SKRIPSI
ANALISIS PENGARUH AUDIT TENURE, UKURAN KAP DAN DIVERSIFIKASI GEOGRAFIS TERHADAP MANAJEMEN
LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2012-2014
OLEH
ABDUL RASID HUTAGALUNG 120503047
PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul ”ANALISIS PENGARUH AUDIT TENURE, UKURAN KAPA DAN DIVERSIFIKASI GEOGRSAFIS TERHADAP MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2012–2014 adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan /atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 24 September 2016
Yang membuat pernyataan,
Abdul Rasid Hutahagalung NIM : 120503047
ABSTRAK
ANALISIS PENGARUH AUDIT TENURE, UKURAN KAP DAN DIVERSIFIKASI GEOGRAFIS TERHADAP MANAJEMEN
LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2012–2014
Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari audit tenure, ukuran KAP dan diversifikasi geografis terhadap praktik Manajemen Laba. Sampel penelitian ini adalah peusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan sampel yang digunakan adalah 31 (dalam 3 tahun) perusahaan. Manajemen laba dihitung dengan mengunakan model modifikasi jones. Audit tenure dihitung dengan menjumlahkan tahun masa perikatan audit kebelakang sampai dimana perusahaan berpindah ke kantor audit lain. Ukuran KAP dihitung dengan menggunakan variabel dummy dimana perusahaan yang diaudit KAP Big4 diberi nilai 1 sedangkan nonBig4 diberi nilai 0. Diversifikasi geografis dihitung dengan melihat berapa negara yang ditempati perusahaan dalam melaksanakan kegiatan operasioanal.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah audit tenure berpengaruh positif terhadap manajemen laba, ukuran KAP berpengaruh positif terhadap manajemen laba, diversifikasi geografis berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Audit tenure, ukuran KAP dan diversifikasi gegrafis bersama-sama mempunyai pengaruh secara simultan terhadap manajemen laba. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audit tenure tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Manajemen Laba, ukuran KAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba, diversifikasi geografis tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Tetapi secara simultan ketiga varibel berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Kata Kunci : Audit Tenure, Ukuran KAP, Diversifikasi Geografis, Manajemen Laba
ABSTRACT
ANALYSIS EFFECT OF AUDIT TENURE, SIZE PUBLIC ACCOUNTING FIRM AND GEOGRAFHIC DIVERSIFIcATION TO EARNING MANAGEMENT
ON MANUFACTURING COMPANY IN INDONESIA STOCK EXCHANGE 2012-2014
The objective of this study is to investigate teh impact of audit tenure, size public accounting firm and diversification to earning management. The sample of the study is the manufacturing companies sub consumer goods sector in indonesia stock exchange. The number of the samples of the company is 31 (in 3 years). The earning management is measured using modified jones model. Teh audit tenure is measured with summing years of the audit tenure to the previous year where the company moved to another audit office. Size public accounting firm measured with use dummy variabel, where companies audited by the public accounting Big4 give point 1, if companies audited by the public accounting nonBig 4 give point 0.
Diversifikation geografhic measured with look haw many countries are occupied by the company in carrying out operational activities.
The hypothesis of this study is that audit tenure are a positive influance on earning management, size public accounting firm are a positive influance on earning management, diversification geographic are a positive influance on earning management. Audit tenure, size public accounting firm and diversification together have an effect simultaneously to earning management.
The analytical method used in this study is descriptive statistic, classic assumption test and hypothesis test. The results showed that audit tenure is not influance and significant on earning management, size public accounting firm are a positive influance on earning management, diversification geografhic not positive influance on earning management. But simultaneously the three variables are a positive influance on earning management.
Keywords : Audit tnure, size public accounting firm, diversification geografhic, earning management
KATA PENGANTAR Alhamdulillah...
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahamad dan nikmat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna mamperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada Rasulullah SAW. Penulis menyadari dalam penyelesaian skripsi ini telah melibatkan banyak pihak, untuk itu izinkan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak DR. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai Dosen Penguji pada skripsi ini. Bapak Drs.Syahrul Rambe,Ak,.MM selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si. Ak selaku Ketua Program Studi Akuntansi, dan Ibu Dra. Mutia Ismail MM, Ak selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi sekaligus Dosen Pembanding pada skripsi ini.
4. Ibu Dra. Nurzaimah MM, Ak sebagai Dosen Pembingbing dalam skripsi ini yang telaha banyak membantu dalam penulisan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Staf Administrasi akademik yang selama ini telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Kedua orang tua penulis Ayah (Maraganti Hutagalung) dan Mamak (Masrayani Sitompul) atas segala perhatian, pengorbanan, kasih sayang,
dukungan dan doa yang selalu diberikan. Kepada kakak dan adik tercinta, Leliana, Ramayana, Jumadil dan Gani terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya. Sahabat–sahabat saya Yunus, Deden, Jauhar, Riza, Mansyah, Hendra, Rifki, Riki, Muhib dan seluruh group Akt 2012 terimakasih atas dukungan dan bantuannya. Sahabat-sahabat saya pujangga group terutama yang di kos, abanganda Zulpan, abanganda Yudi, abanganda Saleh, Tulus, Thopa, Rahmad, Ammar terimakasih atas bantuannya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk masukan bagi penulis. Namun demikian, penulis tetap berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Medan, 24 September 2016 Penulis,
Abdul Rasid Hutagalung NIM : 120503045
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN KEASLIAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.5 Sistematika Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Laba ... 8
2.1.1 Teori Keagenan ... 13
2.1.2 Teori Akuntansi Positif ... 14
2.2 Masa Perikatan Auditor (Audit Tenure) ... 15
2.3 Ukuran KAP ... 16
2.4 Diversifikasi Geografis ... 17
2.5 Penelitian Terdahulu ... 18
2.6 Kerangka Konseptual ... 21
2.7 Hipotesis ... 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 25
3.2 Lokasi Penelitian ... 25
3.3 Batasan Penelitian ... 25
3.4 Variabel Penelitian ... 26
3.5 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 26
3.6 Populasi dan Sampel ... 31
3.7 Jenis dan Sumber Data ... 33
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 33
3.9 Metode Analisis ... 33
3.9.1 Statistik Deskriptif ... 34
3.9.2 Uji Asumsi Klasik ... 34
3.9.3 Analisis Regresi Linier Berganda ... 36
3.9.4 Analisis Uji Hipotesis ... 37
BAB IV HASIL PENLITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian ... 40
4.2 Analisis Hasil Penelitian ... 42
4.4.1 Uji Statistik Deskriptif ... 42
4.2.2 Uji Normalitas ... 43
4.2.3 Uji Multikolinieritas ... 45
4.2.4 Uji Heteroskedastisitas ... 46
4.3 Uji Analisis Regresi Linier Berganda ... 47
4.4 Analisis Uji Hipotesis ... 48
4.4.1 Uji Determinasi (R2) ... 48
4.4.2 Uji Simultan ... 49
4.4.3 Uji Parsial (Uji Statistik t) ... 50
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 51
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 54
5.2 Keterbatasan ... 55
5.3 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 57
LAMPIRAN ... 57
DAFTAR TABEL No.
Tabel Judul Halaman
2.1 Penelitian Terdahulu ... 21
3.1 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran ... .. 31
3.2 Pemilihan Kriteria Sampel ... 33
4.1 Sampel Penelitian ... . 42
4.2 Statistik Deskriptif ... . 44
4.4 Uji Analisis Regresi Linier Berganda ... . 49
4.5 Model Summary ... . 50
4.6 Anova ... . 51
4.7 Uji Parsial ... . 52
DAFTAR GAMBAR No.
Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 23 4.1 Histogram dan P-P Plot... 46 4.2 Scatterplot... 48
DAFTAR LAMPIRAN
No Lampiran Halaman
Lampiran 1 ... 59
Lampiran 2 ... 63
Lampiran 3 ... 64
Lampiran 4 ... 66
Lampiran 5 ... 67
Lampiran 6 ... 68
Lampiran 7 ... 69
Lampiran 8 ... 69
Lampiran 9 ... 70
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Permasalahan serius yang dihadapi praktisi, akademisi akuntansi dan keuangan selama beberapa dekade terakhir ini adalah manajemen laba. Seolah- olah telah menjadi budaya perusahaan yang dipraktekkan semua perusahaan di dunia. Bukan hanya di negara-negara yang belum tertata, tetapi di negara-negara yang sudah tertata sistem bisnisnya pun telah melakukan praktek manajemen laba ini (Sri Sulistyanto 2008: 1).
Secara makro, manajemen laba telah membuat dunia usaha berubah menjadi sarang pelaku korupsi, kolusi, dan berbagai penyelewengan lain yang merugikan publik. Publik menganggap apa yang diinformasikan dunia usaha hanya merupakan akal-akalan kelompok tertentu dan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi tertentu ini (Sri Sulistyanto 2008: 2).
Independensi auditor adalah bagian terpenting dari seorang auditor agar laporan keuangan yang diaudit tidak mengandung unsur manajemen laba dan tidak merugikan pihak manapun. Independensi auditor adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain (Mulyadi, 2002:26). Jadi, manajemen laba terjadi karena kurangnya independensi seorang auditor dikarenakan faktor-faktor tertentu.
Sesuai dengan aturan etika kompartemen akuntan publik IAI nomor 101 tenang ‘independensi’ (Sukrisno 2004:43), “dalam menjalankan tugasnya, anggota
KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental indepnden tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).” Tetapi, walaupun kode etik tersebut harus dijunjung tinggi setiap
auditor, ada saja faktor-faktor yang menyebabkan manajer untuk melakukan praktik manajemen laba.
Manajemen laba juga bisa dipengaruhi oleh audit tenure, artinya perikatan audit dengan klien dengan batas waktu yang lama akan menurunkan independensi auditor. Audit tenure yang cukup lama akan menimbulkan hubungan yang cukup dekat dengan klien sehingga memunculkan rasa kekeluargaan. Oleh sebab itu, praktek manajemen laba akan semakin rentan terjadi jika auditor sudah merasa akrab dengan klien.
Adapun pendapat dari Fierdha, et al. (2015: 3) adalah lamanya hubungan auditor-klien dapat menganggu independensi auditor dalam menguji penilaian auditor dalam menguji laporan keuangan klien. Hal ini disebabkan timbulnya kecenderungan yang tinggi bagi auditor seiring berjalannya waktu untuk memenuhi keinginan manajemen karena timbulnya hubungan kekerabatan diantara keduanya akibat tenure yang lama.
Kantor akuntan publik (KAP) adalah badan usaha yang telah mendapat izin dari menteri keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam memberikan jasanya (Pinta, 2014:2). Di indonesia sendiri terdapat empat KAP besar yang
berafiliasi dengan KAP Big 4. Jadi, ada kemungkinan perbedaan keakuratan laporan keuangan yang diperiksa oleh KAP Big 4 dan nonBig 4. Ditinjau dari biaya jasa yang dikeluarkan untuk menngunakan jasa KAP Big 4 pasti berbeda dengan nonBig 4, begitu juga dengan kualitas audit yang dihasilkan. Oleh karena itu, menarik jika dibuat penelitian apakah ada pengaruh perusahaan yang diaudit KAP Big 4 terhadap manajemen laba, demikian juga perusahaan yang menggunakan jasa KAP nonBig 4.
Diversifikasi geografis merupakan pengembangan usaha atau ragam produk guna meningkatkan keuntungan perusahaan. (Harto, 2005 dalam Verawati 2015) menjelaskan diversifikasi merupakan bentuk pengembangan usaha dengan cara memperluas market share yang ada atau mengembangkan berbagai produk yang beraneka ragam. Artinya, perusahaan tidak lagi berada dalam satu negara, tetapi sudah mendirikan anak perusahaan di berbagai negara. Kondisi ini sangat berpeluang bagi manajer untuk melakukan manajemen laba. Apalagi hukum atau aturan-aturan di negara cabang sudah berbeda dari negara asal.
Dalam buku (Dedhy Sulistiawan, dkk. 2011: 55), ada beberapa kasus tentang manajemen laba sebagai berikut.
Pada kasus PT Indofarma, Tbk tahun 2001. Nilai yang disajikan dalam laporan keuangan PT Indofarma 2001 lebih tinggi dari nilai yang seharusnya dilaporkan. Kelebihan nilai penyajian dalam laporan keuangan 2001 mencapai RP 28 miliar. Akibatnya, nilai harga pokok produksi menjadi lebih rendah dari nilai yang seharusnya dilaporkan. Karena harga
pokok produksi rendah, maka berakibat pada penyajian laba yang lebih tinggidari seharusnya. Atas kasus tersebut, Bapepam memberikan sanksi administratif dengan meminta direksi membayar denda sebesar Rp 500.000.000 dan meminta direksi membenahi dan menyususn sistem pengendalian internal dan sistem akuntansi yang lebih memadai.
Kasus PT Perusahaan Gas Negara, pelanggaran yang dilakukan oleh PGAS adalah menunda publikasi informasi material atas penurunan volume gas yang sudah diketahui oleh manajemen sejak 12 September 2006, tetapi baru dipublikasikan pada Maret 2007. Penurunan volume gas yang tidak dilaporkan tersebut telah menyesatkan informasi yang sampai kepada Investor. Kasus ini terungkap karena penurunan signifikan atas harga saham PGAS dari harga RP9.650 (closing price 11 Januari 2006) menjadi Rp7.400 (closing price 12 Januari 2007) per lembar saham. Atas kesalahan pelanggaran prinsip pengungkapan laporan keuangan tersebut, maka Bapepam memberikan sanksi administratif kepada direksi PGAS.
Audit tenure, ukuran KAP dan diversifikasi geografis adalah variabel
independen yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Variabel independen tersebut akan diproksikan dengan manajemen laba sebagai variabel dependen.
Audit tenure yang lama akan memunculkan asumsi-asumsi praktik manajemen laba, begitu juga dengan KAP yang digunakan perusahaan jika berafiliasi dengan Big4 atau tidak akan menimbulkan asumsi munculnya praktik manajemen laba,
dan diversifikasi geografis perusahaan yang besar juga dapat memicu munculnya manajemen laba.
Dari uraian diatas, maka peneliti membuat judul dengan “ANALISIS PENGARUH AUDIT TENURE, UKURAN KAP, DAN DIVERSIFIKASI GEOGRAFIS TERHADAP MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2012-2014.”
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitan ini adalah:
1. Apakah audit tenure berpengaruh positif terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
2. Apakah ukuran KAP berpengaruh negative terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
3. Apakah diversifikasi geografis berpengaruh positif terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI?
1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bukti empiris pengaruh audit tenure terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI.
2. Untuk mengetahui bukti empiris pengaruh ukuran KAP terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI.
3. Untuk Mengetahui bukti empiris pengaruh diversifikasi geografis terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan mamfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan mamfaat di bidang akuntansi dalam terkait dengan manajemen laba di Indonesia dan memberikan gambaran tentang pengaruh variable audit tenure, ukuran KAP, dan diversifikasi geografis terhadap manajemen laba.
2. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis yang bermanfaat bagi Kantor Akuntan Publik untuk dapat menyediakan jasa audit yang lebih berkualitas lagi, juga bagi pihak-pihak eksternal perusahaan agar lebih teliti lagi dalam memakai laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian, para pemakai laporan keuangan tersebut dapat mengambil keputusan dengan benar.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam bab pendahuluan diuraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan karya ilmiah. Bab ke dua yaitu tinjauan pustaka berisi tentang landasan teori yang
berkaitan dengan variabel penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Bab tiga yaitu metode penelitian berisi tentang variable yang digunakan, defenisi operasional, populasi dan sampel yang digunakan, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis yang digunakan dalam penelitian. Bab empat yaitu hasil dan analisis berisi tentang deskripsi objek penelitian, analisi data, serta interpretasi hasil penelitian. Bab lima yaitu penutup berisi tentang kesimpulan penelitian yang dilakukan, keterbatasan yang terdapat dalam penelitian serta saran yang diberikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Laba
Copeland (1968 :10) dalam Utami (2005) mendefinisikan manajemen laba sebagai, “some ability to increase or decrease reported net income at will”. Ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajer.
Beberapa pengertian manajemen laba menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Pengertian manajemen laba menurut Schipper (1989) dalam Rahmawati dkk. (2006) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).
2. Pengertian manajemen laba menurut Healy dan Wallen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam laporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi.
a. Motivasi Manajemen Laba
Ada beberapa beberapa alasan mengapa individu atau badan usaha melakukan tindakan manajemen laba (Dedhy Sulistiawan, dkk: 31-36).
1. Motivasi Bonus
Adanya perjanjian bisnis antara pemegang saham dengan manajer yaitu memberikan insentif jika perusahaan mencapai laba pada tingkat tertentu. Sehingga memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba.
2. Motivasi Utang
Agar kreditor mau menginvestasikan dananya di perusahaannya, dan mendapatkan pinjaman yang maksimal, prilaku kreatif manajer menampilkan performa terbaik dari laporan keuangannya muncul.
3. Motivasi Pajak
Perusahaan yang belum go public cenderung melaporkan dan menginginkan untuk menyajikan laporan laba fiskal yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya. Kecenderungan ini memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba agar seolah0olah laba fiskal yang dilaporkan memang lebih rendah tanpa melanggar aturan dan kebijakan akuntansi perpajakan.
4. Motivasi Penjualan Saham
Proses penjualan saham perusahaan ke publik akan direspon positif oleh pasar ketika perusahaan penerbit saham (emiten) dapat menjual kinerja yang baik. Salah satu ukuran kinerja yang dilihat oleh investor adalah penyajian laba pada laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini sering memotivasi manajer untuk berperilaku kreatif dengan berusaha menampilkan kinerja keungan yang lebih baik dari biasanya.
5. Motivasi Pergantian Direksi
Banyak menjelang masa akhir jabatan, direksi cenderung bertindak kreatif dengan memaksimalkan laba agar performa kerjanya tetap terlihat baik pada tahun terakhir masa jabatannya.
6. Motivasi Politis
Motivasi ini biasanya terjadi pada perusahaan besar yang bidang usahanya banyak menyentuh masyarakt luas, seperti perusahaan perminyakan, gas, listrik, dan air. Manajer cenderung akan menyajikan laba yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya. Hal ini untuk mengurangi visitabilitas perusahaan sehingga tidak menarik perhatian pemerintah, media, atau konsumen yan dapat menyebabkan meningkatnya biaya politis perusahaan.
b. Teknik Manajemen Laba
Secara umum ada 5 teknik legal yang biasa dijumapai dalam praktik manajemen laba, yaitu Wolk, Dodd, dan Teaney (2006) dalam Dedhy Sulistiawan, dkk (2011: 43-50) :
1. Mengubah metode akuntansi
Untuk dapat menaikkan dan menurunkan angka laba, yaitu dengan mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Contohnya adalah mengubah metode depresiasi aktiva tetap dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus, mengubah metode perhitungan persediaan dari metode LIFO ke metode FIFO atau sebaliknya.
2. Mengubah periode pengakuan pendapatan dan biaya
Teknik ini dilakukan untuk mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan dan biaya dengan cara menggeser pendapatan dan biaya ke periode berikutnya agar memperoleh laba maksimum. Manajer akan mempercepat pengakuan pendapatan periode mendatang dengan melaporkannya pada periode berjalan agar kinerja perusahaan pada tahun berjalan terlihat baik atau menunjukkan laba maksimal.
3. Membuat estimasi akuntansi
Cara untuk mendapatkan tambahan laba atau pengurangan laba adalah mengubah estimasi akuntansi. Jika ingin mengharapkan kenaikan laba, perusahaan dapat mengubah estimasi aset tetap atau aset tidak berwujud menjadi lebih lama. Hasilnya laba akan meningkat karena penyusutan menurun.
4. Mereklasifikasi akun
Pada bagian ini, permainan akuntansi dilakukan dengan memindahkan posisi akun dari satu tempat ke tempat lainnya.
Contohnya, dalam hal utang jangka pendek yang masuk ke jangka panjang , atau aset jangka panjang yang masuk ke dalam aset jangka pendek. Tujuannya untuk meningkatkan rasio likuiditas perusahaan agar terlihat lebih liquid.
5. Mereklasifikasi akrual diskresioner dan akrual non diskresioner Akrual diskresioner adalah akrual yang dapat berubah sesuai dengan kebijakan manajemen, seperti pertimbangan tentang penentuan umur ekonomis aset tetap atau pertimbangan pemilihan metode depresiasi.
Akrual nondiskresioner adalah akrual yang dapat berubah bukan karena kebijakan manajer, seperti perubahan piutang yang besar karena adanya tambahan penjualan yng signifikan.
c. Pola Manajemen Laba
Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dalam Dedhy (2011: 40-43) dapat dilakukan dengan cara:
1. Taking a bath
Pola manajemen laba yang melaporkan laba pada periode berjalan dengan nilai yang sangat rendah atau sangat tinggi.
2. Income minimization
Income minimization Pola manajemen ini seperti taking a bath tapi
tidak se-ekstrim pola taking a bath. Menjadikan laba di periode berjalan lebih rendah dari pada laba sesungguhnya.
3. Income maximization
Pola manajemen laba ini berkebalikan dengan income minimization.
Melaporkan laba lebih tinggi dari pada laba sesungguhnya.
4. Income smoothing
Pola ini dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan, sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar, karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Anthony dan Govindrajan (1995) dalam Handayani (2009:35) menjelaskan konsep teori keagenan adalah hubungan atau kontrak antara prinsipal dan agen.
Prinsipal mempekerjakan agen untuk melakukan tugas untuk kepentingan prinsipal, termasuk pendelegasian otoritas pengambilan keputusan dari principal kepada agen.
Pada dasarnya teori keagenan ini difungsikan untuk memberikan keuntungan kepada semua pihak yang terkait dengan pengambilan keputusan.
Pemegang saham sebagai principal diasumsikan hanya tertarik pada hasil keuangan yang bertambah sebagai investasi mereka di perusahaan, sedangkan para agen diasumsikan termotivasi untuk memaksimalkan kompensasi yang diterima dalam hubungan tersebut (Elqorni dalam Verawati, 2012).
2.1.2 Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Theory)
Dalam teori akuntansi positif, ada beberapa karakteristik perusahaan dalam menjalankan organisasinya. Perusahaan akan mengorganisasikan diri mereka dengan cara mengambil kebijakan-kebijakan yang paling efisien demi untuk mempertahankan dan mejalankan kegiatan operasinya. Misalkan ada perusahaan melakukan aktivitas tertentu secara internal, dan ada juga perusahaan yang memilih untuk outsourcing. Ada perusahaan yang membuat pendanaan utama dari pinjaman, ada juga yang dari Investasi.
Hipotesis teori akuntansi positif mengasumsikan bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk maksimisasi utilitas. Ada tiga hipotesis dalam teori akuntansi positif yang digunakan untuk menguji perilaku etis seseorang dalam mencatat transaksi dan menyusun laporan keuangan (Watt dan Zimmerman dalam Verawati 2012):
1. Hipotesis rencana bonus.
Jika semua hal lain dianggap seimbang/sama, maka manajer perusahaan dengan tujuan mendapatkan bonus yang besar memungkinkan untuk memilih prosedur akuntansi yang menggeser penghasilan yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode sekarang.
2. Hipotesis perjanjian hutang.
Jika semua hal lain dianggap sama/tidak berubah, maka semakin dekat perusahaan ke pelanggaran perjanjian hutang yang berbasis akuntansi, maka
semakin besar kemungkinan manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang menggeser penghasilan yang dilaporkan dari periode mendatang ke periode sekarang.
3. Hipotesis biaya politik (pajak).
Jika semua hal lain dianggap sama/tidak berubah, maka semakin besar biaya politik (pajak) yang dihadapi suatu perusahaan, maka semakin besar kemungkinan manajer untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menangguhkan penghasilan yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode mendatang.
2.2 Masa Perikatan Auditor (Audit Tenure)
Masa perikatan audit adalah lamanya masa auditor memberikan jasa audit kepada klien Shockley 1981 dalam Fatmawati (2013:26). Di Indonesia sendiri sesuai dengan peraturan pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang jasa Akuntan Publik ‘pasal 3’. Bahwa, pemberian jasa audit oleh KAP atas laporan keuangan perusahaan paling lama 6 tahun buku berturut-turut, dan untuk audior sendiri paling lama 3 tahun buku berturut-turut. Peraturan tersebut telah direvisi dari peraturan tahun 2003 yang isinya bahwa KAP memberikan jasa audit paling lama 5 tahun buku berturut-turut dan untuk auditor 3 tahun buku berturut-turut.
Sesuai peraturan pemerintah tersebut, maka selayaknya setiap KAP ataupun auditor melakukan rotasi terhadap klien atau perusahaan yang di audit. Jika suatu KAP atau auditor mengaudit satu klien dengan waktu yang cukup lama,
dikhawatirkan akan menganggu independensi KAP ataupun auditor tersebut.
Dengan perikatan yang lama dapat menimbulkan hubungan yang erat atau rasa kekeluargaan antara auditor dengan klien. Kedekatan auditor terhadap klien tersebut akan mengganggu independensi auditor. Manajer akan lebih mudah mengontrol bahkan memanipulasi laporan keuangan. Oleh karena itu dibuat batasan ataupun rotasi KAP maupun auditor, hal tersebut dimaksudkan agar meminimalisir jika kemungkinan terjadi adanya praktek manajemen laba.
2.3 Ukuran KAP
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah pembedaan KAP berdasarkan jumlah anggorta/rekan yang dimiliki oleh suatu KAP yang mengaudit suatu perusahaan (Riyatno 2007 dalam Pinta 2014:4). Di Indonesia terdapat dua jenis KAP yang mengaudit laporan keuangan. KAP yang berafiliasi dengan Big 4 dan KAP yang tidak berafiliasi dengan nonBig 4. KAP yang berafiliasi dengan Big 4 umumnya lebih berkualitas dalam mengaudit dibanding dengan KAP yang tidak berafiliasi dengan Big 4 karena memiliki tenaga ahli yang lebih kompeten, dan lebih teliti dalam mengaudit laporan keuangan.
Umumnya KAP Big 4 lebih lebih cepat dan akurat dalam mendeteksi manajemen laba dibanding dengan nonBig 4. Perusahaan yang diaudit oleh KAP Big 4 lebih sedikit mengandung manajemen laba, karena sesuai dengan standar
auditor yang dipakai dan untuk mempertahankan indepedensinya dibanding nonBig 4. Adapun di Indonesia kantor akuntan publik yang berafiliasi dengan KAP big 4 sebagai berikut (Lina 2009 dalam Pinta 2014:5):
1. KAP Osman BING Satrio dan Rekan yang berafiliasi dengan Deloitte.
2. KAP Purwantono, Suherman dan Surja yang berafiliasi dengan Ernst and Yong Global
3. KAP Tanudiredja, Wibisana dan Rekan yang berafiliasi dengan Pricewaterhouse Coopers.
4. KAP Sidharta dan Widjaya yang berafiliasi dengan KMPG Internasional.
2.4 Diversifikasi Geografis
Menurut Harto (2010) diversifikasi merupakan bentuk pengembangan usaha dengan cara memperluas jumlah segmen secara bisnis maupun geografis, memperluas market share yang ada atau mengembangkan berbagai produk yang beraneka ragam (dalam Verawati, 2012). Tujuan diversifikasi salah satunya adalah untuk memaksimumkan ukuran dan keragaman usaha, sehingga pemilik dapat memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi dari beberapa segmen usaha yang dimiliki.
Jika dilihat kaitan diversikasi geografis terhadap manajemen laba, perusahaan yang terdivikasi di berbagai negara lebih cenderung melakukan paraktik manajemen laba dibandingkan yang hanya beroperasi dalam satu negara saja. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam mengidentifikasi segmen geografis mencakup kondisi ekonomi dan politik, hubungan antar-operasi dalam wilayah geografis, kedekatan geografis operasi, dan risiko mata uang (Verawati 2012:27). Karena perbedaan wilayah geografis, berbeda pula keuntungan atau kerugian perusahaan terdivikasi geografis tersebut. Disinilah manajer berpeluang
untuk meratakan laba, atau meningkatkan laba bagi sub perusahaan yang tidak mencapai target untuk kepentingan tertentu.
2.4 Penelitian Terdahulu
Permasalahan manajemen laba masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti. Verawati (2012) misalnya, menggunakan variabel dependennya manajemen laba. Dan sebagai variabel independennya, beliau menggunakan diversifikasi operasi, diversifikasi geografis, leverage dan struktur kepemilikan modal. Penelitiannya ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang ada di BEI tahun 2009-2010. pada hasil penelitiannya ini, diversifikasi perusahaan yang besar ternyata justru mengurangi manajemen laba. Artinya, perusahaan yang hanya beroperasi dalam satu wilayah cenderung memiliki manajemen laba yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang terdiversifikasi di berbagai negara.
Penelitian Fatmawati 2013 juga menggunakan manajemen laba sebagai variabel dependen. Adapun variabel inpenden yang digunakan adalah diversifikasi geografis, konsentrasi kepemilikan perusahaan, dan audit tenure. Perusahaan manufaktur menjadi objek penelitiannya ini pada tahun 2011. Hasil dari penelitiannya, pada variabel audit tenure dan diversifikasi geografis terdapat pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan konsentrasi kepemilikan manajerial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Arta 2015 meneliti manajemen laba dengan menggunakan variabel independennya, pengaruh audit tenure, rasio hutang, dan pertumbuhan penjualan
terhadap manajemen laba itu. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan property dan real estate tahun 2011-2013. Discretionary accrual diganakan dalam mendeteksi manajemen laba tersebut. Hasilnya, audit tenure tidak mempunya pengaruh yang signifikan dalam manajemen laba, demikian juga independensi auditor dan rasio hutang tidak mempunyai pengaruh signififikan terhadap manajemen laba. Tetapi pertumbuhan penjualan mempunya pengaruh positif terhadap manajemen laba.
Hadiatman 2015 melakukan penelitian tentang manajemen laba yang berada di perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2013. Penelitiannyan menggunakan auditor spesialis industri, ukuran KAP, audit tenure dan independensi auditor sebagai variabel independen. Hasil dari penelitian ini bahwa variabel auditor spesialis, ukuran KAP, audit tenure, dan independensi auditor secara simultan berpengaruh positif terhadap manajemen laba, sedangkan variabel auditor spesialis industri secara parsial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
Untuk lebih jelasnya berikut disajikantabel berisi ringkasan dari penelitian- penelitian terdahulu :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
N o
Peneliti Tahu n
Variabel Penelitian
Topik Penelitian Hasil penelitian
1 .
Verawat i
2012 Variable independen:
Variabel independ
Meneliti pengaruh diversifi kasi operasi, diversifikasi g eografis, leverage dan stru
Diversifikasi geografis, leverage, konsentrasi kepemilikan dan
en : Diversifikasi perusahaan, Leverage dan stru ktur kepemilikan Variabel
dependen:
Manajemen Laba
ktur kepemilikan terhadap
manajemen laba
perusahaan
kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
2 .
Dewi Fatmaw ati
2013 Variabel independ en: diversifikasi geografis,
diversifikasi industri, konsentrasi kepemilikan perusahaan, dan masa perikatan audit
Variabel dependen:
Manajemen Laba
Menganalisis pengaruh diversifikasi geografis, diversifikasi industri, konsentrasi kepemilikan perusahaan, dan masa perikatan audit terhadap manajemen laba
audit tenure dan diversifikasi geografis terdapat pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan konsentrasi kepemilikan manajerial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba
3 .
Vestry Arta
2015 Variabel independ en: Audit Tenure, independensi auditor, rasio hutang, dan oertumbuhan penjuaan Variabel dependen:
Manajemen Laba
Pengaruh audit tenure,independensi auditor, rasio hutang dan pertumbuhan penjualan terhadap manajemen laba
Audit tenure,
independensi auditor, dan rasio hutang tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba, tetapi pertumbuhan penjualan mempunyai pengaruh yan signifikan terhadap manajemen laba
4 .
Hadiatm an Sinaga
2015 Variabel independ en: auditor spesialis industri, ukuran KAP, audit tenure, dan independensi auditor Variabel dependen:
Manajemen Laba
Pengaruh auditor spesialis industri, ukuran KAP, audit tenure, dan independensi auditor terhadap manajemen laba
Variabel ukuran KAP, audit tenure,
independensi auditor mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba, sedangkan auditor spesialis industri tidak mempunya pengaruh yan positif
Sumber : Berbagai jurnal
2.6 Kerangka Konseptual
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh audit tenure, ukuran KAP, dan diversifikasi geografis terhadap manajemen laba. Berikut akan disajikan sebuah kerangka variable-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
2.7 Hipotesis
Menurut Erlina (2011:30), hipotesis adalah penjelasan perilaku, fenomena atau keadaaan tertentu yang telah terjadi ataupun yang akan terjadi. Sesuai dengan pengertian hipotesis tersebut, variabel independen pertama adalah audit tenure,
Audit Tenure
Ukuran KAP
Diversifikasi Geografis
Manajemen Laba H1
H2
H3
H4
yang artinya masa perikatan audit. Lamanya hubungan agen dan auditor menjadi sebuah indikasi untuk mempertanyakan apakah independensi auditor tersebut masih terpercaya. Akan muncul kemungkinan sifat kenyaman dan kepedulian antara klien dengan auditor disamping urusan bisnis, sehingga akan lebih mudah bagi klien jika ingin memanipulasi laporan keuangan yang diaudit atas persetujuan auditor itu sendiri. Oleh karena itu peneliti dapat memunculkan hipotesis pertama:
H1 : Audit tenure berpengaruh terhadap manajemen laba yang ada pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI tahun 2012-2014
Ukuran kantor akuntan publik (KAP) digunakan oleh setiap perusahaan untuk dapat memperoleh kualitas audit sesuai yang dinginkan oleh para pemegang saham. Dalam hal ini, KAP besar selalu menjadi perioritas utama bagi pemilik perusahaan jika ingin mendapatkan kualitas yang lebih baik. Jadi hipotesis kedua peneliti adalah Ukuran KAP yang besar apakah akan meminimalisir manajemen laba.
H2 : Ukuran KAP berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI pada tahun 2012-2014.
Perusahaan yang terdiversifikasi geografis berati perusahaan yang telah mempunyai bebepara kondisi ekonomi dan politik, mata uang berbeda, dan sosial budaya yang berbeda juga. Dalam hal ini peneliti membuat asumsi kalau sudah berbeda negara berarti para manajer akan lebih mudah membuat praktik
diversifikasi geografis berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Jadi, hipotesis yang digunakan oleh peneliti adalah:
H3 : Diversifikasi geografis berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI pada tahun 2012-2014.
Dari urain di atas tentang pengaruh audit tenure, ukuran kantor akuntan publik, dan diversifikasi geografis, maka dapat juga disimplkan secara simultan bahwa, audit tenure, ukuran KAP dan diversifikasi geografis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba, dengan hipotesis sebagai berikut:
H4 : Audit tenure, ukuran KAP dan diversifikasi geografis berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI pada tahun 2012-2014.
BAB III
METODE PENELIAN
3.1 Jenis Penelitian
Pada penelitian ini digunakan jenis penelitian Asosiatif/hubungan . Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelian ini dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala (Sugiyono 2006:11-12).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data-data sekunder yang diakses dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dimulai dari Juli 2016 sampai dengan terselesaikannya skripsi ini dengan baik.
3.3 Batasan Penelitian
1. Data yang digunakan adalah data annual report perusahaan dari BEI dan telah dipublikasikan.
2. perusahaan yang diteliti adalah manufaktur yang listing pada tahun 2012- 2014.
3. Faktor-faktor yang diteliti adalah audit tenure, ukuran KAP, dan diversifikasi geografis.
4. Hubungan diukur berdasarkan variabel independen terhadap dependen dan diuji apakah memiliki pengaruh atau tidak.
3.4 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan variabel terikat atau variabel dependen baik secara positif ataupun negatif, sedangkan variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan oleh variabel independen dan merupakan variabel yang menjadi sorotan utama peneliti.
Penelitian ini menguji pengaruh audit tenure , ukuran KAP, dan diversifikasi geografis terhadap manajemen laba. Variabel independen penelitian ini adalah audit tenure, ukuran KAP, dan diversifikasi geografis. Adapun variabel dependen yang digunakan adalah manajemen laba.
3.5 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Defenisi operasional dari variabel-veriabel yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manajemen Laba
Sulistiawan 2011 mengatakan bahwa ada tiga model-model dalam mendeteksi laba. Model-model tersebut diantaranya adalah Jones Model (1991), Modified Jones Model (1995). Klaznik Model (1999), dan performance-Matched Discretionary Accrual (2005). Jadi yang digunakan
oleh peneliti adalah Modified Jones Model (MJM), karena sejauh ini MJM adalah model yang paling akurat dan paling banyak digunakan oleh peneliti dalam mendeteksi manajemen laba.
Pertama-tama dalam mengukur total discretionary accrual, maka terlebih dahulu dihitung total akrual denga rumus sebagai berikut (Sulistiawan 2011:73):
TAit = NIit – CFOit
Keterangan :
TAit = Total Accrual pada periode t
NIt = Net Income/ Laba Bersih pada perode t
CFO = Cash Flow Operation / Arus kas dari kegiatan operasi
Kemudian menentukan nilai parameter α1, α2, dan α3 dengan formulasi sebagai berikut:
Keterangan :
TACt = Total accrual perusahaan i pada tahun t
At-1 = Total aset perusahaan pada tahun t-1
REVt = Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun ke t-1 ketahun t
PPEt = Aset tetap perusahaan i pada tahun t
e = koefisien error
Untuk menghitung nondiscretionary accrual menggunakan Modified Jones Model adalah sebagai berikut :
NDAt =
NDAt = non discretionary accrual perusahaan i pada tahun t
At-1 = Total aset perusahaan pada tahun t-1
REVt = Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun ke t-1 ketahun t
PPEt = Aset tetap perusahaan i pada tahun t
Kemudian dari persamaan-persamaan diatas, nilai discretionary accrual(DA) dihitung dengan mengurangi total akrual dengan nondiskresioner akrual dengan rumus berikut:
DAt =
DAt = Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t
2. Audit Tenure
Audit tenure adalah lamanya masa perikatan audit dari Kantor Akuntan
Publik dalam memberikan jasa audit terhadap kliennya. Sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan NO 17 Tahun 2008, bahwa batasan untuk pemberian jasa audit paling lama adalah tiga tahun buku berturut-turut, sedangkan untuk KAP sendiri paling lama enam tahun buku berturut-turut.
Indikator untuk mengukur audit tenure pada penelitian ini adalah dengan menjumlahkan tahun tenure kebelakang. Karena penelitian ini tahun 2012- 2014 maka dengan melihat dari tahun 2014 sampai tahun dimana perusahaan tersebut berganti kantor akuntan publik.
3. Ukuran KAP
Ukuran KAP adalah pembedaaan KAP berdasarkan jumlah klien dan jumlah anggota/rekan yang dimiliki oleh suatu KAP (Yustina 2012:3). Di Indonesia terdapat dua jenis KAP yaitu KAP yang berafiliasi dengan KAP Big 4 (KAP besar) dan KAP nonBig 4 (KAP kecil). Sesuai dengan
penelitian-penelitian terdahulu, ukuran KAP dihitung menggukan variabel dummy. Jika laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP besar maka
diberi nilai 1, dan laporan keuangan perusahaan yang diaudit oleh KAP kecil, diberi nilai 0.
4. Diversifikasi Geografis
Variabel Diversifikasi Geografis (DIVGEO) merupakan jumlah segmen geografis yang dilaporkan sesuai informasi segmen laporan keuangannya.
Bila perusahaan hanya beroperasi dalam satu Negara, maka nilai DIVGEO adalah sebesar 1. Bila perusahaan melaporkan hasil operasi dari berbagai Negara, maka nilai DIVGEO adalah sebesar jumlah Negara sesuai segmen geografis yang dilaporkannya (Verawati, 2012).
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran No Variabel
Dependen
Deskripsi Indikator
Pengukuran
Skala
1 Manajemen Laba
Manajemen laba adalah tindakan-tindakan
manajer untuk
menaikkan
(menurunkan) laba periode berjalan dari sebuah perusahaan yang dikelolanya tanpa menyebabakan
kenaikan (penurunan) keuntungan ekonomi perusahaan jangka panjang
Modified Jones Model
(DA = TAC – NDA)
Rasio
Variabel Independen
2 Audit Tenure Audit tenure adalah lamanya masa perikatan audit dari Kantor Akuntan Publik dalam memberikan jasa audit terhadap klien
Dengan menghitung jumlah tahun kebelakang sampai dengan perusahaan tersebut mengganti KAP atau auditornya
Rasio
3 Ukuran KAP Ukuran KAP dalam Penelitian ini merupakan besar kecilnya KAP yang dibedakan menjadi KAP berafiliasi dengan Big 4 dan KAP yang
Variabel dummy (Jika perusahaan diaudit oleh KAP Big4 diberi nilai 1, jika diaudit nonBig4 diberi nilai o
Rasio
tidak berafiliasi dengan big 4
4 Diversifikasi Geografis
Merupakan jumlah segmen geografis yang dilaporkan sesuai informasi segmen laporan keuangannya dalam kegiatan operasional perusahaan
Bila perusahaan hanya beroperasi dalam satu Negara, maka nilai DIVGEO adalah sebesar 1.
Bila perusahaan melaporkan hasil operasi dari berbagai Negara, maka nilai DIVGEO adalah sebesar jumlah Negara sesuai segmen geografis yang dilaporkannya
Rasio
3.6 Populasi dan Sampel
Menurut (Sujoko: 57) “Poulasi merupakan batas suatu objek peneltian dan sekaligus merupakan batas bagi proses induksi (generalisasi) hasil penelitian yang bersangkutan”. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi (elemen) yang dijadikan sebagai objek penelitian (Sujoko: 58). Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2012-2014.
Adapun dipilih subsektor barang konsumsi agar penelitian ini lebih terfokus dalam satu subsektor saja. Adapun populasi perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi adalah sebanyak 35 perusahaan
Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling . Sampel yang dipilih harus memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan menerbitkan laporan tahunan (annual report) pada tahun 2012-2014.
2. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit selama periode 6 tahun buku berturut-turut, yaitu tahun 2014-2009. Laporan keuangan selama periode 6 tahun ini terkait dengan variabel audit tenure.
3. Perusahaan menyajikan semua informasi yang dibutuhkan selama periode penelitian . Berikut ini tabel pemilihan kriteria sampel :
Tabel 3.2
Pemilihan Kriteria Sample
Kriteria Jumlah
Perusahaan Manufaktur subsektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014
35
Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap selama periode penelitian
4
Jumlah sampel penelitian 31
Jumlah sampel penelitian tahun 2012-2014 (31x3) 93
3.7 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data skunder. Data sekunde ialah data yang dikumpulkan dari sumber-sumber tercetak, dimana data itu telah dikumpulkan oleh pihak yang sebelumnya mislnya seperti buku, laporan perusahaan, jurnal, internet dan sebagainya (Erlina 2011:31). Adapun data
penelitian ini diambil dari annual report yang diakses dari situs resmi BEI www.idx.co.id
3.8 Metode Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan keuangan auditan dari perusahaan manufaktur yang listing dan dipublikasikan oleh BEI melalui Indonesian Capital Market Directory (ICMD).
3.9 Metode Analisis
Tujuan dari analisis data adalah mendapatkan informasi relevan yang terkandung di dalam data tersebut dan menggunakan hasilnya untuk memecahkan suatu masalah (Ghozali, 2006:1). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi linier berganda dengan menggunakan software SPSS 17. Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Metode analisis lain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, uji asumsi klasik dan uji hipotesis.
3.9.1 Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation), maksimum- minimum, varian, range, (Syamsul 2006:102). Mean digunakan untuk memperkirakan besar rata-rata populasi yang diperkirakan dari sampel.
Maksimum-minimum digunakan untuk melihat nilai maksimum dan minimum dari populasi, jadi dalam penelitian ini analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai audit tenure, ukuran KAP, diversifikasi geografis, dan manajemen laba pada perusahaan sampel.
3.9.2 Uji Asumsi Klasik
Uji Asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui kelayakan penggunaan model regresi dalam penelitian ini. Uji aumsi klasik terdiri dari uji multikoliniertas, uji autokolerasi, uji heteroskedastisitas, dan uji normalitas data.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas ini bertujuan untuk menguj apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual memiliki distribusi normal atau tidak, yaitu dengan menggunakan analisis grafik dan uji statistik (Ghazali 2006:27). Dalam penelitian ini, uji normalitas dideteksi dengan menggunakan analisis statistik non-parametrik.
b. Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk apakah di dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yan baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai
kolerasi antar sesama variabel variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2006:91).
Multikolinireritas di dalam model regresi dapat dilhat dengan menganalisis tolerance value dan (Variance Inflation Factor). Jika nilai Tolerance Value > 0,10 dan VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan lainnya.
Jika varian residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas.
Dalam penelitian ini cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu menggunakan uji statistik.
Asumsi klasik statistik heterokedastisitas dapat dideteksi dari output SPSS pada grafik Scatter-plot dengan cara melihat ada atau tidaknya pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) antara nilai prediksi variabel terkait (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2006:105).
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap satu variabel dependen (Ghazali 2002:81).
Model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Keterangan :
DAit = Nilai discretonary accruals perusahaan i pada periode t
= Konstanta
, = Koefisien regresi masing-masing variabel independen
= Audit tenure perusahaan i pada periode t
= Ukuran KAP perusahaan i pada periode t
= Diversifikasi geografis perusahaan i pada periode t
e = Koefisien error
Penyusunan persamaan regresi berganda dengan menggunakan output dari SPSS 17 dilakukan dengan menginterpretasikan angka-angka yang termuat di dalam Unstandardized Cofficients B.
3.9.4 Analisis Uji Hipotesis
a. Koefisien Determinasi (
Uji Determinasi digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam menerangkan variabel independen, namun karena memiliki
kelemahan mendasar, yaitu adanya bias terhadap variabel independen yang dimasukkan ke dalam model, maka dalam penelitian ini menggunakan adjusted berkisar antara 0 dan 1. Jika nilai adjusted semakin
mendekati 1, maka semakin baik kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen (Ghozali, 2006:83).
b. Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F)
Uji statistik F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan ke dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel dependen (Ghozali, 2002:84). Hipotesis yang diajukan adalah sebagi berikut :
H0 : 𝛽1 = 𝛽2 = 𝛽3 = 𝛽k = 0 (Semua koefisien slope secara simultan sama dengan nol)
HA : tidak semua koefisien slope secara simultan sama dengan nol
Untuk menguji apakah ada pengaruh yang signifikan atau tidak antara variabel dependen dan independen secara simultan, maka digunakan uji F dengan kriteria sebagai berikut:
Bila P Value < α (0,05) maka H0 diterima
Bila P value α (0,05) maka H0 ditolak
c. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pegaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel independen lainnya konstan (Ghozali, 2006:55). Pengujian koefisien regresi masing-masing variabel adalah sebagai berikut :
H₀ : 𝛽ᵢ = 0 (tidak ada pengaruh variabel indepnden i pada variabel dependen)
HA : 𝛽ᵢ 0 (ada pengaruh variabel independen i pada variabel dependen)
Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1. Jika t hitung> t tabel maka variabel independen i secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen.
Jika t hitung< t tabel maka variabel independen i secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
2. Jika P value< 0,05 maka H0 diterima, berarti variabel independen i
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
BAB 4
HASI PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Penelitian
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi sederhana dan Moderated Regresion Analysis. Teknik analisis data dimulai dengan menginput data ke
microsoft exel, kemudian diolah, dan selanjutnya dilakukan pengujian dari pengujian asumsi klasik menggunakan regresi linier berganda dan diakhiri dengan pengujian hipotesis. Pengujian dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 17.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari laporan keuangan sebanyak 31 perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi. Sebenarnya ada 34 jumlah perusahaan manufaktur subsektor barang konsumsi, tetapi karena disesuaikan dengan kriteria sampel penelitian, hanya diperoleh 31 perusahaan. Tahun penelitiannya tiga tahun sehingga sampel yang ditentukan dikali 3 dan diperoleh 93 sampel.
Berikut ini disajikan tabel daftar nama perusahaan yang menjadi sampel
Tabel 4.1 Sampel Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1 ADES Akasha Wira Internasional Tbk 2 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 3 ALTO Tri Banyan Tirta Tbk
4 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk 5 DLTA Delta Djakarta Tbk
6 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk 7 GGRM Gudang Garam Tbk
8 HMSP HM Sampoerna Tbk
9 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 10 INAF Indofarma (Persero) Tbk
11 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 12 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk 13 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk 14 KICI Kedaung Indah Can Tbk 15 KLBF Kalbe Farma Tbk
16 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk 17 MBTO Martina Berto Tbk
18 MERK Merck Tbk
19 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk 20 MRAT Mustika Ratu Tbk
21 MYOR Mayora Indah Tbk 22 PYFA Pyridam Farma Tbk
23 RMBA Bantoel Internasional Invesma Tbk 24 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk 25 SCPI Merck Sharp Dohne Pharma Tbk 26 SKLT Sekar Laut Tbk
27 STTP Siantar Top Tbk
28 TCID Mandom Indonesia Tbk 29 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
30 ULTJ Ultra Milk Industri & Trading Co. Tbk 31 UNVR Unilever Indonesia Tbk
Sumber: Data primer yang diolah peneliti
4.2 Analisis Hasil Penelitian 4.2.1 Uji Statistik Deskriptif
Tabel 4.2
Descriptive Statistics
N Range Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance
X1 93 4.00 2.00 6.00 4.4516 1.08864 1.185
X2 93 1.00 .00 1.00 .5161 .50245 .252
X3 93 9.00 1.00 10.00 1.4194 1.72779 2.985
Ln_Y 93 11.67 4.98 16.65 11.4372 2.29736 5.278
Valid N (listwise)
93
Sumber : Data Sekunder yang diolah dengan SPSS versi 17.
Output yang diperoleh dari uji analisis statistik deskripsif dari hasil tampilan SPSS tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah sampel (N) pada penelitian adalah 93.
2. Variabel independen yang pertama (X1) adalah audit tenure diproksikan dengan manajemen laba memiliki nilai terkecil adalah 2, nilai tertinggi 6, rata-rata 4.4516, range 4.0, standar deviasi 1.08864, sereta varian 1.185.
3. Variabel X2 atau ukuran KAP dihitung dengan menggunakan variabel dummy, jika perusahaan di audit oleh KAP Big4 maka diberi nilai 1, dan
jika diaudit oleh nonBig4 maka diberi nilai 0. Jadi nilai tertinggi dari X2 adalah 1 dan nilai minimum adalah 0. Meannya sendiri adalah 0.5161, range 1.00, standar deviasi 0.50245, serta variannya 0.252
4. Variabel independen yang ketiga (X3) adalah diversifikasi geografis. Diukur dengan memberi nilai berapa banyak perusahaan yang membuka cabang atau melakukan kegiatan operasional di luar negeri. Jika hanya beroperasi dalam 1 negara diberi nilai1, dan jika lebih dari satu negara tergantung berapa jumlah segmen geografisnya tersebut. Nilai minimum pada variabel ini adalah 1, nilai maksimumnya 10, meannya 1.4194, nilai range 9.00, standar deviasi 1.72779, dan variasi X3 ini 5.278.
5. Sedangkan dari 93 sampel tersebut, semua sampel telah diproses dan teruji dengan baik serta tidak ada yang gagal atau yang hilang.
4.2.2 Uji Normalitas
Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan grafik berupa histogram dan P-Plot. Uji normalitas pertama dapat dilihat dari grafik histogram berikut
Gambar 4.2