Oleh:
FENNY NURSANTI H.D.
0713010091 / FE / EA
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
PENGARUH MODAL KERJA, PERPUTARAN PIUTANG DAN
PERPUTARAN PERSEDIAAN TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI
PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA
FENNY NURSANTI H.D
ABSTRAKSI
Sehubungan dengan tujuan untuk memperoleh laba, maka perusahaan selalu membutuhkan dana untuk membiayai operasi perusahaan, misalnya untuk memberikan persekot pembelian, membiayai gaji pegawai, supplies kantor, dan lain-lain. Perubahan modal kerja, perputaran piutang dan perputaran persediaan dari masing-masing perusahaan dapat mempengaruhi perubahan besarnya rentabilitas ekonomi perusahaan tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan secara empiris modal kerja, tingkat perputaran piutang dan perputaran persediaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi dan Variabel mana yang berpengaruh paling dominan terhadap rentabilitas ekonomi diantara variabel modal kerja, perputaran piutang dan perputaran persediaan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa Laporan Keuangan periode 2006-2009 dari perusahaan Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang diambil sebanyak 8 perusahaan dari perusahaan automotive. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda.
Hasil analisis menunjukan bahwa berdasarkan model regresi yang dihasilkan cocok untuk mengetahui pengaruh Modal Kerja, Perputaran Piutang dan Perputaran Persediaan terhadap Rentabilitas. Secara parsial Modal Kerja berpengaruh positif dan signifikan secara statistic terhadap Rentabilitas perusahaan automotive yang go public di Bursa Efek Indonesia, sedangkan perputaran piutang dan perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Pada umumnya tujuan perusahaan adalah mendapatkan laba yang
optimal dalam menjalankan usahanya. Laba perusahaan yang diperoleh untuk
mempertahankan kelangsungan hidup (going concern) dari perusahaan
tersebut. Going concern merupakan salah satu konsep penting akuntansi
konvensional. Inti going concern terdapat pada neraca (Balance Sheet)
perusahaan yang harus merefleksikan nilai perusahaan untuk menentukan
eksistensi dan masa depannya, sehinnga dapat tetap beroperasi dalam jangka
waktu ke depan (http://www.ajidedim.com). Namun dalam kondisi persaingan
yang terus meningkat pada masa sekarang ini, tujuan tersebut tidak mudah
dicapai. Manajemen perusahaan dituntut dapat mengelola sumber daya yang
dimilikinya dengan lebih efektif dan efisien serta dapat menghasilkan
keputusan yang menunjang terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Efisiensi operasi perusahaan akan berperan penting terhadap
keberhasilan perusahaan dengan adanya laju pertumbuhan penjualan yang
meningkat. Peningkatan laju pertumbuhan penjualan membutuhkan adanya
penambahan pembiayaan, baik pembiayaan dalam aktiva lancar maupun
aktiva tetap. Pembiayaan dalam aktiva lancar memiliki sifat mudah diuangkan
dan merupakan jumlah yang besar dalam perusahaan sehingga memerlukan
Strategi yang direncanakan oleh pihak manajemen diharapkan mampu
mengatasi kondisi semacam ini, strategi ini dapat berupa perencanaan dan
pengendalian yang matang, berhasil tidaknya strategi ini tergantung pada
informasi yang diterima baik itu dari dalam perusahaan ataupun dari pihak
luar. Informasi ini sangat berguna bagi pihak manajemen dalam mengambil
keputusan yang tepat agar tujuan di masa yang akan datang dapat terlaksana
dan tepat sasaran. Keterikatan strategi ini sangat erat, suatu perencanaan yang
baik tanpa didukung pengendalian yang efektif tanpa adanya perencanaan
tidak akan ada sasaran yang dapat mengarahkan pengendalian tersebut.
Apabila pengambilan keputusan strategis ini berhasil maka dapat
meningkatkan pertumbuhan perusahaan, sehingga mampu menghadapi
perkembangan teknologi dan persaingan, kelesuan dunia usaha serta
meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba.
Kecenderungan perusahaan untuk memperoleh laba setiap tahunnya
dapat dijadikan dasar perkembangan usaha, apakah perusahaan mengalami
kemajuan seiring dengan meningkatnya laba yang diperoleh. Penentuan
tingkat rentabilitas (kemampuan memperoleh laba) dapat dijadikan indikator
mengukur kemampuan hidup suatu unit usaha. Aspek yang menjadi landasan
utama dalam menilai rentabilitas perusahaan adalah tersedianya informasi
yang akurat, relevan, andal, wajar, dapat dipahami dan diperbandingkan
dengan hasil sebelumnya serta tepat waktu. Laporan keuangan dalam hal ini
adalah sumber data atau unsur terpenting untuk memperoleh informasi
gambaran perjalanan hidup perusahaan yang dicatat sesuai dengan aturan yang
berlaku di Indonesia. Penyusunan, penganalisaan dan pengevaluasian laporan
keuangan perusahaan dianggap sebagai tanggung jawab dari para akuntan
interen, akan tetapi data-data yang digunakan sebagai bahan pencatatan
laporan keuangan ini haruslah didasari oleh bukti-bukti yang dinyatakan
dalam keadaan dan jumlah yang sebenarnya, hal ini dimaksudkan untuk
menghindari penyimpangan yang dilakukan oleh oknum yang tidak
bertanggung jawab sehingga hasil yang diperoleh dari laporan keuangan dapat
dievaluasi dan dipertanggung jawabkan. Laporan keuangan merupakan alat
untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan perusahaan
dari hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan yang bersangkutan, informasi
yang diperoleh dari laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai salah
satu bahan pertimbangan pihak manajemen dalam mengambil keputusan agar
nantinya kinerja perusahaan dapat lebih baik komponen-komponen yang
digunakan untuk membuat laporan keuangan dalam penelitian ini hanya ada
beberapa perkiraan sesuai dengan bahasan yang diteliti yaitu modal kerja,
perputaran piutang, perputaran persediaan dan rentabilitas ekonomi.
Rentabilitas adalah perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal
yang digunakan untuk memperoleh laba (Riyanto, 1997: 35). Perusahaan tentu
ingin memperoleh laba yang besar, hal ini cukup penting karena dengan
mengetahui tingkat rentabilitas ekonomi maka perusahaan dapat mengambil
tindakan yang tepat sedangkan dari pihak eksteren dapat mengetahui
berhubungan dengan penanaman modal perusahaan, pemberian kredit untuk
meningkatkan usaha pertimbangannya dapat pula diketahui dari rentabilitas
sehingga modal yang ditanamkan dapat terjamin.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Kartika (2009)
menyebutkan bahwa secara simultan modal kerja dan tingkat perputaran
piutang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi
sedangkan secara parsial tingkat perputaran piutang tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi, variabel yang paling
dominan adalah modal kerja. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
modal kerja mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu
perusahaan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh
laba yang maksimal.
Sedangkan penelitian yang dilakukan Arik Dwi (2009), secara
bersama-sama perubahan modal kerja dan tingkat perputaran piutang
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi
sedangkan secara parsial variabel tingkat perputaran piutang mempunyai
pengaruh yang lebih dominan terhadap rentabilitas ekonomi karena tingkat
perputaran piutang sangat berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan
dalam menjalankan aktivitas operasional perusahaan yang akan berdampak
pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba perusahaan yang
fluktuatif.
Menurut Aditya Kusuma (2008) dalam penelitiannya menyatakan
persediaan yang banyak, maka akan meningkatkan aktifitas dalam penjualan
sehingga laba perusahaan juga dapat meningkat. Pernyataan yang sama juga
diungkap oleh Nurita Sari (2004) yang menyatakan bahwa perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran persediaan dapat meningkatkan tingkat
profitabilitas perusahaan.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa laba maupun tingkat penjualan
yang tinggi belum dapat dijadikan indikator penilaian prestasi perusahaan dan
akan dapat menyelesaikan jika tidak disertai oleh indikator yang lain, kurang
adanya pengetahuan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba,
mengakibatkan pihak manajemen kurang bijaksana dalam mengambil
langkah-langkah strategis. Jadi dalam hal ini bukanlah berupa besar laba yang
diperoleh akan tetapi berapa besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh
laba. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rentabilitas
ekonomi maka tujuan yang ingin dicapai apakah modal kerja, tingkat
perputaran piutang dan perputaran persediaan memilki pengaruh yang cukup
besar terhadap kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba sehingga
perusahaan dapat dengan tepat menggambil keputusan jika ingin
meningkatkan rentabilitas ekonomi. Sehubungan dengan tujuan tersebut maka
perusahaan selalu membutuhkan dana untuk membiayai operasi perusahaan,
misalnya untuk memberikan persekot pembelian, membiayai gaji pegawai,
supplies kantor dan lain-lain.
Munawir (2002: 80) untuk menilai keefektifan modal kerja dapat
kerja rata-rata (working capital turnover). Rasio ini dapat menunjukkan
hubungan antara modal kerja dengan penjualan, dan menunjukkan banyaknya
penjualan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah (Rp) modal
kerja. Perputaran yang lama menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang
disebabkan rendahnya perputaran persediaan, piutang, atau adanya saldo kas
yang terlalu besar.
Lamanya periode perputaran tergantung dari sifat atau kegiatan operasi
suatu perusahaan, lama atau cepatnya perputaran ini juga akan menentukan
besar atau kecilnya kebutuhan modal kerja. Perputaran modal kerja
diharapkan terjadi dalam jangka waktu yang relatif pendek, sehingga modal
kerja yang ditanamkan cepat kembali. Periode perputaran modal kerja dimulai
pada saat dimana kas yang tersedia diinvestasikan dalam
komponen-komponen modal kerja sampai saat dimana kembali lagi menjadi kas.
Komponen modal kerja tersebut adalah kas dan bank, piutang dan persediaan
(Riyanto, !997: 62).
Modal kerja disini mempunyai sifat yang fleksibel artinya modal
kerja yang dimilki perusahaan jumlahnya dapat diperkecil atau diperbesar
sesuai dengan kebutuhan, tetapi modal kerja tersebut harus tersedia dalam
jumlah yang cukup dan seimbang dengan kebutuhan perusahaan dalam arti
harus mampu membiayai semua pengeluaran atau operasi perusahaan
sehari-hari. Tidak tersedianya modal kerja yang cukup atau adanya dana yang
berlebihan akan merugikan perusahaan karena adanya dana yang menganggur
keuntungan karena banyak kegiatan yang gagal dilaksanakan. Penjualan kredit
mengakibatkan bertambahnya piutang dan erat hubungannya dengan laba.
Perputaran piutang diketahui berapa piutang yang telah terbayar atau belum
terbayar yang terjadi sebagai akibat penjualan kredit, kecepatan perputaran ini
dapat menjadi ukuran keefektifan bagaimana perusahaan dalam mengelola
piutang sehubungan dengan kemampuan perusahaan dalam memperoleh
keuntungan.
Perputaran persediaan merupakan ratio antara jumlah harga pokok
barang yang dijual dengan nilai rata-rata persediaan yang dimiliki oleh
perusahaan. Tingkat perputaran persediaan mengukur perusahaan dalam
memutarkan barang dagangan dan menunjukkan hubungan antara barang yang
diperlukan untuk menunjang atau mengimbangi tingkat penjualan yang
ditentukan (Munawir, 2002 : 77).
Adanya investasi dalam inventory yang terlalu besar dibandingkan
dengan kebutuhan akan memperbesar beban bunga, memperbesar biaya
penyimpanan dan pemeliharaan di gudang, memperbesar kemungkinan
kerugian karena kerusakan, turunnya kualitas, keusangan, sehingga semuanya
ini akan memperkecil keuntungan perusahaan. Sebaliknya, adanya investasi
yang terlalu kecil dalam inventory akan mempunyai efek yang menekan
keuntungan juga, karena kekurangan material perusahaan tidak dapat bekerja
dengan luas produksi yang optimal (Riyanto, 1997 : 69).
Industri otomotif nasional merupakan salah satu motor penggerak
manufaktur komponen, manufaktur kendaraan itu sendiri, jaringan distribusi
dan layanan purna jualnya, baik bengkel resmi maupun umum, termasuk
jaringan penjualan suku cadang di seluruh Indonesia. Di samping itu industri
ini juga mengembangkan industri penunjang lainnya seperti pembiayaan dan
asuransi. Dengan demikian mata rantai industri otomotif ini juga menciptakan
peluang kerja yang sangat besar bagi masyarakat. Berdasarkan data Gaikindo,
industri otomotif berada pada urutan ke-empat penyumbang pajak. Lebih jauh
lagi, pesatnya perkembangan industri otomotif nasional akan menarik minat
investor asing untuk ikut mengembangkan usahanya di Indonesia.
Melalui survey pendahuluan di lapangan, pertumbuhan sektor otomotif
dalam negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke
tahun, dikarenakan kebutuhan konsumen yang cenderung mulai berubah dan
membaiknya perekonomian dalam negeri setiap tahunnya. Dalam situs resmi
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (www.depperin.go.id)
pemerintah menyatakan optimis target pertumbuhan industri otomotif
Indonesia pada tahun 2010 sebesar 11,50% bisa tercapai. Pada tahun lalu
industri ini sudah mampu tumbuh 9,79%. Optimisme ini didasarkan pada
kondisi pasar dimana telah terjadi perbaikan daya beli masyarakat secara
signifikan, menyusul penurunan suku bunga. Apalagi dampak kenaikan harga
bahan bakar minyak (BBM) juga telah mereda dan kalangan produsen
kendaraan kian agresif memasarkan produk lewat pemberian diskon harga.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan terhadap peralatan transportasi darat
di dalam negeri, baik di tingkat perakitan, industri penunjang, dan jasa
pendukung layanan purna jual. Industri otomotif merupakan salah satu industri
prioritas yang menjadi andalan pertumbuhan ekonomi dimasa depan. Tercatat
total dana investasi sebesar Rp. 4,154 miliar telah ditanamkan di sektor
otomotif dalam kurun waktu berjalan sepanjang 2010, dengan penyerapan
tenaga kerja tak kurang dari 245.385 orang. Pemerintah juga berharap industri
ini dapat memberi kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional melalui peningkatan nilai ekspor komponen dan otomotif
yang mencapai US$ 2,1 miliar.
Dipilihnya perusahaan Otomotif sebagai obyek dikarenakan
perusahaan tersebut sangat rentan terhadap perkembangan ekonomi di pasar
internasional dan memiliki persaingan bisnis yang kuat akibat dari aktivitas
perdagangan bebas, selain itu perusahaan otomotif merupakan bagian dari
kebutuhan pokok yang memiliki perubahan yang sangat cepat seiring dengan
perkembangan jaman dan kemajuan teknologi (JIEF Magazine, 2005).
Berikut ini merupakan data rentabilitas ekonomi pada 8 perusahaan
Otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 4 tahun dari periode
2006–2009. Alasan dipilihnya berakhir tahun 2009 karena data laporan
keuangan yang diperoleh dari BEI untuk tahun 2010 belum keluar atau belum
dipublikasikan dan diaudit oleh akuntan publik. yang dapat disajikan pada
Tabel 1.1. : Data RentabilitasEkonomi
Perusahaan Otomotif Tahun 2006 - 2009
Rentabilitas (%) Nama Perusahaan
2006 2007 2008 2009 PT. Astra Otoparts Tbk 5,229 10,775 11,350 9,042
PT. Goodyear Indonesia Tbk 7,801 10,111 4,245 11,362 PT. Gajah Tunggal Tbk 5,018 7,862 6,672 12,898
PT. Indo Kordsa Tbk 4,791 5,423 8,266 11,437 PT. Selamat Sempurna Tbk 16,101 18,069 22,904 20,154
PT. Astra International Tbk 8,616 13,384 14,709 14,343 PT. United Tractors Tbk 11,888 18,436 18,202 21,179 PT. Tunas Ridean Tbk 1,933 5,661 7,271 6,671 PT. Nipress Tbk 8,200 9,634 9,978 2,306
Sumber : Bursa Efek Indonesia 2006 - 2009
Berdasarkan tabel 1.1. Kenyataan yang terjadi dari delapan perusahaan
otomotif, hanya satu perusahaan saja yang rentabilitasnya selalu mengalami
peningkatan dari tahun 2006-2009 yaitu PT. Indo Kordsa Tbk. Sedangkan
delapan perusahaan otomatif lainnya masing-masing memiliki permasalahan
yang berbeda yaitu PT. Astra Otoparts Tbk, PT. Goodyear Indonesia Tbk, PT.
Gajah Tunggal Tbk, PT. Selamat Sempurna Tbk, PT. Astra International Tbk,
PT. United Tractors Tbk, PT. Tunas Ridean Tbk dan PT. Nipress Tbk.
PT. Astra Otoparts Tbk, mengalami permasalahan pada penurunan
rentabilitas pada tahun 2009 dari 11,350% menjadi 9,042%. PT. Goodyear
Indonesia Tbk juga mengalami permasalahan yang sama yaitu penurunan
rentabilitas pada tahun 2008 dari 10,111% menjadi 4,245%. Rentabilitas PT.
Gajah Tunggal Tbk sedikit mengalami penurunan pada tahun 2008 dari
7,862% menjadi 6,672%. Penurunan rentabilitas pada tahun 2009 terjadi pada
PT. Selamat Sempurna Tbk dari 22,904% menjadi 20,154%, PT. Astra
7,271 menjadi 6,671% dan PT. Nipress Tbk dari 9,978% menjadi hanya
2,306%. Sedangkan PT. United Tractors Tbk mengalami penurunan
rentabilitas pada tahun 2008 dari 18,436% menjadi 18,202%.
Berdasarkan tabel 1.1. di atas dapat dijelaskan bahwa perusahaan
otomotif yang tersebut diatas telah mengalami fluktuasi rentabilitas, Sehingga
dapat digunakan investor sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi.
Menurut Riyanto (1997 :37) bagi perusahaan masalah rentabilitas
adalah lebih penting dari pada masalah laba. Karena laba yang besar saja
belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah bekerja dengan
efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang
diperoleh dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau
dengan kata lain menghitung rentabilitasnya. Maka yang harus diperhatikan
oleh perusahaan ialah tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba,
tetapi yang lebih penting ialah mempertinggi rentabilitasnya.
Perusahaan tentu ingin memperoleh laba yang besar, hal ini cukup
penting karena dengan mengetahui tingkat rentabilitas ekonomi maka
perusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat. Sedangkan dari pihak
ekstern perusahaan dapat mengetahui pemanfaatan modal kerja perusahaan
dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan penanaman modal pada
perusahaan. Sehubungan dengan tujuan untuk memperoleh laba, maka
perusahaan selalu membutuhkan dana untuk membiayai operasi perusahaan,
misalnya untuk memberikan persekot pembelian, membiayai gaji pegawai,
Dari uraian di atas yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini
adalah apakah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi pada rentabilitas
ekonomi masing-masing perusahaan otomotif yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia?
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Modal Kerja, Perputaran Piutang dan
Perputaran Persediaan Terhadap Rentabilitas Ekonomi Pada
Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
a. Apakah modal kerja, perputaran piutang dan perputaran persediaan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi ?
b. Variabel manakah yang mempunyai pengaruh dominan terhadap
rentabilitas ekonomi ?
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini
adalah :
a. Untuk mengetahui dan membuktikan secara empiris modal kerja,
tingkat perputaran piutang dan perputaran persediaan mempunyai
b. Variabel mana yang berpengaruh paling dominan terhadap rentabilitas
ekonomi diantara variabel modal kerja, perputaran piutang dan
perputaran persediaan.
1.4.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk
digunakan sebagai berikut :
a. Bagi Peneliti
Memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menganalisis masalah
dan hal-hal yang terdapat di perusahaan sebagai objek yang diteliti dengan
mengembangkan dan menerapkan teori-teori yang telah diperoleh selama
kuliah sehingga dapat menambah wawasan, pengalaman, dan meningkatkan
kematangan berfikir dalam pengambilan keputusan.
b. Bagi Akademisi
Menambah dan memperluas pengetahuan di bidang manajemen
keuangan sehingga dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran dan kajian
untuk permasalahan yang sama dengan masalah yang diteliti khususnya
mengenai Rentabilitas Ekonomi dalam suatu perusahaan.
c. Bagi Praktisi
Bagi perusahaan, penelitian ini bisa dijadikan gambaran untuk
mungkin. Bagi para investor hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan
informasi dan masukan yang ada hubungannya dengan penanaman modal
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang
dapat dipakai sebagai dasar dan pembanding untuk melengkapi landasan
teori adalah penelitian dari :
1. Rina Kartika Sari (2009)
Judul “Pengaruh Modal Kerja dan Tingkat Perputaran Piutang
terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Perusahaan Rokok Ketapang Jaya
Tanggulangin Sidoarjo”.
a. Perumusan Masalah
a) Apakah ada pengaruh dari modal kerja dan perputaran piutang
terhadap rentabilitas ekonomi pada perusahaan rokok Ketapang
Jaya?
b) Manakah dari kedua variabel, yaitu modal kerja dan perputaran
piutang yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap
rentabilitas ekonomi pada perusahaan rokok Ketapang Jaya?
2) Hipotesis
a) Diduga modal kerja dan tingkat perputaran piutang
berpengaruh terhadap rentabilitas ekonomi.
b) Diduga variabel tingkat perputaran piutang mempunyai
3) Kesimpulan
a) Berdasarkan uji F dengan menggunakan regresi linier berganda
bahwa modal kerja dan tingkat perputaran piutang mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi.
b) Berdasarkan Uji
t
bahwa variabel tingkat perputaran piutangtidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
rentabilitas ekonomi, variabel yang paling dominan adalah
modal kerja.
2. Arik Dwi N (2009)
Judul “Pengaruh Modal Kerja dan Tingkat Perputaran Piutang
terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Perusahaan Food and Baverage
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode (2003-2007)”.
1) Perumusan Masalah
a) Apakah modal kerja dan tingkat perputaran piutang
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas
ekonomi?
b) Variabel manakah yang mempunyai pengaruh dominan
terhadap rentabilitas ekonomi?
2) Hipotesis
a) Diduga bahwa modal kerja dan tingkat perputaran piutang
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas
b) Diduga bahwa variabel tingkat perputaran piutang mempunyai
pengaruh yang dominan terhadap rentabilitas ekonomi.
3) Kesimpulan
a) Secara bersama-sama perubahan modal kerja dan tingkat
perputaran piutang mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap rentabilitas ekonomi
b) Secara parsial variabel tingkat perputarn piutang mempunyai
pengaruh yang lebih dominan terhadap rentabilitas ekonomi.
3. Aditya Kusuma (2008)
Judul “ Pengaruh Perputaran kas, Perputaran Piutang, dan Perputaran
Persediaan terhadap Laba Usaha pada Perusahaan Makanan dan
Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1) Perumusan Masalah
a) Apakah ada pengaruh dari perputaran kas, perputaran piutang
dan perputaran persediaan terhadap perolehan laba usaha pada
perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia?
b) Manakah diantara ketiga variabel yaitu perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran persediaan yang memiliki
pengaruh yang paling dominan terhadap perolehan laba usaha
pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di
b. Hipotesis
a) Diduga perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran
persediaan, berpengaruh positif terhadap perolehen laba usaha
pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia.
b) Diduga yang memilki pengaruh yang paling dominan terhadap
perolehan laba pada perusahaan makanan dan minuman adalah
perputaran kas.
c. Kesimpulan
a) Perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan
berpengaruh secara signifikan terhadap laba usaha.
b) Dalam penilitian ini yang memiliki pengaruh paling dominan
terhadap perolehan laba usaha adalah perputaran piutang.
4. Nurita Sari (2004)
Judul “Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang, dan Perputaran
Persediaan terhadap Laba Usaha pada Perusahaan Farmasi di Bursa
Efek Indonesia”.
1) Perumusan Masalah
a) Apakah ada pengaruh dari perputaran kas, perputaran piutang,
dan perputaran persediaan terhadap laba usaha pada perusahaan
b) Manakah diantara ketiga variabel tersebut yang memiliki
pengaruh yang paling dominan terhadap laba usaha pada
perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta?
2) Hipotesis
a) Diduga perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran
persediaan mempunyai pengaruh terhadap perolehan laba usaha
pada perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta.
b) Diduga yang mempunyai pengaruh yang paling dominan
terhadap perolehan laba usaha adalah perputaran piutang.
3) Kesimpulan
a) Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran persediaan secara simultan
berpengaruh terhadap perolehan laba usaha.
b) Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa yang mempunyai
pengaruh paling dominan terhadap perolehan laba usaha adalah
perputaran piutang tidak dapat terbukti kebenarannya karena
yang memiliki pengaruh dominan adalah perputaran kas.
Berdasarkan dari penelitian terdahulu diatas, maka persamaan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dalam penelitian ini
terdapat tiga variabel bebas (X) yaitu modal kerja, perputaran piutang, dan
perputaran persediaan yang akan berpengaruh dengan variabel terikat (Y)
penelitian, obyek penelitian, waktu periode penelitian, dan hasil penelitian
Rina Kartika Sari
(2009)
Arik Dwi N (2009)
Aditya Kusuma
(2008)
Nurita Sari (2004)
Pengaruh modal kerja dan tingkat
perputaran piutang terhadap
rentabilitas ekonomi pada
Perusahaan Rokok Ketapang Jaya
Tanggulangin Sidoarjo.
Pengaruh modal kerja dan tingkat
perputaran piutang terhadap
rentabilitas ekonomi pada
perusahaan food n beverage yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode (2003-2007).
Pengaruh perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran
persediaan terhadap laba usaha
pada perusahaan makanan dan
minuman yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia.
Pengaruh perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran
persediaan terhadap laba usaha
pada perusahaan farmasi di Bursa
Efek Indonesia.
Perputaran kas
(X1)
Perputaran Kas
5. Fenny Nursanti H.D
(2011)
Pengaruh modal kerja, perputaran
piutang dan perputaran persediaan
terhadap rentabilitas ekonomi pada
perusahaan otomotif yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia.
Modal Kerja (X1)
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Modal Kerja
2.2.1.1. Pengertian Modal Kerja
Menurut Riyanto (1997: 57) Modal kerja adalah dimana uang atau
dana yang dikeluarkan akan diharapkan akan kembali masuk dalam
perusahaan dalam waktu yang pendek melalui hasil penjualan produksi
untuk membiayai operasi selanjutnya.
Menurut Djarwanto (2004: 87) terdapat dua definisi modal kerja
yang lazim dipergunakan yaitu :
1. Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap utang jangka
pendek. Kelebihan ini disebut modal kerja bersih ( net working
capital ). Kelebihan ini merupakan jumlah aktiva lancar yang
berasal dari utang jangka panjang dan modal sendiri. Definisi ini
bersifat kualitatif karena menunjukkan kemungkinan tersedianya
aktiva lancar yang lebih besar daripada utang jangka pendek dan
menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta
2. Modal kerja adalah jumlah dari aktiva lancar. Jumlah ini
merupakan modal kerja bruto ( gross working capital ). Definisi ini
bersifat kuantitatif karena menunjukkan jumlah dana yang
digunakan untuk maksud-maksud operasi jangka pendek. Waktu
tersedianya modal kerja akan tergantung pada macam dan tingkat
likuiditas dari unsur–unsur aktiva lancar misalnya seperti kas, surat
–surat berharga, piutang dan persediaan.
2.2.1.2. Manfaat Modal Kerja
Menurut Djarwanto (2004: 89) manfaat lain dari tersedianya modal
kerja yang cukup adalah :
1. Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunya nilai
aktiva lancar, misalnya seperti adanya kerugian karena debitur
tidak membayar, turunnya nilai persediaan karena harganya
merosot.
2. Memungkinkan perusahaan untuk melunasi semua
kewajiban-kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya.
3. Memungkinkan perusahaan untuk dapat membeli barang dengan
tunai sehingga dapat menghasilkan keuntungan berupa potongan
harga.
4. Menjamin perusahaan memiliki credit standing dan dapat
mengatasi peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya seperti
5. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang
cukup guna melayani permintaan konsumennya.
6. Memungkinkan perusahaan untuk dapat memberikan syarat kredit
yang lebih menguntungkan kepada para langganan.
7. Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih
efisien karena tidak ada kesulitan dalam memperoleh bahan baku,
jasa, dan supplies yang dibutuhkan.
8. Memungkinkan perusahaan untuk mampu bertahan dalam periode
resesi atau depresi.
2.2.1.3. Keefektifan Modal Kerja
Munawir (2002: 80) untuk menilai keefektifan modal kerja dapat
menggunakan rasio antara total penjualan dengan modal kerja dengan modal
kerja rata-rata (working capital turnover). Rasio ini dapat menunjukkan
hubungan antara modal kerja dengan penjualan, dan menunjukkan banyaknya
penjualan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah (Rp) modal
kerja. Perputaran yang lama menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang
disebabkan rendahnya perputaran persediaan, piutang, atau adanya saldo kas
yang terlalu besar.
2.2.1.4. Jenis-jenis Modal Kerja
Menurut W.B. Taylor dalam buku Riyanto (1997: 60)
penggolongan jenis-jenis modal kerja terdiri dari :
a. Modal kerja permanen (Permanent Working Capital), yaitu modal
fungsinya, atau modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan
untuk kelancaran usaha.
Modal kerja permanen ini dapat dibedakan dalam :
1. Modal kerja primer yaitu : jumlah modal kerja minimum yang
harus tetap ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas
usahanya.
2. Modal kerja normal yaitu : jumlah modal kerja yang diperlukan
untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
b. Modal kerja variabel yaitu modal kerja yang jumlahnya
berubah-ubah sesuai dengan perberubah-ubahan keadaan, dan modal kerja ini
dibedakan antara :
1. Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya
berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
2. Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya
berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konyungtur.
3. Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang besarnya
berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui
sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir,
2.2.1.5. Unsur-unsur Modal Kerja
Menurut Riyanto (1997: 59) modal kerja sama dengan jumlah
aktiva lancar, maka unsur-unsur yang terkandung didalamnya adalah :
a. Kas
Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu
membutuhkan kas baik untuk membiayai operasional perusahaan
maupun untuk mengadakan investasi aktiva tetap. Perusahaan
memiliki risiko yang lebih kecil untuk memenuhi kewajiban
finansialnya apabila jumlah kas yang tersedia di perusahaan tersebut
besar atau cukup.
Menurut Husnan (2004: 105) kas merupakan bentuk aktiva
yang paling likuid yang bisa dipergunakan segera untuk memenuhi
kewajiban finansial perusahaan.
Menurut John Maynard Keynes dalam buku (Husnan,
2004:105) menyatakan bahwa ada 3 motif untuk memilki kas yaitu:
1. Motif transaksi, dimana perusahaan menyediakan kas untuk
membayar berbagai transaksi bisnisnya.
2. Motif berjaga-jaga, dimaksudkan untuk mempertahankan saldo
kas guna memenuhi permintaan kas yang sifatnya tidak
terduga.
3. Motif spekulasi, dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan
dari memiliki atau menginvestasiakan kas dalam bentuk
b. Piutang
Dalam rangka usaha untuk memperbesar volume
penjualannya kebanyakan perusahaan besar menjual produknya
dengan kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan
penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan, dan barulah
kemudian pada hari jatuhnya terjadi aliran kas masuk (cash inflows)
yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut. Dengan demikian
maka pengumpulan piutang merupakan elemen modal kerja yang
selalu dalam keadaan berputar terus menerus dalam rantai perputaran
modal kerja (Riyanto, 1997: 85).
c. Persediaan
Menurut Agus Sartono (2001: 443), persediaan merupakan
salah satu jenis aktiva lancar yang jumlahnya cukup besar dalam
suatu perusahaan karena persediaan merupakan faktor penting dalam
menentukan kelancaran operasi perusahaan. Di tinjau dari segi
neraca, persediaan adalah barang-barang atau bahan yang masih
tersisa pada tanggal neraca, atau barang-barang yang akan segera
dijual, digunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan.
Menurut PSAK No.14 (2007: 141), persediaan adalah aset :
a. tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal,
b. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, atau
c. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk
Masalah penentuan besar kecilnya investasi atau alokasi
modal dalam persediaan barang mempunyai efek langsung terhadap
keuntungan perusahaan. Adanya investasi yang terlalu besar dari
yang dibutuhkan perusahaan akan memperbesar kerugian karena
adanya kerusakan, sehingga menimbulkan turunnya kualitas dan
akan memperkecil keuntungan perusahaan.
2.2.2. Pengertian Aktiva dan Hutang
2.2.2.1.Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap
Aktiva lancar menurut Husnan (2004: 159) didefinisikan sebagai
aktiva yang secara normal berubah menjadi kas dalam satu tahun atau
kurang. Sedangkan menurut (Munawir, 1999: 14) adalah uang kas dan
aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk di cairkan menjadi uang tunai.
Pengertian aktiva tetap menurut Niti Semito (1984:115) adalah
elemen dalam aktiva yang sifatnya relative tetap dalam jangka pendek,
sehingga tidak ikut naik turun dengan naiknya produksi sedangkan
menurut (Munawir, 1996: 16) adalah aktiva yang mempunyai umur
kegunaan relatif permanen.
2.2.2.2.Hutang Lancar dan Hutang Jangka Panjang
Pengertian hutang lancar menurut Munawir (1999: 18) adalah
kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasanya akan dilakukan dalam
jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar yang dimilki oleh
:19) adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya masih
panjang meliputi :
1. Hutang Obligasi
2. Hutang Hipotik
3. Pinjaman jangka panjang lainnya.
2.2.3. Piutang
2.2.3.1. Pengertian Piutang
Menurut Baridwan (2000: 124) piutang dagang menunjukkan
piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan
perusahaan. Dalam kegiatan ini perusahaan yang normal, biasanya
piutang dagang akan dilunasi dalam jangka waktu kurang dari satu
tahun, sehingga dikelompokkan dalam aktiva lancar. Dengan kata lain
piutang dagang adalah tagihan-tagihan yang akan dilunasi dengan uang
dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.
Sedangkan menurut Riyanto (1997: 85) menyatakan bahwa piutang
sebagai elemen dari modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar
secara terus menerus dalam rantai perputaran modal kerja, dan piutang
timbul dengan adanya penjualan kredit. Piutang mempunyai tingkat
likuiditas yang lebih tinggi daripada inventory.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka piutang
mempunyai peranan penting bagi perusahaan terutama dalam modal
setiap perusahaan harus dapat menciptakan suatu kebijaksanaan dalam
hal yang menyangkut piutang melalui manajemen atau pengelolaan
piutang yang menguntungkan.
2.2.3.2 Jenis-jenis Piutang
Menurut Bambang Riyanto (1997: 63), jenis-jenis piutang antara
lain sebagai berikut :
1. Piutang wesel, yaitu piutang yang didukung oleh janji formal
secara tertulis baik dagang maupun bukan dagang.
2. Piutang biasa, yaitu piutang yang tidak didukung oleh janji
formal yang diharapkan akan berubah menjadi uang (dapat
tertagih) dalam satu perputaran normal usaha yang umumnya
satu tahun.
2.2.3.3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Investasi dalam Piutang
Menurut Riyanto (1997: 85), manajemen piutang merupakan hal
yang sangat penting bagi perusahaan yang menjual produknya dengan
kredit. Manajemen piutang terutama menyangkut masalah pengendalian
jumlah piutang, pengendalian pemberian dan pengumpulan piutang, dan
evaluasi terhadap politik kredit yang dijalankan oleh perusahaan.
Menurut Riyanto (1997: 85-86) adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi besar kecilnya investasi dalam piutang yaitu sebagai
1. Volume Penjualan Kredit
Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan
penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan
makin besarnya volume penjualan kredit setiap tahunnya berarti
bahwa perusahaan tersebut harus menyediakan investasi yang lebih
besar lagi dalam piutang. Makin besarnya jumlah piutang berarti
makin besarnya risiko, tetapi bersamaan dengan itu juga
memperbesar “profitability”-nya.
2. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit
Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau
lunak. Apabila perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit
dari pada pertimbangan profitabilitas. Syarat yang ketat misalnya
dalam bentuk batas waktu pembayaran yang pendek, pembebanan
bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.
3. Ketentuan tentang Penjualan Kredit
Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas
maksimal atau plafond bagi kredit yang diberikan kepada para
langganannya. Makin tinggi plafond yang ditetapkan bagi
masing-masing langganan berarti makin besar pula dana yang diinvestasikan
dalam piutang. Demikian pula ketentuan mengenai siapa yang dapat
diberi kredit. Makin selektif para langganan yang dapat diberi kredit
maka pembatasan kredit di sini bersifat baik kuantitatif maupun
kualitatif.
4. Kebiasaan Membayar Dari Para Pembayar
Ada sebagian langganan yang mempunyai kebiasaan untuk
membayar dengan menggunakan kesempatan mendapakan cash
discount dan ada sebagian lain yang tidak menggunakan kesempatan
tersebut.
5. Kebijaksanaan Dalam Mengumpulkan Piutang
Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam
pengumpulan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan yang
menjalankan kebijaksanaan secara aktif dalam pengumpulan piutang
akan mempunyai pengeluaran uang yang lebih besar untuk
membiayai aktivitas pengumpulan piutang tersebut dibandingkan
dengan perusahaan lain yang menjalankan kebijaksanaanya secara
pasif. Perusahaan yang disebutkan terdahulu kemungkinan akan
mempunyai investasi dalam piutang yang lebih kecil dari pada
perusahaan yang disebutkan kemudian. Tetapi biasanya perusahaan
hanya akan mengadakan usaha tambahan dalam pengumpulan
piutang apabila biaya tambahan tersebut tidak melampaui besarnya
2.2.3.4.Penilaian Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko tidak terbayarnya kredit yang telah
diberikan kepada para langganan. Sebelum perusahaan memutuskan
untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit oleh para
langganan, hendaknya perusahaan mengadakan evaluasi resiko kredit
dari para langganan.
Menurut Riyanto (1997: 219), syarat pokok yang harus dipenuhi
untuk setiap perusahaan agar dapat memperoleh kredit yaitu :
1. Character
Menunjukkan kemungkinan atau probabilitas dari langganan
untuk secara jujur berusaha untuk memenuhi
kewajiban-kewajibannya. Faktor ini sangat penting, karena setiap transaksi
kredit mengandung kesanggupan untuk membayar.
2. Capacity
Yaitu pendapat subyektif mengenai kemampuan pimpinan
perusahaan beserta stafnya baik kemampuan dalam manajemen
maupun keahlian dalam bidang usahanya, kemampuan ini diukur
dengan record di waktu yang lalu.
3. Capital.
Yaitu menunjukkan posisi finansial perusahaan secara
keseluruhan yang ditunjukkan oleh ratio finansialnya dan penekanan
4. Collateral
Yaitu menunjukkan besarnya aktiva yang akan di ikat sebagai
jaminan atas kredit yang diberikan oleh bank.
5. Conditions
Menunjukkan impact (pengaruh langsung) dari trend
ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan
atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu
yang mungkin mempunyai efek terhadap kemampuan langsung
untuk memenuhi kewajibannya.
2.2.3.5. Tingkat Perputaran Piutang
Menurut Riyanto (1997: 90), piutang sebagai elemen dari modal
kerja selalu dalam keadaan berputar, yang artinya piutang akan tertagih
pada saat tertentu dan akan timbul lagi akibat penjualan dan seterusnya.
Periode perputaran atau periode terikatnya modal dalam piutang adalah
tergantung kepada syarat pembayarannya, makin lunak atau makin lama
syarat pembayaran, berarti makin lama modal terikat pada piutang, yang
berarti bahwa tingkat perputarannya selama periode tertentu adalah
makin rendah.
Menurut Munawir (2002: 75), yaitu bahwa makin tinggi (turn
over) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah,
sebaliknya kalau ratio semakin rendah berarti ada over investment dalam
bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada
perubahan dalam kebijaksanaan pemberian kredit.
Penurunan ratio penjualan kredit dengan rata-rata piutang dapat
disebabkan oleh beberapa faktor (Munawir, 2002: 75) sebagai berikut :
a. Turunnya penjualan dan naiknya piutang.
b. Turunnya piutang dan diikuti turunnya penjualan dalam jumlah
lebih besar.
c. Naiknya penjualan diikuti naiknya piutang dalam jumlah yang lebih
besar.
d. Turunnya penjualan dengan piutang yang tetap.
e. Naiknya piutang sedangkan penjualan tidak berubah.
Menurut Riyanto (1997: 90) tingkat perputaran piutang
(receivables turnover) dapat diketahui dengan membagi jumlah
penjualan kredit (credit sales) selama periode tertentu dengan jumlah
rata-rata piutang (average receivables), seperti rumus di bawah ini :
s
Dimana rata-rata piutang (average receivables) dapat diperoleh
dengan cara sebagai berikut :
2
Periode terikatnya modal dalam piutang atau hari rata-rata
dengan turnover-nya. Hari rata-rata pengumpulan piutang dapat dihitung
dengan cara sebagai berikut : (1 tahun = 360)
Hari rata-rata pengumpulan piutang :
hari
Menurut Munawir (2002: 76), semakin besar days receivable (hari
rata-rata pengumpulan piutang) suatu perusahaan, semakin besar pula
risiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang, dan kalau perusahaan
tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugian yang timbul
karena tidak tertagihnya piutang (allowance for bad debt) berarti
perusahaan telah memperhitungkan labanya terlalu besar (overstated).
Menurut Riyanto (1997: 91), tinggi rendahnya receivable turnover
mempunyai efek yang langsung terhadap besar kecilnya modal yang
diinvestasikan dalam piutang. Makin tinggi turnover-nya berarti makin
cepat perputarannya, yang berarti makin pendek waktu terikatnya modal
dalam piutang, sehingga untuk mempertahankan net credit sales tertentu,
dengan naiknya turnover-nya, dibutuhkan jumlah modal yang lebih kecil
untuk diinvestasikan dalam piutang.
2.2.3.6. Cara-Cara Mempercepat Perputaran Piutang
Menurut Nitisemito (1983: 97) apabila kita sanggup mempercepat
perputaran piutang maka kita akan mendapatkan dua keuntungan. Yang
Keuntungan yang kedua adalah perputaran yang lebih cepat maka akan
berarti bahwa waktu terikatnya modal dalam piutang akan lebih pendek
sehingga keuntungan resiko diundur atau tidak dibayar lebih kecil.
Untuk itu setiap perusahaan harus dapat meningkatkan perputaran dari
piutangnya. Cara yang ditempuh untuk itu antara lain :
a. Memberikan potongan harga bagi yang membayar kontan atau dalam
tempo waktu yang lebih pendek.
b. Mengusahakan agar barang atau jasa lebih digemari.
c. Melatih salesman yang baik.
2.2.4. Persediaan
2.2.4.1.Pengertian Persediaan
Pengertian persediaan menurut Standar Akuntansi Keuangan
(2007: 14.2) persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk
dijual kembali, misalnya, barang dagang dibeli oleh pengecer untuk
dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual
kembali seperti pada perusahaan real estate. Persediaan juga mencakup
barang jadi yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang
sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan
yang akan digunakan dalam proses produksi.
Di dalam perusahaan dagang, persediaan yang ada hanya satu jenis
persediaan saja yaitu persediaan barang dagangan (merchandise
persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam
proses, dan persediaan barang jadi.
Persediaan barang dagang adalah barang-barang yang dimiliki
perusahaan untuk dijual kembali, persediaan pada umumnya meliputi
jenis barang yang cukup banyak dan merupakan bagian yang cukup
berarti dari seluruh aktiva perusahaan. Persediaan barang dagang pada
umumnya dinilai pada harga terendah antara harga perolehan dan harga
pasar atau nilai yang diharapkan dapat direalisasikan. Cara penilaian dan
metode penetapan harga pokok harus diungkapkan dalam laporan
keuangan (Soemarsono, 2004: 384).
Menurut Riyanto (1997: 69) menerangkan bahwa inventory atau
persediaan barang sebagai elemen utama dari modal kerja merupakan
aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, di mana secara terus menerus
mengalami perubahan. Masalah investasi dalam inventory merupakan
masalah pembelanjaan aktif, seperti halnya investasi dalam aktiva-aktiva
lainnya. Masalah penentuan besarnya investasi atau alokasi modal dalam
inventory mempunyai efek yang langsung terhadap keuntungan
perusahaan. Kesalahan dalam penetapan besarnya investasi dalam
inventory akan menekan keuntungan perusahaan.
Adanya investasi dalam inventory yang terlalu besar dibandingkan
dengan kebutuhan akan memperbesar beban bunga, memperbesar biaya
kerugian karena kerusakan, turunnya kualitas, keusangan, sehingga
semuanya ini akan memperkecil keuntungan perusahaan.
Demikian pula sebaliknya, adanya investasi yang terlalu kecil
dalam inventory akan mempunyai efek yang menekan keuntungan juga,
karena kekurangan material perusahaan tidak dapat bekerja dengan luas
produksi yang optimal. Oleh karena perusahaan tidak bekerja dengan
full-capacity, berarti bahwa “capital assets” dan “direct labor” tidak
dapat didayagunakan dengan sepenuhnya, sehingga hal ini akan
mempertinggi biaya produksi rata-ratanya, yang pada akhirnya akan
menekan keuntungan yang diperolehnya.
Fungsi dari persediaan adalah untuk memenuhi permintaan
pelanggan tanpa harus tergantung pada supplier, melalui penyimpanan
persediaan perusahaan juga dapat mengurangi biaya yang timbul karena
adanya pembelian barang setiap kali akan melaksanakan proses produksi
dan untuk mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi di dalam melakukan
proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar
tanpa gangguan karena adanya kekurangan bahan baku untuk melakukan
produksi sehingga memerlukan persediaan ekstra yang disebut
persediaan pengaman.
2.2.4.2. Peranan Persediaan
Peranan dari persediaan adalah sangat besar sekali di dalam
menentukan maju tidaknya suatu perusahaan, karena itu semua
mengadakan persediaan karena tanpa adanya persediaan apabila
langganan meminta barang atau jasa di luar kemampuan produksi
perusahaan, dengan adanya persediaan maka hal tersebut akan dapat
teratasi, sehingga peluang untuk mendapatkan keuntungan akan selalu
terbuka.
2.2.4.3.Arti Pentingnya Perputaran Persediaan
Menurut Alex Nitisemito (1983: 71), yang dimaksud dengan
perputaran persediaan adalah berapa kali modal yang tertanam dalam
persediaan tersebut berputar dalam satu tahunnya. Jadi kalau suatu
perusahaan perputarannya 12 kali untuk inventory-nya, maka hal ini
berarti persediaan barang digunakan rata-rata adalh selama 360/12 = 30
hari. Dengan demikian makin cepat perputaran dari persediaan, berati
makin efisiensi-lah pemakaian modal untuk persediaan.
Kalau ini kita hubungkan dengan pembelian, maka makin cepat
perputaran persediaan berarti makin kecil-lah jumlah pembelian setiap
kali dan makin lambat perputaran persediaan maka makin besar-lah
jumlah pembelian setiap kali.
Dengan demikian berarti makin dipercepat inventory turn over
berati pembelian setiap kali lebih kecil dan dengan modal yang ada
produksi dapat dinaikkan atau dengan produksi yang sama modal dapat
2.2.4.4. Tingkat Perputaran Persediaan
Menurut Riyanto (1997: 70), dalam perusahaan perdagangan pada
dasarnya hanya ada satu golongan inventory, yang mempunyai sifat
perputaran yang sama yaitu yang disebut “merchandise inventory”
(persediaan barang dagangan). Inventory ini merupakan persediaan
barang yang selalu dalam perputaran, yang selalu dibeli dan dijual, yang
tidak mengalami proses lebih lanjut di dalam perusahaan tersebut yang
mengakibatkan perubahan bentuk dari barang yang bersangkutan.
Tingkat perputaran dapat diukur dengan rumus sebagai berikut (Riyanto,
1997: 70) :
Atau bisa juga dengan rumus :
Inventory
Dimana persediaan rata-rata barang :
Persediaan rata-rata
Dengan mengetahui turnover dapat ditentukan pula hari rata-rata
penjualannya atau hari rata-rata barang disimpan di gudang yaitu dengan
membagi hari dalam satu tahun dengan persediaan rata-rata. Diketahui
dengan rumus sebagai berikut (Riyanto, 1997: 70) :
atau dengan rumus :
2.2.5.1. Pengertian Rentabilitas
Menurut Riyanto (1997: 35), rentabilitas suatu perusahaan
menunjukkan perbandingan antara laba dan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah
kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama satu
periode tertentu.
Sedangkan menurut Munawir (2002: 33), rentabilitas adalah
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama
periode tertentu. Hal ini lebih penting daripada masalah laba karena laba
yang besar bukanlah merupakan suatu ukuran bahwa perusahaan
tersebut telah dapat bekerja secara efisien. Untuk itu dengan tingkat
rentabilitas dapat mengetahui efisiensi tidaknya suatu perusahaan dalam
menjalankan usahanya atau kegiatannya.
Rentabilitas merupakan kriteria penilaian secara luas dan dianggap
paling valid untuk dipakai sebagai alat pengukur tentang hasil
pelaksanaan operasi perusahaan, karena mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
risikonya masing-masing. Secara umum dapat dikatakan semakin
besar risiko penanaman modal dituntut rentabilitas yang semakin
tinggi, demikian pula sebaliknya.
2. Rentabilitas mampu menggambarkan tingkat laba yang dihasilkan
menurut jumlah modal yang ditanamkan karena rentabilitas
dinyatakan dalam angka relatif.
Menurut Munawir (2002: 33), juga mengemukakan rentabilitas
atau profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu
perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan
perusahaan menggunakan aktivitasnya secara produktif, dengan
demikian rentabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan
memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode
dengan jumlah aktiva atau modal perusahaan tersebut, yang dapat
dirumuskan sebagai berikut :
%
Jadi rentabilitas merupakan tolak ukur dari perusahaan untuk
mengukur efisiensi modal guna mencapai keuntungan, sebab dengan
laba tersebut belum cukup untuk mengukur apakah penggunaan modal
itu efisien atau tidak karena laba hanya bersifat data.
2.2.5.2. Rentabilitas Ekonomi
Menurut Riyanto (1997: 36), cara untuk menilai rentabilitas suatu
aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan satu dengan lainnya.
Ada dua cara penilaian rentabilitas yaitu :
1. Rentabilitas Ekonomi
Rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba usaha
dengan modal sendiri dan modal asing yang digunakan untuk
menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam persentase. Oleh
karena pengertian rentabilitas sering dipergunakan untuk mengukur
efisiensi penggunaan modal di dalam suatu perusahaan, maka
rentabilitas ekonomi sering pula dimaksudkan sebagai kemampuan
suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja di dalamnya
untuk menghasilkan laba.
Laba yang diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas
ekonomi hanyalah laba yang berasal dari operasi perusahaan yang
disebut dengan laba usaha (net operating income), sedangkan laba
yang diperoleh dari usaha-usaha di luar perusahaan atau dari efek
tidak diperhitungkan dalam menghitung rentabilitas ekonomi. Rumus
dari rentabilitas ekonomi yaitu :
%
2. Rentabilitas Modal Sendiri
Rentabilitas modal sendiri atau sering juga dinamakan
rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba yang
modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak. Atau
dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa rentabilitas modal sendiri
adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang
bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Adapun rumus
dari rentabilitas modal sendiri yaitu :
%
Menurut Riyanto (1997: 37), bagi perusahaan pada umumnya
masalah rentabilitas adalah lebih penting daripada masalah laba,
karena laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa
perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru
dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan
kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan
kata lain ialah menghitung rentabilitasnya.
Dengan demikian maka yang harus diperhatikan oleh
perusahaan adalah tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar
laba, tetapi yang lebih penting adalah usaha untuk mempertinggi
rentabilitasnya. Oleh karena itu perusahaan pada umumnya usahanya
lebih diarahkan untuk mendapatkan titik rentabilitas maksimal
daripada laba maksimal.
2.2.6. Arti Penting Analisis Keuangan
analisa terhadap data keuangan itu akan tercermin di dalam laporan
keuangannya (Riyanto, 1997: 327). Laporan finansial memberikan
ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca
mencerminkan nilai aktiva, hutang dan modal sendiri pada suatu saat
tertentu, dan laporan laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai
selama satu periode satu tahun.
Menurut Munawir (2002: 1) mereka yang mempunyai kepentingan
terhadap perkembangan suatu perusahaan sangatlah perlu untuk
mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut, dan kondisi
keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keuangan
perusahaan yang bersangkutan, yang terdiri dari neraca laporan
perhitungan laba rugi serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan
mengadakan analisis terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau
akan diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa
terhadap laporan laba ruginya akan memberikan gambaran tentang hasil
atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.
Dengan mengadakan analisa laporan keuangan perusahaan, maka
akan dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansial dari
perusahaannya, dan akan dapat diketahui hasil-hasil finansial yang telah
dicapai di waktu-waktu yang lalu dan waktu yang sedang berjalan.
Dengan demikian dapat diketahui kelemahan dari perusahaan, maka
yang akan datang kelemahan tersebut dapat diperbaiki sehingga akan
diperoleh kenaikan laba usaha bagi perusahaan.
2.2.7. Hubungan Modal Kerja Terhadap Rentabilitas Ekonomi
Menurut Achmad (1997: 99-103), keuntungan dari penjualan
surat-surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka panjang adalah
salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan akan
menimbulkan keuntungan bagi perusahaan yang merupakan suatu
sumber bertambahnya modal kerja dan sebaliknya apabila penjualan itu
terjadi kerugian maka akan menyebabkan berkurangnya modal kerja.
Perubahan dari aktiva ini menjadi kas dan piutang akan menyebabkan
bertambahnya modal kerja sebesar hasil penjualan tersebut.
Modal kerja sangat mempengaruhi rentabilitas ekonomi
perusahaan. Menurut Riyanto (1997: 36) rentabilitas sering
dipergunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal didalam
suatu perusahaan, sehingga rentabilitas ekonomi sering dimaksudkan
sebagai kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang
bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba.
Semakin besar modal semakin tinggi tingkat kemampuan
perusahaan dalam memperoleh laba karena modal tersebut mampu
membiayai semua pengeluaran atau operasi perusahaan sehingga
perusahaan dapat berproduksi semaksimal mungkin dan melakukan
kecil modal maka semakin rendah pula tingkat kemampuan perusahaan
dalam memperoleh laba karena tidak tersedianya modal yang cukup
akan merugikan perusahaan karena mempunyai efek menekan
keuntungan yang diakibatkan kegiatan yang gagal dilaksanakan.
Pendapat ini sesuai dengan teori keuntungan yang diungkapkan oleh
Adam Smith dan Ricardo (1991), yang menyatakan bahwa keuntungan
pengusaha yaitu keuntungan yang diperoleh pengusaha atau perusahaan
karena memasukkan modalnya dalam perusahaan (Munawir, 2002: 115).
2.2.8. Hubungan Perputaran Piutang Terhadap Rentabilitas Ekonomi
Perputaran piutang dapat diketahui dengan membagi jumlah
penjualan kredit selama periode tertentu dengan jumlah rata-rata piutang.
Tinggi rendahnya perputaran piutang mempunyai efek yang langsung
terhadap besar kecilnya modal yang diinvestasikan ke dalam piutang,
semakin tinggi perputarannya sehingga semakin pendek waktu
terikatnya modal dalam piutang dan modal yang dibutuhkan akan
semakin kecil (Munawir, 2002: 75).
Perputaran piutang menggunakan elemen penjualan kredit,
dengan menggunakan elemen ini maka dapat diketahui keefektifan
piutang dan juga akan berpengaruh pada laba, karena dengan adanya
piutang ini perusahaan akan menanamkan modalnya pada piutang
tersebut, sehingga apabila perputaran piutang cepat, maka perusahaan
diungkapkan oleh Arik Dwi (2009), menyatakan bahwa tingkat
perputaran piutang sangat berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan
dalam menjalankan aktivitas operasional perusahaan yang akan
berdampak pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
perusahaan yang fluktuatif (Munawir, 2002: 75).
Periode perputaran piutang adalah tergantung kepada syarat
pembayarannya. Makin lama syarat pembayaran, berarti makin lama
modal terikat pada piutang. Dan ini berarti bahwa perputarannya selama
periode tertentu adalah makin rendah, karena semakin besar days
receivable suatu perusahaan semakin besar pula risiko kemungkinan
tidak tertagihnya piutang dan jika perusahaan tidak membuat cadangan
terhadap kemungkinan kerugian yang timbul karena tidak tertagihnya
piutang berarti perusahaan bukannya mendapat laba, melainkan
mendapat kerugian (Munawir, 2002: 75).
2.2.9. Hubungan Perputaran Persedian Terhadap Rentabilitas Ekonomi
Riyanto (1997: 69), inventory atau persediaan barang sebagai
elemen utama dari modal kerja merupakan aktiva yang selalu dalam
keadaan berputar, di mana secara terus menerus mengalami perubahan.
Masalah investasi dalam inventory merupakan masalah pembelanjaan
aktif, seperti halnya investasi dalam aktiva-aktiva lainnya. Masalah
penentuan besarnya investasi atau alokasi modal dalam inventory
Kesalahan dalam penetapan besarnya investasi dalam inventory akan
menekan keuntungan perusahaan.
Adanya investasi dalam inventory yang terlalu besar
dibandingkan dengan kebutuhan akan memperbesar beban bunga,
memperbesar biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gedung,
memperbesar kemungkinan kerugian karena kerusakan, turunnya
kualitas, keusangan, sehingga semuanya ini akan memperkecil
keuntungan perusahaan.
Demikian pula sebaliknya, adanya investasi yang terlalu kecil
dalam inventory akan mempunyai efek yang menekan keuntungan juga,
karena kekurangan material perusahaan tidak dapat bekerja dengan
kapasitas produksi yang optimal. Oleh karena perusahaan tidak bekerja
dengan full-capacity, berarti bahwa “capital assets” dan “direct labor”
tidak dapat didayagunakan dengan sepenuhnya, sehingga hal ini akan
mempertinggi biaya produksi rata-ratanya, yang pada akhirnya akan
menekan keuntungan yang diperolehnya (Riyanto, 1997: 69).
2.3. Kerangka Pikir
Berdasarkan rumusan masalah dan landasan teori serta penelitian
terdahulu yang telah dikemukakan di atas, maka untuk pendukung hasil
penelitian diajukan beberapa premis yaitu sebagai berikut :
Premis 1 : Rentabilitas sering dipergunakan untuk mengukur efisiensi
rentabilitas ekonomi sering dimaksudkan sebagai
kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang
bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba (Riyanto,
1997: 36).
Premis 2 : Keuntungan pengusaha yaitu keuntungan yang diperoleh
pengusaha atau perusahaan karena memasukkan modalnya
dalam perusahaan (Teori keuntungan, Adam Smith dan
Ricardo, 1991).
Premis 3 : Modal kerja dan tingkat perputaran piutang secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas ekonomi
sedangkan secara parsial tingkat perputaran piutang tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas
ekonomi, variabel yang paling dominan adalah modal kerja.
Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan modal kerja
mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu
perusahaan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan
dalam memperoleh laba yang maksimal (Rina Kartika,
2009).
Premis 4 : Modal kerja dan tingkat perputaran piutang mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas ekonomi
sedangkan tingkat perputaran piutang mempunyai pengaruh
yang lebih dominan terhadap rentabilitas ekonomi karena
kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitas
operasional perusahaan yang akan berdampak pada
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
perusahaan yang fluktuatif (Arik Dwi, 2009).
Premis 5 : Hubungan perputaran piutang, perputaran persediaan
terhadap laba usaha sangatlah erat, karena apabila
perputarannya efektif, maka perolehan labanya sudah
memadai dengan modal kerja yang ada, dikatakan demikian
karena di dalam perputaran tersebut menggunakan elemen
net sales, dengan demikian sudah pasti pengaruh dari
perputaran tersebut akan mempengaruhi laba dari
perusahaan karena laba didapat dari mengurangi penjualan
dengan semua biaya yang dikeluarkan untuk usaha
(Munawir, 2002: 71-80).
Premis 6 : perputaran persediaan menggunakan elemen laba rugi yaitu
harga pokok penjualan. Dengan menggunakan elemen laba
rugi, maka perputaran persediaan akan berpengaruh pada
Gambar 2.1 : Diagram Kerangka Pikir
2.4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan landasan teori serta
penelitian terdahulu yang telah dikemukakan sebelumnya, maka terdapat
pengaruh yang signifikan modal kerja, perputaran piutang, dan
perputaran persediaan terhadap rentabilitas ekonomi pada perusahaan
otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Modal Kerja
(X1)
Perputaran
Piutang
(X2)
Perputaran
Persediaan
(X3)
Rentabilitas Ekonomi
(Y)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
3.1.1. Definisi Operasional
Penelitian ini mengoperasionalkan tiga variabel bebas dan satu
variabel terikat. Operasional variabel-variabel tersebut bertujuan agar
didapat kejelasan deskriptif dari masing-masing variabel yang diteliti dan
mengimplementasikannya secara terukur. Variabel bebasnya adalah
modal kerja (X1), perputaran piutang (X2), dan perputaran persediaan
(X3), sedangkan variabel terikatnya adalah rentabilitas ekonomi (Y).
Adapun definisi operasional dari masing – masing variabel tersebut,
yaitu sebagai berikut :
1. Variabel Terikat rentabilitas ekonomi (Y)
Sering disebut sebagai variabel respon, output, kriteria, konsekuen,
dalam bahasa indonesia sering disebut sebagai variabel terikat (dependend
variabel). Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Penelitian ini variabel terikatnya adalah rentabilitas ekonomi adalah
kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode
tertentu. Ukuran yang digunakan adalah jumlah laba operasional yang