset, investasi, pajak, proteksi dan kebutuhan lainnya.
2. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kondisi keuangan nasabah.
3. Mengidentifikasi dreams atau tujuan keuangan nasabah.
4. Merinci kebutuhan nasabah, disesuaikan dengan karakteristik, kemampuan dan jangka waktu pencapaian.
5. Menawarkan solusi untuk mengeliminasi keraguan, ketidakpastian dan ketidaktahuan nasabah dalam mengambil keputusan untuk menabung, berinvestasi, pemilihan jenis asuransi, pajak, pembelian atau penjualan asset, dan pengeluaran lainnya.
2.2. Neraca
Neraca merupakan suatu laporan yang berisi posisi keuangan pada tanggal tertentu yang menggambarkan besarnya harta dan besarnya utang keluarga yang dimiliki. Tujuan dari pembuatan neraca ini adalah untuk mengetahuni besarnya
Perencanaan lainnya
Manajemen Resiko
Pajak Financial
Planning Investasi
Manajemen Dana Perencanaan
Pensiun Perencanaan
Pendidikan
Warisan
Kekayaan Bersih (Net Worth) yang didapat dari jumlah harta dikurangi dengan jumlah utang.
Neraca Keluarga merupakan dasar untuk menetapkan tujuan-tujuan Keuangan Keluarga selanjutnya, sehingga bisa menetapkan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Apabila asset yang dimiliki lebih besar daripada hutang maka kondisi keuangan dapat dikatakan sehat. Sedangkan apabila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kondisi keuangan nasabah bermasalah sehingga perlu diperbaiki kondisi keuangannya agar menjadi ideal.
Tabel 2.1. Bentuk dan Isi Neraca Personal
Aset Kewajiban atau Hutang
Aset Lancar Hutang Jangka Pendek:
Kas Tunai Hutang Kartu Kredit Tabungan Utang Pajak
Deposito Berjangka Hutang Jangka Panjang:
Aset Investasi Utang Rumah / KPR Reksa Dana Utang Mobil / KPM Properti untuk investasi Utang Usaha
Aset yang dipakai : Rumah tinggal Kendaraan
(Sumber: Keown, 2005, p.31)
2.3. Alur Kas
Analisis Alur Dana/Cash flow adalah proses pengidentifikasian antara pemasukan yang diterima, dengan pengeluaran yang dilakukan secara rutin setiap bulannya. Secara ideal, harus terdapat dana yang tersisa yang dapat diinvestasikan. Dana ini dikenal dengan sebutan Discretionary Income atau Disposable Income atau pendapatan yang tersisa.
Dalam menganalisis Alur Dana, ada 3 (tiga) karakteristik yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Besar atau kecil nilai dana, akan mempengaruhi perhitungan penerimaan atau pengeluaran di akhir periode analisis.
2. Arah Alur Dana, menunjukkan positif bila terjadi penambahan dana atau negatif bila terjadi pengurangan dana di akhir periode analisis.
3. Waktu, menentukan dalam pengaturan dana yang tepat dan benar.
Namun bila pengeluaran lebih besar dari pada penerimaan atau alur dananya negatif maka perlu dilakukan adjusment. Adjusment dapat dilakukan dengan dua cara, yakni :
a. Mengurangi atau menekan pengeluaran
b. Meningkatkan penghasilan / income, apabila tidak ingin mengurangi standard hidup, dengan cara kerja tambahan atau memulai bisnis sampingan
Gambar 2.3. Alur Dana Secara Umum
(Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow 2003, p.4)
Gambar 2.4. Alur Dana Secara Financial Planning
(Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow 2003, p.9)
2.4. Rasio Keuangan
Penerimaan
Kelebihan Pengeluaran Investasi
Penerimaan
Pengeluaran Kelebihan
Investasi
Menurut IARFC, Personal Financial Ratio & Simple Asset Allocation (2006, pp.6-15), terdapat rasio-rasio keuangan khusus untuk perhitungan kondisi keuangan pribadi, rasio keuangan ini terdiri dari :
1. Liquidity Ratio
(2.1) Rasio yang mengidentifikasikan berapa lama (berapa bulan) nasabah dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan mereka apabila semua penghasilan tidak ada sama sekali.
2. Solvency Ratio
(2.2)
Rasio yang menunjukan (dalam prosentase) tingkat kerentanan klien terhadap resiko kebangkrutan. Apabila total kewajiban/hutang yang dimilki klien melebihi total asetnya, maka dapat dikategorikan bangkrut.
3. Liquid Asset to Net Worth Ratio
(2.3) Rasio yang mengidentifikasikan kekayaan bersih dari klien yang berbentuk kas atau setara dengan kas.
4. Debt to Asset Ratio
(2.4)
Rasio yang memiliki cara lebih luas dalam melakukan perhitungan tingkat likuiditas. Rasio ini dapat juga dipergunakan untuk menghitung tingkat solvency atau kemampuan membayar hutang-hutang.
5. Debt Service Ratio
(2.5) Rasio yang menunjukan seberapa banyak dana dari penghasilan bapak/ibu yang akan dipakai untuk membayar hutang-hutang.
6. Saving Ratio
(2.6) Saving adalah kelebihan (kekurangan) dana yang disebabkan oleh aktivitas keuangan yang dilakukan oleh klien dalam kurun waktu tertentu. Rasio ini berguna untuk menunjukan persentase dari penghasilan yang dapat disisihkan untuk keperluan di masa yang akan datang.
7. Net Investment Asset to Net Worth Ratio
(2.7) Rasio yang membandingkan nilai aset diinvestasikan dengan nilai kekayaan bersih. Rasio ini sangat membantu dalam menunjukan sampai dimana pengetahuan klien serta akumulasi kekayaannya untuk memenuhi tujuan keuangannya.
2.5. Dana Darurat
Salah satu syarat utama sebelum kita membuat sebuah Perencanaan Keuangan adalah keberadaan tabungan darurat atau sering disebut dengan istilah emergency fund. Dana ini harus dialokasikan secara terpisah, untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya sangat darurat bagi seseorang atau keluarga. Sesuai dengan namanya, penempatan uang pada jenis tabungan ini harus memiliki kriteria : kemudahan akses, kecepatan pengambilan, keamanan dana, dan hasil investasi yang kompetitif.
2.5.1. Besar Kebutuhan Dana Darurat
Besarnya kebutuhan dana darurat bagi setiap orang atau keluarga berbeda, tergantung dari situasi perorangan atau keluarga tersebut Menurut IARFC, Dana Darurat/Emergency Fund (2003, p.4), pembagian kebutuhan dana darurat adalah sebagai berikut.
1. Kebutuhan dana darurat bagi perorangan yang belum menikah atau tidak mempunyai tanggungan, sedikitnya sebesar 3 bulan kebutuhan hidup sehari- hari.
2. Kebutuhan dana darurat untuk keluarga kecil dengan 2 orang anak, sedikitnya sebesar 6 bulan kebutuhan hidup sehari-hari.
3. Kebutuhan dana darurat untuk keluarga besar dengan 3 orang anak atau lebih, adalah sebesar 9-12 bulan kebutuhan hidup sehari-hari.
2.5.2. Instrumen Investasi Dana Darurat
Kebanyakan orang menempatkan 100% dari dana yang mereka miliki tersebut pada tabungan atau deposito bank, yang memberikan suku bunga yang sangat kecil. Akan tetapi kebanyakan orang belum memiliki dana darurat yang khusus digunakan untuk keadaan darurat. Padahal alokasi asset dapat dilakukan pada dana darurat tersebut dengan membaginya menjadi beberapa instrumen investasi, diantaranya :
Tabel 2.2. Alokasi Dana Darurat
Jenis Investasi Keunggulan Kelemahan
Tabungan Akses yang cepat (ATM) Bunga rendah
Deposito Bunga sedikit lebih tinggi Ada penalti
Reksa Dana Pasar Uang Bunga lebih tinggi Akses lambat (2-3 hari) (Sumber: IARFC, Basic FP Emergency Fund 2003, p.8)
2.6. Manajemen Resiko
Asuransi Jiwa adalah suatu kesepakatan / kontrak pengalihan resiko atas kehilangan jiwa dalam bentuk ekonomi, yang kemudian resiko tersebut diambil alih oleh sebuah perusahaan asuransi jiwa.
Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Perasuransian menyebutkan bahwa asuransi adalah “perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan
menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan”.
Menurut Koh dan Fong (2003, p.62) “Life insurance is a contract between you (the policyholder) and the life insurance company (the insurer) where by you agree to pay the insurer a sum of money (premium) in return for insurance coverage. The insurer undertakes to pay you or your beneficiary a sum of money (policy benefits) in the event of your death, permanent and total disability, critical illness or any other specified events.
Dalam kehidupan ini kemungkinan kita akan mengalami beberapa musibah dalam hal keuangan berupa penangguhan, pengalihan arus dana, keadaan darurat ataupun kegagalan. Sebagian musibah keuangan tersebut jumlahnya cukup besar dan menimbulkan permasalahan keuangan yang berat. Pada saat seperti inilah kita memerlukan Asuransi. Kegunaan Asuransi adalah untuk mengalihkan resiko finansial kepada perusahaan Asuransi. Tanpa adanya Asuransi resmi yang memadai, berarti kita menanggung sendiri musibah keuangan yang cukup besar tersebut.
2.6.1. Karakteristik Kehilangan / Kerugian
Asuransi memiliki beberapa karakteristik akan kehilangan, yaitu :
Kehilangan / kerugian harus tanpa disengaja
Kehilangan / kerugian harus dapat ditentukan (waktu dan nilai).
Kehilangan / kerugian harus signifikan.
Kehilangan / kerugian harus dapat diperhitungkan.
Kehilangan / kerugian tidak memberatkan perusahaan asuransi.
2.6.2. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Proses Asuransi Jiwa Ada 4 pihak yang terlibat dalam proses sebuah asuransi jiwa:
a. Applicant (pemohon)
Orang yang mengajukan permintaan sebuah asuransi jiwa. Apabila asuransi disetujui, maka pemohon akan menjadi pemegang polis;
b. Policy Owner (pemegang polis)
Orang yang memegang polis asuransi tersebut c. Insured (tertanggung)
Seseorang yang jiwanya ditanggungkan atau dicover asuransi;
d. Beneficiary (penerima uang pertanggungan)
Orang atau beberapa orang yang ditentukan akan menerima uang pertanggungan.
Dari ke 4 pihak ini harus ada satu kesamaan, yaitu harus ada kebutuhan asuransi, atau insurable interest dari pihak–pihak yang tercantum di atas.
2.6.3. Beberapa Istilah Penting Dalam Asuransi
Menurut IARFC, Manajemen Resiko (Jiwa) / Risk Management (Life), terdapat beberapa istilah penting yang digunakan di dalam asuransi :
a. Nilai Pertanggungan
Nilai nominal untuk jiwa yang ingin ditanggung / dicover.
b. Premi
Satu atau beberapa pembayaran yang diperlukan untuk membuat polis asuransi tetap berjalan
c. Nilai Tunai
Nilai tunai/kas yang terdapat dalam beberapa jenis asuransi, yang memiliki selisih dana yang dibayarkan untuk premi dengan yang diinvestasikan. Dana itu dapat dicairkan (cash out), dipinjam, atau dipakai untuk membayar premi asuransi.
2.6.4. Jenis-Jenis Asuransi Jiwa Beberapa jenis Asuransi Jiwa : a. Term Insurance/Asuransi Berjangka
Asuransi dimana manfaat kematian akan dibayarkan, hanya bila tertanggung meninggal dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
b. Whole Life Insurance / Asuransi Keseluruhan
Asuransi dimana tanggungan kematian akan berjalan sepanjang kehidupan tertanggung, selama premi dibayarkan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam polis, biasanya seumur hidup (batas 99 tahun).
c. Endowment insurance
Kontrak asuransi dimana perusahaan asuransi memberikan manfaat sebesar nilai pertanggungan dari asuransi tersebut apabila tertanggung dapat hidup sampai akhir masa kontrak, atau pembayaran sebesar nilai pertanggungan apabila meninggal dunia.
d. Universal life Insurance
Seperti halnya Whole Life Insurance, tetapi Universal Life Insurance mempunyai nilai pertanggungan tetap, dan nilai tunai yang dapat berubah sesuai dengan hasil investasi dari asuransi tersebut, yang diinvestasikan dalam account yang berbeda.
e. Variable Life Insurance
Mirip seperti Universal Life Insurance, tetapi nilai pertanggungan dan nilai tunai dari kontrak suransi tersebut dapat berubah sesuai dengan hasil investasi dari asuransi tersebut, yang diinvestasikan dalam account yang berbeda.
2.6.5. Konsep Perhitungan a. Human Live Value
Konsep ini yang kemudian dipergunakan secara luas oleh Financial Planner, untuk menentukan seberapa besar kebutuhan perlindungan, atau nilai pertanggungan yang dibutuhkan oleh seseorang sebelum membeli suatu polis asuransi. Dengan konsep dasar Human Live Value inilah, penjualan polis asuransi dilakukan benar-benar berdasarkan kebutuhan dari nasabah.
Memperhitungkan nilai kehidupan dari seseorang dimana ada orang lain yang bergantung kehidupannya dari penghasilan yang didapatkan oleh orang tersebut, pada umumnya kepala rumah tangga, eksekutif perusahaan.
Nilai pertanggungan dihitung dengan cara mengalikan penghasilan tertanggung dengan lamanya waktu perlindungan yang diingkan.
b. Income Based Value
Memperhitungkan nilai kebutuhan bulanan dari seseorang yang bergantung terhadap penghasilan dari orang lain, yang apabila nilai tersebut diinvestasikan ke dalam investasi bebas / minim resiko akan memberikan besar pendapatan yang sama besar. Nilai pertangungan dihitung dengan cara membagi penghasilan tertanggung dengan SBI net per bulan yang berlaku saat ini.
c. Survival Based Value
Memperhitungkan berapa besar kewajiban yang harus dilindungi beserta berapa besar income yang harus dikover sampai survival dapat kembali secara penuh.
¾ Trik dari survival Based Value :
Semakin besar kewajiban/ hutangyang harus dilindungi, semakin besar nilai pertanggungan asuransi yang dibutuhkan.
Semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman kerja dari Si Survival (biasanya istri), semakin cepat Si Survival mendapatkan pekerjaan kembali.
Dengan terbayarnya kewajiban / hutang tersebut, maka kebutuhan bulanan akan menurun.
Seberapa besar dana darurat / emergeny fund yang telah dimiliki
2.7. Dana Pensiun
Dana Pensiun adalah suatu dana yang dialokasikan untuk diinvestasikan guna memenuhi kebutuhan hidup klien ketika memasuki masa pensiun. Tabungan Pensiun semakin dibutuhkan karena adanya kebutuhan hidup yang semakin meningkat, ekspektasi kehidupan (life expectancy) lebih panjang dari saat ini, semakin tua semakin rentan terhadap penyakit, dan ketidakinginan untuk bergantung pada anak dan sanak saudara ketika pensiun, memperkecil pajak, pensiun dini, warisan ataupun memberikan harta kepada orang lain (hibah dan lain-lain).
2.8. Dana Lain-lain 2.8.1. Dana Pendidikan
Dana pendidikan adalah suatu dana yang telah dialokasikan secara terpisah, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak kita di masa yang akan datang. Pendidikan sendiri berarti investasi untuk masa depan anak-anak kita. Cara yang biasa dilakukan orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan anaknya, yaitu : menabung sendiri, mengambil asuransi pendidikan, serta kombinasi antara menabung sendiri dan mengambil asuransi pendidikan.
¾ Ada 4 alasan kenapa dana pendidikan penting untuk dipersiapkan, yaitu : a. Mahalnya biaya pendidikan saat ini.
b. Naiknya biaya pendidikan dari tahun ke tahun.
c. Ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.
d. Fisik manusia tidak selalu sehat.
Hal-hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk membuat perencanaan pendidikan dengan mempertimbangkan nilai uang terhadap waktu menurut IARFC, Time Value of Money (2006, p.9), yaitu:
1. Tentukan sampai sejauh mana kita ingin membiayai pendidikan anak.
2. Tentukan kira-kira kemana kita akan mengirimkan anak tersebut untuk masing-masing jenjang yang ingin kita biayai.
3. Untuk masa kuliah, tentukan apakah kita menginginkan mengirim anak kita untuk bersekolah keluar negeri (biaya sekolah di luar negeri beberapa kali lebih mahal dari sekolah di dalam negeri).
4. Mengidentifikasi berapa besar biaya sekolah tersebut dalam nominal sekarang.
5. Tentukan berapa lama lagi anak-anak tersebut akan memasuki jenjang pendidikan yang ingin dibiayai (untuk pendidikan di luar negeri harus diperhitungkan biaya hidup).
6. Tentukan berapa besar rata-rata kenaikan biaya sekolah per tahun.
7. Seberapa besar tabungan pendidikan yang sudah dialokasikan.
2.8.2. Warisan dan Wasiat
Saat seseorang masih hidup, kadangkala ia hanya mengetahui bagaimana cara mengumpulkan atau mengelola harta kekayaannya. Sama sekali tidak pernah menyempatkan diri untuk menyiapkan pembagian hartanya apabila ia meninggal dunia. Sehingga saat ia meninggal kemungkinan akan terjadi sengketa antar ahli warisnya, yang menyebabkan tidak hanya berkurangnya harta warisan namun juga pertengkaran antar saudara. Cara menyelesaikan masalah kewarisan tanpa sengketa adalah memahami dan mengajarkan kepada anak-anak (ahli waris) sedini mungkin, agar para ahli waris menerima apa yang diwariskan padanya tanpa melalui sengketa.
Definisi warisan adalah berpindahnya kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada satu atau beberapa orang. Dengan wasiat, orang dapat membuat penunjukkan waris dan mengadakan hibah. Orang dapat menguntungkan orang lain dengan suatu beban; dengan wasiat orang dapat melakukan penawaran; orang dapat menghapuskan piutang dan melepaskan;
dan menarik kembali wasiat yang lain lagi; dapat mencabut hak waris seseorang; dapat mengangkat seorang wali dan mengakui anak luar nikah.
Sumber hukum waris perdata adalah Pasal 830 s/d 873 KUH Perdata dan BW 1848 atau KUHPerdata 1948.
Pewaris adalah orang yang meninggal dunia dengan meninggalkan kekayaan. Ahli waris adalah orang yang menggantikan pewaris dalam kedudukan hukum mengenai kekayaan, baik untuk seluruhnya maupun untuk bagian yang sebanding. Orang menjadi ahli waris, karena diatur oleh Undang- Undang atau karena ditunjuk dengan wasiat.
Wasiat bisa dikatakan sebagai bagian dari warisan, wasiat merupakan penentuan kehendak pewaris, apa yang akan berlaku dengan kekayaannya sesudah ia meninggal. Wasiat dapat juga disebut dengan “amanat terakhir”.
Membuat wasiat adalah suatu perbuatan hukum yang bersifat sangat pribadi.
Perbuatan hukum ini tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
Setelah pembuat wasiat telah membuat wasiat apakah dengan akta notaris ataupun berbentuk wasiat olografis harus ditindaklanjuti dengan diarsipkan oleh seorang notaris dengan pendaftaran pada Daftar Pusat Wasiat
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Undang-Undang mewajibkan kepada notaris untuk memberitahukan kepada ahli waris yang bersangkutan, bahwa diantara akta-akta aslinya, ia ada menyimpan wasiat dari pembuat wasiat yang telah meninggal dunia.
2.9. Investasi
“No single investment is right for everyone” ( tak ada satu investasi pun yang tepat untuk semua orang ). Berbagai batasan seperti kebutuhan akan uang tunai, tujuan dan perilaku serta preferensi terhadap resiko, membuat setiap individu memilih investasi yang berbeda-beda. Menentukan investasi yang tepat membutuhkan perencanaan yang matang.
Investasi adalah konsumsi yang ditunda sementara waktu untuk dikonsumsi lebih besar di masa mendatang. Kita perlu berinvestasi untuk melindungi kekayaan dari inflasi, untuk konsumsi dimasa depan yang lebih besar, dan pembayaran yang tidak menentu dimasa depan. Hal yang harus kita lakukan sebelum berinvestasi :
Pastikan semua hutang terbayar, sebab hutang akan cepat berlipat ganda akibat efek akumulasi dan bunga hutang biasanya lebih tinggi dari return investasi.
Pastikan anda terproteksi dengan asuransi. Asuransi sangat penting untuk melindungi kita dan keluarga dari peristiwa tidak terduga yang bisa merusak rencana keuangan, seperti biaya pengobatan, meninggalnya pencari nafkah.
Investasi yang direncanakan bisa berantakan akibat peristiwa yang tidak diinginkan.
Sisihkan dulu buat pengeluaran rutin bulanan seperti buat makanan, transportasi, pendidikan, dan lain-lain.
2.9.1. Sarana Investasi
Sarana Investasi dapat dibagi berdasarkan jangka waktunya yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
2.9.1.1. Sarana Investasi Jangka Pendek
Jasa Giro
Jasa giro merupakan produk perbankan yang memberikan bunga terendah, berkisar sekitar 2-4% p.a. Biasanya dipakai perusahaan untuk mempermudah transaksi pembayaran.
Tabungan
Tabungan layanan perbankan yang memberikan bunga diatas jasa giro, dan bisa diambil setiap saat.
Deposito
Deposito bunganya lebih tinggi tabungan, akan tetapi mesti disimpan untuk jangka waktu tertentu. Jika dicairkan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan pinalti.
Reksadana Pasar Uang
Reksadana Pasar Uang yaitu reksadana yang berinvestasi pada pasar uang seperti Deposito, SBI dan obligasi jangka pendek. Biasanya tingkat pengembalian reksadana pasar uang lebih tinggi dari jasa giro tapi lebih rendah dari Deposito, akan tetapi bisa dicairkan setiap saat.
2.9.1.2. Sarana Investasi Jangka Menengah dan Panjang
Obligasi
Setiap halnya kita, negara, pemerintah daerah dan perusahaan kadang perlu meminjam uang. Tidak seperti kita, sangat sulit bagi perusahaan untuk meminjam uang sejumlah yang mereka inginkan walaupun mereka janji untuk melunasinya. Selain menjanjikan akan membayar kembali sejumlah uang yang mereka pinjam, perusahaan juga mesti membayar fee (bunga) dari uang yang dipinjam tadi.
Obligasi atau disebut juga bond dalam bahasa finansial, merupakan surat pernyataan hutang yang dijual kepada masyarakat . Sebagai balasan pinjaman uang, orang yang meminjamkan uang akan mendapat secarik kertas yang menyebutkan nilai yang dipinjam, tingkat bunga yang disepakati, periode pembayaran bunga, dan kesepakatan lainnya. Biasanya Obligasi dijual dengan pecahan Rp. 1,000,000,000.-
¾ Ada tiga hal penting yang perlu kita perhatikan sebelum membeli sebuah obligasi.Yaitu nilai pari (par value), bunga kupon (coupon rate) dan masa jatuh tempo (maturity).
¾ Obligasi disebut juga sekuritas pendapatan tetap (fixed income) sebab jumlah uang yang akan dihasilkan tiap tahun telah 'ditetapkan' atau ditentukan ketika dijual. Apapun yang terjadi dan siapapun yang memegang, obligasi akan menghasilkan nilai yang sama.
¾ Jenis obligasi menurut sumber yang mengeluarkan obligasi:
a. Pemerintah RI. Obligasi pemerintah RI merupakan surat hutang yang dijamin oleh pemerintah Indonesia. Obligasi jenis ini ada yang dikeluarkan dalam mata uang rupiah maupun dollar. Karena dijamin pemerintah maka resiko default (tidak dibayar) obligasi ini nyaris tidak ada.
b. Swasta. Perusahaan swasta menjual obligasi kemasyarakat seperti halnya mereka menjual saham. Perusahaan memiliki keleluasaan untuk menentukan jumlah obligasi yang hendak dikeluarkan dan bunga yang dibayarkan, walaupun mereka harus membuatnya menarik untuk memikat investor. Obligasi swasta ini biasanya memberikan bunga yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah karena ada bahwa perusahaan bisa bankrupt dan gagal memenuhi kesepakatan yang dijanjikan. Kadang ada juga obligasi swasta yang disebut obligasi konvertible (convertible bond) karena bisa di- convert (ditukar) dengan saham jika kriteria yang disepakati terpenuhi.
Saham
Saham merupakan cara lain untuk memiliki bagian dari suatu unit usaha.
Sebuah saham mewakili proporsi kepemillikan tertentu pada suatu perusahaan. Perusahaan mengeluarkan saham sebagai salah satu cara untuk mendapatkan dana dari masyarakat. Sebagai imbalannya, investor mendapat bukti kepemilikan pada perusahaan tersebut (saham) yang dijamin dengan klaim atas asset dan keuntungan perusahaan.
¾ Jenis Saham :
a. Saham Biasa (Common Stock)
Seperti namanya, saham ini bentuk yang paling umum dipedagangkan, setiap orang boleh memilikinya tanpa batasan. Saham biasa mewakili proporsi kepemilikan tertentu pada suatu perusahaan. Pemilik saham juga berhak atas sebagian aset dan keuntungan yang diperoleh. Selain itu setiap saham mewakili satu suara dalam voting Rapat Umum Pemegang Saham yang biasa memutuskan pembagian deviden, pemilihan jajaran direksi, komisaris dan kebijakan perusahaan lainnya.
Memiliki saham juga memiliki resiko, jika bisnis/kondisi perusahaan memburuk, nilai saham bisa menurun. Bahkan jika perusahaan tersebut bangkrut, saham tidak memiliki nilai sama sekali.
b. Saham istimewa (Preferred Stock)
Kadang-kadang untuk alasan tertentu perusahaan merasa perlu untuk mengkonsentrasikan kekuatan voting saham pada saham kelas tertentu.
Contoh kasus pada hampir semua perusahaan pemerintah seperti Indosat, PT. Telkom, Aneka Tambang, pemerintah memiliki satu faktor unggul yang tidak bisa dimiliki oleh investor manapun. Dengan saham ini pemerintah berhak untuk menentukan jajaran direksi, bahkan walau semua pemilik saham yang lain menolak sekalipun.
Reksadana
Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Sesuai dengan Undang-Undang tentang Pasar Modal, Reksa Dana dapat berbentuk Perseroan Tertutup atau Terbuka dan Kontrak Investasi Kolektif. Reksadana merupakan cara yang paling sederhana untuk menyebar resiko (diversify) portofolio.
Setiap investor memiliki hak secara proporsional pada reksadana berdasarkan jumlah unit penyertaan yang ia miliki. Semua aturan dan kebijakan investasi dapat diperoleh investor sebelum mereka membeli sebuah reksadana. Uang yang dikumpulkan dari investor disimpan oleh pihak ketiga yang independen yaitu bank kustodi. Begitu juga dengan saham, obligasi dan instrumen lainnya yang dibeli oleh manajer investasi
disimpan pada bank kustodian. Semua keputusan investasi diambil oleh manajer investasi yang profesional , ahli pada bidangnya dengan mengacu pada aturan dan kebijakan investasi yang telah ditetapkan pada prospektus.
Aktivitas manajer investasi juga dipantau oleh BAPEPAM (Badan Pengelola Pasar Modal) secara berkala. Dan manajer investasi akan mendapat surat teguran dari BAPEPAM apabila melakukan tindakan yang menyimpang dari yang telah ditetapkan di prospektus.
¾ Keuntungan memiliki Reksadana
Management Profesional, sebuah reksadana dikelola oleh manajer investasi yang ahli dibidangnya, yang secara full-time bertugas mencari alternatif investasi terbaik dalam cakupan investasi yang diijinkan.
Manajer investasi juga memiliki akses riset yang luas dari berbagai analis yang membantu mereka dalam mengambil keputusan
Diversifikasi Portofolio. Melakukan diversifikasi berarti menyebar resiko investasi anda pada berbagai instrumen untuk mengurangi resiko investasi.
Jika memiliki sedikit dana kita sulit melakukan diversifikasi karena harga instrumen investasi yang mahal. Akan tetapi dengan menggabungkan dana bersama para investor lain, diversifikasi ini dimungkinkan. Hal yang perlu diingat, diversifikasi tidak menghilangkan resiko turunnya nilai investasi tapi mengurangi resiko tersebut.
Likuiditas. Seperti membeli saham, investasi pada reksadana bisa dicairkan kapan saja.
Bebas Pajak. Pendapatan reksadana bebas dari pajak penghasilan.
¾ Jenis Reksadana
Ada berbagai jenis reksadana. Akan tetapi secara umum reksadana bisa diklasifkasikan sebagai berikut:
Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund) Reksadana Pasar Uang yaitu reksadana yang berinvestasi pada pasar uang seperti Deposito, SBI dan obligasi jangka pendek. Biasanya tingkat pengembalian reksadana pasar
uang lebih tinggi dari jasa giro tapi lebih rendah dari Deposito, akan tetapi bisa dicairkan setiap saat.
Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund). Investasi utama reksadana ini ada pada obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan dan pemerintah. Seperti halnya reksadana pasar uang, jenis ini selalu memperoleh pendapatan dari pembayaran kupon (bunga), dan memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari suku bunga. Akan tetapi nilai reksadana ini seperti halnya obligasi bisa berfluktuasi sejalan dengan perubahan bunga. Jika bunga naik harga obligasi akan turun dan sebaliknya.
Reksadana Saham (Equity Fund). Jenis ini menginvestasikan dananya pada saham yang terdaftar di bursa saham. Walaupun dalam jangka pendek reksadana saham bisa berfluktuasi secara signifikan, akan tetapi dalam jangka 3-5 tahun tingkat pengembaliannya diharapkan bisa mengalahkan reksadana lainnya.
Reksadana Campuran (Balanced Fund). Reksadana ini mencampurkan saham dan obligasi, komposisi saham biasa berkisar antara 50-65%, sisanya pada obligasi. Reksadana ini cocok bagi investor tidak menginginkan resiko terlalu besar dari modalnya, tetapi bersedia mengambil sedikit resiko untuk tambahan pendapatan ekstra.
¾ Resiko Berinvestasi Reksadana
Hal-hal yang perlu diketahui oleh para investor tentang potensi resiko pada reksadana :
1. Resiko menurunnya Nilai Aktiva Bersih (NAB) Unit Pernyertaan
Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrument investasi yang dimasukkan dalam portfolio reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Pertumbuhan kinerja Nilai Aktiva Bersih reksada yang meningkat terus-menerus juga bukan jaminan bahwa NAB reksadana tidak akan mengalami penurunan atau kerugian di kemudian hari. Oleh karena itu, setiap investor reksadana harus paham dan menyadari bahwa potensi kerugian dapat timbul suatu
saat apabila harga pasar saham atau obligasi yang dijadikan portfolio reksadana tersebut mengalami penurunan. Penyebab penurunan harga pasar portfolio investasi reksadana diantaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kerugian emiten, situasi politik dan ekonomi yang berubah-ubah, dan sebagainya.
2. Resiko Likuiditas
Potensi resiko likuiditas dapat terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan pada reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer investasi mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana.
Penundaan pembayaran atau kesulitan likuiditas dapat dialami oleh Pihak Manajer Investasi dan bank pembayar apabila belum ada dana yang cukup pada hari penarikan dana secara besar-besaran. Hal ini dapat terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana melakukan penjualan kembali kepada suatu Manajer Investasi dalam jumlah cukup besar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dapat berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola reksadana tersebut.
3. Resiko Pasar
Adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Resiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB yang ada pada Unit Penyertaan reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila ingin membeli jenis reksadana tertentu, investor harus memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio reksadana itu sendiri.
4. Resiko Default
“Resiko ini terjadi apabila pihak Manajer Investasi membeli obligasi yang emitennya mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak
mampu membayar bunga atau pokok obligasi. Untuk menghindari kejadian atau resiko default seperti ini, pihak Manajer Investasi harus melakukan seleksi peringkat / rating obligasi yang layak dijadikan portofolio investasi reksadana mereka”.(Rahardjo 2004, pp.34-41)