PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

161 

Teks penuh

(1)

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK

S k r i p s i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Cynthia Budi Janto

NIM : 089114144

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK

S k r i p s i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Cynthia Budi Janto

NIM : 089114144

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO :

(6)

v

Dipersembahkan untuk

Tuhan Yesus, untuk berkat, penyertaan, dan insipirasi yang luar biasa Papa Mama untuk dukungan yang tidak pernah berhenti diberikan kepada saya

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 24 Januari 2014

Penulis,

(8)

vii

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK

Cynthia Budi Janto

ABSTRAK

Tionghoa sebagai masyarakat minoritas di Indonesia dicap sebagai orang asing yang mengancam integrasi bangsa. Maka, tidak jarang mereka mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, tampaknya warga Tionghoa sudah semakin memiliki tempat yang setara dengan warga Indonesia lainnya. Harapannya hal ini memberikan dampak yang semakin positif terhadap seluruh warga Tionghoa di Indonesia dalam kehidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap relasi antaretnik antara Tionghoa dengan pribumi dalam konteks diskriminasi warga Tionghoa di Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis fenomenologi. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur terhadap tiga orang subjek. Subjek dipilih berdasarkan kriteria yang sesuai dengan konteks penelitian yakni etnis Tionghoa dari kelompok usia dewasa awal, dan dibesarkan di kota Pontianak. Penelitian ini mengungkapkan pengalaman-pengalaman subjek tentang kehidupan mereka di masyarakat Pontianak yang berkaitan dengan interaksi mereka dengan warga pribumi lokal. Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa etnis Tionghoa di Pontianak masih merasakan ketidaksukaan antara Tionghoa dengan pribumi dalam lingkup situasi sehari-hari. Selain itu, secara umum konflik dan perilaku diskriminasi antara Tionghoa dan pribumi sudah berkurang.

(9)

viii

CHINESE DESCENDANTS’ EXPERIENCE OF DISCRIMINATION IN PONTIANAK

Cynthia Budi Janto

ABSTRACT

Chinese descendants as minority group in Indonesia had been stigmatized as foreigners who threaten the nation integrity. Therefore, they often encounter unpleasant treatments. By the events occurred recently in Indonesia, Chinese descendants seem to receive more equality to other Indonesian citizens. It is expected that all Chinese descendants in Indonesia will receive positive impact in their lives from those events. This research aims to reveal interethnic relation between Chinese descendants’ and native citizens in the context of discrimination in Pontianak. This research is a phenomenological qualitative research. Data was collected from three participants using semi-structured interview. Participants of this research selected by criteria appropriate to this research context, that is Chinese descent young adult and raised in Pontianak. This research reveals participants’ living experiences in Pontianak related to their interactions with native citizens. It is found that there are still subtle prejudice between both ethnic groups. Nevertheless, according to the participants, there is more openness between Chinese descents and native citizens in their daily lives.

(10)

ix

LEMBAR PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Cynthia Budi Janto

Nomor Mahasiswa : 089114144

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 24 Januari 2014

Yang menyatakan,

(11)

x

KATA PENGANTAR

Akhirnya peneliti memberikan ucapan terima untuk segala dukungan dari pihak-pihak yang turut serta dalam penyelesaian tugas akhir ini. Terima kasih dihaturkan kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus yang begitu murah hati karena selalu memberkati saya dalam setiap langkah kehidupan saya.

2. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, atas masukan kecil namun sangat berarti buat proses pengerjaan skripsi ini.

3. Alm. ibu Dr. Christina Siwi Handayani di surga. Terima kasih atas inspirasinya yang selalu menyertai kami semua yang mengenalmu. 4. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi. Senang

sekali punya dosen yang cerdas, humoris, tapi kadang juga bikin frustrasi selama proses pengerjaan skripsi ini.

5. Ibu Sylvia CMYM, M.Si., dosen pembimbing akademik yang ramah dan selalu sabar memberikan masukan dan bimbingan selama masa perkuliahan saya.

6. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar saya selama masa perkuliahan. Terima kasih atas semua ilmu, semangat, dan pandangan-pandangan baru yang dibagikan.

(12)

xi

8. My dearest brothers and sisters. Love you all.

9. Felicia Putri Hernat, teman baik yang sering berbagi cerita, pandangan, dan dukungan. Sometimes, the way you act might intimidate me. Sometimes, I wish I could be like you. But eventually, I think we’re just the same in some ways and also will always be different in other ways too. Lol.

10.Teman-teman seperguruan di Kempo Sadhar. Ke manapun saya pergi saya tidak akan melupakan kebersamaan kita. Uye!

11.Teman-teman seperjuangan di masa-masa skripsi, Ines, Intan, Nopai, Risya, Puji yang sudah bersama-sama bahu-membahu memberikan dukungan, dan akhirnya satu-persatu berhasil menaklukan sang Tugas Akhir, si Kemalasan, dan teman-temannya. Sampai ketemu lagi di masa depan yang cerah, teman-teman.

12.Yuga, yang sudah menularkan semangat dalam hal apapun di kehidupan saya.

13.Para partisipan yang sudah bersedia saya wawancarai dan saya mintai tolong. Terima kasih banyak buat kontribusinya.

14.Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk dukungan selama pengerjaan tugas akhir ini.

(13)

xii

(14)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... xi

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

1. Manfaat Teoritis ... 9

2. Manfaat Praktis ... 9

(15)

xiv

Tionghoa di Indonesia ... 10

B. Diskriminasi ... 12

1. Pengertian Diskriminasi ... 12

2. Bentuk-bentuk Diskriminasi ... 14

3. Penyebab Diskriminasi ... 17

C. Relasi Antar Etnis ... 18

1. Bentuk-bentuk Hubungan Antar Etnis ... 19

D. Etnis Tionghoa ... 20

1. Awal Kedatangan Etnis Tionghoa ... 20

2. Pembagian Etnis Tionghoa ... 21

3. Ajaran-ajaran yang Mempengaruhi Etnis Tionghoa ... 22

4. Aspek-aspek yang Diprasangkai dari Masyarakat Etnis Tionghoa ... 25

E. Kota Pontianak ... 29

1. Geografi dan Topografi ... 29

2. Penduduk Kota Pontianak ... 30

3. Tionghoa di Kota Pontianak ... 31

F. Relasi Antar Etnis dan Identitas Etnis dalam Konteks Diskriminasi ... 31

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 33

A. Jenis Penelitian ... 33

(16)

xv

C. Fokus Penelitian ... 34

D. Subjek Penelitian ... 35

E. Metode Pengambilan Data ... 35

F. Metode Analisis Data ... 40

1. Mencari Tema-tema pada Subjek Pertama ... 41

2. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Pertama ... 41

3. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Lainnya ... 41

G. Kredibilitas Penelitian ... 42

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

A. Konteks Penelitian ... 43

B. Profil Subjek ... 46

1. Deskripsi Subjek 1 ... 46

2. Deskripsi Subjek 2 ... 47

3. Deskripsi Subjek 3 ... 47

C. Hasil Penelitian ... 48

1. Identitas ... 53

2. Relasi ... 57

D. Pembahasan ... 77

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Keterbatasan Penelitian ... 86

C. Saran ... 86

(17)

xvi

2. Bagi Masyarakat ... 87

3. Bagi Warga Tionghoa di Indonesia ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 88

(18)

xvii

DAFTAR TABEL

(19)

i

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK

S k r i p s i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Cynthia Budi Janto

NIM : 089114144

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(20)

i

PENGALAMAN DISKRIMINASI WARGA TIONGHOA DI PONTIANAK

S k r i p s i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Cynthia Budi Janto

NIM : 089114144

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(21)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis yang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Salah satu etnis yang ada di Indonesia adalah etnis Tionghoa. Etnis tionghoa merupakan salah satu kelompok etnis minoritas di Indonesia. Suryadinata mendefinisikan etnis Tionghoa sebagai berikut: istilah etnis Tionghoa-Indonesia digunakan di sini untuk merujuk pada etnis Tionghoa di Indonesia yang memiliki nama keluarga atau marga tanpa memandang kewarganegaraannya (Yuniartie, 2011).

Etnis Tionghoa seringkali mendapat pandangan kurang baik di mata masyarakat Indonesia. Selama ini selalu saja kebijakan para penguasa membuat kedudukan etnis minoritas ini selalu tersudut baik itu di era kolonial maupun di era kemerdekaan (Susetyo dalam Susetyo, 2007).

Kedatangan Belanda ke Indonesia mulai mengubah peta politik di negeri ini. Dengan tujuan untuk memecah-belah kekuatan rakyat Indonesia, Belanda kemudian mulai menjalankan politik yang terkenal dengan nama

(22)

memungut pajak, menjual candu, dan membuka rumah judi bagi warga pribumi. Sejak saat itulah, hubungan antara etnis Tionghoa dengan penduduk pribumi Indonesia lainnya mulai merenggang (Yuniartie, 2011).

Selain itu, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa masalah-masalah yang terjadi di masyarakat saat ini merupakan dampak dari masyarakat Tionghoa yang masih mempertahankan budaya asing dan tidak memiliki identitas sebagai rakyat Indonesia. Pendapat lainnya menyatakan bahwa masyarakat tionghoa di Indonesia belum berbaur dengan masyarakat pribumi.

Adanya perasaan sebagai minoritas membuat mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai suatu kelompok. Kelompok tersebut dianggap sebagai in-groupnya, sedangkan kelompok lain di luar kelompok sosialnya disebut out-group, dimana individu-individu anggota kelompok tersebut dianggap sebagai lawannya (Bonner dalam Helmi, 1990). Ada perasaan tidak nyaman bila bergaul dan berbaur dengan etnis atau suku lain karena mereka khawatir akan dikucilkan dan didiskriminasikan dalam pergaulan dan kehidupan bersosial.

(23)

sepenuhnya diterima”, atau bahwa ‘masih ada kemungkinan orang Tionghoa diperlakukan secara tidak adil sebagaimana yang mereka alami sebelumnya” (Wibowo & Thung, 2010).

Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah negara untuk menghapuskan praktik-praktik diskriminatif, seperti pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pelarangan Ekspresi Kebudayaan Cina di Ruang Publik oleh Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid serta dikeluarkannya Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia (yang baru) Nomor 12 Tahun 2006 yang, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menempatkan warga Tionghoa dalam persamaan dan kesetaraan dengan warga negara lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Wibowo & Thung, 2010).

(24)

Meskipun sudah dihapuskan secara formal, permasalahan lain adalahpraktik-praktik diskriminatif berdasarkan identitas sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari yang tidak ditampakkan secara terang-terangan masih ada (Madyaningrum, 2010). Hal ini oleh Jones (dalam Madyaningrum, 2010) disebut dengan 'everyday racism'. Istilah ini digunakan untuk menengarai bentuk-bentuk diskriminasi berdasar identitas sosial budaya seseorang, yang susah untuk dibuktikan dan diintervensi secara legal formal, namun terus muncul dalam percakapan, perilaku dan kebiasaan sehari-hari.

Dari penjabaran di atas, kita dapat melihat bahwa diskriminasi terhadap warga Tionghoa sudah perlahan-lahan dihapuskan melalui upaya legal dan formal. Akan tetapi, kita belum banyak mengetahui tentang seberapa besar pengaruh dari upaya tersebut terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia sehari-hari saat ini. Selain itu, belum banyak pula diskusi dan penelitian psikologi yang membahas tentang diskriminasi Tionghoa di masa Indonesia sekarang ini.

(25)

itu sendiri yang perlu melakukan penyesuaian. Beliau juga menyarankan pendidikan HAM untuk masyarakat sebagai solusi permasalahan tersebut. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa memang benar dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia saat ini diskriminasi masih ada. Akan tetapi, peneliti tidak menggali secara khusus mengenai diskriminasi rasial, terutama diskriminasi etnis Tionghoa.

Penelitian mengenai diskriminasi rasial di Indonesia lainnya yakni penelitian oleh Hertz (2003) yang membahas upaya-upaya melawan diskriminasi rasial dan etnis oleh 2 LSM di Indonesia. Hertz menemukan bahwa ada beberapa halangan yang ditemukan dalam usaha melawan diskriminasi rasial oleh kedua LSM tersebut terutama saat terlibat dalam merancang RUU anti diskriminasi rasial dan etnis, yaitu masalah sekularisme dan hak-hak Individu muncul dalam konteks agama, khususnya pranata dan tradisi Islam.Artikel ini juga memberikan saran-saran bagi para LSM yang bergerak di bidang serupa.

(26)

berdomisili di Jawa Tengah yang semua berstatus sudah menikah.Dari penelitian tersebut terungkap bahwa subjek melihat dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa, merupakan bagian dari masyarakat, merasa terancam oleh diskriminasi, dan berupaya mengatasi diskriminasi.

Ada pula penelitian mengenai kebijakan pemerintah Indonesia mengenai etnis Cina oleh Rahardjo (2005). Dalam artikel ini dijabarkan berbagai hal berupa peraturan dan peristiwa yang dianggap merugikan warga Tionghoa dari berbagai aspek politik, ekonomi, kultural, hukum sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman etnis Tionghoa dalam memahami persoalan pengakuan identitas kultural mereka. Sang peneliti mengkhususkan penelitiannya pada etnis Tionghoa di kota Solo. Beliau menemukan bahwa di daerah tersebut hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa sudah membaur, misalnya perkawinan campur antara kedua etnis tersebut sudah menjadi hal yang lumrah..

(27)

Maka, peneliti memfokuskan penelitian mengenai relasi antara etnis Tionghoa dan pribumi di Indonesia dari sudut pandang etnis Tionghoa. Lewat penuturan subjek mengenai perilaku berelasi, kita dapat menungkap persepsi subjek saat berinteraksi dengan warga pribumi, khususnya di kota Pontianak. Dari persepsi tersebut dapat diketahui bagaimana mereka memandang dirinya atau ingroup-nya dan orang lain atau outgroup-nya di masyarakat, dan bagaimana mereka berinteraksi di masyarakat. Sebagaimana yang telah diketahui, persepsi seseorang terhadap suatu kejadian atau objek salah satu satunya dipengaruhi oleh proses pembelajaran sebelumnya (Samovar, Porter, & McDaniel, 2010).

Selain itu, dengan meningkatkan pengetahuan mengenai relasi antar etnis kita dapat mengetahui dan menganalisis persoalan relasi etnis dan relasi ras, misalnya dalam kasus hubungan mayoritas dengan minoritas berdasarkan definisi-definisi sosiologi, teori dan metodologi yang lebih relevan; mengembangkan pengetahuan tersebut dalam kemampuan untuk bertindak terampil dalam hubungan antar etnis, misalnya melalui komunikasi antar etnis; mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbasis sosiologi untuk memahami beragam dimensi persoalan etnis dan ras, termasuk hubungan antar etnis atau antar ras dalam masyarakat multikultur (Ikegwouha dalam Liliweri, 2010).

(28)

kurang di tempat-tempat di Indonesia seperti halnya di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur. Selain itu, banyak di antara orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur itu mungkin sudah banyak juga yang lahir di Indonesia, tetapi mereka masih akan disebut orang Tionghoa totok oleh orang Indonesia (Koentjaraningrat, 2002). Untuk di Kalimantan Barat, salah satu hal yang memperkuat hal tersebut adalah penggunaan bahasa Cina sebagai bahasa pergaulan bagi masyarakat etnis Tionghoa di daerah tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana persepsi etnis Tionghoa mengenai hubungan antara etnis Tionghoa dengan pribumi dalam kehidupan sehari-hari di Pontianak? Bagaimana persepsi etnis Tionghoa mengenaidiskriminasi etnis Tionghoa di Pontianak?

C. TUJUAN PENELITIAN

(29)

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi kajian ilmu psikologi sosial terutama dalam mempelajari diskriminasi rasial.

2. Manfaat Praktis

(30)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. REVIEW LITERATUR PENELITIAN TENTANG PENGALAMAN DISKRIMINASI TIONGHOA DI INDONESIA

Penelitian tentang diskriminasi etnis Tionghoa oleh Hermanto (2012) menggali tentang identitas etnis Tionghoa yang ada di Jawa Tengah. Dalam penelitian ini etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas di masyarakat kerap kali menjadi sasaran tindakan diskriminatif dari masyarakat maupun pemerintah. Hal ini kemudian berdampak pada bagaimana orang tionghoa melihat dirinya sendiri di dalam kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni bagaimana mereka mempertahankan identitas kebudayaan mereka sebagai keturunan tionghoa. Peneliti menggunakan metode analisis interpretatif dengan penggalian data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 3 subjek keturunan tionghoa yang berdomisili di Jawa Tengah, khususnya kota Temanggung dan semua berstatus sudah menikah. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa subjek melihat dirinya sebagai warga keturunan Tionghoa, merupakan bagian dari masyarakat, merasa terancam oleh diskriminasi, dan berupaya mengatasi diskriminasi.

(31)

Tionghoa dengan pribumi pada masa lampau dan masa sekarang. Hal ini khususnya ditandai dengan sebelum dan sesudah masa pemerintahan Abdurrahman Wahid yang memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Indonesia pada masa lampau masih begitu sarat akan bentuk diskriminasi yang ditujukan terang-terangan terhadap Tionghoa, sedangkan pada masa sekarang segala kebijakan pemerintah sudah mengutamakan kesetaraan hak bagi seluruh warganya tanpa membeda-bedakan etnis. Akan tetapi, meskipun demikian diskriminasi terhadap tionghoa bukan berarti terselesaikan sampai di situ saja. Disinyalir masih ada bentuk-bentuk diskriminasi yang tidak kasat mata yang terjadi di masyarakat kita dan hal ini hanya dapat dirasakan oleh warga Tionghoa yang hidup di masa sekarang.

Ada pula penelitian mengenai kebijakan pemerintah Indonesia mengenai etnis Cina oleh Rahardjo (2005) yang menjabarkan berbagai hal berupa peraturan dan peristiwa yang dianggap merugikan warga Tionghoa dari berbagai aspek politik, ekonomi, kultural, hukum sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid.

(32)

Peneliti mengkhususkan penelitiannya pada etnis Tionghoa di kota Solo. Beliau menemukan bahwa di daerah tersebut hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa sudah membaur, misalnya perkawinan campur antara kedua etnis tersebut sudah menjadi hal yang lumrah. Penelitian ini melibatkan para partisipan dari masing-masing kelompok etnis. Partisipan dari etnis Cina dikelompokkan berdasarkan usia yakni 30-an dan 60-an. Selain itu data juga diperoleh melalui lembaga-lembaga yang terkait di kota tersebut.

Kedua penelitian tersebut memiliki kesamaan yakni mengenai identitas kultural etnis Tionghoa yang berdomisili di provinsi Jawa Tengah. Selain itu, subjek penelitian berasal dari kelompok usia dewasa tengah hingga dewasa akhir. Peneliti mengasumsikan bahwa ada perbedaan karakteristik individu dari masyarakat di luar daerah tersebut. Selain itu, belum pernah ditemukan penelitian mengenai pengalaman diskriminasi pada kelompok masyarakat yang usianya lebih muda. Kedua hal ini kemungkinan akan memunculkan pengungkapan pengalaman yang berbeda dari kedua penelitian di atas.

B. DISKRIMINASI

1. Pengertian Diskriminasi

(33)

dilakukan dalam wajah yang berbeda. Tindakan diskriminasi sering memuat attributional ambiguity (ambiguitas atribusional). Seseorang yang dijegal kariernya tidak selalu bisa mengetahui apakah penjegalan itu disebabkan karena kinerjanya kurang bagus atau karena dirinya didiskriminasi.

Macionis (2007) menerangkan bahwa diskriminasi berkaitan erat dengan prasangka. Diskriminasi berarti perlakukan tidak setara dalam berbagai kategori terhadap orang-orang. Prasangka mengacu pada sikap, tetapi diskriminasi berkaitan dengan tindakan. Sama halnya dengan prasangka, diskriminasi bisa bersifat positif (memberikan kemudahan khusus) atau negatif (menciptakan halangan) dan berkisar pada tindakan yang ditunjukkan secara halus hingga yang ditunjukkan terang-terangan.

Dalam The Corsini Ecyclopedia of Psychology (2010) diskriminasi didefinisikan sebagai perilaku negatif yang ditujukan kepada individu atau kelompok individu dikarenakan keanggotaan kelompok sosial mereka. Diskriminasi didasarkan pada kategori sosial yang pada umumnya keanggotaannya tidak dipilih oleh individu, misalnya gender, ras, agama, kecacatan, orientasi seksual, stigma, usia, dan penampilan fisik. Meskipun menyukai orang-orang yang mirip dengan diri kita adalah hal yang wajar, diskriminasi melibatkan perlakuan yang tidak adil, tidak beralasan, dan tidak dapat dibenarkan terhadap orang lain.

(34)

ekonomi, gender, kondisi fisik tubuh, pandangan politik, dan orientasi seksual. Tindakan ini termasuk pelanggaran HAM dengan meletakkan manusia sebagai subjek yang dibeda-bedakan. Persamaan harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak diperhitungkan dan diingkari.

2. Bentuk-Bentuk Diskriminasi

Dalam “Diskriminasi” (2013), bentuk-bentuk diskriminasi dapat dibagi ke dalam dua kategori umum, yakni diskriminasi langsung dan tidak langsung. Diskriminasi langsung merujuk pada tindakan diskriminasi yang terjadi pada saat hukum, peraturan atau kebijakan-kebijakan yang jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, orientasi seksual, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama bagi individu-individu yang mempunyai karakteristik yang disebutkan di dalam hukum, peraturan ataupun kebijakan tersebut. Sedangkan, diskriminasi tidak langsung yaitu diskriminasi yang terjadi pada saat peraturan bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.

(35)

tindakan-tindakan yang wajarnya lebih sulit dideteksi, seperti menghindari kontak mata dengan seseorang, menatap atau menghindari seseorang, atau mengabaikan mereka.

Menurut Jones (dalam Whitley, 2006), diskriminasi dapat dikategorikan ke dalam 3 bentuk, yakni:

a. Interpersonal discrimination

Diskriminasi ini terjadi ketika seseorang memperlakukan orang lain secara tidak adil karena keanggotaan orang tersebut. Diskriminasi ini terjadi dalam level person to person. Contohnya adalah stigmatisasi, cemoohan, pelecehan, dan kekerasan fisik.

b. Institutional discrimination

Terjadi ketika suatu institusi atau badan pemerintahan lebih mempercayai atau memihak terhadap kesuperioritasan suatu kelompok. Diskriminasi tipe ini dapat terjadi secara halus dan sering di bawah tingkat kesadaran masyarakat. Institutional discrimination bisa juga merupakan hasil dari praktik nyata yang memberikan keuntungan suatu kelompok dengan membatasi pilihan, hak, mobilitas, atau akses informasi, sumber dan orang lain. Beberapa contoh diskriminasi yang termasuk di dalamnya adalah:

(36)

ii. Diskriminasi hukum, contohnya adalah kebijakan negara yang melanggar hak-hak minoritas dan perlakuan hukum yang berbeda

iii. Diskriminasi politik, contohnya adalah kesempatan yang berbeda dalam wilayah politik praktis dan pencekalan atau tidak adanya keterwakilan politik dari kelompok minoritas. iv. Diskriminasi ekonomi, meliputi pelanggaran hak atas

pekerjaan.

c. Cultural discrimination

Terjadi jika dalam sebuah budaya, suatu kelompok menahan kekuatan untuk menegaskan nilai-nilai kebudayaan. Kekuatan kelompok tersebut terbangun dan terpelihara dengan adanya reward

bagi yang merespon atau melaksanakan nilai-nilai tersebut dan memberikan hukuman bagi yang tidak menjalankannya.

(37)

mendapat simpati orang Indonesia dan dianggap asing. Kemudian muncul gagasan untuk melakukan asimilasi dengan cara-cara yang memaksa etnis Tionghoa untuk mengingkari ataupun menghilangkan ciri-ciri kultural mereka. Meskipun demikian, kebijakan tersebut menjadi salah arah dan malah semakin memperpanjang masalah antar etnis yang ada. Masih banyak warga pribumi yang menganggap etnis Tionghoa adalah orang asing hingga beberapa masa setelah itu. Imbasnya pun dapat dirasakan dalam hal birokrasi seperti pemberlakuan SBKRI dalam mengurus dokumen-dokumen penting bagi etnis Tionghoa.

3. Penyebab Diskriminasi

(38)

C. RELASI ANTAR ETNIS

Pembahasan mengenai relasi antar budaya (etnik/ras) berkaitan erat dengan konsep interaksi sosial, karena interaksi sosial merupakan awal dari relasi sosial dan komunikasi sosial antar manusia (Liliweri, 2005). Johnson (dalam Liliweri, 2005) mengungkapkan bahwa kehidupan sosial merupakan pola-pola interaksi yang kompleks antara individu. Untuk memahami kehidupan sosial, kita harus memberikan perhatian pada interaksi sosial, karena interaksi sosial merupakan proses. Setiap orang berbuat dan terlibat dalam proses itu, dan itulah yang disebut relasi dengan orang lain.

Interaksi sosial merupakan suatu proses yang dilakukan oleh setiap orang ketika dia bertindak dalam suatu relasi dengan orang lain. Interaksi sosial merupakan proses yang kompleks, yang dilalui oleh setiap orang ketika mengorganisasi dan menginterpretasikan persepsi dia tentang orang lain dalam situasi di mana kita sama-sama berada, sehingga memberi kita kesan mengenai siapakah orang lain itu, apa yang sedang ia perbuat, dan apa sebab dia berbuat seperti itu (Johnson dalam Liliweri, 2005).

Interaksi sosial dapat pula dipahami sebagai sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk menyatakan identitas dirinya kepada orang lain, dan menerima pengakuan atas identitas diri tersebut sehingga terbentuk perbedaan identitas antara seseorang dengan orang lain (Schaver dalam Liliweri, 2005).

(39)

identitas seseorang pada dasarnya bersifat psikososial, karena identitas merupakan solidaritas batin dengan cita-cita kelompok. Pembentukan identias adalah suatu proses yang terjadi dalam diri pribadi dan juga di tengah masyarakat. Identitas setiap individu diresapi dari pengalaman sejarah masyarakat, dan karena itu identitas selalu mengandung dimensi sosial budaya.

1. Bentuk-Bentuk Hubungan Antar Etnis a. Asimilasi

Asimilasi merupakan salah satu bentuk hubungan antar etnis atau ras dalam suatu masyarakat yang ditandai oleh upaya mengurangi perbedaan-perbedaan di antara mereka demi meningkatkan kesatuan tindak dan sikap untuk mencapai tujuan bersama. Apabila kelompok-kelompok etnis mengadakan asimilasi, maka mereka akan mengidentifikasikan dirinya sebagai satu kelompok baru.

b. Akomodasi

(40)

D. ETNIS TIONGHOA

1. Awal Kedatangan Etnis Tionghoa

Masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat keturunan Tionghoa perantauan yang menetap di Indonesia. Cina perantauan merupakan sebutan bagi masyarakat Tionghoa yang tinggal di negara lain di luar daratan Cina. Jumlah mereka tidak diketahui dengan pasti, namun diperkirakan sampai sekitar seratus juta jiwa. Keturunan Cina perantauan yang menetap di suatu negara umumnya menempati daerah atau kampung yang terletak di dekat pelabuhan dan wilayah-wilayah perdagangan (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997).

Pada masa colonial Belanda kelompok etnis Cina mempunyai status di bawah orang Eropa (vreemde osterlingen). Golongan pribumi diberi status paling rendah kecuali kaum bangsawan yang statusnya seperti orang Eropa. Status orang cina yang ditengah ini membuat kelompok cina mendekati orang Belanda dan pribumi. Mereka mendekati orang Belanda karena merasa lebih banyak mendapat hak dan fasilitas, selain itu mereka mendekati orang pribumi karena mereka hidup dan tinggal di tengah-tengah orang pribumi, pembeli, dan lain sebagainya (Suryadinata, 1978).

(41)

umumnya mereka hidup sebagai pedagang atau pengusaha di bidang industry serta jasa (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997).

2. Pembagian Etnis Tionghoa

Etnis Tionghoa merupakan keturunan asing yang secara kuantitatif paling dominan dibandingkan dengan keturunan asing lain yang ada di Indonesia. Orang-orang Tionghoa perantauan yang awalnya berimigrasi ke Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang ada di Cina, seperti suku bangsa Khek, Tiociu, Hokkian, dan Kanton. Akan tetapi di Indonesia mereka umumnya lebih dikenal ke dalam dua golongan, yaitu totok dan perantauan (Vasanty dalam Koentjaraningrat, 2002).

Golongan totok adalah mereka yang berorientasi pada kebudayaan Cina, mereka masih menghayati nilai-nilai budaya Cina seperti menggunakan bahwa Tionghoa di rumah dan merayakan tahun baru Imlek. Sedangkan golongan Tionghoa peranakan adalah mereka yang sudah berorientasi pada kebudayaan setempat, seperti budaya Jawa, Sunda, Ambon, Manado, dan di rumahnya menggunakan bahasa setempat. Dalam hal ini, mereka telah mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan.

(42)

dan derajat akulturasi itu juga tergantung pada jumlah generasi yang telah menetap.

Lebih lanjut, Vasanty (dalam Koentjaraningrt, 2002) menambahkan bahwa proses akulturasi sangat kurang di tempat-tempat di Indonesia seperti halnya di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur. Walaupun banyak di antara orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan Sumatera Timur itu mungkin sudah banyak juga yang lahir di Indonesia, tetapi mereka masih akan disebut orang Tiongkok totok oleh orang Indonesia (Vasanty dalam Koentjaraningrat, 2002). Untuk di Kalimantan Barat, salah satu yang memperkuat hal tersebut adalah penggunaan bahwa Tionghoa sebagai bahasa pergaulan bagi masyarakat etnis Tionghoa di daerah tersebut.

Dengan demikian, etnis Tionghoa yang dimaksud dalam peristiwa ini adalah etnis Tionghoa yang termasuk dalam golongan Tionghoa totok, karena mereka masih berorientasi pada kebudayaan Tionghoa dan tidak merupakan hasil perkawinan campur orang pribumi.

3. Ajaran-Ajaran yang Mempengaruhi Etnis Tionghoa

(43)

memiliki tradisi dan budaya tersendiri. Di dalam pemabahasan ini, tidak akan dibedakan antara Tionghoa totok dengan peranakan karena meskipun ada perbedaan di antara keduanya memiliki akar yang sama.

Hariyono (1993) mengutarakan kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh sistem kepercayaannya. Husodo (1985) berpendapat bahwa ajaran-ajaran yang banyak memberikan pengaruh pada perkembangan dasar berpikir, pandangan hidup, dan filsafat orang-orang Tionghoa adalah Budhisme, Taoisme, dam Konfusianisme. Di antara ketiga kepercayaan tersebut, ajaran Konfusianisme atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kong Hu Cu diyakini paling berpengaruh dan mendarah daging dalam kehidupan orang Tionghoa sehari-hari. Ajaran ini juga diduga menyumbangkan kekhasan kultur Tionghoa dan banyak mempengaruhi pola pikir orang Tionghoa (Hariyono, 1993).

a. Tao atau Taoisme

(44)

terjalin sangat erat serta dekat, menyebabkan pengaruh dari luar sulit sekali mempengaruhi tata kehidupan orang Tionghoa. Oleh karena itu, bangsa Tionghoa selalu menjaga kemurnian rasnya dan menutup diri dari pengaruh ras lain (Husodo, 1985). Husodo juga menjelaskan bahwa rasa kesatuan dalam keluarga ini merupakan modal utama dalam perjuangan hidup di mana mereka berada. Menurut Hariyono (1993) ajaran Taoisme banyak mempengaruhi orang Tionghoa mengenai hidup sederhana. Jalan tengah (hubungan keseimbangan yang mengatasi dua dikotomi yang berjauhan) dan penyesuaian diri dengan lingkungan sehingga manusia dapat hidup di manapun ia berada.

b. Konfusianisme atau Kong Hu Cu

Pada dasarnya Konfusius mengajarkan moralitas yang harus dimiliki oleh setiap manusia, seperti yang diungkapkan Hariyono (1993). Konfusianisme mengutamakan ajaran mengenai moralitas individu dan juga moralitas keluarga. Keluarga memang merupakan lembaga penting dalam Konfisianime karena keluarga merupakan satuan dasar masyarakat yang terpenting. Selanjutnya dalam keluarga, penghormatan anak kepada orangtua memegan peranan kunci. Maka dikembangkan konsep kesalehan sang anak. Kewajiban para anak kepada orangtua merupakan seluruh sumber kebajikan.

(45)

ungkapan rasa bakti ini tidak hanya dalam bentuk materi tetapi dapat berubah pada segala upaya untuk dapat memperoleh sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Hal tersebut dapat berwujud seperti keinginan untuk mencapai sesuatu yang terbaik mengenai cita-cita, pekerjaan, pemilikan suatu benda, status sosial, dan sebagainya.

4. Aspek-aspek yang Diprasangkai dari Masyarakat Etnis Tionghoa a. Orientasi Nilai Budaya Etnis Tionghoa

Orientasi nilai budaya etnis Tionghoa adalah (Hariyono, 1993): 1) Hakekat Hidup

Hidup dikatakan penuh dengan kesengsaraan, godaan, dan

dukkha namun manusia diberi alternatif untuk menyingkirkan

kesengsaraan itu yaitu dengan mencapai puncak yang paling sempurna di dalam menjalin hubungan antar manusia.

2) Hakekat Kerja

(46)

3) Hubungan Manusia dengan Alam

Orang cina mengikuti gerakan Tao (hukum alam) yaitu menilik kesederhanaan hukum alam. Jalan Tengah (hukum keseimbangan yang mengatasi dua dikotomi yang berjauhan) dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

4) Persepsi Mengenai Waktu

Orang cina memiliki orientasi waktu masa lalu, masa kini, dan ada kecenderungan memiliki orientasi waktu masa yang akan datang.

5) Hubungan Manusia dengan Sesamanya

Manusia di dunia ini adalah satu keluarga dan lembaga keluarga merupakan hubungan yang terpenting di antara segala hubungan sosial karena keluarga merupakan dasar bagi terbentuknya masyarakat.

6) Nilai Kerukunan

Konsep rukun menunjukkan pada pengertian anti kekerasan, hidup saling tolong-menolong, dan pasifisme (mengalah) dalam menghadapi konflik.

7) Prinsip Hormat

(47)

8) Etika kebijaksanaan

Etika ini tentang moralitas yang harus dimiliki oleh setiap manusia dengan mengutamakan kebijaksanaan. Hal ini dipakai untuk mengatur hubungan antar manusia dalam kehidupan kemasyarakatan.

9) Jalan Tengah

Jalan tengah adalah jalan yang tetap di tengah, di antara ujung-ujung kehidupan ini. Dengan mengikuti jalan ini akan menuju pada keselarasan dan keseimbangan, serta menjauhi sagala hal yang menuju fanatisme.

10)Perkawinan

Pada tradisi Tionghoa, perkawinan melibatkan keluarga besar dan orang tua terlibat dalam pengaturan tersebut. Oleh karena itu, masalah keluarga atau perceraian dianggap sebagai perbuatan yang menentang orang tua.

b. Stereotip Kultur Tionghoa

Stereotip berdasarkan suatu pendapat yang sudah ada sebelumnya kemudian diperkuat oleh pengamatan pribadi secara sepintas dan biasanya berkonotasi negative (Hariyono, 1993). Stereotip yang melekat pada orang Tionghoa adalah :

(48)

2) Sikap praktis terkadang membuat orang etnis Tionghoa berpenampilan secara sederhana. Oleh karena itu, mereka kurang menyukai hal-hal yang bersifat formalitas.

3) Sistem kepercayaan yang kuat menumbuhkan rasa kredibilitas yang tinggi sehingga memberi kesan tertutup. Loyalitas kebangsaan yang tinggi, loyalitas terjadi jika pada saat itu seseorang memiliki komitmen dengan penguasa pemerintahan. Bagi orang lain dapat menimbulkan adanya kecurigaan terhadap etnis Tionghoa.

4) Orang Tionghoa mengatakan bahwa penderitaan, rasa sakit, petaka, maut, dan kematian yang dialami seseorang sebagai salah satu kemungkinan yang bersifat tradisional saja sehingga orang Tionghoa dianggap kurang memiliki rasa peduli terhadap masalah kehidupan.

5) Orang Tionghoa memiliki rasa optimisme tinggi sehingga memberi kesan bahwa orang Tionghoa memiliki sifat ulet, tapi pada sisi lain dianggap sebagai orang yang keras, angkuh, dan superior. Perasaan superior ini bisa timbul juga karena ajaran Konfusius yang mereka yakini adalah ajaran yang paling sesuai dengan norma yang ada (Soekisman, 1975).

(49)

7) Moralitas keluarga yang terdapat di masyarakat etnis Tionghoa mengharuskan agar seorang anak wajib untuk menyenangkan dan membahagiakan orangtuanya dengan membuat perayaan yang besar. Semakin meriah perayaan itu, maka akan semakin mengharumkan nama orangtua dan juga akan membuat hubungan dengan Tuhan semakin dekat. Oleh karena itu, orang kadang memandang bahwa masyarakat etnis Tionghoa suka menghambur-hamburkan uang dan menimbulkan perasaan ketidakadilan bagi orang lain. Tetapi di sisi lain orang melihat adanya kepatuhan dan kerajinan seorang anak untuk membahagiakan orangtuanya.

E. KOTA PONTIANAK 1. Geografi dan Topografi

(50)

belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan, belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat, belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara, bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota (Deskripsi Wilayah, 2009).

2. Penduduk Kota Pontianak

Sebagai kota yang terbuka dengan kota-kota lain serta merupakan pusat kegiatan pemerintahan, swasta, dan sosial budaya sehingga menjadikan kota ini tempat pendatang dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya sehingga lebih heterogen. Hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia terwakili menjadi warga masyarakat kota. Suku-suku bangsa yang ada di Kota Pontianak seperti suku bangsa Dayak, suku bangsa Batak, suku bangsa Padang, suku bangsa Jawa, suku bangsa Bugis, suku bangsa Melayu, suku bangsa Tionghoa, dan lain-lain. Persentase penduduk terbesar adalah keturunan Tionghoa yakni 31,24 %. Lainnya terdiri dari Melayu 26,05 %, Bugis 13,12 %, Jawa 11,67%, Madura 6,35 %, dan lainnya sebanyak 8,57% (Deskripsi Wilayah, 2009).

3. Tionghoa Di Kota Pontianak

(51)

Sektor-sektor yang digeluti oleh masyarakat Tionghoa di Kota Pontianak antara lain yakni perdagangan, pertanian, perikananm transportasi, perbengkelan, biro travel, perindustrian, pasar swalayan, perbankan, dan usaha jasa.

F. RELASI ANTAR ETNIS DAN IDENTITAS ETNIS DALAM KONTEKS DISKRIMINASI

(52)
(53)

33

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bogdan & Tylor (Moleong, 2004), metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali dan memahami inti sebuah masalah sosial atau fenomena yang dialami individu secara alamiah dalam suatu konteks khusus dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Creswell, 2007).

Jenis penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Fenomenologi bertujuan untuk sebisa mungkin mempertahankan fenomena dan konteksnya sebagaimana muncul dalam dunia. Hal ini berarti bahwa meneliti suatu fenomena, berarti mengandaikan para individu menjadi pihak pertama dalam mendeskripsikan kehidupan mereka. Suatu situasi di mana mereka dapat mendeskripsikan sebagaimana mereka mengambil tempat dalam kehidupan mereka. Tujuan penelitian fenomenologi adalah menangkap sedekat mungkin bagaimana fenomena tersebut dialami di dalam konteks terjadinya fenomena tersebut (Smith, 2009).

B. STRATEGI PENELITIAN

(54)

memilki ciri yang membedakannya dengan jenis penelitian lainnya. Penelitian kualitatif merupakan studi dalam situasi alamiah (naturalistic inquiry) yaitu: desain yang bersifat alamiah, dalam arti peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi setting penelitian.

Peneliti mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. Kontak personal langsung peneliti di lapangan, agar peneliti memperoleh pemahaman secara jelas tentang realitas dan kondisi nyata kehidupan sehari-hari. Penelitian kualitatif menekankan pada perspektif holistik, perspektif dinamis, dan perspektif perkembangan yaitu: keseluruhan fenomena perlu dimengerti sebagai suatu sistem yang kompleks dan menyeluruh.

Dalam penelitian ini, tujuan peneliti adalah mengungkap hubungan antara etnis tionghoa dan pribumi yang ada di kota Pontianak, secara spesifik adalah hubungan yang berkaitan dengan pengalaman diskriminasi yang dialami warga Tionghoa di sana. Kemudian peneliti menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara dengan para subjek. Dengan demikian, penelitian dapat mengarah pada analisis yang lebih mendalam terhadap subjek.

C. FOKUS PENELITIAN

(55)

terjadi secara lansung dan terang-terangan ataupun tidak langsung dan halus di bidang formal ataupun kehidupan sehari-hari. Dari fokus tersebut maka akan mampu mengungkap berbagai manifestasi dari diskriminasi yang dialami.

D. SUBJEK PENELITIAN

Penelitian kualitatif tidak menekankan pada upaya generalisasi melalui perolehan sampel acak melainkan merupakan suatu upaya untuk memahami sudut pandang dan konteks penelitian secara mendalam (Poerwandari, 1998). Pemilihan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif disesuaikan dengan kekhususan dan kecocokan konteks penelitian (Poerwandari, 1998). Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penelitian ini, subjek yang dipilih adalah yang memiliki kriteria yakni subjek adalah etnis Tionghoa, subjek dipilih mulai dari yang berusia dewasa awal yakni 18 tahun ke atas, dan subjek besar dan menetap di kota Pontianak.

E. METODE PENGAMBILAN DATA

(56)

dimodifikasi untuk menggali wilayah menarik dan penting selama wawancara (Smith & Osborn, dalam Smith, 2009).

(57)

Tabel 1

Daftar panduan pertanyaan wawancara

No. Pertanyaan Tujuan pertanyaan

A. Identitas Subjek sebagai Warga Tionghoa di Indonesia 1 Apakah tradisi sebagai orang Tionghoa

masih dilakukan di keluarga anda?

mendapatkan informasi tentang kebiasaan subjek yang berkaitan dengan tradisi sebagai tionghoa

2 Bagaimana anda sendiri melihat warga Tionghoa di Pontianak?

Mengungkapkan persepsi subjek terhadap kelompoknya

B. Relasi antara Tionghoa – Pribumi di Pontianak 3 Bagaimana komposisi penduduk di kota

Pontianak?

Mengetahui kondisi masyarakat di Pontianak

4 Bagaimana hubungan antara etnis Tionghoa dan pribumi di Pontianak?

Mendapatkan gambaran secara umum hubungan antara etnis pribumi-tionghoa dalam masyarakat Pontianak.

5 Bagaimana hubungan antara etnis Tionghoa dan pribumi di Indonesia secara umum?

(58)

No. Pertanyaan Tujuan pertanyaan

6 Dalam kesempatan apa saja orang pribumi dan tionghoa biasanya bertemu atau berkomunikasi paling banyak di dalam masyarakat kota Pontianak?

Mengungkap ruang sosial yang

menciptakan interaksi tionghoa-pribumi

7 Pernah berinteraksi atau berkomunikasi dengan warga pribumi selama di Pontianak? Jika ya, bagaimana kesan/perasaan anda terhadap mereka?

Mengungkap kesan subjek saat berinteraksi dengan etnis pribumi pontianak

8 Apakah anda pernah mengalami hal yang berkesan, baik yang positif atau negatif, saat berinteraksi/berkomunikasi dengan pribumi di Pontianak?

Menggali kesan subjek terhadap warga pribumi berdasarkan pengalaman sehari-harinya di Pontianak

9 Apakah warga tionghoa di Pontianak sudah mendapatkan perlakuan adil dan setara seperti warga negara lainnya?

Mengungkap pengalaman diskriminasi terhadap tionghoa sebagai anggota masyarakat 10 Apakah dalam hal birokrasi, warga

Tionghoa Pontianak sudah mendapatkan layanan yang adil?

Mengungkap pengalaman diskriminasi dalam hal birokrasi.

11 Menurut anda, di dalam masyarakat Pontianak, bagaimana warga pribumi melihat warga Tionghoa?

Mengungkap stereotip yang ditujukan pada etnis tionghoa

(59)

antar etnis ini, yakni hubungan tionghoa-pribumi di kota Pontianak?

pandangan subjek dalam menghadapi problema diskriminasi etnis tionghoa

Panduan daftar pertanyaan yang disusun oleh peneliti dapat berubah atau berkembang sesuai dengan kondisi dan jawaban yang muncul saat wawancara dilakukan. Panduan tersebut mempermudah peneliti untuk mendapatkan informasi-informasi penting dan terarah untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Proses wawancara juga akan melalui beberapa tahap antara lain : 1. Peneliti mencari subjek atau partisipan yang akan bersedia menjadi

informan dalam penelitian ini.

2. Melakukan rapport, perkenalan, menjelaskan maksud penelitian dan memastikan subjek bersedia menjadi informan dan siap menjalani proses bersama-sama.

3. Membuat jadwal wawancara bersama sesuai kesepakatan agar tidak mengganggu aktivitas informan.

4. Melakukan wawancara.

(60)

dengan tiap-tiap subjek pada tempat dan waktu yang sudah disepakati bersama oleh peneliti dan subjek. Peneliti tidak membatasi durasi waktu setiap wawancara. Wawancara berakhir setelah semua pertanyaan sudah ditanyakan dan subjek sudah menceritakan semua hal yang berkaitan dengan wawancara. Berikut adalah gambaran pelaksanaan wawancaranya.

Tabel 2

Pelaksanaan Wawancara

No. Subjek

Pelaksanaan Wawancara Tanggal dan Waktu Lokasi 1. Noel

(Wanita, 22 tahun)

Jumat, 17 Mei 2013 16.00 – 17.00 WIB

Rabu, 19 Juni 2013 10.00 – 11.00 WIB

Kos subjek

Kos subjek

2. Le

(Pria, 22 tahun)

Senin, 20 Mei 2013 16.00 – 17.00 WIB

Jumat, 21 Juni 2013 13.00 – 14.00 WIB

Kos teman subjek

Kos teman subjek

3. Tiffa

(Wanita, 19 tahun)

Kamis, 18 April 2013 18.00 – 19.00 WIB

Minggu, 23 Juni 2013 11.00 – 12.00 WIB

Kos subjek

Kos subjek

F. METODE ANALISIS DATA

(61)

mengklarifikasi situasi yang dialami dalam kehidupan seseorang sehari-hari. Menurut Smith (2009), fenomenologis deskriptif berusaha menangkap sedekat mungkin bagaimana suatu fenomena dialami oeh seseorang sibjek penelitian di dalam konteks terjadinya fenomena tersebut. Fenomenologi juga berusaha menemukan makna-makna psikologis yang terkandung dalam suatu fenomena. Analisis dilakukan dalam tahap-tahap sebagai berikut:

1. Mencari Tema-tema pada Subjek Pertama

Mencari tema-tema dilakukan dengan membaca transkrip wawancara beberapa kali. Tepi kiri tabel digunakan untuk memberikan komentar akan hal-hal yang menarik dari transkrip wawancara. Kemudian komentar-komentar tersebut ditransformasikan ke dalam frasa-frasa singkat berupa tema-tema pada tepi kanan tabel. Tema-tema tersebut menunjukkan abstraksi yang lebih tinggi dan memunculkan istilah psikologis yang lebih banyak (Smith, 2009).

2. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Pertama

Setelah itu, tema-tema pada satu kasus diurutkan secara kronologis. Tema-tema disusun berdasarkan urutan kemunculannya dalam transkrip. Tema-tema yang telah diurutkan secara kronologis, diurutkan lagi secara analitis atau teoritis untuk menemukan hubungan antar tema. 3. Menghubungkan Tema-tema pada Subjek Lainnya

(62)

memperlihatkan tema-tema yang sama dan tema-tema yang berbeda dari masing-masing subjek, maka dibuat tabel tema. Selanjutnya dilakukan penjabaran terhadap tema-tema.

G. KREDIBILITAS PENELITIAN

Kredibilitas dalam suatu penelitian terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2005). Kredibilitas dalam penelitian ini dicapai melalui validitas argumentatif, yakni presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik dan rasional, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali data mentah (Poerwandari, 2005).

(63)

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. KONTEKS PENELITIAN

Pontianak merupakan salah kota di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan. Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 6 (enam) kecamatan dan terbagi menjadi 29 (dua puluh sembilan) kelurahan dengan luas 107,82 km². Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan yakni Belahan Utara dengan Kecamatan Pontianak Utara, belahan Timur dengan Kecamatan Pontianak Timur, belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan, belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat , belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara, bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota (Dekripsi Wilayah, 2009).

(64)

menjajakkan jajanan di sekitar tempat tinggal mereka, ataupun juga berjualan di pasar.

Warga Tionghoa cukup mendominasi kehidupan di pusat kota Pontianak, oleh karena itu umumnya di sekitar tempat tinggal mereka hidup bertetangga dengan sesama warga Tionghoa juga. Sedangkan, warga Tionghoa yang ada di pinggiran kota tempat tinggalnya berbaur dengan warga pribumi, baik etnis Melayu, Dayak, Jawa, Batak, Madura, dan sebagainya. Perbedaan ini cukup mempengaruhi intensitas komunikasi atau interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi di Pontianak.

Etnis Tionghoa di Pontianak masih menggunakan bahasa Tionghoa dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Tionghoa yang umumnya digunakan yaitu dialek Khek (Hakka) dan Tiociu. Tapi tidak jarang mereka juga memahami bahasa Mandarin. Menurut mereka orang Tionghoa semestinya menguasai bahasa Tionghoa. Orang Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Tionghoa biasanya akan mendapatkan cibiran dari mereka.

(65)

Etnis Tionghoa di Kalimantan Barat pada umumnya termasuk Tionghoa totok, yakni yang belum ada darah campurannya dengan etnis lain. Oleh karena itu, mereka masih sangat menjaga kemurnian keturunan dari etnis mereka. Hal semacam perkawinan campur merupakan hal yang tidak biasa dan tidak jarang juga termasuk hal yang dihindari. Oleh karena itu, dalam pergaulan sehari-hari etnis Tionghoa terkesan eksklusif dan tidak suka berbaur dengan etnis lain.

Kebanyakan warga Tionghoa di Pontianak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. Maka dari itu, sekolah-sekolah swasta di Pontianak didominasi oleh siswa-siswi dari etnis Tionghoa dan sebagian kecil etnis Dayak, Batak, dan Jawa. Sehingga dapat dikatakan bahwa di lingkungan sekolah pun interaksi antara etnis Tionghoa dengan pribumi tidak terlalu signifikan.

(66)

Kejadian lainnya seperti G30S PKI yang menjadikan orang Tionghoa sebagai sasaran operasi saat itu serta adanya pemaksaan asimilasi dengan mengcabut budaya Tionghoa dari masyarakat merupakan beberapa peristiwa yang traumatis bagi generasi orang-orang tua warga Tionghoa. Maka, tidak mengherankan bahwa banyak dari mereka yang masih menanamkan rasa permusuhan terhadap kaum pribumi.

B. PROFIL SUBJEK

Berikut adalah profil subjek dalam penelitian ini : 1. Deskripsi Subjek 1

(67)

menggunakan bahasa Tionghoa dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

2. Deskripsi Subjek 2

Subjek kedua berinisial Le.Subjek berusia 23 tahun dan sedang bekerja di Jakarta. Subjek adalah anak laki-laki sulung dari tiga bersaudara. Orangtua dan kedua saudara subjek menetap di Pontianak. Ayah dan ibu subjek masing-masing beragama Budha dan Katolik. Sedangkan subjek dan kedua saudaranya cenderung menganut agama Katolik meskipun subjek sendiri belum dibaptis. Subjek lahir dan dibesarkan di kota Pontianak, kemudian sejak kuliah ia menetap di Jakarta. Di keluarganya, pelaksanaan tradisi Tionghoa seperti berbagai upacara adat sudah mulai berkurang. Berbagai acara tradisi dilaksanakan dengan lebih sederhana dan tidak terlalu rumit dan mendetil. Meskipun demikian, subjek masih menggunakan bahasa Tionghoa tiociu sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi baik di keluarga maupun di lingkungan pergaulan. Akan tetapi, penggunaan bahasa Tionghoa tetap disesuaikan dengan situasinya. Orangtua subjek adalah wirausahawan, dan di tempat usahanya mereka memiliki beberapa karyawan orang pribumi. Maka, lingkungan sehari-hari subjek cukup berbaur antara Tionghoa dan pribumi.

3. Deskripsi Subjek 3

(68)

dan dibesarkan di Pontianak dan sudah tinggal di Yogyakarta selama satu tahun. Selama di Pontianak, subjek bersekolah di sekolah swasta Katolik yang pada umumnya mayoritas siswanya adalah warga Tionghoa. Keluarga subjek adalah keturunan Tionghoa dan kakek subjek adalah pendatang dari Cina. Subjek sendiri termasuk orang yang cukup peduli dengan budaya Tionghoa. Subjek juga gemar terlibat dalam organisasi pemuda Tionghoa di mana ia belajar mengenai budaya Tionghoa.

C. HASIL PENELITIAN

(69)

Tabel 3 Master tabel

Tema-tema Noel Le Tiff

A. IDENTITAS

1. Pembentukan identitas ketionghoaan di keluarga

a. Tradisi tionghoa masih dijalankan di keluarga b. Tradisi tionghoa semakin

berkurang

c. Ada peran orangtua dalam membentuk identitas dan sikap sebagai tionghoa

d. Pandangan orangtua bahwa tionghoa lebih baik daripada pribumi

39 – 45

2. Pandangan terhadap in-group

a. Tionghoa sebagai

kelompok yang solid

b. Tionghoa eksklusif dan punya prasangka negatif terhadap pribumi

-1. Lingkungan tempat tinggal

a. Tionghoa-pribumi hidup berbaur

b. Ada interaksi Tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal

(70)

Tema-tema Noel Le Tiff

c. Ada rasa tidak suka antara tionghoa-pribumi di lingkungan tempat tinggal

d. Ada kesetaraan tingkat ekonomi

2. Lingkungan masyarakat Pontianak

a. Masyarakat Pontianak terdiri dari beragam suku didominasi etnis Melayu

b. Ruang sosial terjadinya interaksi tionghoa-pribumi di Pontianak

c. Rasa tidak suka antara kedua etnis secara diam-diam di masyarakat Pontianak

d. Konflik antar etnis Tionghoa – pribumi di Pontianak

e. Konflik antar etnis semakin berkurang

f. Ada diskriminasi dalam layanan birokrasi

g. Mendapat stereotip negative di masyarakat

h. Ada harapan di masy. Pontianak hubungan kedua etnis semakin baik

(71)

Tema-tema Noel Le Tiff 3. Di dalam kehidupan bernegara

a. Ada diskriminasi dalam kebebasan berekspresi, hak berkarya di lembaga pemerintahan, layanan birokrasi, pendidikan

b. Masih ada prasangka antara tionghoa dan pribumi di masyarakat Indonesia

c. Perbedaan tingkat diskriminasi di berbagai daerah

d. Kecurigaan antara kedua etnis dikarenakan ada latar belakang sejarah dan rasa enggan utk berbaur

e. Justifikasi diskriminasi dari tionghoa ke pribumi

207– 223

4. Pengalaman hidup di masyarakat Pontianak

a. Hubungan dengan

pribumi baik

b. Mampu menyesuaikan dengan kebiasaan berkomunikasi di masyarakat

(72)

Tema-tema Noel Le Tiff

d. Menerima kemajemukan dalam hidup di masyarakat

e. Diskriminasi di

masyarakat tidak mempengaruhi minat untuk terlibat dalam interaksi dengan pribumi

f. Prasangka cenderung dipengaruhi oleh penampilan seseorang

g. Mengalami penjegalan di dalam event perlombaan

h. Kesan yang kurang baik terhadap pribumi

i. Menilai cenderung pada pribadi 5. Sikap sebagai warga negara

a. Menghindari sikap

rasisme dan diskriminasi b. Menganggap diskriminasi

di masyarakat adalah hal yang lumrah

c. Rasa bangga sebagai keturunan tionghoa

d. Rugi oleh adanya sentiment dari pribumi

(73)

1. Identitas

a. Pembentukan Identitas Ketionghoaan di Keluarga

Sebagai warga keturunan Tionghoa di Pontianak pada umumnya, para subjek dibesarkan dengan tradisi tionghoa yang masih dijalankan di keluarga mereka, terutama oleh generasi yang lebih tua seperti orangtua atau nenek-kakek mereka. Beberapa hal seperti berbicara bahasa Tionghoa, merayakan hari raya seperti imlek, sembayang kubur, upacara pernikahan, upacara pemakaman masih dijalankan meskipun juga tidak lagi serumit dan sekental tradisi asli.

“Tradisi chinese masih. Orangtua masih menjalankan tradisi konghucu.Semacam sembayang di kelenteng setiap tanggal 1 dan 15 tahun imlek, kalender lunar.Imlek, sembayang kubur juga masih.”

(Noel, 39 – 45)

“Udah berkurang, tapi masihlah, makan bareng, terus kayaknya ada sembahyang kubur…”

(Le, 26 – 29)

“…yang termasuk tradisi apalagi ya?karena udah kebiasaan jadi ya kayak kebiasaan keluarga sih… Terus imlekan sih masih, malam imlek makan bareng keluarga, terus imleknya ke rumah saudara-saudara.”

(Le, 34 – 40)

“Ya. Dalam keluarga besarku, banyak tradisi masih dilakukan, seperti sembahyang leluhur, makan bakcang, dan serangkaian tradisi rumit kayak dalam perkawinan dan hari raya imlek.”

(74)

sudah kurang menguasai dan memahami makna dari berbagai tradisi tersebut serta lebih cenderung mengarah kepada ritual agama yang dipeluknya.

“Kalau saya sendiri kurang ngerti juga soal sembayang soalnya jarang ikut hehehe… ya sebenernya pengen juga sih supaya tau, kan sebagai orang chinese minimal harus tau lah. Tapi kadang ya, makin ke sini makin jarang, ya orangtua juga membebaskan mau pegang agamanya apa.”

(Noel, 50 – 60)

“Udah berkurang, tapi masihlah, makan bareng, terus kayaknya ada sembahyang kubur walaupun 7 tahun belakangan ga serutin dulu.”

(Le, 26 – 31) Subjek Tiff mengatakan bahwa mulai berkurangnya tradisi tersebut dikarenakan beberapa hal dirasa sudah tidak relevan bahkan tidak praktis untuk kehidupan di zaman modern ini.

“Tapi dalam keluarga kecilku, cuma sebagian aja tradisi yang kami lakukan. Ya mungkin karena ada hal-hal tertentu dirasa kurang relevan lagi dengan kehidupan modern, atau ya semacam dirasa kurang praktis, kayak gitu-gitu.”

(Tiff, 45 – 52) Orangtua berperan dalam membentuk identitas dan sikap sebagai orang Tionghoa bagi para subjek. Beberapa hal yang diajarkan oleh orangtua mereka yakni watak pekerja keras dan kemampuan dalam mengelola keuangan. Noel beranggapan bahwa orang Tionghoa pada umumnya memiliki watak pekerja keras yang sekaligus menurunkan kemampuan untuk bertahan hidup di segala situasi.

(75)

situasi dan kehidupan di sana keras, kayak yang ya contohnya aja aku pernah kenal sama orang Cina. Dia guruku les bahasa mandarin, dan sangat ketat kalau di kelas. Ga masuk les aja ditanyain, ketawa di kelas aja diomelin. Bahkan dia cerita bahwa dia dari dulu kalau sekolah, sakit dikit ya tetap berangkat sekolah. Kalau bisa dibandingin sama guru les lainnya yang bukan asli, bukan native itu kan beda banget. Ga ada disiplinnya juga kadang. Ya itu… mungkin aja hehe, saya punya asumsi kayak gitu. Jadi banyak orang Cina bisa survive di mana-mana karena mereka mampu menghadapi persaingan yang keras. Ohya tapi soal dagang sih jujur saya ga jago haha.Soalnya bukan keluarga pedagang. Dan mm… apa ya… soal cina itu pelit, engga banget, itu salah… kalau aku bilang cina itu memang ada yang pelit, bahkan sama keluarganya sendiri aja pelit. Tapi orangtuaku engga pernah ngajarin pelit, Cuma lebih berhati-hati dalam membuat pengeluaran, begitu. Terus… apa lagi ya… ohya, soal bahasa chinese, jujur juga aku ga gitu sering ngomong bahasa chinese, dari kecil aku ga ngomong bahasa chinese selalu pake bahasa Indonesia kalau ngomong dengan siapapun. Kan ingat kata bu guru waktu masih kecil, gunakan bahasa Indonesia di tempat umum. Hehe…

(Noel, 608 – 663) Le diajarkan tentang nilai budaya Tionghoa dari orangtuanya dan juga prinsip berwirausaha.

“Diajarkan mengenai budaya sebagai etnis ya, misalkan tradisi imlek atau sembahyang kubur, lalu tata krama dan semacamnya juga mengenai ujung-ujung harus dagang, jangan mau kerja sama orang”

(76)

“Ya, tetapi gak terlalu. Aku lebih banyak belajar tentang identitas sebagai orang Tionghoa lewat kegiatan organisasi kepemudaan Tionghoa.”

(Tiff, 430 – 434) Selain itu, ketiga subjek mengakui bahwa masih ada pandangan generasi tua, baik orangtua maupun kakek-nenek mereka, bahwa tionghoa lebih baik daripada pribumi. Hal ini sedikit banyak dapat mempengaruhi generasi yang lebih muda sehingga menurunkan pola pikir yang sama dengan generasi tua.

“Bagi mereka tu Chinese lebih baik daripada pribumi. Chinese itu punya masa depan yang prospektif daripada pribumi, chinese itu pinter ngelola uang kalau pribumi tu ya biasanya karena ga pinter dagang atau make uang. Misalnya punya uang dikit terus langsung dihabisin atau dipake untuk apa, gitu, ngga diinvestasiin dulu. Ya sampe sekarang juga gitu… masih sering ngomong begitu.”

(Noel, 679 – 692)

“Masih, orangtua saya, terutama kakek dan nenek masih cenderung rasis dan membedakan. Yah, seperti membahas kekurangcerdasan pribumi.”

(Le, 487 – 492)

“Ya, sebagaimana orang Tionghoa pada umumnya, mereka juga memiliki paradigma tertentu mengenai orang pribumi.”

(Tiff, 450 – 454) b. Pandangan Terhadap In-Group

(77)

“Tapi, secara umum, ada kekuatan-kekuatan, persatuan, ada kebersamaan yang bisa ditemukan ya dalam masyarakat Tionghoa, contohnya kayak bahu-membahu dalam acara besar, dan.. ya itu sih.”

(Tiff, 360 – 367) Dari sisi negatif subjek menilai Tionghoa di Pontianak masih eksklusif dan punya prasangka negatif kuat terhadap pribumi. Selain itu ada pula kecenderungan untuk meninggikan derajatnya lebih daripada etnis lain, khususnya dalam hal material dan ekonomi.

“Secara objektif memang terkadang orang tionghoa itu ada sifat suka sombong, menyombongkan diri, biasanya dari segi materiil. Ya, terlalu menonjolkan kekayaan semacam itu. Dan kalau dibilang kurang percaya dengan orang pribumi, iya.”

(Noel, 351 – 359)

“Eksklusif dan kurang mau membaur. Masih berprasangka negatif terhadap pribumi secara general.”

(Le, 334 – 337)

“Yah, terlahir di keluarga Tionghoa, ga bisa menutupi fakta juga bahwa di kalangan orang tionghoa sendiri, ada pandangan-pandangan tertentu yang melecehkan atau merendahkan orang pribumi pula…”

(Tiff, 242 – 249)

“Seperti yang aku katakan tadi, secara umum keliatannya rukun, harmonis, tapi di baliknya itu ada rasa benci, iri, perasaan negatif lainnya antar etnis dan agama ya...”

(Tiff, 355 – 360)

2. Relasi

a. Lingkungan Tempat Tinggal

(78)

menunjukkan bahwa dalam situasi sehari-hari di tempat tinggal mereka mereka cukup familiar dengan warga Pribumi.

“Di masyarakat, seperti misalnya di daerah tempat tinggal saya, memang etnis tionghoa dan pribumi tinggal berdekatan ya.”

(Noel, 123 – 27)

“Selain itu, keluarga saya memiliki toko dan kebanyakan karyawannya adalah pribumi.”

(Le, 261 – 264)

“Di lingkungan sekitar rumah saya, yang mendominasi adalah orang Melayu dan orang Tionghoa.”

(Tiff, 67 – 70)

Di sekitar tempat tinggalnya subjek Noel termasuk jarang berinteraksi dengan tetangga di sekitar pemukimannya, terutama warga pribumi.

‘Tetangga sih kalau aku sendiri jarang, hehe… tapi mama atau papa itu masih ada, beberapa yang mereka kenal, karena mereka kan udah lama tinggal di situ, ada yang mereka udah kenal lama jadi masih nyapa, ngobrol-ngobrol… soalnya sering juga kan kalau suka jalan-jalan misalnya kayak ke pasar, atau jalan-jalan sore, ketemu ibu yang ini bapak yang itu ya nyapa”

(Noel, 529 – 542) Subjek Le dan Tiff beserta keluarga mereka masing-masing memiliki komunikasi yang cukup baik dengan warga pribumi di sekitar tempat tinggal mereka sehingga hal ini semakin menambah interaksi mereka dengan warga sekitar.

(79)

kue atau makanan lain bahkan saat mereka sudah tidak bekerja di tempat kami lagi.”

(Le, 269 – 280)

“Kalau dengan tetangga, kami hidup sangat rukun kok.”

(Tiff, 70 – 72) Meskipun tinggal di pemukiman di mana antara warga tionghoa dan pribumi saling berdekatan dan ada komunikasi, salah satu subjek mengaku masih ada rasa tidak suka terhadap warga pribumi walaupun tidak ditunjukkan terang-terangan. Bagi Noel kepercayaan orang Tionghoa lebih besar pada sesama orang Tionghoa sendiri.

“Tapi kalau dipikir-pikir ya dibilang akur ya akur, dibilang akur sekali ya gak juga.Sebagai tetangga kami ya basa basi, tapi ya jeleknya kami juga ada rasa gak percaya. Istilahnya ya, gini… orang tionghoa ya tetap lebih percaya dengan sesama tionghoa dibandingkan dengan orang pribumi, meskipun di sehari-hari kami biasa-biasa aja. Mungkin karena perbedaan itu ya. Saya kurang paham juga.”

(Noel, 127 – 141) Subjek Tiff menambahkan bahwa di sekitar lingkungan tempat tinggalnya etnis Tionghoa dan pribumi memiliki kemampuan ekonomi yang setara, yakni ekonomi menengah ke atas.

“Ya secara umum sih, tetangga-tetangga itu orang-orang yang secara ekonomi bisa dibilang menengah ke atas.”

(Tiff, 72 – 75) b. Lingkungan Masyarakat Pontianak

Figur

Tabel 1. Daftar panduan pertanyaan wawancara ...................................
Tabel 1 Daftar panduan pertanyaan wawancara . View in document p.18
Tabel 1 Daftar panduan pertanyaan wawancara
Tabel 1 Daftar panduan pertanyaan wawancara . View in document p.57
Tabel 2 Pelaksanaan Wawancara
Tabel 2 Pelaksanaan Wawancara . View in document p.60
tabel 3 berikut.
tabel 3 berikut. . View in document p.68
Tabel 3 Master tabel
Tabel 3 Master tabel . View in document p.69
TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 1, NOEL
TABEL TEMA TEMA SUBJEK 1 NOEL . View in document p.130
TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 2, LE
TABEL TEMA TEMA SUBJEK 2 LE . View in document p.145
TABEL TEMA-TEMA SUBJEK 3, TIFF
TABEL TEMA TEMA SUBJEK 3 TIFF . View in document p.160

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (161 Halaman)