• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi terhadap Karkas dan Lemak Abdominal Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih Chapter III IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi terhadap Karkas dan Lemak Abdominal Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih Chapter III IV"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Udara Gg. Rukun (Peternakan Kelinci

Rukun Farm) Berastagi. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dimulai dari

bulan Juli 2016 sampai dengan September 2016.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan

Bahan yang digunakan adalah kelinci rex jantan lepas sapih sebanyak 24 ekor dengan bobot badan awal 1012,14±126,67 g, bahan penyusun ransum/pelet

yang terdiri dari ampas kelapa fermentasi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak

padi, tepung ikan, mineral mix dan molases. Air minum yang diberikan secara

ad libitum dan rodalon sebagai desinfektan serta obat-obatan seperti obat cacing (Wormectin) dan Permenthyl untuk obat kembung.

Alat

Alat yang digunakan adalah kandang individu ukuran 50 x 50 x 50 cm

sebanyak 24 petak, mesin pencetak pelet, timbangan kapasitas 5 kg untuk

menimbang kelinci, pakan dan sisa pakan, tempat pakan pada tiap kandang

masing-masing sebanyak 24 unit, mesin grinder untuk membuat tepung, lampu,

thermometer, sapu lidi, terpal plastik sebagai alas untuk meramu pelet, kantung

(2)

Metode Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara

experimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan

dan 4 ulangan. Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut :

P0a : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi

P0b : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi

P1 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger

P2 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger

P3 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Ragi Tape

P4 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Rage Tape

Dengan susunan penelitian sebagai berikut :

Tabel 5. Kombinasi Unit Perlakuan dan Ulangan

P4 U3 P3 U1 P2 U2 P1 U4

P3 U4 P4 U4 P2 U1 P1 U1

P2 U4 P3 U3 P4 U2 P1 U3

P3 U2 P2 U3 P0B U1 P0B U4

P0A U3 P0B U3 P0A U2 P4 U1

P1 U2 P0A U4 P0B U2 P0A U1

Model matematik percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Yij = μ + σi + Ʃij

Keterangan :

Yij = nilai pengamatan yang diperoleh dari satuan percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

μ = nilai tengah umum

σi = efek dari perlakuan ke-i

(3)

Peubah yang Diamati

1. Bobot Potong (g/ekor)

Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah

dipuasakan selama 6-10 jam sebelum disembelih.

2. Bobot Karkas (g/ekor)

Bobot karkas diperoleh dari hasil penimbangan dari daging bersama tulang

kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari

kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah, ekor dan kulit.

3. Persentase Karkas (%)

Persentase karkas yaitu bobot karkas dibandingkan dengan bobot potong

dikali 100%.

Persentase karkas = Bobot karkas x 100% Bobot potong

4. Persentase Lemak Abdomen (%)

Persentase lemak abdomen yaitu bobot lemak abdomen dibandingkan dengan

bobot hidup dikali 100%.

Persentase lemak abdomen = Bobot lemak abdomen x 100% Bobot potong

Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan ukuran

50 x 50 x 50 cm sebanyak 24 petak. Kandang dipersiapkan seminggu sebelum

kelinci masuk dalam kandang agar kandang bebas dari hama penyakit. Kandang

beserta peralatan seperti tempat pakan dan minum dibersihkan dan didesinfektan

(4)

2. Pemilihan Ternak

Kelinci yang akan digunakan sebagai objek penelitian diseleksi terlebih

dahulu dengan syarat seleksi sebagai berikut : kelinci dalam keadaan sehat, tidak

cacat dilihat dari bentuk kaki yang lurus dan lincah, ekor melengkung ke atas

lurus merapat ke bagian luar mengikuti tulang punggung, telinga lurus ke atas,

mata jernih dan bulu mengkilat. Sebelum kelinci dimasukkan ke dalam kandang,

dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan awal dari masing-masing

kelinci kemudian dilakukan random (pengacakan) yang bertujuan untuk

memperkecil nilai keragaman. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam kandang

sebanyak 1 ekor per unit penelitian.

3. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Ragi Tape

Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi

dijelaskan pada skema berikut :

1 kg tepung ampas kelapa

Diautoclave selama 15 menit dengan suhu 1210C

Ditambahkan air 800 ml

Ditaburkan ragi tape sebanyak 18 g

Diaduk sampai homogen

Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi, kemudian difermentasi secara aerob selama 6 hari

Dioven selama 24 jam dengan suhu 600C

Digiling dan disimpan

(5)

4. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Aspergillus niger

Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi

dijelaskan pada skema berikut :

Tepung ampas kelapa 1 kg

Ditambahakan 800 ml air

Ditambahkan Zeolit 45 g dan Aspergillus niger 18 g

Diaduk sampai dengan homogen

Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi

Fermentasi secara aerob pada suhu kamar (250C) selama 6 hari

Dioven selama 24 jam dengan suhu 600C

Digiling dan disimpan

Sumber : Modifikasi Muhsafaat et al. (2015)

5. Penyusunan Pakan dalam bentuk Pelet

Bahan penyusun konsentrat yang digunakan terdiri atas tepung ampas

kelapa, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak padi, tepung ikan, mineral dan

molases. Bahan yang digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan

formulasi pelet yang telah sesuai dengan level perlakuan. Untuk menghindari

ketengikan, pencampuran dilakukan satu kali dalam 3 minggu. Berikut susunan

(6)

Tabel 6. Susunan dan komposisi ransum

Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum, penggantian air minum dilakukan pada pagi dan sore hari. Obat-obatan dan vitamin diberikan sesuai

dengan kebutuhan kelinci seperti Wormectin untuk obat cacing dan scabies dengan dosis 0,02 ml/kg bobot kelinci, pemberiannya dengan cara menyuntikkan

di bagian subkutan, anti bloat untuk obat mencret dan kembung dengan dosis 1

sendok teh untuk 1-3 ekor kelinci, pemberiannya melalui mulut. Pelet diberikan

pukul 08.00 WIB dan pukul 16.00 WIB dan hijauan diberikan 1 jam setelah

pemberian pelet.

7. Pengambilan Data

1. Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah

(7)

2. Bobot karkas adalah bobot yang diperoleh dari hasil penimbangan dari daging

bersama tulang kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal

leher dan dari kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah,

ekor dan kulit.

3. Persentase bobot karkas diperoleh dengan cara membagikan bobot karkas

dengan bobot potong dikali 100%.

4. Persentase lemak abdomen diperoleh dari bobot lemak abdomen dibandingkan

dengan bobot potong dikali 100%.

Analisis Data

Data yang diperoleh selama penelitian dari setiap perlakuan dianalisis

dengan perbandingan linear ortogonal kontras sehingga diperoleh informasi

perlakuan terbaik. Dari 6 perlakuan dapat disusun 5 perbandingan linear ortogonal

kontras sebagai berikut :

Tabel 7. Perbandingan linear ortogonal kontras antar perlakuan penelitian

Perlakuan Keterangan

P0AP0B vs P1P2P3P4 Ransum dengan ampas kelapa non fermentasi

dibandingkan dengan ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape

P0A vs P0B Ransum dengan 10% ampas kelapa tanpa fermentasi

dibandingkan dengan 20% ampas kelapa tanpa fermentasi

P1P2 vsP3P4 Ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus

niger dibandingkan dengan ampas kelapa fermentasi ragi tape

P1 vsP2 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi

Aspergillus niger dibandingkan dengan 20% ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger

P3 vsP4 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi

(8)

Pembanding linear ortognal kontras menggunakan persyaratan sebagai

berikut :

1. Jumlah koefisien pembanding sama dengan nol (Ʃki=0)

2. Jumlah perkalian koefisien dua pembanding sama dengan nol (Ʃki ki=0)

3. Jumlah kuadrat

Qi = Jumlah perkalian koefisien pembanding sama dengan total tiap perlakuan

R = Ulangan

Ʃki= Kuadrat koefisien pembanding

Tabel 8. Sidik ragam

SK Db JK KT Fhit F 5% F 1%

Perlakuan t-1 JKP JKP/db KTP/KTG

P0AP0B vs P1P2P3P4 1 JK1 JK1 JK1/KTG

P0A vs P0B 1 JK4 JK4 JK4/KTG

P1P2 vsP3P4 1 JK5 JK5 JK5/KTG

P1 vsP2 1 JK6 JK6 JK6/KTG

P3 vsP4 1 JK7 JK7 JK7/KTG

Galat Rt-t JKG KTG

Kaidah Keputusan

- Bila F hit < F 0,05 : perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)

- Bila F hit ≥ F 0,05 : perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bobot Potong

Bobot potong diperoleh dari hasil penimbangan bobot akhir kelinci setelah

dipuasakan selama 7 jam. Data rataan bobot potong kelinci Rex jantan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :

Tabel 9. Rataan bobot potong kelinci Rex jantan (g/ekor)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4 Rataan 1.876,33 1.865,17 1.986,17 1.994,67 7.722,33 1.930,58

Dari Tabel 9 di atas dapat dilihat data rataan bobot potong tertinggi adalah

2.104,75g (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P0B (2.068,75 g),

perlakuan P0A (1.918,75 g), perlakuan P1 (1.925,00 g), perlakuan

P4 (1889,75 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (1676,50 g). Tabel 9 di atas

juga menunjukkan rataan umum bobot potong adalah sebesar 1.930,58 g. Angka

tersebut hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh

Setiawan (2009) yaitu 1943,33 g. Hal ini disebabkan karena bobot potong yang

digunakan pada penelitian ini menggunakan kisaran bobot potong yang sama.

Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan ampas

(10)

ransum yang palatabel. Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat

konsumsi pakan (Kartadisastra, 1997). Ransum dengan ampas kelapa yang

difermentasi dengan ragi tape lebih disukai kelinci karena aromanya yang lebih

wangi dibandingkan dengan ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger. Pada penelitian yang dilakukan oleh Lase (2016), konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa

fermentasi ragi tape 10% dan terendah pada perlakuan yang menggunakan ransum

dengan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger 20%. Tabel 10. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot potong

SK dB JK KT F Hit F Tabel

Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang

menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik

dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa

fermentasi terhadap bobot potong kelinci. Diantara perlakuan yang menggunakan

ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi, tepung ampas kelapa yang

difermentasi ragi tape menunjukkan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot

potong kelinci dibandingkan dengan fermentasi Aspergillus niger. Hal tersebut bisa dilihat dari data rataan bobot potong pada perlakuan yang menggunakan

ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape menunjukkan angka

(11)

kelapa fermentasi Aspergillus niger, terutama pada perlakuan P3 yaitu ransum

dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape. Jadi perlakuan P3 lebih

baik dibandingkan perlakuan lainnya.

Pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan 10% tepung ampas

kelapa fermentasi ragi tape memiliki tingkat konsumsi tertinggi dibandingkan

perlakuan lainnya sehingga konsumsi protein juga lebih banyak dan dapat

meningkatkan bobot potong. Scott et al. (1982), menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan dengan konsumsi pakan. Konsumsi

pakan yang semakin tinggi akan mengakibatkan kenaikan konsumsi protein

sehingga pertumbuhan ternak semakin baik dan akan meningkatkan bobot potong

yang dihasilkan.

Tepung ampas kelapa yang difermentasi memiliki kandungan protein yang

lebih tinggi dibandingkan tepung ampas kelapa yang tidak difermentasi. Protein

memiliki peranan penting dalam proses metabolisme tubuh yang akan

meningkatkan bobot potong. Selama proses fermentasi berlangsung akan

meningkatkan kadar protein yang disebabkan karena adanya aktivitas

mikroorganisme yang memecah karbohidrat pada substrat. Hidayati et al. (2013), menyatakan bahwa kadar protein meningkat selama proses fermentasi disebabkan

adanya aktivitas mikroorganisme optimal melakukan pemecahan karbohidrat.

Tillman et al. (1991), menyatakan bahwa ransum yang dikonsumsi oleh ternak diasimilasikan untuk perbaikan dan sintesa jaringan baru atau produksi daging.

Bobot potong yang tinggi pada perlakuan yang menggunakan ransum

dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi disebabkan karena adanya indikasi

(12)

ampas kelapa yang tidak difermentasi tinggi yang dapat menyebabkan

pembentukan lemak pada tubuh ternak meningkat. Subekti (2007), menyatakan

bahwa pada peningkatan bobot berat terdapat indikasi kegemukan, persentase

lemak, lemak ginjal dan lemak pelvis meningkat.

Bobot Karkas

Bobot karkas adalah bobot dari hasil penimbangan bagian tubuh yang

sudah disembelih dipisahkan kepala, jari sampai pergelangan kaki, kulit, ekor,

jeroan (usus, jantung, hati dan ginjal) (Kartadisastra, 1998). Data rataan bobot

karkas kelinci Rex jantan hasil penelitian ditunjukkan pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Rataan bobot karkas kelinci Rex jantan (g/ekor)

Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat data rataan bobot karkas tertinggi

adalah 1.088,00 g (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan

P0b (1.025,75 g), perlakuan P4 (961,25 g), perlakuan P0A (932,75 g), perlakuan

P1 (913,00 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (725,75 g). Tabel 11 di atas

juga menunjukkan rataan umum bobot karkas adalah sebesar 941,42 g. Angka

tersebut lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Setiawan (2009), yaitu

sebesar 1.000,16 g. Hal ini dipengaruhi oleh genetik, asupan nutrisi dan

lingkungan. Asupan nutrisi akan mempengaruhi pertambahan bobot badan yang

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(13)

dilanjutkan berpengaruh ke bobot potong. Selain itu lingkungan juga sangat

mempengaruhi bobot potong. Jika lingkungan mendukung bagi keamanan dan

kenyamanan ternak maka bobot hidup ternak akan meningkat secara optimal,

sebaliknya jika keadaan lingkungan kurang mendukung bagi ternak, maka

pertumbuhan ternak akan kurang optimal sebab kelinci merupakan salah satu

ternak yang sangat mudah mengalami stress.

Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa pemberian ampas

kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap bobot karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot potong yang tinggi pada kelinci sehingga bobot karkas yang

dihasilkan juga tinggi. Muryanto dan Prawirodigdo (1993), menyatakan bahwa

bobot potong yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula.

Semakin tinggi bobot potong maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya.

Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan

bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh.

Tabel 12. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot karkas

SK dB JK KT F Hit F Tabel

Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang

menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik

(14)

kelapa yang tidak difermentasi. Dan diantara kedua ransum yang menggunakan

tepung ampas kelapa fermentasi, ransum yang menggunakan tepung ampas kelapa

fermentasi ragi tape yang terbaik karena bobot karkas yang dihasilkan lebih tinggi

daripada perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi

Aspergillus niger.

Perbedaan bobot karkas pada setiap perlakuan disebabkan oleh kandungan

zat makanan yang terdapat dalam ransum yang berbeda, seperti lemak dan protein.

Tepung ampas kelapa fermentasi memiliki kandungan protein tinggi dan lemak

rendah dibandingkan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Hal ini dikarenakan

pada saat fermentasi, terjadi peningkatan kadar protein dan penurunan kadar

lemak. Howard et al. (2003), menyatakan bahwa selama proses fermentasi mikroba akan mengeluarkan enzim dimana enzim tersebut adalah protein dan

mikroba itu sendiri juga merupakan sumber protein sel tunggal. Selain itu, pada

proses fermentasi akan menghasilkan enzim lipase yang berperan memecah

lemak. Enzim lipase merupakan enzim yang dapat menghidrolisis rantai panjang

trigliserida (Dali et al., 2009). Peningkatan jumlah enzim dan populasi mikroba akan meningkatkan kadar protein kasar dan menurunkan kadar lemak ampas

kelapa. Protein akan dimanfaatkan ternak dalam proses metabolisme tubuh untuk

meningkatkan proporsi daging. Lemak juga mempengaruhi bobot karkas, apabila

kandungan lemak meningkat maka bobot karkas yang dihasilkan juga akan

meningkat. Seebeck dan Tulloh (1968), menyatakan bahwa distribusi lemak

sangat mempengaruhi proporsi jaringan otot karkas sebab proporsi daging dan

tulang akan berkurang sedangkan komponen lemak bertambah dengan

(15)

Persentase Karkas

Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot

hidup dikali 100% (Soeparno, 1994). Data rataan persentase karkas dapat dilihat

pada Tabel 13 di bawah ini :

Tabel 13. Rataan persentase karkas kelinci Rex jantan (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4

Dari Tabel 13 di atas dapat dilihat data rataan persentase karkas tertinggi

adalah 51,65% (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan

P0B (50,42%), perlakuan P4 (48,95%), perlakuan P0A (48,62%), perlakuan

P1 (47,43%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (43,25%). Gambar 10 di atas

juga menunjukkan rataan umum persentase karkas adalah sebesar 48,39%. Angka

ini sesuai dengan pernyataan Farel dan Raharjo (1984), yang menyatakan bahwa

kelinci jantan dapat menghasilkan karkas sebanyak 43-52% dan betina 50-59%

dari berat hidupnya.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas

kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot karkas yang tinggi akan menghasilkan persentase karkas yang tinggi

pula. Hal ini didukung oleh pendapat Soeparno (1994), yang menyatakan bahwa

(16)

akan diikuti dengan peningkatan bobot karkas yang dihasilkan, selain itu

persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur potong dan jenis kelamin.

Tabel 14. Pembandingan ortogonal kontras terhadap persentase karkas

SK dB JK KT F Hit 0,05 0,01 F Tabel

Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang

menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik terhadap persentase

karkas dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung

ampas kelapa tanpa fermentasi. Dilihat dari data rataan persentase karkas,

persentase karkas yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa

fermentasi ragi tape memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan

perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi

Aspergillus niger.

Perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa

fermentasi terbaik terdapat pada level pemberian 10% terhadap persentase karkas.

Hal ini disebabkan karena kandungan nutrisi pada ransum dengan level 10% lebih

baik dibandingkan 20%, selain itu persentase karkas pada perlakuan 10% juga

lebih tinggi dibandingkan 20%. Selain dipengaruhi oleh kandungan nutrisi pada

ransum, persentase karkas juga dipengaruhi oleh bobot potong dan bobot karkas.

Soeparo (1994), menyatakan bahwa persentase karkas adalah perbandingan antara

(17)

ternak potong sebenarnya, karena dalam bobot hidup masih terdapat saluran

pencernaan dan organ dalam yang beratnya untuk masing-masing ternak berbeda.

Lemak Abdominal

Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan bobot

lemak abdomen dengan bobot hidup dikalikan 100 (Witantra, 2011). Data rataan

persentase lemak abdominal dapat dilihat pada Tabel 15. berikut :

Tabel 15. Rataan persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 4

P0A 1,39 1,47 1,40 1,38 5,64 1,41

P0B 2,47 2,47 2,47 2,51 9,92 2,48

P1 1,06 0,99 1,08 1,13 4,26 1,06

P2 1,02 0,90 0,98 1,02 3,92 0,98

P3 1,02 0,98 1,01 1,15 4,16 1,04

P4 1,21 1,11 0,91 1,06 4,29 1,07

Total 8,17 7,92 7,85 8,25 32,19 8,05

Rataan 1,36 1,32 1,31 1,38 5,37 1,34

Dari Gambar 11 di atas dapat dilihat data rataan persentase lemak

abdominal tertinggi adalah 2,52% (P0B), kemudian disusul berturut-turut oleh

perlakuan P0A (1,41%), perlakuan P4 (1,10%), perlakuan P3 (1,07%), perlakuan

P1 (1,05%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (0,98%). Tabel di atas juga

menunjukkan rataan umum persentase lemak abdominal adalah sebesar 1,35%.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pernyataan

Brahmantiyo dan Raharjo (2009), yang menyatakan bahwa persentase lemak

abdominal pada kelinci Rex jantan yaitu 3,13% dengan bobot potong 2.711,44 g. Hal ini dipengaruhi oleh bobot potong kelinci tersebut. Pada penelitian ini rataan

(18)

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas

kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena kandungan lemak yang tinggi pada ransum yang

mengakibatkan kelebihan energi sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal

oleh tubuh. Hal ini didukung dengan pernyataan Noviana et al. (2015), yang menyatakan bahwa lemak abdominal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan,

perkembangan dan kelebihan lemak akan menyebabkan kelebihan energi di dalam

tubuh yang tidak bisa dimanfaatkan dengan sempurna. Kelebihan lemak ini bisa

disebabkan beberapa faktor diantaranya pemberian pakan yang mengandung

energi yang berlebih dan aktivitas/gerak yang sedikit.

Tabel 16. Pembandingan ortogonal kontras terhadap lemak abdominal

SK dB JK KT F Hit F Tabel

Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang

menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik

dibandingkan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi.Hal ini disebabkan

karena pada tepung ampas kelapa tanpa fermentasi masih memiliki kandungan

lemak yang cukup tinggi karena belum mengalami pemecahan susunan lemak.

Sedangkan pada tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger

(19)

saat proses fermentasi terjadi sehingga kandungan lemaknya menurun.

Dali et al. (2009), menyatakan bahwa lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolosis lemak, mono-, di-, dan trigliserida untuk

menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Hal inilah yang menyebabkan

kandungan lemak abdominal pada perlakuan yang menggunakan tepung ampas

kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape lebih rendah dibandingkan perlakuan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi.

Selain kandungan lemak dalam ransum, kandungan energi dalam ransum

juga akan mempengaruhi terjadinya pembentukan lemak abdominal. Pada ransum

yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi memiliki kandungan

energi tertinggi, sehingga menyebabkan persentase lemak abdominal pada

perlakuan ini menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Setiawan dan Sujana (2009), menyatakan bahwa pembentukan lemak abdominal

terjadi karena adanya kelebihan energi yang dikonsumsi. Energi yang digunakan

tubuh umumnya berasal dari karbohidrat dalam tubuh mampu memproduksi

lemak tubuh yang tersimpan di sekeliling organ dalam dan di bawah kulit.

Dilanjutkan dengan pernyataan Brahmantiyo dan Raharjo (2009), perlemakan

subkutan dan abdomen kelinci akan tinggi dengan bobot potong yang tinggi.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang diperoleh selama penelitian terhadap bobot

potong, bobot karkas, persentase karkas dan persentase lemak abdominal kelinci

(20)

P0A: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P0B: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P1: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P2: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P3: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape; P4: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape.

Gambar 8. Histogram rekapitulasi hasil penelitian

Pada Gambar 8 di atas menunjukkan perlakuan P3 terbaik pada bobot

potong, bobot karkas, persentase karkas dan lemak abdominal. Data terendah

untuk masing-masing peubah penelitian terdapat pada perlakuan P2.

1918,75 2068.75 1925,00

1676,50

2104,75

1889,75

932,75 1050,25 913,00

725,75

1088,00

900,25

48,62 50,74 47,43 43,25 51,65 47,62

1,41 2,48 1,06 0,98 1,04 1,07

0,00 500,00 1000,00 1500,00 2000,00 2500,00

P0A P0B P1 P2 P3 P4

(21)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penggunaan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape

dapat meningkatkan bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas serta dapat

menurunkan persentase lemak abdominal pada level pemakaian 10% pada kelinci

Rex jantan.

Saran

Gambar

Tabel 6. Susunan dan komposisi ransum
Tabel 7. Perbandingan linear ortogonal kontras antar perlakuan penelitian
Tabel  9. Rataan bobot potong kelinci Rex jantan (g/ekor)
Tabel 10. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot potong
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tepung ampas kelapa fermentas idengan ragi tape dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan menurunkan

Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tepung ampas kelapa fermentas idengan ragi tape dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan menurunkan

Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tepung ampas kelapa fermentas idengan ragi tape dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan menurunkan

sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak termasuk kelinci, karena ampas kelapa masih mudah didapatkan dari sisa pembuatan minyak kelapa.. tradisional dan

Performa Kelinci Potong Jantan Lokal Peranakan New Zeland WhiteYang Diberi Pakan Silase Atau Pelet Ransum Komplit.. Institut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi dengan ragi tape dapat meningkatkan konsumsi ransum menjadi 70,17 gram/ekor/hari,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi dengan ragi tape dapat meningkatkan konsumsi ransum menjadi 70,17 gram/ekor/hari,

Pelet dioven selama 12 jam dengan temperature 50 0 C dan pelet siap diberikan sebagai pakan kelinci. Universitas