FAKTOR PENGHAMBAT PENCAPAIAN TARGET PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN SEKTOR
PERKOTAAN (PBB-P2) DI KABUPATEN DELI SERDANG
Disusun Oleh :
LASINDAH NADYA SUHARNI ARITONANG 172600061
Untuk memenuhi Salah satu syarat Menyelesaikan Studi Pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
PROGRAM STUDI DIPLOMA III ADMINISTRASI PERPAJAKAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur atas Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Berkat Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini dengan tepat waktu.Laporan Tugas Akhir ini ditulis sebagai syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.Adapun Judul Laporan Tugas Akhir yang penulis ambil ialah “ FAKTOR PENGHAMBAT PENCAPAIAN TARGET PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) DI KABUPATEN DELI SERDANG”.
Dalam penulisan Laporan Tugas akhir ini, penulis berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan sumber informasi terkait judul penulis. Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian skripsi ini dan secara khusus pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Muriyanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
2. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyusun dan menyelesaikan Tugas Akhir sampai akhir ini.
3. Bapak Drs. Kariono, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Universitas Sumatera Utara.
4. Kepada Seluruh staf Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang yang telah bersedia membantu dan meluangkan waktunya untuk memberikan data-data serta informasi yang diperlukan dalam menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
5. Kepada kedua Orang Tua saya yang tercinta, yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan dan motivasi, mendidik serta tidak pernah putus
mendoakan saya agar bisa menjadi kebangaan Keluarga, Bangsa dan Negara.
6. Kepada Teman-Teman Pejuang TA yakni Almawiya Sinta Tanjung, Musjayanti dan Viola Fitri atas kebersamaan selama 3 tahun dan mendukung penuh semangat dalam masa perkuliahan hingga menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
7. Kepada Teman-teman Seperjuangan Kelas TAX B 2017 yang telah membantu dan memberikan semangat dalam masa perkuliahan
Penulis menyadari bahwa pada penulisan Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna, maka dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun agar kemudia penulis dapat memperbaiki Laporan Tugas Akhir ini dengan baik serta penulis berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan terutama bagi penulis.
Medan, 29 Agustus 2020 Penulis
Lasindah Nadya Suharni Aritonang
ABSTRAK
FAKTOR PENGHAMBAT PENCAPAIAN TARGET PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN
PERKOTAAN (PBB-P2) DI KABUPATEN DELI SERDANG.
Lasindah Nadya Suharni Aritonang,172600061 Progran Studi Administrasi Perpajakan Pembimbing Drs.Rasudyn Ginting, M.Si
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara
PBB-P2 dikabupaten Deli Serdang merupakan sumber penerimaan yang berasal dari pajak yang mampu untuk meningkatkan pembangunan Kabupaten Deli Serdang akan tetapi PBB-P2 tersebut mengalami Hambatan penerimaan yakni tidak mencapai Target yang ditetapkan padahal penerimaan PBB-P2 terus mengalami peningkatan selama 3 tahun berturut-berturut.
Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui faktor penghambat pencapaian target penerimaan PBB-P2 di kabupaten deli serdang serta bagaiamana upaya dan strategi yang dilakukan Bapenda Kab. Deli Serdang dalam meminimalisir hambatan-hambatan yang terjadi. Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti ialah metode wawancara langsung terhadap Pegawai Bapenda kabupaten Deli Serdang khususnya dibidang Pajak Bumi dan Bangunan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Realisasi penerimaan PBB-P2 dikabupaten Deli Serdang terus meningkat setiap tahunnya akan tetapi Selama 3 tahun berturut-turut tersebut penerimaan PBB-P2 di kabupaten Deli Serdang tidak mencapai Target penerimaan PBB-P2 yang telah ditetapkan. Dalam hal ini berarti adanya faktor penghambat pencapaian target penerimaan PBB-P2 tersebut. Dalam penelitian ini penulis mendeskripsikan 2 kategori faktor penghambat yakni faktor penghambat internal dan faktor penghambat eksternal.
Kata Kunci : Faktor Penghambat Penerimaan, Target dan Realisasi, Pajak Bumi dan Bangunan.
ABSTRACT.
OBSTACLE FACTORS FOR THE ACHIEVEMENT OF TAX REVENUE TARGETS OF THE LAND AND BUILDING TAX FOR THE RURAL AND
URBAN SECTORS (PBB-P2) IN DELI SERDANG DISTRICT.
Lasindah Nadya Suharni Aritonang, 172600061 Study Program Of Tax Administration
Adviser Drs. Rasudyn Ginting, M.Si
Faculty of Social Science and Political Science , University Of North Sumatra
PBB-P2 in Deli Serdang Regency is a source of revenue originating from taxes that are able to increase the development of Deli Serdang Regency, but PBB-P2 is experiencing revenue constraints, namely it does not reach the set target even though PBB-P2 revenue continues to increase for 3 consecutive years The purpose of this study was to determine what are the inhibiting factors for receiving PBB-P2 target in Deli Serdang district and how the efforts and strategies undertaken by the Regional Revenue Agency in minimizing the obstacles that occur. The data research method used by researchers was direct interviews with employees of the Deli Serdang Regency Regional Revenue Agency, especially in the field of land and building tax.
The results showed that the realization of PBB-P2 revenue in Deli Serdang Regency continued to increase every year, but for 3 consecutive years the PBB-P2 revenue in Deli Serdang district did not reach the target PBB-P2 that had been set. This means that there is an inhibiting factor for the acceptance of the PBB-P2 revenue target. In this study, the authors describe 2 categories of inhibiting factors, namely internal inhibiting factors and external inhibiting factors.
Keywords: Reception Inhibiting Factors, Target and Realization, Land and Building Tax
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS ... iv
HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB-I: PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6
1.4 Uraian Teoritis ... 7
1.4.1 Pengertian pajak ... 8
1.4.2 Jenis pajak berdasarkan Lembaga pemungutnya ... 9
1.4.3 Pengertian Pajak Daerah ... 10
1.4.4 Asas pemungutan pajak Daerah ... 11
1.4.5 Pengertian PBB-P2 ... 12
1.4.6 Objek dan subjek PBB-P2 ... 12
1.4.7 Dasar pengenaan PBB-P2 ... 15
1.4.8 Tarif dan Cara Perhitungan PBB-P2 ... 16
1.4.9 Istilah surat-surat PBB-P2 ... 17
1.4.10 Pengertian mengenai Faktor Penghambat ... 18
1.5 Metode Penelitian ... 20
1.5.2 Jenis Penelitian ... 20
1.5.3 Sumber Data ... 21
1.5.4 Informan Penelitian ... 23
1.5.5 Metode Pembahasan... 23
1.6 Sistematika Penulisan ... 24
1.6.1 Bab-I: Pendahuluan ... 24
1.6.2 Bab-II: Gambaran Umum Objek Penelitian ... 25
1.6.3 Bab-III: Hasil Penelitian ... 25
1.6.4 Bab-IV: Pembahasan ... 25
1.6.5 Bab-V : Penutup ... 25
BAB-II: GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN ... 26
2.1 Latar belakang Bapenda Kab. Deli Serdang ... 26
2.2 Visi dan Misi Bapenda Kab. Deli Serdang ... .27
2.3 Program Kerja Bapenda Kab. Deli Serdang ... 29
2.4 Struktur Organisasi Bapenda Kab. Deli Serdang ... 30
2.5 Tugas dan Fungsi Pokok Organisasi Bapenda ... 31
2.6 Kepegawaian Bapenda Kab. Deli Serdang ... 37
2.7 Unit Pelaksana Terpadu (UPT) Bapenda Kab. Deli Serdang .... 39
2.8 Gambaran Umum PBB-P2 di Kab. Deli Serdang ... 41
BAB-III : HASIL PENELITIAN ... 42
3.1 Gambaran penerimaan PBB-P2 di Kab. Deli Serdang ... 42
3.2 Data Target dan Realisasi PBB-P2 di Kab. Deli Serdang ... 43
3.3 Data terkait faktor penghambat PBB-P2 ... 44
3.4 Hasil Wawancara ... 45
BAB-IV : PEMBAHASAN ... 50
4.1 Analisis Target dan Realisasi PBB-P2 ... 50
4.2 Analisis Faktor Penghambat tercapainya target PBB-P2 ... 51
4.3 Analisis Strategi yang dilakukan Bapenda Kab. Deli Serdang ... 59
BAB-V : SIMPULAN DAN SARAN ... 61
5.1 Simpulan ... 61
5.2 Saran ... 63
A. Daftar Pustaka ... 64
B. Lampiran ... 65
DAFTAR TABEL
Tabel 1.0 Realisasi dan Target Penerimaan PBB-P2...3
Tabel 2.1 Jumlah Pegawai Bapenda Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...15
Tabel 2.2 Jumlah Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang...16
Tabel 2.3 Susunan Golongan pegawai bapenda Kab. Deli Serdang...16
Tabel 2.4 Jumlah SPPT PBB Di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017-2019....20
Tabel 3.1 Penerimaan PBB-P2 dikabupaten Deli Serdang…...……46
Tabel 3.2 Target dan Realisasi Penerimaan PBB-P2………...…………47
Tabel 3.3 Perbandingan Realisasi dan target Pajak Daerah Kab.Deli Serdang..48
DAFTAR GAMBAR
E. Struktur Organisasi Bapenda Kab. Deli Serdang...30
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.1 Surat pengajuan judul Akhir ... 66
Lampiran 1.2 Surat Penugasan Pembimbing ... 67
Lampiran 1.3 Surat Undangan Seminar Proposal ... 68
Lampiran 1.4 Berita Acara Seminar Proposal ... 69
Lampiran 1.5 Surat Izin Penelitian ... 70
Lampiran 1.6 Surat Selesai Penelitian dari Instansi... 71
Lampiran 1.7 Surat Undangan Meja Hijau ... 72
Lampiran 1.8 Kartu Kendali Bimbingan ... 73
Lampiran 1.9 Data Penelitian Lapangan ... 74
1.1 Latar Belakang
Diberlakukannya Otonomi daerah dimana pemerintah daerah baik dari tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota memiliki hak dan kewajiban untuk mengurus rumah tangga daerahnya sendiri tanpa ikut campur tangan dari pemerintah pusat dalam mengelola sumber daya yang berada di daerah tersebut.
Ketika telah diberlakukannya otonomi daerah, pemerintah daerah dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat dalam kegiatan yang berkaitan dalam pencapaian daerah melakukan pembangunan daerahnya. Setiap daerah diberikan kewenangan membuat kebijakan daerahnya sendiri untuk mengatur rumah tangga dan pemerintahannya sendiri.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah secara spesifik pemerintah menyelenggarakan otonomi daerah harus memegang prinsip otonomi daerah yakni menjalankan otonomi seluas-luasnya, bertanggung jawab dan nyata dimana maksud dari prinsip ini ialah pemerintah diberikan kewenangan secara nyata dengan potensi untuk hidup berkembang sesuai potensi daerahnya serta otonomi tersebut dalam penyelenggaraannya, serta pemerintah memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengelola sumber daerahnya dan pemerintah harus bertanggung jawab penuh memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Keberhasilan daerah dalam mencapai kesejahteraan sosial dapat terlihat ketika daerah tersebut dikatakan mandiri secara finansial. Maksud dari
mandiri secara finansial ialah pemerintah daerah tersebut mampu menggerakkan daerahnya kearah yang lebih maju tanpa bergantung kepada pemerintahan pusat serta mampu membangun daerahnya sendiri dalam pembangunan daerah. Untuk mewujudkan kemandirian tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan nasional sehingga harus adanya sumber penerimaan daerah yang bisa mencukupi kebutuhan pembiayaan pembangunan daerahnya.
Pembiayaan pembangunan daerah tersebut berasal dari pendapatan Asli Daerahyang fungsinya sebagai komponen yang cukup penting untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemampuan daerah dalam menyelenggarakan otonomi secara nyata. Setiap daerah harus mengupayakan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya untuk membiayai keperluan rumah tangganya sendiri.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah ini sebagai peningkatan kualitas pelayanan publik yang artinya dapat menciptakan tata Pemerintahan yang baik bagi kepentingan masyarakat daerahnya secara umum. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pendapatan asli daerah tentunya perlu adanya sumber penerimaan daerah. Berbagai macam sumber pendapatan asli daerah yakni :
1. pajak daerah 2. retribusi daerah
3. hasil kekayaan yang dipisahkan 4. Serta lain-lain PAD yang sah.
Dari berbagai Sumber Pendapatan Asli Daerah tersebut, Sumber Pendapatan Daerah yang dapat diandalkan adalah dari sektor Pajak Daerah. Dalam UU No. 28 tahun 2009 memberikan penjelasan bahwa setiap pemerintah daerah dapat
memungut pajak daerah sesuai dengan kebijakan pemerintah itu sendiri dalam mengelola sumber daya didaerahnya. Kebijakan Pemerintah dalam mengelola penerimaan daerah khususnya sektor pajak akan mempengaruhi Anggaran Pendapatan Daerah. Dalam hal ini pajak daerah terbagi atas 2 jenis pajak daerah yakni pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten/kota. Pajak daerah provinsi yakni pajak rokok, pajak kendaraan, bea balik nama kendaraan, serta pajak pemanfaatan air permukaan sedangkan pajak kabupaten/kota yakni pajak reklame, pajak hiburan, pajak hotel, pajak restoran, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak penerangan jalan, pajak sarang burung walet, pajak parkir, pajak bumi dan bangunan sektor perdesaan dan perkotaan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.
Salah satu yang termasuk Pajak daerah di Kabupaten Deli Serdang yang memberikan Penerimaan cukup potensial ialah Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan dan perkotaan (PBB-P2).Saat ini pajak bumi dan bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan sudah sepenuhnya menjadi sumber pajak daerah kabupaten/ kota yang jumlah penerimaan PBB-P2 langsung ke Anggaran pendapatan dan belanja Daerah (APBD) serta kewenangan dalam mengelola PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan sepenuhnya berada ditangan pemerintah daerah itu sendiri. PBB sektorPerdesaan dan sektor Perkotaan (PBB-P2) sendiri merupakan pajak terhadap tanah dan bangunan yang dikuasai atau dimiliki oleh subjek pajak baik itu orang pribadi maupun badan di kawasan sektor baik itu Perdesaan dan sektor Perkotaan. Karena PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan merupakan pajak yang bersifat objektif maka pembayaran pajak yang
dilakukan oleh wajib pajak sangat mempengaruhi penerimaan PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang.
Tabel 1 Realisasi dan Target Penerimaan PBB-P2 Kab. Deli Serdang Tahun 2017-2019.
Tahun Realisasi Target Persentase(%)
2017 141.364.788.988 237,500.000.000 59,52 2018 154.756.525.944 252,940,000.000 61,18 2019 197.077.590.732 327.864.000.000 60,11 Sumber : Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang 2020
Dalam Tabel 1 diperoleh data Target dan Realisasi penerimaan PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan dari tahun 2017-2019. Data Realisasi penerimaan Pajak Bumi Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan (PBB-P2) tahun 2017 sebesar 141,3 Milyar dengan target penerimaannya sebesar 237,5 Milyar dari persentase realisasi dan target tersebut sebesar 59,52% sedangkan tahun 2018 meningkat dari tahun sebelumnya dengan Realisasi penerimaan PBB-P2 sebesar 154,7 Milyar dari yang ditargetkan sebesar 252,9 Milyar dengan persentase sebesar 61,18% dan data terakhir pada tahun 2019, Realisasi penerimaan PBB-P2 Mengalami peningkatan dari tahun 2018 dan 2017 sebesar 197 Milyar dengan Target penerimaan PBB-P2 sebesar 327,8 Milyar dan persentase penerimaannya sebesar 60,11% .
Dari data diatas terlihat bahwa target realisasi penerimaan PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang mengalami persentase Naik turun dalam penerimaannya. Apalagi Jika kita melihat realisasi penerimaan PBB Sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan tersebutmasih kategori belum
mencapai target yang ditetapkan setiap tahunnya. Padahal penerimaan PBB sektorPerdesaandan Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang mengalami peningkatan setiap tahunnya yang diharapkan dapat menyumbangkan sebagai sumber penerimaan Kabupaten Deli Serdang ternyata jauh dari harapan.
Fenomena penerimaan PBB-P2 yang terjadi sampai data 2019 masih tetap dalam persentase dibawah 65%. Rendahnya persentase target dan realisasi penerimaan tersebut merupakan masalah serius yang tidak terjadi dengan sendirinya. Ketika penerimaan PBB sektor perdesaan dan Perkotaan tidak mencapai target yang ditetapkan, Hal ini berarti ada faktor yang menjadi penghambat dalam penerimaannya. Faktor penghambat tersebut bisa disebabkan oleh 2 faktor yakni dari faktor yang berasal dari internal dan faktor yang berasal dari eksternal.
Sehingga, penelitian ini dilakukan karena penerimaan Pajak Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang yang setiap tahunnya tidak mencapai target yang ditetapkan, terjadinya hambatan dari faktor penghambat internal dan eksternal tersebut memicu rendahnya penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan (PBB-P2). Berbagai faktor hambatan bisa mempengaruhi rendahnya penerimaan dan hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah Deli Serdang untuk mengetahui faktor penghambat yang mempengaruhi Pencapaian target penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaantersebutserta melakukan upaya untuk meminimalisir hambatan tersebut. Dari rendahnya persentase target dan realisasi penerimaan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Tugas Akhir khususnya di Kabupaten Deli Serdang dengan
judul “ Faktor Penghambat Pencapaian Target Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Deli Serdang”
1.2 Rumusan Masalah.
Dari latar belakang masalah diatas, maka peneliti melakukan perumusan masalah menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apa saja faktor-faktor yang menghambat tercapainya target penerimaan PBB-P2 di Kabupaten Deli Serdang?.
2. Apa saja strategi yang dilakukan Bapenda untuk mencapai target penerimaan PBB-P2 di Kabupaten Deli Serdang.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1.3.1 Tujuan Penelitian.
Adapun Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
a) Untuk mengetahui Faktor-faktor penghambat yang menyebabkan rendahnya Penerimaan PBB-P2 di kabupaten Deli Serdang.
b) Untuk mengetahui upaya yang dilakukan Bapenda dalam menghadapi Hambatan penerimaan PBB-P2 di Kabupaten Deli Serdang.
1.3.2 Manfaat Penelitian.
Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
a. Sebagai latihan bagi penulis untuk menganalisis masalah tentang Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan perkotaan (PBB-P2).
b. Untuk menambah referensi kepustakaan khususnya tentang Pajak bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan perkotaan
c. Untuk Mengetahui tentang penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Deli Serdang.
d. Hasil penelitian ini diharap dapat menjadi kontribusi dan masukan bagi pelaksanaan penelitian dibidang yang sama.
e. Sebagai bahan masukan yang kemudian sebagai bahan evaluasi pajak bumi dan bangunan dengan yang dilakukan selama ini oleh Badan pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang.
f. Untuk sarana menjalin hubungan yang positif antara Badan Pendapatan daerah Kabupaten Deli Serdang dengan Lembaga pendidikan program Diploma III Administrasi perpajakan.
1.4 Uraian Teoritis.
1.4.1 Pengertian pajak.
Adapun yang termasuk dalam arti Pajak menurut Para ahli yakni sebagai berikut:
a. Pengertian pajak yang menurut pendapat dariP.J.A Adriani merupakan iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk serta berguna untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan(Mardiasmo;2018)
b. Pengertian pajak yang terdapat dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak merupakan kontribusi wajib kepada Negara yang terhutang oleh orang
pribadi atau badan yang sifatnya memaksa dengan ketentuan undang- undangserta tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar besarnya kemakmuran rakyat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang sifatnya dapat dipaksakan serta tidak mendapat jasa timbal balik secara langsung yang dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum ( Mardiasmo;2018)
Adapun 3 Sistem Pemungutan Pajak yang berlaku Di Indonesia yaitu sebagai berikut:
a. Official Assesment System
Official Assesment System ialah Sistem pemungutan dimana fiskus/
petugas pajak yang mempunyai wewenang untuk menghitung, melapor serta menentukan besarnya pajak terutang dan mengeluarkan surat ketetapan pajak dan wajib pajak bersifat pasif dalam perhitungan pajak mereka.
b. With Holding System.
WithHolding System ialah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pihak ketiga, selain pemerintah dan wajib pajak untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
c. Self Assesment System.
Self Assesment System ialah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang, sehingga wajib pajak mempunyai peran
aktif mulai dari menghitung, menyetor serta melaporkan pajak terutangnya sendiri.
1.4.2 Jenis Pajak Berdasarkan Lembaga Pemungutnya.
Dalam hal ini, ada 2 jenis pajak yang dipungut berdasarkan Lembaga Pemungutannya yakni sebagai berikut :
a. Pajak Negara ialah Pajak atas pungutannya yang bersumber dan dikelola oleh negara serta pungutannya dipungut oleh pemerintah pusat. Contoh Pajak Negara : Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM).
b. Pajak Daerah ialah pajak atas pungutan yang bersumber dari daerah itu sendiri dan dapat dipunggut oleh pemerintah daerah baik dari tingkat provinsi maupun dari tingkat kabupaten atau kota yang memiliki kontribusi terhadap daerah itu sendiri.
Adapun 2 jenis pajak daerah berdasarkan lembaga pemugutan yakni pajak daerah provinsi dan pajak daerah kabupaten atau kota yakni sebagai berikut :
a. Pajak Daerah provinsi memiliki 5 pajak daerah yakni: pajak kendaraan bermotor (PKB),Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BNKB),Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor(PBBKB), Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, Pajak Rokok.
b. Pajak Daerah Kabupaten atau Kota memiliki 11 pajak daerah yakni : pajak Hotel, pajak Restoran, pajak Reklame, Pajak Hiburan, pajak penerangan jalan (PPJ), Pajak Parkir, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB), Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet (PSBW),Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
1.4.3 Pengertian Pajak Daerah.
Adapun 2 Pengertian Pajak Daerah menurut beberapa para ahli yakni:
a) Pengertian Pajak Daerah Menurut Soelarno adalah pajak asli daerah maupun pajak negara yang diserahkan kepada daerah, yang pemungutannya diselenggarakan oleh daerah di dalam wilayah kekuasaannya, yang gunanya sebagai pembiayaan dan pendanaan keperluan daerah yang menyangkut tugas dan wewenang pemerintah dalam mengurus rumah tangganya sendiri yang telah diatur dalam perundang-undangan perpajakan di Indonesia (Anggoro, 2017) b) Pengertian Pajak Daerah Menurut Boediono mengemukakan bahwa
pajak daerah sebagai hasil tinjauan dari segi siapakah yang berwenang memungut pajak, jenis-jenis pajak dimaksud digolongkan sebagai pajak negara yang juga disebut pajak pusat, sebaliknya jenis-jenis pajak pemungutannya merupakan hak pemerintah daerah disebut pajak daerah (Anggoro,2017).
Sehingga kesimpulan dari pengertian pajak daerah adalah pemungutan pajak oleh pemerintah daerah kepada masyarakat pada dasarnya ditujukan untuk membiayai penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan secara berdaya guna dan berhasil dalam usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat (Anggoro;2017).
Tidak semua pajak bisa dikategorik,an sebagai pajak daerah, berikut merupakan 4 ciri-ciri yang termasuk dalam kategori Pajak daerah yakni sebagai berikut :
a. Pajak yang berasal asli dari daerah itu sendiri atau pajak pusat yang diserahkan ke daerah sebagai pajak daerah.
b. Pajak yang dipungut dan dikelola diwilayah administrasi daerah itu sendiri.
c. Pajak daerah yang kegunaannya untuk membiayai urusan atau keperluan pembangunan dan pemerintah daerah.
d. Pajak daerah yang dipungut berdasarkan ketentuan peraturan daerah dan perundangan-undangan.
1.4.4 Asas pemungutan pajak Daerah.
Setiap daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota harus memungut pajak berdasarkan asas pemungutan pajak daerah yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Berikut merupakan asas pemungutan pajak daerah yakni sebagai berikut:
a) Asas atas Dasar Kebangsaan.
Asas kebangsaan yakni pajak yang dipungut terhadap wajib pajak atau badan yang bertempat tinggal diindonesia sesuai ketentuan umum perpajakan.
b) Asas berdasarkan atas Tempat Tinggal.
Asas tempat tinggal yakni pajak yang dipungut berdasarkan domisili atau tempat tinggal wajib pajak atau badan itu sendiri.
c) Asas berdasarkan atas Sumber Penghasilan.
Asas sumber penghasilan yakni pajak yang dipungut atas dasar sumber atau penghasilan wajib pajak atau badan berada.
1.4.5 Pengertian PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan.
Menurut Perda Kabupaten Deli Serdang No. 02 tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan, Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Sektor Perkotaan (PBB-P2) ialah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan untuk sektor perdesaan dan perkotaan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.
1.4.6 Objek dan subjek PBB-P2
a) Objek yang terdapat dalam PBB-P2
Objek PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan merupakan bumi maupun bangunan yang berdasarkan azas pemanfaatan seperti dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambanganyang dibayarkan setiap tahunnya(http://amirhidayatulloh.act.uad.ac.id/pajak-bumi-dan-bangunan- perkotaan-dan-pedesaan-pbb-p2-di-yogyakarta/).
Adapun yang dimaksud objek Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yakni sebagai berikut:
1. Untuk Objek pajak bumi dan Bangunan secara umum ialah bumi dan Bangunan.
2. Contoh yang termasuk objek Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan ialah rumah tempat tinggal, sawah, ladang, tanah, perkarangan, kebun, Empang tradisional.
3. Contoh yang termasuk objek Pajak Bumi dan bangunan sektor perkotaan ialah rumah tempat tinggal, tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, pagar mewah, dermaga, tempat olahraga, taman mewah, jalan tol, kolam renang serta fasilitas yang memberi manfaat.
1.4.7 Objek yang tidak dikenakan pada PBB-P2
Adapun Objek yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai berikut:
a) Digunakan sebagai melayani kepentingan umum dan tidak untuk mencari keuntungan, antara lain :
1. Dibidang ibadah, contoh masjid, gereja, wihara.
2. Dibidang Kesehatan, contoh rumah sakit, puskesmas.
3. Dibidang pendidikan, contoh madrasah, pesantren.
4. Dibidang sosial, contoh panti asuhan.
5. Dibidang kebudayaan nasional, contoh museum, candi.
b) Tempat pemakaman/wakaf (kuburan), peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu.
c) Tempat-tempat satwa alam seperti hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.
d) Tempat yang dipergunakan oleh perwakilan diplomatik, konsultan berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Tempat objek pajak untuk
badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh menteri keuangan.
1.4.8 Subjek PBB-P2.
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang No. 2 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan yang menjadi subjek PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan ialah orang pribadi dan badan/ bentuk usaha yang mempunyai hak atas bumi atau memperoleh manfaat dari bumi atau memilikinya, menguasai dan atau memperoleh manfaat dari bangunan yang didirikan.
1.4.9 Wajib Pajak PBB-P2
Dalam Perda Kabupaten Deli Serdang No. 02 tahun 2011 Pengertian Wajib Pajak PBB sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayaran pajak, pemotongan pajak dan pemungutan pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perpajakan Daerah.
1.4.10 Dasar pengenaan PBB-P2
1.4.10.1 Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Pengertian Nilai Jual Objek Pajak MenurutUndang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang tata cara penetapan Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan pajak Bumi dan Bangunan telah mendefinisikan sebagai harga rata- rata yang diperoleh dari transaksi jual-beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terjadi transaksi jual-beli, maka NJOP ditentukan dari perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
Penetapan Besarnya NJOP dilakukan selama 3 tahun sekali kecuali untuk
objek pajak tertentu dapat di tentukan setiap tahun sesuai perkembangan wilayahnya.
Dalam penentuan besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tanah dan bangunan ditetapkan pada tanggal 1 Januari tahun pajak saat melakukan proses penilaian tanah maupun bangunan. Untuk menilai tanah maupun bangunan tersebut dilakukan sebagai Dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan (PBB-P2) dengan tujuan menentukan NJOP tanah atau bangunan/ M2.
1.4.10.2 Nilai Jual objek Tidak Kena Pajak (NJOPTKP).
Berdasarkan UU No.28 Tahun 2009 Pasal 77 ayat (4) dan pasal 87 ayat (4) dikatakan bahwa Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) adalah batas tertinggi Nilai Jual Objek Pajak atas bumi dan bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP ialah Rp 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) untuk setiap wajib pajak. Pada setiap wajib pajak mendapatkan pengurangan Nilai Jual Objek Tidak Kena Pajak PBB-P2 sebanyak 1 kali untuk setiap tahun pajak.
1.4.11 Tarif dan Cara Perhitungan PBB-P2 1.4.11.1 Tarif pengenaan PBB-P2.
Adapun Tarif pengenaan pajak untuk PBB-P2 adalah sebagai berikut:
a. Tarif PBB-P2 tertinggi ialah sebesar 0,3%
b. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dibawah Rp 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah) tarifnya sebesar 0,1 %
c. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) diatas Rp 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah) tarifnya sebesar Rp 0,2%
1.4.11.2 Cara perhitungan PBB-P2 yakni sebagai berikut :
Untuk mengetahui besarnya PBB-P2 yang terhutang yakni dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Dasar pengenaan pajak tersebut. Dalam dasar pengenaan pajak terdiri dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang dikurang dengan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP).
Rumus PBB-P2 = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Tarif pajak x ( NJOP-NJOPTKP)
1.4.12 Istilah Surat surat PBB-P2.
Adapun Istilah-Istilah Terkait Surat Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan yang terdapat dalam Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang No. 2 Tahun 2011 yakni sebagai berikut:
a) Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB) yakni Surat yang ditujukan untuk memberitahukan kepada wajib pajak tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang dalam 1 Tahun Pajak dan biasanya dibarengi dengan Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
b) Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) yakni Surat sebagai bukti setoran pembayaran wajib Pajak ke kas daerah atau tempat pembayaran pajak yang telah ditunjuk oleh pemerintah daerah.
c) Surat Pemberitahuan Objek Pajak Bumi dan Bangunan (SPOP PBB) yakni surat sebagai dasar kepada wajib pajak untuk melaporkan subjek dan objek-objek PBB-P2 atas kepemilikan,pemanfaatan maupun penguasaan
Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
d) Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPPD) yakni Surat yang digunakan wajib pajak untuk melaporkan perhitungan/ pembayaran, objek atau bukan objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta harta dan kewajiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan masing-masing daerah.
1.4.13 Faktor Penghambat Secara Teoritis.
1.4.13.1 Pengertian Faktor Penghambat.
Pengertian faktor penghambat terdiri dari 2 suku kata yakni faktor dan penghambat. Faktor penghambat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai berikut:
1) Pengertian Faktor terdiri atas 2 arti yakni sebagai berikut:
a) Faktor merupakan kata benda yang berhubungan tentang hal dalam keadaan atau peristiwa yang ikut menyebabkan serta mempengaruhi terjadinya sesuatu.
b) Faktor merupakan bilangan atau bangun dalam istilah matematika untuk memberikan pengertian bagian hasil perbanyakan bilangan.
2) Pengertian Penghambat ialah halangan atau rintangan yang sifatnya menghalangi atau melemahkan suatu keinginan yang hendak dicapai.
Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian Faktor penghambat adalah suatu keadaan yang sifatnya menghalangi atau membuat suatu hal menjadi tidak lancar untuk meraih hal yang ingin, dicapai.
1.4.13.2 Kategori Faktor Penghambat Penerimaan PBB-P2
Adapun faktor-faktor yang menjadi kategori penghambat ialah sebagai berikut:
1) Faktor Penghambat Internal.
Faktor Penghambat Internal adalah faktor yang timbul atau muncul disebabkan dan berasal dari bagian inti atau dalam Organisasi/ Sumber Daya Manusia yang memberikan pengaruh atau dampak terhadap hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai.
2) Faktor Penghambat Eksternal.
Faktor Penghambat Eksternal adalah faktor yang timbul atau disebabkan dari bagian luar organisasi yang memberikan pengaruh atau dampak terhada hambatan- hambatan dalam mencapai tujuan yang dicapai 1.4.13.3 Perlawanan atau penghindaran PBB-P2
Perlawanan atau penghindaran pajak merupakan hambatan-hambatan yang bisa mempengaruhi penerimaan PBB sektor perdesaan dan sektor Perkotaan.
Berikut yang termasuk dalam kategori perlawanan/ penghindaran pajak yakni sebagai berikut :
1) Perlawanan/penghindaran pajak aktif.
Perlawanan pajak aktif merupakan usaha atau perbuatan yang menghambat penerimaan pajak termasuk PBB sektor perdesaan dan sektor Perkotaan yang berasal dari inisiatif wajib pajak secara langsung ditujukan terhadap fiskus dan bertujuan untuk menghindari pajak. Beberapa contoh yang termasuk dalam perlawanan pajak aktif yakni : penghindaran pajak, pengelakkan pajak serta melalaikan pajak.
2) Perlawanan/penghindaran pajak pasif.
Perlawanan/ penghindaran pajak pasif adalah Usaha atau perbuatan yang menghambat penerimaan pajak bukan dari pajak itu sendiri melainkan karena keadaan yang terjadi pada wajib pajak itu sendiri. Beberapa contoh yang termasuk dalam perlawanan pajak pasif ialah struktur ekonomi, perkembangan intelektual dan moral penduduk serta sistem pemungutan pajak itu sendiri.
1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Jenis Penelitian.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah Jenis penelitian Deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Maksud dari Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatifyakni peneliti mendeskripsikan peristiwa atau kejadian dalam penelitian dengan pendekatan kata-kata atau kalimat dan lebih menekankan kepada makna, penalaran, definisi, situasi tertentu (dalam konteks kejadian tersebut). Pendekatan ini lebih mementingkan proses daripada hasil akhir karena itu Urutan yang terdapat dalam kegiatan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pada saat melakukan penelitian.
1.5.2 Data.
1.5.2.1 Jenis Data.
Berikut 2 Jenis data yang digunakan dalam peneliti dalam memperoleh data yakni sebagai berikut:
a) Data Primer.
Data Primer ialah data yang menjadi utama dalam penelitian yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang
melakukan penelitian atau yang bersangkutan/ memerlukannya (Hasan;2018). Peneliti menggunakan jenis data primer sebagai data utama karena informasi atau yang diperlukan dapat lebih jelas dan akurat yang diperoleh langsung dari informan.
b) Data Sekunder.
Data sekunder tersebut ialah jenis data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui media perantara dari data yang sudah ada seperti sumber-sumber data pustaka,dokumentasi maupun literatur lain yang ada berhubungan dengan Judul Laporan Tugas Akhir.
1.5.3 Sumber Data
Adapun sumber data yang dapat diperoleh peneliti yakni sebagai berikut:
1. Website Statistik Resmi, dalam proses pengambilan data Tugas Akhir, peneliti mendapatkan data yang akurat melalui website resmi dari suatu instansi daerah itu sendiri. adapun data yang diambil peneliti di website resmi instansi untuk melakukan penelitiannya ialah tingkat pencapaian Pajak Bumi Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB- P2), realisasi pendapatan asli daerah beserta target yang ingin dicapai dalam daerah tersebut, luas wilayah daerah.
2. Studi Kepustakaan, dimana peneliti mendapatkan sumber melalui studi Kepustakaan ini yang berarti Peneliti dalam proses pengambilan data melalui buku-buku, majalah-majalah, koran, dan seterusnya yang sudah ada.
1.5.4 Metode pengumpulan data.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
1) Wawancara.
Wawancara ialah kegiatan tanya Jawab secara langsung kepada informan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang hendak dicari oleh peneliti. Dalam melakukan penelitian, peneliti melakukan metode pengumpulan data yakni dengan cara mewawancarai informan secara langsung untuk mengetahui informasi-informasi terkait penelitian.
2) Studi dokumentasi.
Agar diperolehnya data yang diinginkan, penulis menggunakan metode Dokumentasi. Metode pengumpulan data dengan mengamati, membaca, dan menulis data-data dari literatur yang berkaitan dengan topik penulisan. Dimana metode dokumentasi ialah data-data yang diambil dan dibutuhkan penulis dapat diperoleh dari sumber pustaka atau dokumen resmi Badan Pendapatan Daerah. Data yang diperoleh dianalisis dan disimpulkan sesuai dengan tujuan dari Laporan Tugas Akhir.
peneliti mengumpulkan data dokumen tersebut bersifat resmi serta bisa berbentuk tulisan ataupun gambar.
1.5.5 Alat pengumpulan Data.
Alat pengumpulan data yakni alat yang dibutuhkan dalam penelitian untuk mengumpulkan data terkait dengan penelitian. Adapun alat pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data ialah panduan pertanyaan- pertanyaan yang akan diajukan kepada informan secara langsung. Pertanyaan
tersebut disusun secara sistematis, jelas dan terarah sesuai dengan pertanyaan terkait penelitian.
1.5.6 Informan Penelitian.
Informan penelitian ialah orang atau pihak yang memiliki dan memberikan penjelasan informasi yang diperlukan terkait penelitian. Dalam penelitian ini dibutuhkannya informan Utama dari Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) di Kabupaten Deli Serdang yakni KepalaBidang(Kabid) Pajak Bumi dan Bangunan serta staf pengelola PBB Untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan Tingkat Pencapaian penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan sektor Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang.
1.5.7 Metode pembahasan.
Metode pembahasan yang dilakukan oleh peneliti yakni metode deskriptif.
Metode Deskriptif merupakan metode pembahasan yang memberikan gambaran tentang fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian berdasarkan fakta tetapi juga menjelaskan hubungan, menguji kebenarannya serta membuat prediksi untuk memperoleh makna dari suatu masalah yang ingin dipecahkan.Dimana dalam metode pembahasan deskriptif dalam penelitian ini, peneliti membahas gambaran tentangapa saja Faktor PenghambatPencapaianTarget Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Sektor Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang.
Adapun yang merupakan ciri-ciri dari metode Pembahasan Deskriptif ialah sebagai berikut:
1) Lebih memfokuskan penyelidikan dalam pemecahan masalah yang dihadapi pada masa sekarang.
2) Memberikan gambaran yang lebih jelas setiap langkah penelitian secara rinci.
3) Data penelitian tersebut disusun serta dijelaskan dengan dianalisis menggunakan teknik analitik.
4) Memberikan penjelasan yang jelas prosedur pengumpulan datanya.
1.6 Sistematika Penulisan.
Adapun sistematika penulisan yang dapat dilakukan oleh peneliti ialah:
1.6.1 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas secara garis besar mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, uraian teoritis, metode penelitian laporan tugas akhir, metode Pembahasan Laporan Tugas Akhir, dan sistematikapenulisan.
1.6.2 BAB II GAMBARAN UMUM BADAN PENDAPATAN DAERAH.
Bab ini menguraikan tentang latar belakang singkat tentang Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA), visi dan misi Bapenda, lokasi Penelitian, Gambar Struktur organisasi serta jumlah pegawai Bapenda selama 3 tahun terakhir.
1.6.3 BAB III HASIL PENELITIAN
Bab ini mendeskripsikan pembahasan secara sistematis tentang data-data yang berkaitan dengan Faktor-faktor Penghambat Pencapaian Target Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan sektor Perkotaanserta hal-hal yang menjadi pokok dari Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan tersebut.
1.6.4 BAB IV PEMBAHASAN.
Bab ini membandingkan penerapan teori yang ada dengan data yang diperoleh selama melakukan penelitian seperti menganalisis faktor-faktor penghambat target pencapaian PBB-P2 serta upaya yang dilakukan pemerintah daerah khususnya Badan Pendapatan daerah dalam menghadapi Hambatan penerimaan PBB-P2 tersebut.
1.6.5 BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan simpulan dari hasil penelitian pada penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan di kabupaten Deli Serdang, saran-saranbagi peneliti berikutnya dan daftar pustaka.
2.1 Latar belakang Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang.
Badan Pendapatan Daerah Kazbupaten Deli Serdang bekerja dan berorientasi mengacu terhadap peraturan pemerintah No. 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara, penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah untuk mengatur dan menyusun Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dalam penyusunannya berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Deli Serdang tahun 2014-2017.
Penyusunan Rencana Strategi (Renstra) harus dibuat terlebih dahulu Rencana Kinerja dan pencapaian Akuntabilitas Instansi Pemerintah sebagai Instrumen pemerintah sebagai langkah pertanggung jawaban, serta perencanaan strategi dalam langkah awal dilakukannya pengukuran kinerja Instansi Pemerintah Daerah.
Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan agar bisa unggul dalam persaingan yang semakin ketat dalam lingkungan organisasi yang terus berubah dengan cepat, sehingga lembaga pemerintah seperti Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang harus terus menerus melakukan perubahan ke arah perbaikan. Perubahan-perubahan tersebut harus konsisten disusun secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan akuntabilitas dan kinerja yang tersusun ke arah pencapaian.
Dalam hal inilah hubungan perencanaan strategis sebagai proses sistematis yang berkelanjutan dari pembuatan keputusan yang beresiko dengan pemanfaatan pengetahuan antisipatif atau responsif sebanyak-banyaknya harus mampu mengorganisasikan secara sistematis dalam usaha pelaksanaan keputusan tersebut dengan mengukur hasilnya secara terorganisasi dan sistematis pula.
Disisi lain, perencanaan strategi (Renstra) Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang ialah mengabungkan hubungan antara keahlian Sumber Daya Manusia (SDM) dengan sumber daya lainnya yang bisa menjawab tuntutan perkembangan lingkungan strategis, baik dari segi nasional maupun secara global serta tetap dalam tatanan sistem manajemen daerah Kabupaten Deli Serdang.
2.2 Visi dan Misi Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA).
Untuk mewujudkan Rencana Strategis pemerintahan daerah, Bapenda memiliki visi, misi serta moto sebagai fondasi atas tujuan dan impian Bapendadalam meningkatkan penerimaan daerah yaitu sebagai berikut:
2.2.1 Visi Bapenda Kabupaten Deli Serdang :
Visi adalah Cita-cita Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Deli Serdang dengan memiliki tujuan masa depan yang membawa organisasi agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif dalam menghadapi perkembangan globalisasi yang sudah ada didepan mata.
Pernyataan Visi ini merupakan suatu gambaran yang menantang keadaan masa depan yang ingin dicapai oleh Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang setelah melalui berbagai tahapan penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA).
Sehingga Visi dari Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang ialah sebagai berikut :
“TERWUJUDNYA LEMBAGA YANG PROFESIONAL, AKUNTABEL DAN TRANSPARAN DALAM MENDUKUNG
PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH”
2.2.2 Misi BapendaKabupaten Deli Serdang sebagai berikut:
Misi merupakan tindakan yang harus dilaksanakan agar cita-cita dan tujuan dari Bapenda dapat menjadi pedoman untuk dapat terlaksana dan berhasil sesuai dengan visi Bapenda yang telah ditetapkan. Adapun Misi dari Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang ialah sebagai berikut:
a) Meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam pelayanan pajak daerah.
b) Meningkatkan kinerja secara akuntabilitas dan transparan dalam pencapaian pendapatan asli daerah yang berbasis teknologi.
c) Secara profesional mengandung makna pengelolaan keuangan harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan selalu mengevaluasi hasil yang dicapai serta terus meningkatkan prestasi kinerja.
d) Akuntabel mengandung makna hasil yang dicapai dapat dipertanggung jawabkan, tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku baik sumber inputnya, prosesnya maupun pemanfaatan outputnya, dan transparansi mengandung makna adanya keterbukaan di dalam pengelolaannya.
Dengan adanya Misi tersebut diharapkan kepada seluruh pegawai Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang ataupun pihak-pihak yang
berkepentingan dapat mengenal dan mengetahui peran dan program serta hasil yang akan dicapai.
2.3 Program Kerja Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang.
Program sebagai kumpulan kegiatan yang subtensidan terpadu yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan seperti yang ditetapkan dalam studinyayang berarti juga bahan program adalah proses penentuan dari berbagai sumber daya yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu rencana kegiatan yangdidasarkan pada perhitungan yang realitas terhadap kemampuan organisasi.
Dengan demikian program terdiri dari kumpulan berbagai sub program sebagaikegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Program - program strategis Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014 – 2019, adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan administrasi perkantoran.
2. Peningkatan sarana dan prasarana aparatur.
3. Peningkatan disiplin aparatur.
4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber daya Aparatur.
5. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan.
6. Program Peningkatan dan pengembangan Pengelolaan keuangan daerah.
7. Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi informasi.
2.4 Struktur Organisasi Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli
Serdang.
Sumber website : Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang
2.5 Tugas dan Fungsi pokok Bapenda Kabupaten Deli Serdang :
Adapun Tugas Pokok dan Fungsi terhadap susunan Organisasi yang berada pada lingkungan Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang berdasarkan peraturan Bupati Deli Serdang No. 2233 Tahun 2016 tentang-
kedudukan, susunan organisasi,tugas dan fungsi serta tata kerja perangkat daerah sebagai berikut:
2.5.1 kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)
Tugas pokok Bapenda ialah Melaksanakan urusan dan tanggung jawab /wewenang pemerintah daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan dibidang Pendapatan Daerah sebagai instansi Badan Pendapatan daerah seperti kesekretariatan, perencanaan dan pengembangan Pendapatan daerah, pajak daerah,pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan Bangunan (BPHTB) dan unit pelaksana teknis sesuai peraturan perundang- undangan yang bertanggung jawab kepada bupati Deli Serdang melalui sekretaris daerah.
Selain melaksanakan Tugas, Bapenda Deli Serdang memiliki fungsi yakni sebagai berikut :
1. Sebagai perumusan kebijakan teknis dibidang Pendapatan Daerah.
2. Sebagai Penyelenggaraan urusan pemerintah dan pelayanan umum dalam bidang pendapatan daerah.
3. Sebagai pembinaan dan pengkoordinasi dalam melaksanakan pengembangan di pendapatan daerah.
4. Sebagai Perumusan, perencanaan, pembinaan, pengkoordinasian dan pengendalian kebijakan teknis Bidang Pajak Daerah.
5. sebagai Perumusan, perencanaan, pembinaan, pengkoodinasian, dan pengendalian kebijakan teknis Bidang Pajak Bumi dan Bangunan.
6. Sebagai Perumusan, perencanaan, pembinaan, pengkoodinasian, dan pengendalian kebijakan teknis Bidang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB) dan dana Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi.
7. Sebagai pengelolaan pengadministrasian umum seperti kesekretariatan, program, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan organisasi dibidang Pendapatan Daerah.
8. Sebagai Perumusan, perencanaan, pembinaan, pengkoodinasian, dan pengendalian kebijakan teknis Unit Pelaksanaan Teknis.
2.5.2 Sekretaris Badan Pendapatan daerah (Bapenda)
Tugas Pokok sekretaris ialah Membantu Kepala Badan dalam melaksanakan perumusan rencana program dan kegiatan, mengkoordinasikan, urusan administrasi umum, kepegawaian, keuangan dan perencanaan program, evaluasi dan pelaporan serta monitoring.
Selain melaksanakan Tugas, sekretaris Bapenda juga memiliki fungsi yakni sebagai berikut:
a) Penyusunan rencana program dan kegiatan kesekretariat
b) Perumusan kebijakan, pedoman, standarisasi, pembinaandan pengendalian administrasi umum, kepegawaian, keuangan serta perencanaan program.
c) Pengkoordinasian penyusunan rencana program dan kegiatan disetiap bidang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
d) Pengelolaan urusaan administrasi umum dan kepegawaian, keuangan, penyusunan program, evaluasi dan pelaporan.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud diatas, sekretaris juga membawahi 3 (tiga) kepala sub bagian yang masing-masing memiliki tugas pokok seperti :
1. Kepala sub bagian Umum.
tugas pokok dari kepala sub bagian umum dan. Kepegawaian Bapenda Deli Serdang ialah membantu sekretaris dalam menyelesaikan administrasi seperti surat menyurat, kearsipan, perlengkapan rumah tangga, kepustakaan, administrasi kepegawaian, pengelolaan inventaris barang dan aset Bapenda.
2. Kepala Sub bagian keuangan.
Tugas pokok Kepala sub bagian keuangan Bapenda Kabupaten Deli Serdang ialah membantu sekretaris dalam penatausahaan keuangan.
3. Kepala sub. Bagian penyusunan program.
Tugas pokok Kepala sub bagian Penyusunan program Bapenda Kabupaten Deli Serdang adalah membantu sekretaris dalam penyusunan rencana anggaran dan program kerja
2.5.3 Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pendapatan Daerah
Tugas Pokok dari bidang perencanaan dan pengembangan Pendapatan daerah ialahMembantu Kepala Badan dalam pelaksanaan tugas di Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pendapatan Daerah dalam penyusunan bahan kebijakan teknis perencanaan dan pengembangan serta evaluasi pendapatan daerah.
Selain melaksanakan Tugas, Bidang Perencanaan dan pengembangan pendapatan daerah kabupaten Deli Serdang juga memiliki fungsi yakni sebagai berikut:
a) Sebagai Perumusan perencanaan pendapatan daerah.
b) Sebagai Perumusan pengembangan pendapatan daerah.
c) Sebagai Pengkoordinasian evaluasi dan pelaporan pendapatan daerah.
d) Sebagai Perumusan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pajak daerah dan pendapatan daerah lainnya.
2.5.4 Kepala Bidang Pajak Daerah.
Tugas Pokok dari bidang pajak daerah yakni Membantu Kepala Badan dalam pelaksanaan tugas di Bidang Pajak Daerah dalam pendataan dan pendaftaran,penetapan dan keberatan,penagihan dan pembukuan pajak daerah yang meliputi pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah,dan pajak sarang burung wallet.
Selain melaksanakan Tugas, Bidang pajak daerah kabupaten Deli Serdang juga memiliki fungsi yakni sebagai berikut:
a) Sebagai Perumusan program kerja di bidang pajak daerah.
b) Sebagai Pelaksanaan pendataan dan pendaftranwajib pajak daerah.
c) Sebagai Pelaksanaan penetapan dan keberatan pajak daerah.
d) Sebagai Pelaksanaan penagihan dan pembukuan pajak daerah.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud diatas, Bidang Pajak Daerah juga membawahi 3 (tiga) kepala sub bagian yang masing-masing memiliki tugas pokok seperti :
1. Sub bagian Pendataan dan pendaftaran pajak daerah.
Tugas pokok dari kepala sub bagian pendataan dan pendaftaran Bapenda kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak daerah dalam melakukan pendataan dan pendaftaran pajak daerah dikabupaten Deli Serdang.
2. Sub bagian Penetapan dan keberatan pajak daerah.
Tugas pokok dari kepala sub bagian penetapan dan keberatan Bapenda kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak daerah dalam melakukan penetapan pajak daerah.
3. Sub bagian penagihan dan pembukuan pajak daerah.
Tugas pokok dari kepala sub bagian penagihan dan pembukuan pajak daerah kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak daerah dalam melakukan penagihan tunggakan pajak daerah, keberatan, pengurangan, dan pembukuan realisasi pajak daerah.
2.5.5 Kepala Bidang Pajak Bumi dan Bangunan.
Tugas Pokok dari bidang Pajak Bumi dan Bangunan yakni Membantu Kepala Badan dalam pelaksanaan tugas Bidang Pajak Bumi dan Bangunan dalam pendataan dan penilaian, penetapan, penagihan dan pembukuan pajak bumi dan bangunan sesuai kewenangan daerah berdasarkan peraturan perundang- undangan.
Selain melaksanakan Tugas, Bidang Pajak Bumi dan Bangunan kabupaten Deli Serdang juga memiliki fungsi yakni sebagai berikut:
a) Perumusan program kerja di Bidang Pajak Bumi dan Bangunan.
b) Pelaksanaan pendataan dan penilaian objek pajak bumi dan bangunan.
c) Pelaksanaan penetapan pajak bumi dan bangunan.
d) Pelaksanaan penagihan dan pembukuan pajak bumi dan bangunan.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud diatas, Bidang Pajak Daerah juga membawahi 3 (tiga) kepala sub bagian yang masing-masing memiliki tugas pokok seperti :
1. Sub bagian pendataan dan penilaian PBB-P2.
Tugas pokok dari kepala sub bagian pendataan dan penilaian pajak bumi dan bangunan kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak Bumi dan Bangunan dalam melakukan pendataan dan penilaian pajak bumi dan bangunan yang berada di kabupaten Deli Serdang.
2. Sub bagian Penetapan dan keberatan PBB-P2.
Tugas pokok dari kepala sub bagian penetapandankeberatanpajak bumi dan bangunan kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak Bumi dan Bangunan dalam melaksanakan tugas penetapan dan keberatan atas pajak bumi dan bangunan yang berada diwilayah kabupaten Deli Serdang.
3. Sub bagian penagihan dan pembukuan PBB-P2.
Tugas pokok dari kepala sub bagian penagihandan pembukuan pajak bumi dan bangunan kabupaten Deli Serdang adalah membantu kepala bidang pajak Bumi dan Bangunan dalam melakukan serta melaksanakan penagihan atas tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan, keberatan pengurangan, dan pembukuan realisasi Pajak Bumi dan Bangunan.
2.5.6 Kepala Bidang BPHTB dan Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi.
Tugas Pokok dari bidang BPHTB dan Dana Bagi Hasil pajak pemerintah provinsi yakni Membantu Kepala Badan dalam pelaksanaan tugas Bidang
BPHTB dan Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi dalam verifikasi dan validasi BPHTB, penagihan dan pembukuan BPHTB dan koordinasi terhadap anggaran dan realisasi Dana Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi. Fungsi dari bidang BPHTB dan Dana Bagi hasil pajak pemerintah provinsi yakni sebagai berikut :
a) sebagai Perumusan program kerja di bidang BPHTB dan Dana Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi.
b) untuk Pelaksanaan Verifikasi dan Validasi BPHTB.
c) sebagai Pelaksanaan penagihan dan pembukuan BPHTB.
d) sebagai Pengkoordinasian anggaran dan realisasi Dana Bagi Hasil Pajak Pemerintah Provinsi.
2.6 Kepegawaian Badan Pendapatan Daerah.
Untuk mendukung pelaksanaan penerimaan daerah dibutuhkannya sumber daya manusia dalam suatu instansi atau organisasi. Jumlah pegawai di Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang ditahun 2017 sebanyak 110 orang ditambah dengan Pegawai Honorium sebanyak 160 Orang, pada tahun 2018 sebanyak 105 orang ditambah Tenaga Honorium sebanyak 188 Orang serta pada tahun 2019 sebanyak 110 orang dengan tenaga Honorium sebanyak 236 Orang.
Adapun klasifikasi Pendidikan paling banyak yang ditempuh oleh masing-masing pegawai Badan pendapatan Daerah ialah Sarjana strata 1 atau sering disebut S1 serta Rata-rata Golongan pegawai yang berada di lingkungan Badan pendapatan Daerah dari tahun ke tahun ialah pada Golongan I.
Tabel 2.1 Jumlah Pegawai Bapenda berdasarkan Tingkat pendidikan
Nomor Pendidikan 2017 2018 2019
1. SD - - -
2. SLTP 1 Orang 1 Orang 1 Orang
3. SLTA sederajat 27 Orang 26 Orang 26 Orang
4. D3 - Orang 2 Orang 3 Orang
5. S1 77 Orang 72 Orang 77 Orang
6. S2 5 Orang 4 Orang 4 Orang
7. S3 - - -
Jumlah 110 Orang 105 Orang 111 Orang
Sumber : Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang
Tabel 2.2 Jumlah BapendaKabupaten Deli SerdangTahun 2017-2019 Nomor Tahun Pegawai ASN Pegawai Honorium
1. 2017 110 Orang 160 Orang
2. 2018 105 Orang 188 Orang
3. 2019 111 Orang 236 Orang
Sumber : Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang
Tabel 2.3 Susunan Golongan Pegawai Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang Tahun. 2017-2019.
No. Golongan Jabatan 2017 2018 2019
1. Golongan IV 4 Orang 4 Orang 6 orang
2. Golongan III 91 Orang 93 Orang 93 Orang 3. Golongan II 15 Orang 8 Orang 12 Orang
4. Golongan I - - -
Jumlah 110 Orang 105 Orang 111 Orang Sumber : Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang
2.7 Unit Pelaksana Terpadu Bapenda Kab. Deli Serdang.
Dalam Peraturan Bupati Deli Serdang Nomor 06 Tahun 2018 tentang Pembentukan Unit pelaksana Teknis (UPT) dan Koordinator Wilayah pada Dinas dan Badan Daerah di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Deli serdang, pengertian Unit Pelaksana Teknis adalah unsur bagian pelaksana kegiatan teknis operasional dan/ atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bapenda Kabupaten Deli Serdang.
Ada 17 wilayah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari 22 kecamatan yang berada di bawah naungan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) kabupaten Deli Serdang sesuai dengan peraturan Bupati Deli Serdang Nomor 06 Tahun 2018 tentang Pembentukan Unit pelaksana Teknis (UPT) dan Koordinator Wilayah pada Dinas dan Badan Daerah di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang,yakni sebagai berikut :
1. UPT pada wilayah I berada di kecamatan Bangun Purba meliputi:
a) kecamatan Bangun Purba b) kecamatan Gunung Meriah
2. UPT Pada wilayah II berada di kecamatan STM Hilir meliputi : a) Kecamatan STM hilir.
b) Kecamatan STM hulu.
3. UPT pada wilayah III berada di Kecamatan Galang yang meliputi:
a) kecamatan Galang
b) Kecamatan Pagar Merbau.
4. UPT pada wilayah IV berada di kecamatan Deli Tua yang meliputi
a) kecamatan Deli tua b) kecamatan Biru- Biru.
5. UPT pada wilayah V berada di kecamatan Pancur Batu yakni:
a) kecamatan Pancur Batu b) kecamatan Kutalimbaru.
6. UPT Pada wilayah VI berada di kecamatan Hamparan perak 7. UPT pada wilayah VII berada di kecamatan Sunggal
8. UPT pada wilayah VIII berada di kecamatan Labuhan Deli 9. UPT pada wilayah IX berada di kecamatan Percut Sei Tuan.
10. UPT Pada wilayah X terdapat di kecamatan Batang Kuis.
11. UPT Pada wilayah XI terdapat di kecamatan Pantai Labu 12. UPT pada wilayah XII terdapat di kecamatan Beringin.
13. UPT pada wilayah XIII terdapat di kecamatan Lubuk Pakam.
14. UPT Pada wilayah XIV terdapat di kecamatan Tanjung Morawa.
15. UPT Pada wiilayah ke- XV terdapat di kecamatan Patumbak 16. UPT Pada wilayah ke-XVI terdapat di kecamatan Namo Rambe 17. UPT pada wilayah yang ke- XVII terdapat dikecamatan Sibolangit.
2.8 GambaranUmumPBB-P2 Dikabupaten Deli Serdang.
PBB-P2 kabupaten Deli Serdang ialah salah satu pajak daerah dikabupaten Deli Serdang yang dasar pengenaanya atas bumi dan bangunan yang dimiliki , dikuasai dan dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi maupun badan yang terdapat di sektor Perdesaaan dan perkotaan. Dari hasil penelitian, sistem perpajakan PBB-P2 dikabupaten Deli Serdang ialah dengan menggunakan asas OfficialAssessmentsystem yang artinya ialah perhitungan nilai pajak PBB-P2
yang terutang dan dibayarkan oleh wajib pajak dilakukan oleh petugas /fiskus.
Untuk mengetahui berapa besar jumlah PBB-P2 dikabupaten Deli Serdang terlihat dari SPPT PBB yang telah di terbitkan oleh Badan Pendapatan Daerah kabupaten Deli Serdang untuk disebarluaskan melalui Unit pelayanan terpadu (UPT) kecamatan / kelurahan setempat yang berada di wilayah kabupaten Deli Serdang. Masing-masing wajib pajak memiliki 1 lembar SPPT sebagai bukti bahwa adanya PBB-P2 yang terutang.
Dalam Tabel 2.4 terlihat bahwa jumlah SPPT PBB yang telah diterbitkan dan disebarluaskan olehBapenda Deli Serdang ialah pada tahun 2017 sebanyak 430.335 lembar SPPT , meningkat pada tahun 2018 sebanyak 455.411 lembar SPPT dan pada tahun 2019 SPPT diterbitkan oleh Bapenda Deli Serdang menurun menjadi 384.594 lembar SPPT.Penurunan SPPT PBB pada tahun 2019 tersebut disebabkan adanyawajib pajak tidak mengembalikan SPPT PBB yang berarti wajib pajak tidak melaksanakan kewajiban membayar PBB-P2diKabupaten Deli Serdang.
Tabel 2.4 Jumlah SPPT PBB Di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017-2019
No. Tahun SPPT PBB
1. 2017 430.335
2. 2018 455.411
3. 2019 384.594
Sumber :Badan Pendapatan Daerah Kab. Deli Serdang.