1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Mutu pelayanan merupakan faktor yang esensial dalam seluruh operasional sebuah rumah sakit. Salah satu indikator mutu yang penting adalah keselamatan pasien, disamping indikator-indikator lainnya. Mutu suatu rumah sakit tidak bisa dikatakan baik bila belum terlaksana keselamatan pasien di rumah sakit tersebut. Manajemen resiko merupakan salah satu alat yang paling penting guna terlaksananya proses manajemen mutu yang efektif.
Untuk itulah maka RS Sehat Sejahtera (RSSS) menyusun pedoman mutu dan keselamatan pasien.
1.2. TUJUAN
Sebagai dasar dari seluruh program dan sebagai acuan dari berbagai kebijakan dan prosedur terkait dengan manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien di RSSS
1.3. PENGERTIAN
1.3.1. Manajemen mutu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu dalam identifikasi dan menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan
1.3.2. Mutu Pelayanan adalah kinerja yang menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang dapat menimbulkan kepuasan pada pasien atau konsumen
1.3.3. Manajemen resiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasikan, mengevaluasi dan memprioritaskan resiko untuk mengurangi resiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan rumah sakit, pengunjung dan organisasi sendiri
1.3.4. Keselamatan Pasien
adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman untuk mencegah cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
menjalankan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil.
1.4. PRINSIP
PENYUSUNAN
DAN
PENETAPAN
PEDOMAN
MUTU,
MANAJEMEN RESIKO DAN KESELAMATAN PASIEN
Di dalam penyusunan Pedoman Ini telah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.4.1. Konsensus, berdasarkan kesepakatan bersama berbagai komponen dan departemen terkait yang secara rinci terlampir dalam daftar tim penyusun
1.4.2. Sederhana, pedoman ini disusun dengan kalimat yang mudah dimengerti dan dipahami
1.4.3. Nyata, pedoman ini disusun dengan memperhatikan dimensi ruang, waktu dan persyaratan atau prosedur teknis
1.4.4. Terukur, seluruh indikator dan standar di dalam pedoman ini dapat diukur baik kualitatif maupun kuantitatif
1.4.5. Terbuka, pedoman ini dapat diakses seluruh karyawan rumah sakit dan masyarakat umum
1.4.6. Terjangkau, pedoman ini dapat dicapai dengan menggunakan sumber daya dan dana yang tersedia
2
1.4.8. Bertahap, pedoman Ini mengikuti perkembangan kebutuhan, kemampuan keuangan, kelembagaan dan personil dalam pencapaian standar ini.
1.5.
LANDASAN & REFERENSI
1.5.1. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H ayat (1) yang menerangkan bahwa Setiap Orang Berhak Memperoleh Pelayanan Kesehatan, dan pasal 34 ayat (3) yang menerangkan bahwa Negara Bertanggungjawab atas Penyediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Umum Yang Layak.
1.5.2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 100,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3495).
1.5.3. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 116,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4431 )
1.5.4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2001 tentang Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah sakit.
1.5.5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal
1.5.6. Peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 159b/Menkes/SK/Per/II/1988 tentang Rumah sakit.
1.5.7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 986/Menkes/Per/XI/1992, tentang Persyaratan kesehatan Lingkungan Rumah sakit.
1.5.8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1575/Menkes/per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata kerja Departemen Kesehatan.
1.5.9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit.
1.5.10. Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 1998.
1.5.11. Indikator Kinerja Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 2005
1.5.12. Standar Pelayanan Minimal Rumah sakit, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI tahun 2008
1.6.
KEBIJAKAN
1.6.1. Pelaksanaan Manajemen Mutu, Manajemen Resiko dan Keselamatan Pasien di RS Sehat Sejahtera harus disesuaikan dengan peraturan pemerintah yang berlaku dan standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan
1.6.2. Direktur membentuk Departemen Mutu, Manajemen Resiko dan Keselamatan untuk mengelola upaya manajemen mutu, resiko dan keselamatan yang koordinasinya langsung di bawah Direktur atau yang didelegasikan oleh direktur.
1.6.3. Aktivitas Manajemen Mutu, Resiko dan Keselamatan Pasien meliputi perencanaan, pencatatan, pengumpulan, pelaporan data data Indikator Mutu, identifikasi dan pengkajian resiko penanganan dan pendokumentasian Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cidera (KNC) dan Sentinel Event serta ada analisa, rekomendasi, tindak lanjut dan evaluasinya, audit dan modifikasi proses dan berbagai aktivitas lain.
1.6.4. Untuk pelaksanaan manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien, di setiap unit pelayanan, dibentuk Safety, Quality dan Infection Control Officer(PMK)
3
1.8. RUANG LINGKUP
1.8.1. Planning
1.8.1.1. Penyusunan Pedoman Manajemen Mutu, Manajemen Resiko dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit
1.8.1.2. Koordinasi dengan: Dewan Direksi Komite Medik Komite Keperawatan
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja Para Senior Manager
Para Manager dan Supervisor
1.8.1.3. Penyusunan berbagai Kebijakan dan Prosedur
1.8.1.4. Penyusunan berbagai program manajemen mutu, manajemen resiko dan keselamatan pasien.
1.8.1.5. Pengorganisasian kegiatan dan aktivitas.
1.8.2. Action
1.8.2.1. Pelaksanaan manajemen mutu , resiko dan keselamatan pasien di seluruh unit / departemen / direktorat di RSSS
1.8.2.2. Pendidikan dan pelatihan di bidang manajemen mutu , resiko dan keselamatan pasien untuk seluruh staf rumah sakit
1.8.3. Monitoring
RSSS melakukan monitoring indikator mutu pelayanan dan proses manajerial yang ditetapkan, pelaksanaan pengelolaan resiko, pencatatan KTD, KNC dan sentinel event.
1.8.4. Evaluasi
Pada prinsipnya merupakan upaya pengolahan data hasil monitoring yang dilakukan oleh manajemen Mutu/SPI bersama jajaran manajemen lain yang terkait.
1.8.5. Continuous Improvement
Merupakan tindak lanjut (rekomendasi dan pelaksanaan rekomendasi) dari hasil pengolahan data pada tahap evaluasi. Wujudnya dapat berupa suatu project, program tahunan, atau revisi dari sistem (kebijakan dan prosedur) dan lain-lain
1.9. METODA
1.9.1.
Metoda pengumpulan data yang terdiri dari :
Survey
Dapat dilaksanakan melalui kuesioner atau interview secara langsung maupun melalui telepon, terstruktur atau tidak terstruktur
Observasi
Dilakukan terhadap asuhan pasien, meliputi observasi terhadap status fisik dan perilaku pasien, serta proses manajerial.
Pelaporan / Surveillance
Goal dari metode pengumpulan data ini adalah tersedianya data, baik data mentah maupun data yang telah diolah (misalkan indikator).
1.9.2.
Metoda analisa data yang terdiri dari
Audit / Investigasi4
Adalah pengawasan yang dilakukan terhadap masukan (input), proses, lingkungan dan keluaran (output), apakah dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh RSSS.
Review
Merupakan penilaian terhadap standar/sistem yang berlaku di RSSS. Penilaian dilakukan dengan menilai isi dokumen yang ada (SOP/SPO, UT, Clinical Practice Guideline, Clinical Pathway, SK Direktur, Bylaws) apakah sudah memenuhi standar / kebijakan yang berlaku lokal maupun nasional.
Goal dari metoda analisa data ini adalah tersedianya rekomendasi untuk perbaikan standar / sistem.
5
BAB 2
PENGORGANISASIAN
2.1. KEPEMIMPINAN & KOMITMEN
Prasyarat keberhasilan program peningkatan mutu, manajemen resiko dan keselamatan pasien rumah sakit adalah komitmen top-down dari Governing Body dan Manajemen Senior. Manajemen RSSS memiliki komitmen untuk memastikan bahwa semua sumber daya yang dibutuhkan tersedia dalam upaya menerapkan program peningkatan mutu , manajemen resiko dan keselamatan pasien yang efektif.
2.2. STRUKTUR ORGANISASI
2.3. PENGORGANISASIAN.
2.3.1. Direksi bertanggungjawab dalam menyusun perencanaan manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien rumah sakit dan meminta persetujuan dari presiden direktur. Perencanaan tersebut meliputi pembuatan pedoman, penetapanprioritas atas kegiatan-kegiatan. penetapan prioritas pemantauan kegiatan, penetapan proses atau mekanisme pengawasan terhadap program peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
2.3.2. Direksi bertanggungjawab dalam penyelenggaraan manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien rumah sakit sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
2.3.3. Penyelenggaraan mutu pelayanan dan manajemen resiko rumah sakit sesuai standar yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.3.1 secara operasional dikoordinasikan oleh Departemen Resiko, Mutu & Keselamatan serta Satuan Pengawas Internal RS Sehat Sejahtera
2.3.4. Direksi berpartisipasi dalam pemantauan program manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien
2.3.5. Direksi bertanggung jawab untuk melaporkan hasil program manajemen mutu, resiko dan keselamatan pasien kepada presiden direktur.
2.3.6. Pimpinan RSSS memahami pentingnya teknologi untuk mengumpulkan dan membandingkan hasil pemantauan serta menyediakan teknologi dan fasilitas , sesuai dengan sumber daya rumah sakit.
2.4. URAIAN TUGAS
2.4.1.
Manajer Resiko, Mutu dan Keselamatan
2.4.1.1. Tugas & WewenangAspek Perencanaan
1. Melakukan analisis manajemen resiko, mutu dan keselamatan pelayanan di rumah sakit
2. Menyusun perencanaan dan pedoman di bidang manajemen resiko, mutu dan keselamatan pelayanan di rumah sakit
3. Melakukan koordinasi dengan seluruh direktorat, departemen, unit berkaitan dengan manajemen resiko, mutu dan keselamatan pelayanan di rumah sakit
Aspek penggerakan dan pengawasan
6
5. Memimpin aktivitas pengumpulan data indikator mutu, bekerja sama dengan komite dan direktorat / departemen / unit terkait.
6. Melakukan sosialisasi dan meningkatkan kesadaran seluruh staf RSSS akan mutu dan keselamatan pelayanan di rumah sakit
Aspek evaluasi dan tindak lanjut.
7. Melakukan evaluasi terhadap aktivitas manajemen resiko, mutu dan keselamatan di seluruh unit / departemen / direktorat dan komite.
8. Mendesain atau me-redesain proses sesuai kaidah manajemen resiko, mutu dan keselamatan pelayanan di rumah sakit
9. Merencanakan pelatihan yang diperlukan guna perbaikan mutu, keselamatan dan pengendalian resiko.
2.4.1.2. Kualifikasi
1. Berizasah sekurang-kurangnya dokter umum
2. Lebih diutamakan jika S2 dibidang K3/Manajemen Resiko/Mutu 3. Sekurang kurangnya berpengalaman 3 tahu di bidang manajemen
Resiko, Mutu dan Keselamatan
4. Pernah mengikuti pelatihan Hyperkes, Manajemen Mutu, dan Manajemen Resiko
2.4.2.
Koordinator Satuan Pengawas Internal
2.4.2.1. Tugas1. Melakukan pengawasan untuk memastikan pelayanan yang dilakukan di RS Sehat Sejahtera adalah berdasarkan prosedur/kebijakan yang telah disahkan oleh Direktur.
2. Melakukan pengawasan di Department atau Unit terkait untuk memastikan bahwa semua pelayanan dijalankan secara efektif dan efesien dengan kualitas pelayanan terbaik kepada pasien
3. Melakukan pemeriksaan samar atau pemeriksaan langsung tiba-tiba ke Unit organisasi tertentu
4. Membuat jadual dengan atau menghubungi langsung pejabat unit organisasi yang bersangkutan dalam rangka mencari tahu yang lebih rinci atas suatu praduga.
5. Menyusun laporan dan menyampaikannya kepada Direktur atas hasil temuan dari pelaksanaan pengawasannya berdasarkan hasil deteksi observasi pemeriksaan langsung dan memberikan pandangan, dan saran. 6. Menjaga hubungan kerja yang harmonis dengan para bawahannya dan
dengan unit-unit organisasi lain yang terkait.
7. Terus-menerus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan diri yang berkaitan dengan peningkatan mutu kinerja klinis dan pelayanan.
8. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direktur 2.4.2.2. Wewenang
1. Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan
2. Melakukan pemeriksaan samar atau pemeriksaan tiba-tiba langsung keseluruh atau kesebagian jenjang dan jajaran organisasi Rumah sakit dengan pengetahuan Direktur
3. Meminta keterangan dari petugas di dalam semua unit organisasi Rumah Sakit maupun pihak luar yang terkait , sehubungan dengan pelaksanaan fungsi pengawasan
7
4. Melapor, memberi pandangan dan saran yang berkenaan dengan ketidaksesuaian atau ketidaktepatan pelaksanaan Misi Rumah Sakit, Kebijakan Rumah Sakit, Strategi Rumah Sakit, Program Kerja Rumah Sakit dan Standar Operasional Prosedur tiap-tiap Unit di RS Sehat Sejahtera kepada Direktur, berdasarkan hasil deteksi/observasi/pemeriksaan yang obyektif.
5. Melapor segera mengenai adanya penyimpangan besar yang dilakukan oleh petugas kepada Direktur
6. Memberitahu langsung kepada Senior Manager/Manager/Supervisor adanya penyimpangan kecil yang dilakukan petugas-petugasnya dengan ditembuskan kepada Direktur
7. Menilai prestasi kerja dan konduite para bawahannya serta memberikan usul kenaikan gaji dan promosi/mutasi/pendidikan dan pelatihan, pemutusan hubungan kerja berdasarkan penilaian tersebut 8. Mendelegasikan tugas-tugas pengendalian intern maupun tugas
kerja insidentil lainnya kepada bawahannya
9. Memberi peringatan lisan kepada bawahannya mengenai pelaksanaan kerja maupun perilaku
10. Menginformasikan kepada Departemen HRD mengenai perlunya dikirim Surat Peringatan Tertulis kepada para bawah
2.4.2.3. Kualifikasi
1. Sarjana Kesehatan atau Dokter
2. Lebih diprioritaskan Master Degree (S2) di bidang Administrasi Rumah Sakit atau Pelayanan Kesehatan.
3. Berpengalaman sekurang-kurangnya 3 tahun dalam bidang Manajemen Rumah Sakit
4. Jika belum menggenapi persyaratan minimal, keputusan akhir ditentukan oleh kebijakan khusus Direktur
2.4.3.
Petugas Mutu dan Keselamatan (PMK)
2.4.3.1. Tugas & WewenangSafety :
1. Berpartisipasi dan berkontribusi terhadap pengembangan program Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) dan Keselamatan Pasien di RS Sehat Sejahtera.
2. Melakukan monitoring terhadap jalannya program program Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) dan Keselamatan Pasien di Unit masing-masing.
3. Mencatat dan melaporkan kejadian tidak diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cidera (KNC) dan kejadian sentinel (sentinel event) yang terjadi di Unitnya masing-masing kepada Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS)
4. Mencatat dan melaporkan kejadian kecelakaan kerja yang terjadi di Unitnya masing-masing kepada Tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS)
5. Melakukan pembinaan tentang pelaksanaan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keselamatan pasien pada setiap personil ruangan di unit rawatnya masing masing.
8
1. Melakukan monitoring aplikasi standar pelayanan dan memastikan pelayanan yang dilakukan sesuai dengan prosedur/kebijakan yang telah disahkan oleh Direktur.
2. Berpartisipasi dan berkontribusi terhadap pengembangan program Mutu di RS Sehat Sejahtera.
3. Melakukan monitoring terhadap jalannya program mutu di unit masing-masing.
4. Menunjang supervisor di unitnya dalam mengkoordinir pelayanan yang efisien dan efektif dalam mencapai kualitas standarisasi international. 5. Memberikan masukan dalam penyusunan perencanaan strategis di
unitnya masing-masing.
6. Melakukan pendataan indikator klinis, indikator mutu dan indikator kinerja di Unit masing-masing.
7. Melakukan pembinaan tentang pelaksanaan kepatuhan terhadap standar pelayanan pada setiap personil ruangan di unit rawatnya masing masing. 8. Melaporkan kegiatan dan temuan yang berkaitan mutu ke Departement
Quality, Koordinator Satuan Pengawas Internal, dan supervisor unit terkait
Infection Control :
1. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiap pasien di unit rawat inap masing-masing, kemudian menyerahkannya kepada IPCN (Infection Prevention And Control Nurse), ketika pasien pulang.
2. Melakukan pembinaan tentang pelaksanaan kepatuhan pencegahan dan pengendalian infeksi pada setiap personil ruangan di unit rawatnya masing masing.
3. Memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan terjadinya infeksi nosokomial pada pasien.
4. Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi Kejadian Luar Biasa (KLB) Nosokomial, memberi penyuluhan bagi pengunjung di ruang rawatnya masing-masing, konsultasi prosedur yang harus dijalankan bila belum dipahami.
5. Memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang lain dalam menjalankan prosedur
2.4.3.2. Kualifikasi
1. Pendidikan minimal D3
2. Sudah bekerja di RS Sehat Sejahtera minimal 1 tahun
3. Mempunyai komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan kualitas keselamatan pasien dan karyawan secara berkesinambungan. 4. Mempunyai kemampuan mengumpulkan, mengolah dan menyajikan
9
BAB 3
MANAJEMEN MUTU
3.1. PENGERTIAN
Mutu adalah tingkat kesempurnaan penampilan dari sesuatu yang diamati atau derajat kepatuhan terhadap standar yang ditentukan terlebih dahulu.
Manajemen mutu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu dalam identifikasi dan menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan
3.2. TUJUAN
Tujuan progran manajemen mutu mencakup dua hal yang bersifat pokok, yaitu sebagai berikut :
3.2.1.
Tujuan Antara
Tujuan antara yang hendak dicapai oleh manajemen mutu ialah diketahuinya mutu pelayanan melalui aktivitas kendali mutu (quality control) dan manajemen mutu (quality asurance).
3.2.2.
Tujuan Akhir
Tujuan akhir yang hendak dicapai oleh manajemen mutu ialah semakin meningkatnya mutu pelayanan (quality improvement)
3.3. MANFAAT
3.3.1. Dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan
Peningkatan efektifitas yang dimaksud erat hubungannya dengan dapat diselesaikannya masalah yang tepat dengan cara penyelesaian masalah yang benar. Karena dengan diselenggarakannya manajemenmutu (quality assurance) dapat diharapkan pemilihan masalah telah dilakukan secara tepat serta pemilihan dan pelaksanaan cara penyelesaian masalah telah dilakukan secara benar
3.3.2. Dapat lebih meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan
Peningkatan efesiensi yang dimaksud erat hubungannya dengan dapat dicegahnya penyelenggaraan pelayanan yang berlebihan atau yang di bawah standar. Biaya tambahan karena pelayanan yang berlebihan atau karena harus mengatasi berbagai efek samping karena pelayanan yang di bawah standar akan dapat dicegah.
3.3.3. Dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
Peningkatan penerimaan masyarakat ini erat hubungannya dengan telah sesuainya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan.
3.3.4. Dapat melindungi pelaksanaan pelayanan kesehatan dari kemungkinan munculnya gugatan hukum
Dengan terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, yang akan berdampak pada peningkatan kepuasan para pemakai jasa pelayanan kesehatan dan tentunya akan melindungi kemungkinan munculnya gugatan hukum dari masyarakat yang tidak puas terhadap pelayanan kesehatan.
3.4. SYARAT
10
Dalam artian jelas sasaran, tujuan dan tata cara pelaksanaannya serta diarahkan untuk hal-hal yang bersifat pokok saja, oleh karena itu perlu disusun dahulu rencana kerja manajemen mutu
3.4.2. Mampu Melaporkan Setiap Penyimpangan
Kemampuan untuk melaporkan setiap penyimpangan secara tepat, cepat dan benar, oleh karena itu suatu manajemen mutu harus mempunyai mekanisme umpan balik yang baik
3.4.3. Fleksibel dan Berorientasi Pada Masa Depan
Manajemen mutu yang terlalu kaku dalam arti tidak tanggap terhadap setiap perubahan, bukanlah manajemen mutu yang baik.
3.4.4. Mencerminkan dan Sesuai Keadaan Organisasi
Manajemen mutu yang berlebihan dan terlalu dipaksakan sehingga tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak akan ekonomis dan karena itu bukanlah suatu program yang baik.
3.4.5. Menghasilkan peningkatan mutu
Manajemen mutu harus menghasilkan peningkatan mutu secara terus menerus.
3.4.6. Mudah Dilaksanakan
Itulah sebabnya sering dikembangkan manajemen mutu mandiri (self assesment). Dan sebaiknya program tersebut dilakukan secara langsung, dalam arti dilaksanakan oleh pihak-pihak yang melaksanakan pelayanan kesehatan
3.4.7. Mudah Dimengerti
Manajemen mutu yang berbelit-belit atau yang hasilnya sulit dimengerti, bukanlah program yang baik.
3.5. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN MUTU
Manajemen mutu harus melibatkan setiap orang yang berada dalam organisasi untuk meningkatkan pelayanan yang terus menerus dimana mereka akan memenuhi kebutuhan standar dan harapan dari pada pelanggan baik pelanggan intern ataupun pelanggan ekstern.
Manajemen mutu didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Setiap orang di dalam organisasi harus dilibatkan dalam penentuan, pengertian dan peningkatan proses yang berkelanjutan dengan masing-masing kontrol dan tanggung jawab dalam setiap mutu yang dihasilkan oleh masing-masing orang
b. Setiap orang harus sepakat untuk memuaskan masing-masing pelanggan, baik pelanggan eksternal maupun pelanggan internal
c. Peningkatan mutu dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah yaitu dengan menggunakan data untuk pengambilan keputusan, penggunaan alat-alat statistik, dan keterlibatan setiap orang yang terkait
d. Adanya pengertian dan penerimaan terhadap suatu perbedaan yang alami
e. Pembentukan team work, baik dalam part time team work, full time team work, ataupun cross funtional team.
f. Adanya komitmen tentang pengembangan karyawan melalui keterlibatan di dalam pengambilan keputusan
g. Partisipasi dari pada setiap orang dalam kegiatan merupakan dorongan yang positif dan harus dilaksanakan
h. Program pendidikan dan pelatihan dianggap sebagai suatu investasi/modal dalam rangka pengembangan kemampuan dan pengetahuan pegawai untuk mencapai potensi mereka i. Supliers dan customer diintegrasikan dalam proses peningkatan mutu
3.6. BENTUK MANAJEMEN MUTU DI RSSS
11
Prospective QM
Concurent QM
Retrospective QM
Manajemen mutu Prospektif (Prospective Quality Manajemen)
Adalah manajemen mutu yang diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditunjukan pada standar masukan (input) dan standar lingkungan (environment) yaitu pemantauan dan penilaian terhadap tenaga pelaksana, sarana, dana, disamping terhadap kebijakan, organisasi dan manajemen.
Manajemen mutu Konkuren (Concurent Quality Manajemen)
Adalah manajemen mutu yang diselenggarakan bersamaan dengan pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditujukan pada proses, yakni memantau dan menilai tindakan medik, keperawatan dan non medik yang dilakukan.
Manajemen mutu Retrospektif (Retrospective Quality Manajemen)
Adalah manajemen mutu yang diselenggarakan setelah pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditujukan pada standar keluaran, maka obyek yang dipantau dan dinilai bersifat tidak langsung, dapat berupa hasil kerja pelaksana pelayanan atau berupa pandangan pemakai jasa kesehatan.
3.7. TAHAPAN MANAJEMEN MUTU
3.7.1. Menetapkan masalah mutu
Yang dimaksud dengan masalah mutu adalah kesenjangan antara penampilan masalah pelayanan kesehatan atau proses manajerial dengan standar yang telah ditetapkan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan yaitu : a. Menyusun daftar masalah
b. Melakukan konfirmasi daftar masalah c. Menetapkan prioritas masalah
d. Merumuskan pernyataan masalah e. Menetapkan sumber masalah
3.7.2. Menetapkan penyebab masalah mutu
Yang dimaksud dengan penyebab masalah mutu adalah setiap kesenjangan yang ditemukan pada setiap unsur masukan, proses dan atau lingkungan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan yaitu : a. Menyusun daftar penyebab masalah
b. Menyederhanakan daftar penyebab masalah c. Melakukan konfirmasi daftar penyebab masalah d. Melakukan urutan prioritas penyebab masalah e. Menyajikan urutan prioritas penyebab masalah
3.7.3. Menetapkan cara penyelesaian masalah mutu
INPUT
ENVIRONTMENT / LINGKUNGAN
12
Yang dimaksud dengan cara penyelesaian masalah mutu adalah setiap usaha yang dilakukan untuk meniadakan kesenjangan antara hasil akhir pelayanan kesehatan atau proses manajerial dengan standar yang telah ditetapkan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan yaitu : a. Menyusun daftar cara penyelesaian masalah b. Menetapkan prioritas cara penyelasaian masalah
3.7.4. Melaksanakan cara penyelesaian masalah mutu.
Metode penyelesaian masalah mutu (quality improvement) yang diterapkan di RSSS adalah:
a. Perencanaan (Planning) b. Pelaksanaan (Action) c. Pemantauan (Monitoring) d. Evaluasi (Evaluation)
e. Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement)
Metode di atas merupakan modifikasi dari langkah manajemen mutu yang sudah dikenal yaitu:
a. Perencanaan (Plan) b. Pelaksanaan (Do)
c. Pemeriksaan berkala (Check) d. Perbaikan & tindakan (Action)
Salah satu pertimbangannya adalah untuk mencegah kebingungan antara langkah Do dan Action, sehingga dalam metode yang dipakai di RSSS kedua langkah tersebut dibedakan penamaannya menjadi Action untuk Pelaksanaan dan Contiuous Improvement untuk Tindakan Perbaikan Berkelanjutan.
3.7.5. Melakukan penilaian tindak lanjut
Yang dimaksud dengan penilaian tindak lanjut adalah penilaian terhadap pelaksanaan cara penyelasaian masalah dan penyusunan rekomendasi untuk tindak lanjut.
Salah satu tools yang diterapkan di RSSS dalam menyelesaikan masalah adalah analisa akar masalah ( Root Cause Analysis ). analisa akar masalah ( Root Cause Analysis ) adalah suatu metoda evaluasi terstruktur untuk mengidentifikasi penyebab dasar masalah dan tindakan-tindakan untuk mencegah terulangnya kembali masalah tersebut . Proses ini merupakan langkah penting dalam menjawab berbagai permasalahan dalam manajemen mutu, resiko dan keselamatan.
13
BAB 4
INDIKATOR MUTU
4.1. PENGERTIAN
Indikator mutu adalah parameter yang dapat diukur, yang mewakili input, proses maupun hasil akhir dari suatu pelayanan dan proses manajerial yang digunakan untuk mengukur mutu dari pelayanan dan proses manajerial tersebut.
4.2.
TUJUAN
Untuk mengukur mutu dari pelayanan kesehatan dan proses manajerial di RSSS.
4.3.
TAHAPAN PENETAPAN INDIKATOR
Untuk menetapkan indikator, para supervisor, manajer dan senior manajer melakukan analisa alur-alur pelayanan serta proses manajerial yang ada di masing-masing unit.
Setelah itu, para supervisor, manajer dan senior manajer menetapkan skala prioritas dari pelayanan-pelayanan klinis maupun proses-proses manajerial mana yang akan dijadikan indikator dengan menggunakan diagram berikut:
Dalam menentukan prioritas atas kegiatan monitoring didasarkan pada beberapa proses, diantaranya :
ALGORITMA PEMILIHAN INDIKATOR MUTU
Apakah ada bukti adanya gap dalam pelaksanaan? Atau Apakah hal tsb penting? Contohnya: Berkontribusi kepada morbidity dan mortality? Berhubungan dengan utilisasi yang tinggi? Membutuhkan biaya tinggi? Apakah indikator bisa dikendalik an oleh petugas rumah sakit? Apakah indikator akan bisa diukur dengan upaya yang cukup? D I P I L I H T I D A K D I P I L I H Apakah indikator sejalan dengan visi dan misi rumah sakit?
Apakah indikator telah divalidasi atau dipakai di Indonesia ?
Apakah indikator ini aplikasi dari prinsip-prinsip mutu?
Tidak
Tidak Tidak Tidak
Tidak Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya
14 1. Duduk bersama diantara para pimpinan 2. Rekomendasi dari tim konsultan JCI 3. Keputusan dari Direktur
Kemudian indikator-indikator tersebut diajukan ke departemen mutu untuk secara bersama-sama membuat rumusan cara pengukuran, frekuensi pengukuran & periode analisa, rentang nilai yang diharapkan serta mengintegrasikan proses pengumpulan data indikator tersebut ke dalam aktivitas kerja harian petugas unit / departemen / direktorat terkait.
Rentang nilai yang diharapkan diperoleh dari : 1. Data dari RSSS seiring berjalannya waktu.
2. Data dari rumah sakit yang serupa / selevel jika memungkinkan. 3. Data dari standar baik nasional maupun internasional yang sesuai. 4. Data dari praktek-praktek yang disepakati bersama.
4.4.
RUANG LINGKUP
RSSS memiliki lebih dari 50 unit, 17 departemen, serta berbagai center pelayanan yang jumlahnya terus berubah sesuai kebutuhan pasien. Untuk melakukan pengawasan mutu, maka pimpinan RSSS menetapkan unit / departemen dan pelayanan maupun proses klinis dan manajerial yang harus memiliki indikator mutu. Pemilihan dan penetapan indikator mutu disesuaikan dengan ketentuan akreditasi nasional (KARS) maupun akreditasi internasional (JCI).
15
BAB 5
MANAJEMEN RESIKO
5.1. PENGERTIAN
Resiko adalah potensi terjadinya kerugian yang dapat timbul dari proses kegiatan saat sekarang atau kejadian di masa datang.
Manajemen resiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasikan, mengevaluasi dan memprioritaskan resiko untuk mengurangi resiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan rumah sakit, pengunjung dan organisasi sendiri
5.2. TUJUAN
5.2.1. Meminimalkan kemungkinan terjadinya cedera pada pasien, pengunjung dan karyawan RS Sehat Sejahtera.
5.2.2. Menciptakan lingkungan yang aman bagi karyawan dan pengunjung RS Sehat Sejahtera.
5.2.3.
Memberikan pelayanan yang efektif dan efisien.
5.2.4. Mempertahankan reputasi RS Sehat Sejahtera.
5.3. MANFAAT
5.3.1. Dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan
Peningkatan efektifitas yang dimaksud adalah pelayanan dapat diselenggarakan dengan cara yang baik dan benar.
5.3.2. Dapat lebih meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan
Peningkatan efesiensi yang dimaksud erat hubungannya dengan dapat dicegahnya penyelenggaraan pelayanan yang membahayakan pasien, sehingga tidak ada biaya tambahan akibat tindakan yang merugikan pasien
5.3.3. Dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
Peningkatan penerimaan masyarakat ini erat hubungannya dengan timbulnya rasa aman dari masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh
RS Sehat Sejahtera
.5.3.4. Dapat melindungi pelaksanaan pelayanan kesehatan dari kemungkinan munculnya gugatan hukum
Dengan terselenggaranya pelayanan kesehatan yang aman, yang akan berdampak pada peningkatan kepuasan para pemakai jasa pelayanan kesehatan dan tentunya akan melindungi kemungkinan munculnya gugatan hukum dari masyarakat yang tidak puas terhadap pelayanan kesehatan.
5.4. RUANG LINGKUP
Manajemen resiko diterapkan pada semua proses pelayanan baik klinis maupun non klinis, meliputi:
Resiko yang berhubungan dengan perawatan pasien Resiko yang berhubungan dengan tenaga medis Resiko yang berhubungan dengan karyawan Resiko yang berhubungan dengan property Resiko keuangan
Resiko –resiko lainnya
5.5. PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN RESIKO
5.5.1. Identifikasi Resiko
16
Adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mengidentifikasi situasi yang dapat menyebabkan cedera, tuntutan atau kerugian.
Instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi resiko antara lain : Laporan kejadian ( KTD, KNC, Sentinel Event dll )
Review rekam medik Pengaduan pelanggan Survey Self Assesment Brainstorming
Ronde dll5.5.2. Analisa Resiko
Dalam tahapan ini, dilakukan pembahasan secara rinci dan pencatatan selengkap mungkin segala sesuatu tentang semua resiko yang teridentifikasi, meliputi bagaimana hal itu bisa terjadi, akibat yang ditimbulkan, tingkat keparahan, frequensi kejadian, cara pencegahannya atau rencana tindakan untuk mengatasi resiko tersebut.
Salah satu tools yang digunakan di RSSS untuk menganalisa suatu resiko adalah Analisa Modus Dampak dan Kegagalan ( Failure Mode Effect Analysis ). AMDK adalah metode perbaikan kinerja dengan mengidentifikasi dan mencegah potensi kegagalan sebelum hal tersebut terjadi
5.5.3. Evaluasi Resiko
Dalam tahapan ini dilakukan prediksi tingkat resiko dan menentukan prioritas resiko dengan menggunakan penilaian matriks resiko.
Penilaian Matriks Resiko adalah suatu metoda analisa kualitatif untuk menentukan derajat resiko suatu insiden berdasarkan DAMPAK dan PROBABILITAS.
5.5.4. Pengelolan Resiko
Setelah dilakukan penilaian resiko langkah selanjutnya adalah menentukan tindakan pengelolaan resiko sebagai berikut :
Risk Retention : dilakukan pada resiko yang tingkatnya rendah (probabillity dan dampak yang rendah), misalnya kerusakan pada peralatan yang tidak membahayakan. Resiko dalam hal ini umumnya dapat dikelola atau diatasi oleh rumah sakit
Risk Transfer : dilakukan pada resiko yang jarang terjadi tapi bisa berakibat serius (probability rendah, dampaknya tinggi). Dalam keadaan seperti ini dilakukan pengalihan resiko agar pihak lain ikut menanggung melalui kontrak, kerjasama, joint venture dan asuransi.
Risk Reduction : dilakukan pada resiko yang sering terjadi, tetapi akibatnya tidak membahayakan ( probability tinggi, dampaknya rendah ), misalnya kecelakaan kerja yang berakibat cidera ringan. Dalam keadaan ini dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi resiko dengan penerapan teknologi pengendalian.
Risk Avoidance : dilakukan pada resiko yang sering terjadi dan berdampak tinggi (probability & dampak tinggi) misalnya kecelakaan yang sering terjadi dan berakibat fatal. Dalam keadaan ini kegiatan yang menimbulkan resiko tersebut sebisa mungkin dihindari atau tidak dilaksanakan.
Dalam melaksanakan tindakan pengelolaan resiko, dilakukan Langkah-langkah sebagai berikut :
a. Perencanaan (Planning) b. Pelaksanaan (Action) c. Pemantauan (Monitoring) d. Evaluasi (Evaluation)
17
Metode di atas merupakan modifikasi dari langkah manajemen resiko yang sudah dikenal yaitu:
a. Perencanaan (Plan) b. Pelaksanaan (Do)
c. Pemeriksaan berkala (Check) d. Perbaikan & tindakan (Action)
Salah satu pertimbangannya adalah untuk mencegah kebingungan antara langkah Do (Pelaksanaan) dan Action (Perbaikan dan Tindakan), sehingga dalam metode yang dipakai di RSSS kedua langkah tersebut dibedakan penamaannya menjadi Action untuk Pelaksanaan dan Contiuous Improvement untuk Tindakan Perbaikan Berkelanjutan.
5.5.5. Monitoring &
Review
Monitoring & review meliputi kegiatan pemantauan dampak resiko, pengkajian efektifitas kegiatan yang dilakukan dan perubahan prioritas resiko bila diperlukan pada setiap tahapan di atas
5.5.6. Komunikasi Dan Konsultasi
Pada setiap tahapan kegiatan dilakukan komunikasi dan konsultasi kepada semua pihak, baik internal maupun eksternal.
18
BAB 6
KESELAMATAN PASIEN / PATIENT SAFETY
6.1. PENGERTIAN
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman untuk mencegah cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat menjalankan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
6.2. TUJUAN
6.2.1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
6.2.2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
6.2.3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.
6.2.4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan
6.2.5. Menciptakan lingkungan yang aman bagi karyawan dan pengunjung RS Sehat Sejahtera
6.2.6. Mempertahankan reputasi RS Sehat Sejahtera.
6.2.7. Memberikan pelayanan yang efektif dan efisien
6.2.8. Tercapainya International Patient Safety Goals di RSSS
6.3. MANFAAT
6.3.1. Budaya safety meningkat & berkembang
6.3.2. Komunikasi dengan pasien berkembang
6.3.3. Kejadian tidak diharapkan (KTD) menurun. Peta KTD selalu ada & terkini
6.3.4. Resiko klinis menurun
6.3.5. Keluhan berkurang
6.3.6. Mutu pelayanan rumah sakit meningkat
6.3.7. Citra rumah sakit dan kepercayaan masrakat meningkat, diikuti dengan kepercayaan diri yang meningkat
6.4. RUANG LINGKUP
Keselamatan pasien diterapkan pada semua proses pelayanan baik klinis maupun non klinis.
6.5. TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN
Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit merupakan panduan yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga tujuh langkah tersebut secara menyeluruh perlu dilaksanakan oleh RSSS.
6.5.1.
Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien.
6.5.1.1.
Bagi Rumah sakit
Rumah sakit harus memiliki kebijakan yang menjabarkan apa yang harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden, bagaimana langkah-langkah pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang harus diberikan kepada staf, pasien & keluarga
Rumah sakit menumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang terjadi di rumah sakit
Rumah sakit melakukan assesment dengan menggunakan survei penilaian keselamatan pasien
19
Unit/Tim memastikan rekan sekerja merasa mampu berbicara mengenai kepedulian mereka dan berani melaporkan bila mana ada insiden
Unit/Tim mendemonstrasikan kepada unit/tim ukuran-ukuran yang dpakai untuk memastikan semua laporan dibuat secara terbuka dan terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan solusi yang tepat.
6.5.2.
Memimpin & mendukung staf untuk memiliki komitmen & fokus pada
keselamatan pasien di rumah sakit
6.5.2.1.
Bagi Rumah Sakit
Rumah sakit memastikan ada anggota Direksi yang bertanggung jawab atas keselamatan pasien.
Rumah sakit mengidentifikasikan orang-orang yang dapat diandalkan menjadi “penggerak” dalam gerakan keselamatan pasien.
Rumah sakit memprioritaskan keselamatan pasien dalam agenda rapat Direksi.
Rumah sakit memasukan tema keselamatan pasien dalam semua program latihan staf rumah sakit dan memastikan pelatihan ini diikuti dan diukur efektivitasnya
6.5.2.2.
Bagi Unit/Tim
Menominasikan penggerak dalam tim untuk memimpin gerakan keselamatan pasien
Menjelaskan kepada tim relevansi dan pentingnya gerakan keselamatan pasien
Menumbuhkan sikap yang menghargai pelaporan insiden
6.5.3.
MengIntegrasikan manajemen resiko
6.5.3.1.
Bagi Rumah Sakit
Rumah sakit mengkaji kembali struktur dan proses yang ada dalam manajemen resiko klini dan non klinis, serta memastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi dengan keselamatan pasien dan staf.
Rumah sakit mengembangkan indikator-indikator kinerja pengelolaan resiko yang dapat dimonitor oleh Direksi/Pimpinan rumah sakit.
Rumah sakit menggunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan insiden dan assesment resiko untuk dapat secara proaktif meningkatkan kepedulian kepada pasien.
6.5.3.2.
Bagi Unit/Tim
Membentuk forum-forum dalam rumah sakit untuk mendiskusikan issue-issue keselamatan pasien guna memberikan umpan balik kepada manajemen yang terkait.
Memastikan ada penilaian resiko pada individu pasien dalam proses assesment resiko rumah sakit.
Melakukan proses assesment resiko secara teratur dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperkecil resiko tersebut.
Memastikan assesment resiko tersebut disampaikan sebagai masukan ke proses assesment dan pencatatan resiko rumah sakit.
6.5.4.
Mengembangkan sistem pelaporan di rumah sakit
6.5.4.1.
Bagi Rumah Sakit
20
Melengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden kedalam maupun keluar
6.5.4.2.
Bagi Unit/Tim
Mendorong kepada rekan sekerja untuk secara aktif melaporkan setiap insiden yang terjadi.
6.5.5.
Mengembangkan Komunikasi terbuka dengan pasien
6.5.5.1.
Bagi Rumah Sakit
Memastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang jelas dalam menjabarkan cara-cara komunikasi terbuka selama proses asuhan tentang insiden dengan pasien dan keluarga.
Memastikan pasien dan keluarga mendapatkan informasi yang jelas dan benar bila terjadi insiden.
Berikan dukungan dan pelatihan kepada staf agar selalu terbuka kepada pasien dan keluarganya.
6.5.5.2.
Bagi Unit/Tim
Memastikan tim menghargai dan mendukung keterlibatan pasien dan keluarga bila terjadi insiden.
Memprioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga jika terjadi insiden dan segera beritahukan kepada mereka informasi yang jelas dan benar.
Memastikan, segera setelah kejadian tim menunjukan empati kepada pasien dan keluarganya
6.5.6.
Mempelajari & membagi pengalaman tentang keselamatan pasien
6.5.6.1.
Bagi Rumah Sakit
Memastikan staf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara tepat.
Mengembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis) yang mencakup insiden yang terjadi dan minimum 1 kali pertahun melakukan Analisis Modus Dampak Dan Kegagalan ( Failure Modes And Effects Analysis) untuk proses resiko tinggi.
6.5.6.2.
Bagi Unit/Tim
Mendiskusikan dalam tim pengalaman dari hasil analisis insiden
Mengidentifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak dimasa depan dan membagi pengalaman tersebut secara lebih luas.
6.5.7.
Mencegah cedera melalui implementasi keselamatan pasien
6.5.7.1.
Bagi Rumah Sakit
Menggunakan informasi yang benar dan jelas yhang diperoleh dari sistem pelaporan, assesment resiko, kajian insiden, dan audit serta analisis untuk menentukan solusi.
Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang sistem (struktur dan proses), penyesuaian pelatihan staf dan atau kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang menjamin keselamatan pasien.
Melakukan assesment resiko untuk setiap perubahan yang direncanakan. Memberi umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang diambil
21
6.5.7.2.
Bagi Unit/Tim
Melibatkan tim dalam mengambangkan berbagai cara untuk membuat asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih aman.
Menelaah kembali perubahan-perubahan yang dibuat tim dan memastikan pelaksanaannya.
Memastikan tim menerima umpan balik atas setiap tindak lanjut tentang insiden yang dilaporkan.
6.6. INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien yang tidak seharusnya terjadi. Insiden keselamatan pasien terdiri dari:
6.6.1.
Kejadian tidak diharapkan (KTD)
Suatu insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukankesalahan medis.
6.6.2.
Kejadian nyaris cidera (KNC)
Suatu insiden yang tidak menyebabkan cidera pada pasien akibat melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dapat terjadi karena keberuntungan (misalnya pasien menerima suatu obat kontraindikasi tetap tidak timbul reaksi obat), karena “pencegahan” (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), atau “peringanan” (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotumnya.
6.6.3.
Sentinel Event
Segala kejadian tidak diharapkan (KTD) yang berakibat pada kematian atau kehilangan fungsi secara permanen baik sebagian maupun seluruh, yang tidak berhubungan dengan perjalanan penyakit dari pasien, dan juga terjadinya kesalahan pembedahan (salah sisi, salah prosedur atau salah pasien). Setiap sentinel event akan dilakukan analisa akar masalah (Root Cause Analysis)
6.6.4.
Kesalahan Pengobatan
(Medication Error)
Medication error adalah setiap kejadian terkait pengobatan yang dapat dicegah, yang membahayakan atau berpotensi membahayakan pasien dan terjadi ketika pasien dalam proses pengobatan oleh petugas kesehatan.
Yang termasuk Medication error antara lain: Salah pasien
Salah obat Salah dosis
Salah waktu pemberian Salah rute/cara pemberian
Setiap laporan insiden kesalahan pengobatan yang diterima oleh KKPMRK (Komite Keselamatan Pasien dan Manajemen Resiko Klinik), diteruskan kepada Sub Komite Farmasi dan Terapi.
22
Pelaporan secara tertulis setiap kejadian nyaris cedera (KNC) atau kejadian tidak diharapkan (KTD) yang menimpa pasien selama menjalani proses pengobatan oleh petugas kesehatan di rumah sakit.
6.7.1.
Prinsip Pelaporan Insiden
6.7.1.1. Fungsi utama Pelaporan Insiden adalah untuk meningkatkanKeselamatan Pasien melalui pembelajaran dari kegagalan / kesalahan.
6.7.1.2. Pelaporan Insiden harus aman. Staf tidak boleh dihukum karena melapor. 6.7.1.3. Pelaporan Insiden hanya akan bermanfaat kalau menghasilkan respons yang
konstruktif, minimal memberi umpan balik ttg data KTD & analisisnya. Idealnya, juga menghasilkan rekomendasi utk perubahan proses dan sistem. 6.7.1.4. Analisis yang baik & proses pembelajaran yang berharga memerlukan
keahlian/keterampilan. Tim KKP & MRK RSSS harus menyebarkan informasi, pengembangan solusi dan rekomendasi perubahan
6.7.2
Penilaian Matriks Grading Risiko
Penilaian matriks risiko adalah suatu metode analisa kuantitatif untuk menentukan derajat risiko suatu insiden berdasarkan dampak dan probabilitasnya.
a.
Dampak/
consequences
Penilaian dampak akibat suatu kecelakaan berdasarkan jenis cederanya dan kemampuan korban kembali ke pekerjaannya.
Tabel Dampak (terlampir)
b.
Probabilitas/
likehood
Penilaian tingkat probabilitas risiko adalah seberapa seringnya insiden tersebut terjadi.
Tabel Probabilitas (terlampir)
Setelah nilai Dampak dan Probabilitas diketahui, dimasukkan dalam ke Tabel Matriks Grading Risiko untuk menghitung skor risiko dan mencari warna bands risiko.
SKOR RISIKO
SKOR RISIKO = Dampak x Probability
BANDS RISIKO
Bands risiko adalah derajat risiko yang digambarkan dalam empat warna yaitu : Biru, Hijau, Kuning dan Merah. Warna “bands” akan menentukan Investigasi yang akan dilakukan:
Bands BIRU dan HIJAU : Investigasi sederhana
Bands KUNING dan MERAH : Investigasi Komprehensif / RCA Tabel Penilaian Matriks Resiko (terlampir)
6.7.3
Kebijakan Pelaporan Insiden
a. Kecelakaan yang dilaporkan adalah KTD dan KNC b. Laporan insiden dibuat oleh:
Semua staf RSSS yang pertama menemukan kejadian Semua staf RSSS yang terlibat dalam kejadian
c. Pelaporan kecelakaan karyawan, pasien dan pengunjung menggunakan formulir dan alur pelaporan yang sama.
d. Komite Keselamatan Pasien dan Manajemen Resiko Klinik (KKP&MRK) mengkoordinir pelaporan insiden yang terkait dengan keselamatan pasien.
23
6.7.4
Prosedur Pelaporan Insiden
a. Karyawan RSSS yang terlibat atau pertama menemukan insiden keselamatan pasien wajib segera ditindak lanjuti penanganan untuk mengurangi dampak.
b. Setelah ditindak lanjuti, karyawan tersebut segera buat laporan insidennya dengan mengisi formulir laporan insiden dan meneruskannya kepada atasan langsung sebelum akhir jam kerja yang bersangkutan (paling lambat 1x24 jam setelah kejadian)
c. Atasan langsung (koordinator/ supervisor) yang menerima laporan melakukan penilaian grading resiko.
d. Formulir Laporan insiden yang telah dilengkapi oleh hasil grading resiko dari atasan langsung diserahkan kepada KKP&MRK (paling lambat 2x24 jam setelah kejadian) e. KKP&MRK akan memeriksa laporan dan melakukan re-grading resiko terhadap
insiden yang dilaporkan.
f. KKP&MRK menginformasikan hasil dari re-grading kepada unit yang melaporkan. Bila Grade biru: maka perlu dilakukan investigasi sederhana oleh atasan langsung
(koordinator atau supervisor), waktu maksimal 1 minggu dan hasil dilaporkan ke KKP&MRK.
Bila Grade hijau : maka perlu dilakukan investigasi sederhana oleh manajer , waktu maksimal 2 minggu dan hasil dilaporkan ke KKP&MRK.
Bila Grade kuning : maka perlu dilakukan investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA oleh KKP&MRK dengan melibatkan senior manajer, waktu maksimal 45 hari.
Bila Grade merah : maka perlu dilakukan investigasi komprehensif/analisis akar masalah/Regrading oleh KKP&MRK dengan melibatkan direksi, waktu maksimal 45 hari.
g. KKP&MRK memonitor pelaksanaan hasil investigasi sederhana
h. KKP&MRK melaporkan hasil investigasi komprehensif (RCA) kepada Direksi untuk ditindaklanjuti.
i.
Rekomendasi untuk “Perbaikan dan Pembelajaran” diberikan umpan balik kepada unit kerja terkait6.7.5
Peran Safety Officer (PMK) Dalam Pelaporan Kecelakaan.
Safety officer adalah karyawan RSSS yang merupakan perwakilan dari unit/ departemen/ area tertentu yang ditunjuk oleh supervisor/ manajer untuk mendapat pelatihan keselamatan pasien dan menangani kasus – kasus yang berhubungan dengan keselamatan pasien di masing masing unit. Khusus dalam hal pelaporan kecelakaan, mereka mempunyai peran sebagai berikut:
1. Memastikan bahwa semua kecelakaan yang terjadi di unit/ departemen/ area yang menjadi tanggung jawabnya ditangani dan dilaporkan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku.
2. Membantu karyawan dalam pembuatan laporan kecelakaan sesuai ketentuan.
3. Membantu koordinator/ supervisor/ manajer dalam melakukan penilaian grading resiko dan pelaksanaan investigasi sederhana.
4. Mencatat dan melaporkan kecelakaan yang terjadi di unit/ departemen/ area masing-masing kepada KKP&MRK.
25
BAB 7
ANALISA & CONTINUOUS IMPROVEMENT
7.1. ANALISA
Data yang diperoleh dari hasil monitoring indikator mutu, serta dari survey, observasi, audit dan review dikumpulkan oleh departemen mutu RSSS, bersama dengan berbagai laporan lain terkait dengan isu safety dan pencegahan & pengendalian infeksi.
Data-data tersebut disajikan dalam bentuk rate dan trends serta dianalisa sesuai periode analisa. Setiap penyimpangan dari standar yang ditetapkan dilaporkan ke manajemen senior rumah sakit. Laporan tersebut dapat dibuat secara terpisah (per anomali) maupun secara keseluruhan.
Departemen mutu juga memimpin suatu pertemuan dengan manajemen senior maupun unit/departemen/komite terkait dengan indikator mutu atau hasil survey, observasi, review dan audit di mana ditemukan penyimpangan dari suatu standar yang ditetapkan sebelumnya, guna menyusun suatu Strategic Improvement Plan
7.2.
CONTINUOUS IMPROVEMENT
Diawali dengan terbentuknya strategic improvement plan seperti disebut dalam poin di atas. Strategic Improvement Plan dapat berupa :
7.2.1 Disusunnya suatu kebijakan dan/atau prosedur baru, lengkap beserta sosialisasi yang cukup mengenai kebijakan dan/atau prosedur baru tersebut
7.2.2 Direvisinya suatu kebijakan dan/atau prosedur lengkap beserta sosialisasi yang cukup mengenai revisi dari kebijakan dan/atau prosedur tersebut
7.2.3 Disusunnya suatu program kerja
kemudian dengan menggunakan tools atau alat ukur yang sama seperti digunakan untuk menemukan penyimpangan tadi, kebijakan dan/atau prosedur hasil revisi atau yang baru maupun program yang dibuat tadi diukur dan dianalisis kembali.
Selain daripada hal di atas, continuous improvement dilakukan pula dengan cara melakukan analisa akar masalah (Root Cause Analysis/RCA) dari setiap kejadian insiden, dan juga Analisa Moda Kegagalan dan Dampak (Failure Mode & Effect Analysis/FMEA). Kebijakan mengenai RCA maupun FMEA akan diatur dalam SOP-SOP terkait dengan penanganan insiden maupun SOP lain.
Secara umum, continuous improvement berarti RSSS terus berupaya mengidentifikasi secara proaktif dengan berbagai upaya dan metode seperti tercantum dalam Bab 1, maupun secara reaktif dengan melakukan pendekatan penanganan kejadian / insiden menggunakan RCA, dengan berujung pada sebuah strategic improvement plan (SIP) yang kemudian dilakukan monitoring secara terus menerus dengan interval waktu yang ditetapkan sebelumnya.
26
LAMPIRAN-LAMPIRAN
27
Tabel 1. Tingkat Dampak
1
2
3
4
5
Insignificant
Minor
Moderate
Major
Catastropik
Cidera
Tidak adacidera Dapat diatasi dengan pertolongan pertama Berkurangnya fungsi motorik/ sensorik, memperpanjang perawatan Cedera luas, kehilangan fungsi utama permanen Kematian
Pelayanan/
Operasional
Terhenti < 8 jam Terhenti 8 - 24 Jam Terhenti > 24 jam - 68 jam Terhenti > 168 jam Terhenti permanenBiaya/
Keuangan
Kerugian sangat ringan < Rp. 100.000 Kerugian ringan Rp. 100.000 – 1.000.000 Kerugian sedang > Rp. 1.000.000 – 10.000.000 Kurugian besar >Rp. 10.000.000 – 100.000.000 Kerugian sangat besar/ Extensive > Rp. 100.000.000Tabel 2. Tingkat Probability
TINGKAT
RES
IKO
DESKRIPTIF
1
Sangat Jarang (>5
th/kali)
2
Jarang (>2-5 th/kali)
3
Mungkin (1-2 th/kali)
4
Sering (Beberapa kali/th)
28
Tabel 3. Penilaian Matriks Resiko
Probabilitas Tidak Signifikan 1 Minor 2 Moderat 3 Mayor 4
Katastropik
5
Sangat Sering Terjadi ( Tiap Minggu/Bulan 5MODERAT MODERAT TINGGI EKSTRIM
EKSTRIM
Sering Terjadi (Beberapa kali/th)
4
MODERAT MODERAT TINGGI EKSTRIM
EKSTRIM
Mungkin Terjadi (1-<2th/kali)
3
RENDAH MODERAT TINGGI EKSTRIM
EKSTRIM
Jarang Terjadi (>2-<5th/kali)
2
RENDAH RENDAH MODERAT TINGGI
EKSTRIM
Sangat Jarang Terjadi (>5th/kali
1
29