RESTRUKTURISA
SI KEUANGAN
PERUSAHAAN
Anisa Fadhilatul
Munawaroh
Kegagalan restrukturisasi yang justru menurunkan nilai perusahaan mengindikasikan kegagalan manajemen dalam mencermati dan menilai beberapa aspek penting dalam keputusan merger dan akuisisi.
Manajer perlu memahami konsep-konsep dan teknik dasar restrukturisasi perusahaan supaya dapat memberi dampak yang positif terhadap nilai perusahaan.
Ilustrasi Kasus kegagalan
Restrukturisasi
1
Di awal tahun 2000-an, perusahaan Hewlett-Packard Co (dikenal dengan sebutan HP), mengakuisisi perusahaan peranti lunak bernama Autonomy Corp. HP mengakuisisi Autonomy Corp dengan nilai akuisisi sebesar ES$10,2 milyar. Namun keputusan akuisisi tersebut telah dinyatakan gagal. Keputusan tersebut telah menyebabkan menurunnya nilai saham HP sehingga berujung pada kerugian yang signifkan dialami oleh para pemegang saham HP akibat terlalu tingginya harga akuisisi atas perusahaan Autonomy Corp.
2
Pada tahun 1998, perusahaan mobil dari Jerman Daimler yang memproduksi Mercedes-Benz melakukan merger dengan Daimler Chrysler senilai US$39 milyar dengan cara pertukaran saham di antara kedua perusahaan tersebut. Namun, merger tersebut berujung pada kegagalan karena beberapa waktu kemudian, para pemegang saham yang tidak puas melayangkan gugatan class-action. CEO Daimler Chrysler kala itu harus rela dicopot dari posisinya.
3
Tindakan mendasar
perusahaan
(corporate action)
yang
bersifat
strategik
dan
berdampak
signifikan
pada
aspek-aspek
kehidupan
perusahaan.
Restrukturisas
i Perusahaan
Tujuan Restrukturisasi
Memperbaiki dan memperkuat kinerja perusahaan
Latar Belakang Adanya Restrukturisasi
Adanya kondisi kinerja perusahaan yang membutuhkan tindakan-tindakan signifikan dan mendasar
tujuan penyelamatan atau penyehatan kinerja
Restrukturisasi Perusahaan
Restrukturisasi
Keuangan Restrukturisasi Manajerial
Restrukturisasi
Portofolio/ Asset Struktur ModalRestrukturisasi
Komposisi Manajemen
Struktur Organisasi
Akuisisi
Public Offering
LMO/MBO
Merger Divestasi
Konsolidasi
Absorpsi
Sistem Operasi
Split-off Spin-off
RESTRUKTURISA
SI KEUANGAN
(fnancial resstrcctcrin)t
Upaya perubahan yang bersifat mendasar dan strategik pada keuangan perusahaan untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dalam rangka optimalisasi penciptaan/peningkatan nilai perusahaan.
Restrukturisasi Portofolio (portofolio restructuring)
Restrukturisasi
Portofolio
(Portofolio
Restructuring)
Mengubah komposisi asset terutama komposisi unit-unit bisnis (bussiness line) atau divisi-divisi usaha perusahaan
Memperbaiki/memperkuat kinerja perusahaan agar lebih produktif
Merger
MERGER
Penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan yang lebih besar.
Seluruh asset dan kewajiban (liabilitas) masing-masing perusahaan dilebur (digabung) menjadi satu
Merger Berdasarkan keputusan sukarela dari beberapa perusahaan
Akibat transaksi pembelian atau pengambil alihan saham/ asset perusahaan akuisisi
Merger-Konsolidasi Merger-Absorpsi
Merger-Konsolidasi
Penggabungan dua atau lebih perusahaan di mana semua perusahaan yang bergabung membubarkan diri dan didirikan perusahaan baru dengan skala yang lebih besar dan memiliki identitas baru.
B
A
+
+
C
=
D
Tahun Perusahaan yang bergabung Perusahaan baru hasil merger
1998 1. PT Bank Bumi Daya 2. PT Bank Dagang Negara
3. PT Bank Ekspor Impor Indonesia 4. PT Bank Pembangunan Indonesia
PT Bank Mandiri, Tbk.
2002 1. PT Bank Bali, Tbk. 2. PT Bank Universal, Tbk. 3. PT Bank Prima Expres 4. PT Bank Artha Media 5. PT Bank Patriot
PT Bank Permata, Tbk.
C
O
N
T
O
H
Penggabungan (merger)yang dilakukan dengan cara peleburan disebut
Merger-Absorsi
Penggabungan perusahaan di mana perusahaan yang bergabung melebur ke salah satu perusahaan yang bergabung sehingga salah satu perusahaan menjadi perusahaan yang lebih besar.
B
A
+
+
C
=
Tahun Perusahaan yang bergabung Perusahaan baru hasil merger
2004 1. PT Siloam Health Care, Tbk. 2. PT Aryaduta Hotel, Tbk.
3. PT Lippo Land Development, Tbk. 4. PT Lippo Karawaci, Tbk.
5. PT Kartika Abadi Sejahtera 6. PT Sumber Waluyo
7. PT Anggadipa Berkat Mulia 8. PT Metropolitan Tatanughraha
PT Lippo Karawaci, Tbk.
2008 1. PT Bank Lippo, Tbk.
2. PT Bank CIMB Niaga, Tbk. PT Bank CIMB Niaga, Tbk.
AKUISISI
Pembelian (pengambilalihan) perusahaan oleh perusahaan lain di mana perusahaan yang diambilalih (target firm) secara operasional tetap berdiri sendiri di bawah kendali manajemen perusahaan pengambilalih
(acquiring firm).
Status perusahaan yang diambilalih adalah sebagai “perusahaan anak” (subsidiary) dan perusahaan pengambilalih berstatus “perusahaan induk” (parent company).
Contoh:
1. Pada tahun 2008, PT Carefour Indonesia membeli 75% saham PT Alfa Retailindo dengan nilai Rp 674 milyar peningkatan penguasaan pasar PT Carefour di industri retail dari 37,9% menjadi 48,3%
Akuisisi Saham atau
Asset
Akuisisi Perusahaan
Akuisisi Saham
Akuisisi Asset
Membeli seluruh atau sebagian besar saham
perusahaan
Membeli seluruh atau sebagian besar dari porsi asset perusahaan
asset riil pada sisi aktiva neraca
perusahaan Keuntungan akuisisi saham dibandingkan
akuisisi asset :
Akuisisi saham lebih praktis
pembelian saham bisa dilakukan langsung di pasar modal
Tidak perlu adanya persetujuan kolektif
pemegang saham perusahaan target
Tidak perlu negosiasi dengan manajemen
DIVESTASI
Bentuk restrukturisasi perusahaan melalui kegiatan penjualan atau pelepasan (pemisahan) asset perusahaan atau unit bisnis yang dimiliki perusahaan kepada pihak lain.
Alasan restrukturisasi dalam bentuk divestasi :
Perusahaan ingin lebih fokus pada unit bisnis atau bidang usaha yang menjadi kompetensi utamanya (cores bcssinessst.
Perusahaan ingin melepas unit bisnis yang kurang menguntungkan yang dapat mempengaruhi proftabilitas perusahaan jika terus dipertahankan.
Bentuk Divestasi
Spin-off
Sell-Off
Spin-Of
Suatu bentuk divestasi dengan cara melepas salah satu unit usahanya atau salah satu perusahaan anak sehingga secara manajerial perusahaan atau unit usaha tersebut berdiri sendiri.
Perusahaan induk menerbitkan saham baru atas perusahaan
anak
Contoh:
1. Pada tahun 2012, PT Garuda Indonesia melepaskan kepemilikan salah satu anak perusahaannya yaitu Citilink. Setelah terpisah dari PT Garuda Indonesia, Citilink berfokus pada pangsa pasar jasa penerbangan berbiaya murah (low cost carriesrt.
2. PT Semen Gresik, Tbk. yang melakukan spin-of terhadap anak cabangnya yaitu PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa.
Prosedur
Sell-Of
Restrukturisasi dengan cara melikuidasi atau menjual unit bisnis tertentu atau perusahaan anak kepada pihak ketiga
Alasan : melepas unit bisnis atau anak perusahaan yang dirasa kurang memuaskan atau untuk melakukan strategi bisnis
Perbedaan Spin-Off dengan Sell-Off
Spin-off unit bisnis yang dilepas tetap menjadi milik perusahaan induk sehingga yang berpindah hanya aspek manajemen operasinya
Sell-Off unit bisnis yang dilepas menjadi milik pihak ketiga sehingga manajemen operasi dilakukan oleh pihak ketiga
Split-Of
Pelepasan unit bisnis (anak perusahaan) di mana unit bisnis yang dilepas menjadi milik sebagian pemegang saham perusahaan induk, namun pemegang saham tersebut harus melepaskan kepemilikannya terhadap perusahaan induk.
Bisnis BisnisUnit BisnisUnit PT Sindu Permai
Tua
Bisnis BisnisUnit BisnisUnit PT Sindu Permai
Perbedaan antara Motif
Investasi dan Divestasi dalam
Restrukturisasi
Memiliki surplus dana
+
Perusahaan memperluas peluang
dan memperkuat kemampuan perusahaan menghasilkan
pendapatan
unit usaha tertentu kurang menguntungkan
Restrukturisasi Struktur
Modal
Restrukturisasi yang menyebabkan terjadinya perubahan signifikan pada komposisi pendanaan atau struktur modal perusahaan.
Keputusan go public berbentuk penawaran umum (public offering)
Keputusan privatisasi perusahaan (going private) dalam bentuk leverage buy-out (LBO) atau
Public Ofering
(Penawaran
Umum)
Keputusan pendanaan dengan cara menjual saham kepada publik melalui mekanisme penawaran umum (public offering)
Kepemilikan
Dimiliki pihak sendiri (privatest
Dimiliki masyaraka
t (pcblic)
Porsi kepemilikan perusahaan oleh publik rata-rata tidak lebih dari
30%
Jalannya perusahaan masih dikendalikan oleh
31 Desember/December 31,2015
Nama Pemegang Saham
Jumlah
PT Indofica 13.275.780.000 64,76 1.327.578.000 PT Prudential Life Assurance - Ref 1.495.703.100 7,30 149.570.310 PT Simfoni Gema Lestari 1.040.000.000 5,07 104.000.000 Trihatma Kusuma Haliman 620.693.500 3,03 62.069.350
Dewan direksi dan komisaris 11.476.600 0,06 1.147.660 Masyarakat Umum
{masing-masing di bawah 5%} 2.920.908.500 19,78 292.090.850
Jumlah 19.364.561.700 100,00 1.936.456.170 Saham diperoleh kembali
(Catatan 29) 1.136.336.300 113.633.630
Jumlah 20.500.900.000 2.050.090.000 Sumber: Catatan atas Laporan Keuangan PT. Agung Podomoro Land Tbk. 2015
Contoh struktur kepemilikan salah satu perusahaan go
Leverage Buy-Out
(LBO)
Akuisisi perusahaan dengan sumber dana utang
Pembayaran utang berasal dari aliran kas masuk (pendapatan) perusahaan
yang diakuisisi
Contoh LBO di Indonesia
LBO yang dilakukan oleh PT. Bumi Resources, Tbk. yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata yang mengakuisisi PT. Arutmin Indonesia dan PT. Kaltim Proma Coal (KPC) yang bergerak di bidang pertambangan. Akuisisi kedua perusahaan tersebut menghabiskan dana sebesar US$685,5 juta dan disinyalir sebagai LBO terbesar yang pernah dilakukan perusahaan di Indonesia.
Aset perusahaan yang diakuisisi dijadikan jaminan
atas utang
Ilustrasi implikasi transaksi LBO terhadap struktur modal dan struktur kepemilikan perusahaan:
Pada tahun 20xx, PT INDOFARM telah diambil alih oleh PT SEJAHTERA melalui LBO. LBO dilakukan terhadap 90% saham PT INDOFARM (4,5 juta lembar) dari pemegang saham lama dengan nilai Rp 75 Milyar. Dari harga pembelian tersebut, Rp 70 milyar didanai dari utang perbankan, sedangkan sisanya dibayar per kas yang berasal dari setoran para investor atau pemilik PT SEJAHTERA.
PT INDOFARM
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 18.000 Obligasi 20.000 Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 20.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 80.000 Pabrik 65.000 Saldo Laba 10.000 Peralatan 7.000
Total 120.000 Total 120.000
PT INDOFARM
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 18.000 Utang Bank 70.000 Aset Tetap : Obligasi 20.000
Tanah 20.000Ekuitas Pemilik
Pabrik 65.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 10.000 Peralatan 7.000 Saldo Laba 10.000 Total 120.000 Total 120.000
Neraca sebelum LBO Neraca setelah LBO
Debt Ratio sebelum LBO = total debt/total asset = 30 milyar/120 milyar
= 25%
Debt Ratio setelah LBO = total debt/total asset = 100 milyar/120 milyar
= 83,3% Implikasi 1
PT INDOFARM
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 18.000 Obligasi 20.000 Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 25.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 80.000 Pabrik 60.000 Saldo Laba 10.000 Peralatan 7.000
Total 120.000 Total 120.000
PT INDOFARM
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000 Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 18.000 Utang Bank 70.000 Aset Tetap : Obligasi 20.000
Tanah 25.000 Ekuitas Pemilik
Pabrik 60.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 10.000 Peralatan 7.000 Saldo Laba 10.000 Total 120.000 Total 120.000
Neraca sebelum LBO Neraca setelah LBO
Implikasi 2
Struktur kepemilikan PT INDOFARM pasca LBO yaitu 90% (4,5 juta lembar) saham dikuasai investor pengakuisisi dan 10% (0,5 juta lembar) saham dikuasai pemilik lama kendali berada di tangan investor pengakuisisi.
Implikasi 3
Management Out dan Manajemen
Buy-In
(MBO)
(MBI)
Pembelian perusahaan didanai dari utang/LBO yang dilakukan oleh manajemen perusahaan
Manajemen perusahaan sendiri Management Buy-Out (MBO) Manajemen perusahaan lain Management Buy-In (MBI)
Motif LBO/MBO/MBI
◉
Biaya modal dari
utang lebih kecil
daripada biaya modal
ekuitas (modal
sendiri).
◉
Perusahaan
yang
diakuisisi
berada
pada kondisi lemah
tetapi
dipandang
memiliki
prospek
Perhitungan ROE atas LBO PT INDOFARM
(Rp Milyar)Keterangan
Skema Pembiayaan
Modal Sendiri (100%)
Utang dan modal sendiri
(50%-50%)
Utang (90%) dan modal sendiri (10%)
Nilai Pembelian 75 75 75
Dengan Modal Sendiri 75 37,5 7,5
Dengan Utang 0 37,5 67,5
Asumsi EBIT Pasca LBO 15 15 15
Bunga Utang 10% 0 3,75 6,75
Laba Sebelum Pajak 15 11,25 8,25
Dikurang Pajak 20% 3 2,25 1,65
Laba Bersih Setelah Pajak 12 9 6,60
ROE 16% 24% 88%
Pada transaksi LBO/MBO, investor lebih mengutamakan ROE sebagian besar investasi didanai dari utang dan hanya sebagian kecil berasal dari modal sendiri ROE yang diperoleh sangat tinggi
Makin besar porsi utang makin besar ROE ROE = x 100
Merger Horisontal
Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang usaha atau industri yang sama
Tujuan
Mengurangi persaingan di antara perusahaan yang bergabung
Memperkuat kinerja perusahaan melalui peningkatan efisiensi operasional dan efektifitas manajemen.
Contoh merger horisontal di Indonesia
1. Penggabungan PT Bank Bumi Daya, PT Bank Dagang Negara, PT Bank Ekspor Impor Indonesia, PT Bank Pembangunan Indonesia menjadi PT Bank Mandiri Tbk.
2. Penggabungan PT Bank Bali, Tbk., PT Bank Universal, Tbk., PT Bank Prima Ekspres, PT Bank Artha Media, dan PT Bank Patriot menjadi PT Bank Permata, Tbk.
Merger Vertikal
Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang memiliki bidang usaha yang berada pada tahapan-tahapan proses produksi.
Mengarah terjadinya integrasi antara perusahaan hulu (pemasok) dan perusahaan hilir (pengguna)
Contoh
Dalam proses produksi konveksi maka merger vertikal dapat dilakukan antara perusahaan kain (hilir), perusahaan pemintalan benang dan perusahaan perkebunan kapas (hulu).
Backward/Downward Integration
Tujuan menjamin stabilitas pemasaran /distribusi dan harga
jual atas produk yang dihasilkan pemasok
Pemasok mengendalikan :
- Target volume produksi atau volume
penjualan yang harus dicapai distributor stabilitas pemasaran tercapai
- harga jual produk terhindar dari
tekanan harga jual yang dikendalikan perusahaan pengguna/distributor
Contoh backward integration:
Forward/Upward Integration
Tujuan menjamin stabilitas pasokan bahan baku baik dari sisi
jumlah yang dibutuhkan maupun harga.
Perusahaan Distributor mengendalikan :
- Jumlah produksi yang harus
dihasilkan perusahaan pemasok,
- Harga produk yang dihasilkan
oleh perusahaaan pemasok
efisiensi biaya bahan baku
Contoh forward integration:
Merger Konglomerat
Contoh Merger Konglomerat
Merger yang dilakukan oleh PT Siloam Health Care, Tbk. (industri kesehatan), PT Aryaduta Hotel, Tbk. (industri perhotelan), PT Lippo and Development, Tbk. (industri pengembangan properti), PT Lippo Karawaci, Tbk., PT Kartika Abadi Sejahtera, Tbk., dan PT Sumber Waluyo menjadi PT Lippo Karawaci, Tbk.
Penggabungan dua atau lebih perusahaan yang beroperasi pada bidang usaha atau industri yang berbeda dan tidak saling terkait.
Tujuan
Diversifikasi bidang usaha
mengurangi risiko usaha bergabungnya perusahaan dengan bidang yang berbeda dan memiliki karakteristik risiko berbeda akan saling menutup risiko masing-masing perusahaan.
Kelemahan&Tantangan:
Pasca merger, perusahaan tidak fokus ke bidang utama yang menjadi kompetensi utama (core competency) dan mengelola bidang yang bukan kompetensinya risiko kegagalan besar.
MOTIF DALAM
MERGER DAN
AKUISISI
Motif
Non-Ekonomi
MOTIF EKONOMI
Motif yang terkait dengan tujuan ekonomis perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau memaksimumkan nilai kekayaan pemilik.
Motif ekonomi merger&akuisisi Terciptanya sinergi dari bergabungnya dua atau lebih perusahaan .
Kondisi saling menguntungkan antara dua atau lebih perusahaan karena mereka bergabung sehingga menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan secara keseluruhan.
Sinergi Operasional Sinergi Finansial Sinergi Manajerial
A= 2, B=3
Sinergi
Operasional
Pemanfaatan Skala Ekonomis (Economie s of Scale)
Perluasan Pasar
Kepastian Pasar
Kepastian Pasokan
Bahan Baku
Diversifka si Risiko
Pemanfaatan Skala
Ekonomis
(
Economic of Scale
)
Ciri Bawaan
Kinerja yang lemah & memiliki kapasitas produksi yang
menganggur Digabung
Kapasitas menganggur
perusahaan meningkat Potensi
Peningkatan volume produksi secara efisien memanfaatkan
akumulasi kapasitas menganggur
Perusahaan produksi yang termanfaatkan
Kapasitas produksi menganggur A 5.500 ton 2.000 ton 3.500 ton B 4.500 ton 3.500 ton 1.000 ton C 8.000 ton 7.500 ton 500 ton Total kapasitas menganggur setelah bergabung 5.000 ton
Tabel 9.5 Contoh Kapasitas Menganggur pada Merger Jika perusahaan mampu menambah volume dengan kapasitas yang ada Skala ekonomi
Biaya rata-rata per unit produk semakin kecil Distribusi biaya tetap
Pemanfaatan Skala
Ekonomis
(
Economic of Scale
)
Gambar 9.2 Pola Biaya Rata-rata per Unit
Volume Produksi
Skala ekonomis
X Average
Cost
0
Average Cost
Perluasan Pasar
Tujuan merger horisontal perluasan & penguasaan pasar
Jika perusahaan berdiri sendiri
Persiangan antara perusahaan pemasok
Mengorbankan margin kontribusi Menekan
harga jual
Memperbesar biaya produksi
meningkatkan kualitas
Jika perusahaan
bergabung
- Tidak ada persiangan - ada kemungkinan dapat
mengendalikan pasar
Kepastian Pasar
Merger vertikal Forward integration
Perusahan pengguna atau distributor bergabung
dengan perusahaan produsen
M
an
fa
at
Kepastian pasar dan efisiensi biaya pemasaran produk
Perusahaan berdiri sendiri
Perusahaan pengguna menentukan produsen yg diinginkan
Produsen harus saling bersaing dalam harga
dan kualitas
Perusahaan bergabung
Penjualan produk ke perusahaan menjadi terkendali
dan tidak perlu persaingan
Kepastian Pasokan
Bahan Baku
Merger vertikal backward integration
Perusahaan penyedia bergabung dengan perusahaan pengguna
M
an
fa
at
Stabilisasi jumlah pasokan bahan baku &
harga
Jika perusahaan
bergabung
Perusahaan pengguna tidak
perlu bersaing dengan pengguna
lain
Diversifkasi Risiko Bisnis
Merger
Konglomerat Sinergi Operasional Memperkecil risiko bisnis
Potensi kegagalan perusahaan untuk merealisasikan
pendapatan
Menutup risiko kegagalan satu perusahaan
keberhasilan perusahaan lain yang tergabung
Jenis Risiko Bisnis
Menutup risiko kegagalan satu perusahaan
keberhasilan perusahaan lain yang
tergabung
Risiko sistematis (systematic risk)
Risiko tidak sistematis (unsystematic risk)
Teknolo
gi
Sinergi Teknologi Terjadi pada merger horisontal (merger perusahaan sejenis) proses produksi relatif sama produk/layanan jasa sama
Transfer teknologi
Berbeda kualitas dan kemajuan teknologi
Perusahaan A
Teknologi maju operasi produktif efisien
Perusahaan B
Teknologi kurang maju operasi kurang produktif
efisien
gabung
Memperoleh manfaat melalui penerapan teknologi yang lebih produktif dan efisien
MOTIF EKONOMI
Sinergi
Finansial
Kapasitas
Kapasitas Utang
Perusahaan yang bergabung
Struktur modal dengan
debt ratio tinggi
Struktur modal dengan
debt ratio rendah
Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) rendah
Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) tinggi
Kemampuan memperoleh pendanaan dari utang (debt capacity) semakin
kuat peluang memperoleh
pendanaan dari utang meningkat
PT INDOTEX
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 17.000Utang Jk. Panjang
Utang Bank 10.000
Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 25.000 Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 45.000 Saldo Laba 5.000 Peralatan 10.000
Total 100.000Total 100.000
PT LATEX
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 5.000 Utang Usaha 5.000 Surat Berharga 7.000Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 8.000 Obligasi 100.000
Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 25.000 Saham Biasa (1 jt lbr) 15.000 Pabrik 55.000
Peralatan 20.000
Total 120.000Total 120.000
Debt Ratio = total debt/total asset = 15 milyar/100 milyar
= 15%
Debt Ratio = total debt/total asset = 105 milyar/120 milyar
= 87,5%
PT LATEX hanya bisa menggunakan sumber dana ekuitas yang relatif mahal
PT LATEX
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 8.000 Utang Usaha 10.000 Surat Berharga 7.000Utang Jk. Panjang
Piutang Usaha 25.000 Utang Bank 10.000
Aset Tetap : Obligasi 100.000
Tanah 50.000Ekuitas Pemilik
Pabrik 100.000 Saham Biasa (5 jt lbr) 95.000 Peralatan 30.000 Saldo Laba 5.000
Total 220.000Total 220.000
Debt Ratio = total debt/total asset = 120 milyar/220 milyar
= 54,5%
Penghematan Pajak
PT A tarif pajak
25%
PT B kerugian
pajak
akuisisi Kerugian pajak (karena total penghasilan kotor lebih rendah dari total pengeluaran.tax loss) jumlah kerugian yang dialami perusahaan
Tax loss carry forward
Pemanfaatan kerugian pajak periode lalu untuk
dikompensasikan atau untuk mengurangi laba kena pajak pada tahun
berikutnya
Kerugian pajak PT NIRWANA th 2010 (Rp 15.000.000.000) Laba PT GLOBINDO th 2011 Rp. 8.000.000.000 Sisa kerugian th 2010 pada th 2011 (Rp 7.000.000.000) Laba PT GLOBINDO th 2012 Rp 9.000.000.000 Laba kena pajak PT GLOBINDO th 2012 Rp 2.000.000.000
Periode Beban pajak PT GLOBINDO
Berdiri Sendiri Merger
2011 Rp 8.000.000.000 X 25% = Rp 2.000.000
Beban pajak = (Laba kena pajak – saldo rugi) X Tarif pajak = (Rp 8.000.000.000 – Rp 15.000.000.000) X 25% = (Rp 7.000.000.000) beban pajak nihil
2012
(pasca akuisisi) Rp 9.000.000.000 X 25% = Rp 2.250.000
Beban pajak = (Laba kena pajak – saldo rugi) X Tarif pajak = (Rp 9.000.000.000 – Rp 7.000.000.000) X 25% = Rp 500.000.000
Total Penghematan
Pajak
Rp 2.000.000.000 + (Rp 2.250.000.000 – Rp 500.000.000) = Rp 3.750.000.000
Kompensasi atas kerugian pajak Tax loss carry forward
Tax loss carry Backward
Dikompensasikan pada laba periode berikutnya
Sinergi Manajerial
Perusahaan A
- Manajemen kapabel - Sumber daya terdidik,
terlatih, dan terampil
Perusahaan B
Manajemen dan Sumber daya lemah kinerja
tidak efektif efisien
akuisisi
Terjadi alih pengetahuan dan kemampuan
manajerial (transfer of managerial knowhow) lebih efisien dan produktifPerusahaan pasca merger
MOTIF NON-EKONOMI
Motif yang mencakup semua alasan merger dan akuisisi yang tidak secara langsung terkait dengan upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Motif Pribadi Manajer
Hubris Hypothesis
Keputusan merger dan akuisisi dilakukan karena didorong oleh
ambisi kepentingan pribadi manajer atau eksekutif perusahaan
Ukuran perusahaan yang lebih besar
Semakin besar ukuran perusahaan semakin besar
kompensasi
Manajer memperoleh kompensasi, pengakuan,
penghargaan dan aktualisasi diri
Manajer dipandang kuat, kapabel, dan
dihargai apabila berhasil mengelola beberapa perusahaan
sekaligus
Pasar Tenaga Kerja
Manajer
Perusahaan
A Perusahaan B
Kinerja perusahaan lemah manajemen lemah
akuisisi Perusahaan B
Tim manajemen yang lebih kompeten
Kehilangan pekerjaan Menjadi manajer yang kompeten
Ambisi Pemilik
Membangun
kerjaan bisnis
Merger &
Akuisisi
Menguasai berbagai
perusahaan
Pemilik yang memiliki porsi kepemilikan perusahaan >50%
memiliki
INDIKATOR
Indikator Keberhasilan
Merger/Akuisisi
Tujuan Ekonomis Restrukturisasi (Merger/Akuisisi) memperbaiki/memperkuat kinerja perusahaan meningkatkan
nilai perusahaan sinergi pasca merger/akuisisi
Indikator Keberhasilan
Harga Saham Indikator
berbasis pasar
Indikator
berbasis kinerja profitabilitas (Return on Equity)ROE
ROI
Penyebab Kegagalan
Merger/Akuisisi
Indikator Keberhasilan
Penilaian atas perusahaan target kurang cermat (due diligent)
Keputusan merger/akuisisi dimotivasi oleh motif non-ekonomis
TAKTIK AKUISISI
Hostile
Acquisition
Friendly Acquisition/ negosiated
take over
Manajemen atau pemilik perusahaan yang mengakuisisi
(bidder firm)
Manajemen atau pemilik perusahaan yang diakuisisi
(target firm)
Akuisisi saham atau aset
Status perusahaan pasca akuisisi
Status manajemen perusahaan yg diakuisisi
pasca akuisisi
Hostile Acquisition/ hostile take
over
Taktik Akuisisi
Pengambilalihan tanpa melibatkan pihak manajemen
perusahaan target
Membeli seluruh/sebagian porsi mayoritas saham perusahaan
target yang ada di pasar
Mekanisme pembelian secara terbuka tender offer
ke
be
rh
as
ila
n
Seberapa menarik harga yang ditawarkan perusahaan
Taktik
Hostiles takes
Poison Pill
Taktik
Perlawanan
Strategi untuk menggagalkan akuisisi
Menjadikan perusahaan target kurang bernilai atau tidak menarik lagi bagi
perusahaan pengakuisisi
Flip-in
Tujuan menjebak pengakuisisi menghadapi kerugian ketika keputusan akuisisi dilakukanPT RAPI
Membeli 250.000 lembar (25%) dengan harga Rp1.000 per lembar
Rp250.000.000
PT INDAH
Saham beredar = 1.000.000 lembar Harga pasar =
Rp 700/lb
akuisisi
PT INDAH merupakan perusahaan target upaya akuisisi melalui hostile takover oleh PT RAPI.
PT INDAH menerapkan
poison pill untuk mencegah terjadinya akisisi dengan skema:
Perusahaan menawarkan
right issue kepada pemegang saham lama dengan harga diskon 50% lebih rendah dari harga beli yang ditawarkan pihak pengakuisisi jika pembelian saham oleh pihak pengakuisisi minimal 20% dari porsi kepemilikan pemegang saham yang bersangkutan.
PT INDAH menerapkan Flip-in
Menerbitkan 250.000 lembar saham baru (right issue) dengan harga Rp 500/lembar untuk pemegang saham
lama menggantikan saham yang dijual pada PT RAPI
dampak
Investor lama mendapat capital gain = Rp 500 x 250.000 lb
= Rp 125.000.000
Saham beredar pasca flip-in
Pemegang lama = 1.000.000 lb
PT RAPI = 250.000 lb 1.250.000 lb
Porsi kepemilikan PT RAPI setelah
flip-in = 250.000/1.250.000 x 100 = 20%
Porsi kepemilikan PT RAPI 25% turun menjadi 20% menjadikan program akuisisi tersebut lebih mahal.
Saham beredar = 1.000.000 lembar Harga pasar =
Suicide pill/
taktik bunuh
diri
Taktik yang dilakukan untuk menghadapi hostile acquisition yang
tidak bisa lagi dicegah
Alasan: manajemen merasa perusahaan lebih baik dibubarkan daripada diakuisisi
perusahaan lain.
Cara dalam taktik bunuh diri
Memperburuk keadaan
struktur modal
perusahaan
Menambah utang beli saham perusahaan dg harga premium debt ratio tinggi financial
distress bangkrut
Menjual aset/unit bisnis yang paling produktif perusahaan.
Aset utama dijual aset tersisa untuk diakuisisi adalah aset yang
White Knight
Taktik
Perlawanan
Sebutan bagi pihak atau perusahaan yang mengakuisisi perusahaan target dengan tujuan menghindari akuisisi paksa pihak ketiga.
PT RAPI PT INDAH
Ingin mengakuisisi
PT TENTRAM
Meminta bantuan
berdasarkan persetujuan pemegang saham
Shark Repellent
Taktik
Perlawanan
Shark repellent Lesikal tindakan untuk menghalau hiu
Golden Parachute
Akuisisi tindakan untuk menangkal akuisisi paksa dengan cara membuat langkah-langkah yang menjadikan akuisisi paksa tidak mungkin atau tidak menarik
dilakukan
Super Majority
Golden Parachute
Membuat peraturan atau perjanjian jika terjadi pengambilalihan
Pihak pengakuisisi membayar kompensasi yang sangat tinggi pada tim manajemen
perusahaan target
Tim manajemen tetap bekerja di perusahaan sesuai dengan posisinya paling
tidak sampai akhir masa jabatannya.
Upaya melindungi kepentingan manajemen daripada kepentingan pemegang saham
Membuat peraturan di mana rencana
akuisisi oleh perusahan lain harus
disetujui
sebagian
besar
dari
pemegang saham
persetujuan
akuisisi sulit mencapai kuorum (jumlah
suara minimal yang dibutuhkan)
tidak
menarik bagi pengakuisisi.
Peraturan:
-
Saham yang memiliki hak suara
adalah
saham
yang
dikuasai
pemegang saham perusahaan target
yang
terdiri
dari
beberapa
pemegang saham.
-
Saham yang dijual kepada publik
tidak memiliki hak suara
Memilih
Faktor-Faktor
Pertimbanga
n dalam
Memilih
Perusahaan
Target
Jenis Bidang Usaha
Ukuran Perusahaan
Posisi Pasar
Struktur dan Kualitas Manajemen
Rentang volume Produksi
Struktur Aset
Struktur Modal
Proftabilitas
Jenis
Bidang
Usaha
Berhubungan dengan jenis merger atau akuisisi yang
akan dilakukan.
Ukuran
Perusaha
an
Makin besar perusahaan
yang diakuisisi
makin besar dana untuk mengakuisisi sinergi dalam
Struktur
Asset
Untuk melihat aspek likuiditas
dan jenis aset teknologis perusahaan.
Adakah potensi sinergi teknologis dan
keuangan (likuidasi) pasca
akuisisi.
Struktur
Modal
Untuk melihat aspek solvabilitas, risiko keuangan
dan kapasitas utang perusahaan.
Adakah potensi sinergi keuangan pasca
akuisis.
Proftabili
tas
Melihat potensi arus kas perusahaan target di masa
mendatang.
Apakah saham perusahaan
berupa audit terhadap aspek
operasional, manajerial,
keuangan, legal, pemasaran, dan aspek lain yang penting
pengambilan keputusan
Penentuan Nilai
Perusahaan Target
◉
Nilai perusahaan tercermin pada harga saham perusahaan.
◉
Harga penawaran yang baik
menguntungkan perusahaan
pangakuisisi & menarik bagi perusahaan target.
Metode
Penilaian
Berbasis Aset
Berbasis Nilai Sekarang
Arus Kas
Berbasis Kapitalisas
i Pendapata
Metode Penilaian
Berbasis Aset
PT INDOTEX
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 17.000Utang Jk. Panjang
Utang Bank 10.000
Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 25.000 Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 45.000 Saldo Laba 5.000 Peralatan 10.000
Total 100.000Total 100.000
PT INDOTEX
Neraca per 31 Desember 20xx (Rp 000.000)
Aktiva Pasiva
Aset Lancar : Utang Lancar
Kas 3.000 Utang Usaha 5.000 Piutang Usaha 15.000Utang Jk. Panjang
Utang Bank 10.000
Aset Tetap : Ekuitas Pemilik
Tanah 100.000 Saham Biasa (6 jt lbr) 80.000 Pabrik 35.000 Revaluasi Asset 58.000 Peralatan 5.000 Saldo Laba 5.000
Total 158.000Total 158.000
Nilai perusahaan total nilai buku asset setelah
penyesuaian (revaluasi) – total utang (kewajiban).
Nilai perusahaan = Rp 158 milyar – Rp 15 milyar = Rp 143 milyar Nilai per lembar saham = Rp 143 milyar/6 jt lbr = Rp 23.833,33 Nilai perusahaan = Rp 100 milyar – Rp 15 milyar = Rp 85 milyar
Nilai per lembar saham = Rp 85 miliyar/6 jt lembar = Rp 14.166,67
Metode Penilaian
Berbasis Kapitalisasi
Pendapatan
Nilai perusahaan besar modal (kapital) atau nilai
asset untuk menghasilkan pendapatan tertentu
Nilai Perusahaan =
Contoh: net operating profit rata-rata per tahun PT INDOTEX berdasarkan metode kapitalisasi pendapatan adalah Rp 21,75 milyar, sedangkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor 15% dan jumlah saham beredar adalah 6 juta lembar. maka nilai PT INDOTEX adalah: P = Rp 145 milyar
nilai wajar per lembar saham PT INDOTEX berdasarkan kapitalisasi pendapatan adalah Rp145 milyar/6 jt lembar = Rp 24.166,67
Kelebihan metode = nilai perusahaan lebih realistis karena berdasarkan pada penentuan nilai investasi atau
nilai asset yang rata-rata diperlukan untuk menghasilkan pendapatan sesungguhnya perusahaan.
Alterna
Asumsi deviden konstan Nilai per lembar saham =
Contoh:
PT INDOTEX membayarkan deviden periode sebelumnya Rp 2.500 per lembar saham dan diperkirakan ke depan, deviden tersebut akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata per tahun 2,5%. Tingkat pengembalian yang diharapkan investor adalah 15%.
P = = Rp 20.000
Metode Penilaian
Berbasis Nilai Sekarang
Arus Kas
Nilai perusahaan nilai sekarang (presenta value) dari
arus kas masuk yang diterima perusahaan selama umur ekonomisnya.
Asumsi arus kas masuk sama setiap periode selama umur ekonomis Nilai Perusahaan =
Asumsi arus kas masuk tidak sama setiap periode selama umur ekonomis
Nilai Perusahaan =
AKM = arus kas masuk bersih perusahaan (laba bersih+depresiasi)
r = tingkat pendapatan yang diharapkan investor (pengakuisisi)
t = umur ekonomis (rumus 1) atau periode diperolehnya AKM (rumus 2)
n = periode ke n
Contoh:
Diperkirakan akuisisi PT INDOTEX memiliki umur ekonomis 25 tahun. Setiap tahun perusahaan tersebut diasumsikan menghasilkan arus kas masuk bersih sebesar Rp 21,75 milyar dengan tingkat pendapatan yang diharapkan sebesar 15% maka nilai wajar perusahaan
Nilai Perusahaan = =
= Rp 21,75 milyar x 6,464 =Rp 140,592 milyar
Kelebihan metode = nilai perusahaan yang dihasilkan telah memperhatikan prospek perusahaan ke ddepannya sehingga lebih representatif mengindikasikan nilai wajar
perusahaan.