Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015 1
No. 17/3/32/Th XVII, 2 Maret 2015
P
ERKEMBANGAN
N
ILAI
T
UKAR
P
ETANI
,
H
ARGA
P
RODUSEN
G
ABAH
D
AN
H
ARGA
B
ERAS
D
I
P
ENGGILINGAN
NILAI TUKAR PETANI FEBRUARI 2015 SEBESAR 105,69 (2012=100)
BPS PROVINSI JAWA BARAT
Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Februari 2015 (2012 =100) tercatat sebesar 105,69 atau turun 0,25 persen dibandingkan NTP Januari 2015 sebesar 105,95. Hal ini disebabkan penurunan Indeks Harga Diterima Petani (IT) sebesar 0,21 persen sementara Indeks Harga Dibayar Petani (IB) naik sebesar 0,04 persen.
Februari 2015, dua dari lima subsektor pertanian mengalami penurunan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 2,72 persen dari 97,75 menjadi 95,09 demikian juga NTP Subsektor Hortikultura turun 1,88 persen dari 105,61 menjadi 103,63, sementara tiga subsektor lain mengalami kenaikan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan naik 0,64 persen dari 109,33 menjadi 110,04, NTP Subsektor Peternakan naik 0,94 persen dari 106,38 menjadi 107,39 serta NTP Subsektor Perikanan naik 0,19 persen dari 98,98 menjadi 99,17.
Di Daerah Pedesaan Jawa Barat Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,02 persen. Dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi yaitu Kelompok Transportasi & Komunikasi 2,48 persen dan Kelompok Bahan Makanan 0,07 persen, sementara Kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,98 persen, diikuti Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,73 persen, Kelompok Sandang 0,32 persen, Kelompok Perumahan 0,22 persen, dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,02 persen.
Februari 2015 berdasarkan 156 transaksi gabah yang terpantau di Jawa Barat, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 5.255,00,- per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar 0,86 persen dibandingkan harga GKP Januari 2015 yang tercatat sebesar Rp. 5.210,00,-. Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani turun 1,52 persen dari Rp. 5.790,48,- menjadi Rp. 5.702,27,- per kilogram. Gabah Kualitas Rendah juga turun sebesar 0,20 persen dari Rp. 3.686,67,- menjadi Rp. 3.679,67,-.
Pada Februari 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp, 10.053,33 atau naik 7,75 persen dibandingkan harga beras Januari 2015 yang tercatat sebesar Rp, 9.330,12. Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahan (broken) beras, harga Beras Premium naik 7,72 persen dari Rp, 9.376,90 menjadi Rp, 10.100,48, Beras Medium naik 7,45 persen dari Rp, 9.364,29 menjadi Rp, 10.061,76 demikian juga Beras kualitas Rendah naik 5,25 persen dari Rp, 9.121,43 menjadi Rp, 9.600,00.
2 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015
A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
1.
Nilai Tukar Petani
Sebagai indikator kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dari rasio Indeks Harga Diterima Petani dengan Indeks Harga Dibayar Petani. NTP menunjukkan kemampuan tukar (term of trade) komoditas hasil pertanian dengan barang & jasa konsumsi petani baik untuk keperluan rumah tangga maupun proses produksi. Semakin tinggi NTP berarti semakin kuat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
Berdasarkan hasil pemantauan harga di 17 kabupaten di Provinsi Jawa Barat pada Februari 2015, NTP Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 0,25 persen dibandingkan NTP Januari 2015 yaitu turun dari 105,95 menjadi 105,69. Hal ini disebabkan oleh penurunan indeks harga hasil produksi pertanian, sementara indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani mengalami kenaikan atau dengan kata lain Indeks Harga Diterima Petani (IT) turun sebesar 0,21 persen sementara Indeks Harga Dibayar Petani (IB) naik sebesar 0,04 persen.
Februari 2015, dua dari lima subsektor pertanian mengalami penurunan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 2,72 persen dari 97,75 menjadi 95,09 demikian juga NTP Subsektor Hortikultura turun 1,88 persen dari 105,61 menjadi 103,63, sementara tiga subsektor lain mengalami kenaikan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan naik 0,64 persen dari 109,33 menjadi 110,04, NTP Subsektor Peternakan naik 0,94 persen dari 106,38 menjadi 107,39 serta NTP Subsektor Perikanan naik 0,19 persen dari 98,98 menjadi 99,17.
90,00 110,00 130,00 150,00
Feb'14 April'14 Juni'14 Agst'14 Okt'14 Des'14 Feb'15
IT IB NTP
Gambar 1
Perkembangan Indeks Harga Diterima, Indeks Harga Dibayar dan Nilai Tukar Petani di Jawa Barat (2012=100)
Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015 3
2. Indeks Harga Diterima Petani (IT)
Perkembangan yang terjadi pada Indeks Harga Diterima Petani (IT) menunjukkan fluktuasi harga dari komoditas-komoditas yang dihasilkan petani. Pada Februari 2015, IT Gabungan dari lima subsektor pertanian turun sebesar 0,21 persen dibandingkan dengan IT Januari 2015 yaitu dari 125,54 menjadi 125,27. Bila dirinci menurut subsektor, IT Subsektor Tanaman Pangan mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen diikuti IT Subsektor Peternakan naik 0,89 persen serta IT Subsektor Perikanan 0,29 persen, sedangkan IT Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 2,67 persen demikian juga IT Subsektor Hortikultura turun 1,78 persen.
3. Indeks Harga Dibayar Petani (IB)
Fluktuasi harga barang & jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani serta barang & jasa yang diperlukan petani dalam proses produksi terlihat mengalami kenaikan. Pada Februari 2015, indeks harga yang dibayar petani (IB) naik sebesar 0,04 persen dari 118,48 menjadi 118,53. Empat dari lima subsektor mengalami kenaikan IB, tertinggi terjadi pada IB Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,05 persen, diikuti IB Subsektor Tanaman Pangan 0,04 persen, IB Subsektor Hortikultura dan IB Subsektor Perikanan mengalami kenaikan IB yang sama sebesar 0,10 persen, sedangkan IB subsektor Peternakan turun sebesar 0,05 persen.
Di Daerah Pedesaan Jawa Barat Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,02 persen. Dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi yaitu Kelompok Transportasi & Komunikasi 2,48 persen dan Kelompok Bahan Makanan 0,07 persen, sementara Kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,98 persen, diikuti Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,73 persen, Kelompok Sandang 0,32 persen, Kelompok Perumahan 0,22 persen, dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,02 persen.
Khusus Indeks yang dibayar petani untuk keperluan proses produksi pada Februari 2015 mengalami inflasi sebesar 0,17 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, lima dari enam kelompok mengalami inflasi yaitu Kelompok Pupuk, Obat-obatan & Pakan 0,59 persen, Kelompok Penambahan Barang Modal 0,43 persen, Kelompok Upah Buruh 0,33 persen, Kelompok Biaya Sewa & Pengeluaran Lain 0,07 persen, dan Kelompok Bibit 0,04 persen, sementara Kelompok Transportasi mengalami deflasi sebesar 2,98 persen.
4. Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Subsektor Pertanian
a. NTP Tanaman Pangan
NTP Subsektor Tanaman Pangan pada Februari 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,64 persen yaitu naik dari 109,33 menjadi 110,04, hal ini disebabkan oleh indeks yang diterima petani (IT) naik sebesar 0,68 persen lebih tinggi dari kenaikan indeks yang dibayar petani (IB) sebesar 0,04 persen. Naiknya IT Subsektor Tanaman Pangan dikarenakan oleh IT Subkelompok Padi naik sebesar 0,59 persen dan IT Subkelompok Palawija naik sebesar 1,30 persen. Pada sisi pengeluaran petani, IB mengalami inflasi sebesar 0,04 persen akibat IB Subkelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) inflasi sebesar 0,23 persen, sementara IB Sub Kelompok Konsumsi Rumah tangga (IKRT) deflasi sebesar 0,02 persen.
4 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015
b. NTP Hortikultura
Pada Februari 2015, Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura mengalami penurunan sebesar 1,88 persen, hal ini disebabkan karena indeks yang diterima petani (IT) turun sebesar 1,78 persen sementara indeks yang dibayar petani (IB) naik sebesar 0,10 persen. Penurunan IT sangat dipengaruhi IT Subkelompok Sayur-sayuran yang turun sebesar 2,19 persen, IT Subkelompok Buah-buahan turun sebesar 1,46 persen demikian juga IT Subsektor Tanaman Obat turun sebesar 0,51 persen. Di sisi pengeluaran, IB Subsektor Hortikultura mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen akibat IB indeks Konsumsi Rumah Tangga naik 0,07 persen, demikian juga IB Subkelompok Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal naik sebesar 0,18 persen.
c. NTP Tanaman Perkebunan Rakyat
NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat pada Februari 2015 mengalami penurunan sebesar 2,72 persen dari 97,75 menjadi 95,09. Hal ini disebabkan oleh Indeks Diterima Petani (IT) turun sebesar 2,67 persen sementara Indeks Dibayar Petani (IB) naik sebesar 0,05 persen akibat IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal naik sebesar 0,23 persen, sementara IB Subkelompok Konsumsi Rumah Tangga turun 0,04 persen.
d. NTP Peternakan
Februari 2015, NTP Subsektor Peternakan berada pada posisi 107,39 tercatat mengalami kenaikan dari NTP Januari 2015 yang memiliki indeks sebesar 106,38 atau naik sebesar 0,94 persen. Indeks Diterima Petani (IT) naik 0,89 persen sedangkan Indeks yang Dibayar Petani (IB) turun sebesar 0,05 persen. Bila dirinci per subkelompok, IT Subkelompok Unggas naik 0,70 persen, IT Subkelompok Ternak Besar naik 1,54 persen, IT Subkelompok Ternak Kecil naik 1,14 persen demikian juga IT Subkelompok Hasil Ternak naik 0,63 persen. Di sisi pengeluaran petani, Indeks Dibayar Petani (IB) mengalami penurunan sebesar 0,05 persen akibat IB Konsumsi Rumah Tangga turun sebesar 0,11 persen sementara IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal stabil tidak mengalami perubahan indeks bertahan pada posisi 106,83.
e. NTP Perikanan
Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen yaitu dari 98,98 pada Januari 2015 menjadi 99,17 pada Februari 2015. Hal ini disebabkan oleh Indeks Diterima Petani (IT) naik sebesar 0,29 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 0,10 persen. Dari sisi pendapatan Petani, IT Subkelompok Penangkapan Ikan naik sebesar 1,47 persen demikian juga IT Subkelompok Budidaya naik sebesar 0,18 persen. Dari sisi pengeluaran, Indeks yang dibayar (IB) naik sebesar 0,10 persen akibat IB Konsumsi Rumah tangga dan IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal masing-masing naik sebesar 0,08 persen dan 0,20 persen.
Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015 5
Tabel 1
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jawa Barat per Subsektor Pertanian
serta Perubahannya (2012=100), Februari 2015
Subsektor Indeks Perubahan (%)
Jan 2015 Feb 2015
[1] [2] [3] [4]
1, Tanaman Pangan
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 131,72 132,62 0,68
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 120,48 120,52 0,04
c. Nilai Tukar Petani (NTP-TP) 109,33 110,04 0,64
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 114,22 114,74 0,45
2, Hortikultura
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 126,87 124,61 -1,78
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 120,13 120,24 0,10
c. Nilai Tukar Petani (NTP-H) 105,61 103,63 -1,88
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 111,93 109,74 -1,96
3, Tanaman Perkebunan Rakyat
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 115,05 111,98 -2,67
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 117,69 117,75 0,05
c. Nilai Tukar Petani (NTP-R) 97,75 95,09 -2,72
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 104,57 101,54 -2,89
4, Peternakan
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 120,69 121,77 0,89
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 113,45 113,40 -0,05
c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 106,38 107,39 0,94
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 112,98 113,98 0,89
5, Perikanan
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 116,01 116,35 0,29
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 117,21 117,32 0,10
c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 98,98 99,17 0,19
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 106,89 106,99 0,09
6, Gabungan
a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 125,54 125,27 -0,21
b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 118,48 118,53 0,04
c. Nilai Tukar Petani (NTP) 105,95 105,69 -0,25
d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 111,90 111,47 -0,38
6 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015
Tabel 2
Indeks Harga Diterima Petani, Indeks Harga Dibayar Petani
per Subkelompok Pengeluaran serta Perubahannya [2012=100], Februari 2015
Kelompok/Sub Kelompok
Indeks Gabungan Subsektor
Jan 2015 Feb 2015
Perubahan Feb 2015 Thd
Jan 2015
[1] [3] [3] [4]
1. INDEKS HARGA YANG DITERIMA
PETANI 125,54 125,27 -0,21
2. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR
PETANI 118,48 118,53 0,04
2.1. KONSUMSI RUMAH TANGGA 122,32 122,30 -0,02
2.1.1. Bahan Makanan 128,87 128,78 -0,07
2.1.2. Makanan Jadi 119,26 120,14 0,73
2.1.3. Perumahan 115,82 116,08 0,22
2.1.4. Sandang 114,90 115,27 0,32
2.1.5. Kesehatan 110,22 111,30 0,98
2.1.6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 115,76 115,79 0,02
2.1.7. Transportasi dan Komunikasi 124,37 121,28 -2,48
2.2 BIAYA PRODUKSI DAN PENAMBAHAN 112,19 112,38 0,17
BARANG MODAL
2.2.1. Bibit 113,01 113,05 0,04
2.2.2. Pupuk dan Obat-obatan 109,21 109,85 0,59
2.2.3. Biaya Sewa dan Pngeluaran Lain 109,38 109,46 0,07
2.2.4. Transportasi 131,68 127,76 -2,98
2.2.5. Penambahan Barang Modal 110,14 110,61 0,43
2.2.6. Upah Buruh 113,74 114,12 0,33
3. NILAI TUKAR PETANI 105,95 105,69 -0,25
Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015 7
5.
Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa
Dua dari enam provinsi di Pulau Jawa mengalami penurunan NTP pada Februari 2015 yaitu NTP Provinsi Jawa Barat dan NTP Banten masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,25 persen dan 0,22 persen, sementara empat provinsi lain mengalami kenaikan NTP yaitu NTP DKI Jakarta naik sebesar 1,16 persen, NTP Jawa Timur naik 0,91 persen, NTP DI Yogyakarta naik 0,39 persen dan NTP Jawa Tengah naik 0,30 persen. Secara Nasional, NTP Februari 2015 dibandingkan Januari 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen yaitu dari 101,86 menjadi 102,19.
Tabel 3
Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa
dan Nasional [2012=100], Februari 2015
Provinsi NTP Perubahan (%) Jan 2015 Feb 2015 [1] [2] [3] [4] DKI Jakarta 97,99 99,12 1,16 Jawa Barat 105,95 105,69 -0,25 Jawa Tengah 101,18 101,48 0,30 DI Yogyakarta 100,40 100,79 0,39 Jawa Timur 105,23 106,18 0,91 Banten 105,42 105,19 -0,22 Nasional 101,86 102,19 0,33
8 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015
B. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH
Februari 2015, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 5.255,00 per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar 0,86 persen dibandingkan harga GKP Januari 2015 yang tercatat sebesar Rp. 5.210,00,-. Sementara untuk kualitas Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani mengalami penurunan harga sebesar 1,52 persen dari Rp. 5.790,48,- menjadi Rp. 5.702,27,- per kilogram, demikian juga untuk kualitas yang ketiga yaitu Gabah Kualitas Rendah turun sebesar 0,20 persen dari Rp. 3.686,67,- menjadi Rp. 3.679,25,-.
Gambar 1
Perkembangan Harga Rata-rata Gabah di Tingkat Petani Jawa Barat (Rp/Kg)
1, Harga Gabah Tertinggi dan Terendah
Februari 2015, jumlah transaksi yang terpantau melalui Survei Monitoring Gabah di Jawa Barat berjumlah 156 transaksi, tersebar di 15 Kabupaten Jawa Barat, diantaranya transaksi GKP sebanyak 96 observasi (61,54 persen), transaksi GKG sebanyak 44 observasi (28,21 persen) dan transaksi Gabah Kualitas Rendah sebanyak 16 observasi (10,26 persen). Dari hasil pengamatan harga, GKP di Tingkat Petani terendah sebesar Rp, 3,365,00 per kilogram terjadi di Kabupaten Bogor (1 observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 3.530,00. Ongkos angkut dari lokasi transaksi GKP ke penggilingan terdekat sebesar Rp, 165,00 per kilogram. Sementara harga GKP tertinggi di Tingkat Petani sebesar Rp, 6,600,00 dijumpai di Kabupaten Indramayu (1 observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 6,700,00.
Untuk kualitas GKG di Jawa Barat pada Februari 2015, terhitung rata-rata harga GKG di Tingkat Penggilingan sebesar Rp. 5.860,23 per kilogram. Harga GKG Penggilingan terendah sebesar Rp, 5.300,00 per kilogram dijumpai di Kabupaten Sumedang (5 observasi), Harga GKG Penggilingan tertinggi sebesar Rp, 6.700,00 per kilogram dijumpai di Kabupaten Indramayu (1 observasi). Secara keseluruhan pada Februari 2015 di Jawa Barat, harga transaksi Gabah baik GKP maupun GKG berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
200 0,0 0 300 0,0 0 400 0,0 0 500 0,0 0 600 0,0 0
FEB'14 APR'14 JUNI'14 AG S'14 OKT'14 DES'14 FEB'15
GKP GKG
Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015 9
Tabel 4
Jumlah Observasi Gabah, Harga Gabah serta
Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menurut Kelompok Kualitas Gabah di Jawa Barat, Februari 2015
Kelompok Kualitas Gabah
Jumlah Observasi (%)
Harga Gabah di Tingkat Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga di Tingkat Penggilingan
HPP Di Tingkat Penggilingan Terendah Tertinggi Rata-Rata
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] GKG 44 (28,21 %) 5.000,00 6.600,00 5.702,27 5.860,23 4.150,00 GKP 96 (61,54 %) 3.365,00 6.600,00 5.255,00 5.365,16 3.350,00 Rendah 16 (10,26 %) 3.300,00 4.500,00 3.679,25 3.798,56 - Jumlah 156 (100,00 %) Keterangan :
GKG (Gabah Kering Giling) : Kadar Air ≤ 14,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran ≤ 3,00 %
GKP (Gabah Kering Panen) : Kadar Air (14,01 % - 25,00 %) dan Kadar Hampa/Kotoran (3,01 % - 10,00 %) Rendah (di luar Kualitas) : Kadar Air > 25,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran > 10,00 %
2. Kasus Gabah Kualitas Rendah
Transaksi Gabah Kualitas Rendah pada Februari 2015 terpantau sebanyak 16 observasi dari total transaksi sebanyak 156 atau 10,26 persen, yaitu terjadi di Kabupaten Sukabumi sebanyak 12 observasi dan di Kabupaten Bogor sebanyak 4 observasi. Harga terendah Gabah Kualitas Rendah di Tingkat Petani Rp, 3.300,00,00 per kilogram terjadi di Kabupaten Sukabumi (1 observasi), sedangkan harga Gabah Kualitas Rendah tertinggi Rp, 4.500,00 terjadi di Kabupaten Bogor (1 observasi).
C. PERKEMBANGAN HARGA BERAS DI TINGKAT PENGGILINGAN
Pemantauan harga beras di penggilingan pada Februari 2015 dilakukan di 15 Kabupaten Jawa Barat yang tersebar di 35 Kecamatan dengan jumlah observasi sebanyak 81, diantaranya Beras Premium 42 observasi (51,85 persen), Beras Medium 34 observasi (41,98 persen), Beras kualitas Rendah 5 observasi (6,17 persen). Pada Februari 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp, 10.053,33 atau naik 7,75 persen dibandingkan harga beras Januari 2015 yang tercatat sebesar Rp, 9.330,12. Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahan (broken) beras, harga Beras Premium naik 7,72 persen dari Rp, 9.376,90 menjadi Rp, 10.100,48, Beras Medium naik 7,45 persen dari Rp, 9.364,29 menjadi Rp, 10.061,76 demikian juga Beras kualitas Rendah naik 5,25 persen dari Rp, 9.121,43 menjadi Rp, 9.600,00.
Perkembangan harga beras di penggilingan menunjukkan pola yang fluktuatif. Sepanjang Februari 2014 sampai Februari 2015, penurunan harga terjadi di lima bulan terakhir yaitu Maret, April, Mei, Agustus dan September 2014. Dalam rentang waktu itu rata-rata harga beras terendah sebesar Rp, 8.270,00 per kilogram yaitu terjadi pada Mei 2014.
10 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 17/3/32/Th.XVII, 2 Maret 2015
Gambar 2
Perkembangan Harga Beras di Tingkat Penggilingan
Di Jawa Barat (Rp/Kg)
Tabel 5
Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan
Menurut Kelompok Kualitas Beras di Jawa Barat
Kelompok Kualitas
Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Feb 2014 Mar 2014 Apr 2014 Mei 2014 Juni 2014 Juli 2014 Ags 2014 Sept 2014 Okt 2014 Nov 2014 Des 2014 Jan 2015 Feb 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] Premium 8.952 8.806 8.533 8.589 8.517 8.755 8.772 8.652 8.785 8.745 9.346 9.377 10.100 Medium 8.796 8.763 8.436 8.057 8.372 8.570 8.252 8.184 8.450 8.483 8.940 9.364 10.062 Rendah 8.169 8.481 8.225 7.846 7.629 7.665 7.733 7.813 8.086 8.382 8.732 9.121 9.600 Rata-rata 8.789 8.730 8.427 8.270 8.305 8.470 8.411 8.352 8.561 8.598 9.140 9.330 10.053 Keterangan :
Premium : Kadar Broken ≤ 10,00 % Medium : Kadar Broken (10,01 % - 20,00 %) Rendah : Kadar Broken > 20,00 %
6000,00 7000,00 8000,00 9000,00 10000,00 11000,00
FEB '14 APR'14 JUNI'14 AGS '1 4 OKT'14 DES'14 FEB'15
PREMIU M MEDIU M REND AH RAT A-RAT A