BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Tanaman Karet
Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea
Spesies : Hevea Brasiliensis Muell. Arg.
2.2. Botani dan Morfologi Tanaman Karet
Morfologi tanaman karet menurut Syamsulbahri (1996) adalah sebagai berikut:
2.2.1. Akar
Tanaman karet termasuk ke dalam kelas Dycotyledonae. Oleh karena itu akar tanaman karet berupa akar tunggang dengan sistem perakaran padat atau kompak.
2.2.2. Batang
Batang umumnya bulat atau silindris yang tumbuh lurus dengan percabangan di bagian atas.
Batang mengandung getah atau lateks. Karet yang dibudidayakan umumnya memiliki ketinggian antara 10 – 20 m.
2.2.3. Daun
Daun karet berupa daun trifoliata dan berwarna hijau. Anak daun berbentuk elips dengan bagian ujung runcing. Tangkai daun panjang dengan serat daun yang tampak jelas dan kasar.
2.2.4. Bunga
Bunga karet merupakan bunga monoecious. Bunganya muncul dari ketiak daun (Auxillary), individu bunga bertangkai pendek dengan bunga betina terletak di ujung. Proporsi bunga jantan lebih banyak di bandingkan bunga betina.
2.2.5. Buah dan Biji
Bunga karet merupakan bunga monoecious. Bunganya muncul dari ketiak daun (Auxillary), individu bunga bertangkai pendek dengan bunga betina terletak di ujung. Proporsi bunga jantan lebih banyak di bandingkan bunga betina.
2.3. Defenisi Gulma
Menurut Mangoensoekarjo dan Soejono (2015) Gulma berdasarkan aspek ekologi adalah tumbuhan pionir atau perintis pada suksesi sekunder terutama dilahan pertanian. Gulma mudah tumbuh pada tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Umumnya gulma gampang melakukan regenerasi sehingga unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya.
Gulma yang tumbuh bersama-sama dengan tanaman utama diketahui dapat menyebabkan kerugian terhadap tanaman tersebut akibat adanya kompetisi antara tanaman dengan gulma dalam memanfaatkan sarana tumbuh seperti air, unsur hara, cahaya matahari dan ruang tumbuh serta nutrisi, gas-gas penting, dan zat kimia (alelopati) yang disekresikan (Supawan dan Hariyadi, 2014).
Disamping merugikan, beberapa jenis gulma dapat berperan menguntungkan. Jenis-jenis rumput yang tumbuh tegak dan rapat serta menjalar seperti jenis tumbuhan kacangan seperti Colopogonium mucunoides, Pueraria javanica dan Mucuna brachteata dapat mencegah erosi serta menyuburkan tanah.
2.4. Klasifikasi Gulma
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh sendiri secara alami dan tidak dikehendaki. Di perkebunan karet, gulma dapat menimbulkan banyak kerugian karena :
• Menyaingi tanaman karet untuk mendapatkan air, unsur hara, udara, cahaya dan ruang atau tempat tumbuh.
• Menghambat pertumbuhan tanaman karet, terutama tanaman muda.
• Meningkatkan biaya pemeliharaan tanaman.
• Dapat berperan sebagai tumbuhan inang penyakit dan tempat perlindungan hama.
Klasifikasi gulma diperlukan untuk mempelajari karakteristik dan ciri-ciri gulma. Menurut Yakup (2002) klasifikasi gulma dikenal berbagai sistem klasifikasi gulma yang menggambarkan karakteristiknya, seperti klasifikasi berdasarkan reproduksi, bentuk kehidupan, botani dan lain-lain. berdasarkan bentuk kehidupan (life form), Raunkiaer membaginya menjadi lima kategori pokok yaitu pohon dan semak tinggi (phanerophytes), semak rendah menjalar dipermukaan tanah dengan tunas di batang (chamauphytes), hidup dipermukaan tanah, tetapi tunas pada batang dibawah permukaan tanah, contoh: rumput- rumputan (hemicryptophytes), tunas pada cadangan makanan di bawah permukaan tanah, contoh: ubi-ubian (cryptophyte), tumbuhan semusim yang melestarikan diri dengan biji (therophythes).
Adapun klasifikasi gulma secara spesifik sebagai berikut:
2.4.1. Rumput (Grass)
Rumput mempunyai batang tidak bercabang, dapat membentuk tunas buku, bentuk batang seperti slindris, agak pipih atau persegi, kosong atau berisi, kecuali buku-bukunya berisi jaringan padat. Bagian batang antara dua buku disebut ruas. Daun tunggal duduk tersusun dalam dua baris berhadapan dan berseling pada sisi batang. Helaian daun berbentuk lanset atau garis dengan ibu tulang daun di tengah dan beberapa tulang daun sejajar. Berdasarkan
bentuk masa pertumbuhan dibedakan rumput semusim (annual) dan tahunan (perennial) (Menurut Mangoensoekarjo dan Soejono, 2015).
2.4.2. Teki (Sedges)
Semua jenis gulma yang termasuk dalam famili cyperaceae adalah gulma golongan tekian.
Gulma yang termasuk dalam golongan ini memiliki ciri utama letak daun berjejal pada pangkal batang, bentuk daun seperti pita, tangkai bunga tidak beruas dan berbentuk silendris, segi empat atau segi tiga. Untuk jenis tertentu, seperti cyperus rotundus, batangnya membentuk umbi (Sembodo, 2010).
2.4.3. Gulma Berdaun Lebar (Broadleaf)
Anggota gulma golongan berdaun lebar paling banyak dijumpai di lapangan dan paling beragam jenisnya. Semua jenis gulma yang tidak termasuk dalam famili poaceae atau rumputan dan cyperaceae atau tekian adalah gulma golongan berdaun lebar. Ciri-ciri yang dimiliki gulma tersebut juga sangat beragam tergantung dari familinya. Sebagai gambaran umum, bentuk daun gulma golongan ini adalah lonjong, bulat, menjari, atau berbentuk hati (Sembodo, 2010).
2.4.4. Gulma Semusim, Dua Musim dan Tahunan (Annual, Biennial, and parrennial Weed) Gulma semusim menyelesaikan siklus hidupnya dalam satu tahun atau satu musim. Ada gulma daun lebar semusim, teki semusim dan rumput semusim. Sebagai contoh adalah Ageratum conyzoides, Cyperus iria, Echinochloa colonum, Leptocloa chinensis dan Rotthoellia exaltata.
Gulma biennial merupakan dua musim pertumbuhan untuk menyelesaikan siklus hidupnya, biasanya berbentuk roset pada tahun pertama dan pada tahun kedua menghasilkan bunga, memproduksi biji lalu mati. Gulma Parrenial hidup lebih dari dua tahun dan mungkin dalam kenyataannya hampir tidak terbatas. Beberapa spesies gulma ini mungkin secara alami
berkembang biak dengan biji tetapi dapat sangat produktif dengan potongan batang, umbi, rhizoma, stolon dan daun. (Sukman dan Yakup, 2002).
2.4.5. Gulma Berkayu (Woody Weed)
Golongan gulma ini mencakup tumbuhan-tumbuhan yang batangnya membentuk cabang- cabang sekunder. Gulma ini menjadi masalah diperkebunan, kehutanan, seluruh pengairan dan padang pengembalaan, sistem perbanyakan, produksi biji dan penyebaran efesien (Sukman dan Yakup, 2002).
2.4.6. Gulma Air (Aquatic Weed)
Tumbuhan air adalah tumbuhan yang beradaptasi terhadap keadaan air kontinu atau paling tidak toleran terhadap kondisi tanah berair untuk periode waktu hidupnya. Gulma air dikelola dalam berbagai cara bertujuan untuk estetika, perikanan, diversifikasi biologis, ataupun dikendalikan secara manual, mekanis, biologis dan herbisida (Sukman dan Yakup, 2002).
2.4.7. Gulma Perambat (Climber)
Tumbuhan perambat yang bersetatus sebagai gulma, bisa sangat agresif dan perlu pengendalian. Gulma ini menimbulkan masalah mekanis seperti Mikania chordata dipertanaman karet, kelapa sawit dan kehutanan atau semi parasit seperti Coscuta campestris dan Cassyta filiformis. Karakternya yang melilit dan memanjat dapat menyebabkan penutup areal yang luas (Sukman dan Yakup, 2002).
2.4.8. Gulma Epifit dan Parasit
Perambat kadang-kadang juga epifit atau hemiparasit. Parasitasi benalu dilakukan oleh berbagai spesies dari famili Viscaceae, Lorantaceae, Santaleceae, dan Myzodendraceae.
Akibatnya pepohonan tersebut akan kehilangan daun kerena cabang-cabangnya telah dimatikan oleh parasit.
2.5. Kerugian Akibat Gulma
Kerugian yang di akibatkan vegetasi gulma pada lahan perkebunan kelapa sawit dan karet antara lain:
2.5.1. Gulma menurunkan Hasil Tanaman Secara Langsung
Menurut Mangoensoekarjo dan Soejono (2015) Gulma menurunkan hasil tanaman secara langsung melalui persaingan terhadap kebutuhan sumberdaya dan melalui alelopati atau penghambatan pertumbuhan tanaman oleh senyawa beracun yang diekskresikan gulma dan penghambat pertumbuhan tanaman oleh gulma yang bersifat parasit.
a. Persaingan
Apabila satu atau lebih faktor esensial yang dibutuhkan tanaman dan gulma, seperti cahaya matahari, CO2, air, dan hara berada dalam keadaan terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan bersama, maka terjadi persaingan atau kompetisi, akibat kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu) hasil panen turun. Penurunan kualitas panen diakibatkan oleh biji-biji tanaman pada waktu dipanen seperti mutu biji kacang hijau menurun karena tercampur oleh biji Crotalaria striata.
b. Alelopati
Tumbuhan dari metabolisme dapat mengasilkan senyawa kimia beracun yang menghambat pertumbuhan dirinya sendiri maupun tumbuhan lain. Peristiwa penghambatan pertumbuhan tanaman oleh tumbuhan lain (gulma) melalui senyawa kimia beracun dari hasil metabolisme disebut alelopati. Senyawa alelokimia dilepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara termasuk melalui penguapan, pencucian dan pembusukan sebagai organ yang mati. Senyawa alelokimia yang dikeluarkan oleh gulma dapat menghambat pertumbuhan tanaman budidaya dan menyebabkan penurunan hasil panen.
c. Gulma Sebagai Parasit
Gulma parasit adalah tumbuhan yang hidup menumpang, melekat atau tinggal bersama organisme hidup lain termasuk tanaman budidaya untuk mendapatkan makanan, perlindungan, dan bantuan dari inangnya. Gulma parasit dapat merusak atau menghambat
pertumbuhan tanaman sehingga menyebabkan kuantitas maupun kualitas hasil panen rendah.
2.5.2. Gulma Menurunkan Hasil Tanaman Secara Tidak Langsung
Menurut Mangoensoekarjo dan Soejono (2015) Gulma dapat menurunkan hasil tanaman secara tidak langsung karena membantu perbanyakan OPT tersebut sehingga OPT lebih sulit dikendalikan dan kerusakan tanaman menjadi lebih besar.
a. Gulma Sebagai Inang Serangga Hama
Beberapa jenis gulma digunakan sebagai tempat bersembunyi serangga hama dan nematoda. Jenis gulma Rumex sp. Merupakan tumbuhan inang beberapa jenis serangga hama termasuk trips pada jeruk, serangga pelompat pada anggur dan apel, serta jenis serangga lainnya.
b. Gulma Sebagai Inang Nematoda
Nematoda merupakan kelompok hama yang dapat hidup bebas di dalam tanah dan merusak akar tanaman. akar yang diserang nematoda berbisul-bisul atau membesar berbonggol. Nematoda adalah cacing kecil termasuk filum Annelida, bentuk badannya silindris seperti jarum tidak bersegmen. Nematoda dapat menyerang lebih dari satu jenis tanaman seperti Platylenchus brachyurus dapat merusak akar nanas, kacang tanah, tembakau tebu. Nematoda Helicotylenchus juga memiliki tanaman inang lebih dari satu jenis seperti H. dihystrera terdapat pada kacang tanah, tebu, padi, pisang dan Teh.
c. Gulma Sebagai Inang Patogen
Patogen merupakan bakteri, jamur, dan virus penyebab penyakit tanaman. jenis-jenis gulma tertentu dapat digunakan sebagai tumbuhan inang pengganti (alternate host) bakteri, jamur, dan virus.
• Gulma sebagai inang bakteri. Banyak penyakit busuk akar mengganggu kelangsungan hidup kecambah dan bibit tanaman, diduga juga berkaitan dengan keberadaan jenis-jenis gulma tertentu. Bakterium angulatum yang menyerang tembakau bertempat tinggal pada Phisalis subglabrata sebagai tumbuhan inang.
• Gulma Sebagai Inang Jamur. Di Amerika utara Puccinia graminis var. tritici yang menyebabkan penyakit karat batang gandum memiliki tumbuhan inang Berberis vulgaris.
Jamur Corticium salmonicolor yang menyerang akar karet mempunyai tumbuhan inang jenis gulma Lantana aculeata.
• Gulma sebagai inang virus. Jenis-jenis gulma sebagai inang pengganti virus penggulung daun pada tembakau dan kapas adalah Sida carpinifolia, S. cordifolia, dan S.
veronicaefolia.