BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Udara Gg. Rukun (Peternakan Kelinci
Rukun Farm) Berastagi. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dimulai dari
bulan Juli 2016 sampai dengan September 2016.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan
Bahan yang digunakan adalah kelinci rex jantan lepas sapih sebanyak 24 ekor dengan bobot badan awal 1012,14±126,67 g, bahan penyusun ransum/pelet
yang terdiri dari ampas kelapa fermentasi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak
padi, tepung ikan, mineral mix dan molases. Air minum yang diberikan secara
ad libitum dan rodalon sebagai desinfektan serta obat-obatan seperti obat cacing (Wormectin) dan Permenthyl untuk obat kembung.
Alat
Alat yang digunakan adalah kandang individu ukuran 50 x 50 x 50 cm
sebanyak 24 petak, mesin pencetak pelet, timbangan kapasitas 5 kg untuk
menimbang kelinci, pakan dan sisa pakan, tempat pakan pada tiap kandang
masing-masing sebanyak 24 unit, mesin grinder untuk membuat tepung, lampu,
thermometer, sapu lidi, terpal plastik sebagai alas untuk meramu pelet, kantung
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara
experimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan
dan 4 ulangan. Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut :
P0a : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi
P0b : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi
P1 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger
P2 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger
P3 : Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Ragi Tape
P4 : Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Rage Tape
Dengan susunan penelitian sebagai berikut :
Tabel 5. Kombinasi Unit Perlakuan dan Ulangan
P4 U3 P3 U1 P2 U2 P1 U4
P3 U4 P4 U4 P2 U1 P1 U1
P2 U4 P3 U3 P4 U2 P1 U3
P3 U2 P2 U3 P0B U1 P0B U4
P0A U3 P0B U3 P0A U2 P4 U1
P1 U2 P0A U4 P0B U2 P0A U1
Model matematik percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = μ + σi + Ʃij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan yang diperoleh dari satuan percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
μ = nilai tengah umum
σi = efek dari perlakuan ke-i
Peubah yang Diamati
1. Bobot Potong (g/ekor)
Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah
dipuasakan selama 6-10 jam sebelum disembelih.
2. Bobot Karkas (g/ekor)
Bobot karkas diperoleh dari hasil penimbangan dari daging bersama tulang
kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari
kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah, ekor dan kulit.
3. Persentase Karkas (%)
Persentase karkas yaitu bobot karkas dibandingkan dengan bobot potong
dikali 100%.
Persentase karkas = Bobot karkas x 100% Bobot potong
4. Persentase Lemak Abdomen (%)
Persentase lemak abdomen yaitu bobot lemak abdomen dibandingkan dengan
bobot hidup dikali 100%.
Persentase lemak abdomen = Bobot lemak abdomen x 100% Bobot potong
Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan ukuran
50 x 50 x 50 cm sebanyak 24 petak. Kandang dipersiapkan seminggu sebelum
kelinci masuk dalam kandang agar kandang bebas dari hama penyakit. Kandang
beserta peralatan seperti tempat pakan dan minum dibersihkan dan didesinfektan
2. Pemilihan Ternak
Kelinci yang akan digunakan sebagai objek penelitian diseleksi terlebih
dahulu dengan syarat seleksi sebagai berikut : kelinci dalam keadaan sehat, tidak
cacat dilihat dari bentuk kaki yang lurus dan lincah, ekor melengkung ke atas
lurus merapat ke bagian luar mengikuti tulang punggung, telinga lurus ke atas,
mata jernih dan bulu mengkilat. Sebelum kelinci dimasukkan ke dalam kandang,
dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan awal dari masing-masing
kelinci kemudian dilakukan random (pengacakan) yang bertujuan untuk
memperkecil nilai keragaman. Lalu kelinci dimasukkan ke dalam kandang
sebanyak 1 ekor per unit penelitian.
3. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Ragi Tape
Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi
dijelaskan pada skema berikut :
1 kg tepung ampas kelapa
Diautoclave selama 15 menit dengan suhu 1210C
Ditambahkan air 800 ml
Ditaburkan ragi tape sebanyak 18 g
Diaduk sampai homogen
Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi, kemudian difermentasi secara aerob selama 6 hari
Dioven selama 24 jam dengan suhu 600C
Digiling dan disimpan
4. Pengolahan Tepung Ampas Kelapa Fermentasi dengan Aspergillus niger
Pengolahan ampas kelapa hingga menjadi ampas kelapa fermentasi
dijelaskan pada skema berikut :
Tepung ampas kelapa 1 kg
Ditambahakan 800 ml air
Ditambahkan Zeolit 45 g dan Aspergillus niger 18 g
Diaduk sampai dengan homogen
Dimasukkan ke dalam kotak fermentasi
Fermentasi secara aerob pada suhu kamar (250C) selama 6 hari
Dioven selama 24 jam dengan suhu 600C
Digiling dan disimpan
Sumber : Modifikasi Muhsafaat et al. (2015)
5. Penyusunan Pakan dalam bentuk Pelet
Bahan penyusun konsentrat yang digunakan terdiri atas tepung ampas
kelapa, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak padi, tepung ikan, mineral dan
molases. Bahan yang digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan
formulasi pelet yang telah sesuai dengan level perlakuan. Untuk menghindari
ketengikan, pencampuran dilakukan satu kali dalam 3 minggu. Berikut susunan
Tabel 6. Susunan dan komposisi ransum
Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum, penggantian air minum dilakukan pada pagi dan sore hari. Obat-obatan dan vitamin diberikan sesuai
dengan kebutuhan kelinci seperti Wormectin untuk obat cacing dan scabies dengan dosis 0,02 ml/kg bobot kelinci, pemberiannya dengan cara menyuntikkan
di bagian subkutan, anti bloat untuk obat mencret dan kembung dengan dosis 1
sendok teh untuk 1-3 ekor kelinci, pemberiannya melalui mulut. Pelet diberikan
pukul 08.00 WIB dan pukul 16.00 WIB dan hijauan diberikan 1 jam setelah
pemberian pelet.
7. Pengambilan Data
1. Bobot potong diperoleh dengan cara penimbangan bobot akhir kelinci setelah
2. Bobot karkas adalah bobot yang diperoleh dari hasil penimbangan dari daging
bersama tulang kelinci yang telah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal
leher dan dari kaki sampai batas pergelangan kaki, isi rongga perut, darah,
ekor dan kulit.
3. Persentase bobot karkas diperoleh dengan cara membagikan bobot karkas
dengan bobot potong dikali 100%.
4. Persentase lemak abdomen diperoleh dari bobot lemak abdomen dibandingkan
dengan bobot potong dikali 100%.
Analisis Data
Data yang diperoleh selama penelitian dari setiap perlakuan dianalisis
dengan perbandingan linear ortogonal kontras sehingga diperoleh informasi
perlakuan terbaik. Dari 6 perlakuan dapat disusun 5 perbandingan linear ortogonal
kontras sebagai berikut :
Tabel 7. Perbandingan linear ortogonal kontras antar perlakuan penelitian
Perlakuan Keterangan
P0AP0B vs P1P2P3P4 Ransum dengan ampas kelapa non fermentasi
dibandingkan dengan ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape
P0A vs P0B Ransum dengan 10% ampas kelapa tanpa fermentasi
dibandingkan dengan 20% ampas kelapa tanpa fermentasi
P1P2 vsP3P4 Ransum dengan ampas kelapa fermentasi Aspergillus
niger dibandingkan dengan ampas kelapa fermentasi ragi tape
P1 vsP2 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi
Aspergillus niger dibandingkan dengan 20% ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger
P3 vsP4 Ransum dengan 10% ampas kelapa fermentasi
Pembanding linear ortognal kontras menggunakan persyaratan sebagai
berikut :
1. Jumlah koefisien pembanding sama dengan nol (Ʃki=0)
2. Jumlah perkalian koefisien dua pembanding sama dengan nol (Ʃki ki=0)
3. Jumlah kuadrat
Qi = Jumlah perkalian koefisien pembanding sama dengan total tiap perlakuan
R = Ulangan
Ʃki= Kuadrat koefisien pembanding
Tabel 8. Sidik ragam
SK Db JK KT Fhit F 5% F 1%
Perlakuan t-1 JKP JKP/db KTP/KTG
P0AP0B vs P1P2P3P4 1 JK1 JK1 JK1/KTG
P0A vs P0B 1 JK4 JK4 JK4/KTG
P1P2 vsP3P4 1 JK5 JK5 JK5/KTG
P1 vsP2 1 JK6 JK6 JK6/KTG
P3 vsP4 1 JK7 JK7 JK7/KTG
Galat Rt-t JKG KTG
Kaidah Keputusan
- Bila F hit < F 0,05 : perlakuan tidak berbeda nyata (terima H0/tolak H1)
- Bila F hit ≥ F 0,05 : perlakuan berbeda nyata (tolak H0/terima H1)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bobot Potong
Bobot potong diperoleh dari hasil penimbangan bobot akhir kelinci setelah
dipuasakan selama 7 jam. Data rataan bobot potong kelinci Rex jantan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Rataan bobot potong kelinci Rex jantan (g/ekor)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4 Rataan 1.876,33 1.865,17 1.986,17 1.994,67 7.722,33 1.930,58
Dari Tabel 9 di atas dapat dilihat data rataan bobot potong tertinggi adalah
2.104,75g (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P0B (2.068,75 g),
perlakuan P0A (1.918,75 g), perlakuan P1 (1.925,00 g), perlakuan
P4 (1889,75 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (1676,50 g). Tabel 9 di atas
juga menunjukkan rataan umum bobot potong adalah sebesar 1.930,58 g. Angka
tersebut hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Setiawan (2009) yaitu 1943,33 g. Hal ini disebabkan karena bobot potong yang
digunakan pada penelitian ini menggunakan kisaran bobot potong yang sama.
Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa penggunaan ampas
ransum yang palatabel. Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat
konsumsi pakan (Kartadisastra, 1997). Ransum dengan ampas kelapa yang
difermentasi dengan ragi tape lebih disukai kelinci karena aromanya yang lebih
wangi dibandingkan dengan ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger. Pada penelitian yang dilakukan oleh Lase (2016), konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa
fermentasi ragi tape 10% dan terendah pada perlakuan yang menggunakan ransum
dengan tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger 20%. Tabel 10. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot potong
SK dB JK KT F Hit F Tabel
Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang
menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik
dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa
fermentasi terhadap bobot potong kelinci. Diantara perlakuan yang menggunakan
ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi, tepung ampas kelapa yang
difermentasi ragi tape menunjukkan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot
potong kelinci dibandingkan dengan fermentasi Aspergillus niger. Hal tersebut bisa dilihat dari data rataan bobot potong pada perlakuan yang menggunakan
ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape menunjukkan angka
kelapa fermentasi Aspergillus niger, terutama pada perlakuan P3 yaitu ransum
dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape. Jadi perlakuan P3 lebih
baik dibandingkan perlakuan lainnya.
Pada perlakuan yang menggunakan ransum dengan 10% tepung ampas
kelapa fermentasi ragi tape memiliki tingkat konsumsi tertinggi dibandingkan
perlakuan lainnya sehingga konsumsi protein juga lebih banyak dan dapat
meningkatkan bobot potong. Scott et al. (1982), menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan dengan konsumsi pakan. Konsumsi
pakan yang semakin tinggi akan mengakibatkan kenaikan konsumsi protein
sehingga pertumbuhan ternak semakin baik dan akan meningkatkan bobot potong
yang dihasilkan.
Tepung ampas kelapa yang difermentasi memiliki kandungan protein yang
lebih tinggi dibandingkan tepung ampas kelapa yang tidak difermentasi. Protein
memiliki peranan penting dalam proses metabolisme tubuh yang akan
meningkatkan bobot potong. Selama proses fermentasi berlangsung akan
meningkatkan kadar protein yang disebabkan karena adanya aktivitas
mikroorganisme yang memecah karbohidrat pada substrat. Hidayati et al. (2013), menyatakan bahwa kadar protein meningkat selama proses fermentasi disebabkan
adanya aktivitas mikroorganisme optimal melakukan pemecahan karbohidrat.
Tillman et al. (1991), menyatakan bahwa ransum yang dikonsumsi oleh ternak diasimilasikan untuk perbaikan dan sintesa jaringan baru atau produksi daging.
Bobot potong yang tinggi pada perlakuan yang menggunakan ransum
dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi disebabkan karena adanya indikasi
ampas kelapa yang tidak difermentasi tinggi yang dapat menyebabkan
pembentukan lemak pada tubuh ternak meningkat. Subekti (2007), menyatakan
bahwa pada peningkatan bobot berat terdapat indikasi kegemukan, persentase
lemak, lemak ginjal dan lemak pelvis meningkat.
Bobot Karkas
Bobot karkas adalah bobot dari hasil penimbangan bagian tubuh yang
sudah disembelih dipisahkan kepala, jari sampai pergelangan kaki, kulit, ekor,
jeroan (usus, jantung, hati dan ginjal) (Kartadisastra, 1998). Data rataan bobot
karkas kelinci Rex jantan hasil penelitian ditunjukkan pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Rataan bobot karkas kelinci Rex jantan (g/ekor)
Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat data rataan bobot karkas tertinggi
adalah 1.088,00 g (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan
P0b (1.025,75 g), perlakuan P4 (961,25 g), perlakuan P0A (932,75 g), perlakuan
P1 (913,00 g) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (725,75 g). Tabel 11 di atas
juga menunjukkan rataan umum bobot karkas adalah sebesar 941,42 g. Angka
tersebut lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Setiawan (2009), yaitu
sebesar 1.000,16 g. Hal ini dipengaruhi oleh genetik, asupan nutrisi dan
lingkungan. Asupan nutrisi akan mempengaruhi pertambahan bobot badan yang
Perlakuan Ulangan Total Rataan
dilanjutkan berpengaruh ke bobot potong. Selain itu lingkungan juga sangat
mempengaruhi bobot potong. Jika lingkungan mendukung bagi keamanan dan
kenyamanan ternak maka bobot hidup ternak akan meningkat secara optimal,
sebaliknya jika keadaan lingkungan kurang mendukung bagi ternak, maka
pertumbuhan ternak akan kurang optimal sebab kelinci merupakan salah satu
ternak yang sangat mudah mengalami stress.
Berdasarkan hasil analisis ragam diketahui bahwa pemberian ampas
kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap bobot karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot potong yang tinggi pada kelinci sehingga bobot karkas yang
dihasilkan juga tinggi. Muryanto dan Prawirodigdo (1993), menyatakan bahwa
bobot potong yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula.
Semakin tinggi bobot potong maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya.
Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan
bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh.
Tabel 12. Pembandingan ortogonal kontras terhadap bobot karkas
SK dB JK KT F Hit F Tabel
Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang
menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik
kelapa yang tidak difermentasi. Dan diantara kedua ransum yang menggunakan
tepung ampas kelapa fermentasi, ransum yang menggunakan tepung ampas kelapa
fermentasi ragi tape yang terbaik karena bobot karkas yang dihasilkan lebih tinggi
daripada perlakuan yang menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi
Aspergillus niger.
Perbedaan bobot karkas pada setiap perlakuan disebabkan oleh kandungan
zat makanan yang terdapat dalam ransum yang berbeda, seperti lemak dan protein.
Tepung ampas kelapa fermentasi memiliki kandungan protein tinggi dan lemak
rendah dibandingkan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi. Hal ini dikarenakan
pada saat fermentasi, terjadi peningkatan kadar protein dan penurunan kadar
lemak. Howard et al. (2003), menyatakan bahwa selama proses fermentasi mikroba akan mengeluarkan enzim dimana enzim tersebut adalah protein dan
mikroba itu sendiri juga merupakan sumber protein sel tunggal. Selain itu, pada
proses fermentasi akan menghasilkan enzim lipase yang berperan memecah
lemak. Enzim lipase merupakan enzim yang dapat menghidrolisis rantai panjang
trigliserida (Dali et al., 2009). Peningkatan jumlah enzim dan populasi mikroba akan meningkatkan kadar protein kasar dan menurunkan kadar lemak ampas
kelapa. Protein akan dimanfaatkan ternak dalam proses metabolisme tubuh untuk
meningkatkan proporsi daging. Lemak juga mempengaruhi bobot karkas, apabila
kandungan lemak meningkat maka bobot karkas yang dihasilkan juga akan
meningkat. Seebeck dan Tulloh (1968), menyatakan bahwa distribusi lemak
sangat mempengaruhi proporsi jaringan otot karkas sebab proporsi daging dan
tulang akan berkurang sedangkan komponen lemak bertambah dengan
Persentase Karkas
Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot
hidup dikali 100% (Soeparno, 1994). Data rataan persentase karkas dapat dilihat
pada Tabel 13 di bawah ini :
Tabel 13. Rataan persentase karkas kelinci Rex jantan (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4
Dari Tabel 13 di atas dapat dilihat data rataan persentase karkas tertinggi
adalah 51,65% (P3), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan
P0B (50,42%), perlakuan P4 (48,95%), perlakuan P0A (48,62%), perlakuan
P1 (47,43%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (43,25%). Gambar 10 di atas
juga menunjukkan rataan umum persentase karkas adalah sebesar 48,39%. Angka
ini sesuai dengan pernyataan Farel dan Raharjo (1984), yang menyatakan bahwa
kelinci jantan dapat menghasilkan karkas sebanyak 43-52% dan betina 50-59%
dari berat hidupnya.
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas
kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase karkas kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena bobot karkas yang tinggi akan menghasilkan persentase karkas yang tinggi
pula. Hal ini didukung oleh pendapat Soeparno (1994), yang menyatakan bahwa
akan diikuti dengan peningkatan bobot karkas yang dihasilkan, selain itu
persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur potong dan jenis kelamin.
Tabel 14. Pembandingan ortogonal kontras terhadap persentase karkas
SK dB JK KT F Hit 0,05 0,01 F Tabel
Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang
menggunakan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik terhadap persentase
karkas dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung
ampas kelapa tanpa fermentasi. Dilihat dari data rataan persentase karkas,
persentase karkas yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa
fermentasi ragi tape memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan
perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi
Aspergillus niger.
Perlakuan yang menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa
fermentasi terbaik terdapat pada level pemberian 10% terhadap persentase karkas.
Hal ini disebabkan karena kandungan nutrisi pada ransum dengan level 10% lebih
baik dibandingkan 20%, selain itu persentase karkas pada perlakuan 10% juga
lebih tinggi dibandingkan 20%. Selain dipengaruhi oleh kandungan nutrisi pada
ransum, persentase karkas juga dipengaruhi oleh bobot potong dan bobot karkas.
Soeparo (1994), menyatakan bahwa persentase karkas adalah perbandingan antara
ternak potong sebenarnya, karena dalam bobot hidup masih terdapat saluran
pencernaan dan organ dalam yang beratnya untuk masing-masing ternak berbeda.
Lemak Abdominal
Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan bobot
lemak abdomen dengan bobot hidup dikalikan 100 (Witantra, 2011). Data rataan
persentase lemak abdominal dapat dilihat pada Tabel 15. berikut :
Tabel 15. Rataan persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4
P0A 1,39 1,47 1,40 1,38 5,64 1,41
P0B 2,47 2,47 2,47 2,51 9,92 2,48
P1 1,06 0,99 1,08 1,13 4,26 1,06
P2 1,02 0,90 0,98 1,02 3,92 0,98
P3 1,02 0,98 1,01 1,15 4,16 1,04
P4 1,21 1,11 0,91 1,06 4,29 1,07
Total 8,17 7,92 7,85 8,25 32,19 8,05
Rataan 1,36 1,32 1,31 1,38 5,37 1,34
Dari Gambar 11 di atas dapat dilihat data rataan persentase lemak
abdominal tertinggi adalah 2,52% (P0B), kemudian disusul berturut-turut oleh
perlakuan P0A (1,41%), perlakuan P4 (1,10%), perlakuan P3 (1,07%), perlakuan
P1 (1,05%) dan rataan terendah yaitu perlakuan P2 (0,98%). Tabel di atas juga
menunjukkan rataan umum persentase lemak abdominal adalah sebesar 1,35%.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pernyataan
Brahmantiyo dan Raharjo (2009), yang menyatakan bahwa persentase lemak
abdominal pada kelinci Rex jantan yaitu 3,13% dengan bobot potong 2.711,44 g. Hal ini dipengaruhi oleh bobot potong kelinci tersebut. Pada penelitian ini rataan
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa pemberian ampas
kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase lemak abdominal kelinci Rex jantan, hal ini disebabkan karena kandungan lemak yang tinggi pada ransum yang
mengakibatkan kelebihan energi sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal
oleh tubuh. Hal ini didukung dengan pernyataan Noviana et al. (2015), yang menyatakan bahwa lemak abdominal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan,
perkembangan dan kelebihan lemak akan menyebabkan kelebihan energi di dalam
tubuh yang tidak bisa dimanfaatkan dengan sempurna. Kelebihan lemak ini bisa
disebabkan beberapa faktor diantaranya pemberian pakan yang mengandung
energi yang berlebih dan aktivitas/gerak yang sedikit.
Tabel 16. Pembandingan ortogonal kontras terhadap lemak abdominal
SK dB JK KT F Hit F Tabel
Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan yang
menggunakan ransum dengan tepung ampas kelapa fermentasi lebih baik
dibandingkan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi.Hal ini disebabkan
karena pada tepung ampas kelapa tanpa fermentasi masih memiliki kandungan
lemak yang cukup tinggi karena belum mengalami pemecahan susunan lemak.
Sedangkan pada tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan Aspergillus niger
saat proses fermentasi terjadi sehingga kandungan lemaknya menurun.
Dali et al. (2009), menyatakan bahwa lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolosis lemak, mono-, di-, dan trigliserida untuk
menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Hal inilah yang menyebabkan
kandungan lemak abdominal pada perlakuan yang menggunakan tepung ampas
kelapa fermentasi Aspergillus niger dan ragi tape lebih rendah dibandingkan perlakuan dengan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi.
Selain kandungan lemak dalam ransum, kandungan energi dalam ransum
juga akan mempengaruhi terjadinya pembentukan lemak abdominal. Pada ransum
yang menggunakan tepung ampas kelapa tanpa fermentasi memiliki kandungan
energi tertinggi, sehingga menyebabkan persentase lemak abdominal pada
perlakuan ini menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.
Setiawan dan Sujana (2009), menyatakan bahwa pembentukan lemak abdominal
terjadi karena adanya kelebihan energi yang dikonsumsi. Energi yang digunakan
tubuh umumnya berasal dari karbohidrat dalam tubuh mampu memproduksi
lemak tubuh yang tersimpan di sekeliling organ dalam dan di bawah kulit.
Dilanjutkan dengan pernyataan Brahmantiyo dan Raharjo (2009), perlemakan
subkutan dan abdomen kelinci akan tinggi dengan bobot potong yang tinggi.
Rekapitulasi Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian yang diperoleh selama penelitian terhadap bobot
potong, bobot karkas, persentase karkas dan persentase lemak abdominal kelinci
P0A: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P0B: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa tanpa fermentasi; P1: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P2: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi Aspergillus niger; P3: Ransum dengan 10% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape; P4: Ransum dengan 20% tepung ampas kelapa fermentasi ragi tape.
Gambar 8. Histogram rekapitulasi hasil penelitian
Pada Gambar 8 di atas menunjukkan perlakuan P3 terbaik pada bobot
potong, bobot karkas, persentase karkas dan lemak abdominal. Data terendah
untuk masing-masing peubah penelitian terdapat pada perlakuan P2.
1918,75 2068.75 1925,00
1676,50
2104,75
1889,75
932,75 1050,25 913,00
725,75
1088,00
900,25
48,62 50,74 47,43 43,25 51,65 47,62
1,41 2,48 1,06 0,98 1,04 1,07
0,00 500,00 1000,00 1500,00 2000,00 2500,00
P0A P0B P1 P2 P3 P4
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penggunaan tepung ampas kelapa yang difermentasi dengan ragi tape
dapat meningkatkan bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas serta dapat
menurunkan persentase lemak abdominal pada level pemakaian 10% pada kelinci
Rex jantan.
Saran