• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

PUTUSAN

Nomor 119 K/TUN/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa perkara tata usaha negara dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

KEPALA KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA UTARA, berkedudukan di Jalan Sisingamangaraja Km. 10,5 Nomor 60 Medan.

Selanjutnya memberi kuasa kepada:

1. AKBP. Dadi Purba, S.H., Kasubbid Bankum Bidkum Polda Sumatera Utara;

2. Kompol Ramles Napitupulu, S.H., Kaur HAM Bidkum Polda Sumatera Utara;

3. AKP Mila Mufida, S.H., Paur Luhkum Bidkum Polda Sumatera Utara, semuanya kewarganegaraan Indonesia, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 13 Desember 2016;

Pemohon Kasasi dahulu sebagai Pembanding/Tergugat; melawan:

SUKARMAN, kewarganegaraan Indonesia, bertempat tinggal di Jalan Ampera Nomor 70 – A, Kelurahan Sekip, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Pekerjaan Anggota Polri,

Selanjutnya memberi kuasa kepada: - Ridho Mubarak, S.H., M.H., - Wessy Trisna, S.H., M.H.,

- Munawan Sadzali, S.H., ketiganya kewarganegaran Indonesia, para Advokat & Konsultan Hukum pada Kantor LAW OFFICE ARM & ASSOCIATES, beralamat di Jalan Gaperta Komp. Piazza Residenci Blok C Nomor 10 Kota Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 03 Januari 2017;

Termohon Kasasi dahulu sebagai Terbanding/Penggugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Terbanding/Penggugat telah menggugat sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Pembanding/Tergugat di muka persidangan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

Obyek Sengketa :

- Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Nomor Kep/1057/XII/2015, Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat Dari Dinas Polri atas nama Sukarman, tanggal 31 Desember 2015;

A. Tentang Kewenangan Absolut:

Bahwa sengketa kepegawaian menjadi kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara untuk mengadili sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 1 angka 10 Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

B. Tentang Kepentingan:

Bahwa sejak diterbitkannya Objek Sengketa a quo mengakibatkan kepentingan Pengugat sangat dirugikan yaitu hilangnya pekerjaan Penggugat atau tidak menerima gaji bulanan dan remunirasi terhitung mulai tanggal 1 Januari 2016 dan hilangnya kesempatan berkarir di Institusi Polri, sehingga sesuai ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Penggugat dapat melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara;

C.Tentang Tenggang Waktu:

Bahwa Objek Sengketa diterbitkan pada tanggal 31 Desember 2015 dan dikirim serta diserahkan oleh pihak Kepolisian Resort Serdang Bedagai pada tanggal 14 Januari 2016, yang diterima oleh isteri Penggugat di Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Lubuk Pakam, sedangkan gugatan ini didaftarkan diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2016, dengan demikian secara hukum pengajuan gugatan ini masih dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari sebagaimana ditentukan dalam dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berbunyi “Gugatan dapat dilakukan dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara”;

Alasan-alasan mengajukan gugatan sebagai berikut :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

1. Bahwa Penggugat adalah anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sesuai dengan Petikan Surat Keputusan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. Pol : SKEP/PERS GUNPAT-35.G/X/1988 Tentang Pengangkatan dan Penggajian Kepada Para Bintara Militer Sukarela Polri Lulusan Pendidikan Pembentukan Bintara Pria Polri Tahun 1988/1989, tertanggal 22 Oktober 1988;

2. Bahwa Penggugat pertama ditempatkan bertugas di BA Kepolisian Daerah Sumatera Utara sesuai dengan Surat Keputusan No. Pol SKEP/PERS GUNPAT – 66.g/V/1989, Tentang Penempatan Para Bintara Militer Sukarela Polri Lulusan Pendidikan Bintara Polri Tahun 1988/1989, tertanggal 12 Mei 1989;

3. Bahwa berdasarkan ijazah yang dikeluarkan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Direktorat Pendidikan Reg. No. Pol : IJ/69/1989/SEBA SAMPALI, dinyatakan bahwasannya Penggugat dengan Pangkat Sersan Dua Nrp : 67020259, dengan Nomor Siswa : 881012150469 Lulus Pendidikan SEBA POLRI Tahun Ajaran 1988/1989 yang diselenggarakan di SEBA SAMPALI, tanggal 20 Juni 1988 sampai dengan 15 Mei 1989 dengan predikat baik sesuai dengan Surat Keputusan KA SEBA SAMPALI, No. Pol : SKEP/01/V/1989, tertanggal 14 Mei 1989; 4. Bahwa kemudian berdasarkan Petikan Surat Keputusan No. Pol

SKEP/347/V/1989, tertanggal 29 Mei 1989 Tentang Penempatan Para Bintara Milsuk Polri Lulusan Sebapolsuk Pria Polri Tahun 1988/1989 Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Penggugat dimutasikan sebagai BA di Kepolisian Resort Dairi;

5. Bahwa pada tahun 1995 Penggugat dimutasikan dari Kepolisian Resort Dairi ke Kepolisian Resort Deli Serdang dan ditempatkan ke Kepolisian Sektor Perbaungan. Pada tanggal 3 Juni 2003 Penggugat ditugaskan untuk berangkat ke Polda Nangroe Aceh Darussalam berdasarkan Surat Perintah No. Pol Sprin/2788/XI/2003, tertanggal 17 Nopember 2003 yang mana Penggugat ditugaskan sebagai Status Bawah Kendali (BKO) Pengendali Teknis Penyidikan oleh Dir Reskrim Polda Nangroe Aceh Darussalam selaku Kasatgas Operasi Yustisi dan mendapatkan Piagam Penghargaan dari Presiden Megawati;

6. Bahwa sekitar di tahun 2007 Penggugat pernah berselisih faham dengan atasannya yakni Kepala Kepolisian Sektor Pantai Cermin, karena Penggugat tidak menindaklanjutkan perkara pengrusakan yang tidak bisa dibuktikan secara hukum, oleh karena itu atasan Penggugat mengancam

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Penggugat untuk dipindahkan bertugas di Nias Selatan, kemudian berselang 1 (satu) hari setelah kejadian tersebut Penggugat ditugaskan serta ditempatkan dibagian Telematika di Polres Serdang Bedagai;

7. Bahwa seharusnya pada tanggal 1 Juli 2007 Penggugat dilantik untuk kenaikan pangkat dari Brigadir Polisi Kepala menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua, tetapi nama Penggugat tidak ada dan tidak disebutkan pada acara pelantikan kenaikan pangkat karena berkas kenaikan pangkat Penggugat tidak dikirim oleh Polres Serdang Bedagai ke Polda Sumatera Utara, hal ini menyebabkan Penggugat menjadi stres dan atau pemikiran Penggugat menjadi tidak tenang;

8. Bahwa ditahun 2008 Penggugat dijatuhi hukuman disiplin berupa penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) periode dan kenaikan gaji berkala karena Penggugat tidak masuk berdinas selama 8 (delapan) hari. Kemudian Penggugat tidak pernah melakukan kesalahan disiplin sampai pada tahun 2011 dan setelah itu Penggugat mendapatkan surat perintah untuk mengikuti pelatihan telematika di Sekolah Polisi Negara Sampali Medan;

9. Bahwa pada tanggal 2 Pebruari 2013, pergi ke Pekanbaru untuk membantu abang Penggugat yang sedang mengalami permasalahan sehingga menyebabkan Penggugat tidak masuk kerja selama 28 hari kerja di bulan Pebruari 2013 dan kemudian Penggugat kembali pulang ke rumah sekitar tanggal 19 Maret 2013. Dan pada tanggal 21 Maret 2013 Penggugat sedang berada di daerah Perbaungan yang kemudian dibawa paksa oleh anggota Provost Polres Serdang Bedagai tanpa ada surat perintah membawa atau penangkapan dan setelah sampai di Polres Serdang Bedagai Penggugat langsung diperiksa oleh unit Provost yang hasilnya Penggugat tidak boleh keluar dari satuan Polres Serdang Badagai selama 1 (satu) minggu; 10. Bahwa Penggugat saat diperiksa oleh anggota Provost Polres Serdang

Bedagai tidak diberikan atau ditunjuk seorang pendamping untuk mendampingi Penggugat sebagai Terperiksa dimana dalam pemeriksaan tersebut Penggugat tidak ada ditawarkan oleh pihak Pemeriksa (Provost) untuk didampingi oleh Pendamping, padahal menurut Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Polri Pasal 45 ayat (1) dan (2) Jo. Pasal 75 ayat (1) huruf b, jika terduga Pelanggar diperiksa wajib ada Pendamping akan tetapi jika menolak harus ada buat pernyataan penolakan, dan pendampingan ini tidak hanya di tingkat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

pemeriksaan saja tetapi juga ditingkat sidang Komisi Kode Etik Polri. Adapun bunyi Pasal 45 ayat (1) dan (2) Jo Pasal 75 huruf b adalah sebagai berikut:

Pasal 45 berbunyi sebagai berikut:

(1). Dalam hal terduga pelanggar tidak menunjuk pendamping, akreditor meminta pengemban fungsi hukum menunjuk pendamping bagi terduga pelanggar selama proses pemeriksaan;

(2). Dalam hal terduga pelanggar menolak pendamping yang ditunjuk oleh fungsi hukum, terduga pelanggar wajib membuat surat pernyataan; Pasal 75 ayat (1) huruf b yang berbunyi:

Pendamping terduga pelanggar berhak mendampingi terduga pelanggar pada saat pemeriksaan pendahuluan dan sidang KKEP;

11. Bahwa dari ketentuan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012, ini sudah jelas jika pemeriksaan terhadap Penggugat sebagai Terperiksa sudah cacat hukum, karena sewaktu dilakukan pemeriksaan pendahuluan terhadap Penggugat tidak dilakukan sesuai dengan prosedur, karena dalam pemeriksaan Penggugat, Pemeriksa tidak pernah menawarkan Pendamping, apalagi pihak Polres Serdang Bedagai dengan semena-menanya melakukan penangkapan tanpa ada didasari surat penangkapan atau pun sebelumnya sudah diterbitkannya surat Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Penggugat;

12. Bahwa setelah selesai diperiksa Penggugat pun kembali berdinas atau bertugas seperti semula yang wajib mengikuti apel dimana Penggugat dibawah pengawasan dan pembinaan langsung oleh provost Polres Serdang Bedagai selama kurang lebih 3 (tiga) bulan;

13. Bahwa setelah masa pengawasan dan pembinaan selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, Penggugat ditugaskan sebagai BA Pembinaan Provost untuk bertugas di Polsek Kotari pada Polres Serdang Bedagai dimulai pada bulan Juli 2013 sampai tahun 2015, dan selama bertugas di Polsek Kotari Penggugat tidak pernah melakukan kesalahan dan bahkan Penggugat bertugas secara baik, akan tetapi pada sekitar bulan Mei 2015 Penggugat tiba-tiba mendapatkan surat panggilan dari Kepolisian Resort Serdang Bedagai untuk menghadiri sidang Kode Etik Profesi sebagai Terduga pelanggar untuk diperiksa dan diadili atas tidak berdinasnya Penggugat selama 30 hari kerja secara berturut-turut yang mana tuduhan tersebut ditahun 2013, padahal Penggugat sudah diawasi langsung dan dibina oleh Provost Polres Serdang Bedagai yang mana atas pembinaan tersebut

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Penggugat telah menjadi anggota Polri yang lebih baik dan tidak melakukan ataupun mengulangi kesalahannya;

14. Bahwa walaupun Penggugat telah menjadi anggota Polri yang lebih baik dan pemeriksaan Penggugat tidak sesuai prosedur hukum serta merupakan kesalahan yang telah lama dengan ankum yang berbeda pula, Penggugat tetap diajukan ke persidangan Komisi Kode Etik Polri (KKEP) di Kepolisian Resort Serdang Bedagai dengan Ketua Komisi Kompol Ricky Purnama Kertapati, SIK, Msi, yang mana hasil dari persidangan tersebut Penggugat diusulkan untuk diberhentikan secara tidak hormat dari dinas Kepolisian. Keputusan ini sangat disayangkan karena terhadap diri Penggugat telah dilakukan pengawasan dan pembinaan langsung oleh Provost Polres Serdang Bedagai;

15. Bahwa sangat disayangkan tindakan Ankum/Atasan Penggugat yang tidak mempertimbangkan terhadap perintah langsung pengawasan dan pembinaan terhadap Penggugat, hal ini jelas bertentangan dengan kealuran dan kepatutan karena sebagai atasan yang memerintahkan Penggugat untuk dibina dan diawasi seolah - olah hal ini tidak pernah terjadi;

16. Bahwa selanjutnya pada panggilan yang ke - 3 (tiga) Penggugat menghadiri persidangan dengan agenda pembacaan Putusan Sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri (KKEP) tanggal 25 Juni 2015, yang didampingi oleh AKP Suhartono Pendidikan terakhir SMA dan tidak sarjana ilmu kepolisian (SIK) yang ditunjuk oleh Panitia Sidang KKEP. dan pada saat sidang KKEP Pendamping Peng gugat tidak menggunakan haknya sebagaimana seharusnya. Hal ini cukup jelas terhadap pemeriksaan Penggugat sebagai Terduga Pelanggar di sidang KKEP adalah cacat hukum karena tidak memenuhi kriteria ataupun syarat-syarat sebagai Pendamping sebagaimana tertuang dalam Pasal 76 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Polri yang berbunyi “Pendamping terduga pelanggar adalah Pegawai pada Polri yang memenuhi persyaratan:

a. Berpendidikan Sarjana Hukum dan/atau Sarjana Ilmu Kepolisian; b. Memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan beracara secara

teknis;

17. Bahwa Penggugat dalam hal sebagai terperiksa atau terduga pelanggar tidak menerima atau mendapatkan berkas pemeriksaan pendahuluan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

pelanggaran KKEP yang dibuat oleh pemeriksa yang sekurang-kurang memuat sebagaimana tertuang dalam Pasal 47 ayat (2) yakni:

a. Sampul berkas pemeriksaan pendahuluan; b. Daftar isi berkas;

c. Resume;

d. Laporan Polisi : Surat Perintah; e. Berita Acara Pemeriksaan Saksi;

f. Berita Acara Pemeriksaan Ahli dan/atau Keterangan Ahli; g. Berita Acara Pemeriksaan Terduga Pelanggar;

h. Surat Tanda Terima Barang Bukti; i. Berita Acara Pemeriksaan Barang Bukti; j. Surat Pangilan Saksi;

k. Surat Panggilan Terduga Pelanggar;

l. Surat Perintah Membawa Saksi Anggota Polri dan/atau Surat Perintah Membawa Terduga Pelanggar;

m. Berita Acara Ketidakhadiran Saksi Yang Bukan Anggota Polri; n. Surat Kesediaan Menjadi Ahli;

o. Surat Permintaan Visum et Repertum/Laboratoris;

p. Dokumen Hasil Pemeriksaan Visum et Repertum/Laboratoris; q. Surat Permintaan Penyerahan Barang Bukti;

r. Daftar Barang Bukti; s. Daftar Saksi, dan;

t. Daftar Terduga Pelanggar;

Padahal menurut Pasal 47 ayat (3) Jo Pasal 74 ayat (1) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012, Penggugat berhak menerima berkas Pemeriksaan Pendahuluan KKEP, adapun bunyi Pasal tersebut adalah sebagai berikut:

Pasal 47 ayat (3):

Berkas Pemeriksaan Pendahuluan Pelanggaran KKEP dibuat rangkap 7 (Tujuh) dan didistribusikan kepada:

a. Ketua dan Anggota KKEP : 3 (tiga) berkas; b. Penuntut : 1 (satu) berkas;

c. Terduga Pelanggar : 1 (satu) berkas; d. Fungsi Hukum Polri : 1 (satu) berkas; e. Sekretariat KKEP : 1 (satu) berkas; Pasal 74 ayat (1);

Terduga Pelanggar Berhak:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

a. Menerima Turunan Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan; b. Menunjuk Pendamping;

c. Mengajukan Saksi Yang Meringankan; d. Menerima Salinan Surat Persangkaan; e. Mengajukan Eksepsi/Bantahan; f. Menerima Salinan Tuntutan; g. Mengajukan Pembelaan;

h. Menerima Salinan Putusan Sidang KKEP;

i. Mengajukan Banding atas Putusan Sidang KKEP dan; j. Menerima Salinan Putusan Banding;

18. Bahwa penerbitan objek sengketa terkesan semena-mena, memaksakan kehendak dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang telah dijalani Penggugat seperti dibina dan diawasi langsung oleh pihak Provost Polres Serdang Bedagai atas kesalahan Penggugat yang telah lampau yakni di bulan Pebruari dan Maret tahun 2013 dan juga tidak mempertimbangkan prestasi dan penghargaan Penggugat sebagai anggota Polri yang didapat selama ini serta tidak pula memikirkan kesengsaraan atau derita yang akan Penggugat alami pada masa yang akan datang akibat dari pemberhentian ini. Adapun prestasi dan penghargaan Penggugat adalah melaksanakan tugas OPS, Lihkam di daerah Nangroe Aceh Darussalam dibulan Juni 2003, yang mendapatkan Piagam Penghargaan dari Presiden Megawati;

19. Bahwa Tergugat menerbitkan Surat Keputusan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. Pol KEP/1057/XII/2015 Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat atas nama : Sukarman, Kesatuan Polres Serdang Bedagai berdasarkan Rekomendasi Keputusan Sidang Kode Etik Profesi Polri No. Pol PUT/04/VI/2015, tanggal 25 Juni 2015, tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dengan alasan sebagai berikut;

“Pelaksanaan Sidang Kode Etik Profesi bagi Anggota Polri dilaksanakan setelah adanya Sidang Disiplin, dimana berdasarkan putusan dan rekomendasi putusan Sidang Disiplin barulah dapat dilaksanakan Sidang Kode Etik Profesi Polri, Namun dalam hal ini Penggugat tidak diproses melalui Sidang Disiplin terlebih dahulu namun langsung dilaksanakan Sidang Kode Etik Profesi, bagaimana mungkin Penggugat akan disidang disipliner, sementara kesalahan yang lama di bulan Pebruari dan Maret 2013 yang menjadikan terbitnya objek sengketa, padahal sidang KKEP tersebut dilaksanakan pada bulan Juni 2015, sehingga Tergugat tidak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

mempertimbangkan ataupun tidak berdasar karena Berkas Pemeriksaan sudah selesai dijalani dengan pengawasan dan pembinaan atas perintah Ankum pada saat itu, mengapa pula dengan Ankum yang baru me-rekomendasikan PTDH terhadap Penggugat, padahal sejak bulan April 2013 sampai dengan terbitnya objek sengketa a quo Penggugat tidak pernah melakukan kesalahan disiplin atau mencoreng nama baik institusi Polri yang seharusnya berkas diperbaharui lagi jika adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Penggugat di tahun 2015 dengan hasil audit investigasi yang dilaksanakan oleh Akreditor berdasarkan surat perintah sebagaimana tertuang dalam Pasal 32 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012;

20. Bahwa Tergugat menerbitkan Objek Sengketa tidak mempedomani Keputusan Kapolri Nomor Kep/43/IX/2004, Tentang Tata Cara Penyelesaian Disiplin Anggota Polri khususnya terkait dengan mandat Pasal 34 yang berbunyi “Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya masa hukuman untuk hukuman disiplin berupa : a. Penundaan kenaikan gaji, b. Penundaan kenaikan pangkat paling lama 1 (satu) tahun, c. Mutasi bersifat demosi, d. Pembebasan dari jabatan anggota Polri yang telah selesai menjalani hukuman tersebut dikembalikan pada keadaan semula”; 21. Bahwa tindakan Tergugat dalam menerbitkan Keputusan Objek

Sengketa perkara a quo telah melanggar prinsip-prinsip dan atau asas-asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB) yang tertuang dalam Pasal 3 huruf d dan huruf e Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Jo Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan, terutama asas perlakuan persamaan dimata hukum, yaitu setiap pelanggar KKEP wajib diperlakukan sama tanpa membedakan pangkat dan jabatan dan asas kepastian hukum yaitu proses penanganan penegakan pelanggaran KKEP harus jelas, tuntas dan dapat dipertanggung jawabkan, karena saat ini ada adalah sebagai berikut ; “Aiptu Antonius Situmorang, kasus narkoba berupa sabu-sabu yang sudah disidang disiplin dengan putusan hanya pindah wilayah tugas (demosi) hal ini terjadi sekitar tahun 2012”;

Bahwa disamping itu Tergugat telah melanggar perubahan kedua Undang-Undang Dasar 1945 yakni dalam Pasal 28 D ayat (1) “ Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dimata hukum;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

22. Bahwa Tergugat menerbitkan Objek Sengketa dalam perkara a quo me-langgar Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 Tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia Jo Pasal 2 sampai dengan Pasal 7 Kep/42/IX/2004, dalam penjelasannya “ Pelanggar disiplin dapat diberhentikan dengan hormat apabila melakukan pengulangan pelanggaran dalam waktu penugasan pada kesatuan yang sama “ adalah melakukan pengulangan pelanggaran yang sama di kesatuan yang sama dengan ankum yang sama dan ankum yang dimaksud adalah ankum yang memiliki kewenangan penuh dalam menjatuhkan hukuman disiplin;

1. Bahwa terhadap pelaksanaan pelanggaran Pasal 14 ayat (1) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Pemberhentian Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diberhentikan tidak dengan hormat dari dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia apabila meninggalkan tugasnya secara tidak sah dalam waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari kerja secara berturut-turut wajib memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Surat Telegram Kapolri Nomor STR/81/II/2012, tanggal 7 Pebruari 2012 Tentang Penegakan Disiplin Anggota yang meninggalkan dinas tanpa keterangan yang sah, pada intinya;

a). Anggota Polri yang meninggalkan tugas tanpa seizin pimpinan selama 3 (tiga) hari kerja dalam satu minggu agar ankum memberikan sanksi tindakan disiplin berupa teguran lisan, membuat laporan polisi dan/atau tindakan fisik yang mendidik sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 Tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri, Pasal 7 yang berbunyi “Anggota Polri yang ternyata melakukan pelanggaran Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia dijatuhi sanksi berupa tindakan disiplin dan/atau hukuman disiplin”, Pasal 8 yang berbunyi “Tindakan disiplin berupa teguran lisan dan/atau tindakan fisik dan tindakan disiplin dalam ayat (1) tidak menghapus kewenangan Ankum untuk menjatuhkan hukuman disiplin” dan Pasal 14 yang berbunyi “Penjatuhan tindakan disiplin dilaksanakan seketika dan langsung pada saat diketahuinya Pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penjatuhan hukuman disiplin diputuskan dalam sidang dan penentuan penyelesaian pelanggaran disiplin melalui sidang disiplin merupakan kewenangan Ankum”;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

b). Anggota Polri yang meninggalkan tugas tanpa seizin pimpinan selama 7 (tujuh) hari kerja atau lebih dalam 1 (satu) bulan, agar Ankum memerintahkan/meminta fungsi Provost untuk melakukan pemeriksaan pelanggaran disiplin sampai menjadi berkas DP3D dan memberikan sanksi hukuman disiplin melalui sidang disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 Tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri, dan dalam menjatuhkan hukuman wajib mempertimbangkan mandat Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 yang berbunyi:

Dalam penjatuhan hukuman disiplin perlu dipertimbangkan situasi kondisi ketika pelanggaran itu terjadi, pengulangan dan prilaku sehari-hari pelanggar disiplin dan terwujudnya keadilan dan mampu menimbulkan efek jera serta tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia;

c). Anggota Polri yang meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan selama 30 (tiga puluh) hari kerja secara berturut-turut sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003

Tentang Pemberhentian Anggota Polri, maka penegakan

pelanggarannya wajib terlebih dahulu melaksanakan penegakan dengan memperhatikan dan memenuhi persyaratan ketentuan tersebut (a) dan (b);

d). Penjatuhan hukuman pelanggar Pasal 14 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 Tentang Pemberhentian Anggota

Kepolisian Republik Indonesia, wajib mempedomani dan

mengedepankan aspek pembinaan personel sebagaimana mandat Pasal 27 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri yang berbunyi “Untuk membina persatuan dan kesatuan serta dalam rangka meningkatkan semangat kerja dan moril anggota Polri diadakan peraturan disiplin anggota Polri”, selain dari itu wajib mempedomani Pasal 10 dan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003, yaitu mengedepankan penegakan pelanggaran melalui pendekatan tindakan disiplin dan dalam hal diputuskan penjatuhan hukuman disiplin dengan sanksi berat maka wajib mempedomani mandat Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003, yaitu apabila dapat dibuktikan perbuatan pelanggaran dilakukan pada saat negara atau wilayah tempat bertugas dalam keadaan kondisi siaga;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

e). Penghitungan dalam waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari kerja secara berturut-turut adalah pelaksanaan tugas hari kerja yang berlaku bagi terduga pelanggar disatuan kerjanya dikurangi dengan hari libur, lepas dinas bagi yang melaksanakan dinas, sakit dengan surat keterangan dokter atau lisan yang melaporkan kepada atasannya dari izin baik tertulis maupun lisan serta diketahui atasan yang berwenang dan apabila ditotal berjumlah sebanyak 31 (tiga puluh satu) hari kerja atau lebih secara berturut-turut maka yang bersangkutan sudah memenuhi kriteria dan dapat direkomendasikan PTDH dalam sidang Komisi Kode Etik Polri, namun apabila tidak berturut-turut maka penghitungan absennya dimulai dari awal nol absen;

23. Bahwa tindakan Tergugat yang menerbitkan Objek Sengketa a quo tidak melalui mekanisme yang benar sebagaimana tujuan dari Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012, tertuang dalam Pasal 2 yang berbunyi “Tujuan peraturan ini” adalah sebagai berikut: a. Sebagai pedoman dalam proses penegakan pelanggaran KKEP; b. Terselenggaranya tertib administrasi dalam proses penegakan

pelanggaran KKEP;

c. Terwujudnya kepastian hukum setiap penanganan pelanggaran KKEP; d. Terakomodasinya hak-hak terduga pelanggar dalam proses

penegakan KKEP;

24. Bahwa oleh karena terbitnya Objek Sengketa a quo tidak sesuai prosedur hukum yang berlaku, yaitu tidak ada menawarkan pendamping sebagai terperiksa dan tidak mendapatkan haknya sebagai terduga pelanggar dengan terbitnya Objek Sengketa jelas bertentangan dengan Pasal 2 Jo. Pasal 45 ayat (1) dan (2) Jo Pasal 47 ayat (3), Pasal 74 ayat (1), Pasal 75 dan Pasal 76 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012, serta bertentangan pula dengan Asas - Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB), terutama asas persamaan hak dimata hukum, asas kepastian hukum, asas keadilan dan kewajaran serta asas bertindak cermat, sehingga menurut ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf a, b, dan c Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara Jo Undang-Undang Nomor 9 tahun 2004 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, Jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, untuk digugat karena Objek Sengketa a quo yang Tergugat terbitkan cacat hukum dan merugikan Penggugat;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

25. Bahwa oleh karena Objek Sengketa a quo cacat hukum, maka beralasan hukum harus dinyatakan batal, memerintahkan Tergugat untuk mencabut Objek Sengketa a quo serta mewajibkan Tergugat untuk menerbitkan Keputusan/KTUN yang baru tentang rehabilitasi dan kedudukan keanggotaan Penggugat sebagai anggota Polri aktif seperti sebelum diterbitkannya Objek Sengketa a quo ;

26. Bahwa dikarenakan tindakan Tergugat yang semena-mena menerbitkan Objek Sengketa a quo, Penggugat selain anggota Polri juga sebagai kepala rumah tangga yang berkewajiban untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga yang memiliki seorang isteri dan 3 (tiga) orang anak (dua laki-laki dan satu perempuan) yang masih sekolah (anak pertama dan kedua sedang kuliah dan anak ke tiga sekolah menengah pertama), mengakibatkan tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga Penggugat selayaknya sebab Penggugat telah kehilangan pekerjaan sebagai anggota Polri sekaligus haknya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kehidupan yang layak sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

Permohonan Penundaan Pelaksanaan:

- Bahwa dengan terbitnya Objek Sengketa a quo mengakibatkan hilangnya pekerjaan Penggugat sebagai anggota Polri dan tidak dapat lagi kesempatan berkarir di institusi Polri, tidak menerima gaji bulanan dan remunirasi yang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, oleh karena itu cukup beralasan pula Penggugat mengajukan permohonan penundaan selama pemeriksaan Sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dalam ketentuan Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 yang telah diubah dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Penggugat mohon kepada Pengadilan Tata Usaha Negara Medan agar memberikan putusan sebagai berikut:

Dalam Penundaan:

1. Mengabulkan Permohonan Penggugat atas Penundaan Pelaksanaan Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/XII/2015, tanggal 31 Desember 2015, Tentang Pemberhentian

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Tidak Dengan Hormat dari Dinas Polri atas nama Sukarman sampai adanya Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap;

2. Memerintahkan kepada Tergugat untuk menunda pelaksanaan Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/ XII/2015, tanggal 31 Desember 2015, Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat dari Dinas Polri atas nama Sukarman sampai adanya Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap;

Dalam Pokok Perkara :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan batal atau tidak sah Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/XII/2015, tanggal 31 Desember 2015, Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat dari Dinas Polri atas nama Sukarman, tanggal 31 Desember 2015;

3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/XII/2015, tanggal 31 Desember 2015, Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat dari Dinas Polri atas nama Sukarman, tanggal 31 Desember 2015;

4. Mewajibkan Tergugat untuk menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru tentang rehabilitasi harkat dan kedudukan keanggotaan Penggugat sebagai Polri aktif seperti semula;

5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara ini;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil sebagai berikut:

Tentang Eksepsi :

Gugatan Penggugat kabur (obscuur libel) karena Penggugat tidak ada meminta dalam petitum gugatannya supaya menyatakan tindakan Tergugat dalam menerbitkan objek sengketa melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku atau Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) sebagaimana hal ini merupakan dalam ketentuan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diatur dalam Buku II Pedoman Tehnis Administrasi dan Tehnis Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung 2008 Edisi 2007 (vide halaman 64 dan 65). Oleh karena itu beralasan gugatan Penggugat dinyatakan kabur sehingga patut menurut hukum gugatan Penggugat untuk ditolak atau tidak dapat diterima;

Bahwa terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Tata Usaha Negara Medan telah mengambil putusan, yaitu Putusan Nomor 34/G/2016/PTUN.MDN tanggal 14 Juli 2016 yang amarnya sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

DALAM EKSEPSI:

- Menolak Eksepsi Tergugat seluruhnya; DALAM POKOK SENGKETA:

1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan Batal Surat Keputusan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/XII/2015, Tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat Dari Dinas Polri, atas nama Sukarman, tanggal 31 Desember 2015; 3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Kepala Kepolisian

Daerah Sumatera Utara Nomor Kep/1057/XII/2015, Tentang Pem-berhentian Tidak Dengan Hormat Dari Dinas Polri, atas nama Sukarman, tanggal 31 Desember 2015;

4. Mewajibkan Tergugat untuk memproses ulang secara hukum tindakan Penggugat yang meninggalkan tugas secara tidak sah dalam waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari kerja secara berturut-turut dengan mentaati prosedur dan tahapan-tahapannya sesuai ketetuan peraturan perundang-undangan yang berlaku hingga diterbitkannya keputusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat Dari Dinas Polri yang baru atas nama Penggugat;

5. Menolak gugatan Penggugat untuk/dan selebihnya;

6. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.294.000,- (dua ratus sembilan puluh empat ribu rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan dengan Putusan Nomor 164/B/2016/PT.TUN-MDN, tanggal 16 Nopember 2016, yang marnya sebagai berikut:

- Menerima permohonan banding dari Tergugat/ Pembanding;

- Menguatkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Nomor: 34/G/2016/PTUN-MDN tanggal 14 Juli 2016, yang dimohonkan banding; - Menghukum Tergugat/Pembanding untuk membayar biaya perkara pada

dua tingkat pengadilan, yang untuk tingkat banding sebesar Rp.250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah);

Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada Pembanding/Tergugat pada tanggal 30 November 2016, kemudian terhadap-nya oleh Pembanding/Tergugat dengan perantaraan kuasaterhadap-nya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 13 Desember 2016, diajukan permohonan kasasi secara lisan pada tanggal 13 Desember 2016, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 34/G/2016/PTUN-MDN jo. Nomor 164/B/2016/

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

PT.TUN-MDN. yang dibuat oleh Wakil Panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Medan. Permohonan tersebut diikuti dengan Memori Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut pada tanggal 23 Desember 2016;

Bahwa setelah itu, oleh Termohon Kasasi yang pada tanggal 23 Desember 2016 telah diberitahu tentang Memori Kasasi dari Pemohon Kasasi, diajukan Jawaban Memori Kasasi (Kontra Memori Kasasi) yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan pada tanggal 11 Januari 2017;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, maka secara formal dapat diterima;

ALASAN KASASI

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam Memori Kasasi pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa pemohon kasasi tidak sependapat dengan pertimbangan pertimbangan hukumnya Majelis Hakim Tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana tertuang dalam halaman 7 Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan Nomor 164/B/2016/PT.TUN-Mdn tanggal 16 November 2016 yang berbunyi:

a. Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan membaca dan mempelajari berkas perkara Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Nomor 34/G/2016/PTUN-MDN tanggal 14 Juli 2016, dihubungkan dengan Memori Banding dan Kontra Memori Banding, ternyata tidak ada hal-hal yang baru yang perlu dipertimbangkan secara khusus karena semua telah dipertimbangkan secara cermat oleh Majelis Hakim Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan;

b. Menimbang, bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan sebagai Judex Facti di tingkat banding berpendapat dan berkesimpulan bahwa pertimbangan hukum dan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan tersebut telah tepat dan benar sesuai dengan hukum yang berlaku, oleh karena itu pertimbangan hukum dimaksud diambilalih menjadi pertimbangan hukum di tingkat banding;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

c. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas maka Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Nomor 34/G/2016/PTUN-MDN tanggal 14 Juli 2016 yang dimohonkan banding haruslah dikuatkan;

Bahwa pertimbangan Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan telah terbukti hanya mengambilalih pertimbangan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Nomor 34/G/2016/PTUN-MDN tanggal 14 Juli 2016 dengan alasan tidak ada hal-hal yang baru dalam memori banding Pemohon Kasasi, pada hal menurut hukum sepatutnya Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan dalam pertimbangannya haruslah menjelaskan alasan-alasan juridis yang cukup sehingga menguatkan Putusan Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan yang dimohonkan banding;

Bahwa oleh karena telah terbukti Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan tidak menjelaskan alasan-alasan juridis yang cukup sehingga menguatkan Putusan Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan yang dimohonkan banding, maka beralasan menurut hukum putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan, tidak dapat dipertahankan dan haruslah dibatalkan;

2. Bahwa Pemohon Kasasi juga sangat tidak sependapat dengan pertimbangan hukum dalam putusan Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan sebagai alasan mengabulkan gugatan Penggugat/Ter-banding/Termohon Kasasi untuk sebahagian yang tertuang dalam halaman 52 s/d 54 yang menyebutkan:

a. “Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 45 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia, mengatur:

(1) Dalam hal Terduga Pelanggar tidak menunjuk Pendamping, Akreditor meminta pengemban fungsi hukum untuk menunjuk pendamping bagi Terduga Pelanggar selama proses pemeriksaan;

(2) Dalam hal Terduga Pelanggar menolak Pendamping yang ditunjuk oleh fungsi hukum Terduga Pelanggar wajib membuat surat pernyataan menolak;

b. Menimbang, bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaan Terperiksa Sukarman (Penggugat in casu) terungkap fakta dalam pemeriksaan tanggal 21 Maret 2013, telah ditanyakan terlebih dahulu kepada

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Penggugat apakah perlu didampingi oleh Pengacara atau Penasehat Hukum, dan atas pertanyaan tersebut telah dijawab oleh Penggugat “tidak perlu dan cukup dengan keterangan Penggugat sendiri” (vide bukti P-7)

c. Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi Sulaiman Pangaribuan, S.H. dipersidangan, yang melakukan pemeriksaan terhadap Penggugat, terungkap fakta pada saat pemeriksaan memang benar Penggugat ditanyakan apakah Penggugat perlu didampingi oleh Pengacara atau Penasehat Hukum, namun saksi tersebut mengakui tidak pernah menunjuk pendamping dan tidak pernah mewajibkan Penggugat untuk membuat surat pernyataan penolakan;

d. Menimbang, bahwa penerbitan suatu Keputusan Tata Usaha Negara haruslah memperhatikan peraturan perundang-undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Peraturan perundang-undangan mengatur mengenai prosedur penerbitan Keputusan Tata Usaha Negara, hal ini guna menjamin keterbukaan dan permainan yang layak (fair play) dalam penerbitan Keputusan Tata Usaha Negara;

e. Menimbang, bahwa dengan tidak ditunjuknya pendamping pada saat pemeriksaan Penggugat dan tidak dibuatnya surat pernyataan menolak, maka tindakan Tergugat dalam menerbitkan objek sengketa harus dinyatakan tidak prosedural dan bertentangan peraturan perundang-undangan;

Bahwa pertimbangan Judex Facti tersebut adalah pertimbangan yang tidak berdasarkan hukum, salah dan keliru dengan alasan hukum, bahwa Berita Acara Penolakan adalah merupakan suatu kelengkapan formal dari suatu perbuatan materil yang perbuatan materilnya sudah diakui oleh Penggugat/ Terbanding/Termohon Kasasi yaitu bahwa Terbanding/Termohon Kasasi telah ditanyakan apakah memerlukan Pengacara atau Panasehat Hukum untuk mendampingi dalam pemeriksaan namun Penggugat/Terbanding/ Termohon Kasasi menjawab tidak memerlukan sebagaimana hal ini secara tegas diakui oleh Terbanding/Termohon Kasasi yang dibenarkan oleh Hakim Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan dalam pertimbangan hukumnya sebagaimana kami uraikan tersebut diatas;

Bahwa Berita Acara Penolakan ditujukan untuk memastikan bahwa hak Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi selaku Terduga Pelanggar untuk didampingi oleh seorang Pendamping sudah dipenuhi guna menjamin seluruh prosedur pemeriksaan dilakukan terhadap Penggugat/Terbanding/

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

Termohon Kasasi berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa secara materil Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi sudah mengakui bahwa hak untuk didampingi seorang Pendamping sudah diberikan oleh Pemeriksa (Aiptu Sulaiman Pangaribuan) dan Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi mengakui hal tersebut di dalam pemeriksaan yang dituang dalam Berita Acara Pemeriksaan tanggal 21 Maret 2013 yang nilai formal dan materilnya sama dengan Berita Acara Penolakan (Vide Bukti-7), maka secara hukum pemeriksaan Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi sebagai Terduga Pelanggar telah sesuai ketentuan Pasal 45 ayat (1) dan (2) Peraturan Kapolri Nomor 19 Tahun 2012 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Polri;

Bahwa demikian juga dalam pertimbangan Judex Factie telah mengakui dan membenarkan bahwa hak Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi untuk didampingi seorang Pendamping telah diberikan kepada Penggugat/ Terbanding/Termohon Kasasi sebagaimana dalam pertimbangan Judex Factie yang telah kami uraikan tersebut diatas yang pada intinya bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Terperiksa Sukarman (Penggugat/ Terbanding/Termohon Kasasi) terungkap fakta dalam pemeriksaan tanggal 21 Maret 2013, telah ditanyakan terlebih dahulu kepada Penggugat apakah perlu didampingi oleh Pengacara atau Penasehat Hukum, dan atas pertanyaan tersebut telah dijawab oleh Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi “tidak perlu dan cukup dengan keterangan Penggugat sendiri”; Bahwa pengunaan Pendamping dalam pemeriksaan adalah merupakan hak, yang pada prinsipnya secara hukum seseorang tidak dapat dipaksakan untuk menggunakan haknya, bilamana itu dilakukan maka hak Terduga Pelanggar akan berubah menjadi suatu kewajiban dan hal itu akan bertentangan dengan prinsip hukum dalam mempertahankan suatu hak dalam suatu proses beracara;

Bahwa berdasarkan alasan-alasan juridis tersebut diatas, telah cukup membuktikan bahwa pemeriksaan Penggugat/Terbanding/Termohon Kasasi sebagai Terduga Pelanggar telah sesuai ketentuan hukum (Vide Peraturan Kapolri Nomor 19 Tahun 2012/Bukti T-4) sehingga pertimbangan Judex Factie Pengadilan Tata Usaha Negara Medan tersebut diatas telah salah dan keliru dalam pertimbangan hukumnya, kiranya dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memeriksa dan memutus perkara a quo;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

3. Bahwa Pemohon kasasi juga sangat tidak sependapat dengan pertimbangan hukum dalam putusan Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan (halaman 54 s/d 55), menjelaskan:

a. Menimbang,bahwa terkait dalil Penggugat mengenai pendamping pada saat kode etik, ketentuan Pasal 76 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Kepolisian negara Republik Indonesia telah tegas mengatur:

Pendamping Terduga Pelanggar adalah Pegawai Negeri pada Polri yang memenuhi persyaratan:

1) Berpendidikan sarjana hukum dan/atau sarjana kepolisian;

2) Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beracara secara tehnik dan taktis dalam sidang KKEP;

3) Tidak sedang menjalani proses hukum atau menjalani hukuman; 4) Memiliki surat kuasa dari Terduga Pelanggar, dan/atau;

5) Memiliki surat perintah dari atasan pendamping.

b. Menimbang, bahwa terhadap aturan mengenai Pendamping tersebut telah secara limitatif diatur dalam Pasal 76 tersebut di atas, tidak perlu ditafsirkan atau diartikan lain. Terhadap pelaksanaannya tinggal mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada terkait dengan jabatan Pendamping ataupun peraturan yang lainnya;

c. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum diatas, maka Majelis Hakim berpendapat tindakan Tergugat dalam menerbitkan objek sengketa harus dinyatakan tidak prosedural dan melanggar peraturan perundang-undangan sehingga haruslah dibatalkan;

Bahwa Pemohon kasasi sangat keberatan dengan pertimbangan Judex Facti Pengadilan Tata Usaha Negara Medan karena Hakim Judex Factie kurang mempertimbangkan (onvoldoende gemotiverd) fakta lainnya yang terkait dengan perkara Terduga Pelanggar antara lain:

a. Bahwa putusan Judex Facti hanya didasarkan pada pertimbangan yang menafsirkan Pasal 76 Perkap Nomor 19 Tahun 2012 tentang syarat Pendamping yang harus memiliki gelar sarjana hukum dan/atau sarjana ilmu kepolisian secara gramatikal tanpa mempertimbangkan norma lain yang ada dalam peraturan tersebut dan juga peraturan peraturan perundang-undangan lainnya dan Judex Facti hanya berupaya mencari kebenaran formal tanpa melihat kebenaran materil sehingga tujuan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 26 halaman. Putusan Nomor 119 K/TUN/2017

hukum itu sendiri yaitu adanya rasa keadilan dan kemanfaatan hukum menjadi dikesampingkan atau terabaikan;

b. Bahwa untuk mencapai tujuan hukum tersebut seharusnya penerapan Pasal 76 Perkap Nomor 19 Tahun 2012 tidak hanya dapat dipandang secara gramatikal tapi juga dapat ditafsirkan secara sistematis yaitu dengan mempertimbangkan syarat untuk menjadi Ketua dan anggota Komisi Kode Etik serta penuntut dalam sidang Komisi Kode Etik sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Perkap Nomor 19 Tahun 2012 yang tidak mengharuskan perangkat sidang tersebut untuk memiliki gelar sarjana hukum atau sarjana ilmu kepolisian, lalu dimana esensinya yang membuat Pendamping Terduga Pelanggar harus memiliki gelar sarjana Hukum atau sarjana kepolisian? sedangkan Ketua, wakil ketua dan Penutut tidak diwajibkan memiliki persyaratan untuk memilik gelar sarjana hukum atau sarjana ilmu kepolisian, pertanyaan ini hanya bisa dipahami bila dilakukan penafsiran sistimatis; c. Bahwa syarat pendamping untuk memiliki gelar Sarjana Hukum

dan/atau sarjana ilmu kepolisian menjadi kewajiban apabila Pendamping tersebut merupakan bagian dari penerapan Pasal 18 ayat 2 Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Polri yang berbunyi “Dalam hal terduga Pelanggar tidak menunjuk Anggota Polri sebagai pendamping, pengemban fungsi hukum wajib menunjuk pendamping” jo Pasal 45 Perkap Nomor 19 Tahun 2012 yang berbunyi “Dalam hal terduga Pelanggar tidak menunjuk Pendamping”;

“Akreditor meminta pengemban fungsi hukum untuk menunjuk pendamping bagi terduga Pelanggar selama proses pemeriksaan”, dan personel Polri yang ditunjuk untuk mendampingi tersebut berada diluar struktur Subbagkum Polres dengan maksud agar Pendamping tersebut memiliki kemampuan yang maksimal untuk memberikan bantuan hukum kepada Terduga Pelanggar;

d. Bahwa penunjukan Kasubbagkum oleh Ketua Sidang Komisi Kode Etik sebagai Pendamping Terduga Pelanggar dalam persidangan sudah sesuai dengan tugas pokok Kasubbagkum sebagaimana diatur dalam Pasal 24 huruf b Perkap Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor yang berbunyi “Subbagian Hukum (subbagkum) yang bertugas melaksanakan pelayanan bantuan hukum, memberikan pendapat dan saran hukum, penyuluhan hukum, dan pembinaan hukum

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 173 ayat (1), Pasal 174 ayat (2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 2014 jo Pasal 77 ayat (30, Pasal

Menimbang, bahwa sesuai ketentuan pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 145 HIR, majelis hakim telah mendengar keterangan 2 (du a)

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta tersebut diatas meskipun rumusan unsur dalam pasal 112 Ayat (1) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun

Bahwa, Permohonan A-quo Para Pemohon ajukan pada Mahkamah Agung telah berdasarkan ketentuan Pasal 7 dan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Dengan mendasari pada ketentuan pasal–pasal tersebut di atas, dan berdasarkan bukti-bukti surat (vide: bukti P-6 dan T I-9, T I-20) sudah sepatutnya Judex Facti secara

Bahwa berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan

Bahwa menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia pada Pasal 62 ayat (1) yang berbunyi :

Bahwa seharusnya judex facti memberikan pertimbangan tentang saksi ahli yang merupakan salah satu alat bukti pemeriksaan Termohon Kasasi berdasarkan pasal tersebut diatas, yang