• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN LABORATORIUM DANA LOKAL ITS TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN LABORATORIUM DANA LOKAL ITS TAHUN 2020"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PENELITIAN LABORATORIUM

DANA LOKAL ITS TAHUN 2020

DESAIN BISNIS EKOSISTEM INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY

(STUDI KASUS DI KOTA BATU)

Tim Peneliti:

Ketua: Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng Anggota:

Dewie Saktia Ardiantono, ST., MT.

Aang Kunaifi, SE., M.SA.Ak. Ninditya Nareswari, SM., M.Sc.

Ribka Anintha Miyagi Vevy Febrilian

Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi Departemen Manajemen Bisnis FDKBD-ITS

DIREKTOAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA 2020

(2)

2

HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL PROGRAM PENELITIAN LABORATORIUM DANA LOKAL ITS 2020

1. Judul Penelitian :

2. Ketua Tim

a. Nama : Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng

b. NIP : 196608131994021001

c. Pangkat/Golongan : Pembina

d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

e. Jurusaan : Departemen Manajemen Bisnis

f. Fakultas : Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital g. Laboratorium : Bisnis Analitik dan Strategi

h. Alamat Kantor :

i. Telp/HP/Fax : 081331468839

3. Jumlah Anggota : 3

4. Jumlah mahasiswa yang terlibat : 2

5. Sumber dan jumlah dana penelitian yang diusulkan a. Dana Lokal ITS 2020 50.000.000,-

b. Sumber Lain 0,-

Jumlah 50.000.000,-

Mengetahui,

Kepala Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi

Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng. NIP. 196608131994021001

Surabaya, 06 Maret 2020 Ketua Tim Peneliti

Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng. NIP. 196608131994021001

Mengesahkan, Direktur DRPM ITS

Agus Muhamad Hatta, S.T.,M.Si.,Ph.D NIP. 197809022003121002

Menyetujui,

Kepala PUI Desain

Dr. Ir. Bambang Iskandriawan, M.Eng. NIP. 196011221990021001

DESAIN BISNIS EKOSISTEM INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY

(3)

ABSTRAK

Permasalahan pengelolaan sampah adalah salah satu masalah yang signifikan bagi Indonesia hingga menjadi penyumbang sampah terbesar pada posisi kedua. Bila masalah pengelolaan sampah di Indonesia dapat diselesaikan dengan baik, diestimasikan bahwa dengan penerapan circular economy di Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 27,3 triliun rupiah per tahun. Kondisi riil dan estimasi di atas perlu ditindaklanjuti dengan kolaborasi bisnis ekosistem antara pemangku kepentingan yang terlibat dalam masalah tersebut. Konsep kolaborasi ABGS (Academic, Business, Government, dan Society) dapat digunakan unuk mencapai keadaan ideal penyelesaian masalah sampah. Kondisi ini dapat dicapai dengan menerapkan kolaborasi ABGS pada circular economy dan dipetakan secara sehat pada ekosistem bisnis yang diharapkan.

Indonesia memiliki harapan pendukung lainnya untuk menyelesaikan masalah di atas. Pariwisata Indonesia dinilai menarik karena mampu menduduki peringkat ke-40 dunia pada Tourism Competitiveness Index di tahun 2019. Namun, terdapat pilar penilaian yang tertinggal jauh yaitu Environmental Sustainability. Beberapa usaha telah dilakukan salah satunya Rencana Pengembangan Nasional tahun 2005-2025 menyatakan bahwa pengembangan pariwisata harus berdasarkan prinsip bahwa pariwisata perlu menjaga dan melakukan konservasi lingkungan secara holistik.

Meskipun demikian, tren pariwisata Indonesia semakin berkembang dengan menunjukkan arah yang positif pada agrowisata. Sampah yang dihasilkan dari kegiatan wisata di agrowisata banyak terdiri dari sampah organik yang memiliki potensi pengolahan dengan nilai benefit yang cukup signifikan. Dengan konsep pengintegrasian bisnis ekosistem berbasis circular economy maka, benefit yang didapatkan tidak hanya bagi pihak-pihak tertentu, namun bagi seluruh komponen dari bisnis ekosistem tersebut.

Dengan demikian, penelitian perancangan desain bisnis ekosistem dengan pengintegrasian agrowisata berbasis circular economy ini akan diterapkan untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah pada sektor agrowisata dan mendukung keberlanjutan dari agrowisata tersebut.

(4)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Relevansi Penelitian ... 4

1.5. Target Luaran Penelitian ... 5

1.6. Penelitian Lanjutan ... 5 BAB II ... 7 2.1 Industri Agrowisata ... 7 2.2. Bisnis Ekosistem ... 11 2.2.1. Aktor ... 12 2.2.2. Kesehatan ... 12

2.2.3. Dinamika Evolusi dan Kinerja Kesehatan ... 12

2.2.4. Elemen Dalam BE ... 13

2.3. Bisnis Model ... 14

2.4. Penelitian Terdahulu (Critical Review) ... 18

2.5. Roadmap Penelitian berdasarkan Critical Review ... 21

BAB III ... 23

3.1. Metode Pengumpulan Data dan Pengolahannya ... 23

3.2. Output yang dihasilkan ... 24

BAB IV ... 25

4.1. Organisasi Tim Peneliti ... 25

4.2. Jadwal ... 27

4.3. Anggaran Biaya ... 28

REFERENSI ... 29

(5)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Topik dan judul penelitian ini merupakan gagasan ketua tim peneliti yang sedang menginiasi kolaborasi riset antar sesama peneliti yang memiliki minat riset di bidang kebijakan desain, khususnya desain agrowisata yang berbasiskan perencanaan bisnis dan ekonomi yang mendukung tercapainya kebijakan ekonomi sirkular (circular economy) di Indonesia untuk menjadi solusi waste management yang memiliki potensi keberlanjutan pada agrowisata.

Topik dan judul penelitian ini juga terangkum dengan topik pendukung mengenai kebijakan dengan konsentrasi strategi pengembangan yang telah dikeluarkan oleh Pusat Unggulan IPTEK Desain DRPM-ITS. Penelitian untuk model perancangan agrowisata diterapkan untuk merancang desain ekosistem bisnis yang cocok diimplementasikan di industri agrowisata. Penelitian ini akan melakukan perancangan desain ekosistem bisnis pada suatu agrowisata di Batu.

Spesifiknya, peneliti juga hendak melakukan analisa secara general tentang bagaimana seharusnya ekosistem bisnis bagi agrowisata di Indonesia yang berbasiskan circular economy. Penerapan circular economy ini dinilai mampu menjadi solusi dari banyaknya sampah yang terdapat di Indonesia. Bila dibandingkan dengan linear economy yang telah umum diterapkan, circular conomy memiliki beberapa keunggulan dalam faktor produsen dan produk, efisiensi sumber daya, pengelolaan waste, kolaborasi, dan keberlanjutan (Toop et al., 2017; Ward et al., 2016). Circular Economy ini sudah mulai menjadi tren di Indonesia mengingat perencanaan pemerintah untuk mengurangi volume sampah hingga 30 persen dan melakukan pengolahan kembali 70 persen sampah yang ada di Indonesia pada tahun 2025 (Kahfi, 2019). Namun, masalah yang terjadi adalah ketika pemerintah dan pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan pengolahan sampah tidak melakukan sinergi dengan baik. Di sisi lain, pengolahan sampah dilakukan hanya oleh beberapa pihak informal yang memiliki kemampuan terbatas dalam melakukan pengolahan. Maka, perlu adanya kolaborasi yang disebut kolaborasi ABGS yang memaksudkan kolaborasi antara intitusi akademik

(6)

2

(Academic), sektor bisnis (Business), pemerintahan (Government), dan masyarakat (Society).

Dengan pengimplementasikan circular economy di Indonesia dapat menciptakan integrasi di antara pemangku kepentingan untuk dapat bersinergi mencapai tujuan pemerintah untuk mengurangi sampah di Indonesia. Urgensi lainnya dari penelitian tentang implementasi konsep circular economy ini adalah karena Indonesia dijadikan salah satu dari tiga negara yang ditargetkan oleh Uni Eropa untuk mempromosikan konsep circular economy selain Jepang dan India. Bahkan, diestimasikan bahwa dengan penerapan circular economy di Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 27,3 triliun rupiah per tahun (Anya, 2019).

Signifikansi permasalahan sampah di Indonesia ditunjukkan dari Indonesia yang menduduki posisi kedua di dunia setelah China sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di tahun 2018. Indonesia mampu menyumbang sampah plastik pada dunia hingga 3.21 juta metrik ton/tahun. Sayangnya, salah satu penyumbang sampah plastik ini berasal dari industri pariwisata. Daerah destinasi pariwisata terbesar di Indonesia, yaitu Bali bahkan menyumbang hingga 4.281 ton sampah per hari di tahun 2019 (Siddharta, 2019). Hanya 48 persen dari sampah tersebut yang dapat dikelola dengan baik. Selain Bali yang didominasi oleh wisata laut, industri pariwisata lainnya yang juga menjadi penyumbang sampah bagi Indonesia adalah industri agrowisata. Sampah yang dihasilkan dari kegiatan wisata di agrowisata banyak terdiri dari sampah organik yang memiliki potensi pengolahan dengan nilai benefit yang cukup signifikan.

Mengingat bahwa industri pariwisata ini adalah penyumbang terbesar devisa Indonesia hingga 197,4 triliun rupiah di tahun 2018. Karena hal tersebut, dijadikan salah satu industri unggulan yang membutuhkan banyak perhatian dari seluruh pemangku kepentingan. Namun, ternyata kontribusi pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sesuai yang diharapkan, yaitu hanya sebesar 4,11 persen sementara pemerintah telah memasang target kontribusi pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 8 persen. Industri pariwisata Indonesia juga dinilai relatif menarik karena mampu menduduki peringkat ke-40

(7)

3

dunia pada Tourism Competitiveness Index di tahun 2019 (Calderwood & Soshkin, 2019).

Patut disayangkan bahwa meskipun cukup menarik di mata dunia, masih terdapat tiga pilar yang perlu diperbaiki pada industri pariwisata Indonesia yang juga menjadi salah satu poin penilaian yaitu Environmental Sustainability (peringkat 131/136), Health and Hygiene (108/136), dan Tourist Service Infrastructure (96/136) (Calderwood & Soshkin, 2019). Environmental Sustainability ini menjadi pilar dengan peringkat terendah bagi Indonesia. Dua indikator penilaian untuk environmental sustainability yang menjadi perhatian peneliti ialah sustainability of travel and tourism industry development dan enforcement of environmental reguations. Sebenarnya, Indonesia telah memiliki regulasi yang mampu mengakomodasi masalah tersebut yaitu pada Peraturan Kementerian Pariwisata Nomor 14 tahun 2016 pada Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan dan Rencana Pengembangan Nasional tahun 2005-2025 menyatakan bahwa pengembangan pariwisata harus berdasarkan prinsip bahwa pariwisata perlu menjaga dan melakukan konservasi lingkungan secara holistik. Dengan mempertimbangkan dibutuhkannya perspektif yang holistik pada pengembangan pariwisata maka, desain ekosistem bisnis pada tempat wisata dapat diimplementasikan untuk memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan pada ekosistem bisnis dapat berkontribusi untuk keberlanjutan tempat pariwisata. Ekosistem bisnis sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu, lapisan terdalam adalah core business, kemudian terdapat extended enterprise, dan lapisan terluar yaitu business ecosystem.

Untuk mencapai keberlanjutan pariwisata, tidak hanya pihak-pihak tertentu saja yang bertanggungjawab untuk mengusahakan keberlanjutan tersebut. Integrasi Dibutuhkan rancangan yang mampu memetakan pihak mana saja dan peran masing-masing pemangku kepentingan agar dapat bersinergi mencapai tujuan keberlanjutan bagi pariwisata Indonesia pada lima tahun mendatang. Di Indonesia, tren agrowisata menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Diharapkan bahwa agrowisata dapat dijadikan salah satu objek pedoman bagi bentuk wisata lainnya untuk penerapan konsep keberlanjutan. Namun, masih

(8)

4

terdapat kurangnya penelitian tentang ekosistem bisnis yang sesuai dan sehat bagi industri agrowisata yang menerapkan konsep circular economy. Penciptaan ekosistem bisnis ini juga perlu diselaraskan dengan dengan redesain model bisnis sehingga diperlukan metodologi yang dapat menjadi acuan dalam menerjemahkan bisnis ekosistem ke bisnis model.

1.2. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Konsep keberlanjutan yang digunakan adalah circular economy yang mempromosikan integrasi yang sinergis antara masing-masing pemangku kepentingan yang akan dirumuskan dalam bentuk ekosistem bisnis pada industri agrowisata. Oleh karena itu, permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana desain ekosistem bisnis yang sesuai untuk diimplementasikan pada Agrowisata di Batu dengan konsep circular economy, sehingga dapat menjadi ide konsep penerapan circular economy yang mendukung pencapaian keberlanjutan bisnis dan lingkungan di pariwisata Indonesia?”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini diantaranya adalah:

1. Menganalisis permasalahan dan merancang desain ekosistem bisnis agrowisata dengan konsep circular economy dengan mengintegrasikan pemangku kepentingan yang akan dipetakan pada ekosistem bisnis.

2. Menyelaraskan konsep bisnis ekosistem dengan redesain model bisnis sehingga diperoleh metodologi yang dapat menjadi acuan dalam menerjemahkan bisnis ekosistem ke bisnis model, atau kebalikannya. 3. Memetakan kontribusi penerapan desain ekosistem bisnis agrowisata

dengan konsep circular economy pada Sustainable Development Goals. 1.4. Relevansi Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa relevansi diantaranya adalah:

1. Relevansi dengan konsentrasi strategi pengembangan yang telah dikeluarkan oleh Pusat Unggulan IPTEK Desain DRPM-ITS yaitu menunjang model perancangan Agrowisata dari sisi manajemen sistem pengelolaan.

(9)

5 2. Relevansi dengan konsentrasi pengembangan Pusat Kajian Kebijakan

Publik, Bisnis, dan Industri DRPM-ITS pada bidang pariwisata.

3. Relevansi dengan Peraturan Kementerian Pariwisata Nomor 14 tahun 2016 pada Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang dapat mengakomodasi peningkatan faktor keberlanjutan bagi sektor pariwisata yang ada di Indonesia.

4. Relevansi dengan Prioritas Riset Nasional (PRN) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam ruang lingkup ekonomi, bisnis, dan pembangunan.

5. Relevansi dengan Rencana Pengembangan Nasional tahun 2005-2025 menyatakan bahwa pengembangan pariwisata harus berdasarkan prinsip bahwa pariwisata perlu menjaga dan melakukan konservasi lingkungan secara holistik.

6. Relevansi dengan scope penelitian dari Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi, Manajemen Bisnis ITS yang mengacu pada Sustainable Development Goals.

1.5. Target Luaran Penelitian

Target luaran yang akan dihasilkan dari penelitian ini diantaranya adalah: 1. Publikasi jurnal internasional terindeks scopus kuartil 2.

2. Publikasi digital berupa video micro-teaching.

3. Diseminasi hasil penelitian secara nasional dalam bentuk publikasi media dan event nasional.

4. Target luaran sampingan: pelatihan pengelolaan sampah bagi pelaku bisnis agro-wisata.

1.6. Penelitian Lanjutan

Penelitian ini didesain untuk dapat dilakukan dalam beberapa tahun. Untuk mencapai implementasinya, dibutuhkan minimal dua tahun bagi pengintegrasian masing-masing pemangku kepentingan dalam bisnis ekosistem. Pada tahun pertama, akan dilakukan perancangan desain ekosistem bisnis yang sesuai bagi konsep circular economy pada agrowisata yang berlokasi di Kota Batu. Pada tahun kedua, akan dilakukan implementasi konsep circular economy pada agrowisata yang berlokasi di Batu. Bentuk framework untuk yang digunakan untuk menjadi

(10)

6

pedoman dapat terlihat pada gambar 1. Pada gambar tersebut adalah gambaran umum yang dilakukan di Eropa. Namun, pada penelitian yang dilakukan, akan diterapkan di industri Agrowisata yang ada di Indonesia dan melakukan integrasi dengan seluruh pemangku kepentingan yang ada dalam bisnis ekosistem.

Gambar 1. Ilustrasi sederhana dari Circular Economy (Sumber:Vanner et al. (2014))

(11)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Industri Agrowisata

Agrowisata merupakan salah satu bentuk ekonomi kreatif dalam sektor pertanian yang dapat memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Agrowisata dapat dikatakan sebagai kombinasi antara pertanian dan pariwisata. Kegiatan agrowisata bertujuan untuk menambah pengalaman, pengetahuan, serta rekreasi yang berkaitan dengan usaha dibidang pertanian. Usaha dibidang pertanian tersebut meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan, perhutanan dan sumber daya pertanian. Pengembangan agrowisata dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Konservasi lingkungan, pengembangan dan pengelolaan agrowisata yang objeknya menyatu dengan lingkungan

2. Memberikan kenyamanan dan kesegaran pada daerah agrowisata. Kawasan agrowisata yang memiliki area luas dengan berbagai jenis pohon dan tanaman holtikultura dapat mempengaruhi cuaca dan iklim di sekitarnya. 3. Meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam. Lingkungan alam yang

indah, panorama yang memberikan kenyamanan, dan tertata rapi dapat memberikan nuansa alami.

4. Sebagai sarana rekreasi. Wisata tidak dapat dipisahkan keberadaannya sebagai sarana rekreasi. Pengelola agrowisata dapat mengembangkan fasilitas lainnya yang dapat menunjang kebutuhan para wisatawan.

5. Meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembangan agrowisata, tidak saja bertujuan untuk mengembangkan nilai rekreatif, akan tetapi lebih jauh mendorong seseorang atau kelompok menambah ilmu pengetahuan yang bernilai ilmiah kekayaan flora dan fauna dengan berbagai jenisnya.

6. Mengembangkan ekonomi masyarakat. Agrowisata yang dibina secara baik dengan memperhatikan dan mendasarkan kepada kemampuan masyarakat, akan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat, dalam bentuk pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja.

(12)

8

Salah satu contoh agrowisata adalah mengunjungi perkebunan nanas dengan kegiatan dari cara memilih bibit nanas, menanam nanas, cara memelihara nanas, dan melakukan panen nanas dan diakhiri memasuki pabrik nanas untuk melihat cara memproses nanas ke dalam kaleng, juice dan permen nanas serta, packing berbagai jenis makanan nanas. Kegiatan/tour tersebut telah banyak menarik minat wisatawan. Terdapat tiga kriteria kawasan agrowisata berdasarkan Bappenas (2004)

1. Memiliki potensi atau basis kawasan di sektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan maupun peternakan, misalnya :

a. Subsistem usaha pertanian primer (on farm) yang diantara lain terdiri dari pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan.

b. Subsistem industri pertanian yang antara lain terdiri industri pengolahan, kerajinan, pengemasan dan pemasaran baik lokal maupun ekspor.

c. Subsistem pelayanan yang menunjang kesinambungan dan daya dukung kawasan baik terhadap industri dan layanan wisata maupun sektor agro, misalnya transportasi dan akomodasi, penelitian dan pengembangan, perbankan dan asuransi, fasilitas telekomunikasi dan infrastruktur. 2. Adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan

wisata dengan keterkaitan dan ketergantungan yang cukup tinggi, antara lain kegiatan pertanian yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata, dan sebaliknya kegiatan pariwisata yang memacu berkembangnya sektor pertanian.

3. Adanya interaksi yang intensif dan saling mendukung bagi kegiatan agro dengan kegiatan pariwisata dalam kesatuan kawasan, antara lain berbagai kegiatan dan produk wisata yang dikembangkan secara berkelanjutan. Salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan kawasan agrowisata adalah Batu. Batu memiliki suhu minimum berkisar 18-24 derajat celcius dan suhu maksimum 28-32 derajat celcius dengan kelembaban udara sekitar 75-98 persen dan curah hujan rata-rata 875-3000 mm per tahun yang sangat cocok untuk pengembangan lokasi agrowisata. Sejak tahun 2009, Kota Batu telah memperkenalkan diri dengan nama Kota Wisata Batu sehingga pemerintahan Kota

(13)

9

Batu selalu berfokus pada pengembangan sektor pariwisata. Hal tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2017-2022, visi Pemerintah Kota Batu adalah: ”Desa berdaya kota berjaya terwujudnya Kota Batu sebagai sentra Agrowisata Internasional yang berkarakter, berdaya saing dan sejahtera.”dan salah satu misi untuk mewujudkan visi tersebut adalah ” Mewujudkan Daya Saing Perekonomian Daerah yang Progresif, Mandiri Berbasis Agrowisata”.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Batu Tahun 2017-2022

Berdasarkan data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Batu Tahun 2017-2022, Dinas Pertanian mentargetkan peningkatan produksi sayuran pertahun sekitar 50-80 ton dan mentargetkan peningkatan produksi buah-buahan pertahun sekitar 70-80 ton. Sejalan dengan rencana tersebut, ekosistem agrowisata memerlukan implementasi desain bisnis yang mampu menciptakan integrasi diantara pemangku kepentingan dan berbagai pihak. Selain itu pengembangan agrowisata harus memperhatikan berbagai aspek yang ada didalam ekosistem tersebut. Maka hal yang dapat dilakukan ialah dengan mengganti pendekatan yang sebelumnya menggunakan pendekatan linear economy dengan circular economy.

50000 55000 60000 65000 70000 75000 80000 2018 2019 2020 2021 2022

Sasaran Jangka Menengah Dinas Pertanian Kota Batu

(dalam ton)

Jumlah Produksi Tanaman Hortikultura (Sayuran) Jumlah Produksi Tanaman Hortikultura (Buah-buahan)

(14)

10

Tabel 1 menggambarkan perbandingan ekosistem agrowisata yang berbasis linear economy dan circular economy.

Tabel 1

Perbandingan Agrowisata dengan basis Linear economy dan Circular economy Linear economy Circular economy

Produsen dan Produk

Produsen belum teredukasi dan mengimplementasikan Produk yang mengikuti konsep reusable, repairable, compstable, dan recyclable.

Produsen telah teredukasi dan menghasilkan produk agrowisata dan bahan pendukung produk (seperti pembungkus produk) yang dihasilkan bersifat reusable, repairable, compostable, dan recyclable

Efisiensi Sumber Daya

Sumber daya belum

digunakan secara efisien

Sumber daya digunakan secara efisien dengan menerapkan konsep reuse dan repairing sehingga meminimalkan jumlah waste Pengelolaan waste Belum ada sektor

pengelolaan waste, atau sudah ada tetapi belum melaksanakan fungsinya

Didalam lokasi agrowisata tersebut, terdapat sektor pengelolaan waste yang bertanggung jawab untuk

- Melakukan fungsi monitoring terhadap lingkungan

- Mengumpulkan waste

- Memberi skor dan mengklasifikasikan waste - Melakukan remanufacturing terhadap waste tersebut

Kolaborasi Belum melakukan

kolaborasi atau sudah melakukan kolaborasi namun belum melibatkan seluruh pihak terkait

Terdapat kolaborasi dan integrasi antar pihak terkait (stakeholder, akademisi, pengelola bisnis, dan pemerintahan)

(15)

11

Linear economy Circular economy Keberlanjutan Belum berfokus untuk

tujuan jangka panjang

Telah berfokus untuk keberlanjutan agrowisata yang berkesinambungan Sumber: Toop et al. (2017) ; Ward et al. (2016)

Berdasarkan Tabel 1, terdapat perbedaan yang signifikan antara agrowisata berbasis linear economy dengan circular economy. Dengan melakukan implementasi desain bisnis berbasis circular economy, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi industri agrowisata dengan terciptanya integrasi antara pemangku kepentingan dengan pihak terkait.

2.2. Bisnis Ekosistem

Dalam mendesain Integrated Agro Tourism berbasis circular economy, dibutuhkan desain Bisnis Ekosistem sedemikian rupa sehingga mampu menjamin filosofi dan penerapan konsep circular economic bisa diaplikasikan. Dalam hal ini, Bisnis Ekosistem akan mengintegrasikan faktor-faktor kritikal yang mampu menjamin tujuan system Integrated Agro Tourism bisa berjalan dengan selaras.

Untuk meningkatkan daya saing industri pariwisata agro, dibutuhkan desain secara holistik, salah atu pendekatanya adalah melalui pemahaman atas BE dari industri wisata itu sendiri. Business ecosyetem artinya “A business ecosystem describes the structure and behavior of a network of high-tech organizations that share a key technological platform and the ways individual firms can flourish in such an environment”(Moore, 1993)

Definisi James Moore diatas dapat diterjemahkan secara bebas sebagai sebuah network, dimana setiap elemen didalamnya saling berinteraksi satu sama lain dan saling berbagi sumber daya dengan tujuan untuk dapat mengembangkan network atau lingkungan itu sendiri.

James F. Moore dalam artikelnya di Harvard Business Review yang berjudul "Predators and Prey: A New Ecology of Competition", mengasumsikan bahwa persaingan di dunia bisnis dan perilaku organisasi ibarat metapora dalam kasus biologi. Oleh karena itu, ekosistem didefinisikan terdiri atas komponen-komponen: aktor (analog dengan species), hubungan antara aktor (network), kinerja (analog dengan health), dinamika (analog dengan evolution), serta strategi dan perilaku aktor (analog dengan roles).

(16)

12

2.2.1. Aktor

Adapun jenis-jenis actor yang terlibat dalam BE ada 7 (tujuh): kastemer, pasar/market, proses, organisasi, stakeholder, dan pemeritah/society. Ketujuh jenis actor ini dalam pandangan peneliti harus bisa diterjemahkan menjadi bagian (segmen/building block) dari BMC (Bisnis Model Canvas).

Misal: kastemer akan mengisi building blok sebelah kanan dari BMC, sementara proses akan berhubungan dengan segmen KEY PROCESS dalam desain BMC nantinya. Dari sisi jenis-jenis actor, perlu diterjemahkan kedalam building blok sisi kiri infrastruktur BMC dalam segmen KEY PARTNER, termasuk strategi kolaborasinya dalam framework Triple Helix hingga Penta Helix.

2.2.2. Kesehatan

Agar mampu bersaing dan memberikan nilai lebih (value added creation, maka system bisnis harus mampu menjaga kesehatannya. Kesehatan system bisnis menurut konsep BE dibentuk oleh 4 (empat) faktor, yaitu: value (niche creation), critical mass (robustness), continuous performance improvement (productivity), dan co-evolution of joint learning dan efek optimisasi.

Keempat factor yang membentuk kesehatan ini dalam pendapat peneliti perlu di mapping ke dalam desain BMC, termasuk juga bagaimana strategi pertumbuhan lainnya dengan menggunakan framework manajemen selain BMC, seperti konsep INCREASING RETURN. Misal: factor value (niche creation) akan diterjemahkan ke segmen VALUE PREPOSITION, yang mampu menarik perhatian segmen CUSTOMER sesuai dengan need dan want nya, termasuk bagaimana strategi POSITIONING, CHANNEL dan BRANDING nya.

2.2.3. Dinamika Evolusi dan Kinerja Kesehatan

Dinamika evolusi dari system akan menentukan kinerjanya. Ada 4 (empat) tahapan factor kesehatan yang yang harus secara bersama-sama dimiliki system bisnis. Sebagaimana analog dengan kehidupan siklus hidup biologi manusia, dimana bila salah satunya tidak dipenuhi maka bisnis ekosistem tersebut tidak akan sukses.

(17)

13

Keempat faktor kinerja kesehatan itu adalah: (1) tahap kelahiran, yang merupakan tahap pionerisasi dengan focus akusisisi critical lead customer, supplier kunci, dan chanel penting. Tahap ini memastikan bahwa value creation yang diciptakannya mampu memproteksi competitor untuk masuk/melakukan bisnis yang sama dengan yang kita lakukan. (2) Tahap ekspansi, berhubungan dengan peningkatan skala dan skope, yang dilakukan bersama dengan KEY PARTNER, dan melakukan standarisasi untuk menjadi PLATFORM pada segmen pasar utama. (3) Tahap Kepemimpinan, yang ditunjukkan oleh karakter kepemimpinan dan otoritas, yang mampu mengajak dan memotivasi baik supplier maupun customer untuk berkolaborasi melakukan perbaikan berkelanjutan. Dalam hal ini, bila dihubungkan dengan konsep PORTER, maka perusahaan harus mampu meningkatkan BARGAINING POWERnya dihadapan partnernya. (4) Tahap Self – Renewal , yang berarti perusahaan harus mampu menahan perpindahan konsumen karena mereka mampu membuat produk lebih murah. Inovasi dan menjual NEW IDEA adalah salah satu kunci utama untuk menjual produk berkualitas dengan harga bersaing.

Dengan melakukan keempat action diatas, Moore menggambarkan kehidupan dan kematian dari ‘predators’ and ‘preys’ didalam ekosistem, sementara Iansiti and Levien mengembangkan teori Moore dengan beberapa pola dasar (archetype) dalam memilih strategi bersaing, yaitu: Keystone, Dominator, dan Niche Player.

2.2.4. Elemen Dalam BE

Berikut adalah gambar yang menjelaskan elemen apa saja yang ada dan aktivitasnya di dalam sebuah ekosistem bisnis

(18)

14

Gambar 2.1: Business Ecosystem Actors (Sumber: Moore,1996)

Dalam mengimplementasikan desain BE pada Integrated Agro Tourism di Batu nantinya, BE akan menjadi diagram yang meliputi pengembangan BMC dari Extended Entreprise, yaitu kumpulan stakeholder bisnis (dengan BMC masing-masing), yang terintegrasi untuk mencapai tujuan wisata destinasi Batu menjadi wisata unggulan.

2.3. Bisnis Model

Model bisnis adalah gambaran singkat dari suatu perusahan tentang cara menghasilkan uang. Menggambarkan tentang barang yang dijual, siapa pembelinya, delivery produk atau layanan, cara mendapat pelanggan dan menjaganya, cara perusahaan (atau setiap bisnis unit) mengatur agar pendapatannya lebih besar dari pembelanjaannya.

Bisnis model pada dasarnya merupakan desain rasionalitas yang menjelaskan bagaimana suatu organisasi menciptakan, memberikan, dan mengembangkan suatu nilai tambah (value preposition). Fokus dari model bisnis adalah menciptakan hingga mengembangkan nilai tambah, sehingga barang yang dihasilkan atau jasa yang diberikan kepada para pelanggannya akan menjadi media bagi penciptaan nilai tambah dalam bersaing (Osterwalder & Pigneur, 2010). Dengan suatu bisnis model yang jelas, manajemen dan operasi akan meningkat dari

(19)

15

kinerja satu ke kinerja berikutnya, mampu mengungkit kapasitas yang tidak terpakai (reusable), aset yang berupa kompetensi SDM maupun organisasi, serta proses eksekusi (Rosing et al., 2011).

Beberapa framework metodologi model bisnis telah dikembangkan (Demil & Lecocq, 2010), seperti Business Canvas Model (BCM) yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder, empat tahap Customer Development Model (CDM) oleh Steve Blank, dan Resources Competences Organizational Value (RCOV) oleh Demil and Lecocq.

BCM mendefinisikan sembilan komponen yang harus diidentifikasikan oleh bisnis untuk mampu bersaing, yaitu : (1) Customer Segments (CS), (2)Value Propositions (VP), (3)Channels (CH), (4) Key Resources (KR), (5)Key Activities (KA) (6)Key Partners (KP) (7)Customer Relationships (CR), (8)Cost Structure (COS), (9)Revenues Stream (RES). Kesembilan komponen tersebut bisa dibagi kedalam 4 (empat) blok diagram strategi, yaitu : konsumen, infrastruktur, apa yang ditawarkan (offer), dan keuangan (finance).

Blok diagram strategi infrastruktur berhubungan dengan “kekuatan” yang dimiliki dan strategi yang akan dikembangkan, yaitu sumber daya-sumber daya utama apa saja (baik SDM maupun fisik/infrastruktur) yang perlu dimiliki agar bisa memberikan nilai tambah kepada konsumen dengan baik (key resources/capabilities), kegiatan-kegiatan utama apa saja saja (baik SDM maupun fisik/infrastruktur) yang perlu dilakukan agar bisa memberikan nilai tambah kepada konsumen dengan baik (key activities/key process), siapa saja mitra utama dari bisnis ini yang bisa membantunya untukdapat memberikan nilai tambah pasar yang baik (key partners).

Blok diagram strategi “apa yang ditawarkan” (offer) berhubungan erat dengan keberhasilan desain strategi pada blok infrastruktur. Identifikasi key resources yang tepat akan mendukung pelaksanaan key activities yang sukses untuk menghasilkan value preposition yang ditawarkan. Pemilihan mitra utama dalam bisnis yang sesuai dengan key activitiesnya akan memperkuat penetrasi pasar dan nilai tambah dari bisnis yang dikembangkan. Apabila nilai tambah telah diidentifikasikan dengan tepat, maka nilai tersebut akan bisa diterima secara baik

(20)

16

dan berkelanjutan oleh konsumen sesuai dengan kompetensi infrastuktur yang diterjemahkan dalam nilai tambah bisnis sebelumnya.

Blok diagram strategi ke konsumen berhubungan dengan strategi meraih konsumen, yaitu target segmen pelanggan seperti apa yang ingin diraih (segments), bagaimana, kapandan media apa yang dipilih menginformasikan nilai tambah bisnis tersebut kepada para calon pelanggan (channels), serta bagaimana menjalin hubungan kepada konsumen yang telah dijaring agar tetap puas dan loyal (customer relationship).

Blok diagram strategi infrastuktur akan menghasilkan profil struktur biaya, sedangkan blok strategi konsumen akan menghasilkan aliran pendapatan. Bila terjadi keselarasan antara profil biaya dan pendapatan, maka bisnis akan mampu berkembang dengan menghasilkan keuntungan. Hubungan antara blok strategi diatas digambarkan berikut :

Gambar 2.2. Hubungan Blok Strategy Model Bisnis BCM (Osterwalder & Pigneur, 2010)

Bisnis model RCOV memberikan framework yang lebih sederhana dibandingkan BCM. Model RCOV sesuai singkatannya mendeskripsikan bahwa suatu bisnis model disusun dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu sumber daya dan kompetensi (Resources and Competence, RC), struktur organisasi (Organizational Structure, O), dan perencanaan/cara dalam menyampaikan nilai tambah (Propositions for Value delivery, V).

(21)

17

Komponen pertama (RC), sumber daya bisa berasal dari eksternal atau dikembangkan dari internal. Kompetensi berhubungan dengan kemampuan pengetahuan dari manajer, baik secara individual maupun team, untuk mengembangkan, mengkombinasi dan mengimprovisasi jasa yang ditawarkan berdasarkan sumber daya yang dimilikinya. Bila dikomparasi dengan model BCM, komponen pertama model RCOV ini berhubungan dengan key resources.

Komponen kedua (O), berhubungan dengan aktivitas organisasi untuk berhubungan dengan organisasi dan stakeholder diluar organisasi (supplier, konsumen, kompetitor, regulator, dll), dan mengkombinasikan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan value. Bila dikomparasi dengan model BCM, komponen kedua model RCOV ini berhubungan dengan key partner, channel,dancustomer relationship.

Komponen ketiga (V), sama dengan definisi value preposition pada model BCM sebelumnya. Framework model RCOV ini diimplementasikan pada industri kreatif sub sektor sport event organizer untuk kasus FC Arsenal di Inggris. Hubungan antara ketiga komponen utama model RCOV digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.3. Framework Model Bisnis RCOV (Demil & Lecocq, 2010)

Membandingkan kedua framework model bisnis sebelumnya, peneliti berpendapat bahwa model BCM lebih mudah diterapkan dalam mendesain bisnis model baru atau mendeskripsikan bisnis model yang sudah ada, termasuk untuk industri kreatif. Dalam mendeskripsikan model bisnis pada industri kreatif sektor kerajinan, beberapa literature review tentang deskripsi generik pasar, produksi dan

(22)

18

operasi, ketrampilan SDM, berikut penyelarasan kebijakan akan dimanfaatkan untuk membangun building block model.

Dengan suatu bisnis model yang jelas, manajemen dan operasi akan meningkat dari kinerja satu ke kinerja berikutnya, mampu mengungkit kapasitas yang tidak terpakai (reusable), aset yang berupa kompetensi SDM maupun organisasi, serta proses eksekusi (Rosing et al., 2011). Bisnis model sebagai arsitektur bisnis merupakan tahap awal dari transformasi bisnis, dimana bisnis model merupakan arsitektur bisnis yang fokus pada strategi konsumen (Kaplan & Norton, 2008). Untuk mengeksekusi bisnis model menjadi implementasi proyek, Kaplan and Norton (2008) membagi transformasi bisnis menjadi 3 (tiga) tahapan berturut-turut, yaitu arsitektur bisnis, arsitektur proses, dan arsitektur informasi. Penelitian ini akan difokuskan pada bagaimana melakukan transformasi dari arsitektur bisnis menjadi arsitektur proses, sehingga bisnis model mampu diterjemahkan menjadi petunjuk manajemen dalam mencapai sistem manajemen kinerja yang berbasis BSC.

Gambar 2.4. Framework Transformasi Bisnis (Kaplan & Norton, 2008)

2.4. Penelitian Terdahulu (Critical Review)

Paper ini melakukan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian eksploratif untuk melakukan perancangan Circular Business Model Canvas untuk agribisnis bagi industri peternakan. Pada penelitian ini juga dilakukan Nasution, A. H., Aula, M., & Ardiantono, D. S. (2020). Circular Economy Business Model Design. International Journal of Intelligent Enterprise.

(23)

19

prediksi revenue stream baru yang dapat diperoleh dengan implementasi cricular economy pada industri peternakan dan menunjukkan keterhubungan implementasi circular economy pada Sustainable Development Goals (SDGs) (Nasution et al., 2020).

Manfaat paper bagi penelitian ini: memberikan gambaran konsep bisnis model dalam bentuk Circular Business Model Canvas pada agribisnis yang berpotensi untuk meningkatkan benefit material dan non-material sehingga menunjukkan potensi implementasi.

Paper ini melakukan penelitian dengan metode review pada beberapa literatur akademik untuk mengetahui circular economy, natural capital, dan resilence. Paper ini juga melakukan eksplorasi terhadap bagaimana beberapa perusahaan yang bergerak pada industri pariwisata dan pelayanan dapat menggunakan circular economy, natural capital, dan resilence dalam bisnis mereka dan perencanaan operasionalnya (Jones & Wynn, 2019).

Manfaat paper bagi penelitian ini: memberikan gambaran konsep circular

economy yang diterapkan pada industri pariwisata karena penelitian yang akan dilakukan akan berfokus pada industri pariwisata dalam bentuk agrowisata.

Paper ini melakukan penelitian dengan metode literature review pada beberapa literatur akademik untuk mengetahui bagaimana arah pertumbuhan yang sesuai bagi industri pariwisata agrikultur atau yang disebut dengan agrowisata yang berbasiskan pada konsep circular economy. Pada penelitian ini disimpukan bahwa bentuk pariwisata modern bagi agrowisata dapat diterapkan meskipun dapat Peter Jones, Martin George Wynn, (2019) "The circular economy, natural capital and resilience in tourism and hospitality", International Journal of Contemporary Hospitality Management.

Qin, J. (2019). Choice of Development Path of Leisure Agriculture Based on Circular economy. Paper presented at the 2019 International Conference on Economic Management and Cultural Industry (ICEMCI 2019).

(24)

20

memberikan dampak tertentu, namun tetap perlu dilakukan karena menunjang perkembangan ekonomi di wilayah sekitar agrowisata (Qin, 2019).

Manfaat paper bagi penelitian ini: memberikan penggambaran bahwa konsep

circular economy berpotensi untuk diterapkan pada industri pariwisata berbasis agrikultur dan menekankan pada environmental sustainability pada agrowisata yang hendak diimplementasikan.

Paper ini melakukan penelitian dengan metode literature review untuk menangkap prinsip-prinsip apa saja yang direkomendasikan oleh penelitian sebelumnya untuk menerapkan inovasi circular economy dalam lingkup ekosistem. Penelitian ini juga menginvestigasi seberapa relevan dan bergunanya prinsip tersebut bagi inovasi circular economy. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa terdapat tiga prinsip utama yang perlu digunakan dalam circular economy, yaitu: (1) kolaborasi, (2) eksperimentasi, dan (3) platformisasi (Konietzko et al., 2020).

Manfaat paper bagi penelitian ini: memberikan panduan prinsip yang perlu difokuskan pada circular economy yang akan diterapkan pada agrowisata. Penelitian tersebut juga bermanfaat untuk mengembangkan ekosistem bisnis yang mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan dengan prinsip yang sama.

Paper ini melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi atribut kausal dari agrowisata berkelanjutan yang diterapkan di Thailand. Penelitian ini menunjukkan hasil bisnis agrowisata dapat berpotensi untuk berkelanjutan bila memanfaatkan performa bisnis yang berkelanjutan dan ekonomi pedesaan. Dua Konietzko, J., Bocken, N., & Hultink, E. J. (2020). Circular ecosystem innovation: An initial set of principles. Journal of Cleaner Production, 253, 119942.

Tseng, M.-L., Chang, C.-H., Wu, K.-J., Lin, C.-W. R., Kalnaovkul, B., & Tan, R. R. (2019). Sustainable Agritourism in Thailand: Modeling Business Performance and Environmental Sustainability under Uncertainty. Sustainability, 11(15), 4087.

(25)

21

atribut ini dapat menstimulasi agrowisata yang berkelanjutan dan pengembangan rantai nilai bisnis (Tseng et al., 2019).

Manfaat paper bagi penelitian ini: dengan memberikan acuan penerapan faktor yang mampu berpengaruh signifikan bagi keberlanjutan bisnis agrowisata berbasis circular economy dengan memanfaatkan performa bisnis yang berkelanjutan dan ekonomi pedesaan daerah agrowisata sehingga mampu menciptakan ekosistem bisnis yang sehat.

2.5. Roadmap Penelitian berdasarkan Critical Review

Gambar berikut ini akan menjelaskan roadmap/posisi penelitian terhadap penelitian – penelitian sebelumnya sebagaimana yang tercantum pada critical review (gambar 2).

Gambar 2. Roadmap/Skema Penelitian Berdasarkan Critical Review

Outcome akhir dari penelitian ini adalah bagaimana skema penyelarasan konsep bisnis ekosistem dengan redesain model bisnis sehingga diperoleh metodologi yag dapat menjadi acuan dalam menerjemahkan bisnis ekosistem ke bisnis model, atau kebalikannya

(26)

22

(27)

23

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Tahapan

-

tahapan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini digambarkan dalam suatu kerangka penelitian yang kemudian disebut dengan metodologi penelitian. Tahapan-tahapan tersebut akan digambarkan secara singkan pada flowchart di bawah ini:

3.1. Metode Pengumpulan Data dan Pengolahannya

Penelitian ini menggunakan pendekatan framework design thinking untuk memformulasikan perancangan desain bisnis ekosistem integrated tourism berbasis circular economy pada agrowisata Batu. Tahapan analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Big picture analysis

Pada tahapan ini peneliti menganalisis setiap tahapan pada proses produksi yang terjadi dan menjabarkan apa saja waste yang ada pada proses tersebut, dan memberikan masukan untuk mengurangi waste yang ada.

2. Business context analysis

Pada tahapan ini akan dilakukan analisis faltor eksternal yang akan diperlukan untuk mensukseskan implementasi circular economy business model. Analisis bisnis konteks meliputi factor politik dan hukum, ekonomi dan pasar, sosiobudaya serta teknologi dan inovasi system yang ada.

3. Business model assessment

Pada tahapan ini akan dilakukan analisa dan assessment menggunakan data dari tahapan sebelumnya. Data yang tersedia akan digunakan untuk merancang dan mengembangkan integrated tourism berbasis circular economy meliputi: penentukan customer value proposition,Customer-facing elements of the business model, Operational elements of the business model, Financial outcomes, Non-financial outcomes.

4. Focus Group Discussion

Tahapan ini adalah tahapan akhir dalam perancangan kebijakan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai diseminasi hasil kajian dan untuk menguji validitas kebijakan yang telah disusun.

(28)

24

Adapun alur diagram dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: Mulai Observasi Potensi Penerapan integrated tourisme di agrowisata Batu Prilaku wisatawan dan stakeholder agrowisata Batu Identifikasi Pembuat kebijakan agrowisata batu Konsumen internal dan eksternal

FGD ide solusi model penmenuhan value

proposition design

Pembuatan rancangan model bisnis

Workshop Prototyping model bisnis integrated

tourism

Business Context Analysis • User need/ voice of

customer • FGD

• Survey pengguna layanan

Business Context Analysis FGD Pakar melibatkan: • Pembuat kebijakan • Pengelola Laboratorium Business Model Assesment Pembuatan rancangan model bisnis, prototyping, dan sosialisasi

Gambar 4. Metodologi Penelitian 3.2. Output yang dihasilkan

Output yang dihasilkan dari penelitian ini merujuk pada target luaran penelitian pada sub-bab 1.5 proposal penelitian.

(29)

25

BAB IV

ORGANISASI, TIM, JADWAL, DAN ANGGARAN

4.1. Organisasi Tim Peneliti

Nama Ketua Tim Peneliti: Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng.

Nama Anggota Peneliti : - Dewie Saktia Ardiantono, ST., MT. - Aang Kunaifi, SE., MSA., Ak - Ninditya Nareswari, SM., M.Sc. - Ribka Anintha Miyagi

- Vevy Febrilian

Kompetensi dan tanggung jawab masing-masing adalah sebagai Tabel berikut :

Tabel 1. Kompetensi dan tanggung jawab Tim

Nama Kompetensi Tanggungjawab

Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng Simulasi Bisnis, CLD Model, CE Model • Menyusun konsep model bisnis • Analisis CLD model dalam penerapan circular economy pada agrowisata Batu • Merumuskan kebijakan circular economy Dewie Saktia Ardiantono, ST., MT. Manajemen Operasional, CLD Model, CE Model • Mengidentifikasi stakeholder internal/ eksternal (aktor pada CE)

• Mendesain kesehatan sistem bisnis dari sisi 4 faktor bisnis ekosistem Aang Kunaifi, SE.,

M.SA.Ak.

Akuntansi/ Keuangan • Evaluasi desing thinking

• Merancang strategi empat faktor kinerja kesehatan untuk tahap

(30)

26

Nama Kompetensi Tanggungjawab

kelahiran dan tahap kepemimpinan. Ninditya Nareswari,

SM., M.Sc.

Manajemen Keuangan • Merancang strategi empat faktor kinerja kesehatan untuk tahap self-renewal dan tahap ekspansi.

Mahasiswa Asisten Laboratorium • Membantu

mempersiapkan tools analisis. • Melakukan pengumpulan data. • Membantu penyiapan laporan.

(31)

27

4.2. Jadwal

Proses penelitian akan dilakukan dalam 6 (enam) bulan dan jadwal penelitian ditunjukkan sebagai berikut: Tabel 2. Jadwal penelitian

KEY ACTIVITIES

W1 W2 W3 W4 W1 W2 W3 W4 W1 W2 W3 W4 W1 W2 W3 W4 W1 W2 W3 W4 W1 W2 W3 W4 Tahap 1 - Big Picture Analysis

Pengumpulan data sekunder dan analisis

Tahap 2 - Analisis konteks bisnis

Perencanaan dan persiapan Pengumpulan data primer Analisis data primer

Tahap 3 - Perancangan desain bisnis ekosistem

Analisis SWOT pada industri Agrowisata Mapping stakeholder untuk circular economy Analisis potensi keuntungan finansial dan non finansial yang dapat diperoleh dengan implementasi pada agrowisata

Analisis keseluruhan data dan menulis laporan Review dan mendiskusikan laporan

Tahap 4 - Forum Group Discussion

Perencanaan dan persiapan Forum Group Discussion

Laporan Final

JUNI 2020 JULI 2020 AGUSTUS 2020 SEPTEMBER

2020 OKTOBER 2020

NOPEMBER 2020

(32)

28

4.3. Anggaran Biaya

Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk penelitian ini diantaranya adalah:

Gambar 5. Anggaran biaya

No. Uraian Volume Satuan Harga Satuan Jumlah

1 Honorarium

Honor Asisten 2 orang Rp 2.500.000 Rp 5.000.000

Subtotal Rp 5.000.000

2 Bahan Habis Pakai

Konsumsi rapat 10 kali Rp 300.000 Rp 3.000.000

Subtotal Rp 3.000.000

3 Biaya Perjalanan dan Kegiatan

Biaya transportasi danakomodasi (FGD dan Diseminasi di Jakarta)

1 kali Rp 15.000.000 Rp 15.000.000 Biaya transportasi dan

akomodasi (FGD ke Batu) 1 kali Rp 7.000.000 Rp 7.000.000 Biaya konsinyasi sewa

business center 1 kali Rp 2.500.000 Rp 2.500.000

Penggandaan Laporan

Akhir 5 paket Rp 200.000 Rp 1.000.000

Subtotal Rp 25.500.000

4 Lain-lain

Biaya Jurnal Terindex 1 jurnal Rp 12.000.000 Rp 12.000.000 Publikasi Digital dan Media 1 paket Rp 4.500.000 Rp 4.500.000

Subtotal Rp 16.500.000

(33)

29

REFERENSI

Anya, A. (2019, June 14th 2019). RI Called to Promote Circular Economy. The Jakarta Post.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2004. Tata cara Perencanaan Pengembangan Kawasan Untuk Percepatan Pembangunan Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal. Jakarta: Bappenas.

Badan Pusat Statistik, Kota Batu Dalam Angka 2018.

Calderwood, L. U., & Soshkin, M. (2019). The Travel & Tourism Competitiveness

Report 2019. Retrieved from Geneva:

http://www3.weforum.org/docs/WEF_TTCR_2019.pdf

Demil, B., & Lecocq, X. (2010). Business model evolution: in search of dynamic consistency. Long range planning, 43(2-3), 227-246.

James F. Moore, death of competition, John Wiley & Sons, USA, 1996

Jones, P., & Wynn, M. G. (2019). The circular economy, natural capital and resilience in tourism and hospitality. International Journal of Contemporary Hospitality Management.

Kahfi, K. (2019, December 16th 2019). Circular Economy Going Around in Circles, Experts Say. The Jakarta Post.

Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (2008). The execution premium: Linking strategy to operations for competitive advantage: Harvard Business Press.

Konietzko, J., Bocken, N., & Hultink, E. J. (2020). Circular ecosystem innovation: An initial set of principles. Journal of Cleaner Production, 253, 119942. Moore, J. F. (1993). Predators and prey: a new ecology of competition. Harvard

business review, 71(3), 75-86.

Nasution, A. H., Aula, M., & Ardiantono, D. S. (2020). Circular Economy Business Model Design. International Journal of Intelligent Enterprise.

Nurhidayati, 2012. Penerapan Prinsip Community Based Tourism ( CBT ) Dalam Pengembangan Agrowisata Di Kota Batu , Jawa Timur. Jurnal Jejaring Administrasi Publik. Vol 4(1). hal.36-46

Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business model generation: a handbook for visionaries, game changers, and challengers: John Wiley & Sons.

(34)

30

Qin, J. (2019). Choice of Development Path of Leisure Agriculture Based on Circular economy. Paper presented at the 2019 International Conference on Economic Management and Cultural Industry (ICEMCI 2019).

Rencana Strategis Daerah Kota Batu Tahun 2017-2022, Dinas Pertanian Kota Batu. Rosing, K., Frese, M., & Bausch, A. (2011). Explaining the heterogeneity of the leadership-innovation relationship: Ambidextrous leadership. The leadership quarterly, 22(5), 956-974.

Siddharta, A. T. (2019). Bali fights for its beautiful beaches by rethinking waste, plastic trash. Planet or Plastic? Retrieved from National Geographic website: https://www.nationalgeographic.com/science/2019/10/bali-fights-for-its-beautiful-beaches-by-rethinking-waste-plastic-trash/

Toop, T. A., Ward, S., Oldfield, T., Hull, M., Kirby, M. E., & Theodorou, M. K. (2017). AgroCycle–developing a circular economy in agriculture. Energy Procedia, 123, 76-80.

Tseng, M.-L., Chang, C.-H., Wu, K.-J., Lin, C.-W. R., Kalnaovkul, B., & Tan, R. R. (2019). Sustainable Agritourism in Thailand: Modeling Business Performance and Environmental Sustainability under Uncertainty. Sustainability, 11(15), 4087.

Vanner, R., Bicket, M., Withana, S., Brink, P. T., Razzini, P., Dijl, E. V., & Hudson, C. (2014). Scoping study to identify potential circular economy actions, priority sectors, material flows and value chains. European Commission. Ward, S. M., Holden, N. M., White, E. P., & Oldfield, T. L. (2016). The “circular

economy” applied to the agriculture (livestock production) sector— discussion paper. Paper presented at the workshop on the sustainability of the EU’s livestock production systems.

(35)

31

LAMPIRAN

Biodata Tim Peneliti 1. Ketua

a. Nama Lengkap : Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng

b. NIP/NIDN : 196608131994021001 /

0013086606

c. Fungsional/Pangkat/Gol : Lektor Kepala/Pembina /IV-A d. Bidang Keahlian : Simulasi Bisnis, CLD Model,

CE Model

e. Departemen/Fakultas : Manajemen Bisnis / F-DKBD f. Alamat Rumah dan No.Telp : Baratajaya XI/3, Surabaya –

081331468839 g. Riwayat Penelitian (2 terahir) :

- Ketua- Penelitian Laboratorium Dana Lokal ITS 2019, Judul : PERANCANGAN BISNIS MODEL DAN PENYELARASAN KINERJA BIODIESEL (Studi Kasus Kebijakan Nasional Mandatory B-20 menuju B-30)

- Ketua- Penelitian Dana Departemen Dana Lokal ITS 2018, Judul: Framework Penyelarasan Bisnis Model, Balanced Scorecard, dan KPKU/ Malcolm Baldridge Award (studi Kasus BUMN PT. BBI)

h. Publikasi Ilmiah (2 terahir) : -

i. Paten (2 terahir) :

-

j. Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi (2 Terakhir): Skripsi

-

k. Track Penelitian:

2. Anggota 1

a. Nama Lengkap : Dewie Saktia Ardiantono, S.T., M.T

b. NIP/NIDN : 199111082019032018/0008108306

c. Fungsional/Pangkat/Gol : Penata Muda Tingkat 1/ III-B d. Bidang Keahlian : Manajemen Operasional e. Departemen/Fakultas : Manajemen Bisnis / F-DKBD f. Alamat Rumah dan No.Telp : Segodobancang RT. 02/RW.0,

Tarik/ 085646818464 g. Riwayat Penelitian (2

terahir)

(36)

32

- Anggota- Penelitian Unggulan Dana Lokal ITS 2019, Judul : Pengembangan Model Pembinaan Umkm Berbasis Social Enterprise Melalui Aplikasi Mobile

- Anggota- Penelitian LaboratoriumDana Lokal ITS 2019, Judul : PERANCANGAN BISNIS MODEL DAN PENYELARASAN KINERJA BIODIESEL (Studi Kasus Kebijakan Nasional Mandatory B-20 menuju B-30)

-

h. Publikasi Ilmiah (2 terahir) :

- 2019. Analysis of Supplier Selection of Plate Raw Material (Case Study: PT XYZ).

- 2019. Value Chain Analysis on Goat Processed Products in Surabaya

i. Paten (2 terahir) :

-

j. Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi (2 Terakhir):

3. Anggota 2

a. Nama Lengkap : Aang Kunaifi, SE., M.SA.Ak.

b. NIP/NIDN : 198707102015041003/

0010078701

c. Fungsional/Pangkat/Gol : Asisten Ahli/Penata Muda Tingkat I /III-B

d. Bidang Keahlian : Akuntansi/Keuangan

e. Departemen/Fakultas : Manajemen Bisnis / F-DKBD f. Alamat Rumah dan No.Telp : Waru, Sidoarjo - 081234681287 g. Riwayat Penelitian (2 terahir) :

-

h. Publikasi Ilmiah (2 terahir) : -

i. Paten (2 terahir) :

-

j. Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi (2 Terakhir): -

3. Anggota 3

a. Nama Lengkap : Ninditya Nareswari, S.M, M.Sc.

b. NIP/NIDN : 1993202012018

c. Fungsional/Pangkat/Gol : Penata Muda Tingkat 1/ 3-B d. Bidang Keahlian : Manajemen keuangan

(37)

33

f. Alamat Rumah dan No.Telp : Sutorejo Selatan no 9, Surabaya/081703437629 g. Riwayat Penelitian (2 terahir) :

-

h. Publikasi Ilmiah (2 terahir) :

- Wibawa, B. M., & Nareswari, N. (2019). MSMEs Focus on Instagram Account Quality: Key Factors to Prioritize in Instagram Posting. Jurnal Sosial Humaniora, (01), 1-9.

-

i. Paten (2 terahir) :

-

j. Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi (2 Terakhir): -

(38)

34

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN ANGGOTA TIM

PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini kami:

Nama : Dewie Saktia Ardiantono, S.T., M.T

NIP : 199111082019032018

Departemen/ Fakultas : Manajemen Bisnis / FTI-ITS

Asal Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Menyatakan bersedia untuk melaksanakan tanggung jawab anggota tim penelitian:

Judul Penelitian : DESAIN BISNIS EKOSISTEM

INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY (STUDI KASUS DI KOTA BATU)

dengan tugas :

• Mengidentifikasi stakeholder internal/ eksternal (aktor pada CE)

• Mendesain kesehatan sistem bisnis dari sisi 4 faktor bisnis ekosistem Surat pernyataan ini kami buat dengan sebenarnya untuk digunakan seperlunya.

Surabaya, 06 Maret 2020 Yang membuat pernyataan

materai

Dewie Saktia Ardiantono, S.T., M.T NIP. 199111082019032018

(39)

35

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN ANGGOTA TIM

PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini kami:

Nama : Aang Kunaifi, SE., M.SA.Ak

NIP : 198707102015041003

Departemen/ Fakultas : Manajemen Bisnis / FTI-ITS

Asal Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Menyatakan bersedia untuk melaksanakan tanggung jawab anggota tim penelitian:

Judul Penelitian : DESAIN BISNIS EKOSISTEM

INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY (STUDI KASUS DI KOTA BATU)

dengan tugas :

• Evaluasi desing thinking

• Merancang strategi empat faktor kinerja kesehatan untuk tahap kelahiran dan tahap kepemimpinan.

Surabaya, 06 Maret 2020 Yang membuat pernyataan

materai

Aang Kunaifi, SE., M.SA.Ak NIP. 198707102015041003

(40)

36

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN ANGGOTA TIM

PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini kami:

Nama : Ninditya Nareswari, S.M, M.Sc

NIP : 199111082019032018

Departemen/ Fakultas : Manajemen Bisnis / FTI-ITS

Asal Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Menyatakan bersedia untuk melaksanakan tanggung jawab anggota tim penelitian:

Judul Penelitian : DESAIN BISNIS EKOSISTEM

INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY (STUDI KASUS DI KOTA BATU)

dengan tugas :

• Merancang strategi empat faktor kinerja kesehatan untuk tahap self-renewal dan tahap ekspansi.

Surabaya, 06 Maret 2020 Yang membuat pernyataan

materai

Ninditya Nareswari, S.M, M.Sc NIP. 1993202012018

(41)

DATA USULAN DAN PENGESAHAN PROPOSAL DANA LOKAL ITS 2020

1. Judul Penelitian

DESAIN BISNIS EKOSISTEM INTEGRATED AGRO-TOURISM BERBASIS CIRCULAR ECONOMY (STUDI KASUS DI KOTA BATU)

Skema : PENELITIAN LABORATORIUM

Bidang Penelitian : Desain

Topik Penelitian : Model Perancangan Agrowisata 2. Identitas Pengusul

Ketua Tim

Nama : Dr. Ir. Arman Hakim Nasution M.Eng

NIP : 196608131994021001

No Telp/HP : 081331468839

Laboratorium : Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi

Departemen/Unit : Departemen Manajemen Bisnis

Fakultas : Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital

Anggota Tim

No Nama Lengkap Asal Laboratorium Departemen/Unit Perguruan

Tinggi/Instansi 1 Dr. Ir. Arman Hakim Nasution M.Eng Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi

Departemen

Manajemen Bisnis ITS

2

Dewie Saktia Ardiantono

S.T.,M.T

Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi

Departemen

Manajemen Bisnis ITS

3 Aang Kunaifi

S.E., MSA.Ak.

Laboratorium Bisnis Analitik dan Strategi

Departemen

Manajemen Bisnis ITS

4 Ninditya

Nareswari M.Sc

Departemen

Manajemen Bisnis ITS

3. Jumlah Mahasiswa terlibat : 2

4. Sumber dan jumlah dana penelitian yang diusulkan

a. Dana Lokal ITS 2020 :

b. Sumber Lain :

(42)

50.000.000,-Tanggal Persetujuan Nama Pimpinan Pemberi Persetujuan Jabatan Pemberi Persetujuan Nama Unit Pemberi Persetujuan QR-Code 09 Maret 2020 Dr., Ir. Bambang Iskandriawan M.Eng. Kepala Pusat Penelitian/Kajian/Unggulan Iptek Desain 09 Maret 2020 Agus Muhamad Hatta , ST, MSi, Ph.D Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Gambar

Gambar 1. Ilustrasi sederhana dari Circular Economy  (Sumber:Vanner et al. (2014))
Gambar 2.2. Hubungan Blok Strategy Model Bisnis BCM  (Osterwalder & Pigneur, 2010)
Gambar 2.3. Framework Model Bisnis RCOV  (Demil & Lecocq, 2010)
Gambar 2.4. Framework Transformasi  Bisnis  (Kaplan & Norton, 2008)
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian optimasi produksi endospora dan daya hidup bakteri di lingkungan bahan baku beton yang ekstrim sehingga endospora

Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian optimasi produksi endospora dan daya hidup bakteri di lingkungan bahan baku beton yang ekstrim sehingga endospora

Untuk mendapatkan kekokohan (robust) dalam menjaga kestabilan quadcopter maka pada penelitian ini, digunakan pengendali non linier yaitu SMC (Sliding Mode Control) yang

Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem kontrol regenerative ABS untuk mobil listrik dengan pengereman secara elektrik dan mekanik (hidrolik) dimana kesalahan terjadi

Tujuan penelitian adalah untuk: (1) menentukan kadar dan karakteristik MP pada air baku, air efluen setiap unit operasi IPAM, serta air produk; (2) menentukan kemampuan

Road Map penelitian yang berjudul “Pembuatan Matriks Hidroksiapatit-Kitosan untuk Bahan Baku Filamen Tulang Buatan dari Limbah Cangkang Rajungan (Portunus Pelagicus) dengan

Melalui penelitian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa data kualitas udara di Kota Surabaya memiliki pola musiman dan penelitian menggunakan metode GSTAR tidak dapat

Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem kontrol regenerative ABS untuk mobil listrik dengan pengereman secara elektrik dan mekanik (hidrolik) dimana kesalahan terjadi