• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Manajemen Keuangan 2 Bab Restrukt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Materi Manajemen Keuangan 2 Bab Restrukt"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

RESTRUKTURISA

SI KEUANGAN

PERUSAHAAN

Anisa Fadhilatul

Munawaroh

(2)

Kegagalan restrukturisasi yang justru menurunkan nilai perusahaan mengindikasikan kegagalan manajemen dalam mencermati dan menilai beberapa aspek penting dalam keputusan merger dan akuisisi.

Manajer perlu memahami konsep-konsep dan teknik dasar restrukturisasi perusahaan supaya dapat memberi dampak yang positif terhadap nilai perusahaan.

Ilustrasi Kasus kegagalan

Restrukturisasi

1

Di awal tahun 2000-an, perusahaan Hewlett-Packard Co (dikenal dengan sebutan HP), mengakuisisi perusahaan peranti lunak bernama Autonomy Corp. HP mengakuisisi Autonomy Corp dengan nilai akuisisi sebesar ES$10,2 milyar. Namun keputusan akuisisi tersebut telah dinyatakan gagal. Keputusan tersebut telah menyebabkan menurunnya nilai saham HP sehingga berujung pada kerugian yang signifkan dialami oleh para pemegang saham HP akibat terlalu tingginya harga akuisisi atas perusahaan Autonomy Corp.

2

Pada tahun 1998, perusahaan mobil dari Jerman Daimler yang memproduksi Mercedes-Benz melakukan merger dengan Daimler Chrysler senilai US$39 milyar dengan cara pertukaran saham di antara kedua perusahaan tersebut. Namun, merger tersebut berujung pada kegagalan karena beberapa waktu kemudian, para pemegang saham yang tidak puas melayangkan gugatan class-action. CEO Daimler Chrysler kala itu harus rela dicopot dari posisinya.

3

(3)

Tindakan mendasar

perusahaan

(corporate action)

yang

bersifat

strategik

dan

berdampak

signifikan

pada

aspek-aspek

kehidupan

perusahaan.

Restrukturisas

i Perusahaan

Tujuan Restrukturisasi

Memperbaiki dan memperkuat kinerja perusahaan

Latar Belakang Adanya Restrukturisasi

Adanya kondisi kinerja perusahaan yang membutuhkan tindakan-tindakan signifikan dan mendasar

 tujuan penyelamatan atau penyehatan kinerja

(4)

Restrukturisasi Perusahaan

Restrukturisasi

Keuangan Restrukturisasi Manajerial

Restrukturisasi

Portofolio/ Asset Struktur ModalRestrukturisasi

Komposisi Manajemen

Struktur Organisasi

Akuisisi

Public Offering

LMO/MBO

Merger Divestasi

Konsolidasi

Absorpsi

Sistem Operasi

Split-off Spin-off

(5)

RESTRUKTURISA

SI KEUANGAN

(fnancial resstrcctcrin)t

Upaya perubahan yang bersifat mendasar dan strategik pada keuangan perusahaan untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dalam rangka optimalisasi penciptaan/peningkatan nilai perusahaan.

Restrukturisasi Portofolio (portofolio restructuring)

(6)

Restrukturisasi

Portofolio

(Portofolio

Restructuring)

Mengubah komposisi asset terutama komposisi unit-unit bisnis (bussiness line) atau divisi-divisi usaha perusahaan

Memperbaiki/memperkuat kinerja perusahaan agar lebih produktif

Merger

(7)

MERGER

Penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan yang lebih besar.

Seluruh asset dan kewajiban (liabilitas) masing-masing perusahaan dilebur (digabung) menjadi satu

Merger  Berdasarkan keputusan sukarela dari beberapa perusahaan

Akibat transaksi pembelian atau pengambil alihan saham/ asset perusahaan  akuisisi

Merger-Konsolidasi Merger-Absorpsi

(8)

Merger-Konsolidasi

Penggabungan dua atau lebih perusahaan di mana semua perusahaan yang bergabung membubarkan diri dan didirikan perusahaan baru dengan skala yang lebih besar dan memiliki identitas baru.

B

A

+

+

C

=

D

Tahun Perusahaan yang bergabung Perusahaan baru hasil merger

1998 1. PT Bank Bumi Daya 2. PT Bank Dagang Negara

3. PT Bank Ekspor Impor Indonesia 4. PT Bank Pembangunan Indonesia

PT Bank Mandiri, Tbk.

2002 1. PT Bank Bali, Tbk. 2. PT Bank Universal, Tbk. 3. PT Bank Prima Expres 4. PT Bank Artha Media 5. PT Bank Patriot

PT Bank Permata, Tbk.

C

O

N

T

O

H

Penggabungan (merger)

yang dilakukan dengan cara peleburan disebut

(9)

Merger-Absorsi

Penggabungan perusahaan di mana perusahaan yang bergabung melebur ke salah satu perusahaan yang bergabung sehingga salah satu perusahaan menjadi perusahaan yang lebih besar.

B

A

+

+

C

=

Tahun Perusahaan yang bergabung Perusahaan baru hasil merger

2004 1. PT Siloam Health Care, Tbk. 2. PT Aryaduta Hotel, Tbk.

3. PT Lippo Land Development, Tbk. 4. PT Lippo Karawaci, Tbk.

5. PT Kartika Abadi Sejahtera 6. PT Sumber Waluyo

7. PT Anggadipa Berkat Mulia 8. PT Metropolitan Tatanughraha

PT Lippo Karawaci, Tbk.

2008 1. PT Bank Lippo, Tbk.

2. PT Bank CIMB Niaga, Tbk. PT Bank CIMB Niaga, Tbk.

(10)

AKUISISI

Pembelian (pengambilalihan) perusahaan oleh perusahaan lain di mana perusahaan yang diambilalih (target firm) secara operasional tetap berdiri sendiri di bawah kendali manajemen perusahaan pengambilalih

(acquiring firm).

Status perusahaan yang diambilalih adalah sebagai “perusahaan anak” (subsidiary) dan perusahaan pengambilalih berstatus “perusahaan induk” (parent company).

Contoh:

1. Pada tahun 2008, PT Carefour Indonesia membeli 75% saham PT Alfa Retailindo dengan nilai Rp 674 milyar  peningkatan penguasaan pasar PT Carefour di industri retail dari 37,9% menjadi 48,3%

(11)

Akuisisi Saham atau

Asset

Akuisisi Perusahaan

Akuisisi Saham

Akuisisi Asset

Membeli seluruh atau sebagian besar saham

perusahaan

Membeli seluruh atau sebagian besar dari porsi asset perusahaan

 asset riil pada sisi aktiva neraca

perusahaan Keuntungan akuisisi saham dibandingkan

akuisisi asset :

Akuisisi saham lebih praktis

 pembelian saham bisa dilakukan langsung di pasar modal

Tidak perlu adanya persetujuan kolektif

pemegang saham perusahaan target

Tidak perlu negosiasi dengan manajemen

(12)

DIVESTASI

Bentuk restrukturisasi perusahaan melalui kegiatan penjualan atau pelepasan (pemisahan) asset perusahaan atau unit bisnis yang dimiliki perusahaan kepada pihak lain.

Alasan restrukturisasi dalam bentuk divestasi :

Perusahaan ingin lebih fokus pada unit bisnis atau bidang usaha yang menjadi kompetensi utamanya (cores bcssinessst.

Perusahaan ingin melepas unit bisnis yang kurang menguntungkan yang dapat mempengaruhi proftabilitas perusahaan jika terus dipertahankan.

Bentuk Divestasi

Spin-off

Sell-Off

(13)

Spin-Of

Suatu bentuk divestasi dengan cara melepas salah satu unit usahanya atau salah satu perusahaan anak sehingga secara manajerial perusahaan atau unit usaha tersebut berdiri sendiri.

Perusahaan induk menerbitkan saham baru atas perusahaan

anak

Contoh:

1. Pada tahun 2012, PT Garuda Indonesia melepaskan kepemilikan salah satu anak perusahaannya yaitu Citilink. Setelah terpisah dari PT Garuda Indonesia, Citilink berfokus pada pangsa pasar jasa penerbangan berbiaya murah (low cost carriesrt.

2. PT Semen Gresik, Tbk. yang melakukan spin-of terhadap anak cabangnya yaitu PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa.

Prosedur

(14)

Sell-Of

Restrukturisasi dengan cara melikuidasi atau menjual unit bisnis tertentu atau perusahaan anak kepada pihak ketiga

Alasan : melepas unit bisnis atau anak perusahaan yang dirasa kurang memuaskan atau untuk melakukan strategi bisnis

Perbedaan Spin-Off dengan Sell-Off

Spin-off  unit bisnis yang dilepas tetap menjadi milik perusahaan induk sehingga yang berpindah hanya aspek manajemen operasinya

Sell-Off  unit bisnis yang dilepas menjadi milik pihak ketiga sehingga manajemen operasi dilakukan oleh pihak ketiga

(15)

Split-Of

Pelepasan unit bisnis (anak perusahaan) di mana unit bisnis yang dilepas menjadi milik sebagian pemegang saham perusahaan induk, namun pemegang saham tersebut harus melepaskan kepemilikannya terhadap perusahaan induk.

Bisnis BisnisUnit BisnisUnit PT Sindu Permai

Tua

Bisnis BisnisUnit BisnisUnit PT Sindu Permai

(16)

Perbedaan antara Motif

Investasi dan Divestasi dalam

Restrukturisasi

Memiliki surplus dana

+

Perusahaan memperluas peluang

dan memperkuat kemampuan perusahaan menghasilkan

pendapatan

unit usaha tertentu kurang menguntungkan

(17)

Restrukturisasi Struktur

Modal

Restrukturisasi yang menyebabkan terjadinya perubahan signifikan pada komposisi pendanaan atau struktur modal perusahaan.

Keputusan go public berbentuk penawaran umum (public offering)

Keputusan privatisasi perusahaan (going private) dalam bentuk leverage buy-out (LBO) atau

(18)

Public Ofering

(Penawaran

Umum)

Keputusan pendanaan dengan cara menjual saham kepada publik melalui mekanisme penawaran umum (public offering)

Kepemilikan

Dimiliki pihak sendiri (privatest

Dimiliki masyaraka

t (pcblic)

Porsi kepemilikan perusahaan oleh publik rata-rata tidak lebih dari

30%

Jalannya perusahaan masih dikendalikan oleh

(19)

31 Desember/December 31,2015

Nama Pemegang Saham

Jumlah

PT Indofica 13.275.780.000 64,76 1.327.578.000 PT Prudential Life Assurance - Ref 1.495.703.100 7,30 149.570.310 PT Simfoni Gema Lestari 1.040.000.000 5,07 104.000.000 Trihatma Kusuma Haliman 620.693.500 3,03 62.069.350

Dewan direksi dan komisaris 11.476.600 0,06 1.147.660 Masyarakat Umum

{masing-masing di bawah 5%} 2.920.908.500 19,78 292.090.850

Jumlah 19.364.561.700 100,00 1.936.456.170 Saham diperoleh kembali

(Catatan 29) 1.136.336.300 113.633.630

Jumlah 20.500.900.000 2.050.090.000 Sumber: Catatan atas Laporan Keuangan PT. Agung Podomoro Land Tbk. 2015

Contoh struktur kepemilikan salah satu perusahaan go

(20)

Leverage Buy-Out

(LBO)

Akuisisi perusahaan dengan sumber dana utang

Pembayaran utang berasal dari aliran kas masuk (pendapatan) perusahaan

yang diakuisisi

Contoh LBO di Indonesia

LBO yang dilakukan oleh PT. Bumi Resources, Tbk. yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata yang mengakuisisi PT. Arutmin Indonesia dan PT. Kaltim Proma Coal (KPC) yang bergerak di bidang pertambangan. Akuisisi kedua perusahaan tersebut menghabiskan dana sebesar US$685,5 juta dan disinyalir sebagai LBO terbesar yang pernah dilakukan perusahaan di Indonesia.

Aset perusahaan yang diakuisisi dijadikan jaminan

atas utang

(21)

Ilustrasi implikasi transaksi LBO terhadap struktur modal dan struktur kepemilikan perusahaan:

Pada tahun 20xx, PT INDOFARM telah diambil alih oleh PT SEJAHTERA melalui LBO. LBO dilakukan terhadap 90% saham PT INDOFARM (4,5 juta lembar) dari pemegang saham lama dengan nilai Rp 75 Milyar. Dari harga pembelian tersebut, Rp 70 milyar didanai dari utang perbankan, sedangkan sisanya dibayar per kas yang berasal dari setoran para investor atau pemilik PT SEJAHTERA.

PT INDOFARM

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 18.000 Obligasi 20.000 Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 20.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 80.000 Pabrik 65.000 Saldo Laba 10.000 Peralatan 7.000

Total 120.000 Total 120.000

PT INDOFARM

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 18.000 Utang Bank 70.000 Aset Tetap : Obligasi 20.000

Tanah 20.000Ekuitas Pemilik

Pabrik 65.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 10.000 Peralatan 7.000 Saldo Laba 10.000 Total 120.000 Total 120.000

Neraca sebelum LBO Neraca setelah LBO

Debt Ratio sebelum LBO = total debt/total asset = 30 milyar/120 milyar

= 25%

Debt Ratio setelah LBO = total debt/total asset = 100 milyar/120 milyar

= 83,3% Implikasi 1

(22)

PT INDOFARM

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 18.000 Obligasi 20.000 Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 25.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 80.000 Pabrik 60.000 Saldo Laba 10.000 Peralatan 7.000

Total 120.000 Total 120.000

PT INDOFARM

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 18.000 Utang Bank 70.000 Aset Tetap : Obligasi 20.000

Tanah 25.000 Ekuitas Pemilik

Pabrik 60.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 10.000 Peralatan 7.000 Saldo Laba 10.000 Total 120.000 Total 120.000

Neraca sebelum LBO Neraca setelah LBO

Implikasi 2

Struktur kepemilikan PT INDOFARM pasca LBO yaitu 90% (4,5 juta lembar) saham dikuasai investor pengakuisisi dan 10% (0,5 juta lembar) saham dikuasai pemilik lama  kendali berada di tangan investor pengakuisisi.

Implikasi 3

(23)

Management Out dan Manajemen

Buy-In

(MBO)

(MBI)

Pembelian perusahaan didanai dari utang/LBO yang dilakukan oleh manajemen perusahaan

Manajemen perusahaan sendiri  Management Buy-Out (MBO) Manajemen perusahaan lain  Management Buy-In (MBI)

(24)

Motif LBO/MBO/MBI

Biaya modal dari

utang lebih kecil

daripada biaya modal

ekuitas (modal

sendiri).

Perusahaan

yang

diakuisisi

berada

pada kondisi lemah

tetapi

dipandang

memiliki

prospek

(25)

Perhitungan ROE atas LBO PT INDOFARM

(Rp Milyar)

Keterangan

Skema Pembiayaan

Modal Sendiri (100%)

Utang dan modal sendiri

(50%-50%)

Utang (90%) dan modal sendiri (10%)

Nilai Pembelian 75 75 75

Dengan Modal Sendiri 75 37,5 7,5

Dengan Utang 0 37,5 67,5

Asumsi EBIT Pasca LBO 15 15 15

Bunga Utang 10% 0 3,75 6,75

Laba Sebelum Pajak 15 11,25 8,25

Dikurang Pajak 20% 3 2,25 1,65

Laba Bersih Setelah Pajak 12 9 6,60

ROE 16% 24% 88%

Pada transaksi LBO/MBO, investor lebih mengutamakan ROE  sebagian besar investasi didanai dari utang dan hanya sebagian kecil berasal dari modal sendiri  ROE yang diperoleh sangat tinggi

Makin besar porsi utang  makin besar ROE ROE = x 100

(26)
(27)

Merger Horisontal

Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang usaha atau industri yang sama

Tujuan

Mengurangi persaingan di antara perusahaan yang bergabung

Memperkuat kinerja perusahaan melalui peningkatan efisiensi operasional dan efektifitas manajemen.

Contoh merger horisontal di Indonesia

1. Penggabungan PT Bank Bumi Daya, PT Bank Dagang Negara, PT Bank Ekspor Impor Indonesia, PT Bank Pembangunan Indonesia menjadi PT Bank Mandiri Tbk.

2. Penggabungan PT Bank Bali, Tbk., PT Bank Universal, Tbk., PT Bank Prima Ekspres, PT Bank Artha Media, dan PT Bank Patriot menjadi PT Bank Permata, Tbk.

(28)

Merger Vertikal

Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang memiliki bidang usaha yang berada pada tahapan-tahapan proses produksi.

Mengarah terjadinya integrasi antara perusahaan hulu (pemasok) dan perusahaan hilir (pengguna)

Contoh

Dalam proses produksi konveksi maka merger vertikal dapat dilakukan antara perusahaan kain (hilir), perusahaan pemintalan benang dan perusahaan perkebunan kapas (hulu).

(29)

Backward/Downward Integration

Tujuan  menjamin stabilitas pemasaran /distribusi dan harga

jual atas produk yang dihasilkan pemasok

Pemasok mengendalikan :

- Target volume produksi atau volume

penjualan yang harus dicapai distributor  stabilitas pemasaran tercapai

- harga jual produk terhindar dari

tekanan harga jual yang dikendalikan perusahaan pengguna/distributor

Contoh backward integration:

(30)

Forward/Upward Integration

Tujuan  menjamin stabilitas pasokan bahan baku baik dari sisi

jumlah yang dibutuhkan maupun harga.

Perusahaan Distributor mengendalikan :

- Jumlah produksi yang harus

dihasilkan perusahaan pemasok,

- Harga produk yang dihasilkan

oleh perusahaaan pemasok 

efisiensi biaya bahan baku

Contoh forward integration:

(31)

Merger Konglomerat

Contoh Merger Konglomerat

Merger yang dilakukan oleh PT Siloam Health Care, Tbk. (industri kesehatan), PT Aryaduta Hotel, Tbk. (industri perhotelan), PT Lippo and Development, Tbk. (industri pengembangan properti), PT Lippo Karawaci, Tbk., PT Kartika Abadi Sejahtera, Tbk., dan PT Sumber Waluyo menjadi PT Lippo Karawaci, Tbk.

Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang beroperasi pada bidang usaha atau industri yang berbeda dan tidak saling terkait.

Tujuan

Diversifikasi bidang usaha

mengurangi risiko usaha  bergabungnya perusahaan dengan bidang yang berbeda dan memiliki karakteristik risiko berbeda akan saling menutup risiko masing-masing perusahaan.

Kelemahan&Tantangan:

Pasca merger, perusahaan tidak fokus ke bidang utama yang menjadi kompetensi utama (core competency) dan mengelola bidang yang bukan kompetensinya  risiko kegagalan besar.

(32)

MOTIF DALAM

MERGER DAN

AKUISISI

Motif

Non-Ekonomi

(33)

MOTIF EKONOMI

Motif yang terkait dengan tujuan ekonomis perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimumkan nilai kekayaan pemilik.

Motif ekonomi merger&akuisisi Terciptanya sinergi dari bergabungnya dua atau lebih perusahaan .

Kondisi saling menguntungkan antara dua atau lebih perusahaan karena mereka bergabung sehingga menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan secara keseluruhan.

Sinergi Operasional Sinergi Finansial Sinergi Manajerial

A= 2, B=3

(34)

Sinergi

Operasional

Pemanfaat

an Skala Ekonomis (Economie s of Scale)

Perluasan Pasar

Kepastian Pasar

Kepastian Pasokan

Bahan Baku

Diversifka si Risiko

(35)

Pemanfaatan Skala

Ekonomis

(

Economic of Scale

)

Ciri Bawaan

Kinerja yang lemah & memiliki kapasitas produksi yang

menganggur Digabung

Kapasitas menganggur

perusahaan meningkat Potensi

Peningkatan volume produksi secara efisien  memanfaatkan

akumulasi kapasitas menganggur

Perusahaan produksi yang termanfaatkan

Kapasitas produksi menganggur A 5.500 ton 2.000 ton 3.500 ton B 4.500 ton 3.500 ton 1.000 ton C 8.000 ton 7.500 ton 500 ton Total kapasitas menganggur setelah bergabung 5.000 ton

Tabel 9.5 Contoh Kapasitas Menganggur pada Merger Jika perusahaan mampu menambah volume dengan kapasitas yang ada  Skala ekonomi

Biaya rata-rata per unit produk semakin kecil  Distribusi biaya tetap

(36)

Pemanfaatan Skala

Ekonomis

(

Economic of Scale

)

Gambar 9.2 Pola Biaya Rata-rata per Unit

Volume Produksi

Skala ekonomis

X Average

Cost

0

Average Cost

(37)

Perluasan Pasar

Tujuan merger horisontal  perluasan & penguasaan pasar

Jika perusahaan berdiri sendiri

Persiangan antara perusahaan pemasok

Mengorbankan margin kontribusi  Menekan

harga jual

Memperbesar biaya produksi 

meningkatkan kualitas

Jika perusahaan

bergabung

- Tidak ada persiangan - ada kemungkinan dapat

mengendalikan pasar

(38)

Kepastian Pasar

Merger vertikal Forward integration

Perusahan pengguna atau distributor bergabung

dengan perusahaan produsen

M

an

fa

at

Kepastian pasar dan efisiensi biaya pemasaran produk

Perusahaan berdiri sendiri

Perusahaan pengguna menentukan produsen yg diinginkan

Produsen harus saling bersaing dalam harga

dan kualitas

Perusahaan bergabung

Penjualan produk ke perusahaan menjadi terkendali

dan tidak perlu persaingan

(39)

Kepastian Pasokan

Bahan Baku

Merger vertikal backward integration

Perusahaan penyedia bergabung dengan perusahaan pengguna

M

an

fa

at

Stabilisasi jumlah pasokan bahan baku &

harga

Jika perusahaan

bergabung

Perusahaan pengguna tidak

perlu bersaing dengan pengguna

lain

(40)

Diversifkasi Risiko Bisnis

Merger

Konglomerat Sinergi Operasional Memperkecil risiko bisnis

Potensi kegagalan perusahaan untuk merealisasikan

pendapatan

Menutup risiko kegagalan satu perusahaan

 keberhasilan perusahaan lain yang tergabung

Jenis Risiko Bisnis

Menutup risiko kegagalan satu perusahaan

 keberhasilan perusahaan lain yang

tergabung

Risiko sistematis (systematic risk)

Risiko tidak sistematis (unsystematic risk)

(41)

Teknolo

gi

Sinergi Teknologi Terjadi pada merger horisontal (merger perusahaan sejenis) proses produksi relatif sama produk/layanan jasa sama

Transfer teknologi

Berbeda kualitas dan kemajuan teknologi

Perusahaan A

Teknologi maju  operasi produktif efisien

Perusahaan B

Teknologi kurang maju  operasi kurang produktif

efisien

gabung

Memperoleh manfaat melalui penerapan teknologi yang lebih produktif dan efisien

(42)

MOTIF EKONOMI

Sinergi

Finansial

Kapasitas

(43)

Kapasitas Utang

Perusahaan yang bergabung

Struktur modal dengan

debt ratio tinggi

Struktur modal dengan

debt ratio rendah

Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) rendah

Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) tinggi

Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) semakin

kuat  peluang memperoleh

pendanaan dari utang meningkat

(44)

PT INDOTEX

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000  Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 17.000Utang Jk. Panjang

  Utang Bank 10.000

Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 25.000  Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 45.000  Saldo Laba 5.000 Peralatan 10.000   

Total 100.000Total 100.000

PT LATEX

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 5.000  Utang Usaha 5.000 Surat Berharga 7.000Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 8.000  Obligasi 100.000

Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 25.000  Saham Biasa (1 jt lbr) 15.000 Pabrik 55.000 

Peralatan 20.000   

Total 120.000Total 120.000

Debt Ratio = total debt/total asset = 15 milyar/100 milyar

= 15%

Debt Ratio = total debt/total asset = 105 milyar/120 milyar

= 87,5%

PT LATEX hanya bisa menggunakan sumber dana ekuitas yang relatif mahal

(45)

PT LATEX

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 8.000   Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000Utang Jk. Panjang

Piutang Usaha 25.000  Utang Bank 10.000

Aset Tetap :   Obligasi 100.000

Tanah 50.000Ekuitas Pemilik

Pabrik 100.000  Saham Biasa (5 jt lbr) 95.000 Peralatan 30.000  Saldo Laba  5.000

Total 220.000Total 220.000

Debt Ratio = total debt/total asset = 120 milyar/220 milyar

= 54,5%

(46)

Penghematan Pajak

PT A tarif pajak

25%

PT B kerugian

pajak

akuisisi Kerugian pajak (karena total penghasilan kotor lebih rendah dari total pengeluaran.tax loss)  jumlah kerugian yang dialami perusahaan

Tax loss carry forward

Pemanfaatan kerugian pajak periode lalu untuk

dikompensasikan atau untuk mengurangi laba kena pajak pada tahun

berikutnya

Kerugian pajak PT NIRWANA th 2010 (Rp 15.000.000.000) Laba PT GLOBINDO th 2011 Rp. 8.000.000.000 Sisa kerugian th 2010 pada th 2011 (Rp 7.000.000.000) Laba PT GLOBINDO th 2012 Rp 9.000.000.000 Laba kena pajak PT GLOBINDO th 2012 Rp 2.000.000.000

(47)

Periode Beban pajak PT GLOBINDO

Berdiri Sendiri Merger

2011 Rp 8.000.000.000 X 25% = Rp 2.000.000

Beban pajak = (Laba kena pajak – saldo rugi) X Tarif pajak = (Rp 8.000.000.000 – Rp 15.000.000.000) X 25% = (Rp 7.000.000.000)  beban pajak nihil

2012

(pasca akuisisi) Rp 9.000.000.000 X 25% = Rp 2.250.000

Beban pajak = (Laba kena pajak – saldo rugi) X Tarif pajak = (Rp 9.000.000.000 – Rp 7.000.000.000) X 25% = Rp 500.000.000

Total Penghematan

Pajak

Rp 2.000.000.000 + (Rp 2.250.000.000 – Rp 500.000.000) = Rp 3.750.000.000

Kompensasi atas kerugian pajak Tax loss carry forward

Tax loss carry Backward

Dikompensasikan pada laba periode berikutnya

(48)

Sinergi Manajerial

Perusahaan A

- Manajemen kapabel - Sumber daya terdidik,

terlatih, dan terampil

Perusahaan B

Manajemen dan Sumber daya lemah  kinerja

tidak efektif efisien

akuisisi

Terjadi alih pengetahuan dan kemampuan

manajerial (transfer of managerial knowhow) lebih efisien dan produktifPerusahaan pasca merger

(49)

MOTIF NON-EKONOMI

Motif yang mencakup semua alasan merger dan akuisisi yang tidak secara langsung terkait dengan upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan.

(50)

Motif Pribadi Manajer

Hubris Hypothesis

Keputusan merger dan akuisisi dilakukan karena didorong oleh

ambisi kepentingan pribadi manajer atau eksekutif perusahaan

Ukuran perusahaan yang lebih besar

Semakin besar ukuran perusahaan  semakin besar

kompensasi

Manajer memperoleh kompensasi, pengakuan,

penghargaan dan aktualisasi diri

Manajer dipandang kuat, kapabel, dan

dihargai apabila berhasil mengelola beberapa perusahaan

sekaligus

(51)

Pasar Tenaga Kerja

Manajer

Perusahaan

A Perusahaan B

Kinerja perusahaan lemah  manajemen lemah

akuisisi Perusahaan B

Tim manajemen yang lebih kompeten

Kehilangan pekerjaan Menjadi manajer yang kompeten

(52)

Ambisi Pemilik

Membangun

kerjaan bisnis

Merger &

Akuisisi

Menguasai berbagai

perusahaan

Pemilik yang memiliki porsi kepemilikan perusahaan >50%

memiliki

(53)

INDIKATOR

(54)

Indikator Keberhasilan

Merger/Akuisisi

Tujuan Ekonomis Restrukturisasi (Merger/Akuisisi)  memperbaiki/memperkuat kinerja perusahaan  meningkatkan

nilai perusahaan  sinergi pasca merger/akuisisi

Indikator Keberhasilan

Harga Saham Indikator

berbasis pasar

Indikator

berbasis kinerja profitabilitas (Return on Equity)ROE

ROI

(55)

Penyebab Kegagalan

Merger/Akuisisi

Indikator Keberhasilan

Penilaian atas perusahaan target kurang cermat (due diligent)

Keputusan merger/akuisisi dimotivasi oleh motif non-ekonomis

(56)

TAKTIK AKUISISI

Hostile

Acquisition

(57)

Friendly Acquisition/ negosiated

take over

Manajemen atau pemilik perusahaan yang mengakuisisi

(bidder firm)

Manajemen atau pemilik perusahaan yang diakuisisi

(target firm)

Akuisisi saham atau aset

Status perusahaan pasca akuisisi

Status manajemen perusahaan yg diakuisisi

pasca akuisisi

(58)

Hostile Acquisition/ hostile take

over

Taktik Akuisisi

Pengambilalihan tanpa melibatkan pihak manajemen

perusahaan target

Membeli seluruh/sebagian porsi mayoritas saham perusahaan

target yang ada di pasar

Mekanisme pembelian secara terbuka  tender offer

ke

be

rh

as

ila

n

Seberapa menarik harga yang ditawarkan perusahaan

(59)

Taktik

Hostiles takes

(60)

Poison Pill

Taktik

Perlawanan

Strategi untuk menggagalkan akuisisi

Menjadikan perusahaan target kurang bernilai atau tidak menarik lagi bagi

perusahaan pengakuisisi

(61)

Flip-in

Tujuan  menjebak pengakuisisi menghadapi kerugian ketika keputusan akuisisi dilakukan

PT RAPI

Membeli 250.000 lembar (25%) dengan harga Rp1.000 per lembar 

Rp250.000.000

PT INDAH

Saham beredar = 1.000.000 lembar Harga pasar =

Rp 700/lb

akuisisi

PT INDAH merupakan perusahaan target upaya akuisisi melalui hostile takover oleh PT RAPI.

PT INDAH menerapkan

poison pill untuk mencegah terjadinya akisisi dengan skema:

Perusahaan menawarkan

right issue kepada pemegang saham lama dengan harga diskon 50% lebih rendah dari harga beli yang ditawarkan pihak pengakuisisi jika pembelian saham oleh pihak pengakuisisi minimal 20% dari porsi kepemilikan pemegang saham yang bersangkutan.

PT INDAH menerapkan Flip-in

Menerbitkan 250.000 lembar saham baru (right issue) dengan harga Rp 500/lembar untuk pemegang saham

lama  menggantikan saham yang dijual pada PT RAPI

dampak

Investor lama mendapat capital gain = Rp 500 x 250.000 lb

= Rp 125.000.000

Saham beredar pasca flip-in

Pemegang lama = 1.000.000 lb

PT RAPI = 250.000 lb 1.250.000 lb

Porsi kepemilikan PT RAPI setelah

flip-in = 250.000/1.250.000 x 100 = 20%

Porsi kepemilikan PT RAPI 25% turun menjadi 20% menjadikan program akuisisi tersebut lebih mahal.

Saham beredar = 1.000.000 lembar Harga pasar =

(62)

Suicide pill/

taktik bunuh

diri

Taktik yang dilakukan untuk menghadapi hostile acquisition yang

tidak bisa lagi dicegah

Alasan: manajemen merasa perusahaan lebih baik dibubarkan daripada diakuisisi

perusahaan lain.

Cara dalam taktik bunuh diri

Memperburuk keadaan

struktur modal

perusahaan

Menambah utang  beli saham perusahaan dg harga premium  debt ratio tinggi  financial

distress  bangkrut

Menjual aset/unit bisnis yang paling produktif perusahaan.

Aset utama dijual  aset tersisa untuk diakuisisi adalah aset yang

(63)

White Knight

Taktik

Perlawanan

Sebutan bagi pihak atau perusahaan yang mengakuisisi perusahaan target dengan tujuan menghindari akuisisi paksa pihak ketiga.

PT RAPI PT INDAH

Ingin mengakuisisi

PT TENTRAM

Meminta bantuan

berdasarkan persetujuan pemegang saham

(64)

Shark Repellent

Taktik

Perlawanan

Shark repellent Lesikal  tindakan untuk menghalau hiu

Golden Parachute

Akuisisi  tindakan untuk menangkal akuisisi paksa dengan cara membuat langkah-langkah yang menjadikan akuisisi paksa tidak mungkin atau tidak menarik

dilakukan

Super Majority

(65)

Golden Parachute

Membuat peraturan atau perjanjian jika terjadi pengambilalihan

Pihak pengakuisisi membayar kompensasi yang sangat tinggi pada tim manajemen

perusahaan target

Tim manajemen tetap bekerja di perusahaan sesuai dengan posisinya paling

tidak sampai akhir masa jabatannya.

Upaya melindungi kepentingan manajemen daripada kepentingan pemegang saham 

(66)

Membuat peraturan di mana rencana

akuisisi oleh perusahan lain harus

disetujui

sebagian

besar

dari

pemegang saham

persetujuan

akuisisi sulit mencapai kuorum (jumlah

suara minimal yang dibutuhkan)

tidak

menarik bagi pengakuisisi.

Peraturan:

-

Saham yang memiliki hak suara

adalah

saham

yang

dikuasai

pemegang saham perusahaan target

yang

terdiri

dari

beberapa

pemegang saham.

-

Saham yang dijual kepada publik

tidak memiliki hak suara

(67)

Memilih

(68)

Faktor-Faktor

Pertimbanga

n dalam

Memilih

Perusahaan

Target

Jenis Bidang Usaha

Ukuran Perusahaan

Posisi Pasar

Struktur dan Kualitas Manajemen

Rentang volume Produksi

Struktur Aset

Struktur Modal

Proftabilitas

(69)

Jenis

Bidang

Usaha

Berhubungan dengan jenis merger atau akuisisi yang

akan dilakukan.

Ukuran

Perusaha

an

Makin besar perusahaan

yang diakuisisi 

makin besar dana untuk mengakuisisi sinergi dalam

(70)

Struktur

Asset

Untuk melihat aspek likuiditas

dan jenis aset teknologis perusahaan.

Adakah potensi sinergi teknologis dan

keuangan (likuidasi) pasca

akuisisi.

Struktur

Modal

Untuk melihat aspek solvabilitas, risiko keuangan

dan kapasitas utang perusahaan.

Adakah potensi sinergi keuangan pasca

akuisis.

Proftabili

tas

Melihat potensi arus kas perusahaan target di masa

mendatang.

Apakah saham perusahaan

berupa audit terhadap aspek

operasional, manajerial,

keuangan, legal, pemasaran, dan aspek lain yang penting 

pengambilan keputusan

(71)

Penentuan Nilai

Perusahaan Target

Nilai perusahaan tercermin pada harga saham perusahaan.

Harga penawaran yang baik

menguntungkan perusahaan

pangakuisisi & menarik bagi perusahaan target.

(72)

Metode

Penilaian

Berbasis Aset

Berbasis Nilai Sekarang

Arus Kas

Berbasis Kapitalisas

i Pendapata

(73)

Metode Penilaian

Berbasis Aset

PT INDOTEX

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000  Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 17.000Utang Jk. Panjang

  Utang Bank 10.000

Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 25.000  Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 45.000  Saldo Laba 5.000 Peralatan 10.000   

Total 100.000Total 100.000

PT INDOTEX

Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)

Aktiva Pasiva

Aset Lancar : Utang Lancar

Kas 3.000  Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 15.000Utang Jk. Panjang

  Utang Bank 10.000

Aset Tetap : Ekuitas Pemilik

Tanah 100.000  Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 35.000  Revaluasi Asset 58.000 Peralatan 5.000  Saldo Laba 5.000

Total 158.000Total 158.000

Nilai perusahaan  total nilai buku asset setelah

penyesuaian (revaluasi) – total utang (kewajiban).

Nilai perusahaan = Rp 158 milyar – Rp 15 milyar = Rp 143 milyar Nilai per lembar saham = Rp 143 milyar/6 jt lbr = Rp 23.833,33 Nilai perusahaan = Rp 100 milyar – Rp 15 milyar = Rp 85 milyar

Nilai per lembar saham = Rp 85 miliyar/6 jt lembar = Rp 14.166,67

(74)

Metode Penilaian

Berbasis Kapitalisasi

Pendapatan

Nilai perusahaan  besar modal (kapital) atau nilai

asset untuk menghasilkan pendapatan tertentu

Nilai Perusahaan =

Contoh: net operating profit rata-rata per tahun PT INDOTEX berdasarkan metode kapitalisasi pendapatan adalah Rp 21,75 milyar, sedangkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor 15% dan jumlah saham beredar adalah 6 juta lembar. maka nilai PT INDOTEX adalah: P = Rp 145 milyar

nilai wajar per lembar saham PT INDOTEX berdasarkan kapitalisasi pendapatan adalah Rp145 milyar/6 jt lembar = Rp 24.166,67

Kelebihan metode = nilai perusahaan lebih realistis karena berdasarkan pada penentuan nilai investasi atau

nilai asset yang rata-rata diperlukan untuk menghasilkan pendapatan sesungguhnya perusahaan.

Alterna

Asumsi deviden konstan Nilai per lembar saham =

Contoh:

PT INDOTEX membayarkan deviden periode sebelumnya Rp 2.500 per lembar saham dan diperkirakan ke depan, deviden tersebut akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata per tahun 2,5%. Tingkat pengembalian yang diharapkan investor adalah 15%.

P = = Rp 20.000

(75)

Metode Penilaian

Berbasis Nilai Sekarang

Arus Kas

Nilai perusahaan  nilai sekarang (presenta value) dari

arus kas masuk yang diterima perusahaan selama umur ekonomisnya.

Asumsi arus kas masuk sama setiap periode selama umur ekonomis Nilai Perusahaan =

Asumsi arus kas masuk tidak sama setiap periode selama umur ekonomis

Nilai Perusahaan =

AKM = arus kas masuk bersih perusahaan (laba bersih+depresiasi)

r = tingkat pendapatan yang diharapkan investor (pengakuisisi)

t = umur ekonomis (rumus 1) atau periode diperolehnya AKM (rumus 2)

n = periode ke n

Contoh:

Diperkirakan akuisisi PT INDOTEX memiliki umur ekonomis 25 tahun. Setiap tahun perusahaan tersebut diasumsikan menghasilkan arus kas masuk bersih sebesar Rp 21,75 milyar dengan tingkat pendapatan yang diharapkan sebesar 15% maka nilai wajar perusahaan

Nilai Perusahaan = =

= Rp 21,75 milyar x 6,464 =Rp 140,592 milyar

Kelebihan metode = nilai perusahaan yang dihasilkan telah memperhatikan prospek perusahaan ke ddepannya sehingga lebih representatif mengindikasikan nilai wajar

perusahaan.

(76)

Kessimpclan:

(77)

Gambar

Gambar 9.2 Pola Biaya Rata-rata per Unit

Referensi

Dokumen terkait

- Golden parachutes adalah suatu kontrak antara manajemen dan pemegang saham yang menjamin bahwa manajemen akan mendapat kompensasi sejumlah tertentu apabila

Pemilik perusahaan adalah para pemegang saham sedangkan pengurus perusahaan adalah direksi beserta stafnya yang diawasi oleh dewan komisaris.. Kelangsungan perusahaan

Bagi pemegang saham, semakin tinggi rasio leverage , semakin rendah tingkat pengembalian yang akan diterima pemegang saham karena perusahaan harus melakukan pembayaran bunga

Adapun laporan keuangan pada umumnya terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan ekuitas pemegang saham dan laporan arus kas yang mana arus kas ini merupakan

Klaim residu berarti bahwa pemegang saham adalah pemilik klaim terakhir atas asset dan pendapatan korporat.jika aset perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham

Pengukuran yang digunakan adalah Return On Equity (ROE) yang menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang diperoleh pemegang saham atas investasi

PERENCANAAN BISNIS “ PAKAIAN JADI “ Dalam suatu perusahaan memiliki data perusahaan yang meliputi nama pemilik, susunan pemegang saham, struktur organisasi, bentuk kepemilikan

Rantai Niai Kumpulan aktifitas aktifitas bisnis yang mana pada setiap tahapannya atau langkahnya dapat meningkatkan nilai atau pemanfaatan pada barang atau jasa yang diproduksi...