• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN GAYA BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS IV SD NEGERI 060910 MEDAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN GAYA BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS IV SD NEGERI 060910 MEDAN."

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN GAYA

BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR IPS

KELAS IV SD NEGERI 060910 MEDAN

TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Teknologi Pendidikan

Oleh:

LUSIANA SIMAMORA

NIM : 8126121027

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRACT

LusianaSimamora, NIM 8126121027 The effect of instruction strategy and learning style on student achievement of social at grade IV SD Negeri 060910 Medan. Thesis : Post Graduate Program, state university of medan 2015.

The objectives of this research are : (1) to know the students achievement of social science taught by problem based learning and the students achiement taught expository strategy, (2) to know high the students achiement of social science having high learning style and the students achiement of social science having low learning style, and (3) to know there is an interaction between learning strategy and learning style on the students achiement in social science

The population of this research were grade IV of SD Negeri 060910 with 105 students. The sample was done in a cluster random sampling with 80 students

comprising of 42 students of grade IV-B for problem based learning and arother 38 students of grade IV-C for expository instructional strategy. The experiment instruments used by evaluation of learning in form of multiple choice test consist of 38 items with 4 answer options and coefisien reliability 0.934, while getting data of learning style used independent questionnaire having 50 items and coefision reliability o, 896. The normality test used liliefors and the homo geneity test was lisher test and geneity test. The data analysis technique was analysis of variance (ANAVA) two-why at the rever of signifienceα = 0,05 yang Scheffe test. The result of the research showed : (1) the average of the students, achievement taught with problem based learning strategy was X = 28,89 which

was higher than the average of students achievement taught with expository strategy which was X = 27,02 ,dengan Fcount = 16,16 > Ftabel = 3,9 (2) the average

of student achievement it can be conclude that the students having kinestetic learning style should use problem with kinestetic learning style X = 29,9 which was higher than average of students achievement with visual learning style X = 26,33 with Fcount = 4,51 > Ftabel = 3,9, and (3) there was an interaction between instructional strategy and learning style on the students achievement of social with Fcount = 5,38 > Ftabel = 3,9.

(6)

ABSTRAK

Lusiana Simamora, NIM 8126121027. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS Kelas IV SD Negeri 060910 Medan Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan. 2015.

Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran berbasis masalah dan hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori, (2) untuk mengetahui hasil belajar IPSantara siswa dengan gayabelajarrendah dan hasil belajar IPS siswa dengan gayabelajar, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara strategi pembelajaran dan gayabelajarsiswaterhadaphasilbelajar IPS.

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 060910Medan. Populasi terdiri atas tiga kelas yang terdiri atas 105 siswa. Sampel penelitian ditetapkan kelas IV-B yang menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah dan kelas IV-C yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori. Teknik penarikan sampel dilakukan dengan cluster random sampling. Intrumen penelitian

ini untuk mengukur hasil belajar digunakan tes berbentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban dengan jumlah soal sebanyak 38 soal dengan koefisien reliabilitas 0,934sedangkan untuk mendapatkan data tentang gayabelajarsiswa digunakan angket dengan 50 butir soal dan koefisien reliabilitasnya 0,934 Uji normalitas dengan uji Liliefors sedangkan uji homogenitas dengan uji Fisher dan uji Barlett. Teknik analisis data adalah Anava dua jalur pada taraf signifikansi α = 0,05 yang dilanjutkan dengan uji Scheffe.

Hasil penelitian adalah: (1) rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran berbasis masalah X = 28,89 lebih tinggi dari pada rata-rata

hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori X = 27,02

,dengan Fhitung = 16,16> Ftabel = 3,9 (2) rata-rata hasil belajar siswa dengan gayabelajarkinestetikX = 29,9 lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa dengan gayabelajarvisualX= 26,33dengan Fhitung = 4,51> Ftabel = 3,9, (3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan gayabelajarterhadap hasil belajar IPS dengan Fhitung = 5,38> Ftabel = 3,9

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS Kelas SD 060910 Medan”. Sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada program Studi Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Medan.

Dalam menyelesaikan tesis ini penulis banyak menerima dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu penulis mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu demi ketuntasan tesis ini.

Ungkapan terima kasih dan penghargaan ini disampaikan kepada yang terhormat Prof. Dr. H. Muhammad Badiran, M.Pd, sebagai pembimbing I yang penuh kesabaran dan ketulusannya memberikan masukan dan arahan yang begitu berarti bagi penulis, dan kepada Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd, sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan petunjuk serta dorongan yang begitu berarti. Kepada ketiga Narasumber yang terhormat Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd, Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd, Dr. Derlina, M.Si yang telah memberikan masukan dan koreksi serta arahan-arahan untuk perbaikan tesis ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Direktur dan Asisten Direktur Program PascaSarjana Universitas Negeri Medan, Ketua dan Sekretaris Program Studi Teknologi Pendidikan beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan bantuan untuk kelancaran studi selama mengikuti perkuliahan di Program PascaSarjana Universitas Negeri Medan.

2. Bapak dan Ibu dosen pengajar Program Studi Teknologi Pendidikan yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis selama mengikuti perkuliahan.

3. Ibu kepala sekolah HJ. Mery Imawaty Harahap, S.Pd yang telah memberikan izin atas penelitian yang peneliti laksanakan di SD Negeri 060910 Medan.

(8)

5. Rekan-rekan mahasiswa PascaSarjana Universitas Negeri Medan Program Teknologi pendidikan khususnya Angkatan XXII Reguler A-1 yang telah bersama-sama berbagi suka dan duka selama perkuliahan.

6. Sahabat-sahabat sejati Fitri Wetty Siahaan, Bilfery Hutapea, Nezlia Sari Harahap, Harpa Arihta Tarigan, Irene Vania L. Tobing, Julpan Marpaung, Muhammad Isnaini, Asrul dan Ayu Devita, yang penuh kasih sayang serta kesabaran memberikan semangat dan masukan yang sangat berarti bagi penulis.

Penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya bagi semua pihak yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu di sini. Semoga Tuhan yang Maha kuasa membalas segala bentuk kebaikan dengan berlipat ganda. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat dalam menambah Ilmu Pengetahuan bagi dunia pendidikan khususnya di SD 060910 Medan.

Medan, Juni 2015 Penulis,

(9)

DAFTAR ISI

BAB II KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 19

A. KajianTeoretis ... 19

1. Hakikat Hasil Belajar dan Hasil Belajar IPS ... 19

2. Hakikat Strategi Pembelajaran ... 26

a. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 33

b. Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 50

3. Hakikat Gaya Belajar ... 58

a. Gaya Belajar Kinestetik ... 61

b. Gaya Belajar Visual ……… 63

B. Penelitian Yang Relevan ... 66

C. Kerangka Berpikir ………. . 67

1. Perbedaan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Dibelajarkan dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Strategi Pembelajaran Ekspositori ……….. . 67

2. Perbedaan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Gaya Belajar Kinestetik dan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual ... 71

3. Interaksi Antara Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS ... 75

D. Hipotesis ... 77

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 79

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 79

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 79

C. Metode dan Desain Penelitian ... 80

D. Desain Penelitian ... 80

E. Prosedur dan Pelaksanaan Penelitian ... 83

F. Pengontrolan Perlakuan ... 85

(10)

Halaman

H. Uji Coba Instrumen ... 98

I. Teknik Analisa Data ... 99

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 101

A. Deskripsi Data ... 102

1. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 104

2. Hasil Belajar IPS siswa yang diajar dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 105

3. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 106

4. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual …………. 106

5. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ………. 104

6. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Visual ………... 108

7. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Espositori dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ………... 109

8. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori dan Memiliki Gaya Belajar Visual ………. ... 111

B. Pengujian Persyaratan Analisis ……….. 113

C. Pengujian Hipotesis ……… 117

D. Pembahasan Hasil Penelitian ……….. 123

E. Keterbatasan Penelitian ……….. 135

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Perolehan Hasil Nilai Ujian Semester SD Negeri 060910 Medan ... 10

Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 46

Tabel 2.2 Perbedaan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 70

Tabel 2.3 Perbedaan Gaya Belajar Kinestetik dan Gaya Belajar Visual ... 74

Tabel 3.1 Desain Penelitian Eksperimen Faktorial 2 x 2 ... 81

Tabel 3.2 Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 88

Tabel 3.3 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar IPS Sebelum Uji Coba ... 94

Tabel 3.4 Kisi-kisi Tes Gaya Belajar ... 96

Tabel 4.1 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 101

Tabel 4.2 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 103

Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 104

Tabel 4.4 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Memiliki Gaya Belajar Visual ... 105

Tabel 4.5 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 107

Tabel 4.6 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Visual ... 108

Tabel 4.7 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Espositori dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 110

Tabel 4.8 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori dan Memiliki Gaya Belajar Visual ... 111

Tabel 4.9 Rangkuman Analisis Uji Normalitas ... 113

Tabel 4.10 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 116

Tabel 4.11 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Gaya Belajar Kinestetik dan Visual ... 116

Tabel 4.12 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar ... 117

Tabel 4.13 Data Hasil Belajar IPS ... 118

Tabel 4.14 Rangkuman Anava Faktorial 2 x 2 ... 118

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Berbasis

Masalah ... 102 Gambar 4.2 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi

Pembelajaran Ekspositori ... 103 Gambar 4.3 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Dengan Gaya Belajar Kinestetik ... 105 Gambar 4.4 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual .. 106 Gambar 4.5 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi

Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 107 Gambar 4.6 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi

Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Gaya Belajar Visual ... 109 Gambar 4.7 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi

Pembelajaran Ekspositori Dengan Gaya Belajar Kinestetik ... 110 Gambar 4.8 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Silabus ... 144

Lampiran 2 RPP Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 146

Lampiran 3 RPP Strategi Pembelajaran Berbasis Ekspositori ... 153

Lampiran 4 Tes Hasil Belajar ... 161

Lampiran 5 Angket Gaya Belajar Siswa SD Negeri No. 060910 Medan ... 165

Lampiran 6 Data Hasil Belajar IPS ... 170

Lampiran 7 Pengujian Normalitas Data Hasil Belajar IPS ... 172

Lampiran 8 Pengujian Homogenitas Data Hasil Belajar IPS ... 192

Lampiran 9 Pengujian Hipotesis ... 201

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang dicapai oleh

peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan. Seluruh kegiatan

pendidikan, yakni bimbingan pengajaran atau latihan, diarahkan untuk mencapai

tujuan pendidikan itu. Dalam konteks ini tujuan pendidikan merupakan komponen

dari sistem pendidikan perlu memahami dengan baik tujuan pendidikan.

Fungsi pendidikan adalah menghilangkan penderitaan rakyat dari

kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan

akan terhindar dari kebodohan dan kemiskinan, karena dengan modal ilmu

pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya melalui proses pendidikan,

orang akan mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang dihadapinya.

Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tentu sesuai

dengan tingkat pendidikan yang diikutinya. Semakin tinggi pendidikan seseorang,

maka diasumsikan semakin tinggi pengetahuan, keterampilan, dan

kemampuannya. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi pendidikan dapat

meningkatkan kesejahteraan, karena orang yang berpendidikan dapat terhindar

dari kebodohan maupun kemiskinan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa

fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah tujuan yang kita nilai tinggi.

Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik ke

(15)

Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak.

UUPS No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan pada

akhirnya harus berupaya mewujudkan masyarakat yang ditandai adanya keluhuran

budi dalam diri individu, keadilan dalam Negara, dan kehidupan yang lebih

bahagia dan saleh dari setiap individunya. (Sagala, 2012: 10-11).

Fenomena yang banyak ditemukan di dalam kelas membelajarkan IPS

selain dari pada itu pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) atau

komunikasi satu arah, juga terjadi ketidakcocokan antara strategi belajar dan gaya

belajar siswa. Di mana cenderung hanya menggunakan gaya visual saja. Oleh

karena hal tersebut gaya belajar yang dipakai disekolah ada dua yaitu gaya belajar

visual dan gaya belajar kinestetik, yang dapat memberikan inspirasi siswa untuk

dapat mengembangkan motivasi dan kreativitas anak dalam belajar khususnya di

tingkat Sekolah Dasar (SD). Strategi yang artinya bahwa proses belajar mengajar

yang diselenggarakan umumnya berbasis materi (content based). Dalam proses

pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan

berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak

untuk menghafal informasi. Untuk menghasilkan siswa yang unggul sangat

diperlukan suatu bentuk pendidikan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa

dalam hal-hal dasar (the basic). Menurut Buchari (2001:41) bahwa apa yang

dipandang sebagai the basic secara umum ialah segenap kegiatan pendidikan yang

mempersiapkan siswa untuk mampu menjalani kehidupan (preparing children

(16)

terdiri dari pelajaran-pelajaran tentang lingkungan fisik, sosial dan budaya serta

pelajaran-pelajaran yang membawa siswa ke pemahaman diri sendiri. Logika

yang mendasari strategi pendidikan ini ialah mereka yang memahami lingkungan

fisik, sosial dan budayanya serta dirinya sendiri yang dapat mengarungi kehidupan

ini dengan baik, dalam arti mampu hidup dan mampu menyumbangkan sesuatu

kepada kehidupan. Salah satu pelajaran mempersiapkan siswa untuk mampu

hidup dan mampu menyumbangkan sesuatu pada kehidupan adalah Ilmu

Pengetahuan Sosial. Ilmu Pengetahuan Sosial termasuk bagian dari sains baik

dalam arti luas maupun sempit merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Manusia dalam aktifitas sehari-hari bergelut dengan dunia pendidikan baik dari

yang sederhana hingga yang kompleks sifatnya. Menyadari betapa pentingnya dan

urgennya pendidikan sosial, telah banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran sosial di sekolah diantaranya penyempurnaan kurikulum

peningkatan profesionalisme guru, buku-buku penunjang, media pembelajaran,

pengembangan strategi yang lebih relevan dan efektif dalam mencapai tujuan

belajar sosial, dan sebagainya.

Dari tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam kurikulum, sangat jelas

bahwa para guru diharapkan melakukan aktivitas yang dapat membantu siswa

baik dalam pemahaman konsep sains maupun dalam cara bagaimana konsep

tersebut diperoleh (Rohandi, 2000:200). Pendidikan berintikan interaksi antara

pendidikan dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai

tujuan-tujuan pendidikan, sehingga dibutuhkan peran utama guru dalam

(17)

Belajar adalah salah satu topik paling penting di dalam psikologi dewasa

ini, namun konsepnya sulit untuk didefenisikan. American Heritage Dictionary

mendefenisikannya sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension or

mastery through experience or study” Untuk mendapatkan pengetahuan,

pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi. Namun kebanyakan

psikologi menganggap defenisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang sama

di dalamnya, seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang

beberapa tahun belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima defenisi

belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati.

Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku; dengan

kata lain, hasil dari belajar harus selalu diterjemahkan ke dalam perilaku atau

tindakan yang dapat diamati. Setelah menjalani proses belajar, pembelajaran

(learner) akan mampu melakukan sesuatu yang tidak bisu mereka lakukan

sebelum mereka belajar. Kedua, perubahan behavioral ini relatif permanen;

artinya, hanya sementara dan tidak menetap. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak

selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Kendati ada potensi

untuk bertindak secara berbeda, potensi untuk bertindak ini mungkin tidak akan

diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku secara langsung. Keempat, perubahan

perilaku (atau potensi behavioral) berasal dari pengalaman atau praktik. Kelima,

pengalaman, atau praktik, harus diperkuat; artinya, hanya respon-respon yang

menyebab penguatanlah yang akan dipelajari. Meskipun istilah imbalan (reward)

dan penguatan (reinforcement) kerap dianggap sama, namun setidaknya ada dua

alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. Dalam karya Pavlov, misalnya, suatu

(18)

setiap stimulus yang menimbulkan reaksi alamiah dan otomatis dari suatu

organisme.

Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan

maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.

Pembelajar merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh

pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau

murid. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986:195) adalah suatu proses

dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia

turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau

menghasilkan respon terhadap situasi tertentu pembelajar merupakan subset

khusus dari pendidikan.

Fenomena yang terjadi selama ini dalam pendidikan, guru memikirkan apa

yang akan diajarkan kepada siswa, sehingga dalam proses pembelajaran di dalam

kelas guru berperan mendominasi pembelajaran dan siswa hanya sebagai objek

penerima dari informasi yang diberikan oleh guru (teacher centered). Hal ini

terjadi karena guru lebih mengutamakan hasil yang akan dicapai oleh siswa

berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru, baik melalui ulangan harian,

tengah semester maupun ujian akhir semester, sehingga guru memaksakan

informasi yang diberikan kepada siswa untuk dipahami yang akhirnya siswa

hanya menghafal informasi tersebut tanpa mengetahui implementasinya dalam

kehidupan sehari-hariannya.

Menurut Hasratuddin (2002) bahwa salah satu kelemahan metode

pembelajaran yang digunakan oleh guru terlihat dari proses belajar mengajar yang

(19)

pengetahuan kepada siswa, berarti dalam hal ini siswa sebagai objek belajar bukan

sebagai subjek. Pembelajaran selalu berpusat pada guru (teaching centered).

Sudjana dan Daeng Arifin (1998) mengatakan bahwa mengajar tidak semata-mata

berorientasi pada proses (by process) tetapi juga berorientasi pada proses dengan

harapan semakin tinggi pula hasil yang akan dicapai.

Atas dasar pemikiran tersebut perlu ditekankan bahwa pengembangan

strategi mengajar harus diarahkan kepada keaktifan siswa. Dalam merencanakan

dan mengajar mata pelajaran IPS khususnya, pengajar dituntut untuk

merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran agar siswa lebih termotivasi

dalam belajar IPS sehingga memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan

serta intelektual dan sikap untuk mempersiapkan diri menghadapi studi yang lebih

tinggi dan pemakaian IPS itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari maupun di masa

depannya.

Berdasarkan hasil survey pra-penelitian, yang telah dilakukan pada siswa

SD Negeri 060910 Medan diperoleh bahwa adanya kecenderungan siswa yang

menganggap mata pelajaran IPS itu sulit serta dianggap abstrak dan juga

kemampuan guru untuk menerapkan strategi pembelajaran terkesan mononton di

mana tidak diperkaya dengan hal-hal baru yang ikut melibatkan siswa dalam

kegiatan pembelajaran sehingga siswa cenderung untuk hanya menerima dan

menghafal pelajaran tanpa mengetahui hubungan antara pengetahuan yang

diperoleh dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata terutama dalam

memecahkan masalah yang ada di sekitarnya. Sampai sejauh ini pencapaian

tujuan pembelajaran IPS di sekolah belum mencapai hasil sebagaimana

(20)

belajar siswa, baik nilai ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan

semester, maupun dalam hasil ujian nasional untuk mata pelajaran IPS.

Rendahnya minat dan prestasi belajar siswa dalam bidang sosial, termasuk IPS

adalah karena proses belajar mengajar yang kurang mendukung pemahaman anak

didik, terlalu banyak hapalan dan kurang dilengkapi dengan praktek-praktek di

lapangan. Strategi pembelajaran yang kurang bervariasi dapat menyebabkan

turunnya prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPS (Wardiman Joyonegoro

seperti dikutip oleh Ariani, 2003).

SD Negeri. 060910 Medan adalah salah satu sekolah yang juga berusaha

mencapai tujuan pendidikan nasional dalam aspek kegiatan di dalamnya. Visi

Menciptakan tamatan berkualitas dan berbudi luhur serta beriman, bertaqwa pada

Tuhan Yang Maha Esa. Misi dari SD Negeri ini (1) Berupaya meningkatkan

pelaksanaan disiplin sekolah, (2) Menciptakan pelaksanaan proses kegiatan

belajar dan mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna, (3) Menciptakan

suasana kerja sama serta rasa kekeluargaan, (3) Melaksanakan kegiatan

ko-kurikuler dan ekstrako-kurikuler bidang umum dan keagamaan secara optimal. (4)

Menjalin kerja sama dan hubungan baik dengan masyarakat. Tujuan pendidikan

sekolah dasar bertujuan siswa memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta

kemampuan dasar baca tulis hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang

bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta menyiapkan

siswa untuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Sekolah ini aktif

mengadakan kegiatan-kegiatan seperti mengadakan pertunjukkan seni tari daerah

dan drama, pagelaran alat musik rekorder antar sekolah, tarik tambang, lomba

(21)

bersifat ekstrakurikuler. Bahkan seperti halnya sekolah SD Negeri 060910 ini

salah satu gurunya terpilih sebagai guru teladan se-Kota Madya Medan. SD

Negeri 060910 juga pernah mengikutsertakan siswanya untuk mengikuti

Olympiade Smart & Intelligence.

Pendidikan sosial SD bermanfaat bagi siswa untuk memupuk rasa ingin

tahu siswa secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan

keampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta

mengembangkan cara berfikir ilmiah (Usman, 2010). Pendidikan sosial

menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk

mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam

sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu”dan

“berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh yang lebih

mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2004).

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa

tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sebagai berikut: (1)

Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan,

keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, (2) Mengembangkan pengetahuan

dan pemahaman konsep-konsep IPS yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari, (3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan

kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antar IPS,

lingkungan, teknologi dan masyarakat; (4) Mengembangkan keterampilan proses

untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan

(transaction position); (5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam

(22)

kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya Memperoleh bekal

pengetahuan, konsep dan keterampilan IPS sebagai dasar untuk melanjutkan

pendidikan ke SMP/MTs. Maksud dan tujuan tersebut adalah agar anak memiliki

pengetahuan tentang gejala sosial dan berbagai jenis dan peran lingkungan alam

dari lingkungan buatan dengan melalui pengamatan agar siswa mampu

mengetahui dasar mengenai IPS.

Dalam standar kompetensinya aspek kerja ilmiah bukanlah bahan ajar,

melainkan cara untuk menyampaikan bahan pembelajaran. Oleh karena itu, aspek

kerja ilmiah terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan kegiatan dalam

aspek ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, artinya perlu mengikuti

seluruh aspek pada setiap kegiatan.

Salah satu materi pelajaran IPS adalah Koperasi. Yang terdiri dari :

pengertian koperasi, tujuan dan manfaat koperasi, macam-macam koperasi, dan

pentingnya usaha bersama dalam koperasi. Berdasarkan UUD 1945, BAB XIV

Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai

usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. Menurut para ahli ekonomi,

lembaga atau badan perekonomian yang paling cocok dengan maksud Pasal 33

ayat (1) UUD 1945 adalah koperasi. Guru kurang mampu menjelaskan pengertian

koperasi secara aktif karena guru cenderung melakukan strategi ekspositori

sehingga siswa banyak mengalami kesulitan, ini terbukti dari hasil ulangan siswa

yang menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal

yang berkaitan dengan topik ini. Maka dalam proses pembelajaran strategi yang

tepat harus dilakukan dengan agar dapat membantu siswa dalam memahami

(23)

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPS

masih berorientasi pada guru, yaitu guru masih menekankan pada peran sebagai

penyampai materi pelajaran yang disampaikan dengan strategi pembelajaran

ekspositori yang umumnya digunakan oleh guru karena guru merasa dengan

strategi pembelajaran tersebut cukup efektif untuk menyampaikan materi

pelajaran secara tuntas tanpa melihat hasil atau kualitas siswa dalam memahami

makna pelajaran IPS.

Rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS juga terjadi di SD

Negeri 060910 Medan. Berdasarkan data pada tiga terakhir untuk nilai ujian akhir

semester IPS SD Negeri 060910 Medan seperti terlihat pada Tabel 1.1 berikut ini.

Tabel 1.1 Perolehan Hasil Nilai Ujian Semester IPS SD Negeri 060910 Medan

No. Tahun Pelajaran Rata-rata Nilai Ujian Semester IPS

1. 2010/2011 6,80

2. 2011/2012 6,87

3. 2012/2013 7,30

Sumber SD Negeri 060910 Medan

Jika dilihat dari rata-rata perolehan hasil ujian akhir nasional seperti pada

tabel di atas, meski terjadi peningkatan, namun peningkatan tersebut masih belum

mencapai standar ketuntasan yang ditetapkan sekolah dalam Kriteria Ketuntasan

Minimal. (KKM) yaitu 7,00.

Setelah ditelusuri ternyata rendahnya kualitas pendidikan di sekolah

karena kurangnya pemahaman guru tentang variasi strategi pembelajaran dan

belum menerapkan pengelompokkan siswa sesuai dengan tipe atau

karakteristiknya. Strategi pembelajaran yang selama ini digunakan tipe oleh guru

di SD Negeri. 060910 Medan adalah problem based learning (strategi

(24)

diperkirakan menjadi salah satu penyebab rendahnya hasil belajar IPS siswa.

Untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal, banyak faktor yang

mempengaruhinya, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor

internal mencakup semua faktor fisik dan psikologi dalam diri siswa seperti minat,

intelegensi, bakat, tingkat kecerdasan dan faktor lainnya. Faktor eksternal

mencakup lingkungan dan instrumen seperti kurikulum, program, sarana, metode,

strategi, dan lain sebagainya. Hasil belajar IPS yang rendah dapat disebabkan

beberapa hal seperti, kurikulum yang tidak relevan, metode yang kurang tepat,

strategi pembelajaran yang kurang bervariasi dan faktor internal dalam dalam diri

siswa seperti kurangnya pemahaman dan penguasaan materi pelajaran, kesalahan

konsep siswa dalam beberapa pokok bahasan dan kurangnya pemahaman akan

gaya belajar siswa.

Guru seharusnya menggunakan berbagai strategi pembelajaran agar dapat

memberi daya tarik kepada siswa. Kesulitan yang paling sering dihadapi siswa

biasanya untuk memahami konsep dan prinsip-prinsip dari materi yang dipelajari.

Di samping itu kesulitan lain juga akibat dari kurangnya interaksi dan kreasi

dalam menyelesaikan tugas belajar. Hal ini berawal dari kurangnya strategi yang

dilakukan guru dalam membimbing siswa agar mampu memecahkan masalah baru

yang dihadapinya dalam belajar. Guru sering terpaku hanya dengan satu strategi

yang dianggapnya paling sederhana dan mudah dilakukan seperti ceramah.

Penggunaan strategi pembelajaran ekspositori ini belum memberikan hasil belajar

yang maksimal untuk pelajaran IPS karena hanya guru yang mampu membaca

teks IPS tersebut dengan banyaknya pengalaman yang dimilikinya tanpa

(25)

hanya terpaku pada tugas-tugas yang diberikan guru. Guru tidak mencoba dengan

strategi yang lain seperti strategi pembelajaran kebermaknaan yang akhir-akhir ini

banyak dibicarakan orang. Strategi pembelajaran dengan ceramah bukan tidak

memberi hasil, tetapi satu strategi belum tentu sesuai dengan materi yang berbeda

dan tujuan yang berbeda. Guru harus mampu menggunakan strategi mengajar

yang bervariasi, dan membuat keputusan yang tepat kapan masing-masing strategi

itu digunakan paling efektif.

Dengan kondisi belajar seperti ini akibatnya siswa kurang berani untuk

mengungkapkan gagasannya karena takut salah. Dengan memperhatikan hal

tersebut, salah satu upaya yang perlu dilakukan guru adalah menerapkan strategi

pembelajaran yang tepat agar pembelajaran memberikan hasil yang lebih baik

sekaligus hasil belajar tersebut bermakna bagi siswa.

Kunci menuju keberhasilan dalam belajar dan bekerja adalah mengetahui

gaya belajar atau bekerja yang unik dari setiap orang, menerima kekuatan

sekaligus kelemahan diri sendiri, dan sebanyak mungkin menyesuaikan preferensi

pribadi dalam setiap situasi pembelajaran, pengkajian maupun pekerja (Prashning,

1998:29).

Dalam konteks ini, pembelajaran IPS akan lebih menyenangkan, sangat

mudah, tanpa ketegangan dan memberikan kesan yang mendalam jika guru

mampu menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan memahami gaya

belajar siswa di mana diharapkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan

yang ditransfer oleh guru, tetapi hendaknya siswa dapat menemukan sendiri suatu

pengetahuan. Pengetahuan yang mereka temukan hendaknya dapat pula

(26)

temukan dalam kehidupannya sehari-hari. Permasalahan-permasalahan yang

dihadapi siswa baik menyangkut dirinya sendiri maupun lingkungannya dapat

dijadikan sebagai bahan acuan dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran.

Strategi pembelajaran yang efektif dalam penelitian ini adalah Strategi

pembelajaran berdasarkan masalah.

Reigeluth (1983), mengemukakan bahwa hasil belajar berhubungan

dengan interaksi antara strategi pembelajaran dan kondisi pengajaran yang di

dalamnya termasuk karakteristik siswa. Selanjutnya Dick and Carey (2005)

menyatakan bahwa guru hendaknya mampu mengenal dan mengetahui

karakteristik siswa, sebab pemahaman yang baik terhadap keberhasilan proses

belajar siswa apabila guru telah mengetahui karakteristik siswanya maka

selanjutnya guru dapat menyesuaikan dengan strategi pembelajaran yang akan

digunakan. Salah satu karakteristik siswa adalah gaya belajar siswa. Gaya belajar

yang dapat dilihat dari tingkah laku siswa, yaitu sebagai berikut: (a) individu yang

memiliki kemampuan belajar visual, dan (b) indvidu yang memiliki kemampuan

belajar kinestetik (DePorter & Hemack, 2003).

Fenomena yang terjadi di dalam kelas dalam membelajarkan IPS, selain

dari pembelajaran yang berpusat pada guruatau komunikasi satu arah, juga terjadi

ketidakcocokan antara strategi belajar dan gaya belajar siswa. Di mana siswa

cenderung hanya menggunakan gaya belajar visual saja. Oleh karena hal tersebut

gaya belajar yang akan diterapkan adalah gaya belajar visual dan gaya belajar

kinestetik, yang dapat memberikan inspirasi siswa untuk dapat mengembangkan

motivasi dan kreativitasnya dalam pembelajaran khususnya di tingkat sekolah

(27)

Berdasarkan tuntutan dari mata pelajaran IPS, siswa hendaknya lebih

banyak aktif belajar dengan kognitifnya untuk itu peneliti melihat adanya

hubungan yang diteliti yaitu gaya belajar mana yang nantinya dominan dan

mendukung kesiapan siswa dan keterampilannya dalam pembelajaran IPS. Dalam

hal ini diteliti dapat menggambarkan bahwa masalah dalam pembelajaran IPS

adalah perlu adanya kajian terhadap mata pelajaran IPS sehingga ditemukan

strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan gaya belajar siswa yang akan

memudahkan bagi siswa dalam memecahkan berbagai persoalan yang

berhubungan dengan penemuan konsep-konsep dalam pembelajaran IPS untuk

meningkatkan hasil belajarnya, dimana hasil belajar tersebut mencakup kedalam

tiga ranah; (1) ranah kognitif, yang mengacu pada respon-respon intelektual

seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi, (2)

ranah afektif, yang mengacu pada respon-respon sikap, dan (3) ranah psikomotor,

yang berhubungan dengan perbuatan fisik (Bloom, 1986).

Penelitian insentif yang dilakukan oleh Ken dan Rita Dunn seperti dikutip

oleh Ramly (2004) mengidentifikasi tiga jenis gaya belajar yang dapat dijadikan

sebagai talenta manusia, yakni: (1) gaya belajar visual; gaya belajar yang

didominasi oleh kekuatan “melihat”. Dalam perilaku sehari-hari, mereka yang

didominasi gaya belajar visual suka melihat gambar, peragaan atau menyaksikan

video baik yang tampak maupun yang tidak, (2) gaya belajar auditorial; gaya

belajar yang didominasi oleh kekuatan “mendengar”. Dalam perilaku sehari-hari,

mereka yang didominasi gaya belajar auditori, suka mendengarkan kaset audio,

ceramah, diskusi, debat, baik yang tampak melalui panca indera maupun tidak, (3)

(28)

keterlibatan langsung. Dalam perilaku sehari-hari, orang yang didominasi gaya

belajar kinestetik, suka bergerak, menyentuh dan merasakan langsung baik yang

tampak memalui panca indera maupun tidak.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik dan termotivasi untuk

meneliti pengaruh antara strategi pembelajaran berbasis masalah dengan gaya

belajar terhadap hasil belajar IPS siswa SD Neg 060910 Medan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dirumuskan, dapat

diidentifikasi bahwa masalah yang sangat esensial dalam dunia pendidikan adalah

rendahnya mutu pendidikan khususnya mata pelajaran IPS SD yang dilihat dari

hasil belajar yang diperoleh siswa. Dari fenomena tersebut akan menumbuhkan

beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan rendahnya hasil belajar IPS SD

yakni sebagai berikut: (1) Apakah perkembangan pendidikan di Indonesia masih

termasuk rendah dibandingkan pendidikan di negara-negara lain? (2) Apakah

penguasaan guru masih rendah terhadap teori-teori belajar? (3) Apakah persiapan

guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran masih jauh dari yang diharapkan?

(4) Apakah guru kurang terampil mempergunakan strategi pembelajaran? (5)

Apakah hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran

masalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan

strategi pembelajaran ekspositori? (6) Apakah motivasi guru dan siswa yang

rendah? (7) Apakah strategi pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap hasil

belajar IPS siswa? (8) Apakah gaya belajar siswa berpengaruh dalam peningkatan

(29)

gaya belajar terhadap hasil belajar IPS siswa? (10) Apakah strategi pembelajaran

berbasis masalah lebih mendorong tercipta suasana belajar yang aktif? (11)

Apakah strategi pembelajaran berbasis masalah lebih membantu siswa

menyimpan pengetahuannya dalam long-term memory?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang dapat diidentifikasi tersebut menunjukkan

banyak masalah yang dapat dikaji sehubungan dengan hasil belajar IPS siswa di

SD. Mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan dana, maka perlu dibuat

pembatasan masalah agar penelitian lebih terarah dan fokus dalam mencapai

tujuan penelitian. Penelitian ini dibatasi pada ranah kognitif dalam mata pelajaran

IPS yang secara khususnya standar kompetensi memahami peranan koperasi

dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian strategi pembelajaran serta gaya belajar

dalam hubungannya dengan karakteristik siswa. Penelitian ini difokuskan pada

penggunaan strategi pembelajaran berbasis masalah dan strategi ekspositori serta

gaya belajar kinestetik dan visual yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS

SD Negeri 060910 Medan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dalam

penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan, sebagai berikut:

1. Apakah hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi

pembelajaran masalah lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang

(30)

2. Apakah hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih

tinggi dibandingkan hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar

visual?

3. Apakah ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya belajar terhadap

hasil belajar IPS siswa?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menguji bahwa:

1. Hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran

masalah lebih tinggi dari pada hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan

dengan strategi pembelajaran ekspositori.

2. Hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih tinggi dari

pada hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar visual.

3. Terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya belajar

terhadap hasil belajar IPS siswa.

F. Manfaat Penelitian

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat

secara teoretis dan praktis.

1. Manfaat teoritis yakni: (a) Untuk memperkaya dan melengkapi khasanah ilmu

pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan strategi pembelajaran di

tingkat SD, (b) Sumbangan pemikiran bagi guru, pengelola, pengembang dan

lembaga-lembaga pendidikan dalam menanggapi dinamika kebutuhan peserta

didik, dan (c) Bahan perbandingan bagi peneliti yang lain, yang membahas

(31)

2. Manfaat praktis, antara lain: (a) Bagi guru IPS di SD, sebagai bahan

pertimbangan dan informasi dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran

IPS, (b) Bagi siswa, untuk menemukan efektivitas proses pembelajaran, serta

cara belajar dari kebiasaannya (manfaat tingkah laku), (c) Bagi sekolah,

sebagai bahan masukan dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk

meningkatkan mutu pendidikan, (d) Sebagai bahan pertimbangan bagi

penentu kebijakan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran IPS di SD,

dan (e) Upaya meningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan peneliti

dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian dan aplikasi

(32)

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Simpulan

Simpulan-simpulan yang dapat ditarik dari hasil pengujian hipotesis adalah

sebagai berikut :

1. Hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 060910yang diajar dengan

strategi pembelajaran Berbasis Masalah lebih tinggi dibandingkan dengan

hasil belajar IPS siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran

ekspositori.

2. Hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 060910 yang memiliki gaya

belajar kinetetik lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang

memiliki gaya belajar visual.

3. Terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dengan gaya belajar dimana

siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih tepat diajar menggunakan strategi

pembelajaran Berbasis masalah, sedangkan siswa dengan gaya belajar visual

lebih tepat diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori.

B. Implikasi

Pertama, hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya

pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS.

Hal ini memberikan penjelasan dan penegasan bahwa strategi pembelajaran

merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian untuk meningkatkan hasil

belajar IPS siswa. Hal ini dapat dimaklumi karena melalui penerapan strategi

(33)

pembelajaran yang pada akhirnya dapat membawa keberhasilan dan ketercapaian

tujuan pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian konsekuensinya apabila strategi

pembelajaran yang kurang tepat maka tentu akan berakibat berkurangnya pula

partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Melalui penelitian ini menunjukkan

bahwa secara rata-rata hasil belajar IPS siswa lebih tinggi dengan menggunakan

strategi pembelajaran Berbasis masalah dari pada strategi pembelajaran

Ekspositori. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran Berbasis masalah

lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa, karena dalam

pembelajaran yang menerapkan strategi pembelajaran Berbasis masalah, siswa

cenderung untuk lebih banyak bebas mengkonstruk pengetahuannya dan

menerapkan ilmu yang didapatkan dari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari

dan siswa lebih mudah memahami pelajaran karena adaanya diskusi antara siswa

didalam pembelajaran berbasis masalah.

Konsekuensi logis dari pengaruh penerapan strategi pembelajaran terhadap

hasil belajar IPS kepada guru-guru untuk melaksanakan strategi pembelajaran

Berbasis masalah. Dengan menggunakan strategi pembelajaran Berbasis masalah

diharapkan guru-guru dapat membangkitkan dan memotivasi mahasiswa dalam

belajar dan meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa terhadap pelajaran IPS dan

dapat mencipatakan suasana yang lebih interaktif dan efektif dalam mencapai

tujuan pembelajaran. Untuk melaksanakan strategi pembelajaran Berbasis

masalah maka guru-guru harus terlebih dahulu dituntut menguasai

tahapan-tahapan yang terdapat dalam strategi pembelajaran Berbasis masalah.

Kedua, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gaya belajar siswa

(34)

mempunyai hasil belajar yang tinggi atau unggul dibandingkan dengan siswa yang

memiliki gaya belajar visual. Gaya belajar yang dipilah atas kemampuan gaya

belajar kinestetik dan gaya belajar visual ditentukan dari cara angket. Siswa

dengan gaya belajar kinestetik memiliki cara belajar melalui gerakan dan interaksi

kelompok, paling baik menghafal informasi dengan mengasosiasikan gerakan

dengan setiap fakta dan siswa ini menyukai proyek sehingga sesuai dengan

pelajaran IPS yang bersifat sosial. Dengan demikian konsekuensinya apabila

siswa dengan gaya belajar kinestetik maka akan maksimal pula pencapaian hasil

belajar IPSnya, sebaliknya berbeda dengan yang terjadi pada siswa yang memiliki

gaya belajar visual tingkat pencapaian belajarnya kurang maksimal.

Konsekuensi logis dari pengaruh gaya belajar terhadap hasil belajar IPS

berimplikasi pada guru mata pelajaran IPS untuk melakukan identifikasi dan

prediksi didalam menentukan gaya belajar. Apabila gaya belajar siswa dapat

dikelompokkan maka guru pengampu mata pelajaran dapat menerapkan

rencana-rencana pembelajaran dan strategi-strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai

dengan kemampuan gaya belajar siswa.

Ketiga, hasil penelitian juga menunjukkan terdapat interaksi strategi

pembelajaran dan gaya belajar terhadap hasil belajar IPS. Interaksi tersebut

terindikasi dari siswa dengan kemampuan gaya belajar kinestetik yang diajar

dengan strategi pembelajaran Berbasis masalah secara rata-rata mempunyai hasil

belajar IPS yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan strategi

pembelajaran Ekspositori. Sedangkan bagi siswa dengan gaya belajar visual

secara rata-rata hasil belajar IPS yang diajar dengan strategi pembelajaran

(35)

diajarkan menggunakan strategi pembelajaran Ekspositori. Dengan demikian

dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran Berbasis masalah lebih tepat

digunakan bagi siswa yang memiliki karakteristik yang memiliki gaya belajar

kinestetik, sedangkan strategi pembelajaran Ekspositori lebih tepat digunakan bagi

siswa dengan karakteristik gaya belajar visual.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil

belajar IPS dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan

gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini guru dan siswa mempunyai

peranan yang sama dan berarti untuk meningkatkan hasil belajar IPS itu sendiri,

sehingga dengan demikian untuk mencapai hasil belajar yang maksimal maka

kedua variabel tersebut yaitu strategi pembelajaran dan gaya belajar perlu menjadi

perhatian sekaligus.

Konsekuensi logis dari interaksi strategi pembelajaran dan gaya belajar

berimplikasi kepada guru dan siswa. Untuk guru, agar dapat memahami dan

tentunya melaksanakan dengan baik penerapan strategi pembelajaran Berbasis

masalah dalam pembelajaran di kelas karena melalui penelitian ini terbukti efektif

untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa.

.

C. Saran-Saran

Dari hasil temuan-temuan penelitian sebelumnya maka dapatlah

disampaikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Tujuan akhir pembelajaran IPS adalah mengaharapkan siswa

berkompeten dalam bidang IPS dan terampil dalam menjalani kehidupan

(36)

strategi pembelajaran Berbasis masalah dalam pembelajaran IPS

agarhasil belajar tersebut meningkat.

2. Disarankan bagi guru-guru sebagai perancang pembelajaran

memperhatikan gaya belajar siswa dalam merancang pembelajaran

sehingga dengan demikian guru dapat menetapkan strategi pembelajaran

yang lebih sesuai untuk dilaksanakan karena strategi pembelajaran dan

gayabelajar merupakan suatu komponen yang dapat menentukan dan

memengaruhi hasil belajar.

3. Disarankan kepada guru-guru dalam kegiatan pembelajaran perlu

menetapkan strategi pembelajaran Berbasis masalah dalam pembelajaran

IPS, karena strategi pembelajaran Berbasis masalah memberikan hasil

yang lebih tinggi dalam mata pelajaran IPS dibandingkan dengan strategi

pembelajaran Ekspositori.

4. Kepada peneliti lain disarankan untuk penelitian ini agar menerapkan

strategi pembelajaran Berbasis masalah dan pembelajaran Ekspositori

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M.T (2009). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Arends, R.I. (2008). Learning to Teach, Fifth Edition. New York. McGraw-Hill, Inc

Buchary, M. 2001. Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Kanisius

DePorter. B.dan Mike Hernacki. 2000. Quantum Learning MembiasakanBelajarNyamandanMenyenangkan; Penerjemah. Alwiyah

Abdurrahman. Bandung:Kaifa.

Dick & Carey. 2001. The Systematic Design of Instriction. New York: Wesley Education.

Dick, & Carey. 2000. The Systematic Design of Instruction. Glenview, Illinois: School, Foresman and Company.

Dryden & Jeannette. 2002. Sex Diffrences and Apologis: One Aspect of Communicative Competence, Apllied Linguistic.

Gulo, W. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Gunawan, W, Adi. 2007. Genius Learning Strategy. Jakarta, Gramedia.

Meier, D. 2005. The accelerated Learning. Bandung : Mizan Pustaka.

Mujis, D. Dan Reynold D. (2008). Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Penerjemah: Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyani Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajaran

Nasution. S. 2006. BerbagaiPendekatan dalam Proses BelajarMengajar. Jakarta:BumiAksara

Nurhadi. (2004). Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo

Prashning, B. The Power of Learning Styles (Penerjemah: Fauziah, N). Bandung: Khaifa

Reigeluth, C.M. 1983. Intructional Design Theory of Models: An Overview of the

(38)

Riyanto, Y. (2010). Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Rohandi, A. dan Ahmadi, A. 2000. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Sagala, S. 2012.Konsep Dan Makna Pembelajaran. (edisi ke 10 cetakan 10, Bandung: Penerbit ALFABETA

Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Slameto. 1995. BelajardanFaktor-Faktor Yang Menpengaruhinya. Jakarta: RinekaCipta

Slavin, R.E 2009. Cooperative Learning, Teori, Riset dan Praktek. Bandung: Nusa Media

Sudjana, N. (1996). Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo

_________. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius

Trianto. 2009. Mendesain Model Pemebelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

______. 2007. Model PembelajaranTerpadu dalamTeoridanPraktek, Prestasi Pustaka, Jakarta

Wena, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan

Gambar

Gambar 4.1  Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Berbasis   Masalah  ........................................................................................................
Tabel 1.1 Perolehan Hasil Nilai Ujian Semester IPS SD Negeri 060910 Medan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar akuntansi yang diajar dengan strategi pembelajaran higher order thinking lebih tinggi daripada hasil belajar

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran pemecahan masalah sistematis dan hasil

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS materi Koperasi dengan penggunaan Strategi Question Flag pada siswa kelas IV SD Negeri 01

pelajaran IPS Terpadu. Sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah :.. Untuk menguji hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diajarkan dengan strategi. pembelajaran berbasis

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil belajar IPS dengan penerapan kolaborasi strategi pembelajaran CIRC dan quick on the draw

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil belajar IPS dengan penerapan kolaborasi strategi pembelajaran CIRC dan quick on the

Hasil belajar IPS siswa dengan kemampuan verbal tinggi yang diajar dengan strategi pembelajaran Kooperatif TGT berbeda signifikan dengan hasil belajar IPS siswa

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI DAGEN 01 JATEN.. KARANGANYAR TAHUN