• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN TEKNIS PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK TANAMAN PANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PANDUAN TEKNIS PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK TANAMAN PANGAN"

Copied!
204
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN TEKNIS

PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK

TANAMAN PANGAN

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL TANAMAN PANGAN DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2017

PANDUAN TEKNIS

PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK

TANAMAN PANGAN

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL TANAMAN PANGAN DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2017

PANDUAN TEKNIS

PENERAPAN JAMINAN MUTU PRODUK

TANAMAN PANGAN

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL TANAMAN PANGAN DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan Tahun 2017 dapat diselesaikan.

Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan days saing produk hasil pertanian melalui mekanisme penjaminan mutu dalam bentuk sertifikasi atau registrasi yang dilakukan oleh Lembaga Penilai Kesesuaian terhadap pelaku usaha yang sudah menerapkan sistem jaminan mutu.

Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan merupakan acuan bagi pihak terkait balk pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun instansi lainnya untuk melaksanakan kegiatan fasilitasi standardisasi dan mutu tanaman pangan TA 2017 yaitu uji mutu produk, sertifikasi organik, sertifikasi non organik, serta registrasi Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT).

Panduan Teknis ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan keberhasilan kegiatan standardisasi dan mutu tanaman pangan TA 2017.

Jakarta, Maret 2017

(3)

i DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iii

I. PENDAHULUAN ... 1 A. LATAR BELAKANG ... 1 B. MAKSUD ... 3 C. TUJUAN ... 3 D. SASARAN ... 4 E. RUANG LINGKUP ... 4 F. ACUAN ... 5

II. UJI MUTU PRODUK ... 6

III. SERTIFIKASI ... 16

IV. REGISTRASI PSAT ... 32

(4)

ii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Formulir Kuisioner Pengambillan Contoh 2. Formulir Berita Pengambilan Contoh

3. Daftar Laboratorium Pengujian Yang Telah Diakreditasi Dengan Ruang Lingkup Mutu Dan Keamanan Pangan

4. Contoh Formulir Laporan Hasil Pengujian Mutu Produk

5. Contoh Panduan Mutu Penerapan Jaminan Mutu Berdasarkan Sistem HACCP (SNI CAC/RCP 1 : 2011)

6. Contoh Formulir Checklist Audit Internal Penerapan Jaminan Mutu Berdasarkan Sistem HACCP (SNI CAC/RCP 1 : 2011)

7. Contoh Struktur Tim ICS dan Uraian Tugas yang Diintegrasikan Dalam Struktur Poktan/Gapoktan

8. Contoh Formulir Check List Pra Assesment Budidaya Tanaman Organik

9. Contoh Formulir Pendaftaran Petani

10. Contoh Formulir Check List Inspeksi Internal untuk Sistem Pertanian Organik

11. Contoh Formulir Daftar Petani yang Diajukan Sertifikasi Organik / Approved Farmer List (AFL)

12. Contoh Formulir Check List Pra Assessment Untuk Sertifikasi Sistem Pertanian Organik

(5)

iii

13. Contoh Dokumen Penerapan Jaminan Mutu Produk

14. Diagram Pohon Keputusan Untuk Titik Kendali Kritis untuk Penerapan Sistem HACCP

15. Lay Out Rice Milliong Unit

16. Contoh Standar Operasional Prosedur Sanitasi (Sanitation Standard Operational Procedure /SSOP

(6)

iv

DAFTAR GAMBAR

1. Penerapan Jaminan Mutu Produk ... 1

2. Ruang Lingkup Mutu ... 6

3. Alur Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu ... 15

4. Alur Proses Pembinaan Penerapan Jaminan Mutu Melalui Sertifikasi dan/atau Registrasi Non-Organik ... 18

5. Alur Permohonan Sertifikasi HACCP ... 23

6. Alur Fasilitasi Sertifikasi Sistem Pertanian Organik ... 25

7. Alur Sertifikasi Sistem Pertanian Organik ... 31

(7)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan daya saing produk hasil tanaman

pangan, diperlukan upaya penjaminan mutu dengan

memperhatikan standar dan perubahan lingkungan strategis. Untuk mendapatkan jaminan mutu produk, pelaku usaha harus menerapkan sistem jaminan mutu, melalui uji mutu, sertifikasi dan/atau registrasi.

Gambar 1. Penerapan Jaminan Mutu Produk

Penerapan jaminan mutu produk dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu organik dan non-organik, baik untuk pangan maupun non pangan.

(8)

2

Dalam hal ini, penerapan jaminan mutu yang relevan ketika

menggunakan standar yang diterbitkan oleh institusi

standardisasi atau persyaratan teknis minimal oleh kementerian teknis.

Perkembangan pengujian dan sertifikasi saat ini menuntut setiap pelaku usaha memperhatikan proses jaminan mutu produk yang dihasilkan. Penerapan jaminan mutu produk sangat tergantung pada kondisi standar yang ditetapkan dan kemampuan usaha. Penerapan jaminan mutu non organik untuk produk pangan hasil pertanian umum mengacu pada sistem jaminan mutu produk berdasarkan SNI CAC/RCP 1:2011 Prinsip Umum Higiene Pangan. Standar ini merupakan salah satu sistem mutu yang menggunakan model jaminan mutu dengan berdasarkan keamanan pangan (food safety) sebagai pendekatan utama. Sedangkan, penerapan jaminan mutu organik wajib mengikuti aturan Standar Nasional Indonesia (SNI 6729:2016 Sistem Pertanian Organik).

Keamanan pangan adalah aspek-aspek dalam proses produksi yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit atau kematian. Masalah ini umumnya dihubungkan dengan masalah biologi, kimia dan fisik. Standar ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan untuk bisnis pangan dalam menerapkan jaminan mutu kemanan pangan.

(9)

3

Pada tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengalokasikan penerapan standardisasi dan mutu (terutama pangan) sebagai melalui

1. Uji Mutu Produk Beras yang telah disertifikasi 2. Sertifikasi (SNI Organik dan SNI Non Organik) 3. Registrasi

Proses uji mutu atau sertifikasi harus dilanjutkan dengan proses registrasi Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT) sesuai peraturan yang berlaku.

Penerapan ini sangat penting dalam mengembangkan

kompetensi pelaku usaha tanaman pangan ditengah-tengah pasar yang terus berkembang.

B. Maksud

Panduan Teknis Penerapan Jaminan Mutu Produk Tanaman Pangan disusun sebagai acuan bagi petugas pusat, daerah dan instansi terkait lainnya dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi penerapan standardisasi dan mutu hasil tanaman pangan di wilayah kerjanya sesuai DIPA TA 2017.

C. Tujuan

Penerapan jaminan mutu produk tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk

(10)

4

pertanian melalui mekanisme penjaminan mutu produk (sertifikasi atau registrasi) yang dilakukan oleh Otoritas

Kompeten Keamanan Pangan atau Lembaga Penilai

Kesesuaian (LS HACCP/LSO/LSPro/OKKP-P/OKKP-D).

D. Sasaran

a. Tersedianya data mutu pangan (beras 80 contoh, kedelai 14 contoh, produk beras yang telah disertifikasi organik 15 contoh dan dan jagung pakan 100 contoh)

b. Meningkatnya poktan/gapoktan lingkup tanaman pangan yang mampu menerapkan sistem jaminan mutu produk non organik sehingga dapat memperoleh sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP (6 unit );

c. Meningkatnya poktan/gapoktan lingkup tanaman pangan yang mampu menerapkan sistem pertanian organik sehingga dapat memperoleh sertifikasi organik (30 unit); d. Meningkatnya poktan/gapoktan yang teregistrasi Produk

Segar Asal Tumbuhan (24 unit);

E. Ruang lingkup

Ruang lingkup panduan teknis ini mencakup : 1. Uji Mutu Produk

▪ Uji mutu untuk komoditas pangan (beras, kedelai) ▪ Uji mutu jagung pakan

(11)

5

▪ Uji mutu produk yang telah disertifikasi organik 2. Sertifikasi

▪ Sertifikasi non organik (sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP/SNI CAC/RCP 1:2011)

▪ Sertifikasi organik

3. Registrasi Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT)

F. Acuan

a. Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Pemerintah

TA 2017;

b. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pengolahan dan

Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Tahun 2017;

c. SNI CAC/RCP 1:2011 Rekomendasi Nasional Kode Praktis-Prinsip Umum Higiene Pangan;

d. SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian;

e. SNI 7387:2009 Batas Maksimum Cemaran Logam Berat;

f. SNI 7385:2009 Batas Maksimum Kandungan Mikotoksin

dalam Pangan;

g. Pedoman BSN 1004:2002 tentang Penyusunan Rencana Sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP);

h. Pedoman BSN 1003:1999 tentang Kriteria Auditor Sertifikasi HACCP;

(12)

6

BAB II

UJI MUTU PRODUK

A. Parameter Pengujian

Mutu produk adalah keadaan fisik, fungsi dan sifat suatu produk bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang dikeluarkan.

Mutu Pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan dan kandungan gizi pangan. Mutu pangan terdiri dari keamanan pangan dan kandungan gizi. Keamanan produk terdiri dari aspek fisik, biologi, dan kimia, sedangkan kandungan gizi terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.

(13)

7

Pengujian adalah penentuan satu atau lebih karateristik dari satu objek penilaian menurut prosedur. Proses pengujian dapat dilakukan secara manual dan melalui pemanfaatan alat tertentu seperti di laboratorium.

Pengujian fisik dapat dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis

1. Pengujian mutu untuk komoditas pangan (beras dan kedelai)

Pengujian mutu produk sangat penting dalam memastikan kehandalan informasi mutu produk. Untuk itu, proses pengujian mutu produk harus memenuhi kecermatan dan konsistensi sesuai dengan standar sehingga menjadi bermanfaat. Pengujian mutu produk harus dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Parameter pengujian mutu produk untuk beras meliputi : - Mutu Fisik : derajat sosoh, kadar air, butir kepala, butir

patah, butir menir, butir merah.

- Mutu Biologi : Mikotoksin, Kapang, E-coli, dan Alt. - Mutu Kimia : residu kimia pestisida dan logam berat.

(14)

8

Tabel 1. Parameter Pengujian Mutu Produk Beras

Ketarangan : 1) SNI 6128:2015 Beras

2) SNI 7387:2009 Batas Maksimun Cemaran Logam Berat Dalam Pangan 3) SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian

4) Permentan No. 32 Tahun 2017 Tentang Pelarangan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya pada Proses Penggilingan Padi, Huller dan Penyosoh Beras

5) SNI 7385:2009 Batas Maksimum Kandungan Mikotoksin Dalam Pangan 6) SNI 7388:2009 Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan 7) PP No. 17 tahun 2015 Tentang Ketahan Pangan dan Gizi

Parameter pengujian mutu produk untuk kedelai meliputi : - Mutu Fisik

- Mutu Biologi - Mutu Kimia

(15)

9

Tabel 2. Parameter Pengujian Mutu Produk Kedelai

Ketarangan : 1) SNI 01-3922-1995 Kedelai

2) SNI 7387:2009 Batas Maksimun Cemaran Logam Berat Dalam Pangan 3) SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian 4) SNI 7388:2009 Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam Pangan 5) PP No. 17 tahun 2015 Tentang Ketahan Pangan dan Gizi

2. Pengujian Mutu Jagung Bahan Pakan Ternak

Parameter pengujian mutu jagung bahan pakan ternak meliputi :

- Mutu Fisik - Mutu Bilogi

Tabel 3. Parameter Pengujian Mutu Jagung Bahan Pakan Ternak 1)

(16)

10

3. Pengujian Mutu Produk yang Telah Disertifikasi Organik Dalam rangka identifikasi keyakinan memadai atas mutu pada produk yang telah disertifikasi organik maupun yang akan disertifikasi organik diperlukan pengujian residu pestisida dan logam berat. Walaupun hal ini tidak wajib dilakukan, kecuali jika inspektor organik mencurigai kemungkinan kontaminasi bahan kimia sintetis. Pengujian residu pestisida dilakukan secara kualitatif (screening test) dan kuantitatif Pengujian mutu produk organik juga dilakukan untuk melihat konsistensi penerapan sistem

pertanian organik pada poktan/gapoktan setelah

mendapatkan sertifikasi organik. Perlakuan ini sebagai proses check dan balance atas penerapan sertifikasi sistem pertanian organik. Pengujan mutu beras organik meliputi parameter kimia, biologi dan kandungan gizi seperti terdapat pada Tabel 1.

B. Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu

Prosedur pelaksanaan pengujian mutu untuk komoditas beras non organik, beras organik, jagung pakan ternak, dan kedelai sebagai berikut :

1. Dinas melakukan identifikasi titik/lokasi pengambilan contoh

• Titik pengambilan Contoh beras dalam rangka sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP dan/atau dalam rangka registrasi PSAT dilakukan pada pelaku

(17)

11

usaha penggilingan padi (poktan/gapoktan/lembaga

lainnya);

• Titik pengambilan contoh kedelai adalah petani kedelai dan pedagang pengumpul kedelai

• Titik pengambilan contoh untuk produk beras organik diambil pada poktan/gapoktan/lembaga lainnya yang memproduksi beras organik dan sudah mendapatkan sertifikasi organik berdasarkan SNI;

• Titik pengambilan contoh untuk jagung pakan diambil pada poktan/gapoktan, pedagang pengumpul kecil dan pedagang pengumpul sedang/besar.

(18)

12

Ket : *Komposisi jumlah sampel jagung pakan ternak di tingkat petani, pedagang pengumpul kecil dan pedagang pengumpul besar dapat menyesuaikan kondisi lapang

2. Dinas melakukan penunjukan Petugas Pengambil Contoh (PPC) dan persiapan pengambilan contoh Persiapan pengambilan contoh sebagai berikut :

1) menyusun rencana pengambilan contoh;

2) mempersiapkan dokumen pendukung serta peralatan

untuk pengambilan contoh sesuai komoditi yang akan

diambil contohnya. Dokumen pendukung yang

dipersiapkan antara lain:

(19)

13

▪ Standar acuan SNI 19-0428-1998 Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan

▪ Berita acara pengambilan contoh

▪ Kuisioner untuk wawancara kepada pemilik contoh

agar memperoleh informasi data lainnya.

Wawancara dilakukan sebelum pelaksanaan

pengambilan contoh. Kuisioner untuk wawancara sesuai pada lampiran 1.

3) Peralatan untuk pengambilan contoh yang harus

dipersiapkan antara lain : tombak tunggal (harus bersih dan steril), plastik polietilen, wadah penyimpanan contoh (harus bersih dan steril), sarung tangan, alkohol, sekop kecil/pendek (harus besih dan steril), timbangan (harus besih dan steril), hygrometer termometer digital, grain moisture meter, label contoh, spidol permanen, alumanium foil, dan lain-lain.

3. PPC melakukan pengambilan contoh sesuai teknik pengambilan contoh

- Contoh yang diambil harus mewakili populasi yang

komoditas yang tersedia dilokasi. Pelaksanaan

pengambilan contoh dilakukan dengan penjelasan kepada pelaku usaha yang akan diambil contoh. Pengambilan spot contoh untuk memenuhi keakurasian harus diperhatikan petugas. Setelah petugas selesai

(20)

14

mengambil spot contoh, dilakukan penandatanganan berita pengambilan contoh.

- Pengambilan contoh dilakukan oleh tim petugas

pengambilan contoh yang kompeten sesuai dengan

metode pengambilan contoh yang ditetapkan

berdasarkan acuan SNI 19-0428-1998 Petunjuk

Pengambilan Contoh Padatan. Pelaksanaan

pengambilan contoh dibedakan berdasarkan kondisi yaitu pengambilan contoh berbentuk curah dan pengambilan contoh berbentuk kemasan. Contoh akhir diambil sebanyak 2 kg (1 kg contoh laboratorium dan 1 kg arsip contoh)

- Penanganan contoh antara lain memberi label atau

identitas pada kemasan contoh meliputi nama pemilik contoh, lokasi tempat pengambilan contoh, jumlah contoh, tanggal pengambilan contoh dan nama PPC. Contoh yang diambil dikemas menggunakan plastik polietilen yang kedap udara untuk uji aflatoksin, sedangkan untuk uji residu pestisida contoh yang diambil dibungkus almunium foil. Contoh akhir yang telah dikemas diletakkan dalam wadah penyimpanan contoh agar tidak terkontaminasi

- Penandatanganan berita acara pengambilan contoh

dilakukan antara pemilik contoh dengan petugas pengambil contoh. Contoh formulir berita acara

(21)

15

pengambilan contoh sebagaimana terlampir pada lampiran 2.

4. Dinas melakukan pengiriman contoh kepada

laboratorium pengujian yang terakreditasi

Petugas pengambil contoh melakukan pengiriman contoh ke laboratorium pengujian yang telah terakreditasi oleh KAN sesuai dengan ruang lingkup yang akan diuji. Adapun daftar laboratorium pengujian yang telah diakreditasi dengan ruang lingkup mutu produk sebagaimana pada lampiran 3.

5. Dinas melaporkan hasil pengujian contoh kepada Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman

Pangan melalui email [email protected] dan

[email protected].

Petugas pengambil contoh melaporkan hasil pengujian yang telah dilaporkan oleh laboratorium pengujian yang sudah terakreditasi KAN. Contoh formulir laporan hasil pengujian mutu produk terdapat pada lampiran 4.

(22)

16

Gambar 3. Alur Prosedur Pelaksanaan Uji Mutu

BAB III SERTIFIKASI

(23)

17

Penjaminan mutu dan keamanan produk untuk komoditas pangan dapat dilakukan melalui berbagai proses sertifikasi antara lain sertifikasi produk, sertifikasi HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011), sertifikasi sistem keamanan pangan (ISO 22000), dan sertifikasi sistem pertanian organik.

1. Sertifikasi Beras Non Organik (SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP)

Dalam rangka melaksanakan sertifikasi beras non organik dapat dilakukan melalui sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP.

A. Prosedur Pelaksanaan Sertifikasi Non Organik

(SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP)

a. Dinas melakukan penetapan CPCL dengan ketentuan seperti pada Petunjuk Teknis Pengelolaan Bantuan Pemerintah TA 2017 dan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Tahun 2017.

b. Dinas melakukan pengujian mutu pada produk yang sudah dipastikan menjadi penerima sertifikasi beras non organik. Hasil uji mutu yang dilakukan tersebut sebagai acuan dalam melakukan pembinaan mulai dari budidaya dan proses produksi beras.

c. Dinas melaksanakan pengadaan grader dan packing unit

Untuk dapat menghasilkan beras yang memenuhi SNI 6126:2015 Beras, pelaku usaha penggilingan padi harus

(24)

18

memiliki sarana grading untuk memisahkan beras kepala dengan butir pecah dan memiliki sarana pengemasan (packing unit) yang memadai agar dapat menghasilkan beras berkualitas dalam kemasan retail. Pada TA 2017 Kementerian Pertanian memberikan

fasilitasi grading dan packing pada

poktan/gapoktan/lembaga lain yang menjadi CPCL untuk sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP.

Apabila CPCL untuk sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP sudah memiliki fasilitas grading dan packing untuk menghasilkan beras sesuai SNI maka pengadaan sarana grading dan packing dapat

dialihkan ke poktan/gapoktan/lembaga lain yang

membutuhkan.

d. Dinas melakukan tahapan pembinaan sertifikasi. Tahapan pembinaan sertifikasi meliputi apresiasi dan sosialisasi, pembentukanan tim mutu produk, tindakan perbaikan, bimbingan teknis, penyusunan dokumen sistem mutu, sosialisasi di poktan/gapoktan, penerapan dokumen sistem mutu, tindakan perbaikan, permohonan sertifikasi atau registrasi ke OKKP-D.

(25)

19

Gambar 4. Alur Proses Pembinaan Penerapan Jaminan Mutu melalui Sertifikasi dan/atau Registrasi Non-Organik

1) Apresiasi dan Sosialisasi

Apresiasi bertujuan untuk mensosialisasikan standar dan/atau regulasi yang dijadikan sebagai acuan penerapan sistem jaminan mutu produk. Apresiasi dan sosialisasi dilakukan langsung di poktan/gapoktan

CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus

poktan/gapoktan, dipandu oleh Petugas

Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas

Kabupaten/Kota/ Provinsi, Instansi Pusat atau dari Perguruan Tinggi, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi yang memadai.

(26)

20

Materi yang harus disosialisasikan : ▪ Prinsip-prinsip mutu produk

▪ Permentan Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pendaftaran Pangan Segar Asal Tumbuhan, Good Manufacturing Practices (GMP), Good Handling Practices (GHP)

▪ SNI CAC/RCP-1:2011 tentang Rekomendasi

Nasional Kode Praktis-Prinsip Umum Higiene Pangan ▪ SNI 6128:2015 Beras

▪ SOP Proses dan SOP Sanitasi. 2) Pembentukan Tim Mutu Pangan

Untuk penerapan sistem jaminan mutu produk harus dibentuk Tim Keamanan Pangan yang terdiri dari anggota poktan/gapoktan yang memahami sistem jaminan mutu produk. Pada tahap awal Tim Keamanan Pangan bertugas untuk menyusun dokumen sistem mutu, mensosialisasikan penerapan sistem jaminan mutu kepada anggota.

3) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus poktan /gapoktan, dipandu

(27)

21

oleh Petugas Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas Kabupaten/Kota/ Provinsi, Ditjen Tanaman Pangan, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi yang memadai di bidangnya (pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman pendampingan). Dokumen Sistem Mutu untuk Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk yang akan disusun terdiri atas: ▪ Panduan Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk.

Khusus untuk fasilitasi penerapan Sistem HACCP harus disusun Rencana Penerapan HACCP (HACCP Plan)

▪ Standar Operasional Prosedur Sanitasi (SOP Sanitasi)/Standard Sanitation Operation Procedure (SSOP)

▪ Standar Operasional Procedure (SOP) penggilingan padi

▪ Standar Operasional Procedure (SOP) audit internal ▪ Formulir pencatatan penerapan sistem jaminan mutu

produk (catatan proses budi daya, catatan

penanganan pasca panen, catatan penanganan proses pengolahan, catatan pelaksanaan prosedur sanitasi)

Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu)

(28)

22

bulan setelah apresiasi sistem jaminan mutu produk. Pada saat bimbingan teknis penyusunan dokumentasi sistem mutu (doksistu) harus dilakukan simulasi penerapan sistem dan rencana tindak lanjut penerapan di poktan/gapoktan. Contoh dokumentasi sistem mutu untuk penerapan sistem jaminan mutu berdasarkan sistem HACCP terdapat pada lampiran 5.

4) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu) Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada seluruh anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas dari Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus membantu mensosialisasikan dokumen sistem mutu. Kegiatan

sosialisasi dokumen sistem mutu harus

didokumentasikan.

5) Penerapan Dokumen Sistem Mutu

Dokumen sistem mutu yang telah disusun harus dijadikan acuan dalam operasionalisasi kegiatan secara konsisten oleh poktan/gapoktan. Penerapan dokumen sistem mutu tersebut harus dibuktikan dengan pencatatan. Peran penyuluh/pendamping dan tim keamanan pangan sangat diperlukan dalam penerapan sistem jaminan mutu keamanan pangan.

Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah

(29)

23

sudah dilakukan berdasarkan standar acuan yang telah ditetapkan. Proses verifikasi dilakukan oleh tim keamanan pangan dengan menggunakan checklist audit internal terhadap penerapan sistem jaminan mutu produk oleh tim keamanan pangan sesuai pada lampiran 6.

Hasil audit internal akan ditemukan beberapa

ketidaksesuaian dari penerapan sistem yang sudah dilakukan sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan terhadap temuan ketidaksesuaian sebelum dilakukan pengajuan permohonan sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau SNI HACCP.

6) Uji Mutu Produk (beras dan kedelai)

Untuk membuktikan efektifitas penerapan sistem jaminan mutu produk terhadap produk yang dihasilkan dilakukan validasi melalui pengujian keamanan pangan di laboratorium pengujian yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional .

7) Permohonan Sertifikasi

Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan perbaikan dapat mengajukan permohonan sertifikasi ke Lembaga Sertifikasi HACCP/ Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) melalui Dinas Pertanian Provinsi penerima dana dekonsentrasi.

(30)

24

Gambar 5. Alur Permohonan Sertifikasi HACCP

Seluruh tahapan proses penerapan sistem jaminan mutu produk, dilakukan pada lokasi CPCL dan harus diikuti oleh anggota/pengurus yang berasal dari poktan/gapoktan, penyuluh, dan petugas dinas kabupaten/kota/provinsi.

2. Sertifikasi Organik

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor

64/Permentan/OT.140/5/2016, seluruh produk organik yang beredar di wilayah Indonesia baik produksi dalam negeri maupun

(31)

25

pemasukan (impor) harus mencantumkan logo organik Indonesia. Hanya pelaku usaha organik yang sudah disertifikasi oleh LSO yang berhak mencantumkan logo organik Indonesia.

Pelaku usaha yang ingin mendapatkan sertifikasi organik harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana tertuang dalam SNI

6729:2016 Sistem Pertanian Organik dan persyaratan

manajemen sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk sertifikasi organik berbasis kelompok, poktan/gapoktan organik selain menerapkan budidaya organik juga harus menerapkan sistem kendali internal (Internal Control System/ICS) untuk menjamin integritas organik pada produk yang dihasilkan.

Mengingat sertifikasi pertanian organik tidak hanya didasarkan pada penilaian produk akhir saja, melainkan dimulai dari proses produksi sampai distribusi yang terdokumentasi, diperlukan pendampingan oleh pihak terkait baik pemerintah pusat,

pemerintah daerah maupun instansi lainnya. Tahapan

pelaksanaan sertifikasi organik sebagai berikut : apresiasi dan sosialisasi, pembentukan ISC, penyusunan sistem mutu, sosialisasi dokumentasi petani, penerapan sistem pertanian organik yang terdokumentasi, penerapan ICS, pengajuan sertifikasi organik LSO, proses inspeksi oleh LSO, penerbitan sertifikasi dan pengajuan registrasi PSAT.

(32)

26

Gambar 6. Alur Fasilitasi Sertifikasi Sistem Pertanian Organik

1) Apresiasi dan Sosialisasi

Apresiasi dan sosialisasi bertujuan untuk

mensosialisasikan standar dan regulasi yang dijadikan acuan dalam penerapan sistem pertanian organik. Apresiasi juga bertujuan untuk membangun komitmen poktan/gapoktan dalam menerapkan sistem pertanian organik dan mengikuti sertifikasi organik berbasis kelompok. Apresiasi/sosialisasi dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus

(33)

27

Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas

Kabupaten/Kota/ Provinsi, Ditjen Tanaman Pangan, Badan Litbang dan instansi lainnya yang memiliki kompetensi yang memadai.

Materi yang harus disosialisasikan :

▪ Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik ▪ SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik

▪ Sertifikasi berbasis kelompok (Penerapan Internal Control System/ICS)

▪ Strategi Membangun Bisnis Organik

2) Pembentukan Tim Internal Control System (ICS)

Untuk sertifikasi organik berbasis kelompok,

poktan/gapoktan harus membentuk Tim Internal Control System (ICS). Tim ICS dapat diintegrasikan dalam struktur organisasi poktan/gapoktan organik yang sudah ada. Contoh struktur tim ICS dan uraian tugasnya yang diintegrasikan dalam struktur poktan dan gapoktan sesuai lampiran 7.

3) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, dipandu oleh petugas pendamping / pembina / PMHP dari

(34)

28

Kabupaten /Kota /Provinsi/Pusat. Dokumentasi Sistem Mutu yang akan disusun untuk sertifikasi sistem pertanian organik berbasis kelompok terdiri atas:

▪ Panduan Penerapan Sistem Kendali Internal (Internal Control System/ICS)

▪ Prosedur Budidaya Organik

▪ Prosedur Pembuatan Pupuk Organik ▪ Prosedur Pembuatan Pestisida Organik ▪ Prosedur Penanganan Pascapanen ▪ Peta Lahan

▪ Formulir pencatatan (catatan budidaya organik, panen, penyimpanan hasil panen, pengiriman dan penjualan) Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus poktan/gapoktan, dipandu oleh Petugas Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas Kabupaten/Kota/Provinsi, Ditjen Tanaman Pangan, Badan Litbang dan instansi terkait lainnya yang memiliki kompetensi yang memadai di bidangnya (pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman pendampingan).

Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah apresiasi/sosialisasi. Pada saat bimbingan teknis

(35)

29

penyusunan dokumentasi sistem mutu (doksistu) juga harus dilakukan simulasi penerapan sistem dan rencana tindak lanjut penerapan di poktan/gapoktan. Contoh dokumentasi sistem mutu untuk penerapan sistem pertanian organik berbasis kelompok (Panduan Sistem Kendali Internal/ICS) terdapat pada lampiran 8.

4) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada seluruh anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas

PMHP dari Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus

membantu mensosialisasikan dokumen sistem mutu.

Kegiatan sosialisasi dokumen sistem mutu harus

didokumentasikan. 5) Penerapan Internal Control System (ICS)

Untuk sertifikasi berbasis kelompok, pelaku usaha harus menerapkan Internal Control System (ICS) dengan tahapan sebagai berikut:

▪ Pendaftaran Petani.

Seluruh petani yang tergabung dalam program sertifikasi organik berbasis kelompok harus didaftar oleh tim ICS. Contoh formulir pendaftaran terdapat pada lampiran 9.

(36)

30

▪ Inspeksi Internal.

Pengawas internal dari Tim ICS melakukan inspeksi internal penerapan sistem pertanian organik terhadap seluruh petani anggota kelompok yang sudah didaftar. Contoh check list inspeksi internal terdapat pada lampiran 10.

Pada saat inspeksi pengawasan internal harus memastikan bahwa sistem pertanian organik telah

diterapkan dan terdokumentasi. Temuan

ketidaksesuaian pada saat inspeksi internal harus diperbaiki sebelum diajukan ke komisi persetujuan dan hasil perbaikan harus didokumentasikan.

▪ Persetujuan & Sanksi.

Hasil inspeksi internal diputuskan dalam komisi persetujuan dengan status (organik, konversi tahun 1, konversi tahun 2) dan direkapitulasi dalam form daftar petani yang disetujui Approved Farmer List (AFL). Formulir daftar petani yang disetujui Approved Farmer List (AFL) menggunakan formulir seperti pada lampiran 11.

Masing-masing petani anggota harus mencatat kegiatan budidaya dalam form pencatatan yang sudah disediakan atau mencatat dalam buku.

(37)

31

▪ Pra Assessment

Pra Assessment dilakukan untuk memastikan

persyaratan sertifikasi pertanian organik baik aspek teknis maupun manajemen telah dipenuhi oleh poktan/gapoktan organik. Pra assessment dilakukan oleh Petugas Pusat/Provinsi dengan menggunakan check list pra assessment. Contoh check list pra assessment terdapat pada lampiran 12.

▪ Tindakan Perbaikan

Temuan ketidaksesuaian pada saat pra assessment harus diperbaiki sebelum mengajukan permohonan sertifikasi organik ke Lembaga Sertifikasi Organik. ▪ Permohonan Sertifikasi

Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan perbaikan dapat mengajukan sertifikasi organik ke LSO melalui Dinas Pertanian Provinsi penerima dana dekonsentrasi.

(38)

32

Gambar 7. Alur Sertifikasi Sistem Pertanian Organik 6) Pengajuan Registrasi PSAT

Produk yang sudah disertifikasi organik dan dikemas dalam kemasan retail harus didaftarkan registrasi PSAT ke Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP-P)/ Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D). Jika OKKP-D belum memiliki ruang lingkup verifikasi untuk registrasi PSAT maka pengajuan registrasi PSAT disampaikan ke OKKP-P. Proses pengajuan registrasi sesuai pada gambar 8.

(39)

33

BAB IV

REGISTRASI PSAT

Registrasi PSAT perlu dilakukan oleh pelaku usaha dalam rangka melakukan peredaran produknya, khususnya untuk produk yang dalam kemasan retail. Alur proses pembinaan penerapan jaminan mutu untuk mendapatkan registrasi PSAT sebagaimana Gambar 4. Produk yang telah di sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau sertifikasi HACCP yang telah dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi HACCP/lembaga sertifikasi produk, Dinas Pertanian penyelenggara wajib melakukan pengajuan permohonan registrasi PSAT ke OKKP-D setempat. Registrasi PSAT bagi pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah mendapatkan pengakuan sertifikasi SNI 6128:2015 Beras dan/atau sertifikasi HACCP, berdasarkan Permentan Nomor 51 Tahun 2008 pasal 11 dapat langsung dikeluarkan oleh OKKP-D setempat.

Tahapan proses pembinaan penerapan jaminan mutu untuk mendapatkan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) antara lain :

1) Identifikasi

Dinas lingkup pertanian provinsi melakukan identifikasi calon pelaku usaha yang akan dibina dan proses pengusulan dapat dikoordinasikan dengan dinas kabupaten/kota.

(40)

34

Kriteria CPCL pelaku usaha yang akan dibina hingga siap diajukan registrasi PSAT meliputi:

▪ Pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah menghasilkan produk segar asal tumbuhan dalam bentuk terkemas (kemasan retail);

▪ Poktan/gapoktan penggilingan padi yang sudah

menghasilkan produk beras dalam kemasan;

▪ Diutamakan penerima kegiatan tugas pembantuan pasca panen atau peralatan pengolahan dari Ditjen Tanaman Pangan;

▪ Memiliki komitmen untuk menerapkan sistem jaminan mutu produk yang baik.

2) Apresiasi dan Sosialisasi

Apresiasi bertujuan untuk mensosialisasikan standar dan/atau regulasi yang dijadikan sebagai acuan penerapan sistem jaminan mutu produk. Apresiasi/sosialisasi dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan pengurus

poktan /gapoktan, dipandu oleh Petugas

Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas

Kabupaten/Kota/ Provinsi, instansi Pusat atau dari Perguruan Tinggi, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi yang memadai.

(41)

35

▪ Kebijakan Mutu produk

▪ Penerapan Good Handling Practices (GHP) dan Good Manufacturing Practices (GMP)

▪ Permentan Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pendaftaran Pangan Segar Asal Tumbuhan

3) Pembentukan Tim Mutu

Untuk penerapan sistem jaminan mutu produk harus dibentuk tim mutu terdiri dari anggota poktan/gapoktan yang memahami sistem jaminan mutu produk. Pada tahap awal tim mutu bertugas untuk menyusun dokumen sistem mutu, dan mensosialisasikan penerapan sistem jaminan mutu kepada anggota.

4) Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu

(Doksistu)

Bimbingan teknis penyusunan dokumen sistem mutu dilakukan langsung di poktan/gapoktan CPCL, diikuti oleh anggota dan

pengurus poktan /gapoktan, dipandu oleh Petugas

Pendamping/Pembina/Petugas PMHP dari Dinas

Kabupaten/Kota/ Provinsi, instansi Pusat atau dari Perguruan Tinggi, Badan Litbang dan lain-lain yang memiliki kompetensi yang memadai di bidangnya (pendidikan formal, pelatihan, dan pengalaman pendampingan).

Dokumen Sistem Mutu untuk Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk terdiri atas:

(42)

36

▪ Panduan Penerapan Sistem Jaminan Mutu produk. Khusus untuk fasilitasi penerapan Sistem HACCP harus disusun Rencana Penerapan HACCP (HACCP Plan)

▪ Standar Operasional Prosedur Sanitasi (SOP Sanitasi) Standard Sanitation Operation Procedure (SSOP)

▪ Standar Operasional Procedure (SOP) Penggilingan Padi ▪ Standar Operasional Procedure (SOP) Audit Internal

▪ Formulir pencatatan penerapan sistem jaminan mutu produk (catatan proses budi daya, catatan penanganan pasca panen, catatan penanganan proses pengolahan, dan catatan pelaksanaan prosedur sanitasi)

Bimbingan teknis Penyusunan Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah apresiasi sistem jaminan mutu produk. Pada saat Bimbingan teknis penyusunan dokumentasi sistem mutu (doksistu) sistem jaminan mutu dan keamanan juga harus dilakukan simulasi penerapan sistem dan rencana tindak lanjut penerapan di poktan/gapoktan. Contoh dokumentasi penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan untuk mendapatkan registrasi PSAT terdapat pada lampiran 13.

(43)

37

5) Sosialisasi Dokumentasi Sistem Mutu (Doksistu)

Dokumen sistem mutu harus disosialisasikan kepada seluruh

anggota oleh tim penyusun. Penyuluh/Petugas dari

Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat harus membantu

mensosialisasikan dokumen sistem mutu. Kegiatan sosialisasi dokumen sistem mutu harus didokumentasikan.

6) Penerapan Sistem Jaminan Mutu

Dokumen sistem mutu yang telah disusun harus dijadikan acuan dalam operasionalisasi kegiatan secara konsisten oleh poktan/gapoktan. Penerapan dokumen sistem mutu tersebut

harus dibuktikan dengan pencatatan. Peran

penyuluh/pendamping dan tim keamanan pangan sangat diperlukan dalam penerapan sistem jaminan mutu keamanan pangan.

Untuk membuktikan efektifitas penerapan sistem jaminan mutu produk terhadap produk yang dihasilkan dilakukan validasi melalui pengujian keamanan pangan oleh laboratorium pengujian yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah penerapan sistem jaminan mutu keamanan pangan sudah dilakukan berdasarkan standar acuan yang telah ditetapkan. Proses

verifikasi dalam hal ini dilakukan oleh petugas

(44)

38

dalam proses pengajuan permohonan registrasi PSAT yang tertera dalam permentan nomor 51 tahun 2008. Selain itu dilakukan pengambilan Contoh produk agar diperoleh hasil uji laboratorium terkait parameter uji mutu produk. Hasil uji laboratorium dilampirkan dalam proses permohonan registrasi PSAT.

7) Permohonan Registrasi PSAT

Pelaku usaha/Poktan/Gapoktan yang telah menyelesaikan tindakan perbaikan dapat mengajukan permohonan registrasi PSAT ke Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP-P/OKKP-D). Pada saat pengajuan registrasi PSAT pelaku usaha pangan segar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : ▪ Kartu Tanda Penduduk Pemohon

▪ Akte pendirian dan perubahannya (badan usaha/badan hukum pembentukan poktan/gapoktan)

▪ Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pemohon ▪ Surat keterangan domisili

▪ Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) ▪ Sertifikat jaminan mutu produk (jika ada) ▪ Dokumen sistem manajemen mutu (doksistu)

(45)

39

Gambar 8. Alur Permohonan Registrasi PSAT

Bagi pelaku usaha/poktan/gapoktan yang tidak memiliki sertifikat jaminan mutu keamanan pangan berdasarkan Permentan Nomor 51 Tahun 2008 pasal 11 harus dilakukan penilaian audit lapang dan pengambilan contoh produknya. Pengambilan contoh produk dapat dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang kompeten dan telah mendapatkan pelatihan pengambilan contoh

(46)

40

Provinsi/Kabupaten/Kota/OKKP-D. Penilaian lapang dilakukan oleh petugas inspektor dari OKKP-D/OKKP-P contoh produk yang telah diambil oleh PPC harus sesegera mungkin dikirim ke laboratorium pengujian yang ruang lingkupnya telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) agar dapat dilakukan pengujian mutu produk sesuai dengan parameter uji mutu produk. Laporan hasil uji dari laboratorium dapat dilampirkan dalam proses pengajuan registrasi PSAT ke OKKP-P/OKKP-D. Alur proses mekanisme registrasi PSAT sesuai gambar 8. OKKP-D yang belum memiliki ruang lingkup verifikasi registrasi PSAT dapat mengajukan permohonan registrasi PSAT ke OKKP-P. Persetujuan nomor registrasi PSAT yang telah diterbitkan oleh Ketua OKKP-D atas nama Gubernur harus disampaikan kepada Dinas Pertanian sebagai penyelenggara agar nantinya dapat

diberikan kepada poktan/gapoktan pelaku usaha yang

mengajukan permohonan. Dinas Pertanian wajib melaporkan pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah mendapatkan nomor registrasi PSAT kepada kepada Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Cq. Subdit Standardisasi dan Mutu Tanaman Pangan.

Jika dari hasil penilaian proses permohonan registrasi PSAT yang diajukan ke OKKP-P/OKKP-D dinyatakan bahwa pelaku usaha/poktan/gapoktan yang telah dibina oleh Dinas Pertanian Provinsi sebagai penyelenggara tidak layak untuk memperoleh nomor registrasi PSAT, maka OKKP-P/OKKP-D yang melakukan

(47)

41

penilaian harus mengemukakan kejelasan secara tertulis ketidaklayakan tersebut agar dapat dilakukan pembinaan lebih lanjut.

(48)

42

BAB V PENUTUP

Penerapan sistem jaminan mutu produk merupakan langkah penting bagi pelaku usaha pertanian sehingga mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu dan aman dikomsumsi.

Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia pertanian, khususnya dibidang penerapan sistem jaminan mutu produk, maka dilaksanakan penyelenggaraan kegiatan bimbingan teknis bagi penyuluh, pendamping dan poktan/gapoktan melalui kegiatan fasilitas penerapan standardisasi dan mutu hasil tanaman pangan.

Agar kegiatan fasilitas penerapan standardisasi dan mutu hasil tanaman pangan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, maka prosedur pelaksanaan ini dibuat agar dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu produk lingkup tanaman pangan Tahun Anggaran 2017 di tingkat pusat, daerah maupun instansi terkait lainnya.

(49)
(50)

LAMPIRAN 1

KUESIONER

PENGAMBILAN CONTOH SENTRA PRODUKSI

TINGKAT PETANI

(51)

KUESIONER

PENGAMBILAN CONTOH SENTRA PRODUKSI TINGKAT PETANI

Nama Petani/Pengumpul*) :

Nama Kelompok Tani :

Nama Gapoktan : Dukuh : Desa/Kelurahan : Kecamatan : Kabupaten : Propinsi :

Jenis Komoditi : Jagung pakan/Kedelai*)

Kontak penghubung/Tlp/Hp :

Tanggal Wawancara :

A. DATA KEBUN (KOMODITI PERTANIAN) :

1. Luas kebun (total) ...(ha) 2. Luas kebun yang produktif...(ha) 3. Variasi tanaman di lokasi :……...………... 4. Ketinggian di atas permukaan air laut : ... m

dpl

B. DATA PETANI/PENGUMPUL (KOMODITI PERTANIAN) *) :

1. Jumlah anggota kelompok ………. 2. Jumlah petani pemasok jagung/kedelai (total) *)... 3. Daftarnama petani pemasok... 4. Varietas jagung/kedelai*) :………...

5. Sarana penanganan jagung/kedelai*) yang dimiliki dan

kapasitas... 6. Harga jagung/kedelai ditingkat pengumpul... 7. Kondisi tempat penyimpanan...

8. Apakah dilakukan tahapan penyimpanan komoditas sebelum

dipasarkan/didistribusikan ? Ya/tidak; Jelaskan prosesnya

9. Apakah petani memahami cara penanganan pasca panen yang baik? Ya/tidak;

Jelaskan!

10. Apakah ada perlakuan pada saat penyimpanan?

11. Wadah yang digunakan, kondisi lokasi dan proses penyimpanan

12. Persyaratan mutu yang diminta... 13. Acuan persyaratan mutu yang diminta...

(52)

C. PANEN (Tuliskan JENIS KOMODITAS PERTANIAN khususnya komoditas target Pengambilan Contoh)

1. Berapa kali panen dilakukan dalam satu tahun ? : ... kali; 2. Pada bulan apa panen besar/raya dilakukan : ... ; 3. Jelaskan secara ringkas alur proses produksi dilakukan.

4. Apakah dilakukan tahapan penyimpanan komoditas sebelum

dipasarkan/didistribusikan ? Ya/tidak; Jelaskan prosesnya

5. Apakah petani memahami cara budidaya yang baik?

6. Apakah petani memahami cara penanganan pasca panen yang baik? Jelaskan!

7. Apakah ada perlakuan pada saat penyimpanan? ada/tidak; Jika ada jelaskan 8. Kondisi tempat penyimpanan jagung/kedelai*)

9. Sarana penanganan jagung/kedelai*) yang dimiliki

10. Jelaskan wadah, kondisi lokasi dan proses penyimpanan?

D. PENJUALAN …... (KOMODITI PERTANIAN)

1. Penjualan komoditas pertanian (khususnya komoditas target sampling) adalah: (lingkari salah satu/lebih)

a. Pedagang pengumpul; b. Eksportir langsung; c. Koperasi petani

d. Lain………

2. Nama pedagang pengumpul : ………...;

3. Nama eksportir : …...; 4. Harga penjualan jagung/kedelai *) : Rp. ….../kg; 5. Apakah harga cukup wajar ? : ya/tidak Jelaskan dengan singkat!

6. Apakah Saudara tahu harga dalam dan luar negeri) : Ya/tidak.

Bila Ya, jelaskan sumber informasi dari mana : …... 7. Informasi apa yang dibutuhkan terkait untuk komoditi saudara?

………., ……….20….. Petugas Pengambil Sampel

(………..) NIP. ... *) Coret yang tidak perlu

(53)

74

LAMPIRAN 2

(54)

75

BERITA ACARA PENGAMBILAN CONTOH

NOMOR :

Pada hari ini tanggal ... 2017 yang bertanda tangan di bawah ini, sebagai petugas pengambil contoh (PPC) :

No NAMA NIP JABATAN INSTANSI

1. 2. 3.

Berdasarkan Surat Tugas Pengambilan Contoh dari ... nomor..., ... 2017 dengan disaksikan oleh personil dari pihak petani/pengumpul/petugas dinas setempat *) :

Nama Petani/pengumpul/petugas dinas setempat*) :

Nama Poktan/Gapoktan/UPH; :

Alamat :

Dengan ini menyatakan bahwa telah melakukan pengambilan contoh :

1. Jenis komoditi : beras/jagung/kedelai*)

2. Varietas :... 3. Nama petani/pengumpul*) :... 4. Alamat petani/pengumpul*) :... ... 5. Lokasi pengambilan contoh :... 6. Jumlah contoh yang diambil : ... 7. Tanggal pengambilan contoh :... 8. Kemasan yang digunakan :... Kemasan Primer :... Kemasan Sekunder :...

9. Metode pengambilan : Acak Sederhana

10. Laboratorium Pengujian : ... 11. Alamat Lab. Uji : ... 12. Kondisi Lingkungan, Jelaskan secara singkat ! (kondisi cuaca, angin,

sejarah/kondisi lahan, daerah aliran sungai (DAS), ketinggian dari permukaan laut,

jarak dengan pemukiman dan tempat pembuangan sampah. Dll)

... 13. Jenis pengujian yang direncanakan :

(55)

76

14. Hasil pengujian dari laboratorium pengujian disampaikan kepada ; a. Dinas Pertanian Provinsi penyelenggara dana dekonsentrasi

b. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian

..., ... 20.... Saksi Petani Petugas Pengambil Contoh

(...) (...) NIP ...

(56)

76

LAMPIRAN 3

DAFTAR LABORATORIUM TERAKREDITAS

RUANG LINGKUP TANAMAN PANGAN

(57)

77 DAFTAR LABORATORIUM TERAKREDITASI

RUANG LINGKUP KEAMANAN PANGAN I. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP RESIDU PESTISIDA

No. Nama Laboratorium Alamat Paramater Pengujian

1 Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Wilayah I Medan, BPTPH Prov. Sumatera Utara

Jl. Jend. Besar Abdul Haris Nasution No. 4 Pangkalan Masyhur Medan 21043

Telp&Fax: 061-7864604

Mutu formulasi dan residu pestisida - Pangan :

Padi, jagung

(organofospat, pyretroid, karbamat) - Hortikultura :

Tomat, cabe, kentang, selada, peleng, brokoli/bunga kol, bawang pre, bayam, jeruk, kubis (organopospat, pyretroid) 2 Laboratorium Pestisida

BPTPH Sumatera Barat

Jl. Raden Saleh No. 2, Padang Telp: 0751-7054686, 7055587; Fax: 7055587

Email: [email protected]

1. Pengujian mutu: bahan aktif pestisida, sifat fisika-kimia

2. Pengujian residu: organoklor, organofosfat, piretroid 3 Balai Pengujian Mutu Produk

Tanaman

Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Telp: 021-78835256

Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk tanaman, aflatoksin dan logam berat 4 Balai Pengujian Mutu Hasil

Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. DKI Jakarta

Jl. Raya Jambore No. 1 Cibubur Jaktim

Telp: 021-87752692

Pengujian residu pestida, logam berat, mikotoksin dan mikrobiologi

5 Laboratorium Kimia Biokimia, Balai Besar Penelitian dan

Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen)

Jl. Tentara Pelajar No.12 Cimanggu Telp: 8321762 Fax: 0251-8350921

Analisis proksimat, residu pestisida & cemaram logam berat, bahan tambahan pangan & komponen mikro (vitamin bioksib), lemak & asam lemak

6 Laboratorium Residu Bahan Agrokimia (RBA), Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan)

Jl. Raya Laladon No.240, Ciomas, Bogor 16610

Telp/Fax: 0251-8638987

Residu pestisida (organoklorin, organofosfat, karbamat, piretroid, POPs, fungisida dan herbisida) pada tanah, air dan tanaman, residu pupuk, dan analisis kualitas arang dan arang aktif (daya serap Iod, kadar air) 7 Laboratorium Terpadu, Balai

Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan)

Jl Raya Jakenen-Jaken Km.5 PO BoX 05 Jakenan Pati, Jawa Tengah

Telp: 0295-381592, 383927; Fax: 0295-381592, 383927;

Email:

[email protected], [email protected]

Analisis tanah rutin, logam berat, residu pestisida (organoklorin, organofosfat, karbamat, piretroid, fungisida dan herbisida) pada tanah, air, tanaman, dan pupuk

8 Laboratorium Pupuk dan Pestisida BPTPH Jawa Timur

Jl. Pagesangan II, No. 58 Surabaya Telp&Fax: 031-8282970

Pengujian residu pestisida

9 Laboratorium Pengujian Pestisida, UPTD BPTPH Sulawesi Selatan

Jl. DR. Ratulangi No. 69 Maros

Telp: 0411-3712323, 371593 Fax: 0411-371593

Email: [email protected]

Pengujian pestisida

10 Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Belawan

Jl. Sulawesi II Belawan 20414 Sumatera Utara

Telp: 061-6941484, 6940691

1. Entomologi (Araecerus fasciculatus), mikologi (Helminthosporium solani), 2. Uji residu pestisida, uji logam berat, uji

aflatoksin 11 Balai Besar Karantina

Pertanian Tanjung Priok

Jl. Enggano no. 17 Tanjung Priok 14310

Telp: 021-43931549,43900544; Fax: 021-43931061

1. Tungau, lalat buah dan cendawan, bakteri, virus, nematoda, gulma, kolesi,

2. pestisida, logam berat, aflatoksin 12 Laboratorium Pestisida,

BPTPH Riau

Jl. Hang Tuah Ujung, No. 71 Pekanbaru

Telp/Fax: 0761-7074647/34392

Uji residu pestisida dan formulasi pestisida

13 Laboratorium Kimia Agro, BPTPH Jawa Barat

Jl. Raya Tangkuban Perahu KM 22, Cikole-Lembang, Bandung 40391 Telp: 022-2784949;

Email: [email protected]

Analisa pestisida (residu dan formulasi), air, tanah, pupuk (organik dan anorganik), makanan, logam berat (masih dlm ppm)

(58)

78 II. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP LOGAM BERAT

No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian

1 Balai Pengujian Mutu Produk Tanaman

Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan

T: 021-78835256

Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk tanaman aflatoksin dan logam berat 2 Laboratorium Kimia

Biokimia, Balai Besar Penelitian dan

Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen)

Jl. Tentara Pelajar No.12 Cimanggu Telp: 0251-8321762; Fax: 0251-8350921

Analisis proksimat, residu pestisida & cemaran logam berat, bahan tambahan pangan & komponen mikro (vitamin bioksib), lemak & asam lemak

3 Laboratorium Terpadu, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan)

Jl Raya Jakenen-Jaken Km.5 PO BoX 05 Jakenan Pati, Jawa Tengah Telp: 0295-381592; Fax: 0295-381592

Email:

[email protected], [email protected]

- Analisis kimia tanah: pH, C-Organik, P, N, K, S, Hara mikro (Fe, Cu, Mn, Zn), KTK, KB, Kation dd (Kdd, Nadd, Ca-dd dan Mgdd), NO3, NH4, Tekstur, Aidd, Hdd, Asam humat, fulvat, dll

- Analisis residu organoklorin, organofosfat, karbonat di tanah, tanaman, air

- Analisis logam berat (Pb, Cd, Co, Cr, Ni, Hg) - Analisis kandungan pupuk

III. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP MIKOTOKSIN

No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian

1 Balai Pengujian Mutu Produk Tanaman

Jl. AUP Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Telp: 021-78835256

Pengujian mutu pestisida, pupuk, produk tanaman aflatoksin dan logam berat 2 Balai Pengujian Mutu Hasil

Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. DKI Jakarta

Jl. Raya Jambore No. 1 Cibubur Jaktim

Telp: 021-87752692

Pengujian residu pestida, logam berat, mikotoksin dan mikrobiologi

IV. LABORATORIUM PENGUJIAN RUANG LINGKUP MIKROBIOLOGI

No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian

1 Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura

Jl. Raya Tapos, Kotak Pos 20, Tapos

Depok

Telp: 021-8755046

Email: [email protected]

Benih tanaman pangan dan hortikultura dengan parameter pengujian:

1. Biologi:

- Daya kecambah - Vigor benih - Verifikasi varietas

- Penanda genetik secara biomolekuler - Verifikasi varietas secara biokimia 2. Fisika: - Kadar air - Berat 1000 butir - Kemurnian - Heterogenitas 3. Mikrobiologi

- Cendawan terbawa benih - Bakteri terbawa benih - Virus terbawa benih

IV. LABORATORIUM PENGUJIAN SWASTA RUANG LINGKUP KEAMANAN PANGAN

No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian

1 Laboratorium PT. Saraswanti Indo Genetech

Jl. Rasamala 46 Taman Yasmin Bogor 16006 Tlp. ((0251) 7540927-28 Fax. (0251) 7540929

uji analisis GMO, uji analisis residu pestisida, uji analisis pencemaran mikro, uji analisis logam berat & mineral, uji analisis vitamin, uji analisis asam lemak, uji analisis asam amino, uji analisis proximate, uji analisisantioksidan, uji analisis aflatoxsin, uji analisis pewarna makanan, uji analisispengawet makanan, uji analisis pemanis makanan, uji analisis antibiotik, uji analisis gula dan uji analisis alkohol

(59)

79

No. Nama Laboratorium Alamat Parameter Pengujian

2 PT. Angler Chemical Jl. Raya Sawo No. 17 -19, Kelurahan Beringin, Kecamatan Sambikerep, Surabaya 60218, Indonesia http;//vwtw.anglerlab.com Telp;+62-(031)-99 200 900 Email: [email protected] [email protected]

Uji analisis GMO, uji analisis residu pestisida, uji analisis pencemaran mikro, uji analisis logam berat & mineral, uji analisis vitamin, uji analisis asam lemak, uji analisis asam amino, uji analisis proximate, uji analisisantioksidan, uji analisis aflatoxsin, uji analisis pewarna makanan, uji analisispengawet makanan, uji analisis pemanis makanan, uji analisis antibiotik, uji analisis gula dan uji analisis alkohol

(60)

LAMPIRAN 4

CONTOH FORMULIR LAPORAN HASIL

PENGUJIAN MUTU PRODUK

(61)

CONTOH FORMULIR LAPORAN HASIL PENGUJIAN MUTU PRODUK TAHUN……….

No Provinsi Titik Pengambilan Contoh Wilayah titik sampel Lokasi Pengumpul/ Petani/Kelompok Tani**)

Parameter Uji Mutu *)

Hasil Uji Lab. Uji Mutu

Hasil

Analisa Ket

Beras Jagung Kedelai

Keterangan :

*) Parameter uji mutu sesuai dengan tabel parameter uji mutu **) Pilihan sesuai dengan pedoman pelaksana Dit PPHTP

(62)

LAMPIRAN 5

PANDUAN MUTU

PENERAPAN JAMINAN MUTU BERDASARKAN

SISTEM HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011)

(63)

PANDUAN MUTU

PENERAPAN JAMINAN MUTU BERDASARKAN SISTEM

HACCP (SNI CAC/RCP 1:2011)

GAPOKTAN/POKTAN

ABCDEFGH

Disahkan oleh:

Direktur/Ketua Gapoktan/Poktan

(64)

RMU………

PANDUAN MUTU

Kode. Dok : Revisi : A-PM 0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 1 dari 1 A. DAFTAR DISTRIBUSI :

No. Nama Pemegang

Panduan SHACCP Jabatan/ Bagian Tanda Tangan

1. Ketua Tim HACCP/ MARKETING

Manager

2. Anggota Tim HACCP/

PRODUCTION Manager

3. Anggota Tim HACCP/ QUALITY

CONTROL

(65)

RMU………

PANDUAN MUTU (PM)

Kode. Dok : Revisi : B-PM 0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 1 dari 1 B. DAFTAR ISI

Kode. Dok Deskripsi Halaman

A-PM DAFTAR DISTRIBUSI 2

B-PM DAFTAR ISI 3

C-PM TUJUAN & RUANG LINGKUP 4

D-PM KEBIJAKAN PERUSAHAAN DAN SASARAN MUTU 6

E-PM PROFIL PERUSAHAAN 7

F-PM PENGENDALIAN DOKUMEN & REKAMAN 8

G-PM TIM HACCP 9

H-PM BAGAN ORGANISASI 10

I-PM LAY OUT PABRIK 12

J-PM DESKRIPSI PRODUK 13

K-PM DESKRIPSI BAHAN BAKU & BAHAN KEMAS 14

L-PM DIAGRAM ALIR 15

M-PM TABEL ANALISA BAHAYA 16

N-PM RENCANA KERJA JAMINAN MUTU (RKJM) 19

O-SSOP PERSYARATAN DASAR HACCP PROSEDUR OPERASI STANDAR SANITASI (SSOP) & PROGRAM SANITASI

23

P-SOP PROSEDUR PENARIKAN KEMBALI PRODUK (SOP) 31

(66)

RMU………

PANDUAN MUTU (PM)

Kode. Dok : Revisi : C-PM 0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 1 dari 2

C. TUJUAN & RUANG LINGKUP

PT. ABCDEFG menerapkan Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan berdasarkan Sistem HACCP ( Hazards and Critical control Points) yang mengacu pada CAC/RCP 1-1969 Rev. 4-2003 Recommended

Code of Practices of General of Food Hygiene, yang digambarkan secara umum dalam Panduan Mutu.

Semua kegiatan yang berkaitan dengan Pengendalian Mutu dan Kemanan Pangan di PT. ABCDEFG, direncanakan, dijalankan, dimonitor, dan ditingkatkan secara terus menerus untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Hal ini ditetapkan untuk memenuhi persyaratan pelanggan yang telah ditentukan, perundang-undangan yang berlaku serta peraturan perusahaan yang ditetapkan.

Ruang lingkup PT. ABCDEFG menyangkut perannya dalam Industri pangan mencakup : □ Rantai Pangan :

Dimulai sejak bahan baku diterima dari Supplier lalu diproduksi sesuai standard dan spesifikasi yang disetujui hingga produk akhir siap diambil atau dikirim ke pelanggan

Jenis proses produksi :

1. Proses Kering (Dry Blending) 2. Proses Basah (Wet Process) □ Jenis komoditi :

1. Padi varietas pandan wangi 2. Padi varietas sintanur □ Jenis kemasan :

a. Plastic bungkus b. Karton Box

Acuan normatif yang digunakan adalah :

a. Peraturan Pemerintah No, 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan

b. Peraturan Menteri Pertanian No. 35/permentan/Ot.140/7/2008 tentang Persyaratan dan Penerapan Cara pengolahan Yang Baik

c. Peraturan Menteri Pertanian No. 22/permentan/HK.140/4/2015 tentang Pedoman Penanganan Pasca Panen yang Baik (Good Handling Practices)

(67)

RMU…………

PANDUAN MUTU (PM)

Kode. Dok : Revisi : C-PM 0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 2 dari 2

e. Pedoman BSN 1004 :2002 tentanng Penyusun Rencana Sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian titik kritis (HACCP)

f. SNI CAC/RCP 1 :2011 Rekomendasi Nasional –Kode Praktis Prinsip Umum Higiene Pangan Manajemen puncak adalah Direktur Utama yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Sistem HACCP secara efisien dan efektif, maka berperan :

a. Menetapkan Kebijakan Perusahaan dan sasaran bisnis perusahaan, serta mempromosikannya ke seluruh lapisan organisasi untuk meningkatkan kesadaran, motivasi dan keterlibatan setiap personel.

b. Memastikan bahwa persyaratan HACCP, peraturan perundang-undangan dan persyaratan pelanggan diutamakan di seluruh lapisan.

c. Memastikan bahwa proses yang sesuai ditetapkan dan memungkinkan persyaratan pelanggan dan pihak yang berkepentingan lainnya terpenuhi.

d. Memastikan tersedianya sumber daya yang diperlukan dan memberi pelatihan untuk meningkatkan kompetensi masing-masing. Serta meningkatkan sumber daya organisasi yang efektif untuk kepuasan pelanggan.

e. Meninjau secara periodik Sistem HACCP dan menetapkan tindakan perbaikan yang berkesinambungan

Jumlah karyawan yang berkerja di PT. ABCDEFG sebanyak …….. orang yang memiliki komitmen yang sama dalam rangka memastikan diterapkannya Sistem HACCP sebagai jaminan Pengendalian Mutu dan Keamanan Pangan.

Manajemen puncak melakukan tinjauan Sistem HACCP minimal 2 kali setahun untuk menjamin kesesuaian, kecukupan dan efektifitasnya secara berkesinambungan. Proses tinjauan manajemen mencakup penilaian tentang peluang perbaikan dan kebutuhan akan perubahan Sistem HACCP termasuk kebijakan pangan.

(68)

RMU………

PANDUAN MUTU (PM)

Kode. Dok : Revisi : D-PM0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 1 dari 1 D. KEBIJAKAN PERUSAHAAN

Manajemen puncak (Direktur) menetapkan dan memelihara Kebijakan Perusahaan sesuai dengan peran organisasi dalam rantai pangan.

KEBIJAKAN KEAMANAN PANGAN

Menjamin dan Menjaga Keamanan Produk yang dihasilkan

menjadi kebijakan segenap pimpinan dan seluruh jajaran PT. ABCDEFG dengan sikap Keteladanan, Kebersamaan, Dedikasi, Kerja Keras dan Disiplin ,berdasarkan kaidah profesionalisme dengan:

□ Memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan dan persyaratan pelanggan yang telah disetujui bersama.

□ Mengkomunikasikan, menerapkan, dan memelihara Sistem HACCP pada seluruh tingkat organisasi.

□ Melakukan tinjauan untuk meningkatkan perbaikan kualitas dan kuantitas yang berkesinambungan.

□ Melakukan komunikasi secara memadai, didukung oleh sasaran yang terukur.

SASARAN MUTU

Sebagai tolak ukur pencapaian PT ABCDEF telah metetapkan sasaran mutu yang ingin dihasilkan untuk beras dengan ketentuan sebagai berikut:

Kelas Mutu Kriteria Jumlah

Premiun (sesuaikan dengan standar yang diacu SNI atau standar dari pembeli/standar privat)

20 persen dari total produksi

Medium Kelas I 30 persen dari total produksi

(69)

RMU………

PANDUAN MUTU (PM)

Kode. Dok : Revisi : E-PM0 SISTEM HACCP Tanggal Berlaku: Halaman : ……….. 1 dari 1 E. PROFIL PERUSAHAAN

Perusahan penggilingan beras ini berdiri pada tahun……….disahkannya tanggal………..milik Gapoktan/Poktan/pelaku usaha dengan :

Nama Pemilik/Ketua Gapoktan/Poktan : ABCDEFGHIJ

Alamat : Jl.

Telepon/ Faksimili/Hp : ……….

Email : ……….

Alamat Pabrik penggilingan :Jl. ………

Telepon : ………

Total produksi dari penggilingan : ………..ton/…….

Jenis beras kemasan yang produksi : 1. Pandan wangi dalam kemasan……kg dan…..kg 2. Sintanur dalam kemasan……kg dan ……kg

Jumlah keanggotaan dari gapoktan/poktan penggilingan beras ada ……orang dengan nama keanggotaannya sebagaimana terlampir. Kepengurusan Gapoktan/Poktan terdiri dari…..orang sebagaimana terlampir dalam bagan organisasi Poktan/gapoktan.

Gambar

Gambar 1. Penerapan Jaminan Mutu Produk
Gambar 2. Ruang Lingkup Mutu
Tabel  3.  Parameter  Pengujian  Mutu  Jagung  Bahan  Pakan    Ternak  1)
Gambar 8. Alur Permohonan Registrasi PSAT
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan umum dari penelitian ini adalah peningkatan mutu dan daya saing melalui pengembangan proses, dan desain peralatan produksi pangan berbasis cokelat untuk

dalam skripsi yang berjudul “ Analisis Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Penggajian Pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat”... Pertanian anaman

Pelaksanaan Pelatihan, Pertemuan dan Ekspose dalam Rangka Diseminasi Pengkajian Peningkatan Nilai Tambah Aneka Produk Tanaman Pangan dan Hortikultura Lokal Unggulan

Selanjutnya pada tahun 2011 melalui Peraturan Gubernur Nomor 10 Tahun 2011 dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Sertifikasi Mutu dan Keamanan Pangan Produk Hasil Pertanian

Sisten jaminan mutu dan keamanan pangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan, pembinaan dan atau pengawasan yang dilakukan terhadap proses produksi

Tabel 1. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami et.al ... Luas Panen dan Produksi Jagung di Propinsi Bengkulu Tahun 2010 ... Produk Unggulan Komoditas Tanaman Pangan dan

Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan Sertifikasi benih adalah serangkaian prosedur pemeriksaan teknis perbanyak an dan pengujian mutu di laboratorium terhadap calon benih dalam rangka

Penjaminan mutu dan kehalalan produk olahan susu harus sudah dimulai sejak proses produksi susu sapi di peternakan hingga proses distribusi dan penggunaannya secara langsung oleh konsumen atau untuk