BAB III
Gambaran Wilayah Studi
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum wilayah studi pada penelitian yaitu pada penelitian yaitu pada wilayah kajian Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan dan Kawasan Bandar Udara Internasional Radin Inten II.
3.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung 3.1.1 Keadaan Geografis
Provinsi Lampung merupakan areal daratan seluas 35.228,35 Km2 termasuk pulau– pulau yang terletak pada bagian sebelah paling ujung tenggara pulau Sumatera, dan berbatasan dengan:
Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, di Sebelah Utara
Selat Sunda, disebelah Selatan
Laut Jawa, disebalah Timur
Samudera Indoensia, di sebelah Barat.
Secara geografis Provinsi Lampung terletak pada kedudukan:
Timur – Barat berada antara 103o 40’ – 105o50o’ Bujur Timur
Sumber : Hasil Olahan Arcgis, 2019
GAMBAR 3.12
3.1.2 Topografi
Secara topografi Provinsi Lampung dibagi dalam 5 (lima) unit topografi:
Daerah Topografis berbukit sampai bergunung dengan lereng – lereng yang curam yang memiliki kemiriangan berkisar 25 %, dan ketinggian rata – rata 300 M diatas permukaan laut.
Daerah Topografis berombak sampai bergelombang dengan kemiringan antara 15 % dan ketinggian antara 300 M sampai 500 M dari permukaan laut.
Daerah dataran Alluvial yang memiliki ketinggian di daerah ini berkisar antara 25 mtere sanpai 75 meter, dengan kemiringan 0 % sampai 3 %.
Daerah dataran Rawa Pasang Surut disepanjang pantai timur yang merupakan daerah rawa pasang surut dengan ketinggian ½ meter sampai 1 meter.
Daerah River Basin di daerah Tulang Bawang, Seputoh, Sekampung, Semangka, dan Way Mesuji.
3.1.3 Kependudukan
Penduudk Provinsi Lampung berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2018 sebanyak 8.370.485 jiwa yang terdiri atas 4.286.676 jiwa penduduk laki- laki dan 4.083.809 jiwa penduduk perempun. Dibandingkan dengan tahun 2010, penduduk Lampung mengalami pertumbuhan sebesar 1,16%.
3.1.4 Sosial Budaya Agama
Masyarakat Lampung memiliki struktur hukum adat tersendiri secara berkelompok yang menyebar diberbagai tempat di daerah Lampung. Kelompok tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu masyarakat adat Saibatin yang berkediaman disepanjang pesisir dan masyarakat Pepadun yang berkediaman
3.2 Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan 3.2.1 Keadaan Geografis
Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105’ sampai dengan 105’45’ Bujur Timur dan 5’15’ sampai dengan 6’ Lintang Selatan. Pada bagian selatan wilayah Kabupaten Lampung Selatan ujung Pulau Sumatera terdapat sebuah pelabuhan penyeberangan Bakauheni, yang merupakan tempat transit penduduk dari Pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Sehingga Pelabuhan Bakauheni merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera bagian Selatan.
Kabupaten Lampung Selatan mempunyai daerah daratan kurang lebih 2.007,01 km2 (BPS 2018), dengan kantor pusat pemerintahan di Kota Kalianda. Saat ini Kabupaten Lampung Selatan telah mengalami pemekaran dua kali yaitu Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pesawaran.
Wilayah administrasi Kabupaten Lampung Selatan mempunyai batas – batas sebagai berikut:
Sebelah Utara: berbatasan dengan wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur;
Sebelah Selatan: berbatasan dengan Selat Sunda;
Sebelah Barat: berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pesawaran; Sebelah Timur: berbatasan dengan laut Jawa
3.2.2 Topografi
Dari segi geologi daerah Kabupaten Lampung Selatan terdiri dari bagian – bagain sebagai berikut:
Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar berbatuan endesit, ditutupi turfazam. Batuan endapan meluas ke timur sampai sekitar jalan kereta api arah menuju Kotabumi, keadaan tanah bergelombang.
Kabupaten Lampung Selatan memiliki pegunungan vulkanis muda.
Daratan bagian timur yang termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan tidak begitu luas, berbatuan endesit ditutupi turfazam.
Kabupaten Lampung Selatan memiliki daratan alluvial berawa- rwa dengan pohon bakau.
3.3.3 Klimatologi
Kabupaten Lampung Selatan memiliki iklim yang sama dengan daerah lain di Indonesia. Iklimnya dipengaruhi oleh adanya pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi yang berganti di daratan Sentra Asia dan Australia pada bulan Januari dan Juli. Akibat pengaruh angina Muson, maka daerah Lampung Selatan tidak terasa adanya musim peralihan (pancaroba) antara musim kemarau dan musim hujan.
3.3.4 Monografi
Jumlah penduduk Kabupaten Lampung Selatan berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2017 berjumlah 992.763 jiwa, yang terdiri dari 509.303 jiwa laki-laki dan 483.450 perempuan.
3.2.5 Sosial Budaya dan Agama
Berdasarkan data yang ada penduduk Kabupaten Lampung Selatan secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu penduudk asli Lampung dan penduduk pendatang. Penduduk asli khususnya sub suku Lampung Peminggir umumnya berkediaman di sepanjang pesisir pantai. Penduduk sub suku lainnya tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Lampung Selatan.
Penduduk pendatang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Selatan terdiri dari bermacam – macam suku dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Dari semua suku pendatang tersebut jumlah terbesar adalah pendatang dari Pulau Jawa. Beragamnya etnis penduduk di Kabupaten Lampung Selatan, maka beragam pula adat dan kebiasaan masyarakatnya sesuai dengan asal daerahnya.
3.3 Gambaran Umum Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Bandar Udara Internasional Radin Inten II Provinsi Lampung adalah Bandar Udara yang melayani Kota Bandar Lampung di Lampung, Indonesia. Bandar Udara Internasional Radin Inten II merupakan bandar udara tersibuk ketiga di Pulau Sumatera. Bandar Udara Radin Inten II terletak di Jl. Alamsyah Ratu Prawiranegara Branti Raya, Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Tepatnya berada di koordinat 05014’25,77’LU105010’31,97’’
Sumber : Hasil Olahan Arcgis, 2019
GAMBAR 3.14 PETA WILAYAH STUDI
3.3.1 Kondisi Kinerja Pelayanan Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Bandar Udara Internasional Radin Inten II mengalami peningkatan jumlah penumpang yang cukup signifikan sebesar 37% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebanyak 1.034.050 orang pada tahun 2011 menjadi 1.419.342 orang pada tahun 2016 dan peningkatan volume cargo sebesar 80% (2.468.654 kg pada tahun 2011 menjadi 4.436.830 Kg pada tahun 2016. Bandar Udara Internasional Radin Inten II telah melayani Embarkasi Haji sejak tahun 2010 dengan kuota antara tahun 2010-2012 sebanyak 6.262 jamaah dan 2013-2016 mengalami penurunan menjadi 5.091 orang per tahun (penurunan kuota 20% karena pembangunan di Mekah) dan pada tahun 2017 kuota haji untuk Lampung kembali meningkat menjadi 7.074 jamaah. Bandar Udara Internasional Radin Inten II mampu melayani 3.350 penumpang setiap hari. Ketika beroperasi penuh pada tahun 2017 jumlah penumpang yang mampu dilayani mencapai 8.000 per hari atau tiga juta penumpang per tahun. Adapun apron mampu menampung 8 pesawat jenis B-737 serries, dengan 52 pergerakan ditambah Susi Air yang sedang off karena Angkutan Udara Perintis pesawat per hari saat ini, jumlah pergerakan itu mendekati pergerakan pesawat di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sebanyak 55 pergerakan per hari.
Saat ini terdapat 8 (delapan) perusahaan atau maskapai yang melayani atau beroperasi dengan menggunakan berbagai macam tipe pesawat. Maskapai penerbangan yang melayani jasa penerbangan di Bandara Radin Inten II adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air, Wings Air, Express Air, Susi Air, Nam Air, dan Batik Air. Penerbangan maskapai tersebut melayani sejumlah rute penerbangan diantaranya adalah sebagai berikut:
TABEL III.1
RUTE PENERBANGAN MASKAPAI
NO MASKAPAI
PENERBANGAN RUTE PENERBANGAN Frekuensi
1 Garuda Indonesia
Lampung - JakartaPP.
Lampung – Batam – Medan PP. Lampung – Palembang PP. 7kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 2 Sriwijaya Air Lampung – Jakarta PP. Lampung – Batam PP. Lampung – Jogjakarta PP. Lampung – Surabaya PP. 5 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 3 4 Lion Air Wings Air Lampung – Jakarta PP. Lampung – Bandung PP. Lampung – Palembang PP. 4 kali/hari 4 kali/hari 1 kali/hari
5 Express Air Lampung - Bandung PP. Lampung - Palembang PP.
1 kali/hari 1 kali/hari
6 Susi Air Lampung – Krui - Bengkulu PP. Off
7 Nam Air Lampung – Jakarta PP. 1 kali/hari
8 Batik Air Lampung – Halim Perdana K. PP. Lampung – Soekarno Hatta PP.
1 kali/hari 1 kali/hari
Sumber: Sistem Informasi Bandar Udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara
Lalu lintas dari Tanjung Karang ke Rute Internasional di Bandar Udara Internasional Radin Inten II sebagian besar berasal/tujuan ke Malaysia dan Singapura, selanjutnya tujuan ke Hongkong dan Arab Saudi (Jeddah dan Madinah). Lalu lintas ke Arab Saudi diasumsikan berasal dari lalu lintas Umroh. Lalu Lintas Tanjung Karang - Singapore PP. pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 20.147 penumpang dan untuk kondisi saat ini dilayani penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air yang transit dulu via Jakarta/Batam.
Sumber: Garuda Indonesia, 2017
GAMBAR 3.15
RUTE PENERBANGAN INTERNASIONAL DARI TANJUNG KARANG PADA NOVEMBER 2016
3.3.2 Kondisi fisik dan Pelayanan Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Berdasarkan teori dari Parasurman (1995) dimana kualitas pelayanan dapat dibagi menjadi lima dimensi yaitu tangible, reliable, responsiveness, assurance,
empathi. Dimana untuk tangible atau yang disebut dengan fasilitas fisik dapat
menggunakan standar kelengkapan ruang dan fasilitas Bandar Udara Internasional berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004 mengenai terminal penumpang bandar udara sebagai standar wajib.
3.3.2.1 Fisik (Tangible)
Tangibles dapat diartikan sebagai penampakan fasilitas fisik dari fasilitas,
peralatan, dan personil yang dipergunakan untuk memberikan layanan, fasilitas seperti gedung, ruang tunggu dan fasilitas lainnya. Untuk fasilitas fisik yang ada di Bandar Udara Internasional Radin Inten II digunakan standar acuan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004 mengenai
7.885
7.096
3.012
2.404
1.024
617
529
367
310
TKG-KUL
TKG-…
TKG-…
TKG-ICN
TKG-…
terminal penumpang bandar udara sebagai standar wajib yang diperoleh dari hasil observasi dibawah ini.
a. Tampila Fisik Bangunan Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Berdasarkan kondisi eksisting saat ini terminal Bandar Udara Internasional Radin Inten II memiliki luas bangunan 9.650 meter2. Bandar udara internasional Radin Inten II memiliki landasan pacu degan permukaan aspal dengan panjang lintasan 3.000 x 45 m2 dan memiliki gedung parkir 4 (empat) lantai dengan kapasitas 800 sampai 1000 kendaraan. Selain itu Bandar Udara Internasional Radin Inten II memiliki dua taxway berukuran 123 x 23 m2 dan apron berukuran 195 x 80 m2. Dari adanya hasil observasi tersebut diketahui bahwa Bandar Udara Internasional Radin Inten II telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004 mengenai standar luas terminal bandar udara internasional dengan minimal luas 600 m2.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.15
TAMPILAN FISIK BANGUNAN BANDAR UDARA INTERNASIONAL RADIN INTEN II
b. Ruang Information Center
Berdasarkan kondisi eksisiting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki ruang information center yang terletak di depan teras terminal penumpang dengan luas 5x8 meter. Dari adanya hasil observasi dan didukung
dengan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa ruang information center yang dimiliki telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.16
RUANG INFORMATION CENTER
.
c. Teras Kedatangan dan Teras Keberangkatan (Curb Side)
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki teras kedatangan dan teras keberangkatan yang telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004. Dimana teras kedatangan dan keberangkat di fasilitasi dengan kursi tunggu dan tempat yang lapang dengan luas 5 x 20 meter. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan teras kedatangan dan teras keberangkatan telah sesuai dan layak.
Sumber Observasi, 2020
GAMBAR 3.17
TERAS KEDATANGAN DAN KEBERANGKATAN
d. Ruang Lapor Diri (Check In Area)
Berdasarkan kondisi eksisiting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki ruang lapor diri atau check in counter sebanyak 20 unit yang terletak dilantai dasar. Berdasarkan hasil observasi yang didukung oleh wawancara dapat dikatakan bahwa ruang lapor diri yang telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.18 RUANG LAPOR DIRI
e. Ruang Tunggu dan Berangkat (Departure Lounge)
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki ruang tunggu dengan luas 3500 m2 dan berangkat dengan luas 560 m2 yang berada di lantai 2 (dua) dimana untuk ruang tunggu dan berangkat pada penerbangan domestik dan penerbangan internasional di pisah. Ruang tunggu dan berangkat diterminal penumpng Bandar Udara Internasional Radin Inten II di desain dengan konsep modern yang nyaman dengan dilengkapi failitas televise dan kursi sofa warna-warni yang saling memunggungi yang nyaman, lift, tempat makan dan toko yang menjual oleh-oleh khas Lampung, selain itu didukung dengan fasilitas toilet, mushola dan charging box dan lainnya.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.19
RUANG TUNGGU DAN BERANGKAT
f. Fasilitas Penyandang Cacat (Ramp)
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki fasilitas penyandang cacat berupa area khusus berupa tempat turun penumpang (drop zone) yang diberi warna kuning, kursi roda, toilet khusus disabilitas, lift khusus. Namun perlunya peningkatan fasilitas disablitas yang lebih banyak lagi seperti bus berlantai rendah yang ramah bagi pemakai kursi roda disisi udara, lalu bus dengan fasilitas yang mempermudah pengguna kursi roda disisi darat dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melayani kebutuhan para
pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa fasilitas penyandang cacat yang dimiliki oleh terminal penumpang telah cukup baik namun perlunya penambahan fasilitas untuk moda transportasi bagi kaum disabilitas.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.20
FASILITAS PENYANDANG CACAT
g. Ruang Pengambilan Bagasi (Baggage Claim)
Berdasarkan kondisi eksisiting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki fasilitas berupa ruang pengambilan bagasi sejumlah 3 unit. Namun berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II mengatakan bahwa perlunya penambahan bebarapa unit dikarenakan status Bandar Udara Radin Inten II yang telah menjadi Bandar Udara Internasional. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan standar SNI 03-7046-2004 dan IATA ADRM 03-7046-2004 dimana untuk bandar udara bertaraf internasional membutuhkan 7 unit ruang pengambilan bagasi.
Sumber Observasi, 2020.
GAMBAR 3.21
RUANG PENGAMBILAN BAGASI
h. Toilet
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki toilet di delapan lokasi yang dilengkapi dengan toilet bagi disabilitas dan toilet khusus laki-laki serta khusus perempuan. Dimana lokasi pertama di lantai dasar tepat didepan teras terminal penumpang, didalam terminal penumpang lantai dasar, di lantai 2 (dua) dengan dua lokasi di ujung kanan dan kiri terminal, dilantai 3 (tiga) dengan lokasi di ujung kiri dan kanan terminal serta di dekat ruang panel dan lift, lalu yang terakhir berlokasi diruang tunggu VIP. Untuk saat ini fasilitas toilet yang disediakan sangat baik dan cukup. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa toilet yang dimiliki telah sesuai dengan memenuhi standar dari Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004.
Sumber: Observasi, 2020
GAMBAR 3.22 TOILET
i. Tempat Parkir
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki gedung parkir berlantai empat yang berkapasitas 800 hingga 1000 kendaraan bahkan memiliki lahan parkir khusus wanita difabel. Selain itu dilengkapi lorong fiberglass sepanjang 120 meter yang menghubungkan gedung terminal kedatangan dan keberangkatan. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi peningkatan arus wisatawan menuju destinasi wisata di Provinsi Lampung. Untuk metode pembayaran parkir dilakukan non tunai dengan pembayaran uang elektronik. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa tempat parkir yang disediakan telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004.
Sumber: Analisis, 2020
GAMBAR 3.23 TEMPAT PARKIR
j. Restoran
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki beberapa restoran atau tempat makan yang berlokasi di depan terminal penumpang dan didalam terminal penumpang. Diantaranya yaitu food hall, tempa kuliner pempek, dan coffee shop. Berdasarkan hasil observasi yang didukung oleh wawancara oleh pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini untuk restoran telah sesuai dan memadai untuk penumpang yang ada di Bandar Udara Internasional Radin Inten II dan telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2005 SNI 03-7046-2004. Namun perlunya penigkatan kembali guna mendukung konsep Aerocity di Bandar Udara Interasional Radin Inten II.
.
k. Kios
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki beberapa kios yang berlokasi diluar terminal penumpang dan didekat ruang tunggu keberangkatan dan kedatangan salah satunya yaitu seperti kios oleh-oleh khas Lampung yang dikembangkan oleh BUMD, minimarket, dan kios lainnya. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dengan didukung dengan wawancara dengan pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa kios yang berada di terminal penumpang Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini cukup memadai. Namun untuk kedepannya perlu dikembangkan kembali guna mendukung Aerocity di kawasan Bandar Udara Internasional Radin Inten II.
Sumber: Analisis, 2020.
GAMBAR 3.25 KIOS
l. Bank
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki beberapa Bank diantaranya yaitu Bank BRI, Bank EKA dan ATM Center yan terdiri dari Bank BCA, Mandiri dan BNI dan lain-lainnya. Hal tersebut
telah sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2020 2005 SNI 03-7046-2004. Sumber: Analisis, 2020 GAMBAR 3.26 BANK m. Money Changer
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki money changer dari PT. Bina Sukses Yalavindo yang berlokasi didepan teras terminal penumpang dengan ukuran luas 8x2 meter. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara kepada pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa telah memenuhi standar kelayakan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2020 SNI SNI 03-7046-2004.
Sumber: Analisis, 2020
GAMBAR 3.27 MONEY CHANGER
.
n. Nursery
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki ruang nursery yang berlokasi di lantai 2 (dua) dan lantai 3 (tiga) dengan luas 4 x 5 meter. Ruang nursery sangat dibutuhkan bagi penumpang yng memiliki anak kecil atau wanita yang sedang menyusui sehingga salah satu fasilitas pendukung yang penting di ruang tunggu dan keberangkatan. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara kepada pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa ruang nursery telah memenuhi standar kelayakan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2020 SNI SNI 03-7046-2004.
Sumber: Analisis, 2020
GAMBAR 3.28
NURSERY
o. Mushola
Berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II saat ini memiliki mushola di 6 (enam) lokasi diantaranya yaitu di dekat ruang tunggu keberangkatan dan kedatangan dilantai 2 (dua), lalu dilantai 4 (empat) serta di depan terminal penumpang. Berdasarkan hasil observasi yang didukung dengan wawancara kepada pihak Bandar Udara Internasional Radin Inten II dapat dikatakan bahwa mushola telah memenuhi standar kelayakan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 20 Tahun 2020 SNI SNI 03-7046-2004.
Sumber: Analisis, 2020.
3.3.2.2 Kehandalan (Releability)
Releability merupakan suatu kemampuan untuk menghasilkan kinerja
pelayanan yang akurat dan pasti. Pelayanan yang dilakukan harus tepat waktu dan dalam spesifikasi yang sama, tanpa kesalahan, kapanpun pelayanan tersebut diberikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola Bandar Udara Internasional Radin Inten II yaitu PT. Angkasa Pura II menyatakan bahwa dalam pelayanan di Bandar Udara Internasional Radin Inten II sudah baik dalam aspek kehandalan. Karena sumber daya manusia yang ada atau staff di Bandar Udara Internasional Radin Inten II sudah pengalaman dengan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerjanya. Dari pihak pengelola mengatakan bahwa dari segi kehandalan sudah baik namun tetap perlu adanya evaluasi dan peningkatan kualitas pelayanan.
3.3.2.3 Keterlibatan (Responsiveness)
Responsiveness merupakan kemampuan para pegawai dalam membantu
para konsumen memberikan layanan dengan tanggap. Bantuan tersebut berada pada kecepatan, ketepatan layanan yang diberikan kepada pelanggan, keinginan karyawan untuk membantu para pelanggan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola Bandar Udara Internasional Radin Inten II yaitu PT. Angkasa Pura II menyatakan bahwa dalam keterlibatan staf atau pegawai Bandar Udara Internasional Radin Inten II sudah baik hal tersebut tercermin pada kecepatan, ketepatan dan keinginan untuk membantu konsumen sesuai tugas dan fungsi masing-masing pegawai.
3.3.3.4 Keterjaminan (Assurance)
Assurance merupakan kesopanan, kemampuan dalam hal bekerja dan sifat
dapat dipercaya yang dimiliki oleh para pegawai atau staf sehingga tidak menimbulkan rasa curiga atau keraguan. Pegawai atau staf harus mampu menumbuhkan kepercayaan kepada konsumen atau pelanggan sehingga menimbulkan perasaan aman dalam melakukan kegiatan transaksi serta sopan
santun pegawai dalam memberikan layanan kepada konsumen atau pelanggan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola Bandar Udara Internasional Radin Inten II yaitu PT. Angkasa Pura II menyatakan bahwa dalam aspek keterjaminan yang diberikan oleh pegawai Bandar Udara Internasional Radin Inten II sudah baik dan sudah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kerja masing-masing pegawai serta selalu menerapkan senyum, sapa dan salam.
3.3.2.5 Empati (Emphati)
Emphati merupakan kemudahan dalam melakukan komunikasi yang baik
dalam memberikan perhatian dan memahami kebutuhan konsumen atau pengunjung. Hal tersebut berhubungan dengan kepedulian kepada konsumen atau pengunjung, kemudahan dalam mendapatkan layanan kepada konsumen atau pengunjung. Semua pelanggan berhak mendapatkan layanan tanpa memiliki hubungan khusus dengan karyawan atau tidak. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola Bandar Udara Internasional Radin Inten II yaitu PT. Angkasa Pura II menyatakan bahwa dalam aspek empati yang dilakukan kepada pegawai Bandar Udara Intrenasional Radin Inten II sudah baik meskipun perlunya peningkatan kualitas pelayanan yang dilakukan pegawai atau staf.
3.3.3 Sejarah Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Pada tahun 1943 Bandar Udara Radin Inten II sebelumnya bernama Pelabuhan Udara Branti yang merupakan peninggalan Pemerintahan Jepang yang dibangun pada tahun 1943. Pada tahun 1946 Bandar Udara Radin Inten II diserahkan kepada Pemerintahan Republik Indonesia. Dari tahun 1946 sampai dengan 1955 Pelabuhan Udara Branti dikelola oleh Detasemen Angkatan Udara dan belum terdapat penerbangan komersial.
Lalu pengelolaan Perhubungan Udara Branti dikelola oleh Djawatan Penerbangan Sipil (DJP) ditahun 1955. Kemudian ditahun 1956 Garuda Indoensia
Airways merintis membuka jalur penerbangan yang pertama kali dengan rute
Jakarta-Tanjung Karang PP dengan frekuensi penerbangan tiga kali seminggu. Kemudian ditahun 1975 dimulai pembangunan landasan baru yang terletak disamping dengan landasan lama. Secara bertahap landasan dibangun dengan panjngnya mencapai 1.850 M. Pada tanggal 1 September 1985 Pelabuhan Udara Branti dirubah menjadi Bandar Udara Branti sesuai dengan Telex Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan.
3.3.4 Konstelasi Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Berdasarkan Hasil Kajian Rute Penerbangan Tahun 2014, data manifest yang diperoleh pada maskapai yang beroperasi di Bandara Radin Inten II menunjukan bahwa dari keseluruhan penumpang dari Lampung ke Jakarta, 83% singgah di Jakarta, sementara 17% transit ke luar Jakarta menuju daerah lain. Adapun penumpang yang transit tersebut. tujuan tertingginyaadalah menuju Provinsi Jawa Timur, diikuti oleh DIY Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, Bangka Belitung, Bali, dan Kalimantan Barat.
TABEL III.2
NAMA DAN STATUS BANDARA DI SEKITAR BANDAR UDARA INTERNASIONAL RADIN INTEN II
PROVINSI JMLH
PENDUDUK
NAMA BANDARA STATUS
ACEH 4.494.410 Sultan Iskandar Muda Internasional
SUMUT 12.982.204 Kualanamu Internasional
SUMBAR 4.846.909 Minangkabau Internasional
RIAU 5.538.367 Sultan Syarif Kasim II Internasional
JAMBI 3.092.265 Sultan Thaha Syarifudin Internasional
SUMSEL 7.450.394 Sultan Mahmud Badarudin Internasional
BENGKULU 1.715.518 Fatmawatisoekarno Domestik
LAMPUNG 9.586.492 Radin Inten II Internasional
BABEL 1.223.296 Depati Amir Internasional
KEPRI 1.679.163 Hang Nadin (Batam) Internasional
Aksesibilitas Bandara Raden Inten ke/dari bandar udara internasional di sekitarnya, antara lain: (a) Bandara Halim Perdana Kusuma (penerbangan langsung atau menggunakan jalur darat dan laut dengan menyeberangi Selat Sunda); (b) Bandara Soekarno-Hatta (penerbangan langsung atau menggunakan jalur darat dan laut dengan menyeberangi Selat Sunda); (c) Bandara S.M. Badarudin (penerbangan langsung atau darat melalui jalan lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatera); (d) Hang Nadim (udara penerbangan langsung atau menggunakan jalur darat melalui lintas Timur Sumatera); (e) Kualanamu (penerbangan langsung atau darat menggunakan jaalan Lintas Timur atau Litas Tengah Sumatera); dan (f) Husein Sastranegara (penerbangan langsung atau menggunakan jalur darat dan laut dengan menyeberangi Selat Sunda).
Sumber : Hasil Olahan, 2020
GAMBAR 3.30
ORIENTASI BANDAR UDARA INTERNASIONAL RADIN INTEN II TERHADAP BANDAR UDARA INTERNASIONAL SEKITARNYA
Keterkaitan dengan Bandara lainnya diantaranya: (a) akses menuju Bandara Fatmawati melalui jalur lintas Barat Sumatera; dan (b) akses menuju Bandara Pekon Serai melalui penerbangan langsung atau melalui jalur lintas Barat Sumatera.
Berdasarkan data dari Bandara Changi yang dirilis tahun 2014, dari 10 besar asal negara yang menuju Bandara Changi, Indonesia merupakan negara terbesar peringkat pertama dengan jumlah penumpang 6,82 juta pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 7,42 juta pada tahun 2013 atau mengalami peningkatan sebesar 8,8%. Sementara berdasarkan data kota asal tujuan negara, rute Jakarta -Singapura menduduki peringkat pertama dan rute Denpasar-Singapura menduduki peringkat ke-7 atau naik dari posisi ke-8 pada tahun 2012. Sedangkan berdasarkan lalu lintas kargo, Indonesia menduduki peringkat ke-5 (121.108 ton) dari 10 besar negara dengan tujuan Bandara Changi. Berdasarkan data per 1 Juni 2014, untuk penerbangan dengan tujuan wisata ke Singapura terdapat 14 kota di Indonesia yang terkoneksi langsung dengan Bandara Changi.
Berdasarkan lalu lintas asal tujuan Indonesia-Singapura pada Maret 2014, dari 14 kota di Indonesia yang terkoneksi langsung ke Bandara Changi ditambah 5 kota potensial yang tidak terkoneksi secara langsung menunjukkan bahwa Bandar Lampung menduduki peringkat ke 17 dari 19 kota di Indonesia dengan jumlah penumpang 9.378 atau mengalami pertumbuhan positif 12%. Sementara beberapa kota dengan peringkat lebih baik dari Bandar Lampung yaitu Bandung, Solo, Banjarmasin dan Padang justru menunjukkan pertumbuhan negatif, dimana Bandung dan Solo merupakan bandar udara yang terkoneksi langsung dengan Bandar Udara Changi.
Sumber : Bandar Udara Changi, 2014
GAMBAR 3.31
POTENSI PENERBANGAN INTERNASIONAL DARI BANDAR LAMPUNG
Dari potensi lalu lintas rute Bandar Lampung ke berbagai tujuan bandara dunia menunjukkan trend peningkatan, dalam periode 4 tahun terjadi peningkatan dari 3.798 penumpang (2009) menjadi 35.684 penumpang (2013) atau meningkat rata-rata 80% pertahun. Sedangkan potensi lalu lintas dari Bandar Lampung – Changi menunjukkan jumlah 1.779 penumpang (2009) meningkat menjadi 9.665 penumpang (2013) atau mengalami peningkatan 54% pertahun.
Berdasarkan data Qeema Aviation, Jakarta menduduki peringkat ke-8 Bandara tersibuk di dunia dengan jumlah penumpang 62,1 juta. Pertumbuhan jumlah penumpang pesawat dan jumlah penerbangan di Indonesia diprediksi meningkat dengan CAGR 8,5%. Prediksi peningkatan ini didasarkan pada: Pertumbuhan dan peningkatan kualitas penduduk, semakin berkembangnya dunia pariwisata, kondisi ekonomi yang semakin sehat, peningkatan GDP, kondisi pasar yang stabil, dan adanya program LCC.
Berdasarkan data dari Market Consultation of Potential Airports
3.4 Rencana Pengembangan Aerocity di Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Pengembngan aerocity di Bandar Udara Internasional Radin Inten II merupakan konsep pengembangan ekonomi baru berbasi geografis, yaitu dengan adanya pengembangan kawasan Bandar Udara Internasional Radin Inten II sebagai Engine Of Growth kegiatan komersial dan jasa. Aerocity Bandar Udara Internasional Radin Inten II adalah kota yang mandiri dengan menjadi titik-titik simpul utama dalam jaringan transportasi, sistem komersial, jasa dan pengembangan ekonomi lokal yang menarik semua jenis bisnis jaringan perdagangan udara ke lingkungan Bandar Udara Internasional Radin Inten II.
Aerocity Bandar Udara Internasional Radin Inten II direncanakan
menjadi generator utama pengembangan kawasan karena merupakan kawasan cepat tumbuh yang berbasis bandar udara (airport-centric
commercial development), kawasan tersebut menciptakan kawasan secara
mandiri yaitu dengan:
1. Peningkatan peluang pekerjaan 2. Perbelanjaan
3. Perdagangan 4. Pertemuan bisnis 5. Hiburan
6. Tempat tujuan rekreasi.
3.4.4 Konsep Aerocity di Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Perkembangan kawasan komersial yang pesat di dalam dan di sekitar gerbang bandar udara menjadikan kegiatan tersebut sebagai generator pertumbuhan perkotaan dan menjadikan bandara sebagai pusat lapangan pekerjaan yang penting, kawasan perbelanjaan, perdagangan serta destinasi bisnis, serta bandar udara membangun sebuah “brand image” tersendiri untuk menarik kegiatan bisnis yang tidak berkaitan dengan kebandar
udaraan, demikian juga dengan peluang dan kenyataan yang terus berkembang di Bandara Radin Inten.
Adapun Skematik desain Aerocity Radin Inten akan dibedakan menjadi tiga Core yakni core aeronautical activities, airport related activities dan
airport-oriented activities, dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Aktivitas inti penerbangan, operasional teknis dari bandara yang secara langsung mendukung fungsi-fungsi penerbangan (semua kegiatan bandara, jasa pengiriman barang kilat, perbelanjaan, hotel dan bongkar muat). b. Aktivitas yang berhubungan dengan Bandar udara merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengangkutan serta pergerakan penumpang dan barang (kawasan logistik dan perdagangan bebas, pusat kegiatan distribusi, pusat intermoda angkutan, kereta api).
c. Aktivitas yang berorientasi pada Bandar udara memilih berada di area sekitar bandara dikarenakan image yang dimiliki oleh bandara itu sendiri dan aksesibilitas jalan yang sangat baik. Harga lahan dan konektivitas yang baik merupakan faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi dari kegiatan-kegiatan tersebut (pusat perdagangan dan niaga grosir,
convention center, pusat penelitian/teknologi, kawasan kesehatan, kawasan
industri, mixed use, kawasan komersial, kawasan olah raga dan kawasan perkantoran).
Adapun rencana kosep Skema tipe Kegiatan Airportcity/Aerotropolis Radin Inten adalah:
1. Kegiatan di dalam kota bandara, meliputi: - Pelayanan konsumen.
- Kawasan perdagangan, meliputi pertokoan.
- Real estate, meliputi perkantoran, hotel dan bongkar muat. - Multi moda, meliputi taxi, trem, bus dan kereta api.
- Infrastruktur terminal, meliputi terminal. - Infrastruktur dasar, meliputi jalan raya.
2. Kegiatan di luar kota bandara antara lain: - Hotel dan penginapan.
- Kegiatan pertemuan, meliputi eksibisi dan konferensi. - Kegiatan perdagangan, meliputi pusat perbelanjaan.
Sifat alami dari pasar lokal dalam kegiatan industri dan komersial yakni memiliki peran penting dalam keberlangsungan kota bandara dan kegiatan di dalamnya. Selain itu, área di sekitar bandara juga dapat menarik kegiatan bisnis, pekerja-pekerja profesional dan penduduk yang lebih banyak dibanding dengan área lain, pembangunan kegiatan komersial di dalam kawasan bandara merefleksikan kebutuhan dari pekerjaan, pekerja dan penduduk terhadap pelayanan yang disediakan oleh bisnis yang berbasis bandara. Pelayanan-pelayanan tersebut meliputi pelayanan perumahan, rekreasi, kuliner, perdagangan, kesehatan, penitipan anak dan dokter hewan.
Secara Fungsional kebutuhan –kebutuhan untuk kegiatan bisnis yang berbasis pada bandara saat ini disediakan di dalam kawasan campuran
(mixed use) yang luas di dalam área bandara, sebagai sentra pembangunan
metropolitan. Pergeseran ini membuat pembangunan kota bandara sebagai model perencanaan kreartif dan atribut-atribut managemen yang berbeda. Kegiatan di dalam Kota Bandara memberikan nilai tambah untuk kawasan di sekitar Kota Bandara, dan sebaliknya kawasan di luar Kota Bandara mendatangkan penumpang serta barang ke dalam Kota Bandara. Adapun keseluruhan aktivitas Airportcity/Aerotropolis Radin Inten selengkapanya sebagai berikut:
1. Pertokoan 2. Restoran
3. Kegiatan entertainmen dan kebudayaan 4. Hotel dan akomodasinya
5. Bank dan penukaran mata uang asing 6. Gedung Perkantoran
8. Hiburan, rekreasi dan pusat kebugaran 9. Logistik dan distribusi
10. Pengawetan makanan dan pendinginan 11. Katering dan kuliner
12. Perdagangan bebas dan sejenisnya 13. Lapangan golf
14. Factory outlets
15. Pelayanan keluarga, seperti klinik kesehatan dan penitipan anak.
3.4.5 Rencana Kawasan Aerocity Radin Inten II
Rencana lokasi kawasan Aerocity Radin Inten II yaitu adalah kawasan disekitar Bandar Udara Internasional Radin Inten II dengan memanfaatkan batas-batas geografis dan batas-batas jaringan moda transportasi yang ada disekitar Bandar Udara Internasional Radin Inten II, yaitu sebagai berikut:
a. Sebelah Timur berbatasan dengan Trans Jalan Tol Sumatera. b. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Rel Kereta Api dan Jalan
Lintas Sumatera;
c. Sebelah Utara berbatas dengan Sungai/ Way Siekampung; d. Sebelah Selatan berbatas dengan Exit Tol Jalan Trans Tol
Sumatera Natar.
Berdasarkan perhitungan sementara dari Google Earth, total potensi luas lahan untuk lokasi Kawasan Aerocity Radin Inten adalah + 3.500 Ha. Lokasi tersebut sangat strategis karena terletak/diapit oleh fasilitas atau infrastruktur moda transportasi yaitu moda jalan raya, moda rel kereta api dan jalan tol. Demikian juga untuk peluang dan kemudahan dalam pembebasan lahan cukup bagus dan kondusif karena disekitar lokasi tersebut saat ini telah dan sedang dilakukan pembebasan lahan untuk perluasan lahan Bandar Udara Internasional Radin Inten II dan untuk trase pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera. Sebagian besar rencana lokasi
Kawasan Aerocity Radin Inten berupa persawahan, perkebunan, pemukiman dan terdapat beberapa pabrik/industri kecil.
Sumber: Rencana Aerocity Bandar Udara Internasional Radin Inten II
GAMBAR 3.32
RENCANA LOKASI AEROCITY RADIN INTEN
3.4.6 Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II Tahun 2019-2039
3.4.6.1 Materplan Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan Airport City
Sumber: Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.33
Berdasarkan masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II tahun 2019-2039 akan direncanakan bandar udara dengan luas 175,45 Ha dan untuk saat ini berdasarkan kondisi eksisting Bandar Udara Internasional Radin Inten II memiliki luas 112,53 Ha. Dimana untuk Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) yaitu totalnya 288,28 Ha dan luas rencana Daerah Likungan Kerja Penerbangan (DLKp) 53,08 Ha. Sehingga total lahan yang akan digunakan untuk dijadikan aerocity yaitu 341,36 Ha.
3.4.6.2 Rencana Aksesbilitas Bandar Udara Internasional Radin Inten II a. Tataran Transportasi Wilayah Kawasan Aerocity
Sumber: Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.34
Tataran Transportasi Wilayah Kawasan Aerocity
Berdasarkan gambar rencana tataran transportasi wilayah kawasan airport city di Bandar Udara Internasional Radin Inten II dimana dijelaskan pada gambar dengan keterangan titik simpul:
3. Jalan Lintas Sumatera
4. Rencana pertigaan akses Bandar Udara Internasional Radin Inten II 5. Rencana jalan ke kalan akses Tol Natar
6. Akses eksklusif Bandar Udara Internasional Radin Inten II ke Tol 7. Jalan Branti Gedung Tataan.
Dari masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II yang berkaitan dengan akses jalan dari pengembangan Bandar Udara Internasional Radin Inten II ke jalan Tol dan ke jalan Lintas Sumatera, menjelaskan bahwa titik simpul 1,2,3 merupakan batas lahan sesuai Rencana Induk Bandar Udara Radin Inten II – Lampung Selatan Provinsi Lampung tahun 2015. Titik simpul 4 menjelaskan bahwa pertemuan dengan akses Tol bukan simpang sebidang dengan jarak minimum 500 meter dari Tol Natar dan akses jalan aerocity terdiri dari masing-masing 2 jalur cepat dan 1 jalur lambat. Titik simpul 5 merupakan pertemuan akses jalan Tol Natar dengan jalan Lintas Sumatera, sekaligus akses menuju terminal eksisiting. Pada titik simpul 6 merupakan pertemuan akses kawasan aerocity dengan jalan Lintas Sumatera atau jalan Nasional.
b. Tataran Transportasi Lokasi Kawasan Aerocity
Sumber: Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.35
Berdasarkan gambar rencana tataran transportasi lokal kawasan aerocity di Bandar Udara Internasional Radin Inten II dimana dijelaskan pada gambar dengan keterangan titik simpul:
1. Terminal shuttle bus berdekatan dengan area terminal AKAP 2. Halte Wisata Budaya
3. Halte Wisata bisnis 4. Halte Anami/Rusunami 5. Halte Stasiun
6. Halte Parkir Umum 7. Halte Parkir Mobil 8. Halte Museum
3.4.6.3 Konsep Cluster Fungsi Tata Guna Lahan Masterplan Aerocity
Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.36
Berdasarkan dari gambar konsep cluster tata guna lahan yang terdapat di masterplan Bandar Udata Internasional Radin Inten II Tahun 2019-2039 menjelaskan bahwa terdapat banyak cluster diantaranya yaitu untuk berwarna jingga merupakan cluster relokasi, untuk berwarna hijau tua merupakan cluster embarkasi haji, warna ungu tua merupakan wisata bisnis, warna hijau muda merupakan wisata budaya, warna ungu muda merupakan cluster pendidikan, warna biru tua merupakan cluster pendukung aerocity, warna hijau muda merupakan fasilitas sisi darat, warna merah muda merupakan fasilitas kesehatan dan kemanan serta warna biru muda merupakan fasilitas penunjang penyelenggaraan bandar udara.
3.4.6.4 Konsep Drainase Kawasan Aerocity
a. Konsep Pola Drainase dan Rencana Danau Kering Buatan
Sumber: Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
Rencana Danau Kering
GAMBAR 3.37
Berdasarkan rencana pengembangan Bandar Udara Internasional Radin Inten II tahun 2019-2039 menjelaskan bahwa untuk meminimalkan buangan limpahan air permukaan di wilayah aerocity khusunya pada saat musim hujan yaitu dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan, memproses dan mensirkulasikan air permukaan dan air tanah yang telah diguakan untuk kepentingan aktifitas aerocity sebelum dialirkan ke kanal menuju dananu kering buatan.
b. Konsep Arah Aliran Air Permukaan Terhadap Rencana Pengembangan
Aerocity
Sumber: Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.38
Konsep Arah Aliran Air Permukaan Terhadap Rencana Aerocity
Berdasarkan rencana masterplan Bandar Udara Internasional Tahun
2019-: Saluran / kanal dengan lebar 1.5 – 2.0 m : Saluran / kanal dengan lebar 6.0 m. : Saluran / kanal dengan lebar 8.0 m
: Saluran / kanal dengan lebar 10.0m ... “SUNGAI” Embung
drainase buatan tahun 2019-2039 dengan cara meminimalkan buangan limpahan air permukaan di wilayah aerocity yaitu:
1. Menampung dan mengarahkan limpaha air permukaan secara bertahap dari saluran atau kanal dengan dimensi 1.50-2.00 meter atau panah warna merah (area runway, taxiway, apron) menuju drainase tersier panah warna kuning dengan dimensi lebar 6.0 meter.
2. Selanjutnya dialirkan ke drainase sekunder di wilayah daerah lingkungan kerja sisi darat dan daerah lingkungan kerja pelabuhan yang berwarna hijau muda dengan dimensi lebar 8.0 meter.
3. Dipompakan menuju ke kolam retainer atau kolam pemprosesan antara lain yaitu kolam taman siger, kolam museum, kolam estetika, kolam mall anjungan UMKM lalu dialirkan kembali ke drainase sekunder yang mengelilingi DLKr dan DLKp.
4. Terakhir dialirkan ke drainase primer (warna biru tua) atau sungai menuju embung dan danau kering buatan. Danau kering buatan ini berfungsi sebagai pengisian daerah resapan yang bertujuan untuk mempertahankan posisi muka air tanah.
5. Apabila terjadi over kapasitas, limpahan dari danau kering buatan akan dialirkan ke embung berikutnya yang berelavasi rendah, yaitu kearah timur laut area aerocity menuju ke embung sebelum jalan tol atau rencana jalan kereta api Babaranjang.
3.4.6.5 Masterplan Daerah Lingkungan Kerja Bandar Udara Internasional Radin Inten II
a. Daerah Lingkungan Kerja Sisi Udara
Sumber:Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.39
Daerah Lingkungan Kerja Sisi Udara
Berdasarkan rencana pengembangan Bandar Udara Internasional Radin Inten II Tahun 2019-2039 pada daerah lingkungan kerja sisi udara akan dikembangkan runway eksisiting di titik simpul 1 sesai gambar diatas. Selanjutnya akan dikembangkan taxiway parallel di titik simpul 2, lalu akan dikembangkan juga apron dengan kapasitas 16 nerrow body sampai 4 wide
body) dan titik simpul 4 akan dikembangkan Unit Kerja Pertolongan
b. Daerah Lingkungan Kerja Sisi Darat
Sumber:Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
GAMBAR 3.40
Daerah Lingkungan Kerja Sisi Darat
Berdasarkan rencana pengembangan Bandar Udara Internasional Radin Inten II Tahun 2019-2039 pada daerah lingkungan kerja sisi darat akan dikembangkan dengan keterangan nomor sesuai digamma=bar atas sebagai berikut: 1. Terminal Penumpang 2. Bangunan Penghubung 3. Terminal VIP 4. Terminal Cargo 5. Bangunan EMPU 6. Bangunan GSE Park 7. Bangunan Operasional
Bandar Udara
8. Bangunan Kantor DPBPU 9. Bangunan Hanggar 10. Bangunan Administrasi
Bandar Udara
11. Bangunan Penyimpanan Peralatan Bandar Udara 12. Bangunan Mushola 13. Bangunan Serbaguna 14. Pos jaga
15. Pelataran Parkir Mobil 16. Kantor Polsek
17. BASARNAS
18. Bangunan Jasa Boga 19. Rumah Dinas Kepala
20. Rumah Dinas Kepala Bagian
21. Rumah Dinas Kepalas Seksi 22. Bangunan Asrama Karyawan 23. Bangunan Dormitori Bandar Udara 24. Bangunan Kantin Karyawan
25. Stasiun Bandar Udara 26. Security Check Point
Utama
27. Security Check Point Pendukung
28. Gardu Distribusi E,G,H 29. Chiller AC
30. WTP & WWTP 31. Power House 32. Incenerator
33. Bangunan PK-PPK 34. Alat Bantu Navigasi
Penerbangan
35. Alat Bantu Pendaratan Visual
36. Catu Daya Listrik 37. Pagar
38. Museum BANDAR Udara 39. Pasar Festival
3.4.6.6 Masterplan Daerah Lingkungan Kepentingan Bandar Udara Internasional Radin Inten II
Sumber : Masterplan Bandar Udara Internasional Radin Inten II 2019-2039
Berdasarkan rencana pengembangan Bandar Udara Internasional Radin Inten II Tahun 2019-2039 pada daerah lingkungan kepentingan Bandar Udara Internasional Radin Inten II akan dikembangkan dengan keterangan nomor sesuai digamma=bar atas sebagai berikut:
40. Rusunami 41. Dormitori
EmbarkasiRusunami 42. Sekolah Taman
Kanak-Kanak 43. Sekolah Dasar 44. Musholla Anami 45. Gardu Hubung A 46. Gardu Distribusi B 47. Embarkasi Haji
48. Masjid Embarkasi Haji 49. Kondotel
50. Mall Anjungan UMKM 51. Cluster Fesyen 52. Cluster Kuliner 53. Cluster Kriya 54. Bank Lampung 55. Masjid Anjungan 56. Hotel Bintang 4 57. Gardu Distribusi C 58. Rumah Gajah
59. Rumah Nuwoh Balak 60. Teater Terbuka 61. Rumah Nuwow Sesat 62. Gardu Distribusi D 63. Gedung Rektorat
64. Gedung Kuliah Bersama 65. Gedung Laboratorium 66. Rumah Sakit
67. Terminal Bis Akap
68. Terminal Bis Bandar Udara 69. Halte Bis
70. Jembatan Penyebrangan Orang.