PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN GAYA
BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR IPS
KELAS IV SD NEGERI 060910 MEDAN
TESIS
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi Teknologi Pendidikan
Oleh:
LUSIANA SIMAMORA
NIM : 8126121027
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
ABSTRACT
LusianaSimamora, NIM 8126121027 The effect of instruction strategy and learning style on student achievement of social at grade IV SD Negeri 060910 Medan. Thesis : Post Graduate Program, state university of medan 2015.
The objectives of this research are : (1) to know the students achievement of social science taught by problem based learning and the students achiement taught expository strategy, (2) to know high the students achiement of social science having high learning style and the students achiement of social science having low learning style, and (3) to know there is an interaction between learning strategy and learning style on the students achiement in social science
The population of this research were grade IV of SD Negeri 060910 with 105 students. The sample was done in a cluster random sampling with 80 students
comprising of 42 students of grade IV-B for problem based learning and arother 38 students of grade IV-C for expository instructional strategy. The experiment instruments used by evaluation of learning in form of multiple choice test consist of 38 items with 4 answer options and coefisien reliability 0.934, while getting data of learning style used independent questionnaire having 50 items and coefision reliability o, 896. The normality test used liliefors and the homo geneity test was lisher test and geneity test. The data analysis technique was analysis of variance (ANAVA) two-why at the rever of signifienceα = 0,05 yang Scheffe test. The result of the research showed : (1) the average of the students, achievement taught with problem based learning strategy was X = 28,89 which
was higher than the average of students achievement taught with expository strategy which was X = 27,02 ,dengan Fcount = 16,16 > Ftabel = 3,9 (2) the average
of student achievement it can be conclude that the students having kinestetic learning style should use problem with kinestetic learning style X = 29,9 which was higher than average of students achievement with visual learning style X = 26,33 with Fcount = 4,51 > Ftabel = 3,9, and (3) there was an interaction between instructional strategy and learning style on the students achievement of social with Fcount = 5,38 > Ftabel = 3,9.
ABSTRAK
Lusiana Simamora, NIM 8126121027. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS Kelas IV SD Negeri 060910 Medan Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan. 2015.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran berbasis masalah dan hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori, (2) untuk mengetahui hasil belajar IPSantara siswa dengan gayabelajarrendah dan hasil belajar IPS siswa dengan gayabelajar, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara strategi pembelajaran dan gayabelajarsiswaterhadaphasilbelajar IPS.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 060910Medan. Populasi terdiri atas tiga kelas yang terdiri atas 105 siswa. Sampel penelitian ditetapkan kelas IV-B yang menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah dan kelas IV-C yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori. Teknik penarikan sampel dilakukan dengan cluster random sampling. Intrumen penelitian
ini untuk mengukur hasil belajar digunakan tes berbentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban dengan jumlah soal sebanyak 38 soal dengan koefisien reliabilitas 0,934sedangkan untuk mendapatkan data tentang gayabelajarsiswa digunakan angket dengan 50 butir soal dan koefisien reliabilitasnya 0,934 Uji normalitas dengan uji Liliefors sedangkan uji homogenitas dengan uji Fisher dan uji Barlett. Teknik analisis data adalah Anava dua jalur pada taraf signifikansi α = 0,05 yang dilanjutkan dengan uji Scheffe.
Hasil penelitian adalah: (1) rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran berbasis masalah X = 28,89 lebih tinggi dari pada rata-rata
hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori X = 27,02
,dengan Fhitung = 16,16> Ftabel = 3,9 (2) rata-rata hasil belajar siswa dengan gayabelajarkinestetikX = 29,9 lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa dengan gayabelajarvisualX= 26,33dengan Fhitung = 4,51> Ftabel = 3,9, (3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan gayabelajarterhadap hasil belajar IPS dengan Fhitung = 5,38> Ftabel = 3,9
KATA PENGANTAR
Puji syukur disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS Kelas SD 060910 Medan”. Sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada program Studi Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Medan.
Dalam menyelesaikan tesis ini penulis banyak menerima dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu penulis mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu demi ketuntasan tesis ini.
Ungkapan terima kasih dan penghargaan ini disampaikan kepada yang terhormat Prof. Dr. H. Muhammad Badiran, M.Pd, sebagai pembimbing I yang penuh kesabaran dan ketulusannya memberikan masukan dan arahan yang begitu berarti bagi penulis, dan kepada Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd, sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan petunjuk serta dorongan yang begitu berarti. Kepada ketiga Narasumber yang terhormat Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd, Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd, Dr. Derlina, M.Si yang telah memberikan masukan dan koreksi serta arahan-arahan untuk perbaikan tesis ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Direktur dan Asisten Direktur Program PascaSarjana Universitas Negeri Medan, Ketua dan Sekretaris Program Studi Teknologi Pendidikan beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan bantuan untuk kelancaran studi selama mengikuti perkuliahan di Program PascaSarjana Universitas Negeri Medan.
2. Bapak dan Ibu dosen pengajar Program Studi Teknologi Pendidikan yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis selama mengikuti perkuliahan.
3. Ibu kepala sekolah HJ. Mery Imawaty Harahap, S.Pd yang telah memberikan izin atas penelitian yang peneliti laksanakan di SD Negeri 060910 Medan.
5. Rekan-rekan mahasiswa PascaSarjana Universitas Negeri Medan Program Teknologi pendidikan khususnya Angkatan XXII Reguler A-1 yang telah bersama-sama berbagi suka dan duka selama perkuliahan.
6. Sahabat-sahabat sejati Fitri Wetty Siahaan, Bilfery Hutapea, Nezlia Sari Harahap, Harpa Arihta Tarigan, Irene Vania L. Tobing, Julpan Marpaung, Muhammad Isnaini, Asrul dan Ayu Devita, yang penuh kasih sayang serta kesabaran memberikan semangat dan masukan yang sangat berarti bagi penulis.
Penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya bagi semua pihak yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu di sini. Semoga Tuhan yang Maha kuasa membalas segala bentuk kebaikan dengan berlipat ganda. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat dalam menambah Ilmu Pengetahuan bagi dunia pendidikan khususnya di SD 060910 Medan.
Medan, Juni 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
BAB II KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 19
A. KajianTeoretis ... 19
1. Hakikat Hasil Belajar dan Hasil Belajar IPS ... 19
2. Hakikat Strategi Pembelajaran ... 26
a. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 33
b. Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 50
3. Hakikat Gaya Belajar ... 58
a. Gaya Belajar Kinestetik ... 61
b. Gaya Belajar Visual ……… 63
B. Penelitian Yang Relevan ... 66
C. Kerangka Berpikir ………. . 67
1. Perbedaan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Dibelajarkan dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Strategi Pembelajaran Ekspositori ……….. . 67
2. Perbedaan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Gaya Belajar Kinestetik dan Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual ... 71
3. Interaksi Antara Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar IPS ... 75
D. Hipotesis ... 77
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 79
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 79
B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 79
C. Metode dan Desain Penelitian ... 80
D. Desain Penelitian ... 80
E. Prosedur dan Pelaksanaan Penelitian ... 83
F. Pengontrolan Perlakuan ... 85
Halaman
H. Uji Coba Instrumen ... 98
I. Teknik Analisa Data ... 99
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 101
A. Deskripsi Data ... 102
1. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 104
2. Hasil Belajar IPS siswa yang diajar dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 105
3. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 106
4. Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual …………. 106
5. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ………. 104
6. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Visual ………... 108
7. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Espositori dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ………... 109
8. Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori dan Memiliki Gaya Belajar Visual ………. ... 111
B. Pengujian Persyaratan Analisis ……….. 113
C. Pengujian Hipotesis ……… 117
D. Pembahasan Hasil Penelitian ……….. 123
E. Keterbatasan Penelitian ……….. 135
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Perolehan Hasil Nilai Ujian Semester SD Negeri 060910 Medan ... 10
Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 46
Tabel 2.2 Perbedaan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 70
Tabel 2.3 Perbedaan Gaya Belajar Kinestetik dan Gaya Belajar Visual ... 74
Tabel 3.1 Desain Penelitian Eksperimen Faktorial 2 x 2 ... 81
Tabel 3.2 Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 88
Tabel 3.3 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar IPS Sebelum Uji Coba ... 94
Tabel 3.4 Kisi-kisi Tes Gaya Belajar ... 96
Tabel 4.1 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 101
Tabel 4.2 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 103
Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 104
Tabel 4.4 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Memiliki Gaya Belajar Visual ... 105
Tabel 4.5 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 107
Tabel 4.6 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Visual ... 108
Tabel 4.7 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Espositori dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 110
Tabel 4.8 Daftar Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Siswa yang Diajar Dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori dan Memiliki Gaya Belajar Visual ... 111
Tabel 4.9 Rangkuman Analisis Uji Normalitas ... 113
Tabel 4.10 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Strategi Pembelajaran Ekspositori ... 116
Tabel 4.11 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Gaya Belajar Kinestetik dan Visual ... 116
Tabel 4.12 Rangkuman Analisis Uji Homogenitas Kelompok Sampel Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar ... 117
Tabel 4.13 Data Hasil Belajar IPS ... 118
Tabel 4.14 Rangkuman Anava Faktorial 2 x 2 ... 118
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 4.1 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi Berbasis
Masalah ... 102 Gambar 4.2 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi
Pembelajaran Ekspositori ... 103 Gambar 4.3 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Dengan Gaya Belajar Kinestetik ... 105 Gambar 4.4 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Memiliki Gaya Belajar Visual .. 106 Gambar 4.5 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi
Pembelajaran Berbasis Masalah dan Memiliki Gaya Belajar Kinestetik ... 107 Gambar 4.6 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi
Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Gaya Belajar Visual ... 109 Gambar 4.7 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi
Pembelajaran Ekspositori Dengan Gaya Belajar Kinestetik ... 110 Gambar 4.8 Histogram Hasil Belajar IPS Siswa Yang Diajar Dengan Strategi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Silabus ... 144
Lampiran 2 RPP Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah ... 146
Lampiran 3 RPP Strategi Pembelajaran Berbasis Ekspositori ... 153
Lampiran 4 Tes Hasil Belajar ... 161
Lampiran 5 Angket Gaya Belajar Siswa SD Negeri No. 060910 Medan ... 165
Lampiran 6 Data Hasil Belajar IPS ... 170
Lampiran 7 Pengujian Normalitas Data Hasil Belajar IPS ... 172
Lampiran 8 Pengujian Homogenitas Data Hasil Belajar IPS ... 192
Lampiran 9 Pengujian Hipotesis ... 201
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang dicapai oleh
peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan. Seluruh kegiatan
pendidikan, yakni bimbingan pengajaran atau latihan, diarahkan untuk mencapai
tujuan pendidikan itu. Dalam konteks ini tujuan pendidikan merupakan komponen
dari sistem pendidikan perlu memahami dengan baik tujuan pendidikan.
Fungsi pendidikan adalah menghilangkan penderitaan rakyat dari
kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan
akan terhindar dari kebodohan dan kemiskinan, karena dengan modal ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya melalui proses pendidikan,
orang akan mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang dihadapinya.
Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tentu sesuai
dengan tingkat pendidikan yang diikutinya. Semakin tinggi pendidikan seseorang,
maka diasumsikan semakin tinggi pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuannya. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi pendidikan dapat
meningkatkan kesejahteraan, karena orang yang berpendidikan dapat terhindar
dari kebodohan maupun kemiskinan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa
fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah tujuan yang kita nilai tinggi.
Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik ke
Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak.
UUPS No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan pada
akhirnya harus berupaya mewujudkan masyarakat yang ditandai adanya keluhuran
budi dalam diri individu, keadilan dalam Negara, dan kehidupan yang lebih
bahagia dan saleh dari setiap individunya. (Sagala, 2012: 10-11).
Fenomena yang banyak ditemukan di dalam kelas membelajarkan IPS
selain dari pada itu pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) atau
komunikasi satu arah, juga terjadi ketidakcocokan antara strategi belajar dan gaya
belajar siswa. Di mana cenderung hanya menggunakan gaya visual saja. Oleh
karena hal tersebut gaya belajar yang dipakai disekolah ada dua yaitu gaya belajar
visual dan gaya belajar kinestetik, yang dapat memberikan inspirasi siswa untuk
dapat mengembangkan motivasi dan kreativitas anak dalam belajar khususnya di
tingkat Sekolah Dasar (SD). Strategi yang artinya bahwa proses belajar mengajar
yang diselenggarakan umumnya berbasis materi (content based). Dalam proses
pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan
berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak
untuk menghafal informasi. Untuk menghasilkan siswa yang unggul sangat
diperlukan suatu bentuk pendidikan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam hal-hal dasar (the basic). Menurut Buchari (2001:41) bahwa apa yang
dipandang sebagai the basic secara umum ialah segenap kegiatan pendidikan yang
mempersiapkan siswa untuk mampu menjalani kehidupan (preparing children
terdiri dari pelajaran-pelajaran tentang lingkungan fisik, sosial dan budaya serta
pelajaran-pelajaran yang membawa siswa ke pemahaman diri sendiri. Logika
yang mendasari strategi pendidikan ini ialah mereka yang memahami lingkungan
fisik, sosial dan budayanya serta dirinya sendiri yang dapat mengarungi kehidupan
ini dengan baik, dalam arti mampu hidup dan mampu menyumbangkan sesuatu
kepada kehidupan. Salah satu pelajaran mempersiapkan siswa untuk mampu
hidup dan mampu menyumbangkan sesuatu pada kehidupan adalah Ilmu
Pengetahuan Sosial. Ilmu Pengetahuan Sosial termasuk bagian dari sains baik
dalam arti luas maupun sempit merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Manusia dalam aktifitas sehari-hari bergelut dengan dunia pendidikan baik dari
yang sederhana hingga yang kompleks sifatnya. Menyadari betapa pentingnya dan
urgennya pendidikan sosial, telah banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran sosial di sekolah diantaranya penyempurnaan kurikulum
peningkatan profesionalisme guru, buku-buku penunjang, media pembelajaran,
pengembangan strategi yang lebih relevan dan efektif dalam mencapai tujuan
belajar sosial, dan sebagainya.
Dari tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam kurikulum, sangat jelas
bahwa para guru diharapkan melakukan aktivitas yang dapat membantu siswa
baik dalam pemahaman konsep sains maupun dalam cara bagaimana konsep
tersebut diperoleh (Rohandi, 2000:200). Pendidikan berintikan interaksi antara
pendidikan dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai
tujuan-tujuan pendidikan, sehingga dibutuhkan peran utama guru dalam
Belajar adalah salah satu topik paling penting di dalam psikologi dewasa
ini, namun konsepnya sulit untuk didefenisikan. American Heritage Dictionary
mendefenisikannya sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension or
mastery through experience or study” Untuk mendapatkan pengetahuan,
pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi. Namun kebanyakan
psikologi menganggap defenisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang sama
di dalamnya, seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang
beberapa tahun belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima defenisi
belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati.
Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku; dengan
kata lain, hasil dari belajar harus selalu diterjemahkan ke dalam perilaku atau
tindakan yang dapat diamati. Setelah menjalani proses belajar, pembelajaran
(learner) akan mampu melakukan sesuatu yang tidak bisu mereka lakukan
sebelum mereka belajar. Kedua, perubahan behavioral ini relatif permanen;
artinya, hanya sementara dan tidak menetap. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak
selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Kendati ada potensi
untuk bertindak secara berbeda, potensi untuk bertindak ini mungkin tidak akan
diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku secara langsung. Keempat, perubahan
perilaku (atau potensi behavioral) berasal dari pengalaman atau praktik. Kelima,
pengalaman, atau praktik, harus diperkuat; artinya, hanya respon-respon yang
menyebab penguatanlah yang akan dipelajari. Meskipun istilah imbalan (reward)
dan penguatan (reinforcement) kerap dianggap sama, namun setidaknya ada dua
alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. Dalam karya Pavlov, misalnya, suatu
setiap stimulus yang menimbulkan reaksi alamiah dan otomatis dari suatu
organisme.
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan
maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.
Pembelajar merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh
pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau
murid. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986:195) adalah suatu proses
dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia
turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respon terhadap situasi tertentu pembelajar merupakan subset
khusus dari pendidikan.
Fenomena yang terjadi selama ini dalam pendidikan, guru memikirkan apa
yang akan diajarkan kepada siswa, sehingga dalam proses pembelajaran di dalam
kelas guru berperan mendominasi pembelajaran dan siswa hanya sebagai objek
penerima dari informasi yang diberikan oleh guru (teacher centered). Hal ini
terjadi karena guru lebih mengutamakan hasil yang akan dicapai oleh siswa
berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru, baik melalui ulangan harian,
tengah semester maupun ujian akhir semester, sehingga guru memaksakan
informasi yang diberikan kepada siswa untuk dipahami yang akhirnya siswa
hanya menghafal informasi tersebut tanpa mengetahui implementasinya dalam
kehidupan sehari-hariannya.
Menurut Hasratuddin (2002) bahwa salah satu kelemahan metode
pembelajaran yang digunakan oleh guru terlihat dari proses belajar mengajar yang
pengetahuan kepada siswa, berarti dalam hal ini siswa sebagai objek belajar bukan
sebagai subjek. Pembelajaran selalu berpusat pada guru (teaching centered).
Sudjana dan Daeng Arifin (1998) mengatakan bahwa mengajar tidak semata-mata
berorientasi pada proses (by process) tetapi juga berorientasi pada proses dengan
harapan semakin tinggi pula hasil yang akan dicapai.
Atas dasar pemikiran tersebut perlu ditekankan bahwa pengembangan
strategi mengajar harus diarahkan kepada keaktifan siswa. Dalam merencanakan
dan mengajar mata pelajaran IPS khususnya, pengajar dituntut untuk
merencanakan dan menerapkan strategi pembelajaran agar siswa lebih termotivasi
dalam belajar IPS sehingga memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan
serta intelektual dan sikap untuk mempersiapkan diri menghadapi studi yang lebih
tinggi dan pemakaian IPS itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari maupun di masa
depannya.
Berdasarkan hasil survey pra-penelitian, yang telah dilakukan pada siswa
SD Negeri 060910 Medan diperoleh bahwa adanya kecenderungan siswa yang
menganggap mata pelajaran IPS itu sulit serta dianggap abstrak dan juga
kemampuan guru untuk menerapkan strategi pembelajaran terkesan mononton di
mana tidak diperkaya dengan hal-hal baru yang ikut melibatkan siswa dalam
kegiatan pembelajaran sehingga siswa cenderung untuk hanya menerima dan
menghafal pelajaran tanpa mengetahui hubungan antara pengetahuan yang
diperoleh dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata terutama dalam
memecahkan masalah yang ada di sekitarnya. Sampai sejauh ini pencapaian
tujuan pembelajaran IPS di sekolah belum mencapai hasil sebagaimana
belajar siswa, baik nilai ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan
semester, maupun dalam hasil ujian nasional untuk mata pelajaran IPS.
Rendahnya minat dan prestasi belajar siswa dalam bidang sosial, termasuk IPS
adalah karena proses belajar mengajar yang kurang mendukung pemahaman anak
didik, terlalu banyak hapalan dan kurang dilengkapi dengan praktek-praktek di
lapangan. Strategi pembelajaran yang kurang bervariasi dapat menyebabkan
turunnya prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPS (Wardiman Joyonegoro
seperti dikutip oleh Ariani, 2003).
SD Negeri. 060910 Medan adalah salah satu sekolah yang juga berusaha
mencapai tujuan pendidikan nasional dalam aspek kegiatan di dalamnya. Visi
Menciptakan tamatan berkualitas dan berbudi luhur serta beriman, bertaqwa pada
Tuhan Yang Maha Esa. Misi dari SD Negeri ini (1) Berupaya meningkatkan
pelaksanaan disiplin sekolah, (2) Menciptakan pelaksanaan proses kegiatan
belajar dan mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna, (3) Menciptakan
suasana kerja sama serta rasa kekeluargaan, (3) Melaksanakan kegiatan
ko-kurikuler dan ekstrako-kurikuler bidang umum dan keagamaan secara optimal. (4)
Menjalin kerja sama dan hubungan baik dengan masyarakat. Tujuan pendidikan
sekolah dasar bertujuan siswa memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta
kemampuan dasar baca tulis hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang
bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta menyiapkan
siswa untuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Sekolah ini aktif
mengadakan kegiatan-kegiatan seperti mengadakan pertunjukkan seni tari daerah
dan drama, pagelaran alat musik rekorder antar sekolah, tarik tambang, lomba
bersifat ekstrakurikuler. Bahkan seperti halnya sekolah SD Negeri 060910 ini
salah satu gurunya terpilih sebagai guru teladan se-Kota Madya Medan. SD
Negeri 060910 juga pernah mengikutsertakan siswanya untuk mengikuti
Olympiade Smart & Intelligence.
Pendidikan sosial SD bermanfaat bagi siswa untuk memupuk rasa ingin
tahu siswa secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan
keampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta
mengembangkan cara berfikir ilmiah (Usman, 2010). Pendidikan sosial
menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk
mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam
sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu”dan
“berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh yang lebih
mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas 2004).
Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa
tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sebagai berikut: (1)
Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan,
keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, (2) Mengembangkan pengetahuan
dan pemahaman konsep-konsep IPS yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, (3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan
kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antar IPS,
lingkungan, teknologi dan masyarakat; (4) Mengembangkan keterampilan proses
untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
(transaction position); (5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya Memperoleh bekal
pengetahuan, konsep dan keterampilan IPS sebagai dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke SMP/MTs. Maksud dan tujuan tersebut adalah agar anak memiliki
pengetahuan tentang gejala sosial dan berbagai jenis dan peran lingkungan alam
dari lingkungan buatan dengan melalui pengamatan agar siswa mampu
mengetahui dasar mengenai IPS.
Dalam standar kompetensinya aspek kerja ilmiah bukanlah bahan ajar,
melainkan cara untuk menyampaikan bahan pembelajaran. Oleh karena itu, aspek
kerja ilmiah terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan kegiatan dalam
aspek ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, artinya perlu mengikuti
seluruh aspek pada setiap kegiatan.
Salah satu materi pelajaran IPS adalah Koperasi. Yang terdiri dari :
pengertian koperasi, tujuan dan manfaat koperasi, macam-macam koperasi, dan
pentingnya usaha bersama dalam koperasi. Berdasarkan UUD 1945, BAB XIV
Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. Menurut para ahli ekonomi,
lembaga atau badan perekonomian yang paling cocok dengan maksud Pasal 33
ayat (1) UUD 1945 adalah koperasi. Guru kurang mampu menjelaskan pengertian
koperasi secara aktif karena guru cenderung melakukan strategi ekspositori
sehingga siswa banyak mengalami kesulitan, ini terbukti dari hasil ulangan siswa
yang menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal
yang berkaitan dengan topik ini. Maka dalam proses pembelajaran strategi yang
tepat harus dilakukan dengan agar dapat membantu siswa dalam memahami
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran IPS
masih berorientasi pada guru, yaitu guru masih menekankan pada peran sebagai
penyampai materi pelajaran yang disampaikan dengan strategi pembelajaran
ekspositori yang umumnya digunakan oleh guru karena guru merasa dengan
strategi pembelajaran tersebut cukup efektif untuk menyampaikan materi
pelajaran secara tuntas tanpa melihat hasil atau kualitas siswa dalam memahami
makna pelajaran IPS.
Rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS juga terjadi di SD
Negeri 060910 Medan. Berdasarkan data pada tiga terakhir untuk nilai ujian akhir
semester IPS SD Negeri 060910 Medan seperti terlihat pada Tabel 1.1 berikut ini.
Tabel 1.1 Perolehan Hasil Nilai Ujian Semester IPS SD Negeri 060910 Medan
No. Tahun Pelajaran Rata-rata Nilai Ujian Semester IPS
1. 2010/2011 6,80
2. 2011/2012 6,87
3. 2012/2013 7,30
Sumber SD Negeri 060910 Medan
Jika dilihat dari rata-rata perolehan hasil ujian akhir nasional seperti pada
tabel di atas, meski terjadi peningkatan, namun peningkatan tersebut masih belum
mencapai standar ketuntasan yang ditetapkan sekolah dalam Kriteria Ketuntasan
Minimal. (KKM) yaitu 7,00.
Setelah ditelusuri ternyata rendahnya kualitas pendidikan di sekolah
karena kurangnya pemahaman guru tentang variasi strategi pembelajaran dan
belum menerapkan pengelompokkan siswa sesuai dengan tipe atau
karakteristiknya. Strategi pembelajaran yang selama ini digunakan tipe oleh guru
di SD Negeri. 060910 Medan adalah problem based learning (strategi
diperkirakan menjadi salah satu penyebab rendahnya hasil belajar IPS siswa.
Untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal, banyak faktor yang
mempengaruhinya, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor
internal mencakup semua faktor fisik dan psikologi dalam diri siswa seperti minat,
intelegensi, bakat, tingkat kecerdasan dan faktor lainnya. Faktor eksternal
mencakup lingkungan dan instrumen seperti kurikulum, program, sarana, metode,
strategi, dan lain sebagainya. Hasil belajar IPS yang rendah dapat disebabkan
beberapa hal seperti, kurikulum yang tidak relevan, metode yang kurang tepat,
strategi pembelajaran yang kurang bervariasi dan faktor internal dalam dalam diri
siswa seperti kurangnya pemahaman dan penguasaan materi pelajaran, kesalahan
konsep siswa dalam beberapa pokok bahasan dan kurangnya pemahaman akan
gaya belajar siswa.
Guru seharusnya menggunakan berbagai strategi pembelajaran agar dapat
memberi daya tarik kepada siswa. Kesulitan yang paling sering dihadapi siswa
biasanya untuk memahami konsep dan prinsip-prinsip dari materi yang dipelajari.
Di samping itu kesulitan lain juga akibat dari kurangnya interaksi dan kreasi
dalam menyelesaikan tugas belajar. Hal ini berawal dari kurangnya strategi yang
dilakukan guru dalam membimbing siswa agar mampu memecahkan masalah baru
yang dihadapinya dalam belajar. Guru sering terpaku hanya dengan satu strategi
yang dianggapnya paling sederhana dan mudah dilakukan seperti ceramah.
Penggunaan strategi pembelajaran ekspositori ini belum memberikan hasil belajar
yang maksimal untuk pelajaran IPS karena hanya guru yang mampu membaca
teks IPS tersebut dengan banyaknya pengalaman yang dimilikinya tanpa
hanya terpaku pada tugas-tugas yang diberikan guru. Guru tidak mencoba dengan
strategi yang lain seperti strategi pembelajaran kebermaknaan yang akhir-akhir ini
banyak dibicarakan orang. Strategi pembelajaran dengan ceramah bukan tidak
memberi hasil, tetapi satu strategi belum tentu sesuai dengan materi yang berbeda
dan tujuan yang berbeda. Guru harus mampu menggunakan strategi mengajar
yang bervariasi, dan membuat keputusan yang tepat kapan masing-masing strategi
itu digunakan paling efektif.
Dengan kondisi belajar seperti ini akibatnya siswa kurang berani untuk
mengungkapkan gagasannya karena takut salah. Dengan memperhatikan hal
tersebut, salah satu upaya yang perlu dilakukan guru adalah menerapkan strategi
pembelajaran yang tepat agar pembelajaran memberikan hasil yang lebih baik
sekaligus hasil belajar tersebut bermakna bagi siswa.
Kunci menuju keberhasilan dalam belajar dan bekerja adalah mengetahui
gaya belajar atau bekerja yang unik dari setiap orang, menerima kekuatan
sekaligus kelemahan diri sendiri, dan sebanyak mungkin menyesuaikan preferensi
pribadi dalam setiap situasi pembelajaran, pengkajian maupun pekerja (Prashning,
1998:29).
Dalam konteks ini, pembelajaran IPS akan lebih menyenangkan, sangat
mudah, tanpa ketegangan dan memberikan kesan yang mendalam jika guru
mampu menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan memahami gaya
belajar siswa di mana diharapkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan
yang ditransfer oleh guru, tetapi hendaknya siswa dapat menemukan sendiri suatu
pengetahuan. Pengetahuan yang mereka temukan hendaknya dapat pula
temukan dalam kehidupannya sehari-hari. Permasalahan-permasalahan yang
dihadapi siswa baik menyangkut dirinya sendiri maupun lingkungannya dapat
dijadikan sebagai bahan acuan dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang efektif dalam penelitian ini adalah Strategi
pembelajaran berdasarkan masalah.
Reigeluth (1983), mengemukakan bahwa hasil belajar berhubungan
dengan interaksi antara strategi pembelajaran dan kondisi pengajaran yang di
dalamnya termasuk karakteristik siswa. Selanjutnya Dick and Carey (2005)
menyatakan bahwa guru hendaknya mampu mengenal dan mengetahui
karakteristik siswa, sebab pemahaman yang baik terhadap keberhasilan proses
belajar siswa apabila guru telah mengetahui karakteristik siswanya maka
selanjutnya guru dapat menyesuaikan dengan strategi pembelajaran yang akan
digunakan. Salah satu karakteristik siswa adalah gaya belajar siswa. Gaya belajar
yang dapat dilihat dari tingkah laku siswa, yaitu sebagai berikut: (a) individu yang
memiliki kemampuan belajar visual, dan (b) indvidu yang memiliki kemampuan
belajar kinestetik (DePorter & Hemack, 2003).
Fenomena yang terjadi di dalam kelas dalam membelajarkan IPS, selain
dari pembelajaran yang berpusat pada guruatau komunikasi satu arah, juga terjadi
ketidakcocokan antara strategi belajar dan gaya belajar siswa. Di mana siswa
cenderung hanya menggunakan gaya belajar visual saja. Oleh karena hal tersebut
gaya belajar yang akan diterapkan adalah gaya belajar visual dan gaya belajar
kinestetik, yang dapat memberikan inspirasi siswa untuk dapat mengembangkan
motivasi dan kreativitasnya dalam pembelajaran khususnya di tingkat sekolah
Berdasarkan tuntutan dari mata pelajaran IPS, siswa hendaknya lebih
banyak aktif belajar dengan kognitifnya untuk itu peneliti melihat adanya
hubungan yang diteliti yaitu gaya belajar mana yang nantinya dominan dan
mendukung kesiapan siswa dan keterampilannya dalam pembelajaran IPS. Dalam
hal ini diteliti dapat menggambarkan bahwa masalah dalam pembelajaran IPS
adalah perlu adanya kajian terhadap mata pelajaran IPS sehingga ditemukan
strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan gaya belajar siswa yang akan
memudahkan bagi siswa dalam memecahkan berbagai persoalan yang
berhubungan dengan penemuan konsep-konsep dalam pembelajaran IPS untuk
meningkatkan hasil belajarnya, dimana hasil belajar tersebut mencakup kedalam
tiga ranah; (1) ranah kognitif, yang mengacu pada respon-respon intelektual
seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi, (2)
ranah afektif, yang mengacu pada respon-respon sikap, dan (3) ranah psikomotor,
yang berhubungan dengan perbuatan fisik (Bloom, 1986).
Penelitian insentif yang dilakukan oleh Ken dan Rita Dunn seperti dikutip
oleh Ramly (2004) mengidentifikasi tiga jenis gaya belajar yang dapat dijadikan
sebagai talenta manusia, yakni: (1) gaya belajar visual; gaya belajar yang
didominasi oleh kekuatan “melihat”. Dalam perilaku sehari-hari, mereka yang
didominasi gaya belajar visual suka melihat gambar, peragaan atau menyaksikan
video baik yang tampak maupun yang tidak, (2) gaya belajar auditorial; gaya
belajar yang didominasi oleh kekuatan “mendengar”. Dalam perilaku sehari-hari,
mereka yang didominasi gaya belajar auditori, suka mendengarkan kaset audio,
ceramah, diskusi, debat, baik yang tampak melalui panca indera maupun tidak, (3)
keterlibatan langsung. Dalam perilaku sehari-hari, orang yang didominasi gaya
belajar kinestetik, suka bergerak, menyentuh dan merasakan langsung baik yang
tampak memalui panca indera maupun tidak.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik dan termotivasi untuk
meneliti pengaruh antara strategi pembelajaran berbasis masalah dengan gaya
belajar terhadap hasil belajar IPS siswa SD Neg 060910 Medan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dirumuskan, dapat
diidentifikasi bahwa masalah yang sangat esensial dalam dunia pendidikan adalah
rendahnya mutu pendidikan khususnya mata pelajaran IPS SD yang dilihat dari
hasil belajar yang diperoleh siswa. Dari fenomena tersebut akan menumbuhkan
beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan rendahnya hasil belajar IPS SD
yakni sebagai berikut: (1) Apakah perkembangan pendidikan di Indonesia masih
termasuk rendah dibandingkan pendidikan di negara-negara lain? (2) Apakah
penguasaan guru masih rendah terhadap teori-teori belajar? (3) Apakah persiapan
guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran masih jauh dari yang diharapkan?
(4) Apakah guru kurang terampil mempergunakan strategi pembelajaran? (5)
Apakah hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
masalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan
strategi pembelajaran ekspositori? (6) Apakah motivasi guru dan siswa yang
rendah? (7) Apakah strategi pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap hasil
belajar IPS siswa? (8) Apakah gaya belajar siswa berpengaruh dalam peningkatan
gaya belajar terhadap hasil belajar IPS siswa? (10) Apakah strategi pembelajaran
berbasis masalah lebih mendorong tercipta suasana belajar yang aktif? (11)
Apakah strategi pembelajaran berbasis masalah lebih membantu siswa
menyimpan pengetahuannya dalam long-term memory?
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang dapat diidentifikasi tersebut menunjukkan
banyak masalah yang dapat dikaji sehubungan dengan hasil belajar IPS siswa di
SD. Mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan dana, maka perlu dibuat
pembatasan masalah agar penelitian lebih terarah dan fokus dalam mencapai
tujuan penelitian. Penelitian ini dibatasi pada ranah kognitif dalam mata pelajaran
IPS yang secara khususnya standar kompetensi memahami peranan koperasi
dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian strategi pembelajaran serta gaya belajar
dalam hubungannya dengan karakteristik siswa. Penelitian ini difokuskan pada
penggunaan strategi pembelajaran berbasis masalah dan strategi ekspositori serta
gaya belajar kinestetik dan visual yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS
SD Negeri 060910 Medan.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dalam
penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan, sebagai berikut:
1. Apakah hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi
pembelajaran masalah lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang
2. Apakah hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih
tinggi dibandingkan hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar
visual?
3. Apakah ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya belajar terhadap
hasil belajar IPS siswa?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menguji bahwa:
1. Hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran
masalah lebih tinggi dari pada hasil belajar IPS siswa yang dibelajarkan
dengan strategi pembelajaran ekspositori.
2. Hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih tinggi dari
pada hasil belajar IPS siswa yang memiliki gaya belajar visual.
3. Terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya belajar
terhadap hasil belajar IPS siswa.
F. Manfaat Penelitian
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
secara teoretis dan praktis.
1. Manfaat teoritis yakni: (a) Untuk memperkaya dan melengkapi khasanah ilmu
pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan strategi pembelajaran di
tingkat SD, (b) Sumbangan pemikiran bagi guru, pengelola, pengembang dan
lembaga-lembaga pendidikan dalam menanggapi dinamika kebutuhan peserta
didik, dan (c) Bahan perbandingan bagi peneliti yang lain, yang membahas
2. Manfaat praktis, antara lain: (a) Bagi guru IPS di SD, sebagai bahan
pertimbangan dan informasi dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran
IPS, (b) Bagi siswa, untuk menemukan efektivitas proses pembelajaran, serta
cara belajar dari kebiasaannya (manfaat tingkah laku), (c) Bagi sekolah,
sebagai bahan masukan dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk
meningkatkan mutu pendidikan, (d) Sebagai bahan pertimbangan bagi
penentu kebijakan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran IPS di SD,
dan (e) Upaya meningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan peneliti
dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian dan aplikasi
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Simpulan
Simpulan-simpulan yang dapat ditarik dari hasil pengujian hipotesis adalah
sebagai berikut :
1. Hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 060910yang diajar dengan
strategi pembelajaran Berbasis Masalah lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil belajar IPS siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran
ekspositori.
2. Hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 060910 yang memiliki gaya
belajar kinetetik lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang
memiliki gaya belajar visual.
3. Terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dengan gaya belajar dimana
siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih tepat diajar menggunakan strategi
pembelajaran Berbasis masalah, sedangkan siswa dengan gaya belajar visual
lebih tepat diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori.
B. Implikasi
Pertama, hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya
pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS.
Hal ini memberikan penjelasan dan penegasan bahwa strategi pembelajaran
merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian untuk meningkatkan hasil
belajar IPS siswa. Hal ini dapat dimaklumi karena melalui penerapan strategi
pembelajaran yang pada akhirnya dapat membawa keberhasilan dan ketercapaian
tujuan pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian konsekuensinya apabila strategi
pembelajaran yang kurang tepat maka tentu akan berakibat berkurangnya pula
partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Melalui penelitian ini menunjukkan
bahwa secara rata-rata hasil belajar IPS siswa lebih tinggi dengan menggunakan
strategi pembelajaran Berbasis masalah dari pada strategi pembelajaran
Ekspositori. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran Berbasis masalah
lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa, karena dalam
pembelajaran yang menerapkan strategi pembelajaran Berbasis masalah, siswa
cenderung untuk lebih banyak bebas mengkonstruk pengetahuannya dan
menerapkan ilmu yang didapatkan dari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
dan siswa lebih mudah memahami pelajaran karena adaanya diskusi antara siswa
didalam pembelajaran berbasis masalah.
Konsekuensi logis dari pengaruh penerapan strategi pembelajaran terhadap
hasil belajar IPS kepada guru-guru untuk melaksanakan strategi pembelajaran
Berbasis masalah. Dengan menggunakan strategi pembelajaran Berbasis masalah
diharapkan guru-guru dapat membangkitkan dan memotivasi mahasiswa dalam
belajar dan meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa terhadap pelajaran IPS dan
dapat mencipatakan suasana yang lebih interaktif dan efektif dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Untuk melaksanakan strategi pembelajaran Berbasis
masalah maka guru-guru harus terlebih dahulu dituntut menguasai
tahapan-tahapan yang terdapat dalam strategi pembelajaran Berbasis masalah.
Kedua, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gaya belajar siswa
mempunyai hasil belajar yang tinggi atau unggul dibandingkan dengan siswa yang
memiliki gaya belajar visual. Gaya belajar yang dipilah atas kemampuan gaya
belajar kinestetik dan gaya belajar visual ditentukan dari cara angket. Siswa
dengan gaya belajar kinestetik memiliki cara belajar melalui gerakan dan interaksi
kelompok, paling baik menghafal informasi dengan mengasosiasikan gerakan
dengan setiap fakta dan siswa ini menyukai proyek sehingga sesuai dengan
pelajaran IPS yang bersifat sosial. Dengan demikian konsekuensinya apabila
siswa dengan gaya belajar kinestetik maka akan maksimal pula pencapaian hasil
belajar IPSnya, sebaliknya berbeda dengan yang terjadi pada siswa yang memiliki
gaya belajar visual tingkat pencapaian belajarnya kurang maksimal.
Konsekuensi logis dari pengaruh gaya belajar terhadap hasil belajar IPS
berimplikasi pada guru mata pelajaran IPS untuk melakukan identifikasi dan
prediksi didalam menentukan gaya belajar. Apabila gaya belajar siswa dapat
dikelompokkan maka guru pengampu mata pelajaran dapat menerapkan
rencana-rencana pembelajaran dan strategi-strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai
dengan kemampuan gaya belajar siswa.
Ketiga, hasil penelitian juga menunjukkan terdapat interaksi strategi
pembelajaran dan gaya belajar terhadap hasil belajar IPS. Interaksi tersebut
terindikasi dari siswa dengan kemampuan gaya belajar kinestetik yang diajar
dengan strategi pembelajaran Berbasis masalah secara rata-rata mempunyai hasil
belajar IPS yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan strategi
pembelajaran Ekspositori. Sedangkan bagi siswa dengan gaya belajar visual
secara rata-rata hasil belajar IPS yang diajar dengan strategi pembelajaran
diajarkan menggunakan strategi pembelajaran Ekspositori. Dengan demikian
dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran Berbasis masalah lebih tepat
digunakan bagi siswa yang memiliki karakteristik yang memiliki gaya belajar
kinestetik, sedangkan strategi pembelajaran Ekspositori lebih tepat digunakan bagi
siswa dengan karakteristik gaya belajar visual.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil
belajar IPS dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan
gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini guru dan siswa mempunyai
peranan yang sama dan berarti untuk meningkatkan hasil belajar IPS itu sendiri,
sehingga dengan demikian untuk mencapai hasil belajar yang maksimal maka
kedua variabel tersebut yaitu strategi pembelajaran dan gaya belajar perlu menjadi
perhatian sekaligus.
Konsekuensi logis dari interaksi strategi pembelajaran dan gaya belajar
berimplikasi kepada guru dan siswa. Untuk guru, agar dapat memahami dan
tentunya melaksanakan dengan baik penerapan strategi pembelajaran Berbasis
masalah dalam pembelajaran di kelas karena melalui penelitian ini terbukti efektif
untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
.
C. Saran-Saran
Dari hasil temuan-temuan penelitian sebelumnya maka dapatlah
disampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Tujuan akhir pembelajaran IPS adalah mengaharapkan siswa
berkompeten dalam bidang IPS dan terampil dalam menjalani kehidupan
strategi pembelajaran Berbasis masalah dalam pembelajaran IPS
agarhasil belajar tersebut meningkat.
2. Disarankan bagi guru-guru sebagai perancang pembelajaran
memperhatikan gaya belajar siswa dalam merancang pembelajaran
sehingga dengan demikian guru dapat menetapkan strategi pembelajaran
yang lebih sesuai untuk dilaksanakan karena strategi pembelajaran dan
gayabelajar merupakan suatu komponen yang dapat menentukan dan
memengaruhi hasil belajar.
3. Disarankan kepada guru-guru dalam kegiatan pembelajaran perlu
menetapkan strategi pembelajaran Berbasis masalah dalam pembelajaran
IPS, karena strategi pembelajaran Berbasis masalah memberikan hasil
yang lebih tinggi dalam mata pelajaran IPS dibandingkan dengan strategi
pembelajaran Ekspositori.
4. Kepada peneliti lain disarankan untuk penelitian ini agar menerapkan
strategi pembelajaran Berbasis masalah dan pembelajaran Ekspositori
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M.T (2009). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Arends, R.I. (2008). Learning to Teach, Fifth Edition. New York. McGraw-Hill, Inc
Buchary, M. 2001. Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Kanisius
DePorter. B.dan Mike Hernacki. 2000. Quantum Learning MembiasakanBelajarNyamandanMenyenangkan; Penerjemah. Alwiyah
Abdurrahman. Bandung:Kaifa.
Dick & Carey. 2001. The Systematic Design of Instriction. New York: Wesley Education.
Dick, & Carey. 2000. The Systematic Design of Instruction. Glenview, Illinois: School, Foresman and Company.
Dryden & Jeannette. 2002. Sex Diffrences and Apologis: One Aspect of Communicative Competence, Apllied Linguistic.
Gulo, W. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo
Gunawan, W, Adi. 2007. Genius Learning Strategy. Jakarta, Gramedia.
Meier, D. 2005. The accelerated Learning. Bandung : Mizan Pustaka.
Mujis, D. Dan Reynold D. (2008). Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Penerjemah: Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyani Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajaran
Nasution. S. 2006. BerbagaiPendekatan dalam Proses BelajarMengajar. Jakarta:BumiAksara
Nurhadi. (2004). Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo
Prashning, B. The Power of Learning Styles (Penerjemah: Fauziah, N). Bandung: Khaifa
Reigeluth, C.M. 1983. Intructional Design Theory of Models: An Overview of the
Riyanto, Y. (2010). Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Rohandi, A. dan Ahmadi, A. 2000. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Sagala, S. 2012.Konsep Dan Makna Pembelajaran. (edisi ke 10 cetakan 10, Bandung: Penerbit ALFABETA
Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Slameto. 1995. BelajardanFaktor-Faktor Yang Menpengaruhinya. Jakarta: RinekaCipta
Slavin, R.E 2009. Cooperative Learning, Teori, Riset dan Praktek. Bandung: Nusa Media
Sudjana, N. (1996). Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo
_________. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Trianto. 2009. Mendesain Model Pemebelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
______. 2007. Model PembelajaranTerpadu dalamTeoridanPraktek, Prestasi Pustaka, Jakarta
Wena, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan