• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

 NTP Sumatera Barat bulan Juli 2017 tercatat sebesar 95,82 atau turun 0,87 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 96,66 (Juni 2017). Indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan sebesar 0,36 persen, dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,51 persen.

 Pada bulan Juli 2017 NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 92,05 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 86,00 untuk subsektor hortikultura (NTPH), 97,41 untuk subsektor tanaman

perkebunan rakyat (NTPR), 105,43 untuk subsektor peternakan (NTPT), dan 110,72 untuk subsektor perikanan (NTPN). Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masing-masing sebesar 109,57 dan 111,00.

 Secara regional, di Sumatera Barat pada bulan Juli 2017 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 0,65 persen yang disebabkan terjadinya inflasi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,29 persen. Selain itu 5 kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami inflasi: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,18 persen), kelompok sandang (0,63 persen), kelompok kesehatan (0,39 persen), kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga (0,02 persen). dan kelompok transportasi & komunikasi (0,25 persen). Sementara itu, kelompok perumahan mengalami deflasi 0,21 persen.

No. 41/08/13/Th XX, 1 Agustus 2017

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

,

D

AN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

A.

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

NTP SUMATERA BARAT JULI 2017 SEBESAR 95,82 ATAU TURUN SEBESAR 0,87 PERSEN

1.

Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di perdesaan di 11 kabupaten di Sumatera Barat pada bulan Juli 2017, NTP Sumatera Barat mengalami penurunan dibanding bulan Juni 2017 sebesar 0,87 persen, yaitu dari 96,66 menjadi 95,82. Hal ini disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani (0,36 persen), sedangkan indeks harga pada kelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian mengalami peningkatan (0,51 persen).

(2)

Juni 2017 Juli 2017

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a. NilaiTukar Petani (NTPP) 93.19 92.05 -1.22 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 99.87 99.21 -0.66 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 117.84 117.05 -0.67

- Padi 115.67 115.13 -0.47

- Palawija 125.42 123.74 -1.33

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 126.45 127.16 0.56

- Indeks Konsumsi RumahTangga 129.38 130.33 0.74

- Indeks BPPBM 117.99 117.98 -0.01

2. Hortikultura

a. Nilai Tukar Petani (NTPH) 85.67 86.00 0.39 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 96.43 97.07 0.65 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 107.81 108.65 0.78

- Sayur-sayuran 111.47 114.19 2.45

- Buah-buahan 100.94 98.38 -2.54

- Tanaman Obat 112.34 111.55 -0.70

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 125.85 126.35 0.39

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 128.90 129.48 0.44

- Indeks BPPBM 111.80 111.94 0.13

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Nilai Tukar Petani (NTPR) 99.41 97.41 -2.02 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 112.02 110.42 -1.43 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 127.00 125.22 -1.40

- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 127.00 125.22 -1.40

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 127.75 128.55 0.63

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.36 131.31 0.72

- Indeks BPPBM 113.37 113.40 0.03

4. Peternakan

a. Nilai Tukar Petani (NTPT) 105.23 105.43 0.19 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 113.81 114.25 0.38 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 125.04 125.83 0.63

- Ternak Besar 122.16 122.65 0.40

- Ternak Kecil 116.59 117.93 1.15

- Unggas 135.45 137.14 1.24

- Hasil Ternak 131.40 132.61 0.92

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 118.82 119.35 0.44

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 128.62 129.43 0.62

- Indeks BPPBM 109.87 110.14 0.25

5. Perikanan

a. Nilai Tukar Petani (NTNP) 110.25 110.72 0.42 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 120.00 120.95 0.79 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 133.73 134.57 0.63

- Tangkap 132.17 133.51 1.02

- Budidaya 134.11 134.82 0.53

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 121.30 121.54 0.20

- Indeks Konsumsi RumahTangga 128.31 128.86 0.43

- Indeks BPPBM 111.44 111.26 -0.17

Tabel 1

Nilai Tukar Petani per Subsektor dan Perubahannya Juni - Juli 2017 (2012 = 100)

(3)

Juni 2017 Juli 2017

(1) (2) (3) (4)

5.a. Perikanan Tangkap

a. Nilai Tukar Petani (NTN) 108.83 109.57 0.68 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 117.71 118.69 0.83 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 132.17 133.51 1.02

- Penangkapan Perairan Umum 126.86 125.53 -1.04

- Penangkapan Laut 132.31 133.73 1.07

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 121.44 121.85 0.34

- Indeks Konsumsi RumahTangga 128.23 128.79 0.44

- Indeks BPPBM 112.28 112.49 0.19

5.b. Perikanan Budidaya

a. Nilai Tukar Petani (NTPi) 110.59 111.00 0.36 b. NilaiTukar Usaha Pertanian 120.55 121.50 0.79 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 134.11 134.82 0.53

- Budidaya Air Tawar 134.11 134.82 0.53

d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 121.26 121.46 0.17

- Indeks Konsumsi RumahTangga 128.33 128.87 0.42

- Indeks BPPBM 111.24 110.96 -0.25

Gabungan

a. Nilai Tukar Petani (NTP) 96.66 95.82 -0.87 b. Nilai Tukar Usaha Pertanian 106.34 105.89 -0.42 c. Indeks Harga yang Diterima Petani 120.89 120.46 -0.36 d. Indeks Harga yang Dibayar Petani 125.07 125.71 0.51

- Indeks Konsumsi RumahTangga 129.40 130.24 0.65

- Indeks BPPBM 113.68 113.75 0.07

Subsektor Bulan Perubahan (%)Persentase

Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, NTP Juli 2017 pada dua subsektor mengalami penurunan, yakni subsektor tanaman pangan (1,22 persen) subsektor tanaman perkebunan rakyat (2,02 persen). Sedangkan NTP pada tiga subsektor lainnya mengalami peningkatan, yaitu subsektor hortikultura (0,39 persen), subsektor peternakan (0,19 persen) dan subsektor perikanan (0,42 persen).

2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan Juli 2017 terjadi penurunan pada indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,36 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 120,89 menjadi 120,46. Menurunnya nilai It diakibatkan oleh menurunnya nilai It pada dua subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan (0,67 persen) dan subsektor tanaman perkebunan rakyat (1,40 persen). Sedangkan It pada tiga subsektor lainnya mengalami peningkatan, yaitu subsektor hortikultura (0,78 persen), subsektor peternakan (0,63 persen), dan subsektor perikanan (0,63 persen).

3. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

(4)

Pada bulan Juli 2017 indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peingkatan sebesar 0,51 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 125,07 menjadi 125,71. Meningkatnya nilai Ib disebabkan oleh peningkatan nilai Ib pada semua subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan (0,56 persen), subsektor hortikultura (0,39 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,63 persen), subsektor peternakan (0,44 persen), dan sektor perikanan (0,20 persen).

Grafik 1

NTP Sumatera Barat Bulan Juli 2016 – Juli 2017 (2012=100) 96.91 97.13 97.81 96.60 96.60 97.87 97.92 98.64 98.19 98.71 97.07 96.66 95.82 95.50 96.00 96.50 97.00 97.50 98.00 98.50 99.00

4. NTP Subsektor

a.

Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)

NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) pada bulan Juli 2017 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 1,22 persen dari 93,19 menjadi 92,05. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan indeks harga yang diterima petani (0,67 persen) sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan (0,56 persen).

Menurunnya nilai indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,67 persen disebabkan oleh menurunnya indeks harga pada kelompok padi sebesar 0,47 persen, dan indeks harga pada kelompok palawija sebesar 1,33 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,56 persen diakibatkan oleh meningkanya indeks harga pada kelompok konsumsi rumahtangga sebesar 0,74 persen, sementara itu indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami penurunan sebesar 0,01 persen.

b.

Subsektor Hortikultura (NTPH)

Nilai Tukar Petani untuk subsektor hortikultura (NTPH) pada bulan Juli 2017 mengalami peningkatan sebesar 0,39 persen dari 85,67 menjadi 86,00. Hal ini dikarenakan peningkatan indeks harga yang diterima petani (0,78 persen), lebih besar dibanding peningkatan indeks harga yang dibayar petani (0,39 persen).

Meningkatnya nilai It sebesar 0,78 persen disebabkan meningkatnya nilai indeks harga pada kelompok sayur-sayuran sebesar 2,45 persen, meskipun kelompok buah-buahan dan kelompok tanaman obat mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,54

(5)

persen dan 0,70 persen. Peningkatan Ib sebesar 0,39 persen disebabkan peningkatan indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga sebesar dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal masing-masing sebesar 0,44 persen dan 0,13 persen.

c.

Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)

NTPR pada bulan Juli 2017 mengalami penurunan sebesar 2,02 persen, yaitu dari 99,41 menjadi 97,41. Menurunnya nilai NTPR ini disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani (1,40 persen) sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan (0,63 persen).

Meningkatnya nilai Ib sebesar 0,63 persen diakibatkan meningkatnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) masing-masing sebesar 0,72 persen dan 0,03.

d.

Subsektor Peternakan (NTPT)

NTPT pada Juli 2017 mengalami peningkatan sebesar 0,19 persen, yaitu dari 105,23 menjadi 105,43. Peningkatan NTPT ini terjadi diakibatkan oleh peningkataan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,63 persen lebih besar dari peningkatan indeks harga yang dibayar petani (0,44 persen).

Peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,63 persen terjadi karena peningkatan harga pada kelompok ternak besar (0,40 persen), kelompok ternak kecil (1,15 persen), kelompok unggas (1,24 persen) dan kelompok hasil ternak (0,92 persen). Peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,44 persen diakibatkan oleh peningkatan harga pada kelompok konsumsi rumah tangga dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal masing-masing sebesar 0,62 persen dan 0,25 persen.

e.

Subsektor Perikanan (NTNP)

Pada bulan Juli 2017, nilai tukar petani subsektor perikanan (NTNP) mengalami peningkatan sebesar 0,42 persen, yaitu dari 110,25 menjadi 110,72. Kondisi ini diakibatkan peningkatan indeks harga yang diterima petani (0,63 persen), lebih besar dari peningkatan indeks yang dibayar petani (0,20 persen).

Peningkatan nilai It sebesar 0,63 persen merupakan kontribusi dari peningkatan indeks harga pada kelompok perikanan tangkap dan budidaya masing-masing sebesar 1,02 persen dan 0,35 persen. Peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,20 persen diakibatkan peningkatan indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,43 persen, meskipun indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami penurunan sebesar 0,17 persen.

4. Indeks Harga Konsumen Perdesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara regional, Sumatera Barat pada bulan Juli 2017 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 0,65 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Terjadinya inflasi di daerah perdesaan merupakan kontribusi terjadinya inflasi pada enam kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan (1,29 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,18 persen), kelompok sandang (0,63 persen), kelompok kesehatan (0,39 persen), kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga

(6)

(0,02 persen). dan kelompok transportasi & komunikasi (0,25 persen). Sementara itu kelompok perumahan mengalami deflasi sebesar 0,21 persen.

Tabel 2

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Menurut Kelompok Pengeluaran Juni 2017 - Juli 2017

(2012=100)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Konsumsi Rumah Tangga 129.40 130.24 0.65 0.04 3.17

Bahan Makanan 138.49 140.27 1.29 -3.60 1.39

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 125.83 126.06 0.18 2.02 4.24

Perumahan 129.79 129.51 -0.21 7.64 9.43

Sandang 121.27 122.04 0.63 3.94 4.48

Kesehatan 119.72 120.19 0.39 2.19 3.53

Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 116.82 116.85 0.02 2.78 3.45

Transportasi dan Komunikasi 116.28 116.57 0.25 1.18 1.75

Inflasi Pedesaan Tahun ke Tahun ***) Rincian Pengeluaran IHK Perdesaan Juni 2017 IHK Perdesaan Juli 2017 Inflasi Perdesaan Juli 2017 *) Laju Inflasi Pedesaan Tahun Kalender **)

*) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Juli 2017 terhadap bulan sebelumnya **) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Juli 2017 terhadap bulan Juni 2017 ***) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Juli 2017 terhadap bulan Juli 2016

Laju inflasi perdesaan tahun kalender bulan Juli 2017 sebesar 0,04 persen. Sedangkan inflasi perdesaan tahun ke tahun (year on year) adalah sebesar 3,17 persen.

Grafik 2

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Juli 2016 – Juli 2017 (2012=100) 0.91 0.58 0.76 0.68 1.14 -0.34 0.27 -0.19 0.41 -1.12 0.57 -0.54 0.65 -1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5

(7)

 Komposisi jumlah observasi dari 126 transaksi harga gabah di tujuh kabupaten di Sumatera Barat selama Juli 2017, didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 92 persen. Sementara kualitas rendah sebesar 8 persen.

 Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP varietas Cisokan yaitu sebesar Rp 6.000,00 per kg yang terjadi di Kabupaten Solok. Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas Batang Piaman, yaitu senilai Rp 4.000,00 per kg, terjadi di Kabupaten Agam.

 Berbeda dengan bulan sebelumnya, pada bulan Juli 2017 rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dari 5.007,12 per kg (Juni 2017) menjadi Rp 5.003,86 per kg (Juli 2017), dan di tingkat penggilingan turun 0,04 persen dari Rp 5.086,54 per kg ( Juni 2017) menjadi Rp 5.084,36 per kg (Juli 2017). Sementara itu, rata–rata harga gabah kualitas rendah dan gabah kualitas GKG tidak dapat dibandingkan.

2.

PER

KEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH JULI 2017

HARGA GABAH (GKP) DI PETANI TURUN 0,07 %

Survei harga produsen gabah berasal dari 126 observasi di tujuh kabupaten di Sumatera Barat, yaitu: Pesisir Selatan, Solok, Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pasaman. Rata-rata harga gabah di tingkat petani bulan Juni 2017 dibanding bulan Juli 2017 untuk kualitas GKP mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dari Rp 5.007,12 per kg (Juni 2017) menjadi Rp 5.003,86 per kg (Juli 2017). Sementara di tingkat penggilingan harga gabah GKP turun sebesar 0,04 persen dari 5.086,54 per kg (Juni 2017) menjadi Rp 5.084,36 per kg (Juli 2017).

Tabel 3

Jumlah Observasi Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Juli 2017

Kelompok

Kualitas Observasi Jumlah

Harga di Tk Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga Tkt Penggilingan

(Rp/Kg)

Harga Pembelian Pemerintah (Rp/Kg)

Selisih harga kol (5&6) terhadap kol (7) Terendah Tertinggi Rata-rata (Rp/kg) (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) GKG 0 (0,00%) -- -- -- -- 4.600,00 -- -- GKP 116 (92%) 4000,00- 6000,00,- 5003,86- 5 084,36,- 3.700,00 (Petani) 1303.86 35,24 3.750,00 (Penggilingan) 1334.36 35.58 KualitasRendah 10 (8 %) 4000 5800,00,- 5000 5025 -- -- -- Total (100,00) 126 -- -- -- -- -- -- --

Harga gabah kualitas GKP terendah pada Juli 2017 di tingkat petani dijumpai di Kabupaten Agam, yaitu sebesar Rp 4.000,00 per kg, sedangkan harga terendah di tingkat penggilingan juga di Kabupaten Agam, yaitu Rp 4.050,00 per kg. Sementara harga tertinggi di tingkat petani terjadi di

(8)

Kabupaten Solok, yaitu sebesar Rp 6.000,00 per kg . Sedangkan harga tertinggi di tingkat penggilingan juga terjadi di Kabupaten Solok yaitu sebesar Rp 6.180 per kg.

Tabel 4

Perbandingan Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Sumatera Barat Mei 2017 s/d Juli 2017

No. Kabupaten

Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Tingkat Petani (Rp/Kg) Mei’17 Juni’17 Juli’17

% Perubahan Bln Juli 2017

thd. Juni 2017 Mei’17 Juni’17 Juli’17

% Perubahan Bulan Juli 2017 thd. Juni 2017 (1) (2) (5) (5) (5) (6) (9) (9) (9) (10) 1 Pes, Selatan 5 412,18 4 971,84 5 387,51 8,55 5 365,40 4 926,90 5 396,79 9,37 2 Solok 5 763,80 5 665,35 5 553,60 -1,97 5 683,90 5 586,85 5 438,35 - 2,66 3 Tanah Datar 5.547,53 5.307,00 5.152,82 -2,91 5 460,19 5 239,67 5 086,69 -2,92 4 Pdg, Prmn. 5.501,92 5.102,50 5.028,57 -1,45 5 374,42 4 990,00 4 907,14 -1,66 5 Agam 4.952,50 4.788,75 4.780,56 -0,17 5 890,00 4 732,50 4 688,89 -0,92 6 50 Kota 5.217,62 5.183,81 5.150,00 -0,65 5 066,67 5 019,04 4 976,09 -0,86 7 Pasaman 4 873,33 4 630,89 4 796,67 3,58 4 773,33 4 535,02 4 646,67 2,46 Sumbar 5 328,81 5 086,54 5 084,36 -0,04 5 232,94 5 007,12 5 003,86 -0,07 Grafik 3

Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Tingkat Penggilingan Dan HPP Sumatera Barat Juli 2016 – Juli 2017

Berdasarkan Inpres No. 5 Tahun 2015 tentang Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah, telah ditetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang baru yang berlaku sejak tanggal 17 Mei 2015, yaitu untuk gabah kualitas GKP sebesar Rp 3.700,00 per kg di tingkat petani dan Rp 3.750,00 per kg di tingkat penggilingan, sedangkan HPP untuk gabah kualitas GKG sebesar Rp 4.600,00 per kg di tingkat penggilingan. Pada pemantauan bulan Juli 2017 tidak ditemukan kasus harga gabah yang berada dibawah di HPP.

4908.3 5408.7 5258.0 5498.6 5615.6 5651.6 5658.5 5728.4 5719.6 5551.0 5328.8 5086.5 5084.4 1800 2300 2800 3300 3800 4300 4800 5300 5800 Ju l-16 Aug-16 Sep -1 6 Oc t-1 6 No v-16 Dec -16 Ja n-17 Fe b-17 M ar -17 Ap r-1 7 M ay -17 Jun-17 Ju l-17 Ra ta -rat a H ar ga ( Rp /K g) Bulan

(9)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Teguh Sugiarto, Ph.D

Kepala Bidang Statistik Distribusi

JlKhatibSulaiman No.48 Padang 25135 Telp. (0751)442158,442159 Homepage : http://sumbar.bps.go.id

Email : [email protected]

Badan Pusat Statistik

Provinsi Sumatera Barat

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,89 persen diakibatkan oleh menurunnya indeks harga pada kelompok konsumsi

Kenaikan indeks harga yang dibayar petani terjadi diakibatkan kenaikan indeks subkelompok konsumsi rumah tangga (IKRT) sebesar 0,72 persen, dan subkelompok biaya

Penurunan indeks yang dibayar petani (Ib) diakibatkan oleh penurunan indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,40, sedangkan subkelompok biaya

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 1,10 persen diakibatkan oleh meningkatnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumah

NTN pada bulan Februari 2015 mengalami kenaikan indeks sebesar 1,48 persen yang disebabkan karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar

NTN pada bulan Juli 2014 mengalami kenaikan indeks sebesar 1,05 persen yang disebabkan karena laju kenaikan indeks harga yang diterima petani yang sebesar 1,83 persen,

Pada bulan Nopember 2009, terjadi penurunan pada indeks yang diterima petani pada subsektor hortikultura yaitu sebesar 3,30 persen.. Di sisi lain, indeks yang dibayar petani juga

Kenaikan ini terjadi karena indeks yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen, sementara indeks harga yang harus dibayar oleh petani (Ib) mengalami