• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANCANGAN AWAL RPJMD KOTA BANDUNG TAHUN 2018-2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RANCANGAN AWAL RPJMD KOTA BANDUNG TAHUN 2018-2023"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang

Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; serta Peraturan

Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah, kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak

atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan

kuantitas dan kualitas terukur.

Kinerja

menggambarkan

kondisi

yang

harus

diketahui

dan

dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian

hasil instansi dihubungkan dengan visi yang diemban organisasi serta

mengetahui dampak positif dan negatif dari kebijakan operasional. Kinerja

menggambarkan berhasil atau tidaknya tujuan organisasi. Indikator Kinerja

adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif yang terdiri

dari unsur masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang

menggambarkan tingkat capaian kinerja.

Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan memberikan gambaran

ukuran keberhasilan pencapaian Visi dan Misi Kepala Daerah dan Wakil

Kepala Daerah pada akhir masa jabatan, yang ditunjukkan melalui akumulasi

pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun

atau indikator capaian bersifat mandiri setiap tahun, sehingga kondisi kinerja

yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.

Indikator kinerja daerah secara teknis dirumuskan dengan mengambil

indikator dari program prioritas yang telah ditetapkan (outcomes) atau

kompositnya (impact). Indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan

hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program

(outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan,

setelah program dan kegiatan prioritas ditetapkan.

Adapun pemetaan target dan indikator tujuan pada akhir periode

RPJMD

Kinerja Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah

(2)

RPJMD Kota Bandung adalah sebagai berikut:

Tabel 8.1.

Penetapan Indikator Daerah /

Tujuan Pembangunan Kota Bandung Tahun 2019-2023

NO. INDIKATOR SATUAN Baseline

2018

Tahun

2023 Sumber Data

1 IPM (Metode Baru) Poin N/A 82,82 BPS

2 Indeks Reformasi Birokrasi poin N/A 7,13 Kemen PAN &

RB

3 LPE (Metode Baru) % N/A 7,98 BPS

4 Gini Ratio poin N/A 0,40 BPS

5 Liveable City Index Poin N/A 73,77 Diskominfo

Sumber: Proyeksi Bappelitbang Kota Bandung

1.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM Kota Bandung ditargetkan meningkat menurut hasil proyeksi

berdasarkan pencapaian IPM tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan

target IPM ini selaras dengan meningkatnya komponen-komponen

pendukung

IPM.

Komponen

IPM

yang

relatif

paling

reaktif

mempengaruhi pencapaian IPM adalah Pengeluaran Per Kapita Per

Tahun yang Disesuaikan. Hal ini terlihat dari tabel diatas bahwa

pergerakan komponen lain seperti Harapan Lama Sekolah, Rata-rata

Lama Sekolah, Angka Harapan Hidup; relatif lebih lambat kenaikannya.

Pengeluaran Per Kapita Per Tahun, sangat dipengaruhi kondisi

perekonomian daerah. Namun yang menjadi persoalan, perekonomian

daerah sangat tergantung kepada situasi kondisi perekonomian

nasional, regional bahkan internasional. Padahal situasi kondisi

perekonomian nasional, regional, dan internasional jauh diluar

kewenangan pemerintah daerah.

2.

Indeks Reformasi Birokrasi

Reformasi Birokrasi bermakna sebagai sebuah perubahan besar dalam

paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. Reformasi birokrasi

merupakan upaya berkelanjutan yang setiap tahapannya memberikan

(3)

birokrasi bertujuan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang

profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi,

bersih dan bebas KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera,

berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik

aparatur negara.

Indikator Reformasi Birokrasi adalah Indeks Persepsi Korupsi (IPK),

Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan,

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), indeks kemudahan

berusaha, Survei Kepuasan Masyarakat.

Implementasi Reformasi Birokrasi sangat penting dan merupakan suatu

keharusan di era milenial saat ini, mengingat perubahan tatanan

kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat sangat cepat sehingga

harus diimbangi oleh kinerja birokrasi yang cepat, efektif dan efisien.

Untuk mencapai tujuan atau keadaan yang ingin dicapai terkait

peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilihat dari pencapaian

kinerja beberapa variabel atau area perubahan dalam komponen Indeks

(4)

Penghitungan indeks reformasi birokrasi dapat dilihat dari pencapaian

kinerja masing-masing variabel atau area perubahan berdasarkan

pemenuhan, kualitas dan implementasinya. Penilaian Indeks Reformasi

Birokrasi di bagi menjadi 2 (dua) komponen yaitu komponen proses

(pengungkit) dengan bobot penilaian sebesar 60% dan komponen hasil

dengan bobot penilaian sebesar 40%, yang kemudian nilai reformasi

birokrasi didapat dari penjumlahan pencapaian kinerja kedua komponen

tersebut. Adapun beberapa sub variable dalam komponen proses

(5)

Sedangkan untuk pencapaian kinerja komponen hasil dapat dilihat dari

beberapa sub variabel sebagai berikut :

•Nilai Akuntabilitas Kinerja

•Nilai Kapasitas Organisasi

Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Organisasi

•Nilai Persepsi Korupsi

•Opini BPK

Pemerintah yang Bersih dan bebas KKN

•Nilai Persepsi Kualitas Pelayanan

(6)

3.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bandung ditargetkan sekitar 7

persen per tahun selama kurun waktu, dari tahun 2019 sampai dengan

2023. Target ini diproyeksikan berdasarkan pencapaian LPE tahun 2013

sampai dengan 2018. Pertumbuhan diproyeksikan stabil di 7 persen,

mengingat pencapaian diatas 5 persen itu termasuk sangat tinggi.

Uraian tentang LPE ini akan terkait dengan PDRB atas dasar harga

berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. Hal ini terjadi karena

konsep-konsep yang ada saling berkaitan. PDRB atas dasar harga

berlaku adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung

menggunakan harga pada tahun berjalan, yang digunakan untuk

mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan

struktur ekonomi suatu daerah. Sementara PDRB atas dasar harga

konstan adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung

menggunakan harga tahun dasar, yang digunakan untuk mengetahui

laju pertumbuhan ekonomi (LPE) atau dengan bahasa teknis

perhitungan LPE berdasarkan perubahan PDRB atas dasar harga

konstan tahun beriringan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan proses terjadinya kenaikan produk

nasional bruto atau pendapatan nasional riil. Dengan kata lain,

perekonomian mengalami perkembangan jika terjadi pertumbuhan

output riil. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari

perkembangan suatu perekonomian. Dari suatu periode ke periode

lainnya, kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa

meningkat.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu

daerah diantaranya :

1.

Tanah dan Kekayaan Alam

2.

Mutu Tenaga Kerja dan Penduduk

3.

Barang Modal dan Tingkat Teknologi

4.

Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat

(7)

Gini ratio atau koefisien Gini merupakan salah satu ukuran yang paling

sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan

secara menyeluruh. Koefisien Gini berkisar antara 0 sampai 1. Apabila

Gini ratio bernilai 0 berarti pemerataan sempurna, sedangkan apabila

bernilai 1 berarti ketimpangan sempurna. Nilai Gini ratio lebih dari 0

sampai dengan kurang dari 0,4 berarti ketimpangan rendah. Nilai Gini

ratio antara 0,4 sampai dengan 0,5 berarti ketimpangan sedang. Nilai

Gini ratio lebih dari 0,5 sampai dengan kurang dari 1 berarti

ketimpangan tinggi.

Rasio Gini atau koefisien adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan

distribusi penduduk. Ini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah

kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu

variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform

(seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Koefisien Gini

(Gini Ratio) adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat

(secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan

sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

Suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai Koefisien Gini

mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan

makin tidak merata jika nilai Koefisien Gini nya makin mendekati satu.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

NILAI KOEFISIEN

DISTRIBUSI PENDAPATAN

<0,4

Tingkat Ketimpangan Rendah

0,4

0,5

Tingkat Ketimpangan Sedang

>0,5

Tingkat Ketimpangan Tinggi

Rumus Gini Ratio

GR = 1-

∑fi[Yi+ Yi

-1]

Keterangan :

Fi : jumlah persen (%) penerima pendapatan kelas ke i.

Yi : jumlah kumulatif (%) pendapatan pada kelas ke i.

(8)

Bila GR = 0, ketimpangan pendapatan merata sempurna, artinya setiap

orang menerima pendapatan yang sama dengan yang lainnya.

Bila GR = 1 artinya ketimpangan pendapatan timpang sempurna atau

pendapatan itu hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja.

5.

Liveable City Index Aspek Tata Ruang, Lingkungan Hidup, dan

Infrastruktur

Liveable City Index mengukur tingkat kenyamanan kota, didasarkan

atas persepsi warga kota terhadap kotanya, mengenai kelayakhunian

kota tempat tinggalnya. Indeks ini lebih dimaksudkan mengukur

kualitas kehidupan warga kota. Indeks ini mengukur ketersediaan

sarana kebutuhan dasar (perumahan, air, listrik, dsb); ketersediaan

fasilitas publik (transportasi, taman-taman kota, fasilitas beribadah,

kesehatan, pendidikan, dsb); ketersediaan ruang publik dan tempat

berinteraksi bagi masyarakat; keamanan; dukungan fungsi ekonomi,

sosial, dan budaya di kota; serta sanitasi. Index Liveable City ditargetkan

diangka 73 berdasarkan perolehan angka di tahun 2017.

Livable City adalah kota yang layak huni dimana masyarakat kota dapat

mencari pekerjaan, melayani kebutuhan dasar termasuk air bersih dan

sanitasi, memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan

yang layak, hidup dalam komunitas yang aman dan lingkungan yang

bersih. Dapat dikatakan bahwa Livable City merupakan gambaran

sebuah lingkungan dan suasana kota yang nyaman sebagai tempat

tinggal dan sebagai tempat untuk beraktifitas yang dilihat dari berbagai

aspek, baik aspek fisik (fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang, dll)

maupun aspek non-fisik (hubungan sosial, aktivitas ekonomi, dll).

Jadi indeks liveable city adalah ukuran yang digunakan untuk

mengetahui tingkat kenyamanan dan ketenangan hidup masyarakat

dalam suatu kota. Beberapa aspek yang mempengaruhi liveable city

(9)

Khusus terkait indikator tujuan Terwujudnya infrastruktur dan tata

ruang kota yang berkualitas dan berwawasan lingkungan maka aspek

yang diukur hanya 3 aspek yaitu Tata Ruang, Lingkungan Hidup, dan

Infrastruktur.

8.1. Indikator Kinerja Utama (IKU)

Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, IKU adalah ukuran

keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan merupakan ikhtisar hasil

berbagai program dan kegiatan sebagai penjabaran tugas dan fungsi

organisasi.

Target indikator kinerja utama pembangunan Kota Bandung tahun

2019-2023 berdasarkan hasil evaluasi capaian kinerja pemerintah daerah

tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 dan memperhatikan peluang serta

tantangan selama kurun waktu lima tahun mendatang sampai dengan tahun

2023, akan dicantumkan pada tabel-tabel dibawah ini.

Aspek Tata Ruang (Tata Kota, RTH),

Aspek Lingkungan (Kebersihan, Polusi)

Aspek Transportasi (Jalan, Angkutan)

Aspek Fasilitas Kesehatan

Aspek Fasilitas Pendidikan

Aspek Infrastruktur – Utilitas (Listrik, Air, Telekomunikasi)

Aspek Ekonomi (LapanganKerja, LokasiKerja)

Aspek Keamanan

(10)

Tabel 8.2. Target Indikator Kinerja Utama (IKU) Daerah

Sebagai Indikator Sasaran Pembangunan Kota Bandung Tahun 2019-2023

NO. INDIKATOR SATUAN Baseline 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Sumber Data

1 Indeks Modal Sosial Poin N/A 48.10 49.82 51.55 53.27 55.00 BPS

2 Harapan Lama Sekolah Tahun 13.90 14.00 14.01 14.01 14.02 14.03 BPS

3 Umur Harapan Hidup Tahun 73.86 73,90 73,92 73,94 73,96 73,98 BPS

4 Nilai Evaluasi AKIP Predikat A A A A A A Kemen PAN

5 Nilai LPPD Predikat Sangat

Tinggi

Sangat Tinggi

Sangat Tinggi

Sangat Tinggi

Sangat Tinggi

Sangat

Tinggi Kemendagri

6 Opini BPK Terhadap Laporan Keuangan

Predikat WDP WDP WTP WTP WTP WTP BPK

7 Indeks Kepuasan Masyarakat poin 75.74 75,75 75,76 75,77 75,78 75,79 Perguruan

Tinggi

8 Level Kematangan Smart City Tingkat Integrative Integrative Integrative Smart Smart Smart Kemen

Kominfo

9 PDRB Per Kapita Juta Rp 52,47 70,73 73,38 76,03 78,68 81,33 BPS

10 Indeks Pariwisata poin 3.27 3.44 3.59 3.68 3.71 3.73 Dinas

Pariwisata

11 Tingkat Pengangguran Terbuka % 8.44 8.39 8.34 8.29 8.25 8,22 BPS

12 Angka Kemiskinan % 4.17 3,83 3,66 3,49 3,32 3,14 BPS

13 Persentase RTH

% 12.2 12.4 12.6 12.8 13.0 13.2 DPKP3

(11)

NO. INDIKATOR SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023

Sumber Data

15 Jumlah Titik Kemacetan lokasi 8 6 4 2 1 1 Dinas

Perhubungan

16 Persentase Luasan Kawasan Kumuh % 9,76 8 7 6 5 4 DPKP3

17 Cakupan Layanan Air Bersih % 76 83 86 91 93 95 DPU

18 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Poin 32,56 32,76 32,86 32,96 33,06 33,16 DLHK

19 Cakupan Layanan Pengelolaan Sampah Kota % 91 97 98 98 99 99 DLHK

20 Tingkat Partisipasi Dan Kolaborasi Masyarakat

Dan Swasta Dalam Pembangunan % 193 Milyar

Meningkat 2% dari

tahun 2018

Meningkat 4% dari

tahun 2018

Meningkat 6% dari

tahun 2018

Meningkat 8% dari

tahun 2018

Meningkat 10% dari

tahun 2018

BPKA

21 Persentase Prioritas Pembangunan Melalui CSR % 5% 33,33 66,67 66,67 66,67 100 BPKA

22 Persentase Prioritas Pembangunan Melalui

Swasta % 0% 33,33 66,67 66,67 66,67 100 BPKA

(12)

8.1.1

Indeks Modal Sosial

Indeks Modal Sosial adalah nilai/ukuran yang dibutuhkan Kota

Bandung untuk menjawab permasalahan sosial kemasyarakatan

sekaligus tantangan untuk meningkatkan pembangunan inklusif

yang

berkeadilan,

mensejahterakan

dan

membahagiakan

masyarakat.

Tujuan dilaksanakannya pengukuran indeks Modal Sosial Kota

Bandung adalah untuk mengetahui kohesifitas sosial masyarakat

Kota Bandung yang menggambarkan adanya toleransi, saling

percaya, gotong royong secara berkala sebagai bahan penetapan

kebijakan dalam rangka peningkatan program pembangunan dan

pemberdayaan masyarakat. Rencana tindak lanjut dari pengukuran

indeks Modal Sosial ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau

pedoman dalam perencanaan pembangunan Kota Bandung.

Dimensi, Indikator dan Pernyataan

Pengukuran Indeks Modal Sosial

Dimensi

Indikator

Pernyataan/ Pertanyaan

1.

Sikap

Percaya

dan

toleransi

1.

Sikap Percaya/trust

1.

Sikap

Percaya

Menitipkan

anak

kepada tetangga

2.

Sikap

Percaya

Menitipkan

rumah

kepada tetangga

3.

Sikap Percaya pada

tokoh masyarakat

4.

Sikap Percaya pada

tokoh agama

5.

Sikap Percaya pada

Perangkat Desa

2.

Toleransi Agama

6.

Tanggapan

akan

dibangun

tempat

ibadah agama laian

7.

Tanggapan

terhadap

kegiatan

dari

kelompok agama lain

8.

Anak

bersahabat

dengan berbeda agama

9.

Anak menikah dengan

berbeda agama

3.

Toleransi Suku

10.

Anak menikah dengan

(13)

dengan berbeda suku

12.

Tanggapan

terhadap

kegiatan

dari

kelompok suku lain

2.

Aksi

bersama

4.

Resiprositas

13.

Kemudahan Mendapat

Pertolongan

14.

Bersedia

membantu

tetangga

yang

kesulitan

5.

Aksi Bersama

15.

Mengikuti

kegiatan

bersama

untuk

kepentingan warga

16.

Partisipasi

dalam

kegiatan keagamaan

17.

Mengikuti

kegiatan

bersama

untuk

membantu warga

18.

Partisipasi

dalam

kegiatan

sosial

kemasyarakatan

3.

Kelompok

dan

jejaraing

6.

Partisipasi

dalam

kelompok

19.

Frekwensi pertemuan

warga di lingkungan

20.

Pengambilan

keputusan

di

lingkungan

21.

Mengikuti pertemuan

warga (rapat)

22.

Memberikan

pendapat/saran dalam

pertemuan

7.

Jejaring

23.

Jumlah

Kelompok/organisasi

yang diikuti

24.

Kedudukan

dalam

kelompok

8.1.2

Harapan Lama Sekolah

Harapan Lama Sekolah adalah lamanya sekolah (dalam tahun)

yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu

dimasa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut

akan tetap bersekolah pada umur berikutnya sama dengan

peluang penduduk yang bersekolah perjumlah penduduk untuk

umur yang sama saat ini. Angka harapan lama sekolah dihitung

(14)

digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem

pendidikan diberbagai jenjang yang ditunjukan dalam bentuk

lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai

oleh setiap anak.

8.1.3

Umur Harapan Hidup

Umur Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata

rata tahun

hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil

mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi

mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Umur

Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja

pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada

umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.

Umur Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti

dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial

lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan

kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.

Umur harapan hidup (UHH), dijadikan indikator dalam mengukur

kesehatan suatu individu di suatu daerah. UHH adalah rata-rata

perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang selama

hidup. UHH diartikan sebagai umur yang mungkin dicapai

seseorang yang lahir pada waktu tertentu. UHH di hitung

menggunakan pendekatan tak langsung

(indirect estimation)

. Ada

dua jenis data yang digunakan dalam perhitungan UHH yaitu

anak lahir hidup (ALH) dan anak masih hidup (AMH).

Sementara itu untuk menghitung indeks harapan hidup

digunakan nilai maksimum harapan hidup sesuai UNDP, dimana

angka tertinggi sebagai batas atas untuk perhitungan indeks

dipakai 85 tahun dan terendah 25 tahun (standar UNDP). Umur

Harapan Hidup dapat panjang jika status kesehatan, gizi dan

lingkunnya yang baik.

(15)

Pencapaian indikator kinerja Nilai Evaluasi Akuntabilitas Kinerja

Instansi Pemerintah (AKIP) di dapat dari hasil penjumlahan

penilaian beberapa komponen AKIP baik dari sisi pemenuhan,

kualitas maupun implementasinya. Berikut beberapa komponen

serta bobot penilaian AKIP, diantaranya :

8.1.5

Nilai LPPD

Laporan

Penyelenggaraan

Pemerintahan

Daerah

kepada

Pemerintah yang selanjutnya disebut LPPD adalah laporan atas

penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun

anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah

(RKPD) yang disampaikan oleh Kepala Daerah kepada Pemerintah.

Ruang lingkup LPPD mencakup penyelenggaraan:

a.

Urusan Desentralisasi;

-

urusan wajib; dan

-

urusan pilihan

b.

Tugas Pembantuan;

-

tugas pembantuan yang diterima dari Pemerintah;

-

tugas pembantuan kepada kabupaten/kota; dan

-

tugas pembantuan kepada desa.

c.

Tugas Umum Pemerintahan.

Perencanaan Kinerja (30%)

Pengukuran Kinerja (25%)

Pelaporan Kinerja (15%) Evaluasi

Internal (10%) Capaian

(16)

-

kerjasama antar daerah;

-

kerjasama daerah dengan pihak ketiga;

-

koordinasi dengan instansi vertikal di daerah;

-

pembinaan batas wilayah;

-

pencegahan dan penanggulangan bencana;

-

pengelolaan kawasan khusus yang menjadi kewenangan

daerah;

-

penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum; dan

-

tugas-tugas

umum

pemerintahan

lainnya

yang

dilaksanakan oleh daerah.

8.1.6

Opini BPK Terhadap Laporan Keuangan

Pencapaian indikator kinerja Opini BPK terhadap Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah di dapat dari pemenuhan beberapa

kriteria

penilaian

seperti

kesesuaian

standar

akuntansi

pemerintah,

efektivitas

penilaian

internal,

kecukupan

pengungkapan informasi, dan kepatuhan pada peraturan

perundang-undangan.

Kriteria Opini

1.

Pembatasan lingkup

Pembatasan terhadap lingkup audit terdiri atas:

a.

Pembatasan oleh auditee.

Hal ini terjadi karena auditee benar-benar tidak

memberikan data/informasi yang dibutuhkan. Hal ini juga

didukung oleh bukti-bukti secara tertulis dan disadari

oleh kedua belah pihak.

b.

Pembatasan oleh keadaan (keterbatasan waktu, dana, dll).

Hal ini terjadi pada saat auditor tidak mampu meyakini

diri mereka sendiri terhadap kewajaran LK engan

keterbatasan yang di luar kontrol pihak auditor maupun

auditee.

2.

Materialitas

(17)

a.

Suatu akun tertentu tetapi tidak terhadap LK secara

keseluruhan.

Tingkat

materialitas

terhadap

suatu

akun

hanya

mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap

akun tertentu tersebut (apabila tidak dilakukan koreksi).

Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap penyajian

LK secara keseluruhan.

b.

Suatu akun dan terhadap LK secara keseluruhan

Tingkat materialitas ini dapat menghasilkan pendapat

tidak wajar (tingkat maksimal, apabila tidak dapat

dilakukan koreksi).

3.

SPI yang memadai

Pengukuran tingkat pengendalian intern dilakukan dengan

membandingkan

tingkat

kesesuaian

peng-aplikasi-an

penyusunan dan pelaporan LK dengan Standar Akuntansi

Pemerintahan, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dan

Standar Pemeriksaan Akuntan Publik (dalam hal-hal yang

menjadi referensi SPKN).

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:

a.

Pengukuran kuantitas tertentu

Keadaan ini dapat dihitungkan dengan persentase

tertentu, misalnya dengan persentase atas sampling

jumlah BAST yang diotorisasi oleh pihak yang berwenang.

b.

Pengukuran kualitas yang memerlukan “judgement”.

Tingkat pengendalian ini misalnya terjadi pada tingkat

kompetensi personil pelaksana.

4.

Kesesuaian dengan SAP

Tingkat

kesesuaian

terhadap

SAP

dilakukan

dengan

memahami laporan-laporan yang wajib disusun dan volunteer

(pilihan).

5.

Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan opini:

(18)

b.

Efektivitas pengendalian intern

c.

Kepatuhan terhadap ketentuan per-UU

d.

Pengungkapan yang memadai

6.

Unqualified opinion (Pendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian)

diberikan dengan kondisi:

a.

Keempat kriteria yang menjadi kriteria dalam penentuan

opini dapat dipenuhi.

b.

Semua koreksi yang dapat mempengaruhi kewajaran

penyajian LK sudah dilakukan oleh auditee.

c.

Dapat

melakukan review

atas

auditor

lain

yang

melaksanakan pemeriksaan atas LK entitas lain yang

menjadi bagian LK yang kita periksa. Atau, tidak dapat

mereview pekerjaan auditor lain tersebut, tetapi dapat

meyakini bahwa bagian tersebut tidak material terhadap

LK yang kita diperiksa.

7.

Unqualified opinion with modified wording (Pendapat Wajar

Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelasan)

a.

Keempat kriteria kecuali pembatasan lingkup audit telah

dipenuhi.

b.

Terdapat koreksi material yang tidak dilaksanakan oleh

auditee.

c.

Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang

melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian

dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya material

(bukan tidak material, dan bukan sangat material).

8.

Qualified opinion (Pendapat Wajar Dengan Pengecualian)

a.

Pembatasan lingkup audit atas beberapa akun yang

cukup material (bukan tidak material dan bukan sangat

material).

b.

Tidak semua koreksi telah dilakukan oleh auditee

c.

Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang

melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian

dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya sangat

(19)

9.

Adverse opinion (Pendapat Tidak Wajar)

Pada dasarnya, Pendapat Tidak Wajar diberikan apabila

auditor dapat meyakini bahwa penyajian LK tidak wajar,

dengan kondisi:

a.

Terdapat 2 kriteria yang tidak dipenuhi, yaitu “kesesuaian

dengan

Standar

Akuntansi

Pemerintahan”

dan

“Konsistensi pelaksanaan SAP”.

b.

Terdapat koreksi yang sangat material yang tidak

dilaksanakan oleh auditee.

10.

Disclaimer

Pendapat Tidak Memberi Pendapat diberikan pada saat

auditor tidak dapat menyimpulkan bahwa penyajian LK wajar

atau tidak wajar, dengan kondisi-kondisi:

a.

Keempat kriteria tersebut tidak dilaksanakan.

b.

Terdapat pembatasan lingkup audit atas akun-akun yang

sangat material terhadap penyajian LK.

c.

Prosedur alternatif untuk meyakini kewajaran penyajian

LK tidak dapat dilaksanakan.

d.

Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang

melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian

dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya sangat

material.

8.1.7

Indeks Kepuasan Masyarakat

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman

Penyusunan Survei Kepuasan masyarakat Unit Penyelenggara

Pelayanan Publik menjelaskan definisi dan beberapa unsur

penilaian SKM diantaranya :

Survei Kepuasan Masyarakat adalah kegiatan pengukuran secara

komprehensif tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap

kualitas layanan yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan

(20)

Indeks Kepuasan Masyarakat adalah hasil pengukuran dari

kegiatan Survei Kepuasan Masyarakat berupa angka. Angka

ditetapkan dengan skala 1 (satu) sampai dengan 4 (empat).

Unsur SKM dalam peraturan ini meliputi:

1.

Persyaratan

Persyaratan adalah syarat yang harus dipenuhi dalam

pengurusan suatu jenis pelayanan, baik persyaratan teknis

maupun administratif.

2.

Sistem, Mekanisme, dan Prosedur

Prosedur adalah tata cara pelayanan yang dibakukan bagi

pemberi dan penerima pelayanan, termasuk pengaduan.

3.

Waktu Penyelesaian

Waktu Penyelesaian adalah jangka waktu yang diperlukan

untuk menyelesaikan seluruh proses pelayanan dari setiap

jenis pelayanan.

4.

Biaya/Tarif *)

Biaya/Tarif adalah ongkos yang dikenakan kepada penerima

layanan dalam mengurus dan/atau memperoleh pelayanan

dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan berdasarkan

kesepakatan antara penyelenggara dan masyarakat.

5.

Produk Spesifikasi Jenis Pelayanan

Produk spesifikasi jenis pelayanan adalah hasil pelayanan

yang diberikan dan diterima sesuai dengan ketentuan yang

telah ditetapkan. Produk pelayanan ini merupakan hasil dari

setiap spesifikasi jenis pelayanan.

6.

Kompetensi Pelaksana

Kompetensi Pelaksana adalah kemampuan yang harus

dimiliki oleh pelaksana meliputi pengetahuan, keahlian,

(21)

7.

Perilaku Pelaksana

Perilaku Pelaksana adalah sikap petugas dalam memberikan

pelayanan.

8.

Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan

Penanganan pengaduan, saran dan masukan, adalah tata

cara pelaksanaan penanganan pengaduan dan tindak lanjut.

9.

Sarana dan prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat

dalam mencapai maksud dan tujuan. Prasarana adalah segala

sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya

suatu

proses

(usaha,

pembangunan,

proyek).

Sarana

digunakan untuk benda yang bergerak (komputer, mesin) dan

prasarana untuk benda yang tidak bergerak (gedung).

Standar Pelayanan Publik

Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki

standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan

adanya

kepastian

bagi

penerima

pelayanan.

Standar

pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam

penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh

pemberi pelayanan dan/atau penerima pelayanan. Standar

Pelayanan Publik, menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 15 Tahun

(22)

8.1.8

Level Kematangan Smart City

Smart City dapat diartikan sebagai kota yang memanfaatkan

teknologi informasi untuk mengintegrasikan seluruh infrastruktur

dan pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat, seperti

administrasi, pendidikan, kesehatan, transportasi, perekonomian,

sumber daya energi, pemukiman dan keselamatan publik sehingga

dengan bersinerginya seluruh aspek tersebut bersama masyarakat

akan dapat meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kota.

Konsep Smart City dapat dirumuskan ke dalam 6 dimensi yaitu :

Sedangkan untuk Maturity Level Smart City dapat dibedakan ke

dalam 5 level menurut Ganesha Smart City Maturity Model,

diantaranya :

Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses penyampaian pelayanan (service delivery) yaitu :

1. Persyaratan

2. Sistem, mekanisme dan Prosedur 3. Jangka Waktu Pelayanan

4. Tarif/Biaya 5. Produk Pelayanan

6. Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan

Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses pengelolaan pelayanan di internal organisasi (manufacturing) yaitu :

1. Dasar Hukum

2. Sarana dan Prasarana/Fasilitas 3. Kompetensi Pelaksana

4. Pengawasan Internal 5. Jumlah Pelaksana 6. Jaminan Pelayanan

7. Jaminan Keamanan dan Keselamatan Pelayanan 8. Evaluasi Kinerja Pelaksana

Smart

Economy

Smart

Mobility

Smart

Environment

Smart

People

Smart Living

(23)

Pada tahun 2016 telah dilakukan Penelitian untuk mengetahui

tingkat kematangan Smart City Kota Bandung dan hasil penelitian

tersebut menjelaskan bahwa level kematangan Smart City Kota

Bandung berada pada level Scattered dengan poin (54.15). Pemerintah

Kota Bandung akan terus melakukan perbaikan dan penyesuaian

terkait implementasi Smart City yang sudah ada saat ini. Harapannya

hal ini akan berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan dan

partisipasi masyarakat terhadap pemerintah daerah dalam upayanya

memberikan pelayanan public yang efektif, efisien dan melayani.

Berikut dapat dijelaskan uraian perhitungan level kematangan

(24)
(25)

8.1.9

PDRB Per Kapita

PDRB perkapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan

yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu

wilayah/daerah. Data statistik ini merupakan salah satu indikator

yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu

wilayah/daerah. PDRB perkapita diperoleh dari hasil bagi antara

PDRB

dengan

jumlah

penduduk pertengahan

tahun yang

bersangkutan. Jadi besarnya PDRB perkapita tersebut sangat

dipengaruhi oleh kedua variabel diatas.

8.1.10

Indeks Pariwisata

Indeks Pariwasata adalah penilaian terhadap upaya peningkatan

dan pengembangan kepariwisataan pada suatu wilayah dalam

kurun waktu tertentu. Penyusunan ranking didapat melalui survey

dan mengacu pada Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI)

yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) yang disesuaikan

dengan kondisi di Indonesia. Penggunaan global standard,

dimaksudkan agar kita bisa berkompetisi di level global. Standart

penilaiannya menggunakan TTCI

WEF yang sudah diakui dunia,

dan dipotret dengan analisa indikator dan kriteria yang sudah

ditentukan. Pengukuran Indeks Pariwisata berbasis data sekunder

(data statistik) untuk menentukan skor indeks daya saing

pariwisata. Empat aspek penopang pariwisata diantaranya :

1.

aspek lingkungan pendukung bisnis,

2.

tata kelola,

3.

potensi wisata, dan

4.

infrastruktur

Keempat aspek inilah yang disusun sebagai basis konsep

pengukuran indeks pariwisata. Dalam uraiannya terdapat 78

indikator data yang dikelompokkan menjadi 14 pilar penilaian. Tiap

pilar dikelompokkan lagi menjadi empat aspek pengukuran utama.

(26)

Adapun indikator yang menggambarkan pencapaian kinerja terkait

meningkatkan kesempatan kerja adalah tingkat pengangguran

terbuka. Pengangguran terbuka adalah situasi dimana orang sama

sekali tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran

terbuka bisa disebabkan karena lapangan kerja yang tidak tersedia,

ketidakcocokan antara kesempatan kerja dan latar belakang

pendidikan dan tidak mau bekerja. Untuk menghitung berapa besar

tingkat pengangguran terbuka dapat digunakan rumus berikut :

TPT = Jumlah Pengangguran Terbuka x 100%

Angkatan Kerja

8.1.12

Angka Kemiskinan

Adapun indikator yang menggambarkan pencapaian kinerja terkait

menurunnya jumlah penduduk miskin adalah angka kemiskinan.

Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu

untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti pangan, sandang,

tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan yang layak.

Secara

kuantitatif, kemiskinan merupakan suatu keadaan dimana taraf

hidup manusia serba kekurangan atau “tidak memiliki harta beda.

Sedangkan secara kualitati

f

, pengertian kemiskinan adalah keadaan

hidup manusia yang tidak layak.

Kemiskinan sangat berhubungan dengan masalah kesejahteraan

masyarakat dan menjadi tingkat minimum yang didapatkan

berdasarkan

standar

hidup

masyarakat

di

suatu

negara. Kemiskinan sudah menjadi masalah global, dimana setiap

negara memiliki anggota masyarakat yang berada di bawah garis

kemiskinan.

8.1.13

Persentase RTH

Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Ruang, Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau

mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat

tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang

(27)

Ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam peraturan

tersebut di atas terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang

terbuka hijau privat.

Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota

paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota.

Proporsi

ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua

puluh) persen dari luas wilayah kota. Distribusi ruang terbuka hijau

publik sebagaimana dimaksud di atas disesuaikan dengan sebaran

penduduk dan hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana

struktur dan pola ruang

8.1.14

Lama Genangan Yang Tertangani Pada Titik Genangan

Menurut

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

01/PRT/M/2014 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan

Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang terkait

penjabaran drainase, definisi genangan adalah terendamnya suatu

kawasan perkotaan

lebih dari 30 cm selama lebih dari 2 jam.

Standar kinerja yang digunakan oleh Pemerintah Kota Bandung

untuk indikator ini adalah terendamnya suatu kawasan perkotaan

lebih dari 15 cm kurang dari 2 jam. Untuk wilayah Kota Bandung

berdasarkan hasil evaluasi (LKPJ) telah ditentukan beberapa titik

genangan yang telah diidentifikasi untuk diselesaikan dalam periode

RPJMD ini.

8.1.15

Jumlah Titik Kemacetan

Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada

ruas jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut

yang mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati

atau melebihi 0 km/jam sehingga menyebabkan terjadinya antrian.

Untuk wilayah Kota Bandung berdasarkan hasil evaluasi (LKPJ)

telah ditentukan beberapa titik kemacetan yang telah diidentifikasi

untuk diselesaikan dalam periode RPJMD ini.

(28)

Menurut

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

02/PRT/M/2016 tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan

Kumuh dan Permukiman Kumuh. Dapat dijelaskan bahwa

Perumahan Kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan

kualitas fungsi sebagai tempat hunian. Sedangkan Permukiman

Kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena

ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang

tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang

tidak memenuhi syarat.

Cara pengukurannya yaitu perbandingan antara luas kawasan

kumuh potensial dengan luas wilayah Kota Bandung.

Adapun kriteria perumahan kumuh dan permukiman kumuh

sebagaimana

dimaksud

peraturan

diatas

meliputi

kriteria

kekumuhan yang ditinjau dari:

8.1.17

Cakupan Layanan Air Bersih

Cakupan layan air bersih adalah persentase konversi golongan

konsumen air minum terhadap jumlah penduduk Kota Bandung.

Golongan konsumen air minum terdiri dari : a) sosial biasa, b) sosial

khusus, c) rumah tangga, d) niaga/komersil.

proteksi kebakaran bangunan gedung

jalan lingkungan

penyediaan air minum

drainase lingkungan pengelolaan

(29)

8.1.18

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup merupakan gambaran atau

indikasi awal yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi

lingkungan hidup pada lingkup dan periode tertentu. Indeks

Kualitas Lingkungan Hidup merupakan alat ukur sederhana untuk

mengetahui pencapaian dari upaya pemulihan lingkungan serta

sebagai pembanding atau target dari setiap indikator dan standar

yang berlaku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Dalam IKLH terdapat 3 indikator yang dijadikan sebagai

alat ukur yaitu Indeks pencemaran air sungai, indeks pencemaran

udara dan indeks tutupan hutan. Adapun penjelasan lengkap

mengenai indikator dan parameter Indeks Kualitas Lingkungan

Hidup dapat dilihat pada tabel berikut :

NO

INDIKATOR KUALITAS

LINGKUNGAN

PARAMETER

1

Kualitas air sungai

Proporsi

jumlah

sampel

air

dengan nilai Indeks Pencemaran

Air (IPA) > 1 terhadap total jumlah

sampel

2

Kualitas udara

Indeks Standar Pencemar Udara

(ISPU)

3

Tutupan hutan

Proporsi luas hutan primer dan

sekunder terhadap luas kawasan

hutan

8.1.19

Cakupan Layanan Pengelolaan Sampah

Cakupan pelayanan persampahan adalah gambaran dari jumlah

wilayah yang telah terlayani oleh angkutan sampah pada kurun

waktu tertentu, dalam hal ini jumlah sampah yang dapat dikurangi

dan ditangani (ton/tahun). Cara pengukurannya adalah target

pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah

tangga tingkat Kota Bandung (ton/tahun) ditambah target

penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah

tangga tingkat Kota Bandung (ton/tahun).

Prioritas layanan angkutan sampah dapat dirinci menurut kategori

(30)

1.

Pemukiman

2.

Daerah Komersial / Niaga Khusus

3.

Perkantoran dan Fasilitas Umum

4.

Industri

5.

Jalan dan sungai

8.1.20

Tingkat Partisipasi dan Kolaborasi Masyarakat dan Swasta

Dalam Pembangunan

8.1.21

Persentase Prioritas Pembangunan Melalui CSR

Perbandingan antara target dan realisasi program/agenda prioritas

pembangunan yang diselesaikan melalui CSR

8.1.22

Persentase Prioritas Pembangunan Melalui Swasta

Perbandingan antara target dan realisasi program/agenda prioritas

pembangunan yang diselesaikan melalui swasta (Kerjasama

Pemerintah dan Badan Usaha/KPBU, Pembiayaan Investasi Non

Anggaran Pemerinta/PINA, hibah, dll)

8.2. Indikator Kinerja Kunci (IKK)

Indikator kinerja kunci atau yang lebih dikenal dengan key performance

indicators (KPI) atau dikenal juga sebagai key success indicators (KSI)

membantu organisasi dalam menentukan dan mengukur kemajuan untuk

mencapai tujuan-tujuan organisasi. Seberapa besar pencapaian IKK

tergantung ukuran yang ditentukan. Target capaian indikator kinerja kunci

yang menggambarkan kinerja pemerintah daerah secara umum dalam

penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah disajikan sebagaimana Tabel

(31)
(32)

Tabel 8.3

Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Kota Bandung

ASPEK/FOKUS/BIDAN G

URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN

DAERAH

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

I

ASPEK KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT

1 Pertumbuhan PDRB triliun Rp.

2 Laju inflasi persen N/A 4,16 3,97 3,69 3,51 3,22 Badan Pusat

Statistik

3 PDRB Per Kapita juta Rupiah 52,47 70,73 73,38 76,03 78,68 81,33 Badan Pusat

Statistik

4 Indeks Gini poin N/A 0,44 0,43 0,42 0,41 0,4 Badan Pusat

Statistik

5 Persentase Penduduk

Miskin persen N/A 3,83 3,66 3,49 3,32 3,14

Badan Pusat Statistik

6 Indeks Pembangunan

Manusia (IPM) poin N/A 81,2 81,61 82,01 82,42 82,82

Badan Pusat Statistik

7 Harapan Lama Sekolah angka N/A 14,3 14,48 14,66 14,83 15,01 Badan Pusat

Statistik

8 Angka rata-rata lama

sekolah angka N/A 10,71 10,76 10,81 10,86 10,91

Badan Pusat Statistik

9 Angka usia harapan

hidup angka N/A 73,9 73,92 73,94 73,96 73,98

Badan Pusat Statistik

10 Persentase balita gizi

buruk persentase 0,30 0,29 0,28 0,27 0,26 0,25 Dinas Kesehatan

11 Prevalensi balita gizi

kurang prevalensi 6,10 6,05 6,00 5,95 5,90 5,85 Dinas Kesehatan

12 Tingkat pengangguran

terbuka tingkat N/A 9,96 9,13 8,59 8,36 8,22

Badan Pusat Statistik

13 Rasio penduduk yang

bekerja rasio

14 Laju pertumbuhan PDB

(33)

ASPEK/FOKUS/BIDAN G

URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN

DAERAH

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

15

Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas

rasio

16

Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja

proporsi

17

Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I

poin

18 Indeks Kepuasan

Masyarakat poin N/A 75,75 75,76 75,77 75,78 75,79

Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pembangunan

19 Persentase PAD

terhadap pendapatan persen

20 Opini BPK opini N/A WTP WTP WTP WTP WTP Badan Pengelola

Keuangan dan Aset

III ASPEK PELAYANAN UMUM

A

FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB

PELAYANAN DASAR

1 PENDIDIKAN

1 Pendidikan Anak Usia

Dini (PAUD) persen 79,54 79,56 79,58 79,6 79,62 79,64 Dinas Pendidikan

2 Angka partisipasi

sekolah persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan

3 Angka pendidikan yang

ditamatkan persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan

4 Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni

(34)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan

Angka Partisipasi Murni (APM)

SMA/SMK/MA/Paket C

persen 78,43 80,02 80,12 80,2 80,26 80,3 Dinas Pendidikan

5 Angka partisipasi

sekolah

Angka partisipasi sekolah (APS) SD/MI/Paket A

persen 106,19 106,21 106,22 106,24 106,26 106,28 Dinas Pendidikan

Angka partisipasi sekolah (APS) SMP/MTs/Paket B

persen 104,8 104,82 104,84 104,86 104,88 104,9 Dinas Pendidikan

Angka partisipasi sekolah (APS)

SMA/SMK/MA/Paket C

persen 107,04 107,04 107,04 107,04 107,04 107,04 Dinas Pendidikan

6 Angka Putus Sekolah

8 Angka Melanjutkan

(AM):

Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs

(35)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA

persen 94,64 94,66 94,68 94,7 94,72 94,74 Dinas Pendidikan

9 Fasilitas Pendidikan

Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik

persen 90 92 94 96 98 100 Dinas Pendidikan

Sekolah pendidikan SMP/MTs dan

SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik

persen 90 91 93 96 100 100 Dinas Pendidikan

10

Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan dasar

rasio 0,199 0,175 0,171 0,168 0,164 0,16 Dinas Pendidikan

11

Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah pendidikan menengah

rasio

12

Rasio guru/murid sekolah pendidikan dasar

rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan

13

Rasio guru terhadap murid pendidikan menengah

rasio

14

Rasio guru/murid per kelas rata-rata sekolah dasar

rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan

15

Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata

rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan

16

Proporsi murid kelas 1 yang berhasil

menamatkan sekolah dasar

(36)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

17

Angka melek huruf penduduk usia 1524 tahun, perempuan dan laki‐laki

persen 15:07 15:21 15:36 15:50 16:04 16:19 Dinas Pendidikan

18

Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara)

persen 16:33 17:02 17:31 18:00 18:28 18:57 Dinas Pendidikan

19 Guru yang memenuhi

kualifikasi S1/D-IV persen 89 93 95 97 98 99 Dinas Pendidikan

2 KESEHATAN

1

Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup

angka 2,4 4,5 4,4 4,3 4,2 4,1 Dinas Kesehatan

2 Angka kelangsungan

hidup bayi

3

Angka Kematian Balita per 1000 kelahiran hidup

angka 0,47 1,50 1,45 1,40 1,35 1,30 Dinas Kesehatan

4

Angka Kematian Neonatal per 1000 kelahiran hidup

angka 1,7 3,9 3,8 3,7 3,6 3,5 Dinas Kesehatan

5

Angka Kematian Ibu per 100,000 kelahiran hidup

angka 56,90 64,75 64,60 64,45 64,30 64,15 Dinas Kesehatan

6 Rasio posyandu per

satuan penduduk rasio 1.959 2.001 2.008 2.015 2.022 2.029 Dinas Kesehatan

7

Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk

rasio 1,16 1,21 1,21 1,22 1,24 1,26 Dinas Kesehatan

8 Rasio rumah sakit per

satuan penduduk rasio 1,41 1,41 1,41 1,41 1,41 1,41 Dinas Kesehatan

9 Rasio dokter per satuan

penduduk rasio 1,36 1,40 1,40 1,40 1,45 1,50 Dinas Kesehatan

10 Rasio tenaga medis per

(37)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

11

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

persen 80 80 80 80 80 80 Dinas Kesehatan

12

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

persen 90 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan

13

Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

14

Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

15

Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat

konsumsi minimum (standar yang digunakan Indonesia 2.100 Kkal/kapita/hari)

16

Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak

Persen 90 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan 17 Non Polio AFP rate per

100.000 penduduk

non polio AFP

rate 2,2 2,2 2,2 2,1 2,1 2,1 Dinas Kesehatan

18 Cakupan pneumonia

balita yang ditangani persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

19

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

20

Tingkat prevalensi Tuberkulosis (per 100.000 penduduk)

(38)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

21

Tingkat kematian karena Tuberkulosis (per 100.000 penduduk

persen 87,85 87,89 87,93 87,97 88,01 88,05 Dinas Kesehatan

22

Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS

per 100.000

penduduk 301 301 301 301 300 300 Dinas Kesehatan

23

Proporsi kasus Tuberkulosis yang diobati dan sembuh dalam program DOTS

per 100.000

penduduk 4 4 4 4 3 3 Dinas Kesehatan

24

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD

persen 87,85 87,89 87,93 87,97 88,01 88,05 Dinas Kesehatan 25 Penderita diare yang

ditangani persen 15,62 15,66 15,7 15,74 15,78 15,82 Dinas Kesehatan

26 Angka kejadian Malaria

27 Tingkat kematian akibat

malaria

28

Proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida

29

Proporsi anak balita dengan demam yang diobati dengan obat anti malaria yang tepat

30

Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi

persen < 1 < 1 < 1 < 1 < 1 < 1 Dinas Kesehatan 31

Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi terakhir

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

32

Proporsi jumlah penduduk usia 15‐24 tahun yang memiliki pengetahuan

komprehensif tentang

(39)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

HIV/AIDS

33

Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

34 Cakupan kunjungan

bayi persen 90 90 90 90 90 90

Dinas Kesehatan

35 Cakupan puskesmas persen

36 Cakupan pembantu

puskesmas - - - -

37 Cakupan kunjungan

ibu hamil K4 persen 95 95 95 95 95 95 Dinas Kesehatan

38 Cakupan pelayanan

nifas persen 80 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan

39

Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

40 Cakupan pelayanan

anak balita persen 90 97 98 100 101 103 Dinas Kesehatan

41

Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

42

Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan 43

Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

44

Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS)

(40)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

45

Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam

persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik

proporsi 54 100 100 100 100 100

Dinas Pekerjaan Umum

2

Rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk

3

Persentase kawasan pemukiman yang yang belum dapat dilalui kendaraan roda 4

4

Persentase jalan kota dalam kondisi baik (> 40 km/jam)

persen 54 100 100 100 100 100

Dinas Pekerjaan Umum

5

Persentase jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air (minimal 1,5 meter)

meter 616,63 197.250 231.813 266.375 300.938 335.500

Dinas Pekerjaan Umum

PENATAAN

RUANG

1

Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB

NA NA NA NA NA NA

2

Luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan

NA NA NA NA NA NA

(41)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

perkotaan

3

Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan

persen NA 53 54 55 56 57 Dinas Penataan

Ruang

4

Ruang publik yang berubah

peruntukannya

5

Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan

NA NA NA NA NA NA

6 Ketaatan terhadap

RTRW NA NA NA NA NA NA

4

KETENTERAMAN, KETERTIBAN UMUM, DAN PELINDUNGAN

MASYARAKAT

1

Cakupan petugas Perlindungan

Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan)

persen 100 100 100 100 100 100 Satpol PP

3 Persentase Penegakan

PERDA persen 100 100 100 100 100 100 Satpol PP

4

Cakupan pelayanan bencana kebakaran kota

persen NA 110,27 124,07 137,86 151,65 165,45

Dinas Kebakaran & Penanggulangan Bencana

5

Persentase Kelurahan Siaga Aktif Kebakaran dan Bencana (Target 20 Kelurahan)

kelurahan NA 2 3 4 5 6

(42)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

6

Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)

menit <22 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15

Dinas Kebakaran & Penanggulangan Bencana

5 SOSIAL

1

Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial

persen 16,93 29 31 33 35 37

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

2 Persentase PMKS yang

tertangani persen 17,84 37,76 40,77 43,79 46,8 49,81

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

3

Persentase PMKS skala yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar

persen 16,93 29 31 33 35 37

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

4

Persentase panti sosial yang menerima program pemberdayaan sosial melalui kelompok usaha bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya

persen NA 0 0 0 0 0

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

5

Persentase panti sosial yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesehatan sosial

persen 100 100 100 100 100 100

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

6

Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan

persen NA 3 6 9 12 15

(43)

SATUAN Baseline

2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu

kesejahteraan sosial

7

Persentase korban bencana yang menerima bantuan sosial selama masa tanggap darurat

persen 100 100 100 100 100 100

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

8

Persentase korban bencana yang dievakuasi dengan mengunakan sarana prasarana tanggap darurat lengkap

persen 100 100 100 100 100 100

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

9

Persentase penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial

persen 20 20 20 20 20 20

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan

B

FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB NON PELAYANAN

DASAR

1 TENAGA KERJA

1

Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun

2

Besaran kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB)

persen 58 58 58 58 58 59 Dinas Tenaga Kerja

3

Besaran pencari kerja yang terdaftar yang ditempatkan

persen 44,88 45,33 45,56 45,65 45,9 46,15 Dinas Tenaga Kerja

4 Keselamatan dan

perlindungan

Gambar

Tabel 8.1.
Tabel 8.2. Target Indikator Kinerja Utama (IKU) Daerah
Tabel 8.3 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Kota Bandung

Referensi

Dokumen terkait

a) Perbaikan kualitas dan akses penyelenggaraan pendidikan melalui : peningkatan keterjangkauan biaya pendidikan; pengembangan kurikulum berbasis skill knowledge,

bahwa dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemeintah Kota Bandung dan sesuai ketentuan

Dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi pada area peningkatan kualitas pelayanan publik dibidang pertanian, perlu dilakukan survei kepuasan masyarakat terhadap

Tersedianya Sistem Aplikasi Online dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik, yang terintegrasi dalam website Pemerintah Kota Malang. 11 Tahun 2008 tentang Informasi

Perhitungan indeks kepuasan diatas belum dapat dipakai sebagai landasan peningkatan kualitas pelayanan, karena bobot tiap variabel masih dianggap setara oleh pengguna,

Penyusunan Laporan Capaian Kinerja dan Ikhtisar Realisasi Kinerja SKPD Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Jumlah jenis dokumen yang tersusun (SPM, SOP,

Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar dalam melaksanakan peningkatan kualitas pelayanan publik apabila ditinjau dari produktivitas kerja pegawai, beberapa sumber

Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung tahun 2018-2023 diatur dalam Peraturan Daerah Kota