Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; serta Peraturan
Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak
atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan
kuantitas dan kualitas terukur.
Kinerja
menggambarkan
kondisi
yang
harus
diketahui
dan
dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian
hasil instansi dihubungkan dengan visi yang diemban organisasi serta
mengetahui dampak positif dan negatif dari kebijakan operasional. Kinerja
menggambarkan berhasil atau tidaknya tujuan organisasi. Indikator Kinerja
adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif yang terdiri
dari unsur masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang
menggambarkan tingkat capaian kinerja.
Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan memberikan gambaran
ukuran keberhasilan pencapaian Visi dan Misi Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah pada akhir masa jabatan, yang ditunjukkan melalui akumulasi
pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun
atau indikator capaian bersifat mandiri setiap tahun, sehingga kondisi kinerja
yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.
Indikator kinerja daerah secara teknis dirumuskan dengan mengambil
indikator dari program prioritas yang telah ditetapkan (outcomes) atau
kompositnya (impact). Indikator kinerja daerah dapat dirumuskan berdasarkan
hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja program
(outcome) terhadap tingkat capaian indikator kinerja daerah berkenaan,
setelah program dan kegiatan prioritas ditetapkan.
Adapun pemetaan target dan indikator tujuan pada akhir periode
RPJMD
Kinerja Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah
RPJMD Kota Bandung adalah sebagai berikut:
Tabel 8.1.
Penetapan Indikator Daerah /
Tujuan Pembangunan Kota Bandung Tahun 2019-2023
NO. INDIKATOR SATUAN Baseline
2018
Tahun
2023 Sumber Data
1 IPM (Metode Baru) Poin N/A 82,82 BPS
2 Indeks Reformasi Birokrasi poin N/A 7,13 Kemen PAN &
RB
3 LPE (Metode Baru) % N/A 7,98 BPS
4 Gini Ratio poin N/A 0,40 BPS
5 Liveable City Index Poin N/A 73,77 Diskominfo
Sumber: Proyeksi Bappelitbang Kota Bandung
1.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM Kota Bandung ditargetkan meningkat menurut hasil proyeksi
berdasarkan pencapaian IPM tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan
target IPM ini selaras dengan meningkatnya komponen-komponen
pendukung
IPM.
Komponen
IPM
yang
relatif
paling
reaktif
mempengaruhi pencapaian IPM adalah Pengeluaran Per Kapita Per
Tahun yang Disesuaikan. Hal ini terlihat dari tabel diatas bahwa
pergerakan komponen lain seperti Harapan Lama Sekolah, Rata-rata
Lama Sekolah, Angka Harapan Hidup; relatif lebih lambat kenaikannya.
Pengeluaran Per Kapita Per Tahun, sangat dipengaruhi kondisi
perekonomian daerah. Namun yang menjadi persoalan, perekonomian
daerah sangat tergantung kepada situasi kondisi perekonomian
nasional, regional bahkan internasional. Padahal situasi kondisi
perekonomian nasional, regional, dan internasional jauh diluar
kewenangan pemerintah daerah.
2.
Indeks Reformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi bermakna sebagai sebuah perubahan besar dalam
paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. Reformasi birokrasi
merupakan upaya berkelanjutan yang setiap tahapannya memberikan
birokrasi bertujuan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang
profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi,
bersih dan bebas KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera,
berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik
aparatur negara.
Indikator Reformasi Birokrasi adalah Indeks Persepsi Korupsi (IPK),
Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan,
Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), indeks kemudahan
berusaha, Survei Kepuasan Masyarakat.
Implementasi Reformasi Birokrasi sangat penting dan merupakan suatu
keharusan di era milenial saat ini, mengingat perubahan tatanan
kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat sangat cepat sehingga
harus diimbangi oleh kinerja birokrasi yang cepat, efektif dan efisien.
Untuk mencapai tujuan atau keadaan yang ingin dicapai terkait
peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilihat dari pencapaian
kinerja beberapa variabel atau area perubahan dalam komponen Indeks
Penghitungan indeks reformasi birokrasi dapat dilihat dari pencapaian
kinerja masing-masing variabel atau area perubahan berdasarkan
pemenuhan, kualitas dan implementasinya. Penilaian Indeks Reformasi
Birokrasi di bagi menjadi 2 (dua) komponen yaitu komponen proses
(pengungkit) dengan bobot penilaian sebesar 60% dan komponen hasil
dengan bobot penilaian sebesar 40%, yang kemudian nilai reformasi
birokrasi didapat dari penjumlahan pencapaian kinerja kedua komponen
tersebut. Adapun beberapa sub variable dalam komponen proses
Sedangkan untuk pencapaian kinerja komponen hasil dapat dilihat dari
beberapa sub variabel sebagai berikut :
•Nilai Akuntabilitas Kinerja
•Nilai Kapasitas Organisasi
Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Organisasi
•Nilai Persepsi Korupsi
•Opini BPK
Pemerintah yang Bersih dan bebas KKN
•Nilai Persepsi Kualitas Pelayanan
3.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bandung ditargetkan sekitar 7
persen per tahun selama kurun waktu, dari tahun 2019 sampai dengan
2023. Target ini diproyeksikan berdasarkan pencapaian LPE tahun 2013
sampai dengan 2018. Pertumbuhan diproyeksikan stabil di 7 persen,
mengingat pencapaian diatas 5 persen itu termasuk sangat tinggi.
Uraian tentang LPE ini akan terkait dengan PDRB atas dasar harga
berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. Hal ini terjadi karena
konsep-konsep yang ada saling berkaitan. PDRB atas dasar harga
berlaku adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung
menggunakan harga pada tahun berjalan, yang digunakan untuk
mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan
struktur ekonomi suatu daerah. Sementara PDRB atas dasar harga
konstan adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung
menggunakan harga tahun dasar, yang digunakan untuk mengetahui
laju pertumbuhan ekonomi (LPE) atau dengan bahasa teknis
perhitungan LPE berdasarkan perubahan PDRB atas dasar harga
konstan tahun beriringan.
Pertumbuhan ekonomi merupakan proses terjadinya kenaikan produk
nasional bruto atau pendapatan nasional riil. Dengan kata lain,
perekonomian mengalami perkembangan jika terjadi pertumbuhan
output riil. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari
perkembangan suatu perekonomian. Dari suatu periode ke periode
lainnya, kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa
meningkat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu
daerah diantaranya :
1.
Tanah dan Kekayaan Alam
2.
Mutu Tenaga Kerja dan Penduduk
3.
Barang Modal dan Tingkat Teknologi
4.
Sistem Sosial dan Sikap Masyarakat
Gini ratio atau koefisien Gini merupakan salah satu ukuran yang paling
sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan
secara menyeluruh. Koefisien Gini berkisar antara 0 sampai 1. Apabila
Gini ratio bernilai 0 berarti pemerataan sempurna, sedangkan apabila
bernilai 1 berarti ketimpangan sempurna. Nilai Gini ratio lebih dari 0
sampai dengan kurang dari 0,4 berarti ketimpangan rendah. Nilai Gini
ratio antara 0,4 sampai dengan 0,5 berarti ketimpangan sedang. Nilai
Gini ratio lebih dari 0,5 sampai dengan kurang dari 1 berarti
ketimpangan tinggi.
Rasio Gini atau koefisien adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan
distribusi penduduk. Ini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah
kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu
variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform
(seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Koefisien Gini
(Gini Ratio) adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat
(secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan
sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).
Suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai Koefisien Gini
mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan
makin tidak merata jika nilai Koefisien Gini nya makin mendekati satu.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
NILAI KOEFISIEN
DISTRIBUSI PENDAPATAN
<0,4
Tingkat Ketimpangan Rendah
0,4
–
0,5
Tingkat Ketimpangan Sedang
>0,5
Tingkat Ketimpangan Tinggi
Rumus Gini Ratio
GR = 1-
∑fi[Yi+ Yi
-1]
Keterangan :
Fi : jumlah persen (%) penerima pendapatan kelas ke i.
Yi : jumlah kumulatif (%) pendapatan pada kelas ke i.
Bila GR = 0, ketimpangan pendapatan merata sempurna, artinya setiap
orang menerima pendapatan yang sama dengan yang lainnya.
Bila GR = 1 artinya ketimpangan pendapatan timpang sempurna atau
pendapatan itu hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja.
5.
Liveable City Index Aspek Tata Ruang, Lingkungan Hidup, dan
Infrastruktur
Liveable City Index mengukur tingkat kenyamanan kota, didasarkan
atas persepsi warga kota terhadap kotanya, mengenai kelayakhunian
kota tempat tinggalnya. Indeks ini lebih dimaksudkan mengukur
kualitas kehidupan warga kota. Indeks ini mengukur ketersediaan
sarana kebutuhan dasar (perumahan, air, listrik, dsb); ketersediaan
fasilitas publik (transportasi, taman-taman kota, fasilitas beribadah,
kesehatan, pendidikan, dsb); ketersediaan ruang publik dan tempat
berinteraksi bagi masyarakat; keamanan; dukungan fungsi ekonomi,
sosial, dan budaya di kota; serta sanitasi. Index Liveable City ditargetkan
diangka 73 berdasarkan perolehan angka di tahun 2017.
Livable City adalah kota yang layak huni dimana masyarakat kota dapat
mencari pekerjaan, melayani kebutuhan dasar termasuk air bersih dan
sanitasi, memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan
yang layak, hidup dalam komunitas yang aman dan lingkungan yang
bersih. Dapat dikatakan bahwa Livable City merupakan gambaran
sebuah lingkungan dan suasana kota yang nyaman sebagai tempat
tinggal dan sebagai tempat untuk beraktifitas yang dilihat dari berbagai
aspek, baik aspek fisik (fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang, dll)
maupun aspek non-fisik (hubungan sosial, aktivitas ekonomi, dll).
Jadi indeks liveable city adalah ukuran yang digunakan untuk
mengetahui tingkat kenyamanan dan ketenangan hidup masyarakat
dalam suatu kota. Beberapa aspek yang mempengaruhi liveable city
Khusus terkait indikator tujuan Terwujudnya infrastruktur dan tata
ruang kota yang berkualitas dan berwawasan lingkungan maka aspek
yang diukur hanya 3 aspek yaitu Tata Ruang, Lingkungan Hidup, dan
Infrastruktur.
8.1. Indikator Kinerja Utama (IKU)
Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, IKU adalah ukuran
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan merupakan ikhtisar hasil
berbagai program dan kegiatan sebagai penjabaran tugas dan fungsi
organisasi.
Target indikator kinerja utama pembangunan Kota Bandung tahun
2019-2023 berdasarkan hasil evaluasi capaian kinerja pemerintah daerah
tahun 2013 sampai dengan tahun 2018 dan memperhatikan peluang serta
tantangan selama kurun waktu lima tahun mendatang sampai dengan tahun
2023, akan dicantumkan pada tabel-tabel dibawah ini.
Aspek Tata Ruang (Tata Kota, RTH),Aspek Lingkungan (Kebersihan, Polusi)
Aspek Transportasi (Jalan, Angkutan)
Aspek Fasilitas Kesehatan
Aspek Fasilitas Pendidikan
Aspek Infrastruktur – Utilitas (Listrik, Air, Telekomunikasi)
Aspek Ekonomi (LapanganKerja, LokasiKerja)
Aspek Keamanan
Tabel 8.2. Target Indikator Kinerja Utama (IKU) Daerah
Sebagai Indikator Sasaran Pembangunan Kota Bandung Tahun 2019-2023
NO. INDIKATOR SATUAN Baseline 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Sumber Data
1 Indeks Modal Sosial Poin N/A 48.10 49.82 51.55 53.27 55.00 BPS
2 Harapan Lama Sekolah Tahun 13.90 14.00 14.01 14.01 14.02 14.03 BPS
3 Umur Harapan Hidup Tahun 73.86 73,90 73,92 73,94 73,96 73,98 BPS
4 Nilai Evaluasi AKIP Predikat A A A A A A Kemen PAN
5 Nilai LPPD Predikat Sangat
Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat Tinggi
Sangat
Tinggi Kemendagri
6 Opini BPK Terhadap Laporan Keuangan
Predikat WDP WDP WTP WTP WTP WTP BPK
7 Indeks Kepuasan Masyarakat poin 75.74 75,75 75,76 75,77 75,78 75,79 Perguruan
Tinggi
8 Level Kematangan Smart City Tingkat Integrative Integrative Integrative Smart Smart Smart Kemen
Kominfo
9 PDRB Per Kapita Juta Rp 52,47 70,73 73,38 76,03 78,68 81,33 BPS
10 Indeks Pariwisata poin 3.27 3.44 3.59 3.68 3.71 3.73 Dinas
Pariwisata
11 Tingkat Pengangguran Terbuka % 8.44 8.39 8.34 8.29 8.25 8,22 BPS
12 Angka Kemiskinan % 4.17 3,83 3,66 3,49 3,32 3,14 BPS
13 Persentase RTH
% 12.2 12.4 12.6 12.8 13.0 13.2 DPKP3
NO. INDIKATOR SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023
Sumber Data
15 Jumlah Titik Kemacetan lokasi 8 6 4 2 1 1 Dinas
Perhubungan
16 Persentase Luasan Kawasan Kumuh % 9,76 8 7 6 5 4 DPKP3
17 Cakupan Layanan Air Bersih % 76 83 86 91 93 95 DPU
18 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Poin 32,56 32,76 32,86 32,96 33,06 33,16 DLHK
19 Cakupan Layanan Pengelolaan Sampah Kota % 91 97 98 98 99 99 DLHK
20 Tingkat Partisipasi Dan Kolaborasi Masyarakat
Dan Swasta Dalam Pembangunan % 193 Milyar
Meningkat 2% dari
tahun 2018
Meningkat 4% dari
tahun 2018
Meningkat 6% dari
tahun 2018
Meningkat 8% dari
tahun 2018
Meningkat 10% dari
tahun 2018
BPKA
21 Persentase Prioritas Pembangunan Melalui CSR % 5% 33,33 66,67 66,67 66,67 100 BPKA
22 Persentase Prioritas Pembangunan Melalui
Swasta % 0% 33,33 66,67 66,67 66,67 100 BPKA
8.1.1
Indeks Modal Sosial
Indeks Modal Sosial adalah nilai/ukuran yang dibutuhkan Kota
Bandung untuk menjawab permasalahan sosial kemasyarakatan
sekaligus tantangan untuk meningkatkan pembangunan inklusif
yang
berkeadilan,
mensejahterakan
dan
membahagiakan
masyarakat.
Tujuan dilaksanakannya pengukuran indeks Modal Sosial Kota
Bandung adalah untuk mengetahui kohesifitas sosial masyarakat
Kota Bandung yang menggambarkan adanya toleransi, saling
percaya, gotong royong secara berkala sebagai bahan penetapan
kebijakan dalam rangka peningkatan program pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat. Rencana tindak lanjut dari pengukuran
indeks Modal Sosial ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau
pedoman dalam perencanaan pembangunan Kota Bandung.
Dimensi, Indikator dan Pernyataan
Pengukuran Indeks Modal Sosial
Dimensi
Indikator
Pernyataan/ Pertanyaan
1.
Sikap
Percaya
dan
toleransi
1.
Sikap Percaya/trust
1.
Sikap
Percaya
Menitipkan
anak
kepada tetangga
2.
Sikap
Percaya
Menitipkan
rumah
kepada tetangga
3.
Sikap Percaya pada
tokoh masyarakat
4.
Sikap Percaya pada
tokoh agama
5.
Sikap Percaya pada
Perangkat Desa
2.
Toleransi Agama
6.
Tanggapan
akan
dibangun
tempat
ibadah agama laian
7.
Tanggapan
terhadap
kegiatan
dari
kelompok agama lain
8.
Anak
bersahabat
dengan berbeda agama
9.
Anak menikah dengan
berbeda agama
3.
Toleransi Suku
10.
Anak menikah dengan
dengan berbeda suku
12.
Tanggapan
terhadap
kegiatan
dari
kelompok suku lain
2.
Aksi
bersama
4.
Resiprositas
13.
Kemudahan Mendapat
Pertolongan
14.
Bersedia
membantu
tetangga
yang
kesulitan
5.
Aksi Bersama
15.
Mengikuti
kegiatan
bersama
untuk
kepentingan warga
16.
Partisipasi
dalam
kegiatan keagamaan
17.
Mengikuti
kegiatan
bersama
untuk
membantu warga
18.
Partisipasi
dalam
kegiatan
sosial
kemasyarakatan
3.
Kelompok
dan
jejaraing
6.
Partisipasi
dalam
kelompok
19.
Frekwensi pertemuan
warga di lingkungan
20.
Pengambilan
keputusan
di
lingkungan
21.
Mengikuti pertemuan
warga (rapat)
22.
Memberikan
pendapat/saran dalam
pertemuan
7.
Jejaring
23.
Jumlah
Kelompok/organisasi
yang diikuti
24.
Kedudukan
dalam
kelompok
8.1.2
Harapan Lama Sekolah
Harapan Lama Sekolah adalah lamanya sekolah (dalam tahun)
yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu
dimasa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut
akan tetap bersekolah pada umur berikutnya sama dengan
peluang penduduk yang bersekolah perjumlah penduduk untuk
umur yang sama saat ini. Angka harapan lama sekolah dihitung
digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem
pendidikan diberbagai jenjang yang ditunjukan dalam bentuk
lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai
oleh setiap anak.
8.1.3
Umur Harapan Hidup
Umur Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata
‐
rata tahun
hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil
mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi
mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Umur
Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada
umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.
Umur Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti
dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial
lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan
kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
Umur harapan hidup (UHH), dijadikan indikator dalam mengukur
kesehatan suatu individu di suatu daerah. UHH adalah rata-rata
perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang selama
hidup. UHH diartikan sebagai umur yang mungkin dicapai
seseorang yang lahir pada waktu tertentu. UHH di hitung
menggunakan pendekatan tak langsung
(indirect estimation)
. Ada
dua jenis data yang digunakan dalam perhitungan UHH yaitu
anak lahir hidup (ALH) dan anak masih hidup (AMH).
Sementara itu untuk menghitung indeks harapan hidup
digunakan nilai maksimum harapan hidup sesuai UNDP, dimana
angka tertinggi sebagai batas atas untuk perhitungan indeks
dipakai 85 tahun dan terendah 25 tahun (standar UNDP). Umur
Harapan Hidup dapat panjang jika status kesehatan, gizi dan
lingkunnya yang baik.
Pencapaian indikator kinerja Nilai Evaluasi Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (AKIP) di dapat dari hasil penjumlahan
penilaian beberapa komponen AKIP baik dari sisi pemenuhan,
kualitas maupun implementasinya. Berikut beberapa komponen
serta bobot penilaian AKIP, diantaranya :
8.1.5
Nilai LPPD
Laporan
Penyelenggaraan
Pemerintahan
Daerah
kepada
Pemerintah yang selanjutnya disebut LPPD adalah laporan atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun
anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah
(RKPD) yang disampaikan oleh Kepala Daerah kepada Pemerintah.
Ruang lingkup LPPD mencakup penyelenggaraan:
a.
Urusan Desentralisasi;
-
urusan wajib; dan
-
urusan pilihan
b.
Tugas Pembantuan;
-
tugas pembantuan yang diterima dari Pemerintah;
-
tugas pembantuan kepada kabupaten/kota; dan
-
tugas pembantuan kepada desa.
c.
Tugas Umum Pemerintahan.
Perencanaan Kinerja (30%)
Pengukuran Kinerja (25%)
Pelaporan Kinerja (15%) Evaluasi
Internal (10%) Capaian
-
kerjasama antar daerah;
-
kerjasama daerah dengan pihak ketiga;
-
koordinasi dengan instansi vertikal di daerah;
-
pembinaan batas wilayah;
-
pencegahan dan penanggulangan bencana;
-
pengelolaan kawasan khusus yang menjadi kewenangan
daerah;
-
penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum; dan
-
tugas-tugas
umum
pemerintahan
lainnya
yang
dilaksanakan oleh daerah.
8.1.6
Opini BPK Terhadap Laporan Keuangan
Pencapaian indikator kinerja Opini BPK terhadap Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah di dapat dari pemenuhan beberapa
kriteria
penilaian
seperti
kesesuaian
standar
akuntansi
pemerintah,
efektivitas
penilaian
internal,
kecukupan
pengungkapan informasi, dan kepatuhan pada peraturan
perundang-undangan.
Kriteria Opini
1.
Pembatasan lingkup
Pembatasan terhadap lingkup audit terdiri atas:
a.
Pembatasan oleh auditee.
Hal ini terjadi karena auditee benar-benar tidak
memberikan data/informasi yang dibutuhkan. Hal ini juga
didukung oleh bukti-bukti secara tertulis dan disadari
oleh kedua belah pihak.
b.
Pembatasan oleh keadaan (keterbatasan waktu, dana, dll).
Hal ini terjadi pada saat auditor tidak mampu meyakini
diri mereka sendiri terhadap kewajaran LK engan
keterbatasan yang di luar kontrol pihak auditor maupun
auditee.
2.
Materialitas
a.
Suatu akun tertentu tetapi tidak terhadap LK secara
keseluruhan.
Tingkat
materialitas
terhadap
suatu
akun
hanya
mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap
akun tertentu tersebut (apabila tidak dilakukan koreksi).
Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap penyajian
LK secara keseluruhan.
b.
Suatu akun dan terhadap LK secara keseluruhan
Tingkat materialitas ini dapat menghasilkan pendapat
tidak wajar (tingkat maksimal, apabila tidak dapat
dilakukan koreksi).
3.
SPI yang memadai
Pengukuran tingkat pengendalian intern dilakukan dengan
membandingkan
tingkat
kesesuaian
peng-aplikasi-an
penyusunan dan pelaporan LK dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dan
Standar Pemeriksaan Akuntan Publik (dalam hal-hal yang
menjadi referensi SPKN).
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a.
Pengukuran kuantitas tertentu
Keadaan ini dapat dihitungkan dengan persentase
tertentu, misalnya dengan persentase atas sampling
jumlah BAST yang diotorisasi oleh pihak yang berwenang.
b.
Pengukuran kualitas yang memerlukan “judgement”.
Tingkat pengendalian ini misalnya terjadi pada tingkat
kompetensi personil pelaksana.
4.
Kesesuaian dengan SAP
Tingkat
kesesuaian
terhadap
SAP
dilakukan
dengan
memahami laporan-laporan yang wajib disusun dan volunteer
(pilihan).
5.
Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penentuan opini:
b.
Efektivitas pengendalian intern
c.
Kepatuhan terhadap ketentuan per-UU
d.
Pengungkapan yang memadai
6.
Unqualified opinion (Pendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian)
diberikan dengan kondisi:
a.
Keempat kriteria yang menjadi kriteria dalam penentuan
opini dapat dipenuhi.
b.
Semua koreksi yang dapat mempengaruhi kewajaran
penyajian LK sudah dilakukan oleh auditee.
c.
Dapat
melakukan review
atas
auditor
lain
yang
melaksanakan pemeriksaan atas LK entitas lain yang
menjadi bagian LK yang kita periksa. Atau, tidak dapat
mereview pekerjaan auditor lain tersebut, tetapi dapat
meyakini bahwa bagian tersebut tidak material terhadap
LK yang kita diperiksa.
7.
Unqualified opinion with modified wording (Pendapat Wajar
Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelasan)
a.
Keempat kriteria kecuali pembatasan lingkup audit telah
dipenuhi.
b.
Terdapat koreksi material yang tidak dilaksanakan oleh
auditee.
c.
Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang
melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian
dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya material
(bukan tidak material, dan bukan sangat material).
8.
Qualified opinion (Pendapat Wajar Dengan Pengecualian)
a.
Pembatasan lingkup audit atas beberapa akun yang
cukup material (bukan tidak material dan bukan sangat
material).
b.
Tidak semua koreksi telah dilakukan oleh auditee
c.
Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang
melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian
dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya sangat
9.
Adverse opinion (Pendapat Tidak Wajar)
Pada dasarnya, Pendapat Tidak Wajar diberikan apabila
auditor dapat meyakini bahwa penyajian LK tidak wajar,
dengan kondisi:
a.
Terdapat 2 kriteria yang tidak dipenuhi, yaitu “kesesuaian
dengan
Standar
Akuntansi
Pemerintahan”
dan
“Konsistensi pelaksanaan SAP”.
b.
Terdapat koreksi yang sangat material yang tidak
dilaksanakan oleh auditee.
10.
Disclaimer
Pendapat Tidak Memberi Pendapat diberikan pada saat
auditor tidak dapat menyimpulkan bahwa penyajian LK wajar
atau tidak wajar, dengan kondisi-kondisi:
a.
Keempat kriteria tersebut tidak dilaksanakan.
b.
Terdapat pembatasan lingkup audit atas akun-akun yang
sangat material terhadap penyajian LK.
c.
Prosedur alternatif untuk meyakini kewajaran penyajian
LK tidak dapat dilaksanakan.
d.
Tidak dapat mereview pekerjaan auditor lain yang
melakukan pemeriksaan atas LK yang merupakan bagian
dari LK yang kita periksa, akan tetapi jumlahnya sangat
material.
8.1.7
Indeks Kepuasan Masyarakat
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman
Penyusunan Survei Kepuasan masyarakat Unit Penyelenggara
Pelayanan Publik menjelaskan definisi dan beberapa unsur
penilaian SKM diantaranya :
Survei Kepuasan Masyarakat adalah kegiatan pengukuran secara
komprehensif tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap
kualitas layanan yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan
Indeks Kepuasan Masyarakat adalah hasil pengukuran dari
kegiatan Survei Kepuasan Masyarakat berupa angka. Angka
ditetapkan dengan skala 1 (satu) sampai dengan 4 (empat).
Unsur SKM dalam peraturan ini meliputi:
1.
Persyaratan
Persyaratan adalah syarat yang harus dipenuhi dalam
pengurusan suatu jenis pelayanan, baik persyaratan teknis
maupun administratif.
2.
Sistem, Mekanisme, dan Prosedur
Prosedur adalah tata cara pelayanan yang dibakukan bagi
pemberi dan penerima pelayanan, termasuk pengaduan.
3.
Waktu Penyelesaian
Waktu Penyelesaian adalah jangka waktu yang diperlukan
untuk menyelesaikan seluruh proses pelayanan dari setiap
jenis pelayanan.
4.
Biaya/Tarif *)
Biaya/Tarif adalah ongkos yang dikenakan kepada penerima
layanan dalam mengurus dan/atau memperoleh pelayanan
dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan berdasarkan
kesepakatan antara penyelenggara dan masyarakat.
5.
Produk Spesifikasi Jenis Pelayanan
Produk spesifikasi jenis pelayanan adalah hasil pelayanan
yang diberikan dan diterima sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan. Produk pelayanan ini merupakan hasil dari
setiap spesifikasi jenis pelayanan.
6.
Kompetensi Pelaksana
Kompetensi Pelaksana adalah kemampuan yang harus
dimiliki oleh pelaksana meliputi pengetahuan, keahlian,
7.
Perilaku Pelaksana
Perilaku Pelaksana adalah sikap petugas dalam memberikan
pelayanan.
8.
Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan
Penanganan pengaduan, saran dan masukan, adalah tata
cara pelaksanaan penanganan pengaduan dan tindak lanjut.
9.
Sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat
dalam mencapai maksud dan tujuan. Prasarana adalah segala
sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya
suatu
proses
(usaha,
pembangunan,
proyek).
Sarana
digunakan untuk benda yang bergerak (komputer, mesin) dan
prasarana untuk benda yang tidak bergerak (gedung).
Standar Pelayanan Publik
Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki
standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan
adanya
kepastian
bagi
penerima
pelayanan.
Standar
pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam
penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh
pemberi pelayanan dan/atau penerima pelayanan. Standar
Pelayanan Publik, menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 15 Tahun
8.1.8
Level Kematangan Smart City
Smart City dapat diartikan sebagai kota yang memanfaatkan
teknologi informasi untuk mengintegrasikan seluruh infrastruktur
dan pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat, seperti
administrasi, pendidikan, kesehatan, transportasi, perekonomian,
sumber daya energi, pemukiman dan keselamatan publik sehingga
dengan bersinerginya seluruh aspek tersebut bersama masyarakat
akan dapat meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kota.
Konsep Smart City dapat dirumuskan ke dalam 6 dimensi yaitu :
Sedangkan untuk Maturity Level Smart City dapat dibedakan ke
dalam 5 level menurut Ganesha Smart City Maturity Model,
diantaranya :
Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses penyampaian pelayanan (service delivery) yaitu :
1. Persyaratan
2. Sistem, mekanisme dan Prosedur 3. Jangka Waktu Pelayanan
4. Tarif/Biaya 5. Produk Pelayanan
6. Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan
Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses pengelolaan pelayanan di internal organisasi (manufacturing) yaitu :
1. Dasar Hukum
2. Sarana dan Prasarana/Fasilitas 3. Kompetensi Pelaksana
4. Pengawasan Internal 5. Jumlah Pelaksana 6. Jaminan Pelayanan
7. Jaminan Keamanan dan Keselamatan Pelayanan 8. Evaluasi Kinerja Pelaksana
Smart
Economy
Smart
Mobility
Smart
Environment
Smart
People
Smart Living
Pada tahun 2016 telah dilakukan Penelitian untuk mengetahui
tingkat kematangan Smart City Kota Bandung dan hasil penelitian
tersebut menjelaskan bahwa level kematangan Smart City Kota
Bandung berada pada level Scattered dengan poin (54.15). Pemerintah
Kota Bandung akan terus melakukan perbaikan dan penyesuaian
terkait implementasi Smart City yang sudah ada saat ini. Harapannya
hal ini akan berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan dan
partisipasi masyarakat terhadap pemerintah daerah dalam upayanya
memberikan pelayanan public yang efektif, efisien dan melayani.
Berikut dapat dijelaskan uraian perhitungan level kematangan
8.1.9
PDRB Per Kapita
PDRB perkapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan
yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu
wilayah/daerah. Data statistik ini merupakan salah satu indikator
yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu
wilayah/daerah. PDRB perkapita diperoleh dari hasil bagi antara
PDRB
dengan
jumlah
penduduk pertengahan
tahun yang
bersangkutan. Jadi besarnya PDRB perkapita tersebut sangat
dipengaruhi oleh kedua variabel diatas.
8.1.10
Indeks Pariwisata
Indeks Pariwasata adalah penilaian terhadap upaya peningkatan
dan pengembangan kepariwisataan pada suatu wilayah dalam
kurun waktu tertentu. Penyusunan ranking didapat melalui survey
dan mengacu pada Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI)
yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) yang disesuaikan
dengan kondisi di Indonesia. Penggunaan global standard,
dimaksudkan agar kita bisa berkompetisi di level global. Standart
penilaiannya menggunakan TTCI
–
WEF yang sudah diakui dunia,
dan dipotret dengan analisa indikator dan kriteria yang sudah
ditentukan. Pengukuran Indeks Pariwisata berbasis data sekunder
(data statistik) untuk menentukan skor indeks daya saing
pariwisata. Empat aspek penopang pariwisata diantaranya :
1.
aspek lingkungan pendukung bisnis,
2.
tata kelola,
3.
potensi wisata, dan
4.
infrastruktur
Keempat aspek inilah yang disusun sebagai basis konsep
pengukuran indeks pariwisata. Dalam uraiannya terdapat 78
indikator data yang dikelompokkan menjadi 14 pilar penilaian. Tiap
pilar dikelompokkan lagi menjadi empat aspek pengukuran utama.
Adapun indikator yang menggambarkan pencapaian kinerja terkait
meningkatkan kesempatan kerja adalah tingkat pengangguran
terbuka. Pengangguran terbuka adalah situasi dimana orang sama
sekali tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran
terbuka bisa disebabkan karena lapangan kerja yang tidak tersedia,
ketidakcocokan antara kesempatan kerja dan latar belakang
pendidikan dan tidak mau bekerja. Untuk menghitung berapa besar
tingkat pengangguran terbuka dapat digunakan rumus berikut :
TPT = Jumlah Pengangguran Terbuka x 100%
Angkatan Kerja
8.1.12
Angka Kemiskinan
Adapun indikator yang menggambarkan pencapaian kinerja terkait
menurunnya jumlah penduduk miskin adalah angka kemiskinan.
Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti pangan, sandang,
tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan yang layak.
Secara
kuantitatif, kemiskinan merupakan suatu keadaan dimana taraf
hidup manusia serba kekurangan atau “tidak memiliki harta beda.
Sedangkan secara kualitati
f
, pengertian kemiskinan adalah keadaan
hidup manusia yang tidak layak.
Kemiskinan sangat berhubungan dengan masalah kesejahteraan
masyarakat dan menjadi tingkat minimum yang didapatkan
berdasarkan
standar
hidup
masyarakat
di
suatu
negara. Kemiskinan sudah menjadi masalah global, dimana setiap
negara memiliki anggota masyarakat yang berada di bawah garis
kemiskinan.
8.1.13
Persentase RTH
Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat
tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
Ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam peraturan
tersebut di atas terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang
terbuka hijau privat.
Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota
paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota.
Proporsi
ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua
puluh) persen dari luas wilayah kota. Distribusi ruang terbuka hijau
publik sebagaimana dimaksud di atas disesuaikan dengan sebaran
penduduk dan hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana
struktur dan pola ruang
8.1.14
Lama Genangan Yang Tertangani Pada Titik Genangan
Menurut
Peraturan
Menteri
Pekerjaan
Umum
Nomor
01/PRT/M/2014 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan
Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang terkait
penjabaran drainase, definisi genangan adalah terendamnya suatu
kawasan perkotaan
lebih dari 30 cm selama lebih dari 2 jam.
Standar kinerja yang digunakan oleh Pemerintah Kota Bandung
untuk indikator ini adalah terendamnya suatu kawasan perkotaan
lebih dari 15 cm kurang dari 2 jam. Untuk wilayah Kota Bandung
berdasarkan hasil evaluasi (LKPJ) telah ditentukan beberapa titik
genangan yang telah diidentifikasi untuk diselesaikan dalam periode
RPJMD ini.
8.1.15
Jumlah Titik Kemacetan
Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada
ruas jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut
yang mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati
atau melebihi 0 km/jam sehingga menyebabkan terjadinya antrian.
Untuk wilayah Kota Bandung berdasarkan hasil evaluasi (LKPJ)
telah ditentukan beberapa titik kemacetan yang telah diidentifikasi
untuk diselesaikan dalam periode RPJMD ini.
Menurut
Peraturan
Menteri
Pekerjaan
Umum
Nomor
02/PRT/M/2016 tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan
Kumuh dan Permukiman Kumuh. Dapat dijelaskan bahwa
Perumahan Kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan
kualitas fungsi sebagai tempat hunian. Sedangkan Permukiman
Kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena
ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang
tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang
tidak memenuhi syarat.
Cara pengukurannya yaitu perbandingan antara luas kawasan
kumuh potensial dengan luas wilayah Kota Bandung.
Adapun kriteria perumahan kumuh dan permukiman kumuh
sebagaimana
dimaksud
peraturan
diatas
meliputi
kriteria
kekumuhan yang ditinjau dari:
8.1.17
Cakupan Layanan Air Bersih
Cakupan layan air bersih adalah persentase konversi golongan
konsumen air minum terhadap jumlah penduduk Kota Bandung.
Golongan konsumen air minum terdiri dari : a) sosial biasa, b) sosial
khusus, c) rumah tangga, d) niaga/komersil.
proteksi kebakaran bangunan gedung
jalan lingkungan
penyediaan air minum
drainase lingkungan pengelolaan
8.1.18
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup merupakan gambaran atau
indikasi awal yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi
lingkungan hidup pada lingkup dan periode tertentu. Indeks
Kualitas Lingkungan Hidup merupakan alat ukur sederhana untuk
mengetahui pencapaian dari upaya pemulihan lingkungan serta
sebagai pembanding atau target dari setiap indikator dan standar
yang berlaku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Dalam IKLH terdapat 3 indikator yang dijadikan sebagai
alat ukur yaitu Indeks pencemaran air sungai, indeks pencemaran
udara dan indeks tutupan hutan. Adapun penjelasan lengkap
mengenai indikator dan parameter Indeks Kualitas Lingkungan
Hidup dapat dilihat pada tabel berikut :
NO
INDIKATOR KUALITAS
LINGKUNGAN
PARAMETER
1
Kualitas air sungai
Proporsi
jumlah
sampel
air
dengan nilai Indeks Pencemaran
Air (IPA) > 1 terhadap total jumlah
sampel
2
Kualitas udara
Indeks Standar Pencemar Udara
(ISPU)
3
Tutupan hutan
Proporsi luas hutan primer dan
sekunder terhadap luas kawasan
hutan
8.1.19
Cakupan Layanan Pengelolaan Sampah
Cakupan pelayanan persampahan adalah gambaran dari jumlah
wilayah yang telah terlayani oleh angkutan sampah pada kurun
waktu tertentu, dalam hal ini jumlah sampah yang dapat dikurangi
dan ditangani (ton/tahun). Cara pengukurannya adalah target
pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah
tangga tingkat Kota Bandung (ton/tahun) ditambah target
penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah
tangga tingkat Kota Bandung (ton/tahun).
Prioritas layanan angkutan sampah dapat dirinci menurut kategori
1.
Pemukiman
2.
Daerah Komersial / Niaga Khusus
3.
Perkantoran dan Fasilitas Umum
4.
Industri
5.
Jalan dan sungai
8.1.20
Tingkat Partisipasi dan Kolaborasi Masyarakat dan Swasta
Dalam Pembangunan
8.1.21
Persentase Prioritas Pembangunan Melalui CSR
Perbandingan antara target dan realisasi program/agenda prioritas
pembangunan yang diselesaikan melalui CSR
8.1.22
Persentase Prioritas Pembangunan Melalui Swasta
Perbandingan antara target dan realisasi program/agenda prioritas
pembangunan yang diselesaikan melalui swasta (Kerjasama
Pemerintah dan Badan Usaha/KPBU, Pembiayaan Investasi Non
Anggaran Pemerinta/PINA, hibah, dll)
8.2. Indikator Kinerja Kunci (IKK)
Indikator kinerja kunci atau yang lebih dikenal dengan key performance
indicators (KPI) atau dikenal juga sebagai key success indicators (KSI)
membantu organisasi dalam menentukan dan mengukur kemajuan untuk
mencapai tujuan-tujuan organisasi. Seberapa besar pencapaian IKK
tergantung ukuran yang ditentukan. Target capaian indikator kinerja kunci
yang menggambarkan kinerja pemerintah daerah secara umum dalam
penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah disajikan sebagaimana Tabel
Tabel 8.3
Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Kota Bandung
ASPEK/FOKUS/BIDAN G
URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN
DAERAH
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
I
ASPEK KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT
1 Pertumbuhan PDRB triliun Rp.
2 Laju inflasi persen N/A 4,16 3,97 3,69 3,51 3,22 Badan Pusat
Statistik
3 PDRB Per Kapita juta Rupiah 52,47 70,73 73,38 76,03 78,68 81,33 Badan Pusat
Statistik
4 Indeks Gini poin N/A 0,44 0,43 0,42 0,41 0,4 Badan Pusat
Statistik
5 Persentase Penduduk
Miskin persen N/A 3,83 3,66 3,49 3,32 3,14
Badan Pusat Statistik
6 Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) poin N/A 81,2 81,61 82,01 82,42 82,82
Badan Pusat Statistik
7 Harapan Lama Sekolah angka N/A 14,3 14,48 14,66 14,83 15,01 Badan Pusat
Statistik
8 Angka rata-rata lama
sekolah angka N/A 10,71 10,76 10,81 10,86 10,91
Badan Pusat Statistik
9 Angka usia harapan
hidup angka N/A 73,9 73,92 73,94 73,96 73,98
Badan Pusat Statistik
10 Persentase balita gizi
buruk persentase 0,30 0,29 0,28 0,27 0,26 0,25 Dinas Kesehatan
11 Prevalensi balita gizi
kurang prevalensi 6,10 6,05 6,00 5,95 5,90 5,85 Dinas Kesehatan
12 Tingkat pengangguran
terbuka tingkat N/A 9,96 9,13 8,59 8,36 8,22
Badan Pusat Statistik
13 Rasio penduduk yang
bekerja rasio
14 Laju pertumbuhan PDB
ASPEK/FOKUS/BIDAN G
URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN
DAERAH
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
15
Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas
rasio
16
Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja
proporsi
17
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I
poin
18 Indeks Kepuasan
Masyarakat poin N/A 75,75 75,76 75,77 75,78 75,79
Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pembangunan
19 Persentase PAD
terhadap pendapatan persen
20 Opini BPK opini N/A WTP WTP WTP WTP WTP Badan Pengelola
Keuangan dan Aset
III ASPEK PELAYANAN UMUM
A
FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB
PELAYANAN DASAR
1 PENDIDIKAN
1 Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) persen 79,54 79,56 79,58 79,6 79,62 79,64 Dinas Pendidikan
2 Angka partisipasi
sekolah persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan
3 Angka pendidikan yang
ditamatkan persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan
4 Angka Partisipasi Murni
Angka Partisipasi Murni
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Pendidikan
Angka Partisipasi Murni (APM)
SMA/SMK/MA/Paket C
persen 78,43 80,02 80,12 80,2 80,26 80,3 Dinas Pendidikan
5 Angka partisipasi
sekolah
Angka partisipasi sekolah (APS) SD/MI/Paket A
persen 106,19 106,21 106,22 106,24 106,26 106,28 Dinas Pendidikan
Angka partisipasi sekolah (APS) SMP/MTs/Paket B
persen 104,8 104,82 104,84 104,86 104,88 104,9 Dinas Pendidikan
Angka partisipasi sekolah (APS)
SMA/SMK/MA/Paket C
persen 107,04 107,04 107,04 107,04 107,04 107,04 Dinas Pendidikan
6 Angka Putus Sekolah
8 Angka Melanjutkan
(AM):
Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA
persen 94,64 94,66 94,68 94,7 94,72 94,74 Dinas Pendidikan
9 Fasilitas Pendidikan
Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik
persen 90 92 94 96 98 100 Dinas Pendidikan
Sekolah pendidikan SMP/MTs dan
SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik
persen 90 91 93 96 100 100 Dinas Pendidikan
10
Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah pendidikan dasar
rasio 0,199 0,175 0,171 0,168 0,164 0,16 Dinas Pendidikan
11
Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah pendidikan menengah
rasio
12
Rasio guru/murid sekolah pendidikan dasar
rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan
13
Rasio guru terhadap murid pendidikan menengah
rasio
14
Rasio guru/murid per kelas rata-rata sekolah dasar
rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan
15
Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata
rasio 01:36 01:28 01:28 01:28 01:28 01:28 Dinas Pendidikan
16
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil
menamatkan sekolah dasar
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
17
Angka melek huruf penduduk usia 15‐24 tahun, perempuan dan laki‐laki
persen 15:07 15:21 15:36 15:50 16:04 16:19 Dinas Pendidikan
18
Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara)
persen 16:33 17:02 17:31 18:00 18:28 18:57 Dinas Pendidikan
19 Guru yang memenuhi
kualifikasi S1/D-IV persen 89 93 95 97 98 99 Dinas Pendidikan
2 KESEHATAN
1
Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup
angka 2,4 4,5 4,4 4,3 4,2 4,1 Dinas Kesehatan
2 Angka kelangsungan
hidup bayi
3
Angka Kematian Balita per 1000 kelahiran hidup
angka 0,47 1,50 1,45 1,40 1,35 1,30 Dinas Kesehatan
4
Angka Kematian Neonatal per 1000 kelahiran hidup
angka 1,7 3,9 3,8 3,7 3,6 3,5 Dinas Kesehatan
5
Angka Kematian Ibu per 100,000 kelahiran hidup
angka 56,90 64,75 64,60 64,45 64,30 64,15 Dinas Kesehatan
6 Rasio posyandu per
satuan penduduk rasio 1.959 2.001 2.008 2.015 2.022 2.029 Dinas Kesehatan
7
Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk
rasio 1,16 1,21 1,21 1,22 1,24 1,26 Dinas Kesehatan
8 Rasio rumah sakit per
satuan penduduk rasio 1,41 1,41 1,41 1,41 1,41 1,41 Dinas Kesehatan
9 Rasio dokter per satuan
penduduk rasio 1,36 1,40 1,40 1,40 1,45 1,50 Dinas Kesehatan
10 Rasio tenaga medis per
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
11
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
persen 80 80 80 80 80 80 Dinas Kesehatan
12
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
persen 90 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan
13
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
14
Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
15
Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat
konsumsi minimum (standar yang digunakan Indonesia 2.100 Kkal/kapita/hari)
16
Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak
Persen 90 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan 17 Non Polio AFP rate per
100.000 penduduk
non polio AFP
rate 2,2 2,2 2,2 2,1 2,1 2,1 Dinas Kesehatan
18 Cakupan pneumonia
balita yang ditangani persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
19
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
20
Tingkat prevalensi Tuberkulosis (per 100.000 penduduk)
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
21
Tingkat kematian karena Tuberkulosis (per 100.000 penduduk
persen 87,85 87,89 87,93 87,97 88,01 88,05 Dinas Kesehatan
22
Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS
per 100.000
penduduk 301 301 301 301 300 300 Dinas Kesehatan
23
Proporsi kasus Tuberkulosis yang diobati dan sembuh dalam program DOTS
per 100.000
penduduk 4 4 4 4 3 3 Dinas Kesehatan
24
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD
persen 87,85 87,89 87,93 87,97 88,01 88,05 Dinas Kesehatan 25 Penderita diare yang
ditangani persen 15,62 15,66 15,7 15,74 15,78 15,82 Dinas Kesehatan
26 Angka kejadian Malaria
27 Tingkat kematian akibat
malaria
28
Proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida
29
Proporsi anak balita dengan demam yang diobati dengan obat anti malaria yang tepat
30
Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi
persen < 1 < 1 < 1 < 1 < 1 < 1 Dinas Kesehatan 31
Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi terakhir
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
32
Proporsi jumlah penduduk usia 15‐24 tahun yang memiliki pengetahuan
komprehensif tentang
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
HIV/AIDS
33
Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
34 Cakupan kunjungan
bayi persen 90 90 90 90 90 90
Dinas Kesehatan
35 Cakupan puskesmas persen
36 Cakupan pembantu
puskesmas - - - -
37 Cakupan kunjungan
ibu hamil K4 persen 95 95 95 95 95 95 Dinas Kesehatan
38 Cakupan pelayanan
nifas persen 80 90 90 90 90 90 Dinas Kesehatan
39
Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
40 Cakupan pelayanan
anak balita persen 90 97 98 100 101 103 Dinas Kesehatan
41
Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
42
Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan 43
Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
44
Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS)
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
45
Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam
persen 100 100 100 100 100 100 Dinas Kesehatan
Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik
proporsi 54 100 100 100 100 100
Dinas Pekerjaan Umum
2
Rasio panjang jalan dengan jumlah penduduk
3
Persentase kawasan pemukiman yang yang belum dapat dilalui kendaraan roda 4
4
Persentase jalan kota dalam kondisi baik (> 40 km/jam)
persen 54 100 100 100 100 100
Dinas Pekerjaan Umum
5
Persentase jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran pembuangan air (minimal 1,5 meter)
meter 616,63 197.250 231.813 266.375 300.938 335.500
Dinas Pekerjaan Umum
PENATAAN
RUANG
1
Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB
NA NA NA NA NA NA
2
Luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan
NA NA NA NA NA NA
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
perkotaan
3
Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan
persen NA 53 54 55 56 57 Dinas Penataan
Ruang
4
Ruang publik yang berubah
peruntukannya
5
Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan
NA NA NA NA NA NA
6 Ketaatan terhadap
RTRW NA NA NA NA NA NA
4
KETENTERAMAN, KETERTIBAN UMUM, DAN PELINDUNGAN
MASYARAKAT
1
Cakupan petugas Perlindungan
Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan)
persen 100 100 100 100 100 100 Satpol PP
3 Persentase Penegakan
PERDA persen 100 100 100 100 100 100 Satpol PP
4
Cakupan pelayanan bencana kebakaran kota
persen NA 110,27 124,07 137,86 151,65 165,45
Dinas Kebakaran & Penanggulangan Bencana
5
Persentase Kelurahan Siaga Aktif Kebakaran dan Bencana (Target 20 Kelurahan)
kelurahan NA 2 3 4 5 6
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
6
Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)
menit <22 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15 ≤ 15
Dinas Kebakaran & Penanggulangan Bencana
5 SOSIAL
1
Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial
persen 16,93 29 31 33 35 37
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
2 Persentase PMKS yang
tertangani persen 17,84 37,76 40,77 43,79 46,8 49,81
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
3
Persentase PMKS skala yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar
persen 16,93 29 31 33 35 37
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
4
Persentase panti sosial yang menerima program pemberdayaan sosial melalui kelompok usaha bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya
persen NA 0 0 0 0 0
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
5
Persentase panti sosial yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesehatan sosial
persen 100 100 100 100 100 100
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
6
Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan
persen NA 3 6 9 12 15
SATUAN Baseline
2018 2019 2020 2021 2022 2023 Pengampu
kesejahteraan sosial
7
Persentase korban bencana yang menerima bantuan sosial selama masa tanggap darurat
persen 100 100 100 100 100 100
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
8
Persentase korban bencana yang dievakuasi dengan mengunakan sarana prasarana tanggap darurat lengkap
persen 100 100 100 100 100 100
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
9
Persentase penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial
persen 20 20 20 20 20 20
Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan
B
FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB NON PELAYANAN
DASAR
1 TENAGA KERJA
1
Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun
2
Besaran kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB)
persen 58 58 58 58 58 59 Dinas Tenaga Kerja
3
Besaran pencari kerja yang terdaftar yang ditempatkan
persen 44,88 45,33 45,56 45,65 45,9 46,15 Dinas Tenaga Kerja
4 Keselamatan dan
perlindungan