• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DANA DIPA UNDIKSHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DANA DIPA UNDIKSHA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT DANA DIPA UNDIKSHA

Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah melalui

Implementasi

Reflective M

odel’

Pada Pengawas dan

Kepala Sekolah SD di Kecamatan Buleleng

Oleh

Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A. NIDN 0026066203 Putu Eka Dambayana S, S.Pd., M.Pd. NIDN 0014117808

Putu Wage Miartawan, SPd, MPd. NIDN 0005108201

Dibiayai dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggara ( DIPA) Universitas Pendidikan Ganesha. SPK No 126/ UN 48.15/LPM/2013

Tanggal 6 Mei 2013

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

1.Judul : Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah Melalui Implementasi ‘Reflective Model’ Pada

Pengawas dan Kepala Sekolah SD di Kecamatan Buleleng g. Fakultas/Jurusan : Bahasa dan Seni/Pendidikan Bahasa Inggris h. Alamat Kantor : Jl. Achmad yani 67 Singaraja, Bali

i. Telp/Faks/E-mail : (0362)21541, (0362) 27561, www/undiksha.ac.id j. Alamat Rumah : Jl. Jalak No.4 Singaraja, Bali 81116

k. Telp/Fax/E-mail : (0362) 21677/-/[email protected] 3. Jumlah Anggota Pelaksana : 2 (dua) orang

4. Lokasi Kegiatan

a. Nama Desa : Kaliuntu b. Kecamatan : Buleleng

c. Kabupaten/Kota/Propinsi : Buleleng/Singaraja/Bali 5. Jumlah Biaya Kegiatan : Rp 7.500.000,00

6. Lama Kegiatan : 6 (enam) bulan

Mengetahui Dekan,

Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih,M.A. NIDN. 0026066203

Singaraja, 6 November 2013 Ketua Tim Pengusul

Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A. NIDN. 0026066203

Mengetahui Ketua LPM UNDIKSHA

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Om Suastiastu,

Puji syukur penulis haturkan atas cinta kasih yang diberikan oleh Hyang Widhi /Tuhan Yang Maha Sempurna sehingga Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah melalui Implementasi ‘Reflective Model’ Pada Pengawas dan Kepala Sekolah SD di Kecamatan Buleleng yang merupakan program Pengabdian kepada masyarakat ini dapat diselesaikan baik kegiatannya maupun laporan dan kelengkapannya

Sebagai agent of change bagi kemajuan sekolahnya, seorang kepala sekolah dan pengawas harus memiliki kemampuan metodologi untuk melakukan penelitian, sekaligus mengupayakan tindakan untuk memperbaiki permasalahan yang ada di sekolah dibawah binaannya.

Untuk dapat memberikan informasi yang benar sehingga dapat memotivasi guru untuk mampu melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas sebagai kegiatan pengembangan profesi guru, seorang kepala sekolah dan pengawas harus diberikan pelatihan tentang Penelitian Tindakan Sekolah dimana mereka berlatih untuk : (1) menentukan permasalahan- permasalahan sekolah, (2) menemukan cara memperbaiki (treatment) terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekolah,(3) menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah.

Untuk itulah Pelatihan ini diberikan sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Usaha yang besar dan serius tentu tidak akan berbuah sia sia. Semoga pelatihan yang diberikan berguna untuk meningkakan profesionalisme guru, kepala sekolah dan pengawas di kecamatan Buleleng

Astungkara. Om Shatih, Shantih, Shantih, Om

Singaraja, 5 November 2013

(4)

iii

DAFTAR ISI

Halaman pengesahan

Kata Pengantar

Bab I. Pendahuluan

1.1. Latar belakang ... 1

1.2. Analisis Situasi ... 2

1.3. Kajian Pustaka ... 5

1.3.1. Penelitian Tindakan Sekolah ... 5

1.3.2. Model pelatihan Reflektif (Reflective Model) ... 7

1.4. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 8

1.5. Tujuan Kegiatan ... 9

1.6. Manfaat Kegiatan ... 10

Bab II. Metode Pelaksanaan Kegitan 2.1. Kerangka pemecahan Masalah ...12

2.2. Khalayak Sasaran Strategis ...13

2.3. Keterkaitan ...13

2.4. Metode Kegiatan ... 14

2.5. Rancangan Evaluasi ... 16

Bab III. Hasil Kegiatan dan Pembahasan 3.1. Hasil Kegiatan ...18

(5)

iv

Bab IV. Simpulan dan Saran

4.1. Simpulan ... 28

4.2. Saran ... 29

Lampiran

Daftar Pustaka

(6)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang pengawas harus memiliki 6 (enam) kompetensi minimal, yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial. Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan masih banyak pengawas sekolah/ madrasah yang belum menguasai keenam dimensi kompetensi tersebut dengan baik. Survei yang dilakukan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan pada Tahun 2008 terhadap para pengawas di suatu kabupaten (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008: 6) menunjukkan bahwa para pengawas memiliki kelemahan dalam kompetensi supervisi akademik, evaluasi pendidikan, dan penelitian dan pengembangan.

(7)

2

penelitian. Padahal mereka dituntut untuk melaksanakan penelitian untuk profesionalisme mereka. Terutama sekali sebagai seorang Pengawas atau Kepala sekolah adalah merupakan hal yang wajib mengetahui Penelitian terutama Penelitian Tindakan Sekolah karena mereka harus mampu memberikan bimbingan kepada para guru yang merupakan bawahan dan orang yang disupervisi.

Reflective model adalah model pelatihan Penelitian Tindakan kelas yang merupakan hasil penelitian Strategis Nasional (Nitiasih, 2009). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini sangat membantu Guru-Guru dalam menganalisis permasalahan permasalahan pembelajaran yang dapat diangkat sebagai masalah dalam PTK serta meningkatkan kemampuan Guru-Guru dalam membuat proposal penelitian dan melaksanakan PTK dalam pembelajaran. Mengingat permasalahan utama dari Pengawas dan Kepala Sekolah adalah rendahnya kemampuan mereka dalam menemukan masalah yang dapat dipergunakan sebagai topik penelitian terutama Penelitian Tindakan Sekolah, perlu dilakukan Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah yang mengimplementasikan ‘Model Reflective’ yang sudah terbukti mampu meningkatkan kemampuan Guru dalam PTK.

1.2 Analisis Situasi

Sebagaimanadiketahui, bahwa salah satu peran yang diharapkan dari seorang pengawas dan kepala sekolah adalah sebagai agent of

change bagi kemajuan sekolah. Untuk melaksanakan peran tersebut

tentu saja pengawas harus memiliki kemampuan metodologi untuk melakukan penelitian, sekaligus mengupayakan tindakan untuk memperbaiki keadaan.

(8)

3

menyatakan bahwa hampir 95 % Kepala Sekolah tidak bisa membuat Penelitian yang cocok untuk seorang Kepala Sekolah serta menulis karya ilmiah. Hasil wawancara ini juga diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Nitiasih (2009) bahwa 85% guru dan 90% kepala sekolah tidak mampu menemukan masalah yang dapat dijadikan penelitian tindakan kelas untuk guru-guru dan penelitian tindakan sekolah untuk Kepala Sekolah dan Pengawas.

Kenyataan tersebut disupport oleh hasil dari FGD (Focused group

discussion) yang dilakukan oleh Rinjin dkk (2008) dengan para guru, yang

mana diperoleh informasi bahwa Guru sesungguhnya sering dikirim oleh pihak sekolah untuk mengikuti pelatihan-pelatihan atau seminar tentang PTK atau topik-topik yang lain demikian juga dengan kepala sekolah sering mengikuti pelatihan PTK, tetapi para guru mengakui bahwa model pelatihan lebih banyak memfokuskan pada kajian teoritis dan kurang penyajian contoh-contoh kongkret sehingga ketika selesai mengikuti pelatihan mereka tidak memahami dengan baik konsep yang telah diajarkan dan ketika kembali ke sekolah mereka kembali tidak mampu melakukan penelitian.

Sejalan dengan hal tersebut, hasil dari tracer study (Padmadewi, Artini dan Heri Santosa, 2010) juga menyebutkan bahwa para guru memerlukan pelatihan-pelatihan yang menyangkut hal-hal yang lebih inovatif yang bisa dipakai guru di kelas. Dalam diskusi dengan responden saat itu, juga didapat informasi bahwa model pelatihan yang sering diberikan kepada mereka lebih banyak teoretis dan kurang penyajian contoh kongkret yang aplikatif.

(9)

4

mampu menganalisis dan menemukan masalah-masalah yang cocok dipergunakan sebagai masalah penelitian di Sekolah.

(10)

5

1.3. Kajian Pustaka

Ada beberapa konsep teritis yang dipergunakan sebagai acuan dalam pengabdian

masyarakat ini. Konsep teoretis tersebut adalah sebagai berikut :

1.3.1. Penelitian Tindakan Sekolah

Penelitian Tindakan Sekolah memiliki konsep yang hampir sama dengan konsep Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan berdasarkan paradigma pemikiran RAI : research-action-improvement, yang bersifat bottom-up,

realistik-pragmatik yang diawali dengan diagnosis masalah secara nyata

yang diakhiri dengan sebuah perbaikan (improvement). Upaya perbaikan kualitas pembelajaran demikian menuntut adanya inisiatif dan keinginan dari dalam diri untuk mau melakukan perbaikan (Tantra, 2005).

Prosedur diagnosis masalah bisa dilakukan dengan menganalisis situasi kini yang sedang terjadi (present situation analysis) yang selanjutnya dipergunakan sebagai dasar untuk mencari dan menentukan pemecahan masalahnya (Rindjin, Sarna, Padmadewi, 2006). Penelitian seperti ini disebut dengan Penelitian Tindakan yang ditandai adanya penerapan tindakan pada suatu proses kegiatan tertentu. Tindakan yang diterapkan tersebut, merupakan tindakan yang “baru” yang diyakini lebih baik dalam meningkatkan mutu proses maupun hasil kerja dari tindakan “lama” yang telah biasa dilakukan.

(11)

6

tindakan sebagai tindak lanjut dari penelitian eksperimen maupun penelitian deskriptif.

Ada pula yang menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen peneliti ingin mengetahui akibat dari suatu perlakuan

(treatment, tindakan, atau “sesuatu” yang dilakukan), maka pada

penelitian tindakan, peneliti mencermati kajiannya pada proses dan akibat dari tindakan yang dibuatnya. Berdasar hasil pencermatan itulah, kemudian dilakukan tindakan lanjutan yang merupakan perbaikan dari tindakan pertama (disebut sebagai siklus), untuk dapat memperoleh informasi yang mantap tentang dampak tindakan yang dibuatnya.

Saat ini, penelitian tindakan banyak dilakukan baik oleh guru maupun pengawas. Bila dilakukan guru umum disebut sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sedangkan bila dilakukan oleh pengawas sekolah, disebut sebagai Penelitian Tindakan Sekolah atau disingkat dengan sebutan PTS.

Tujuan utama Penelitian Tindakan Sekolah adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

(12)

7

kemampuan dan sikap profesional sebagai pengawas sekolah; (3) menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan.

Ciri khusus dari Penelitian Tindakan Sekolah adalah adanya tindakan

(action) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada

keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.

1.3.2. Model pelatihan Reflektif (Reflective Model)

Dari beberapa model pelatihan yang ada, Model Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas Reflectif ini adalah model yang paling lengkap, karena dalam model pelatihan ini ada proses pemberian received knowledge sehingga guru memiliki pengetahuan yang lengkap tentang Penelitian Tindakan Kelas.Di samping proses tersebut ada juga proses pemberian

previous experiential knowledge dimana guru secara langsung diberi

kesempatan untuk merefleksi kualitas proses belajar mengajar yang dilakukan sehari-hari. Dengan menggabungkan kedua pengetahuan tersebut guru mampu mendeteksi masalah pembelajarannya, mendeteksi factor-faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut dan selanjutnya guru mampu memilih metode yang tepat untuk menanggulangi permasalahan pembelajaran yang ditemukan Pada akhirnya setelah mengikuti pelatihan dengan model ini, guru mampu membuat proposal Penelitian Tindakan Kelas sendiri tanpa mencontoh yang sudah ada.

(13)

8

kedua pengetahuan tersebut, peserta dapat melakukan refleksi dengan baik tentang permasalahan-permasalahan yang dihadapi pada pembelajarannya, mencari faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut melalui refleksi tentang dan mencari solusi dari permasalahan. Model pelatihan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Model Pelatihan Reflektif (Reflective Model)

‘Reflective cycle’

1.4. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ditemukan beberapa permasalahan seperti yang sudah disampaikan dalam analisis situasi. Selain itu hasil observasi yang dilakukan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kamis 23 Agustus) ditemukan bahwa dari 84 Kepala Sekolah dan 23 Pengawas SD hanya 12 % yang melakukan PTK dengan benar. Sebanyak 52 % membuat PTS sebagai persyaratan kenaikan pangkat dari menyuruhkan dan 36 % menyatakan tidak pernah mengerti apa itu PTS. Berdasarka kenyataan tersebut maslah-masalah yang dihadapi pengawas dan kepala sekolah dapat diidentifikasi sbg berikut :

Received knowledge

Previous experiential

knowledge

(14)

9

1. Rendahnya kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan dan menentukan permasalahan- permasalahn sekolah yang dapat dipergunakan sebagai masalah PTS

2. Rendahnya kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan cara memperbaiki (treatment) terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekolah

3. Rendahnya kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah

Berdasarkan permasalahan diatas Rumusan Masalah Pengabdian Masyarakat ini adalah : Apakah Kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dapat ditingkatkan melalui Pelatihan PTS dengan

‘Reflective Model’?

1.5. Tujuan Kegiatan

Berdasarkan permasalahan yang dihadadapi oleh Pengawas dan Kepala Sekolah seperti yang disampaikan di atas, maka tujuan kegiatan ini adalah Memberikan Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah yang dapat :

a) Meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan dan menentukan permasalahan- permasalahan sekolah yang dapat dipergunakan sebagai masalah PTS

(15)

10

c) Meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah

d) Meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam melaksanakan dan melaporkan hasil penelitiannya.

e) Meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam memberikan informasi yang benar dan memotivasi guru untuk mampu melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas sebagai kegiatan pengembangan profesi guru.

1.6. Manfaat Kegiatan

Hasil Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini akan memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan profesionalisme Pengawas dan Kepala sekolah di kecamatan Banjar. Secara lebih eksplisit manfaat kegiatan ini adalah sebagai berikut:

a) Pengawas dan Kepala Sekolah yang terlibat dalam kegiatan pelatihan ini memperoleh wawasan tentang : (1) bagaimana menemukan dan menentukan masalah-masalah sekolah yang dapat dipergunakan sebagai masalah PTS; (2) bagaimana menemukan cara memperbaiki (treatment) terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekolah; (3) bagaimana menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah

(16)

11

(17)

12

BAB II

METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1. Kerangka Pemecahan Masalah

Berangkat dari permasalah yang dihadapi oleh pengawas dan kepala sekolah di Sekolah dasar di Kecamatan Banjar, maka alternatif pemecahan masalah yang dilaksanakan dalam P2M ini dapat dilihat dalam diagram alur berikut :

Gambar 2. Bagan alur Kerangka Pemecahan Masalah P2M Permasalahan

1. Kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan dan menentukan permasalahan sekolah sebagai masalah PTS masih rendah

2. Kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan cara memperbaiki (treatment) masalah yang dihadapi sekolah masih rendah

3. Kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah masih rendah

Pemecahan Masalah

1. Meningkatkan Kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam

menemukan dan menentukan

permasalahan sekolah sebagai masalah PTS.

2. Meningkatkan kemampuan

Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan cara memperbaiki (treatment) masalah yang dihadapi sekolah .

3. Meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah

Alternatif Pemecahan Masalah Memberikan Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah dengan model Pelatihan ‘Reflective’

Metode Kegiatan 1. Refleksi Permasalahan yang

ditemukan di lapangan

2. Cermah dan diskusi tentang PTS

(18)

13

2.2. Khalayak sasaran Strategis

Secara umum, tujuan pengabdian pada masyarakat (P2M) ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme Pengawas dan Kepala Sekolah dalam merancang dan melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, khalayak sasaran strategis dan tepat dilibatkan adalah seluruh pengawas SD dan kepala Sekolah SD di Kecamatan Banjar yang berjumlah 86 orang. Pemilihan kecamatan Banjar sebagai sasaran mengingat kecamatan Banjar dipergunakan sebagai model bagi kecamatn-kecamatan lainnya.

Rendahnya kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan dan menentukan masalah-masalah Penelitian Tindakan Sekolah menyebabkan mereka kurang mampu menyusun proposal dan melaksanakan PTS di sekolah padahal sebagai pengawas dan Kepala sekolah yang ada di daerah perkotaan sudah selayaknya mengetahui hal ini dan mampu menjadi contoh bagi pengawas dan kepala sekolah di kecamatan lainnya.

2.3.Keterkaitan

Kegiatan P2M ini melibatkan institusi Undiksha dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Pengawas) dan Sekolah (Kepala Sekolah) di Kecamatan Banjar. Ketiga instansi yang terlibat ini memperoleh keuntungan secara bersama-sama sebagai berikut :

1. Sekolah Dasar di Kecamatan Banjar sebagai instansi yang memiliki Kepala Sekolah akan memperoleh manfaat dari kegiatan P2M ini dalam hal peningkatan kualitas SDM terutama dalam Penelitian Tindakan Sekolah

(19)

14

kegiatan P2M ini dalam peningkatan Profesionalisme pengawas SD dalam Penelitian Tindakan Sekolah

3. Universitas Pendidikan Ganesha melalui Lembaga Pengabdian pada Masyarakat berperan menyediakan dana, sehingga mendukung pelaksanaan dharma ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

2.4. Metode Kegiatan

Bentuk aktivitas menggunakan strategi pelatihan (training). Tahapan-tahapan aktivitas secara umum yaitu: penyemaian informasi (encoding), pengintegrasian informasi menjadi suatu pemahaman (decoding), perekaman informasi (storing), dan pembelajaran informasi (learning). Seluruh aktivitas tersebut dirancang bersama-sama dan dilakukan dalam situasi informal dengan melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap pengawas dan kepala sekolah SD di kecamatan Banjar. Secara lebih spesifik sintaks pelatihan dengan model reflektif ini dapat dilihat dalam bagain berikut:

2. Ada beberapa materi yang diberikan dengan jig-saw yang mengharuskan pembentukan kelompok 3. Pemberian model PTS

1. Mendengarkan dan

memperhatikan materi yang disampaikan

2. Membentuk kelompok dan mengerjakan pelatihan sesuai dengan instruksi untuk pelaksanaan jig-saw

2. Previous

experiencial

knowledge (refleksi)

1. Meminta peserta untuk merefleksi

1. Melakukan refleksi terhadap masalah pembelajaran yang dihadapi di kelasnya, penyebab masalah tersebut dan cara pemecahan masalahnya

(20)

15

2. Meminta peserta pelatihan menuliskannya dalam

1. Melatih menyusun bagian perbagian dari sebuah proposal

2. Meminta peserta untuk mempresentasikan hanya bagian penting dari proposal: masalah, latar belakang masalah dan cara pemecahan masalah. 3. Meminta peserta untuk

melakukan simulasi

1. Melatih menyusun bagian perbagian dari sebuah proposal 2. Mempresentasikan hanya bagian

penting dari proposal: masalah, latar belakang masalah dan cara pemecahan masalah.

3. Melakukan simulasi tentang metode, strategi pembelajaran atau cara evaluasi yang dipergunakan sebagai cara

1. Melakukan refleksi terhadap proposal yang sudah dibuat 2. Melakukan refleksi terhadap

kemungkinan dampak dari cara pemecahan masalah yang

Menilai proposal yang sudah dihasilkan oleh guru

Mencermati hasil penilaian, merefleksi dan melakukan perbaikan

(21)

16

2.5. Rancangan Evaluasi

a) Prosedur dan Alat Evaluasi

Prosedur dan alat evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan P2M ini dilakukan seperti diagram alur di bawah ini

Awal Kegiatan

Pelaksanaan Kegiatan

Akhir Kegiatan

PRE-TEST OBSERVASI POST-TEST

PRODUK

Gambar 4. Prosedur evaluasi

1. Pre- tes dan Post- tes

Pre-tes dilakukan di awal kegiatan untuk mengetahui pemahaman pengawas dan Kepala Sekolah SD di kecamatan Banjar tentang penelitian Tindakan Sekolah sebelum diberikan pelatihan. Post-test dilaksanakan pada akhir pelatihan untuk mengetahui perubahan pemahaman kepala sekolah dan pengawas SD tentang PTS setelah mengikuti pelatihan. Data pre-tes dan post-tes dikumpulkan melalui tes yang akan mengungkap pemahaman pengawas dan kepala sekolah tentang Penelitian Tindakan Sekolah

2. Observasi

(22)

17

pemberian skor pada masing-masing indikator menggunakan skala lickert dengan rentang 1-5.

3. Produk / Proposal Penelitian Tindakan Sekolah

Produk dari kegiatan ini, yaitu Proposal Penelitian Tindakan Sekolah yang dihasilkan selama pelatihan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta pelatihan dalam menyusun proposal PTS dengan menggunakan rentangan skor dari 0 sampai 100

b) Teknik Analisis data dan Kriteria Keberhasilan Program

(23)

18

BAB III

HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. HASIL KEGIATAN

Kegiatan P2M ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dengan peserta

Kepala Sekolah dan pengawas SD se Kecamatan Buleleng. Pelatihan

dilaksanakan di ruang teater Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan

Ganesha. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 7 September 2013. Kegiatan

diawali dengan memberikan Pre-test. Pre-tes dilakukan di awal kegiatan untuk

mengetahui pemahaman pengawas dan Kepala Sekolah SD di kecamatan

Buleleng tentang penelitian Tindakan Sekolah sebelum diberikan pelatihan. Pre

test dilaksanakan secara verbal dgn menanyakan kepada mereka pertanyaan

berikut :

1. Apakah anda pernah melakukan penelitian?

2. Bila Ya, Apa jenis penelitian yang anda dilakukan? 3. Bila ya, Apa tujuan anda melakukan penelitian tersebut? 4. Apakah anda pernah mendengar penelitian tindakan sekolah? 5. Apakah anda pernah melakukan penelitian tindakan sekolah?

Hasil pretest menunjukkan :

No Pernyataan Hasil

1. Apakah anda pernah melakukan penelitian?

55 % peserta

(24)

19

2 Apa jenis penelitian yang anda dilakukan?

4 Apakah anda pernah mendengar penelitian tindakan sekolah?

5 Apakah anda pernah melakukan penelitian tindakan sekolah?

(25)

20

Kegiatan selanjutnya adalah Pelaksanaan Pelatihan yang dilaksanakan dengan model reflektif dengan menggunakan tahapan sebagai berikut:

Fase Aktivitas

2. Ada beberapa materi yang diberikan dengan jig-saw

yang mengharuskan pembentukan kelompok 3. Pemberian model PTS

1. Mendengarkan dan memperhatikan materi yang

disampaikan

2. Membentuk kelompok dan mengerjakan pelatihan sesuai

1. Meminta peserta untuk merefleksi permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan tugasnya

sebagai kepala sekolah 2. Meminta peserta

mengidentifikasi permasalahan dan memilih maslaah yang paling urgen untuk diselesaikan melalui

penelitian, 3. Meminta peserta mencari

sumber masalah dan cara pemecahan masalah 4. Meminta peserta pelatihan

menuliskannya dalam pendahuluan

1. Melakukan refleksi terhadap masalah pembelajaran yang dihadapi di kelasnya, penyebab

masalah tersebut dan cara pemecahan masalahnya 2. Menuliskan dalam pendahuluan

dari proposal masing-masing

1. Melatih menyusun bagian perbagian dari sebuah

proposal

2. Meminta peserta untuk mempresentasikan hanya bagian penting dari proposal:

masalah, latar belakang masalah dan cara pemecahan

masalah.

3. Meminta peserta untuk melakukan simulasi tentang

1. Melatih menyusun bagian perbagian dari sebuah proposal 2. Mempresentasikan hanya bagian

penting dari proposal: masalah, latar belakang masalah dan cara

pemecahan masalah. 3. Melakukan simulasi

tentang metode, strategi pembelajaran atau cara evaluasi yang dipergunakan sebagai cara

(26)

21

4. Reflect (refleksi) 1. Meminta peserta melakukan

refleksi terhadap proposal yang sudah dibuat

2. Meminta peserta melakukan refleksi terhadap

kemungkinan dampak dari cara pemecahan masalah yang

disimulasikan

1. Melakukan refleksi terhadap proposal yang sudah dibuat 2. Melakukan refleksi

terhadap kemungkinan dampak dari cara pemecahan masalah

yang disimulasikan

Menilai proposal yang sudah dihasilkan oleh guru

Mencermati hasil penilaian, merefleksi dan melakukan

perbaikan

Dalam melaksanakan kegiatan, dilakukan pula observasi. Observasi terhadap

pelaksanaan kegiatan pelatihan mencakup ketekunan dan keseriusan pengawas

dan kepala sekolah dalam mengikuti kegiatan pelatihan. Instrumen yang

dipergunakan adalah lembar observasi. Penilaian dilakukan terhadap aspek-aspek

sikap dan aktivitas pengawas dan kepala sekolah yang mencirikan perilaku dan

kemampuan pengawas dan kepala sekolah. Teknik pemberian skor pada

masing-masing indikator menggunakan skala lickert dengan rentang 1-5.

Hasil penilaian terhadap ketekunan dapat dilihat dari hasil di bawah ini :

No Aspek yang diobservasi Rerata Hasil penilaian 1. Ketekunan mendengarkan

ceramah yang disampaikan

5 (sangat serius)

2 Keseriusan dalam melakukan jig saw yang diminta untuk

5 (sangat serius)

3 Keseriusan dalam melakukan refleksi terhadap

(27)

22 permasalahan yang dialami di sekolah

4 Kejujuran dalam mengemukakan

permasalahan yang dialami di sekolah masing-masing

3 (cukup serius)

5 Kemampuan memilih

masalah yang urgen untuk dilaksanakan

4 (serius)

6 Tanggung jawab dalam melakukan diskusi untuk memilih metode yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dialami

5 (sangat serius)

7 Tanggungjawab untuk menyelesaikan proposal penelitian

4 (serius)

8 Keseriusan dalam menulis proposal penelitian

5 (sangat serius)

Produk dari kegiatan ini, yaitu Proposal Penelitian Tindakan Sekolah yang

dihasilkan selama pelatihan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta

pelatihan dalam menyusun proposal PTS dengan menggunakan rentangan skor

dari 0 sampai 100

Hasil dari penilaian produk adalah sebagai berikut :

No Aspek dari proposal Rerata nilai

1 Identifikasi Masalah 87

(28)

23 3 Penentuan sumber masalah

penelitian

90

4 Penentuan bukti pendukung masalah penelitian

65

5 Penentuan cara pemecahan masalah 80

6 Penentuan teori-teori yang relevan dengan permasalahan dan cara pemecahan masalah

60

7 Pembuatan metode peneltian (termasuk penentuan setting penelitian, subyek penelitian, prosedur penelitian)

90

b. PEMBAHASAN

Hasil evaluasi yang dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan

Menengah menunjukkan bahwa sosialisasi dan pelatihan yang selama ini

biasa dilaksanakan belum mampu meningkatkan kemampuan para pengawas

dan kepala sekolah dalam penelitian dan pengembangan. Berbagai strategi

pelatihan sudah dilaksanakan seperti memanfaatkan forum Kelompok Kerja

Pengawas Sekolah (KKPS) dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah

(MKPS) d i m a n a p a r a pengawas d a n k e p a l a

s e k o l a h dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman guna

(29)

24

tersebut ternyata tidak membuat adanya perubahan terutama tidak

meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakan penelitian. Padahal

mereka dituntut untuk melaksanakan penelitian untuk profesionalisme mereka.

Terutama sekali sebagai seorang Pengawas atau Kepala sekolah adalah

merupakan hal yang wajib mengetahui Penelitian terutama Penelitian Tindakan

Sekolah karena mereka harus mampu memberikan bimbingan kepada para guru

yang merupakan bawahan dan orang yang disupervisi.

Hal tersebut di atas ternyata benar karena dari hasil pre test yang

dilaksanakan pada kegiatan P2M ini menunjukkan 55 % peserta mengatakan

pernah melakukan penelitian namun 97 dari 55% tersebut mengatakan tidak tau

jenis penelitian apa yang dilakukan, dan 100 % peserta yang pernah melakukan

penelitian menyatakan penelitian yang dilakukan hanya untuk persyaratan

kenaikan pangkat, 20 % peserta mengatakan pernah mendengar tentang penelitian

tindakan sekolah dan 80% mengatakan tidak pernah mendengar ttg PTS, 100%

mengatakan belum pernah melakukan PTS.

Dari permasalahan tersebut selanjutnya dilaksanakan Pelatihan Penelitian

Tindakan Sekolah dengan menggunakan model Reflective. Reflective model

adalah model pelatihan Penelitian Tindakan kelas yang merupakan hasil

penelitian Strategis Nasional (Nitiasih, 2009). Dari hasil penelitian menunjukkan

bahwa model ini sangat membantu Guru-Guru dalam menganalisis permasalahan

permasalahan pembelajaran yang dapat diangkat sebagai masalah dalam PTK

(30)

25

dan melaksanakan PTK dalam pembelajaran. Mengingat permasalahan utama dari

Pengawas dan Kepala Sekolah adalah rendahnya kemampuan mereka dalam

menemukan masalah yang dapat dipergunakan sebagai topik penelitian terutama

Penelitian Tindakan Sekolah, perlu dilakukan Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah yang mengimplementasikan ‘Model Reflective’ yang sudah terbukti

mampu meningkatkan kemampuan Guru dalam PTK.

Dalam pelaksanaan pelatihan dilaksanakan observasi yang menunjukkan

bahwa ketekunan mendengarkan ceramah dari peserta atas materi yang

disampaikan ada pada kategori 5 (sangat serius), Dalam melaksanakan kegiatan

dilakukan pula beberapa teknik pelatihan yaitu jig saw. Keseriusan dalam

melakukan jig saw yang diminta dilakukan oleh peserta juga menunjukkan angka

5 yaitu sangat serius. Keseriusan dalam melakukan refleksi terhadap

permasalahan yang dialami di sekolah menunjukkan angka 4 (serius). Hal ini

ditunjukkan dgn banyaknya jumlah permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam

diskusi yang dilakukan. Selanjutnya kejujuran dalam mengemukakan

permasalahan yang dialami di sekolah masing-masing ada dalam kategori 3 yaitu

cukup serius. Hal ini ditunjukkan berdasarkan permasalahan yang dibuat yang

lebih banyak menunjukan permasalahan yang disebabkan oleh guru dan bukan

permasalahan peserta sebagai pengawas dan kepala sekolah. Kegiatan memilih

masalah yang urgen untuk dilaksanakan menunjukkan angka 4 yaitu ada pada

kategori serius. Dalam hal ini peserta sudah mampu mengidentifikasi mana

(31)

26

dan mana yang tidak bisa dipergunakan untuk PTS. Tanggung jawab dalam

melakukan diskusi untuk memilih metode yang sesuai untuk memecahkan

masalah yang dialami oleh kepala sekolah dan pengawas menunjukan angka 5

yang ada pada kategori sangat serius. Hasil observasi dalam tahapan ini dilihat

dari keseriusan peserta dalam mencari cara pemecahan masalah terhadap masalah

yang diidentifikasi. Tanggungjawab untuk menyelesaikan proposal penelitian

menunjukan angka 4 (serius) dan keseriusan dalam menulis proposal penelitian

ada pada kategori sangat serius. Hasil diatas disebabkan karena para guru merasa

sangat perlu dengan pengetahuan tentang PTS. Mereka diberikan pengertian

bahwa tujuan utama Penelitian Tindakan Sekolah adalah untuk memecahkan

permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada

dalam binaan pengawas sekolah. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan

untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah

mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

Secara lebih rinci, tujuan Penelitian Tindakan Sekolah antara lain : (1)

meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan,

manajemen dan pembelajaran, termasuk mutu guru, kepala sekolah,

khususnya yang berkaitan dengan tugas profesional kepengawasan, di

sekolah-sekolah yang menjadi binaannya; (2) meningkatkan kemampuan dan

sikap profesional sebagai pengawas sekolah; (3) menumbuhkembangkan

budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di

(32)

27

Keseriusan tersebut juga disebabkan oleh pengertian yang diperoleh

bahwa Penelitian Tindakan Sekolah memerlukan adanya tindakan (action)

yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang

sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan

permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan mutu proses dan hasil

kepengawasan.

Hasil dari kesriusan mereka dapat dilihat dari penilaian atas produk

pelatihan berupa proposal Penelitian Tindakan Sekolah sebagai berikut : 1)

dalam mengidentifikasi kemampuan rata rata peserta adalah 87, 2) dalam

menentukan masalah penelitian rerata kemampuan peserta adalah 92. Hal ini

merupakan kemajuan luar biasa karena peserta mengetahui mana masalah –

masalah yang bisa dipergunakan untuk penelitian. Kemampuan yang lebih baik

juga ditunjukkan oleh peserta dalam menentukan sumber masalah yang ada,

kebanyakan dari mereka lebih banyak menyalahkan guru dibandingkan menilai

diri sendiri. Kemampuan yang paling rendah dari peserta adalah dalam

menentukan bukti pendukung untuk masalah penelitian. Penentuan cara

pemecahan masalah menunjukkan kemampuan yang baik yaitu 80. Karena

kurangnya informasi terhadap teori-teori pembelajaran dan management,

kemampuan peserta menulis teori-teori yang relevan juga tidak terlalu baik.

Namun pembuatan metode peneltian (termasuk penentuan setting penelitian,

(33)

28

baik yaitu 90.Kemampuan dalam metodologi ini jelas sangat mendukung

(34)

29

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

a. SIMPULAN

Berdasarkan hasil kegiatan dapat sisimpulkan bahwa :

a) Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah dengan menggunakan ‘Reflective Model’ dapat meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan dan menentukan permasalahan- permasalahan sekolah yang dapat dipergunakan sebagai masalah PTS

b) Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah dengan menggunakan ‘Reflective Model’ dapat meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menemukan cara memperbaiki (treatment) terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekolah

c) Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah dengan menggunakan ‘Reflective Model’ dapat meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam menyusun usulan Penelitian Tindakan Sekolah dan melaksanakannya sebagai kegiatan pengembangan profesinya sebagai pengawas dan kepala sekolah

d) Pelatihan Penelitian Tindakan Sekolah dengan menggunakan ‘Reflective Model’ dapat meningkatkan kemampuan Pengawas dan Kepala Sekolah dalam melaksanakan dan melaporkan hasil penelitiannya.

(35)

30

b. SARAN

Dari pelaksanaan pelatihan ada beberapa saran yang diusulkan dalam P2M

selanjutnya yaitu:

1. Kelemahan peserta pada saat pelatihan adalah mencari teori-teori yang

relevan dan menentukan bukti pendukung terhadap permasalahan. Untuk

dapat meningkatkan kemampuan ini pelaksanaan P2M selanjutnya perlu

menyiapkan buku buku yang relevan yang dapat dipergunakan sebagai

sumber atas teori teori yang dipergunakan dalam penelitian.

2. Manfaat pengabdian ini sangat dirasakan oleh pengawas dan kepala

sekolah, namun belum semua kepala sekolah dan pengawas memperoleh

kesempatan. Untuk itu perlu diberikan pelatihan untuk kepala sekolah dan

(36)

31

Daftar Pustaka

Killen, Roy. 1998. Effective Teaching Strategies. Katoomba NSW: Social Science Press

Nitiasih, Putu Kerti, 2010. Model Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas

Reflektif Berbasis Kompetensi (PTK-RBK) Untuk Meningkatkan

Profesionalisme Guru di Provinsi Bali. Hasil Penelitian yang tidak

dipublikasikan.

Padmadewi, Ni Nyoman; Artini, Luh Putu; Heri santosa, Made.2008. Studi Penelusuran Alumni tentang Relevansi Kurikulum dengan Kebutuhan

Pekerjaan Guru di Sekolah. Hasil penelitian yang tidak dipublikasikan.

Rindjin, Sarna, Padmadewi. 2006. Diagnosis Masalah Pembelajaran (Makalah disampaikan dalam Focused Group Discussion antar Guru-Guru SD, SMP se Kabupaten Banjar tanggal 21 Oktober 2006.

Rinjin, Nitiasih, Permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran (Makalah disampaikan dalam Focused Group Discussion antar Guru-Guru SD, SMP se-Kabupaten Banjar tahun 2006.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D. Bandung, Alfabetha Bandung

Tantra, Dewa Komang. 2005. Penelitian Tindakan Kelas (Makalah

disampaikan dalam Workshop Menumbuhkan Komitmen Guru dan Pegawai SMA Negeri 4 Denpasar tanggal 3 Januari 2005).

Tantra, D.K. 2005. Peningkatan Profesionalisme Guru dengan Paradigma Baru ( makalah disampaikan dalam workshop menumbuhkan komitmen guru dan pegawai SMA Negeri 3 Denpasar, pada tanggal 3 Januari 2005).

Gambar

Gambar 1. Model Pelatihan Reflektif  (Reflective Model)
Gambar 2.  Bagan alur Kerangka Pemecahan Masalah P2M
Gambar 3. Sintaks pelaksanaan pelatihan dengan model ‘Reflective’
Gambar 4. Prosedur evaluasi

Referensi

Dokumen terkait

Pada dasarnya tujuan yang dikehendaki dari penerbitan buku pedoman ini adalah sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan Dosen dalam mengusulkan dan melaksanakan

Di berbagai sekolah (SMP dan SMA) yang menugaskan guru fisika sebagai pembina ektrakurikuler tersebut, seringkali memunculkan sebuah masalah yakni tidak semua

Manfaat bagi guru adalah mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi guna mempermudah dalam proses pembelajaran tingkatan bahasa Bali (anggah-ungguhing basa Bali)

Dengan melibatkan peserta, yakni para guru pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris dari 9 kecamatan di Kabupaten Buleleng dalam kegiatan tersebut, mereka dapat menimba ilmu

Meningkatkan mitra pengabdian ini tidak hanya kepada guru-guru saja tetapi juga para siswa dan mahasiswa agar dapat lebih luas memanfaatkan metode membaca SQ3R

Dari cara-cara tersebut, menulis karya ilmiah bagi kebanyakan guru termasuk guru SD masih merupakan kegiatan yang sulit dilakukan sehingga perlu adanya banyak

Secara umum program pengabdian pada masyarakat bertemakan” Pelatihan Perancangan, Pembuatan, dan Penggunaan Alat Peraga Matematika Bagi Guru-Guru SD Gugus III

Setelah dilakukan perancangan sistem informasi akademik yang dibutuhkan di MTs Al Amanah, pelatihan diberikan kepada wakil guru untuk dapat menggunakan sistem tersebut.. Tahap